al ahzab

The True Hijab

Hadirnya Islam untuk memuliakan manusia, khususnya bagi muslimah. Tentu masih terkenang dalam ingatan kita, bagaimana perempuan pada masa Jahiliah dinistakan. Parahnya, memiliki anak perempuan dianggap aib bagi keluarga. Karenanya, mengubur hidup-hidup anak perempuan tersebut adalah cara ampuh bagi mereka agar tidak malu di kalangan bangsa Quraisy kala itu.

Islam datang dengan seperangkat aturan yang sempurna dan menyeluruh. Allah swt. sebagai Pencipta sekaligus Pengatur dengan jelas menyampaikan dalam firmanNya tentang pengaturan untuk muslimah, salah satunya tentang menutup aurat, coba tengok Al Quran, buka surat Al Ahzab ayat 59, Allah swt. berfirman:

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya* ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Dalam surat lain Allah berfirman,

“…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” [QS 24:31]

Jilbab dan kerudung hanya sebagian aturan Allah bagi muslimah. Maka jika aturan ini datangnya dari Allah, kenapa masih saja meragukan? Sebagaimana beberapa waktu lalu, dengan dalih yang masih sama dengan banyak muslimah lainnya ketika diseru untuk menutup auratnya, mereka bukan justru bersegera menyambut seruan itu, sebaliknya menyatakan ingin menghijabi hati, memperbaiki hati dan sederet alasan klasik lainnya. Padahal jika mau benar-benar menggunakan akalnya untuk mencari tahu -ketika tidak tahu- akan didapati bahwasanya syara’ mengajarkan baiknya hati dan aktivitas fisik haruslah berjalan beriringan. Sebagaimana Islam menyandingkan iman dan amal sholih, niat dan perbuatan. 

Akal dengan fitrohnya sudah pasti bisa mencerna dan berpikir bahwa kebaikan yang tampak terluar bisa jadi menggambarkan kebaikan yang tersembunyi di hati. Namun keburukan yang tampak dari luara sudah tentu menggambarkan rusaknya hati. 

Tak ada yang bisa menerima dengan logika waras terhadap klaim pedagang permen yang menyatakan bahwa “yang penting permennya manis meski tak dibungkus, daripada di bungkus tapi isinya kotor.” Adakah yang mau beli?

Muslimah berhijab, menutup aurat, bisa jadi dilatarbelakangi niat yang benar atau salah. Namun muslimah yang melepaskan hijab sudah dipastikan tak benar niatnya. 

Niat yang salah itu salah, sebagaimana melepas hijab pun jelas salahnya. Apa masalahnya jika memperbaiki niat sembari memperbaiki amal hijabnya?! Maka, jelaslah sudah, yang menjadi akar masalahnya bukan pada hijabnya, tetapi pada pola pikirnya yang sesat!

Tersebab, tak mungkin syariat Allah swt, pilih kasih untuk hambaNya. Pastilah syariat itu yang terbaik untuk hambaNya. Maka jika masih saja memilih-milih syariat, tidak bersegera melaksanakan perintahNya, layaknya memilih-milih makanan jika suka nasi goreng diambillah nasi goreng, jika tak suka batagor ditinggalkannya batagor. Berarti bisa dipastikan dia belum mengenal Allah, meski dia sudah sholat wajib. Lupakah, betapa Allah swt., sangat menyayangi hambaNya? Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? 


@xyouthgen 

CATATAN RINGKAS, apabila ditanya anak/cucu tentang Al-Quran: (tanya jawab)

S : Berapa jumlah Surah dlm al-Quran?
J : 114 Surah
S : Berapa jumlah Juz dlm al-Quran?
J : 30 Juz
S : Berapa jumlah Hizb dlm al-Quran?
J : 60 Hizb
S : Berapa jumlah Ayat dlm al-Quran?
J : 6236 Ayat
S : Berapa jumlah Kata dlm al-Quran?, dan Berapa Jumlah Hurufnya?
J : 77437 Kata, atau 77439 Kata dan 320670 Huruf
S : Siapa Malaikat yang disebut dlm al-Quran?,
J : Jibril, Mikail, Malik, Malakulmaut, Harut, Marut, Al-Hafazoh, Al-Kiromulkatibun HamalatulArsy, dll.
S : Berapa Jumlah Sajdah (ayat Sujud) dlm al-Quran?
J : 14 Sajdah
S : Berapa Jumlah para Nabi yg disebut dlm Al-Quran?
J : 25 Nabi
S : Berapa Jumlah Surah Madaniyah dlm al-Quran?, sebutkan.
J : 28 Surah, al-Baqoroh, al-Imron, al-Nisa" al-Maidah, al-Anfal, al-Tawbah, al-Ra’d, al-Haj, al-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Rahman, al-Hadid, al-Mujadilah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Shaf, al-Jum'ah, al-Munafiqun, al-Taghabun, al-Thalaq, al-Tahrim, al-Insan, al-Bayinah, al-Zalzalah, al-Nashr.
S : Berapa Jumlah Surah Makiyah dlm al-Quran? sebutkan.
J : 86 Surat, selain surah tersebut di atas.
S : Berapa Jumlah Surah yg dimulai dgn huruf dlm al-Quran?
J : 29 Surah.
S : Apakah yg dimaksud dgn Surah Makiyyah?, sebutkan 10 saja.
J : Surah Makiyyah adalah Surah yg diturunkan di Makkah sebelum Hijrah, seperti: al-An'am, al-Araf, al-Shaffat, al-Isra’, al-Naml, al-Waqi'ah, al-Haqqah, al-Jin, al-Muzammil, al-Falaq.
S : Apakah yg dimaksud dgn Surah Madaniyyah? sebutkan lima saja?
J : Surah Madaniyah adalah Surah yg diturunkan di Madinah setelah Hijrah, seperti: al-Baqarah, al-Imran, al-Anfal, al-Tawbah, al-Haj.
S : Siapakah nama para Nabi yg disebut dlm Al-Quran?
J : Adam, Nuh, Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, Musa, Isa, Ayub, Yunus, Harun, Dawud, Sulaiman, Yusuf, Zakaria, Yahya, Ilyas, Alyasa’, Luth, Hud, Saleh, ZulKifli, Syuaib, Idris, Muhammad Saw.
S : Siapakah satu-satunya nama wanita yg disebut namanya dlm al-Quran?
J : Maryam binti Imran.
S : Siapakah satu-satunya nama Sahabat yg disebut namanya dlm al-Quran?
J : Zaid bin Haritsah. Rujuk dlm surah Al Ahzab ayat 37.
S : Apakah nama Surah yg tanpa Basmalah?
J : Surah at-Tawbah.
S : Apakah nama Surah yg memiliki dua Basmalah?
J : Surah al-Naml.
S : Apakah nama Surah yg bernilai seperempat al-Quran?
J : Surah al-Kafirun.
S : Apakah nama Surah yg bernilai sepertiga al-Quran?
J : Surah al-Ikhlas
S : Apakah nama Surah yg menyelamatkan dari siksa Qubur?
J : Surah al-Mulk
S : Apakah nama Surah yg apabila dibaca pada hari Jum'at akan menerangi sepanjang pekan?
J : Surah al-Khafi
S : Apakah ayat yg paling Agung dan dlm Surah apa?
J : Ayat Kursi, dlm Surah al-Baqarah ayat No.255
S : Apakah nama Surah yg paling Agung dan berapa jumlah ayatnya?
J : Surah al-Fatihah, tujuh ayat.
S : Apakah ayat yg paling bijak dan dlm surah apa?
J : Firman Allah Swt :“ Barang siapa yg melakukan kebaikan sebesar biji sawi ia akan lihat, Barang siapa melakukan kejahatan sebesar biji sawi ia akan lihat.. (Surah al-Zalzalah ayat 7-8)
S : Apakah nama Surah yg ada dua sajdahnya?
J : Surah al-Haj ayat 18 dan ayat 77.
S : Pada Kata apakah pertengahan al-Quran itu di Surah apa? ayat no Berapa?
J : وليتلطف Surah al-Kahfi ayat No. 19.
S : Ayat apakah bila dibaca setiap habis Sholat Fardhu dpt mengantarkannya masuk ke dalam surga?
J : Ayat Kursi.
S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 31 kali dlm satu Surah dan di Surah apa?
J : Ayat فبأي آلاء ربكما تكذبانِ ) pada Surah al-Rahman.
S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 10 kali dlm satu Surah dan di surah apa? Apakah ayat ini ada juga disebut dlm surah lainnya? Di Surah apa?
J : Ayat (ويل يومئذ للمكذبين) pada Surah al-Mursalat, juga ada dlm Surah al-Muthaffifiin ayat No. 10.
S : Apakah Ayat terpanjang dlm al-Quran? pada Surah apa? Ayat berapa?
J : Ayat No 282 hSurah al-Baqarah…

Silakan "Share” agar ilmu ini bermanfaat.

Perempuan yang Kurang Berjuang (?)

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” – (Q.S Al – Ahzab (33) : 35)

Suatu hari, dalam obrolan ringan yang ternyata tidak mengalir seringan biasanya, tanpa diduga seorang teman berkata, “Kalau aku lihat ya Nov, kamu itu tipe perempuan yang kurang berjuang. Gimana coba mau nikah tapi engga punya pacar? Banyak teman sih, tapi deket yang beneran deket sama laki-laki aja engga, gimana coba? Saat itu, saya hanya menanggapinya dengan tertawa. Tapi ternyata, tawa yang sama tidak bisa terbawa lama-lama. Setelah pulang, saya menangis sejadi-jadinya. Entahlah, rasanya sakit sekali, seperti ada yang menginjak-injak harga diri hingga saya pun bertanya-tanya, “Salahkah? Memangnya harus dengan cara apa seorang perempuan muslim berjuang?”

