and aisyah

2

THE QURAN TEACHES US TO BE OPTIMISTIC

I always find myself questioning the things I do, even if I was the one who opted to do it from the beginning. I frequently ask myself whether I’m doing the right thing. Whether there’s any good in the things I choose to put myself in. The school I go to, the activities I join, the events I attend, the friends I choose to keep. Are my decisions going to benefit my future or are they just a waste of time? I wonder if I’m really doing anything right these days. You see, I have always had this fear in me. This fear I can’t specifically explain. I often am afraid if I make the wrong choices, especially when I have to make big important life decisions. What if my plans don’t work out? Who will I be in 10 years? Will I ever really figure it out?

I hate self-doubt. You know when they say we are our own biggest critics, they’re hella right.

Sometimes, the plans that I have for myself, are not exactly the plans that Allah has for me. I get myself in a relationship, and it ends tragically. I take up a course I thought I’m good at, and later fail miserably. I apply for a scholarship, but then find out I was rejected. I plan to graduate on time, but got sick and am told to defer my studies. All these circumstances, it all leads to self-doubt. Will I ever be good enough for anything?

A few days ago, I was reading Surah Al-Kahf and stumbled upon a verse that struck a chord with me. It was so beautiful I made it my phone’s wallpaper lol. The verse goes:

إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا 

“Except “if Allah wills.” And remember your Lord when you forget & say “May my Lord guide me to what is right” (18:24)

Perfect timing. This verse isn’t only a do’a but also a statement of optimism. “Asa” according to the arabic language is a verb used to express hope. Subhanallah, Allah is teaching us that the most fundmental thing we need is His guidance. He is teaching us that in the end, He knows best what is good for us and all we have to do is give our best in the things we do. The rest is Allah’s job. I learnt that if we do what is good, our effort will never go to waste, even if things don’t turn out the way we want it. Our compensation is with Allah. 

The verse screams optimism. It says “when you forget” because whenever something bad/failure befalls us, we tend to lose hope. We are bound to feel lost & confused. Been there a lot of time. So this powerful verse is telling us ‘no, don’t give up, hang in there and ask Allah to guide you’. He created us, He created the stars and the universe, so He definitely knows what is best for us. Whatever happens yesterday, stays there. If we have failed in the past, that failure should not dictate our future. 

“Amazing is the affair of the believer, verily all of his affair is good and this is not for no one except the believer. If something of good/happiness befalls him he is grateful and that is good for him. If something of harm befalls him he is patient and that is good for him” (Saheeh Muslim #2999)

So I guess we will never really have all the answers, but it’s perfectly okay, What we do know is that we can always ask Allah to guide us to what’s the best for us.

As long has we put our trust in him, we are in good hands.

I wish to share something I discovered in 2016, which I find very profound and liberating; It is that God, unlike human beings, will never compare you to anyone else. He’ll only compare you to you. Who you were yesterday, who you are today, and who you will be tomorrow. Your only competition is, well, you.

Allah is not looking for perfection, but simply progress and realistic improvements within ourselves. With this in mind, you don’t have to worry about what people think, how great other people are and instead focus on your own personal (spiritual, physical etc) development, at your own pace. You will learn to accept that Allah has created everyone very differently, and that is okay. I used to have this self-limiting belief in what I can do, especially in UM law school where everyone is just freaking smarrrrt. So instead of ‘I’m gonna try my best’ I say 'there’s no use, there’s always going to be someone better’. I know, dumb and damaging indeed.

But Alhamdulillah towards the end of 2016, thanks to positive and supporting friends, I realized how important it is to have faith, both in God and myself & managed to incorporate a more positive psychological premise. Take it easy, but take charge. Work very hard. And by Allah’s grace and mercy, you will get what you want. He is just waiting to answer your prayers.

2016 was hands down the toughest yet most beautiful year in my life. I had my first ugliest heartbreak, got terribly sick & depressed, restricted to join so many activities & lost the people I love. But I also had my best semester in law school, performed well in class, had the best ramadan in my 22 years, found spectacular friends, bestowed with exciting opportunities and the list goes on. So no regrets. I’ve gotten over grieving on what is not meant to be mine, done crying buckets over things that are not in my control and now just looking forwards to be a better Muslim, and human being as a whole.

Thank you everyone for 2016, I am absolutely blessed beyond measure. Wishing all of you a kick-ass 2017.

