all rights reserved

LOVE THIS NEW FEATURE ON TUMBLR

Hey hey! Have you heard of the new feature?! You click on a video then pause it when you’re done. Scroll down find a NEW video and press play. TADA Now you have two fucking videos playing at the same damn time. at the same damn time? THE SAME DAMN TIME. Now you can enjoy scrolling all the fuck way up to wherever the hell that post was.

More features frum tUMBLR to come

Hey friends! I recently came across an old video (2011) of Tyler singing a snippet of Isle of Flightless Birds and thought I’d share! Please please please watch this. Tyler puts the same breathtaking amount of emotion now as he did back then, and I think that’s pretty incredible. (x)

Apakah Boleh?

Suatu hari kamu mengetahui ada seseorang yang menyukaimu tapi kamu biasa saja menanggapinya. Tidak pernah terbesit dalam hatimu ada rasa suka yang bisa digunakan untuk membalasnya. Lantas suatu hari, dia yang tidak pernah kamu duga itu berniat memperjuangkanmu. Apakah boleh?

Kamu terkejut, mungkin juga merasa tidak nyaman atas apa yang dia lakukan. Meski sebenarnya dia tidak berbuat hal aneh, bahkan tidak pernah menunjukkan bagaimana caranya dia berjuang. Hanya saja, pengetahuanmu tentangnya bahwa dia sedang memperjuangkanmu, membuat ketenanganmu terusik.

Padahal, dia sama sekali tidak mengusik. Hanya saja kamu menolaknya. Padahal dia tidak meminta apa-apa. Dia hanya berjuang, apakah boleh?

Satu hal yang mungkin harus kamu tahu, kamu tidak bisa menolak cinta seseorang sebab cinta itu adalah miliknya, tumbuh di dalam hatinya sendiri. Akan tetapi keputusan bagaimana kamu bersikap kepadanya adalah sepenuhnya hakmu.

Kadang atau mungkin memang lebih baik; ketidaktahuan kita tentang cinta seseorang itu jauh lebih aman daripada kita mengetahuinya.

Yogyakarta, 15 Maret 2016 | ©kurniawangunadi

Cerpen : Pesan Ibu kepada Anak Laki-Lakinya tentang Cinta

Nak, besok kalau kamu menyukai seorang perempuan. Tidak apa-apa bila ibu tidak tahu, karena mungkin kamu malu mengatakannya. Ibu hanya berpesan agar kamu jangan sembarangan mengutarakan perasaanmu itu kepadanya. Kalau kamu mau mengutarakannya, maka kamu wajib mengabarkannya dahulu kepada ayah dan ibu. Karena perkara itu bukan main-main.

Bila kamu merasa belum cukup kuasa mengatakannya. Maka, jagalah dia dengan kamu menjaga perasaanmu sendiri. Jangan sekali-kali menyebut namanya sembarangan. Itu bisa menjatuhkan kehormatannya. Itu bisa menjatuhkan perasaannya dan berasumsi tentang kamu.

Kalau mau. Kamu diam, tapi tetaplah bergerak. Karena cinta itu energi yang luar biasa untuk melakukan banyak hal baik. Mudahkanlah urusannya diam-diam. Buatlah dia bahagia diam-diam. Kamu tidak usah tampil bak pahlawan yang seolah-olah selalu ada ketika dia butuhkan. Sembunyilah di tempat yang aman, tapi kamu selalu terjaga untuk membuatnya tetap aman.

Mudahkanlah urusannya, bantulah dia menyelesaikan masalahnya diam-diam. Buatlah dia bahagia diam-diam. Doakan dia dengan cara-cara yang ahsan. Kamu akan menjadi orang pertama yang bahagia karena dia bahagia. Karena, satu kesalahan besar laki-laki yang ibu tahu adalah mengatakan perasaannya tapi tidak siap untuk mengikatnya. Kamu anak laki-laki ibu, ibu akan marah jika kamu melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuan ibu.

Rumah, 12 Mei 2015 | ©kurniawangunadi

Tulisan : Setelah Lulus

Pernah tidak dalam satu waktu, kamu merenungi dirimu sendiri tentang kuliah yang sedang kamu jalani saat ini. Dari ribuan mahasiswa satu angkatan di kampusmu, apa yang membuatmu berbeda dengan mereka semua?

Apa “nilai lebih” yang kamu miliki dibandingkan dengan ribuan mahasiswa yang lain? Apa yang membuatmu merasa menjadi lebih berharga dan kamu merasa layak untuk mendapatkan peluang-peluang terbaik selepas lulus itu?

Lalu, setelah kamu lama merenunginya. Di semester tua yang semakin mencekam karena skripsi atau TA yang menghantui. Ada perasaan menyesal selepas bertahun di kampus dan kamu tidak pernah mengambil peran untuk menjadi apapun. Kamu sibuk dengan dirimu sendiri, pergi pagi dan segera pulang selepas kuliah. Itupun kalau tidak ada ajakan main dan nonton. Malas beroganisasi dan aktif di kegiatan baik di dalam jurusan maupun di luar jurusan. Tidak pernah mengambil kesempatan untuk ikut pertukaran pelajaran. Hampir absen disemua seminar dan kuliah umum di kampus yang diadakan baik oleh himpunan ataupun fakultas karena merasa itu tidak relevan dengan apa yang kamu pelajari.

