all rights reserved

Suatu Hari Nanti

Suatu hari akan ada seseorang yang cukup baik budinya untuk membuat tertarik. Cukup luas hatinya untuk tempatmu tinggal. Cukup bijaksana pikirannya untuk kamu ajak bicara.

Kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk mempertahankan seseorang, tetap jadilah diri sendiri. Kamu pun tidak (dan jangan) menuntut orang lain menerima keadaanmu bila ia memang tidak mampu menerimanya. Karena yang baik belum tentu tepat.

Orang baik itu banyak sekali dan hanya ada satu yang tepat. Selebihnya hanyalah ujian. Kamu tidak pernah tahu siapa yang tepat sampai datang hari akad. Tetaplah jaga diri selayaknya  menjaga orang yang paling berharga untukmu. Karena kamu sangat berharga untuk seseorang yang sangat berharga buatmu nantinya.

Suatu hari akan ada orang yang cukup baik dan cukup luas hatinya untuk kamu tinggali. Cukup kuat kakinya untuk kamu ajak jalan bersama. Lebih dari itu, ia mampu menerimamu yang juga serba cukup.

Bandung, 9 Oktober 2014 | ©kurniawangunadi

Tulisan : Ruang Hati Seseorang

Kita tidak perlu mengisi hidup orang lain bila ia memang tidak mau diisi, mungkin hatinya sudah penuh. Kita dengan sendirinya akan mengisi hidup orang-orang yang masih kosong. Dengan kita menjadi orang baik, dengan kita berbuat baik, dengan kita berlaku yang santun, menjadi orang yang ikhlas, dengan sendirinya orang lain akan menempatkan kita dalam posisi-posisi tertentu dalam hidupnya. Diberikan ruang dalam hatinya tanpa kita minta.

Kita cukup menjadi orang yang peduli, orang yang melakukan sesuatu tanpa mengharap sesuatu dari orang lain. Kita menjadi orang yang tulus. Tidak masalah dengan penolakan. Karena memang akan selalu ada orang yang tidak bisa menerima kita hadir dalam hidupnya karena alasan tertentu yang kita tidak tahu, tapi itu bukan sesuatu yang perlu kita salahkan.

Kita cukup terus berjalan, dan terus berbuat baik. Karena nanti, akan ada orang yang memberikan kita ruang yang sangat besar dalam hidupnya, ruang yang paling luas dan paling rahasia. Orang itu adalah orang yang nantinya menjadi rumah dimana tempat kita pulang dan tinggal. Karena ia menjadi orang yang paling bisa menerima kita saat kita pulang, seburuk apapun diri kita. Karena dalam ruang hatinya itu, kita menyimpan rahasia-rahasia terbesar dan dia bersedia menyimpan semua itu.


Jakarta, 28 April 2015 | ©kurniawangunadi

Photograph by Alex Marks. All rights reserved Judd Foundation. Licensed by VAGA, New York, NY

Sunrise Over Marfa

Private access to Donald Judd’s Chinati Foundation, which is about a three-hour drive through desolate highways from one of two airports, must be booked at least two weeks in advance. Recently, Chinati hosted a two-hour sunrise tour of Judd’s untitled installation of 100 aluminum boxes. 

See more here

Orang-Orang yang Menulis

Orang-orang yang menulis itu sedang jatuh cinta, Jatuh cinta pada masalahnya, pada amarahnya, pada kegelisahannya. Sehingga ia mau repot-repot menuangkan menjadi sebuah rekaman kata. Sesuatu yang mungkin tidak pernah ia lakukan untuk hal-hal lain, sesuatu yang mungkin terpaksa ia lakukan untuk pelajaran di sekolah.

Mereka jatuh cinta pada segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Mungkin mereka tidak menyadari itu hingga kelak disuatu hari mereka membaca tulisannya sendiri. Saat keadaan telah berubah, saat hidup berjalan lebih baik, saat pikiran semakin lurus dan jernih.

Mereka akan tersenyum membacanya dan menertawakan dirinya sendiri. Menyadari ternyata mereka pernah seperti itu.



©kurniawangunadi | 28 Februari 2015

Tulisan : Ada Seseorang

Ada orang yang tidak kamu sadari perasaannya sedang memerhatikanmu sedemikian rupa, dari jauh. Tidak pernah menyebut namamu, bahkan ia malu mengucapkan namamu karena ia merasa tidak pernah mampu menyamai derajatmu.


Tapi ia keliru, ia lupa bahwa Tuhannya membaca hatinya. Dia mampu mendengar hati, sekalipun namamu tidak pernah diucapkannya. Orang itu kini sedang berusaha mengenalmu meski tidak ada tanya-jawab. Ia sedang berusaha memahamimu meski tidak ada aksi curhat. Ia berusaha mengenali lingkunganmu, cara berpikirmu, temanmu, keluargamu, dengan cara-cara yang mungkin tidak pernah kamu tahu. Cara-cara yang tidak hanya menjagamu tapi juga menghormatimu, karena tidak ada orang yang tahu bila itu sedang terjadi. Dan kamu tetap tidak menyadari.


