abstraks

Selesai dengan orang lain

Beberapa waktu terakhir, terutama setelah menikah. Saya semakin sering menerima konsultasi dari teman-teman saya sendiri terkait pra-pernikahan mereka.

Salah satu nasihat yang paling sering kita dengar untuk orang-orang yang berniat menikah adalah; selesailah dengan dirimu sendiri terlebih dahulu. Sebuah nasihat paling lazim dan paling abstrak, karena tidak ada ukuran yang pasti tentang maksud dari “selesai dengan diri sendiri”. Tidak bisa juga dijelaskan bagaimana bentuknya. Tapi tetap saja, selesai dengan diri sendiri adalah bekal yang penting untuk masuk ke jenjang rumah tangga.

Setelah bab itu selesai, ternyata saya baru menyadari ada hal-hal yang juga harus selesai, yaitu selesai dengan orang lain.

Teman-teman yang bercerita dengan saya adalah teman-teman main, teman diskusi, teman kuliah, mereka adalah orang-orang yang saya kenal. Dan lingkaran kami bukanlah lingkaran suci, kami pernah mengalami masa-masa muda yang mungkin memalukan kalau diingat. Seperti pacaran, hubungan tanpa status dengan orang lain, dan sebagainya. Itu sebelum berhijrah seperti sekarang.

Dan saya kini menambahkan satu nasihat ini ke teman-teman saya. Selesaikanlah urusan dengan dirimu sendiri, juga dengan orang lain. Masuk ke jenjang kehidupan rumah tangga jangan sampai masih ada orang-orang di masa lalu yang masih memiliki keterikatan emosi dengan kita atau pasangan kita. Khawatir bila itu kemudian datang lagi di tengah rumah tangga yang sudah berjalan nantinya. Selesaikanlah.

Bagaimana menyelesaikannya?

Mungkin ini cara yang klasik, mungkin juga cara yang sulit. Karena harus meredakan gengsi, yaitu meminta maaf.

Minta maaflah karena dulu pernah memiliki hubungan dengannya. Minta maaflah karena masa itu adalah masa dimana pemahaman tentang agama belum cukup. Minta maaflah karena telah menjadi bagian dari masa-masa kelamnya. Minta maaflah karena mungkin dulu sempat berjanji banyak hal dan tidak akan pernah ditepati. Minta maaflah kalau pernah menyakiti hatinya. Kemudian sampaikanlah kabar bahagia itu.

Mulailah kehidupan rumah tangga tanpa ada bayang-bayang tentang banyak hal, baik masa lalu, maupun orang lain.

Karena rumah tangga itu harus dimulai dengan kejelasan, kepastian, kepercayaan, keyakinan, dan keimanan. Sebuah perjalanan panjang yang nantinya jangan sampai menjadi sesal karena kita tidak sempat menyiapkan bekal tertentu.

Yogyakarta, 30 April 2017 | ©kurniawangunadi

Arti Cinta

@september-ku:  Cinta itu dia.

@intansmi:  Cinta itu rela.

@rusnaaprida:  Cinta is bullshit.

@dianhumaira:  Tidak penting tapi butuh.

@senjataklagijingga:  Cinta itu….

@dahniarsaras:  Segala sesuatu yg diberikan Allah subhanahu wa ta ala kepada mahlukNya, perilaku Rasulullah sallalahu alaihi wasallam terhadap umatnya.

@hujankopisenja:  Cinta itu perjuangan.

@hanyatempatsinggah:  Cinta itu bintang.

@enimachi:  Cinta itu rasa, bukan kata.

@rayuanhujan:  Cinta itu abstrak.

@kereta-kartika:  Cinta itu Luka.

@merpatikertas:  Cinta itu rasa, bukan kata. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

@qalamhasanah:  Rasa tertinggi

@hastriratna:  Cinta itu rela berkorban.

@perempuanpecintalangit:  Cinta itu tidak seperti kata-kata cinta yang sering diungkapkan.

@tiaaar:  Saat dia membuatku tertawa dan menangis secara bersamaan.

@alhumaerah:  Memantaskan diri, memantapkan hati.

@sasyaalisya:  Cinta itu sesuatu yang tidak terlihat, sulit diungkapkan, dan hanya bisa dirasakan.

@depkolektorrindu:  Apa hayo???

@utariialwi:  Rasa dengan banyak makna.

@syrfhairani:  Cinta itu… ketika kau berdebar-debar karena seseorang.

@storyfromuniverse:  Cinta itu yang akan selalu ada dan menguatkan. Tapi cinta juga ada dalam bentuk melepaskan dan mengikhlaskan.

@langitawan:  Persahabatan.

@bercandaan:  Cinta itu saling membutuhkan.

@ghaidaaaaaaaaa:  Tanggung jawab.

@nisaanggr:  Perasaan yang sulit didefinisikan.

@indahqorina:  Memberi.

@abu-utsman:  Cinta itu menjaga dan rela berkorban.

@hanifarihh:  Cinta itu rasa mengasihi.

@gelangkaret:  Cinta adalah cinta itu sendiri.

@destinanggraeni:  Cinta itu rumit.

@elmoelmooo:  Cinta itu saling. Cinta itu mengalah. Cinta itu melayani. Cinta itu bagian dari sebuah proses kehidupan yang terus memaksa kita untuk belajar, bahwa paham tidak selalu berarti mengerti.

@ellashofia:  Cinta itu memuliakan.

@manusiamonotheism:  Cinta itu anugerah, kau tak bisa melawan perasaan itu untuk berubah saat ada kecewa, datang perginya tak menentu. Cinta yang tak pernah menumbuhkan kecewa adalah cintamu pada sang maha yang kapan saja bisa membolakbalikan hatimu.

@senjabianglala: Cinta itu sunyi.


Kalau menurutmu?


NICE HOMEWORK #8 : MISI SPESIFIK HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

Bismillah…Ini nulisnya sambil merasakan detak jantung  yang bergerak lebih cepat. Karena memikirkan judul dari NHW ini, Misi spesifik hidup dan produktvitas.Fine, selamat berjuang! Semoga setelahnya enggak bakal bingung lagi tentang bagaimana caranya menjadi hamba yang bermanfaat, yang manfaatnya luas untuk banyak orang. Aamiin.

Alhamdulillah, sudah sampai NHW 8, insyaAllah minggu depan akan sampai pada materi kelas terakhir. Masih berkaitan dengan NHW 7, harus diingat dengan baik bahwa “Rejeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari”. Sehingga produktivitas hidup kita tidak selalu diukur dengan besarnya rupiah yang kita dapatkan, melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita dimata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi alam semesta.

Be Professional, Rejeki will Follow

Be Professional, bersungguh-sungguh dalam menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan peran hidupnya akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.

Rejeki will Follow, rejeki setiap orang itu sudah pasti, yang membedakan adalah nilai kebermanfaatan dan keberkahannya seiring dengan bersungguhtidaknya seseorang menjalan apa yang dia BISA dan SUKA. Uang akan mengikuti kesungguhan, bukan bersungguh-sungguh karena uang.

maka sekarang, kuatkan niat dihati untuk terus menjalankan aktivitas-aktivitas yang kita BISA dan SUKA tanpa pikir panjang. Karena kalau terlamu lama berfikir, kemungkinan waktu kita akan habis tanpa karya. Allah sudah punya maksud tertentu ketika memberikan kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus-menerus kemungkinan itu adalah misi hidup kita.

Bahagia seseorang yang telah menemukan misi hidupnya. Jika ia menjalankan aktivitas produktifnya maka akan terasa begitu bermakna. Bagaimana ciri seseorang yang telah menemukan misi hidupnya?

Selalu bersemangat dengan mata yang berbinar-binar

Energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak pernah capek.

Rasa ingin tahunya tinggi, membuat semangat belajarnya tinggi.

Imunitas tubuhnya naik, sehingga jarang sakit, karena kebahagian itu imunitas yang paling tinggi.

Ada tiga elemen yang harus kita ketahui berkaitan dengan misi hidup dan produktivitas :

Kita ingin menjadi apa (Be)

Kita ingin melakukan apa (Do)

Kita ingin memiliki apa (Have)

Untuk menjawab pertanyaan ini, sebenarnya saya sudah lebih banyak merenung sejak sebulan yang lalu. Dan Alhamdulillah, ternyata NHW kali ini sejalan dengan perenungan tersebut. Saya ingin menjadi muslimah cendikia yang penuh dengan karya-karya untuk agama, bangsa dan negara. Jadi yang ingin saya lakukan adalah menuntut ilmu setinggi-tingginya, seluas-luasnya, dimanapun, kapanpun dan dari siapapun hingga dengan ilmu-ilmu tersebut saya bisa menjadi muslimah yang bermanfaat. Hingga akhirnya dimanapun Allah menempatkan saya, saya mampu beradaptasi dengan cepat dan terus istiqomah menjaga semangat berkarya. Yang ingin saya miliki dalam hidup ini mungkin sesuatu yang abstrak, yaitu keberkahan dari Allah atas segala aktivitas yang saya lakukan. Bagaimana agar Allah ridha? Hal sederhananya adalah dengan tidak menyia-nyiakan waktu dan tidak banyak berkeluh kesah.

Dari 3 aspek dimensi waktu ada 3 periode yang perlu kita perhatikan :

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (Lifetime purpose)

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun kedepan (Strategic plan)

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (New year resolution)

Lifetime purpose saya adalah berbagi lewat tulisan. Melalui proses membuat tulisan adalah salah satu cara saya untuk memparipurnakan apa-apa yang saya pelajari dalam kehidupan ini. Sehingga nantinya, saya ingin terus berkarya lewat tulisan seiring dengan fase-fase kehidupan yang akan saya jalani. Untuk membuahkan tulisan yang baik maka saya harus bersungguh-sungguh dalam menjalani setiap fase kehidupan tersebut. Dan semoga karya tersebut bisa diwariskan kepada anak cucu saya dan bisa menjadi jalan untuk menambah amal jariyah hingga hari akhir kelak. Semoga Allah mampukan.

Untuk itu, strategi plan yang ingin saya bangun selama 5 tahun kedepan adalah :

Lulus S2 (2020) dengan beasiswa

Menulis buku-buku (Pranikah, Parenting, Catatan Perjalanan, scholarship hunter,tentang kuliah, bisnis, projek-projek dakwah, membangun masyarakat madani)

Umrah

Menjadi istri dan ibu yang Handal (Sholihah, Cerdas, mampu mengelola finansial keluarga, Jago Masak, Stay beautiful, Stay Awesome, penuh kasih sayang)

Menjadi Ibu rumah tangga yang profesional, fokus mendidik anak sesuai fitrahnya

Memiliki bisnis yang menghasilkan dan bisa dikontrol dari rumah dan dari mana saja

Memastikan Pendidikan adik-adik lancar dan dapat menjalani harinya dengan baik. Menemani proses ke-5 adik saya menjadi sarjana

Membantu orang  membuat peternakan, dan memastikan semuanya berjalan lancar

Start short course dalam bidang menulis dan bisnis

Dan terakhir, berikut ini adalah hal-hal yang akan saya perjuangkan untuk menjalani hari selama setahun kedepan.

Menikah

Jadi Asisten Pribadi suami

Daftar Kelas Matrikulasi Bunda Sayang dan aktif di komunitas IIP

Mendapatkan beasiswa dan bisa kuliah ke LN

Bisa Masak

Menambah hafalan minimal 1 juz

Fokus Belajar dan diskusi untuk membangun pondok penghafal Al-qur’an

a.       Cari referensi

b.      Cari role model

c.       Menambah Jaringan

d.      Menambah Ilmu

e.      Belajar jadi Ibu Asuh

Nulis Tumblr pakai bahasa Inggris yang baik

Jadi relawan minimal 2 kali, daftar di indorelawan.com

Buat projek kebaikan- Dakwah kreatif

Merintis bisnis, membangun jejaring, mencari role model dan mentor bisnis

Menemukan misi spesifik hidup dan produktivitas adalah jalan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan menuju jannah. Dengan siapa kita berlomba? Dengan diri sendiri, mengalahkan ia yang malas dimasa lalu. Dan juga cara berlomba untuk mendapat perhatian Allah dengan orang-orang setujuan. Berlomba bukan untuk saling mengalahkan, tapi berlomba untuk bersama-sama membangun diri dan saling menginspirasi.

Mungkin ada perasaan dihati kecil kita (atau mungkin hanya saya), apakah kita mampu dan layak mewujudkan setiap mimpi-mimpi kita? Jawabannya, mulailah dengan perubahan. Karena pilihannya hanya satu, BERUBAH atau KALAH.  Semoga Allah memampukan dengan karunia-Nya yang begitu luas. Ar-rahmaan, Ar-rahiim semoga engkau mengenggam mimpi itu dengan erat.

