al araf

CATATAN RINGKAS, apabila ditanya anak/cucu tentang Al-Quran: (tanya jawab)

S : Berapa jumlah Surah dlm al-Quran?
J : 114 Surah
S : Berapa jumlah Juz dlm al-Quran?
J : 30 Juz
S : Berapa jumlah Hizb dlm al-Quran?
J : 60 Hizb
S : Berapa jumlah Ayat dlm al-Quran?
J : 6236 Ayat
S : Berapa jumlah Kata dlm al-Quran?, dan Berapa Jumlah Hurufnya?
J : 77437 Kata, atau 77439 Kata dan 320670 Huruf
S : Siapa Malaikat yang disebut dlm al-Quran?,
J : Jibril, Mikail, Malik, Malakulmaut, Harut, Marut, Al-Hafazoh, Al-Kiromulkatibun HamalatulArsy, dll.
S : Berapa Jumlah Sajdah (ayat Sujud) dlm al-Quran?
J : 14 Sajdah
S : Berapa Jumlah para Nabi yg disebut dlm Al-Quran?
J : 25 Nabi
S : Berapa Jumlah Surah Madaniyah dlm al-Quran?, sebutkan.
J : 28 Surah, al-Baqoroh, al-Imron, al-Nisa" al-Maidah, al-Anfal, al-Tawbah, al-Ra’d, al-Haj, al-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Rahman, al-Hadid, al-Mujadilah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Shaf, al-Jum'ah, al-Munafiqun, al-Taghabun, al-Thalaq, al-Tahrim, al-Insan, al-Bayinah, al-Zalzalah, al-Nashr.
S : Berapa Jumlah Surah Makiyah dlm al-Quran? sebutkan.
J : 86 Surat, selain surah tersebut di atas.
S : Berapa Jumlah Surah yg dimulai dgn huruf dlm al-Quran?
J : 29 Surah.
S : Apakah yg dimaksud dgn Surah Makiyyah?, sebutkan 10 saja.
J : Surah Makiyyah adalah Surah yg diturunkan di Makkah sebelum Hijrah, seperti: al-An'am, al-Araf, al-Shaffat, al-Isra’, al-Naml, al-Waqi'ah, al-Haqqah, al-Jin, al-Muzammil, al-Falaq.
S : Apakah yg dimaksud dgn Surah Madaniyyah? sebutkan lima saja?
J : Surah Madaniyah adalah Surah yg diturunkan di Madinah setelah Hijrah, seperti: al-Baqarah, al-Imran, al-Anfal, al-Tawbah, al-Haj.
S : Siapakah nama para Nabi yg disebut dlm Al-Quran?
J : Adam, Nuh, Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, Musa, Isa, Ayub, Yunus, Harun, Dawud, Sulaiman, Yusuf, Zakaria, Yahya, Ilyas, Alyasa’, Luth, Hud, Saleh, ZulKifli, Syuaib, Idris, Muhammad Saw.
S : Siapakah satu-satunya nama wanita yg disebut namanya dlm al-Quran?
J : Maryam binti Imran.
S : Siapakah satu-satunya nama Sahabat yg disebut namanya dlm al-Quran?
J : Zaid bin Haritsah. Rujuk dlm surah Al Ahzab ayat 37.
S : Apakah nama Surah yg tanpa Basmalah?
J : Surah at-Tawbah.
S : Apakah nama Surah yg memiliki dua Basmalah?
J : Surah al-Naml.
S : Apakah nama Surah yg bernilai seperempat al-Quran?
J : Surah al-Kafirun.
S : Apakah nama Surah yg bernilai sepertiga al-Quran?
J : Surah al-Ikhlas
S : Apakah nama Surah yg menyelamatkan dari siksa Qubur?
J : Surah al-Mulk
S : Apakah nama Surah yg apabila dibaca pada hari Jum'at akan menerangi sepanjang pekan?
J : Surah al-Khafi
S : Apakah ayat yg paling Agung dan dlm Surah apa?
J : Ayat Kursi, dlm Surah al-Baqarah ayat No.255
S : Apakah nama Surah yg paling Agung dan berapa jumlah ayatnya?
J : Surah al-Fatihah, tujuh ayat.
S : Apakah ayat yg paling bijak dan dlm surah apa?
J : Firman Allah Swt :“ Barang siapa yg melakukan kebaikan sebesar biji sawi ia akan lihat, Barang siapa melakukan kejahatan sebesar biji sawi ia akan lihat.. (Surah al-Zalzalah ayat 7-8)
S : Apakah nama Surah yg ada dua sajdahnya?
J : Surah al-Haj ayat 18 dan ayat 77.
S : Pada Kata apakah pertengahan al-Quran itu di Surah apa? ayat no Berapa?
J : وليتلطف Surah al-Kahfi ayat No. 19.
S : Ayat apakah bila dibaca setiap habis Sholat Fardhu dpt mengantarkannya masuk ke dalam surga?
J : Ayat Kursi.
S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 31 kali dlm satu Surah dan di Surah apa?
J : Ayat فبأي آلاء ربكما تكذبانِ ) pada Surah al-Rahman.
S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 10 kali dlm satu Surah dan di surah apa? Apakah ayat ini ada juga disebut dlm surah lainnya? Di Surah apa?
J : Ayat (ويل يومئذ للمكذبين) pada Surah al-Mursalat, juga ada dlm Surah al-Muthaffifiin ayat No. 10.
S : Apakah Ayat terpanjang dlm al-Quran? pada Surah apa? Ayat berapa?
J : Ayat No 282 hSurah al-Baqarah…

Silakan "Share” agar ilmu ini bermanfaat.