Begitu banyak peluang yang datang dan kamu terus melewatkannya hingga tidak terasa penghujung semester telah tiba. Dulu, untuk bergerak keluar dari kamar kos yang nyaman terasa berat. Melawan terik matahari untuk berjalan dari kampus ke perpustakaan pun tidak kuasa. Diajak sedikit pusing memikirkan polemik kampus dan kegiatan kemahasiswaan pun enggan. Tidak pernah menambah jaringan pertemanan di luar kampusmu, bahkan tidak memiliki kenalan di kampus lain di luar sana.

Setelah sekian lama kamu merenungi pertanyaan,”Apa yang membuatmu berbeda dari ribuan mahasiswa lain di satu angkatanmu?”

Presiden Mahasiswa itu cuma satu orang, mengapa bukan kamu yang mengambil kesempatan? Kabinet-kabinet BEM itu hanya diisi segelintir orang, mengapa bukan kamu yang mengambil kesempatan? Pertukaran pelajar pun hanya mengirim beberapa orang, mengapa bukan kamu yang mengambil kesempatan? Seminar dan kuliah umum itu pun hanya disediakan kursi untuk sejumlah orang, mengapa bukan kamu yang mengambil kesempatan?

Di saat orang lain yang sebaya denganmu telah melesat begitu jauh. Kamu menyadari ternyata kamu tidak pernah menjadi apa-apa. Kamu tidak bisa menjelaskan apa yang telah kamu ciptakan demi kebaikan banyak hal di sekililingmu.

Dalam 24 jam yang sama. Ada orang yang bisa menyelesaikan urusannya sendiri dan urusan banyak orang, ada yang bisa menyelesaikan urusannya sendiri dan keluarganya, ada yang hanya bisa menyelesaikan urusannya sendiri, dan yang paling menyedihkan adalah orang yang bahkan menyelesaikan urusanya sendiri pun tidak bisa. Itu dalam 24 jam yang sama.

Maka benar bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat. Maka renungkanlah lagi, apa yang sudah kita lakukan selama ini?


Yogyakarta, 15 Januari 2016 | ©kurniawangunadi

Cinta yang Banyak

Yang kamu harap mengalir dari seseorang itu tidak akan pernah sebanyak yang mengalir dari ibumu. Tidak akan pernah lebih banyak lagi dari Tuhan. Lalu, mengapa kamu berusaha menggali begitu dalam padahal tidak ada mata air itu di sana?

Padahal kamu tinggal duduk di depan rumahmu, ia jatuh sebagai hujan yang tidak pernah berhenti. Hujan dalam rintik yang tidak membuatmu sakit. Yang jatuh dengan lembut seperti menyentuh pipimu dengan tangan yang hangat.

Yang kamu harap tumbuh dari hati seseorang itu tidak akan pernah semurni yang tumbuh dari ayahmu. Meskipun bahasa cintanya ayah seperti sandi yang sulit kita mengerti tapi kita bisa memahami tindakannya. Mengapa kamu harus duduk menunggu ia tumbuh dari seseorang sementara ia tumbuh bisa dari siapapun yang kamu temui?

Kita jangan menyiakan yang sebanyak itu, demi yang sedikit. Kita jangan menyiakan yang semurni itu, demi yang dibuat-buat. Jangan melelahkan dirimu sendiri dalam penantian dan pencarian. Karena kalau kamu menyederhanakan perasaan itu menjadi bahasa yang lebih mudah dimengerti alam semesta, maka cinta itu banyak sekali dimana-mana.

Yogyakarta, 10 Januari 2016 | ©kurniawangunadi

Tulisan : Tidak Mudah Menaklukan Dirimu

Berjalanlah pada jalan yang kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk itu, kamu cukup menjadi dirimu sendiri. Kalau kamu harus membandingkan-bandingkan, kamu cukup membandingkan dirimu hari ini dengan masa-masa yang sudah kamu lewati.

Kamu tidak membutuhkan penerimaan dari semua orang, apalagi mengorbankan dirimu untuk bisa diterima oleh semua orang sementara kamu tidak bisa menerima dirimu sendiri. Cukupkanlah bahwa kamulah yang memang harus yang paling pertama bisa menerima dirimu sendiri, bukan orang lain. Kamu sebagai kamu seutuhnya, masa lalu yang mungkin kelam, segala kekurangan dan kelebihanmu hari ini, segala ujian dan nikmat yang datang kepadamu, bentuk fisik dan keadaan yang ada padamu, bukankah hal yang paling sulit dilakukan adalah menerima itu semua kemudian mensyukurinya?

Kalau nanti diperjalanan kamu bertemu dengan orang-orang yang memandang sebelah mata kepadamu, kepada apa yang kamu miliki, kepada pekerjaanmu, kepada nasabmu, kepada fisikmu, kepada segala hal yang selama ini membuatmu merasa berbeda dengan orang lain. Teruslah berjalan. Karena semakin lama kamu mendengarkan perkataannya, semakin lama kamu menatap matanya, kamu mungkin akan berubah pikiran untuk kembali menolak dirimu dan tidak mau lagi menjadi dirimu sendiri.

Penolakan orang lain memang menyakitkan tapi sungguh tidak ada yang lebih berat dan menyakitkan selain penolakan dari dirimu sendiri. Padahal sampai mati nanti, kamu akan hidup dalam tubuh dan sebagai jiwa yang itu adalah kamu sendiri, tidak bisa ditolak dan diganti, sementara suatu ketika kamu harus mempertanggungjawabkan semua itu.

Bukankah berat, menjadi diri sendiri?

Yogyakarta, 28 April 2016 | ©kurniawangunadi

?