anies-baswedan

Menyoal Trending Topic #UninstallTraveloka

Ketika kemarin ramai-ramai #UninstallTraveloka, saya malah pesan tiket kereta pulang-pergi ke Bandung bersama Farid Mutiardi dan Khanata Sumasita. Menurut saya, boikot-boikot itu sah saja jika apa yang diboikot itu berimplikasi langsung dengan prinsip. Contohnya, saya sudah sejak lama memboikot segala macam produk rokok, minuman keras, dan makanan yang mengandung babi atau anjing.

Perkara orang berafiliasi politik kemana dan bagaimana dia berekspresi, belum patut kiranya kalau sampai main boikot. Ini urusan pribadi, hak dia, dan tak melanggar undang-undang. Kalau dia seorang pejabat publik kemudian menista agama orang lain dalam kapasitas dia sebagai pejabat, barulah ini pantas diboikot. Ini cuma contoh ya. Jangan baper.

Kecuali kalau ditemukan bahwa seseorang dan perusahaannya punya andil dalam perusakan alam, terorisme, atau penjajahan, ini pantas juga untuk diboikot, menurut saya. Contohnya, campaign-campaign untuk memboikot produk-produk Israel yang sudah lama sekali digaungkan. Ini saya setuju sih, tapi pun sejujurnya tak 100% saya lakukan, karena masih butuh produknya. Dan tidak pula melanggar sunnah nabi kalau tidak melakukan.

Saya malah cenderung mempertanyakan, apa alasan kita memboikot Traveloka hanya karena CEOnya menyalami atau mendukung aksi walkout Ananda Sukarlan ketika Anies Baswedan berpidato? Jangan kita hilang akal, walkout ini tak menista agama apapun, pelakunya hanya tidak hormat kepada sosok seorang Anies. Jangan pula terlalu reaksioner dan fanatik pada figur. Kalau kita memboikot hanya karena tak terima ada orang walkout saat Anies pidato, selamat kamu telah menjadi alat politik! Entah itu alat politik Anies, atau alat politik orang yang ingin mengesankan bahwa pendukung Anies adalah kaum-kaum sumbu pendek.

Come on, Dude, Bro, Sis, Akhi, Ukhti! Adil dululah sejak dalam pikiran. Kalau sekarang kamu boikot Traveloka lalu bulan depan pakai lagi, ini yang bikin malu, ketika gerakan massa netijen #UninstalTraveloka yang sempat jadi trending topic ini pada akhirnya hanya akan berujung pada inkonsistensi.

Taufik Aulia

Ketika dulu semasa saya kuliah, ada beberapa kelompok mahasiswa yang bisa dibedakan berdasarkan pilihan kegiatan.
1.Mahasiswa yang pertama adalah mahasiswa hedonis- konsumtif, jaman itu mereka adalah penikmat orde baru, mereka pergi kuliah naik mobil dijaman itu dimana kebanyakan mahasiswa hanya baru bisa naik motor , sepeda atau jalan kaki untuk menuju kampus.
2. mahasiswa profesional – individualis, kerjaannya kuliah saja tidak perduli yang lain, menyiapkan diri untuk masa depan, professional tapi individualis.
3. mahasiswa kita istilahkannya asketis religius, asketis religius ini dipikirannya hanya agama saja. 4. mahasiswa yang aktivis, nilai minim, aktif sana-sini.
5. mahasiswa yang istilah kita adalah protarian, merasa dirinya sebagai ekspresi kemiskinan, ekspresi penderitaan rakyat kecil, kita bisa lihat dari gaya baju, rambut dll.
6. mahasiswa yang kecendrungannya adalah melakukan kajian, lalu seakan-akan setelah melakukan kajian secara mendalam maka problem masyarakat itu selesai.
—  Anies Baswedan

Kalau Anies Baswedan, yang punya silsilah keturunan Arab, lalu dia merasa dirinya adalah pribumi, dan tidak ada yang mempermasalahkannya, lalu kenapa ada orang keturunan China misalnya, marah dan tak mau disebut sebagai pribumi? Padahal mereka bisa bersikap seperti Anies.

