alatou

#3: Tetap Bersyukur

Pagi ini jadwal masuk stase baru, dan harus sudah sampai di ruang kuliah pukul 06.30 karena harus mengikuti ilmiah residen terlebih dahulu. saya berangkat menuju kampus dari rumah yang berjarak sekian kilometer dari kampus. saya sudah memperkirakan akan berangkat menuju kampus dari kosan pukul 06.10 atau 06.15 lah agar masih bisa duduk santai sebelum ilmiah residen dimulai. setibanya di kosan pukul 06.00 dan saya buka kamar kosan ternyata atap kamar saya jebol, sungguh kaget dan tak pernah menduga akan mengalami hal yang demikian. sungguh suasana hati yang kaget, kesal, sedih, campur aduklah semua. barang-barang terutama buku-buku dan catatan kuliah saya yang kebetulan memang berada di meja dan berada di rak buku yang posisinya tepat dibawah atap yang roboh dengan banyak tetesan air itupun akhirnya basah semua. bahkan kasur saya pun habis basah dan kotor dengan serpihan langit-langit atap kamar. apalagi lantainya, sudah tidak perlu ditanya. pun alat elektronik yang ada dikamar saya ikut kena basah dan sudah khawatir tidak dapat digunakan.

akhirnya saya putuskan untuk menyelamatkan beberapa buku dan benda yang mungkin masih bisa terselamatkan agar tidak semakin basah dan rusak. sampai akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 06.15 dan saya putuskan untuk bergegas pergi ke kampus. 

kaget? iya masih sangat kaget. sedih? tentu sangat sedih. tapi yasudah, saya mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut terlebih dahulu.

kemudian saya kirimkan foto dan komplain saya kepada anak pemilik kosan, namun responnya tidak seerti yang saya harapkan. mungkin saya terlalu berekspektasi lebih, dan memang sudah tidak betah untuk tetap berada di kosan ini (memang sudah ingin pindah dari sebelumnya, hanya saja kemarin memang sedang malas untuk berpindah dan masih mencoba bertahan, namun kenyataannya sekarang semakin ingin pindah).

saya pun kirimkan foto kondisi kamar saya sekaliggus cerita kepada kakak saya (saya tidak langsung menghubungi mama karena takut membuatnya panik, tapi nyatanya kakak langsung cerita juga ke mama, yasudah…). sayangnya, di stase sekarang, saya kesulitan mendapat sinyal, jadi pesan ataupun chat yang masuk tidak langsung saya terima. ternyata, orangtua saya menanyakan kapan saya pulang dan berencana untuk langsung melihat kodisinya.

sampai akhirnya, tibalah saya di kosan, dan mama sudha menunggu di depan. lalu, saya perlihatkan kondisi kamar yang membuat saya ingin nangis juga saat membuka pintu kamar. lalu mama meminta saya menghubungi pemilik kosan, dengan harapan dilihatlah kondisinya seperti apa, apakah akan diperbaiki atau bagaimana, yang pasti saya harus pindah kamar terlebih dahulu. dan kebetulan, ada beberapa kamar yang memang masih kosong. ya namanya juga manusia berekspektasi akan mendapat respon yang diharapkan lah ya, tetapi respon yang kami dapatkan kurang cukup membuat hati kami senang, akhirnya orangtua saya berpikir untuk langsung pindah kosan. tapi nampaknya itu tidak memungkinkan dan kemungkinannya pindha kamar dahulu sampai waktu kontrak kosannya habis (kebetulan bulan depan sudah habis, alhamdulillah).

akhirnya, orangtua saya membantu membereskan dan memindahkan barang-barang saya ke kamar lain. sungguh dalam hati sendiri itu rasanya sedih, mana capek baru pulang, mumet, ya laper gitu, bingung mau beresin darimana karena kondisi kamar yang begitu, mumet pokoknya.

tapi, orangtua saya tetap membereskannya dengan hati-hati, dilepas satu-persatu yang masih menempel di dinding, dimasukkan ke tas, ke kresek barang-barangnya, dan bantu pindahin barang meski harus pindah ke lantai atas.

beliau hanya selalu bilang, “alhamdulillah de, untung pas atapnya roboh, ade di rumah. kebayang kalau lagi tidur malem-malem terus atapnya roboh. mana berat, kotor, naudzubillah. gapapa buku-buku basah, barag-barang kotor, tapi ade tetep selamat.”

mendengar hal tersebut, hati menjadi luluh. memang, mungkin sifat emosional saya terlalu saya bawa dalam setiap kondisi, dan hal itu pula yang membuat saya lupa untuk tetap bersyukur bahwa Allah swt masih menyelamatkan saya dari bahaya. coba bayangan, bagaimana jadinya jika saat kejadian tersebut terjadi saya sedang tidur pulas? mungkin kondisi saya sekarang belum tentu sebaik ini. 

pelajaran berharga bagi saya, meskipun rasanya akhir-akhir ini saya sedang ditimpa beberapa musibah, bisa jadi itu merupakan ujian dari Allah swt untuk mengukur kadar kesabaran dan keikhlasan saya untuk menilai apakah saya bisa naik derajat ke tingkat yang lebih mulia disisi-Nya atau tidak. atau, mungkin diri ini sudah amat sangat berlumur dosa sehingga perlu sedikit disentil agar tidak terlalu jauh menyimpang dan kembali mendekat serta berjalan lurus dijalan-Nya.

sabar dan ikhlas, mudah diucapkan, tapi tak semudah itu pelaksanaannya. sabar, adalah pelajaran seumur hidup dan belum tentu setiap orang dapat melaluinya. melalui beberapa kejadian terakhir yang saya alami saja, membuktikan bahwa saya belum bisa se-sabar dan se-ikhlas itu. membuktikan bahwa saya masih belum pandai mengambil hikmah dan berucap syukur atas nikmat-nikmat lain yang masih Allah swt titipkan kepada saya.

semoga, saya menjadi semakin malu akan kekurangan diri dihadapan Allah swt. semoga setiap apa yang Allah swt timpakan kepada saya, menjadikan pembelajaran bagi saya, dapat saya lalui dengan penuh ke-husnudzan-an kepada Allah swt, dansemoga diri ini dapat menjadi hamba yang semakin tinggi derajatnya dan menjadi hamba yang mulia disisi Allah swt. aamiin.

DIAM DIAM MENGHANYUTKAN

Kok gak punya IG sih?

Kok jarang update status?

Kok fotonya itu mulu?

Zaman sekarang, sudah menjadi urusan yang mudah sekali bagi kita untuk mengetahui kesibukan serta kehidupan orang lain.

Untuk mengetahui apa yang dilakukan hari ini, liat saja di storynya.

Untuk mengetahui apa yang dilakukan minggu ini, liat saja feednya

Untuk mengetahui apa yang dilakukan bulan ini, liat saja untaian wallnya

Dengan adanya fitur ini, dengan mudah kita bisa memahami apa yang dikerjakan orang lain.

Ada orang-orang yang saya kenal, dia punya sosmed, dia mengurusnya dan mengisinya dengan berbagai karyanya. Hampir setiap karya yang dia buat, dia upload di sosial medianya. Orang seperti ini, menjadikan sosmed sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena dari sosmednya, ia bisa menjalani hidup.

Ada orang-orang yang saya kenal, dia punya sosmed, dia mengurusnya, bahkan merapihkan feednya. Foto-fotonya berkelas, caption-captionnya super bijak, jikalau kamu tidak mengenalnya, sudah pasti kamu akan menganggap bahwa kehidupannya sempurna. Orang seperti ini, menjadikan sosmed sebagai alat untuk menunjukan gaya hidupnya. Walau sebagian dari mereka yang saya kenal, sebetulnya hanya membuat-buat “seolah” ia punya kehidupan tersebut, padahal dia hanya pandai dalam membuat-buat kondisi yang dia tidak miliki.

Ada lagi tipe orang yang menurut saya juga cukup menyita perhatian, yakni orang-orang yang membiarkan sosmednya atau bahkan tidak memiliki sosmed sama sekali. Kadang kala, fotonya itu tidak berganti dari zaman dia bikin akun sampai bertahun-tahun lamanya. Postingannya tidak segar, ceritanya basi, bahkan kadang tanpa cerita apapun. Mungkin, dia memiliki akun tersebut, hanya sekedar untuk memenuhi syarat agar dianggap sebagai masyarakat kekinian.

Tapi yang keren dari tipe orang terakhir, yakni dibalik sepinya sosmed beliau, ketika akhirnya saya mengobrol secara langsung, ternyata banyak sekali pencapaian yang ia dapatkan yang tidak pernah orang lain tahu. Mulai dari menjadi juara kompetisi, membuat sebuah gerakan, membantu masyarakat, dan lain sebagainya. Melihat sosmednya tentu membuat anda malas untuk melihatnya, tapi mendengarkan kisah serta pencapaiannya, membuat anda enggan untuk beranjak walau untuk ke wc sekalipun, saking serunya.

Ya, di zaman sekarang, terkadang ada orang-orang yang menggembar-gemborkan sesuatu secara berlebihan di sosial medianya, ada juga orang yang tidak pernah terdengar sama sekali tentang kabarnya, tapi ada kesamaan dalam keduanya, kehidupan nyatanya tidak sesuai dengan kehidupan mayanya.

Dan saya pribadi, kadang merasa kagum dengan mereka yang selalu diam-diam, namun ternyata karya-karya mereka sudah jauh menerjang kami-kami yang disibukkan dengan “bagaimana kami harus terlihat di sosmed?”.

Yah, itulah zaman sekarang. Semoga kami tidak termasuk yang menggembar-gemborkan secara berlebihan. Walaupun diri ini memang sudah sulit untuk menjadi orang yang “diam-diam”, semoga kami menjadi orang yang “koar-koar menghanyutkan”, ribut iya, bermanfaat iya. Semoga yah, semoga.


DIAM-DIAM MENGHANYUTKAN
Bandung, 15 Mei 2017

Freeday: Perlukah Masa Lalu Datang Kembali?

Ketika malam minggu kamu cuma tidur-tiduran, tapi di sana mantanmu sedang bobo bersama pacar barunya be like..

                                                       ===

.

Berbeda dengan hari-hari biasanya, kali ini sepulang kelas pemrograman di kampus, gue nggak langsung pulang ke rumah. Gue malah nyempatin mampir dulu ke kostan temen gue, sebut saja Ciko. Belakangan ini kostan Ciko selalu gue sambangi lantaran di antara seluruh kostan kepunyaan temen yang lain, Ciko adalah salah satu orang yang paling beduit untuk nyewa kostan dengan ruangan cukup gede. Segede tempat sholat akhwat di Masjid Istiqlal.

Ketika teman-teman gue yang lain ngekost hanya sekitar 500-800 ribu sebulan, Ciko beda sendiri, mentang-mentang bapaknya punya toko bumi dan bangunan, dia berani ngambil kostan yang harganya 1,3 sebulan. Kamar mandi di dalem, tapi tidurnya di luar.

Maka dari itu gue paling demen mampir di kostan temen gue yang satu itu. Selain karena kamernya paling besar, alasan lain yang buat gue sering mampir adalah karena kostan ciko ini kostan campur. Mantep banget kalau lagi nongkrong depan pintu terus ada cewek-cewek sliweran dari kamar sebelah dengan celana gemes dan tangtop pergi ke gerbang sambil nenteng mangkok buat nyegat mamang bubur.

