al dunia

The Inner Power of Isra Miraj

@edgarhamas

“Ada sesuatu yang mesti kita pahami dari setiap peringatan hari besar Islam”, tutur seorang guru suatu hari dalam kultumnya, “bahwa yang terpenting dari itu semua adalah interaksi kita dengan nilai, bukan interaksi kita dengan apa-apa yang menghias nilai.” Sebagai contoh, setiap hadir peringatan Nuzulul Qur’an di pertengahan Ramadhan, kita diberi banyak sekali ruang bicara untuk membahas keajaiban-keajaiban Al Quran, namun di saat yang sama, kita tidak punya waktu khusus untuk membahas sejauh apa interaksi kita dengan Al Quran.

“Kita terlalu sibuk berinteraksi seputar Al Quran”, lanjut beliau, “namun lupa untuk berinteraksi bersama Al Quran.”

Dan itu sesuatu yang jelas berbeda. Kesalahan yang sama terjadi pada cara kita memperingati Isra Miraj, sebuah momentum kolosal yang tidak pernah terjadi kecuali sekali di muka bumi ini, satu perjalanan menembus ruang dan waktu yang dianugerahkan Allah pada Nabi Muhammad ﷺ, di detik-detik kesedihan sepeninggal Khadijah dan Abu Thalib, sedatangnya beliau dari hina dan cercaan masyarakat Thaif.

Kita kemudian, terlalu takjub dengan pertanyaan-pertanyaan template yang bisajadi kita bahas setiap tahun, seperti apa itu Sidratul Muntaha, apa itu Buraq, dimana Buraq ditambatkan, dan lain sebagainya. Memang bukan sebuah kesalahan, namun sebagiamana dipesankan Sayyid Quthb, jika memang Al Quran tidak menyebut nama, tak usahlah dicari. Jika memang Al Quran tidak menyebut ruang, tak perlu penat menelisik, sebab segala yang diutarakan Al Quran, itulah pelajaran intinya.

Logikanya, apa yang Allah inginkan dari kita ketika dibentangkan sebuah mukjizat bernama Isra Miraj, tentunya akan lebih dari sekedar perjalanan ke langit, akan lebih dari sekedar pengabadian dalam Al Quran untuk dijadikan nama surat. Lebih dari itu, Allah menginginkan kita untuk membaca hikmah besar dari ruang dan waktu ketika peristiwa itu terjadi, kondisi Rasulullah dan keadaan hatinya ﷺ, lalu menyusunnya kembali sebagai bekal bagi kita untuk menghadapi hari ini.

Pertama, peristiwa ini memahamkan kita bahwa Nabi Muhammad adalah manusia biasa, yang bisa sedih, bisa bahagia, mampu menangis, dan jua sanggup tersenyum. Isra Miraj adalah bentuk nyata Kemahatahuan Allah tentang hati anak-anak Adam.

Ketika manusia-manusia lalim yang mengklaim dirinya sebagai maharaja tak tahu menahu tentang urusan hati rakyatnya, acuh pada keadaan jiwa masayarakatnya, Allah Sang Maharaja menghibur Nabi Muhammad dengan perjalanan megah. Jika Allah berkehendak,  Dia bisa saja terus memberi beban-beban berat pada Nabi Muhammad tanpa peduli dengan keadaan jiwanya. Namun Allah Mahatahu sisi psikologis manusia, maka setelah kehilangan Khadijah dan Abu Thalib, setelah diusir dari Kota Thaif, Dia beri pertunjukan yang tiada duanya bagi kekasih-Nya. Agar kuat hatinya, kokoh lagi jiwanya, dan bening lagi cara pandangnya.

“Isra Miraj adalah hadiah dan hiburan bagi Rasulullah”, tutur Syaikh Yusuf Qardhawi dalam salah satu khutbah Jumatnya, “sebagai penguatan setelah beliau ditimpa musibah, seakan Allah ingin memberi tahu, ‘Wahai Muhammad, walaupun penduduk bumi memusuhimu, tenanglah, penduduk langit menyambutmu dengan hangat, walau mereka menentangmu, teguhlah, Allah disini membersamaimu, para Nabi juga mengiringi langkahmu.’”

