aksara

19. kebaikan laki-laki

kalau kita lihat, di dunia ini ada banyak sekali laki-laki yang baik. laki-laki yang rajin sekali ke masjid dan tekun sekali beribadah. laki-laki yang gigih sekali belajar dan giat sekali bersekolah. laki-laki yang begitu sungguh-sungguh bekerja dan menjemput nafkah. laki-laki yang sangat setia dan taat kepada kedua orang tuanya. laki-laki yang nyaris tidak punya catatan keburukan. kalau beruntung, kebaikan-kebaikan itu berkumpul di satu orang.

kalau kita pikir-pikir dan rasakan, mungkin ada laki-laki baik yang berbuat baik kepada kita (perempuan). menjadi sahabat dan mendengarkan seluruh keluh kesah kita. memberikan semangat setiap hari. mengantarkan kita pulang atau pergi. membelikan makanan saat kita sakit. mengirimi kita berbagai kado. menjadi orang pertama yang panik saat sesuatu tak baik terjadi kepada kita. menjadi yang paling penasaran atas tulisan kita atau karya kita. mungkin ada, laki-laki yang menyayangi kita.

tapi taukah kamu? sesungguhnya kebaikan laki-laki yang bisa terhitung oleh (ayah ibu) seorang perempuan hanyalah satu: melamarnya. kalau ada laki-laki yang mengaku memperjuangkanmu tapi tidak melamarmu, tidak menikahimu, percayalah bahwa perjuangannya belum penuh. sebaliknya, pun begitu. dia yang tidak (belum) berbuat apa-apa tetapi melamarmu, sesungguhnya dia telah melakukan segalanya.

sebab bukanlah perkara kecil bagi seorang laki-laki untuk meminta perempuan dari orang tuanya. tidak dua atau tiga kali dia bergelut dengan dirinya sendiri (terlebih dahulu). ada banyak risiko yang dia putuskan untuk ambil. ada sebongkah tanggung jawab besar yang tiba-tiba diangkatnya sendiri, hendak diletakkannya di pundaknya sendiri.

maka janganlah kita perempuan, yang belum menikah, terhanyut dalam kebaikan-kebaikan yang (masih) semu. maka tak perlu jugalah kalian laki-laki berbuat baik yang semu-semu itu. salah-salah malah ada harapan tidak perlu yang ikut tumbuh. pada suatu titik semua itu tidak penting. semua itu akan kalah dengan dia yang melangkahkan kaki kepada ayah.

maka janganlah kita perempuan, yang sudah menikah, iri dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukan para laki-laki lain kepada pasangannya. apalagi tergoyahkan kesetiannya karena ada laki-laki yang baik kepada kita. semua itu kalah dengan dia yang telah melangkahkan kaki kepada ayah.

karena ada banyak laki-laki baik, tetapi kebaikan laki-laki hanyalah satu.
maka, hitunglah kebaikan yang satu itu–hitung baik-baik. :)

Ketika kau berusaha mendekat, namun tak pernah dekat, mungkin kau lupa meminta izin pada pemiliknya.

Seandainya kau dapat mendengar bisikan-Nya, mungkin kau dapat lebih mengerti.

Bila kau memperhatikan seseorang namun yang bisa kau lakukan hanyalah menerima jarak, mungkin Allah ingin berkata,

“Tak akan ku datangkan ia, kau belum siap jatuh hati..”

Bila pada kenyataannya Allah menjauhkan dirimu dengannya, mungkin Allah ingin mengingatkan,

“Aku tidak ingin kau menyakiti hati dengan harapan-harapan yang kau buat sendiri"

Bila pada akhirnya kau memilih menyibukkan diri dan berusaha memurnikan hati, disibukkan dengan berbagai hal dan melupakannya, mungkin Allah ingin menyampaikan,

“Kalian tidak diciptakan untuk saling menunggu, benahilah dulu diri kalian masing-masing..”

Bila kemudian kau ikhlas melepaskannya tanpa mengharapkannya kembali, Allah berbisik kepadamu,

“Yakinlah akan aku pertemukan dirimu dengan seseorang pilihanku, entah dia atau yang lebih baik dan pada waktu terbaik pula…”

Saat kau lelah dengan penantian, janganlah merasa sedih. Allah tak suka dengan hamba-Nya yang berputus asa.

Menjadilah kuat, tanpa perlu mengkhawatirkan sekuat apa nanti ia, sehingga kau siap menerimanya dan membantunya.


Surabaya, 2 Juli 2017.
Setelah berbulan-bulan hanya menjadi draft.
SELFIE2 #12: Ngomong-Ngomong Soal Nikah

Sebelum project #30daysramadhanwriting dimulai, saya melakukan riset kepada teman-teman untuk menanyakan topik apakah yang sesuai untuk diangkat. Dari sekian banyak jawaban yang ada, menariknya, seseorang mengusulkan kepada saya untuk menulis tentang persepsi saya secara pribadi mengenai masa-masa menanti pertemuan dengan pangeran impian. Hahaha! Saya langsung tertawa ketika mendapatinya. Pasalnya, saya memang tidak terbiasa untuk menuliskan hal-hal pribadi terkait cinta dan masa-masa menunggu pernikahan. Tapi, rasanya engga ada salahnya juga untuk dicoba. Ya kan? Bismillah, saya akan coba berbagi, semoga ada kebaikan dan pembelajaran yang bisa dimaknai.

