airbus a330 300

Draft#1

Cerita: Kinsia Eyusa Merry dan Yunus Kuntawi Aji


“At what speed I must live, to be able to see you again?”

Awal Agustus di bandara Juanda,Surabaya. Suasana terminal keberangkatan domestik bandara tampak ramai. Sebagian orang menurunkan koper dari mobilnya. Sebagian lagi mendorong trolley, menyerahkan tiket dan paspor kepada petugas bandara. Banyak anak kecil berseliweran di sana-sini. Musim liburan di Indonesia. Di tengah padatnya bandara, dari arah kanan datang sedan hitam dengan kecepatan tinggi menuju tempat parkir. Sepertinya sedang terburu-buru.

“Kamu teledor banget sih, Me. Paspor pake ketinggalan segala. Untung jalanan ga macet tadi,” pengemudi sedan itu ngomel ke perempuan di sebelahnya.

Sorry kak, namanya juga buru-buru tadi. Hehehe,” timpal perempuan itu. Nyengir.

Kenalkan, perempuan itu namanya Dame. Sedangkan lelaki itu adalah Nino. Hari ini adalah hari yang penting bagi Dame. Ia akan pergi menghadiri One Young World Summit di Jepang. Dame terpilih mewakili universitasnya setelah melewati seleksi yang ketat. Proses seleksinya sendiri memakan waktu tiga bulan dan hasilnya diumumkan bulan lalu. Saat melihat namanya terpampang di papan pengumuman, Dame merasa sangat gembira. Ada dua alasan yang membuat ia senang. Pertama, ia berhasil terpilih sebagai satu-satunya wakil universitas sekaligus wakil Indonesia menyingkirkan ratusan mahasiswa lain. Kedua, lokasi konferensinya di Jepang. Berbicara mengenai Jepang terasa begitu sentimental buat Dame. Ia sudah 14 tahun tidak ke sana. Ke negara kelahirannya. Itu artinya, ia akan kembali ke memori masa kecilnya yang bahkan hampir tidak ia ingat lagi itu.

Banyak yang mengira Dame keturunan Jepang dari namanya. Faktanya adalah ia lahir di Kyoto dan menghabiskan masa kecil di sana. Dame memang sempat tinggal di Jepang sampai usia 6 tahun. Ia lahir dan besar di sana karena ayahnya yang seorang dosen saat itu mengambil studi S2 hingga S3 di Universitas Kyoto. Meskipun cukup lama ia tinggal di Jepang, tetapi ia tidak bisa berbahasa jepang. Hanya kata-kata standard yang bisa ia ucapkan, seperti ohayou, arigatou gozaimasu, konichiwa, konbawa, sumimasen, gomen, ramen, sushi, dan okonomiyaki.

“Baju santai, udah. Pakaian dalam, udah. Baju formal, udah. Sepatu, udah. Alat mandi, udah. Mukenah, udah. Hairdryer, udah. Charger, udah. Kamera, udah. Tripod, udah. Uang, udah.” Dame mengecek kembali daftar barang bawaan yang seharusnya ia bawa untuk kesekian kalinya. Ia khawatir ada yang tertinggal. Total terdapat 122 daftar barang di dalam 2 koper dan 1 tas punggung yang ia bawa. Semuanya adalah barang kebutuhannya untuk pergi ke Jepang selama 10 hari. Saat ia sedang memeriksa check list yang ada, androidnya berbunyi. Ibunya menelepon.

“Mbak, kamu sudah sampai bandara?” tanya ibunya.

“Udah bu. Ini baru aja nyampe. Kak Nino cepet nyetirnya. Hehehe.”

“Syukurlah. Ibu khawatir kamu terlambat. Hati-hati ya mbak. Kalau udah sampai Jepang jangan lupa telpon Ibu. Salam buat Nino ya.”

“Iya, Bu. InsyaAllah,” ujar Dame sambil melirik lelaki di sebelahnya.

***

Nino dan Dame berada di depan pintu terminal keberangkatan. Dame memegang satu koper, sedangkan satu koper lainnya dipegang Nino.

“Pesawat kamu jam setengah enam kan, Me?”

