ambisie

Cerpen : Kemana

Aku rasa kamu tidak kemana, aku yang kemana-mana. Tidak melihat yang dekat. Terus berupaya mendekatkan sesuatu yang tidak ditakdirkan. Terus berandai mendapat yang sesuai angan. Terus mencari sejauh mata memandang, padahal kamu dekatnya tidak berjarak.

Karena yang memisahkan kita adalah ambisi, yang memisahkan kita adalah egoisme diri, yang menjauhkan kita adalah aku yang menjauh.

Karena aku berlari sementara kamu duduk di situ. Memasang mata dan telinga, menanti kabar seseorang yang segera datang. Menanti dengan hati lapang. Menanti dengan segenggam bacaan.

Kamu tidak kemana, aku yang kemana-mana.

Padang, 9 Maret 2015 | ©kurniawangunadi

Ambisi Perempuan
  • Pram:Apa perempuan itu tidak punya ambisi?
  • Elia:Perempuan yang mana?
  • Pram:Itu, yang waktu mahasiswa aktif sekali ke mana-mana, yang waktu kerja passionate sekali, tiba-tiba setelah menikah, melempem.
  • Elia:Memang ada, tapi nggak semua, kan? Lagipula, apa salahnya selama di dalam rumah dia baik-baik saja?
  • Pram:Ya, memang dia jadi fokus sekali di rumah. Foto-foto anak setiap detik macam kurang kerjaan aja.
  • *Pram dan Elia tertawa*
  • Elia:Aku paham maksudmu, tapi begini Pram, beberapa waktu lalu aku kepikiran. Aku menemukan, banyak laki-laki yang (berusaha) bertanggung jawab itu selalu gila kerja. Ambisius. Berusaha mencari uang sebanyak-banyaknya, berusaha mengeluarkan tenaga sampai penghabisan untuk menjadi berguna. Jadi, apa salahnya ketika perempuan memilih berusaha menyediakan waktu untuk menunggu dan menyambut laki-laki dengan keadaan terbaiknya, tanpa harus merasa sama-sama capek dengan pekerjaan di luar? Pada akhirnya setiap petualang butuh tempat pulang, kan? Biarkan perempuan itu menjadi rumah terbaiknya, untuk bisa memberi apa saja, membalas kebaikan laki-laki yang sudah memeras keringat begitu rupa.

Dear my future, inginku tak muluk. Aku ingin saat melihatmu di tiap hariku, yang kuingat adalah Allah. Yang mengingatkanku bahwa pertemuan kita adalah semata-mata ibadah, mengingatkanku bahwa ada mimpi yang masih akan kita perjuangkan bersama. Bukan ego pribadi tentang menjadi apa atau ingin mencapai apa, tapi tentang mimpi-mimpi besar yang dengannya jadi jembatan kita menuju surga. Bukankah kau memilihku untuk menemanimu kesana?

Maka saat kita nanti menulis mimpi bersama, ada pertanyaan besar yang harus kita jawab sebelumnya,“Kenapa kita mengejarnya?”. Apakah ini hanya ambisi dunia semata atau sarana bagi kita memperoleh ridhaNya?

—  ©Quraners

Teruntuk lelaki, yang sedang ada di dalam hidupku.
Maaf, jika nanti kesibukan baruku akan membuatmu merasa terabaikan. Tapi itu bukan mauku. Itu adalah bukti keseriusanku sebagai wanita untukmu, lelakiku.

Tetapi, satu yang perlu kamu tahu. Kita bukanlah remaja kemarin sore yang hanya bisa mengumbar ungkapan kata cinta dan bermain kemana kita suka. Tetapi lebih dari itu, kita sudah memasuki fase yang lebih serius dari itu semua.

Aku tak ingin di tinggalkan nantinya, sebab alasan-alasan klise yang tak masuk akal. Terlebih dari itu, aku mempunyai ambisi untuk meyakinkan ibumu, bahwa aku adalah wanita yang mampu untuk di andalkan dan sanggup untuk mendampingimu kelak.
Itu sebabnya, aku ingin fokus terhadap diriku sendiri dahulu. Bukan bermaksud untuk pergi atau meninggalkanmu, aku melakukan ini demi impian kita.