Salam sepenuh cinta,

Bandung, 24 Juli 2017

Garis Tengah

Situasi yang sedang saya alami (seperti yang juga dialami orang lain pada umumnya), tidak pernah jauh-jauh dari usaha yang begitu keras untuk bisa tetap menjejak di garis tengah. Di ‘khatulistiwa.’


Garis tengah di antara :


1. Spiritualisme dan materialisme, di mana tarikan alam materialistis terasa begitu kentara dan agresif. Jiwa yang lemah dan lapar akan kehabisan energi dalam pertempuran ini dan akhirnya, kalah. Terasa benar sulitnya memosisikan dan mengukur segala sesuatu dengan mata ukur yang lebih esensial dari materi. Misalnya, mengukur harga sebuah kesuksesan berdasarkan ukuran kebermanfaatan, alih-alih ukuran harta. Sulit karena, materi itu konkret. Sedang konsep kebermanfaatan, pahala, adalah sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang sulit dicerna jiwa yang kelaparan. Lapar akan ketenangan, keimanan, dan kebahagiaan.

Ditambah oleh kekuatan si invisible hand, menggerakkan 'anak-anak’ materialisme, antara lain sekularisme dan konsumerisme, membuat pertempuran ini begitu beratnya.


2. Rasionalitas dan intuisi, terkhusus dalam menghadapi persoalan dan mengambil sikap. Kapan bisa berbekal nekad, kapan perlu persiapan matang. Kapan harus memulai, kapan harus menunggu. Kapan harus mencari pembuktian ilmiah, kapan harus percaya tanpa banyak bertanya.


3. Dunia dan akhirat, ini yang tersulit. Godaan dunia begitu besar. Amat besar. Membuat orientasi hidup yang dibuat sebagaimana Rasul contohkan : Hidup baik di dunia dan akhirat, sering mengalami hantaman dari kanan kiri. Ketika hati terasa kosong, saat itulah saya tahu bahwa hati saya sedang terlalu condong pada dunia. Ketika hati terasa terlalu penuh, saat itulah saya tahu bahwa saya melupakan urusan dunia, tempat di mana saya perlu menggunakan energi jiwa yang begitu besar untuk melakukan kebaikan.


Meletakkan diri untuk berdiri kembali pada garis tengah adalah proses belajar sepanjang hayat.

Ibarat berperahu di antara dua tebing, ombak datang menghantam dari kanan dan kiri. Menyeimbangkannya kembali butuh ketangguhan, sepanjang hidup. Keselamatan bagi mereka yang bisa tetap berlayar dengan tangguh.

Mungkin benar bahwa kita hidup di akhir zaman, mungkin benar bahwa kiamat telah dekat. Semoga masih tersisa istighfar di sela-sela napas kita.

Perjalanan mencari Kebenaran

Saya bukan ustadz.  Saya hanya seorang “truth seeker” yang suka menulis. Semoga Allah meluruskan niat saya menulis hanya karena Allah, dan bukan karena yang lain.

Tulisan ini pun request dari seseorang (yang dekat) yang bertanya pada saya mengenai temannya, yang memiliki pertanyaan unik mengenai Al-Qur’an. Tentang mengapa ayat Al-Qur’an sering kali sulit dimengerti?

Mengapa ayat-ayat nya seperti meloncat-loncat dan tidak tersusun secara sistematis?

Bagaimana cara meraih maknanya dengan baik sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan kita? Apakah ada pengaruhnya jika kita bisa berbahasa arab dalam mempelajari Al -Quran?

Bukankah mampu berbahasa Arab pun belum menjamin seseorang bisa menjangkau makna Qur’an? Mendengar pertanyan-pertanyaan ini seperti dejavu.

Teringat pertanyaan-pertanyaan saya sendiri beberapa tahun yang lalu, yang bahkan lebih liar dari ini. Tapi Alhamdulillah…

Justru pertanyaan-pertanyaan seperti itulah, yang jika kita mencari jawabannya dengan tulus dan murni untuk mencari kebenaran (bukan kesombongan), kemudian kita menemukan jawabannya, akan membuat iman kita kokoh dan tak tergoyahkan.

Tulisan ini mungkin tidak bisa menjawab semua pertanyaan di atas.

Saya hanya sharing pengalaman saya sendiri, yang mungkin bisa diambil manfaatnya dan dipakai untuk memotivasi.
Motivasi untuk terus mencari jawaban, menggunakan segala potensi yang kita miliki, termasuk akal. Dan akal bukanlah logika tanpa batas.

Akal adalah logika yang tunduk dan rendah hati.

Motivasi bagi siapapun yang memiliki pertanyaan yang sama, atau bahkan yang sedang mengalami krisis keimanan, atau untuk siapapun yang pada titik tertentu dalam hidupnya mulai bertanya:

Mengapa saya ada di sini?
Untuk apa sih tujuan hidup ini?
Apa yang terjadi setelah saya mati? Dari mana saya tahu saya memiliki keyakinan yang benar?
Well, mari kita mulai.

Alhamdulillah…
I was born as a muslim.
Yup, orang tua dan keluarga saya juga muslim. (Saya tidak sedang mengomentari istilah agama warisan yang ditulis seorang remaja baru-baru ini, hehe.)

Saya hanya mau menceritakan bahwa saya sangat menyesal karena sangat terlambat menyadari anugrah Allah yang telah menakdirkan saya terlahir di keluarga muslim.

Penyesalan yang baru terjadi beberapa tahun ke belakang, mungkin sekitar tahun 2014. Sebelum itu, interest saya terhadap ilmu agama sangat minim, sangat jarang ikut kajian, apalagi baca buku agama.
Ibadah pun pas-pasan, shalat subuh sering kesiangan, baca Qur’an jarang-jarang, zakat kadang-kadang, pas ada yang minta bantuan paling enggan, puasa bulan Ramadhan juga datar-datar aja dan lewat begitu aja tanpa ada perubahan.

Fokus saya saat itu adalah: uang, bayar utang, menafkahi istri dan anak, membangun rumah tangga, rumah, mobil, pendidikan anak dan sejenisnya.

Karena menurut saya pada saat itu, itulah yang bisa mendatangkan kebahagiaan dalam hidup. Hingga suatu saat ketika utang semakin sedikit, penghasilan makin naik, karir pekerjaan semakin baik (walaupun menuntut waktu lebih banyak dan tanggung jawabnya lebih besar), rumah sudah ada, mobil sudah ada, biaya kesehatan ditanggung, saya mulai suka bertanya sendiri:

What’s next? (Selanjutnya apa?).

OK, next-nya mungkin rumah yang lebih bagus, mobil yang lebih bagus, dan sejenisnya. Dan ketika semua itu tercapai, saya mulai ngerasa aneh. Kok kerasa hampa ya? Ngga sebahagia yang dibayangkan sebelumnya. Meanwhile, tanpa disadari tuntutan pekerjaan makin ganas, dan stress mulai melanda.

Instead of baca Qur’an, musik-film-game lah yang jadi andelan.  Stress memang hilang, tapi sesaat.

Besoknya balik ke kantor stress lagi. Sampai akhirnya semua itu mulai berpengaruh ke kesehatan. Mulai sering sakit, daya tahan tubuh drop, sering kena maag, asam lambung, dan lain-lain. Saya kadang menjadi sedikit delusional, sering membuat lagu sendiri, membuat puisi sendiri, kadang hanyut di alam khayalan dan angan-angan kosong.

Rindu akan kedamaian, yang abstrak, yang entah bagaimana mencapainya. Sampai suatu hari, saya jatuh kepeleset di stasiun dengan posisi jatuh terduduk.

Ceritanya panjang sebenernya, singkat cerita saya jadi ngga bisa berdiri, ngga bisa duduk, apalagi jalan, karena setelah diperiksa dokter, ada urat yang kejepit di punggung/pinggang.

Ada cairan lumbal disc yang pecah dan menjepit saraf. Saya harus dioperasi, walaupun cuma operasi kecil. Tapi tetep harus dibius total. Saya masih ingat betul, pemandangan terakhir yang saya ingat di ruang operasi, sebelum saya ngga sadar, adalah lampu di atas ruang operasi.

Melihat lampu itu dengan syahdu, saya membatin: “Gimana kalau ada yang salah dan saya mati? Inikah akhir perjalanan hidup?”

Alhamdulillah saya masih hidup, dan operasinya berjalan lancar. Beberapa hari kemudian saya sudah bisa pulang ke rumah dan menjalani masa pemulihan.

Sudah bisa duduk, berdiri dan berjalan walaupun belum normal. Saya mulai suka bermimpi yang aneh-aneh. Suatu hari saya bermimpi sedang digantung di atas lautan api yang menyala-nyala.

Astaghfirullah….mimpinya serasa begitu nyata, sampai pas bangun pun rasanya masih teringat bagaimana panas yang terasa.

Mimpi itu seperti lecutan yang menghantam keras. Setelah itu saya mulai sering membuka Al-Qur’an, dan mulai membaca buku-buku agama.

Air mata pun mulai sering menetes. Rasa sesal mulai meresap ke dalam hati. Mimpi berikutnya tak kalah menakutkan.
Ketika terbelalak melihat matahari terbit dari arah barat. Dan seketika itu datang rasa sesal yang begitu nyelekit. Tertutup sudah pintu taubat. Astaghfirullah…

Setelah itu, semangat mempelajari Al-Qur’an semakin menggebu-gebu. Pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri terus terlontar. Saking banyaknya pertayaan sampai harus dicatat untuk dicari jawabannya kemudian. Seperti terlahir kembali menjadi orang yang baru.

Pertanyaan-pertanyaan seperti :

“Mengapa saya ada di dunia ini?”, “Apa tujuan saya ada di sini?”, ”
“Apa tujuan hidup ini?”, ”
“Apa yang terjadi setelah kita mati?”, ”

“Bagaimana saya tahu apa yang saya yakini ini benar?”, ”
“Apa sih sebenarnya isi Al-Qur’an?”.

Bahkan sampai bertanya:
, “Apa buktinya ya Qur’an itu benar dari Sang Pencipta, dan bukan buatan manusia?”, dan

“Apa buktinya ya Islam itu benar?”.

Berhubung pertanyaan saya agak liar, saya kadang menghindari pertanyaan langsung kepada ustadz.
Karena setelah saya sensor pertanyaannya pun, seringkali jawabannya kurang memuaskan. Seringkali malah saya mendapat renspon bahwa pertanyaan saya ini ngga patut, dan bahwa keyakinan itu ya harus yakin aja, bahwa agama itu diyakini dengan hati, bukan dengan akal.

Dan seringkali diakhiri dengan kata “Pokoknya begini, dan begitu”. Terpaksa saya iya kan aja, walaupun saya membatin, “Kalau keyakinan itu ya harus yakin aja, orang yang beragama lain juga bisa pake argumen yang sama dong.
Terus masa ada multiple kebenaran, padahal antara satu dan yang lain bertentangan? Taklid buta dong jadinya.”

Sehingga saya lebih banyak mencari sendiri melalui membaca buku, artikel, menonton video ceramah, dokumenter, dan lain-lain.

Hingga seorang teman memperkenalkan saya dengan video-video Ust. Nouman Ali Khan, begitu juga teman lain yang memperkenalkan dengan video Dr. Zakir Naik. Walaupun tidak pernah bertemu, mereka terasa begitu dekat di hati.

Both of them are my heroes. Isi ceramahnya benar-benar persis dengan apa yang saya butuhkan. Saya sangat beruntung, bahasa Inggris yang sehari-hari digunakan di tempat kerja, ternyata sangat berguna untuk mendengarkan ceramah mereka berdua dalam bahasa aslinya.

Saya sangat terinspirasi dengan Dr Zakir Naik ketika beliau sedang berdebat dengan seorang atheis, kemudian beliau berkata:

, “So you’re an atheist? Congratulation! You’re half a moeslim. 
To become a moeslim you need to admit that there is no god, except Allah, Laa ilaaha illallah. 
You already believe there’s no god, correct? 
Then my job is to convince you another half: illallah, except Allah

.” (Jadi anda atheis? Selamat! Berarti anda setengah muslim. Untuk menjadi seorang muslim, anda harus mengakui bahwa tidak ada tuhan, selain Allah, Laa ilaaha illallah.
Anda sudah percaya bahwa tidak ada tuhan, benar? Jadi saya tinggal meyakinkan anda setengah bagian berikutnya: illallah, kecuali Allah).

Beliau juga menjelaskan bahwa kunci untuk menjawab pertanyaan: “Apa bukti Islam lah yang benar?”, adalah Al-Qur’an.
Bahwa selain menjadi petunjuk dan pedoman hidup, Al-Qur’an juga merupakan sebuah mukjizat.

