andukes

“Kak, bikinin tulisan dong”

Selama gue pake tumblr sejak awal, baru sebulan ke belakang ini banyak banget yang minta demikian. Kasusnya beda-beda, ada yang ceritain gimana sakitnya diselingkuhin, pedihnya memendam cinta sendirian, asam basa merelakan dia bahagia tanpa kita, banyak. Macem macem. Tapi respon gue selalu sama,

“Iya, sakit ya blablabla *nanggepin ceritanya*”

“Tapi maaf, tumblr gue based on true story. Lu bacanya bisa berasa ngena mungkin karena gue melibatkan perasaan. Bukan cerita yang gue karang-karang. Kenapa nggak bikin tulisan sendiri aja?”

Dan jawaban mereka adalah…..

Kira kira kayak gitu. Setelah gue analisa, menurut gue ada dua kemungkinan

  1. Tulisan gue kebagusan
  2. Kepercayaan diri mereka hilang

Untuk opsi pertama, gue harus rela besar kepala dan merasa hebat sehebat-hebatnya. Harus sombong dan arogan. Enak sih. Ego gue dikasi makan. Dijilat-jilat. Disanjung dan dimanjakan. Tapi gamau. Gue sebel aja kalo ada orang sombong. Jadi gue gaboleh kayak gitu. Meskipun feedback banyak yang bilang bagus, seru, lucu, blablabla nanana, biarlah itu kata mereka. Di mata gue, gue cuma meringankan beban pikiran lewat tulisan. Cukup. Ga perlu ngerasa bagus dan memesona. Jijik

Jadi, dengan berat hati, mari kita pilih opsi kedua. Kepercayaan diri mereka hilang. Sad. Percaya diri adalah koenji, kenapa diilangin? Gue ga ngerti, mungkin banyak pertimbangan kenapa bisa jadi gak PD. Gue cuman mau bilang

  1. Tulisan lu itu cerminan diri lu, sana nulis tanpa harus mikirin apa kata orang. Gak perlu dibandingin sama tulisan siapa-siapa. Gak harus asik. Gak perlu pengen punya pembaca. Biarin aja. Orang nilai jelek, yaudah. Orang anggap bagus, alhamdulillah. Gausah pengen dibilang bagus. Yang penting, -di tulisan itu-, ada isi kepala keresahan keresahan lu yang tersampaikan. Kelar. Ga perlu neko-neko
  2. Pake gaya lu aja, ga perlu pengen kayak siapa. Role model-in siapa. Ngapain? Nanti tulisan lu ga akan apa adanya, ga ada jiwanya. Gak -elu-banget
  3. Kalo gue, gue selalu tulis apa yang nanti kalo gue baca lagi, gue suka. Persetan deh tuh EYD, terserah. Titik, koma, tanda seru, suka suka gue aja. Gue selalu tulis apa yang nanti kalo gue baca lagi, gue suka. 
  4. Sombonglah, setidaknya untuk dirimu sendiri. Aish gila, gue kayak orang bener. Tapi serius, sombong itu perlu, sesekali. Gue di kepala gue, adalah versi terbaik dari gue. Segimanapun gue ngelakuin kesalahan, gue tetep bangga jadi gue. Tulisan gue, menurut gue adala sebaik-baiknya tulisan yang bisa gue keluarkan. Di luar sana, banyak akun akun penulis terkenal, ternama, dikenal dimana-mana, tapi gue gapapa. Miskinnya pembaca gak jadi masala. Kalo harus bandingin tulisan jagungrebus, karenapuisiituindah, jalansaja, hujanmimpi, aksarannyta, mereka jauh lebih bagus. Tapi kalo ditanya paling suka punya siapa? gue akan dengan besar kepala menyebutkan nama akun gue sendiri. Sesombong itu, wk. I do proud of my self, walaupun alasan buat nge-proud-innya belom nemu. Gapapa. Sesombong itu
  5. Minum susu. 4 sehat 5 sempurna ~~~/o/

Gue mungkin asik di tulisan gue sendiri. Tapi gue gak akan bisa se-asik gue biasanya kalo harus nyeritain ceritanya orang. Bahkan gue nggak sepenuhnya ngerasain apa yang orang ceritain itu. Gue paling cuma iba sekenanya, semampunya. Meanwhile kalo di tulisan sendiri, gue tau bener gue lagi gimana. Sehancur apa, sebahagia apa, seberantakan apa, sesakit apa, gue paham, —karena gue yang rasain. O, come on…..

Sepandai apapun kamu bercerita tentang bagaimana kamu bahagia, sesakit apa yang kamu rasa, tida akan perna ada yang benar-benar mengerti, selain dirimu sendiri

Gak ada deh tuh ceritanya calo tulisan. Apaan ~~~/o/ hhhhhh. Demokrasi aja. Dari kamu, buat kamu, oleh kamu. Cheers


Regards, 

Tami, yang sedari tadi gantungin anduk doang tapi ga mandi mandi 

minggu lalu iDS dapat undangan untuk presentasi kejar.id di depan seluruh kepala sma yang akan ikut unbk (ujian nasional berbasis komputer) se-kota bogor. saya hadir bersama Ibu dan tim kami.

surprisingly, saya ketemu sama pak D. beliau adalah guru kimia saya di sman 3 bogor yang ternyata telah dipindahtugaskan menjadi kepala sman 9 bogor lima bulan terakhir.

pak D masih ingat saya–karena pak D ini kesiswaan dan saya termasuk “banyak ulah” selama sma. waktu sma, saya sampai pernah ke rumah pak D. *bahagia loh diingat sama guru meskipun karena nakal waktu itu. haha.

kami mengobrol banyak. saya seperti diwawancara lebih tepatnya.
“jadi habis pertukaran pelajar kuliah di mana?”
“sekarang kerja di mana?”
“ada rencana s2?”
saya jawab satu per satu. lebih banyak, sejujurnya saya promosi apa saja produk dan jasa iDS.
“duh, mut, Bapak merinding. selalu bahagia kalau melihat murid-murid Bapak sukses. nanti tolong bantu Bapak ya mut ngerapiin lab dan jaringan sekolah.”

“jadi calon kamu orang mana?”

nah yang ini saya berpikir untuk jawab atau tidak, “lahir dan besarnya di jakarta Pak. tapi keluarganya dari jogja.”

“wah, sudah ada. sudah ada harinya?”

“iya Pak. insyaAllah kalau nggak sabtu minggu,” nggak-lah. saya bilang tanggalnya kapan.
lalu Pak D semangat sekali bilang, “insya Allah saya datang ya mut.”