With love & admiration,
Aisyah Shakirah Suhaidi

Kutipan-kutipan Buku Aisyah: Wanita yang Hadir dalam Mimpi Rasulullah

“Jangan buat Aisyah sedih,” katanya.
Itulah… sekali lagi dia memanggil ku dengan namaku. Sebenarnya, saat itu kepalaku tertunduk, keningku dipenuhi banyak pikiran. Aku tak memandang wajah seseorang pun, tapi kalimat pendek itu… “Jangan buat Aisyah sedih,” membuatku tertegun. (Pg. 75)

“Kau… telah diperlihatkan kepadaku dalam mimpiku.” Rasulullah berkata seperti ini kepadaku. (Pg. 88)

Tidur nyenyak Rasulullah lebih manis daripada madu, selalu terlihat menyenangkan hati. Aku takut melepaskan tangannya ketika tertidur. Bila terbangun tengah malam, aku mencari-cari dengan tanganku yang gemetaran. Kedua mataku terbakar seperti orang buta bila tak menemukannya. Aku menangis seperti orang buta. Setiap kali ketika ujung jariku menyentuhnya, ah… di waktu tanganku tak bisa memegang tangannya untuk menemukan dirinya di gelap malam. (Pg. 94)

Kerinduan… aku tahu apa itu kerinduan di hari-hari hijrah. Aku bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kerinduan ini kepadaku, yang mengubahnya sebagai sekolah diri. Kedewasaan, tumbuh besar untuk orang lain tak hanya di masa-masa awal kanak-kanak. Berapa pun umur kita, musibah-musibah yang menimpa diri kita merupakan petualangan kedewasaan sebagai jalan pengajaran.

“Perpisahan ini menjadi tabir bagi Aisyah,” ucap ibuku.

“Perpisahan ini adalah mahkota pengantin, mahar bagi Aisyah,” ujar ibuku untuk meringankan bebanku. (Pg. 121)

Kebenaran itu seperti berkah yang terpancar dari niat tulus seindah gunung-gunung, tanpa menanti balasan apapun. Kebenaran ialah ketulusan di dalam senyap-senyap burung yang kelelahan terbang, keledai-keledai yang menyimpan susu, seluruh sayap dan hewan berkaki empat, sampai kepada para pengembara dan orang-orang lemah.

Kebenaran merupakan balasan yang bersih.

Kebenaran… sebuah pernikahan. Mahar. Kebenaran kata-kata.
(Pg. 142)

Rasulullah tersenyum. Setiap senyum Rasulullah bagiku adalah hari pernikahanku. (Pg. 142)

Kakakku bertanya kepada Rasulullah, “Jika seseorang menolak karena rasa sopan santun meskipun sebenarnya menginginkannya, kemudian mengucapkan terima kasih, apakah itu juga dihitung dan dicatat sebagai kebohongan, ya Rasulullah?”

Rasulullah sekali lagi menjawab pertanyaan itu dengan senyum. “Kebohongan tetap akan tercatat sebagai kebohongan.”
(Pg. 146)

Dia memanggil ku “Uwais!” ketika dirinya bahagia. Beliau suka memainkan hidungku sambil memanggil, “Aisyahku.” Saat dirinya lelah, beliau berkata, “Bicaralah wahai Humaira.” Begitu aku berbicara ke sana-kemari seperti arus air, raut-raut sedih di wajahnya hilang satu per satu.

Ketika menatap, dia seakan-akan melihat darah yang mengalir di pembuluh darahku. Luar dan dalamku satu bagi Rasulullah. Seluruh kewanitaanku, kecemburuanku, kemanjaanku, keingintahuanku, dan ketidaksabaranku terlihat jelas.

Bila berusaha menarik perhatian ku, dia akan berkata, “Wahai putri Abu Bakar, bukankah ini seperti ini…” atau “Wahai putri Ash-Shidiq, bukan seperti itu, tapi seperti ini.” Ketika membicarakan diriku pada orang lain dan Rasulullah berkata begini, “Ibu kalian hari ini berkata seperti ini…” itu berarti ada sesuatu hal yang aku perlu ubah.

Rasulullah menjelaskan satu per satu kepadaku, sabar mendengarkan ku, berbagi kebahagiaan ku. Tanpa kusadari, Rasulullah mengajari diriku seperti seorang murid. Sementara itu, aku selalu rindu kepada Rasulullah meskipun berada di sisinya. Aku tak bisa melewati hidup tanpa Rasulullah ketika aku tidur di sampingnya. Bahkan ketika kedua mataku tertutup pun aku menghitung satu per satu hela napasnya. (Pg. 148)

Aku tak pernah makan melebihi apa yang dimakan Rasulullah. Aku takut dan menjauhi hal-hal duniawi. Apa yang kami dapatkan dari hal duniawi, apa yang bisa kami lakukan dengan api. Rasulullah sudah merupakan sumber kehangatan dan sinar bagi kami.” (Pg. 152)

Tanpa Rasulullah, aku seperti seorang anak kecil yang menggigil kedinginan dalam kegelapan. Kadang-kadang bila malam hari ketika harus berpisah dengan Rasulullah, aku ingin pergi dari dunia ini. Tanpa Rasulullah, udara tak berembus. Pagi tak kunjung tiba di hari-hari tanpa dirinya. Cinta Rasulullah adalah oase di tengah-tengah padang pasir. Sebuah oase yang terpancar dari surga. Bayangkan sendiri apa yang terjadi jika terjadi perpisahan. (Pg. 152)

“Aisyahku, aku tahu kapan kau marah kepadaku.”

“Bagaimana mungkin aku marah kepadamu, ya Rasulullah?”