Dulu, saya menganggap bahwa dekat dengan laki-laki sebelum halal adalah hal yang wajar. Tapi, setelah belajar dan mengetahui bahwa itu bukanlah sesuatu yang diperbolehkan-Nya, maka saya tidak lagi punya cukup keberanian untuk tetap melakukannya. Bukan mudah, rasanya sulit untuk meyakinkan diri sendiri bahwa jalan yang sudah Allah tunjukkan adalah jalan kebenaran yang tak perlu ragu lagi untuk ditempuh. Beberapa orang yang datang dan mencoba mendekat setelahnya pun menjadi ujian tersendiri. Tak mudah! Ah, terang saja, kalau mudah namanya bukan ujian. Bagaimana pun, bukankah semuanya harus dikembalikan pada standar-standar yang sudah ditetapkan-Nya?

Kembali pada anggapan perempuan yang kurang berjuang, saya semakin bertanya-tanya: pertanyaan yang jawabannya ternyata tak mudah untuk didapatkan. Lalu, seperti biasanya, saya bertanya pada Ibu, seseorang yang memang sering menjadi teman diskusi saya hingga saya menganggap beliau seperti Ibu sendiri. Saya bertanya, “Bu, memangnya harus dengan cara apa seorang perempuan muslim berjuang? Apakah pernikahan memang perlu diupayakan sebegitunya oleh seorang perempuan sampai menggadaikan kehormatan?

Kemudian, Ibu menatap saya dengan lembut lalu beliau balik mengajukan pertanyaan, “Nov, Allah nyuruhnya apa? Allah janjinya apa?” Saya terdiam beberapa saat, lalu sesuatu muncul di pikiran saya, gemetar saya menjawab, Allah janji, perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan begitupun sebaliknya. Saya hampir menangis ketika Ibu tersenyum dan mulai menjelaskan, “Iya, Nov, Allah memang berjanji demikian dalam Al-Qur’an. Lalu apa lagi yang kamu takutkan? Biar saja, kamu tidak perlu mendengar anggapan orang yang mungkin memang tidak berpikir dalam satu frame yang sama, yang penting nurut aja sama Allah, ya Nak. Kedekatanmu dengan laki-laki manapun sebelum halal tidak lantas menjadikan kamu berjodoh dengannya. Dekat yang tak halal itu sejatinya tidak mendekatkan, bahkan hanya menjauhkanmu dari Allah. Jangan Nov, jangan hanya karena perasaan lalu kamu menggadaikan kehormatanmu sebagai seorang perempuan muslim. Percaya deh, Allah tidak akan dzalim dan tidak akan mengkhianati hamba-Nya yang berupaya untuk nurut dan menjaga diri.

Mendengarnya, saya merasa lega. 

Perjuangan perempuan memang terletak pada bagaimana ia menjaga diri dan kehormatannya, memperbaiki diri, mengendalikan hati, mengelola perasaan, memperkaya diri dengan ilmu, bersikap produktif dan mengupayakan ketaatan kepada Allah. Itulah sebaik-baik perjuangan yang bisa dilakukan oleh perempuan. Usaha perempuan haruslah usaha-usaha yang elegan, bukan dengan mengumbar perhatian, apalagi mengumbar perasaan pada yang belum halal.

Untukmu sahabat-sahabat perempuanku, perjuangan ini tentu tidak akan mudah untuk dilakukan. Mungkin akan ada ujian-ujian yang perlu kita hadapi dalam perjalanannya. Semoga Allah senantiasa menjaga dan memudahkan. Kabar gembiranya, ada ampunan dan pahala yang besar dari-Nya jika kita menjaga kehormatan. Semangat memperjuangkan ketaatan! ;)

Many sisters feel that they cannot do much of Ibaadaat while on their monthly period, this is not true. Allāh gave us the blessing of time, we should take advantage of it in doing things that are pleasing to Him. So, here is a list of ten easy Ibaadaat that can be done during the period:

1. Make lots of du’a (supplication) to Allāh
Being in that state of ritual impurity should not prevent you from making du’a.
It is reported from An-Nu’man bin Bashir (May Allāh be pleased with him) reported the Prophet ﷺ said: “Du’a is worship.”
[Abu Dawud]

2. Visit a close family member
When you are visiting one of your close family members make sure to have the intention of keeping good ties of kinship between both of you.

The Prophet ﷺ said: “And he who believes in Allāh and the Last Day should unite his ties of kinship.”
[Reported by Al-Bukhari]

3. Make lots of Istighfaar (seeking forgiveness from Allāh) and dhikr (remembrance of Allāh)
This can be done when you are cooking, cleaning, going to work, going to the shop, etc. Allāh swt says:
“O you who have believed, remember Allāh with much remembrance.”
[Surat Al-Ahzab: 33: Verse: 41]

4. Give Da’wah to Muslims and non-Muslims
This can be by sharing an Islamic post on face book, sharing Islamic knowledge in general through media, and most importantly being a good example through your manners, speech and actions. Allāh says: “And who is better in speech than one who invites to Allāh and does righteousness and says, “Indeed, I am of the Muslims.” [Surat Fussilat: 41: Verse: 33]

And the Prophet ﷺ said: “Convey from me even if it is (only) one ayah (verse).”
[Narrated by al-Bukhari]

5. Read beneficial books
Choose books that will help you understand more about Islam, purpose of this life and duties towards our creator. Anas ibn Malik said, the Messenger of Allāh ﷺ said: “Seeking knowledge is obligatory upon every Muslim.”
[Sunan Ibn Majah]

6. Visit the sick
It is one of the rights upon another Muslim to visit them when they are sick, and not only that, there are great virtues for visiting the sick as mentioned by our beloved Prophet ﷺ: “When the Muslim visits his (sick) Muslim brother, he is harvesting the fruit of paradise until he returns.” [Narrated by Muslim]. This would also enable us to be more thankful to Allāh for the good health that we have and content with the condition we are in.

7. Listen to the Qur’an frequently
Listening to the Qur’an would enable you to prefect your recitation of the Qur’an, help you revise what you memorized, and constantly remembering Allāh in your heart and mind.

8. Help others
If you see your sister in Islam going through hard circumstances, do what you can to help her. One day if you are in that same position, Allāh will bring to you someone who will help you too.

9. Smile in your sister’s face
By doing so, we are following the Prophet’s sunnah and will be rewarded for it Insha’Allah.

10. Spread the greeting of “Salam”
This should be done with those [sisters] we know or never met before. The Prophet ﷺ said: “You will not enter paradise until you believe, and you will not believe until you love one another. Shall I tell you about something which, if you do it, will make you love one another? Greet each other with Salam.”
[Muslim]

In conclusion, let’s renew our intentions and make sure we are doing all these good deeds sincerely for Allāh’s sake and following the footsteps of our beloved prophet Muhammad and his companions (May Allāh be pleased with them all).

bukan life goal tapi tanggung jawab

sebagian kita menganggap pernikahan adalah pemenuhan kebutuhan kita sebagai manusia yang memang diciptakan oleh Allah berpasang-pasangan. Di sisi yang berbeda, akhir-akhir ini bermunculan pula banyak tulisan yang bilang bahwa pernikahan bukan life goal.

Pas Siti (temen saya) ngirim dua link tulisan yang berbeda tentang pernikahan yang bukan life goal, dan @martabakkeju​ yang ngirimin saya tulisan mbak Kalis Mardiasih di mojok beserta tanggapan dari ikhwan yang ngebuat saya mengelus dada, saya jadi ngerasa perlu menulis uneg-uneg tentang posisi saya sebagai wanita dan pandangan saya tentang pernikahan. Siapa tahu kita bisa sharing.

bagi saya, pernikahan bukan life goal melainkan sebuah tanggung jawab saya sebagai seorang muslim untuk membangun keluarga dakwah yang menyalakan cahaya islam di dalam rumahnya. Maka sekalipun bukan tujuan hidup, membina keluarga dakwah mestinya dijadikan salah satu target dalam hidup yang harus kita upayakan dengan sungguh-sungguh.

saya berusaha untuk tidak memandang orang-orang yang mengingatkan saya tentang pernikahan dengan pandangan kesal:

“meskipun lo udah banyak berprestasi, kalo lo belum nikah, lo nggak dianggep apa-apa“

orang berhak menilai apapun. Tapi penilaian yang sebenarnya hanya Allah yang tahu. Taqwa itu tidak diukur dari apakah seseorang itu berkesempatan menikah atau tidak. Sayyid Qutub yang nulis Tafsir Zilal aja nggak ditakdirkan menikah, Badiuzzaman Said Nursi pun demikian.

Temen saya, Siti, yang sering banget nasehatin saya tentang nikah pernah bertanya:

“Apa orang yang mencintai ilmu itu memang punya kecenderungan malas nikah?“

Orang yang berilmu itu tahu bahwa keluarga dakwah adalah elemen penting dalam peradaban. Ibarat pilar penyangga di masjid-masjid, ibarat gunung bagi bumi.Hanya saja tidak semua orang ditakdirkan berkesempatan untuk menikah. Dan kita tentunya tidak bisa menjadikan ini sebagai justifikasi bahwa pernikahan itu tidak terlalu penting dan bisa diikhtiarkan nanti-nanti.

Sebenernya di luar sana banyak banget kok contoh keluarga dakwah yang bisa diteladani. Seperti kak Dewi Nur Aisyah dan Suami. Saya juga punya senior (mbak Ratih dan suami) yang melahirkan anak pertama di Taiwan pas S2, dan melahirkan anak kedua di Bristol pas S3. 

Apakah pernikahan akan menghalangi ikhtiar kita dalam menggapai cita-cita atau enggak, itu sebenernya bergantung pada komitmen dan kesepakatan. Kalau suami isteri sama-sama ridho dengan cita-cita masing-masing lalu berusaha mendiskusikan untuk menjalani semua bersama, insya Allah semua akan baik-baik saja. Memang nggak segampang waktu single, tapi kalo cita-cita itu ditakdirkan untuk kita, Allah yang bakal ngasih jalan.