Indonesia Mengajar

Anies Baswedan:

“Deratan foto di samping adalah wajah Pengajar Muda. saat Anda membaca tulisan ini, mereka sedang berada di desa-desa di pelosok negeri. merek berada diantara anak-anak SD di desa-desa dengan listrik dan sinyal terbatas.

para Pengajar Muda ini adalah anak-anak pilihan di republik ini. cerdas, terdidik, tangguh, pejuang, berprestasi, dan berjiwa kepemimpinan yang solid. mereka tinggalkan kenyamanan kota untuk setahun hidup di pelosok negeri ini, hidup bersama saudara sebangsa, saudara setanah-air. mereka sekarang punya rumah baru dan saudara baru. mereka merajut tenun kebangsaan yang luar biasa kuat.

selama satu tahun Pengajar Muda ini tersebar di desa-desa tepi pantai, di pegunungan, dan di lembah-lembah kepulauan nusantara. di desa-desa itu mereka mendidik dan menginspirasi.

anak-anak SD di pelosok egeri bisa jadi masuk sekolah tanpa alas kaki, tanpa buku rapi, atau dengan baju kumal tapi mata mereka berbinar saat Pengajar Muda datang. anak-anak itu terispirasi untuk maju, untuk berprestasi, dan untuk menjadi tumpuan harapan bagi keluarganya, desanya, dan bangsanya. anak-anak SD itu adalah bangsa kita sendiri, kepada mereka kita titipkan sejarah republik ini.

ya hari ini, gulita desa mereka di malam hari, tapi para Pengajar Muda merangsang anak-anak untuk masa depan yang terang. Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi. di setiap sukses dan kemajuan yang terjadi pada anak-anak SD di sana akan ada tanda pahala Pengajar Muda.

setelah setahun mengajar, mereka akan kembali ke kota masing-masing, meniti karier dibidang masing-masing. mereka adalah anak muda pilihan. suatu hari nanti, Insya Allah mereka akan menjadi pemimpin di negeri ini. dengan pengalaman menjadi guru di pelosok negeri, mereka bisa lantang mengatakan: I HAVE SERVED MY COUNTRY! hari ini tidak banyak pemimpin yang bisa mengatakan "saya berada di pelosok negeri, mengabdi untuk bangsa ini”.

selama satu tahun Pengajar mUda mendapat kehormatan untuk melunasi sebuah janji kemerdekaan: Mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sekarang saya menantang anda untuk menjadi Pengajar Muda, menjadi pemimpin, menjadi guru, menjadi inspirator buat anak-anak di pelosok negeri.

Saya menantang anda untuk mendapat kehormatan ini, menjadi generasi terpilih dan turut melunasi janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

sekarang, siapkah anda mengabdi bersama kami menjadi Pengajar Muda?“

youtube

tidak perlu jadi apa-apa untuk kita melakukan sesuatu, karena posisi boleh berganti-ganti, tapi di posisi apapun, kita harus bermakna.. :)

Dari Jogja untuk Bangsa

Pendidikan memang membuka banyak kesempatan, tapi pendidikan tak otomatis lahirkan kepemimpinan. Pemimpin tak lahir karena ijazah, tapi oleh kerja keras dan kepedulian yang terus diasah.

Apa arti ijazah yang bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk? Apa gunanya sekolah tinggi-tinggi, jika hanya perkaya diri sendiri dan famili? Bagaimana akan bersikap anti-korupsi, jika sejak muda hanya sibuk dengan urusan sendiri?

Tak ada yang tiba-tiba bagi calon pemimpin bangsa, kecakapan bukan salinan genetika. Inspirasi datang dari hidup yang tahan uji, pemimpin muncul dari tempaan yang tiada henti.