Kalau gini caranya, gue abis lulus kuliah jadi tukang bubur daerah kampus aja deh. Tiap hari bisa liat paha. Paha ayam maksudnya.

Ayam kampus :((((

Siang ini gue memilih untuk tidur-tiduran di kasurnya Ciko sementara dia asik nongkrong di depan tv buat mantengin FTV dengan judul Pacarku Mantan Copet Cantik. Untuk membunuh waktu, tak lupa gue sesekali memainkan gitar klasik kepunyaan Ciko dan menyanyikan lagu-lagu gereja kepunyaannya. Ciko tidak keberatan ketika gue melakukan itu.

Namun tiba-tiba, gitar-gitaran gue ini terhenti.
Ciko pun langsung menengok ke belakang.

“Napa lu berhenti dah? Gue lagi menghayati nih.”

Gue menatap pelan ke arah Ciko dengan tatapan ketakutkan.

“Wuih kenapa lu? Dapet hidayah buat pindah agama?” Tanya Ciko lagi.

Gue geleng-geleng, “Mantan gue ngajak ketemu, Cik.”

JLEGAR!
Seketika itu juga langit mendung. Petir menyambar-nyambar. Temen-temen kostan Ciko yang pahanya kemana-mana itu langsung meluk gue.

Terkadang, masa lalu itu brengseknya kebangetan. Setelah dia melukai dengan cara pergi dan membiarkan kita sendirian kesakitan untuk mengingat hal-hal bahagia yang terasa seperti luka, ia juga sering kembali di saat-saat kita sudah bahagia atau di saat kita sudah mampu untuk hidup tanpanya.

Lalu dengan sapaannya yang sedikit itu, ia meruntuhkan semua tembok-tembok tinggi yang telah kita bangun sebelumnya. Benih harapan yang sudah dikubur begitu dalam tiba-tiba menunjukkan tunas baru, tunas yang sering kita namakan dengan,

“Harapan bahwa ternyata dia masih cinta sama gue.”

Bahaya banget.

Kenapa gue sebut bahaya? Karena selain dia akan menarikmu kembali ke tempat-tempat yang seharusnya sudah kau tinggalkan itu, dia juga akan membuatmu kembali mengingat hal-hal yang sebenarnya selama ini sudah tidak begitu nyeri jika kau ingat.

Maka inilah beberapa teknik-teknik ala @mbeeer dalam menghadapi serangan mantan yang ngajak balikan lagi.

.

                                                          ===

.

QUESTION AND ANSWER

Sebut saja dia Sebastian, atau kerap dipanggil Sebats oleh teman-temannya. Seorang pria yang cukup tampan dengan brewok nempel di sekujur tubuh termasuk di selangkangan. Sebastian ini selain pandai mengaji dan membaca arab gundul, doi juga piawai sekali dalam bermain alat musik, terutama piano dan juga ketipung. Kemampuan Sebastian dalam bermain alat musik seperti ini tidak ia dapatkan begitu saja. Percaya atau tidak, kemampuan Sebastian dalam bermain alat musik ini ia dapatkan dari seorang wanita yang pernah mengisi hidupnya.

Bagaimana bisa?

Sebut saja dia Mia. Gadis yang bercita-cita menjadi aktris pemeran Srimulat ini digadai-gadai menjadi latar belakang kenapa Sebastian jadi menyukai Musik. Entah semesta sedang merencanakan apa, namun di suatu ketika, Mia dipertemukan dengan Sebastian. Mia yang saat itu sedang gundah karena tak kunjung menemukan lelaki yang tepat dan Sebastian yang sedang menjalin hubungan tanpa status dengan sabun kecrotan di kamar mandi itu, pada akhirnya menjadi alasan kenapa mereka berdua bisa jatuh cinta di saat yang bersamaan.

Hidup mereka bahagia. Mia yang berprofesi sebagai aktris ini menasihati Sebastian bahwa musik adalah esensi dari sebuah kehidupan. Maka dari itu Mia mengajarkan Sebastian untuk bermain musik. Dengan kemampuan membimbing Mia dan juga rasa cinta Sebastian yang begitu besar, pada akhirnya Sebastian dengan mudahnya terjun ke dunia yang baru baginya; Musik.

Namun seumpama lirik yang tak rampung, musik yang fals, dan nada yang salah komposisi. Bahtera rumah tangga Sebastian dan Mia tidak berjalan baik. Mereka harus dipisahkan oleh keadaan. Mia tiba-tiba pergi begitu saja dengan meninggalkan banyak tanda tanya di kepala Sebastian.

Selain mabuk-mabukan dengan cara naik angkot tapi madep ke belakang, Sebastian juga melarikan diri dari galaunya dengan bermain musik lebih giat. Menurut Sebastian, hanya dengan cara inilah dia mampu mengingat Mia dalam bentuk Nada.

Beberapa tahun telah berlalu. Hingga tiba-tiba datang suatu saat ketika Sebastian sedang bermain musik di sebuah orchestra Dangdut Dorong di depan RW 03, Sebastian tak sengaja melihat Mia ada di sana. Di antara para ibu-ibu berdaster, bapak-bapak singletan doang, anak-anak bau matahari, dan tukang sayur, Mia sedang berdiri menatap Sebastian yang saat itu sedang bermain Rebana dan Ketipung bersama teman-teman Akapelanya yang membawakan lagu Alif-Bata-Sajimha karya Wali Band.

Ketika Sebastian sudah mulai bisa melupakan Mia, tiba-tiba Mia hadir kembali dalam hidupnya. Membuat segala pertanyaan yang sebenarnya sudah diikhlaskan oleh Sebastian tiba-tiba menyeruak lagi ke permukaan. Membuat kakinya goyah lagi di hadapan cinta yang membuat dirinya terjun ke dunia yang ia sukai.

Kisah Sebastian di atas itu kerap terjadi di kehidupan ABG di Negara Berkembang. Ketika kita sudah mampu melangkah, sudah lupa, sudah tidak terlalu sakit lagi dalam mengingat, tiba-tiba sang masa lalu datang untuk menawarkan sebuah jawaban.

Kita yang tadinya sudah tidak berharap lagi tiba-tiba menjadi was-was, kita yang bahkan sudah tidak butuh jawaban atas kepergiannya dulu itu menjadi penasaran lagi hanya karena merasa bahwa ada kesempatan untuk mendapatkan jawaban.

Q&A atau Question and Answer; Adalah suatu keadaan di mana kita dipisahkan oleh keadaan, oleh suatu ketidak-adilan sehingga ada begitu banyak tanda tanya di kepala. Kepergiannya membuat tanda tanya itu tidak terjawab, terbengkalai. Mau bertanya tapi takut disangka masih ngarep, mau bertanya tapi ternyata dia sudah punya pasangan yang baru, atau juga mau bertanya tapi tidak ada akses yang memungkinkan untuk berbicara dengannya.

Kemudian kau menyerah, berusaha menelan mentah-mentah semua tanda tanya. Menguburkannya jauh-jauh di dalam dada. Mencoba Ikhlas bahwa pertanyaan atas kepergiannya itu tidak akan terjawab untuk selamanya. Lalu kau mulai belajar menerima keadaan itu. Namun ketika kau sudah mampu menerima, tiba-tiba masa lalumu dengan brengseknya datang lagi. Memberikan sebuah harap bahwa jawaban yang selama ini kau cari itu mampu ia berikan.

Pertanyaan-pertanyaan yang kau kubur dalam-dalam dulu itu tiba-tiba menumbuhkan tunas.

Pertemuan seperti gue anggap sebagai sebuah keadaan paradox.
Boleh dilakukan, tapi lebih baik tidak.

Boleh dilakukan jika kau sudah yakin tidak akan baper lagi ketika berbicara dengannya. Tidak akan baper lagi atas semua jawabannya. Atau lebih baik tidak; Karena buktinya tanpa jawabannya itu pun kau sudah pernah bisa bertahan dan melanjutkan hidup dengan bahagia, kan?

Gue sarankan hati-hati dengan pertemuan yang seperti ini.
Sangat menggoda dan penuh tipu daya.

Kaya tengtop awkarin waktu naik kuda.

.

                                                           ===

.

PENASARAN

Ekspresi gue pas doi ngajak balikan.

 .

Bukan, gue bukan mau ngomongin setan. Penasaran di sini dalam arti kamu masih ingin meluruskan apa yang dulu sempat terbengkalai.

Sebut saja, Harambe. Seorang cowok nggak ganteng-ganteng amat yang sudah khatam Iqro 6 tapi ada aja cewek cakep yang nyantol sama dirinya. Sikapnya yang baik dan menyamankan ini membuat seorang wanita, Sebut saja Sanbe, jadi jatuh cinta.

Padahal kala itu Sanbe tengah patah hati berat. Ia baru saja putus dari hubungannya kemarin dengan seorang cowok brengsek. Sanbe hanya dimanfaatkan, tubuhnya dieskploitasi kaya saham Freepot. Sanbe disuruh jadi Manusia Silver untuk membuktikan cintanya, padahal mantan Sanbe hanya menginginkan uang hasil mengemisnya itu saja.

Patah hati yang begitu berat lantaran kulitnya menjadi warna abu-abu membuat Sanbe enggan masuk ke dalam suatu hubungan terlebih dahulu. Namun meski begitu, Harambe tetap mencintai Sanbe. Ia menyamankan Sanbe, menyembuhkan Sanbe dari segala luka yang padahal bukan disebabkan oleh Harambe.

Namun ketika Sanbe sudah mampu untuk jatuh cinta lagi, Harambe ditinggalkan begitu saja. Harambe tidak dipilih padahal selalu ada. Tidak dijadikan pilihan padahal selalu menomer-satukan Sanbe. Harambe dipaksa pergi dengan cara digantikan oleh orang lain.

Brengsek sekali.

Lalu beberapa tahun kemudian ketika Harambe sudah mengikhlaskan Sanbe dan memilih Fitnes sebagai pelampiasan patah hatinya, Sanbe datang lagi. Sanbe tertarik dengan otot-otot perut Harambe yang seperti tahu berjumlah 6 biji itu.

Dan bodohnya, Harambe tanpa pikir panjang langsung menerima Sanbe kembali tanpa mengingat bahwa dulu Sanbe pernah meninggalkan Harambe lebih dari satu kali. Ketika teman-teman Fitnes Harambe bertanya apa alasan Harambe kembali kepada masa lalunya, sambil menggoyang-goyangkan otot dadanya, Harambe menjawab dengan nada berat bak barbel,

“Aku masih penasaran sama dia.”

Yak!

Menurut gue, masih penasaran ini juga termasuk salah satu cara menengok masa lalu yang cukup berbahaya. Hubungan yang sudah usai sebelum dimulai, atau juga hubungan yang hampir berhasil tapi keburu selesai itu, kerap menjadi rasa penasaran di dalam dada. Hingga kemudian ketika masa lalu datang menawarkan proposal untuk kembali lagi, itu terasa seperti sebuah angin segar yang menghilangkan dahaga rasa penasarannya selama ini.

Karena rasa penasaran itu mampu membunuh syaraf logika.

Baiknya pertemuan ini dihindarkan dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah tetaplah Fitness dan putuskan menjadi Gay. Aman.

Paling banter juga resikonya pantat lu bolong.

.

                                                          ===

.


MASIH CINTA

Aelah kagak usah gue jelasin lagi yang begini mah. Bikin kesel aja.


.

                                                              ===

.


WALKIE TALKIE

Wa cape mz..

.