Kedua, momentum ini berfungsi sebagai hard power yang menjadi tool bagi Nabi Muhammad, untuk memberi pelajaran pada bangsa Quraisy; bahwa ada kekuatan Mahadashyat yang jauh lebih hebat dari kekuasaan mereka.

Orang-orang Quraisy memiliki kebiasaan berdagang ke Syam yang menghabiskan waktu perjalanan berangkat selama sebulan, dan pulang selama sebulan. Sedangkan beliau ﷺ melakukannya hanya dalam waktu sepertiga malam saja. Lebih-lebih lagi, ketika beliau ditanya tentang deskripsi Masjidil Aqsha –seperti berapa tiangnya, bagaimana bentuk pintunya, keadaan pelatarannya- beliau bisa menjawab dengan detail dan memuaskan, sedangkan mereka semua tahu bahwa Muhammad belum pernah ke Al Quds sebelumnya.

Di saat yang sama, ini juga menjadi ujian seleksi juga bagi orang beriman, karena momentum ini terjadi di luar nalar manusia biasa, dan hanya mereka yang meyakini kekuasaaan di atas kekuasaan manusialah yang akan mengamininya.

Ketiga, DR Yusuf Qardhawi memilih judul yang tepat untuk yang satu ini, yakni “sebuah estafeta kepemimpinan yang baru.”

Salah satu alasan, mengapa Allah memperjalankan Nabi Muhammad dari Makkah ke Al Quds dulu, baru ke langit, adalah karena Al Quds menjadi satu latar utama ‘serah terima kepemimpinan umat manusia’ dari nabi-nabi sebelumnya kepada Nabi Muhammad. Dan serah terima ini, disimboliskan dengan dijadikannya Nabi Muhammad sebagai imam shalat ratusan Nabi dan Rasul di malam agung itu. “Dengan dijadikannya Nabi Muhammad sebagai Imam shalat para nabi”, tutur DR Yusuf Qardhawi, “menjadi isyarat bahwa kepemimpinan umat manusia telah berpindah kepada umat yang baru dan Nabi yang baru ﷺ, kenabian yang sifatnya untuk semesta raya, bukan lagi yang terbatas pada satu kaum di ruang dan waktu yang berbeda. Kenabian ini untuk seluruh warna kulit manusia, segenap zaman, dan sampai hari akhir nanti.”

“Itulah mengapa, ketika Dinasti Ummayah memimpin umat Islam”, tutur Syaikh Ali Muqbil, Ketua Dewan Ulama Palestina, “serah terima jabatan kekhalifahan dilakukan di Masjid Al Aqsha, sebagai bentuk meneladani dipilihnya Rasulullah untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dunia, maka Al Aqsha memiliki gelarnya sendiri, yakni Ramzul Imamah, simbol kepemimpinan.”

“Ketika Nabi Muhammad mengimami seluruh Nabi dan Rasul di malam Isra”, tulis DR Sayyid Karim Ghanim dalam Kitab Mausu’ah Al I’jaz Al Ilmi fil Quran was Sunnah, “ia menjadi dalil yang kuat, menerangkan pada dunia bahwa risalah Islam ini untuk semesta, dan syariatnya telah mencakup semua aturan-aturan umat terdahulu, serta yang paling utama, ketika para Nabi dan Rasul menjadi makmum shalat di belakang Rasulullah, jelaslah bahwa tujuan mereka semuanya adalah satu; mengajak manusia untuk menyembah Allah, yang tak ada sekutu bagi-Nya.”

Keempat, banyak sekali isyarat yang Allah bentangkan ketika Dia memperjalankan Nabi Muhammad dari Makkah ke Al Quds terlebih dahulu. Satu diantaranya adalah, Allah ingin menciptakan pemahaman pada Umat Islam, bahwa ruang gerak umat ini semenjak awalnya bukan sebatas Makkah saja, namun menembus wilayah-wilayah luas di seluruh dunia, Al Quds salah satunya.