Dia menyentuh lembut daguku dan menatap dalam-dalam kedua mataku sambil tersenyum.

“Ketika kau benar-benar marah kepadaku, kau berkata, ya Tuhannya Ibrahim, sementara kalau kau baik kepadaku, kau akan berkata, ya Tuhannya Muhammad. (Pg. 156)

Rasulullah tersenyum sambil memainkan hidungku.
“Bicaralah wahai Humaira…”

Dan aku sering bertanya kepada Rasulullah, “Apakah engkau mencintaiku?”

“Iya…”

Aku terdiam sebentar, tapi terasa lama seperti beribu-ribu tahun. Dia menggelengkan kepalanya, mengajak aku berbicara.

“Seberapa besar engkau mencintaiku?”
“Seperti titik-titik yang terlempar ke kain sutra…”
“Maksudnya…”
“Seperti titik-titik yang tak terlihat…”

Jawaban ini seperti sebuah bintang yang dalam seribu tahun sekali turun ke dalam hatiku, penuh dengan cinta.
Kadang-kadang bintangku jatuh. Aku ingin memperbaharui cintaku dengan kata-kata. Dalam bentuk isyarat aku bertanya kepada Rasulullah yang berada dalam kerajaan cinta, “Bagaimana dengan titik kita yang tak terlihat?”

Sambil tersenyum dia menjawab: “Seperti hari pertama…” (Pg. 194)

Para pemuda suka bertanya kepadaku mengenai diri Rasulullah. Aku malah balik bertanya begini kepada mereka, “Apa kalian tak pernah membaca Alquran? Rasulullah itu adalah Alquran yang berjalan.”

Perkataan Rasulullah itu seperti penerang yang terang-benderang. Ia membuka cakrawala. (Pg. 202)

Aku selalu merasakan bahwa hujan itu bermaksud menghapus seluruh kesedihan manusia. Ia memadamkan kobara api kesedihan, rasa letih peperangan, dan rasa asing… (Pg. 251)

Lantas Rasulullah balik bertanya lagi kepada para sahabat: “Menurut kalian dari sisi keimanan siapakah yang paling kuat?”

“Para malaikat ya Rasulullah…”

“Malaikat memang diciptakan untuk beribadah kepada Allah.”

“Para nabi ya Rasulullah…”

“Wahyu turun kepada para nabi dari Allah…”

“Kalau begitu para sahabat…”

“Kalian adalah para sahabat yang bertemu dan berbicara secara langsung dengan nabi kalian…”

“Kalau begitu siapakah itu orang-orang yang beriman kuat ya Rasulullah?”

“Umatku di akhir zaman yang beriman kepadaku dan mencintaiku tanpa mengenalku dan melihatku.”

Mencintai Rasulullah segenap hati, beriman kepadanya, berusaha berjalan di jalannya, merupakan martabat iman yang paling tinggi.
(Pg. 255)

Sering kami berdua bekerja bersama-sama. Misalnya, ketika aku memintal kain wol, dia memperbaiki sandal-sandal kulit. Ketika aku memasak, Rasulullah mengambilkan kantung air yang tergantung di tembok dan mengisinya dengan air. Masakan kami tak pernah lepas dari tanaman-tanaman beraroma. Aku membaca Alquran dari hapalanku, sementara Rasulullah mendengarkan aku. (Pg. 264)

Suatu hari mendadak seorang Badui datang menemui Rasulullah di masjid. Ternyata dia telah menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke sini. Entah siapa yang tahu persis bagaimana mereka menceritakan mengenai diri Rasulullah kepadanya. Dia masuk ke masjid dan setelah beberapa saat menatap Rasulullah badannya mulai bergemetar. Aku mendengarkan seluruh kejadian itu dari kamarku.

“Jangan takut,” ucap Rasulullah kepada orang Badui itu. “Aku bukan raja. Aku putra seorang perempuan Quraish yang makan daging dikeringkan di bawah sinar matahari.” (Pg. 277)

“Apakah kau mencintai Aisyah?”

“Iya, aku mencintai Aisyah…”

“Bolehkah aku bertanya satu pertanyaan lagi?”

Sekali lagi dia menganggukkan kepala sambil tersenyum. Seakan-akan bintang-bintang bertaburan di kepalanya ingin mendengarkan pembicaraan kami.

“Bagaimana engkau mencintai Aisyah?”

Beliau malah terdiam seperti malu. Beban hidup dirinya sudah sangat berat. Dia adalah seorang jendral. Hatiku sesak ketika dia malah mempercepat langkah untanya maju untuk pergi. Sungguh terlalu banyak pertanyaan yang aku utarakan.