Hard proof bahwa itu memang berasal dari Tuhan Yang Esa, Allah. Beliau menguraikan bagaimana ayat-ayat Qur’an mendahului science sebanyak 1.400 tahun.

Sesuatu yang baru-baru ini saja ditemukan science, ternyata sudah disebutkan Al-Qur’an 1.400 tahun yang lalu, di tengah gurun pasir tandus, melalui Nabi yang Ummi (tidak bisa baca tulis). Siapa kah yang memberi tahu Nabi Sallallahu’alaihi wasallam, jika bukan Allah The Creator. ”

“Di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz Dzaariyaat: 20-21)

Beberapa di antaranya:

1. Teori Big Bang dan asal usul alam semesta yang baru di era science modern ditemukan (1980an), yang menyatakan bahwa alam semesta saat ini terus mengembang. Dan dulu merupakan suatu kesatuan massa besar namun kemudian terjadi ledakan besar sangat dahsyat (big bang) yang terus mengembangkan alam semesta. Hal ini ternyata sudah diisyaratkan dalam Surat Al-Anbiyaa: 30 “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

2. Bulan bercahaya dengan memantulkan sinar matahari. Hal ini juga baru diketahui science modern. Dulu orang menyangka bulan memancarkan cahayanya sendiri. Dan ayat Qur’an sudah menyebutkannya jauh lebih dulu dalam Surat Al-Furqaan: 61 dan juga ayat-ayat lain. Al Qur’an selalu konsisten menyebutkan matahari dengan “Syams” atau “Siraaj (obor)” atau “wahhaaj (lampu menyala)”. Dan cahaya bulan dengan kata ” muniir” yang artinya tidak mengelurkan cahayanya sendiri.

3. Besi yang sekarang ada di bumi, tidak terbentuk saat bumi terbentuk pertama kali. Penemuan astronomi modern mengungkap bahwa logam besi yang ada di bumi ternyata berasal dari benda-benda luar angkasa. Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan di dalam inti bintang-bintang raksasa. Hal ini lagi-lagi sudah disebutkan dalam Surat Al Hadid: 25. Pada ayat ini, kata “Anzalnaa” berarti “Kami turunkan”.

4. Gunung sebagai pasak yang memiliki root/akar yang menhujam ke lapisan dalam bumi sebagai penstabil kerak bumi. Hal ini baru diketahui ilmu geologi modern. Dan Al Qur’an sudah menyebutkan ini dalam Surat Thaha: 6-7, Surat Al-Anbiyaa:31, dan Surat Lukman:10.

5. Gunung yang bergerak perlahan (beberapa cm per tahun). Juga baru diketahui ilmu geologi modern. Dan Al Qur’an sudah menyebutkan ini dalam Surat An Naml:88.

6. Fenomena pembatas antara dua perairan. Seperti di daerah Selat Giblatar, yaitu pertemuan antara Laut Mediterania dan Laut Atlantik. Diungkapkan oleh ahli Oseanografi Francis J. Cousteau. Dan ini sudah disebutkan dalam Surat Ar-Rahman: 19-20 dan An-Naml: 61.

7. Penciptaan manusia di dalam kandungan ibu. Dr Keith Moor, seorang ahli embriologi dibuat takjub dengan begitu akuratnya Al-Qur’an mendeskripsikan perkembangan embrio dalam Surat Al-Alaq:1-2, Surat Al-Mu’minuun:12-14, Surat Al Qiyamah:38 dan Surat Al Hajj: 5. Dan masih banyak lagi dan tidak bisa saya sebutkan satu per satu di sini karena begitu banyaknya.
Subhaanallah…
Sedikit demi sedikit pertanyaan-pertanyaan itu mulai menemukan jawabannya masing-masing.
Di sini saya mulai menyadari betapa pentingnya menguasai bahasa Arab klasik.
Karena terjemahan kadang doesn’t even scratch the surface.
Terlalu banyak makna yang hilang. Keyakinan terhadap kebenaran Al-Qur’an semakin terasa mantap. Meskipun masih ada beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab.

Kitab agama lain pun ada yang mempunyai kandungan science. Apakah itu berarti kitab mereka pun benar?
Untuk meyakinkan, berarti ada satu hal lagi yang harus dipastikan, yaitu apakah informasi yang berada di dalam Al Qur’an itu intact atau utuh dan free from corruption?

Di sini juga saya pun bertanya-tanya mengapa ayat-ayat Al Qur’an terlihat seperti melompat-lompat dan seperti tidak sistematis?

Di sinilah kajian-kajian Ust Nouman Ali Khan begitu banyak memberikan jawaban yang memuaskan.

Ust Nouman begitu mendalam membahas sisi linguistik Al-Qur’an, yang membuat saya benar-benar terpukau dengan Al-Qur’an.

Semangat untuk belajar bahasa Arab klasik terasa makin menggebu-gebu jadinya.

Sebagai seseorang yang hobi menulis dan membuat puisi, saya dibuat takjub dengan surat-surat yang incredibly poetic, terutama surat-surat Makkiyah.

Walaupun baru mulai belajar bahasa Arab, I can’t help myself ketika mendengarkan ayat-ayat yang begitu puitis, seringkali tak kuasa menahan air mata yang mengalir, karena keindahan bahasanya yang begitu kuat terasa, meskipun didengar oleh telinga saya yang non-arab. Lebih indah dari lagu atau irama mana pun.

Lebih dahsyat dari puisi mana pun. Belum lagi jika ayat itu berhubungan dengan penciptaan atau alam.
Bagi penggemar science seperti saya, yang sering nonton video dokumenter tentang alam, bagaimana terbentuknya bumi, luar angkasa, bintang-bintang, blackhole, dan sebagainya, ayat-ayat scientific dan luar biasa puitis itu benar-benar menembus ke dalam jiwa.

Saya pun dibuat takjub dengan Ring Composition Structure di beberapa Surat Madaniyah. Serta ayat-ayat yang incredibly symmetric. It’s so mind boggling, menakjubkan.

Jelas sudah, manusia tidak memiliki mental capability untuk membuat yang seperti ini.
It’s definitely word of God.

Berikut beberapa contoh-contoh keindahan linguistik dalam Al-Qur’an:

1. Dalam Surat Al-Muddatsir ayat 3, Allah SWT berfirman, وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ Terjemahan simpelnya: “dan agungkanlah Tuhanmu”, sedangkan terjemahan yang lebih mumpuninya: “dan nyatakanlah hanya keagungan Tuhanmu saja” Huruf و dalam bahasa Arab, sebenarnya tidak selalu berarti “dan”. Huruf و dapat digunakan untuk 21 jenis fungsi, dan salah satunya sebagai isti’naf yaitu untuk memulai kalimat baru. Sehingga sisanya berbunyi رَبَّكَ فَكَبِّر Nah sekarang perhatikan dengan baik. Kalimat tersebut dimulai dengan huruf ر dan diakhiri dengan huruf ر juga. Huruf kedua adalah huruf ب dan huruf kedua terakhir adalah huruf ب juga. Huruf ketiga adalah huruf ك dan huruf ketiga terakhir adalah huruf ك juga. Dan huruf ف di tengahnya. Subhanallah! Suatu rangkaian simetris yang hanya terdiri dari 7 huruf. Dalam bahasa Indonesia kita perlu menuliskan “dan nyatakanlah hanya keagungan Tuhanmu saja”. Dan Qur’an hanya membutuhkan 7 huruf yang disusun secara sangat elegan.

2. Dalam Surat Ya Sin ayat 40, Allah SWT berfirman, لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ Terjemahannya simpelnya: “Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” Allah SWT berfirman tentang benda-benda angkasa, dimana masing-masing “berenang”/”melayang”/beredar/berputar pada garis edarnya. Sekarang perhatikan kata كُلٌّ فِي فَلَكٍ Perhatikan huruf pertama ك dan bagaimana diakhiri dengan huruf ك juga. Huruf kedua adalah ل dan huruf kedua terakhir adalah ل juga. Huruf ketiga adalah ف dan huruf ketiga terakhir adalah ف juga. Dan di pusatnya ada huruf ي Sekarang mari kita ilustrasikan: ك – ل – ف – ي – ف – ل – ك Pusat dari rangkaian huruf tersebut adalah huruf ي yang merupakan huruf pertama kata berikutnya يَسْبَحُونَ yang artinya mengorbit/berputar. Subhaanallah! Bagaimana mungkin manusia bisa merangkai kata sedahsyat ini? It’s so not human. It could only come from God.

3. Ayat Kursi yang tentunya sudah familiar bagi seorang muslim. Ayat ini terbagi menjadi 9 kalimat
: (1) اللّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ”

Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhkluk-Nya)” (2) لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ “tidak mengantuk dan tidak tidur” (3) لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ “Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi” (4) مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya” (5) يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ “Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang dibelakang mereka” (6) وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء “dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki” (7) وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi” (8) وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا “Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya” (9) وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ “dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar” Kalimat pertama diakhiri dengan 2 nama Allah, yaitu الْحَيُّ (Yang Maha Hidup) dan الْقَيُّومُ (Yang Maha Mandiri; Sumber dari segala sesuatu).
Dan kalimat pertama ini, memiliki kesamaan dengan kalimat ke-9, dimana juga disebutkan 2 nama Allah, yaitu الْعَلِيُّ (Maha Tinggi) dan الْعَظِيمُ (Maha Besar). Kemudian lihatlah kalimat ke-2, dan hubungannya dengan kalimat kedua dari akhir (kalimat ke-8). Mengantuk dan tidur adalah sifat makhluk.
Manusia misalnya, akan mengantuk jika kelelahan.

Tapi bagi Allah, memelihara dan menjaga langit dan bumi tidak membuatnya lelah atau berat. Kemudian perhatikan kalimat ke-3, dan koneksinya dengan kalimat ketiga dari akhir (kalimat ke-7).

Dua kalimat tersebut saling melengkapi. Pada kalimat ketiga, Allah menegaskan bahwa Dia lah pemilik apa yang ada di langit dan di bumi.

Dan pada kalimat ke-7, Allah menegaskan bahwa Kursi-Nya, Kerajaan-Nya meliputi langit dan bumi.

Di dunia ini, pemilik yang memiliki suatu properti, belum tentu penguasa/raja yang memiliki kerajaan/authority.
Dan raja yang memiliki kekuasaan, belum tentu sebagai pemilik. Karena kepemilikan itu, terhadap suatu objek atau properti. Sedangkan kerajaan adalah mengenai kekuasaan untuk mengendalikan orang.
Di dalam ayat ini Allah sedang menegaskan bahwa Allah adalah Pemilik sekaligus Raja bagi langit dan bumi. Kemudian kalimat ke-4, dan hubungan maknanya dengan kalimat keempat dari akhir (kalimat ke-6).
Di kalimat ke-4 Allah menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki authority, kecuali Allah memberikannya.

Dan ini dilengkapi dengan kalimat ke-6 yang menegaskan bahwa tak ada seorang pun yang memiliki ilmu-Nya, kecuali Allah menghendakinya.

Dan lihatlah bagaimana kalimat ke-5 yang berada di tengah, yang bertindak bagai cermin bagi kalimat di depan dan di belakangnya, sambil menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang ada di depan dan di belakang mereka. Who speak like that? Subhaanallah! So beautiful!
4. Surat Al-Baqarah, surat terpanjang dalam Al-Qur’an, dengan jumlah 286 ayat, has take the symmetry to the whole new level.
Struktur ini dinamakan Ring Composition Structure.

Hal ini baru-baru ini saja ditemukan melalui penelitian linguistik modern. Surat ini bisa dibagi menjadi 9 bagian, berdasarkan tema:

Bagian 1: Keimanan & Kekafiran

Bagian 2: Penciptaan & Pengetahuan
Bagian 3: Hukum yang diberikan kepada Bani Israil

Bagian 4: Ujian yang telah dijalani Nabi Ibrahim

Bagian 5: Perpindahan arah kiblat shalat

Bagian 6: Muslim akan diuji
Bagian 7: Hukum yang diberikan kepada muslim
Bagian 8: Penciptaan & Pengetahuan

Bagian 9: Keimanan & Kekafiran Perhatikan bagaimana kesembilan tema tersebut simetris dan seperti membentuk struktur cincin, dengan bagian ke-5 sebagai cermin atau pusat tema.

Dan di dalam bagian ke-5 ini terdapat ayat ke-143, yang posisinya tepat di tengah surat (total ayat ada 286), perhatikanlah bunyi ayat ini: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘umat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah.

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.
Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 143)

Subhaanallah!