TANDA AKHLAK YANG BAIK

Syeikh Al-Kirmani رحمة الله تعالى mengatakan : “ Di antara tanda akhlak yang baik adalah menahan penderitaan dan menanggung siksaan. ”

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “ Sungguh, kamu tak akan bisa memuaskan manusia dengan hartamu. Puaskanlah mereka dengan kecerahan wajah dan keindahan akhlak. ” (H.R. Al-Hakim dan Baihaqi)

Dzun Nun Al-Mishri رحمة الله تعالى ditanya, “ Siapakah orang yang paling menggelisahkan manusia?”
“ Orang yang paling buruk akhlaknya,” jawabnya.

Abu Hafsh رحمة الله تعالى pernah ditanya mengenai akhlak, lalu dijawab, “ Akhlak adalah apa yang dipilihkan Allah untuk nabi-Nya sebagaimana termaktub dalam firman-Nya :
” Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh. “
(QS Al-‘Araf : 199)

[ Risalah Qusyairiyah, karya Imam Al-Qusyairi. ]

دعاء سيدنا آدم عليه السلام

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Our Lord, we have wronged ourselves, and if You do not forgive us and have mercy upon us, we will surely be among the losers.

Surat Al-A’raf [Bag.19/19]

Surat ke-37 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 8.30pm WIB. Surat lainnya bisa disimak di sini.


19. Bersujud Tanda Berserah Diri

Puncak keindahan surat Al-A’raf diakhirid engan sebuah ayat yang di dalamnya terdapat anjuran untuk bersujud (sajdah). Inilah ayat sajdah pertama yang terdapat dalam Al-Qur’an, sehingga kita selalu diingatkan pentingnya keteguhan hati dan tekad yang kuat. 

Kita selalu diingatkan tentang sujudnya tuakng-tukang sihir yang telah memberikan tantangan terhadap Fir’aun yang berlaku sewenang-wenang dan berlaku zhalim. Ayat tersebut sekaligus mengajak kita agar senantiasa bisa membuktikan tanda kepasrahan kita kepada Allah dalam bentuk amal nyata.

Gerakan sujud yang kita lakukan dapat mengingatkan untuk selalu berbuat dan senantiasa siap menentukan sikap dalam kehidupan ini. Karena makna inilah kita melakukan sujud, seperti disebutkan dalam ayat berikut ini.

“Sesungguhnya orang-orang yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya lah mereka bersujud.” - Al-A’raf: 206

>> Index pembahasan surat Al-A’raf <<

Serial lainnya:

Hati.

Konsep berbagi luas konteksnya, kali ini Lika mau berbagi catatan dari apa yang Lika dapat dari salah salah satu kajian ICMN (Indonesian Creative Moslem Network). Semoga bukan sekedar catatan, tapi ilmu yang didapat bisa mewujud menjadi amal. #notetomyself

Kenapa sih harus berbagi?

“Apa yang kamu miliki sendiri saat ini, tidak akan ada artinya jika tidak berbagi.” salah satu kalimat dari cuplikan film Kartini yang diperankan mba cantik Dian Sastro. Terlepas dari film yang masih pro kontra, kutipan itu jadi pesan yang rasanya perlu diresapi. Itu alasan kenapa tulisan ini hadir.

Terkadang kita (saya) seringkali tertipu dengan berbagai distraksi yang sering hadir di tengah-tengah kita. Distraksi macem apa? banyak dan macem-macem hal yang bikin saya salah fokus, yang paling mudah dicontohkan misalnya social media. Efek sampingnya beragam, tapi yang paling mudah diidentifikasi jadi lebih sering khawatir dengan sesuatu yang bahkan belum terjadi dan bingung dengan kondisi real yang sedang dihadapi.

Darimana datangnya khawatir dan bingung ini?

Ternyata datangnya dari hati. Sebelum jauh membahas hati, kita kenali dulu apa sih definisi hati ini?. Jika di cek KBBI hati artinya organ badan yang berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu. Jika diterjemahkan dalam bahasa inggris hati itu heart : the organ in your chest that sends the blood around your body (dictionary.cambridge.org) biasa kita sebut jantung. Sedangkan dalam bahasa Al-Quran hati disebut dengan “qalb” qaf,lam,ba sesuatu yang sifatnya mudah terbolak-balik, mudah terombang-ambing. Ibarat sebuah kepingan ringan di atas laut dengan ombak mudah terombang-ambing. Sedangkan makna dari “Qalb” itu sendiri adalah membalikan.

Jadi kita akan bahas “Hati” dengan pengertian yang mana?

Merujuk pada Hadist Rasulullah Saw. “Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu””:Hadis Riwayat Bukhori. Dari hadist tersebut betapa pentingnya yang disebut “qolbu” ini. Malam itu kang Lutfi membahas hati dengan pengertian “qolbu”. Hati yang galau, gelisah, gundah, gulana artinya hati tersebut sedang ditunggangi Nafsu. Nafsu sendiri ada tiga jenis : Nafsu Ammarah Bissu’, Nafsu Lawwamah, Nafsu Mutmainnah.

Nafsu Ammarah Bissu’ merupakan nafsu dorongan untuk survive, seperti hewan. Nafsu ini berbahaya apabila melekat pada hati manusia sebab mengarahkan manusia kepada perbuatan dan perilaku yang bertentangan dengan nilai islam itu sendiri.Firman Allah S.W.T. dalam surat Yusuf.53 : “Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena  sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Nafsu yang paling jahat dan paling zalim. Nafsu amarah tidak dapat dikawal dengan sempurna oleh hati. Jika hati tidak meminta bantuan ilmu, hikmah kebijaksanaan dan akal, hati akan binasa.

