aku kamu kita

Setidaknya Kau Bahagia

Apa kehilanganku begitu nikmat? Sehingga kau menunjukkan pada dunia, betapa bahagianya kau dengan hidupmu kini yang tanpa aku. Apa kepergianku sangat menenangkan? Sampai kau lupa bagaimana rasanya sepi saat sendiri. Tapi apa kau tahu? Semua itu membuatku bersyukur walau dalam sakit. Nikmatilah semuanya. Setidaknya, kau bahagia. Itu saja.

Kamu yang Tidak

Aku rasa, kita tidak saling jatuh cinta.

Kita, hanya dua orang yang tak sengaja dipertemukan dalam satu keadaan, lalu kebetulan bahagia berkat kehadiran masing-masing. Tapi, tidak untuk lebih.

Kita, hanya dua orang yang saling membutuhkan untuk membunuh kesepian di sisi kita, lalu merasa nyaman karena memiliki seseorang untuk diajak berbagi. Tapi, itu sudah cukup.

Aku, tidak memerlukan lagi jawaban atas pertanyaan “kita ini apa?”. Kamu, juga mungkin tidak pernah berniat menjanjikan “kita”. Aku, kamu, tau itu.

Aku, mungkin sudah terlanjur jatuh sebelum kamu mencegahku. Kamu, mungkin pernah sekali saja kagum padaku. Tapi, perihal perasaan kita, biarlah kita mengetahuinya dengan cara yang paling indah.

Aku rasa, kita memang tidak saling jatuh cinta. Atau mungkin, aku saja, kamu yang tidak.

Pernah Ada Aku

Kalau suatu saat, -entah kapan-, kamu, aku, kita, -saling menyerah, marah, lelah, luka, kecewa, sudah tidak bersama; tolong ingat satu. Dalam hidupmu, —pernah ada aku.

Pernah ada aku, yang tau segala baik burukmu. Hafal seberapa baik kamu, mengenal sisi gelapmu. Memeluk kebaikan-kebaikan, memaklumi dan paham luka lebam keburukan busuk apa apa yang kamu lakukan. Pernah ada aku

Pernah ada aku, yang mengingat segala aktivitasmu. Kapan kamu bangun, jam berapa makan, pukul berapa bekerja, lantas khawatir jika ada aktivitasmu yang tidak sesuai agenda. Panik mencari, jika kamu hilang tiba-tiba. Sibuk meminta untuk dikabari. Hanya semata-mata, takut kamu kenapa-kenapa. Khawatirku beralasan. Tidak asal-asalan. Pernah ada aku

Pernah ada aku, yang menyediakan peluk hangat, kapanpun kamu merasa kerdil dan hilang hebat. Menangislah dipelukku. Tertawalah juga disana. Peluk suntuk. Peluk pelik. Pernah ada aku

Pernah ada aku, yang akan dengan manja merengek mesra kalau kamu lupa salam perpisahan saat kita hendak berjauhan. Memasang wajah muram, kusam. Lalu mengulum senyum malu-malu, saat kamu menghampiri dan menuruti apa mauku. Pernah ada aku

Pernah ada aku, yang menafkahi ego dan keras kepalamu. Menghamba, mengiba negosiasi kala kamu memutuskan untuk pergi. Menangisi kepergianmu. Memintamu untuk selalu kembali. Tidak menutup harap agar kamu sadar dari khilaf. Memaafkanmu tak peduli seberapa banyak aku tersakiti. Pernah ada aku

Pernah ada aku, yang selalu cemburu pada siapapun yang selain aku. Menyulut emosimu ketika memaksakan, -dalam hidupmu- harus cuma aku. Memberi sindiran-sindiran pelan, menyembunyikan cemburu dalam diam. Pernah ada aku

Pernah ada aku, yang baru aja ketemu, dikit lagi udah kangen. Rewel ketika merindu. Bawel meminta perhatianmu. Pernah ada aku

Pernah ada aku, yang berharap aku tidaklah hanya sekedar pernah. Namun selalu. Jangan berubah. Jangan berpisah. Jangan sekedar pernah……

……jangan biarkan aku hilang arah

Menulis membuatmu mampu mencintai jauh lebih dalam

“Menulislah, karena menulis akan membuat kamu mampu untuk mengingat lebih keras, berusaha lebih hebat, dan memotivasi lebih sering tentang apa yg akan kamu kerjakan.” - Andi Wahju R.E.

