alvstories

Interlude

Hari ini pokoknya membahagiakan lah, ga perlu gue ceritakan kenapa dan kenapanya.

Oke intinya adalah gue ikut divisi writer di sebuah unit di kampus gue dan sepertinya gue akan aktif lagi menulis cerpen (atau cerbung tak berujung) di blog.

Ya doakan aja sih postingan-postingan curhat yang ber-tag alvstories jadi agak berkurang dan lebih banyak terisi cerita-cerita yang lebih bermutu (mudah-mudahan) dari curhatan sampah gue.

Oh ya dan gue lagi ngejalanin cerbung judulnya Summer Melody. Rencananya sih mau dibikin bersequel biar jadi Symphony of Four Season kayak lagunya bach (kalo ga salah).

Juga gue bakal ngejalanin sebuah kerangka Light Novel yang judulnya Expellation (udah gue jalanin beberapa chapter) dan akan gue post mudah-mudah minggu-minggu ini deh.

Segitu aja sih dan dengan ini saya resmikan Symphony #1 (Madness) sudah tamat, silahkan baca aja di bagian alvstories bagi yang penasaran, ada 4 movement disana.

Sekian.

Undedicated

Oke, sesi curhat. Udah lama juga gw gak ngepost di tumblr, ya semenjak kaderisasi, tugas menggila, kuliah yang selalu mengejar-ngejar, juga berbagai masalah kehidupan lainnya, cinta misalnya. Nah sekarang akhirnya ada waktu luang, karena emang kuliah lagi libur dan gw lagi gak galau-galau amat lah, meski tetep galau karena galau itu adiksi gw.

Keep reading

Hard Work, Determination, And Passion

Here we come again, generasi selanjutnya dari tulisan Madness symphony yang pernah gw tulis tahun lalu sekarang gw mau lanjut dengan judul besar, Madness -Redefined-

Sibuk itu relatif, dan orang yang biasanya ngaku-ngaku sibuk itu biasanya orang mager. Itulah hal yang gw pelajari selama semester 2 hingga sekarang ini. Tapi seriusan, minggu-minggu ini gw sibuk parah, mulai nonton euro, ngikutin SNSD sama AKB48, diskusi game development, lanjutin cerpen yang belom beres, sama diklat. (keliatan betapa sebenernya gw cuma mager)

Keep reading

Just Be Friends.

Untuk sekali ini gw pengen curhat di blog… entah kenapa pengen aja suddenly. Udah berbulan-bulan lamanya gw nggak nyurhat di blog dan kayaknya ini saat yang lumayan asik.

Udah terhitung 5 minggu sejak gw pertama masuk kuliah dan… gw belum pernah sekalipun nyentuh buku kuliah (entah itu kalkulus, fidas, ato kidas) di luar kuliah. Kayaknya emang udah naturenya dah semangat itu cuman muncul pas sebelom ngejalanin sesuatu, pas udah ngejalanin, sedikit demi sedikit mulai “jir males”.

Belom lagi distraction dari mana-mana, mulai dari anime, unit, sampe yang paling racun itu… begadang tanpa arti. Anime sama unit sih agak mending, ada gunanya dan manfaatnya. Anime misalnya, buat refreshing, nambah knowledge. Unit buat ngumpul, nyalurin hobi, nyekre. Nah kalo begadang tanpa arti? Udah jelas aja tanpa arti, ya iya ga ada gunanya lah jelas. Biasanya sih kalo begadang tanpa arti itu gw matiin lampu, berbaring, merem, mikirin macem-macem kayak hidup, cinta, friendship, dan berbagai hal-hal berat lainnya yang gak mungkin gw pikirin saat mata gw terbuka.

Terus 2 minggu lagi (tepatnya jumat depan) gw UTS fisika, yang mana bahannya gw blom ngerti sama sekali, well “sama sekali” sih agak exaggerating, mungkin lebih tepatnya, blom begitu megang lah. Mungkin mulai malem ini gw mencoba belajar.

Tapi bukan itu sih yang menuhin otak gw sekarang. Sekarang otak gw, semenjak akhir januari, dipenuhi sama sampah-sampah kegalauan yang lebih dikenal sebagai cinta. Awalnya gw nyoba buat gak merduliin sih masalah ginian, karena gw sadar gw gak ada talent dan luck buat hal-hal kayak gini jadi baiknya gw nyerah aja dan gak mulai hal-hal yang berhubungan sama kayak ginian. Tapi malah, semakin gw coba ignore, semakin menuhin pikiran gw secara gak sadar.