Nafsu Lawwamah adalah nafsu yang sudah mengenal baik dan buruk, nafsu yang hadir setelah proses berpikir. Dari sumber lain Nafsu ini mengarahkan pemiliknya untuk menentang kejahatan, tetapi suatu saat jika ia lalai beribadah kepada Allah S.W.T, maka ia akan terjerumus kepada dosa. Orang yang memiliki nafsu lawwamah dapat menyesali perbuatan salah dan berinisiatif untuk kembali ke jalan yang benar.Nafsu lawwamah juga sering memikirkan baik buruk, halal haram, benar salah, berdosa ataupun tidak dalam segala tindakan. Jelas nafsu Lawwamah ini lebih baik dari nafsu amarah bissu’.

Nafsu Mutmainnah adalah  nafsu yang membuat pemiliknya tenang dalam ketaatan. Nafsu ini mendapat rahmat Allah S.W.T. dan manusia yang mendapatkan nafsu ini akan mendapat ridho Allah. Dalam surat Al-Fajr,27-30 : “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku,  dan masuklah ke dalam surga-Ku". Orang yang memiliki nafsu mutmainnah dapat mengawal nafsu syahwat dengan baik dan sentiasa cenderung melakukan kebaikan. Dari sumber lain nafsu ini membuat pemiliknya mudah bersyukur dan qanaah di mana segala kesenangan hidup tidak membuat dia lupa diri, menerima anugerah Ilahi seadanya dan kesusahan yang dialami pula tidak menjadikan dirinya gelisah. Ini disebabkan hatinya ada ikatan yang kuat kepada Allah. Imam Al-Ghazali meletakkan nafsu ini di tahap yang tertinggi dalam kehidupan manusia.

Yang dapat mengontrol atau mengikat hawa nafsu ini hanyalah Aqal. Konsep aqal dalam Al-Qur’an  berasal dari kata al-‘aql. Dengan kekuatan aqal orang mendapatkan ilmu. Selain itu aqal adalah al-hijr, menawan atau mengikat. Kata tersebut dari segi bahasa pada mulanya berarti; tali pengikat, penghalang. Al-Qur’an menggunakannya bagi sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa. Orang yang beraqal adalah orang yang mampu mengikat atau mengendalikan hawa nafsunya. Kemampuan seseorang untuk mengikat hawa nafsu, akan menempatkan hawa nafsu pada posisi yang serendah-rendahnya, sehingga hawa nafsu tidak dapat menguasai dirinya. Orang yang tidak mampu menawan hawa nafsunya tidak akan mampu mengendalikan dirinya.

Pada praktiknya nafsu yang bersemayam di hati dengan sifat yang mudah terombang-ambing butuh sesuatu yang sifatnya lebih stabil untuk bersandar, untuk bergantung, jadi ciri khas manusia punya ketergantungan. Jika bukan bergantung pada Allah, maka dipastikan akan bergantung pada selain Allah. Lalu apa bukti kita bergantung pada Allah? misalnya saat dihadapi dengan masalah yang pelik, mencari jalan keluar dari berbagai persoalan hidup, apa yang kita lakukan sebagai wujud kita bergantung hanya pada Allah?

Bukti bergantungnya kita pada Allah dengan meminta, memohon, berdoa pada Allah. Karena pada hakikatnya memang cuma Allah yang Maha kuasa atas segalanya. Tapi jangan sampai berpikiran sempit, kita mintaa terus kemudian hanya berdiam diri di kamar, tidak melakukan upaya apapun, itu pemahaman yang amat keliru. Begitupun memelihara dan menjaga hati kita, Kang Lutfi bahas salah satu doa favorit Lika di Al-Quran surat Ali-Imran ayat 8 : Rabbana la tuzigh quloobana ba'da ith hadaytana wahab lana min ladunka rahma innaka anta al-Wahhab “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. Jika ayat ini dibedah, maknanya sungguh luar biasa, short lecture ust.Nouman  pada link ini –> https://www.youtube.com/watch?v=fki-7REDXeY : Ayah of Hope.

Ayat ini salah satu wujud cinta kasih Allah yang melimpah. Rabbana la tuzigh quloobana ba'da ith hadaytana, kata tuzigh dari akar kata zaygh yang artinya bengkok secara tidak sadar, kecenderungan hati manusia yang mudah bengkok, manusia kadang tidak sadar sedang menjauh dari jalan Allah slowly but sure, padahal Allah sudah memberi memberi petunjuk pada hati kita, maka doa ini ada untuk meminta perlindungan pada Allah. Wahab lana min ladunka rahma, Hiba dalam bahasa arab artinya hadiah, Wahab adalah kata kerja yang artinya memberi hadiah yang sangat besar (to give a BIG Gift) the great grant, Ladun artinya sesuatu kepemilikan yang berharga seperti harta karun saking specialnya (some secret mercy from Allah). Innaka anta al-Wahhab , sesungguhnya Allah yang Maha Pemberi, Maha Pemberi ini bukan cuma sekali, dua kali, tapi terus-menerus memberi tidak akan pernah berhenti, maka penting untuk kita pun terus meminta.

