abstraks

Garis Tengah

Situasi yang sedang saya alami (seperti yang juga dialami orang lain pada umumnya), tidak pernah jauh-jauh dari usaha yang begitu keras untuk bisa tetap menjejak di garis tengah. Di ‘khatulistiwa.’


Garis tengah di antara :


1. Spiritualisme dan materialisme, di mana tarikan alam materialistis terasa begitu kentara dan agresif. Jiwa yang lemah dan lapar akan kehabisan energi dalam pertempuran ini dan akhirnya, kalah. Terasa benar sulitnya memosisikan dan mengukur segala sesuatu dengan mata ukur yang lebih esensial dari materi. Misalnya, mengukur harga sebuah kesuksesan berdasarkan ukuran kebermanfaatan, alih-alih ukuran harta. Sulit karena, materi itu konkret. Sedang konsep kebermanfaatan, pahala, adalah sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang sulit dicerna jiwa yang kelaparan. Lapar akan ketenangan, keimanan, dan kebahagiaan.

Ditambah oleh kekuatan si invisible hand, menggerakkan 'anak-anak’ materialisme, antara lain sekularisme dan konsumerisme, membuat pertempuran ini begitu beratnya.


2. Rasionalitas dan intuisi, terkhusus dalam menghadapi persoalan dan mengambil sikap. Kapan bisa berbekal nekad, kapan perlu persiapan matang. Kapan harus memulai, kapan harus menunggu. Kapan harus mencari pembuktian ilmiah, kapan harus percaya tanpa banyak bertanya.


3. Dunia dan akhirat, ini yang tersulit. Godaan dunia begitu besar. Amat besar. Membuat orientasi hidup yang dibuat sebagaimana Rasul contohkan : Hidup baik di dunia dan akhirat, sering mengalami hantaman dari kanan kiri. Ketika hati terasa kosong, saat itulah saya tahu bahwa hati saya sedang terlalu condong pada dunia. Ketika hati terasa terlalu penuh, saat itulah saya tahu bahwa saya melupakan urusan dunia, tempat di mana saya perlu menggunakan energi jiwa yang begitu besar untuk melakukan kebaikan.


Meletakkan diri untuk berdiri kembali pada garis tengah adalah proses belajar sepanjang hayat.

Ibarat berperahu di antara dua tebing, ombak datang menghantam dari kanan dan kiri. Menyeimbangkannya kembali butuh ketangguhan, sepanjang hidup. Keselamatan bagi mereka yang bisa tetap berlayar dengan tangguh.

Mungkin benar bahwa kita hidup di akhir zaman, mungkin benar bahwa kiamat telah dekat. Semoga masih tersisa istighfar di sela-sela napas kita.

“Kak, kenapa jarang update postingan lagi?” begitu kira-kira pertanyaan beberapa kawan di tumblr. Pertanyaan yang bisa diategorikan sebagai perhatian (atau hanya sekadar penasaran), ha-ha-ha.

Sejak saya aktif di Tumblr sekitar awal tahun 2015, saya banyak menulis tentang satu perempuan. Barangkali ada yang bertanya apakah itu berguna? Sebagian dari kita punya kecenderungan untuk melihat sesuatu hal dari kegunaan. Melakukan ini, apa ada gunanya, melakukan itu, apa manfaatnya. Semua diorientasikan pada untung dan rugi.

Saya jadi ingat mata kuliah Akuntansi. Sebagai pemuda yang dididik untuk selalu berpikir laba-rugi, break-even-point, modal, dan investasi, saya jadi memahami bagaimana sebuah tindakan akan menentukan apa yang diperoleh atau apa yang dikorbankan. Tentu mesti memprioritaskan pada pertumbuhan usaha.

Begitulah, kalau kita semua selalu berpikir ala materialisme. Walaupun itu tidak salah, tetapi ada hal lain yang tidak bisa dinilai dari manfaat dan kegunaan yang riil. Ada yang bersifat abstrak dan hanya bisa dirasakan. Dampaknya ada pada sisi psikologis atau mental.

Pasti banyak yang tertolong dari aktivitas menuangkan pikiran pada bentuk tulisan. Mereka yang menyukai membaca dan menulis akan bisa mengendalikan emosi. Proses membaca dan menulis akan menetralisir gejolak emosi yang berlebihan. Kemudian digantikan dengan proses kreatif. Energi yang ada ditransformasikan menjadi seni tulisan.

Nah, ketika saya menulis tentang satu perempuan, itu artinya ada sebuah keistimewaan yang ada pada objek tulisan saya. Si perempuan yang memiliki kedudukan penting di sejarah kehidupan saya. Sama halnya pada orang-orang lain, yang juga pasti menemui seseorang yang bisa mengubah hidupnya, atau mampu memberi pelajaran tentang hidup.