.

.

Aku sudah memutuskan untuk berhenti menulis, menulis tentang apa yg aku rasa, tentang apa yg hati tak pernah bisa ungkapkan, juga tentang asa yg perlahan selalu meletup-letup dalam dada. 

Kadang, disaat sudah terlalu banyak yg hati pendam, aku mulai tidak  sanggup untuk melahirkan sebuah kata. Hati ini terlalu letih untuk berdiri, dia terlalu lelah untuk menangis. Bahkan untuk memulai sebuah awal dari tulisanpun kadang aku harus berjuang menguak kembali segala kenangan yg “JUJUR” sudah aku pendam jauh-jauh dalam hati.

memang tidak ada yg pernah memaksa aku untuk menulis, memang tidak ada. Aku cuma manusia yg mempunyai rasa lebih males untuk bercerita ketimbang untuk menulis.
Aku lebih puas menulis tentang apa yg kurasa dalam frasa ketimbang bercerita tentang kejadian dalam ucapan. Mereka yg mendengarkanpun terkadang ingin didengar dan itu yg membuat mereka menerima apa yg mereka dengarkan tanpa ingin mengerti. 

Sedangkan tulisan? kertas, pensil, dan secarik notepad kecil dalam komputer mampu mendengarkan lebih diam ketimbang manusia manapun. mereka menerima tanpa mengeluh, mereka mendengarkan tanpa meng-iya-kan, mereka terdiam tanpa memberi pendapat. dan itulah pendengar yg sesungguhnya. 

Tampaknya aku mau menulis lagi hari ini, jikalau mas Andy Wahju berkata bahwa menulis dapat membuatmu lebih giat dan lebih memotivasi tentang apa yg ingin kau kerjakan, maka biarlah aku memutuskan untuk menulis tentang Kamu. Tentang cerita kita dulu. 
Karena kecintaanku pada besarnya kehadiranmu hingga saat ini memang pantas untuk tertuang bisu dalam lembaran di dunia maya ini. Dan Biarlah aku mencintai kisah kita itu sendirian, karena seperti yg dikatakan salah satu account Favorite twitter aku :

“Cara kamu memperlakukan masa lalu adalah cara kamu berterimakasih” - Don Juan

Maka aku akan berterimakasih pada kisah kita lewat tulisan ini.

Tertanda : aku, yg masih mencintai kita. 

Entah bagaimana ceritanya, kini kita kembali ke titik awal.
Dimana tidak ada kata ‘kita’ dan yang ada hanya kata ‘aku’ dan 'kamu’.
Dimana kita kini hanyalah orang asing yang pernah menjadi bagian penting di kehidupan masing-masing.
Akankah kita tersenyum saat kita bertemu lagi?
Atau akankah kita berpura-pura seperti tidak kenal?
Bersabarlah Kamu

Kepada siapapun yang rela menunggu seseorang membuka hati, bersabarlah semampu kamu. Jangan berjuang terlalu keras, apalagi sampai mendobrak pintu hatinya. Nanti kamu terluka. Tunggulah di depan pintu itu. Ketuklah perlahan. Percayalah, ia hanya butuh waktu untuk membuka pintu dan mempersilahkan kamu masuk ke dalam hatinya. Mungkin masih banyak kenangan masa lalunya berserakan.Sabarlah kamu, bisa saja ia perlahan sedang membereskan kenangan itu. Agar nanti, bila kamu ada dihatinya, tak ada lagi masa lalu tertinggal di dalamnya.

Kepada kamu yang setia menunggu, terima kasih karena telah menjadikan waktu dan sabar sebagai sahabatmu.

4

HeyYo!