Tapi ingat sekali lagi berusaha, berikhtiar itu penting sebagai wujud ibadah kita sama Allah. Karena kita pernah bersaksi buktinya pada Al-Quran surat Al-Araf, 172 : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi(tulang belakang) anak-anak Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Kita pernah membenarkan bahwa hanya Allah lah Rabb Illah yang patut disembah, maka Allah melengkapi kita dengan modal 4 perkara dalam Hadist Arba'in no.4 : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Maka dari itu kita wajib mengimani hal tersebut karena termasuk iman kepada qada dan qadar. Qadar merupakan ketetapan Allah yang sudah di kukuhkan, termasuk Ajal. Sedangkan Qada merupakan ketetapan Allah yang dikukuhkan berdasarkan ikhtiar makhluk termasuk rezeki, amal, dan bahagia/celaka.

Jadi Lika semakin yakin di Al-Quran itu gak mungkin ada sesuatu yang bertentangan, kan Allah bilang di surat Ar-Rad, 11 : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Setiap individu punya jalannya masing-masing, mintalah hanya pada Allah, rezeki mah moal patuker, bisa hadir dari arah yang tidak di sangka-sangka syaratnya cuma IMAN dan TAQWA! ga cuma sih itu, long life strungling pastinya, akan di Uji terus sama Allah karena Allah sayang. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Q.S. Al-Araf:96). Apalagi sih yang manusia butuhkan selain keberkahan? karena berkah itu sesuatu yang membuat kita semakin mendekatkan diri pada Allah, apalagi yang dibutuhkan oleh makhluk selain dekat dengan Khaliknya. Cuma kita sering ga sadar aja, balik lagi seperti prolog di awal banyak distraksi yang bikin kita (saya) sering salah fokus.

Semoga setelah kenalan sama Hati dan kecenderungan kita sama Allah, semakin membuat kita sadar kalau kita butuh banget Allah. “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik” Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.

Jadi hati kamu bergantung ke siapa?

jangan lupa Allah Maha mengetahui segala isi hati, yuk jujur, minimal sama diri sendiri, tahap awal untuk mulai aware dan menerima petunjuk, petunjuk Allah.


Dago, 10.4.2017
dari catatan kajian ICMN Pusdai ditambahin sedikit dari beberapa sumber yang masih terkait. :)

next pembelajaran yang menarik tentang “Hati” di 2 link lecturenya ust.Nouman reccomended!

https://www.youtube.com/watch?v=US71OPrUoio –> hati kita bergantug ke siapa?

https://www.youtube.com/watch?v=07eqk8ioRLo&t=329s  Battle of 'Heart’ & 'Mind’ | Nouman Ali Khan |

Period To Do List

For me and all my fellow sisters who feel distanced from Allah during their period. This is a list of things I want to implement into my life during that week. But first, download Quran Explorer on your phone/tablet.

Wake up for fajr, and do your Morning Remembrance.

Make wudhu as you would when you would pray. Sit down on the floor or on your bed. Close your eyes. 

  • Recite Surah Fatiha, slowly. 
  • Recite Surah Ikhlaas 3x.
  • Recite Ayatul Kursi.
  • Read Surah Yaseen | Everything has a heart and the heart of the Quran is Surah Yaseen, whoever read Yaseen, Allah will write the reward of reading the Quran ten times from him. [Tirmidhi]
  • Tasbeeh Fatima | SubhanAllah 33x, Alhamdulilah 33x, AllahuAkbar 34x
  • Dua for Forgiveness | Rabbana zalamna anfusana wa in lam taghfirlana watar hamna lana koonanna minal khasireen [Surah Al-Araf, Verse 23] | Our Lord ! we have sinned against ourselves and unless You grant us forgiveness and bestow Your mercy upon us, we shall most certainly be lost.
  • Salutations to the Prophet SAW | Allaahumma salli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kama salayta ‘ala Ibraaheem wa ‘ala aali Ibraaheem, innaka hameedun majeed. Allaahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kama baarakta ‘ala Ibraaheem wa ‘ala aali Ibraaheem, innaka hameedun majeed | Allah and the angels send salutations to the Prophet SAW [Surah Al-Ahzaab, Verse 56]

Replace each of the five prayers with these rembrances.

And remember your Nighttime Remembrances too.

And use Quran Explorer - pick one surah, and read parts of it throughout your day.

I was reading one of my favorite sura from the Qur'an, Surah Al Araf.

And on the end of it, I encountered my favorite mihrab sign again. Subhan'Allah. It always makes me smile whenever I encounter this “little house” that I used to call it before. 

So today, I wanted to share something about it, and I pray it benefits every person who reads this. in sha Allah.

I would like to tell you about it through the story of ‘Uthman Ibn Affan Radiyallahu Anhu, again it’s because Qur'an and 'Uthman are just two subjects that can’t be separated. ma sha Allah. How beautiful was 'Uthman.
_____

Sujood At-Tilawah also known as the prostration that ones does when reading qur'an.

'Uthman’s viewed sujood at tilawah as obligatory when reciting, sitting and listening to the Noble Qur'an,  while others say its not but nevertheless this is highly recommended for us to do in sha Allah, and there is indeed no sin if we do not do it. 

As for one who hears it without meaning to, he does not have to prostrate. 

As narrated 'Umar passed by a storyteller who recited a verse in which a prostration was required so that 'Uthman would prostrate with him.

'Uthman said: “The prostration is only required of the one listening to it”, then went on his way and did not prostrate.

*means the one who intended to listen to it*

and 'Uthman also said that menstruating women who hear a verse of prostration should make a gesture and not ignore it, but she should not prostrate as in prayer.
_____

This is in view of the great caliph. We have to keep in mind that sujood At Tilawah is done to show our willingness to humble ourselves before Allah, hence we are to deliver an extra prostration to showcase this.