Jadi, apa yang bisa saya lakukan hanyalah membuat si perempuan itu berubah menjadi bentuk tulisan yang bisa dibaca kapan saja. Ada pun percik-percik emosi dan kelucuan di dalamnya, merupakan bunga-bunga yang barangkali bisa menyegarkan.

Demikian sedikit alasan, yang kiranya memberi kita alasan lain untuk terus menulis. Bagaimanapun kita, jika telah berkreasi, akan ada rasa puas.

Kembali pada pertanyaan kawan di atas, mengapa saya jarang memposting sesuatu. Saya dulu juga pernah beberapa kali vakum di tumblr. Pertama, karena saya ingin menenangkan diri dengan pergi ke suatu tempat yang sepi. Kedua, saya punya firasat agar saya jeda saat dalam menulis di tumblr. Dan yang ketiga ini, saya memiliki kesibukan lain. Bukankah setiap orang mesti keluar dari zona nyamannya, untuk mencari zona nyaman yang lebih tinggi? Begitu seterusnya.

Tumblr telah banyak mengubah orang-orang. Dari seseorang yang tidak dikenal menjadi orang terkenal. Dari orang yang tidak pernah berpikir akan menyukai menulis, menjadi orang yang gemar mengabadikan peristiwa lewat kata. Dari orang yang kurang puitis, menjadi seseorang yang bijaksana. Dan banyak lagi yang bisa didapatkan dari Tumblr.

Satu hal barangkali yang jangan sampai terlewat dari diri kita di sini: jangan pernah memiliki sikap jemawa, sombong, angkuh, atau merasa lebih baik, bahkan iri dan dengki. Jadilah orang-orang yang menulis karena kita mencintai kegiatan menulis. Namun, sewajarnya kita juga harus selalu membaca banyak buku.

Selalu semangat!

Percaya atau tidak–

Kita sebenarnya lebih suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Dan kita meletakkan ukuran kebahagiaan itu apabila kita mempunyai apa yang mereka ada.


Jangan.
Jangan begitu teman.

Kebahagiaan itu abstrak.
Jangan pernah menyangka definisi bahagia itu ada pada rupa, atau harta.

Carilah bahagia dalam diri kalian sendiri.
Don’t let the society decides for you what happiness would look like.


Bahagia. Kau yang perlu cari.
Kau yang rasa sendiri :)

Jangan pernah samakan dirimu dengan orang lain. Kau hanya akan menemukan kekuranganmu sendiri, kemudian mulai menyalahkan Tuhan atas segala sesuatu yang ada pada dirimu, pun yang terjadi pada hidupmu. Percayalah, pada diri kita ada hal-hal istimewa yang hanya diberikan kepada kita. Hal istimewa yang menjadikan kita pantas untuk dihargai juga dicintai.

Sama halnya sebuah lukisan. Bahkan ketika pelukisnya hanya menorehkan garis-garis abstrak tak berbentuk, akan ada yang menghargai lukisan itu dengan harga paling tinggi, karena lukisan itu mempunyai makna dan arti, dan hanya sebagian yang mampu menerjemahkannya.

Bukankah diri kita juga seperti itu? Tak semua orang mampu menyelami pikiran, hati, juga diri kita. Tapi, akan ada seseorang yang mampu mengerti segala apa adanya dalam diri kita, bahkan tanpa kita jelaskan sekalipun.

—  Selamat senin. Tak perlu untuk selalu mengerti orang lain, sesekali kau perlu mengerti dirimu sendiri.
Filsafat Syukur

Seiring bertambahnya waktu, bacaan, dan obrolan, cara dan alasan bersyukur pun akan berubah.

Waktu kepala kita belum bisa mencerna hal-hal abstrak seperti konsep pahala, kebaikan berlipat ganda, dan surga neraka, kita merasa sudah bersyukur manakala sudah mengucapkan “terima kasih” dan “alhamdulillah.”

Alasan kita bersyukur pun terpaut erat dengan sesuatu yang berasal dari luar diri kita. Seperti saat saya kecil, rasanya bersyukur sekali jika teman sebangku saya lebih jelek nilainya daripada saya. Jahat memang, tapi perasaan bahwa hidup saya lebih baik daripada orang lain adalah alasan bersyukur yang saat itu cukup masuk akal.

Namun alasan tersebut tidak adil buat mereka yang nilainya paling jelek. Tidak ada yang nilainya lebih jelek lagi di kelas, apakah alasan untuk bersyukur lantas menjadi hilang?

Sedikit banyak, cara dan alasan seperti itu masih terbawa meski usia tak lagi kanak-kanak.