Mengapa aku melakukan hal ini? Mungkin mati lebih baik bagiku…

Kemudian dia menunduk seakan-akan tahu bahwa aku menatapnya. Entah bagaimana mendadak dia memutar balik untanya dan memacu cepat-cepat dan berkata kepadaku, “Seperti hari pertama…”

Kemudian dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara memberikan salam kepadaku dengan pesona seorang pejuang yang mendapatkan kemenangan
, lantas berputar cepat menuju ke arah pasukan yang berada di barisan paling depan. (Pg. 287-288)

“Sungguh! Aku tak akan berterima kasih kepada kalian maupun kepadanya. Aku hanya bersyukur dan berterima kasih kepada Allah yang telah menurunkan ayat mengenai diriku dan telah menjauhkan diriku dari fitnah-fitnah itu.” (Pg. 316, setelah akhirnya turun ayat dari Allah kepada Rasulullah yang membuktikan kesucian Aisyah dari fitnah karena “Kalung”.)

Dunia selalu membuat pusing dan tak pernah berhenti bagi orang Mukmin. Bagaimana mungkin bisa berhenti? Dunia merupakan penjara, gelanggang tempat ujian, bagi orang beriman. (Pg. 333)

“Jika kalian memang benar-benar seperti yang kalian katakan, aku akan mengajarkan lima hal lagi sehingga perilaku baik kalian menjadi dua puluh.”

“Silahkan ya Rasulullah!”

“Jangan kau kumpulkan apa yang tidak kalian makan. Jangan dirikan bangunan yang tidak kalian tinggali. Jangan berselisih satu sama lain karena perbedaan. Jauhilah hal-hal yang tak diperintahkan oleh Allah. Berlombalah dalam kebaikan.”

Rasulullah juga sering menasihati kami seperti yang dia lakukan kepada para utusan.

“Dunia adalah tempat ujian yang melelahkan,” ucapnya.
“Selain dari orang yang menjauhi larangan Allah, mereka takkan selamat dari tangan-tangan dunia.” (Pg. 346)

‘Ya Umar!’ ucapnya. ‘Kau bertanya soal bekas anyaman dalam tubuhku, padahal kelembutan setelah sesuatu yang keras itu sangat nyaman. Kau sedih karena atap ruangan ini pendek, padahal atap kuburan akan lebih pendek daripada ini. Kita meninggalkan hal duniawi ini kepada ahli dunia, sementara itu mereka menyerahkan akhirat kepada kita. Aku dan dunia itu seperti tentara berkuda yang melakukan perjalanan di tengah musim panas. Tentara berkuda yang letih karena terik panas matahari itu berteduh di bawah pohon, kemudian melanjutkan perjalanan dan meninggalkan tempat itu. Kisra dan Kaisar adalah seorang raja, sementara aku seorang nabi. Aku hanyalah hamba Allah. Aku duduk seperti seorang hamba, makan seperti seorang hamba…’ (Pg. 393)

“Ada berapa emas, Aisyah? Di mana kau menaruhnya?”

Aku lari membawa emas itu kepadanya. Aku seperti juru tulisnya. Rasulullah mengambil emas dari tanganku kemudian mulai menghitung.

“Lima… enam… tujuh…”

Rasulullah menaruh emas-emas itu di telapak tanganku kemudian menutupi dengan jemarinya. “Selama emas ini berada di sini…” katanya.

Kedua mataku terbuka, menatap kedua mata Rasulullah.

“Selama emas ini berada di sini… bagaimana Muhammad bisa pergi ke hadapan Allah?”

Anak panah terlepas dari busurnya, tertancap tepat di tengah-tengah dadaku. Tubuhku membeku. Lidahku tertelan sambil bersandar. Tubuhku mulai bergerak mundur. Seakan-akan dunia berada di tanganku dan tanganku seakan-akan hilang karena beratnya.

“Ambillah ini semua, segera infakkan emas ini…” ucap Rasulullah.
(Pg. 425)

Aku adalah Aisyah di masa-masa sulit.

Aku tak pernah merasakan pernikahan lagi selama masa-masa hijrah.

Hari pernikahanku yang sebenarnya adalah hari wafatku, hari ketika aku bertemu dengan rahmat seluruh alam, Rasulullah, orang yang aku cintai.

Aku bersaksi pada perintah Allah, kenangan Rasulullah, wasiat dan amanah Alquran, tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Aku adalah Aisyah.

Aku adalah Aisyahnya Muhammad.
(Last page)




Membaca kisah Rasulullah dari sudut pandang dan kacamata Aisyah, seperti membaca sebuah diary dan surat cinta dari seorang istri untuk mengenang sosok suami tercintanya :)

theguardian.com
Suspect in North Korea killing 'thought she was taking part in TV prank'
Indonesian Siti Aisyah, 25, duped and ‘not aware it was assassination attempt by alleged foreign agents’, says head of police
By Oliver Holmes

An Indonesian woman arrested for suspected involvement in the killing of the North Korean dictator Kim Jong-un’s half-brother in Malaysia was duped into thinking she was part of a comedy show prank, Indonesia’s national police chief has said, citing information received from Malaysian authorities.

Tito Karnavian told reporters in Indonesia’s Aceh province that Siti Aisyah, 25, was paid to be involved in pranks .

He said she and another woman performed stunts which involved convincing men to close their eyes and then spraying them with water.