Pernyataan umat Islam sebagai umat pertengahan, lokasinya tepat berada di tengah surat ini. Dan ternyata struktur ini bukan hanya ada pada level makro (tema) saja. Tetapi juga pada sub-tema.  Jadi terdapat struktur cincin di dalam cincin.

Misalnya saja pada Bagian 8 – Penciptaan & Pengetahuan:
Bagian awal (ayat 254): Mukmin harus mengeluarkan sebagian harta dari apa yang Allah berikan Bagian tengah (ayat 255-260): Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui. Allah memberi kehidupan dan kematian.

Bagian akhir (ayat 261-284): Perumpamaan tentang zakat/sedekah

Bahkan struktur ini tidak berhenti pada level sub-tema saja, tapi bahkan pada level ayat. Misalnya ayat 255 yaitu ayat Kursi yang telah dibahas sebelumnya.

Subhaanallah!

Level kepresisian yang menakjubkan ini, jelas terasa sebagai mukjizat ketika mempelajari Sirah Nabawiyah atau sejarah Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam. Saat itu, saya baru paham bahwa ayat-ayat Qur’an itu diturunkan secara piecemeal, sedikit demi sedikit, sesuai dengan kejadian atau tantangan-tantangan yang dihadapi Nabi Sallallahu’alaihi wasallam saat menjalani misinya sebagai Rasulullah.

Dengan kata lain, ayat-ayat yang turun adalah jawaban terhadap kejadian atau tantangan yang dihadapi tersebut.

Dan kejadian atau tantangan tersebut jelas-jelas di luar kontrol beliau.
Contoh kongkrit nya misalnya: Seseorang mukmin bertanya kepada beliau tentang suatu permasalahan, atau ketika musuh menantang beliau.

Respon dari hal ini berupa turunnya ayat kepada beliau, menjawab situasi spesifik yang beliau hadapi. Dan turunnya ayat ini tidak harus berurutan di surat yang sama dan tidak harus turun secara kronologis. Selama kurun waktu 23 tahun, ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan, out of sequence (tidak berurutan).

Segera setelah suatu ayat turun, barulah Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wassallam akan diinstruksikan oleh Allah untuk meletakkan ayat ini di posisi ini di surat ini. Dan ayat itu di posisi itu di surat itu. Dan seterusnya, sehingga posisinya fixed. Dan perlu diingat, pada saat itu Qur’an adalah oral tradition.

Para sahabat Nabi tidak melihat Qur’an seperti kita sekarang, dalam bentuk kitab (tertulis). Mereka mendengar Al-Qur’an.

It’s an audio experience, not visual experience.

Sebuah pengalaman audio namun setelah dituliskan ternyata membentuk suatu struktur linguistik yang luar biasa.

Is that humanly possible?

Al-Qur’an ini, tidak seperti buku biasa buatan manusia.

Ayat yang sekilas terlihat melompat-lompat ternyata membentuk suatu struktur yang luar biasa.

Fakta lain sebagai hard proof bahwa Al-Qur’an memiliki struktur linguistik yang perfectly balanced adalah statistik kata di dalamnya.

Di era modern ini Al-Qur’an sudah bisa dianalisis struktur linguistiknya menggunakan komputer.

Jumlah total suatu kata tertentu dalam Al-Qur’an bisa dihitung dengan cepat dan mudah.
Perhatikan fakta-fakta berikut: – Kata “ad-dunya” (dunia) terhitung sebanyak 115 kali.

Dan kata “al akhirat” (akhirat) persis sama sebanyak 115 kali. –

Kata “malaaikat” (malaikat) terhitung sebanyak 88 kali. Dan begitupun kata “Syayaatiin” (syaitan) sebanyak 88 kali. –

Kata “al-hayaat” (Kehidupan) terhitung sebanyak 145 kali. Dan begitupun kata kematian sebanyak 145 kali.

. – Kata “Ash-shaalihaat” (amal baik) terhitung sebanyak 167 kali. Dan begitupun kata “As-saya-aat” (amal buruk) juga sebanyak 167 kali. –

Kata “ibliis” (iblis) terhitung sebanyak 11 kali. Dan kata berlindung dari iblis, terhitung sebanyak 11 kali. –

Frasa “mereka berkata”, terhitung sebanyak 332 kali.
Dan kata “Katakanlah”, juga sebanyak 332 kali. –

Kata “bulan” sebanyak 12 kali –
Kata “hari” sebanyak 365 kali Again, is that humanly possible?

Saya begitu dibombardir dengan kedahsyatan mukjizat Al-Qur’an.

Dan ternyata itu belum selesai. Al-Qur’an juga menawarkan dahsyatnya struktur matematis yang dimilikinya.

Salah satu yang mencolok adalah huruf-huruf initial yang mengawali beberapa surat seperti ق di Surat Qaf, huruf يس di Surat Ya Sin, dan sebagainya.

Mari kita perhatikan beberapa contoh berikut: –
•Jumlah huruf ق di Surat Qaf ada 57. Dan 57 = 3 x 19. Artinya, 57 adalah kelipatan 19. Sehingga jumlah huruf ق di Surat Qaf merupakan kelipatan 19. Dan ternyata jumlah huruf ق di Surat Asy-Syura juga ada 57. Jika jumlah huruf ق di kedua surat itu dijumlahkan, 57 + 57 = 114. Dan 114 = 2 x 3 x 19. Kelipatan 19 lagi. –

•Jumlah huruf ي di Surat Ya Sin ada 237, dan jumlah huruf س ada 48. Jika dijumlahkan, 237 + 48 = 285. Dan 285 = 3 x 5 x 19. Kelipatan 19 lagi. – Jika initial حم yang terdapat pada Surat Al-Mu’min, Surat Al-Fussilat, Surat Asy-Syura, Surat Az-Zukhruf, Surat Ad-Dukhan, Surat Al-Jasiyah, dan Surat Al-Ahqaf, dijumlahkan maka: Surat Al-Mu’min: terdapat 64 huruf “ha” dan 380 huruf “mim” Surat Al-Fussilat: terdapat 48 huruf “ha” dan 276 huruf “mim” Surat Asy-Syura: terdapat 53 huruf “ha” dan 300 huruf “mim” Surat Az-Zukhruf: terdapat 44 huruf “ha” dan 324 huruf “mim” Surat Ad-Dukhan: terdapat 16 huruf “ha” dan 150 huruf “mim” Surat Al-Jasiyah: terdapat 31 huruf “ha” dan 200 huruf “mim” Surat Al-Ahqaf: terdapat 36 huruf “ha” dan 225 huruf “mim” Jika kita jumlahkan semua, hasilnya: 2147. Dan 2147 = 113 x 19. Kelipatan 19 lagi. –
“•Initial عسق di Surat Asy-Syura juga tidak terlepas dari ini.
Jumlah huruf ع ada 98. Jumlah huruf س ada 54. Jumlah huruf ق ada 57. Jika dijumlahkan, 98 + 54 + 57 = 209. Dan 209 = 11 x 19. Kelipatan 19 lagi. –

•Begitu pun initial كهيعص di Surat Maryam.
Terdapat 137 huruf “Kaf”, 175 huruf “Ha”, 343 huruf “Ya”, 117 huruf “Ain”, dan 26 huruf “Shad”. Jika dijumlahkan, 137 + 175 + 343 + 117 + 26 = 798. Dan 798 = 2 x 3 x 7 x 19. Kelipatan 19 lagi.

Subhaanallah!

Jika Al-Qur’an ini sudah tercampuri tangan manusia (corrupted), dan misalnya satu huruf ق saja hilang, atau huruf ي hilang, atau huruf lainnya, maka saya tidak akan bisa menikmati mukjizat kelipatan 19 ini sekarang.

Dan perhatikanlah Surat Al-Muddatsir ayat 27-31 berikut ini: “Dan tahukah kamu apa Saqar itu? Ia tidak meninggalkan dan tidak membiarkan,
Yang menghanguskan kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas. Dan yang Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat; dan Kami menentukan bilangan mereka itu hanya sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu; dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), “Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan?”

Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri.
Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.” (QS. Al-Muddatsir: 27-31)

Ini baru beberapa contoh saja. Masih banyak lagi contoh-contoh lain yang bertebaran di dalam Al-Qur’an.

Dan semakin dalam kita menyelam ke dalam Al-Qur’an, semakin banyak harta karun yang kita temukan.
Dan harta karun itu seperti tidak ada habisnya.

Bagai lautan luas.
Dan sepertinya kita tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk memahami semuanya.

Dan setelah mukjizat demi mukjizat, sudah saat nya hati dan akal kita tunduk kepada Allah. Jalani perintah-perintah Allah di dalam Al-Qur’an.

Patuhilah perintah-perintah Rasul-Nya. Atii’ullaha wa atii’urrasul. Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Because Al-Qur’an is a “live” guidance.

Kita akan terkejut ketika kita sedang menghadapi suatu masalah hidup, dan ketika membuka Al-Qur’an, secara kebetulan kita mendapati ayat yang seakan-akan merespon langsung atas permasalahan kita.

Ketika akan melangkah ke dalam kemaksiatan, tiba-tiba saja teringat ayat-ayat Allah yang melarang perbuatan tersebut.

We will receive His Guidance thru His words in the Qur’an.

Jadilah hamba-Nya.

The summary of entire Qur’an is basically to accept the fact that we are slaves and He is our Master

(Ringkasan seluruh Qur’an pada dasarnya adalah untuk menerima kenyataan bahwa kita adalah hamba dan Dia adalah Rabb kita).

Satu-satunya tujuan hidup kita, the sole purpose of this life, adalah mengabdikan diri kepada-Nya. Itulah satu-satunya cara agar kita mendapatkan kedamaian yang sesungguhnya.

Kedamaian di Surga-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Az-Zariyat: 55)

Maha Benar Allah dengan segala firman Nya.