Pendidikan serta kepedulian terhadap sesama, diwakilkan salah satunya oleh program Indonesia Mengajar gagasan Anies Baswedan.

sosmeds
— 

pas gue ngobrolin polarisasi opini orang zaman sekarang, yang kalo misal gue muji sesuatu langsung dibilang kalo gue suka. Dan kalo gue mengkritik sesuatu langsung dibilang dislike. Pun kalo gue bilang ga suka sama gaya pak ahok langsung gue dianggep pendukungnya anis baswedan, etc…etc…seolah imajinasinya terbatas….

“Kalo gue bukan A, berarti gue B”

padahal kan bisa aja kalo gue itu C,D,E,F,G…dst….dst…

nah pas gue nanya kenapa kok bisa kayak gini?

jawabnya cuma:

“gara-gara sosmed”

:)

benarkah?

kalo denger kayak gini, gue jadi inget kisah tentang penduduk Kuffah di era Utsman bin Affan. Di era tersebut, penduduk Kuffah bisa dibilang sangat menyebalkan. Hobi berkasak-kusuk padahal nggak ada sosmed. Gampang banget diprovokasi dan suka minta ganti-ganti gubernur. 

kabar apapun tentang khalifah, bisa digoreng di sana.

bahkan sampai berita tentang Utsman bin Affan yang tidak menggunakan rukhsah shalat jama’ dan qashar sewaktu ke makkah pun bisa digoreng menjadi berita bahwa:

“Utsman melakukan bid’ah”

padahal utsman bin affan punya banyak penjelasan tentang tindakan yang beliau pilih.

puncak dari kasak-kusuk penduduk kuffah ini adalah wafatnya Utsman bin Affan secara tragis. Karena kasak-kusuk tidak valid dan tidak ada tabayyun.

sesungguhnya kejahiliahan dalam menerima informasi itu sudah ada sejak lama. Hanya saja di era sekarang, kita masih punya sosmed yang bisa kita jadikan kambing hitam atas kejahiliyahan kita :D

hati dengki ngelihat foto temen, yang disalahin sosmed.

musuhan gara-gara beda pilihan politik, yang disalahin sosmed.

sampai kapan nyari kambing hitam? :p

Menembus Rasionalitas Kebudayaan Kita

Perdebatan mengenai keanekaragaman di negeri ini memang ibarat gula yang dikerubuti semut, setiap saat ada, kalaupun tak ada maka bisa diada-adakan dan selalu menarik perhatian khalayak. Jangankan kita, wong dua orang tokoh pendiri bangsa ini, Sukarno dan Hatta juga acapkali terlibat perdebatan sengit mengenai cara pandangnya terhadap nusantara. Alasannya? Salah satunya disebabkan oleh begitu kayanya sumber daya manusia yang kita miliki.

Bung Hatta menganggap perbedaan potensi baik dari segi geografi, demografi, suku, ras dan agama sebagai sebuah ketidakmungkinan untuk menyatukan Sabang hingga Merauke, Miangas sampai Rote di bawah satu bendera Republik. Beliau mengajukan konsepsi Federasi sebagai bentuk negara. Bung Karno, yang sejak awal mempunyai mimpi untuk menyatukan nusantara di bawah satu kesatuan negara tetap keukeuh dengan konsep Republik. Perasaan nasib sebagai suatu bangsa yang terjajah menjadi kunci Sukarno untuk meleburkan semua perbedaan di dalam satu bendera Indonesia.

Indonesia ini begitu besar dan kaya, ironisnya semua itu berkat sumbangan akibat banyaknya perbedaan yang kita miliki, sesuatu yang selama ini selalu dijadikan kambing hitam atas isu perpecahan. Mengutip apa yang dikatakan Anies Baswedan saat menjadi juru kampanye tim pemenangan Jokowi-JK pada 2014 silam, bahwa sudah saatnya kita beralih pada pengoptimalan kekayaan sumber daya manusianya bukan lagi fokus pada eksploitasi alam. Sumber daya alam bisa habis dalam jangka waktu tertentu, namun eksplorasi terhadap pengembangan manusia tak akan lekang oleh zaman.