“Bapak mau cerita. Bapak sayang sekali sama istri Bapak.”
saya tau apa yang akan datang selanjutnya–nasehat pernikahan. yang selalu saya dengarkan dengan sangat senang hati dan hati-hati dari siapa saja.

“dalam sebulan itu, mungkin Bapak cuma sekali nyendok nasi ke piring sendiri. selebihnya si Ibu yang nyendokin.”

oya?

“kalau Bapak mau mandi, si Ibu yang nyiapin anduk sama semua baju. bahkan odol udah diolesin ke sikat gigi.”

saya cengo.

“si Ibu itu paham sekali kalau surganya ada sama saya. caranya cari pahala nggak aneh-aneh, nggak neko-neko–melayani suami. baru melayani anak-anak, baru ngurusin diri sendiri. dsri bangun tidur sampai tidur lagi isinya melayani saya.”

“gitu ya Pak.”

“banyak perempuan yang ngedeketin Bapak mut. tapi semua Bapak tanggepin dengan senyum aja. nggak ada yang lebih baik dari si Ibu.
kuncinya, jadi istri, memang harus melayani suaminya mut. laki-laki itu sangat egois. kalau di rumah dia nggak dapet suguhan minum dari istrinya, lalu di luar ada yang melakukan, wah itu sumber petaka. laki-laki mana yang nggak kelepek-kelepek disuguhin minuman.
meskipun soal minuman itu cuma satu kebaikan yang dimiliki si perempuan di luar. dan satu-satunya yang nggak dilakukan istrinya di rumah. laki-laki mah gelap mata soal begituan.”

“iya Pak. ibu saya juga pesan begitu.”

“dan satu lagi, si Ibu nggak pernah minta. nggak pernah nuntut apapun. nggak soal uang, nggak soal waktu, nggak soal perhatian.”

wehe. duh saya demanding banget anaknya gimana dong.

“jangan sekali-sekali minta sama suami kamu. apapun yang diberikan, terima. sedikit atau banyak, terima. kalau suami lagi bosan dan menjauh dari kamu, biarin saja. tapi tetap tunggu dan tunjukkan kalau kamu selalu ada untuknya. kalau dia mendekat ke kamu, dekatilah lebih dari dia mendekat.”

saya manggut-manggut.

“laki-laki itu egois sekali, mut. perempuan yang harus mengalah. dan di sanalah surganya perempuan. sayangnya banyak perempuan yang nggak ngerti tentang ini jaman sekarang. kalau ada hubungan pernikahan yang gagal, misalnya laki-lakinya menikah lagi, nggak selalu laki-lakinya yang salah loh mut.”

hmm.

“laki-laki butuh istri yang cantik. tapi lebih dari itu, laki-laki lebih butuh istri yang melayani. kecantikan fisik selalu kalah sama pelayanan yang tulus.”

terima kasih Pak. insyaAllah saya nggak insecure lagi soal cantik nggak cantik. asal saya bisa melayani ya Pak.

“nah, banyak juga laki-laki yang nggak tau surganya.”

“apa Pak?”

“sedekah yang paling utama adalah kepada istri dan anak-anaknya.”

insyaAllah mas yunus tau tentang ini, kata saya dalam hati.

lalu rapat dimulai.
selalu bersyukur setiap mengobrol tentang hidup dengan guru-guru yang sesungguhnya memang guru. ternyata di bumi manapun, menjadi guru adalah menjadi teladan dalam segala aspek kehidupan.

The Way I Lose Her: I Hate Her So Much

Seandainya aku diberi kesempatan untuk memutar waktu. Aku akan kembali menjadi aku untuk mencintaimu lebih lama dari waktu yg telah kita lalui hingga hari ini.            

                                                 ===

.

MOS(Masa Orientasi Siswa) atau yg lebih kita kenal dengan sebutan OSPEK di SMA gue ini berlangsung kurang lebih 5 hari. Dari hari senin hingga hari jumat.

Diawali mandi pagi, ntah kenapa hari ini rasa-rasanya langkah gue menuju sekolahan terasa lebih ringan. Tak ada rasa takut lagi. Rasa paranoid akan kesalahan-kesalahan kecil yg bisa menimbulkan masalah besar seperti kemarin mendadak hilang.

Ya, nggak bisa gue pungkiri, kehadiran seorang cewek luar kota yg bernama Wulan tampaknya menepiskan seluruh rasa takut gue perihal salah membawa barang bawaan. Dari kemarin malam, mulai pada jam 8 hingga jam 12 malam, kita terus saja saling balas membalas pesan singkat. Wulan tidak henti-hentinya mengingatkan gue akan segala barang bawaan yg wajib dibawa dan hal-hal apa saja yg harus diingat.

Bahkan tadi pagi sebelum mandi pun Wulan masih sempat-sempatnya menanyakan barang bawaan gue.

“HAH?! Wulan nanyain barang gue?!” 
Gue kaget-kaget lucu megangin anduk sambil berfantasi yg tidak-tidak. Wah Wulan to the point banget ya, gue jadi salting.

Sejenak kemudian gue sadar kalau barang gue itu maksudnya barang bawaan ospek. Ah.. gue gak jadi mandi lebih lama tampaknya. 

Oke lupakan masalah barang tadi.
Sampai mana kita tadi?

Oh iya..
Setelah melakukan pemeriksaan kilat, akhirnya gue yakin hari ini gue nggak akan mengulang kesalahan yg sama seperti kemarin. Perlahan-lahan, hari gue tampaknya akan semakin lebih baik. Permainan takdir yg hingga detik ini nggak pernah gue sangka akan dimulai semuanya hari ini. 

Gue awali dengan iseng nge-sms Ikhsan.

“Sorry, kalau hari ini lo di suruh ke depan kelas, kayaknya gue gak bisa nemenin elo bro..”

Dengan sombongnya gue mengetik hal tersebut sambil memeluk mesra mamang tukang ojek karena takut jatuh. Sesekali gue selingi dengan mencubit-cubit pinggangnya.

Beberapa detik kemudian gue diturunin paksa sama dia.

.

                                                           ===

.

Semua berjalan seperti biasa, gue turun dari tempat drop-off yg sudah ditentukan dan harus melakukan pemeriksaan kecil oleh kakak keamanan yg sedang jaga saat itu.

“Loh, Dimas?”

Mendadak perhatian gue terusik kepada seseorang yg memanggil gue.

“Loh Wulan? Kamu drop-off di sini juga?”

“Hehehe iya, bareng yaa…”

“Oh, Oke oke santai aja.”

.

Sepanjang perjalanan menuju gerbang sekolah, Wulan tidak henti-hentinya tertawa atas semua yg gue katakan. Tentang tololnya gue hari kemarin, hingga menerka-nerka apa yg akan kita lakukan hari ini di sekolah.