Cimanuk – Bandung, Hari 21. Ramadhan 1438 H
*Alumni Mesin ITB 2002


Eka Pratama

~~~


Repost
Singapore
28 Ramadhan 1438 H

Bagiku, menerjemahkan perasaan adalah mutlak abstrak, sebentuk misteri yang hanya bisa diwakili oleh pilihan kata bersajak. Sejatinya, olahkata itu kubangun dengan kerangka intuisi dan kubentuk dengan logika dan persepsi.

Kubilang, perasaan adalah misteri.

#56

Yang kukagumi,

Sepanjang pemahamanku pada sajak-sajak penyair besar, tidak ada kesan puisi yang tanpa harapan. Semua memiliki harapan. Sebagaimana sastrawan-sastrawan dari Amerika Selatan, mulai dari Pablo Neruda, hingga Gabriel Garcia Marquez, karya-karya mereka penuh pengharapan pada segala hal konkret maupun abstrak. Begitu pula pujangga-pujangga tanah air, Chairil, Rendra, sampai Sapardi.

Aku mengagumimu sebagai harapan. Dengan apalagi aku melukiskan kesan ini kepadamu selain kata tersebut? Tidak ada–atau aku tidak tahu. Harapan adalah lilin yang dinyalakan di padang gelap. Meskipun akan habis, lilin setidaknya menerangi apa yang gelap; apa yang tidak jelas. Harapan membuat hidupku terang, dan bahwa aku mengakui segala yang aku rasakan.

Aku pernah menulis buku cerita dan puisi. Untuk apa semua itu? Tidak ada, kecuali untuk harapan bahwa aku akan bertambah hidup. Hidup yang seperti apa? Bisakah aku jawab: seperti Raden Mandasia saat mencuri daging sapi. Bertambah hidupnya atas kebahagiaan kala mengiris-iris daging sapi curian.

Apakah semua perempuan menginginkan laki-laki pemberani? Yang kumiliki tandas, dan tersisa ruang kosong. Keberanian hanya menjagaku untuk tidak mati sebelum waktunya. Tapi aku takkan mati. Sebab aku hidup dalam kata-kata. Demikian pula kata yang membentuk namamu dan seluruh kata yang bermakna cinta. Sementara harapan adalah dayungnya. Ke mana kita?

Jika seandainya kau terluka dan merasa patah
patahlah secara artistik

Dia akan melihatmu hancur tapi sebagai sebuah keindahan yang abstrak
—  2017
Fisik yang unggul dan hati yang luhur bersinergi menerbitkan manusia dambaan hati.

Jangan lupa baca doa sebelum berupaya.

(sumber : https://aesthetically-islamic.tumblr.com/image/142699812615)

Sudah senormalnya, gadis usia remaja memasuki area gawat yang membuat kadang-kadang menimbulkan cemas berlebihan karena mereka beranggapan kelebihan berat badan, kurang tinggi, pipi tembam, alis kurang tajam, bulu mata kurang badai, atau bibir kurang merona menjadi problem yang harus segera teratasi. Kiat-kita menjaga diri berbentuk pemakaian kosmetik tertentu, koleksi pakaian tertentu, pemakaian gaya tertentu yang melekat dan pada anggota tubuh luar sering lebih digiatkan seiring berjalannya usia.

Gadis-gadis itu memiliki gambaran ideal tersendiri, lihat saja following instagramnya. Padahal beberapa tahun lalu, ketika usianya belum beranjak belasan, hal-hal semacam itu hanya menjadi tontonan di televisi atau rutinitas mama mereka saja. Yang ke depannya tidak pernah ia bayangkan kalau-kalau mereka akan seperti itu, seribet itu.

Di usia yang masih dapat divisualkan dengan kesepuluh jari tangan, setiap harinya sepulang sekolah mereka bahkan takkan bergeming jika seandainya saking emosinya, ibu mereka berkata kalau Belanda datang lagi. Anak-anak yang tahunya cita-cita hanya berbentuk dokter, guru, dan tentara itu berlari-lari. Bermain campur baur, mereka mengerti teman di hadapannya berjenis kelamin laki-laki dan bergender laki-laki, sedang dia perempuan sebab ia pakai anting. Tetapi untuk masalah permainan, jelas tak lagi mengenal gender. Sepak bola untuk semua kalangan, laki-laki maupun perempuan.  Sampai rumah-rumahan juga tak mengenal bahwa darah kesatria seorang lelaki akan lebur di dalamnya, menjadi lebih kalem. Kadang, laki-laki yang bengisnya minta ampun di lapangan sepak bola, harus jadi ayah-ayahan untuk boneka yang digendong ibu-ibuan, teman perempuan mereka. 

Apakah perempuan-perempuan itu sudah menetapkan standar kosmetik tertentu untuk melindungi terpaan wajahnya dari sinar matahari? Atau para lelaki itu, apakah mereka sudah memerdulikan gaya rambutnya yang bagaimana agar bisa menggoda lawan mainnya?

Fragmen hidup yang menyenangkan.

Menjejaki fragmen yang lebih tinggi dan kompleks, anak-anak itu tumbuh. Meletakkan definisi cantik dan tampan menjadi lebih banyak, lebih detail, dan lebih abstrak.

Memiliki pipi yang tirus, tubuh langsing, semampai, kulit putih, dan aneka bentuk ornamen wajah yang diharapkan banyak  remaja, merupakan definisi paling mudah didapat. Masih konkret, anak-anak perempuan yang jadi striker sepak bola di kompleknya pun bisa membedakan kecantikan dan lawan katanya dengan amat mudah, dengan cara seperti di atas. Tidak ada yang mendebat dan memerdulikan setinggi dan sejauh mana otaknya bekerja, yang penting gak malu-maluin kalo digandeng saat kondangan.

Meloncat ke kubu di seberangnya, katanya “Beauty is like a book. It cannot be judged by its cover”. Nah, ini abstrak. Kita harus menyipitkan mata dan membuka hati untuk mengintip seberapa cantik ia. Tidak penting adanya visualisasi kecantikan lewat eksternal dalam anggota tubuh, jauh lebih penting mendidik intelektual dan rohani yang terpadu bekerjasama guna pencapaian tujuan kehidupan ke depannya. Dan pasti juga untuk urusan seksual.

(sumber: https://aesthetically-islamic.tumblr.com/image/153009535440)

Maka, kubu konvergensi menjadi andalan. Tidak melupakan salah satu dan mendewakan yang lain. Melainkan, mengharmoniskan keduanya. Kemolekan fisik saja menjadi momok menakutkan jika otak dan hatinya tidak dirias, dipercantik dengan bedak dan pensil yang digunakan memandang dunia jauh ke depan, lebih dalam lagi dan esensial. Kejernihan rohani yang terus menerus diisi dan dimuluskan akan melahirkan kasih sayang pada pemberian Tuhan berupa fisik yang harus dijaga dan dirawat, lepas dari kepentingan penjagaan terhadap diri sendiri atau untuk urusan seksual ke depannya.

Tak dapat ditolak juga kemungkinan bahwa terkadang kecantikan itu amat temporer, sementara waktu. Mungkin saja ibuku memuji kecantikanku ketika aku bekerja membersihkan piring dan baju kotor dengan sangat cepat dan baik. Mungkin saja teman-temanku diam-diam menuliskan “kamu cantik” di jidatku karena aku mau menraktirnya makan soto di kantin. Mungkin pula, ketika aku masih mengemut jariku dan memakai popok, ayahku memanggilku si cantik karena tidak suka menangis ketika bertandang ke rumah saudara. Atau temanku yang secara tiba-tiba sumringah dan dengan senyum ramahnya menyambut pundakku untuk direngkuhnya dan mengatakan, “kamu cantik hari ini” karena aku pakai gamis warna pink. Dan mungkin saja seorang suami memuji-muji istrinya yang pandai memasak meski keadaannya sedang berdaster.

Cantik bisa sekompleks ini definisinya, didasarkan oleh berbagai kepentingan dan sesuatu yang melekat.

Lalu, apakah kecantikan dibentuk atau dilahirkan?

Teringat akan postingan di salah satu laman yang membuat kita berlapang dada dan merasa sangat bangga atas kelahiran kita di muka bumi ini:

Your skin is the right shade
Your nose is the right shape
Your lips, hand, and feet are the right size
Your height is perfect and so is your natural hair colour/texture
Your voice and laugh are just right
Whatever you dislike about your physical self is all in your mind
Fashion didn’t create you
Western standards of beauty didn’t create you
Your culture’s idea of physical attractiveness didn’t create you
Allah created you and He doesn’t make mistakes. Let that sink in

https://reminder-afterreminder.tumblr.com/

Terharu. Huhuhu

Kecantikan adalah salah satu unsur yang ikut lahir ketika sang bayi lahir. Selama sembilan bulan mendekam dalam rahim yang sempit, setelah waktunya tiba sang ibu dan ayah menyaksikan anaknya lahir dengan beban kecantikannya yang kelak akan dipergunakan entah untuk apa saja. Maka, tugas kedua orang tua dan segenap elemen manusia dewasa dalam kehidupan sang anaklah yang akan membentuk ketelitian anak dalam mendefinisikan kecantikan yang konkret dan abstrak baik untuk dirinya maupun orang lain.

Oleh karena itu, seunggul-unggulnya kita mendewakan kecantikan fisik yang esok akan luntur dan bau tanah, akan lebih bijaknya untuk tak melupakan kecantikan rohani yang semakin tua tibahlah masa dewasanya. Tidak apa-apa mencemaskan pipi tembam dan warna kulit yang kurang bercahaya, tetapi tidak perlu berlebihan juga. Alih-alih mengkhawatirkan pujaan hati meloyor mencari permata lain, tidak perlu kecemerlangan rohani jadi kerontang dan retak sana-sini.

Keluar dari Ruang Belajar

Sebagai mahasiswa jurusan kimia seperti saya, yang ilmunya, pada banyak kesempatan, membahas hal-hal yang abstrak dan paling banter membahas sesuatu yang bisa dikerjakan di laboratorium, saya punya satu kesenangan yang aneh, yaitu berkumpul dengan mahasiswa-mahasiswi dari rumpun ilmu-ilmu sosial, mengobrol dan berdiskusi soal keadaan kekinian Indonesia, membahas kebijakan dalam dan luar negeri Indonesia, serta fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.

*

Penampakan sehari-hari di laboraturium saat mengerjakan proyek tesis master di The University of Manchester. (dok.pribadi)

Jika Anda melihat CV saya, kemungkinan besar Anda akan mengira saya adalah seorang pencinta kimia sejati yang waktu luangnya dihabiskan membaca jurnal atau nonton video TED Talks saja—sehingga tidak mungkin akan menunjukkan batang hidung saya di forum-forum yang membahas kebijakan publik dan ideologi politik.

Saya tidak bisa mengelak bahwa saya sangat suka belajar mengenai alam, seperti tentang bagaimana bahan bakar terbentuk, bagaimana bahan bakar bisa menghasilkan energi, bagaimana energi bisa berubah wujud, bagaimana perubahan iklim bisa terjadi, bagaimana proses penjernihan air, bagaimana kita bisa memanen energi dari matahari, dan sebagainya. Saya juga tidak bisa mengelak bahwa saya juga senang membahas ideologi, evident-based policy making, cara kerja media massa, keberpihakan politik pada rakyat kecil, dan sebagainya. Tidak ada yang salah bukan?

Saya melihat bahwa pada akhirnya orang-orang dari rumpun ilmu-ilmu alam dan teknologi butuh orang-orang dari rumpun ilmu-ilmu sosial, juga sebaliknya. Karena, pada akhirnya, kebermanfaatan ilmu alam dan teknologi secara luas harus didukung oleh elemen-elemen sosial dan political will pemerintah. Lihat saja bagaimana polemik perkembangan industri kedirgantaraan di Indonesia. Singkat cerita, industri ini dimulai dan dikembangkan karena political will pemerintah dan perkembangannya dihambat bahkan diakhiri juga atas political will pemerintah.

*

Melihat kondisi saat ini, banyak riset di bidang ilmu alam dan teknologi yang sudah dan sedang dikerjakan pemuda-pemuda cemerlang harapan bangsa, seperti para awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP, sangat sulit ditakar manfaatnya dalam waktu dekat. Kesulitan menakar manfaat waktu dekat ini memang harus dimaklumi, karena begitulah hakikat riset. Dia berada di garda terdepan ilmu pengetahuan. Sedangkan implementasinya baru bisa dirasakan bertahun-tahun kemudian. Apalagi jika para awardee banyak berkuliah di kampus-kampus terbaik di dunia di bidang sains dan teknologi yang lebih peduli kepada kemajuan ilmu pengetahuan, bukan implementasinya.