Sejak beberapa tahun lalu, tepatnya sejak saya membaca buku Udah Putusin Aja yang ditulis oleh Ustadz Felix Siaw, saya memilih untuk tidak berpacaran. Ini bukan hal mudah bagi saya yang memang tidak hidup di lingkungan yang agamis. Sebaliknya, interaksi intens dengan lawan jenis adalah hal yang lumrah terjadi di sekitar saya. Alhasil, saya yang tidak pernah pergi dengan seorang laki-laki di malam minggu pun dianggap sebagai perempuan yang aneh. Tak heran kiranya jika pertanyaan basa-basi seperti, “Sekarang lagi dekat sama siapa?” atau “Kok malam minggu di rumah aja sih? Engga ada yang jemput?” pun seringkali saya terima dan membuat saya bingung bagaimana harus menjawabnya. Meskipun demikian, saya tetap tidak ingin berpacaran hanya karena banyak orang di sekitar saya melakukannya dan menganggapnya wajar.

Semoga Allah memampukan, saya ingin berproses dengan cara yang benar, diminta dan dijemput dengan cara yang benar, melangkah dengan cara yang benar, dan melaksanakan pernikahan dengan cara yang benar pula. Allah, hanya Allah yang bisa membuat dan mengizinkannya terjadi. Mohon doa, ya!

Jika diperhatikan, tulisan-tulisan saya tentang pernikahan hampir semuanya adalah re-share ilmu dan bukan bercerita tentang saya secara personal. Kalaupun ada, itu pasti dituliskan setelah saya menyelesaikan konfliknya beberapa waktu yang lama sebelumnya, yang seingat saya, mungkin hanya satu atau dua tulisan saja. Itulah mengapa, mungkin sulit sekali untuk menemukan tulisan-tulisan saya yang bercerita tentang penantian, kerinduan, cinta, atau sejenisnya. Bukan apa-apa, tapi bagi saya, hal-hal personal yang berkaitan dengan diri saya semacam itu tidak layak menjadi konsumsi publik, terlebih lagi jika ternyata saya belum menemukan makna kebaikan apa yang bisa dibagikan di balik kisah pribadi saya.

Kalau begitu, apakah itu berarti saya tidak pernah menggalaukan masalah jodoh? Tentu saja pernah! Seperti kebanyakan anak muda di luar sana, saya juga pernah bertanya-tanya tentang,

“Apakah saya memang akan Allah izinkan untuk menikah? Dengan siapa? Bagaimana cara bertemunya? Kondisi pertemuannya seperti apa?”

dan lain-lainnya. Tapi, saya sadar bahwa pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan bisa terjawab sebelum Allah menakdirkannya untuk terjawab. Lalu, bagaimana bisa saya menghindarkannya dari konsumsi publik di media? Bisa, sebab saya memilih untuk hanya membicarakan dan menceritakannya bersama orang-orang terdekat yang saya percaya, yang saya yakin akan mengajak saya untuk mengembalikan semua kekhawatiran kepada Allah dan mensiasati kekhawatiran tersebut dengan mempersiapkan diri, bukan dengan menggalaukan diri.

Sebagai orang yang begitu awan dalam urusan cinta dan pernikahan, kiranya saya tidak sependapat perihal cinta dalam diam. Sebab, menurut saya, mempersiapkan pernikahan sangat tidak mungkin jika hanya dilakukan dengan diam sambil menunggu jodoh datang, memandanginya dari kejauhan sambil sibuk dengan kegalauan yang dibuat-buat sendiri, menangis dan merasa kehilangan padahal tidak pernah memiliki, dan lain-lainnya yang seringkali gagal untuk saya pahami. Hehehe, mohon maaaaf sekali, I am not inside that team! Sebaliknya, saya begitu meyakini bahwa,

Persiapan terbaik yang bisa saya lakukan dalam menanti pernikahan adalah dengan belajar, memperbaiki diri, dan mengisi waktu-waktu menunggu dengan memperluas kebermanfaatan lewat apapun yang bisa dilakukan sambil merayu Allah agar Dia mempertemukan dengan siapapun yang dikehendaki-Nya.

Jangan salah, ini tentu tidak mudah! Suatu hari, dalam sebuah kelas pra-nikah, saya pernah bercerita kepada senior saya, “Teh, saya bosan, saya capek belajar terus tapi engga praktik-praktik juga!” Waaah, ini memalukan sekali! Ternyata ada kondisi dimana saya muak dengan semua ilmu pra-nikah karena banyak informasi tapi belum kunjung mendapatkan ruang untuk mengaplikasikannya. Tahukah kamu apa yang menjadi jawaban senior saya saat itu? Beliau bilang, 

“Teh, istighfar! Minta maaf sama Allah! Teteh engga boleh begitu! Ayo luruskan lagi niatnya. Belajar adalah bentuk persiapan agar nanti teteh bisa melaksanakan ibadah pernikahan dengan baik, meski kita tidak pernah tahu apakah takdir itu akan sampai kepada teteh atau tidak. Amal perlu didahului ilmu, teh.”

Deg! Sesuatu terjadi di hati saya hingga tanpa sadar pipi saya mulai banjir. Astaghfirullah, saya telah keliru! Sejak saat itu, saya kembali memacu diri untuk bergegas dan bersemangat. Meski tak pasti apakah Allah akan menyampaikan saya pada pernikahan atau ternyata ajal menjemput lebih dulu, insyaAllah saya tetap ingin memperjuangkan ilmu untuk menujunya. Mohon doa semoga senantiasa istiqomah, ya!