Dari segala kekayaan dari keanekaragaman yang bersumber pada manusia ini, kebudayaan menjadi salah satu produk yang selalu diperbincangkan. Perbedaan latar belakang di tiap daerah menumbuhkan perilaku atau kebiasaan unik manusianya, yang kemudian menghasilkan produk unik nan orisinil bernama kebudayaan. Indonesia dikarunai oleh Tuhan kekayaan sebanyak 17.504 pulau dan 1.340 suku bangsa di dalamnya. Terbayang bukan sebanyak apa ragam jenis budaya yang kita miliki?

Tentunya dengan banyaknya faktor, perbedaan budaya di tiap pulau, wilayah, pulau dan kepulauan merupakan sebuah keniscayaan. Budaya Sumatera akan berbeda dengan Jawa, begitu pula adat-istiadat Toraja akan berlainan dengan Wamena. Akan sangat sulit menggeneralisasi semua kekayaan ini dalam satuan yang sama, maka dari itu dibutuhkan perspektif dari pelbagai sudut, keluasan hati dan keadilan pikiran untuk mencerna semuanya satu-persatu. Rasanya kurang bijaksana apabila kita menilai sesuatu hanya memandang dari satu kacamata saja.

Bila logika kita bebal, maka akan ada banyak hal dari budaya-budaya di nusantara ini yang akan menabrak akal sehat kita dan berhenti di ruang penghakiman sempit. Misalnya, di Pulau Nias, laki-laki telah dikatakan mencapai tahap kedewasaan apabila ia sanggup melewati prosesi adat bernama Fahombo, yakni dengan cara melompati sebuah batu besar setinggi dua meter. Padahal, dalam Islam telah dijelaskan, salah satu parameter seorang laki-laki telah memasuki usia dewasa atau aqil baligh ketika ia telah mengalami mimpi basah, sesederhana itu. Lalu mengapa repot-repot melompati batu besar hanya untuk menunjukkan seorang laki-laki sudah dewasa? Sekali lagi apabila logika kita bebal, apakah upacara adat semacam itu bisa secara rasional diterima isi kepala kita?

Mengapa butuh waktu dan bermacam perspektif untuk dapat memahami sebuah kebudayaan? Sebab, dalam hemat saya budaya atau adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat adalah salah satu cara manusia untuk beribadah kepada-Nya. Dalam beberapa hal, dimensi budaya bersinggungan dengan dimensi agama. Budaya lebih dari sekedar simbol, melainkan suatu identitas hidup. Apabila kita memaksakan norma yang kita anut tanpa mengetahui setiap hal dari segi esensial dan substansial, lantas apa bedanya kita dengan pemerintah Orde Baru yang berkeinginan menghapus Koteka dari bumi Papua atas nama modernisasi?

Untuk menjauhkan diri untuk berfikir dan bertindak serampangan dalam memandang budaya, agaknya kita belajar kepada sosok Wali Songo. Sejarah menunjukkan betapa luasnya hati dan pikiran para Sunan untuk menyebarkan kebaikan di tanah Jawa. Alih-alih sibuk melarang, menyebarkan kebencian dan berusaha menghapuskan budaya Jawa yang saat itu sangat kental dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, Wali Songo justru mencoba memasukkan nilai-nilai ajaran Islam melalui medium-medium kebudayaan yang ada. Hasilnya? Bisa kita ketahui berapa prosentase penduduk tanah Jawa yang memeluk agama Islam hingga hari ini. Rasanya Islam takkan berkembang hingga sepesat ini apabila dulu para Sunan mengajarkan nilai-nilai kebaikan melalui cara yang berujung pada kekerasan.

Satu hal, janganlah membenci sesuatu yang tidak kita ketahui benar substansinya. Menembus rasionalitas sempit dengan belajar, belajar dan belajar akan membuat kita menjadi manusia yang memaknai setiap liku yang ada pada hidup.