Sehingga, riset para mahasiswa master dan doktoral bidang sains dan teknologi di kampus-kampus terbaik dunia boleh jadi tidak relevan dengan kebutuhan negara dan investasi pada pendidikan kami tidak akan memberikan return apa-apa dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat terkadang saya merasa ilmu saya tidak berguna di masyarakat. Buat apa saya mempelajari sesuatu yang belum tentu jadi dan masuk pasar?

Oleh karena itu, kesenangan berkumpul dan mendengar mahasiswa-mahasiswa ilmu sosial setengahnya bisa dikatakan setengahnya pelarian dari kondisi yang kurang mengenakkan di atas. Setengahnya lagi adalah karena setiap inovasi butuh dukungan negara untuk implementasinya.

*

Saya baru memulai kesenangan ini saat saya masih di tingkat tiga S-1 jurusan ilmu kimia. Saya lebih banyak mendengar. Di awal, tentu ini bukan hal yang mudah. Butuh upaya ekstra bagi saya untuk membaca-baca sebelum berkumpul dan berdiskusi. Sesekali saya harus mencari tahu penjelasan-penjelasan dasar mengenai istilah-istilah ekonomi dan politik yang tidak saya mengerti. Keluar dari zona aman memang tidak mudah. Saya harus siap menjadi orang ‘bodoh’, menanyakan hal-hal yang mungkin sudah lazim diketahui.

Foto bersama selepas diskusi Lingkar Studi Cendekia (LSC) UK tentang ekonomi migas dan potensi energi terbarukan di Newcastle, saya paling kanan. (dok.pribadi)

Saat studi di tingkat master di Inggris, kesenangan ‘aneh’ ini malah mejadi hobi. Untuk kumpul-kumpul membahas isu buruh, ekonomi migas, dan isu-isu pembangunan, saya tidak ragu-ragu mengeluarkan uang beasiswa saya untuk membeli tiket kereta agar dapat sampai ke kota-kota lain di Britania Raya dimana diskusi diadakan.

Pengorbanan waktu dan biaya untuk mempelajari hal-hal yang sama sekali baru adalah harga yang pantas saya bayar sehingga akhirnya telinga saya sudah terbiasa dengan istilah-istilah ekonomi dan politik. Sayapun mulai bisa membangun argumen bila diajak berbicara soal ideologi politik dan keberpihakan pemerintah.

Sangat menarik menemukan bahwa setiap isu bisa jadi berbeda bila dilihat dari perspektif yang berbeda pula. Pandangan mahasiswa ekonomi akan berbeda dengan mahasiswa politik, begitu juga mahasiswa ekonomi dan politik dari saya seorang mahasiswa ilmu alam yang lebih banyak memikirkan hal-hal teknis. Tapi di sanalah terjadinya mutual understanding dan munculnya ide-ide solutif yang holistik. Dan memang sudah seharusnya ada lingkaran-lingkaran yang bisa mempertemukan orang-orang lintas disiplin ilmu untuk mengurai sebuah masalah yang kompleks dan kemudian mencoba mencari potensi-potensi solusi yang diambil dari berbagai aspek.

Karena pada dasarnya semua perspektif dihargai, saya pernah diminta berbagi pandangan mengenai isu-isu terkait implementasi inovasi. Teman-teman di komunitas Lingkar Studi Cendekia (LSC) UK meminta saya mengulas bagaimana teknologi berperan penting dalam kemajuan bangsa pada sebuah diskusi bulanan yang diadakan di Sheffield (lihat rekaman).

Diskusi Panel Bonus Demografi dalam Forum for Nusantara PPI Greater Manchester, saya paling kanan. (dok.PPI GM)

Puncak dari aktivisme ‘aneh’ ini adalah saat saya diminta mengisi diskusi panel mengenai bonus demografi yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Greater Manchester. Kimia dan bonus demografi… dimana benang merahnya? Saya setengah tidak percaya. Tapi saya coba sebaik mungkin menyampaikan perspektif potensi percepatan kemajuan teknologi dari bonus demografi.

*

Momen-momen dimana saya dianggap setara dengan pemateri lain yang memiliki latar belakang politik dan pembangunan masih berkesan di pikiran saya. Momen dimana saya bisa lantang menyampaikan bahwa Indonesia bisa menjadi negara yang maju bila menyicil upaya-upaya transfer teknologi. Momen-momen itu membuat saya semakin yakin bahwa saya berada di jalur yang benar. Momen-momen itu menyadarkan saya bahwa perlu ada sekian persen dari orang-orang yang mempelajari ilmu sains dan teknologi yang juga mengerti ilmu-ilmu sosial sehingga menjadi jembatan di antara dua rumpun ilmu yang masih sering dianggap tidak berhubungan.

Inovasi teknologi adalah kunci added value pada ekonomi. Yang punya ilmunya, orang ilmu alam. Yang mengerti mekanisme pasar… orang ekonomi. Yang memberi izin implementasi… eksekutif dan legislatif yaitu politisi. Maka dari itu…

…sudah sepantasnya setiap dari kita sesekali keluar dari ruang belajar kita masing-masing dan berkumpul bersama teman-teman dari rumpun ilmu tetangga.

Bahkan kau masih mengingat momen-momen bersamanya lewat tulisan-tulisan abstrak yang berserakan

— Kalau sudah begitu, tak ada yang bisa kulakukan selain bertanya dan menyalahkan diri sendiri. Kenapa aku bisa sebegitu jatuh kepada seseorang yang tak pernah mau beranjak dari luka-lukanya?

Apa Itu Jeda?

“Kak, kenapa jarang update postingan lagi?” begitu kira-kira pertanyaan beberapa kawan di tumblr. Pertanyaan yang bisa diategorikan sebagai perhatian (atau hanya sekadar penasaran), ha-ha-ha.

Sejak saya aktif di Tumblr sekitar awal tahun 2015, saya banyak menulis tentang satu perempuan. Barangkali ada yang bertanya apakah itu berguna? Sebagian dari kita punya kecenderungan untuk melihat sesuatu hal dari kegunaan. Melakukan ini, apa ada gunanya, melakukan itu, apa manfaatnya. Semua diorientasikan pada untung dan rugi.

Saya jadi ingat mata kuliah Akuntansi. Sebagai pemuda yang dididik untuk selalu berpikir laba-rugi, break-even-point, modal, dan investasi, saya jadi memahami bagaimana sebuah tindakan akan menentukan apa yang diperoleh atau apa yang dikorbankan. Tentu mesti memprioritaskan pada pertumbuhan usaha.

Begitulah, kalau kita semua selalu berpikir ala materialisme. Walaupun itu tidak salah, tetapi ada hal lain yang tidak bisa dinilai dari manfaat dan kegunaan yang riil. Ada yang bersifat abstrak dan hanya bisa dirasakan. Dampaknya ada pada sisi psikologis atau mental.

Pasti banyak yang tertolong dari aktivitas menuangkan pikiran pada bentuk tulisan. Mereka yang menyukai membaca dan menulis akan bisa mengendalikan emosi. Proses membaca dan menulis akan menetralisir gejolak emosi yang berlebihan. Kemudian digantikan dengan proses kreatif. Energi yang ada ditransformasikan menjadi seni tulisan.

Nah, ketika saya menulis tentang satu perempuan, itu artinya ada sebuah keistimewaan yang ada pada objek tulisan saya. Si perempuan yang memiliki kedudukan penting di sejarah kehidupan saya. Sama halnya pada orang-orang lain, yang juga pasti menemui seseorang yang bisa mengubah hidupnya, atau mampu memberi pelajaran tentang hidup.

Jadi, apa yang bisa saya lakukan hanyalah membuat si perempuan itu berubah menjadi bentuk tulisan yang bisa dibaca kapan saja. Ada pun percik-percik emosi dan kelucuan di dalamnya, merupakan bunga-bunga yang barangkali bisa menyegarkan.

Demikian sedikit alasan, yang kiranya memberi kita alasan lain untuk terus menulis. Bagaimanapun kita, jika telah berkreasi, akan ada rasa puas.

Kembali pada pertanyaan kawan di atas, mengapa saya jarang memposting sesuatu. Saya dulu juga pernah beberapa kali vakum di tumblr. Pertama, karena saya ingin menenangkan diri dengan pergi ke suatu tempat yang sepi. Kedua, saya punya firasat agar saya jeda saat dalam menulis di tumblr. Dan yang ketiga ini, saya memiliki kesibukan lain. Bukankah setiap orang mesti keluar dari zona nyamannya, untuk mencari zona nyaman yang lebih tinggi? Begitu seterusnya.

Tumblr telah banyak mengubah orang-orang. Dari seseorang yang tidak dikenal menjadi orang terkenal. Dari orang yang tidak pernah berpikir akan menyukai menulis, menjadi orang yang gemar mengabadikan peristiwa lewat kata. Dari orang yang kurang puitis, menjadi seseorang yang bijaksana. Dan banyak lagi yang bisa didapatkan dari Tumblr.

Satu hal barangkali yang jangan sampai terlewat dari diri kita di sini: jangan pernah memiliki sikap jemawa, sombong, angkuh, atau merasa lebih baik, bahkan iri dan dengki. Jadilah orang-orang yang menulis karena kita mencintai kegiatan menulis. Namun, sewajarnya kita juga harus selalu membaca banyak buku.

Selalu semangat!

Metamorphosis

Mereka entah datang dari mana. Kurasakan kupu-kupu itu keluar dari dalam perutku. Namun satu hal yang kuyakini, sebelum bertemu denganmu mereka hanyalah kawanan ulat-ulat. Jauh sebelum aku bertemu dengan sepasang gingsulmu yang seolah-olah selalu ingin mengajak dunia tertawa, aku sudah merasakan kehadiran mereka. Mula-mula kawanan itu pelan-pelan memakan jantungku, paru-paruku hingga hatiku. Selama ini aku mengira hatiku telah dicuri oleh seorang wanita dan ia tak pernah berniat untuk mengembalikannya. Ternyata aku salah besar.

Bertahan hidup di jantung kota di mana kekuasaan, keserakahan dan gaya hidup manusia urban menjadi simbol prestise omong kosong belaka. Setiap detiknya kita selalu merasa diburu waktu dan sesuatu. Jika kau kenali lebih dalam lagi, mereka sudah menciptakan monster yang menghantui hidup mereka sendiri. Monster-monster itu kerap menganggu mimpi mereka di setiap bangun dan tidurnya. Mereka hanya mengenal adegan-adegan kolase hidup sebagai potret hitam dan putih saja. Ada area yang kerap dilupakan oleh mereka, yaitu area abu-abu. Kau tak bisa begitu saja menentukan siapa yang benar dan salah. Siapa yang berada di jalan benar atau tidak. Di kehidupan nyata kau bukanlah Tuhan yang berhak menentukan siapa yang berdosa atau tidak.

Hidup yang kujalani saat ini kadang aneh sekaligus lucu. Aku merasa hidup kita ditentukan oleh seorang penulis komedi satir juga sarkasme. Suatu saat kau pun bisa merasakan sebuah keberuntungan yang orang lain pun belum tentu punya kesempatan yang sama. Di hari lain kau bisa saja merasa bahwa dirimu adalah orang paling sial di muka bumi ini. Selalu merasa kekurangan, merasa kesepian dan merasa tidak diinginkan. Aku percaya kita bisa hidup bahagia. Kita tak perlu datang ke tempat-tempat mewah, menghabiskan banyak uang dan membakar bensin. Pergi jauh dari rumah hanya untuk mencari sebuah kebahagiaan. Sebab kebahagiaan itu bukan sesuatu yang harus dikejar, namun diciptakan. Asal kita terus percaya dan selama itu juga kita akan baik-baik saja.

Toko buku adalah bagian dari tempat pelarianku. Kau bisa bayangkan parfum yang menyeruak dari kertas buku mampu menghipnotis pikiran dan mengajak kita tenggelam ke dalam isinya. Semakin jauh kita tenggelam, di sana kita sudah tiba berada di dunia yang kerap disebut fiksi. Barangkali kau tak bisa membedakan cerita-cerita yang ada: antara kisah fiksi yang menjadi nyata atau kisah nyata diubah menjadi fiksi. Namun setelah bertemu denganmu, inginku sangat sederhana. Aku ingin kau menjadi sosok nyata dalam hidupku. Aku ingin seperti Jean Paul Sartre yang bertemu dengan kekasihnya di sebuah toko buku. Dan cerita-cerita bahagia akan mekar setelahnya.

Pameran benda seni selalu menghiasi acara gedung-gedung pencakar langit di setiap akhir pekan. Banyak pelukis, seniman dan kolektor berlomba-lomba memamerkan ide-ide gila di kepala mereka. Mereka memamerkannya di ruang sempit—senyap dan sunyi. Di sana akan kau lihat banyak sekali seniman itu berkarya seolah-olah mereka sedang telanjang tanpa harus merasa malu. Kau tak berkata apa-apa ketika aku mengajakmu melihat pameran seni termegah di kota ini. Kau hanya berkata satu-dua buah patah yang aku yakin sejuta orang lainnya akan berkata hal yang sama persis seperti ketika kau melihat sebuah lukisan abstrak yang diobrak-abrik tata warna. Mereka bisa saja mengatakan karya mereka bernilai ratusan juta rupiah, namun bisa saja kita menganggapnya hanya sebuah sampah yang dibingkai mewah.

