adimas-immanuel

Kau Bertanya Aku Ingin Mati dengan Cara Apa

aku ingat suatu hari kau bertanya
aku ingin mati dengan cara apa

aku tak langsung menjawab

aku hanya membayangkan peristiwa
apa yang membuatmu menanyakannya

merancang kematian bukan hal sederhana
terlebih jika itu kematian sendiri
bukan karena aku takut akan kematian
tapi karena kematian malah
membuatku merasa lebih hidup

bukankah itu lebih menakutkan dari kematian?

kita punya dada seperti padang terbuka
kita menanamnya dengan apa saja
pohon, bunga, buah, janji, dan harapan
tapi tak satupun tangan kita memetiknya

lalu suatu hari kau bertanya aku ingin mati
dengan cara apa tapi ku tak segera menjawab

kulihat padang dalam dadaku terbalik
dan merontokkan segala yang tumbuh ke bumi
kau bertanya aku ingin mati dengan cara apa
padahal aku pun kini sejatinya tak hidup
dengan cara yang diajarkan orang-orang

bukankah itu lebih melegakan dari kehidupan?

entah kau atau kata harus segera menjawabnya


  • Jika Cinta Benar-Benar Beralih Dari Kita
  • Adimas Immanuel (Voice by Bella Amanda Jati)
Play

Dari beberapa bulan lalu ingin menyuarakan salah satu puisi favorit saya karangan Adimas Immanuel. Tanpa gitar, hanya distorsi kecil yang terdengar. Semoga menenangkan :)

P.S.: Kata pria yang ditulis dalam puisi ini saya ganti menjadi manusia

kawahluka.blogspot.com
Di Laut Matamu

Isi kepalamu membuatku jatuh pesona, Adimas.
Bagaimana bisa pembacamu menipu mata, sementara hati telah kau ringkas berkas kenangnya untuk pergi mengembara ke tiap sisi gelap.
Meskipun setauku ruang tamu telah memadamkan petromaksnya sendiri, tapi sepertinya kelingkingku terlanjur melingkar pada janji: bahwa selalu ada tempat untuk menjamu peretas lintasan sukma.

Kali ini kau, duduklah bersama dua atau tiga cangkir kopimu.

Kau Bertanya Aku Ingin Mati dengan Cara Apa

aku ingat suatu hari kau bertanya
aku ingin mati dengan cara apa

aku tak langsung menjawab

aku hanya membayangkan peristiwa
apa yang membuatmu menanyakannya

merancang kematian bukan hal sederhana
terlebih jika itu kematian sendiri
bukan karena aku takut akan kematian
tapi karena kematian malah
membuatku merasa lebih hidup

bukankah itu lebih menakutkan dari kematian?

kita punya dada seperti padang terbuka
kita menanamnya dengan apa saja
pohon, bunga, buah, janji, dan harapan
tapi tak satupun tangan kita memetiknya

lalu suatu hari kau bertanya aku ingin mati
dengan cara apa tapi ku tak segera menjawab

kulihat padang dalam dadaku terbalik
dan merontokkan segala yang tumbuh ke bumi
kau bertanya aku ingin mati dengan cara apa
padahal aku pun kini sejatinya tak hidup
dengan cara yang diajarkan orang-orang

bukankah itu lebih melegakan dari kehidupan?

entah kau atau kata harus segera menjawabnya


“ Adimas Immanuel “