akau

#48

Kepada yang meneruskanku

Anakku, membaca itu penting. Barangkali kau tahu apa arti kalimat pembuka suratku ini. Tetapi tahu tidaklah sama dengan paham. Kalau kau tahu bahwa manusia terbaik itu adalah yang “membaca”, tentu saja berbeda dengan paham bahwa membaca itu adalah rahasia yang tersembunyi.

Aku tahu teman-temanmu sering mengajakmu pergi ke Mall atau pergi camping, berbelanja sepatu baru, atau pergi makan bersama seseorang yang menyukaimu. Aku tahu perasaanmu sebagai anak muda yang di sekitarmu penuh gemerlap, penuh segala hal yang mengasyikan. Semua itu tidak salah, sebab kau tidaklah mungkin bisa hidup di luar ekosistem hidup yang ada. Kau berhak jalan-jalan menikmati udara sore, berhak berbelanja barang-barang kebutuhan yang kau sukai, berhak berteman dengan siapa saja, dan berhak mengagumi seseorang.

Aku pun pernah muda, merasakan bagaimana dunia anak-anak yang penuh petualangan menaikkan layang-layang, pernah berkelana di kota dengan sepeda, pernah hampir hilang, dan sebagainya. Juga pernah merasakan dunia remaja, di mana lawan jenismu tampak bagai mutiara yang ingin dimiliki, pernah menyukai dan disukai, pernah putus asa dan pernah sangat bahagia dengan keluarga. Tentu saja kau pun akan melewati masa itu, dan aku ingin kau lolos dengan baik-baik saja.

Anakku, seperti yang kukatakan di awal, membaca itu penting, dan membaca adalah salah satu senjata yang baik untuk perjalananmu. Agar kau memahami rambu-rambu, arah jalan, peta, dan di mana sebaiknya kau berhenti. Semua itu tentu saja dengan membaca.

Kalau kau suka dongeng, aku akan menyiapkan itu semua bahkan sebelum kau lahir, sebelum terpikir dari Ibu mana kau akan lahir. Bahkan akau kutulis sendiri sebuah buku dongeng, agar Ibumu membacakan itu setiap malam. Dengar dan tatap mata Ibumu, dari situ kau akan mendapatkan kekuatan hidup.

Ketika kau sedikit besar, kau bisa membaca buku-buku novel dan pengetahuan. Aku harap kau suka membaca, meskipun hakmu untuk menyukai hal lain, tetapi bukankah kau sudah tahu bahwa manusia yang baik adalah yang membaca? Maka, bacalah di sela-sela waktumu. Cintai kata demi kata yang dirangkai oleh si penulis. Aku menyukai novel-novel Fitzgerald, Murakami, Hemingway, Pram, Ahmad Tohari, Eka Kurniawan, dan ada banyak lagi. Aku pun suka membaca karya penulis-penulis indie (kau akan tahu mereka adalah orang-orang yang mencintai buku). Apakah buku-buku yang kuwariskan itu sempat kau baca. Bacalah, anakku sayang.

Apakah kau terpikir untuk menulis buku? Itu adalah pemikiran yang paling bagus dan membanggakanku. Kau yang cantik dan tampan, akan bertambah itu semua ketika suatu waktu kau berpikir untuk menulis. Barangkali menulis buku puisi, cerpen, novel, atau apa pun yang ingin kau bagi kepada banyak orang. Aku akan senang dengan itu semua. Aku akan hidup bahagia dan mendapatkan anugerah yang luar biasa.

Tetapi aku tidak akan pernah memaksamu. Apa pun yang kauminati, aku pun suka, sebab di situlah bakatmu. Maka, banggakan aku sebisamu. Ketika kau terpuruk, aku tidak akan menyalahkanmu. Dan kau harus bangkit.

Salam.

Bisa Apa

Katanya, jatuh cinta seringkali terjadi karena proses yang cukup panjang. Namun, pertama kali aku melihatmu, aku merasa seluruh proses itu berjalan begitu cepat, seolah aku bisa tahu bahwa kamu lah yang sejati.