Alhamdulillah, betapa Allah Maha Tahu bahwa saya dangkal ilmunya. Dihadirkanlah oleh-Nya sahabat-sahabat yang sering sekali mengingatkan saya banyak hal tentang persiapan pernikahan: 

bahwa keinginan untuk menikah tidak boleh sampai membuat kita menggadaikan harga diri, bahwa pertemuan dua orang manusia dalam ikatan pernikahan adalah bagian dari kebesaran Allah, bahwa pernikahan perlu diawali dengan selesai dan berdamai terlebih dahulu dengan diri sendiri, bahwa menikah adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah, serta bahwa mendidik generasi adalah bagian dari bentuk kewajiban dan tanggung jawab kepada-Nya. 

Ah gengs, terima kasih untuk selalu mengajak saya kembali ke titik waras ketika memikirkan pernikahan!

Hmm, kalau begitu, jadi kapan nih nikah? Sejujurnya, saya ingin menyegerakan dan tidak ingin menunda. Tapi, saat ini memang belum ada laki-laki shalih yang benar-benar menyatakan pinangannya kepada keluarga saya. Mohon doanya, semoga Allah berkenan menyegerakan pertemuan itu dan menyatukannya dalam ikatan pernikahan dengan siapapun yang dikehendaki-Nya. Jika dan hanya jika boleh meminta, ingin sekali bisa dipasangkan oleh Allah dengan orang yang sebelumnya pernah saya kenal karena pernah bermuamalah atau mungkin pernah berada dalam satu atau lebih lingkaran pertemanan yang sama. Tapi terserah Allah aja, deh! Hehe. Semoga dia yang dikehendaki-Nya itu adalah dia yang jika saya bersamanya maka dunia-akhirat kami akan semakin hebat dan kebermanfaatan kami bagi ummat juga akan semakin meluas. Aamiin Allahumma Aamiin. Doa baik ini untukmu juga, ya, temans!

Ah panjang sekali ternyata! Terima kasih teman-teman karena telah membacanya sampai paragraf ini. Seperti yang tadi saya katakan, kita yang saat ini sedang dalam masa-masa penantian memang sedang berhadapan dengan ketidakpastian: kita tidak pernah tahu apakah menikah ataukah ajal yang terlebih dulu menjemput kita. Kalau begitu, jangan galau, ya! Jangan buang waktumu untuk mengangankan hal-hal yang tidak perlu. Ayo kita belajar, bersiap, dan memperbaiki diri agar bisa menjadi hamba yang dicintai-Nya!

Learning is the new cool! Preparing is the new cool! Productive is also the new cool!

Yup, saya memilih untuk belajar, bersiap, dan bergerak bermanfaat! InsyaAllah. Semoga Allah senantiasa membimbing dan menguatkan. Bagaimana denganmu, apa yang kamu lakukan dalam masa penantian? Bagaimana kamu mentransformasikan kegalauanmu menjadi sesuatu yang positif? Let’s look into yourself!

Oh iya, untuk mengintip re-share saya tentang belajar parenting dan pranikah, silahkan klik disini.

_____

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 - Let’s Look Into Yourself!” Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini insyaAllah akan dimuat di novieocktavia.tumblr.com pada pukul 16.00 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini, klik disini. Serial ini bermula dari #30daysramadhanwriting dengan tema yang sama di tahun sebelumnya. Untuk membaca serial selfie di Ramadhan 1437 H, klik disini.

Kepadamu,
yang belum dijelaskan Allah.

Mungkin kini kita sudah saling mengenal,
atau bahkan belum pernah bertemu sama sekali.
Aku pun tak dapat memastikannya.

Tapi ku yakin,
saat ini kita sedang sibuk dengan pilihan kita masing-masing.
Kita yang saling menyibukkan diri untuk perkara masa depan.
Menyiapkan bekal guna menjadi seorang pasangan yang hebat.

Jika kelak kita bertemu,
ku ingin kita dapat menggenggam dunia dengan apa yang kita miliki.
Menjadi pasangan hebat yang saling mendukung.
Bukan saling menyalahkan dan egois.
Juga saling mengingatkan untuk terus bersyukur atas apa yang Allah beri.
Dan selalu berusaha menjadi bermanfaat untuk siapapun.

Ketika kita bertemu kelak,
ku harap mimpi-mimpimu akan menjadi mimpi kita bersama,
begitu pun aku. Kita akan mewujudkan mimpi besar.
Karena aku dan kamu telah melebur menjadi kita.
Aku akan menghormati segala keputusan yang kau buat.
Namun aku akan mengingatkan jika kau berada di luar jalur-Nya.

Kepadamu yang mungkin membaca ini.

Ku harap kau dapat menjadi imam terbaik dan penggenap agamaku.
Menjadi guru nomor 1 yang paling ku percaya dalam hal apapun.
Sahabat yang paling mengerti dan akan selalu ku cari.
Partner bertukar pikiran terfavoritku.
Mungkin juga akan menjadi atasan bisnis yang akan kita bangun kelak.

Tetapi kau perlu tahu.
Mungkin aku tak akan bisa berada di rumah 24 jam terus menerus,
karena tanggung jawabku nanti adalah sebagai seorang pekerja sosial.
Namun aku tetap akan selalu menyediakan apa yang kau butuhkan.
Tak ada alasan bagiku untuk menolak permintaanmu.