How to do Sujood At Tilawah: [Again, it is not a sin if you do not do it, but it is recommended]

1) If you are reading or listening to the recitation of such verse, you should say takbeer and prostrate one time after reading it.

As narrated by 'Umar: “The Prophet Sallallahu Alaihi Wassalaam used to recite Qur'an to us, and if he reached an ayah where a sajdah was prescribed, he would say takbeer and prostrate and we would do likewise. 

2) If you are praying and you come to such verse, then you should say Allahu'akbar and go directly from standing to prostration without bowing in between, then after one sujood you should say Allahu'akbar and stand up and continue your prayer.

3) If you are praying behind an imam, you should only make sujood at tilawah if the imam does so.

Note: Most of the scholars says that it is not necessary to be in a state of wudhu, or facing the qiblah or dressed for this prostration [as to how it is to be when offering salah]. But it is highly advised to treat this prostration with same level of humility and respect.
_____

Verses for Sujood At Tilawah: [You will see that there is that line above the ayah and then later on will be the presence of the mihrab sign]

1) Surah 7 [Al Araf]: Verse 206
“Surely those who are with your Lord (the angels) are never too proud to perform acts of worship to Him, but they glorify His Praise and prostrate before Him.” 

2) Surah 13 [Ar Rad]: Verse 15
“And unto Allah (Alone) falls in prostration whoever is in the heavens and the earth, willingly or unwillingly, and so do their shadows in the mornings and in the afternoons.”

3) Surah 16 [An Nahl]: Verse 49
“And to Allah prostrate all that is in the heavens and all that is in the earth, of the live moving creatures and the angels, and they are not proud.” 

4) Surah 17 [Al Isra]: verse 107
“Say (O Muhammad): ‘Believe in it (the Quran) or do not believe. Verily! Those who were given knowledge before it, when it is recited to them, fall down on their faces in humble prostration.” 

5) Surah 19 [Maryam]: Verse 58
“… When the Verses of the Most Beneficent (Allah) were recited unto them, they fell down prostrating and weeping.” (19:58)

6) Surah 22 [Al Hajj]: Verse 18
“See you not that to Allah prostrates whatever is in the heavens and whatever is on the earth, and the sun, the moon, the stars, the mountains, the trees, all living creatures, and many of mankind? (22:18)

7) Surah 22 [Al Hajj]: Verse 77
“Oh you who believe! Bow down and prostrate yourselves, and worship your Lord and do good that you may be successful.” (22:77) 

8) Surah 25 [Al Furqan]: Verse 60
“And when it is said to them: ‘Prostrate to the Most Beneficent (Allah)!’ They say, ‘And what is the Most Beneficent? Shall we fall down in prostration to that which you (O Muhammad) command us?’ And it increases in them only aversion.” 

9) Surah 27 [An Naml]: Verse 25
“Satan has barred them from Allah’s way, so that they do not worship (prostratebefore) Allah, Who brings to light what is hidden in the heavens and the earth, and knows what you conceal and what you reveal.” 

10) Surah 32 [As Sadja]: Verse 15
“Only those believe in Our signs, who, when they are reminded of them fall downprostrate, and glorify the Praises of their Lord, and they are not proud.” 

11) Surah 38 [Sad]: Verse 24
“… And Dawood (Prophet David) guessed that We had tried him and he sought forgiveness of his Lord, and he fell down prostrate and turned (to Allah) in repentance.”

12) Surah 41 [Fussilat]: Verse 37
“And from among His Signs are the night and the day, and the sun and the moon. Do not prostrate to the sun or to the moon, but prostrate to Him Who created them, if you (really) worship Him.” 

13) Surah 53 [An Najm]: Verse 62
“So fall down in prostration to Allah, and worship Him (Alone).” 

14) Surah 84 [Al Inshiqaq]: Verse 21
“And when the Quran is recited to them, they do not fall prostrate.” 

15) Surah 96 [Al Alaq]: Verse 19
”… Fall prostrate and draw near to Allah!”

Note: Some scholars dispute on the no. 7 [22:77] as the reports in regards this ayah if early Muslims did make sujood are not fully confirmed so some scholars cite a lack of evidence for it and some count it while others do not.
_____

• A dua for Sujood At Tilawah

اللَّهُمَّ اكْتُبْ لِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا ، وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا ، وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا ، وَتَقَبَّلْهَا مِنِّي كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ

Allahumma aktub li biha ‘indaka ajran wa da’ ‘anni biha wizran waj’alha li ‘indaka dukhran wa taqabbalha minni kama taqabbaltaha min ‘abdika Daw’oud 

“O Allah, record for me a reward for this (prostration), and remove from me a sin. Save it for me and accept it from me just as You accepted it from Your slave Daw’oud.”

Note:
This is one of the ad'iyah for sujood At Tilawah, if you haven’t memorized it then make it to a point that you say Subhana Rabbiy al-A'ala [Glory be to my Lord] in sha Allah.

_____

I wanted to share this because when i was delivering lectures back home, I was asked about this sign and so I thought maybe some other sisters are also wondering about it especially to those who are new on reading the Qur'an, so I pray this helps you all, in sha Allah.

Also because we might unknowingly recite some of the verses above in our salah and I just wanted to give the heads up that we could earn extra rewards for it in sha Allah. 

In this, I would like to end this article with the hadith of the Prophet Sallallahu Alaihi Wassalaam saying about this:

Once a person prostrates himself after reading a verse requiring the performance of sajdah, the shaitan starts crying and wailing in a corner, saying: ‘Alas! The children of Adam were enjoined to perform sajdah and they carried it out, and become entitled to enter Paradise, but I refused to do so and was condemned to Hell.” 