Jika kamu paham, waktu yang nantinya kuberikan kepadamu dengan terbatas bukan karena aku ingin menjauh darimu. Tetapi semata-mata aku melakukan itu demi masa depan kita. Aku ingin menjadi wanita yang bisa di andalkan. Aku hanya sedang mempersiapkan diri untuk meyakinkan ibumu, sebagai wanita yang pantas mendampingimu kelak.

Menunggu Sebagaimana Cinta Mengajarkan Kebaikan
— 

Menunggulah bila dengan menunggu kita terus menjadi pribadi yang lebih baik. Bila datang sebaliknya, pikirlah ulang; renungkanlah, masih cinta atau telah beralih menjadi ambisi.

Karena yang berjalan dengan kecintaan akan mendapat kedamaian, sementara yang menjalani ambisi pada akhirnya hanya akan dapat kehampaan.

Cerpen : Mewujudkanmu

Kalau bukan orang lain, pasti kamu. (Nadhira, 2014)

Siang itu kota Bandung hujan lebat, seolah-olah menahanku agar tidak pergi meninggalkan kota ini. Menahan langkahku keluar rumah, keluar kota, untuk seterusnya. Namun, keputusanku sudah pasti.

Siang itu, aku bergegas memasukkan seluruh barang yang sudah rapi dalam kardus ke dalam mobil. Termasuk bergegas memasukkan seluruh kenangan ke dalamnya. Kenangan akan kehidupan beberapa tahun terakhir di kota ini. Katanya, untuk merasakan cinta, kita jangan terlalu dekat. Terlalu dekat tidak justru membuat kita tidak bisa melihat apa-apa. Ambil jarak dan ambil waktu, maka rindu itu pasti akan tumbuh meski tidak pernah ditanam.

Siang itu, aku menemukan sebuah catatan kecil dalam notes berwarna merah muda yang kutulis empat tahun lalu. Empat tahun lalu ketika usia belum cukup matang untuk mempertanggungjawabkan perasaan. Ketika usia masih didominasi ego dan ambisi. Hari ini, aku menemukan catatan kecil itu terselip diantara tumpukan kertas lama.

Siang itu, hari terakhir aku merasakan udara kota ini sebagai penduduknya. Siang itu pula aku merasakan bahwa rumahku benar bukan di sini. Senyaman apapun kota ini, rumahku kurasa benar bukan di sini.

Nama dalam secarik catatan itu mengembalikan seluruh ingatan. Mengembalikan segenap perasaan, memberikan jawaban apa yang selama ini kucari-tak-kunjung-ketemu. Adalah kamu, orang yang dulu ku rencanakan ada dalam rencanaku. Meski seiring waktu, silih berganti perasaan itu berpaling. Bahkan hadir nama orang lain sesekali. Dan semua itu ternyata hanya ujian. Hanya datang dan tidak tinggal menetap, sekedar menguji perasaan, sekadar menguji keimanan.

Siang itu, aku tahu kemana aku pulang dan ternyata pilihanku untuk pulang adalah untuk mewujudkanmu. Kota ini akan menjadi kenangan dan perjalanan ini menuju masa depan. Akan ada banyak hal terjadi dalam tahun ini dan tahun depan. Akan ada banyak keputusan permanen yang diambil dan memerlukan ketenangan pikiran. Aku tahu, bahwa setiap perpindahan itu berat. Meninggalkan sesuatu yang nyaman itu sulit.

Siang itu, secarik kertas itu ku tempel di kaca depan. Aku mengingat bagaimana perasaanku kala menulis namamu di sana empat tahun lalu.

Aku tahu, aku akan mewujudkanmu.