Walkie Talkie adalah pertemuan yang dilaksanakan hanya untuk bercengkrama. Ingat, bercengkrama, bukan bersenggama. Tolong dibedakan ya Ukhti Ikhwan. Jangan sampai salah ucap, nanti kamu dimarahin ustad Hainan.

Baiknya teknik Walkie Talkie ini dilakukan hanya ketika kamu sudah cukup dewasa untuk menerima sebuah pendapat dan penjelasan dari sisi masa lalumu. Karena bisa dibilang teknik Walkie Talkie ini adalah gabungan dari ketiga teknik di atas. Ada pertanyaan yang belum di jawab, rasa penasaran untuk menuntaskan, juga ada sedikit rasa masih cinta. Maka apabila kamu belum cukup dewasa untuk sebuah pertemuan yang seperti ini, baiknya jangan dilakukan. Karena jika tidak, kamu akan jatuh dua kali di lubang yang sama.

Sebuah hubungan antara dua hati manusia kerap berakhir tanpa disangka-sangka dan tanpa direncakan sebelumnya. Tentu kedua belah pihak akan terluka juga, namun yang saat itu sedang sayang-sayangnya lah yang akan paling terluka. Selain meninggalkan banyak tanya, rasa penasaran karena masih cinta pun kerap melekat kuat-kuat di dalam dada.

Berbulan-bulan berlalu, bertahun-tahun berlalu, tetap rasa itu masih ada. Mungkin tidak membesar, tapi akan tetap ada. Membuatmu jadi merasa benci pada yang meninggalkan karena membuatmu tersiksa sendirian. Karena bagimu, ada beberapa luka yang tidak mungkin sembuh bahkan dalam hitungan tahun.

Lantas tanpa kau sangka-sangka sebelumnya, masa lalumu itu kembali. Menawarkan sebuah penjelasan. Sontak rasa yang melekat di dalam dadamu itu tiba-tiba membesar kembali. Membuatmu dengan mantap untuk bertemu dengannya.

Walkie Talkie adalah pertemuan untuk mendengarkan pendapat dari pihak yang meninggalkan. Karena terkadang orang-orang yang meninggalkan juga merasa bahwa merekalah yang disuruh pergi. Bahkan mungkin orang yang meninggalkan ini akan bilang bahwa sejatinya dialah yang tersakiti di perpisahan kalian yang kemarin itu.

Oleh sebab itu, seperti yang gue bicarakan di awal, jika lo belum dewasa untuk menerima pendapat dari sisi pandang masa lalu lo, baiknya pertemuan ini jangan dilakukan. Setelah bertahun-tahun rasa penasaran itu melekat lalu kemudian kau mendapatkan jawaban, namun jawabannya malah menuduh bahwa kamulah pihak yang salah, sontak pasti kau akan merasa begitu emosi atau bahkan hingga menjadi benci.

Kau yang selama ini tersiksa. Kau yang selama ini terluka sendirian. Ternyata di matanya, adalah kau yang bersalah. Tak ayal pertemuan ini malah mengubah apa rasa cinta menjadi rasa benci. Tiba-tiba seluruh perasaanmu, kekagumanmu, cintamu itu luluh lantah dan digantikan dengan rasa jijik serta benci.

Atau bahasa lainnya adalah Ilfeel.

Namun, bisa juga kebalikannya. Bisa jadi pertemuan ini malah menyembuhkan dan betul-betul menjawab seluruh pertanyaan yang mengganjal di hatimu selama ini. Mungkin apa yang akan ia jelaskan benar-benar membawa kalian ke sebuah jalan tengah. Ke penyelesaian yang begitu damai tanpa banyak helaan napas.

Bahkan, itu bisa membawamu kembali menjalin hubungan dengannya.

Baik buruknya, itu tergantung kedewasaan setiap orang yang hendak melakukan teknik Walkie Talkie ini. Tapi menurut gue, yang telah lalu itu biarlah berlalu. New is always better.

Mengutip salah satu lirik dari lagu mas Kodaline,

‘cause we don’t, we don’t need to talk about this now
Yeah, we’ve been down that road before
That was then and this is now

The crowds in my heart they’ve been calling out your name
Now it just don’t feel the same
Guess it’s over, yeah, we’re done

.

                                                             ===

.

Nah gaes,

Itulah ketiga teknik penting yang perlu diketahui ketika masa lalu datang kembali untuk menawarkan sebuah kerja sama ulang. Dia datang seperti ulangan Remedial, menawarkan dirimu kesempatan yang baru untuk memulai semuanya dari awal lagi.

Tapi untuk siapapun yang sudah membiarkan waktu berharganya hilang begitu saja karena membaca tulisan nggak penting ini, baiknya ingatlah kata-kata gue ini,


Setelah kau gagal dan terus gagal, masa depan memang akan terlihat begitu menakutkan dan asing. Tapi kau tidak bisa berlari kembali ke masa lalu hanya karena merasa masa lalu itu terasa lebih familiar untukmu. Ya, masa lalu memang terlihat lebih menggoda, tapi itu tetaplah sebuah kesalahan.

Because new Is always better.

tentang ASI

saya anti sekali dan sebal sekali jika ada yang bilang bahwa ASI itu gratis. bagi saya, ASI itu sangat mahal, tidak ternilai lebih tepatnya. ASI sama dengan energi ibu dan waktu ibu. kualitas ASI akan baik jika ibu mengonsumsi makanan bergizi, di mana biasanya semakin bergizi suatu jenis makanan semakin mahal pula harganya. kuantitas ASI akan banyak jika ibu sering-sering memompa, yang jika dihitung-hitung lamanya bisa menghabiskan seperenam sampai seperempat waktu dari satu hari.

mungkin para ibu muda juga setuju bahwa peralatan ASI, terutama ASI perah, ada banyak sekali dan tidaklah murah. harus punya breastpump. kalau mau lebih nyaman, breastpumpnya pun lebih mahal. harus ada botol-botol atau plastik-plastik untuk penyimpanan. harus ada kulkas yang dinginnya cukup. harus ada listrik. harus ada air panas atau sterilizer untuk mensterilkan botol-botol dan alat pompa. juga penghangat botol, untuk menyiapkan susu sebelum diminum bayi.

setelah 3 bulan, saya mulai mengalami jumpalitannya menyusui. mbak yuna mimiknya semakin banyak, begitu pun teh riani dan dek alifa–yang mengakibatkan produksi ASI dan konsumsinya kejar-kejaran. stok ASI saya saat ini adalah terendah yang pernah ada. begitu pula produksinya–entah mengapa menurun, mungkin karena saya mulai malas makan, yang berujung pada mulai malas memompa (maafkan ibu, anak-anak). hari ini, akhirnya, saya memutuskan untuk minum ekstrak daun katuk (biasanya saya makan daun katuk saja) untuk mengembalikan produksi ASI, agar tuntas bertiga ASI eksklusif 6 bulan, insyaAllah.

adik saya beberapa kali bilang, betapa kasihannya saya (dan ibu-ibu menyusui lain) yang harus selalu memompa. kami tidak “bebas” berpergian dalam waktu lama, karena setiap 4 jam harus memompa. kami tidak bebas tidur karena saat mengantuk juga harus memompa. kadang-kadang, dilema sekali rasanya saat harus memompa sedangkan mbak yuna minta diajak main. memilih menggendong, ASI akan mengucur sampai saya seperti mandi. memilih memompa, mbak yuna akan menangis. tentu saja, menangis itu tidak baik. mitos adalah bahwa menangis melatih pernapasan bayi. yang benar, menangis itu mencegah perkembangan otak bayi.

demikianlah sehingga saya menyadari betapa mahalnya setetes ASI. saya tidak bisa membayangkan perjuangan para ibu yang harus memompa di kantor. apalagi yang pulang perginya naik kendaraan umum, terutama kereta komuter. saya saja yang tinggal di rumah dan punya manajer ASI sering kewalahan, apalagi para ibu yang mengurus semuanya sendirian. begitu pula para ibu yang ASI nya pas-pasan, harus benar-benar disiplin memompa supaya kebutuhan ASI terpenuhi.

menyusui itu perjalanan yang penuh perjuangan. sekali saja tidak disiplin menyusui, produksi ASI bisa terjun payung. salam salut saya adalah untuk ibu-ibu yang begitu tekun menyusui anak-anaknya.

sejak belajar tentang laktasi, saya diberitahu bahwa produksi ASI berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan ibu. hormon oksitosin yang memicu keluarnya ASI terproduksi saat ibu bahagia. namun, saya baru tahu akhir-akhir ini, bahwa secara natural, sumber kebahagiaan seorang ibu yang paling besar adalah ketika ia dekat dengan suaminya–baik lahir maupun batin.

WriterTalk #32: Fast Writing – Ayo Menulis dengan Cepat!

Assalamu’alaikum warahmatullah wabaarakatuh! Besok sudah mulai menginjak tanggal 1 Ramadhan 1438 H nih, bagaimana persiapan #30daysramadhanwriting yang akan kamu lakukan? Sudahkah menemukan tema dan menentukan waktu untuk menuliskannya? Beberapa hari yang lalu, ada yang bertanya kepada saya, katanya,

“Kak, aku bingung nih, pengen banget ikutan nulis 30 hari di Ramadhan, tapi aku takut waktuku jadi habis untuk menulis daripada melakukan ibadah yang lain, apalagi aku masih pemula. Gimana ya, kak?”

Hmm, apakah ada diantaramu yang sebenarnya juga ingin menanyakan pertanyaan yang sama? Tenang, ini bisa diatasi, kok!

Beberapa tahun yang lalu, guru menulis saya mengajarkan tentang salah satu teknis menulis yang bernama Fast Writing. Seperti yang langsung bissa kita ketahui dari namanya, teknik menulis ini sangat memungkinkan kita untuk bisa menulis dengan cepat (atau bahkan sangat cepat). Selain itu, teknik menulis ini juga bisa menstimulasi ide-ide baru untuk muncul. Waaah, sekali dayung dua tiga pulau terlewati, nih! Tapi, apakah teknik ini cocok untuk penulis pemula?

Setelah mempelajarinya dalam waktu yang cukup lama, mencobanya sendiri, dan seringkali pula membawakannya ketika mengisi workshop atau pelatihan menulis, saya mengambil kesimpulan bahwa teknik menulis ini sangat cocok dilakukan oleh pemula. Betapa tidak, teknik ini sangat mudah, efektif, dan efisien untuk dilakukan. Setidaknya, kita tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk berada di depan laptop dan menyelesaikan satu tulisan. Iya dong, checklist harian kita di Ramadhan ini kan banyak, jangan sampai semua kacau hanya karena kita terlalu sibuk menulis. Kalau begitu, bagaimana caranya?

Pertama, bersiaplah terlebih dahulu. Siapkan diri, hati, dan fisikmu untuk menulis. Fokuskan pikiranmu untuk menulis, jangan dulu pikirkan hal yang lain. Beberapa orang suka untuk mencari tempat yang nyaman dalam menulis, tapi beberapa yang lain juga bisa menulis dimana saja. Dimana pun, yang terpenting adalah bersiap dan fokus. Oleh karena itu, jangan lupa juga untuk meminimalisir distraksi atau gangguan yang mungkin muncul ketika kita menulis. Matikan koneksi internet, non-aktifkan paket data, dan singkirkanlah hal lain yang bisa menganggumu ketika menulis.