“Such an action was done three or four times and they were given a few dollars for it, and with the last target, Kim Jong-nam, allegedly there were dangerous materials in the sprayer,” Karnavian said. “She was not aware that it was an assassination attempt by alleged foreign agents .”

Siti’s family has said they were shocked to hear of her involvement in the case, describing her as a struggling mother who had travelled to Malaysia for work. Her 26-year-old Malaysian boyfriend was also arrested by police late on Thursday. Police are hunting for other accomplices.

Authorities are investigating whether Siti and another female suspect killed the 46-year-old North Korean exile in a shopping concourse at Kuala Lumpur’s international airport on Monday.

[…]

North Korean media have made no mention of Kim Jong-nam’s death.

youtube

THE FINAL POST

I don’t remember a lot of ramadans, but in my 22 years of living, this past ramadan was probably the best. There was something extra special about it. Before ramadan I wrote down some goals that I wished to achieve throughout the month and the things I wanted to accomplish by the time ramadan is over. I didn’t want to be too ambitious setting unreasonable goals that I know I’m not going to keep up to. I also didn’t want to share them with you guys, not until ramadan is over. 

  1. Blog daily for 30 days - This was probably the hardest & I really doubted myself in the beginning, but alhamdulillah I managed (alright to be fair i skipped 4/5 days due to travelling etc). Of course to share something, one must first be equipped with knowledge. So I tried to study the Quran and listen to islamic lectures for the whole month, and took notes while I was at it. When I was done, I would share them all here on my blog. Although ramadan is up, i’m just gonna leave all the posts here, hopefully it would continue to benefit us all

  2. Remember a surah - I challenged myself to memorize at least one surah from the quran. After going through the quran, I picked Surah Al-Jumu’ah. Since it has been such a long time since I actually got myself to memorize a full surah, starting over was very tricky. But praise be to Allah, it got easier in time and by His mercy, i eventually managed to have the surah by heart

  3. Give up music and movies - Ok this has nothing to do with some fatwas saying music is haraam or anything. Refraining from it was a personal choice. I gave myself an alternative though, say I really wanted to listen to music- they should remind me of Allah. It felt nice taking a break from my depressingly satisfying playlist for a while. I learnt a thing or two from this as well, inshaAllah will share them here soon.

These resolutions might seem small to some of you, I mean, bet you guys had bigger aims. However this helped me a lot to improve myself. I learnt so so much this ramadan i wish it never ended, at least not that quickly. Also, for those who has been supporting me from the start, thank you so much. I have been getting so much love in my Tumblr inbox, mashaAllah. Hope you guys had a wonderful ramadan. May Allah be pleased with our ibadahs inshaAllah.

Anywhooo, if it’s not too late. Happy Eid Mubarak

Jangan ragu untuk kembali bertaubat kepada Allah, meskipun kesalahan dan dosa mengotorimu! Sesungguhnya Dia yang menutupimu ketika dirimu dibawah atap maksiat tidak akan mempermalukanmu selama dirimu berada dibawah sayap taubat.
— 

@azammohmad - Syaikh Azzam Muhammad al Muhaisini, Imam Masjid Jami’ Aisyah, Mekkah, Arab Saudi.

14/9/2016

aku ingin menjadi

seperti Siti Hawa.
tidak pernah menyerah keliling dunia untuk dipertemukan dengan Adam-nya.

seperti Siti Hajar.
tidak pernah lelah berjalan antara Shofa dan Marwah untuk menemukan banyu demi Ismail-nya.

seperti Siti Khadijah.
cerdas dan kaya. supaya bersama suaminya bisa berbagi untuk sesama.

seperti Aisyah.
menunggu sampai tertidur di depan pintu saat kesayangannya belum pulang.

seperti Fathimah.
begitu menjaga diri sehingga Allah memberikannya seseorang yang begitu menjaga hatinya.

seperti Ibu.
yang meneladani Siti Hawa, Siti Hajar, Siti Khadijah, Aisyah, dan Fathimah.
yang menjadi teladan untuk kami, anak-anaknya.

aku ingin menjadi yang terbaik.
tidak hanya yang terbaik dari diriku sendiri.
tetapi juga yang terbaik dari yang mungkin kau dapatkan.
yang bisa kau bayangkan.

aku ingin menjadi hadiah untukmu.
seindah pelangi.

Duhai Ukhti, Jadilah Luar Biasa!

Begitu istimewanya wanita
Hingga surga disandingkan di telapak kakinya

Hingga islam muliakan ia
Sebagai perhiasan terbaik didunia

Saat iman menjadi muara jiwa,
Taqwa menjadi pakaiannya,
dan shalihah menghiasi akhlaknya…..