Fragmen 3
Oleh: @menujusenja

__________

@djanganloepa​ baca Selengkapnya di halaman kami.

Fragmen 1 oleh @dimazfakhr

Fragmen 2 oleh @abangkumis

Fragmen 3 oleh @menujusenja

Fragmen 4 oleh @roushonism

Kita Tidak Butuh Sekolah, apalagi Kurikulum

”Every country on earth is now reforming its public education. The problem is they are doing it by doing what they have done in the past.”(Sir Ken Robinson, 2010)

Kemendikbud telah menyiapkan Kurikulum 2013 yang diklaim sebagai penyempurnaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang diluncurkan pada 2006. Hemat saya, KTSP secara konsep justru lebih baik daripada Kurikulum 2013, tapi dibiarkan gagal oleh Kemendikbud sendiri dengan tidak menyiapkan guru yang cakap. Kini Kurikulum 2013 sedang dievaluasi Mendikbud Anies Baswedan untuk diteruskan, dihentikan, atau diteruskan secara terbatas di beberapa sekolah yang sudah siap saja.

Wacana Kurikulum 2013 berpotensi menyembunyikan dua akar masalah pokok pendidikan Indonesia saat ini, yaitu tata kelola pendidikan yang buruk (poor education governance) dan guru yang tidak kompeten. Utak-atik kurikulum jauh lebih gampang dan enak daripada memperbaiki tata kelola pendidikan dan menyiapkan guru yang kompeten. Kurikulum terbaik sekalipun pasti akan gagal di tangan guru yang tidak kompeten. Sebaliknya, di tangan guru yang kompeten, kurikulum yang sederhana akan menghasilkan proses belajar yang bermutu.

Wacana ganti menteri ganti kurikulum selama puluhan tahun ini dipijakkan pada paradigma sekolah: Memperbaiki kurikulum adalah memperbaiki sekolah, dan memperbaiki sekolah adalah memperbaiki pendidikan. Padahal, belajar sebagai inti dari pendidikan sebenarnya tidak membutuhkan sekolah.

Kurikulum adalah bagian dari paradigma sekolah yang merupakan produk zaman revolusi industri pada abad ke-17. Untuk memenangkan masa depan pada abad ke-21, anak-anak Indonesia tidak mungkin disiapkan dengan cara-cara lama dengan mentalitas production linesbatch processes, dan standardisasi ini.

Untuk meningkatkan akses pada pendidikan, kita justru perlu membebaskan masyarakat dari monopoli pendidikan oleh sekolah dan mendesentralisasikan pendidikan ke daerah, bahkan ke satuan pendidikan yang terkecil, yaitu keluarga. Pendidikan universal tidak mungkin dicapai melalui persekolahan. Begitu pendidikan disamakan dengan persekolahan, pendidikan menjadi barang langka by definition. Yang perlu dikembangkan adalah jejaring belajar (learning webs) dengan akses dan kurikulum yang lentur, luwes, serta informal sesuai dengan bakat dan minat warga. Itu akan lebih cost-effective daripada persekolahan.

Dengan internet, belajar semakin tidak membutuhkan sekolah, apalagi kurikulum. Membentuk karakter pun hanya bisa dilakukan secara efektif dengan praktik di luar sekolah. Selama beberapa dekade terakhir ini terlihat bahwa semakin banyak sekolah tidak menjadikan masyarakat kita makin terdidik. Hasil sigi internasional terbaru oleh PISA maupun TIMSS serta PIRLS juga menunjukkan murid Indonesia tertinggal pada kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan membacanya juga tertinggal bila dibandingkan dengan teman-teman sebayanya.