Kedua, ambillah selembar kertas dan alat tulis (jika kamu lebih nyaman untuk menulis di kertas sebelum mengetikkannya di laptop) atau aktifkanlah software yang biasa kamu gunakan untuk menulis. Jika kamu terbiasa menulis di handphone, tidak masalah, lakukan saja, asalkan kamu sudah memastikan bahwa paket data dan wifinya non-aktif.

Ketiga, pikirkanlah sebuah tema untuk ditulis dan set waktu selama 15 menit untuk kemudian menulislah secepat-cepatnya dalam waktu 15 menit itu. Tuangkanlah secara langsung dan spontan apa yang ada dalam pikiranmu tanpa berpikir panjang. Ya, jangan dulu berpikir tulisanmu akan bagus atau jelek, diksinya oke atau tidak, antarkalimatnya bersambungan atau tidak, atau yang lainnya. Sebab, rules dari teknik ini adalah jangan terlalu banyak berpikir dan jangan mengedit di tengah jalan. Biarkanlah tanganmu mengeksekusi apa yang diperintahkan otak untuk dituliskan, tanpa harus mengeditnya jika memang belum selesai. Percaya deh, mengedit di tengah jalan itulah yang seringkali membuat tulisanmu lama sekali selesainya.

Keempat, setelah 15 menit itu selesai, berhentilah. Jika dirasa tulisanmu belum cukup, ulangilah langkah ketiga sekali lagi. Ingat ya, menulislah dengan cepat, sangat cepat! Jangan menginterupsi ide apapun yang tiba-tiba muncul, biarkan saja itu dieksekusi oleh jemari. Jika sudah selesai, periksalah kembali keseluruhan tulisanmu. Biasanya, kamu akan tertawa-tawa ketika membacanya karena kamu akan mendapati banyak hal random disana. Tak masalah, karena sekarang saatnya mengedit seluruh tulisanmu agar menjadi lebih cantik, bahasanya halus, dan juga sarat akan makna. Tambahkanlah hal-hal yang perlu ditambahkan, hapus yang dirasa kurang sesuai, pindahkan atau tukar posisi paragraf, dan lain-lain.

Begitu, sesimple itu, sesederhana itu. Mungkin ini tidak akan begitu berhasil dengan baik pada percobaan pertama, kedua, atau ketiga. Namanya juga belajar dan latihan, kalau langsung jadi jagoan dimana dong esensi berjuangnya? Hehe. Lama-kelamaan kamu juga akan mulai terbiasa, asal meluruskan niat, memperbanyak kuantitas menulis, konsisten, dan persisten. Semangat yaaa, semoga menulis bisa menjadi cara yang menyenangkan bagimu untuk mengajak orang lain berbuat benar dengan cara yang baik.

Bagaimana, apakah ini cukup membantu? Kalau masih bingung, silahkan bertanya, ya! ;)

_____

Untuk membaca tips atau tulisan lain tentang menulis, bacalah series WriterTalk dalam tautan berikut ini.

Kawan-Kawan Generasi Milenial

Saya memfasilitasi kalian untuk ikut peduli membantu adik-adik kita yang membutuhkan fasilitas belajar-mengajar yang layak. Kita bisa makan di mall, punya hp baru, akses internet, kongkow di kafe-kafe, atau belanja ini itu. Tapi ada di pelosok sana, adik-adik yang hanya butuh papan tulis layak, kursi layak, dan meja yang layak untuk belajar. Bukan untuk memenuhi hasrat gaya hidup. Akankah kita biarkan mereka terus seperti itu?

Pulau Komodo merupakan destinasi wisata internasional dan salah satu income terbesar pariwisata Indonesia. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di pulau ini terdapat sebuah kampung yang telah dihuni oleh penduduknya turun-temurun. Di pulau ini, hanya ada 1 SD dan 1 SMP dengan fasilitas yang sangat minim. Bahkan, para siswa SMP belajar di luar kelas menggunakan papan tulis tak layak pakai serta tempat duduk dari bongkahan batu disebabkan ruang kelas yang kurang. Kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun. Sementara setiap hari turis berdatangan ke pulau ini dengan tiket yang tidak murah.

Kita mungkin lelah bertanya mengapa di tahun 2017 masih ada kondisi sekolah yang memprihatinkan. Kita mungkin capek kemana lagi kita menaruh harapan. Pemerintah? Padahal pendidikan adalah investasi jangka panjang yang dapat mengubah arah nakhoda suatu bangsa. Meski demikian, harapan itu masih ada selama kita peduli dan tak sungkan untuk berbagi.

Kami komunitas ideberbagi.id mengadakan Komodo Project yang fokus pada program karitas pengadaan alat ajar dan perlengkapan sekolah seperti papan tulis, kursi, dan ATK. Selain itu kami akan memberikan paket perlengkapan sekolah bagi 107 siswa-siswi SMP Pulau Komodo. Program ini hanya akan berjalan jika kawan-kawan tak segan ikut turun tangan.

Deadline 31 April 2017.


Dengan senang hati jika kawan-kawan mau ikutan donasi dan juga reblog. @jagungrebus @beningtirta @bersamadenganmu @octaraisa @maspur23 @alfinrahma dan semua yang tidak bisa saya tag satu-satu karena saking banyaknya. Tapi tidak mengurangi rasa hormat dan kebersahabatan saya kepada kalian semua. 

HADIAH YANG TERTEBAK

“Ah, gapapa bajunya ngetat. Yang penting kan udah pake kerudung”

“Nanti lah pake kerudung lebar mah, kalau ilmu agamanya udah mantep.”

“Aku gak cocok kalo pake yang lebar gitu, aku bukan ukhti-ukhti gitu, cewek biasa aku mah”

Semoga kisah ini bisa memberikan gambaran bagi teman-teman akhwat yang senang berpakaian ketat.

Sore itu begitu cerah. Cahaya matahari senja, masuk ke dalam ruang tamu. Cahayanya jatuh kepada kirana, seorang anak perempuan kecil yang imut, yang sedang asyik bermain dengan mainannya di atas karpet.

“Bu, besok kan hari ulang tahunku. Ibu sudah menyiapkan kado belum?” Kirana memandang ibunya yang sedang duduk di sofa, sambil memegang boneka beruangnya.

“hahaha, nak. Pintar sekali kamu. Sebentar yah.” Ibu berdiri, seraya masuk ke kamarnya. Beberapa saat kemudian, ibu kembali, membawa 2 buah bingkisan.

“Ini nak, ibu sudah menyiapkannya untukmu. Tapi baru boleh dibuka besok yah.” Ibu tersenyum, sambil kedua tangannya memegang hadiah ulang tahun kirana.

Kirana memandang hadiah itu dengan penuh rasa penasaran, dan lalu “Ah, ibu. Aku bisa menebak hadiah ibu. Itu kan jerapah-jerapahan ya bu?”

Ibunya terkaget, kirana bisa menebak salah satu kado ulang tahunnya besok.

“Kok kamu bisa tau nak?” Ibu heran.

“Yaiyalah bu, kadonya udah keliatan bentuknya bu, ketebak kalau itu isinya jerapah. Pintar kan aku yah bu?” Kirana bangga, sambil menepuk-nepuk dadanya.

“Hmm, kira-kira jerapahnya warnanya apa yah? Mukanya kayak gimana yah? Hmm, ah, aku tidak sabar membukanya besok” Kirana tersenyum sembari berimajinasi tentang hadiahnya, karena dia tau belum saatnya dia membuka kado tersebut.

Ibu menggelengkan kepala, tidak menyangka anaknya bisa menebak hadiah tersebut. Ibu memang sadar, kalau kadonya itu memang mudah ditebak. Karena memang saat membungkusnya, ibu kekurangan bungkus kado, sehingga ibu hanya sekedar menutup hadiahnya sealakadarnya, yang penting tertutup.

“Ibu, kalau yang ditangan kiri ibu, itu apa?” Kirana bertanya sembari menunjuk kado yang dipegang oleh tangan kanan ibunya.

“Oh, ini? Apakah kamu bisa menebaknya?” Tanya ibu pada kirana.

Kirana mencoba memandang hadiah yang dipegang ibunya. Seberapa kali pun Kirana memandang hadiah tersebut, kirana tak bisa menebak hadiah tersebut. Berbentuk box, berbeda dengan hadiah sebelumnya yang nampak jelas bentuknya.

“hmm, Boneka ya bu? Hmm, atau permen? Hmm, atau alat gambar ya bu?” Kirana menjawab asal-asalan.

“hahaha, bukan kirana. Ternyata kamu enggak tau ya?” Ibu nya tertawa, sembari membercandai kirana.

“Ia bu, aku gak bisa nebak. Bentuknya gak keliatan. Cuman kotak besar saja.” Kirana menjawab candaan ibunya.

Ibu kembali tersenyum. Ibu senang, Kirana tidak tahu tentang kado yang akan dia dapatkan besok. Ibu tahu kirana takkan bisa menjawabnya, karena ibu membungkus kado itu dengan bungkus kado yang sangat banyak, dan ibu menutupnya dengan box besar, sehingga tidak nampak bentuk aslinya. Karena hal tersebut juga, ibu jadi kekurangan bahan untuk membungkus kado jerapah Kirana.

“Yasudah nak, tenang, nanti juga kamu akan dapat kok. Tinggal menunggu waktunya saja. Nanti kalau waktunya udah pas, kamu boleh buka hadiahnya ya besok” Ibu tersenyum

“Iah bu, siap!” Kirana menjawab sambil mengangkat tangannya, melakukan gerakan hormat, seolah ibunya adalah Panglima perang besar yang siap memerintah.

Ibu tertawa melihat kirana, kirana pun tertawa karena melihat ibunya yang tertawa. Sore itu, matahari begitu hangat, tapi suasana keluarga itu jauh lebih hangat.

Setiap wanita adalah hadiah terindah bagi pasangannya. Dan banyak dari kita, yang kadang lupa, bahwa perintah menutup aurat datang bukan untuk memberatkan, tapi untuk menjaga kemuliaan wanita.

Kisah ini bukan hanya untuk wanita, pun untuk pria yang senang berpakaian minim.

BINGKISAN YANG TERTEBAK
Bandung, 28 Maret 2019

Freeday: Pengecut Yang Dipaksa Hidup.

Mungkin pergi sendiriku bukan yang seperti itu. Selain karena minimnya kesempatan beserta segala tetek bengek brengsek yang membuatku enggan melangkah, pergi yang seperti itu bagiku tak ayalnya seperti seorang pedagang di pasar minggu. Menjajakan dagangannya agar laku, merayu ibu-ibu, atau bahkan berani banting harga hingga hampir tutup modal kala waktu sudah memasuki senja.

Atau dalam pengertian lain; Rumpun serta ucapan yang masih bisa dimengerti membuatku merasa pergi yang seperti itu tidak benar-benar membuatku Tertempa dan tersiksa. 

“Siksalah hidupmu sekeras-kerasnya. Melaratlah. Merangkaklah. Jilatlah kaki orang lain. Itu akan membuatmu kuat dihadapan bangsat kelas kakap sekalipun.”

Pergilah yang jauh hingga orang-orang tak mengetahui asal-usulmu, tak juga mengerti segala yang lidahmu julurkan, kau hanya bermodal nekat, gerak tubuh, serta pengetahuan singkat mengenai bertahan hidup di tempat yang jauh lebih keras dari tempat di mana kau dilahirkan.