Maka tersenyumlah wahai muslimah mulia,
Karena kehadiranmu didunia menjadi penyejuk mata

Baktimu mengharumkan bangsa
Lembut tanganmu membangun generasi mulia

Jernih imanmu kan menghantarkanmu
Menjadi bidadari surga

Oleh : Dewi Nur Aisyah

(Kapan ya bisa nulis dengan bahasa selembut ini :D)

Romantis

Sepasang suami istri pernah saling berjanji, jika kelak salah seorang dari mereka lebih dulu meninggal, maka yang paling berhak memandikan jenazahnya adalah sang istri atau suami tersebut. Kata masing-masing,

“Sebab engkaulah yang paling berhak menyentuh auratku…”


Ternyata kisah romantis tersebut benar-benar pernah terjadi pada masa Rasulullah. Rasulullah pernah mengutarakan keinginan untuk mengurus jasad istrinya kepada salah seorang belahan jiwanya, yaitu ‘Aisyah. Meski ternyata, Rasulullah lebih dulu pergi dan jasad beliau ketika itu diurusi oleh para shahabat radhiyallaahu ‘anhum. Namun demikian, romantisme beliau telah terekam jelas melalui lisan istri tercintanya itu.

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kembali dari Baqi’. Beliau menemuiku ketika aku sedang sakit kepala. Saat itu aku mengaduh (karena sakitnya kepalaku), “Duh kepalaku…”

Beliau bersabda, “Saya juga Aisyah, duh kepalaku…” (Beliau bermaksud menghibur ‘Aisyah)

Kemudian beliau pun bersabda,

“Namun tidak jadi masalah bagimu jika engkau wafat sebelumku. Sebab akulah yang akan mengurusi jenazahmu, memandikanmu, meng-kafanimu, menyolatimu, dan aku jualah yang akan memakamkanmu.” (HR. Ibnu Majah, dan dinilai hasan oleh Al-Albani)


Begitulah suami istri, berusaha saling menjaga, tak sekadar menjaga urusan dunia, namun terlebih akhirat. Suami mengingatkan istri untuk menjaga auratnya dengan sempurna, terlebih ketika ia keluar rumah. Mengingatkannya untuk menghindari tabarruj (bersolek). Mengingatkannya untuk tidak memajang foto diri di media sosial. Protektif? Iya. Bukankah ini tanda cinta?

Istri mengingatkan suami untuk menjaga shalat wajibnya di masjid. Mengingatkannya untuk membawa pulang rizki yang halal. Mengingatkannya untuk tidak jelalatan. Bawel? Iya. Bukankah ini juga tanda cinta?

Maka, adakah sejoli yang lebih romantis, hangat, dan harmonis daripada rumah tangga Rasulullah?

Tentu saja jawabannya tidak ada.

Mengapa?

Karena, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 22)


Allaah, bimbing kami agar menetapi jalan sebagaimana jalan orang-orang shaleh seperti mereka… :’)

Empat perkara yang bisa meneguhkan hati di zaman fitnah:
1. Al Qur'an: “demikianlah Al Qur'an itu kami jadikan untuk meneguhkan hatimu” (al Furqon: 32)
2. Membaca kisah-kisah para Nabi: Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu (Hud: 120)
3. Mengamalkan Ilmu: Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), (An Nisaa: 66)
4. Doa: Sesungguhnya Rasul memperbanyak baca do'a ini: Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbii ala diinik (Wahai yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkan lah hatiku diatas agamaMu)
— 

@azammohmad - Syaikh Azzam Muhammad al Muhaisini, Imam Masjid Jami’ Aisyah, Mekkah, Arab Saudi.

13/8/2016

Jika Imam Syafi’i merasa mendapat bencana saat melihat betis gadis yang tak sengaja tersingkap. Aku malah merasa mendapat nikmat meski tak diungkap.

Jika Umar menginfakkan kebun yang membuatnya ketinggalan shalat ashar. Aku malah biasa saja berulang kali tertinggal meski azan terdengar.

Jika Urwah bin Zubair tak terganggu salatnya saat pisau bedah mengamputasi kaki. Aku bahkan terganggu hanya karena nyamuk yang menggigit ibu jari.

Jika Nabi Ibrahim as. sangat menyesal karena pernah berbohong meski seumur hidup hanya tiga kali. Aku malah santai saja meski jumlah dustaku sudah tak terhitung lagi.

Jika ‘Aisyah menyesali mengatakan “Shafiyah Si Pendek” yang bisa mengubah warna lautan. Lalu bagaimana dengan gunjingan dari mulutku? Mungkin bisa membuat seluruh samudra menjadi busuk dan pekat kehitaman

Jika Umar bin Abdul Azis bergetar menahan istrinya berbicara di ruangan yang diterangi pelita minyak yang dibiayai negara. Aku malah keasyikkan menggunakan fasiltas perusahaan seakan milikku saja.

Memang hari ini dunialah yang nyata dan akhirat hanya cerita. Namun sesudah mati, akhiratlah yang nyata dan dunia tinggal cerita.

Ya, Allah ampuni hamba!

Prestasi

Kitab biografi Khadijah dan ‘Aisyah (radhiyallaahu 'anhuma) lebih tebal mana?

Ternyata lebih tebal biografi 'Aisyah.