Aku juga ingin menjadi alasanmu tersenyum dan hilangnya lelahmu.
Selepas kau bertarung dengan kejamnya dunia seharian,
mencari rezeki untuk jiwa-jiwa dalam keluarga ini.

Kemudian saat malam menjelang, ku kira kita akan saling banyak bercerita.
Aku dengan kasus-kasus yang ku alami dalam ruang praktek ku,
dan kamu dengan perangkat yang kau kuasai di lapangan.
Membayangkannya saja sangat seru, karena mungkin kita berada di 2 bidang yang berbeda.
Ketahuilah. Aku selalu senang mendengar dan belajar hal baru.

Tetapi yang perlu kau pahami,
mungkin aku akan lebih banyak menangis.
Apalagi ketika aku tak dapat membantu pasienku untuk sembuh.
Atau ketika aku menemukan masalah dalam menangani kasus.
Ku harap kau mengerti bahwa tanggung jawab ini cukup berat bagiku.

Aku ingin kau dapat menghapus tangis yang meleleh.
Mengusap kepalaku dengan penuh kelembutan.
Ku kira, aku hanya perlu ditenangkan.
Bukan disalahkan atau digurui.

Begitu juga ketika kau mendapat ujian dalam pekerjaan.
Aku tak akan menambah bebanmu. Aku akan selalu berusaha mandiri.
Aku berusaha tumbuh menjadi seseorang yang independen.
Tidak bergantung kepadamu atau meminta bermacam-macam hal.

Ingatlah, aku selalu menunggumu pulang.
Aku ingin menjadi yang pertama akan menghapus keringat lelahmu,
dan mendengar semua keluh mu. Aku akan memelukmu dalam kasih sayang.

Tetapi bila nanti kita dipertemukan,
ku harap kau tidak mempermasalahkan masa laluku.
Tidak berusaha menjatuhkanku ketika kau mengetahui masa kelamku.
Aku hidup di saat ini dan untuk masa depan.
Aku telah belajar banyak dari apa yang kulalui selama ini.
Sehingga aku berusaha sebanyak mungkin melakukan hal baik yang dapat menebusnya.

Bersabarlah, aku sedang mengusahakan supaya hidup kita kelak bahagia dan tidak kekurangan.
Percayalah, aku akan menjadi wanita yang dapat kau banggakan.
Yakinlah, bahwa Allah akan mempertemukan kita dalam keadaan yang sangat baik.

Sampai ketemu.

Dari teman hidup yang akan menyempurnakan masa depanmu.

SELFIE2 #3: Hidup Kita Geje (?)

Kalau sedang merasa bosan, beberapa orang seringkali memilih untuk pergi dari rumah dan berjalan-jalan tanpa tujuan. Entah itu dengan alasan mencari udara segar, melihat pemandangan, atau apapun, perjalanannya nyatanya memang tanpa tujuan. Ujung-ujungnya bisa jadi membeli sesuatu yang padahal tidak ingin dibeli, pergi ke tempat yang sebenarnya tidak ingin dituju, dan merasa menyesal ketika kembali pulang ke rumah karena ternyata perjalanannya melelahkan dan menghabiskan banyak uang. Ya memang begitu kalau tanpa tujuan, akhirnya geje alias engga jelas! Hayoooo, apakah kamu pernah merasakannya?

By the way, bagaimana kalau ternyata masalah geje karena tanpa tujuan itu juga terjadi di hidup kita? Coba dicek, apakah tujuan hidupmu di dunia ini?

Saat tingkat akhir dulu, orientasi masa depan selalu menjadi topik menarik yang tak bosan diperbincangkan oleh sesama mahasiswa. Perbincangan itu dibicarakan di berbagai tempat dalam berbagai kesempatan: di ruang kelas, di lorong-lorong fakultas, di kantin, di perjalanan pulang kuliah, atau bahkan dimana saja. Seolah-olah, mahasiswa-mahasiswa yang paling jelas tujuan hidupnya adalah yang mampu menentukan apa yang akan dilakukan atau ditempuh setelah lulus.

Tepat beberapa hari sebelum sidang akhir, dosen pembimbing saya bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus?” Saat itu, saya dengan percaya dirinya langsung menjawab, “Ada tiga hal yang ingin saya lakukan setelah lulus: bekerja, menikah dan kuliah. Saya belum tau mana yang akan saya lakukan terlebih dulu, tapi kalau boleh memilih, saya lebih ingin kuliah dulu.” Standar, bukan? Rasanya setiap mahasiswa tingkat akhir yang ditanya pertanyaan serupa pun akan memberi jawaban serupa: bekerja, menikah atau kuliah. Saat itu saya bangga sebab merasa memiliki tujuan.

Kemudian obrolan pun semakin memanas ketika dosen saya bertanya, “Sebenarnya, apa yang membuatmu ingin melanjutkan kuliah? Aneh, bukankah profesi ini memang menuntut akademisinya untuk melanjutkan kuliah agar bisa membuka ruang prakteknya secara pribadi? Saya yakin beliau paham akan ini, tapi mengapa masih ditanyakan? Saya pun menjawab, “Saya ingin menjadi Psikolog dan membuka klinik pribadi.” Jawaban saya ini ternyata memunculkan pertanyaan yang lain, “Wah menarik, apa yang membuatmu ingin membuka klinik pribadi?” Ini tidak sulit untuk dijawab, kemudian saya berkata, “Saya tidak ingin bekerja dan menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Jika membuka klinik pribadi, saya akan dapat mengontrol waktu kerja saya sendiri. Dengan begitu, saya akan bisa optimal dalam mengabdikan diri dan kehidupan saya untuk suami dan anak-anak kelak.”