Sepotong tulisan yang sudah lama sekali ingin aku buat akhirnya selesai juga dan berhasil di-publish untuk dibaca oleh siapa saja yang berminat untuk tahu. Mudah-mudahan dapat bermanfaat. Ini adalah tulisan yang dibuat untuk menjawab berbagai pertanyaan “kak, bucket list itu apa? gimana cara bikinnya?” yang seringkali muncul di DM Instagram-ku. Sempat bingung juga gimana cara jawabnya karena sulit dijelaskan jika hanya sebatas reply. So, aku pikir cara terbaik adalah menulisnya di Tumblr.


Mari kita mulai.

Bucket List adalah sekumpulan mimpi dan cita-cita yang ingin dicapai serta hal yang ingin dialami, baik dari yang normal-normal saja sampai yang paling liar sekalipun. Aku mulai membuat Bucket List ini dari tanggal 1 Januari 2015. Yang awalnya iseng saja, lama-kelamaan jadi serius menggarapnya. Sampai sekarang, aku sudah menulis 720 impian yang ingin kucapai. Dari rentang waktu itu, sudah 122 impian yang aku ceklis.

Awal mulanya dari membaca postingan bang Alitt tentang Dream Note yang dia tulis lalu ternyata tercapai satu persatu. Dari sana aku mulai merasakan perasaan menuliskan mimpi, impian, dan cita-cita ke dalam sebuah buku itu benar-benar sangat-sangat-sangat menyenangkan. Dan perasaan saat menceklis sebagai tanda mimpi itu telah terwujud ternyata jauh lebih menyenangkan lagi.

Sejak saat itu, aku mulai menulis apa saja hal-hal hebat (versi diriku sendiri) yang sudah kualami, apa saja yang ingin aku capai bulan depan, tahun depan, 10 tahun lagi, 30 tahun lagi, dst. Memiliki bucket list membuat aku merasa jauh lebih hidup. Setiap momen yang terjadi, maknanya betul-betul terasa. Ini seperti pengingat kalau hal itu terjadi bukan kebetulan, tapi karena kita memang ingin mencapainya dengan perjuangan sendiri.

Ada satu impian yang menurutku susah dan tidak mungkin, tapi benar terjadi. Aku pernah menulis “be in 3 cities at one day”. Lantas, tanggal 31 Agustus 2016 aku sudah mewujudkannya. Saat itu, aku sedang berada di Batam, lalu secara impulsif, aku memesan tiket kapal untuk menyebrang ke Singapura, setelah itu sorenya–secara impulsif lagi, terbang ke Kuala Lumpur. Dengan demikian, aku sudah bisa menceklis impian “be in 3 cities at one day” tersebut.

Ketika kita punya mimpi, kita memang tidak pernah tahu kapan dan bagaimana caranya terwujud. Poin pentingnya adalah apakah kita benar-benar berusaha dan berjuang untuk mewujudkannya? Karena kalau kita fokus dan serius menginginkannya, semesta akan turut mendukung walau itu adalah impian paling gila.

Semoga kamu tidak hanya berhenti pada titik membaca saja, tetapi kamu juga mau membuatnya mulai dari sekarang. Dan jangan lupa beritahu aku jika kamu membuatnya, kita bisa saja berdiskusi, sharing, dan saling memberikan saran. Ditunggu ya bucket list versi kamu :)

Manusia Biasa

Setegar apapun dirimu, bahan bakumu tetap manusia biasa. Tak masalah untuk menangis, asal kamu tau itu akan menenangkan. Tapi, jangan lama-lama, sebab waktu tentu tidak mau menunggumu yang bersedih lama-lama.

Sekuat apapun dirimu, bahan bakumu tetap manusia biasa. Tak masalah untuk lelah atau merasa payah, sebab jika tidak begitu berarti kamu sedang tidak mengupayakan apa-apa. Tapi, jangan lama-lama, sebab waktu tentu tidak pernah berbaik hati dengan menunggumu yang bersusah payah dalam waktu yang lama.

