aci2011

04. [ACI 2011] Bandara Internasional Lombok

- 28 Oktober 2012 -

Mata terpejam di atas tanah Jawa, dan baru terbuka setelah menginjak tanah Sasaq. Lombok selalunya dianak tirikan setelah Bali. Bertahun-tahun menatap tetangganya ramai dipuja sebagai surga. Walau dirinya tak pernah dalam sedetikpun lebih buruk dari tetangganya itu. Lebih baik malah bukan mustahil. Pantai, gunung, air terjun, danau, kuliner, budaya, sebutlah dan ia telah hadir lama disana. Bingkasannya mungkin tidak secantik Bali. Tapi rasa tidak akan berbohong. Syukur kami paham akan ini.

Pesawat menapakkan roda pertamanya dengan disambut oleh landasan muda yang belum lagi sebulan beroperasi. Setiap jengkal permukaannya masih mulus licin terawat, ia katanya baru mulai bertugas tanggal 1 Oktober 2011 kemarin. Rem dan sayap pesawat kali ini harus bekerja sama memperlambat laju pesawat. Lintasan bukannya panjang tak berbatas. Perlahan badan pesawat mendekati gedung utama dari Bandara Internasional Lombok (BIL). BIL tampak modern dan megah, pantas kalau disebut kebanggaan masyarakat Lombok. Ukurannya sendiri memang tidak terlalu besar tapi itu mungkin memang disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Terlihat sewaktu masih di atas tadi kalau sekitarannya itu masih kosong. Pasti ia juga sudah bersiap diri untuk melayani lonjakan trafik penerbangan di masa depan. Satu yang disayangkan, depan perkarangannya ramai luar biasa sepertipasar. Ia sejatinya merupakan bandara internasional, wajah dari Lombok yang wajib aturannya untuk tampil cantik demi menggugah selera pengunjungnya, terutama mereka yang pertama kali datang. Kalau datang-datang disambut pasar siapa juga yang percaya Lombok itu indah.

Kami turun kemudian masuk ke dalam terminal. Dari luar ia nampak indah. Namun di dalam menyisakan risau yang amat mengiris. Bandara Internasional Lombok tidak berkarakter. Tidak ada sedikitpun filosofi lokal yang diikut sertakan dalam desainnya. Segalanya bernafaskan modern dan industrialis. Bangunan didominasi kaca dan besi stainless dan itu saja. Memang memberi kesan megah tapi ini bagus yang mengecewakan. 

Masing-masing mengambil carrier, menyelempangkan daypack dan siap keluar dari bandara. Sesuai rencana kami seharusnya dijemput oleh Bang Opik di pintu depan. Beliau adalah pendamping kami yang sudah diperkenalkan panitia sebelumnya. Pendamping nantinya akan terus bersama kami selama ekspedisi Nusa Tenggara Barat berlangsung. Sesuai kabar beliau orang asli Mataram yang sudah paham segala seluk beluk Lombok. Lumayanlah kalau memang benar demikian.

Keluar dari pintu, masih belum terlalu jauh dari kerumunan, kami dihampiri 2 orang, satu lelaki dan satu perempuan. Yang laki memperkenalkan diri sebagai Opik dan yang satunya Sophie. Sophie? Siapa Sophie? Sayang ini bukan waktunya untuk menginterogasi.

Kami terus berjalan dipandu Bang Opik ke tempat hentian mobil. Usut punya usut Bang Opik ternyata sudah mengambil keputusan untuk setidaknya dua hari pertama ini menggunakan mobil sewaan. Dalam pikirannya mungkin dia sekedar berusaha mempermudah perjalan. Tapi perencanaan terasa sangat dipaksakan. Sesaat sebelum mobil sewaan datang kami memaksakan satu hal kepada mereka. Mencari makan siang sambil melakukan briefing awal. Ini petualangan kami bukan mereka, artinya yang menentukan adalah kami. Semuanya harus berhenti, diperjelas, disetujui baru ikhlas kami memulai petualangan.

05. [ACI 2011] Membangun Kepercayaan

- 28 Oktober 2012 -

Situasi di dalam mobil terasa canggung. Disatu sisi kami tidak percaya dengan Bang Opik dan temannya Mbak Sophie apalagi si supir, tapi disisi lain kami sudah duduk di dalam mobil. Kemana melangkah selanjutnya sudah sepenuhnya menjadi kehendak mereka. Bang Opik menyarankan agar mobil langsung diarahkan ke daerah Kuta, Lombok Selatan. Nanti sepanjang perjalanan baru mencari tempat makan untuk berhenti. Kiranya dia belum lupa juga dengan permintaan kami tadi. Sayangnya kami tidak punya pilihan lain selain menyetujui rencananya untuk sementara.

Dari bandara kendaraan terus melaju ke arah Lombok Selatan. Ia baru berhenti setelah beberapa ratus meter melewati Desa Sade, Lombok Tengah. Desa Sade merupakan salah satu desa adat suku Sasaq di Lombok yang telah dirombak menjadi desa wisata. Ia memang berada di dalam daftar jadwal perjalanan kami, tapi nyatanya Bang Opik menganjurkan untuk mengunjungi Pantai Kuta terlebih dahulu. Nanti baru akan menghampiri Desa Sade setelah kembali dari Pantai Kuta. Tentunya dengan beliau yang jauh lebih mengetahui medan dan belumnya ada briefing awal, sekali lagi kami tidak punya banyak pilihan selain menurut. Mobil diketepikan di sebuah warung sederhana, persis di pinggir jalan raya Praya-Kuta.

Tiada yang terlalu spesial dari warung ini. Tembok dan atapnya memang masih tradisional dari bambu dan anyaman tapi lantainya sudah bersemen lapis tegel biru muda. Kami memesan nasi campur dan air mineral sekedar mengganjal perut yang sudah meronta sejak tadi. Kemudian memulai pembicaraan dengan Bang Opik dan Mbak Sophie. Singkat cerita kedua belah pihak akhirnya setuju akan beberapa hal menyangkut pengaturan keuangan, rencana perjalanan, mode transportasi, dan ekspektasi tempat penginapan. Untuk sisa perjalanan kami sepakat untuk terus menggunakan mobil sewaan. Ia memang satu-satunya cara untuk dapat menjelajahi pelosok-pelosok dari Nusa Tenggara bagian Barat ini.

Keterbukaan menguak pintu kepercayaan. Kami kembali ke dalam mobil dengan suasana yang sama sekali berbeda. Bersemangat dan bergairah. Tidak sabar melihat suguhan alam Lombok yang dikatakan jauh melebihi tetangganya. Lombok masih perawan, jarang tersentuh, dan tidak ternoda. Kami berdebar menunggu.