Udaranya membuat kulitmu memutih, bersisik. Perih ketika tergesek kain perca yang menutupi tubuh. Anginnya berhembus kencang, membuat pandanganmu kabur, telingamu penuh ruam karena dingin yang mencekam, tanganmu sulit digerakan, kuku kakimu patah karena beku dan sol sepatumu terbuka lebar karena tergerus perjalanan dari waktu ke waktu, tenggorokanmu kering, dan kakimu sudah lelah berdiri dengan darah yang sudah terlanjur membeku di sekitar kuku.

Ingin duduk, tapi peraturan mengatakan kau tak boleh duduk di situ. Ingin bertanya, tapi tak ada satupun yang mau membantu kala mereka sama sekali tidak mengerti semua yang keluar dari mulutmu.

Belum lagi, tidak ada makanan untuk ditelan. Dengan mata uang yang keparatnya sangat mahal itu, perutmu dirajam oleh lambungmu sendiri. Untuk makanan biasa, kau harus merogoh kocek sebesar 2 hari biaya makan di rumahmu sendiri. Dan itupun rasanya tidak begitu enak untuk lidah bangsamu.

Satu-satunya yang murah adalah daging yang agamamu larang. Yang harus rela kau telan bulat-bulat karena menghemat beberapa keping untuk perjalanan pulang yang jauhnya luar biasa. Kau mengkhianati kepercayaanmu sendiri, kau dipaksa rendah menjilat kaki agama tempat kau dibesarkan dulu di sekolah.

Lain dari hal itu, doamu dianggap menakutkan oleh mereka. Kau dianggap sama dari mereka-mereka yang menggorok leher reporter negarawan di timur tengah. Mereka menilik, menyuruh melepas kain suci yang melindungi rambut wanitamu. Atau mereka sama sekali tak mengizinkanmu pergi bahkan untuk sekedar sembahyang sendiri di hari Jumat pertengahan pagi.

Direndahkan? Itu jauh lebih nikmat daripada tersesat di suatu tempat yang begitu asing. Orang-orangnya enggan membantu, bertanya hanya membuatmu dicibir, udara di bawah 0 derajat membuat pikiranmu lemas. Hidungmu berdarah, tanganmu lebam, bahkan ingus yang keluar dari hidung tak ayal harus kau telan demi sekecap rasa di lidah.

Kudengar, orang-orang sepenanggunganku justru jauh lebih tersiksa dariku. Ketika harus dihadapkan dengan begundal-begundal yang mengambil uang receh mereka. Uang seharga sekitar 15ribu rupiah yang hanya mampu membeli tak lebih dari 2x suap nasi di negara itu.

Jika dibandingkan dengan pergi dengan kesamaan rumpun; Kau bisa merendah meminta menginap, merendah membantu kerja demi sepiring nasi, memainkan alat musik dari tutup botol untuk mendapatkan ongkos pulang, menumpang, atau bahkan tidur hangat di sebuah surau; Pergimu itu bagiku– saat itu— seperti tamasya di binaria. 

Aku tak merendahkan pergimu, tidak. Bahkan bagiku kalian yang berani pergi adalah kalian yang jauh lebih berani dari seorang pengecut seperti aku; yang dipaksa keadaan untuk tersesat; yang menggigit bibir hingga berdarah menahan tangis di kereta perjalanan pulang. Merasa ingin menyerah, ingin memilih untuk secepatnya pulang. 

Namun setelah memilih bertahan sebentar sebelum benar-benar akhirnya waktu pulang datang,
Kini aku tak lagi menjadi aku.

Seonggok besi rongsok yang pergi, ditempa habis-habisan, disiksa, dibakar, dipukul, dan dihina itu, kini kembali pulang menjadi sebilah pedang dengan ketajaman dari ujung hingga pangkal.

Itulah pergiku.

Maka jika suatu saat ada kesempatan untuk disiksa, ditempa, dan tersesat di rumpun yang berbeda, dengan begitu senang hati aku akan melaksanakannya sekali lagi.

Kepada siapapun yang pernah seperti aku, yang enggan melangkah, yang begitu malas melangkahkan kaki di tempat-tempat baru, bacalah tulisanku di atas. 

Berdoalah untuk tersesat. 
Selain kau akan belajar menemukan jalan untuk bertahan, 
Kau juga akan belajar menemukan siapa dirimu yang sebenarnya ketika tak punya apa-apa.

Pihlajakatu-gothic
  • Muutat Pihlajakadulle. Vähitellen unohdat Helsingin ulkopuolella asuvat ystävät ja sukulaiset. Ihmissuhteesi rajautuvat 10-30 ihmiseen.
  • Menetät työpaikkasi. Naapuri tarjoaa töitä firmastaan. Sinulla ei ole alan koulutusta.
  • Juhlapyhiä ei enää vietetä. Joku mainitsee joulun. Muistat hämärästi, että siihen liittyy talvi.
  • Vuosia kestänyt parisuhteesi rakoilee. Puolisosi muuttaa yläkertaan.
  • Menetät taas työpaikkasi. Tällä kertaa jäät työttömäksi. Sinulla on edelleen varaa asua Helsingin keskustassa.
  • Naapurin 10-vuotias täyttää 16. Et ole viettänyt omia syntymäpäiviäsi vuosiin. 
  • Et pysty muodostamaan ihmissuhteita rapun ulkopuolelta. Etsit uutta puolisoa vaihtamalla seurustelukumppania tasaisin väliajoin. Olet seurustellut kaikkien naapureidesi kanssa.
  • Serkkusi muuttaa naapuriin. Et muistanut, että sinulla on serkku. Sinulla ei ole muita sukulaisia.
  • Naapurin 16-vuotias on nyt täysi-ikäinen. Aloitat hänen kanssaan salasuhteen.
  • Ystäväsi muuttaa pois Helsingistä. Lupaatte pitää yhteyttä. Viikon kuluttua et muista hänen nimeään.
  • Yksi naapureistasi ammutaan. Vihasitte toisianne verisesti, mutta itket silti hautajaisissa.
  • Aaro/Eero palaa kuvioihin. Et ole koskaan tavannut kumpaakaan, mutta hän vainoaa sinua silti.
  • Muutat pois Pihlajakadulta. Yhteytesi sen asukkaisiin katkeavat. Olet taas yhteyksissä ystäviisi ja sukulaisiisi. Alat epäilemään, oliko Pihlajakatu edes todellinen paikka.

[EPISODE MANUSIA YANG DIHILANGKAN]

Pernah nggak, kamu nonton serial anime yang berepisode, lalu ada satu dua episode yang ternyata lupa terdownload? Rasanya ada yang kurang, jengkel dan kesal. Sebab kadang, episode yang hilang itu ternyata adalah momentum inti dari serial animenya. Di situ, kadang kita merasa sedih, hehe.

Keadaan itu ternyata diadaptasi juga oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab untuk mengisahkan pada umat manusia tentang sejarah peradabannya. Dalam salah satu video sejarah peradaban manusia buatan orang Barat, muncul tahun-tahun dan rangkaian peristiwa yang menjadi momentum sejarah tak terlupakan. Berdirinya Piramid, ditemukannya bidang miring, ditemukannya kertas dan alat tulis; itu semua rata-rata terjadi tahun 600an kebelakang.

Dan secara ajaib, dari tahun 600 tiba-tiba timeline meloncat sampai tahun 1500. Orang awam akan berpikir mungkin tidak ada hal besar yang terjadi antara tentang 600 M sampai 1500 M. Padahal, sejatinya saat-saat itulah dasar ilmu pengetahuan dan pencapaian peradaban manusia memasuki gerbang kemajuan yang sangat-sangat pesat.

Apakah episode yang telah dihilangkan itu? Secara jahat dan serampangan, banyak pihak yang menghilangkan peran kaum Muslimin dalam mengembangkan peradaban manusia. Rentang 600-1500 adalah Golden Ages milik muslimin, yang sederhananya, saat itulah umat Islam jadi superpower layaknya USA dan Eropa hari ini. Jahat? Banget. Orang akan berfikir bahwa umat ini cuma numpang hidup di bumi tanpa mengembangkan peradaban. Dan itu kesalahan berpikir yang fatal.

Buku-buku sejarah berbahasa Inggris yang saya baca pun, begitu adanya. Dalam Pageant of World History, secara serampangan umat Islam dikenalkan sebagai pengembara gurun dan nomad. Peradaban Romawi diagungkan, lalu diteruskan oleh bangsa Eropa. Padahal, jarak antara Romawi dan bangkitnya Eropa adalah rentang yang mahapanjang. Lebih dari 950 tahun!

Nah, berangkat dari sinilah, kita punya tekad untuk ‘mendownload’ episode yang hilang itu dan menyampaikannya pada manusia. Sebab tanpa adanya episode ini, ada rantai sejarah yang putus dan mewariskan pemahaman yang sangat keliru untuk memandang dunia. Maka, peran pemuda muslim ditunggu, untuk banyak menginstall sejarah Islam dari sumbernya yang asli. Kita punya kewajiban untuk mengembalikan izzah kita dengan menata pemahaman sejarah kita. Kita bukan umat sembarangan, dunia tahu itu tapi mereka sembunyikan. Singkap!

Gambar : Kekuasaan Muslimin di Eropa Timur. Dulu, adzan berkumandang ratusan tahun di Athena, Bulgaria, kota-kota Austria Hongaria, bahkan sampai Rusia dan Ukraina.

@edgarhamas

Konsep Syaitan

Suatu hari, jika Anda sedang sangat marah, cobalah rasakan kemarahan Anda sendiri.

Dada sesak bergemuruh? Kepala ingin meledak? Kepalan tangan terasa panas?

Nah, persis setelah Anda berhasil memunculkan kesadaran di tengah kemarahan, bayangkan satu, dua, atau tiga syaitan sedang membisiki Anda. Menaiki Anda dari belakang. Menggenggam jantung Anda. Semuanya menyeringai licik.

Sekarang, apa yang Anda pikirkan dan rasakan? Kalau itu saya, saya akan tersadar: “Tunggu dulu. Ada yang sedang berusaha memanipulasi saya agar saya melakukan keburukan. Enak saja, saya tidak mau dikendalikan oleh mereka.”

Dengan melakukan teknik tersebut, saya merasa jauh lebih kuat dari amarah saya. Saya merasa mampu mengontrol diri sendiri–meski karena saya masih belajar, terkadang kontrol tersebut terlepas juga barang beberapa detik.

Orang-orang psikologi mungkin punya penjelasan mengenai hal yang semacam ini–silakan berbagi jika Anda yang membaca mengetahuinya.

Yang ingin saya ketengahkan adalah bagaimana Islam memperkenalkan konsep “syaitan”.

Menurut guru-guru saya, ia lebih berupa sifat daripada “spesies” makhluk tersendiri. Ia bisa dimiliki manusia dan jin.

Dalam banyak literatur Islam, kurang lebih kita diajarkan untuk menjaga diri dari syaitan, mengidentifikasi kehadirannya, hingga melawan gangguannya.

Jika memang syaitan bukanlah makhluk, melainkan sifat yang bisa ada pada diri kita, berarti Islam mengajarkan kita untuk menjaga diri dari diri kita sendiri, mengidentifikasi kehadiran sifat kita sendiri, hingga melawan diri kita sendiri.

Jadi, masalahnya bukanlah pada sesosok makhluk gaib yang sentuhannya membuat kita lupa diri–yang kita sebut syaitan, karena kemungkinan sosok makhluk tersebut tidak ada. Masalahnya adalah diri kita sendiri.

Ketika kita marah, kemarahan itu dijaga dan diperbesar oleh diri kita sendiri. Ketika kita bermaksiat, maksiat itu terwujud karena pilihan kita sendiri.