Sehebat apapun dirimu, bahan bakumu tetap manusia biasa. Tak masalah untuk salah dan lupa, sebab begitulah manusia: tempatnya salah dan lupa. Tapi, jangan lama-lama, sebab waktu tentu tidak akan menghentikan detaknya hanya untuk menunggmu belajar merapal alpa.

Sayangku, kita adalah manusia biasa. Ya! Aku, kamu, dia, mereka, kita semua adalah manusia biasa. Mengapa harus menebalkan topeng dan berpura-pura dalam segala suasana? Jadilah manusia yang memanusiakan manusia, jadilah diri dengan sebaik-baik pemahaman terhadap diri. Tak mengapa menangis, lelah, merasa payah, salah, atau bahkan lupa, asalkan kita terus berupaya memastikan untuk bisa menari di atas batas-batas diri sebagai manusia biasa, dengan belajar, berdoa, berserah, belajar, berdoa, berserah, dan begitulah seterusnya.

Semua yang datang, memang bukan untuk tinggal selamanya, melainkan untuk pergi pada suatu ketika. Kamu. Aku. Kita. Mari saling menguatkan, saling menjadi kumpulan kenangan baik yang dirindukan.
Kita (Aku dan Kamu) Itu Apa?

Awalnya adalah berkenalan denganmu. Lalu mata-mata kita saling beradu. Saat mereka bertemu, kesepakatan untuk saling menarik itu ada. Kita saling tertarik. Kasmaran. Lalu kerinduan.

Awalnya adalah menjalin suatu identitas milik berdua. Saling meremas kedua telapak tangan kita tak mau lepas. Meski kita masih dilanda krisis identitas. Sayangnya, aku masih jadi pengecut sejati. Masih terasa luka lama yang tak kering meski sudah begitu menginginkanmu di sisi.

“Kita itu apa?” tanyamu. Aku bingung menentukan apa itu kita. Apa arti kita sebaiknya (bukan sebenarnya). Karena bila sebenarnya, aku benar mencintaimu. Seberapa dalam rasaku mungkin hanya kamu yang paling tahu.

“Maka, kita itu apa?” tanyaku pada diriku sendiri. Kita itu saling memperhatikan meski bukan sebuah pasangan. Kita itu saling mengerti meski tidak saling memiliki. Kita itu… “Biar waktu yang tentukan, ya?”

Setidaknya, perasaan gelisahku menandakan bahwa kamu masih ada di hatiku. Jadi tenanglah
—  Jangan minta maaf untuk sesuatu yang aku pilih dengan sendiri. Jarak ini bukan kita yang memilih, karena memang telah ada sebelum aku-kamu menjadi kita. 
Aku tak pernah keberatan untuk kamu tinggalkan. Jika kamu merasa kebersamaan kita tidak membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik, tidak bertambah hal baik dari kesendirianmu dulu. Cinta yang tepat tidak sekedar perkara rasa, yang asalkan cinta kemudian bahagia. Tapi cinta yang tepat akan memotivasi kita untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi, saling mengingatkan untuk kebaikan bersama. Bukan aku atau kamu saja, tetapi “kita”, bersama-sama.
Perlakukan aku dengan sebaiknya. Jika kamu memang benar mencintaiku, maka berjuanglah dengan seluruh kemampuan dan cintamu.
— 

Jangan diam. Jangan memberikan harapan. Jangan baik. Jangan tersenyum. Jangan memberikan perhatian. Jangan sok asik. Jangan berlagak polos. Jangan berlagak butuh dikasihani. Jangan menarik, apalagi mengulur perasaanmu. Sikapku terhadapmu adalah cerminan dari sikapmu kepadaku.

Semakin baik dirimu kepadaku, maka semakin acuh sikapku terhadapmu.

Ada garis yang tidak boleh kamu ataupun aku untuk kita lewati.

Ini pilihanku. Ini keputusanku.
Perjuangkan keputusanku jika memang aku berarti untukmu.

