abuya

Was told to watch out about lack of variation in my characters, so I figured I’d try and work on that one.

The centre three are all related. They’re Shayle’s grandfather, Shayle herself, and her half sister Abuya. The three of them are tall, but Abuya takes more from her Mother’s side, so she’s fuller figured, brighter eyed and healthier. I also wanted her to look more ‘motherly’ than Shayle because she’s maternal/dying for a family of her own and very protective of Shayle.

Shayle’s meant to look a lot like her grandfather in build, but carry a lot of traits of her exiled Father. Not sure I managed to convey it, but I always see her as broad shouldered and slim legged, with an almost athletic build, which ends up getting thinner and more toned as she grows older. She purposefully makes her build more imposing through her clothes. They add a shitload of bulk on her shoulders. She often doesn’t get much of a say in how she dresses at the start, so she appears less practical and more feminine in public appearances. (Due to Abuya wanting her to look like a respectable, eligable woman, rather than a fearsome leader figure.)

KENAPA KITA MEMPERINGATI HARI KELAHIRAN NABI BUKAN HARI KEWAFATANNYA

Sejatinya hukum sambutan memperingati Maulid Nabi telah banyak dijelaskan oleh para ulama, mereka menyatakan bahwa memperingatan Maulid Nabi sebagai sesuatu yang baik. Dan tidak ada ulama terdahulu yang mengingkari peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Tetapi, sebagian kecil umat Islam terus berupaya menolak peringatan Maulid Nabi, bahkan menyesatkan peringatan tersebut dan menyesatkan orang-orang yang memperingatinya.

Salah satu pertanyaan yang kerap mereka jadikan hujjah untuk mengingkari peringatan Maulid Nabi adalah berkaitan dengan waktu lahir dan wafatnya Nabi. Kelahiran Nabi Muhammad Saw terjadi pada Senin 12 Rabi’ul Awwal, demikian pula wafatnya. Mengapa yang diperingati hari kelahiran Nabi (maulid Nabi) bukan wafatnya Nabi?

Dalam hal ini Abuya Al Imam As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki memberikan jawaban dalam kitabnya “Haul al-Ihtifal bi zikri al-Maulid an-Nabi asy-Syarif”,

ﻭﻧﻘﻮﻝ : ﺇﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺟﻼﻝ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻰ ﻗﺪ ﻛﻔﺎﻧﺎ ﺍﻟﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﻐﺎﻟﻄﺔ ﻓﻘﺎﻝ ﻓﻰ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺍﻟﺤﺎﻭﻯ.

Saya berkata, Sesungguhnya al Imam al-‘Allamah Jalaluddin as Suyuthi sudah mencukupi kita dalam menolak kesalahan besar tersebut. Beliau berkata dalam kitabnya Al Hawi:

إن ولادته صلى لله عليه وسلم أعظم النعم علينا، ووفاته أعظم المصائب لنا، والشريعة حثت على إظھار شكر النعم، والصبر والسلوان والكتم عند المصائب، وقد أمر الشرع بالعقيقة عند الولادة، وھي إظھار شكر وفرح بالمولود، ولم يأمر عند الموت بذبح ولا غيره، بل نھى عن النياحة وإظھار الجزع، فدلت قواعد الشريعة على أنه يحسن في ھذا الشھر إظھار الفرح بولادته صلى لله عليه .وسلم دون إظھار الحزن فيه بوفاته

“Lahirnya Baginda Sollallahu ‘alaihi wa sallam merupakan paling agungnya nikmat bagi kita, sedangkan wafatnya merupakan musibah yang paling besar bagi kita. Syari’at mendorong untuk menampakkan syukur atas berbagai nikmat, dan sabar tabah menghadapi berbagai musibah, syari’at juga memerintahkan melaksanakan Aqiqah pada waktu kelahiran, dan itu merupakan bentuk menampakan syukur dan kegembiraan dengan lahirnya seorang anak, syari’at tidak memerintahkan menyembelih haiwan atau jenis lainnya saat kematian, bahkan melarang perilaku niyahah (meratap). Dalam hal ini, kaidah-kaidah syariat telah menunjukkan bahwa yang hasan (baik) dilaksanakan pada kelahiran Nabi adalah menampakkan kegembiraan / kesenangan dengan kelahiran beliau Saw, bukan menampakkan kesedihan sebab wafatnya beliau Saw. “

Mari kita bergembira menyambut datangnya bulan mulia ini dengan memperbanyak selawat, dzikir dan amal kebaikan lainnya.

Mari kita hidupkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad Saw sebagai bukti bahwa kita memang benar-benar mencintai dan menjadikannya sebagai teladan yang patut kita tiru dalam kehidupan ini.

Dan ketahuilah bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya.

Jadi, sebuah kebohongan besar apabila kita mengaku cinta kepada Nabi saw tapi enggan meneladani dan melaksanakan sunnah-sunnahnya.

Semoga kita semua dapat meneladani Nabi Muhammad saw, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab yang Beliau saw contohkan.

Aamin… Yaa Rabbal Aalamin.

“Wahai para ulama’ yang fanatik terhadap mazhab-mazhab atau terhadap suatu pendapat, tinggalkanlah kefanatikanmu terhadap perkara-perkara furu’, dimana para ulama telah memiliki dua pendapat yaitu; setiap mujtahid itu benar dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar itu satu akan tetapi pendapat yang salah itu tetap diberi pahala. Tinggalkanlah fanatisme dan hindarilah jurang yang merusakkan ini (fanatisme). Belalah agama Islam, berusahalah memerangi orang yang menghinal al-Qur’an, menghina sifat Allah dan perangi orang yang mengaku-ngaku ikut ilmu batil dan akidah yang rusak.Jihad dalam usaha memerangi (pemikiran-pemikiran) tersebut adalah wajib”
(KH. Hasyim Asy'ari, al-Tibyan fi al-Nahyi ‘an Muqatha’ati al-Arham wa al-‘Aqarib wa al-Ikhwan, 33)

Oleh: Al Habib ‘Alwi bin Quthbain Al Habsyi Solo

SILA SHARE DAN SEBARKAN

(Ustaz Iqbal Zain al Jauhari)