Kurikulum adalah serangkaian hasil belajar yang diharapkan dan seluruh proses yang menghasilkan pengalaman belajar serta mekanisme evaluasi hasil belajar murid di bawah panduan guru di sekolah. Jadi, kurikulum adalah atribut penting sistem persekolahan. Siapa yang membutuhkan kurikulum? Sekolah, yayasan pengelola sekolah, guru yang bekerja di sekolah, dinas pendidikan, Kemendikbud, para ahli kurikulum, dan penerbit yang mau mencetak buku wajib yang akan dipakai di sekolah. Asumsi dasar pada setiap penyusunan kurikulum adalah anak akan mencapai prestasi belajar maksimal jika melalui serangkaian instruksi dan lingkungan buatan serta mekanisme evaluasi yang terstruktur dan terencana. Asumsi itu meremehkan kecanggihan manusia beserta semua perangkat belajarnya yang telah diciptakan Tuhan sebagai ciptaan terbaik. Manusia bisa belajar dalam situasi apa pun, bahkan dalam situasi yang paling getir sekalipun. Bahkan, manusia belajar jauh lebih banyak daripada pengalamannya di luar sekolah.

Murid sebenarnya tidak membutuhkan kurikulum resmi yang kaku dan terpusat. Bahkan, anak yang cerdas sebenarnya tidak membutuhkan sekolah. Susi Pudjiastuti yang sekarang menteri kelautan dan perikanan adalah contohnya. Kebanyakan anak kita sebenarnya cerdas. Di banyak sekolah kecerdasan mereka sering diremehkan proses belajar yang tidak menantang yang disajikan guru yang tidak kompeten. Kecerdasan mereka pun sering diukur oleh instrumen yang tidak cocok seperti tes pilihan ganda. Puncak penghinaan atas kecerdasan itu adalah ujian nasional yang dibantu mesin pemindai yang ikut-ikutan menentukan kelulusan mereka. Karena proses yang salah itu, kecerdasan anak-anak tersebut justru menurun dan mereka justru kehilangan jati diri dan percaya diri.

Sesungguhnya hanya anak yang malas dan berkebutuhan khusus yang memerlukan kurikulum yang ”well-designed” oleh para teknokrat ahli. Anak-anak normal tidak membutuhkannya. Dengan bermain di ruang terbuka dan di alam, anak-anak belajar jauh lebih banyak daripada di kelas yang sempit di sebuah tempat yang kita sebut sekolah. Neurosains menemukan bahwa ruang kelas adalah tempat paling buruk bagi proses belajar. Bekal terpenting bagi anak-anak normal itu adalah akhlak yang baik, kegemaran membaca, keterampilan menulis, berhitung, berbicara, dan kesempatan praktik yang memadai bagi keterampilan-keterampilan untuk hidup secara produktif.

Kurikulum hanyalah resep makan siang, bahkan bukan makan siangnya. Kesehatan juga ditentukan oleh sarapan dan makan malam di rumah. Kurikulum tidak perlu gonta-ganti. Ini kegemaran teknokrat-birokrat. Mahal sekali. Kurikulum sederhana, generik, dan lentur mendorong guru melakukan adaptasi ruang dan waktu. Pribadi murid pun justru lebih baik. Sekolah hanya warung waralaba yang berusaha keras mengganti sarapan dengan makan siang cepat saji ala Jakarta. Kita juga sudah kecanduan sekolah sehingga tidak mampu membayangkan dunia tanpa sekolah. Padahal, masyarakat tanpa sekolah itu ada dan pernah ada dengan kualitas kehidupan yang jauh lebih baik daripada sebuah schooled society yang dengan congkak kita sebut modern ini.

Untuk memastikan pendidikan universal bagi kebanyakan anak-anak Indonesia, yang diperlukan bukan pembesaran sistem persekolahan. Yang diperlukan adalah pengembangan sebuah jejaring belajar (learning webs) yang lentur, luwes, lebih nonformal, bahkan informal. Sekolah hanya salah satu simpul dalam jejaring belajar tersebut. Bengkel, toko, klinik, studio, lembaga penyiaran, penerbit, perpustakaan kecamatan, restoran, koperasi, gereja, kuil, dan masjid dapat menjadi simpul-simpul belajar. Simpul belajar yang pertama dan utama adalah keluarga di rumah.

