adek

flickr

Grand Billiards by carnagenyc
Via Flickr:
Spend your moneys here

orang kaya

sejak mbak vinda dan mas uta di inggris, ibu punya hobi baru: mantengin instagramnya mbak vinda supaya tau kabar dan bisa ikut liat suasana di sana. hobi ini meluas menjadi ikut liat-liat postingan orang-orang yang aku follow. nggak banyak sih, secara yah aku bukan anak sosial media amat. di kanal manapun, following-ku sedikit sekali. hehe.


tersebutlah ibu terkejut sekaligus terpesona dengan teman-teman sepermainanku yang sudah melanglang buana ke mana-mana. “mbak, si A ini di sini mbak? si B jalan-jalan ke sini mbak? gaya ya…” aku pun manggut-manggut, “iya Bu. rata-rata temanku penghasilannya sudah dua digit, bisa nabung, jalan-jalan…” dan seterusnya aku bercerita, “ada juga yang kuliah, kerja, macam-macam.”


lalu entah bagaimana, ibu seperti berusaha melegakan aku yang nggak bisa punya gaya hidup dan kehidupan seperti itu (nggak bisa, bukan nggak mau. alasannya tidak hanya karena gaji dan penghasilan yang secukupnya, tetapi juga karena sudah berkeluarga, ada mbak yuna, dan banyak lagi). “jalan-jalan itu hanya soal waktu dan cara,” kata ibu, “nanti juga kamu ada waktunya. caranya siapa tau karena berprestasi sesuatu bukan karena sekadar ingin jalan-jalan. caranya siapa tau ikut mas yunus.”


“hehe. aku bersyukur loh Bu, dididik sama Ibu untuk menjadi sederhana. mas yunus beruntung amat yak Bu dapat istri sederhana (bagian ini jumawa dikit tapi nggak papa lah ya). boro-boro deh jalan-jalan, beli make up aja sekali pas seserahan, beli baju aja benar-benar kalau butuh doang. aku kalau punya uang, mending sekolah daripada jalan-jalan. mendingan beliin dek ute komputer bagus biar lebih produktif kerja. mending cetak buku daripada jajan-jajan. kalau jajan ya mending jajanin adek-adek.”


ibu masih asyik melihat satu per satu foto teman-teman di instagram. “iya mbak, memang harusnya begitu jadi istri, jadi orang. selaluuu lihat manfaatnya untuk orang lain. kalau hanya untuk diri sendiri, sayang. masih seumur kamu sih nggak usah gaya-gayaan. gayanya itu kalau seperti alumni-alumni ibu tuh loh mbak. bisa mengelola bisnis, memimpin, membantu banyak adik kelasnya, menginspirasi.”


lalu kata ibu lagi, “orang yang mau lebih lama susah akan mudah lebih lama. sekarang, tahan diri dulu lah dari bersenang-senang. memanjakan diri boleh, ya seperlunya saja. secukupnya.”


ngobrol sama ibu selalu beda yah. :“

terima kasih ya Bu, aku dididik kayak gini. terima kasiiih banget banget. entah bagaimana di dalam hati, aku merasa super kaya. btw, kemarin di kelas, mentorku baru tau kalau aku ini founder start up. lalu dia minta aku sharing kepada semua teman, dan eventually bilang sambil menunjuk gumun, "horang khayaa kamu yaah.”


bisa jadi. kekayaan yang sesungguhnya nggak ada di halaman sosial media. bahkan, nggak di bagaimana kita menampilkan diri kita. kekayaan yang sesungguhnya ada di akal, mental, dan hati. nah yang itu memang tidak mudah dilihat, tetapi sangat mudah dirasakan. indikatornya, kalau orang lain bahagia dan terbantu dengan kehadiran kita, insyaAllah kita tuh orang kaya.


disclaimer:

lagi kangen nulis buku harian. maaf isinya semacam pamer dan bahasanya sangat personal. juga, nggak berarti yang suka jalan-jalan bukan “orang kaya”. ini hanya cara pandang yang berbeda. :P

Bu, Kenapa Allah Nggak Kelihatan?

Karya Azka Sa’dan

Anak : ibu, siapa itu Allah dan kenapa kita gabisa ngeliat Allah ?

Ibu : Allah itu adalah Tuhan kita nak, Dia yang menciptakan kita, menciptakan alam semesta, menciptakan bumi tempat kita tinggal sekarang dan banyaaaakk bangeett yang udah Allah ciptakan. Kalau gak ada Allah, mungkin kita gabisa hidup nak, karena udara yang kita hirup sekarang juga Allah yang nyiptain. Hebat kan Tuhan kita?