“Sebentar kak, aku cek lagi.” Dame mengambil e-ticket dari kantong celananya.

E-ticket

Air Indonesia

Flight 1 Sun, 3 Aug 2014

Departure: 17:40 Surabaya, Indonesia - Juanda

Arrival: 19:40 Denpasar-Bali, Indonesia - Ngurah Rai

Airline: AI344

Aircraft: Boeing 737-800

Flight 2 Mon, 4 Aug 2014

Departure: 00: 35 Denpasar-Bali, Indonesia - Ngurah Rai, terminal 1

Arrival: 08:30 Osaka, Japan - Kansai International, terminal 1

Airline: AI882

Aircraft: Airbus Industrie A330-300

“Udah waktunya, Me,” ujar Nino sambil melihat jam tangannya. Ia kemudian menyerahkan koper yang sejak tadi dipegangnya.

“Iya kak. Makasih banyak ya kak udah nganterin aku,” balas Dame.

“Sudah seharusnya kok. Safe flight ya.”

“Kak.”

“Ya?”

“Dapet salam dari ibu,” ujar Dame sambil tersenyum.

Nino memperhatikan Dame seiring ia masuk ke dalam terminal.

***

Ia terlahir dengan nama Idame Kinanti Agia. Idame berarti Idaman. Kinanti, dinanti. Agia, bahagia. Idaman yang dinanti untuk berbahagia. Kedua orang tuanya menamakannya demikian karena ia lahir setelah penantian selama 10 tahun oleh kedua orang tuanya. Dari namanya, banyak yang mengira ia adalah orang Jepang. Tetapi ia adalah keturunan jawa asli. Suaranya yang medok (sebenarnya bagi teman-teman kuliahnya, ia sama sekali ga medok, tetapi bagi teman-teman lamanya di Jakarta, suara medoknya terdengar jelas sekali.) ga bisa menyembunyikan asal-usulnya. Idame adalah dambaan bagi kedua orang tuanya. Ia anak pertama dan terakhir di keluarganya. Ia lahir setelah 10 tahun pernikahan. Berkali-kali kedua orang tuanya berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan keturunan. Tetapi baru setelah ayahnya bersekolah di Jepang, ibunya hamil.

Dame menjalani masa-masa kehidupan pertamanya di Jepang hingga ayahnya menyelesaikan pendidikan doktoralnya. Di usianya yang keenam, ia sekeluarga kembali ke Indonesia. Tinggal di Jakarta (lalu ke Surabaya). Meninggalkan Jepang. Meninggalkan ingatan masa kecilnya tentang Jepang. Sayangnya kini, semua ingatan masa kecilnya itu nyaris hilang tak berbekas. Tidak begitu ia ingat lagi teman-teman masa kecilnya, lingkungan rumahnya, musim-musim yang berputar di sana, semuanya tinggal samar-samar berada di dalam ingatannya.

Suasana di ruang tunggu bandara saat itu terlihat ramai. Dame duduk sendirian di sudut ruangan sambil melihat-lihat hasil jepretan kameranya di sepanjang jalan menuju bandara hari ini. Selesai dengan kameranya, Dame mengeluarkan androidnya dan check in di Path.

“Idame at Juanda Internasional Airport.

The next 10 days gonna be awesome. Bismillah.”

Tidak lama kemudian, ada satu teman yang menandai emotikon smile di statusnya tersebut. Nino Harnangga.

***

Namanya Nino Harnangga. Di android Dame, namanya tersimpan sebagai Nino Majalah Airlangga karena memang Dame dan Nino satu organisasi di majalah kampus tersebut. Nino adalah pimred, sedangkan Dame fotografer di sana. Perkenalan mereka sudah dimulai sejak 2 tahun lalu, saat Dame mendaftar organisasi pers tersebut.

Nino adalah sosok pemimpin. Seorang intelektual yang memiliki wawasan luas. Ia dikenal sebagai sosok yang misterius, bertangan dingin, berkepala dingin, dan juga berwajah dingin. Sebagian orang mengatakan ia orang yang sombong. Tetapi sebenarnya, ia hanya berbeda dari mahasiswa seusianya, memiliki tingkat pemikiran dan topik pembicaraan di atas rata-rata. Cara ia berbicara, cara ia bertingkah laku, cara ia memimpin, menunjukkan kedewasaannya.