Sebelum pada akhirnya di gerbang sekolah, langkah kita terhenti untuk pengecekkan barang-barang kembali. Ribet emang. Tapi ya namanya juga ospek, yaudah mau nggak mau gue lepas tas ransel gue dan mulai mengeluarkan barang bawaan yg gue bawa.

It’s My Lucky day!
Gue bisa berkata seperti itu, karena semua berjalan dengan lancar. Ini adalah kali pertama di mana gue nggak mendapatkan teguran pada setiap pos yg meminta pengecekkan.

Dari dalam gerbang gue sempat melihat ada sosok yg sudah gak asing lagi. Sosok yg paling ngebuat gue nggak enak hati– lagi melihat kearah gue sambil berlipat lengan.

“Dimas, sini dulu kamu!”

Kak Hana memanggil gue tepat ketika gue sudah berhasil lolos dari pemeriksaan barang-barang di gerbang. Karena merasa nggak punya salah, gue menghampirinya tanpa rasa takut, begitpun Wulan yg terlihat mengikuti gue dari belakang.

“Papan nama kenapa masih yg itu?! Bukannya sudah saya suruh untuk ganti?!” Tiba-tiba Kak Hana ngomel mendadak.

“Loh kak, ini kan seragam SMP, nanti kalau udah dikasih seragam SMA pasti langsung diganti kok kak.”

“Banyak alasan ya kamu! Kenapa sih bikin onar terus! Gak bosen kamu hah?!”

“Ya bosen lah kampret” gue ngedumel di dalam hati. “I-iya kak maaf, tapi kan mubazir kalau harus ngeganti papan nama baju SMP. Bentar lagi kan udah gak kepake lagi.” Gue memohon dengan sangat kepada Tatib yg satu ini.

“Gak bisa! Kamu melalkukan kesalahan! PUSH-UP SEKARANG JUGA!!”

“EH?! Push-up? pagi-pagi gini kak? berapa banyak?” gue cuma bisa pasrah.

“10x doang!”

“Fiuh.. 10x doang toh. Oke kak”

Dengan sigap gue lepas segala atribut yg menggantung di badan gue dan mulai push-up tepat di depan kaki Kak Hana. Kakinya putih, mulus, kaos kaki dan sepatunya pun terkesan lucu untuk seorang Tatib sekelas kak Hana.

Halaaaah, gue disuruh push-up malah masih sempat-sempatnya ngeliat paha kakak kelas. Buseeet..
Akhirnya gue Push-up sesuai hitungan Kak Hana. Tapi kok rasa-rasanya firasat gue gak enak ya..

Dan benar aja.

“1.. 2.. 2… 2… 2… 2… 3… 3… 3.. 4.. 4.. 4….”

ANJING!!
PANTESAN AJA GUE CUMA DISURUH PUSH-UP 10x!!
ANGKANYA BERANAK SEMUA!! KAMPRET!!

Alhasil pagi itu gue melakukan Push-up lebih dari 20x kali. Badan gue bercucuran keringat. Wangi parfum Chabiche yg gue pake untuk bertemu Wulan kini hilang tersapu bau keringat yg menetes dari pori-pori ketek. 

Setelah selesai melakukan Push-up, Wulan membantu gue bangkit dan berjalan menuju kelas. Sepanjang perjalanan Wulan tampak baik sama gue, ia memberikan minum yg ia bawa, membawakan sedikit barang bawaan gue karena mendadak pundak gue terasa kaku. Dan juga sesekali ia menyeka keringat yg bercucuran di dahi.

Nggak tau pagi ini bisa dibilang buruk atau gimana, namun yg jelas, dengan kejadian ini, Wulan semakin terlihat lebih perhatian.

.

                                                     ===

.

Wulan ini lucu, orangnya polos kebangetan, selama perjalanan menuju kelas pun dia tak henti-hentinya menanyakan keadaan gue selayaknya gue habis terkena kecelakaan berat. 

Sebenarnya gue gak papa sih, tapi kapan lagi coba dimanjain sama anak lucu kaya begini, yasudah deh, rejeki kaga boleh ditolak. Gue ndusel-ndusel sama Wulan.

“Wulaaan.. atit…” Ucap gue manja.

“Sini-sini, yg mana yg sakit? mau Wulan pijetin?”

Engga gak usah, kepala aku gak tau kenapa mendadak pusing. Pucing pala berbie, Ulan..” Gue mencoba memasang muka sedih biar mirip Jhon Mayer. Walau jatuhnya gue malah mirip kaya Jhonny Iskandar.

“Yg mana? Sini…” Wulan ngelus-ngelus kepala gue.

Ntah ada hubungan apa antar push-up dan sakit kepala, gue gak peduli, sebodo amat, yg penting di-usap-usap sama Wulan. Tapi pagi ini Wulan wangi banget. Rambut yg sedikit masih basah terus diiket cepol ini perlahan-lahan makin menyita seluruh nafas gue.

Tuhan menciptakan banyak keajaiban dunia. Sedangkan manusia hanya menciptakan 7. Dan Wulan? Wulan adalah keajaiban yg Tuhan ciptakan dalam bentuk manusia.

Ini nih yg gue suka kalau ndusel-ndusel sama cewek pagi-pagi. Aroma sabun, shampoo, dan parfumnya wangi banget. Ntah parfum apa yg wulan pake, tapi yg jelas wanginya gak terlalu menyengat. Gak kaya parfum yg gue pake. Sekali semprot aja wanginya udah bisa ngalahin wangi ongol-ongol lengkap sama taburan kelapanya.

Dalam perjalanan menuju kelas, gue terus saja manja kepada Wulan. Kesempatan nggak boleh disia-siakan. Hingga pada akhirnya kita harus terpaksa berpisah di dalam kelas karena Wulan berbeda tempat duduk cukup jauh dari tempat duduk gue.

Di kelas, gue sudah melihat Ikhsan berpangku dagu memandangai gue semenjak gue masuk kelas. Gue yg merhatiin dia cuma bisa jaga jarak keherenanan. Kenapa lagi nih anak? lagi datang bulan ye?

“Ngapa lo? Kaga enak amat tatapannya” Gue menaruh tas di samping bangku.

“…”

Ikhsan tidak menjawab dan terus saja memandangi gue dengan tatapan yg aneh. Gue mencoba tidak menghiraukannya, gue lebih memilih untuk membalas sms Wulan dengan paket 2500 sms punya M3 yg harganya Rp12500. Di kelas aja pake SMS-an, anak muda banget. Namun  lama kelamaan gue risih sama si Ikhsan, dia terus saja menatap gue.

