abstraks

Selesai dengan orang lain

Beberapa waktu terakhir, terutama setelah menikah. Saya semakin sering menerima konsultasi dari teman-teman saya sendiri terkait pra-pernikahan mereka.

Salah satu nasihat yang paling sering kita dengar untuk orang-orang yang berniat menikah adalah; selesailah dengan dirimu sendiri terlebih dahulu. Sebuah nasihat paling lazim dan paling abstrak, karena tidak ada ukuran yang pasti tentang maksud dari “selesai dengan diri sendiri”. Tidak bisa juga dijelaskan bagaimana bentuknya. Tapi tetap saja, selesai dengan diri sendiri adalah bekal yang penting untuk masuk ke jenjang rumah tangga.

Setelah bab itu selesai, ternyata saya baru menyadari ada hal-hal yang juga harus selesai, yaitu selesai dengan orang lain.

Teman-teman yang bercerita dengan saya adalah teman-teman main, teman diskusi, teman kuliah, mereka adalah orang-orang yang saya kenal. Dan lingkaran kami bukanlah lingkaran suci, kami pernah mengalami masa-masa muda yang mungkin memalukan kalau diingat. Seperti pacaran, hubungan tanpa status dengan orang lain, dan sebagainya. Itu sebelum berhijrah seperti sekarang.

Dan saya kini menambahkan satu nasihat ini ke teman-teman saya. Selesaikanlah urusan dengan dirimu sendiri, juga dengan orang lain. Masuk ke jenjang kehidupan rumah tangga jangan sampai masih ada orang-orang di masa lalu yang masih memiliki keterikatan emosi dengan kita atau pasangan kita. Khawatir bila itu kemudian datang lagi di tengah rumah tangga yang sudah berjalan nantinya. Selesaikanlah.

Bagaimana menyelesaikannya?

Mungkin ini cara yang klasik, mungkin juga cara yang sulit. Karena harus meredakan gengsi, yaitu meminta maaf.

Minta maaflah karena dulu pernah memiliki hubungan dengannya. Minta maaflah karena masa itu adalah masa dimana pemahaman tentang agama belum cukup. Minta maaflah karena telah menjadi bagian dari masa-masa kelamnya. Minta maaflah karena mungkin dulu sempat berjanji banyak hal dan tidak akan pernah ditepati. Minta maaflah kalau pernah menyakiti hatinya. Kemudian sampaikanlah kabar bahagia itu.

Mulailah kehidupan rumah tangga tanpa ada bayang-bayang tentang banyak hal, baik masa lalu, maupun orang lain.

Karena rumah tangga itu harus dimulai dengan kejelasan, kepastian, kepercayaan, keyakinan, dan keimanan. Sebuah perjalanan panjang yang nantinya jangan sampai menjadi sesal karena kita tidak sempat menyiapkan bekal tertentu.

Yogyakarta, 30 April 2017 | ©kurniawangunadi

Jika seandainya kau terluka dan merasa patah
patahlah secara artistik

Dia akan melihatmu hancur tapi sebagai sebuah keindahan yang abstrak
—  2017
Keluar dari Ruang Belajar

Sebagai mahasiswa jurusan kimia seperti saya, yang ilmunya, pada banyak kesempatan, membahas hal-hal yang abstrak dan paling banter membahas sesuatu yang bisa dikerjakan di laboratorium, saya punya satu kesenangan yang aneh, yaitu berkumpul dengan mahasiswa-mahasiswi dari rumpun ilmu-ilmu sosial, mengobrol dan berdiskusi soal keadaan kekinian Indonesia, membahas kebijakan dalam dan luar negeri Indonesia, serta fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.

*

Penampakan sehari-hari di laboraturium saat mengerjakan proyek tesis master di The University of Manchester. (dok.pribadi)

Jika Anda melihat CV saya, kemungkinan besar Anda akan mengira saya adalah seorang pencinta kimia sejati yang waktu luangnya dihabiskan membaca jurnal atau nonton video TED Talks saja—sehingga tidak mungkin akan menunjukkan batang hidung saya di forum-forum yang membahas kebijakan publik dan ideologi politik.

Saya tidak bisa mengelak bahwa saya sangat suka belajar mengenai alam, seperti tentang bagaimana bahan bakar terbentuk, bagaimana bahan bakar bisa menghasilkan energi, bagaimana energi bisa berubah wujud, bagaimana perubahan iklim bisa terjadi, bagaimana proses penjernihan air, bagaimana kita bisa memanen energi dari matahari, dan sebagainya. Saya juga tidak bisa mengelak bahwa saya juga senang membahas ideologi, evident-based policy making, cara kerja media massa, keberpihakan politik pada rakyat kecil, dan sebagainya. Tidak ada yang salah bukan?

Saya melihat bahwa pada akhirnya orang-orang dari rumpun ilmu-ilmu alam dan teknologi butuh orang-orang dari rumpun ilmu-ilmu sosial, juga sebaliknya. Karena, pada akhirnya, kebermanfaatan ilmu alam dan teknologi secara luas harus didukung oleh elemen-elemen sosial dan political will pemerintah. Lihat saja bagaimana polemik perkembangan industri kedirgantaraan di Indonesia. Singkat cerita, industri ini dimulai dan dikembangkan karena political will pemerintah dan perkembangannya dihambat bahkan diakhiri juga atas political will pemerintah.

*

Melihat kondisi saat ini, banyak riset di bidang ilmu alam dan teknologi yang sudah dan sedang dikerjakan pemuda-pemuda cemerlang harapan bangsa, seperti para awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP, sangat sulit ditakar manfaatnya dalam waktu dekat. Kesulitan menakar manfaat waktu dekat ini memang harus dimaklumi, karena begitulah hakikat riset. Dia berada di garda terdepan ilmu pengetahuan. Sedangkan implementasinya baru bisa dirasakan bertahun-tahun kemudian. Apalagi jika para awardee banyak berkuliah di kampus-kampus terbaik di dunia di bidang sains dan teknologi yang lebih peduli kepada kemajuan ilmu pengetahuan, bukan implementasinya.

Sehingga, riset para mahasiswa master dan doktoral bidang sains dan teknologi di kampus-kampus terbaik dunia boleh jadi tidak relevan dengan kebutuhan negara dan investasi pada pendidikan kami tidak akan memberikan return apa-apa dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat terkadang saya merasa ilmu saya tidak berguna di masyarakat. Buat apa saya mempelajari sesuatu yang belum tentu jadi dan masuk pasar?

Oleh karena itu, kesenangan berkumpul dan mendengar mahasiswa-mahasiswa ilmu sosial setengahnya bisa dikatakan setengahnya pelarian dari kondisi yang kurang mengenakkan di atas. Setengahnya lagi adalah karena setiap inovasi butuh dukungan negara untuk implementasinya.

*

Saya baru memulai kesenangan ini saat saya masih di tingkat tiga S-1 jurusan ilmu kimia. Saya lebih banyak mendengar. Di awal, tentu ini bukan hal yang mudah. Butuh upaya ekstra bagi saya untuk membaca-baca sebelum berkumpul dan berdiskusi. Sesekali saya harus mencari tahu penjelasan-penjelasan dasar mengenai istilah-istilah ekonomi dan politik yang tidak saya mengerti. Keluar dari zona aman memang tidak mudah. Saya harus siap menjadi orang ‘bodoh’, menanyakan hal-hal yang mungkin sudah lazim diketahui.

Foto bersama selepas diskusi Lingkar Studi Cendekia (LSC) UK tentang ekonomi migas dan potensi energi terbarukan di Newcastle, saya paling kanan. (dok.pribadi)

Saat studi di tingkat master di Inggris, kesenangan ‘aneh’ ini malah mejadi hobi. Untuk kumpul-kumpul membahas isu buruh, ekonomi migas, dan isu-isu pembangunan, saya tidak ragu-ragu mengeluarkan uang beasiswa saya untuk membeli tiket kereta agar dapat sampai ke kota-kota lain di Britania Raya dimana diskusi diadakan.