Tapi aku ragu, akan kehadirannya yang mudah datang dan pergi dalam ruang hati, serba sesaat, selalu hadir pada waktu-waktu yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Terlampau banyak hal yang memang belum bisa aku ungkap sendirian, mungkin selamanya aku hanya bisa mencurahkan separuh lebih isi hatiku pada sajak-sajak di atas kertas.

Sayangnya, kamu telah abadi di sini. Terpahat kokoh pada dinding hatiku. Bahkan ketika aku memutuskan untuk tak lagi terjatuh ke hatimu, aku masih saja menaruh segala alasan-alasanku padamu. Termasuk alasanku untuk berubah, juga alasanku untuk menulis.

Aku tidak bisa harus selalu merasa baik-baik saja di depanmu. Setiap hari, aku hanya berani memandangmu dari kejauhan, tanpa berani sedikitpun menampakkan diri ini di hadapanmu. Karena aku tahu, kehadiranmu hanya akan mengusikmu sesaat.

Aku tidak bisa harus selalu berpura-pura kalau akau tidak lagi peduli denganmu. Mungkin aku terlalu bodoh karena masih saja peduli. Pada kenyataannya, aku tidak bisa menghentikan keinginan hatiku untuk mengetahui kabarmu setiap paginya.

Aku tidak bisa menahan rasa cemburuku ketika aku melihatmu begitu akrab dengan yang lain. Saat itu juga, aku hanya bisa melemparkan pandangan, berpura-pura tidak melihat, meski memaksaku untuk berteriak.

Dan mungkin nantinya, aku tidak bisa selamanya sanggup menahan rinduku tentangmu.

Tapi, aku bisa apa?

Bogor, 5 Oktober 2016 | Seto Wibowo

SERASA JABODETABEK #4

SESI RAGAM BAHASA JABODETABEK

Edisi: Bahasa Minang


Assalamualaikum, salamaik malam dunsanak kasadonyo, baa kaba? Lai siaik?
~Assalamualaikum, selamat malam semuanyaa. Gimana kabarnya? Sehat-sehat kah?

 Malam ini, KITA akan mengenal bahasa Minang. Simak baik-baik, yaa~

Suku Minang berasal dari Sumatra Barat. Beberapa orang kadang salah kaprah. Misalnya, ada yang suka bertanya, “Kamu orang Padang, ya?" 
Nah, Padang itu sendiri bukan suku, melainkan nama kota di Provinsi Sumbar, seperti halnya Bukittinggi, Pariaman, dll.

Jadi, lebih tepatnya bertanya seperti ini, ”Kamu suku minang, ya?“

Jawabannya, "Iya, aku Minang. Minangnya di Padang Kota”.

Sekarang lanjut ke pengenalan bahasanya, ya..

1. Kata Ganti

Aku = ambo, awak, denai, aden.
Penggunaan kata ini diurutkan dari kata yg digunakan saat waktu formal sampai penggunaan yang digunakan ke sesama teman. 

Kamu = orang minang lebih suka memanggil lawan bicaranya dengan nama langsung. tapi ada juga yang manggil ke lawan bicaranya dengan kata wa'ang (untuk laki2) dan akau (untuk perempuan) biasanya pemakaian kata wa'ang dan akau dipakai ke sesama teman.

Kami = kami atau kito
Kakek = inyiak
Nenek = enek
Ayah = apak, ayah
Ibu = amak, ibu, bundo
Kakak laki-laki = uda
Kakak perempuan = uni
Paman = pakdang (apak nan paling gadang)
Bibi = makdang (amak nan paling gadang)
Om = paketek (apak nan ketek)
Tante = maketek (amak nan ketek)

** FYI **
Dalam pergaulan sehari-hari, wa'ang (kamu) di Kota Padang menjadi sebuah panggilan kasar jika diucapkan dari lelaki ke perempuan.

Itulah kenapa biasanya di pergaulan sehari-hari biasa menggunakan “aku-kamu” atau justru memanggil nama langsung.