Di saat yang sama, Allah juga mengingatkan umat ini bahwa dakwah Islam bukanlah dakwah untuk bangsa Arab saja, melainkan juga untuk bangsa-bangsa lainnya, disimbolkan dengan Al Quds, karena saat itu ia dibawah kekuasaan Romawi dengan nama Elia Capitolina. Dampaknya, umat ini akan memiliki mental ekspanisonis dan observasi, penjelajah dan dinamis.

Kelima, terperintahkannya shalat dengan segala mekanismenya dalam Isra Miraj, mengindikasikan bahwa perintah ini datang langsung dari Allah, untuk Rasulullah tanpa perantara apapun. Hanya perintah shalat saja yang diterima Rasulullah tanpa perantara, merupakan hentakan bagi kita untuk menghayati bahwa shalat bukan main-main kedahsyatannya.

“Seorang Raja, jika ingin menyampaikan hal mahapenting untuk disampaikan pada duta-duta besarnya, tak akan memilih surat sebagai pengantar pesan itu, melainkan akan segera memanggil mereka dan menyampaikannya secara langsung”, seperti itu yang diumpamakan DR Yusuf Qardhawi.

Perintah shalat yang disampaikan ketika Mi’raj, akhirnya juga menjadi satu kesimpulan baru. Seorang hamba, ternyata, bisa kapanpun dia mau untuk melakukan mi’raj-nya sendiri. Setiap hamba punya kesempatan untuk mengarungi perjalanan ruhaninya sendiri-sendiri. Bagaimana caranya? Shalat. Dengannya, manusia yang hidup dalam alam fana bernama bumi, dengan leluasa dapat menjalin koneksi lurus dengan alam langit yang abadi.

Di tengah kasak-kusuk dunia yang sempit dan penuh persoalan, Allah memberi manusia akses untuk mengadu pada Presiden semesta, langsung tanpa administrasi dan birokrasi yang pelik. Akses ajaib itulah shalat kita, yang seringkali kita lalaikan penghayatannya.

Maka, dengan segala fasilitas mewah ini, apakah kita akan tetap banyak mencela nikmat?

Biodata Rasulullah SAW.

💜 Nama : Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalibs bin Hashim.
💜 Tarikh lahir : Subuh hari Isnin, 12 Rabiulawal bersamaan 20 April 571 Masehi (dikenali sebagai Tahun Gajah; karena peristiwa tentara bergajah Abrahah yang menyerang kota Ka'bah)
💜 Tempat lahir : Di rumah Abu Thalib, Makkah Al-Mukarramah.
💜 Nama bapak : Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hashim.
💜 Nama ibu : Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf.
💜 Pengasuh pertama : Barakah Al-Habsyiyyah (digelar Ummu Aiman. Hamba perempuan bapak Rasulullah SAW).
💜 Ibu susu pertama : Thuwaibah (hamba perempuan Abu Lahab).
💜 Ibu susu kedua : Halimah binti Abu Zuaib As-Sa'diah (lebih dikenali Halimah As-Sa'diah, suaminya bernama Abu Kabsyah).

USIA 5 TAHUN

💓 Peristiwa pembelahan dada Rasulullah SAW yang dilakukan oleh dua malaikat untuk mengeluarkan bahagian syaitan yang wujud di dalam hatinya.

USIA 6 TAHUN

💓 Ibunya Aminah binti Wahab ditimpa sakit dan meninggal dunia di Al-Abwa ’
(sebuah kampung yang terletak di antara Makkah dan Madinah, baginda dipelihara oleh Ummu Aiman (hamba perempuan bapak Rasulullah SAW)
dan dibiayai oleh datuknya Abdul Muththalib.

USIA 8 TAHUN

💓 Datuknya, Abdul Muththalib pula meninggal dunia.
Baginda dipelihara pula oleh bapak saudaranya, Abu Thalib.