Pengorbanan waktu dan biaya untuk mempelajari hal-hal yang sama sekali baru adalah harga yang pantas saya bayar sehingga akhirnya telinga saya sudah terbiasa dengan istilah-istilah ekonomi dan politik. Sayapun mulai bisa membangun argumen bila diajak berbicara soal ideologi politik dan keberpihakan pemerintah.

Sangat menarik menemukan bahwa setiap isu bisa jadi berbeda bila dilihat dari perspektif yang berbeda pula. Pandangan mahasiswa ekonomi akan berbeda dengan mahasiswa politik, begitu juga mahasiswa ekonomi dan politik dari saya seorang mahasiswa ilmu alam yang lebih banyak memikirkan hal-hal teknis. Tapi di sanalah terjadinya mutual understanding dan munculnya ide-ide solutif yang holistik. Dan memang sudah seharusnya ada lingkaran-lingkaran yang bisa mempertemukan orang-orang lintas disiplin ilmu untuk mengurai sebuah masalah yang kompleks dan kemudian mencoba mencari potensi-potensi solusi yang diambil dari berbagai aspek.

Karena pada dasarnya semua perspektif dihargai, saya pernah diminta berbagi pandangan mengenai isu-isu terkait implementasi inovasi. Teman-teman di komunitas Lingkar Studi Cendekia (LSC) UK meminta saya mengulas bagaimana teknologi berperan penting dalam kemajuan bangsa pada sebuah diskusi bulanan yang diadakan di Sheffield (lihat rekaman).

Diskusi Panel Bonus Demografi dalam Forum for Nusantara PPI Greater Manchester, saya paling kanan. (dok.PPI GM)

Puncak dari aktivisme ‘aneh’ ini adalah saat saya diminta mengisi diskusi panel mengenai bonus demografi yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Greater Manchester. Kimia dan bonus demografi… dimana benang merahnya? Saya setengah tidak percaya. Tapi saya coba sebaik mungkin menyampaikan perspektif potensi percepatan kemajuan teknologi dari bonus demografi.

*

Momen-momen dimana saya dianggap setara dengan pemateri lain yang memiliki latar belakang politik dan pembangunan masih berkesan di pikiran saya. Momen dimana saya bisa lantang menyampaikan bahwa Indonesia bisa menjadi negara yang maju bila menyicil upaya-upaya transfer teknologi. Momen-momen itu membuat saya semakin yakin bahwa saya berada di jalur yang benar. Momen-momen itu menyadarkan saya bahwa perlu ada sekian persen dari orang-orang yang mempelajari ilmu sains dan teknologi yang juga mengerti ilmu-ilmu sosial sehingga menjadi jembatan di antara dua rumpun ilmu yang masih sering dianggap tidak berhubungan.

Inovasi teknologi adalah kunci added value pada ekonomi. Yang punya ilmunya, orang ilmu alam. Yang mengerti mekanisme pasar… orang ekonomi. Yang memberi izin implementasi… eksekutif dan legislatif yaitu politisi. Maka dari itu…

…sudah sepantasnya setiap dari kita sesekali keluar dari ruang belajar kita masing-masing dan berkumpul bersama teman-teman dari rumpun ilmu tetangga.

<3

So, sejak akhir tahun lalu kan kayaknya hidup gua nano-nano banget ya. Yang namanya masalah katob lah, urusan magang lah, kampus lah, kepanitiaan lah dll dll sampe sekarang kayaknya bertubi-tubi banget. Sampe rasanya kayak kalo gada masalah tuh ganjil.

Udah gitu kan gua alay dikit-dikit nyampah keluhan di tumblr (EHEHEHE), terus tadi mami nyamper ke kamar. Gua lagi gambar gitu sambil tiduran di kasur.

Like always, doi langsung nimpain badan dia ke badan gua. Tau kalo kucing minta di elus gimana capernya? Nah emak gua kayak gitu kalo lagi caper sama gua, tapi doi lebih gede dan lebih berat daripada kucing. Gua megapmegap.

Iya, I know, emak gua manja sama gua dan gua gamau kalah lah ya. Jadi gua lebih manja lagi sama dia.

Tau banget gua kalo doi kek gitu ada maunya. Eh bener. Lagi mau curhat dia.

Mulailah dia cerita ini itu, segalaan curhatan bapak gua doi ceritain juga ke gua yaelah mak.

Intinya doi lelah. I saw it in her face. Dari cerita mak gua sih bapak gua juga lagi lelah.

Seketika itu juga, gua ngerasa masalah gua upil doang. Ajaib gan.

Terus doi nutup curhatannya dengan kata-kata pamungkas:
“Kita keluarga, harus saling bantu mau gimanapun juga. Sampe kalian berkeluarga, sampe kalian tua. Saudara kamu tuh tanggung jawab kamu, sepupu kamu, keponakan kamu, harus saling jaga. Ih aku cantik bener.”

Idih kan? Abstrak bener mak gua. Lagi serius gua dengerin. Rusak udah wejangan momennya -_-

Gua sautin, “iya iya kamu memang tercantik, BEUH!” sambil gua cium tangannya dan tiduran di pangkuan doi.

Hangat. Kalo punya emak kek gini, kalo punya keluarga serekat ini, gua rasa gua gaakan masalah ngadepin seisi dunia pun. Halah.

Keluarga tuh emang rezeki yang luar biasa ya. Alhamdulillah ya Allah, You are the best.

26/4/17

Semoga nanti kita semua dipertemukan di tempat terbaik.

Filsafat Syukur

Seiring bertambahnya waktu, bacaan, dan obrolan, cara dan alasan bersyukur pun akan berubah.

Waktu kepala kita belum bisa mencerna hal-hal abstrak seperti konsep pahala, kebaikan berlipat ganda, dan surga neraka, kita merasa sudah bersyukur manakala sudah mengucapkan “terima kasih” dan “alhamdulillah.”

Alasan kita bersyukur pun terpaut erat dengan sesuatu yang berasal dari luar diri kita. Seperti saat saya kecil, rasanya bersyukur sekali jika teman sebangku saya lebih jelek nilainya daripada saya. Jahat memang, tapi perasaan bahwa hidup saya lebih baik daripada orang lain adalah alasan bersyukur yang saat itu cukup masuk akal.

Namun alasan tersebut tidak adil buat mereka yang nilainya paling jelek. Tidak ada yang nilainya lebih jelek lagi di kelas, apakah alasan untuk bersyukur lantas menjadi hilang?

Sedikit banyak, cara dan alasan seperti itu masih terbawa meski usia tak lagi kanak-kanak.

Tapi, rasanya bersyukur tidak mesti demikian jahatnya.

Saya berpikir, apakah untuk bisa menjadi seorang yang bersyukur, kita harus memulai dengan merasa lebih baik dari orang lain dan menganggap orang lain tidak lebih beruntung dari kita?

Jika kita bersyukur karena memiliki sesuatu, lantas apa yang membuat kita akan bersyukur saat kita tidak memiliki apa-apa?

Bagaimana jika kita bersyukur bukan karena hidup kita begini di saat hidup orang lain tidak begini, bukan karena kita memiliki ini sementara orang lain tidak memiliki ini. Bagaimana jika kita bersyukur karena Allah sangat baik, semata-mata hanya karena Allah memang sangat baik, kepada semua makhluk.

Bagaimana jika syukur tidak lagi digantungkan pada hal-hal di luar diri kita, sehingga ada tidaknya syukur tidak lagi ditentukan oleh musim ini dan itu.

Bagaimana jika kita memulai menjadi seorang yang bersyukur dengan sepenuhnya menyadari, bahwa bersyukur, layaknya mencintai, adalah pekerjaan mulia yang tidak mensyaratkan apapun. Ya, tanpa syarat.

#42

Mein Liebling,

Apa yang paling indah di kota ini, Banjarmasin? Barangkali sudut-sudut yang bungkam. Dan kita, manusia, masih tidak mampu beranjak dari ingatan.