Bandung, 19 Desember 2014 | 9 hari menuju hijrah
©kurniawangunadi

  • Nay:Kadang aku capek nunggu kamu. Kabar kamu hilang muncul tanpa kepastian.
  • Fian:Aku nggak pernah nyuruh kamu nunggu, kan?
  • Nay:Iya, juga, sih. Tapi, aku selalu khawatir tentang kamu.
  • Fian:Kenapa?
  • Nay:Kamu terlalu sibuk. Kamu sering lupa ngurus diri kamu sendiri karena banyak ngurus orang lain. Badan kamu terlalu banyak dipaksa buat sok kuat.
  • Fian:Aku memang kuat. Aku sehat-sehat saja.
  • Nay:Kamu sudah janji untuk nggak lagi bohong sama aku, kan?
  • Fian:Maaf... Ya, tapi mau gimana lagi. Banyak hal yang perlu dilakukan, banyak ambisi yang harus kupenuhi.
  • Nay:Itu yang paling aku khawatirkan, Fian. Kamu banyak memperjuangkan masa depan, tapi gimana kalau kamu nggak sampai masa depan?
  • Fian:Usia nggak ada yang tahu, Nay. Percaya saja sama Dia.
  • Nay:Yang aku juga percaya... sama seperti masa depan dan segala sesuatu yang lainnya, perkara takdir tidak hanya perlu dibiarkan begitu saja, tetapi masih perlu diusahakan. Kapan kamu juga mengusahakan kesehatanmu itu? Sangat disayangkan kalau banyak orang kehilangan (manfaat) kamu terlalu dini.
  • Fian:Tenang... Aku tahu batas tubuhku sendiri. Kalau memang aku sudah butuh, aku akan istirahat, bahkan jika perlu istirahat total.
Atur prioritas hidupmu, atur apa yang hendak kamu capai. Hidup ini singkat. Jaga dan gunakan waktumu sebaik mungkin. Jangan lupakan akhirat dan maut yang selalu siap menjemput, jangan terlalu banyak berangan-angan dan ambisi yang terlalu berlebihan
— 

©Quraners (Self Reminder)

Kita tidak bisa menggapai semuanya, terkadang kita harus memilih. Atur prioritas hidup sebaik mungkin. Semangat untuk cita-citamu dan jangan lupakan akhiratmu. 

facebook.com
Pagi ini, jenazah almarhum Achmad... - Masjid Salman ITB | Facebook
Pagi ini, jenazah almarhum Achmad Noe'man disalatkan di Masjid Salman ITB. Berbagai kalangan hadir untuk menyalatkan arsitek sekaligus salah satu pendiri...

Achmad Noe'man adalah arsitek Masjid Salman, mosque that i love the most. Beliau juga penggagas ide ‘masjid kampus’ di Indonesia. 

Di luar negeri, Noe’man tercatat juga sebagai perancang mimbar Masjid Al Aqsa di Palestina pada 1993 hingga 1994. Dia juga perancang Masjid Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan. Karya lainnya adalah Masjid Muhammad Suharto di Sarajevo Bosnia. Sebuah karya monumental dari bangsa Indonesia yang cukup mengguncang dunia kala itu. (sumber : DISINI)

Banyak dari kita berilmu tinggi. Desainer, arsitek, insinyur, dokter, programmer, penulis, guru, dan apapun.

Kehilangan bapak super kece ini membuat saya mengevaluasi diri lagi. Sudahkah ilmu saya bermanfaat untuk orang banyak? Sudahkah ilmu saya menjadi amal jariyah, atau sebaliknya justru menjadi dosa jariyah?

Barangkali memang benar bahwa bakat dan kecerdasan adalah keberuntungan dari Allah. Tapi yang lebih penting dari itu adalah, untuk apa semua rejeki itu kita gunakan. Untuk kemaslahatan ummat kah? Atau sekedar alat pemuas ambisi duniawi kita?

Mestinya, ketika seorang muslim meninggal, dia tidak pergi begitu saja. Namun meninggalkan jariyah yang terus menjadi manfaat bagi masyarakat. Seperti Pak Noe’man.