Saya bisa woles perkara pernikahan karena yakin perkara jodoh udah ada yang ngatur. Bukan karena saya masih pengen single dan males nikah ~XD

Kalo banyak yang nanya:

“Kok lo belom nikah juga? Sibuk karir pasti?“

buat saya, nggak perlu juga ngasih argumen panjang. Senyumin aja sambil jawab:

“Insya Allah lagi ikhtiar. Doain aja“

ya meskipun dalam hati pengen banget ngebales teges “Gue udah ngelakuin a, b, c, d kenapa yang lo bahas nikah mulu sih?”, namanya manusia ya. Tapi semakin dibales, semakin banyak perkataan yang kadang bikin kita awkward ~XD

tentang tulisan mbak kalis mardiasih, saya rasa laki-laki bernalar cupet itu nggak cuman di masjid aja ~XD alias bukan akhi-akhi doang. Di luar sana, banyak laki-laki yang insecure dengan wanita bertitle. Saya awalnya nggak percaya. Tapi belakangan, saya ngerasain sendiri dan denger banyak cerita dimana kalo ada wanita ngasih masukan, langsung dibilang menggurui. Entah karena cara komunikasi wanita yang salah atau karena dari awal, si laki-laki ini denial.

di tulisan saya yang judulnya Being Woman, saya bahas tentang Al Ahzab 35 dimana setiap manusia (baik laki-laki atau perempuan) itu berhak mendapatkan sebanyak mungkin kesempatan untuk beramal shalih. Dari sini, saya mendapat pelajaran bahwa persamaan hak antara laki-laki dan perempuan memang sudah berdasarkan Al Qur’an, bukan bertolak dari riwayat wanita yang diperlakukan secara tidak adil (seperti feminisme).

pendidikan itu dapat membantu kita untuk mengenal lebih banyak variasi ladang amal. Sehingga dengan begitu, kesempatan berbuat baik akan terbuka lebar.

apakah kelak wanita yang berpendidikan tinggi akan bekerja di ruang publik ataukah memfokuskan tenaga di rumah untuk membangun keluarga dakwah, itu semua urusan pribadi yang tidak perlu diperdebatkan. Setiap orang punya reason masing-masing. Meski sampai saat ini saya masih nggak ridho kalo misal ada laki-laki yang ujug-ujug dateng dan nyuruh saya resign dari kerjaan menjadi dosen. Karena saya sekolah dibiayai negara maka menjadi dosen adalah salah satu ikhtiar saya untuk menunaikan tanggung jawab saya kepada ummat. Bukan berarti saya berpandangan bahwa wanita yang milih jadi Ibu Rumah Tangga itu nggak mau ngurus ummat….Tapi lagi-lagi hal yang kayak gini adalah urusan dalam rumah yang nggak bisa kita bentur-benturkan reasonnya sampai menghadirkan insecurities bagi masing-masing pihak. Biarlah wanita menikmati perannya masing-masing.

Dan terkait posisi wanita dalam rumah tangga….

Wanita itu memang makmum. Tapi dalam Islam, makmum itu bukan sosok yang harus nurut macam pepatah jawa “swarga nunut neraka katut”. Dalam shalat, bila imam keliru, makmum mengingatkan dengan isyarat. Dalam rumah tangga pun demikian. Kita semua adalah manusia yang kadang diuji dengan kekhilafan dan ketidakjernihan nalar. Maka masing-masing kita harus berusaha menurunkan arogansi. Jangan sampai setiap masukan dianggap menggurui. Wanita diwajibkan berilmu bukan hanya demi anak tetapi juga demi suami. Betapa utuhnya seorang wanita ketika ia mampu mendidik anaknya dengan baik dan mampu mensupport suaminya untuk memperjuangkan kebenaran tanpa rasa khawatir karena si wanita ini bisa diandalkan dalam banyak hal, bisa meluruskan suaminya ketika salah, bisa membantu suaminya ketika kesulitan.

Rasulullah SAW adalah laki-laki paling shalih di muka bumi. Beliau juga memberikan kita teladan betapa beliau membuka ruang yang besar bagi bunda Khadijah AS untuk memberikan tenaga, pikiran, harta dan semuanya untuk mensupport dakwah. 

Tantangan dakwah ini banyak. Saya hanya berharap kelak nggak banyak wanita karir atau wanita yang punya amanah di lingkungan akademik menjadi gamang dengan posisi dan perjuangannya hanya karena pembicaraan-pembicaraan kita tentang rumah tangga yang sekenanya sehingga menjauhkan ummat dari pemahaman yang luhur dan utuh tentang sebuah pernikahan.

ingat,

nikah itu tanggung jawab kita pada peradaban, bukan sekedar short cut untuk menghentikan pertanyaan:

“Kapan nikah? :p“

Saya suka dan merupakan salah satu paporit saya karena menurut saya Dr Zakir Naik itu cerdas… Semoga Allah selalu menjaga Beliau dan keluarganya

Dr Zakir Naik mengungkapkan bahwa jumlah misionaris saat ini mencapai satu juta orang.
Di antara mereka, ada yang tugasnya berkeliling untuk mendangkalkan aqidah umat Islam.

Salah satu caranya, memulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

Pertanyaan Pertama

“Apakah dijelaskan dalam Al Quran bahwa Injil adalah firman Tuhan?”

Biasanya muslim yang ditanya demikian akan langsung menjawab, “Ya, disebutkan”

“Kalau begitu mengapa engkau tidak mengikuti Injil?”

Pertanyaan Kedua

“Berapa banyak nama Nabimu (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tahu akan menjawab, “Lima kali. Empat kali dengan nama Muhammad dan satu kali dengan nama Ahmad”

“Berapa banyak nama Yesus Kristus (Isa ‘alaihi salam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tidak tahu, akan diberitahu oleh misionaris yang mempelajari Al Quran itu.
Bahwa Isa disebutkan 25 kali.

“Mana yang lebih besar, Muhammad yang disebutkan lima kali atau Yesus yang disebutkan 25 kali dalam Al Quran?” demikian pertanyaan misionaris berikutnya.

Pertanyaan Ketiga

“Apakah Nabi Muhammad punya ayah dan punya ibu?”

“Ya”

“Apakah Isa (Yesus) dilahirkan dengan ibu dan ayah?”

“Isa memiliki ibu tetapi tidak memiliki ayah”

“Mana yang lebih hebat, orang yang dilahirkan dengan cara biasa dengan adanya ibu dan ayah atau yang terlahir tanpa ayah?”

Pertanyaan Keempat

“Apakah Nabi Muhammad memiliki mukjizat?”

“Ya”“Apakah Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati?”

“Tidak” (Karena dalam Al Quran dan hadits tidak disebutkan mukjizat itu)

“Apakah Isa bisa menghidupkan orang mati?”

“Ya” (salah satu mukjizat Nabi Isa, dengan izin Allah, bisa menghidupkan orang mati)

“Mana yang lebih hebat, yang tidak bisa menghidupkan orang mati atau yang bisa menghidupkan orang mati?”

Pertanyaan kelima

“Apakah Nabimu Muhammad sekarang secara fisik meninggal atau hidup?”

“Meninggal”

“Apakah Yesus (Isa) sekarang meninggal atau masih hidup?”

“Masih hidup” “Mana yang lebih hebat, yang sudah meninggal atau yang masih hidup hingga sekarang?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat banyak muslim yang tidak memahami Al Quran menjadi bingung.
Namun, sebenarnya semuanya hanya pertanyaan licik misionaris. Jawabannya sudah ada dalam Al Quran.

Jawaban atas Pertanyaan Misionaris (1)

Di antara cara untuk mendangkalkan aqidah, bahkan sampai memurtadkan, misionaris menggunakan sejumlah pertanyaan.

Dr Zakir Naik membeberkan lima pertanyaan utama yang biasa dipakai para misionaris.
Berikut ini pertanyaan tersebut dan jawabannya:

Pertanyaan Pertama

“Apakah dijelaskan dalam Al Quran bahwa Injil adalah firman Tuhan?”

Biasanya muslim yang ditanya demikian akan langsung menjawab, “Ya, disebutkan”

“Kalau begitu mengapa engkau tidak mengikuti Injil?”

Jawaban atas Pertanyaan Pertama

Al Quran memang mengatakan Injil adalah kitab Allah sebagaimana Taurat juga kitab Allah.
Al Quran membenarkan keduanya, sebagaimana tercantum dalam Surat Ali Imran ayat 3.

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

“Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil”
(QS. Ali Imran: 3)

Jadi Injil dibenarkan Al Quran sebagai kitab yang telah diturunkan sebelumnya.
Bukan berarti harus diikuti, sebagaimana Taurat juga dibenarkan sebagai kitab yang telah diturunkan sebelumnya tetapi tidak untuk diikuti.
Bahkan seharusnya, orang yang percaya pada Taurat dan Injil, mereka mengikuti Al Quran sebagaimana orang yang berpegang pada sesuatu akan mengikuti update terbaru dari sesuatu itu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آَمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

“Hai orang-orang yang telah diberi Alkitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan kitab yang ada pada kamu…”
(QS. An Nisa’: 47)

Selain itu, Injil yang dibenarkan Al Quran adalah Injil yang otentik.
Injil pada zaman Nabi Isa sebelum diubah oleh para pemalsu.
Adapun Injil yang ada sekarang, telah beberapa kali mengalami perubahan, misalnya pada Persidangan Nicea pada tahun 325 M.
Pada tahun 1881 dirilis Injil King James Version (KJV) yang merevisi beberapa hal yang dianggap bertentangan.
Pada tahun 1952 dirilis Revised Standard Version (RSV) atas dasar ditemukannya beberapa cacat pada KJV.

Pertanyaan Kedua

“Berapa banyak nama Nabimu (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tahu akan menjawab, “Lima kali.
Empat kali dengan nama Muhammad dan satu kali dengan nama Ahmad”

“Berapa banyak nama Yesus Kristus (Isa ‘alaihi salam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tidak tahu, akan diberitahu oleh misionaris yang mempelajari Al Quran itu.
Bahwa Isa disebutkan 25 kali.