Kita belajar mengamati, terutama pada masing-masing yang dicinta. Kita menulis dalam ingatan jangka panjang—yang abadi—tentang jatuh cinta diam-diam. Di sini, keadaan masih sama. Jalanan macet, hujan yang manis, tapi ada yang berbeda di udara, barangkali kamu pun menyadari. Semenjak kamu berkemas, mall dan warung kakilima jadi lukisan abstrak. Warna-warninya masih ada, namun dayanya memucat.

Kamu mungkin belum menaiki menara pandang di sini? Tak perlu cemas—meskipun kusadari itu tak lebih dari menaiki bianglala yang berkerit-kerit—kamu akan segera ke sini. Lambat laun kamu semakin mencintai kota ini. Tetapi aku tahu, kamu tidak bisa memilih.

Apakah sajak bisa memintas masa depan? Aku rasa belum saatnya menyimpulkan hal-hal seperti itu. Lagi pula kampus kita dulu tampak bagai puisi yang basah, sulit dimengerti dan ada jejak yang buram. Dan kamu tahu, jejak itu adalah kamu.

Konon TS. Eliot menulis Waste Land karena membenci orang-orang yang menulis sesuatu yang remeh-temeh. Di satu sisi aku setuju, sebab hidup bukan hanya ada kamu dan aku. Hidup atau kehidupan adalah jalinan paling rumit dan manusia selalu gagal memahami. Untuk itu kita perlu diri kita untuk berempati pada kehidupan—beserta unsurnya.  Bila perlu merevolusi yang lalim jadi kemanusiaan yang adil dan beradab—kalimat favoritku.

Namun, di sisi lain aku tidak setuju. Ada di diri kita, manusia, sesuatu yang mirip kehendak intim; yang privat. Jauh di dalam hati sesiapa. Yaitu kecintaan pada yang estetis. Ada satu pertanyaan yang tiada pernah kudapat jawabnya: apakah menikmati kenangan bersifat estetis atau melankolis atau kebodohan? Sekali lagi, tiada jawaban yang memuaskan.

Kamu selalu indah. Ketika kau berkata, “Ya, karena aku suka ditanya ‘mengapa tidak menghabiskan makanan di hadapan?’” Yang bukan aku takkan bisa melihat apa yang indah.

Yang bukan aku takkan bisa merasakan perubahan—atau kemuduran—kota yang begitu pesat: kekurangan daya listrik. Setampil dengan wajahku yang seperti kesedihan sebuah kota. Akibat tanpamu.

Agung

kabutfikiran  asked:

Assalamu'alaikum, kak satria. Kak satria pernah tidak memutuskan berhenti untuk memperjuangkan mimpi? Karna dirasa mimpi itu terlalu susah digapai untuk saat ini.. Hatur nuhun ya kak satria -naila

Walaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh, Nai. Seinget saya, belum pernah. Kalaupun ada ketidaksesuaian selama perjalanan, biasanya saya cuma mengganti “rute”nya tanpa harus mengganti tujuan. Penggantian rute mungkin bikin saya berkeliling lebih jauh, ngabisin waktu lebih lama dan lebih capek tapi tujuannya enggak mesti berubah. Tujuannya tetap sama karena dimana-mana juga, yang layak diperjuangkan mah butuh pengorbanan lebih.

Ada kutipan yang berbunyi, “A dream is only a dream until you decide to make it real”. Kalaulah mimpi itu terlalu mudah digapai, apakah ia masih layak disebut mimpi? Mungkin lebih cocok disebut kegiatan. Bukankah di balik setiap mimpi pasti terkandung kesulitan dan kemustahilannya tersendiri? Ellen Johnson bilang, “If your dreams do not scare you, they are not big enough.”

Cobalah mengurai mimpi besarmu jadi pecahan-pecahan kecil yang lebih mudah diukur ketercapaiannya. Mungkin selama ini, perjuangan terasa sulit karena mimpinya masih berbentuk bongkahan abstrak. Selain itu, keraguan dan ketakutan enggak akan pernah terlepas dalam proses pencapaian mimpi karena kita memang perlu menggenapkannya dengan berserah diri kepada-Nya. Kita kerdil, sementara mimpi kita besar.  Mimpi kita besar, sementara kuasa-Nya jauh lebih besar dari mimpi manusia manapun.

Teruslah melaju walau perlahan, pastikan kamu enggak kehilangan tujuan. Nyasar sedikit enggak masalah, yang salah itu kalau enggak tau arah. Sawangsulna ya.

Namanya: hampa. Bisa sepi, tidak diisi, kosong, atau tak berpengetahuan. Memang diri ini sepi jika tak diisi. Sesungguhnya hampa sehampa-hampanya jika hati dijumpai sebenih dua benih makhluk abstrak berjudul: cemburu.

Cemburu capaian sosok manusia di luar sana. Berdiri memegang medali dan potongan sertifikat, habis menang lomba makan krupuk, katanya. Lalu, diri yang sarat malas dan tak percaya diri ingin sepertinya. Ingin mengikuti lomba makan krupuk agar suatu saat dapat berfoto dengan macam-macam hadiah.

Ruang hampa yang diisi kecemburuan, kembali bergejolak ketika si akademisi berhasil menyelesaikan studinya dengan label cum laude serta label pasangan ideal dan idaman. Sedangkan diri yang hanya mampu memandangnya dari balik layar meringis seraya memegangi diri agar tak terlalu terjerembab pada penyesalan yang tiada dua. Mengapa tak melakukan dengan kerahan tenaga luar biasa, agar bisa sepertinya?

Kemudian hampa menjelma, terlukis di balik hati yang sekali senang-senang sekali, sekali sedih-sedih sekali. Kapan bisa seimbang antara merasa senang dan sedih? Hampa itu seperti harapan yang tak menemukan tangan untuk meraihnya, tak menemukan kaki untuk berjalan menujunya, tak menemukan raga untuk mendapatkannya, dan tak menemukan ujung untuk menghentikannya.

Seharusnya, sesepi-sepinya hidup harus diramaikan dengan namanya syukur, harus diimbangi sabar.

Buatlah dirimu ramai dengan itu, kepada orang bernama diri sendiri.

Percaya atau tidak–

Kita sebenarnya lebih suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Dan kita meletakkan ukuran kebahagiaan itu apabila kita mempunyai apa yang mereka ada.


Jangan.
Jangan begitu teman.

Kebahagiaan itu abstrak.
Jangan pernah menyangka definisi bahagia itu ada pada rupa, atau harta.

Carilah bahagia dalam diri kalian sendiri.
Don’t let the society decides for you what happiness would look like.


Bahagia. Kau yang perlu cari.
Kau yang rasa sendiri :)

The Way I Lose Her: I'm Adult!

12 Desember
Pukul 19.00

.

Terkadang, perpisahan sengaja diciptakan Tuhan agar kedua-belah pihak mampu belajar lebih banyak dan lebih dewasa, sebelum pada akhirnya dipertermukan lagi, nanti.

.

Malam ini, udara jakarta bisa dibilang lebih aneh ketimbang udara di kota tempat kelahiran gue, Kota Bandung. Selain gerah yg keterlaluan, faktor geografi yg berada dekat pantai juga turut andil dalam membuat udara jakarta malam ini menjadi terasa lebih lengket di kulit. Biasanya kalau di Bandung, jam segini adalah jam wajibnya orang-orang mengenakan jaket dan mematikan AC. Sedangkan bagi orang jakarta, jam segini adalah jam wajibnya orang-orang untuk mandi cibang-cibung dan menyalakan AC sampe 20 derajat.

Mungkin benar kata orang-orang. Bahwa orang Bandung adalah orang yg paling susah diajak untuk pergi meninggalkan Bandung. Itu sebabnya hanya ada segelintir orang yg meninggalkan Bandung, itu pun untuk memunaikan kewajibannya dalam mencari nafkah.

Termasuk gue. Kalau gue gak ada kepentingan mendesak seperti ini, mungkin gue paling ogah untuk diajak ke jakarta. Kenapa? Alasannya simple. Jakarta itu gerah cuy! pffft.