USIA 9 TAHUN (Setengah riwayat mengatakan pada usia 12 tahun).

💓Bersama bapak saudaranya, Abu Thalib bermusafir ke Syam atas urusan
perniagaan.

💓Di kota Busra, negeri Syam, seorang pendeta Nasrani bernama Bahira
(Buhaira) telah bertemu ketua-ketua rombongan untuk menceritakan tentang
pengutusan seorang nabi di kalangan bangsa Arab yang akan lahir pada masa
itu.

USIA 20 TAHUN

💓Terlibat dalam peperangan Fijar. Ibnu Hisyam di dalam kitab ‘Sirah’, jilid1, halaman 184-187 menyatakan pada ketika itu usia Muhammad SAW ialah
14 atau 15 tahun. Baginda menyertai peperangan itu beberapa hari dan
berperanan mengumpulkan anak-anak panah sahaja.

💓Menyaksikan ’ perjanjian Al-Fudhul ’ ; perjanjian damai untuk memberi
pertolongan kepada orang yang didzalimi di Makkah.

USIA 25 TAHUN

💓Bermusafir kali kedua ke Syam atas urusan perniagaan barangan Khadijah
binti Khuwailid Al-Asadiyah.

💓Perjalanan ke Syam ditemani oleh Maisarah; lelaki suruhan Khadijah.

💓Baginda SAW bersama-sama Abu Thalib dan beberapa orang bapak saudaranya yang lain pergi berjumpa Amru bin Asad (bapak saudara Khadijah) untuk meminang Khadijah yang berusia 40 tahun ketika itu.

💓Mas kawin baginda kepada Khadijah adalah sebanyak 500 dirham.

USIA 35 TAHUN

💓Banjir besar melanda Makkah dan meruntuhkan dinding Ka'bah.

💓Pembinaan semula Ka'bah dilakukan oleh pembesar-pembesar dan penduduk
Makkah.

💓Rasulullah SAW diberi kemuliaan untuk meletakkan ‘Hajarul-Aswad’ ke
tempat asal dan sekaligus meredakan pertelingkahan berhubung perletakan
batu tersebut.

USIA 40 TAHUN

💓Menerima wahyu di gua Hira’ sebagai pelantikan menjadi Nabi dan Rasul akhir zaman.

USIA 53 TAHUN

💓Berhijrah ke Madinah Al-Munawwarah dengan ditemani oleh Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq.

💓Sampai ke Madinah pada tanggal 12 Rabiulawal / 24 September 622M.

USIA 63 TAHUN

💓Kewafatan Rasulullah SAW di Madinah Al-Munawwarah pada hari Isnin, 12 Rabiulawal tahun 11Hijrah / 8 Juni 632 Masehi.

ISTERI-ISTERI RASULULLAH SAW

💚 Khadijah Binti Khuwailid.
💚 Saudah Binti Zam'ah.
💚 Aisyah Binti Abu Bakar (anak Sayyidina Abu Bakar).
💚 Hafsah binti 'Umar (anak Sayyidina 'Umar bin Al-Khattab).
💚 Ummi Habibah Binti Abu Sufyan.
💚 Hindun Binti Umaiyah (digelar Ummi Salamah).
💚 Zainab Binti Jahsy.
💚 Maimunah Binti Harith.
💚 Safiyah Binti Huyai bin Akhtab.
💚 Zainab Binti Khuzaimah (digelar 'Ummu Al-Masakin’, Ibu Orang Miskin).

ANAK-ANAK RASULULLAH SAW

1.💜 Qasim
2.💜 Abdullah
3.💜 Ibrahim
4.💜 Zainab
5.💜 Ruqaiyah
6.💜 Ummi Kalthum
7.💜 Fatimah Al-Zahra’

ANAK TIRI RASULULLAH SAW

💙 Halah bin Hind bin Habbasy bin Zurarah at-Tamimi (anak kepada Sayyidatina Khadijah bersama Hind bin Habbasy. Ketika berkahwin dengan Rasulullah, Khadijah adalah seorang janda).

