alam indah

Negeri Dongeng

Lorong bawah tanah itu tampak gelap, semakin masuk kedalam kita akan menemukan pemandangan tak terduga. Kau tahu, ini seperti surga yang sering dibicarakan mahluk tinggi besar dan berakal dan suka merusak alam itu…

“Siapa? Manusia, bukan?”

“Memang siapa lagi ciptaan Tuhan yang paling sempurna selain golongan mereka?”

“Aku mulai lelah nih, berapa kilometer lagi kita harus berlari? Tidak bisakah jalan biasa saja?”

Tak ada jawaban.

Rekan bicaranya malah mempercepat langkahnya, “Ayo!, katanya”.

Niat mereka berdua adalah mencari tempat perlindungan dan membawa golongan mereka pindah dari tempat tinggal yang sekarang. Kelakuan manusia yang katanya mahluk paling sempurna dan berakal sudah keterlaluan, tak tahan bangsa kami dibuatnya. Setiap hari pasti akan memakan korban, kerusakan dimana-mana, alam yang indah kini sudah jauh berubah.

Pohon yang rindang dan lahan hijau yang dulu kami pelihara, kini berubah jadi beton, besi, granit dan marmer. Udara yang dulu segar, dihiasinya dengan gas-gas mematikan. Bahan kimia disemprotkan semaunya, tanpa memikirkan resiko.

Lorong pengap dan panjang itu akhirnya berhasil mereka lewati dan sampailah pada muaranya.

Lagi-lagi untuk yang kedua kalinya, ia terdiam. Takjub melihat apa yang ada dihadapannya.


“Hahaha, sudah kukira… Semua hewan yang pertama datang kesini pasti menampilkan wajah yang sama. Kayak kamu itu loh”, ia terus terkekeh.

“Ini ngeri, kok bisa ada surga dibawah tanah? Siapa yang buatnya? Sejak kapan tempat ini ada? Teruuussss…”

“Tahan dulu semua pertanyan mu, ayo kita menghadap Penguasa tempat ini…”

Mereka tiba di sebuah pintu besar berlapis emas, tampak dua ekor kuda tegap berdiri, memakai seragam kerajaan, menggenggam tongkat, lengkap bersenjata. Ia pun mempersilahkan kami masuk, “Silahkan lewat sebelah sini, baginda tuan raja sudah menunggu anda berdua di peraduannya”.

“Te…terima…terima kasih…”, jawab kami tergagap.

Sekeliling tampak seperti jalan penuh dengan segala pemandangan yang indah, menyejukan mata dan menentramkan hati.

Ada pohon berdaun lembaran uang, bertangkai kemilau emas, berbuah kerlap-kerlip permata dan mutiara.

Di kanan ada rumah-rumah dengan dinding berlapis candy warna-warni berbagai rasa, pagarnya serupa lolypop, kolam renang susu dan madu, hingga rumput halaman yang hijau layaknya olesan cream pandan.

Dia menatap ke arah kiri, masih dengan keheranan yang sama. Ada taman beralaskan rumput berbagai warna, di sekeliling nya ada pelangi memancar menutupi setiap sudut tepi. Wahana bermain anak kaya variasi, kelinci berbaju badut tak bosan menghibur pengunjung yang terus berdatangan.

Setelah berjalan beberapa kilometer, mereka mendapati ada seekor kancil berjubah merah merona, kepalanya ada mahkota wajahnya memancar cahaya kewibawaan. Seketika mereka langsung bersujud membungkukan badan, “Salam hormat dengan segala kerendahan hati, wahai baginda tuan raja yang wibawa…”

Kancil langsung menjawab, “Jangan lah kalian membungkuk seperti itu, aku ini bukanlah tuan maha raja. Aku ini hanyalah pelayan, pelayan, dari pelayannya tuan baginda. Silahkan kalian lewat sebelah sini untuk menemui tuan baginda raja di peraduannya…” Giliran sang kancil yang kali ini membungkukan badannya.

Dua hewan itupun kaget, sambil melangkah meneruskan perjalanan, salahsatu dari keduanya berbisik,

“Lha pelayan nya aja kayak gitu, gimana penampilan tuan baginda raja tempat ini?”

“Udaaaaah, ayo kita teruskan perjalanan”, temannya menimpali.

Perjalanan menuju peraduan raja masih panjang, dari satu gerbang pintu ke gerbang pintu yang berikutnya berjarak 5 kilometer. Mereka baru melewati pintu pertama, pasti di pintu berikutnya akan tampak peraduan sang banginda raja.

Semakin meneruskan perjalanan, mata keduanya semakin takjub dengan pemandangan di sekelilingnya. Hingga jarak 5 kilometer tak terasa saking luar biasanya tempat ini, lebih tepatnya istana ini. Serasa surga berwujud di dunia.