“Mana yang lebih besar, Muhammad yang disebutkan lima kali atau Yesus yang disebutkan 25 kali dalam Al Quran?” demikian pertanyaan misionaris berikutnya.

Jawaban atas Pertanyaan Kedua

Nabi Isa ‘alaihis salam memang disebutkan dalam Al Quran lebih banyak daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Namun, penyebutan yang lebih banyak itu tidak menunjukkan siapa yang lebih besar atau lebih agung.

Nabi Musa, bahkan disebutkan lebih banyak lagi.
Nama Nabi Musa disebutkan sebanyak 124 kali dalam Al Quran.
Di Surat Al Baqarah 13 kali,
di Surat Ali Imran 1 kali,
di Surat An Nisa’ 2 kali,
di Surat Al Maidah 3 kali,
di Surat Al An’am 2 kali,
di Surat Al A’raf 18 kali,
di Surat Yusuf 7 kali,
di Surat Hud 3 kali,
di Surat Ibrahim 3 kali,
di Surat Al Isra’ 2 kali,
di Surat Al Kahfi 2 kali,
di Surat Maryam 1 kali,
di Surat Thaha 16 kali,
di Surat AL Anbiya’ 1 kali,
di Surat Al Hajj 1 kali,
di Surat Al MU’minun 2 kali,
di Surat Asy Syu’ara’ 8 kali,
di Surat An Naml 3 kali,
di Surat Al Qashash 17 kali,
di Surat AL Ankabut 1 kali,
di Surat As Sajdah 1 kali,
di Surat Al Ahzab 1 kali,
di Surat Ash Shafat 2 kali,
di Surat Ghafir 5 kali,
di Surat Fushilat 1 kali,
di Surat Az Zukhruf 1 kali,
di Surat AL Ahqaf 2 kali,
di Surat Adz Dzariyat 1 kali,
di Surat An Najm 1 kali,
di Surat Ash Shaf 1 kali, dan
di Surat An Naziat 1 kali.

Nah, jika karena disebutkan lebih banyak dalam Al Quran kemudian otomatis lebih agung, apakah orang-orang Nasrani mau mengakui bahwa Nabi Musa lebih agung daripada Nabi Isa?

Bahkan, jika karena disebutkan lebih banyak dalam Al Quran kemudian dianggap menjadi Tuhan, apakah orang-orang Nasrani mau mengakui bahwa Musa adalah Tuhan?

Satu hal lagi, Al Quran hampir selalu menyebut Nabi Isa lengkap dengan bin Maryam.
Hanya 4 kali nama Nabi Isa disebut sendirian tanpa bin Maryam yaitu pada Surat Ali Imran ayat 52,
Ali Imran ayat 55,
Ali Imran ayat 59, dan
Az Zukhruf ayat 63.

Selebihnya selalu disebut Isa bin Maryam.
Untuk menegaskan bahwa Isa adalah anak Maryam, bukan anak Tuhan sebagaimana klaim kaum Nasrani.

Pertanyaan Ketiga

“Apakah Nabi Muhammad punya ayah dan punya ibu?”

“Ya”

“Apakah Isa (Yesus) dilahirkan dengan ibu dan ayah?”

“Isa memiliki ibu tetapi tidak memiliki ayah”

“Mana yang lebih hebat, orang yang dilahirkan dengan cara biasa dengan adanya ibu dan ayah atau yang terlahir tanpa ayah?”

Jawaban atas Pertanyaan Ketiga

Nabi Isa memang tidak memiliki ayah. Namun, bukan berarti lebih hebat daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Apalagi jika kemudian dijadikan tuhan, sama sekali keliru.

Sekarang saya tanya, mana yang lebih hebat, Isa yang lahir tanpa ayah atau Adam yang tanpa ayah dan tanpa ibu? Jika Isa lahir tanpa ayah kemudian dijadikan tuhan, seharusnya Adam lebih berhak untuk dijadikan tuhan karena tidak memiliki ayah dan tidak memiliki ibu.

Al Quran menjelaskan penciptaan Isa dan Adam sebagai berikut:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آَدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya misal (penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam.
Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seoang manusia), maka jadilah ia”
(QS. Ali Imran: 59)

Karena lahir tanpa ayah, orang Kristen juga menyebut Yesus anak Tuhan. Dalam Yohanes 6:67-69, Yesus disebut anak tuhan oleh Petrus. Karena disebut anak tuhan, lantas dituhankan.
Padahal ada banyak orang yang disebut “anak Tuhan” dalam Injil. Adam adalah anak Tuhan,
Efraim adalah anak Tuhan,
Ezra adalah anak Tuhan.
Semua orang yang dituntun Tuhan adalah anak-anak Tuhan.
Jadi anak Tuhan adalah kata yang digunakan dalam Injil yang artinya seseorang yang mengikuti ajaran Tuhan.
Jika orang Kristen masih ngotot menjadikan Yesus sebagai Tuhan, carilah di Injil pernyataan Yesus yang mengatakan “Akulah Tuhan” atau “Sembahlah aku.”
Niscaya tidak akan pernah ketemu.

Pertanyaan Keempat

“Apakah Nabi Muhammad memiliki mukjizat?”

“Ya”

“Apakah Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati?”

“Tidak” (Karena dalam Al Quran dan hadits tidak disebutkan mukjizat itu)

“Apakah Isa bisa menghidupkan orang mati?”

“Ya” (salah satu mukjizat Nabi Isa, dengan izin Allah, bisa menghidupkan orang mati)

“Mana yang lebih hebat, yang tidak bisa menghidupkan orang mati atau yang bisa menghidupkan orang mati?”

Jawaban atas Pertanyaan Keempat

Salah satu mukjizat Nabi Isa ‘alaihis salam adalah menghidupkan orang mati.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآَيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (dia Isa berkata), "Aku datang kepadamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah.
Dan aku menyembuhkan orang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta.
Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritakan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman.”
(QS. Ali Imran: 49)

Namun ingat, yang menghidupkan orang mati itu adalah Allah.
Nabi Isa mengakuinya sendiri.
Demikian pula dalam Injil, Yesus mengakui bahwa yang menghidupkan orang mati adalah Allah.
Bukan dirinya.

Sahabatku Lazarus mati, maka kembalikanlah ruh kepadanya Tuhan “. Allah memperkenankan doanya dan berfirman, “Mintalah, sesungguhnya engkau akan memperoleh apa yang engkau minta”.
Ketika Yesus menyeru Lazarus agar keluar kepadanya, ia berkata, “Bapa, Aku mengucap syukur kepadamu, karena engkau telah mendengarkan aku.
Aku tahu, bahwa engkau selalu mendengarkan aku”
(Yohanes 11: 41-42)

Lalu besar mana mukjizat Nabi Isa dengan mukjizat Nabi Muhammad? Jika dikatakan bahwa menghidupkan orang mati adalah mukjizat terbesar Nabi Isa, ternyata dalam Injil disebutkan ada lima orang yang bisa menghidupkan orang mati.
Selain Nabi Isa (Yesus), mereka adalah Nabi Ilyas (Elia),
Nabi Ilyasa (Elisa),
Yehezkiel (seorang nabi di kalangan Nabi Israel menurut Injil), dan
Petrus.

Apakah dengan begitu, mereka semua juga dianggap sebagai Tuhan karena menurut Injil bisa menghidupkan orang mati?
Sungguh lucu.

Nah, berbeda dengan Nabi-Nabi sebelumnya yang mukjizatnya kadang serupa dengan Nabi yang lain, Rasulullah Muhammad memiliki banyak mukjizat dan yang terbesar adalah Al Qur’an.
Jika mukjizat yang lain sudah tidak bisa dilihat lagi bekasnya, Al Quran tetap ada hingga hari kiamat.

Dan Al Quran sendiri menantang siapapun di dunia ini untuk menandinginya, dan hingga saat ini tidak ada yang bisa menerima tantangan ini.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakar nya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir.”
(QS. Al Baqarah: 23-24)

Anda berani menerima tantangan ini, Pak Misionaris?

Pertanyaan Kelima

“Apakah Nabimu Muhammad sekarang secara fisik meninggal atau hidup?”

“Meninggal”

“Apakah Yesus (Isa) sekarang meninggal atau masih hidup?”

“Masih hidup”

“Mana yang lebih hebat, yang sudah meninggal atau yang masih hidup hingga sekarang?”

Jawaban atas Pertanyaan Kelima

Pertanyaan ini justru akan meruntuhkan doktrin terbesar Kristen.

Dalam Al Quran memang dinyatakan bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam tidak disalib.
Yang disalib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa.

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu.
Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
(QS. An Nisa’: 157)

Jika orang Kristen mengatakan Yesus masih hidup, berarti yang disalib bukan Yesus.
Sama seperti firman Allah dalam Al Quran tersebut.
Namun jika Yesus tidak mati disalib, tidak ada konsep penebusan dosa sebagaimana yang dijadikan pijakan gereja saat ini.
Jadi Anda meyakini yang mana?
Yesus masih hidup karena tidak disalib atau Yesus mati disalib?
Anda pasti akan bingung sendiri.

Adapun pertanyaan siapa yang lebih hebat, orang yang meninggal atau orang yang masih hidup, bukanlah pertanyaan yang tepat.
Anda masih hidup, Nabi Musa telah meninggal.
Siapa yang lebih hebat?

Khusus untuk Nabi Isa yang diangkat Allah dan nanti akan diturunkan menjelang hari kiamat, itu bukanlah kehebatan Nabi Isa atas Nabi Muhammad namun semata-mata atas kehendak Allah dalam rangka menegaskan kesalahan orang-orang yang menganggapnya sebagai Tuhan.

