anies-baswedan

Ketika dulu semasa saya kuliah, ada beberapa kelompok mahasiswa yang bisa dibedakan berdasarkan pilihan kegiatan.
1.Mahasiswa yang pertama adalah mahasiswa hedonis- konsumtif, jaman itu mereka adalah penikmat orde baru, mereka pergi kuliah naik mobil dijaman itu dimana kebanyakan mahasiswa hanya baru bisa naik motor , sepeda atau jalan kaki untuk menuju kampus.
2. mahasiswa profesional – individualis, kerjaannya kuliah saja tidak perduli yang lain, menyiapkan diri untuk masa depan, professional tapi individualis.
3. mahasiswa kita istilahkannya asketis religius, asketis religius ini dipikirannya hanya agama saja. 4. mahasiswa yang aktivis, nilai minim, aktif sana-sini.
5. mahasiswa yang istilah kita adalah protarian, merasa dirinya sebagai ekspresi kemiskinan, ekspresi penderitaan rakyat kecil, kita bisa lihat dari gaya baju, rambut dll.
6. mahasiswa yang kecendrungannya adalah melakukan kajian, lalu seakan-akan setelah melakukan kajian secara mendalam maka problem masyarakat itu selesai.
—  Anies Baswedan
Indonesia Mengajar

Anies Baswedan:

“Deratan foto di samping adalah wajah Pengajar Muda. saat Anda membaca tulisan ini, mereka sedang berada di desa-desa di pelosok negeri. merek berada diantara anak-anak SD di desa-desa dengan listrik dan sinyal terbatas.

para Pengajar Muda ini adalah anak-anak pilihan di republik ini. cerdas, terdidik, tangguh, pejuang, berprestasi, dan berjiwa kepemimpinan yang solid. mereka tinggalkan kenyamanan kota untuk setahun hidup di pelosok negeri ini, hidup bersama saudara sebangsa, saudara setanah-air. mereka sekarang punya rumah baru dan saudara baru. mereka merajut tenun kebangsaan yang luar biasa kuat.

selama satu tahun Pengajar Muda ini tersebar di desa-desa tepi pantai, di pegunungan, dan di lembah-lembah kepulauan nusantara. di desa-desa itu mereka mendidik dan menginspirasi.

anak-anak SD di pelosok egeri bisa jadi masuk sekolah tanpa alas kaki, tanpa buku rapi, atau dengan baju kumal tapi mata mereka berbinar saat Pengajar Muda datang. anak-anak itu terispirasi untuk maju, untuk berprestasi, dan untuk menjadi tumpuan harapan bagi keluarganya, desanya, dan bangsanya. anak-anak SD itu adalah bangsa kita sendiri, kepada mereka kita titipkan sejarah republik ini.

ya hari ini, gulita desa mereka di malam hari, tapi para Pengajar Muda merangsang anak-anak untuk masa depan yang terang. Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi. di setiap sukses dan kemajuan yang terjadi pada anak-anak SD di sana akan ada tanda pahala Pengajar Muda.

setelah setahun mengajar, mereka akan kembali ke kota masing-masing, meniti karier dibidang masing-masing. mereka adalah anak muda pilihan. suatu hari nanti, Insya Allah mereka akan menjadi pemimpin di negeri ini. dengan pengalaman menjadi guru di pelosok negeri, mereka bisa lantang mengatakan: I HAVE SERVED MY COUNTRY! hari ini tidak banyak pemimpin yang bisa mengatakan "saya berada di pelosok negeri, mengabdi untuk bangsa ini”.

selama satu tahun Pengajar mUda mendapat kehormatan untuk melunasi sebuah janji kemerdekaan: Mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sekarang saya menantang anda untuk menjadi Pengajar Muda, menjadi pemimpin, menjadi guru, menjadi inspirator buat anak-anak di pelosok negeri.