Selamat jalan Pak Noe’man, semoga semua karyamu menjadi amal jariyah yang tak putus hingga hari hisab. Terima kasih sudah menyentuhkan jiwamu pada Salman yang luar biasa. 

Salman yang tanpa tiang sehingga saff-nya tidak terputus. Salman yang sejuk dan dengan pencahayaan eksotis. Salman yang sederhana namun luar biasa. Salman yang seakan hidup. Salman yang selalu menjadi tempat saya merenung dan menangis. Salman yang menjadi tempat belajar banyak orang. Salman yang ramah bahkan bagi yang bukan muslim. Salman yang ketika di sana, saya merasa tenang.  

Salman selalu menjadi masjid yang dicintai oleh kami, jamaahnya. Terima kasih bahkan di hari kematian Bapak, Bapak masih menginspirasi saya untuk mengevaluasi diri sendiri. Kami kehilangan Bapak, tapi Bapak sudah memberikan banyak. Semoga jalanmu lancar Pak, doa kami bersamamu, in sya Allah. :)

“Dengan pensil dan kertas saya bisa berdakwah” -Achmad Noe’man-

Bapak Prabowo Subianto,

Saya bisa membayangkan perasaan Anda jika semua itu benar-benar terjadi: Anda begitu mencintai rakyat Indonesia, tetapi rakyat Indonesia lebih mencintai orang lain daripada Anda. Saya mengerti bagaimana rasanya patah hati; Betapa pedih cinta yang tak terbalaskan.

Kita bisa mengerti pikiran dan perasaan seorang laki-laki yang ingin menghancurkan pesta pernikahan pujaan hatinya, kadang-kadang patah hati memang jauh lebih berbahaya daripada revolusi. Tetapi kita juga tahu, hanya mereka yang terlalu putus asa yang mewujudkan pikiran dan rencana-rencana buruk semacam itu jadi kenyataan—meledakkan rasa sakit hati jadi kebencian-kebencian yang menghancurkan.  Dalam situasi semacam itu, barangkali kita perlu sekali lagi bertanya pada diri sendiri: Apa dan siapa yang sebenarnya kita cintai? Semoga kita bukan termasuk para pecinta yang dibutakan ilusi: Orang-orang yang dengan lantang berkata bahwa mereka mencintai setulus hati padahal sesungguhnya hanya memikirkan diri dan kebahagiaannya sendiri. Pak Prabowo, saya yakin Anda bukan orang semacam itu. Anda mencintai republik ini dengan tulus, bukan karena ambisi dan kepentingan-kepentingan pribadi.

Demikianlah, Bapak Prabowo yang baik, surat ini tak akan mengatakan hal lain yang lebih penting lagi, kecuali: Kadang-kadang mencintai adalah soal melepaskan harapan-harapan.

Jika pada saatnya Anda harus menghadapi kenyataan yang pahit, sekali lagi, saat Anda dikalahkan takdir yang seolah-olah mengandaskan semuanya, percayalah: Tak ada pengorbanan yang sia-sia untuk cinta yang lebih besar dari segalanya. Jika memang semua ini tak seperti yang Anda inginkan dan rencanakan, relakan saja. Relakan. Tak perlu merasa sakit hati karena pernah berkorban sedemikian besar untuk mencintai republik ini, tak perlu menyesal mengapa dulu Anda tak melakukan kudeta saat Anda bisa melakukannya, percayalah: Tak ada pengorbanan yang terlambat untuk cinta yang selalu tepat waktu. Anda sudah melakukan yang terbaik untuk membuktikan cinta Anda pada rakyat Indonesia. Sialan memang, kadang-kadang cinta membalas pengorbanan kita dengan caranya yang menyebalkan. Tetapi mau bagaimana lagi? Bukankah cinta memang bekerja dengan caranya yang rahasia dan tak terduga-duga?