Hingga suatu hari ia datang mengetuk pintu hatimu dengan kata-katanya. Mengetuknya dengan salam, salam yang penuh penghormatan sekaligus keberanian. Di dalam keberanian itu pula ada kesiapan untuk menerima segala jenis keputusan. Keberanian itu tidak hanya soal mengungkapkan, tapi juga soal menerima segala bentuk kemungkinan.


Ia mengejutkamu. Ia juga membuatmu merasa semua itu terasa khayal. Ia membuatmu merasa bahwa ini bukan waktunya. Tapi, inilah waktu yang ditetapkan-Nya. Bahwa tepat atau tidaknya bukanlah dalam kadar kita yang menentukan.


Entah hari ini atau esok. Kamu akan menyadari bahwa kedatangannya benar-benar ujian. Ujian yang akan menjadi sebuah tanda akan keimanan dan ketaqwaanmu. Seberapa jauh kamu percaya bahwa hidupmu berada di bawah sebuah rencana besar Sang Pencipta. Mungkin ia bukan orang baik, mungkin pula orang baik. Mungkin ia sedang memperbaiki diri, mungkin pula sedang tersesat. Kita berharap yang terbaik tapi sering lupa bahwa yang terbaik itu kadang adalah yang diperbaiki, bersedia diperbaiki.


Esok atau lusa, kamu akan tahu bahwa untuk menerima itu membutuhkan hati yang lebih lapang dan pikiran yang lebih jernih. Bahwa manusia tidak pernah ada yang sempurna, bahwa manusia tidak ada yang bersih dari dosa. Tapi kita diajarkan untuk mengenali mana orang-orang yang sedang bergerak menuju-Nya dan mana yang menjauhi-Nya. Karena Dia akan mempertemukan orang-orang yang sedang dalam tujuan yang sama.

Bandung, 21 Maret 2015 | ©kurniawangunadi

Dalamnya Perasaan
  • A :Kau bisa saja berkata bahwa sikapmu biasa-biasa saja, tapi tidak bagi seorang perempuan.
  • B :....
  • A :Kau tahu? Betapa dalam perasaan seorang perempuan saat mencintai, dia akan memberikan lebih banyak daripada yang dia inginkan, bahkan dia rela terluka.
  • B :Bagaimana kau bisa mengukur dalamnya perasaan, padahal itu sesuatu yang tidak terdefinisi dalam ukuran? Bagaimana aku bisa tahu?
  • A :Entahlah kawan, mungkin karena aku perempuan.
  • B :......
  • (c)kurniawangunadi
Syukur

Ada orang-orang baik yang sengaja dihadirkan dalam hidup kita hanya untuk menguji perasaan kita, bukan untuk menjadi pasangan hidup kita. (Kurniawan Gunadi, 2014)


Adalah sebuah hal yang lumrah ketika manusia jatuh cinta. Dan aku selalu percaya bahwa semua kisah cinta itu berakhir bahagia. Kenapa begitu?

Begini, orang mungkin tidak mendapatkan seseorang yang dia idamkan hari ini. Tapi, di depan sana ada seseorang yang sedang benar-benar Tuhan siapkan untuk dia, orang yang tepat. Dan orang-orang yang jatuh cinta dan percaya Tuhan dan masih berpikiran jernihlah yang mampu melihat segala sesuatu itu dengan baik, dengan bijaksana.

Di dunia ini, manusia akan mendapatkan second best preference dalam segala hal. Karena manusia selalu mengukur yang terbaik berdasarkan asumsinya sendiri. Pada akhirnya semua itu akan diputar balikan oleh yang namanya takdir. Yang perlu kita pahami bersama bahwa second best preference menurut manusia itu selalu menjadi first best choice menurut Tuhan.

Bersyukurlah bila dalam hidup kita, kita pernah menyukai seseorang dan melalui alasan itulah kita mengubah dan bergerak ke arah diri yang lebih baik. Menjadi lebih rajin dari biasanya, mandi lebih pagi dari biasanya, belajar dan membaca lebih banyak dari biasanya, apapun itu. Apakah berbuat baik karena alasan manusia itu salah? Tentu saja ini bukan masalah salah dan benar.

Karena pada akhirnya kita akan menyadari bahwa hadirnya orang-orang tersebut adalah ujian. Ada banyak cara bagi Tuhan untuk menyampaikan kalimat-Nya. Ada banyak cara bagi Tuhan untuk mengubah jalan hidup kita. Mungkin dengan kehadirannya.

Bersyukurlah karena kehadirannya kita mengubah diri kita menjadi lebih baik. Pada akhirnya pun kita menyadari bahwa itu untuk diri kita sendiri, bukan untuk siapa-siapa.

Meski pada akhirnya orang itu bukan menjadi pasangan hidup kita. Kita percaya bahwa masa depan kita tidak berhenti hanya karena itu. Perjalanan kita masih jauh, setiap langkah kaki kita akan mendekatkan kita kepadanya juga kepada-Nya. Jangan berhenti melangkah :)

©kurniawangunadi | 28 Februari 2015