Tapi, rasanya bersyukur tidak mesti demikian jahatnya.

Saya berpikir, apakah untuk bisa menjadi seorang yang bersyukur, kita harus memulai dengan merasa lebih baik dari orang lain dan menganggap orang lain tidak lebih beruntung dari kita?

Jika kita bersyukur karena memiliki sesuatu, lantas apa yang membuat kita akan bersyukur saat kita tidak memiliki apa-apa?

Bagaimana jika kita bersyukur bukan karena hidup kita begini di saat hidup orang lain tidak begini, bukan karena kita memiliki ini sementara orang lain tidak memiliki ini. Bagaimana jika kita bersyukur karena Allah sangat baik, semata-mata hanya karena Allah memang sangat baik, kepada semua makhluk.

Bagaimana jika syukur tidak lagi digantungkan pada hal-hal di luar diri kita, sehingga ada tidaknya syukur tidak lagi ditentukan oleh musim ini dan itu.

Bagaimana jika kita memulai menjadi seorang yang bersyukur dengan sepenuhnya menyadari, bahwa bersyukur, layaknya mencintai, adalah pekerjaan mulia yang tidak mensyaratkan apapun. Ya, tanpa syarat.

Penyimpan Memori

Dan, kembali. Namamu bergema di telingaku, lalu memenuhi ruang hati, kemudian melambung ke otak. Dan, lagi, melihat namamu saja masih menyakitkan.

Aku masih fanatik dengan memori kita. Aku senang menutup mata, lalu membayangkan potongan-potongan kenangan itu bermain-main sebelum mimpi menyapa.

Yang baik, yang buruk, yang senang, yang sedih, yang bahagia, yang menyakitkan. Aku sih senang menyimpan semua ini.

Memori adalah hal abstrak terbaik yang dimiliki semua manusia. Wah, kalau mungkin diingat-ingat lagi, sudah berapa banyak kenangan yang bersarang di kepalamu?

Sekali lagi, aku senang pernah memiliki kenangan bersamamu. Walau tak jarang ingin menghapusnya, karena terlalu menyesakkan. Tapi memori ini memegang peranan penting dalam sudut hatiku.

Kamu yang ajaib, membuatku jatuh cinta dengan semua kenangan di dalamnya. Makanya tidak heran kalau setiap kali mendengar namamu, ada yang menyentil hati, ada yang menggedor jantung.

Dan lagi, namamu membuka kembali kotak yang kupenuhi dengan rasa-rasa paling rahasia ini. Aku rindu, kamu tau?

Sudah siap jatuh lagi, Tuan?

Kenapa harus bersiap? Jatuh hati tidak bisa ditentukan, Nona. Jika memang bisa, tentu pada siapa ia jatuh bisa terencana bukan? Bukankah cinta tanpa definisi? Serupa angin, ia abstrak namun terasa. Tak berwujud namun bisa melukai.

Siap di sini maksudnya ialah dengan memaafkan masa lalu, Tuan. Dengan kamu memaafkan masa lalu, kamu bukan hanya siap untuk jatuh hati lagi, tapi juga siap menghadapi hidupmu yang baru.

Memaafkan bukan berarti melupakan, Nona, Jika kerja otak mampu melupakan, mungkin tak ada yang merasakan patah hati atau pun terluka akan kenangan yang seharusnya belum usai. Dan Nona, engkau paham bukan dengan definisi “baru”?

Tak ada yang menyuruhmu melupa, Tuan. Periksalah kembali kata-kataku. Perihal melupa yang aku tahu adalah sulit bagi manusia melakukannya. Makanya aku menyarankanmu untuk memaafkan. Untuk mengikhlaskan. Dan lagi, aku paham kata itu bukan hanya secara harfiah.

Lalu bagaimana bisa menemukan yang baru jika masih mengingat yang lama. Ikhlas adalah hasil dari melupakan bukan begtu?
Tak usah mempercepat atau memperlambat semua sudah diatur di waktu yang tepat.

Mungkin kita perlu menyamakan perspektif kita tentang memaafkan juga melupakan, Tuan. Agar dirimu tak melulu terjebak dalam kenangan.

Kenangan ada untuk dikoreksi, bukan? Untuk sesuatu yang pernah terjadi. Bagaimana bisa belajar jika semua harus dilupakan?
Nona, memaafkan itu harus namun tidak dengan melupakan. Kita hanya butuh melihat dari cara pandang yang berbeda.

Kenangan, juga sejarah. Ada untuk dipelajari agar tak lagi mudah terjatuh di kemudian hari.
Oh, Tuan. Tolong beri tahu aku di sebelah mana aku menyebut untuk melupa.