Mengapa? (1)

Karena, sejarah (dalam hal ini adalah peran ulama’) telah merekam jejak dan karya 'Aisyah dalam ranah ilmiah memang sangat banyak.

Mengapa? (2)

Karena…

Rasulullaah wafat di saat beliau masih berusia 18 tahun. Beliau masih sangat belia, dan kala itu belum dikaruniai buah hati. Yap, bersama 'Aisyah, Rasulullaah memang tak dianugerahi keturunan –dan itu tak mengurangi kemuliaan beliau sebagai Ummahatul Mukminin–

Di tengah “kesendiriannya”, apakah kemudian beliau larut dalam kegalauan hebat?

Ternyata tidak.

'Aisyah memilih untuk fokus berkarya, mewariskan prasasti ilmiah yang diwariskan oleh suaminya sendiri; Rasulullaah. Beliau berkhidmat menjadi oase kedua bagi masyarakat di sekitarnya, melalui karya-karya ilmiah. Maka tak heran, ibunda 'Aisyah pun mampu mengukir prestasi sebagai satu-satunya perempuan yang menduduki posisi keempat dalam jajaran “The Big Seven Perawi Hadits Terbanyak”.

(Ummu Salamah termasuk istri yang juga banyak meriwayatkan hadits Nabi, namun tak sebanyak 'Aisyah –dan itu tak mengurangi kemuliaan beliau sebagai Ummahatul Mukminin–)

Maka kemudian, karena prestasi ilmiah beliau inilah yang membuat biografinya terhimpun lebih kompleks dibanding Khadijah. Padahal Khadijah pernah disebut Rasulullaah sebagai sebaik-baik wanita ahli surga. Hal ini sampai pernah membuat 'Aisyah cemburu.

Nah jadi, mengapa? (3)

Mengapa kisah Khadijah tak setebal kisah 'Aisyah?

Karena…

Karya dan prestasi beliau adalah fokus mendidik anak.


Nah jadi…

Kemuliaan seorang perempuan itu memang tak pernah diukur dari sehebat apa ia berkarir. Khadijah dan 'Aisyah, keduanya adalah perempuan istimewa di bawah didikan lelaki istimewa pula. Entah menjadi seorang ibu ataukah istri (karena belum dianugerahi buah hati), keshalihannya tetap memancar kuat.

Dalam Al-Qur’an pun, peran wanita setidaknya terbagi menjadi 3 (lebih lengkapnya in syaa Allaah disambung di kuliah 3 atau seterusnya), yaitu:

1. Sebagai pribadi muslimah – lajang (yang sepenuhnya masih menjadi “milik orangtuanya), maka dia pun memiliki kewajiban untuk fokus berbakti kepadanya.

2. Sebagai seorang istri (ternyata porsi inilah yang prosentasenya disebutkan paling banyak di dalam Al-Qur’an) – fokus mengupayakan keridhaan suami.

3. Sebagai seorang ibu (prosentase terbesar kedua) – fokus mendidik anak.

Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita memahami esensi peran kita sebagai muslimah, sebagai hamba Allah.



“Setiap upaya kesungguhan untuk mendapatkan ridha-Nya, pasti akan menuai ujian dimana-mana – bagaimanapun bentuknya. Tugas kita bukan menghindar atau mencari-cari alasan, namun menguatkan kesabaran.”

Sebagai apapun kita kelak, wanita shalihah akan tetap istimewa. Mari mulai berbenah. :)


–Tulisan ini disarikan dari materi Ust. Budi Ashari, Lc dalam Stadium General Akademi Keluarga Parenting Nabawiyah di Semarang

Sayidatina Aisyah ra meriwayatkan: “Aku pernah menjahit baju di bilikku, tiba-tiba lampu padam, bilik menjadi gelap dan jarum terjatuh. Ketika aku cuba meraba-raba mencari jarum itu, tiba-tiba Nabi SAW datang kepadaku dari pintu bilik. Demi Allah yang tiada Tuhan selainnya, sesungguhnya telah terang setiap penjuru bilik dengan cahaya wajah Baginda sehinggalah aku dapat menjumpai kembali jarumku, kerana nur yang memancar….”

Dulu ada seorang srikandi islam bernama sumayyah. Dipaksa memilih antara keluarga dan agama.. Dipilihnya yang SATU. Kerna dia tahu didunia keluarga takkan bersatu, diteguhnya hati dikuatnya iman. Dia dan keluarga bersatu di jannah. Adakah sekuat ini imanmu bila keluarga ditindas?

Ya Haura al-Maqsurah,
Kenalkah engkau kepada Khadijah? Aisyah? Wanita ini kebanggaan agama. Saat dunia menentangnya, dia pertahankan agamanya! Menjadi Sayap kiri suami. Adakah madu sekarang bersikap seperti mereka?

Ya Wardhatul Syauqa Zulaika, Perdengarkanlah agungnya cinta dia pada Yusuf. Sehingga buta tak kenal dunia. Pada saat dia memilih Islam, Allah satukan Yusuf dengannya, tapi cintanya pada Yusuf tidak sekuat Cintanya pada Allah. Harinya berlalu dengan ibadah. Sehingga Yusuf yang kuat jadi Lemah mendambakan kasih isterinya Zulaikha. Beginikah cintamu pada Ikhwah?