Nampaknya obrolan ini belum cukup selesai, dosen saya bertanya lagi,

“Lalu, jika nanti suamimu sudah bangga memiliki isteri yang rela mengabdi sepertimu dan anak-anakmu pun sudah bangga memiliki ibu idaman sepertimu, apa lagi yang akan kamu lakukan?”

Saya pun melirik ke atap, mencoba memikirkan jawabannya, “Tidak ada.” Dosen saya tersenyum simpul seraya kembali bertanya, “Memangnya apa yang akan kamu rasakan jika semua itu sudah terjadi dan sudah kamu miliki? Saya yang semakin bingung dengan arah obrolan pun menjawab, “Ketika semuanya sudah tercapai, saya tentu akan merasa bahagia.

Saya berharap pertanyaan itu selesai, tapi nyatanya belum, saya ditanya lagi, “Jadi, apakah saya bisa menyimpulkan bahwa hidupmu pada akhirnya adalah untuk mencari bahagia? Saya hanya mengangguk-angguk perlahan sambil menjawab, “Hmm, sepertinya begitu.” Dosen saya tersenyum lagi, “Kamu yakin?” Dengan berpura-pura percaya diri, saya menjawab, “Iya. Tentu saja!” Dalam hati, sebenarnya saya merasakan kebingungan yang luar biasa. Apakah memang hidup saya adalah untuk mencari bahagia? Hmm, sepertinya ada yang salah, tapi apa? Ah, sudahlah!

Sejak hari itu, saya mulai memikirkan baik-baik tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup saya. Tapi, tidak ada jawaban lain yang saya temukan selain semua jawaban yang sudah saya utarakan. Hingga sampailah satu minggu kemudian ketika saya bertemu dengan dosen saya dan kembali ditanya, “Bagaimana, sudah terpikirkah tentang apa yang akan kamu lakukan setelah mencapai bahagia? Malu-malu saya menjawab, “Belum, Bu. Setelah bahagia, saya bingung saya mau apa lagi …”

Dosen saya pun membetulkan posisi duduknya dan lebih dekat mengarah pada saya seraya menjelaskan,

“Hidupmu bukanlah semata-mata untuk memastikan kamu jadi magister atau tidak, melanjutkan buka klinik atau tidak. Semua itu tidak akan dipertanyakan ketika nanti kamu pulang ke akhirat. Kelak, yang harus kamu pertanggungjawabkan adalah tentang bagaimana penyikapanmu ketika keduanya terjadi dan bagaimana juga penyikapanmu ketika keduanya ditakdirkan tidak terjadi. Apakah kamu akan semakin mendekat kepada Allah atau sebaliknya? Manusia boleh saja memiliki tujuan-tujuan hidup di dunia, tapi tidak boleh lupa bahwa hanya ada satu tujuan yang Allah kehendaki untuk setiap manusia.

Air mata saya mulai menggumpal di pelupuk, “Satu? Apa itu?” Sambil menunjukkan salah satu lembar yang ada di Al-Qur’an, beliau menjelaskan, “Allah menciptkan kita dengan tujuan agar kita beribadah kepada-Nya. Itu saja.” Ah, saat itu rasanya seperti banyak petir yang menyambar! Bagaimana bisa saya tidak mengetahui bahwa ternyata hanya ada satu tujuan hidup yang dikehendaki-Nya? Saya kemudian yakin bahwa tujuan hidup yang selama ini saya kira sudah jelas adalah tujuan yang hampa, samar dan sementara. 

Eh gimana doooong? Hidup kita sebelum-sebelumnya ini ternyata geje! Kita hanya seperti orang yang menempuh perjalanan jauh sampai lelah, melewati lengkung-lengkung jarak yang sangat jauh, tapi tidak pernah tahu hendak kemana dan apa yang dituju.  Padahal, Allah telah berfirman,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

“Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (Q.S Al-Bayyinah (98) : 5)

Kawan, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Tenang, muslim itu hidupnya engga galau. We have to move up!  Ayo kita perbaiki semua ke-ge-je-an ini. Atas semua tujuan-tujuan dunia yang dimiliki dan (sedang) diupayakan, semoga dapat dipastikan bahwa landasannya adalah untuk menjalankan satu-satunya tujuan hidup yang dikehendaki-Nya: beribadah kepada-Nya.

Let’s look into yourself!

_____

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 - Let’s Look Into Yourself!” Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini akan dimuat di novieocktavia.tumblr.com pada pukul 16.30 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini, klik disini. Serial ini bermula dari #30daysramadhanwriting dengan tema yang sama di tahun sebelumnya. Untuk membaca serial selfie di Ramadhan 1437 H, klik disini.