لَيْسَ بَيْنِى وَبَيْنَهُ نَبِىٌّ – يَعْنِى عِيسَى – وَإِنَّهُ نَازِلٌ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَاعْرِفُوهُ رَجُلٌ مَرْبُوعٌ إِلَى الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ بَيْنَ مُمَصَّرَتَيْنِ كَأَنَّ رَأْسَهُ يَقْطُرُ وَإِنْ لَمْ يُصِبْهُ بَلَلٌ فَيُقَاتِلُ النَّاسَ عَلَى الإِسْلاَمِ فَيَدُقُّ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ

“Tidak ada nabi (yang hidup) antara masaku dan Isa.
Sungguh, kelak ia akan turun, jika kalian melihatnya maka kenalilah.
Ia adalah seorang laki-laki yang sedang (tidak tinggi dan tidak terlalu pendek), berkulit merah keputih-putihan, beliau memakai di antara dua kain berwarna sedikit kuning.
Seakan rambut kepala beliau menetes meski tidak basah.
Beliau akan memerangi manusia hingga mereka masuk ke dalam Islam, beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi dan menghapus jizyah”
(HR. Abu Daud; shahih)

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

He is Full of Mercy (Raheem) for the believers.

— Surah Al-Ahzab [33:43]

Menjadi (Sebaik-Baik) Perempuan

Pekan lalu, saya mendapat sebuah notifikasi dari Tumblr. Ternyata, Kak @choqi-isyraqi memention nama saya untuk ikut menjawab ask yang ditujukan kepadanya, yang berisi pertanyaan tentang bagaimana langkah awal untuk menjadi sebaik-baik perempuan, terlebih di hadapan-Nya. Hmm, nah lho! Pertanyaannya agak berat gimanaaa gitu, ya. Tapi pertanyaan ini memang perlu dibahas dan diangkat ke permukaan agar saya, kamu, dan kita semua bisa sama-sama belajar. Bismillah, saya jawab, ya!

Sebelum jauh ke pembahasan tentang langkah awal untuk menjadi sebaik-baik perempuan, kita perlu menarik mundur konsep ini dengan kembali ingat bahwa semua manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan, adalah hamba Allah. Ya, kita semua adalah hamba yang tentu harus berperan dan berperilaku selayaknya hamba terhadap Penciptanya. Dengan mengingat ini, pembahasan tentang menjadi perempuan tentu tetap ada dalam kerangka siapa kita di hadapan Allah. Nah, kalau begitu, langkah awal untuk menjadi sebaik-baik perempuan di hadapan-Nya tentu dilakukan dengan terlebih dahulu memahami fungsi dan peran kita sebagai manusia.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi’. Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirma, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” – (Q.S Al-Baqarah : 30)

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh, sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan; dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” – (Q.S Al-Ahzab : 72-73)

Selanjutnya, hidup sebagai perempuan berarti mempersiapkan diri untuk menjalani tiga peran utama di kehidupan. Nah lho! Apa saja? Pertama, menjadi mujahidah atau pejuang untuk kebermanfaatan saat masih sendiri. Kedua, menjadi istri shalehah yang mendukung suami kelak ketika sudah menikah. Ketiga, menjadi ibu yang amanah ketika mengurus anak-anak dan mengelola rumah tangga. Untuk bisa menjalani ketiga peran itu dengan baik, seorang perempuan tentu harus dekat dengan Allah, menggenggam keimanan dalam hatinya, cerdas dan bijaksana dalam berpikir, tidak malas, memiliki fisik yang kuat, serta tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Saat tingkat akhir lalu guru saya pernah berpesan, katanya, “Nov, untuk menjadi perempuan yang amanah di pekerjaan, menjadi isteri yang shalihah, menjadi ibu panutan, menjadi apapun, semua selalu dimulai dengan memperbaiki sikapmu terhadap Allah dan juga memperbaiki bagaimana hubunganmu dengan-Nya. Karena, dengan memperbaiki kedua hal itu, hal lain di luar itu lambat laun akan membaik dengan sendirinya.” Sepakat? Sepakat dong, ya! Oke, kita lanjutkan lagi, yaa …

Bagaimana pun, menjadi perempuan adalah peran yang penuh dengan kemuliaan. Dari hati seorang perempuan dapat terlahir kasih sayang dan kebaikan. Dari pikir seorang perempuan dapat terlahir konsepsi-konsepsi untuk mengubah peradaban. Dari perilaku seorang perempuan dapat terlahir kepercayaan. Dari rahim seorang perempuan dapat terlahir generasi pejuang, pengubah dunia dan pengantar ke syurga. Untuk itu, perempuan harus cerdas dalam menjaga diri, mengelola perasaan, menyederhanakan kerumitan dan berinteraksi dalam batas aturan Tuhan.

Menjalani hidup sebagai seorang perempuan, terutama dengan melihat bagaimana kerasnya tantangan hidup di zaman sekarang memang susah-susah gampang, gampang-gampang susah. Yup, menjalani kehidupan sebagai seorang perempuan boleh jadi adalah peran yang paling rumit sekaligus paling menyenangkan. Tapi, selama kita menjalaninya dalam koridor taat, lambat laun kita akan paham betapa bahagianya dan mulianya kita sebagai seorang perempuan.

Oh iya, ini ada penyemangat, langsung dari Allah dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. – (Q.S Al – Ahzab (33) : 35)

Sebab sebaik-baik perempuan adalah ia yang mengupayakan ketaatan, maka janganlah sampai imanmu lepas dari genggaman. Selamat menjadi perempuan, selamat menjalani peran! Saling mendoakan yaa, semoga Allah senantiasa memampukan. Baarakallahu fiikum ;)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّـهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

It is not for a believer, man or woman, when Allāh and His Messenger [ﷺ] have decreed a matter that they should have any option in their decision. And whoever disobeys Allāh and His Messenger [ﷺ], he has indeed strayed in a plain error.

(Sūrah Al-Ahzāb, 33:36)

being woman part 1

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

(QS Al Ahzab: 35)


Bulan lalu pas perjalanan ke Jogja, gue baca artikel tentang woman in STEM dan menyimpulkan bahwa sebagian dari kita membuat ukuran tentang seberapa wanita diperlakukan dengan adil dalam peradaban kita hari ini dengan menghitung berapa banyak wanita yang berperan di ruang publik. Sementara sebagian yang lain dengan ekstrim menentang pandangan tersebut dengan dalih bahwa wanita tidak selayaknya dieksploitasi. Wanita seharusnya di rumah, merawat anak, etc…etc…

Pas baca berita tersebut, gue ingat Al Ahzab ayat 35 dan hadits Khairunnaas ‘anfa’uhum lin naas. 

Tulisan ini subjektif banget sebenernya. Cuman uneg-uneg aja dari gue sebagai wanita yang bekerja di bidang STEM dan nggak suka memandang zaman dengan sudut pandang yang traumatis.

cita-cita tertinggi gue sebagai manusia adalah menjadi yang terbaik dengan mengerahkan segala potensi yang gue punya untuk mengabdi. Itu yang diajarkan Rasulullah melalui hadits Khairunnaas ‘anfa’uhum lin naas.

Islam tidak mengajarkan kita dengan pandangan yang traumatis tentang penindasan wanita. Ada kutipan menarik dari @borntobemuslim​ yang bikin gue senyum-senyum sendiri:

“‎Prophet Muhammad ﷺ married a women older, richer and more successful than him. This is the biggest nightmare for most Muslim men now.

setiap orang berhak memilih sudut pandangnya masing-masing. Tapi kisah pernikahan Rasulullah dan Khadijah ngasih gue banyak pembelajaran tentang ladang amal. Betapa Khadijah mendukung dakwah dengan tenaga, pikiran dan harta. Sampai pada suatu titik gue pernah bercita-cita untuk memilih menjadi seperti beliau.

Sementara hari ini, gue sering banget dapat nasihat:

“Jangan belajar mulu, nanti yang laki-laki takut ngelamar“

Padahal gue faham bahwa gue belajar agama bukan untuk menjadi fasih menceramahi orang. Gue belajar ilmu komputer juga bukan buat pamer ijazah lantas milih-milih pergaulan dimana orang yang nggak punya ijazah S2, gue anggep nggak level. Hey, even gusti Allah pun nggak memandang manusia dari ijazah.

Manusia itu dinilai dari manfaatnya. Percuma bila dia punya ijazah tinggi, duit banyak, badan yang fit tapi nggak bisa ngasih apapun buat ummat.

Dulu, ketika kecil, idola gue adalah Aisyah binti Abu Bakar. Beliau adalah wanita yang sangat berilmu dan memberi manfaat kepada ummat dengan ilmu beliau. Pas gue baca kisah tentang Khadijah, gue pun begitu ingin seperti beliau yang punya kedudukan, harta, keteguhan dan semuanya lalu semua itu diberikan kepada ummat. Betapa indah bila kita dititipi begitu banyak kebaikan oleh Allah lantas semua bisa kita berikan kepada ummat.

Aisyah memliki ilmu maka yang beliau berikan adalah ilmu. Khadijah memiliki harta, keteguhan dan kedudukan, hal tersebut yang beliau berikan kepada ummat. Inilah cinta yang tak sekedar kata. 

Maka buat gue, penilaian yang adil tentang bagaimana penghargaan sebuah peradaban kepada wanita bukan sekedar dengan menghitung berapa banyak wanita yang bekerja di ruang publik. Peradaban yang baik adalah peradaban yang membuka ruang seluas mungkin bagi setiap orang (baik itu laki-laki ataupun perempuan) untuk mengoptimalkan potensi dan memberikan semuanya untuk membangun ummat tanpa takut keluarganya nggak makan, anaknya nggak terurus etc…etc….

Sehingga setiap orang dalam peradaban tersebut punya kesempatan menjadi khairunnaas ‘anfauhum linnaas seperti dalam hadits dan dalam surat al ahzab ayat 35.

Assalamu'alaikum wr wb.