“Lo ngapa sih?! Risih tau ga oi!" 

"Bentar, gue mau nanya. Perasaan kemaren baru aja gue kasih tau di depan Mushola kalau tuh cewek ngeliatin elo. Sekarang kenapa lo udah jalan bareng lagi?????”

Bhahahahahahahk, mendengar penjelasannya, gue langsung ketawa ngakak di dalam hati. 

“Ciee cemburu lo? Centong nasi mah kaga pantes cemburu-cemburuan gitu. Kemaren kebetulan dia minta anter beli bahan-bahan ospek sama gue. Terus tadi ketemu juga di depan gerbang." 

"Pake pelet apa lo? Tuh dari tadi makin menjadi tuh anak ngeliatin lo mulu. Kenapa gue kaga diliatin juga ye?”

“Pffft.. ngapain tuan putri kaya dia ngeliatin Layar gembot kaya elo. Turun kasta lah. Lagian nih ya, gue jelasin beberapa hal nih sama elo bro..”

“Asem lo. Paan?”

“Cewek tuh kaya lalat, san..” mendadak gue menaruh handphone yg gue mainkan ke dalam saku.

“Hah? Lalat?” Tanyanya heran.

“Iya, lalat. Lalat itu bisa membedakan mana makanan yg masih bagus dan mana makanan yg udah busuk.”

“ANJING!! Maksud lo gue busuk gitu?! Ah tai lo..” Tukasnya sembari berdiri dan pergi menuju WC di luar kelas.

Hahahahaha doi bete. Capek gue seakan terbayarkan dengan melihat muka dia yg bete. Gue cuma bisa ngeledek dia dari jauh dengan muka songong yg seakan berkata, “Sorry san.. Gue jauh lebih laris daripada lo..” 

Dan Ikhsan pun membalas dengan terus-terusan mengacungkan kepalan tangannya ke arah gue.

.

                                                            ===

.

Agenda OSPEK hari ini adalah mendengarkan ceramah dari beberapa guru. Ceramah tentang Seks, Pergaulan, Kesehatann, Seks dengan Pergaulan supaya Sehat, dan tetek bengek lainnya. Kami semua dikumpulkan di pendopo dan dikelompokkan sesuai dengan warna kelompoknya masing-masing.

Wulan mengajak gue untuk duduk di sebelahnya, dan tanpa pikir panjang gue langsung meng-iya-kan ajakannya. Sedangkan Ikhsan? dia kebagian paling belakang duduk deket selokan.

Pas banget! 
Wajik basi emang cocok deket sama comberan.

Benar kata Wulan, kegiatan ini pasti membosankan. Ibu Yenni selaku guru BK sedang berceramah tentang pergaulan yg baik dan benar. Dan itu benar-benar membuat ngantuk, untung saja ada Wulan yg setia menemani gue ngobrol ngalor ngidul.

Tapi untuk menghormati guru, gue juga kadang memperhatikan kok apa yg guru-guru itu ceramahkan. Terutama waktu sedang membahas ‘Pergaulan Bebas’, gue memperhatikan dengan seksama. Maksudnya biar gue nggak terjebak pergaulan bebas juga gitu..

“Wulan, pergaulan bebas tuh kaya apa sih?” Gue iseng bertanya kepada Wulan.

Wulan yg sedang menulis di buku berwarna kuningnya itu langsung memberhentikan aktifitas menulisnya.

“Pergaulan yg porno-porno gitu deh kayaknya” Jawabnya polos

“Porno? jadi kalau nonton video porno itu termasuk pergaulan bebas?”

“Bukan ih, pergaulan bebas tuh kalau kita bergaulnya sambil melakukan hal porno.. Gitu!” Wulan bisik-bisik menjelaskannya

“Hooo, jadi kalau gaul berdua terus nonton video porno itu gak termasuk pergaulan bebas dong, Lan?” Gue mulai memancing-mancing.

“IH!! Itu tuh bisa menjurus ke pergaulan bebas tau.”

“Maksudnya?” Yes!! Wulan terpancing!! 

“Jadi gini.. Kalau kita nonton video porno berdua itu yah, kan awalnya cuma nonton tuh.. terus setelah itu gak menutup kemungkinan kalau selanjutnya kita me..”

mendadak Wulan berhenti berbicara.

“KENAPA AKU JADI NGEJELASIN HAL KAYA GINI SIH IH?! KAMU CABUL!!” Wulan nyubit pinggang gue

“ASTAGFIRULLAH!! Hahahahaha kan aku cuma nanya ih Wulan. Kamunya juga mau ngejelasin kan.. Terus terus itu selanjutnya kita mau ngapain?” Gue mendekatkan muka gue ke mukanya.

“IH!! MESUM!!” Wulan mendorong muka gue.

“Eh tapi Lan, kenapa waktu kamu ngejelasin tadi, kamu analoginya pake kata 'kita’, kenapa gak pake kata cewek atau cowok gitu?”

“Eh,.. en-engga kok.. bu-bukan gitu.. Ma-maksudnya..” Wulan makin gak tau harus menjawab apa.

“Jangan-jangan kamu ngebayangin kita lagi ya waktu ngejelasin hal tadi?! Hayo~”

“DIMAS CABUL!! GAK TAU AH!! BETE!!” Wulan membuang mukanya.

Siang itu gue terus mengganggu Wulan yg lagi salting karena perkataanya sendiri. Lama kelamaan, ntah kenapa ada rasa nyaman ketika gue sedang berada dekat dengan Wulan.

Ntah..

.

                                                             ===

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 Siang. Untuk ospek hari kedua ini, panitia telah memberitahukan bahwa kelompok kita kebagian untuk mengerjakan piket memungut sampah di sepanjang area lapang basket. Kegiatan ini sering disebut dengan “Operasi Semut”.

Dengan sigap anak-anak yg lain mulai memungut sampah dengan gembira. Gue lihat dari jauh Mai beserta gengnya memilih untuk curi-curi waktu dan jajan Kentang Bumbu di kantin sekolah. Dan ada juga Ikhsan yg dengan isengnya membawa sapu dan nyolok-nyolok pantat kakak pembimbing gue yg lemah gemulai itu.

Bukannya bete, tapi kakak pembimbing gue kayaknya malah menikmati. Naluri homo antar keduanya tampak sinkron. Saling tarik menarik. Simbiosis Mutualisme. Ikhsan yg terus nyolek pantat kakak pembimbing dengan gagang sapu, dan kakak pembimbing yg teriak-teriak sambil lari-lari kecil.