Malam ini, sudah genap delapan kali gue pergi buru-buru ke wc hanya untuk sekedar buang air kecil doang. Selain dingin karena AC yg udah daritadi menclok di atas kepala gue, rasa grogi yg menjalar ke seluruh tubuh ini juga menjadi salah satu sponsor utama kenapa gue gak bisa berhenti untuk pergi ke WC.

Sudah dari pukul 5 sore gue duduk menunggu di sini, di deretan kursi pada sebuah ruangan luas bertuliskan “Ruang Tunggu” warna merah jambu. Ditemani oleh seseorang yg selalu ada kemanapun gue berada, temen sejati gue dari masa-masa SMA, Ikhsan.

Tapi gue heran, sudah lebih dari 30 menit temen abstrak gue itu menghilang dari pandangan gue. Awalnya dia izin mau cari makanan sih, tapi ntah kenapa sampai sekarang belum juga datang. Apa jangan-jangan itu anak tersesat ya?

Ah, ini nih yg kadang bikin gue menyesal bisa berteman sama Centong Nasi yg satu itu. Sifat sok tau-nya selangit, lagaknya aja so-soan kenal jakardah, tapi ngeliat minimarket bertuliskan 711 aja dia nyebutnya “Tujuh Sebelas”, bukan “Seven Eleven”

Melihat minuman khas 711 yg berasal dari parutan es aja dia bilang, “Es Serut”, bukan “Slurpie”. Maklum, ini anak otaknya hanya sebatas Surabi Enhai dan Batagor Riri. Jadi sampai kapanpun gak akan cocok kalau dibawa ke jakardah yg udah menjadi kota metropolitan gini.

Akhirnya, ketika gue lagi berusaha membetulkan resleting celana yg agak kendor lantaran terus-terusan gue buka tutup waktu ke WC ini, gue melihat sosok tuh anak muncul dari eskalator. 

Di tangannya dia membawa sebungkus makanan yg tertutup keresek warna hitam, dan sebuah kotak kecil tertutup keresek warna warni.

.

“Udah lama lo nunggunya?” Ucap ikhsan seraya menepuk pundak gue dari belakang.

“ah elu nyet, lu kemana aja? beli makanan di mana sih sampe lama gini? Dubai?”

“Yeeee ngaco. Gue sekalian cari hadiah dulu untuk menyambut kedatangan Tuan Putri kita.. Lah elu sendiri kenapa gak bawa hadiah?”  tanyanya lagi.

“Gue cukup bawa cinta aja untuk nyambut kedatangan dia” Jawab gue sambil memperbaiki kerah jaket agar bisa beridiri lebih tinggi menutupi leher.

“Bhahahahak PEDE amat lo setan!” Ikhsan memukul kepala gue.

“Yg ada juga ntar pas dateng, dia bakal meluk gue duluan. Pfft, masa lo lupa sama pernyataan dia sebelum berangkat dulu sih..” Lanjutnya sambil menaikan alis.

“Alah muka kaya centong nasi aja belagu lu!”

“Eits, ada udang rebon ngambek. Sorry, gue gak meladeni saingan gue ya.. bye~” Ucapnya sambil menutup kuping.

.

Sungguh, melihat anak ini bertingkah belagu dan songong luar biasa, pengen rasanya gue ngejorokin dia dari beranda Bandara ini.  

Ya, kita malam ini sedang berada di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Sebuah tempat di mana sering menjadi saksi bisu setiap kepergian yg dipaksa keadaan. Dan menjadi saksi bisu dari setiap peluk pertemuan yg tak pernah banyak bicara, namun sarat akan seribu makna.

Dan bagi gue sendiri, Bandara ini adalah tempat di mana rasa melepaskan kepergian seseorang menjadi terasa amat sangat menyakitkan.

Seperti yg udah gue jelasin di awal tadi, kedatangan gue ke jakardah ini kalau gak ada hal mendesak ya gue gak akan datang. Dan tentu ini mengartikan bahwa hal ini adalah hal yg sangat penting bagi kita berdua.

Hari ini kita lagi menunggu kedatangan seseorang yg sangat berarti buat kita berdua. Sudah lebih dari 4 tahun gue dan ikhsan diharuskan berpisah dengannya. Dan anehnya, sudah selama itu pula gue dan Ikhsan tetap kagum sama seorang wanita yg kedatangannya sangat kita tunggu-tunggu dari beberapa bulan silam ini.

Sembari sedikit memakan cemilan yg Ikhsan bawa dari luar Bandara, gue kembali bernostalgia tentang masa-masa di mana gue, ikhsan, dan dia pertama kali dipertemukan.

.

“Silahkan dimakan, nyet. Jangan sungkan, anggap saja makanan sendiri" Ujar ikhsan.

"Alaaaaah, barang gorengan doang lu so-soan mempersilahkan. Kaga usah lu persilahkan juga bakal gue makan.” Jawab gue ketus seraya buru-buru memisahkan jatah gorengan gue dan jatah gorengan dia.

“Bro…”

“Ngg?”

“Akhirnya ya..”

“Kenapa? pacar lu hamil?”

“…" 

"Makanya, lain kali maen aman. Jangan maen terobos aje.”

“…" 

"Iye,iye, gue ngerti. Gak usah pasang tampang menyebalkan gitu juga keleees..”

“Bercanda aja lo nyet. Btw, akhirnya ya kita ada di tempat ini lagi." 

"hmm”

“Udah berapa lama ya bro kita gak ketemu dia?” Tanya Ikhsan lagi.

“Sekitar 4 tahun lebih deh kayaknya. Eh btw lu niat beli makanan gak sih? cuma gorengan gini doang mana bisa kenyang? mana isinya cuma 10 biji lagi, pelit amat jadi orang.”

“Hmm udah lama ya, tuwir amat berarti kita. Tapi ntah kenapa gue tetep bisa kagum sama doi" 

"Iya, she’s totally perfect lah pokoknya. Belum ada yg bisa seperti dia. Eh nyet, mendoan gue tuh, ngapain juga lu comot setan!”

“Tapi, apa doi masih bakal inget kita, dim?” tanya ikhsan sembari ngunyah mendoan gue yg udah dia hak milik seenak perutnya sendiri.

“Yaelah, kalau elu sih mungkin dia lupa. Muka lu kan kaya candil pas mau buka Puasa. Alias pasaran. Btw ini cengeknya mana? kok tinggal 3 aja? terus itu pisang goreng perasaan tadi ada 3 deh”

“Ah elu, gue lagi serius nih, malah bercanda aja. Gue kangen dia dim.”

“Ya lo pikir elo doang yg kangen. Biar bagaimanapun dia juga sahabat gue, nyet. Aduh tenggorokan gue seret nih, aer dong bro..”

“Kira-kira apa kelak gue bisa jadian sama tuh anak ya dim?”

“Ah ngimpi lo. Centong nasi mana biasa pacaran sama bidadari. Mirip sama gorengan ini, dia itu anak orang kaya yg makananya mewah-mewah dan sehat, lha sedangkan kita-kita ini cuma sekedar gorengan berminyak seperti ini. Mana cocok.." Kata gue seraya mengacung-acungkan pisang goreng terakhir ini.

Dan… PLUK!!
Mendadak pisang goreng yg gue goyang-goyangin ini adonan krispinya lepas, alhasil pisangnya loncat indah dan jatuh ke lantai.

”…“

Ikhsan menatap gue.

”…“

gue menatap ikhsan.

”…“

kita berdua menatap pisang goreng bugil itu.

”…“

Pisang goreng bugil itu menatap kita berdua.

.

"EH SETAN ITU JATAH PISANG GORENG TERAKHIR GUE!!!” ucap Ikhsan sembari mukul gue pake botol aqua

“EH MALAH NYALAHIN GUE, LHA ELU SENDIRI NGAPAIN JUGA MALAH BELI GORENGAN YG KULITNYA LEMES BEGITU, JADI AJA JATOH KAN AH?!”

“EH LU GAK TAU TERIMAKASIH YA! MASIH MENDING UDAH GUE BELIIN, KAGA BERSYUKUR AMAT LO JADI ORANG. SINI BAYAR SETENGAH-SETENGAH TUH HARGA GORENGAN!!”