*100 Perintah Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Al Qur’an untuk kehidupan manusia sehari-hari:*

1. Jangan berkata kasar (QS 3 – Ali Imran : 159)

2. Tahanlah amarah (QS 3 – Ali Imran : 134)

3. Berbaiklah kepada orang lain (QS 4 – An Nisaa’ : 36)

4. Jangan sombong dan arogan (QS 7 – Al A’raaf : 13)

5. Maafkanlah kesalahan orang lain (QS 7 – Al A’raaf : 199)

6. Berbicaralah dengan nada halus (QS 20 – Thaahaa : 44)

7. Rendahkanlah suaramu (QS 31 - Luqman : 19)

8. Jangan mengejek orang lain (QS 49 – Al Hujuraat : 11)

9. Berbaktilah pada orang tua (QS 17 – Al Israa’ : 23)

10. Jangan mengeluarkan kata yang tidak menghormati orang tua (QS 17 – Al Israa’ : 23)

11. Jangan memasuki kamar pribadi orang tua tanpa ijin (QS 24 – An Nuur : 58)

12. Catatlah hutang-hutangmu (QS 2 – Al Baqarah : 282)

13. Jangan mengikuti orang secara membabi buta (QS 2 – Al Baqarah : 170)

14. Berikanlah perpanjangan waktu bila orang yang berhutang kepadamu dalam kesulitan (QS 2 – Al Baqarah : 280)

15. Jangan makan riba’/membungakan uang (QS 2 – Al Baqarah : l

16. Jangan melakukan penyuapan (QS 2 – Al Baqarah : 188)

17. Jangan ingkar atau melanggar janji (QS 2 – Al Baqarah : 177)

18. Jagalah kepercayaan orang lain kepadamu (QS 2 – Al Baqarah : 283)

19. Jangan campur adukan kebenaran dengan kebohongan (QS 2 – Al Baqarah : 42)

20. Berlakulah adil terhadap semua orang (QS 4 – An Nisaa’ : 58)

21. Tegakkanlah keadilan dengan tegas (QS 4 – An Nisaa’ : 135)

22. Harta yang meninggal harus dibagikan kepada anggota keluarga (QS 4 – An Nisaa’ : 7)

23. Wanita memiliki hak waris (QS 4 – An Nisaa’ : 7)

24. Jangan memakan harta para anak yatim (QS 4 – An Nisaa’ : 10)

25. Lindungi anak yatim (QS 2 – Al Baqarah : 220)

26. Jangan memboroskan harta dengan semena-mena (QS 4 – An Nisaa’ : 29)

27. Damaikanlah orang yang berselisih (QS 49 – Al Hujuraat : 9)

28. Hindari prasangka buruk (QS 49 – Al Hujuraat : 12)

29. Jangan memata-matai atau memfitnah orang (QS 2 – Al Baqarah : 283)

30. Jangan memata-matai atau memfitnah orang (QS 49 – Al Hujuraat : 12)

31. Gunakan harta untuk kegiatan sosial (QS 57 – Al Hadid : 7)

32. Biasakan memberi makan orang miskin (QS 107 – Al Maa’uun : 3)

33. Bantulah orang fakir yang berada di jalan Allah (QS 2 – Al Baqarah : 273)

34. Jangan menghabiskan uang untuk bermegah-megah (QS 17 – Al Israa’ : 29)

35. Jangan menyebut-nyebut tentang sedekahmu (QS 2 – Al Baqarah : 264)

36. Hormatilah tamu anda (QS 51 – Adz Dzaariyaat : 26)

37. Perintahkan kebajikan setelah kita melakukannya sendiri (QS 2 – Al Baqarah : 44)

38. Jangan berbuat kerusakan di muka bumi (QS 2 – Al Baqarah : 60)

39. Jangan menghalangi orang datang ke masjid (QS 2 – Al Baqarah : 114)

40. Perangilah mereka yang memerangi mu (QS 2 – Al Baqarah : 190)

41. Jagalah etika perang (QS 2 – Al Baqarah : 191)

42. Jangan lari dari peperangan (QS 8 – Al Anfaal : 15)

43. Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam) (QS 2 – Al Baqarah : 256)

44. Berimanlah kepada para Nabi (QS 2 – Al Baqarah : 285)

45. Jangan melakukan hubungan badan saat haid (QS 2 – Al Baqarah : 222)

46. Susuilah anak-anakmu selama dua tahun penuh (QS 2 – Al Baqarah : 233)

47. Jauhilah hubungan badan diluar nikah (QS 17 – Al Israa’ : 32)

48. Choose rulers by their merit Pilihlah pemimpin berdasarkan ilmu dan jasanya (QS 2 – Al Baqarah : 247)

49. Jangan membebani orang di luar kesanggupannya (QS 2 – Al Baqarah : 286)

50. Jangan mau dipecah belah (QS 3 – Ali Imran : 103)

51. Renungkanlah keajaiban dan penciptaan alam semesta ini (QS 3 – Ali Imran 3 :191)

52. Lelaki maupun wanita mendapat imbalan yang sama sesuai perbuatannya (QS 3 – Ali Imran : 195)

53. Jangan menikahi mereka yang sedarah denganmu (QS 4 – An Nisaa’ : 23)

54. Keluarga harus di-imami oleh seorang laki-laki (QS 4 – An Nisaa’ : 34)

55. Jangan pelit (QS 4 – An Nisaa’ : 37)

56. Jangan iri hati (QS 4 – An Nisaa’ : 54)

57. Jangan saling membunuh (QS 4 – An Nisaa’ : 92)

58. Jangan membela ketidak jujuran atau kebohongan (QS 4 – An Nisaa’ : 105)

59. Jangan bekerja-sama dalam dosa dan kekerasan (QS 5 – Al Maa-idah : 2)

60. Bekerja samalah dalam kebenaran (QS 5 – Al Maa-idah : 2)

61. Mayoritas bukanlah merupakan kriteria kebenaran (QS 6 – Al An’aam : 116)

62. Berlaku adil (QS 5 – Al Maa-idah:8)

63. Berikan hukuman untuk setiap kejahatan (QS 5 – Al Maa-idah : 38)
64. Berjuanglah melawan perbuatan dosa dan melanggar hukum (QS 5 – Al Maa-idah : 63)

65. Dilarang memakan binatang mati, darah dan daging babi (QS 5 – Al Maa-idah : 3)

66. Hindari minum racun dan alkohol (QS 5 – Al Maa-idah : 90)

67. Jangan berjudi (QS 5 – Al Maa-idah : 90)

68. Jangan menghina keyakinan atau agama orang lain (QS 6 – Al An’aam : 108)

69. Jangan mengurangi timbangan untuk menipu (QS 6 – Al An’aam : 152)

70. Makan dan minumlah secukupnya (QS 7 – Al A’raaf : 31)

71. Kenakanlah pakaian yang bagus saat shalat (QS 7 – Al A’raaf : 31)

72. Lindungi dan bantulah mereka yang meminta perlindungan (QS 9 – At Taubah:6)

73. Jagalah kemurnian (QS 9 – At Taubah : 108)

74. Jangan pernah putus asa akan pertolongan Allah (QS 12 – Yusuf : 87)

75. Allah mengampuni orang yang berbuat dosa karena ketidak-tahuan (QS 16 – An Nahl : 119)

76. Berseru kepada jalan Allah dengan cara yang baik dan bijaksana (QS 16 – An Nahl : 125)

77. Tidak ada seorangpun yang menanggung dosa orang lain (QS 17 – Al Israa’ : 15)

78. Jangan membunuh anak-anakmu karena takut akan kemiskinan (QS 17 – Al Israa’ : 31)

79. Jangan mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki pengtahuan tentangnya (QS 17 – Al Israa’ : 36)

80. Jauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat (QS 23 – Al Mu’minuun : 3)

81. Jangan memasuki rumah orang lain tanpa ijin pemilik rumah (QS 24 – An Nuur : 27)

82. Allah menjamin imbalan kebaikan hanya kepada mereka yang percaya kepada Allah (QS 24 – An Nuur : 55)

83. Berjalanlah di muka bumi dengan rendah hati (QS 25 – Al Furqaan : 63)

84. Jangan melupakan kenikmatan dunia yang telah Allah berikan (QS 28 – Al Qashash : 77)

85. Jangan menyembah Tuhan selain Allah (QS 28 – Al Qashash:88)

86. Jangan terlibat dalam homosexualitas (QS 29 – Al ‘Ankabuut : 29)

87. Berbuat baik dan cegahlah perbuatan munkar (QS31 Luqman17)

88. Janganlah berjalan di muka bumi dgn sombong (QS31:Luqman: 18)

89. Wanita dilarang memamerkan diri (QS 33 – Al Ahzab : 33)

90. Allah mengampuni semua dosa-dosa kita (QS 39 – Az Zumar : 53)

91. Jangan berputus asa akan ampunan Allah (QS 39 – Az Zumar : 53)

92. Balaslah kejahatan dengan kebaikan (QS 41 – Fushshilat : 34)

93. Selesaikan pesoalan dengan bermusyawarah (QS 42 – Asy Syuura : 38)

94. Orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang bertaqwa (QS 49 – Al Hujuraat : 13)

95. Tidak ada dikenal biara dalam agama (Islam) (QS 57 – Al Hadid : 27)

96. Allah akan meninggikan derajat mereka yang berilmu (QS 58 – Al Mujaadilah : 11)

97. Perlakukan non-Muslim dengan baik dan adil (QS 60 - Al Mumtahanah : 8)

98. Hindari diri dari kekikiran (QS 64 – At Taghaabun : 16)

99. Mohon ampunan kepada Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 73 – Al Muzzammil : 20)

100. Jangan menghardik orang yang meminta-minta (QS 93 – Adh Dhuhaa : 10)

Shadaqallahul adzim, Maha Benar Allah dengan segala FirmanNya
🙏🙏🙏

Indeed, the Muslim men and Muslim women, the believing men and believing women, the obedient men and obedient women, the truthful men and truthful women, the patient men and patient women, the humble men and humble women, the charitable men and charitable women, the fasting men and fasting women, the men who guard their private parts and the women who do so, and the men who remember Allah often and the women who do so - for them Allah has prepared forgiveness and a great reward.