Bapak Prabowo, terima kasih telah mencintai republik ini seperti sedemikian besar Anda melakukannya. Tak ada seorangpun yang bisa berdiri di atas sepasang sepatu yang Anda kenakan saat ini. Anda barangkali pecinta sejati yang tak ada duanya. Jika kelak rakyat Indonesia lebih memilih orang lain untuk menjadi presidennya, relakanlah, relakan saja, biarkan mereka hidup bahagia meski tidak dalam dekapan Anda. 

… Maka Anda akan tetap bisa melihatnya dari jauh, dengan cinta yang terus tumbuh: Rakyat Indonesia akan hidup bahagia dengan presiden yang dipilih dan lebih dicintainya. Jika saat itu tiba, semoga Anda juga berbahagia, meski tak menjadi presiden Indonesia.

Tetaplah berkuda,

Fahd Pahdepie (Fahd Djibran) 

Ini bukan hanya sekedar mimpi. Tapi ambisi. Kali ini aku benar-benar keras kepala kepada alam. Bahkan kepada diriku yang lain. Ia berkata aku tak mampu. Tapi aku selalu menyangkal aku pasti mampu (walau sejatinya ia dan aku adalah sejiwa).

Biarlah aku gila mengejar apa yang kata otak waras tidak bisa ku gapai. Biarlah aku gila berusaha sekeras tenaga terhadap sesuatu yang kata otak waras tidak bisa aku raih.

Sebab ini bukan perihal bisa kuraih atau tidak. Tapi ini perihal ambisiku untuk mencoba sekuat mungkin mengalahkan rasa takutku sendiri. |Syarifah Aini (2016)|

#dream #dark #light #langitkuitukamu #sajakpendek

Made with Instagram
utuh.

Seminggu yang lalu, @sholahayub menawarkan acara diskusi lintas masjid (hasek). Bertempat di Masjid Pusdai Bandung,  ternyata rekan baiknya yang memandu diskusi.

 Sebelumnya, Ayub membagi tautan tulisan rekannya itu pada saya.

Temanya: The Pursuit of Happiness. Lucu juga, pikir saya, kek nama pelem. Saat itu, memang diri ini tengah jengah (dan jangar). Kurang pergaulan pula. Komplit.

Oke, ngikut!

Sesampainya di arena diskusi, Dimas (nama pematerinya), menampilkan slide-silde yang memadukan hasil survey ihwal “bahagia” dengan temuan yang ia dapat tentang bahagia yang sesungguhnya. 

Seseorang bisa bahagia misal dengan diterima di gengges si ini, atau punya barang anu. 

Tapi, di akhir, ternyata disebutkan, manusia jauh lebih bahagia ketika ia berbagi, bukan mendapat apa yang ia tuntut. Life is about giving more. 



***



Usai diskusi, saya berpikir apa-apa yang Dimas paparkan nyambung dengan renungan diri akhir-akhir ini. 

Tentang manusia dan ambisi. Tentang manusia dan masa lalu yang butuh dipulihkan. Tentang manusia dan pengakuan. Tentang manusia dan cinta.

Tentang apa yang membuat manusia utuh.

Keep reading

Barangsiapa yang Sedikit Dunianya Maka Sedikit Pula Hisabnya...
Barangsiapa yang sedikit dunianya maka sedikit pula hisabnya..,

lantas kenapa engkau terlalu bersedih jika kurang hartamu?

Carilah harta secukupnya…,
tumbuhkan sifat qona'ah (merasa cukup-pen)…,
jangan terlalu ambisi dengan berlimpahnya harta yang hanya memperpanjang dan menyulitkan hisabmu…

Kebanyakan orang celaka bukan karena kurang harta, sebenarnya hartanya sudah cukup baginya untuk menjalani kehidupannya, akan tetapi kebanyakan orang tidak puas dan tidak qona'ah…
inilah yang membuat mereka celaka dan tenggelam dalam dunia serta berlomba-lomba mengejarnya…

Akhirnya kehidupannya diatur oleh hartanya, ibadahnya pun diatur oleh hartanya, jadilah ia milik hartanya bukan ia pemilik hartanya…

Engkau terpesona dengan rumah mewah sahabatmu…
engkau tergiur dengan banyaknya dan mewahnya mobil sahabatmu…

Apakah engkau tergiur untuk dihisab lebih lama oleh Allah??
Syukurilah apa yang kau miliki…
Apa yang kau miliki itupun sudah akan merepotkanmu untuk mempersiapkan jawabannya tatkala hisab kelak…!!