Jatuh lagi berdiri lagi, tersenyum lagi dan bersiap kembali. Bukankah hidup selalu berputar, Nona?

Lucu sekali jika dirimu sudah khatam perihal hidup yang terus berputar, namun dalam hal praktis dirasa kurang. Sungguh, dirimu masih terjebak dalam pusara hidup yang melulu di satu tempat.

Hidup adalah belajar, ia terus berjalan, dan akan menjadi kuat di saat yang tepat. Butuh menanjak untuk sampai puncak.

Kuberi tahu satu hal, Tuan. Yang aku lihat padamu adalah dirimu terdiam dalam ingatan. Tidak sedang berjalan, terlebih menanjak.
Kamu hanya sedang meratapi kesedihanmu sendiri. Kamu hanya sedang memanjakan sakitmu sendiri.
Perihal waktu untuk menjadi kuat, ialah kemauan untuk terus mencoba sembuh untuk berjalan.

Lebih baik pelan melangkah daripada sarah arah, sembari merenung dan mencari jawaban bukan berpura-pura telah bahagia. Untuk apa memburu waktu jika hatimu masih ngilu? Bukankah semua berproses?

Hahaha. Kamu sungguh lucu, Tuan. Lekaslah sembuh yang ada pada segalamu. Akan kutagih hutangmu untuk berkeliling kota dengan vespamu itu jika segalamu sudah membaik.

***

Yap. Ini adalah hasil perbincangan dengan seseorang yang beberapa saat lalu (sebut saja) curhat colongan tentang sulitnya melupa masa lalu xD namun sayang orangnya tidak mau ditag. heu~ 

ketulusan

di dunia ini banyak sekali kata abstrak yang sulit kubayangkan. biasanya, terhadap kata-kata seperti itu, aku membuat padanan kata yang menganalogikan fungsinya, maknanya, hakikatnya. misalnya, baju kejujuran, kotak kebenaran, atau benang kepercayaan.

di antara banyak kata abstrak itu, aku sulit sekali menemukan padanan untuk kata “ketulusan”. lalu aku teringat sebuah kisah tentang sekuntum bunga matahari.

pada suatu hari di negeri matahari, hiduplah seorang putri bernama mentari. sedari kecil, putri mentari bersahabat dengan janu dan juna, anak kembar panglima negeri.

putri mentari sangat menyukai bunga matahari. sayangnya, bunga itu tidak bisa tumbuh begitu saja di negeri matahari. ada “rahasia” untuk menumbuhkannya. bibitnya pun amat langka.

ketiganya tumbuh besar. janu dan juna sama-sama jatuh cinta kepada putri mentari. mereka pun berlomba-lomba untuk menumbuhkan bunga matahari untuk dipersembahkan kepada putri.

setelah pencarian panjang, janu dan juna sama-sama berhasil menemukan bibit bunga matahari. mereka sama-sama berusaha menumbuhkan bunga itu.

tiga bulan berlalu. janu berhasil menumbuhkan bunga matahari, meskipun tidak seperti harapan. sedangkan juna tidak. setelah cukup mekar, janu pun bergegas memberikan bunga itu kepada putri mentari. sesuai dugaan, putri mentari senang dengan pemberian itu.

juna sedih sekali, namun ia tidak menyerah. ia datang kepada putri mentari, diberikannya sebiji bunga matahari. sang putri heran. bertanya ia mengapa juna memberikan bijinya saja, padahal bukan pekerjaan mudah untuk menumbuhkannya. padahal kalau seseorang benar-benar cinta, ia akan memberikan segalanya.

juna mengamini. dijawabnya begini. mungkin Tuhan tidak mengizinkan bunga ini mekar, sebab “rahasia” tumbuhnya bunga tidak hanya ada pada biji, air, dan tanah saja, tetapi juga mentari yang menyinarinya.

sekarang, sudah ketemukan–bahwa ketulusan adalah bunga dan bunga adalah ketulusan. sekuntum bunga selalu memberikan makna terbaiknya selama hidup, bahkan sebelum dia hidup–menjadikan taman wangi dan semarak, membagi nektar pada rama-rama, atau sekadar memberikan harapan.

sekuntum bunga mengajarkan kepada kita bahwa ketulusan tidak bisa hanya ada pada saat kita memberi. ketulusan juga harus ada pada saat kita menerima.

bunga tidak pernah mati sia-sia. jika pun tak menjadi buah, ia tetaplah mati dengan indah.

***

tulisan ini dibuat sebagai hadiah ulang tahun untuk salah satu pembaca saya–yang rajin sekali bertanya. seorang perawat dari sumatera utara yang seperti bunga, tulus sekali hatinya. selamat ulang tahun gladiolsusi. :)

salam bunga matahari.
liefs.