Mesra, kaya Sharlul Khan menggoda Kajol waktu main basket pada film Kuch-Kuch Hota Hai~

Ya begitulah anak-anak SMA, kegiatan apapun yg dilakukan di luar kelas pasti akan membawa kebahagiaan, sebosan apapun kegiatannya.

Sesekali gue membantu Wulan ketika ia merasa takut mengambil sampah pada tempat yg berlumpur. Wulan punya ketakutkan terhadap cacing, oleh sebab itu kadang gue sering jail menaruh karet bekas yg berwarna coklat ke pundaknya.

Sontak Wulan teriak-teriak gak karuan. Gue bahagia banget siang itu. Kakak mentor pun turut ikut serta memungut sampah, sehingga kegiatan ini terlihat seperti piket sekolah.

Lagi memungut sampah di deket pohon di area lapang basket, mendadak Ikhsan melempar bungkus teh kotak kearah gue. Sontak gue terkejut dan melihat kearahnya. Tapi ketika gue melihat kearah Ikhsan, Ikhsan memberikan kode kepada gue. Dari jauh dia seakan mengatakan, “Liat belakang lo!”

Karena penasaran, gue langsung melihat kearah belakang. Gue cukup terkejut ketika melihat Kak Hana beserta 2 orang keamanan menghampiri gue. Lhaaaa ini apalagi coba?

“Dimas! SINI KAMU!!” Kak Hana berteriak kearah gue.

Sontak gue langsung melepaskan semua sampah yg ada di tangan. Tangan gue kotor, gue sempatkan untuk ngelap ke baju Ikhsan sebentar lalu menghampiri kakak keamanan yg satu itu.

“i-iya kak, ada apa?” Jawab gue gugup.

“Kamu itu maunya apa sih?!” Kak Hana menaikan nada suaranya.

Siang itu gue nggak terlalu tau kesalahan apa yg telah gue perbuat, Kak Hana seakan memarahi semua kegiatan yg gue lakukan. Bahkan dia menyebutkan bahwa gue males-malesan dan terlalu banyak main-main waktu melakukan Operasi Semut.

WHAT?! Main-main?! 
Gue kerja oi!
Ikhsan yg daritadi nyolok pantat kakak kelas pake gagang sapu aja kaga kena omel, kenapa gue yg dimarahin terus?!

Gue bener-bener sudah naik pitam. Kesal rasanya kalau gini terus lama-lama. I Really Hate This Girl So Much!! Gue nggak salah apa-apa selalu kena semprot. Maunya apa sih nih nenek lampir?!

Alhasil siang itu gue diharuskan melakukan Squat Jump 25 kali. Dengan angka yg beranak seperti tadi pagi pula.

Naskleng!

30 menit berlalu. Kelompok kita disuruh kembali ke kelas. Keadaan gue saat itu sudah nggak karuan. Tangan kotor karena sampah, baju basah karena keringet, rambut acak-acakkan gara-gara Squat Jump, kulit menghitam karena dijemur di bawah matahari. 

Ngg.. untuk kulit yg menghitam sih kayaknya udah bawaan dari lahir deh. 

Pokoknya saat itu gue udah mirip Bob Marley. Ketika lagi jalan menuju kelas, Wulan menghampiri gue.

“Dimas.. maafin Wulan ya, karena Wulan Dimas jadi kena marah lagi” Wulan memegang tangan gue.

“Eh Wulan.. gakpapa kok. Bukan salah Wulan, tadi mungkin kakak keamanan ngeliat gue di kantin sebelum ke lapangan basket. Makanya kena marah” 

Gue mencoba menutup-nutupi. Gue suka nggak tega melihat wajah Wulan di saat-saat seperti ini. Gemesin banget soalnya. Pengen rasanya gue bungkus buat makan malam nanti di rumah saking ngegemesinnya. Hih..

.

                                                         ===

.

Ternyata, hari ini nggak seindah yg gue harapkan. Semua bahkan berjalan lebih buruk. Di dalam kelas gue cuma diam saja merebahkan kepala gue di atas meja. Gue pake jaket gue sebagai bantal. Mencoba mengembalikan stamina gue yg udah terkuras disedot nenek lampir.

Coba lo bukan kakak keamanan deh, Han. Pasti udah gue peluk habis-habisan. pffft

Sekarang jam pulang hampir datang. Tapi seinget gue, setiap hari-hari ospek pasti ditutup dengan acara sidak dadakan oleh keamanan. Ntah kenapa, tapi kayaknya pasti selalu seperti itu.

belum sempat berpikir banyak,

BRAK!! 

gue mendengar pintu di buka dengan kasar. Nah bener kan dugaan gue. Pasti yg masuk ke kelas ini si nenek lampir.

“SEMUANYA BERDIRI!!” Kak Hana menggebrak papan tulis.

Tuh bener lagi kan.
Dengan serempak seluruh anak-anak langsung berdiri.

“Yg merasa ngobrol waktu lagi dengerin ceramah tadi siang. Maju ke depan!!" 

Suasana hening. Tak ada yg maju ke depan.

"Oh.. Merasa benar semua kalian, Hah?! Gak mau ngaku? pengecut! Cepat maju atau saya tarik kalian!” Ucapnya lagi.

Apa jangan-jangan gue ya? Perasaan tadi di pendopo gue nggak ngeliat ada kakak keamanan deh. Kok bisa pada tau ya? 
Gue mencoba melirik kearah Wulan. Dan gue sedikit terkejut melihat Wulan yg dengan gelagat takut tampaknya hendak maju ke depan.

Sontak melihat hal tersebut gue langsung mengalihkan perhatian kakak keamanan, “Maaf kak, saya yg ngobrol tadi waktu ceramah." 

Wulan kaget. Dia melihat kearah gue. Dan gue mengisyaratkan Wulan untuk tetap ada di bangkunya. Jangan maju ke depan, biar gue aja. Itu isyarat gue.

Secara perlahan gue maju ke depan, diiringi tatapan anak-anak. Gue berjalan lunglai, memikirkan kesialan apa lagi yg bakal menimpa gue hari ini.

.

.

.

.

                                                        Bersambung

FreeDay: Inside is Better Than Outside

*inilah salah satu bukti bahwa Tuhan itu adil. Intan Berlian bisa disandingkan dengan Sendok Bebek.*

.

                                                   ===

.

Malam, gaes!
Setelah sempat libur satu hari kemarin, akhirnya kita kumpul lagi untuk sekedar berbicang-bincang tanpa bobot dalam FreeDay kita kali ini.

Sebenarnya gue sudah menyiapkan beberapa tema yang lagi sering banget menjadi bahan pertanyaan di inbox tumblr gue semingguan ini, tapi mendadak gue teringat tentang masa-masa di mana gue masih SMA dulu. Ketika gue, Ikhsan, dan teman-teman kelas gue lagi ngumpul-ngumpul tepat di pinggir lapangan basket gara-gara nggak ada pelajaran.