Oleh: Ustadz Firanda Andirja, M.A.

Perempuan tidak seperti laki-laki. (sebagian) laki-laki melihat perempuan “saat ini”, di masa ini, di depan mata, apakah dia cantik dan pantas dibawa ke kondangan atau tidak, tanpa mau membayangkan bahwa di masa depan tubuh dan wajah itu akan menua. Sedangkan perempuan melihat laki-laki dengan mesin waktu, dia melompat jauh ke depan, membayangkan bisa jadi apakah lelaki ini “nanti”? Bisakah dia mengikutinya maju? Punyakah dia ambisi untuk menjadi lebih baik? Terasakah aura pekerja kerasnya untuk menghadapi hari esok?
— 

Dani Wadiandini

Tertunda

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar

Ada sedikit sendu di sana. Ada sedikit pilu dan ngilu jika bercermin pada diri ini yang masih begitu hina. Masih harus belajar mengikhlaskan, belajar berteman dengan kenyataan. Sekalipun itu untuk sebuah kebaikan yang tertunda.

Tertanggal 9 Dzulhijjah satu tahun yang lalu. Harapan itu, doa itu, kejaran itu, mimpi itu. Terpatri menjadi sebuah tekad tanpa sadar menjadi sebuah ambisi semu. Lupa bahwa ada yang telah mengatur dalam rencanaNya Yang Maha Penentu.

Allahu Akbar!

Mungkin aku masih harus kembali menunggu. Memperbaiki harapan-harapanku. Meluruskan niat-niat yang sempat terbengkokkan oleh ambisi-ambisi semu. Membersihkan penyakit-penyakit yang sempat mewarnai kalbu. Membangunkan kembali semangat baru. Masih 12 purnama lagi untukku mengusahakanmu. Semoga Dia masih memberikanku kesempatan waktu.

Malam 10 Dzulhijah 1437

Mimpimu, ambisimu, inginmu.

Semua itu adalah sesuatu yang akan dia dukung sepenuhnya. Bahkan ketika dia menilik satu per satu pada apa-apa yang menjadi harapanmu, tidak ada sedikitpun hal merugikan yang akan menjadi akibatnya. Ya, sepertinya.

Tergantung segala niat pada awalnya, dia melihat kegigihan pada setiap ambisi yang kamu miliki. Bukan hanya sekedar memimpikannya dan membiarkan mimpimu terjadi dengan sendirinya. Keinginan menjadikannya impian, kemudian impian membentuknya menjadi ambisi. Dalam hal positif tentu saja, ya, dia akan sepenuhnya mendukungmu.

Lihatlah apa yang sudah kamu capai sekarang dan apa yang tetap kamu upayakan untuk menggapainya. Semua itu tidak mudah jika bukan karena istiqomah. Bukan mengada-ngada namun menjadi pecut untuk mempercepat prosesmu, membayar semua keringatmu yang sebelumnya (mungkin kamu pikir) hanya dihargai alakadarnya, berusaha meng-upgrade diri untuk menjadi sepadan dengan impianmu, untuk benar-benar menggenggamnya di tanganmu sendiri, bukan lagi hanya angan. Kamu ingin menjadi lebih, ya, tentu saja harus.