“Bentar, jadi lo minta gue buat patungan beli gorengan tadi?" 

"Iya lah, ditambah uang ongkos keluar bandara jangan lupa”

“Jadi lo perhitungan sama gue?" 

"apa sih yg engga buat elo..”

“Oke, kue nastar kemaren sore di rumah gue, siapa yg ngehabisin?”

“ngg..”

“Terus kemarin lusa, Mie Ayam pak Barjo yg depan rumah itu siapa yg bayarin?”

“Ngg.. anu..”

“Terus waktu lo putus sama mantan lo itu, yg nyumbang pizza domino buat ngehibur elu yg mewek sambil ngelus-ngelus foto mantan lo itu siapa?”

“…”

“Terus Parcel di rumah gue bulan lalu itu, siapa yg ngebuka?!”

“ngg.. bro.. itu kan elu sendiri yg buka..”

“Oh iya lupa. Tapi yg ngabisin isi parcelnya kan elo!”

“Bro, isi parcelnya kan udah kadaluarsa, elo sendiri yg dengan teganya nyuruh gue makan.”

“Oh iya juga ya. Ah tapi biarin, yg jelas kalau lo masih mau minta duit gorengan ke gue, bayar dulu itu semua makanan gue yg udah diakuisisi sama perut lo!”

“Iya deh iya, bawel amat. Lagian nyokap lo ikhlas-ikhlas aja waktu gue nyomot makanan di rumah lo” Jawab dia santai.

“APAAN?!! waktu lo udah pulang, gue dinasehatin kalau elu mau dateng, makanan di rumah harus disembunyikan terlebih dahulu!”

“Bhahahahak naas amat. Itu udah resiko lu berteman sama teman yg bersahaja kaya gue.”

“Tai! Sahaja mata lu soek!”

.

Tanpa kita sadari, percakapan kita di bandara malam itu menjadi daya tarik sendiri buat security setempat. Alhasil bukannya menunggu dengan tenang, kita malah ditanya habis-habisan sama security karena dinilai mengganggu ketertiban.

Temenanan sama nih bocah emang gak akan jauh dari yg namanya nasib buruk. Mungkin kesialan-kesialan yg gue lalui selama ini disebabkan oleh Fengsui tatak letak muka Ikhsan yg emang pada dasarnya kurang beraturan. 

.

Ting Tong..
Flight with flying number 104 has been arrived.

Mendadak pengumuman dari toa masjid yg dipasang di setiap sudut Bandara ini mengagetkan kita berdua.

“Eh bro bro, pesawat doi udah landing tuh” Ikhsan buru-buru merapihkan bajunya.

“Yoi, akhirnya dia dateng ya sob”

“Hahaha iya, gue jadi penasaran, sudah secantik apakah dia sekarang ya bro.." Tanya Ikhsan yg terlihat sangat antusias menatap kearah pintu kedatangan.

Mendengar pernyataan Ikhsan yg terakhir itu, gue mendadak sedikit tersenyum. Gue yg dari awalnya emang biasa aja, ntah kenapa sekarang jadi ikut-ikutan penasaran.
Gak mau terlalu berlama-lama, gue bereskan bungkus gorengan biadab yg satu ini dan mulai merapihkan pakaian yg gue kenakan untuk menyambut kedatangannya malam ini..

"Akhirnya.. Selamat datang kembali, Nona.” kata gue dalam hati seraya sedikit tersenyum..

.

.

                                                      ****

.

.

“Yakin kamu Dimas gak mau nentuin pilihan kedua kamu?" 

"Engga, bu. Pokoknya Dimas yakin dipilihan pertama itu, pilihan kedua mah Ibu aja yg nentuin, Dimas udah gak kepikiran buat sekolah di tempat lain.”

“Yaudah, semoga aja emang rejekinya di sana ya..”

“Amin, bu. Doakan ya!”

.

Percakapan di atas adalah percakapan siang tadi sebelum gue melakukan submit pilihan SMA mana yg bakal menjadi sekolah gue kelak. 

Ntah kenapa, hari itu gue sama sekali gak kepikiran buat milih SMA lain ketimbang SMA pilihan pertama gue itu. Gak tau kenapa, rasa-rasanya gue gak ada feeling buat sekolah di tempat lain. Setiap gue ngebayangin tentang SMA, yg terbayang cuma SMA pilihan pertama gue itu doang. Apa mungkin itu yg dinamakan mimpi ya?

Tahun ini adalah tahun di mana gue lulus dari SMP (Sekolah Mencari Pacar). Dan akan resmi menjadi anak SMA (Sekolah Membuat Anak) pada beberapa bulan silam.

Gue yg saat itu masih polos dan belum tumbuh bulu-bulu kecil disekitaran muka dan daerah lainnya ini, begitu semangat untuk mengunjungi salah satu SMA favorite gue saat itu.

SMA Cluster 2, tempatnya di sekitaran tengah kota, dan sekolah ini dulu terkenal karena banyaknya Atlet yg dihasilkan, dan banyaknya Event yg diadakan.

Ini menadakan SMA pilihan gue adalah SMA yg tidak mementingkan pelajaran sama sekali! Dan inilah yg ngebuat gue semangat untuk memilih SMA ini sebagai SMA tambatan hati gue.

Waktu gue baru lulus SMP, internet itu masih jarang. Bisnis warnet adalah salah satu bisnis yg menjanjikan saat itu. Dan untuk mengetahui informasi-informasi tentang SMA yg bakal gue masukin itu pun gue harus mendatangi langsung ke lokasi yg bersangkutan.

Di sana gue liat banyak anak-anak dengan seragam putih biru yg berlalu lalang untuk melakukan submit ijazah dan tetek bengek lainnya. Dan waktu jaman gue dulu, anak SMP kelas 3 masih belum semenarik seperti anak-anak SMP jaman sekarang.

Dulu anak SMP kelas 3 rambutnya masih pada dikepang. Belum ada itu yg namanya belah tengah. Gigi masih pada manis, belum ada yg namanya behel.

Dan yg jelas, perbedaan mencolok antara anak SMP dan SMA itu bisa terlihat jelas. Gak kaya sekarang, gue gak bisa bedain mana anak SMP mana anak Kuliahan.

Mana Cabe-cabean, mana tante-tante liar.

.

Dengan bermodalkan rambut mohawk dan embel-embel SMP ternama yg melekat di sisi kiri seragam gue ini, gue berjalan petantang-petenteng di depan semua anak SMP yg melakukan pedaftaran saat itu.

Damn! Im feeling Adult now!

.

.

.

                                                      bersambung

Dramatisasi Hujan

Hujan disuarakan sebagai gejala alam berwujud pertikel cair yang jatuh dari kolong langit dengan jumlah jamak. Berhulu dari siklus air yang urut mulai dari penguapan air laut, menjadi gumpalan abstrak awan di kolong langit, tertiup hingga suatu kala menjadi awan mendung yang murung. Kadang saat terlampau jenuh dengan kandungan air yang dibawa, ia muntahkan berkah cair yang menjadi syarat mutlak apapun yang dilaluinya untuk hidup. Mengagumkan. Namun jika ia sedang hyper dan terlalu mengekspresikan ‘kegembiraannya’, semua yang dilaluinya juga akan hidup namun di alam lain. ‘’Ah, layaknya standar ganda, dua karunia ‘majestic’ dalam satu harga’’ Gumamku kemudian.

Bermodal sekelumit reka rupa terebut, ingatan membawaku berjalan menuju satu ingatan yang lain, satu ingatan tentang zat yang muncul saat hujan, yaitu zat yang bernama petrichor. Ia dikisahkann lahir dari sepasang reaksi kimia ketika hujan turun setelah musim kering yang berkepanjangan. Beberapa tanaman mengeluarkan semacam minyak selama periode kering. Ketika hujan, minyak dilepaskan ke udara. Senyawa aromatik ini kemudian menciptakan aroma petrichor yang berefek menyenangkan. Sehingga dapat ditebak muara reaksi tersebut, efek relaksasi yang menghipnotis. Menjadi sarana kawula muda yang demam artsy semi prematur merayakan hujan dalam berbagai sudut pandang, dan sebut saja salah satunya skena ‘mendramatisasi hujan’.