Siang itu, sekitar pukul 2 siang. Kelas gue lagi diliburkan mendadak gara-gara guru Bahasa Indonesia kita tercinta, Pak Deden, mendadak ngantuk setelah selesai sholat Dzuhur dan memutuskan untuk meniadakan pelajaran. Sungguh alasan yang syahdu.

Tentu berita ini disambut bahagia oleh teman-teman sekelas gue. Ada yang menggelar syukuran, ada yang bersuka cita dengan melakukan Takbir dan Tahmid, ada juga beberapa orang cowok mojok di pinggir kelas dengan mata tertuju pada salah satu layar handphone.

Ah, gue tau nih, ini sih antara lagi nonton video “Goyang anak SMA Karawang.3gp” Atau gak “Adegan Hot Siswi SMA di kelas.mp4”.

Eits, kalian pasti heran kenapa gue tau film-film begituan yak?
Jangan heran, gue sempat kapok gara-gara nonton film begituan. Usul punya usul gue sempat dikasih pinjem handphone sama Ikhsan. Doi bilang bahwa di galery hapenya itu ada beberapa video yang patut gue jadikan landasan teori sebagai bahan presentasi BIOLOGY tentang anatomy tubuh lusa depan.

Dengan disertai niat yang menggebu-gebu, ketika gue buka tuh video, bukannya malah jadi suka, tapi gue malah kecewa berat ketika ternyata isinya tentang Lomba Nari anak cewek di salah satu SMA di Karawang, dan adegan siswi SMA yang kipas-kipas kepanasan gara-gara AC di kelasnya mati.

PFFFTTT!!!
Sebagai anak lugu yang tertipu oleh judul film yang menggoda, gue pulang ke rumah dengan lunglai..

.

                                               ===

.

Siang itu matahari lagi tampil atletis menggelegar di atas langit. Menyulap lapang basket kita yang cukup besar ini menjadi tempat yang cocok untuk merubah warna kulit dalam sekejap mata.

Awalnya, di lapang basket ini cuma ada gue dan Ikhsan doang yang lagi asik main basket berdua. Kita mengadakan sebuah lomba di mana siapa yang berhasil melakukan 10 Three Point Shot duluan, maka yang kalah harus beliin teh botol lawannya.

Lomba ini berlangsung cukup sengit. Hingga pada akhirnya gue dan Ikhsan terkapar gara-gara dari 67 tembakan yang kita berdua lemparkan, yang masuk baru 3 doang..

Benar-benar nggak macho banget.

Setelah saling bertatapan sambil terengah-engah, gue dan Ikhsan sepikiran untuk menghentikan perlombaan nggak jelas ini. Dan dengan diawali dengan Basmallah, maka lomba Three Point Shot ini pun resmi kita batalkan.

Gue terkapar di bawah pohon kersen di pinggir lapang basket. Di sana ada beberapa bangku dari batu yang sengaja didesain untuk nongkrong-nongkrong anak-anak sehabis latihan basket. Dan kebetulan temen-temen sekelas gue udah pada nongkrong di situ sambil sesekali ngegosipin anak-anak kelas lain yang hilir mudik di sisi lapang basket yang satunya.

“Cemen deh kalian, baru segitu doang udah kecapean” Ujar Mega sambil ngipasin diri sendiri

“Aelah ,Meg, kulit gue udah kaya zebra cross begini nih. Panas tahu nggak!” Jawab gue seraya merebut kipas dengan gambar wajah Siwon yang sedang dipeggang Mega.

“Aduh manja ih, cowok itu harus macho. Cowok item gara-gara olahraga itu keliatannya eksotis tau gak.” Balas Mega lagi.

Mendengar kata-kata pujian yang dikeluarkan oleh Mega, mendadak Ikhsan yang lagi berdiri sambil gigitin sedotan teh botol ini nyamperin gue dan Mega.

“Wuih gue banget tuh, Meg.” Kata ikhsan sambil naikin alis kanannya.

“Aih, apaan sih. Kamu sih item emang gara-gara jarang mandi aja, San, aku juga tahu.”

“Astagfirullah, tega amat. Tapi btw perhatian banget lo sama gue, Meg. Awas loh, ntar lama-kelamaan jadi suka beneran sama gue.” Ikhsan mendekatkan mukanya.

“Ih apadeh! Itemnya sih udah oke, tapi orangnya? Mukanya? kelakuannya? NOL BESAR!!” Jawab mega seraya noyor-noyor jidat Ikhsan.

Mendengar itu, ikhsan yang hitam legam gagah penuh keringat ini langsung lunglai disapu angin. Dirinya lemas dan menatap kosong ke arah lantai lapang basket.

“Kenapa lo nyet?” Tanya gue yang penasaran.

“Nasib gue kok gini-gini amat ya bro. Kalau dilahirkan lagi, gue pengen jadi teripang aja deh kayaknya..” Jawab Ikhsan lemas

“Anjir! hina amat lo pengen jadi teripang. Kaga ada binatang yang lebih bermartabat apa? Udah sono maen basket lagi aja sono, tunning lagi kulit lo biar lebih keliatan eksotis kaya kata si Mega” Gue melemparkan bola basket ke arah Ikhsan.

Mendengar masih ada kesempatan untuk mendekati Mega, Ikhsan langsung semangat maen basket dibawah guyuran sinar matahari yang panasnya udah kaya hairdrayer siang-siang gini.

“Astaga, emang keturunan Jin ifrit tuh anak. Panas-panas gini masih semangat aja maen basketnya. Bangsa jin emang cocok di tempat yang panas-panas ya…” Gue berucap lirih.

Sambil sesekali memperhatikan sahabat gue yang itemnya sudah mirip sama petasan banting itu, gue mendadak kepikiran sama apa yang Mega ucapkan tadi. Apa iya bagi cewek, cowok item itu menarik? Bukannya cewek doyan cowok yang cool dan putih ya?

“Oi, Meg.”  Gue memutuskan untuk bertanya kepada Mega.

“ya? Kenapa?” Jawab Mega.

“Apa bener cowok item itu eksotis?” Tanya gue lagi.

“Iya! Gentle banget tahu nggak keliatannya.”

“Lha, kulit item apa bagusnya cobak? Dakian gitu.. Kalau lo ajak jalan-jalan sambil gandengan tangan pas malam mingguan juga dia bisa ilang Meg kalau lewat tempat gelap..” Jawab gue sembari nyinyir.