Sekarang, selesaikanlah apa yang sudah kamu mulai untuk kualitas dirimu yang lebih tinggi. Ayolah, selangkah lagi kamu akan menjadi pantas, jangan malas. Ah tidak, rasanya kamu bukan malas tapi butuh kekuatan lebih. Sini peluk dulu~ *eh

Tapi jika semua itu belum terwujud sekarang, bahkan mungkin hampir kamu meraihnya, maukah… maukah kamu mewujudkan segalanya itu bersamanya? Maukah kamu menempatkan porsi dia juga sebagai kebutuhan utama dalam segala inginmu?

Karena dia akan membantu meringankan bebanmu, dia akan dengan senang hati menjadi tambahan semangat untuk memotivasimu, dia akan dengan sabar mengurangi lelah dan menjadi kawan bercerita keluh kesahmu. Tentunya dia akan menjadi alasan kuat kamu untuk meraih semua mimpi, ambisi, dan inginmu. Serta menjadi satu-satunya tempat kamu pulang setelah menjalani harimu.

Ini bukan tawaran kesempatan, ini benar-benar pilihan atas keyakinan yang kamu miliki. Dia tidak bermaksud mempunyai kesempatan berikutnya untuk hal terakhir yang dia ingini. Begitu.

Jujur, suka banget nonton film yang tentang binatang-binatang gitu, entah mau binatang liar yang besar atau yang kecil . ngeliat beruang, singa, atau kucing berjuang bertahan hidup tuh suka jadi bahan renungan hidup gitu.
contohnya kayak hari ini. rasanya ngerasa banget, kalau manusia itu serakah dan rakus banget. bahkan bisa jadi jahat.

Saya merasa kalau Seseram-seramnya binatang, segalak-galaknya binatang, insting mereka sepertinya ya untuk bertahan hidup, mencari sesuatu untuk “cukup” bukan untuk jadi yang ter ter. terkaya, tersukses, dan ter ter lainnya yang terkadang ambisi untuk mencapai tujuan-tujuan itu bisa merugikan orang lain.

Ya Rabb, malu banget masih suka ngeluh sama keadaan. malu karena masih gak bersyukur kalau selama ini sudah hidup lebih (banget) dari cukup.
Bisa makan lebih dari cukup, punya tempat berlindung yang baik, hidup sehat, dan segala nikmat lainnya yang sudah dirasakan.

Ampun ya Rabb (ToT)

Jangan ambisius kataku~

Sedari dulu saya termasuk perempuan yang hampir tidak punya ambisi besar ke depannya. Pun apa-apa yang saya dapatkan hari ini adalah hasil dari gabungan “dijalani saja” dan takdir saya. Sejak SD hingga SMA saya memasuki sekolah-sekolah unggulan pun tidak dalam rencana saya. Betul-betul ngikut saja kata mamak bapak dan berakhirlah saya mengenyam pendidikan di tempat-tempat tersebut.

Hingga sekali pernah, saya berusaha memperjuangkan cita saya. Sampai di titik ambisi yang sangat besar untuk masuk kedokteran umum. Toh pada akhirnya kalah dengan takdir saya yang akhirnya menempatkan saya di fakultas kedokteran gigi. Masih tetangga iya, tapi tetap gagal kan ya namanya. Hehe nangisnya sampai mata sembab, muka bengkak, hati patah, kecewa, lengkap sudah.

Dari sini saya belajar, bahwa ambisi yang terlalu besar yang membuat kegagalan saya menjadi sesuatu yang sangat buruk. Padahal, setelah dijalani baru saya sadari, kedokteran gigi itu kereeeen. Hehe

Jangan ambisius, kutanamkan itu di hidupku selanjutnya. Membangun mimpi yang tidak muluk-muluk. Setelah jadi dokter gigi, menikah, punya anak, punya rumah sederhana, punya 1 mobil, ada biaya hidup cukup untuk sekeluarga, sama-sama belajar menjadi baik dengan lelaki sampai surga ku, sama-sama bangun istana di surga buat sekeluarga.