Ada yang aneh tapi, gak kayak pas jaman SMA dulu, sekarang gw bener-bener obscure dan gak faham sama perasaan gw sendiri. Gw bahkan gak tau apa yang gw inginkan sekarang, gw suka sama siapa, nggak tau gw. Sempet juga berkali-kali muncul pertanyaan dipikiran gw, “gw pengen punya pacar?” kayaknya bukan juga… malah kalo dipikir gw bisa jawab “gw nggak mau punya pacar, sekarang.”

Nah kan, di sini dia gw temuin bentrokan antara “kemenyerahan” dan kesepian gw. Jadi kalo berbentuk kalimat lengkap itu kira-kira pernyataannya “Iya gw tau kesepian, tapi gw gak mau punya pacar. Well, sebenernya lebih karena gw gak mau berusaha untuk nyari pacar karena sulit.” Pathetic sih emang, laughable bahkan, tapi jujur itu yang ada dipikiran gw sekarang.

Depressing, bahkan sekarang gw tiap tertarik sama satu cewe gw enggan buat make a first move, karena itu… siklus jahat yang kejadian berkali-kali sama diri gw:

Stranger –> Know each other –> Talk occassionally –> Friend –> Good friend –> Nobody.

Jir, itu siklus yang gw alami berkali-kali tiap gw kenal dan deket sama cewe, makinlah jadi itu “kemenyerahan” gw. Tiap gw mulai ngobrol sangat akrab sama cewe di pikiran gw “gw udah tau endingnya, inimah.” Padahal belom juga apa-apa, baru know each other.

Gak cocok dibilang trauma juga sih, kadang-kadang gw masih end up deket sama beberapa cewe, entah itu di RL ato virtual (cem sms, bbman, sama fesbukan gitu) tapi ya tetep aja… malesin.

Kutukan mungkin iya, ato emang gw yang cemen sih, gak pernah tembus dari barrier good friend, dan selalu balik jadi nobody, bukan stranger, nobody! Nobody itu kayak, “oke, kamu emang ada, aku kenal kamu, tapi aku nggak nganggep kamu ada, dan aku mohon kita pura-pura nggak saling kenal aja ya.” Atau semacamnya lah. Ato ini gwnya aja yang terlalu melebih-lebihkan? Bisa juga, males mikir gw…

Segitu sih, curhatnya. Mudah-mudahan nilai uts gw A semua, amin.

One More Time, One More Chance

How much more do I have to lose, before my heart is forgiven?
How many more pains do I have to suffer, to meet you once again?
One more time, oh seasons, fade not.
One more time, when we were messing around.

Whenever we disagreed, I would always give in first.
Your selfish nature made me love you even more.
One more chance, the memories restrain my steps.
One more chance, I cannot choose my next destination.

I’m always searching, for your figure to appear somewhere.
On the opposite platform, in the windows along the lane.
Even though I know you couldn’t be at such a place.
If my wish were to come true, please bring me to you right now.
There would be nothing I couldn’t do.
I would put everything on the line and hold you tight.

If I just wanted to avoid loneliness, anybody would have been enough.
Because the night looks like the stars will fall, I cannot lie to myself.
One more time, oh seasons, fade not.
One more time, when we were messing around.

I’m always searching, for your figure to appear somewhere.
At a street crossing, in the midst of dreams.
Even though I know you couldn’t be at such a place.
If a miracle were to happen here, I would show you right away,
The new morning, who I’ll be from now on
And the words I never said: “I love you.”

The memories of summer are revolving
The throbbing which suddenly disappeared

I’m always searching, for your figure to appear somewhere.
At dawn on the streets, at Sakuragi street.
Even though I know you couldn’t be at such a place.
If my wish were to come true, I would be at your side right away.
There would be nothing I couldn’t do.
I would put everything on the line and hold you tight.

I’m always searching, for fragments of you to appear somewhere,
At a traveller’s store, in the corner of newspaper,
Even though I know you couldn’t be at such a place.
If a miracle were to happen here, I would show you right away,
The new morning, who I’ll be from now on,
And the words I never said: “I love you.”

I always end up looking for your smile, to appear somewhere.
At the railroad crossing, waiting for the express to pass.
Even though I know you couldn’t be at such a place.
If our lives could be repeated, I would be at your side every time
I would want nothing else.
Besides you, nothing else matters.

Song by: Masayoshi Yamazaki

Download Link

One man's trash is another man's treasure.

Back again dan ini yang keempat kalinya gue ngepost sequel ini.

Seperti yang orang-orang bilang, merelakan itu memang enak. Ibarat mules, buat apa juga ditahan-tahan, mending dibuang, lega, tinggal ngisi lagi.