Jika tidak, maka kembalilah. Pulanglah. Aku tidak butuh orang yang banyak bicara tapi tidak berfaedah dalam tindakannya.

Ingat. Ada garis yang tidak boleh kau lewati. Kau paham, kan??

Bersikaplah || 15.24
Jika da'i jauh dari Al-Qur'an, ia akan kehilangan visi, barakah kehidupan, dan keteladanan untuk ummat.
— 

Ustadz. Abdul Aziz Abdur Ra’uf, Lc. Al-Hafizh

Astaghfirullah, pengingat lagi teruntuk aku, kamu, dan kita semua.

Bagaimana Nantinya

Bagaimana nantinya, mungkin kita tidak pernah saling tahu, saling memendam cinta di hati kita masing-masing, menyemainya cerita-cerita menyenangkan, lalu menyulamnya penuh kehangatan. Padahal, kita sama-sama paham, salah satu dari kita sedang memegang kendali takdir, agar kalau saja nantinya takdir salah berlabuh, lukanya tidak akan begitu menyakiti.

Sayangnya, cinta yang tidak bersama akan selalu menyakitkan. Entah hanya aku, kamu, atau bahkan kita berdua yang akan sama-sama terluka. Kita tidak pernah saling tahu. Bahkan, kita terlihat seperti tidak ingin tahu.

Bagaimana nantinya, mungkin benar kita akan tetap mendo'akan tanpa saling tahu. Berpura-pura tidak saling melihat kita berpapasan di jalan, meski terlanjur bersemu merah saat kita berdua telah jauh berjalan. Sebab barangkali, mungkin hanya ini cara yang bisa kita lakukan sembari menunggu takdir bekerja.

Bagaimana nantinya, mungkin kita terlalu terpaku pada takdir yang kita ciptakan pada ruang kita sendiri. Hingga suatu hari, kita lambat tersadar dan lupa berjalan untuk saling menuju. Meski do'a-do'a telah kita langitkan sepanjang kita saling berpura-pura tidak mengenal, lagi-lagi ikhtiar kita menjadi percuma dengan keraguan yang masih belum terganti.

Bagaimana nantinya, hanya demi untuk tidak saling kehilangan, kita memilih untuk berdiam dalam cinta yang penuh saling memperhatikan.

Maka, kita hanya tetap menunggu, entah nantinya cinta itu akhirnya memilih untuk jatuh padamu terlebih dulu, kuharap ia segera melangkah padaku, agar kisah ini bukanlah cinta yang tak saling tahu.

Sebab jika tidak, tetaplah diam di sana, jangan beranjak, agar kupastikan bahagiamu dari tempatku berdiri.

Bogor, 19 Januari 2017 | Seto Wibowo

Tiga Pertanyaan

Aku terbiasa menulis luka sehingga tak tahu cara menjabarkan bahagia. Patah hati jauh lebih akrab dengan bahasa dibandingkan jatuh cinta. Pun, pada setiap keadaan baik-baik saja, kata-kata hanya mampu menjelma gelenyar aneh di dalam perut. Katanya, ada kupu-kupu berterbangan di dalamnya. Benarkah?

Kehadiranmu dalam hidupku, meringkus aku dalam segala yang hanya ada di kepala. Rasa-rasanya, tidak ingin ada oranglain di dunia ini kecuali kita berdua saja. Meskipun, jujur saja, terkadang masih ada gagu untuk membahasakan aku dan kamu dengan kata kita. Layakkah?

Tidak ada tubuh kaku karena hanya ada nyaman dalam pertemuan. Tidak ada kaca-kaca pada mata karena hanya ada hangat dalam tatapan. Tidak ada kepura-puraan untuk bisa segalanya sendirian karena seluruh ungkapan adalah kejujuran tentang harapan masa depan. Bolehkah?

Aku mencintai kita, melebihi aku mencintai diriku bila tanpa kamu.
Aku mencintai kita, melebihi aku mencintaimu jika bukan denganku.
Aku mencintai kita. Saat kita bersama-sama.
Aku mencintai kita. Saat ini hingga nanti kita menua.