Anak : iya bu. Tapi kalau Allah itu Tuhan kita, kenapa kita gabisa ngeliat Tuhan yang nyiptain kita sih?

Ibu : Nah, itulah hebatnya Tuhan kita. Kita sama sekali gabisa ngeliat Dia. Tapi, Dia selalu ngeliat kita sayang, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Misalnya adek lagi shalat, lagi ngaji, lagi bantuin ibu, lagi menolong orang, semuanya Allah ngeliat.

Anak : terus kok kita gabisa ngeliat??

Ibu : Karena, Allah ingin kita menyembahNya bukan karena kita bisa melihatnya. Jadi kalau adek shalat, adek beribadah, adek berbuat baik, itu bener-bener untuk Allah. Karena adek sadar, Allah itu ada di dekat kita tanpa kita ketahui sayang. Daann, biar nanti di akhirat, anak ibu bisa ngeliat Allah langsung tanpa penghalang. Jadi surprise deh hehe 😃.

Anak : oh iya aku paham bu, terimakasih ibuku sayang.

Ibu : sama-sama nak ❤️.

Ketika Anak Bertanya Tentang Allah

Allah itu Siapa?

Utamanya pada masa emas 0-5 tahun, anak-anak menjalani hidup mereka dengan sebuah potensi menakjubkan, yaitu rasa ingin tahu yang besar.

Seiring dengan waktu, potensi ini terus berkembang (Mudah-mudahan potensi ini tidak berakhir ketika dewasa dan malah berubah menjadi pribadi-pribadi “tak mau tahu” alias ignoran, hehehe).

Nah, momen paling krusial yang akan dihadapi para orang tua adalah ketika anak bertanya tentang ALLAH. Berhati-hatilah dalam memberikan jawaban atas pertanyaan maha penting ini. Salah sedikit saja, bisa berarti kita menanam benih kesyirikan dalam diri buah hati kita. Nauzubillahi min zalik, ya…

Berikut ini saya ketengahkan beberapa pertanyaan yang biasa anak-anak tanyakan pada orang tuanya:

Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?”
Tanya 2: “Bu, Bentuk Allahitu seperti apa?”
Tanya 3: “Bu, Kenapa kita gak bisa lihat Allah?”
Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?”
Tanya 5: “Bu, Kenapa kita harus nyembah Allah?”

Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?”

Jawablah:

“Nak, Allah itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, kodok, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kamu.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

Tanya 2: “Bu, bentuk Allah itu seperti apa?”

Jangan jawab begini:

“Bentuk Allah itu seperti anu ..ini..atau itu….” karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan.

Jawablah begini:

“Adek tahu ‘kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing,..semuanya.. nah, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

فَاطِرُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ أَزۡوَٲجً۬ا‌ۖ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِ‌ۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ۬‌ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١)

[Dia] Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan [pula], dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Asy-Syura:11)
[baca juga Melihat Tuhan]

Tanya 3: “Bu, kenapa kita gak bisa lihat Allah?“

Jangan jawab begini:

Karena Allah itu gaib, artinya barang atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Jawaban bahwa Allah itu gaib semata), jelas bertentangan dengan ayat berikut ini.
Al-Hadid 57) : 3

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Zahir dan Yang Batin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dikhawatirkan, imajinasi anak yang masih polos akan mempersamakan gaibnya Allah dengan hantu, jin, malaikat, bahkan peri dalam cerita dongeng. Bahwa dalam ilmu Tauhid dinyatakan bahwa Allah itu nyata senyata-nyatanya; lebih nyata daripada yang nyata, sudah tidak terbantahkan.

Apalagi jika kita menggunakan diksi pilihan kata) “barang” dan “sesuatu” yang ditujukan pada Allah. Bukankah sudah jelas dalil Surat Asy-Syura di atas bahwa Allah itu laysa kamitslihi syai’un; Allah itu bukan sesuatu; tidak sama dengan sesuatu; melainkan Pencipta segala sesuatu.

Meskipun segala sesuatu berasal dari Zat-Sifat-Asma Nama)-dan Af’al Perbuatan) Allah, tetapi Diri Pribadi Allah itu tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af’al. Diri Pribadi Allah itu tidak ada yang tahu, bahkan Nabi Muhammad SAW. sekali pun. Hanya Allah yang tahu Diri Pribadi-Nya Sendiri dan tidak akan terungkap sampai akhir zaman di dunia dan di akhirat.