Setiap aku menatap kedua matamu yang bening itu, aku seperti baru menemukan rahasia. Entah rahasia atau dosa-dosa apa yang sudah kau lewati jauh di masa lampau. Memang kenangan buruk itu seperti celoteh ibu yang cerewet. Dosa tetaplah dosa. Karena kita semua itu manusia dan dapat berbuat salah. Sebab kita bukanlah malaikat.

Kau boleh percaya, boleh tidak—kini aku melihatmu seperti kupu-kupu cantik yang sudah melewati fase metamorfosis dan tengah menikmati keindahan dunia. Sementara aku masih tersesat di dunia yang kuciptakan sendiri dan menulis beberapa hal tentangmu. Ada baiknya aku tak mau tahu dengan segala dosamu di masa lalu—begitu juga dengan kau. Kau tak perlu tahu dosa apa dan kepada siapa yang telah kuperbuat hingga kini tersesat dan ingin sekali diselamatkan. Memang ada baiknya rahasia tetaplah menjadi rahasia.

Bekasi, 2017

<3

So, sejak akhir tahun lalu kan kayaknya hidup gua nano-nano banget ya. Yang namanya masalah katob lah, urusan magang lah, kampus lah, kepanitiaan lah dll dll sampe sekarang kayaknya bertubi-tubi banget. Sampe rasanya kayak kalo gada masalah tuh ganjil.

Udah gitu kan gua alay dikit-dikit nyampah keluhan di tumblr (EHEHEHE), terus tadi mami nyamper ke kamar. Gua lagi gambar gitu sambil tiduran di kasur.

Like always, doi langsung nimpain badan dia ke badan gua. Tau kalo kucing minta di elus gimana capernya? Nah emak gua kayak gitu kalo lagi caper sama gua, tapi doi lebih gede dan lebih berat daripada kucing. Gua megapmegap.

Iya, I know, emak gua manja sama gua dan gua gamau kalah lah ya. Jadi gua lebih manja lagi sama dia.

Tau banget gua kalo doi kek gitu ada maunya. Eh bener. Lagi mau curhat dia.

Mulailah dia cerita ini itu, segalaan curhatan bapak gua doi ceritain juga ke gua yaelah mak.

Intinya doi lelah. I saw it in her face. Dari cerita mak gua sih bapak gua juga lagi lelah.

Seketika itu juga, gua ngerasa masalah gua upil doang. Ajaib gan.

Terus doi nutup curhatannya dengan kata-kata pamungkas:
“Kita keluarga, harus saling bantu mau gimanapun juga. Sampe kalian berkeluarga, sampe kalian tua. Saudara kamu tuh tanggung jawab kamu, sepupu kamu, keponakan kamu, harus saling jaga. Ih aku cantik bener.”

Idih kan? Abstrak bener mak gua. Lagi serius gua dengerin. Rusak udah wejangan momennya -_-

Gua sautin, “iya iya kamu memang tercantik, BEUH!” sambil gua cium tangannya dan tiduran di pangkuan doi.

Hangat. Kalo punya emak kek gini, kalo punya keluarga serekat ini, gua rasa gua gaakan masalah ngadepin seisi dunia pun. Halah.

Keluarga tuh emang rezeki yang luar biasa ya. Alhamdulillah ya Allah, You are the best.

26/4/17

Semoga nanti kita semua dipertemukan di tempat terbaik.

Filsafat Syukur

Seiring bertambahnya waktu, bacaan, dan obrolan, cara dan alasan bersyukur pun akan berubah.

Waktu kepala kita belum bisa mencerna hal-hal abstrak seperti konsep pahala, kebaikan berlipat ganda, dan surga neraka, kita merasa sudah bersyukur manakala sudah mengucapkan “terima kasih” dan “alhamdulillah.”

Alasan kita bersyukur pun terpaut erat dengan sesuatu yang berasal dari luar diri kita. Seperti saat saya kecil, rasanya bersyukur sekali jika teman sebangku saya lebih jelek nilainya daripada saya. Jahat memang, tapi perasaan bahwa hidup saya lebih baik daripada orang lain adalah alasan bersyukur yang saat itu cukup masuk akal.

Namun alasan tersebut tidak adil buat mereka yang nilainya paling jelek. Tidak ada yang nilainya lebih jelek lagi di kelas, apakah alasan untuk bersyukur lantas menjadi hilang?

Sedikit banyak, cara dan alasan seperti itu masih terbawa meski usia tak lagi kanak-kanak.

Tapi, rasanya bersyukur tidak mesti demikian jahatnya.

Saya berpikir, apakah untuk bisa menjadi seorang yang bersyukur, kita harus memulai dengan merasa lebih baik dari orang lain dan menganggap orang lain tidak lebih beruntung dari kita?

Jika kita bersyukur karena memiliki sesuatu, lantas apa yang membuat kita akan bersyukur saat kita tidak memiliki apa-apa?

Bagaimana jika kita bersyukur bukan karena hidup kita begini di saat hidup orang lain tidak begini, bukan karena kita memiliki ini sementara orang lain tidak memiliki ini. Bagaimana jika kita bersyukur karena Allah sangat baik, semata-mata hanya karena Allah memang sangat baik, kepada semua makhluk.

Bagaimana jika syukur tidak lagi digantungkan pada hal-hal di luar diri kita, sehingga ada tidaknya syukur tidak lagi ditentukan oleh musim ini dan itu.

Bagaimana jika kita memulai menjadi seorang yang bersyukur dengan sepenuhnya menyadari, bahwa bersyukur, layaknya mencintai, adalah pekerjaan mulia yang tidak mensyaratkan apapun. Ya, tanpa syarat.

Kanvas 2015

2015 about towards the end. Tak sangka. Cepat gila. As time flies soo fast sampai kau pun tak sedar tang mana kau dah berubah. For the upcoming next year, semoga aku jadi yang lebih baik. Macam mana aku bangun setiap pagi dengan harapan Tuhan masih pedulikan dan nak sayang aku lagi,macam tu jugak aku harap pada manusia . Aku tak mintak semua sayang aku, cukup lah yang kenal sudi stay,care dan ingat aku. Selalu orang tak diperasan dan tak dipeduli buat aku jadi tenggelam,tak yakin lansung dan jauhkan diri. Aku terbiasa sehingga senang pun dengan yang macam sekarang ni. Taklah bahagia mana, tapi cukuplah menjadi seorang yang biasa-biasa. At the end of the day, we all know that we solely have ourselves. Menjadi seorang yang tak ada apa-apa,bukan sesiapa, buat kita lebih cepat untuk kenal seseorang pada layanan yang kita dapat, refleksi diri sebenar orang itu sendiri. Ada yang pandang rendah,perlekeh, tarik muka, buat aku lebih matang dan merangkak menjadi ikhlas mencari sisi baik dia.

Aku antara orang yang paling allergy pada perubahan. Takut kena tinggal. Takut ranap. Takut kena dilabel loser. Padahal inilah sunnatullah. Siapa aku nak lawan Tuhan. Semua dah tertulis ditentukan. Berbahagialah dalam sunyi. Nanti kau akan jumpa siapa sebenarnya diri. Aku tak pernah lupa diri. Akulah budak sekolah rendah yang berlagak,disayang,ditatang. Sampai masuk sekolah menengah berubah– buat hal sendiri,buat peraturan suka hati tanpa diperhati. Aku tak mungkin lupa diri melainkan orang yang lupa aku. Bila dah besar sedikit ni, aku masih cepat marah, tapi dah tak seteruk dulu dan boleh dikawal. Dia dah jadi lain. Maybe cepat menangis sebab aku rasa itu sahajalah yang macam satu-satunya the safe medium. I transferred most of the anger,revenges and negative vibes into tears and writings. Tak ada lagi campak2 barang atau mencarut-carut serupa perempuan naik gila. Bila mula hidup dan tidur sebantal dengan orang yang tak sempat pun aku nak melenting dia dah kerja mintak maaf je,buat aku kalah. Tak challenge lansung nak mengamuk ke merajuk ke bila ada orang yang tak ego lansung,banyak sabar dan diam. (Iloveu!)

I feel grateful for people yang masih sudi. Dan sekali berterima kasih pada sekalian yang sudah pergi. I have like sooo many stories to share,but maybe tak lah aku publish to public. Even mak abah aku pun tak tahu. Kita semua ada kotak peti besi sendiri, internal fights sendiri. And writings, I took as my chamber to escape from reality. Masih tak baik di mata orang lain tapi Tuhan,moga-moga apa ada amalanku yang kecil-kecil Dikau sudi kirakan.

As for now, aku redha untuk segala. Kadang-kadang tanpa sedar,disebabkan kebodohan dan jahanam kita yang lampau– kita jumpa perkara-perkara dan orang-orang yang bermakna untuk kita hargai selamanya.

Hidup ini macam seni. Ada yang abstrak, ada yang geometri, ada yang bersimpang siur tak sekata, yang pasti tak pernah sama. Jadi aku rasa kita boleh jadikan ini serupa satu alasan untuk berhenti judge,despise dan sebarkan cela buruk orang lain. Dia punya kanvas mungkin dicalit tahi hari ini, tapi kita kena beringat yang tak mungkin juga selamanya kanvas kita hanya dicalit warna-warni.


Selamat menjadi dewasa,semuanya.

#42

Mein Liebling,

Apa yang paling indah di kota ini, Banjarmasin? Barangkali sudut-sudut yang bungkam. Dan kita, manusia, masih tidak mampu beranjak dari ingatan.

Kita belajar mengamati, terutama pada masing-masing yang dicinta. Kita menulis dalam ingatan jangka panjang—yang abadi—tentang jatuh cinta diam-diam. Di sini, keadaan masih sama. Jalanan macet, hujan yang manis, tapi ada yang berbeda di udara, barangkali kamu pun menyadari. Semenjak kamu berkemas, mall dan warung kakilima jadi lukisan abstrak. Warna-warninya masih ada, namun dayanya memucat.

Kamu mungkin belum menaiki menara pandang di sini? Tak perlu cemas—meskipun kusadari itu tak lebih dari menaiki bianglala yang berkerit-kerit—kamu akan segera ke sini. Lambat laun kamu semakin mencintai kota ini. Tetapi aku tahu, kamu tidak bisa memilih.

Apakah sajak bisa memintas masa depan? Aku rasa belum saatnya menyimpulkan hal-hal seperti itu. Lagi pula kampus kita dulu tampak bagai puisi yang basah, sulit dimengerti dan ada jejak yang buram. Dan kamu tahu, jejak itu adalah kamu.

Konon TS. Eliot menulis Waste Land karena membenci orang-orang yang menulis sesuatu yang remeh-temeh. Di satu sisi aku setuju, sebab hidup bukan hanya ada kamu dan aku. Hidup atau kehidupan adalah jalinan paling rumit dan manusia selalu gagal memahami. Untuk itu kita perlu diri kita untuk berempati pada kehidupan—beserta unsurnya.  Bila perlu merevolusi yang lalim jadi kemanusiaan yang adil dan beradab—kalimat favoritku.

Namun, di sisi lain aku tidak setuju. Ada di diri kita, manusia, sesuatu yang mirip kehendak intim; yang privat. Jauh di dalam hati sesiapa. Yaitu kecintaan pada yang estetis. Ada satu pertanyaan yang tiada pernah kudapat jawabnya: apakah menikmati kenangan bersifat estetis atau melankolis atau kebodohan? Sekali lagi, tiada jawaban yang memuaskan.

Kamu selalu indah. Ketika kau berkata, “Ya, karena aku suka ditanya ‘mengapa tidak menghabiskan makanan di hadapan?’” Yang bukan aku takkan bisa melihat apa yang indah.

Yang bukan aku takkan bisa merasakan perubahan—atau kemuduran—kota yang begitu pesat: kekurangan daya listrik. Setampil dengan wajahku yang seperti kesedihan sebuah kota. Akibat tanpamu.

Agung

The Way I Lose Her: I'm Adult!

12 Desember
Pukul 19.00

.

Terkadang, perpisahan sengaja diciptakan Tuhan agar kedua-belah pihak mampu belajar lebih banyak dan lebih dewasa, sebelum pada akhirnya dipertermukan lagi, nanti.

.

Malam ini, udara jakarta bisa dibilang lebih aneh ketimbang udara di kota tempat kelahiran gue, Kota Bandung. Selain gerah yg keterlaluan, faktor geografi yg berada dekat pantai juga turut andil dalam membuat udara jakarta malam ini menjadi terasa lebih lengket di kulit. Biasanya kalau di Bandung, jam segini adalah jam wajibnya orang-orang mengenakan jaket dan mematikan AC. Sedangkan bagi orang jakarta, jam segini adalah jam wajibnya orang-orang untuk mandi cibang-cibung dan menyalakan AC sampe 20 derajat.

Mungkin benar kata orang-orang. Bahwa orang Bandung adalah orang yg paling susah diajak untuk pergi meninggalkan Bandung. Itu sebabnya hanya ada segelintir orang yg meninggalkan Bandung, itu pun untuk memunaikan kewajibannya dalam mencari nafkah.

Termasuk gue. Kalau gue gak ada kepentingan mendesak seperti ini, mungkin gue paling ogah untuk diajak ke jakarta. Kenapa? Alasannya simple. Jakarta itu gerah cuy! pffft.