Di pintu gerbang kedua, ada empat ekor jerapah tinggi loreng totol cokelat. Mereka memakai baju besi serupa seragam perang, jerapah paling depan menghampiri kami dan berujar, “Silahkan lewat sebelah sini, baginda tuan raja sudah menunggu anda berdua di peraduannya”.

Dua hewan itu berjalan menyusuri lorong dan akhirnya mendapati pemandangan gunung dan gurun sekaligus. Pohon pinus dan jati tinggi berderap di sepanjang jalan, beberapa tenda kemping terpampang saling berjauhan satu sama lain, ada api unggun, peralatan masak dan ayunan yang tergantel diantara dua anak pohon. Nampak keluarga ayam dan burung sedang berkumpul, senyum bahagia terwujud nyata, anak-anak ayam saling bermain dan mecoba meniru anak burung yang asik menggoda terbang di udara.

Tekstur tanah di arah yang berlainan, di dominasi dengan pasir yang panas. Savana dan Sahara ala-ala benua Afrika, kaktus yang jarang-jarang itu terlihat lesu diterpa panas matahari yang menyengat. Ada beberapa fatamorgana yang tampak bias, sambil mengusap-usap mata mencoba menerka-nerka, dua hewan itu semakin dan semakin penasaran bagaimana wujud peraduan sang maha raja.

“Sebentar, itulah peraduan sang maha raja, aku melihatnya. Ayo…!”, sambil menarik lengan si hewan yang satunya.

Ada seekor elang diatas sebuah pohon dengan akar yang menguham ke tanah, tangga menuju sarang yang mewah berbahan dasar beton dan granit marmer. Elang itu menyambut kami berdua dengan mengepakan kedua sayapnya yang menawan. Moncong nya yang meliuk gagah, semakin yakin bahwa inilah sang maha raja si empunya tempat berupa surga ini.

Tak ubahnya saat menemui sang kancil, mereka berdua akhirnya membungkukan badan dan berujar, “Salam hormat dengan segala kerendahan hati, wahai baginda tuan raja dengan sayap indah dan menawan…”

Elang berkilah, “Jangan lah kalian membungkuk seperti itu, aku ini bukanlah tuan maha raja. Aku ini hanyalah pelayan, dari pelayannya tuan baginda. Silahkan kalian lewat sebelah sini untuk menemui tuan baginda raja di peraduannya…” Elang yang kali ini membungkukan badannya.

Kesekian kalinya dua hewan itu kaget, sambil melangkah meneruskan perjalanan.

“Ga ngerti sama semua ini, aku semakin penasaran ingin bertemu dengan sang baginda raja?”

“Udaaaaah, ayo kita teruskan perjalanan”, temannya menimpali.

Dibalik kekecewaan mereka berdua, tampak semakin penasaran diraut mukanya untuk bertemu sang penguasa. Menurut Elang, kalian tinggal berjalan terus mengikuti arah yang tertera di setiap tikungan badan jalan. Selanjutnya tentukan pilihan-pilihan berdasar nurani saja.

Pintu gerbang ketiga, ada kerumunan singa mengaum lantang. Mereka berbaris tegap, suara garang dari salahsatu mereka menyusul selanjutnya, “Silahkan lewat sebelah sini, baginda tuan raja sudah menunggu anda berdua di peraduannya”.

Laut dan sungai kini ada di sekeliling keduanya, air dengan kadar garam yang berbeda itu bisa menyatu. Ada batas garis lurus mempertemukan birunya air laut dengan keruhnya air sungai. Pasir putih dan ombak mendesir menyapu pesisir pantai. Ada kapal-kapal besar berlayar samar-samar dari kejauhan, masing-masing menancapkan bendera berlainan di muka kapal.

Ada pula kolam-kolam buatan berisi macam-macam air dengan varian rasa. Ada kolam madu, kolam susu, kolam sirup, kolam soda, kolam cream hingga kopi. Semuanya padat pengunjung, lagi-lagi senyum bahagia menjadi andalan mereka.

“Aku iri dengan kebahagiaan mereka disini, pasti tuan baginda raja sangat di hormati dan di sayangi rakyatnya. Tak sabar ingin segera bertemu, ayo bergegas…”.

Beberapa meter didepan mereka terdapat singgasana diatas air laut yang biru menawan, seekor lumba-lumba ramah tersenyum. Kulit abu-abu langsatnya mengkilap, membuat silau lawan bicaranya. Dua hewan itu kembali membungkuk untuk yang ketiga kalinya.

“Salam hormat dengan segala kerendahan hati, wahai baginda tuan raja berwajah ramah dan kulit yang menawan…”

Lumba-lumba itu kembali tersenyum simpul, lalu merespon dengan serius, “Jangan lah kalian membungkuk seperti itu, aku ini bukanlah tuan maha raja. Aku ini hanyalah pelayannya tuan baginda. Silahkan kalian lewat sebelah sini untuk menemui tuan baginda raja di peraduannya…”, jawab lumba-lumba.