[Muhammad melihat Jibril] ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu Yang Meliputinya. Penglihatannya [Muhammad] tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak [pula] melampaui-Nya. (Q.S. An-Najm: 16-17)
{ini tafsir dari seorang arif billah, bukan dari saya pribadi. Allahua’lam}

Jawablah begini:

“Mengapa kita tidak bisa melihat Allah?”
Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih adik comel berpikir retoris)
“Adik bisakah nampak matahari yang terang itu langsung? Tidak ‘kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah,melihat matahari aja kita tak sanggup. Jadi,Bagaimana kita mau melihat Pencipta matahari itu. Iya ‘kan?!”

Atau bisa juga beri jawaban:
“Adek, lihat langit yang luas dan ‘besar’ itu ‘kan? Yang kita lihat itu baru secuil dari bentuk langit yang sebenarnya. Adek gak bisa lihat ujung langit ‘kan?! Nah, kita juga gak bisa melihat Allah karena Allah itu Pencipta langit yang besar dan luas tadi. Itulah maksud kata Allahu Akbar waktu kita salat. Allah Mahabesar.”

Bisa juga dengan simulasi sederhana seperti pernah saya ungkap di postingan “Melihat Tuhan”.
Silakan hadapkan bawah telapak tangan Adek ke arah wajah. Bisa terlihat garis-garis tangan Adek ‘kan? Nah, kini dekatkan tangan sedekat-dekatnya ke mata Adek. Masih terlihat jelaskah jemari Sobat setelah itu?

Kesimpulannya, kita tidak bisa melihat Allah karena Allah itu Mahabesar dan teramat dekat dengan kita. Meskipun demikian, tetapkan Allah itu ADA. “Dekat tidak bersekutu, jauh tidak ber-antara.”

Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?”

Jangan jawab begini:

“Nak, Allah itu ada di atas..di langit..atau di surga atau di Arsy.”

Jawaban seperti ini menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang. Lalu jika Allah ada di langit, apakah di bumi Allah tidak ada? Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Allah…berarti prinsip “Allahu Akbar” itu bohong? [baca juga Ukuran Allahu Akbar]

ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۚ
Dia bersemayam di atas ’Arsy. <– Ayat ini adalah ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang wajib dibelokkan tafsirnya. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita mengenal makna denotatif dan konotatif, nah.. ayat mutasyabihat ini tergolong makna yang konotatif.

Juga jangan jawab begini:
“Nak, Allah itu ada di mana-mana.”
Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Allah itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno.

Jawablah begini:

“Nak, Allah itu dekat dengan kita. Allah itu selalu ada di hati setiap orang yang saleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Allah selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada.”
[baca juga Mulai Saat Ini Jangan Sebut-sebut Lagi Yang Di Atas]

“Qalbun mukmin baitullah”, ‘Hati seorang mukmin itu istana Allah.” Hadis)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat.(Q.S. Al-Baqarah 2) : 186)

وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ‌ۚ
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.(Q.S. Al-Hadiid: 4)

وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. (Q.S. Al-Baqarah 2) : 115)

“Allah sering lho bicara sama kita..misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan,..nah, itulah bisikan Allah untukmu, Sayang.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

وَٱللَّهُ يَهۡدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ
Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Baqarah: 213)

Tanya 5: “Bu, kenapa kita harus nyembah Allah?”

Jangan jawab begini:

“Karena kalau kamu tidak menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke neraka. Kalau kamu menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke surga.”

Jawaban seperti ini akan membentuk paradigma (pola pikir) pamrih dalam beribadah kepada Allah bahkan menjadi benih syirik halus khafi). Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang menjadi ateis karena menurut akal mereka,”Masak sama Allah kayak dagang aja! Yang namanya Allah itu berarti butuh penyembahan! Allah kayak anak kecil aja, kalau diturutin maunya, surga; kalau gak diturutin, neraka!!”

“Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya.” (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)

Jawablah begini:

“Nak, kita menyembah Allah sebagai wujud bersyukur karena Allah telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernapas menghirup udara bebas, gratis lagi.. kalau mesti bayar, ‘kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium. Semua untuk kesenangan kita.

Kalau Adek gak nyembah Allah, Adek yang rugi, bukan Allah. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru.”
(Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلۡعَـٰلَمِينَ
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam. (Q.S. Al-Ankabut: 6)
[baca juga Mengapa Allah Menciptakan Makhluk?]