Malam ini, sudah genap delapan kali gue pergi buru-buru ke wc hanya untuk sekedar buang air kecil doang. Selain dingin karena AC yg udah daritadi menclok di atas kepala gue, rasa grogi yg menjalar ke seluruh tubuh ini juga menjadi salah satu sponsor utama kenapa gue gak bisa berhenti untuk pergi ke WC.

Sudah dari pukul 5 sore gue duduk menunggu di sini, di deretan kursi pada sebuah ruangan luas bertuliskan “Ruang Tunggu” warna merah jambu. Ditemani oleh seseorang yg selalu ada kemanapun gue berada, temen sejati gue dari masa-masa SMA, Ikhsan.

Tapi gue heran, sudah lebih dari 30 menit temen abstrak gue itu menghilang dari pandangan gue. Awalnya dia izin mau cari makanan sih, tapi ntah kenapa sampai sekarang belum juga datang. Apa jangan-jangan itu anak tersesat ya?

Ah, ini nih yg kadang bikin gue menyesal bisa berteman sama Centong Nasi yg satu itu. Sifat sok tau-nya selangit, lagaknya aja so-soan kenal jakardah, tapi ngeliat minimarket bertuliskan 711 aja dia nyebutnya “Tujuh Sebelas”, bukan “Seven Eleven”

Melihat minuman khas 711 yg berasal dari parutan es aja dia bilang, “Es Serut”, bukan “Slurpie”. Maklum, ini anak otaknya hanya sebatas Surabi Enhai dan Batagor Riri. Jadi sampai kapanpun gak akan cocok kalau dibawa ke jakardah yg udah menjadi kota metropolitan gini.

Akhirnya, ketika gue lagi berusaha membetulkan resleting celana yg agak kendor lantaran terus-terusan gue buka tutup waktu ke WC ini, gue melihat sosok tuh anak muncul dari eskalator. 

Di tangannya dia membawa sebungkus makanan yg tertutup keresek warna hitam, dan sebuah kotak kecil tertutup keresek warna warni.

.

“Udah lama lo nunggunya?” Ucap ikhsan seraya menepuk pundak gue dari belakang.

“ah elu nyet, lu kemana aja? beli makanan di mana sih sampe lama gini? Dubai?”

“Yeeee ngaco. Gue sekalian cari hadiah dulu untuk menyambut kedatangan Tuan Putri kita.. Lah elu sendiri kenapa gak bawa hadiah?”  tanyanya lagi.

“Gue cukup bawa cinta aja untuk nyambut kedatangan dia” Jawab gue sambil memperbaiki kerah jaket agar bisa beridiri lebih tinggi menutupi leher.

“Bhahahahak PEDE amat lo setan!” Ikhsan memukul kepala gue.

“Yg ada juga ntar pas dateng, dia bakal meluk gue duluan. Pfft, masa lo lupa sama pernyataan dia sebelum berangkat dulu sih..” Lanjutnya sambil menaikan alis.

“Alah muka kaya centong nasi aja belagu lu!”

“Eits, ada udang rebon ngambek. Sorry, gue gak meladeni saingan gue ya.. bye~” Ucapnya sambil menutup kuping.

.

Sungguh, melihat anak ini bertingkah belagu dan songong luar biasa, pengen rasanya gue ngejorokin dia dari beranda Bandara ini.  

Ya, kita malam ini sedang berada di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Sebuah tempat di mana sering menjadi saksi bisu setiap kepergian yg dipaksa keadaan. Dan menjadi saksi bisu dari setiap peluk pertemuan yg tak pernah banyak bicara, namun sarat akan seribu makna.

Dan bagi gue sendiri, Bandara ini adalah tempat di mana rasa melepaskan kepergian seseorang menjadi terasa amat sangat menyakitkan.

Seperti yg udah gue jelasin di awal tadi, kedatangan gue ke jakardah ini kalau gak ada hal mendesak ya gue gak akan datang. Dan tentu ini mengartikan bahwa hal ini adalah hal yg sangat penting bagi kita berdua.

Hari ini kita lagi menunggu kedatangan seseorang yg sangat berarti buat kita berdua. Sudah lebih dari 4 tahun gue dan ikhsan diharuskan berpisah dengannya. Dan anehnya, sudah selama itu pula gue dan Ikhsan tetap kagum sama seorang wanita yg kedatangannya sangat kita tunggu-tunggu dari beberapa bulan silam ini.

Sembari sedikit memakan cemilan yg Ikhsan bawa dari luar Bandara, gue kembali bernostalgia tentang masa-masa di mana gue, ikhsan, dan dia pertama kali dipertemukan.

.

“Silahkan dimakan, nyet. Jangan sungkan, anggap saja makanan sendiri" Ujar ikhsan.

"Alaaaaah, barang gorengan doang lu so-soan mempersilahkan. Kaga usah lu persilahkan juga bakal gue makan.” Jawab gue ketus seraya buru-buru memisahkan jatah gorengan gue dan jatah gorengan dia.

“Bro…”

“Ngg?”

“Akhirnya ya..”

“Kenapa? pacar lu hamil?”

“…" 

"Makanya, lain kali maen aman. Jangan maen terobos aje.”

“…" 

"Iye,iye, gue ngerti. Gak usah pasang tampang menyebalkan gitu juga keleees..”

“Bercanda aja lo nyet. Btw, akhirnya ya kita ada di tempat ini lagi." 

"hmm”

“Udah berapa lama ya bro kita gak ketemu dia?” Tanya Ikhsan lagi.

“Sekitar 4 tahun lebih deh kayaknya. Eh btw lu niat beli makanan gak sih? cuma gorengan gini doang mana bisa kenyang? mana isinya cuma 10 biji lagi, pelit amat jadi orang.”

“Hmm udah lama ya, tuwir amat berarti kita. Tapi ntah kenapa gue tetep bisa kagum sama doi" 

"Iya, she’s totally perfect lah pokoknya. Belum ada yg bisa seperti dia. Eh nyet, mendoan gue tuh, ngapain juga lu comot setan!”

“Tapi, apa doi masih bakal inget kita, dim?” tanya ikhsan sembari ngunyah mendoan gue yg udah dia hak milik seenak perutnya sendiri.

“Yaelah, kalau elu sih mungkin dia lupa. Muka lu kan kaya candil pas mau buka Puasa. Alias pasaran. Btw ini cengeknya mana? kok tinggal 3 aja? terus itu pisang goreng perasaan tadi ada 3 deh”

“Ah elu, gue lagi serius nih, malah bercanda aja. Gue kangen dia dim.”

“Ya lo pikir elo doang yg kangen. Biar bagaimanapun dia juga sahabat gue, nyet. Aduh tenggorokan gue seret nih, aer dong bro..”

“Kira-kira apa kelak gue bisa jadian sama tuh anak ya dim?”

“Ah ngimpi lo. Centong nasi mana biasa pacaran sama bidadari. Mirip sama gorengan ini, dia itu anak orang kaya yg makananya mewah-mewah dan sehat, lha sedangkan kita-kita ini cuma sekedar gorengan berminyak seperti ini. Mana cocok.." Kata gue seraya mengacung-acungkan pisang goreng terakhir ini.

Dan… PLUK!!
Mendadak pisang goreng yg gue goyang-goyangin ini adonan krispinya lepas, alhasil pisangnya loncat indah dan jatuh ke lantai.

”…“

Ikhsan menatap gue.

”…“

gue menatap ikhsan.

”…“

kita berdua menatap pisang goreng bugil itu.

”…“

Pisang goreng bugil itu menatap kita berdua.

.

"EH SETAN ITU JATAH PISANG GORENG TERAKHIR GUE!!!” ucap Ikhsan sembari mukul gue pake botol aqua

“EH MALAH NYALAHIN GUE, LHA ELU SENDIRI NGAPAIN JUGA MALAH BELI GORENGAN YG KULITNYA LEMES BEGITU, JADI AJA JATOH KAN AH?!”

“EH LU GAK TAU TERIMAKASIH YA! MASIH MENDING UDAH GUE BELIIN, KAGA BERSYUKUR AMAT LO JADI ORANG. SINI BAYAR SETENGAH-SETENGAH TUH HARGA GORENGAN!!”

“Bentar, jadi lo minta gue buat patungan beli gorengan tadi?" 

"Iya lah, ditambah uang ongkos keluar bandara jangan lupa”

“Jadi lo perhitungan sama gue?" 

"apa sih yg engga buat elo..”

“Oke, kue nastar kemaren sore di rumah gue, siapa yg ngehabisin?”

“ngg..”

“Terus kemarin lusa, Mie Ayam pak Barjo yg depan rumah itu siapa yg bayarin?”

“Ngg.. anu..”

“Terus waktu lo putus sama mantan lo itu, yg nyumbang pizza domino buat ngehibur elu yg mewek sambil ngelus-ngelus foto mantan lo itu siapa?”

“…”

“Terus Parcel di rumah gue bulan lalu itu, siapa yg ngebuka?!”

“ngg.. bro.. itu kan elu sendiri yg buka..”

“Oh iya lupa. Tapi yg ngabisin isi parcelnya kan elo!”

“Bro, isi parcelnya kan udah kadaluarsa, elo sendiri yg dengan teganya nyuruh gue makan.”

“Oh iya juga ya. Ah tapi biarin, yg jelas kalau lo masih mau minta duit gorengan ke gue, bayar dulu itu semua makanan gue yg udah diakuisisi sama perut lo!”

“Iya deh iya, bawel amat. Lagian nyokap lo ikhlas-ikhlas aja waktu gue nyomot makanan di rumah lo” Jawab dia santai.

“APAAN?!! waktu lo udah pulang, gue dinasehatin kalau elu mau dateng, makanan di rumah harus disembunyikan terlebih dahulu!”

“Bhahahahak naas amat. Itu udah resiko lu berteman sama teman yg bersahaja kaya gue.”

“Tai! Sahaja mata lu soek!”

.

Tanpa kita sadari, percakapan kita di bandara malam itu menjadi daya tarik sendiri buat security setempat. Alhasil bukannya menunggu dengan tenang, kita malah ditanya habis-habisan sama security karena dinilai mengganggu ketertiban.

Temenanan sama nih bocah emang gak akan jauh dari yg namanya nasib buruk. Mungkin kesialan-kesialan yg gue lalui selama ini disebabkan oleh Fengsui tatak letak muka Ikhsan yg emang pada dasarnya kurang beraturan. 

.

Ting Tong..
Flight with flying number 104 has been arrived.

Mendadak pengumuman dari toa masjid yg dipasang di setiap sudut Bandara ini mengagetkan kita berdua.

“Eh bro bro, pesawat doi udah landing tuh” Ikhsan buru-buru merapihkan bajunya.

“Yoi, akhirnya dia dateng ya sob”

“Hahaha iya, gue jadi penasaran, sudah secantik apakah dia sekarang ya bro.." Tanya Ikhsan yg terlihat sangat antusias menatap kearah pintu kedatangan.

Mendengar pernyataan Ikhsan yg terakhir itu, gue mendadak sedikit tersenyum. Gue yg dari awalnya emang biasa aja, ntah kenapa sekarang jadi ikut-ikutan penasaran.
Gak mau terlalu berlama-lama, gue bereskan bungkus gorengan biadab yg satu ini dan mulai merapihkan pakaian yg gue kenakan untuk menyambut kedatangannya malam ini..

"Akhirnya.. Selamat datang kembali, Nona.” kata gue dalam hati seraya sedikit tersenyum..

.

.

                                                      ****

.

.

“Yakin kamu Dimas gak mau nentuin pilihan kedua kamu?" 

"Engga, bu. Pokoknya Dimas yakin dipilihan pertama itu, pilihan kedua mah Ibu aja yg nentuin, Dimas udah gak kepikiran buat sekolah di tempat lain.”

“Yaudah, semoga aja emang rejekinya di sana ya..”

“Amin, bu. Doakan ya!”

.

Percakapan di atas adalah percakapan siang tadi sebelum gue melakukan submit pilihan SMA mana yg bakal menjadi sekolah gue kelak. 

Ntah kenapa, hari itu gue sama sekali gak kepikiran buat milih SMA lain ketimbang SMA pilihan pertama gue itu. Gak tau kenapa, rasa-rasanya gue gak ada feeling buat sekolah di tempat lain. Setiap gue ngebayangin tentang SMA, yg terbayang cuma SMA pilihan pertama gue itu doang. Apa mungkin itu yg dinamakan mimpi ya?

Tahun ini adalah tahun di mana gue lulus dari SMP (Sekolah Mencari Pacar). Dan akan resmi menjadi anak SMA (Sekolah Membuat Anak) pada beberapa bulan silam.

Gue yg saat itu masih polos dan belum tumbuh bulu-bulu kecil disekitaran muka dan daerah lainnya ini, begitu semangat untuk mengunjungi salah satu SMA favorite gue saat itu.

SMA Cluster 2, tempatnya di sekitaran tengah kota, dan sekolah ini dulu terkenal karena banyaknya Atlet yg dihasilkan, dan banyaknya Event yg diadakan.

Ini menadakan SMA pilihan gue adalah SMA yg tidak mementingkan pelajaran sama sekali! Dan inilah yg ngebuat gue semangat untuk memilih SMA ini sebagai SMA tambatan hati gue.

Waktu gue baru lulus SMP, internet itu masih jarang. Bisnis warnet adalah salah satu bisnis yg menjanjikan saat itu. Dan untuk mengetahui informasi-informasi tentang SMA yg bakal gue masukin itu pun gue harus mendatangi langsung ke lokasi yg bersangkutan.

Di sana gue liat banyak anak-anak dengan seragam putih biru yg berlalu lalang untuk melakukan submit ijazah dan tetek bengek lainnya. Dan waktu jaman gue dulu, anak SMP kelas 3 masih belum semenarik seperti anak-anak SMP jaman sekarang.

Dulu anak SMP kelas 3 rambutnya masih pada dikepang. Belum ada itu yg namanya belah tengah. Gigi masih pada manis, belum ada yg namanya behel.

Dan yg jelas, perbedaan mencolok antara anak SMP dan SMA itu bisa terlihat jelas. Gak kaya sekarang, gue gak bisa bedain mana anak SMP mana anak Kuliahan.

Mana Cabe-cabean, mana tante-tante liar.

.

Dengan bermodalkan rambut mohawk dan embel-embel SMP ternama yg melekat di sisi kiri seragam gue ini, gue berjalan petantang-petenteng di depan semua anak SMP yg melakukan pedaftaran saat itu.

Damn! Im feeling Adult now!

.

.

.

                                                      bersambung