Pada akhirnya aku sadar, kau lebih kucintai daripada aksara dan menulis itu sendiri. Tak heran setelah kau benar-benar hilang dari rongga dada, kata-kata seolah balas dendam dan tak mau mampir di benak. Dan itu kesalahan fatal yang harus kutebus begitu mahal. Kurasa, aku harus meminta maaf dan memperbaiki apa yang salah sejak awal; belajar mencintai kata sebelum menjadikan manusia atau benda sebagai sumbernya.
SELFIE2 #28: Allah, Maaf Saya Terlalu Percaya Diri

Dua hari yang lalu, tepat sehari setelah saya benar-benar meliburkan diri dari pekerjaan kantor, saya mengalami sesuatu yang aneh. Hari itu, saya berencana menulis skenario untuk project lain di luar kantor yang dulu pernah saya ambil dan masih belum saya selesaikan seluruhnya. Mengingat libur kantor saya cukup panjang, saya pun bertekad untuk menyelesaikan amanah itu di waktu liburan, No heart feeling, saya menganggap enteng amanah ini“Tenang, udah berpengalaman bertahun-tahun kok nulis skenario, gitu doang mah bisalah …” Tanpa disadari, saya sedang memunculkan perasaan sombong dan mengandalkan diri sendiri; saya terlalu percaya diri.

Hal yang terjadi justru di luar ekspektasi. Di hari dimana saya seharusnya mengerjakan skenario itu, saya tiba-tiba merasakan malas yang luar biasa! Ya, saya menyebutnya luar biasa karena hal itu belum pernah saya alami sebelumnya. Rasa-rasanya seperti tidak ada energi untuk bangun dan menyalakan laptop. Seluruh badan seperti lemas dan pegal-pegal, mungkin sisa perjalanan jauh di hari sebelumnya. Saya mendadak sedih karena merasa tidak memiliki daya dan upaya untuk mengerjakan pekerjaan mudah yang padahal sudah biasa saya kerjakan. Sampai-sampai, di hari itu saya banyak menghabiskan waktu di kasur. Saya pun bertanya-tanya, “Allah, ini kenapa ya?”

Menjelang sore, saya tiba-tiba saja teringat tentang kisah Ka’ab bin Malik yang pernah saya dengar dari rangkaian kajian The Rabbanians yang berjudul “Ketika Semua Berpaling” yang karena saking panjangnya saya pun belum menyelesaikan semuanya. Dari sekitar 3 episode yang sudah saya dengarkan, saya jadi mengetahui kalau ternyata Ka’ab bin Malik adalah alumni pejuang perang Badar yang gagal mengikuti Perang Tabuk karena beliau mengandalkan dirinya sendiri dan lupa bergantung pada Allah. Ka’ab terlalu percaya diri bahwa ia pasti bisa mengikuti dan menyusul kawan-kawannya ke perang Tabuk hingga ia lupa mengatakan laa hawla wa laa quwwata illa billah. Rasulullah sampai mencari-cari Ka’ab dan menanyakan dimanakah Ka’ab kepada para pejuang lain yang mengikuti perang Tabuk, mereka menjawab, “Ka’ab sedang tertawan dunia, Yaa Rasulullah!” 

Sungguh, jauuuuuh sekali saya yang tidak ada apa-apanya ini jika dibandingkan Ka’ab bin Malik, tapi dari kisahnya saya bisa belajar bahwa kesalahan terbesar saya di hari itu adalah karena saya terlalu percaya diri untuk mengandalkan diri sendiri. Saya menangis dan buru-buru istighfar. Sempurna saya tertampar oleh kesalahan sendiri, “See? Kamu itu emang engga bisa apa-apa kalau Allah engga memampukan dan mengizinkan.Beruntungnya, atas seizin Allah, malam harinya saya dimampukan-Nya untuk kembali bersemangat dan melanjutkan menulis.

Apakah kamu juga pernah mengalaminya? Bagaimana rasanya?

Ternyata, tanpa Allah manusia memang tidak memiliki daya dan upaya apapun. Iya, kita tidak bisa mengandalkan apa-apa pada diri kita sendiri: tidak dengan akal kita, pengalaman kita, prestasi kita, kepercayaan diri kita, tenaga kita, waktu kita, atau bahkan amal shalih kita. Sebab, Allahlah yang Maha Memampukan, tanpa-Nya kebaikan apapun tidak akan pernah bisa kita wujudkan.

Allah, bagaimana bisa aku mengandalkan akalku? Sementara Engkau bisa saja mengambilnya kapan pun Engkau berkehendak. Tak sulit kiranya bagi-Mu untuk menjadikan aku lupa dan kehilangan segala pemahaman yang dulu pernah bersemayam di akalku. Maka, kini aku paham bahwa akal bukanlah sandaran. Tanpa-Mu, akalku rapuh seperti dahan-dahan kayu tua yang akan patah meski kucegah.

Allah, bagaimana bisa aku mengandalkan kedua mataku? Sementara Engkau bisa saja mengambilnya kapan pun Engkau berkehendak. Jika kuasa-Mu mampu membuat segalanya gelap, maka apalah lagi dayaku? Tentu tak dapat aku menerima cahaya kebenaran. Maka, kini aku paham bahwa kedua mataku bukanlah sandaran. Tanpa-Mu, mataku hanya seperti lampu-lampu jalan yang kehilangan dayanya untuk bisa bercahaya.

Allah, bagaimana bisa aku mengandalkan hatiku? Sementara Engkau bisa saja membolak-balikkannya kapan pun Engkau berkehendak. Tak sulit kiranya bagimu membuat pautanku terlepas hanya dalam satu hitungan. Maka, kini aku paham bahwa hatiku bukanlah sandaran. Tanpa-Mu, hatiku hanyalah seperti gelombang yang riak dan riuhnya tak mungkin dapat aku kendalikan.