Itulah kira-kira perumpamaan yang tepat buat posisi gue sekarang. Bukannya pengen melebih-lebihkan, tapi emang ini terlalu berlebihan kayaknya. Tapi alhamdulilah, it’s finally over.

Setelah gue sadari, ternyata memang sifat aslinya manusia ini kurang bersyukur. Sebenernya dateng darimana sifat kurang bersyukur manusia ini? Setelah gue telaah-telaah akhirnya ketemu biang masalahnya. Ya, yaitu sifat manusia yang tak pernah merasa cukup. Banyak orang yang mencampuradukan antara kebutuhan dan keinginan sehingga seakan-akan semua yang mereka inginkan itu hal yang mereka butuhkan.

Keep reading

It's just a cycle of life

Gue bisa dengan bangga bilang bahwa ini adalah “The Most Greatest Thursday of My Entire Life” ya, dengan double superlative! Oke anggaplah gue norak tapi barusan gue lari sejauh 2,4 km yang mungkin menurut lu-lu orang mah easy lah ya “cih cuman segitu” tapi bagi gue itu kayak a living hell, man. Boro-boro 2,4 km, 800m aja gue ngos-ngosan kayak mau mati dah ini 2,4 km, pokoknya top banget lah siapapun yang punya ide masukin ini ke bahan penilaian akhir matkul olahraga.

Jadi idenya adalah, lu disuruh lari 2,4 km dan kalo lu sukses lari dalam waktu 12 menit, lu dapet A pada mata kuliah olahraga. Sesimpel itu? Ya, sesimpel itu dan lu tau gue barusan dapet berapa? 23 menit, 2x-nya waktu yang ditetapkan untuk dapet A dan itu gue udah kayak mau mati rasanya pas putaran terakhir.

Putaran pertama, masih oke gue jogging-jogging. Mulai masuk putaran kedua setengah trek itu mulai kerasa nafas gue dingin, perut gue kenceng, tulang kering gue keretek kerektek, dan akhirnya dengan kesadaran penuh gue memilih untuk jalan.

Keep reading

Life is not that complicated, sometimes.

Ya pagi yang indah selalu berawal dengan kekagetan gue setelah ngeliat jam dan pagi ini bukan salah satu dari pagi yang indah itu.

Tapi pagi ini memang indah, gue beranjak dari tempat tidur gue dengan kepala yang agaknya masih pengen nempel di bantal lebih lama lagi aaaand shit do really happens.

Gue yang masih setengah hidup setengah tidak itu bangun dan menginjak satu-satunya kacamata yang gue punya (currently) dan sialnya gue bangun jam setengah sepuluh dan kelas fisika mulai jam setengah sebelas sehingga ga mungkin juga gue ngebenerin kacamata ini dalam keadaan belom mandi dan segala macem.

Akhirnya, setelah melalui pemikiran panjang gue putuskan untuk mengendarai motor tanpa alat bantu penglihatan, min gue berapa? 5.25 kiri 4.75 kanan, perlu dibayangin seberapa buremnya itu jalanan Bandung pas gue bawa motor tanpa kacamata?

Keep reading

Life's rolling, man.

Yea, life’s rolling, man.

Dari sebuah campaign yang gue usung sejak sekitar bulan september tahun lalu dan sekarang mendaratlah gue di kota ini, kota yang entah bagaimana gue bisa berada disini.

Call me stupid, tapi entah kenapa gue merasa seneng berada disini meskipun ya harusnya anak baru ngekos kayak gue gini bergaul sama temen-temen kosnya dan gue nggak, dan meskipun harusnya pria beranjak dewasa kayak gue gini mulai menghabiskan waktu dengan sibuk berhubungan dengan si cewe ini si cewe itu dan gue nggak, tetep gw merasa ada sesuatu yang buat gue bahagia disini.

Well, this maybe going to be a stupid confession or so, but who cares man, this is my tumblr, I can wrote everything I want here.

Keep reading

Whatever you do

Duduk termenung di balik kotak mimpi pada saat-saat seperti ini selalu mengingatkanku pada masa lalu.

Mungkin terlalu berlebihan untuk disebut masa lalu, karena hal itu baru saja kulewati dua atau tiga bulan yang lalu.

Kadang sesaat sebelum tidur pada waktu itu, muncul di benakku apa yang sebenarnya menarikku kembali dan kembali ke kotak itu.

Kotak itu hanya sebuah kotak usang berumur lebih dari lima tahun yang sudah sakit-sakitan.

Namun aku selalu berusaha dan bersikukuh untuk tidak menggantinya dengan kotak yang baru.

Keep reading