Saya tidak bermimpi lanjut sekolah s2, doktor, apalagi professor.
Saya tidak bermimpi menjadi istri dari lelaki yang hartanya tiada batas hingga apapun bisa saya beli dengan uangnya.
Saya tidak bermimpi punya rumah tingkat 3 yang luasnya sama dengan lapangan sepakbola.
Saya hanya ingin hidup sederhana, berkah, dan penuh syukur.
Pun jika Allah karuniakan rejeki berlebih, semoga kelak menjadi jembatan rejeki buat orang lain dan tak hanya dinikmati sendiri.

Semoga Allah senantiasa kuatkan prinsip “tak perlu ambisius jika hanya sekedar dunia” di dalam diri.

Semoga ini kelak menjadi pengingat kalau-kalau jalan mulai bengkok-bengkok. 😁

MULO #2

Dan setelah kita semua pergi, hanyut dalam keserasian mimpi, tetap hanya ada satu jalan untuk pulang, bukan?

Sejak hari itu, dimana kami berhasil meraih predikat nomor wahid di seantero kota, kita semua bersujud dan bersukacita. Bahwa inilah yang layak untuk kita rayakan, bukan jabatan atau sebatas angan.

Hingga saat ini aku percaya, jika suatu saat Newton kecil ini berhasil mendapatkan kursi di negeri kincir angin yang ia dambakan, ingatlah bahwa deretan kenangan bersama guru-gurunya akan menjadi rasa terima kasih terbesar dalam hidupnya.

Dan kepada wanita di emperan kelas pinggir lapangan, seperti sebuah angin segar bagi lambaian pohon kelapa kering kerontang di hamparan pasir, ingatlah bahwa setiap kesempatan yang kucuri hanya untuk melirik ke pintu kelasmu adalah rasa penyesalan yang tak pernah kuratapi, bahkan kini aku tau bahwa ungkapan cinta pada pandangan pertama bukanlah majas seperti pada umumnya. Tetaplah bahagia sebagaimana kau membuatku bahagia karena melihatmu bahagia dengan mereka semua.

Tiga tahun yang kulewati bukan sekadar kesombongan dan ambisi batu bara layaknya Istana Satria Ganesha. Bukan, sama sekali bukan. Inilah kawah Candradimuka. Inilah Jamur Dipa. Inilah Wijaya Kusuma. Setiap detik yang kusempatkan untuk melihat kemegahan namamu bukan melulu soal kebanggaan.

Ijinkan aku menyebutmu dengan panggilan yang disematkan kepadamu puluhan tahun lalu: MULO.

Meluruskan Niat

Pagi-pagi sudah diingatkan untuk meluruskan niat. Alhamdulillah dikelilingi orang-orang yang ssenantiasa mengingatkan.

Ya, benar saja. Sepertinya niatku sebelumnya memang dipenuhi dengan ambisi dan keinginan pribadi. Ya Allah, betapa hinanya aku sebagai manusia jika orientasiku masih dunia semata.

Diam sejenak dan merenung. Apa sih tujuanmu? Apa sih mimpimu? Bagaimana sinkronisasi denganNya? Bagaimana cara selalu sinkron denganNya?

Astaghfirullah..
Astaghfirullah..

Adakah segi kebermanfaatannya?
Untuk siapa?
Untuk apa?

Lantas barulah lanjut pada pertanyaan bagaimana.
Bagaimana cara kamu meraihnya? Apakah masih sinkron?
Apakah masih dalam koridor?
Apakah betul-betul bukan sekedar ambisimu pribadi?

Memang tak mudah ya untuk meluruskan sebuah niat. Apalagi meluruskan niat dari beberapa anggota tim. Yang bisa jadi berfariasi, yang bisa jadi belum sinkron, yang bisa jadi masih hanya sebagai ambisi.

Sudah siap gagal?
Sudah siap menghadapi resiko?
Sudah siap berlaga pada pertandingan sesungguhnya?
Pertandingan menata hati dan niat.
Karena kualitas keberhasilan itu bukan dinilai dari hasil semata, namun bisa jadi dari prosesnya.

Bismillahirrohmanirrohim..
Mari kita luruskan niat!

11 September 2016