Namun, Islam memberikan sebuah alat untuk mengendalikan diri kita sendiri, melalui konsep “syaitan”.

Kita diajak mundur sejenak dari kondisi kita saat marah, mengisolasi kemarahan kita dengan mengatakan bahwa itu datang dari syaitan, sehingga dengan sisa kesadaran yang ada, kita tidak mengizinkan kemarahan menguasai seluruh bagian diri kita.

Begitu pun ketika godaan kemaksiatan datang. Dengan sisa kesadaran yang masih bekerja, melakukan pemisahan “ini diriku” dan “ini dari syaitan” membuat kita–yang masih memiliki kebersihan hati, merasa perlu melawan bisikan itu habis-habisan.

Silakan coba metode ini, jika Anda baru mendengarnya (mungkin sebagian Anda sudah memikirkan dan melakukannya juga). Tetapi, mohon jangan jadikan ini sebagai referensi. Saya bukan ‘ulama. Saya hanya orang biasa yang senang mengobservasi dan memungut pelajaran.

Mohon luruskan jika ada kesalahan.
Wallahu'alam bi-shawab.

Lapis Pertama.

Aku pernah sampaikan kalau tulisan-tulisan disini dalam pengawasan Bapak dan Ibuk.

Kemarin siang, aku nelfon Bapak, tapi ga diangkat. Akhirnya Bapak telfon balik.

“Kenapa dek?”
“Ini Pak, bla bla bla.”
“Ooh…Bapak kira mau nanya arti Respati.”
“…”

Jadilah siang itu kami membicarakan arti nama. Begini kira-kira kesimpulannya:
Sundari artinya anak perempuan
Hana artinya bahagia
Respati artinya membahagiakan.

Anak perempuan yang bahagia dan membahagiakan.

Hehe. Aamiin.

Kata Bapak Ibuk, nama tersebut memang disiapkan sebelum mereka sadar bahwa Respati juga berarti hari Kamis.

Ibuk nambah lagi, “Alhamdulillah ternyata arti lainnya juga bagus. Jadi ya gapapa dek, buat tebak-tebakan orang. Kalau ada denger nama adek Respati, pasti mereka bilangnya lahir Kamis. Padahal enggak.”

Gitu.

Kemarin Bapak juga nelfon, kata Bapak gini “Dek, hitung-hitungan kecepatan itu bukan buat nyalip mobil…”
“Ohiya…”

Jadilah semalam ada kuliah singkat dari Bapak. Ini chat dari Bapak yang waktu itu aku capture dan share di IGstory:

Kalau kecepatan mobil kita 60 km/jam berarti satu detik mobil akan meluncur sepanjang 60000/3600= 16.7 meter jadi jarak dengan mobil didepannya adalah 16.7×4= 66.8 meter.

Kenapa 4 detik. Karena otak kita perlu 1 detik untuk melihat, 1 detik untuk meresponse, 1 detik untuk bertindak dan 1 detik untuk space yang dibutuhkan.

Kalau kecepatan mobil kita 30 km/jam jarak iring aman adalah 33.4 meter. Semakin cepat kendaraan yang kita kendarai semakin jauh jarak iring yang dibutuhkan.

Kemudian Bapak menambahkan lagi hal-hal yang perlu diingat dalam berkendara:

1. Pandang jauh 15 detik. (Tergantung kecepatan. Jadi tu kira-kira 15 detik kedepan posisi kita dimana, nah, pandangan kita musti sampe situ.)
2. Pandangan Luas dengan cara keep eye moving antara sampai 8 detik lihat spion kanan kiri belakang.
3. Jaga jarak 4 detik.(itung-itungannya yang diatas)
4. Selalu punya ruang untuk menghindar. (Kalau pas lagi macet, ya jangan mepet-mepet banget sama orang di depan.)
5. Let them know. Pastikan orang/pengendara lain mengetahui keberadaan kita. Dengan cara menggunakan alat indikator yang ada. Lampu rem, klakson. Turning Sign.

Gitu.

Fyuh. Ternyata pada saat nyetir otak kita kerja keras yak. Tapi ya jangan sampai fokusnya ke itung-itungan sampai-sampai mengabaikan jalanan.

Berkendara bukan hanya tentang kita, tapi juga tentang orang-orang disekitar kita. Mengingatkan lagi pada para pengendara motor maupun mobil, di musim hujan yang menimbulkan banyak genangan, tolong diperhatikan, jangan sampai pengendara lain, pejalan kaki, atau pedagang pinggir jalan kena cipratan.

SEDIH KALI WOI KENA CIPRATAN TU.

Joskus sanoin että matemaattiset alat on aika yksinkertasia ja näin.


Nyt kun neljä sähkäriä etti sähkövikaa valasimen johdotuksista, koska valo ei palanut, ties kuin kauan ennenku yks keksi et lamppuhan voi vaan olla palanu (ja se oli), voin todeta että voi se yksinkertanenki homma näköjään olla vitun hankalaakin.

Al Ghazali : Menasihati Diri

Bicara tentang nasihat, aku melihat diriku tak pantas untuk memberikannya. Sebab, nasihat seperti zakat. Nisab-nya, adalah mengambil nasihat atau pelajaran untuk diri sendiri. Siapa yang tak sampai pada nisab, bagaimana ia akan mengeluarkan zakat? Orang yang tak memiliki cahaya tak mungkin dijadikan alat penerang oleh yang lain. Bagaimana bayangan akan lurus bila kayunya bengkok?

-Imam Al Ghazali

do u ever think about how great BBC Merlin could have been if Arthur had gone through with killing Uther in S2 tho

–Arthur would have repealed the ban on magic immediately
–Merlin would have released Kilgharrah without the clusterfuck that followed
–Morgana would have been free to learn under Morgause’s tutelage with Arthur’s blessing
–Balinor would have returned to Hunith and called Aithusa from her egg and taught Merlin how to be a true Dragonlord
–Lancelot would have returned to Camelot to become a knight now that his honour allowed him to name Merlin as his accomplice in killing the griffin
–then Merlin would have been made Court Sorcerer without only his and Gaius’ word on all the things he has done
–then Gwen would have married Lancelot because Arthur’s not a fucking idiot, there’s only so much you can get away with when you killed your own father to take his throne
–Cenred would probably still been an antagonist but without strength - cause if Morgause supported a Morgana that wasn’t totally batshit, and still loved Arthur, Morgause wouldn’t have touched Cenred with a rusty flagpole and he wouldn’t have been confident enough to go to war with Camelot
–Other magic-users would have flocked to Camelot to get away from the persecution of other kingdoms that still upheld the ban eg. Mordred, Alator, Alice
–Agravaine would have been the world’s biggest arse licker but pretty harmless with it, and would probably have married Morgana to Arthur’s undying mortification
–All our beloved RT knights would have eventually made their way to Camelot to pledge themselves to Arthur, including Tristan AND Isolde
–Arthur would have so many magical supporters tho fucking seriously, it would have been easy as anything for him to unite the 5 Kingdoms and become the High King of Albion, without too much bloodshed and without getting shanked by Mordred who would have trained under Merlin, Morgana and Morgause

and last but most important of all:

Arthur, not being a complete tosser and recognising the need for an heir even though he acknowledges Merlin is his true love, would have married Princess Mithian - and the two of them would have been having happy threesomes with Merlin, the King’s soul mate, until she died of old age.

Whereupon Arthur would have left the Crown and Kingdom to a beloved, well-trained son, and happily gone to Avalon with Merlin, immortal and inseparable until the end of time, safe in the knowledge that their glorious destiny had actually been fulfilled.

 Not that I’m still salty about it or anything…

Berikan Porsi yang Tepat Pada Simbol-Simbol Islam

Bismillah

Saya termasuk muslim yang tidak begitu hobi menggunakan simbol-simbol yang lekat dengan Islam.

Misalnya saja peci. Tentu setiap orang bisa punya alasan yang berbeda untuk mengenakan ataupun tidak mengenakan peci, dan saya menghormati itu.

Tetapi, bagi saya, peci memiliki dua fungsi:

1. Sebagai benda fungsional, yaitu untuk menutupi rambut yang mungkin acak-acakan, agar terlihat lebih sopan dan layak–terutama ketika shalat shubuh, di mana rambut kita sedang berada dalam kondisi paling tidak beraturan karena baru saja bangun dari tidur.

2. Sebagai benda simbolik, yaitu untuk (a) menciptakan experience pribadi bagi si pengguna bahwa “Saya sedang dalam mode bertakwa/super Islami/sholeh”; (b) juga sebagai alat identitas yang membuat si pengguna merasa nyaman ketika berinteraksi di dalam kelompok muslim (perasaan I belong to this group), atau merasa puas dengan menunjukkan identitas keislamannya di hadapan khalayak umum (look, I am a muslim!).

Saya masih mau menggunakan peci untuk memenuhi fungsi pertama, tetapi tidak untuk memenuhi fungsi kedua.

Masalah Dengan Simbolisme

Islam bisa mengubah dunia dan mencapai kejayaan karena mengamalkan konsep/substansi ajarannya.

Itu juga yang terjadi dengan Dunia Barat. Mereka menguasai dunia hari ini karena mengamalkan substansi. Bedanya, substansi mereka bukan berasal dari agama mereka, tetapi dari ilmu pengetahuan.

Namun, ketika para pemimpin Islam di era kekhalifahan menjadikan Islam hanya sebagai label/simbol semata–mereka bermewah-mewahan, berebut kekuasaan, di bawah bendera “khilafah”, maka yang terjadi adalah kemunduran hingga keruntuhan.

Jika demikian, perlukah kita meninggalkan simbolisme Islam?

Sama sekali tidak, sebab sebagian ajaran Islam pun berbicara tentang simbolisme. Misalnya, anjuran Nabi untuk memanjangkan janggut dan mencukur kumis, dengan maksud menyelisihi/membedakan diri dari kaum Yahudi saat itu.

Simbolisme menjadi masalah ketika energi kita begitu terfokus kepadanya, sementara kita membiarkan substansi ajaran Islam tergeletak seperti tak bertuan.

Salah Prioritas

Ada masa saat saya masih duduk di bangku kuliah, saya dan sejumlah aktivis Islam di kampus begitu serius memelihara “budaya Islami” dalam organisasi kami.

Rapat selalu di masjid, pakai hijab/pembatas, dibuka dengan tilawah, tak ketinggalan taushiyah, bahasa “ane-ente”, tepuk tangan diganti takbir.

Tetapi giliran kerja, performanya medioker. Kedisiplinan buruk. Kreativitas payah. Budaya permisif tinggi. Nilai tambah dari program-program minim. Kalau bikin acara, yang hadir ya orang-orang kita juga.

Tentu dua hal tersebut–budaya organisasi dan performa kerja, sebenarnya tidak perlu tarik-menarik. Yang terbaik adalah yang menjaga budaya organisasi dan produktif mengelola program-program yang berdampak.

Hanya saja, kalau saya pikir-pikir sekarang, saat itu kami salah dalam memahami prioritas.

Kalau kita sebegitu seriusnya menjaga “ritual-ritual” simbolik, mestinya kita juga memberikan porsi keseriusan yang lebih besar untuk hal-hal yang bersifat substantif.

Mestinya, Islam yang kita pahami tidak hanya direalisasikan secara serius untuk urusan manajemen rapat, tetapi juga direfleksikan secara serius melalui dampak dari program-program yang kita kerjakan.