SAUDARA SESUSU RASULULLAH SAW

IBU SUSUAN/SAUDARA SUSUAN
1. Thuwaibah → Hamzah
2. Abu Salamah → Abdullah bin Abdul Asad

SAUDARA SUSUAN
1. Halimah Al-Saidiyyah → Abu Sufyan bin Harith bin Abdul Muthallib
2. Abdullah bin Harith bin Abdul ’ Uzza
3. Syaima ’ binti Harith bin Abdul ’ Uzza
4. 'Aisyah binti Harith bin abdul ’ Uzza

BAPAK DAN IBU SAUDARA RASULULLAH SAW
( ANAK-ANAK KEPADA ABDUL MUTHTHALIB)

1. Al-Harith
2. Muqawwam
3. Zubair
4. Hamzah *
5. Al-Abbas *
6. Abu Talib
7. Abu Lahab (nama asalnya Abdul Uzza)
8. Abdul Ka'bah
9. Hijl
10. Dhirar
11. Umaimah
12. Al-Bidha (Ummu Hakim)
13. Atiqah ##
14. Arwa ##
15. Umaimah
16. Barrah
17. Safiyah (ibu kepada Zubair Al-Awwam) *

* masuk Islam.
## Ulama berselisih pendapat tentang Islamnya.

Sabda Rasulullah SAW:
“Sesiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sesungguhnya dia telah mencintai aku
Dan sesiapa yang mencintai aku niscaya dia bersama-samaku di dalam syurga”
(Riwayat Al-Sajary daripada Anas )

اللهم صلى وسلم على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه وسلم

Nabi Muhammad SAW - Manusia agung

KENALI NABI MUHAMMAD S.A.W. SECARA LAHIRIAH

💓Begitu indahnya sifat fizikal
Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bertemu muka dengan Baginda lantas melafazkan keislaman dan mengaku akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Baginda.

Di antara kata-kata apresiasi para sahabat ialah:

💞 Aku belum pernah melihat lelaki yang segagah Rasulullah saw..

💞 Aku melihat cahaya dari lidahnya.

💞 Seandainya kamu melihat Baginda, seolah-olah kamu melihat matahari
terbit.

💞 Rasulullah jauh lebih cantik dari sinaran bulan.

💞 Rasulullah umpama matahari yang bersinar.

💞 Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah.

💞 Apabila Rasulullah berasa gembira, wajahnya bercahaya spt bulan purnama.

💞 Kali pertama memandangnya sudah pasti akan terpesona.

💞 Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat.

💞 Wajahnya seperti bulan purnama.

💞 Dahi baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya.

💞 Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.

💞 Mata baginda hitam dengan bulu mata yang panjang.

💞 Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli di bahagian sudut.

💞 Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali pertama kali melihatnya.

💞 Mulut baginda sederhana luas dan cantik.

💞 Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.

💞 Apabila berkata-kata, cahaya kelihatan memancar dari giginya.

💞Janggutnya penuh dan tebal menawan.

💞 Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca.

💞 Warna lehernya putih seperti perak, sangat indah.

💞 Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya.

💞 Rambutnya sedikit ikal.

💞 Rambutnya tebal kdg-kdg menyentuh pangkal telinga dan kdg-kdg mencecah
bahu tapi disisir rapi.

💞 Rambutnya terbelah di tengah.

💞 Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur
dari dada ke pusat.

💞 Dadanya bidang dan selaras dgn perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih drpd biasa.

💞 Seimbang antara kedua bahunya.

💞 Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya, jarinya juga besar
dan tersusun dgn cantik.

💞 Tapak tangannya bagaikan sutera yang lembut.

💞 Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik.

💞 Kakinya berisi, tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air.

💞 Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.

💞 Warna kulitnya tidak putih spt kapur atau coklat tapi campuran coklat dan
putih.

💞 Warna putihnya lebih banyak.