Katakan juga pada anak:

“Adek mulai sekarang harus belajar cinta sama Allah, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?!” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

“Kenapa, Bu?”

“Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Allah tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Allah selalu ada untuk kamu. Nanti, Allah juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Adek seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Paman, Bibi, atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu.”


Sumber: Anak Islami

gadis-dusun  asked:

Rukun nikah teh cuma ada 5 kang Pengantin lelaki (Suami),Pengantin perempuan (Isteri), Wali ,Dua orang saksi lelaki , Ijab dan kabul (akad nikah). rizki mah sudah diatur

Tapi nggak bisa datang ke orang tua calon tanpa modal duit kan? Mana ada orang tua yang mau melepas anaknya ke anak orang yang untuk makan sendiri aja masih gak gablek.

Ya, gue percaya ada rejeki isitri ada rejeki anak. Tapi Tuhan hanya akan membantu orang-orang yang mau membantu dirinya sendiri. Jadi daripada nekat, terus terlalu bergantung sama apa yang namanya Rejeki Anak dan Rejeki Istri sih mending usaha dulu dari awal.

Kumpulin duit.

Sholat doang gak mendatangkan duit.
Sholat sama usaha yang mendatangkan duit.

Usaha nanti aja pas udah nikah?
Kalau usahanya gak lancar? Kalau bangkrut dengan modal yang masih mangkrak terus tabungan gak ada?

Anakmu mau dikasih makan indomie tiap hari?

Intinya, apabila mulut sendiri udah bisa dikasih makan, baru deh ngasih makan mulut orang lain. Kalau untuk mulut sendiri aja masih susah, jangan nyusahin orang lain dulu deh.

 Iya emang istri/suami harus mau merintis dari 0, tapi merintis dari 0 itu bukan dari 0 banget. Minimal kamu punya modal untuk jalan.

Seperti, kalau mau lomba lari, ya minimal punya kaki dulu sama stamina baru deh ikut lomba. Itu namanya merintis dari 0.

Tapi kalau kaki aja masih belum punya dan ente punya asma, mau ikut lomba bagaimana caranya?

Please girl. 
Buat kalian, emang nikah butuh cepet2 karena kepentok umur. Tapi buat laki-laki, dia harus membuktikan dulu sama dirinya sendiri kalau dia bisa hidup dan bangga pada dirinya sendiri.

Ngebuktiin sama orang tua. Ngebuktiin sama adek-adeknya. Ngebuktiin sama masa lalunya. Karena laki-laki itu dibentuk dari harga diri. Maka sebab itu laki-laki banyak yang nikah setelah punya kerjaan/usaha yang steady.

(un) fair (?)

being rich is sometimes being unfair too

gue pernah bahas ini bareng temen gue gara-gara ada temen yang kuliah ke kampus idaman di UK dibiayain ortu. Meanwhile temen gue punya tiga adek yang harus disekolahin jadinya dia yang sebenernya punya cita-cita ambil master harus menunda keinginan dan kerja di BUMN demi biayain sekolah adek-adeknya.

“kalo kayak gini jadinya ga bersyukur sama gaji ya, Day (?)”

“gue belom ngomong ~XD”

kami sama-sama tertawa.

“Iya beraninya gue ngomong kayak gitu meanwhile orang lain pada pengen banget masuk tempat kerja gue hari ini. Beraninya gue ngomong kayak gitu pas di luar sana banyak anak terlantar sementara gue dikasih kesempatan buat berbakti ke orang tua dengan ngurusin adek-adek gue”

sementara di pembicaraan lain, ada temen gue (sebut saja si A). Dia nyeritain si B yang emang udah turunan profesor dari generasi mbah buyutnya dia ~XD terus si B ini jadi dosen di salah satu kampus bergengsi di Indonesia.

si A komentar tentang si B

“Iya sih. Si B anaknya profesor. Wajar kalo bisa masuk ke sana. Aku alhamdulillah, meskipun anak daerah tetep bisa jadi dosen di kampus ku”

“Wajar sih mbak, kamu alumni kampus tempat kamu ngajar” *gue ngomong dengan nada terusik sebenernya ~XD

temen gue diem.

gue tau kalo gue jahat banget ngomong gitu. Tapi entah kenapa perasaan gue terusik tiap denger komentar yang kayak gini. Kita nggak pernah tau seberapa keras si A bekerja hingga dia layak jadi dosen.