“Disana, digubuk reot itu, tuan baginda raja menetap di peraduannya”. Lumba-lumba menunjuk ke arah kanan sambil membungkukan badan.

Dengan wajah keheranan, dua hewan itu berjalan perlahan menuju gubuk reot kecil dan sederhana sekali. Sepetak ruangan, disanakah sang penguasa istana ini tinggal? Apa tidak salah? Kenapa peraduan baginda berbanding terbalik sedangkan pelayan-pelayan nya yang lain hidup mewah bertabur harta? Semakin banyak pertanyaan yang timbul dibenak keduanya.

Sampai dipintu gubuk itu keduanya saling pandang satu sama lain, memberi kode, “Kamu dulu yang jalan duluan, sana bukain pintunya…”,

Tiba-tiba…

“Kalian berdua hendak mencari siapa?”

Terdengar suara menyapa mereka berdua, “Kami ingin bertemu dengan baginda tuan maha raja, kabarnya beliau ada ditempat ini”.

“Kalian terlalu berlebihan, para pelayan dan rakyat ku selalu melebih-lebihkan soalan nama dan gelar. Mari masuk kedalam dulu…”

Masih dalam rona kebingungan, dua hewan yang merupakan tamu di istana itu pun mengikuti dari belakang.

“Yang kalian cari, itulah aku. Baginda tuan maha raja, itulah aku…”

Seketika kedua hewan itupun merubah posisi duduknya, menjadi membungkuk.

“Salam hormat dengan segala kerendahan hati, wahai baginda tuan maha raja…”

“Perkenalkan kami berdua ini adalah golongan yang hendak mencari perlindungan, di negeri tempat kami tinggal tengah terjadi perang yang tak berkesudahan. Kiranya di negeri ini, di istana ini, kami beserta golongan kami bisa tinggal dan dilindungi atas jaminan nama baginda tuan maha raja…”

Baginda Tuan Maha Raja yang berwujud seekor Zebra kemudian mendekati sebuah jendela, menatap jauh ke seluruh penjuru istana. Kekuasaan yang saat ini ia dapatkan, rakyat yang bahagia, aman dan tentram, merupakan buah dari perjuangan masa lalunya.

“Kalian berdua silahkan datang kesini, bawa golongan kalian. Menetaplah disini sementara waktu, aku pun pernah merasakan ada diposisi kalian. Duluuu, kami pun sama, berteman baik dengan golongan manusia. Berbaur dan bertetangga, berhubungan baik hingga saling membantu dalam setiap urusannya. Kami jadi tunggangan mereka, peliharaan mereka, sampai alat penghasil uang bagi mereka. Hingga sampai pada masanya, rakus ditambah ego yang tinggi merubah sifat-sifat humanis mereka. Boleh kukatakan, sifat mereka lebih-lebih dari sifat binatang seperti kita…”

Dua tikus mungil kecil yang menjadi tamu istana, tertunduk merenungi bangsa mereka yang terus berkurang populasinya akibat ulang tangan mereka.

“Kami disini, saat ini hidup tenang dan damai. Padahal dulu kami pernah menjadi hewan-hewan peliharaan mereka yang ditelantarkan. Hingga akhirnya kami lari, terus mencari tempat yang nyaman untuk tinggal dan bersatu dengan semua jenis hewan. Sampai akhirnya, hingga saat ini kami hidup tenang dan nyaman”.

Tikus mungil yang sedari tadi tertunduk kemudian mengajukan pertanyaan, “Lantas kenapa bagianda tuan maha raja malah tinggal di peraduan yang sederhana ini, semantara pelayan dan rakyat yang lainnya bermewah-mewahan?”

Zebra itu tersenyum, “Bagiku, inilah kemewahan yang hakiki. Dengan tinggal diperaduan yang sederhana, membuat ku lebih nyaman dan tenang. Aku bisa keiling memeriksa semua rakyat dan pelayan ku dengan leluasa, tak segalanya bisa diselesaikan dengan harta dan uang. Diperaduan ini, aku mendapatkan ketenangan yang beda”.

“Pantas saja pelayan dan rakyat disini sangat bahagia, penguasa nya pun sederhana dan ramah sekali. Apalagi selain pasti dicintai oleh rakyatnya…


Bandung, 25 Maret 2017 | dindinbahtiar | Tebar Manfaat Lewat Aksara | Negeri Dongeng

Semua alam akan terlihat lebih indah, selama kita tahu dari sudut mana kamera mengambil gambarnya.
Setiap wanita akan terlihat lebih indah, selama pria tahu dari sudut mana mereka mampu membanggakannya.