Dimulai kala tubuh sedang culas, kemudian hujan lihai menyelinap rapi dan mengorkestrasi secara apik, tanpa sadar tubuh ditenggelamkan oleh semacam ambience, selanjutnya pikiran akan dibawa menuju pertunjukan lebih indie, intim serta mendayu. Kadang terasa memaksa dan musykil untuk dilawan, menembus batas waktu dan menjadi tamu pada selaksa memori lampau. Ia kadang menghadirkan guratan kecut pertanda memorabilia yang harusnya dilupa, namun kadang ia menjadi bagian menyenangkan seperti akhir film film kolosal 90’an yang tiris, cekak, dan manis meski telah diisi soundtrack suram penuh hawa depresi milik Joy Division. Apapun itu, ia selayaknya permen karet yang menempel di alas kaki, rebel dan enggan untuk diberedel. “Menggelikan”.

Lamunan yang tak terlampau penting tersebut mengokupasi ruang imaji secara sembrono ketika menunggu hujan yang tak kunjung reda di sudut tempat dalam satu perjalanan rutin yang cenderung menjemukan antara tempat asal dan tanah perantauan. Kadar level kejemuan melonjak menjadi kesialan ketika tempat teduh yang disinggahi adalah SPBU. Ada beberapa alasan mengapa spbu masuk dalam list pribadi tempat yang mengajak cepat menjadi tua, diantaranya karena rokok yang menjadi kunci pelarian sudah tentu akan sangat dilarang, pun dengan banyak orang tua dengan paksa berbatuk ria dengan sengaja akan menambah ukuran ketidakpatutan, tempat duduk yang bermasalah entah disengaja maupun tidak, dan sudah tentu toilet yang mengharuskan pikiran untuk lari pada kisah buruk menjurus saru tentangnya. Namun setidaknya tempat ibadah di SPBU selalu ramai, lebih ramai dari masjid di desaku.

Dan repertoar lagu dalam gawai adalah pelarian ampuh membunuh jenuh. Dirasa cukup matchingdengan suasana ketika Legenda psychedelic blues, The Doors yang menakwilkan Rider On The Storm sebagai nomor yang kelam dan dipenuhi misteri tervisualkan para borju bertampang model top collection sedang membeli bbm yang pastinya bersubsidi. Mereka enggan keluar dari mobil dengan tatapan khawatirnya, sejenak teringat tatapan Umma Thurman dalam film Pulp Fiction. Dingin menanti kesempatan untuk menyeringai. Mungkin mereka pembunuh bayaran yang sedang dalam liburan, rehat melunakkan otak yang telah terkoyak. “Anjing, aku terbawa arus lirik”.

Tak lama kemudian Aguas de Marco yang terdengar. Tercitra Antonia Carlos Jobim membuat nomor ciamik ini juga diiringi oleh gemercik air yang saling beradu dengan tanah. Petugas yang sedang mengisi bahan bakarpun menari samba dalam bayangku, pasti jiwa manusia setengah baya di sampingnya pasti sedang sakit karena hanya mematung tanpa ekspresi. Atau aku yang berdiri menempel pada tembok penyangga sebenarnya yang sedang sakit jiwa lantaran khayal liar yang terus mengular. Tapi yang pasti menikmati lagu ini pada pesta pantai akhir pekan terbungkus buaian bir niscaya menjadi perkimpoian yang patut diamini sekaligus diwaspadai, lissoi…!!!.

“Anjing…!!”

Umpatan kedua di tempat ini pun keluar, ringan seolah tanpa beban. Ia keluar spontan tanpa ragu menjawab apa yang ditangkap mata. Khayal egois ini remuk dengan sebab kedatangan satu keluarga kecil yang basah kuyup dengan tunggangan reot keluaran era orde baru, tersusun atas keluarga inti bahagia versi buku Pendidikan Kewarganegaraan masa SD yaitu Ayah, ibu dan 2 orang anak. Sudah tentu suatu perjalanan dengan waktu yang hanya bisa disamai oleh koar calon wakil rakyat ketika berkelakar, membosankan dan melelahkan. Semua itu tergambar dalam raut otot muka mereka yang terlihat tidak menonjol. Si bapak seperti sudah tak peduli dengan kondisi celananya yang berbahan drill koyak di berbagai tempat. Dan satu anaknya terlelap tidur meski air mengucur membasahi wajahnya. Terlampau kontras dengan apa yang mengalun di ruang dengar, lagu yang mengejawantahkan kesenangan dan perayaan hidup yang apapun itu dibutuhkan satu pemandangan minimal tanpa membuat hati menjadi biru sendu.

Sempat memaafkan diri sendiri jikalau rasa yang trenyuh yang kemudian bergelayutan, namun satu rupa yang telah senja di pojok bangunan telah mengingatkan pada sosok seorang pencipta puisi membuatku antusias mendengar satu musikalisasi puisi Ari Redha yang diilhami oleh nukilan Sapardi Djoko Darmono dalam sudut koran sore yang mungkin pas atau setidaknya dipaksa untuk menjadi pas dengan adegan keluarga itu.

“Aku ingin mencintaimu, dengan sederhana,

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu,

aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Dibalut dengan petikan gitar akustik, intonasi yang tersirat kedamaian yang teramat, menandakan aransemen hatinya tentang konsepsi percintaan untuk berujar bahwa semua akan baik baik saja. sejurus kemudian akupun tersenyum sendiri menemukan chemistry yang pas dari adegan itu.

“bangsat, mereka menampilkan repertoar yang brilian”, umpatan ketiga dan semoga menjadi yang terakhirpun terujar khidmat.

Dalam ranah yang melibatkan rasa buruk sangka. Keluarga tersebut telah sukses besar pongah dan sombong pamer pada semesta.

“ini yang dinamakan cinta ndes !!!”, sejenak pikirku melayang membayang mereka bersabda dengan kepala mendongak.

“Ah, sepertinya aku sudah terlalu sering menonton film karya Quentin Tarantino dan film-film yang dibintangi si tua bangka Morgan Freeman yang kelewat terseterotipe dengan sosok ke-Tuhanannya”. Tapi, tapi, tapi, sepertinya ini adalah sountrack yang paling pas, sangat keren, bahkan lebih keren dari makna keren itu sendiri. Keren.

Seperti tersengat oleh bagian klimaks Bohemian Rhapsody, aku baru saja tersadar bahwa puisi Sapardi di atas menyiratkan Sang Penyair sedang pamer cinta yang kadang tak dapat ditangkap instan oleh kelima indra jasmani. Sebuah kisah pertemuan hujan sebagai hal yang bersifat kodrat, dan awan melambangkan fitrah dimana air hujan akan jatuh dan bertemu dengan tanah. Hujan lantas jatuh ke tanah begitu saja sebagai garis. Terkesan sepele, wajar, ihklas dan tanpa hal yang dipaksakan. Seolah hanya akan tiba pada waktu yang biasa. Sama seperti keluarga tersebut pertontonkan, mereka pamer rasa cinta dengan pongah dan tanpa tendensi pada saat yang bersamaan. Terlihat sederhana, ihklas, dan tanpa membuat cerewet siapapun yang melihatnya. Sejatinya keluarga itu sedang memberi contoh kisah percintaan yang paling mewah, karena sesungguhnya mencinta yang paling mewah adalah mencinta dengan sederhana.

arah

“Lovers don’t finally meet somewhere. They’re in each other all along”

Sesampainya di rumah sepulang bepergian, ada kiriman paket yang enggak saya kenali asal muasalnya. Rasa-rasanya, saya enggak beli barang apapun lewat online shop. Waktu tau siapa pengirimnya, barulah saya ngeh kalau paket itu mungkin memuat berita gembira dari seorang sahabat nun jauh di sana.

Beberapa hari sebelumnya, memang @kurniawangunadi sempet nanyain alamat saya untuk ia kirimi undangan. Tanpa perlu menerka-nerka, isi dari amplop coklat yang saya terima pastilah secarik invitasi pernikahannya. Begitu segel selotipnya selesai disobek, saya ngeliat kantong kain berwarna putih gading dengan tulisan hitam bersambung yang tercetak di permukaannya.