_____

And I pray that we are given the tawfiq to learn the Qur'an and may Allah Azza Wa Jall ease our hearts through making Qur'an filling every emptiness that we have. Amin

[With a longing heart of a daughter who had lost her mother, I ask whoever among you who reads this and may Allah make you benefit from it, give a little prayer for my mother Allah yer7ama, her name is Aida [please mention her name in your ad'iyah].

May this be a form of sadaqah jariya of hers, and may Allah Azza Wa Jall forgive her and grant her a place in Jannatul Firdaus. Amin]

Zohayma
_____

Stories and ahadith were taken from:

• Al Khilafah Al Rashidah wa'l Dawlah al Umawiyyah, Al Yahya, p. 444
• Mawsoo’ at Fiqh 'Uthman Ibn Affan, p. 186
• [hadith narrated by 'Umar] Ahmad, 2/17; Al Bukhari 2/33, 34; Muslim 1/405 no. 575
• [end of article hadith] Muslim and Ibn Majah 

Du'a and Dhikr:

• Jami At Tirmidhi 579
 

دعاء سيدنا شعيب عليه السلام

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

Our Lord, decide between us and our people in truth, and You are the best of those who give decision.

Surat Al-A’raf [Bag.18/19]

Surat ke-37 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 8.30pm WIB. Surat lainnya bisa disimak di sini.


18. Perumpamaan Seperti Anjing

Di penghujung surat Al-A’raf disebutkan jumlah perumpamaan dan ayat-ayatnya memberikan penegasan mengenai makna yang sama, sekaligus memperingatkan dengan keras terhadap kaum Mukminin dari sifat lalai dan tidak sepenuh hati dalam menjalankan semua syari’at Allah. Dalam ayat berikut ini disebutkan perumpamaan yang agung.

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai ia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.” - Al-A’raf: 175-176

Itulah perumpamaan orang yang disampaikan kepadanya ayat-ayat agung dan hidayah Allah, lalu ia meninggikannya sebagaimana ular meninggalkan kulitnya.

Padahal seandainya ia tetap teguh dalam agamanya, niscaya Allah akan memuliakan dan mengangkat martabatnya. Namun ia lebih memilih kehinaan dengan meninggalkan semua itu.

Ia diumpamakan seperti anjing yang mengalami keletihan dan selalu mengulurkan lidahnya, baik dalam kondisi lalai (tidak sadar) maupun mengetahui (sadar). Itulah perumpamaan agung yang semestinya dapat membangunkan atau menyadarkan semua orang yang tidur dan semua orang yang lalai.

>> Index pembahasan surat Al-A’raf <<

Serial lainnya:

anonymous asked:

What is a salafi

A Salafi is someone who follows the way of the salaf us salih, or in short the Salaf which refers to the first and best three generations of Muslims. They are the Companions (Sahabah) of the Prophet ﷺ, their immediate followers (Tabiun), and the followers of the Tabi'in. These were praised by the Prophet ﷺ: The best of people is my generation, then those who come after them, then those who come after them [Bukhari and Muslim]. The term Salaf applies also to the Scholars of Ahl us-Sunnah wal-Jama'ah after the first three blessed generations who followed their way in belief and practices.

Allah ﷻ said (what means): The first to embrace Islam of the Muhajirin (those who migrated from Makkah to al-Madinah in obedience to Allah) and the Ansar (the citizens of al-Madinah who gave aid to the Muhajirin), and also those who follow them in the best way; Allah is well pleased with them, and they are with Him [At-Tawbah 9:100].

Among these scholars are (the number following the name is the Hijri year of death): Abu Hanifah (150), al-Awzai (157), ath-Thawn (161), al-Laith bin Sad (175), Malik bin Anas (179). Abdullah bin al-Mubarak (181), Sufyan bin ‘Uyainah (198), ash-Shafi'i (204), Is'haq (238), Ahmad bin Hanbal (241), al-Bukhari (256), Muslim (261), Abu Dawud (275), Ibn Taymiyyah (728), adth-Dthahabi (748), Ibn ul-Qayyim (751), Ibn Kathir (774), Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (1206) and his many students, and, in our time: ‘Abd ul-'Aziz bin Baz, Muhammad Nasir ud-Din al-Albani and others.

Who are the “Salafis?”

The description “Salafi” applies to one who truly attaches himself to the Salaf. This attachment is not to an arbitrary single person or group of people. It is an attachment to that which will never err - to the guidance of Muhammad ﷺ, his Sahabai, and their true followers. Likewise, Salafiyyah (the Salafi Da'wah) is not blind following of any particular Shaikh or Imam. It is adherence to the Qur'an and Sunnah as understood and practiced collectively by as-Salaf as-Salih. A true Salafi values Tawhid, singling out Allah in all acts of worship: in supplication, in seeking aid, in seeking refuge in times of ease and hardship, in sacrifice, in making vows, in fearing and hoping and total reliance, and so on. A true Salafi actively seeks to remove shirk (polytheism) with all his capacity. He knows that victory is not possible without true Tawhid, and that shirk cannot be fought with the likes of it (i.e., with another form of shirk). A true Salafi adheres to the Sunnah of the Prophet ﷺ and of his companions after him.