 2. Kalimat Sapa

Selamat pagi = salamaik pagi
Selamat siang = salamaik siang
Selamat sore = salamaik sore
Selamat malam = salamaik malam
Selamat makan = salamaik makan
Selamat beristirahat = salamaik baistirahat
Apa kabar? = baa kabanyo?
Alhamdulillah sehat = Alhamdulillah siaik
Sampai jumpa = sampai jumpo

3. Berhitung

Satu = ciek
Dua = duo
Tiga = tigo
Empat = ampek
Lima = limo
Enam = anam
Tujuh = tujuah
Delapan = salapan
Sembilan = sembilan
Sepuluh = sapuluah
Sebelas = sabaleh
Dua belas = duo baleh
Dua puluh = duo puluah
Dua puluh satu = duo puluah satu
Seratus = saratuih
Seribu = saribu

4. Kata tunjuk

Ini = iko
Itu = itu
Sini = siko
Sana = sinan
Di sini = di siko
Ke sana = ka sinan

5. Budaya dan Sejarah Minang

Suku Minang memiliki sistem matrilineal atau mengambil silsilah dari nasab ibu. Berbeda dengan kebanyakan suku yang ada di Indonesia yang menganut sistem patrilineal atau mengambil silsilah dari pihak ayah. Matrilineal ini sebenarnya dalam minang punya kontra karena Suku Minang kental dengan agama yang paling banyak dianut oleh masyarakatnya. Sedangkan dalam agama Islam -agama yang paling banyak dianut dalam masyarakat Minang- tidak dibolehkan nasab dari pihak ibu.

Asal muasal matrilineal ini sebenarnya terjadi di zaman Kerajaan Majapahit.

Awalnya sistem kekerabatan di Minang berasal dari nasab ayah sama seperti daerah lain di Indonesia. Saat itu masa kejayaan Majapahit, dengan panglimanya, Adityawarman, bersiap menyerang dan menguasai Minangkabau. Minangkabau adalah kerajaan yang dikenal sebagai nagari tanpa polisi. Kerajaan yang tak pernah menyiapkan angkatan perang karena mengutamakan kedamaian bahkan untuk daerah rantau dan pengaruh.

Kemudian petinggi Kerajaan Minangkabau mencari cara bagaimana menghindari peperangan dengan Kerajaan Majapahit, karena masyarakat Minang tidak menginginkan peperangan.

Petinggi Kerajaan Minangkabau bertemu dengan Adityawarman dan memintanya untuk menikahi Puteri Jamilan, anak dari Raja Minangkabau. Tawaran itu juga bisa langsung membuatnya menjadi Raja Minangkabau. Datuak Katumanggungan bersedia memberikan jabatan pucuk alam Minangkabau pada Adityawarman sepanjang ia tidak memerangi rakyat Minangkabau dan harus mau menikah dengan Puteri Jamilan.

Menyadari gelagat Adityawarman akan menerima tawaran itu, Raja Minangkabau saat itu mencari siasat agar raja-raja berikutnya tetap dianggap menerima warisan kerajaan dari Raja Minangkabau dan bukan dari Adityawarman. Ditetapkanlah adat Batali Bacambua yang langsung merubah struktur masyarakat Minangkabau.

Singkat cerita, adat ini terus mengakar hingga sekarang. Maka dari itu matrilineal ada di Sumatera Barat.

Kalian pasti juga pernah dengar, kan, bahwa dalam adat Minang perempuanlah yang melakukan lamaran?

Pertanyaan ini sering ditanyakan ke mereka yang bersuku Minang. Jawabannya tidak semua perempuan minang itu melamar laki-laki, atau bahasanya membeli laki-laki. Adat ini berlaku di Pariaman, namun rasanya sekarang ini sudah sangat jarang yang melakukan. Untuk daerah lain seperti Bukittinggi, Solok, Padang kota, Payakumbuah, tidak menganut adat ini.

Bicara Minang, rasanya belum sah kalau belum bahas kulinernya, yaa..

- Rendang
Makanan -yang katanya dinobatkan sebagai makanan nomer satu di dunia- ini rasanya memang sangat enak. Masaknya pun bisa berjam-jam. Karena untuk mendapat yang istimewa itu tidak instan, guys. Hihi.