Allah, bagaimana bisa aku mengandalkan kakiku? Sementara Engkau bisa saja membuatnya berhenti melangkah kapan pun Engkau berkehendak. Langkah ini ternyata mudah lemah dan berbelok arah. Bahkan, sejumput kerikil pun mampu membuatnya jatuh dan berdarah. Maka, kini aku paham bahwa kakiku bukanlah sandaran. Tanpa-Mu, kakiku hanyalah seperti dua batang tongkat yang tak dapat bergerak.

Allah, bagaimana bisa aku mengandalkan diriku sendiri? Sementara Engkau bisa saja membuat kepercayaan diri, pengalaman, kemampuan, dan segala yang ada pada diriku ini menjadi tak bertenaga sama sekali. Semua bisa menghilang tanpa aku sadari. Maka, kini aku paham bahwa diriku bukanlah sandaran. Tanpa-Mu, diriku hanyalah seperti seonggok daging yang tak berdaya-upaya untuk bergerak bahkan sejengkal saja.

Astaghfirullah! Semoga Allah senantiasa memaafkan setiap kesalahan kita yang terbiasa hanya mengandalkan diri sendiri dan lupa bahwa seluruh diri kita digenggam oleh-Nya. Semoga pula Dia memampukan kita untuk bisa mengandalkan-Nya di setiap kondisi, di segala suasana. Let’s look into yourself!

_____

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 - Let’s Look Into Yourself!” Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini insyaAllah akan dimuat di novieocktavia.tumblr.com pada pukul 16.00 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini, klik disini. Serial ini bermula dari #30daysramadhanwriting dengan tema yang sama di tahun sebelumnya. Untuk membaca serial selfie di Ramadhan 1437 H, klik disini.

9. memilih yang baik

sejak beberapa bulan yang lalu–sejak mbak yuna lahir tepatnya–saya kepingin ganti hape. alasannya, saya ingin punya kamera yang bagus untuk mengabadikan momen-momen tumbuh kembang mbak yuna (sekaligus ingin kalau fotonya di-share di sosial media tampak lebih mentereng–jujur). setiap bulan, saya pun mencoba untuk sedikit-sedikit nabung.

di tengah perjalanan menabung saya, laptop ibu saya rusak. laptop ibu itu usianya sudah lebih dari 5 tahun, dapat hibah dari sekolah karena sudah tidak dipakai lagi. laptop-laptop yang dibeli bersamaan dengan laptop itu kebanyakan sudah rusak dan mati total. spesifikasi laptopnya hanya bisa dipakai untuk mengetik dan browsing–itu pun dengan kecepatan siput.

akhirnya, saya pun berinisiatif membelikan ibu laptop (pakai anggaran kantor tentu, tidak mengganggu gugat tabungan hape saya). ceritanya laptop ini kejutan, kami hadiahkan tanpa bilang-bilang. saat laptop baru tersedia, laptop lama ibu selesai diperbaiki. ibu yang dihadiahi laptop bilang, “nggak usahlah. dipakai sama yang lain saja. ibu cukup kok pakai yang ini (laptop lama). kan sudah bisa nyala sekarang.”

di situ saya merasa malu.

ibu saya memang juara soal berhemat. tidak hanya laptop, ini berlaku juga untuk benda-benda elektronik lain, listrik dan air, perkakas-perkakas, baju, makanan, bahkan sabun dan teman-temannya. sering saya heran sendiri dengan ibu yang secara natural bisa begitu pas menempatkan segalanya. tidak pernah berlebihan. saya sangat jarang melihat ibu “memanjakan dirinya” dengan kemewahan, bahkan tidak dengan kenyamanan.

waktu saya tanya kenapa ibu bisa begitu, kata ibu, “karena bisa untuk yang lain.” jawaban ibu sangat sederhana tapi sangat telak. karena ibu dan ayah berhemat-lah, ibu dan ayah bisa membangun sekolah dari garasi sampai ada di enam kota. karena ibu dan ayah sangat sederhana-lah, ibu dan ayah bisa membesarkan anak-anaknya dengan cukup. kami bisa sekolah, bisa mengembangkan diri.

saya jika berkaca pada diri sendiri: manusia dengan gaji dan penghasilan pas-pasan, belum punya rumah sendiri, belum punya tabungan untuk anak sekolah, belum punya tabungan kesehatan, dan lain-lain–tapi hobinya jajan, senangnya jalan-jalan, makan-makan. juga, senangnya ingin selalu serba kekinian.

kesimpulannya, saya belum melek dengan “karena bisa untuk yang lain.” pertama, saya merasa berada di zona nyaman. kedua, saya minim sekali pengalaman memberinya. padahal kalau kita konversi, satu ponsel pintar bisa jadi kambing kurban. satu laptop bisa jadi sapi mungkin. jajan sekali makan di resto bisa untuk makan seminggu sekeluarga lain.

salah satu pertanyaan di hari akhir kelak adalah ke mana harta kita pergi, bagaimana harta kita digunakan. idealnya kita memilih yang baik, yang lebih bermanfaat. tentu saja, kita bisa memilih jika kita punya pilihannya, jika kita mengetahui pilihan apa saja yang ada.

kata ibu, cara latihannya mudah. sering-seringlah memikirkan orang lain. sering-seringlah melihat ke bawah. sering-seringlah bersyukur. kalau kita terbiasa memikirkan diri sendiri, rasanya enak menyamankan diri sendiri saja. kalau kita terbiasa memikirkan orang lain, rasanya nggak tega berlebih-lebihan, meskipun kita mampu untuk itu.

rencana beli hape pun bubar jalan. di benak saya bergaung terus-menerus, “yang boros saudaranya setan.”