The Prophet ﷺ said, Adhere very closely to my Sunnah and the Sunnah of the rightly guided successors after me; bite on to it with your molar teeth, and beware of the newly invented matters. [Authentic; recorded by Abu Dawud and at-Tirmidthi. Whenever there is a difference of opinion, a true Salafi refers matters to Allah and His Prophet ﷺ, acting in accordance with the ayah: If you differ in anything among yourselves, refer it to Allah and His Messenger if you do believe in Allah and the Last Day, that is better and more suitable for final determination [An-Nisa 4:59]. He gives precedence to the Word of Allah and of His Prophet ﷺ over the opinion of anyone else, in according with the ayah: Believers! Do not put your opinions forward ahead of Allah and His Messenger, and fear Allah. Verily Allah is All-Hearing and All-Knowing. [Al-Hujurat 49:1].

A true Salafi revives the Sunnah of the Prophet ﷺ in his worship and behavior. This makes him a stranger among people, as the Prophet ﷺ has described: Islam began as a stranger, and it will revert to being a stranger just as it began. So give glad tidings to the strangers. [Recorded by Muslim]. And he ﷺ said in another narration: So give glad tidings to the few, those who purify and correct what the people have corrupted of my Sunnah. [Authentic; al-Albani’s as-Silsilat us-Sahihah number 1273].

A true Salalfi enjoins the good and forbids the evil. He warns people, out of deep concern, about shirk, innovations, misguided ways, and of deviant, destructive groups: Let there arise out of you a band of people inviting to all that is good, enjoining what is right and forbidding what is wrong [Aal Imran 3: 104].

A true Salafi constantly seeks Allah’s forgiveness, makes true repentance, remembers Allah abundantly, and rushes to perform the righteous deeds in order to purify his soul. Thus he attempts to follow the ayah: Truly he succeeds who purifies it (i.e., the soul) [Ash-Shams 91:8].

A true Salafi worships Allah out of a combination of Fear, Hope and Love. Allah says (what means): Call upon Him, with Fear and Hope. [Al-Araf 7:56]. And He says (what means): There are people who take [for worship] alleged rivals to Allah, loving them as only Allah should be loved. But the Believers love Allah more than all else. [Al-Baqarah 2:165].

A true Salafi is not of the Khawarij who consider most Muslims to be kafirs (disbelievers) because of committing sins. He is not of the Shiah who revile the Sahabah, who claim that the Qur'an has been altered, who reject the authentic Sunnah, and who worship the Prophet’s Family. He is not of the Qadariyyah who deny qadar (the Divine Decree). He is not of the murjiah who claim that iman is only words without deeds. He is not of the Muattilah who deny Allah’s Attributes. He is not of the Sufis who worship graves and claim Divine incarnation. He is not of the Muqallidun who insist that every Muslim should adhere to the Madth'hab (understanding) of a particular imam or shaikh, even when that madth'hab conflicts with the clear texts of the Qur'an or authentic Sunnah.

Thus the true Salafis are Ahl us-Sunnati wal-Jamaah. They are at-Ta'ifat ul-Mansurah (the Aided, Victorious Group) and al-Firqat un-Najiyah (the Saved Party) which have been described in several hadiths. The Messenger ﷺ said: A group from my Ummah (nation or community) will always be aided with victory as they continue to persevere upon the Truth; they will not be harmed by those who abandon them or those who oppose them. [Recorded by Muslim]. And he ﷺ said: This Ummah will split into seventy three parties, all of which will go to Hell - except for one party: the one which will follow the same path as what I and my companions are following today. [Authentic; recorded by Abu Dawud, at-Tirmidthi, and others]. In one report he ﷺ described this Saved Party as: … except for one party, which is the Jama'ah.

Al-Araf : 199

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Hold to forgiveness; command what is right; But turn away from the ignorant.

Surat Al-A’raf [Bag.17/19]

Surat ke-37 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 8.30pm WIB. Surat lainnya bisa disimak di sini.


17. Penyakit Lalai

Di akhir ayat diberikan penegasan bahwa Allah berlepas diri terhadap orang-orang yang lalai,

“(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Penyakit lalai (ghaflah) merupakan penyakit yang sangat berbahaya penyebab lemahnya semangat untuk memperjuangkan kebenaran dan menimbulkan keragu-raguan (kegamangan) dalam menolong agaman Allah. 

Lalu faktor apa saja yang menyebabkan timbulknya penyakit tersebut? Coba perhatikan firman Allah berikut ini,

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi taidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)

dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), 

dan mereka mempunya telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).

Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” - Al-A’raf: 179

Lalai meruapakn penyebab utama di belakang setiap keragu-raguan dan tidak adanya keteguhan dalam hati seseorang. Oleh karena itu, ini menjadi wasiat terakhir yang disampaikan Nabi saw, sebelum penutup surat. Allah berfirman,

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” - Al-A’raf: 205

Sudah selayaknya bagi kita para pengikut Nabi saw, untuk mengenali penyakit tersebut dan segera mengobatinya dengan dzikir, sambil memohon kepada Allah dengan penuh lemah lembut, dan membaca surat Al-A’raf serta memahami maknanya dengan benar.

>> Index pembahasan surat Al-A’raf <<

Serial lainnya:

وَمَا تَنقِمُ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا ۚ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

And you do not resent us except because we believed in the signs of our Lord when they came to us. Our Lord, pour upon us patience and let us die as Muslims [in submission to You].

- Surah al-araf [7:126]

MARI BELAJAR ULANG TENTANG AL-QURAN.

CATATAN RINGKAS, apabila ditanya tentang Al-Quran: (tanya jawab)

S : Berapa jumlah Surah dlm al-Quran?
J : 114 Surah

S : Berapa jumlah Juz dlm al-Quran?
J : 30 Juz

S : Berapa jumlah Hizb dlm al-Quran?
J : 60 Hizb

S : Berapa jumlah Ayat dlm al-Quran?
J : 6236 Ayat

S : Berapa jumlah Kata dlm al-Quran?, dan Berapa Jumlah Hurufnya?
J : 77437 Kata, atau 77439 Kata dan 320670 Huruf

S : Siapa Malaikat yang disebut dlm al-Quran?,
J : Jibril, Mikail, Malik, Malakulmaut, Harut, Marut, Al-Hafazoh, Al-Kiromulkatibun HamalatulArsy, dll.