Pertanyaan Tentang Perempuan

Pertama, apakah benar islam mengajarkan untuk memberikan tanggung jawab urusan domestik hanya kepada perempuan sehingga ketika perempuan ingin berperan di ranah publik, harus ada embel-embel yang penting urusan dalam rumah selesai?

Kedua, apakah jika perempuan dipandang terlalu berbahaya bila ke luar rumah, penyelesaian paling baik yang diberikan oleh Islam adalah dengan memberikan perempuan peran di ranah domestik saja? Tidak adakah opsi penyelesaian lain yang bisa diberikan oleh Islam atas isu ini?

Ketiga, apakah benar mendidik anak adalah tanggung jawab ibu? Mengingat dalam Al Qur’an yang justeru banyak kita jumpai adalah kisah tentang ayah yang mendidik anaknya. Dan ketika ada seorang gadis tidak menutup aurat dengan benar, yang dimintai tanggung jawab adalah sang ayah?

Keempat, apakah setelah menikah dengan Khadijah R.A, Rasulullah menyuruh Khadijah R.A berhenti berwirausaha?

Kelima, apakah Islam mengatur urusan poligami dengan tujuan untuk ‘menyuruh’ laki-laki agar terbiasa dengan budaya poligami? Atau justeru untuk membatasi laki-laki agar tidak sembarangan menikah? Mengingat di zaman sebelum islam datang, poligami dilakukan dengan tidak terbatas?

tentunya pertanyaan ini bukan untuk menuntut sesuatu ato yang nulis pertanyaan ingin lepas dari kewajiban mendidik anak?

ini sebenernya cuman rangkuman pertanyaan di ask yang belum berani saya jawab. Bagi saya, isu tentang perempuan itu tidak mudah didiskusikan. Mengingat di antara kita ada begitu banyak pendapat yang beda.

Lagipula, tiap kali berdiskusi dengan teman terkait perempuan, saya sering dapat peringatan kalau pandangan saya masih terlalu western. Plus saya sendiri takut kalau saya ngebahas tentang perempuan, batas antara ambisi saya dengan apa yang bener-bener saya pelajari menjadi tidak jelas di sana.

Sedikit yang berani saya bagikan adalah:

Dalam empat madzhab populer fiqih, kewajiban isteri adalah memberikan nafkah batin kepada suami. Di lingkungan pesantren zaman dulu, yang saya tahu, isteri kyai memang hanya berada di ndalem. Tapi semua urusan seperti mencuci, mengasuh anak, dst…dst…diserahkan kepada khadimat. Sementara isteri kyai lebih sibuk memberikan pengajaran kepada santriwati dari pagi sampai malam.

Saya menganggap ini peran di ranah publik meskipun isteri berdiam diri di dalam rumah.

Tentang nafkah berupa nafkah lahir dari suami untuk isteri, suami bahkan diperintahkan untuk memberikan makanan dalam keadaan matang. Dan apabila suami membawa pulang makanan yang masih mentah lalu isteri tidak berkenan untuk memasak, suami tidak berhak untuk memaksa.

Pendapat yang berbeda disampaikan oleh syaikh Qaradhawi yang menjelaskan bahwa isteri wajib mengurus urusan domestik sebagai bentuk timbal balik atas nafkah lahir yang diberikan suami. Hanya saja kalau sampai itu terjadi, suami wajib memberikan gaji kepada isteri.

Terkait mendidik anak, kita mungkin perlu mendalami hadis tentang ibu sebagai madrasatul ‘ulaa itu diucapkan dalam konteks apa. Yang jelas, ulama zaman dahulu mestinya juga sudah menjelaskan hadis ini. Hanya mungkin pencarian saya yang belum sampai.

Saya sendiri pun juga masih bertanya tentang ini. Dalam Al Qur’an, kisah yang mungkin mudah kita ingat adalah kisah tentang Luqman dan putra beliau. Serta kisah tentang Ibrahim A.S dan Ismail A.S. 

Memang benar, kita perlu memperdalam ilmu tentang ini.

Dan terkait isu wanita yang bahaya kalo keluar rumah. Saya sempat menulis di tumblr tentang isu peranan wanita di ruang publik. Dalam tulisan tersebut, saya menyebutkan:

penilaian yang adil tentang bagaimana penghargaan sebuah peradaban kepada wanita bukan sekedar dengan menghitung berapa banyak wanita yang bekerja di ruang publik. Peradaban yang baik adalah peradaban yang membuka ruang seluas mungkin bagi setiap orang (baik itu laki-laki ataupun perempuan) untuk mengoptimalkan potensi dan memberikan segenap kemampuannya untuk membangun ummat tanpa takut keluarganya nggak makan, anaknya nggak terurus etc…etc…. Sehingga setiap orang dalam peradaban tersebut punya kesempatan menjadi khairunnaas ‘anfauhum linnaas seperti dalam hadits dan dalam surat al ahzab ayat 35.

Jika melihat surat Al Ahzab ayat 35, saya sempat berpikir bahwa baik laki-laki ataupun perempuan berhak memilih untuk berbuat kebaikan dalam bentuk yang mereka inginkan. Pertanyaan kedua dalam tulisan ini menjadi pertanyaan yang relevan untuk terus dikaji.

Apakah solusi yang ditawarkan islam adalah memberikan wanita peranan di ranah domestik? Ataukah kita sebenarnya punya PR peradaban untuk menghasilkan lingkungan yang aman bagi wanita untuk memberikan peran di ranah publik.

Membahas tentang ini, saya juga teringat pada hukum wanita travelling sendirian ke luar kota. Larangan traveling ke luar kota sendirian bagi wanita adalah larangan yang bersifat ta’aquli. Konsekuensinya adalah, larangan ini bisa dicabut jika kondisi yang melatarbelakanginya sudah hilang. Wanita dilarang bepergian sendiri ke negara yang tidak aman kondisinya. Bila negara tersebut sudah aman bagi wanita, maka larangan tersebut bisa dicabut.

Jika memandang hal yang demikian, mestinya aturan-aturan tentang peran wanita di ranah publik masih butuh sekali banyak masukan agar peradaban kita kelak menjadi ramah terhadap perempuan dan menghargai perempuan secara proporsional.

Adapun sharing pikiran saya ini bukan untuk menjawab lima pertanyaan yang saya bagikan. Saya sendiri nggak berhak menjawab itu. Anggap saja apa yang saya bagikan ini menjadi pengantar bagi kita untuk berdiskusi dan berpikir dengan lebih mendalam tentang isu ini.

Ciaooo

S : Siapakah satu-satunya nama wanita yg disebut namanya dlm al-Quran?
J : Maryam binti Imran.

S : Siapakah satu-satunya nama Sahabat yg disebut namanya dlm al-Quran?
J : Zaid bin Haritsah. Rujuk dlm surah Al Ahzab ayat 37.

S : Apakah nama Surah yg tanpa Basmalah?
J : Surah at-Tawbah.

S : Apakah nama Surah yg memiliki dua Basmalah?
J : Surah al-Naml.

S : Apakah nama Surah yg bernilai seperempat al-Quran?
J : Surah al-Kafirun.

S : Apakah nama Surah yg bernilai sepertiga al-Quran?
J : Surah al-Ikhlas

S : Apakah nama Surah yg menyelamatkan dari siksa Qubur?
J : Surah al-Mulk

S : Apakah nama Surah yg apabila dibaca pada hari Jum'at akan menerangi sepanjang pekan?
J : Surah al-Khafi

S : Apakah ayat yg paling Agung dan dlm Surah apa?
J : Ayat Kursi, dlm Surah al-Baqarah ayat No.255

S : Apakah nama Surah yg paling Agung dan berapa jumlah ayatnya?
J : Surah al-Fatihah, tujuh ayat.

S : Apakah ayat yg paling bijak dan dlm surah apa?
J : Firman Allah Swt :“ Barang siapa yg melakukan kebaikan sebesar biji sawi ia akan lihat, Barang siapa melakukan kejahatan sebesar biji sawi ia akan lihat.. (Surah al-Zalzalah ayat 7-8)

S : Apakah nama Surah yg ada dua sajdahnya?
J : Surah al-Haj ayat 18 dan ayat 77.

S : Pada Kata apakah pertengahan al-Quran itu di Surah apa? ayat no Berapa?
J : وليتلطف Surah al-Kahfi ayat No. 19.

S : Ayat apakah bila dibaca setiap habis Shalat Fardhu dpt mengantarkannya masuk ke dalam surga?
J : Ayat Kursi.

S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 31 kali dlm satu Surah dan di Surah apa?
J : Ayat فبأي آلاء ربكما تكذبانِ ) pada Surah al-Rahman.

S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 10 kali dlm satu Surah dan di surah apa? Apakah ayat ini ada juga disebut dlm surah lainnya? Di Surah apa?
J : Ayat (ويل يومئذ للمكذبين) pada Surah al-Mursalat, juga ada dlm Surah al-Muthaffifiin ayat No. 10.

S : Apakah Ayat terpanjang dlm al-Quran? pada Surah apa? Ayat berapa?
J : Ayat No 282 Surah al-Baqarah… .

Sincere Advice to sisters- Given by The Trusted Advisor, Umm ‘Abdillaah ‘Aaishah Al Waadi’iyyah ‫حفظها الله‬ (daughter of Sheikh Muqbil bin Haadee ‫رحمه الله‬) And The Author Of The book Naseeha Iin-Nisaa (My Advice to the Women:

Translated below is some points of advice she gave to the sisters after the opening du’aa (via tele-link):

“O sisters, Upon us is to have mercy upon ourselves. Save yourselves from the Fire. There is no way out for anyone from the Fitnah that we are in now, except by sticking to what the Prophet (‫صلّى اللَّهُ عليه وسلّم‬) came with.”