Ngeliat lima kata yang tertera di bagian wajah kantong, saya langsung mengaminkan harapnya untuk diijabahkan kepada dua sejoli yang namanya tertulis di situ. Aji Nur Afifatul Hasna. Kurniawan Gunadi. Turut ditambahkan juga doa di dalam hati, “Semoga enggak sebatas tumbuh, tapi juga lestari. Aamiin”. Waktu narik isi kantong, ternyata yang keluar adalah buku yang penampakannya lagi sering muncul di linimasa Tumblr.

Gunadi sa ae nih. Tau aja saya penasaran sama buku barunya. Saya kaget waktu ngebuka halaman awal buku yang ternyata memang memuat undangan pernikahan Gunadi dan @ajinurafifah. Unik. Seumur hidup, baru kali ini saya dikirimi undangan 102 halaman. Ya, undangan ini berbonus karya dari calon mempelai dengan peruntukan sesuai tajuk di bagian sampul: kenang-kenangan.

Saya pernah ngeliat dua orang pencinta musik yang menghadiahkan lagu buatan sendiri sebagai cinderamata untuk tamu acara pernikahan mereka. Kalaulah sebuah karya tulis dijadikan cinderamata pernikahan, pastilah sejoli yang akan menikah adalah calon orang tua yang amat mencintai ilmu. Kekagetan sebelumnya berubah menjadi rasa syukur. Alhamdulillah, akhirnya Gunadi melabuhkan hati dan menambatkan komitmennya juga setelah sekian lama “melaut” seorang diri di samudera perenungan yang luas.

Enggak butuh waktu lama untuk menuntaskan bacaan yang ringan, mengalir sekaligus sarat makna ini. Lebih dari sekedar buah pikiran, Menentukan Arah adalah bentuk kepedulian dan keterbukaan Gunadi-Apik untuk membagi pemahaman tentang pernikahan - sesuatu yang dipandang abstrak sama banyak anak muda.

Satu diantara sekian banyak kalimat menarik ada di halaman 23 yang bunyinya, “Pernikahan bagi kami adalah ajang kolaborasi yang paling tinggi”. Sesuai dengan pengalaman yang baru saya jalani setelah menikah, enggak ada kesepakatan yang lebih baik antara sepasang suami-istri selain menempatkan rumah tangga sebagai arena kolaborasi. Disebut kolaborasi karena udah semestinya pihak-pihak yang terlibat memberikan nilai tambah paling spesial untuk perjalanan panjang yang akan dijalani bersama di masa depan.

Sebelum tiga hari ke depan dipersatukan lewat akad yang mendebarkan, wujud nyata dari kolaborasi telah mereka tunjukkan dengan baik lewat buku ini. Mereka berbagi peran untuk menyuguhkan hakikat pernikahan dalam banyak makna: menunggu, pencarian, sepakat, perayaan, pasangan, keluarga, anak, harta dan rumah. Mereka berbagi peran untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa pernikahan udah seharusnya enggak membatasi semangat kebermanfaatan untuk sesama melainkan memperhebat geloranya.

Saya cukup kenal Gunadi tapi belum mengenal Apik selain lewat tulisan-tulisannya di buku ini. Salam kenal ya, Apik. Saya percaya kalau Apik adalah perempuan yang juga istimewa aja karena Gunadi adalah seorang lelaki yang insya Allah istimewa. Bukankah sudah menjadi ketentuan-Nya kalau seseorang akan dipertemukan dengan jodoh yang setara dalam kepantasannya? Maka, dua orang yang berjodoh enggak kebetulan dipertemukan-Nya pada waktu dan tempat tertentu. Memang sejak jauh hari mereka telah berjalan beriringan dengan ikhtiar masing-masing dalam titian takdir.

Sayangnya, saya enggak bisa hadir di momen sakral mereka dan lagi-lagi cuma bisa melangitkan doa sederhana berikutnya. Barakallahulaka wa baraka’alaika wa jama’a bainakuma fii khair. Mudah-mudahan Allah memberkahi kalian, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan. Terima kasih atas cinderamata yang bernas ini ya Gun, Pik. Informasi lebih lanjut tentang Menentukan Arah bisa diliat di tautan ini.

Arah telah ditentukan, bekal tuntas dipersiapkan. Giliran kalian telah tiba untuk menjalankan amanah dengan sepenuh-penuh keyakinan dan keberanian.

repost : Agar tak menjadi Buih (Sebuah Instropeksi diri)

ditulis oleh former Presiden Mahasiswa ITB periode 2007-2008 : Zulkaida Akbar

Namanya Kathrina, seorang Jerman yang sempat singgah di Florida selama satu bulan untuk riset dibawah bimbingan Prof. Saya (yang juga seorang Jerman.)

Kathrina selalu datang jam 8 pagi, lantas menghidupkan komputernya dan mulai bekerja. Yang istimewa adalah detik mulai Ia bekerja, kepalanya seakan terpatri kuat pada layar monitor, jarang sekali terlihat menengok kekanan dan kekiri. Seluruh perhatiannya tersedot untuk pekerjaannya.

Kawan2 di kantor pun jadi segan untuk menyapanya.

Kathrina memang berbeda dengan kawan2 sekantor saya atau kolega satu group. Brad sering kedapatan membuka Channel olahraga saat bekerja. Chris si Veteran Iraq menyelingi pekerjaanya dengan me"Like" berita2 republikan, atau berdebat tentang Israel-Palestina dengan Hussein. Sementara Hiram si Puertoriqan selalu terlihat tidur di sudut kantor.

Bagaimana dengan Si Indonesian?Mudah diterka, karena Bisa dipastikan tab Facebook dan Youtube nya selalu terbuka. Terkadang ia juga menyempatkan untuk bergosip dengan kawan2nya di group WA.

Jam 12 teng Kathrina beranjak menuju Microwave, kemudian menghangatkan makan siang nya. Selepas santap siang, dia akan bekerja hingga jam 5 teng, lalu pulang.

Beberapa saat kemudian, ketika kami sama2 menghadiri suatu pesta, baru saya sadari bahwa Kathrina ternyata manusia “normal” juga. Bagi dia, jamnya kerja ya harus kerja. Jamnya pesta ya pesta. Merupakan sebuah aib bagi dia jika Ia melakukan hal Non-kerja saat jamnya bekerja atau sebaliknya ; bekerja ketika jamnya untuk berpesta.
…………..

Sebut saja namanya H, si Tukang mabok tapi papernya bejibun ini mendapat gelar masternya di Stratsbourg (perbatasan Jerman-Prancis). Dia berangkat kerja di waktu normal, pulang juga di waktu normal.

Namun yang menarik adalah meskipun H perokok berat, tapi H tidak pernah membawa rokoknya ke Kantor, melainkan menggantinya dengan permen Nikotin. Alasannya sederhana, H tidak ingin membuang waktu kerjanya sekedar untuk keluar ruangan dan merokok. Sama seperti Kathrina, bagi H jam kerja ya harus dilalui dengan Full bekerja.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Dia sering bekerja siang dan malam, belasan jam perhari. Weekday juga weekend. Ketika si Indonesian bertemu dengan H, dengan penuh kekaguman H berkata :“If I can work as hard as you, I will rock the world.” Si Indonesian kemudian menjawab :“If I can work as efficient as you, I will also rock the world.”

Mengapa Si Indonesian menjawab demikian? Karena si Indonesian ini sadar, bahwa diantara belasan jam yang ia “klaim”, terdapat sekian jam untuk FaceBookan, Youtubean dan an an yang lainnya.

Apakah efek akhirnya sama dengan si Jerman?

Nyatanya tidak. Karena si Indonesian ini meski sudah 3 tahun ngaji kepada Prof. Jerman, tetap belum bisa memenuhi standar beliau : paling lambat satu minggu sebelum conference, slide sudah siap (juga sudah berlatih). Hampir 1 tahun sebelum menyelenggarakan konferensi, web sudah dibikin, lantas kami dminta untuk mengirim email dan abstrak hanya untuk memastikan bahwa sistem web berjalan. Juga printilan2 lain seperti Tas, map dll.