“Yeee, itemnya ya item yang bersih lah. Bukan item kaya temen lo yang satu itu tuh.” Mega menunjuk ke arah Iksahn.

“OI GUE DENGER TUH!!!” Mendadak Ikhsan teriak-teriak dari bawah ring basket.

“Dasar Jin Ifrit, telinganya tajem amat..” Gue berdecak kagum.

Lagi berbicara berdua dengan Mega, ternyata Anya, teman gue yang juga lagi nongkrong di dekat situ, tidak sependapat dengan mega.

“Ah gak juga ah, Meg!” Mendadak Anya memotong pembicaraan.

“Cowok itu bagusnya yang bersih, maskulin. Apalagi kalau tajir.” Tambahnya lagi.

“Ih matre dasar, cowok putih tuh nggak gentle tau nggak. Kesannya tuh lekong.” Jawab mega

“Yeee, coba bandingin deh kalau lo lagi gandeng cowok maskulin dan cool di mall, sama lo lagi gandeng cowo item kaya Ikhsan itu. Kalau lo gandeng cowok maskulin, lo bisa dengan bangganya berjalan di hadapan semua cewe yang iri sama lo. Tapi kalau lo jalan gandengan sama Bubuk Areng kaya Ikhsan itu, yang ada lo disangka lagi jalan sama adiknya Budi Anduk!” Jawab Anya ketus.

Dari jauh gue melihat Ikhsan terbujur lemas di bawah ring sambil memeluk bola basket. Gue rasa Ikhsan mendengar semua apa yang Anya katakan. Kasihan Ikhsan, orangnya nggak ada di sinipun tetep saja dihina-hina. Gue semakin kagum sama dia. Chemistrynya dapet banget di mata cewek.

Lagi pada berdebat tentang siapa yang paling disukai oleh para kaum hawa ini, mendadak gue iseng nanya kearah Fitri, cewek berkerudung anak rohis DKM yang pandai mengaji dan berdakwah.

“Fit, kalau tipe cowok lu yang kaya apa? Yang kulitnya item? Atau yang kulitnya putih?” Tanya gue.

“Ngg.. aku pengin punya cowok yang nakal, Dim..”

Mendengar hal itu, perdebatan Anya dan Mega mendadak terhenti. Semua temen-temen gue yang lagi pada nongkrong di bawah pohon terbujur kaku. Mata mereka tertuju pada Fitri.

Damn! Gue salah nanya orang..

.

                                                             ===

.

Setelah keadaan cukup tenang, gue, Mega, dan Anya kembali melakukan pembicaraan kecil.

“Tapi ya, Dim, biar bagaimanapun, apapun fisiknya, wanita bisa jatuh hati kalau dia sudah kena 2 faktor yang krusial.” ucap Anya.

“2 faktor krusial?” Tanya gue heran

“Iya, faktor kenyamanan, dan faktor humoris.” Jawab Anya

Gue setuju sama Anya. Cowok romantis yang humoris itu adalah cowok paling bajingan di seluruh muka bumi. Gue yakin cowok begituan nggak perlu banyak waktu buat dapetin cewek.” Sambung Mega.

“Kok gitu, Meg?” Gue makin heran.

“Yaiyalah, Dim, sebanyak apapun tipe cowok idaman cewek, kalau dia sudah dibuat nyaman dan dibuat tertawa tanpa beban, cuma butuh tambahan sedikit waktu aja bagi cewek itu untuk bisa jatuh cinta walau cowok itu bukan tipe idamannnya.”

“Nah itu banget Meg, aku setuju. Biar bagaimanapun, Inside its Better than outside” Jawab Anya sambil nyedot Teh Botol punya gue.

“Aku juga sempat ngalamin hal ini, Dim. Kamu inget mantan aku yang anak IPA 1 itu?” Tanya Anya lagi ke arah gue

“Bentar-bentar, gue lupa namanya. Kalau nggak salah namanya Roshida ya?”

“Namanya Rasyid oi!! jauh amat Rasyid sama Roshida!” Anya memukul gue pake kipas gambar muka Siwon kepunyaan Mega.

“Ah ya itu maksud gue. Sorry gue nggak terlalu pintar kalau menghapal nama cowok.” Balas gue.

“Ah alasan kamu aja itu. Nah gini, Rasyid itu jujur deh kalau dibandingin sama mantan-mantan aku sebelumnya, dia tuh nggak ada apa-apanya. Dari fisik dia kalah semua. Ganteng? Engga. Tajir? Engga. Tinggi? Biasa aja. Cool? Kaga sama sekali. Jelek sih iya..”

“Sama Ikhsan, ancuran mana?” Tiba-tiba gue bertanya memotong pembicaraan Anya.

“Aduh! Susah dibedain deh mereka berdua mah.. Sama-sama bubuk.”

“OI!! GUE DENGER KAMPRET!!” Dari jauh Ikhsan teriak ke arah kita bertiga.

.

“Nah, Dim, tapi dia ntara semua mantan-mantan aku, kalau disuruh balikan, aku milih Rasyid ketimbang yang lain.” Ucap anya sembari menghela napas panjang.

“Loh, kok gitu?” Gue penasaran.

“Dia punya sesuatu yang orang lain nggak punya.”

“Bulu idung yang keluar-keluar itu maksudnya?” Tanya gue.

“Bukan ih!” Sekarang Anya memukul gue dengan power bank kepunyaan Mega.

“Dia itu orangnya sabar. Dia mau mendengarkan setiap kali aku mengeluh. Dan setiap kali aku memutuskan untuk manja, secapek apapun dia, dia tetap mau menemani.

Cewek emang pada dasarnya cuma butuh didengar. Mereka ingin merasa ditinggikan. Dan dengan cara didengar itulah mereka merasa seperti diperhatikan. Dan cowok yang mampu seperti itu adalah cowok yang patut dipertahankan, Dim.

Dia juga orangnya humoris. Berjalan sama dia ke manapun aku nggak masalah. Enggak harus jalan pake mobil pun aku nggak masalah. Karena aku lebih memilih ketemu dia ketimbang memilih harus dengan apa dia datang menjemput.

Ketemu dia tuh asik, banyak ketawanya. Aku nyaman. Walau banyak cowok yang datang dan nanya kenapa aku lebih milih Rasyid ketimbang mereka, aku dengan lantang berani bilang bahwa mereka itu cuma tahu kalau aku hanya pacarnya Rasyid. Tapi mereka nggak tahu alasan apa yang membuat aku bertahan dengan Rasyid.” Anya meneguk Teh Botol ke dua kepunyaan gue dengan ganas.

“Hooo begitu ya..”