Saya menantang anda untuk mendapat kehormatan ini, menjadi generasi terpilih dan turut melunasi janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

sekarang, siapkah anda mengabdi bersama kami menjadi Pengajar Muda?“

youtube

tidak perlu jadi apa-apa untuk kita melakukan sesuatu, karena posisi boleh berganti-ganti, tapi di posisi apapun, kita harus bermakna.. :)

Mendidik adalah . .
— 

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa” setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan"

– Anies Baswedan

youtube

Harus diakui kemampuan analogi Anies Baswedan sangat luar biasa. Beliau mampu menyederhanakan istilah sulit sehingga mudah dimengerti. Anda akan betah mendengarkan orasi atau pidato beliau karena pemilihan kata-kata yang sangat ciamik.

PERINGATAN BAGI PEMIMPIN

Anies Baswedan*

Makin hari kegalauan itu tumbuh makin pesat, tetapi berhentilah mengatakan bangsa ini bobrok. Hentikan tudingan bahwa bangsa ini tenggelam. Tidak! Bangsa ini sedang bangkit dan akan makin tinggi berdirinya.

Lihatlah rakyat di sana-sini, bangun sebelum pagi, penuhi pasar rakyat, padati jalan dan kelas, menyongsong kehidupan. Dengan sinar lampu apa adanya mereka coba sinari masa depan sebisanya. Petani, guru, nelayan, pedagang, atau tentara di tepian republik jalani hidup berat penuh tanggung jawab. Di tengah kepulan polusi pekat, rakyat kota menyelempit mencari masa depan. Mereka rebut peluang, jalani segala kesulitan tanpa pidato keprihatinan. Rakyat yang tegar dan tangguh. Denyut geraknya membanggakan.

Kegalauan republik ini bukan bersumber pada rakyat, melainkan pada pengurus negara yang seakan berjalan tanpa target. Deretan agenda penting dan urgen jadi wacana, tetapi tidak kunjung jadi realitas.

Pengurus republik sukses membangun kekesalan kolektif dan menanam bibit pesimisme. Pimpinan kini menuai kekecewaan. Harapan, kepercayaan, pengertian, toleransi, kesabaran, dan permakluman rakyat kepada pemimpin dikuras terus. Apakah dikira stok permakluman itu tanpa batas?

Dengan hormat saya sampaikan: stok itu ada batasnya dan sudah menipis. Semua ingin lihat hasil. Tak mau lagi dengar keluh kesah, tak hendak dengar kata prihatin keluar dari pemimpin. Republik ini perlu pemimpin yang hadir untuk menggelorakan percaya diri, bukan menularkan keprihatinan. Pemimpin tak boleh kirim ratapan, pemimpin harus kirim harapan.

Sebatas pidato dan wacana

Hari ini Indonesia memasuki era demokrasi etape ketiga. Kepresidenan periode kedua. Tidak pernah ada dalam sejarah republik ini seorang anak bangsa dipilih jadi pemimpin dengan suara sebanyak saat Presiden Yudhoyono di tahun 2009. Semua persyaratan untuk melakukan dan menuntaskan langkah-langkah besar ada di sana. Tapi mana langkah besar itu: infrastruktur ekonomi? Kepastian hukum? Integritas di sekolah? Tegas kepada pengemplang pajak? Pemangkasan benalu APBN? Konsistensi kebijakan? Reformasi birokrasi? Jaminan kebinekaan bangsa? Perlindungan warga bangsa?

Keep reading

10

Sabtu, 5 April 2014

Suhana Hall, The Energy Building, SCBD

Jakarta

#MengadiliAnies bukan berarti dia akan selalu menjawab setiap pertanyaan dengan benar, tapi dari jawabannya kita dapat menilai bagaimana cara dia berpikir dan memimpin

watch #MengadiliAnies on youtube here

Apakah nanti akan ada acara #MengadiliJenderal #MengadiliLapindo #MengadiliBangHaji atau mengadili lainnya? Penasaran :)

Seberapa besar nyalimu mengadu ide dan gagasan, seberapa besar nyalimu menghadapi kritik dan bertatap langsung dengan orang yang kontra denganmu?