💞 Warna kulit baginda putih kemerah-merahan.

💞 Warna kulitnya putih tapi sehat.

💞 Kulitnya putih lagi bercahaya.

💞 Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kokoh.

💞 Badannya tidak gemuk.

💞 Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran sederhana lagi gagah.

💞 Perutnya tidak buncit.

💞 Badannya cenderung kepada tinggi, semasa berada di kalangan org ramai
baginda kelihatan lebih tinggi drpd mereka.

KESIMPULANNYA :
Nabi Muhammad sa.w adalah manusia agung yang ideal dan sebaik-baik contoh sepanjang zaman.
Baginda adalah semulia-mulia insan di dunia.


[Copas dari grup Whatsapp]

Serugi-ruginya orang adalah orang yang Allah beri waktu dalam sehari, namun tak disempatkannya untuk sekedar membaca, menghafal, merenungi dan meresapi satu ayat pun dari Al-Qur’an di hari itu.
—  Serugi-ruginya orang adalah orang yang menyia-nyiakan Al-Qur’an di dunia, apakah dia tidak ingin kiranya Al-Qur’an menjadi sahabat setianya, menemani dan menyelamatkannya dalam hidup setelah matinya?
Jika seseorang mencari ilmu dengan maksud untuk sekedar hebat-hebatan, mencari pujian, atau untuk mengumpulkan harta benda, maka dia telah berjalan untuk menghancurkan agamanya, merusak dirinya sendiri, dan telah menjual akhirat dengan dunia
—  Imam Al Ghazali (dalam Bidayatul Hidayah )
Wahai pemuda! Carilah akhirat, karena seringkali kita melihat orang-orang yang mengejar akhirat juga mendapatkan dunia. Akan tetapi, kita tidak pernah melihat orang-orang yang mengejar dunia akan mendapatkan akhirat bersama dengan dunia.
—  Hasan al-Bashri
Membaca Al-Qur'an setiap hari juga butuh perjuangan. Hanya yang terkasih sayang oleh-Nya saja yang mampu melakukannya.
— 

Katanya membaca Al-Qur'an itu menghabiskan banyak waktu. Orang sibuk tidak akan sempat untuk sekadar membuka Al-Qur'an.

Maka sejatinya membaca Al-Qur'an tiada pernah dan tiada akan mengurangi waktu kita. Justru sebaliknya, ia akan menambah dan melapangkan waktu kita.

Mungkin secara hitungan matematika dunia, membaca Al-Qur'an tampak seakan-akan mengurangi waktu. Dari total 24 jam dalam sehari seolah-olah waktu berkurang sekian detik, sekian menit atau sekian jam jika digunakan untuk membaca Al-Qur'an.

Tapi, tahukah kita bahwa waktu yang kita gunakan untuk membaca Al-Qur'an itu sebenarnya tidak hilang begitu saja. Ia akan diganti oleh Allah dengan keberkahan yang berlipat ganda.

Apa itu keberkahan?

Keberkahan artinya pertambahan dan pertumbuhan. Wujudnya bisa bermacam-macam. Contohnya, mmm pekerjaan kita beres, produktivitas kita meningkat, keuntungan bertambah, kesehatan kita terjaga, kita bahagia meski ujian selalu mendera tiada henti, hati kita tenang dan seterusnya.

Itu adalah wujud yang akan diperoleh oleh mereka yang dekat dan membaca Al-Qur'an.

Pernahkah kita mendengar tentang orang yang stress? Atau orang yang sedang kebingungan mencari inspirasi? Atau orang yang kesulitan menyelesaikan pekerjaannya? Atau orang yang waktunya habis sia-sia tanpa produktivitas?

Itu adalah sekelumit bentuk-bentuk kehilangan umur yang disebabkan tidak berkahnya waktu.

Dahulu para ulama bisa menulis karya-karya agung yang jumlahnya melebihi bilangan umur mereka. Padahal saat itu belum ada mesin ketik ataupun komputer. Semuanya ditulis manual dengan tangan dan peralatan yang sangat sederhana, ditambah kondisi yang lebih sulit dari pada kondisi sekarang.