S : Berapa Jumlah Sajdah (ayat Sujud) dlm al-Quran?
J : 14 Sajdah

S : Berapa Jumlah para Nabi yg disebut dlm Al-Quran?
J : 25 Nabi

S : Berapa Jumlah Surah Madaniyah dlm al-Quran?, sebutkan.
J : 28 Surah, al-Baqoroh, al-Imron, al-Nisa" al-Maidah, al-Anfal, al-Tawbah, al-Ra’d, al-Haj, al-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Rahman, al-Hadid, al-Mujadilah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Shaf, al-Jum'ah, al-Munafiqun, al-Taghabun, al-Thalaq, al-Tahrim, al-Insan, al-Bayinah, al-Zalzalah, al-Nashr.

S : Berapa Jumlah Surah Makiyah dlm al-Quran? sebutkan.
J : 86 Surat, selain surah tersebut di atas.

S : Berapa Jumlah Surah yg dimulai dgn huruf dlm al-Quran?
J : 29 Surah.

S : Apakah yg dimaksud dgn Surah Makiyyah?, sebutkan 10 saja.
J : Surah Makiyyah adalah Surah yg diturunkan di Makkah sebelum Hijrah, seperti: al-An'am, al-Araf, al-Shaffat, al-Isra’, al-Naml, al-Waqi'ah, al-Haqqah, al-Jin, al-Muzammil, al-Falaq.

S : Apakah yg dimaksud dgn Surah Madaniyyah? sebutkan lima saja?
J : Surah Madaniyah adalah Surah yg diturunkan di Madinah setelah Hijrah, seperti: al-Baqarah, al-Imran, al-Anfal, al-Tawbah, al-Haj.

S : Siapakah nama para Nabi yg disebut dlm Al-Quran?
J : Adam, Nuh, Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, Musa, Isa, Ayub, Yunus, Harun, Dawud, Sulaiman, Yusuf, Zakaria, Yahya, Ilyas, Alyasa’, Luth, Hud, Saleh, ZulKifli, Syuaib, Idris, Muhammad Saw.

S : Siapakah satu-satunya nama wanita yg disebut namanya dlm al-Quran?
J : Maryam binti Imran.

S : Siapakah satu-satunya nama Sahabat yg disebut namanya dlm al-Quran?
J : Zaid bin Haritsah. Rujuk dlm surah Al Ahzab ayat 37.

S : Apakah nama Surah yg tanpa Basmalah?
J : Surah at-Tawbah.

S : Apakah nama Surah yg memiliki dua Basmalah?
J : Surah al-Naml.

S : Apakah nama Surah yg bernilai seperempat al-Quran?
J : Surah al-Kafirun.

S : Apakah nama Surah yg bernilai sepertiga al-Quran?
J : Surah al-Ikhlas

S : Apakah nama Surah yg menyelamatkan dari siksa Qubur?
J : Surah al-Mulk

S : Apakah nama Surah yg apabila dibaca pada hari Jum'at akan menerangi sepanjang pekan?
J : Surah al-Kahf

S : Apakah ayat yg paling Agung dan dlm Surah apa?
J : Ayat Kursi, dlm Surah al-Baqarah ayat No.255

S : Apakah nama Surah yg paling Agung dan berapa jumlah ayatnya?
J : Surah al-Fatihah, tujuh ayat.

S : Apakah ayat yg paling bijak dan dlm surah apa?
J : Firman Allah Swt :“ Barang siapa yg melakukan kebaikan sebesar biji sawi ia akan lihat, Barang siapa melakukan kejahatan sebesar biji sawi ia akan lihat.. (Surah al-Zalzalah ayat 7-8)

S : Apakah nama Surah yg ada dua sajdahnya?
J : Surah al-Haj ayat 18 dan ayat 77.

S : Pada Kata apakah pertengahan al-Quran itu di Surah apa? ayat no Berapa?
J : وليتلطف Surah al-Kahfi ayat No. 19.

S : Ayat apakah bila dibaca setiap habis Sholat Fardhu dpt mengantarkannya masuk ke dalam surga?
J : Ayat Kursi.

S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 31 kali dlm satu Surah dan di Surah apa?
J : Ayat فبأي آلاء ربكما تكذبانِ ) pada Surah al-Rahman.

S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 10 kali dlm satu Surah dan di surah apa? Apakah ayat ini ada juga disebut dlm surah lainnya? Di Surah apa?
J : Ayat (ويل يومئذ للمكذبين) pada Surah al-Mursalat, juga ada dlm Surah al-Muthaffifiin ayat No. 10.

S : Apakah Ayat terpanjang dlm al-Quran? pada Surah apa? Ayat berapa?
J : Ayat No 282 Surah al-Baqarah..

Čital sem o neki skriti bolečini mlade generacije. Kakšna bolečina neki, razen impotence?! Da jih ni sram razkazovati svojo goloto in za povrh zraven še sentimentalno zavijati oči! Bister, neskaljen pogled, jasnost v pojmih, prodorna misel; vse to je prišlo danes v nemilost. Psovka je skoraj že, če govoriš o zdravih možganih. Kaj čudnega sicer? Čustva so dovolj poceni.

Vladimir Bartol, Al Araf