Pilihlah ia

Yang mengajakmu menjadi wanita yang mau menutup aurat.

Yang mau mengajarimu menjadi wanita yang berkata sopan.

Yang mau membawamu menjadi wanita yang berakhlak mulia.

Yang mau mengingatkanmu menjadi wanita yang selalu menjaga kehormatan.

Tampan itu tidak ada manfaat.
Jika dia mengajakmu bermaksiat.

Kaya juga tak berarti hebat.
Jika dia membuat hidupmu tersesat.

Biarlah dia tak berpangkat.
Asal menjadikanmu wanita terhormat.

Jika salah dia mau memperbaiki.
Bukan malah menghakimi.

Jika lupa dia mau mengingatkan.
Bukan malah menyalahkan.

Jika khilaf dia segera memaafkan.
Bukan malah mempersoalkan..


Utamakan yang beragama.
Karena itu yang akan menjadikanmu hidup bahagia dunia dan akhirat.. Karena dia mampu membimbingmu kejalan
yang di ridhoi-Nya..

Merantau; Menikmati Jeda

“Yats, kuliah dimana?”
“Di Solo.
“UNS?”
“Bukan UMS. Muhammadiyah Surakarta.”
“Lha ngapain kuliah jauh-jauh ke sana. Swasta disini kan banyak. Muhammadiyah Tangerang ada, Muhammadiyah Jakarta aja. Nyusahin diri sendiri lu.”

Sebenarnya, sampai saat ini, sampai semester enam hampir kunjung usai, jangankan sering, sekalipun gak pernah nyesel buat keputusan ngerantau ke Solo buat belajar. Satu-satunya penyesalanku adalah kesempatan pulang dan bersua dengan orang tua semakin sedikit, padahal mereka semakin tua, tapi baru setiap di penghujung semester ada kesempatan pulang.

Pasti ada yang tanya, “Lha kan Tangerang-Solo deket. pulang setiap bulan juga bisa.”

Betul. Aku sebenarnya bukan tidak mampu, tidak ingin ataupun tidak sempat. Tapi, malam itu, di stasiun Pasar Senen, bapakku sebelum keberangkatan berpesan, “Laki-laki harus kuat. pundakmu tidak diciptakan hanya untuk menampung beban masalahmu sendiri, masih ada keluargamu, yang sekarang ataupun yang akan datang, beban negaramu, pekerjaanmu, kehidupanmu, dan beban lainnya. Jadilah lebih kuat dan lebih kuat lagi.”

Dari situ, ada pesan bapak yang sebenarnya tersembunyi, “Sebenarnya, akan ada saatnya kau kehilangan kami, kehilangan beberapa orang yang kau cintai, yang kau sayangi. Dan, kau harus tahu bagaimana cara bangkit meskipun kau seorang diri.”

Maka dari itu, aku pikir caraku untuk jarang pulang adalah caraku yang paling kejam terhadap diri sendiri untuk bisa sesuai dengan pesan bapak.

Solo, beserta isinya; siang harinya yang panas, malam harinya yang romantis, angkringan setiap lima ratus meter, lampu neon yang tak terlalu gemerlap, Slamet Riyadi yang panjang, Ngarsopuro yang menyenangkan, Manahan yang berkelipan, Laweyan yang berkebudayaan, Balekambang yang sederhana, Kotabarat yang penuh manusia, makanan yang tiada matinya, harga murah yang tidak pernah aku habis pikir, keramahan dan sopan santun yang lekat dan dekat, timlo Sastro di Pasar Gede, Selat Vien dekat Solobalapan, bakso patung kuda, simbok-simbok sepanjang Sriwedari dengan jadah bakar serta (aih) perempuan-perempuan yang dalam setiap panorama menampilkan senyum anggun dengan kerudungnya cukup mampu sampai sekarang… membuat aku mencintai kota kecil ini.

Tapi, bahwa kebenaran yang paling aku hindari adalah; kenyataan bahwa aku lebih mengenal tanah rantau ketimbang tanah kelahiran adalah satu-satunya kebenaran yang paling tidak ingin aku akui.

Meskipun begitu, kemanapun langkah kaki ini berjalan, ke kota serta negara lain aku berlayar, kepada rumah pula lah aku berlabuh.

Merantau (terutama ketika kuliah) adalah cara paling asyik menikmati jeda dalam hidup yang maya ini. Meski tidak jauh tanah rantaumu tapi tak mengapa, bepergianlah, kau akan tahu bahwa meme meme anak kos dan mahasiswa ternyata benar-benar ada.

Setidaknya meskipun kau tidak bisa menulis untuk dibagikan ke orang banyak. kau masih bisa membagikan ke anak anakmu kelak dan bilang, “Dulu bapak ngaduk kopi seduh pake bungkusnya,” atau “Dulu bapak balik celana dalam karena lupa nyuci,” atau “Dulu mamah pergi KFC tapi bawa nasi sendiri dari rumah.”

Dimanapun dan kapanpun, hijrah itu adalah nikmat.

Nikmat dimana pada akhirnya menyadarkan kita bahwa berpindah-pindah tempat, berganti-ganti kota adalah latihan yang tepat sebelum kita menetap setelah akhir hayat.


yang sedang pulang dan akan kembali pergi
Tangerang, 30 Juni 2017.