Membaca Qur’an Namun Diperangi Rasul

Saya teringat sebuah hadits, yang redaksi lengkapnya sebagai berikut:

“Akan muncul di akhir masa ini nanti sekelompok orang yang umurnya masih muda-muda dan lemah akalnya. Apa yang mereka ucapkan adalah perkataan manusia yang terbaik. Mereka suka membaca al-Qur’an, akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama seperti halnya anak panah yang melesat dari sasaran bidiknya. Apabila kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka. Karena sesungguhnya dengan terbunuhnya mereka maka orang yang membunuhnya itu akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat kelak.”

(HR. Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim)

Konteks hadits itu, menurut sebagian ‘ulama, membahas tentang kaum khawarij. Tetapi mari kita fokus melihat salah satu perilaku yang digambarkan dalam hadits tersebut.

“Mereka suka membaca Al-Qur’an, akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka”

Bagaimana bisa suatu kaum rajin membaca Al-Qur’an, tetapi diperangi oleh Rasulullah? Bisa, jika mereka membaca Al-Qur’an sebagai sebuah ritual belaka, sebagai sebuah tindakan “simbolik” semata.

Hari Ini

Banyak sekali fenomena kekinian yang bisa kita letakkan dalam kacamata “simbolik - substantif”.

Misalnya, ada saudara-saudara muslim dari sebuah kelompok–lengkap dengan atribut peci dan baju koko putihnya, terlihat cukup sering mengadakan aksi yang keras nuansanya, bahkan terlibat vandalisme–sehingga kelompok ini dilabeli sejumlah media dan sebagian masyarakat sebagai kelompok intoleran.

Ada juga saudara-saudara muslim dari kelompok lainnya, mereka senang mengadakan pengajian bersama habib-habibnya di Ibu Kota. Sayangnya, sebelum dan sesudah pengajian, mereka juga punya “ritual” berkonvoi sepeda motor, dan biasanya terjadi di jam-jam pulang kerja, saat kemacetan sedang memuncak. Rata-rata mereka tidak menggunakan helm. Hanya peci “sakti” yang melindungi kepala, ditambah baju koko atau jaket majelis, juga sarung.

Saudara-saudara muslim dari kelompok yang lain konsisten menggemakan “tegakkan syariat Islam, tegakkan khilafah”, namun tidak mau ambil peran saat ada pertarungan politik antara kandidat yang mewakili kepentingan ummat Islam dengan kandidat yang punya masalah dengan ummat Islam.

Khusus yang terakhir ini mungkin perlu saya utarakan lebih jelas maksud saya.

Logika Bodoh Saya tentang Khilafah

Khilafah adalah nama dari sebuah sistem yang tidak memiliki referensi baku, sebab Al-Quran maupun hadits tidak menjelaskan detail-detailnya, seperti mekanisme pemilihan khalifah atau struktur pemerintahannya–misalnya (mohon koreksi dan beritahu saya jika saya salah).

Jika demikian, maka manusialah yang berijtihad merumuskan sistem kekhilafahan (maka argumen “demokrasi = sistem buatan manusia = sistem thaghut” kurang baik, sebab khilafah pun dirumuskan detail sistemnya oleh manusia, meskipun secara prinsip dibangun dalam koridor Islam).

Bayangkan, khilafah berdiri sejak zaman Abu Bakar menjadi khalifah pertama di tahun 632 M, hingga kekhalifahan Turki Utsmani runtuh pada tahun 1924 M. 13 abad jaraknya!

Dalam waktu yang sangat lama itu, kompleksitas masalah yang ditangani dari waktu ke waktu pasti  mengalami perkembangan yang luar biasa, yang menuntut penyesuaian dan perubahan pada sistem kekhilafahan.

NKRI yang usianya baru 0,72 abad saja sudah mengalami sekian banyak penyesuaian dan perubahan dalam tata kelola negara.

Artinya, sekali lagi, pasti ada ijtihad manusia di dalamnya untuk menghadirkan suatu sistem yang bisa kompatibel dengan realitas yang dinamis, sambil tetap melandaskan diri pada sumber-sumber hukum Islam. Nah, inilah kurang lebih “substansi” dari kekhilafahan, tanpa bermaksud oversimplifikasi.

Sementara itu, struktur pemerintahan, bahkan istilah “khilafah” itu sendiri, adalah metode dan “simbol”-nya, yang menurut saya mestinya bersifat fleksibel dan adaptif.

Saya bukan pembela dan pecinta demokrasi. Demokrasi punya kelemahan, disamping punya kelebihan, seperti halnya semua bentuk pemerintahan–termasuk kekhilafahan.

Namun jika ternyata hari ini bentuk pemerintahan yang paling kompatibel dengan realitas adalah demokrasi (hadirnya transparansi, adanya check and balance, disepakati masyarakat secara masif, dll), maka yang lebih produktif menurut saya adalah membuat kepentingan-kepentingan ummat Islam terakomodasi di dalamnya (ini termasuk menyelaraskan hukum Islam dengan hukum negara).

Penutup

Tulisan bodoh ini lahir secara spontan karena dinamika yang terjadi belakangan: ummat Islam seperti sedang dipojokkan. Dilabelisasi. Distigmatisasi. Diseret citranya sedemikian rupa, di rumah kita sendiri.

Ini sangat menyedihkan dan membuat saya geram, namun alih-alih “menyatakan perang”, saya rasa kita perlu mencurigai diri kita sendiri terlebih dahulu. Jangan-jangan, kita yang memulai?

Kita gemar memamerkan simbol-simbol Islam, namun seolah tak pernah diajarkan ajaran-ajaran inti Islam. Kita lantang mengatakan “Saya bersama Islam”, namun malah membuat citra Islam tenggelam bersama buruknya akhlak kita.

Bagi saya pribadi, ini adalah lonceng untuk bekerja, membuktikan bahwa Islam dan ummat Islam bukanlah the bad guy.

Ini adalah babak untuk kita bekerja dengan cara yang keren dan cakep, berfokus untuk membumikan substansi Islam dan menempatkan simbolisme Islam sesuai porsinya masing-masing.

Sehingga, suatu hari kita tidak perlu berdebat dengan orang-orang demi meyakinkan mereka bahwa Islam adalah yang terbaik, karena mereka akan mengambil kesimpulan itu dengan sendirinya setelah mereka melihat-mendengar-merasakan Islam dari realitas yang mereka alami.


PS: Saya meminta maaf kepada siapapun yang merasa tersinggung dengan kata-kata saya, dan saya memohon ampun kepada Allah atas hal itu. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan siapapun, apalagi perasaan saudara sesama muslim. Mohon dibukakan pintu maaf dan ingatkan saya jika ada hal yang tidak pada tempatnya.