“Ngg.. mirip seperti teh botol gue ini lah ya. Cowok itu harus serupa Teh Manis. Yang kenyamanannya dapat dinikmati kapanpun kita lelah, yang mempunyai wanginya sendiri, sifatnya lembut dan manis, tapi nggak terlalu manis. Yang ngebuat kita yang  meminumnya tuh kayak pengin minum lagi dan lagi. Ada perasaan segar sendiri tiap ketemu dia” Tambah Anya.

“….” gue cuma bisa diam menatap Teh Botol gue yang diakuisisi oleh Anya.

“Eh aku juga ada, Dim, agak mirip sama cerita Anya sih” Sambung Mega.

“Kalau elo emang gimana kisahnya?” Tanya gue.

“Kalau aku agak sedikit beda, Dim. Sekarang aku lagi deket sama Yogi, mantan ketua OSIS kita yang satu itu tuh..”

“Kenapa nggak deket sama Ikhsan aja?” Gue memotong.

“PLEASE Dim jangan nyebut Ikhsan pas aku lagi cerita. Aku gak mau harus wudhu 2x!”

Dari jauh gue liat Ikhsan sudah nggak bisa berkata apa-apa lagi. Doi cuma duduk di bawah ring basket  sambil melihat lirih ke arah Mega.

“Yogi orangnya beda, dia bukan tipe cowok ‘terserah’. Aku sudah cukup capek sama cowok yang tiap kali aku nanya mau kemana, dia pasti jawab terserah.

Please deh, cowok kok nggak punya pendirian sih! Sekiranya dia harus tahu dong mau ke mana-ke mananya. Jadi kan nggak usah semua terserah aku juga. Biar bagaimanapun wanita itu butuh dipimpin. Dan dari hal kecil-kecil seperti inilah kita bisa melihat cowok mana yang mampu memimpin untuk ke depannya.

Nah Yogi itu beda, dia tahu mau mengajak aku kemana. Ketika mau mampir untuk sekedar mencari makan pun dia langsung mempunyai usul. Selain itu juga dia itu tegas, ketika aku ragu mau memilih apa, dia langsung mengusulkan sesuatu secara detail.

Bukankan cowok yang seperti itu berarti pengetahuannya luas kan ya? Mungkin bukan luas tentang ilmu-ilmu pelajaran. Tapi ia tahu bagaimana membuat wanita yang ada disampingnya merasa nyaman untuk mengambil keputusan.” Jawab Mega.

“Mirip sama filosofi Teh Manisnya Anya dong?” Tanya gue

“Ngg.. Kalau aku sih beda. Menurut aku, cowok itu harus serupa kopi. Dia pekat, dia gelap, dia pahit, dan manisnya hanya terasa bagi yang sudah cocok sama dia. Ini menandakan cowok tuh memang harus berbeda dari cewek, dia harus terlihat gagah dan berwibawa, itulah yang dinamakan mempunyai pekat sendiri.

Kalau gelap, maksudnya pria memang seharusnya misterius-misterius gitu, nggak mudah ditebak. Karena itu yang membuat dia menjadi lebih berhaga di mata kita.

Sedangkan pahit, artinya cowok itu nggak seharusnya mudah ditundukkan, dia harus punya pendirian, tapi kepahitannya itulah yang menjadikan candu bagi beberapa penikmat kopi.

Dan yang terakhir, dia tidak harus mengumbar-umbar sifat manisnya. Namun kepada orang yang menurut dia tepat, dia bisa memberikan kenikmatan pahit manis yang ngebuat candu bagi penikmatnya..” Ucap Mega menambahkan.

“Hmm jadi intinya?”

“Jadi intinya, cewe itu butuh cowok yang bisa memberikan kenyamanan. Gak peduli bentuk luarnya seperti apa, karena hati wanita selalu hidup dan tumbuh pada sifat prianya.” Jawab Mega dan Anya sambil tertawa

Tawa keras yang terjadi di tengah kami inipun menjadi akhir obrolan absurd di bawah pohon siang itu..

.

                                                          ===

.

Sesaat gue akhirnya tersadar dari lamunan gue perihal percakapan kita bertiga waktu masih hidup di masa-masa SMA dulu. Dan sampai sekarang gue masih belum bisa mengerti jalan pemikiran cewek perihal tipe cowok yang mereka inginkan.

Karena yang gue tangkep dari cerita di atas adalah, sebanyak apapun tipe idaman seseorang dalam diri kita, jika kita sudah dibuat nyaman dalam kurun waktu yang lama. Tipe idaman kita bisa berubah sesuai dengan orang yang memberikan kenyamanan itu sendiri.

Maka dari itu, kadang cowok ingin mempunyai wanita yang mirip seperti Ibunya. Atau kebalikannya, cewek ingin mempunyai pria yang serupa Ayahnya.

Karena kita tahu, Ayah dan Ibu adalah guru sekaligus cinta pertama anak-anak kita kelak.

Jadi, sebagai cowok, gue harus menjadi seperti apa nih?
Seperti filosofi Teh Manis kepunyaan Anya-kah?
Atau seperti filosofi Kopi Pekat kepunyaan Mega?

Ah, wanita itu memang mahluk rumit ya gaes.
Tapi gemesin sih..

Yang jelas sebagai seorang cowok yang sedang beranjak menjadi pria, semoga gue bisa menjadi pihak yang menyamankan pasangan gue sendiri. Menjadi pihak yang satu-satunya dicari ketika ia sedang bosan dengan kesehariannya, menjadi pihak yang satu-satunya dituju ketika ia butuh kenyamanan. Dan menjadi pihak yang namanya dipanggil di dalam setiap doa-doanya setelah doa kepada Tuhan, orang tua, dan keluarga..

Hari ini,
Tampaknya sudah saatnya untuk kembali membereskan kamar kosong di dalam hati. Sudah saatnya direnovasi ulang. Diganti lampunya yang telah padam, dibersihkan dari debu-debu yang menempel, dibereskan dari kenangan-kenangan lama yang berserakan, dibuka pintunya agar sirkulasi udaranya kembali segar.

Dan yang jelas, gue berharap ada seseorang yang akan menemani ketika gue memutuskan untuk mewarnai ulang dinding-dinding kamar hati ini.

Will you?

.

Oke, Thats all, gaes.
Semoga bermanfaat yak!
See you on next FreeDay~

BayBay..

To Anduk: Thank you so much. Happy 2014 and I’ll return with a smile! Love you!

- Andy’s autographed message to fansite Anduk thanking them for their birthday support (cr on pic)

fr: Anduk, ansooni

【Letter from Andy】
Thank you very much for all the support. May you all have a joyful and happy 2014 new year. Will comeback with a smile on my face. I love you all.

i missed you so much T____T