Ya Mujahidah Islam,
Mengaku berjihad, Pernah dengar hebatnya Khaulah al-Azwar? Srikandi perang islam. Lagaknya seperti pemuda menghunus pedang dimedan perang, bagai rasaksa tangkasnya berkuda dan sekelip mata menumpahkan darah musuh durjana . Tidak dia angkuh malah malu untuk mengaku dia wanita yang berjihad bersama tentera khalid al-walid. Beginikah jihadmu?

Wahai wanita solehah,
Ratu Balqis? Fatimah? Dan ramai lagi srikandi islam. Pernahkah kau kaji soal mereka, perjuangan mereka? kehidupan mereka? adakah sedikit menyerupai mereka?

Wahai wanita akhirul zaman,
Hadiah apa yang akan kau persembahkan dihadapan Allah? Adakah jihad yang kau gaulkan dengan masalah hati? Mungkin kita tidak mampu untuk menandingi ketabahan kekuatan serta keimanan srikandi islam terdahulu, kerana kita ternoda oleh satu zaman yang penuh dengan penipuan teknologi! Penyakit hati! Sahabat yang mengaku setia padahal hati berdusta! Harta yang tak bernilai! Semua berebut untuknya.

Ya muslimah…
Ramai sekarang orang alim pada zahir, padahal hatinya tak terlibat sama. Kata jihad, solat pun terkapar kapar. Kata sayang sahabat, tapi bila kalian ada masalah lari tinggalkan mereka, konon sahabat mereka Talam Dua Muka. Kata cintakan saudara, tapi bila bergerak dalam kumpulan pun ada sahabat yang ditinggalkannya apatah lagi diluar kumpulan. Inikah nilai syurga padamu yang ingin kau beli?

Wahai bakal bidadari syurga…
Fikirlah sejenak, layakkah syurga buatku? Tidak bimbangkah, bila org bergantung harap pada kita untuk agama sedang kita sibuk fikirkan masalah hati. Wanita itu fitnah dunia, tapi yang solehah adalah bidadari dunia. Ketahuilah, orang yang benar alim tidak akan mengaku dirinya alim. Malah dia ingin berada dalam satu tempat dimana dia berjalan bercakap atau apa sahaja tiada yang melihat wajahnya.

Ya ukhti tercinta,
Jangan gadaikan akhirat untuk dunia. Engkau perlukan teman menasihati, bacalah kalam agung Ilahi al-Quran Nur Karim pengubat hati. Bila engkau ingin berbicara dengan Allah maka solatlah, jika ingin Allah berbicara denganmu maka bacalah Quran. Kau akan jumpa nikmat disebalik ayat. Sehingga rindumu berlabuh hanya pada yang Esa.

Cukuplah dgn perkara yang jauh lebih penting. Tinggalkn perkara yang tak pasti dan sia². Kita terlalu sibuk fikirkan perkara kecil sehingga lupa perkara besar. Jangan ganggu singgahsana Allah (Hatimu). Semua akan indah bila tiba waktunya.

Selama Anda yakin kepada Allah, taat danikhlas kepadaNya, maka ketika orang-orang atau ada yang menghilang dan pergi darimu, Allah akan gantikan dengan sesuatu yang lebih indah, lebih sempurna dan lebih baik dari yang hilang itu.
— 

@azammohmad - Syaikh Azzam Muhammad al Muhaisini, Imam Masjid Jami’ Aisyah, Mekkah, Arab Saudi.

9/5/2016

Akulah sayapmu yang kau butuhkan
Untuk nanti terbang ke surga Dia
Namun bukan ini
Surga ku rindukan

Merelakan cinta untuk dibagi
Tak semua hati siap berbagi
Mungkin bisa saja
Hanya bilang Tuhan yang mau

Bersama denganmu
Ku yakin engkau hanya untukku
Ku tak meminta cinta berlebih
Hanya ingin sakinah

Dan kini ada dia
Mungkin Tuhan menguji aku
Namun bagaimana bila ikhlas
tak hadir di hatiku

dan kini ada dia
mungkin Tuhan menguji aku
namun bagaimana bila ikhlas
Tak hadir di hatiku

Allah jadikanlah cinta ini
Sebagai ibadah
Agar pendamping di dunia
Jadi kekasih di surga

Cinta ini seperti kasih Aisyah dan Baginda Yang Mulia
Seperti setia rembulan pada bumi mengiringi setiap hari
Cinta ini telah satukan dua hati kami
Selalu menjaga hingga usia senja tak tergoyah

Cinta ini Adalah rasa dari Yang Kuasa
Setiap saat kita bersama walau usia berubah
Cinta ini semoga Allah menguatkannya
Agar terjaga untuk selamanya tak tergoda bisikan dunia

Asma Nadia - Sorga yang tak dirindukan