Cerita Syok

Setubuh Hangat Dengan Ayah

Namaku Ana.. Pertama kali aku berhubungan seks adalah tak lain dan tak bukan bersama ayah kandungku sendiri. Ceritanya begini. Saat itu umurku baru 14 tahun.. Ibuku telah meninggalkan kami sejak aku kecil lagi untuk mencari kehidupan mewah bersama lelaki lain. Ayahku pula seorang peniaga alat sukan. Aku seorang anak tunggal. Ketika umurku 14 tahun aku menpunyai tubuh seperti perempuan dalam lingkungan umur 20an. Aku mempunyai dada yang mampat. Saiz coliku pada waktu itu adalah 38C. Pinggangku masih dalam 24inch dan punggungku saiz 36. Sepanjng hidup kecilku sentiasa dengan ayah. segala permintaanku, dia akan cuba turuti memandangkan aku adalah anaknya seorang dan disayangiku bagai menatang minyak yang penuh. Saat umurku 12 tahun ayah pernah cuba berdating dengan perempuan lain tapi tak ada jodoh… ada mak janda, ada mak dara… sampai tiba masanya dia kata padaku; ‘Ana… Ana tak rasa sunyi ke tak ada Ibu atau adik beradik?'tanya Ayah 'Tak pun.. Ana happy camnie.. Kenapa Ayah taknak kahwin ngan orang lain? tanyaku balik 'Entahlah.. barangkali tak ada perempuan yang boleh ganti ibu kamu… Ayah pun lebih ok camnie.. Ada anak dara satu pon dah pening kepala..’ seloroh Ayah. Ayahku orangnya tinggi lampai dan mempunyai badan yang tegap.. maklumlah bekas seorang bodybuilder tempatan saat mudanya. Kini dia masih menjaga badannya dengan baik sebab dia menpunyai alat gym yang lengkap di rumah. Segala tentang dirinya masih lagi kelihatan muda. Setakat rambut putih kelihat sedikit. Dia mempunyai senyuman yang cukup menawan. Teman2 sekolahku pun pernah menyatakan bahawa Ayahku handsome orangnye.. Kadang aku juga berasa megah menpunyai ayah seperti Ayahku.. Sebelum hari lahirku yang ke 16, Ayah bertanya apa aku inginkan untuk hadiah.. Aku hanya meminta Ayah mengajak aku bercuti di Langkawi and seutas beg LV kerana kebetulan hari lahirku jatuh pada cuti sekolah. Ayah menyatakan semuanaya sudahpun diatur seperti yang ku mahu.. Sejak aku baligh, aku sentiasa ada teringin tahu apakah rasanya seorang berhubungan seks.. Adakah seperti buku novel romance yang aku baca di khutubkhanah? Aku sering bermimpi membayang diriku sedang hangat bersetubuh bersama lelaki yang tak ku kenali… Aku sering terasa basah seluar dalamku pada esok pagi kerana mimpiku. Tak pernahpun aku meceritakan tentang mimpiku itu pada Ayah. Pada hari lahirku kami berdua beranak tiba di Casa Del Mar.. Sangat romantis dan cantik hotel itu..Seperti yang aku bayangkan. Kami tiba di waktu senja dan just in time for makan malam. Aku dihadiahi beg idamanku dan juga kek hari jadiku yang indah.. Aku berasa sangat gembira.Di saat itu aku memakai baju off shoulder hitam yang pendek yang kelihatan seksi dibeli sebelum hari lahirku. Setelah makan malam aku dan ayah berjalan di taman open air itu sambil berbual 'Ana.. happy tak hari ni? 'Happy ayah… rasa macam puteri kayangan’ kataku ’ Ana, you have always been my princess.. Ana istimewa pada diri ayah’ kata ayahku sambil memelukku. Di saat pelukkan Ayah; aku mula dadaku berdegup dengan kuat..Seperti kejutan elektik.. Aku tak tahu mengapa. Ayah terus mencium pipiku.. Aku rasa terpegun.. Ciuman itu bukan seperti ciuman saat kecilku tapi ciuman seperti seorang lelaki dan perempuan.. Aku hanya tersenyum tapi hatiku seperti inginkan sesuatu. 'Ayahh.. ana rasa ngantuk nak tidur la ayah.. 'Mari kita pulang ke bilik masing2’ kata Ayahku Bilikku dan Ayahku adalah adjoining suite. maksudnya ada pintu antara dua bilik. Aku masuk ke bilikku laku mula membuka baju dan berbogel untuk mandi..Saat aku mula membuka shower, tiba2 aku terasa tangan memegangku.. aku berpaling dan alagkah terkejutnya apabila Ayah yang berseluar pendek datang memelukku lagi… Kali ini perasaanku tidak boleh terbendung lagi… Ayah mula mencium leherku… Aaahhh. sensitifnya tempat itu… 'Ayah… kenapa kita rasa begini…’ aku berdesah 'Ayah sendiri tidak tahu… Ana terlalu cantik seperti ibumu..Maafkan Ayah tapi Ayah tidak boleh terbendung perasaan Ayah terhadap Ana.. kata Ayahku sambil memeluk mendakap dan mencium pipiku..Tangannya mula rasa liang tubuhku yang basah.. Ayah… Ana tak tahan.. dengan ciuman Ayah nie.. Ana… Ayah sayangkan Ana.. 'Ana juga Ayah.. Ayah tak sanggup… Ana anak Ayah.. tapi… Tapi apa Ayah..?? ’ aku mengeluh… Ayah terus mendukungku lagi membaringkanku atas katilku.. Dia terus mencium mulutku bertubi- tubi… hairannya aku turut menciuminya.. Tanganya meraba buah dadaku yang montok ini.. Ayah…. I think I am in love with you Ayah!!! Ana love Ayah.. I want to be your lover Ayah… Sambil mengisap buah dadaku; ayah berkata.. Are you sure Ana??? Apa yang Ayah lakukan, there is no turning back.. Ana sanggup ayah… Ana nakkan Ayah!! Aku terus merangkul Ayah lalu menjilat lehernya.. Ayah terus membuka seluar pendeknya… Alangkan terkejutnya aku melihat senjata Ayahaku… untuk pertama kalinya.. Ana… Ana takkan menyesal.. Ayah akan bahagiakan Ana.. Ayah takkan tinggalkankan Ana.. “Kau sungguh cantik. Kini kau sudah dewasa. Tubuhmu indah dan jauh lebih berisi.., mmpphh..”, katanya sambil menciumi bibirku, mencoba membuka bibirku dengan lidahnya. Aku seakan terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya begitu menggairahkanku. Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku semakin melambung tinggi mendengar semua kekagumannya terhadap tubuhku. Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah dan kini jauh lebih berisi. Payudaraku yang membusung penuh dan menggantung indah di dada. Permukaan perut yang rata, pinggul yang membulat padat berisi menyambung dengan buah pantatku yang ‘jack’. Diwajah ayah kulihat memperlihatkan ekspresi kekaguman yang tak terhingga saat matanya menatap nanar ke arah lembah bukit di sekitar selangkanganku yang dipenuhi bulu-bulu hitam lebat, kontras dengan warna kultiku yang putih mulus. Kurasakan tangannya mengelus paha bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakiku yang tadinya merapat. Ayah… show me your love please… Ayah menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. Kurasakan koneknya ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. Cairan yang masih tersisa di sekitar itu membuat gesekannya semakin lancar karena licin. Aku terengah-engah merasakannya. Kelihatannya dia sengaja melakukan itu. Apalagi saat moncong koneknya itu menggesek-gesek kelentitku yang sudah menegang. Ayah menatap tajam melihat reaksiku. Aku balas menatap seolah memintanya untuk segera memasuki diriku secepatnya. Tiba2 aku macam sudah rasa mcm seorang professional sedang ini kali pertama… Ayah serperti tahu apa yang kurasakan saat itu. Namun kelihatannya ia ingin melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui memang aku sudah tak tahan untuk segera menikmati batang koneknya dalam pukiku. Aku ingin segera membuatnya ‘KO’. Terus terang aku sangat kagum dengan keperkasaannya. Kuingin buktikan bahwa aku sanggup membuatnya cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan. Ayah…. cepat… 'Cepat apa sayang?…. Cepatlah…. Ana nak ayah buat apa? CEPAT MASUKKAN KONEK AYAM DALAM PUKI ANA!!!!! Aku macam tak percaya dengan kata2ku itu.. Baiklah sayang. Tapi pelan-pelan ya// inikan kali pertama Ana, kata ayahku dengan penuh kemenangan telah berhasil menaklukan diriku. Aku menunggu cukup lama gerakan konek ayah memasuki diriku. Serasa tak sampai-sampai. Selain besar, konek ayah cukup panjang juga. Aku sampai menahan nafas saat batangnya terasa mampat di dalam. Rasanya sampai ke ulu hati. Aku baru bernafas lega ketika seluruh batangnya amblas di dalam. Ayah mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan. Satu, dua dan tiga tusukan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam liang memekku membuat konek ayah keluar masuk dengan ketatnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama tusukannya. Sakit mula terasa.. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Ayah tahu apa yang kuinginkan. Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat ke sasaran. Aku bagaikan berada di surga merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Batang ayahku mengisi penuh seluruh isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan batang itu sangat terasa pedih di seluruh dinding vaginaku. “Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..”, aku meintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian ayahku di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah apalagi sebutan yang pantas kuberikan padanya. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya meski kusadari perbuatan ini sangat terlarang dan akan mengakibatkan permasalahan besar nantinya. Tetapi saat itu aku sudah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami. Sedap tak terhingga… Ayah sedapnya rasa konek ayahhh…. Hentaklah kuat2! Ayah bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitive. Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mencecah pertahananku. Sementara ayah dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras terdengar seiring dengan gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncaknya. Melihat reaksiku, ayah mempercepat gerakannya. Batang konek yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya. Kulihat tubuh ayah sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Tubuhku yang berkeringat nampak mengkilat terkena sinar lampu kamar. Aku mencuba meraih tubuh ayah untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritikal, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara keduan tanganku menggapai buah pantatnya dan menekannya kuat-kuat. Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya saat itu. “Ayah.., oohh.., Yaahh..”, hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. “Sayang nikmatilah semua ini. Ayah ingin kamu dapat merasakan kepuasan yang belum pernah kamu alami”, bisik ayah dengan mesranya. “Ayah sayang padamu, ayah cinta padamu. Ayah ingin melepaskan kerinduan yang tersimpan selama ini..”, lanjutnya tak henti-henti membisikan untaian kata-kata indah yang terdengar begitu romantik. Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya dari lelaki yang bukan semestinya kusayangi. Mengapa keindahan ini kualami bersama ayahku sendiri? Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil membangkitkan tenunganku kembali gairahku. Aku masih gian dengannya. Sampai saat ini ayah belum juga mencapai puncaknya. Aku seperti mempunyai utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan seperti apa yang telah dia berikan kepadaku. Aku sadar kenapa diriku menjadi ghairah untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Timbulnya pikiran ini membuatku semakin bergairah. Apalagi sejak tadi ayah terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku jadi beringas. Kudorong tubuh ayah hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya. Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya. Kulirik ayah kelihatannya menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuh ayah. Selangkanganku berada persis di atas batangnya. “Akh sayang!” pekik ayahku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang pukiku. Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda liar yang sedang birahi. Aku tak ubahnya seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada pelanggan. Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya gelek bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan khusus kupersembahkan kepada ayahku sendiri! Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan ayah mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dicubit2. Ayah lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski hotel menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lekat satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku. Ayah menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Ayahhhh….. hentakkan lagi…. Sedappppppp…. Ooohhh Anaaaa….. Katil dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan ayah mulai memperlihatkan tanda-tanda. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini. Tak selang beberapa detik kemudian, akupun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini. Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeria. Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Upayaku ternyata tidak percuma. Kurasakan tubuh ayah mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina liar yang sedang birahi. “Eerrgghh.. oouugghh..!” ayah berteriak panjang, tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku. Pancutan begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan bersenggama dengan ayahku. Tubuh kami bergulingan di atas katil sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari katil Untunglah katil itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terluka… Nikmatnya tak terkata…. Selama tiga hari kami di hotel… kami bersetubuh tanpa henti seperti pasangan yang berbulan madu.. Hingga sekarang aku masih bersetubuh dengan ayahku… .. Kami sudah berpindah ke laur negara agar boleh hidup sebagai sepasang suami isteri… Kami kahwin secara sivil.. Belum lagi dikurniai anak.. Aku tidak menyesal atas perbuatan kami… malah aku recommend it.. Sayng ayah tak sama seperti jejaka mcm mat rempit etc… Konek ayah sangat fantastik… Bye… Ayah sudah panggil untuk bersetubuh lagi..

Melihat Sisi Lain Islam di Inggris 2

Teeeeet….

Begitu mengkal, gondok, kesal. Ternyata diklakson itu tidak enak. Bahkan walaupun bukan aku tujuan sang penekan tombol klakson, tetap hatiku rasa kesal. Apa pasal?

Ternyata sudah setahun lebih aku tidak mendengar suara itu (klakson). Suara itu menjadi asing. Di tanah Ratu Elizabeth, seperti tidak pernah aku mendengarnya. Kok bisa?

Semua pengendara di Inggris saling pengertian. Semua tahu aturan soal siapa yang duluan. Ada etika yang dijalankan soal giliran berbelok jalan. Bahkan saling mempersilakan. Di bundaran bercabang empat, lima, bahkan enam, semua tahu di lajur mana kendaraan harus diposisikan. Semua sabar menunggu giliran.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Klakson menjadi suatu alat ‘komunikasi’ andalan. Menegur siapa yang kurang cekatan. Bahkan memaki yang melanggar aturan.

Katanya orang Indonesia ramah-ramah. Kok di jalan kayak kesetanan?

Ah, aku ingat! Untuk membuat SIM di Indonesia, sedikit yang mau pakai jalur yang susah. Banyak yang bayar lebih sehingga semua urusan jadi mudah. Patut saja banyak pelanggar aturan. Banyak yang tidak mengerti etika dan adab di perjalanan.

Belum lagi kehidupan yang keras di dunia ketiga. Kredit kendaraan bermotor dipermudah, pajak kendaraan juga murah, bahan bakar minyak disubsidi negara, alhasil semua orang mau dan harus bersempit-sempit di jalan raya. Sampai lupa bahwa setiap warga berhak menuntut pelayanan transportasi publik yang efektif dan memadai.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita dapat dari keteraturan di jalanan Inggris: 1) Aturan dibuat untuk mengatur dan memanusiakan manusia, 2) semua orang punya urusan yang sama penting, maka setiap orang harus tahu etika, 3) bila etika sudah jadi kebiasaan, maka akan timbul sifat itsar (mendahulukan kepentingan orang lain).

Dan tahukah kamu? Itsar adalah sifat yang dimiliki para shahabat Rasulullah SAW radhiallahu'anhum. Mereka muliakan saudara seimannya karena sudah sepatutnya mukmin itu dimuliakan. Mereka memberi dan menyayangi karena mereka sadar bahwa mereka khalifah (perwakilan) Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Hmmm, para muslimin di Tanah Air perlu sedikit belajar pada orang Inggris.

Kita Kepada Kata

Apakah engkau menemukan dan merasakan bahwa tulisan-tulisanku terlalu menyeretmu kepada satu titik yang tak jelas ujung pangkalnya?

Coba diam perlahan, dengarkan isi hatimu yang paling dalam, meski lirih, namun masih terdengar sebagai bunyi.

Lalu, rasakan bunyi-bunyi itu, bukankah engkau memang sedang berada di antara barisan tulisanku?

Ada yang terbuntu oleh rindu, ada yang terseok-seok akan luka masa lalu, juga ada yang senyum-senyum bahagia, karena semua yang didengarnya taklain adalah Cinta.

Sesungguhnya, aku, engkau, dan kita semua sedang berada pada situasi bersitegang terhadap kata.

Sebab, kata adalah alat yang paling ampuh untuk menghadapi keadaan masa lalu, kini, bahkan masa yang akan nanti.

__________
Serang, 16 Februari 2017
Menulislah dari sebuah kata, barangkali saja melankoli cinta dengan segala embel-bembelnya memang berawal dari sebuah kata.