Formalisme kronis persekolahan harus dikurangi seminimal mungkin. Oleh Illich, itu disebut deschooling. Saat ini di Indonesia schoolism sudah masuk tingkat yang berbahaya. Ijazah dipuja sebagai bukti kompetensi seseorang. Kasus ijazah palsu yang marak terjadi adalah bukti bahwa memang masyarakat kita sudah kecanduan sekolah. Hanya yang tidak percaya diri yang butuh sekolah. Belajar secara mandiri di rumah bisa jauh lebih baik. Jadi, tanpa Kurikulum 2013, sekolah akan baik-baik saja karena tanpa sekolah pun kita sebenarnya baik-baik saja. Kita boleh mulai khawatir kalau kita tidak belajar. (*)

Daniel M. Rosyid

Jawa Pos, 8 Desember 2014

bbc.com
How fake news and hoaxes have tried to derail Jakarta's election - BBC News
As a bitter election looms, activists have declared this a dark era in Indonesia's digital life.

In Indonesia, the rise of fake news, hoaxes, and misleading information online has cast a pall over an already bitterly divided election in the capital, Jakarta. BBC Indonesian’s Christine Franciska looks at why activists are describing this as a dark era in Indonesia’s digital life.

It is impossible to explain Jakarta’s election without first introducing Basuki Tjahaja Purnama, or Ahok, who stepped up in 2014 when then-governor Joko Widodo became president.

Mr Purnama is the first Christian and ethnic Chinese leader of the Muslim-majority city in more than 50 years, and now is running for another term.

He was seen as the favourite to win - and for some, as a potential future president - until he was charged with blasphemy in late 2016, a criminal offence in Indonesia.

Despite mass protests against him, Mr Purnama led the election’s first round in February but without enough votes to secure the job outright, so a second round will be held on 19 April.

His opponent is a former education minister and Islamic conservative Anies Rasyid Baswedan, who has gone from being the most unpopular candidate to the strongest contender, according to recent polls.

The blasphemy case testing Indonesia’s very identity
It is an election divided not just by politics but by religion too and of all things, hoaxes have put a potent edge on these tensions.

“We recorded that there are more than 1,900 alleged-hoax reports in recent three months,” said Khairul Ashar, a co-founder of Turn Back Hoax - a crowd-sourced digital initiative where they collected and debunked hoaxes spreading in social media.

“More than 1,000 reports have been confirmed as hoaxes. Most of these are about politics, mainly about Jakarta’s gubernatorial election. And religious issues play a big role,” said Mr Ashar, who lives in Singapore.

Alternative facts

The recent visit of Saudi Arabia’s king is one of the examples of how the truth was reversed in the online imagination. This picture of Mr Purnama shaking hands with King Salman when he arrived in Jakarta early March. was condemned as false on social media even though it was captured by the Indonesian president’s official photographer.

King Salman is widely praised in Indonesia as an Islamic role model, so this photo would be seen as a great boost for Mr Purnama.

But anti-Ahok groups said, “This news is hoax, because it is haram for a king to shake hands with the blasphemer of Islam.” One Facebook user even posted a long analysis explaining how it was a fake story.

Some did retaliate: “You have (official) picture, and also an (official) video (of them shaking hands), but still people thought it was fake. Your life is a hoax.”
Recently, President Joko Widodo inaugurated the first city-owned grand mosque in Jakarta, but some people argued it looked like a cross, and then proceeded to accuse Mr Purnama of “Christianisation”.

Mr Purnama’s opponent has also been smeared by hoaxes and launched an anti-hoax website to counter it called fitnahlagi.com (which translates as defamed again).

There were also fake posters spread online saying: “If Mr Baswedan loses the election, there will be Muslim Revolution” with provocative pictures of men wearing white clothes and holding swords.

‘The dark age’

This is a big concern for IT activists. “We change our campaign narrative now,” said Matahari Timoer, one of the members of Jakarta-based Internet watchdog ICT Watch.