even gue sebenernya juga pernah iri lihat orang sukses di dunia teknologi yang orang tuanya emang sarjana elektro. Jadi si anak ini udah akrab sama barang elektronik sejak kecil. Meanwhile gue pas kecil masih panjat-panjat pohon jambu -_-

ini emang kelihatan unfair. Tapi lebih unfair lagi kalo kita dengan dangkal meremehkan ikhtiar orang lain hanya karena di atas kertas seolah dia punya modal yang lebih banyak dari kita.

toh andai posisi si A dan si B di tukar, belom tentu pencapaian mereka akan sama. Karena modal harta dan modal sosial (meskipun itu emang ngaruh banget), bagaimanapun sifatnya cuma katalis. Kalo pemiliknya berjiwa kerdil, ya tetep aja ga bisa maju.

Allah itu maha merekayasa takdir. Modal beda tapi level bisa sama karena Allah menyediakan jalan. 

Unfair bagi gue adalah ketika kita berjuang dengan cara yang curang dan tikang-tikung orang.

Jadi selagi dia ga curang, ya oke-oke aja meskipun dia punya privelege dari modal sosialnya dan gue enggak.

Gue punya temen yang anak pejabat. Biasanya dimintain tolong buat nyebar proposal dana kalo ada kegiatan soalnya kalo yang nyebar anak-anak kayak gue, dapetnya lama banget. Tapi kalo yang nyebar dia, bisa cepet.

Mau iri sama yang kayak gitu? Gue sih enggak ~XD Toh kita ga pernah tahu secara utuh suka-dukanya jadi dia.

Gue inget dulu pas SMA, temen gue berbondong-bondong ambil les sementara bapak gue ga ngizinin gue ambil les. Pertama karena duitnya harus dihemat buat kuliah. Kedua, karena dulu fisik gue ringkih jadi ga boleh capek. Gue sempet ngomong ke Bapak:

“Temen-temen semuanya les. Aku nggak les. Ntar nilaiku jelek dong“

“Emang kalo mau nilainya bagus, harus les?“

“Kan butuh pelajaran tambahan“

“Pertama…dek, tempat lesnya jauh. Nanti kamu capek. Kedua, biaya lesnya mahal. Bisa dipake buat bayar kuliah kamu nanti. Kamu biasa belajar sendiri. Belajar sendiri aja“

gue belajar sendiri dan akhirnya lulus. Modal gue sama temen gue beda, bentuk usaha gue sama temen gue beda. Dan Alhamdulillah hasilnya sama.

jadi sejak bapak ga ngizinin gue les, gue dikasih buku soal bekas dari pasar blauran sampe tiga kardus. Gue dulu sampe hafal sama tipe-tipe soal unas dan spmb. Makanya pas TKD CPNS, nilai gue dulu bagus. Ngerjain Tes Intelegensia Umum ga pake mikir. Gue langsung telfon bapak dan bilang makasih banyak udah keras ngedidik sayah.

gitu tetep ada yang bilang:

“This is unfair. Otak lo udah cerdas dari sononya”

They don’t know kalo gue dulu ngerjain soal dari buku-buku sampe bukunya lecek. Tiap orang punya cerita perjuangan masing-masing.

gue, pas ngedaftar PENS itu ga kenal sama siapapun. Bukan alumni PENS dan ga pernah cumlaude,  ditambah lagi gue cewek yang kalo di dunia teknik sering diragukan kemampuannya.

it doesn’t mean gue keren bisa masuk dan ngajar di sana. 

Kalo bukan karena Allah yang gerakin hati gue buat daftar, kalo bukan karena Allah gerakin hati kaprodi gue buat say “Yes”, 

*

temen gue alumni PENS dan masuk karena rekomendasi dosen senior. It doesn’t mean temen gue ga keren karena masuk lewat rekomendasi.

Temen gue dulunya anak robot yang terkenal punya endurance kuat dan otak yang encer. Soalnya buat menang lomba robot harus kerja hampir 24 jam dan otaknya dipake mikir terus.

*

In the end, we are just different. Dan ga semua yang different itu bisa seenak-enaknya kita sebut unfair

*

manusia suka bilang takdir ga adil hanya karena ruang berpikirnya nggak luas.

*

kalau kita menginginkan sesuatu, jalan satu-satunya berjuang dan menahan diri dari membanding-bandingkan takdir kita sama takdirnya orang lain