- Dendeng atau dendeng batokok
Bahan dasar dendeng tidak jauh berbeda dengan rendang; daging. Bedanya, dendeng ini daging yang dipotong tipis dan digoreng. Cara masaknya direbus dulu dagingnya, setelah matang dipukul (ditokok), barulah digoreng. Masaknya pun sama lamanya.

- Soto Padang
Untuk soto ini rasanya belum semua orang familiar. Soto padang ini isinya hampir sama seperti soto di wilayah Indonesia lainnya. Ada bihun, perkedel, daun bawang, seledri dan dendeng. Kuahnya dengan kuah kari. Ehm, kira-kira rasanya enak nggak, ya? Pastilah!

- Sate Padang
Sate padang ini biasanya menggunakan daging lidah. Cara masaknya daging direbus dulu, baru kemudian dibakar.

- Kerupuk Sanjai
Kerupuk sanjai adalah kerupuk singkong yang dikasih cabai, atau dibalado.

- Bika Simariana
Bika simariana ini adanya di Bukittingi. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan serabi, hanya saja lebih besar.

Eits, jangan lapar dulu, ya! Kita wisata dulu, yuk..
Berikut ini ikon-ikon wisata yang terkenal di Sumatera Barat:

- Jam Gadang
Ikon Kota Bukittinggi yang paling terkenal. Yang menarik dari Jam Gadang ini ialah penulisan angka romawi 4 (IV) ditulis IIII bukan IV seperti seharusnya. Alasannya masih menjadi misteri hingga saat ini.

- Ngarai Sianok dan Lubang Jepang
Masih terletak di Bukittingi juga, ngarai ini bisa dibilang jurang dengan pemandangannya yang indah sekali. Ada juga Lubang Jepang yang mengingatkan kita tentang jaman penjajahan dulu.

- Pulau Siberet, Mentawai
Pulau satu ini juga sudah terkenal. Apa di antara kalian ada yang pernah berkunjung ke sana?

- Danau Singkarak, Danau Maninjau.
Yang ini danau kebanggaannya masyarakat Minang. Pemandangannya bagus dan menenangkan sekali. Yang mau refreshing sangat dianjurkan ke sana. Kuy~

- Kota Limopuluah, Harau
Nah, ini spot yang cocok untuk kalian yang hobi panjat tebing.

Sekarang KITA berkenalan dengan sastra Minang ya..

Sama seperti di daerah lain, Minang juga punya banyak karya sastra; lagu, puisi, pantun, cerpen, dll.

Salah satu sastrawan terkenal dari Minang adalah Buya Hamka, dengan karya paling populernya; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dll.

Selain itu, Minang juga terkenal dengan pantunnya. Karena orang Minang suka berpantun, misal di acara lamaran, para ninik mamak (tetua suku) suka berbalas pantun dulu sebelum masuk ke acara inti.


Sebelum berpisah, KITA ingin berpantun dulu nih..

Batabek ikan d tangah swah
Tabek diisi jo ikan nila,
Kasiah sayang sadang tacurah
Adiak bakato salamaik tingga

~ Beternak ikan di tangah sawah
Kolam diisi dengan ikan nila
Kasih sayang sudah tercurah
Adik berkata selamat tinggal

Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umurku panjang
Bolehlah kita bertemu lagi

Salam temu~

Pemateri:  @fnibrass (Fathin Nibras)
Notulensi: @tandatanya (Sadra Ananda)

Terima kasih, Kak Fathin! ;)
Semoga bermanfaat

Sampai jumpa di SESI RAGAM BAHASA KITA JABODETABEK  ;) 

cc: @tumbloggerkita

Elgood Limestone. Te Akau.

The Elgood Limestone is a flaggy limestone of early Oligocene age lying within the Glen Massey Formation. It is part of the broader Te Kuiti Group geology.

Once surrounded by native forest, but now farmland, this geology is now easily observable as one travels the west coast of the North Island between Port Waikato through to Raglan.