“It used to be 'think before share’, but now we urge people to 'do your part’.”
He was talking about their campaign battling the danger of hoaxes and he says there is an urgent need for the “silent majority to speak up and raise their voice on social media.”

“Our digital life has entered a dark age, that is why we need people to do their part as a lantern to light up, and fight this dark period,” he said.

As a former member of a Muslim radical group he understands what’s at stake - a rising religious intolerance dividing a nation.
Indonesian President Joko Widodo even declared a war against “fake news” late last year.

There are more than 40,000 websites claiming to be news sites, but most of them are not registered, said the Press Council, who has launched an online media verification system to filter fake news.

Recently, the communications and information ministry urged Twitter and Facebook to combat hoaxes on their own platform. But many believe those efforts are not enough.

Mr Timoer underlined what people called dark social media: WhatsApp groups and Telegram’s secret groups, more intimate and influential.

So could fake news really influence the final round of Jakarta’s election?

“It will affect emotional voters. They persist with what they choose based on information related to religion and ethnicity,” said Mr Timoer. He thinks it will only have a small impact in the end.

But Mr Ashar thinks differently. He believes the threat behind these hoaxes goes way beyond Jakarta’s political battle.

“Some groups want to change philosophical foundation of the country, and in the name of freedom of speech they use hoaxes in social media to gain followers,” said Mr Anshar.

All the activists know that even after this election is over, the hoaxes will continue their battle for the hearts and minds of Indonesia’s public.

Jadilah generasi yang kritis-optimistis: yakni generasi yang tidak hanya berani mengkritik, tapi berani juga memberikan solusi.
—  Anies Baswedan dalam Memenangi Masa Depan
Pesan Sesaat Sebelum Lengser

For parents and future parents to be so we have a better future generation.

Pesan terakhir pak Anis Baswedan, sblm lengser dari Kementerian:🙂
Anak anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika tata krama, sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak anak yang tangguh, disenangi, dan disegani banyak orang…

Mereka tahu aturan makan table manner di restoran mewah. Tapi tidak canggung makan di warteg kaki lima…

Mereka sanggup beli barang-barang mewah. Tapi tahu mana yang keinginan dan kebutuhan…

Mereka biasa pergi naik pesawat antar kota. Tapi santai saja saat harus naik angkot kemana-mana…

Mereka berbicara formal saat bertemu orang berpendidikan. Tapi mampu berbicara santai bertemu orang jalanan…

Mereka berbicara visioner saat bertemu rekan kerja. Tapi mampu bercanda lepas bertemu teman sekolah…

Mereka tidak norak saat bertemu orang kaya. Tapi juga tidak merendahkan orang yg lebih miskin darinya…

Mereka mampu membeli barang-barang bergengsi. Tapi sadar kalau yang membuat dirinya bergengsi adalah kualitas, kapasitas
dirinya, bukan dari barang yang dikenakan…

Mereka punya.. Tapi tidak teriak kemana -mana. Kerendahan hati yang membuat orang lain menghargai dan menghormati dirinya…

Jangan didik anak dari kecil dengan penuh kemanjaan, apalagi sampai melupakan kesantunan, etika tata krama…

Hal hal sederhana tentang kesantunan seperti :
🔹Pamit saat pergi dari rumah
🔹Permisi saat masuk ke rumah temen (karena ternyata banyak orang masuk ke rumah orang tidak punya sopan santun, tidak menyapa orang orang yang ada di rumah itu),
🔹Saat masuk atau pulang kerja memberi salam kepada rekan, terlebih pimpinan
🔹Kembalikan pinjaman uang sekecil apapun,
🔹Berani minta maaf saat ada kesalahan
🔹Tahu berterima kasih jika dibantu sekecil apapun…

Kelihatannya sederhana, tapi orang yang tidak punya attitude itu tidak akan mampu melakukannya…

Bersyukurlah, bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya atau cukup…

Bersyukurlah kalau kita terlahir di keluarga yang mengajarkan kita kesantunan, etika, tata krama dan kesederhanaan…..

#Anies Baswedan #