Hadeeth of Abu Najeeh Al ‘Irbaad bin Sariyyah’ (‫رضي اللّه عنـه‬):

The Prophet (‫صلّى اللَّهُ عليه وسلّم‬) admonished us with an intense sermon which caused our hearts to tremble, and the eyes to shed tears. So, we said: ‘Yaa Rasoolallaah (‫صلّى اللَّهُ عليه وسلّم‬) this is as if it were your last sermon.’  

{Aboo Daawood and others declared it Saheeh}

“There is no way out for anyone except by sticking to the Sunnah which the Prophet (‫صلّى اللَّهُ عليه وسلّم‬) came with. This holding requires submission, a complete submission. As believers, it is a must on us. We have to say regarding any command from Allaah ‫سُبحانه وتعالى‬ and HIS Messenger (‫صلّى اللَّهُ عليه وسلّم‬), “Sami’naa wa ata’naa,” (We hear and we obey), and not like the Yahood (Jews) who said, “We hear and we disobey.”

It is not befitting for the believing man nor the believing woman, when the Prophet (‫صلّى اللَّهُ عليه وسلّم‬) comes with a decision, that they have a choice after him.

O sisters, the truth is very heavy. Falsehood is light (easy to accept). It is very heavy, except for those whom Allaah made it easy and guided them for that.”

Al Hadeeth:
Jannah is surrounded by undesirable things, and the Fire is surrounded by desires.  “O sisters, it is upon us that we get used to submitting to Allaah.”

Umm ‘Abdillaah (‫حفظها الله‬) mentioned a poem:

“Your nafs are always wanting if you make it a habit. If you control and limit yourself, that is what your nafs will get used to.”

“Do not say ‘why’ to the command of Allaah.” Umm ‘Abdillaah (‫حفظها الله‬), gave the example of Salaat by saying; “Pray and get used to it. We are commanded to Fast, so you must Fast, make Hajj and ‘Umrah. HE, ‫سُبحانه وتعالى‬, has made certain things compulsory towards the husband and we do not say why.”

“O sisters, it is up to us to preserve our tongues, especially because the Prophet (‫صلّى اللَّهُ عليه وسلّم‬) told us the reason why women are the majority in the Hell Fire. Be more careful than men. Women curse a lot and have many complaints. It is not a good habit to complain to this sister, that sister, to this one, and that one. Guard your tongue.”


Gheebah: It is to say something behind the back of your brother, that which he would not like to have been said, even if it is true, and if it is not true, then you have slandered him.

“When the believing woman leaves her home, she wears Hijaab, and she leaves the home properly.”

Allaah ‫سُبحانه وتعالى ‬ said:

‎‫وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا‬

‘And Stay in your houses, and do not display yourselves like that of the times of ignorance, and perform As-Salaat and give Zakaat and obey Allaah and His Messenger. Allaah wishes only to remove Ar-rijs (evil deeds and sins, etc.) from you, O members of the family (of the Prophet), and to purify you with a thorough purification.’
(Al-Ahzab 33:33)

“Allaah has made it waajib upon us to preserve our ears, and to avoid listening to songs, Gheebah and Nameemah. Allaah created us for ‘Eebaadah. The Dunyaa is temporary and attractive. The Prophet (‫صلّى اللَّهُ عليه وسلّم‬) warned against submitting to the Dunyaa.”

Hamm: Concern, all that you think about and focus on, etc.

“The one whose hamm is the Dunyaa, Allaah will scatter from him, it could be from his family, his money, etc. All that he will see is poverty. The person will not attain anything more than what is written for him. Whoever focuses on the Aakhirah, all your needs will be brought near, and made easy for you. The believing heart is rich, even if the believer is poor. The World will come to you, it is forced to you.”

Hadeeth Qudsi: The Prophet (‫صلّى اللَّهُ عليه وسلّم‬) said that Allaah‫سُبحانه وتعالى ‬ said,

“O children of Aadam (‫عليه السلام‬) if you rush into worship, I will fill your hearts with Rizq (provision). Do not neglect, (be alert). If you neglect, I will fill your hands with poverty and things that will make you busy.”

“Allaah condemned the people who are filled with the Dunyaa. Be careful, and aware of submitting to the Dunyaa. Sit with As Saalihaat (the pious women), it has a lot of affects. Go back to submitting to Allaah so that you will be from Ahlul Jannah. Stick to the Book (The Qur’aan). Seek ‘ilm of the Islaamic Law. Try to understand the Book of Allaah, it is the best way to come close to HIM. Be eager and anxious in seeking ‘ilm. Be careful, do not do a deed until you know whether or not it is Halaal or Haraam. Do not rush into it until you know.”

In the battle of Uhud we find the greatest sacrifice that He made because His life was littered with sacrifices.
It was sprinkled with sacrifices.
Everywhere you look in his life, he’d given something up:
~
This the Great Musab Ibn Umair (رضي الله عنه‎‎)
So he’s in the battle of Uhud, and for those of you who don’t know.
Uhud was a very difficult time for the belivers.
The archers of that time they didn’t stay on their positions during the Battle.
The young archers had not listened to the Prophet Muhammad (ﷺ)
- He told them, do not chase this war’s spoils, Money, don’t come after it.
He said, I need you to stay on top of this mountain and no matter what’s happening if you see the birds eating our bodies, don’t come off of this mountain.
You are our last protection.
.
But during the battle of Uhud at a time it looked like the believers had won.
At one point it looked like the Muslims had Triumphed.
And all of a sudden these archers saw all the believers going and chasing these spoils of war, this money, all the armor and the gold and everything the Quraish left behind, so they became incensed with the love of wealth.
~
And at that time [Khalid Ibn Waleed] was not a muslim, He did a resurgence, a second attack around the mountain.
But right there the Archers left their Positions so the Quraish went behind to the Position of the Prophet Muhammad (ﷺ).
And the Prophet Muhammad (ﷺ) was attacked to the point where his helmet dug into His cheeks.
And there were companions that had to jump in front of the Prophet Muhammad (ﷺ) to take arrows that were flying at Him, and there were even rumors swirling in the battle that the Prophet Muhammad (ﷺ) had died.
~
And now here comes the Great Story of Musab Ibn Umair.
He sees this happening, He had the flag that has the Kalimah on it, to represent the side of the believers.
He has the flag in his hands.
And He sees the Prophet (ﷺ) is being attacked.

So he starts yelling Takbir and he starts calling out, to draw the attention away from the army that’s attacking the Prophet Muhammad (ﷺ), So he takes his horse and he rides as fast as he can and he curves to take the army away from the Prophet Muhammad (ﷺ).
And that works, the plan that He has, it works because they draw away from attacking the Prophet Muhammad (ﷺ).
But now he Knows that he’s gone.
At that moment he had to make a split decision, Who do I love more,
Myself or the Messenger of Allah?
~
And the Prophet Muhammad (ﷺ) said, none of you will believe, until I am more beloved to them than their own selves.

So Musab Ibn Umair, he runs and he takes his horse and he knows that this is it, He knows that he’s going to be trampled, he know that he’s running into an army where he is One and there are 70, 80, 90 people about to attack him.

But He still wants to make sure that he holds that flag of Islam high.
So one person on the other side, from the side of the Quraish (Enemies), he targets the hand in which he had the flag, because this is a symbol of strength, the flag being up in air is a symbol that the Muslims are still strong.

So one of the Enemies takes his sword and he takes the arm that is holding the flag and he cuts that arm, he chops it off.
And Musab ibn Umair before the flag can even tumble to the ground he drops his sword from his other hand and grabs the flag and keeps it in the air,

The same man who cut his right arm then cuts his left so the flag begins to fall and he grabs it now with whatever he has left of his arms and holds it to his chest.
The flag is still in the air, but then he gets swarmed by the rest of the people and they said that at the time of his death there were over seventy sword and spear wounds on his body.
That was the answer to his question: who do I love more, Allah and his Messenger or myself?

So the Sahabas who survived the battle, they’re going around giving Salams to the martyrs.
They got to the body of Musab Ibn Umair and all of them started Crying.
And when Muhammad (ﷺ) saw his body, you know what He said?
He said: (Among the believers are men true to what they promised Allah . Among them is he who has fulfilled his vow [to the death], and among them is he who awaits [his chance]. And they did not alter [the terms of their commitment] by any alteration - (Al- Ahzab: 23)
This is the Ayah that Prophet Muhammad (ﷺ) recited upon the body of Musab Ibn Umair.
You know we can recite these ayahs but when these ayahs were recited by Rasoolullah (ﷺ) It was something else.
~
So then the Prophet (ﷺ) and the Sahabas after the battle was over; He came to bury the Muslimeen, the Mujahideen, the Martyrs, and then when they looked at Musab Ibn Umair, they searched through his wealth and they did not find anything in his wealth to cover him.

When they searched through his Home and his wealth to cover him,
All they could find was a piece of cloth to wrap him up in, the burial shroud for Janazah, but when they would cover his head his feet would show and when they’d cover his feet his head would show.

And Muhammad (ﷺ) says WAllahi there was a time when I did not know a person who had more luxurious life than this man. and today out of his love of Allah and Rasoolullah (ﷺ) and this deen of His,
He has sacrificed in a way that he has nothing to even cover his body after he has been martyred.

And the Prophet (ﷺ) Said: O Musab Ibn Umair, we didn’t find anything of the wealth just to cover your whole body and bury you in.
You donated it all for those who were in need.
In Jannah is where we shall meet.
(Al-firdous Al-Ala) My Dear Brothers and Sisters.
_____________________________________________
For more posts like this follow @workforjannah ❤️

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“…and the men who remember Allah often and the women who do so - for all those, Allah has prepared forgiveness and a great reward.”

Surat Al-Ahzab [33:35]