Mengapa mereka bisa seperti itu? Jawabannya adalah karena waktu mereka penuh dengan keberkahan.

Dari mana keberkahan itu? Jawabnya dari membaca Al-Qur'an.

Perhatikan kisah berikut.

Ibrahim bin Abdul Wahid Al Maqdisi berwasiat kepada Al Dhiya Al Maqdisi sebelum yang terakhir pergi menuntut ilmu:

Perbanyaklah membaca Al-Qur'an. Jangan kamu tinggalkan. Karena kemudahan yang akan kamu peroleh dalam pencarianmu akan berbanding lurus dengan kadar yang kamu baca.

Al Dhiya mengatakan, “Lalu aku renungi hal itu dan aku praktekkan berkali-kali. Setiap kali aku membaca banyak, semakin mudah aku menghafal hadits dan menulisnya. Jika aku tidak membaca, tidak mudah aku melakukannya.”

(Sumber: “Dzali Thabaqat al Hanabilah” Karya Ibnu Rajab al Hambali)

~*

Sederhananya seperti ini. Jika kita mengalami kegundahan dan butuh solusi, butuh tempat menangis maka temuilah Allah. Bagaimana menemui Allah? Maka temuilah Allah dengan sabar dan sholat. Niscaya kita akan tenang. Jika kita ingin berbincang-bincang dengan Allah, ingin lebih dekat dengan-Nya. Maka berbicaralah melalui kalam-Nya. Bacalah Al-Qur'an karena disana akan kita temui banyak kebaikan.

Tulisan di hari jum'at di penghujung september 2016 || sampai jumpa di september berikutnya, Insya Allah..

Dalam perjalanan kereta Taksaka menuju Jogja, pria itu menatap kosong ke jendela. Perjalanan ini penting baginya sebagai tanda bakti terakhir bagi ibunda. Tadi pagi ia ditelepon. Dari Jogja. Bahwa ibunda telah tiada.
Pria itu menyeka air matanya. Dalam deru suara kereta dan dengkur suara penumpang di belakangnya, ia membuka isi tas punggungnya. Dikeluarkan Al Quran di dalamnya. Dipegangnya. Erat.
Ia teringat akan masa kecilnya bersama ibunda di kereta. Dalam ramainya kereta ekonomi Jabodetabek, ia dan ibunda berdiri. “Nak,” kata ibunda, “pegangan yang kencang ya sama tangan ibu. Kalau tidak nanti kamu terjatuh.”
“Iya, Ibu.”
“Ibu,” panggil si kecil.
“Ya nak?”
“Kenapa ibu sering memegang Al Quran?” tanyanya.
“Nak, dunia ini sama seperti kereta. Jalannya kencang. Kencang sekali. Ibu perlu pegangan, sama seperti kamu. Biar ga terjatuh.”
Dalam perjalanan kereta Taksaka menuju Jogja, pria itu mendengkur seperti suara penumpang di belakangnya. Dengan Al Quran di dalam genggamannya. Erat.

(اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ..)

O Allah! I ask You for wellbeing in this world and in the Hereafter"

Allahumma inni as'alaka al-`afiyah fi ad-dunia wa al-akhirah.

kenapa ya ibadah yang harusnya fokus pada akhirat malah menjadi ajang mencari dunia
—  baca Al Waqiah biar kaya, rajin duha supaya mendapat riqzi, sodakoh biar dibalas berkalilipat, sholawat biar urusan lancar. dan masih banyak lagi ibadah kita demi dunia. bukan karena Allah.
Pernah sekali saya tidak shalat berjamaah, lalu Abu Ishaq Al-Bukhari menta'ziyahi (menjenguk) saya. Seandainya anak saya meninggal, maka lebih dari sepuluh ribu orang menta'ziyahinya, karena bagi mereka musibah agama lebih ringan dari musibah dunia.
—  Hatim Al-Asham