Nino berada di tahun kelima perkuliahannya. Lamanya masa studi bukanlah akibat ia tertinggal di satu atau dua mata kuliah, tetapi semua terjadi karena komitmennya untuk memimpin Majalah Airlangga secara penuh. Nino adalah Majalah Airlangga dan Majalah Airlangga adalah Nino. Nino Harnangga.

***

Satu jam kemudian, Dame turun dari pesawat di bandara Ngurah Rai untuk transit. Begitu sampai terminal, ia langsung menuju terminal internasional untuk check in penerbangan berikutnya menuju Osaka. Berdasarkan jadwal, ada waktu jeda beberapa jam di bandara sebelum ia melanjutkan perjalanan. Setelah proses check in, ia pun duduk-duduk di kursi bandara. Dame bingung apa yang akan ia lakukan dalam waktu selama itu di bandara. Keluar buat jalan-jalan di luar bandara, waktunya tanggung dan Dame terlalu takut untuk ketinggalan pesawat. Akhirnya Dame memilih untuk mengeluarkan kameranya dan mencari-cari objek foto yang menarik di bandara.

Berbicara soal kamera, Aurora adalah sahabatnya selama 3 tahun terakhir. Aurora dibelinya saat ia dinyatakan diterima di Majalah Airlangga. Saat itu Dame ingat benar wawancara seleksi akhir saat ia mendaftar menjadi anggota Majalah Airlangga. Saat itu ia diwawancara oleh Nino.

“Jadi kamu mau jadi reporter atau fotografer?” tanya Nino, dingin.

“Aku suka dua-duanya, Kak. Dan aku bisa dua-duanya,” jawa Dame dengan suara yang tertahan perlahan.

“Iya. Aku tau kamu punya banyak kemampuan. Makanya kamu bisa lolos sampai seleksi wawancara akhir ini. Tapi kamu pada akhirnya harus memilih. Majalah Airlangga ga menerima satu orang luar biasa dengan dua peran. Kami hanya mencari orang yang biasa-biasa saja tapi menekuni satu keahlian.”

Dame terdiam. Ia tampak berpikir keras.

“Aku lebih suka fotografi kak.”

Sejak saat itu, Dame bertekad untuk menekuni dunia fotografi. Ia menjual kamera sakunya dan membeli DSLR terbaru yang ia namakan Aurora. Aurora pun ia jadikan senjata utama dalam berburu berita untuk Majalah Airlangga. Dame menyukai dunia fotografi. Ia suka bercerita dalam rangkaian gambar. Baginya, foto memiliki keunikan tersendiri. Sebuah foto akan tetap sama meskipun orang-orang di dalamnya telah berubah. Orang-orang berubah, tetapi tidak untuk kenangan. Kenangan tetap tinggal. Atau tertinggal.

Good evening passengers. This is the pre-boarding announcement for Air Indonesia flight number AI882 to Osaka. We are now inviting those passengers with small children and any passengers requiring special assistance to begin boarding at this time. Please have your boarding pass and identification ready. Regular boarding will begin in approximately ten minutes time. Thank you.

Pengumuman keberangkatan bagi Dame. Dame menelpon ibu.

“Bu, aku udah mau boarding sekarang. Dame pamit dulu ya, Bu. Sampaikan pamit Dame juga ke Bapak.”

Setelah menutup telepon, Dame membuka Line dan mengetik pesan kepada teman-temannya di kampus, termasuk Nino.

Idame Kinanti Agia:

“Teman-teman, aku jalan dulu ya. Sampai jumpa lagi di kampus. :)”

Tidak lama setelah mengetik, Dame langsung mendapat balasan dari beberapa temannya. Namun, pesan Line-nya kepada Nino hanya di-read. Dame menunggu. Sepuluh detik, 20 detik, 1 menit. Tidak ada balasan dari Nino. Dame pun mematikan androidnya dan melangkah menuju pesawat, menuju negeri Yoshinoya.

 …(mungkin) bersambung