Saya yang terbiasa dengan kepanitiaan raksasa saat dikampus (OSKM=2000 panitia) terkejut bahwa satu gawe konferensi internasional yg diselenggarakan FSU nyatanya bisa dimanage dengan baik hanya oleh seuprit orang.

Kata2 Favorit Prof. Saya : Check List, prioritas, Be Carefull with your promise! Give me reasonable time estimation!

Diantara Negara2 dgn GDP terbesar seperti US, China; Orang Jerman paling sedikit jam kerjanya. Namun mereka sangat efisien dan terukur. Semua serba well organized.
………….

Bagaimana dengan Amerika?

Sekarang sedang demam Pokemon-Go, Game yang diprediksi kelak akan sepowerful Facebook, Sampai ada tulisan “Macroeconomic analysis of Pokemon Go”. Nyatanya, meski si pokemon didapat dari Nintendo (jepang) namun basis google earth dan augmented reality nya dari Amerika.

Dan semua trend semisal data science, uber, big data, crowdfunding, AirBnB, Tesla sampai flying car juga berasal dari Amerika.

Kekuatan Amerika terletak pada keberaniannya untuk mencipta apa yang belum ada. Meski kesenjangan disini sangat tinggi, Amerika punya orang2 dengan kreatifitas dan keberanian luar biasa untuk mencipta sesuatu yang sama sekali baru.

Tengoklah keberanian leslie dewan, pemudi lulusan MIT yang mendirikan perusahaan pembangkit Nuklir yang menjanjikan terobosan2 teknologi dalam usia yang belum genap 30 tahun (transatomic energy). Tentu tengok pula keberanian venture capital yang mendanainya.
………….

Bagaimana dengan China?

Dua nama yang saling bertegur sapa dengan Si Indonesia, dini hari di Nuclear Research Building adalah Wei Cha dan Jun Ji.

Memang tidak ada yang meragukan etos dan jam kerja sang Naga.
………….

Mantra?

Almarhum Prof. Iskandar Alisjahbana, rektor ITB yang legendaris tersebut terkenal dengan jargon dan visinya untuk “MenYahudikan Pribumi”.

Tapi si Indonesia punya mantra yang lain : Jam Kerja China, Efisiensi Jerman, Kreatifitas dan Keberanian Amerika.
…………

Epilog? Berbagai padahal.

Apa kaitannya dengan judul postingan : Agar tak menjadi buih?

Merupakan nubuwat Kanjeng Nabi bahwa Umat Islam ini jumlahnya banyak, tapi ibarat buih; tak berkualitas.

Padahal..
Dalam surat Al Ashr Allah bersumpah demi sang waktu.

Padahal..
Orang Sholeh dulu jika siang ibarat singa dan jika malam ibarat Rahib (pembagian waktu yang clear, distinct).

Padahal..
Bagian dari iman adalah menjauhi hal yang sia sia (selalu produktif).

Padahal..
Kanjeng Nabi sudah memperingatkan kalau nikmat yang sering terlupakan adalah waktu luang, kesempatan (Nasihat untuk deadliner seperti saya).

Padahal..
Allah sudah mempersilahkan/menantang hamba-Nya untuk menembus langit, dan tidaklah kita dapat menembusnya “illa Bi Shulthon” , kecuali dengan kekuatan/ilmu pengetahuan (Keberanian untuk mencoba, termasuk hal2 yg sebelumnya belum pernah ada).

Padahal..
Dalam surat Al Inshirah Allah berfirman : “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh2 (Urusan yang lain).” (Perintah untuk tidak menunda2).
………..

Maka si Indonesia yang beragama Islam ini pun kemudian berpikir bahwa tidaklah perlu menjadi Jerman, China, atau american.

Cukup menjadi Islam saja.

Si Indonesia ini juga tersadar, bahwa mengubah peradaban mustahil tanpa mengubah diri sendiri.

Gagasan memang Memiliki kuatan, namun Keteladanan jauh lebih kuat dibanding gagasan.

Dan Allah mencintai Hamba-Nya yang produktif (self reminder).

Semoga tangan ini dapat merengkuh dunia, namun tidak satu biji zarah pun masuk ke hati.

mengubah peradaban mustahil tanpa mengubah diri sendiri. Lika Lulu ayo selesaikan! ganbate!

Garis Tengah

Situasi yang sedang saya alami (seperti yang juga dialami orang lain pada umumnya), tidak pernah jauh-jauh dari usaha yang begitu keras untuk bisa tetap menjejak di garis tengah. Di ‘khatulistiwa.’


Garis tengah di antara :


1. Spiritualisme dan materialisme, di mana tarikan alam materialistis terasa begitu kentara dan agresif. Jiwa yang lemah dan lapar akan kehabisan energi dalam pertempuran ini dan akhirnya, kalah. Terasa benar sulitnya memosisikan dan mengukur segala sesuatu dengan mata ukur yang lebih esensial dari materi. Misalnya, mengukur harga sebuah kesuksesan berdasarkan ukuran kebermanfaatan, alih-alih ukuran harta. Sulit karena, materi itu konkret. Sedang konsep kebermanfaatan, pahala, adalah sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang sulit dicerna jiwa yang kelaparan. Lapar akan ketenangan, keimanan, dan kebahagiaan.

Ditambah oleh kekuatan si invisible hand, menggerakkan 'anak-anak’ materialisme, antara lain sekularisme dan konsumerisme, membuat pertempuran ini begitu beratnya.


2. Rasionalitas dan intuisi, terkhusus dalam menghadapi persoalan dan mengambil sikap. Kapan bisa berbekal nekad, kapan perlu persiapan matang. Kapan harus memulai, kapan harus menunggu. Kapan harus mencari pembuktian ilmiah, kapan harus percaya tanpa banyak bertanya.


3. Dunia dan akhirat, ini yang tersulit. Godaan dunia begitu besar. Amat besar. Membuat orientasi hidup yang dibuat sebagaimana Rasul contohkan : Hidup baik di dunia dan akhirat, sering mengalami hantaman dari kanan kiri. Ketika hati terasa kosong, saat itulah saya tahu bahwa hati saya sedang terlalu condong pada dunia. Ketika hati terasa terlalu penuh, saat itulah saya tahu bahwa saya melupakan urusan dunia, tempat di mana saya perlu menggunakan energi jiwa yang begitu besar untuk melakukan kebaikan.


Meletakkan diri untuk berdiri kembali pada garis tengah adalah proses belajar sepanjang hayat.

Ibarat berperahu di antara dua tebing, ombak datang menghantam dari kanan dan kiri. Menyeimbangkannya kembali butuh ketangguhan, sepanjang hidup. Keselamatan bagi mereka yang bisa tetap berlayar dengan tangguh.

Mungkin benar bahwa kita hidup di akhir zaman, mungkin benar bahwa kiamat telah dekat. Semoga masih tersisa istighfar di sela-sela napas kita.

Self-proclaimed personality label

Jadi gue abis baca tulisan siapa gitu lewat di explore, yang membahas soal introvert-extrovert. Dia, menjelaskan dirinya sebagai seorang introvert. Di bawah header nama tumblrnya, dia menuliskan profilnya yang berupa salah satu dari tipe personaliti ala MBTI. Gue di masa lalu mungkin tidak begitu terganggu dengan kenyataan tersebut. Tapi gue di masa kini, geregetan sekali. Rasanya pengen banget bilang; ‘situ introvert? INFP?’

A maca cih?

Sama seperti self-diagnosing, self-labelling juga seringkali membuat gue jengah. Mudah bener ya manusia mengklasifikasikan diri sendiri begitu? Atau yang lebih mendasar; kok mau ya, personalitinya disederhanakan se-umum itu? Pernah ga ya kepikiran untuk belajar sedikit, googling sebentar, MBTI itu apa sih, idenya siapa sih, dasarnya apa yah kok bisa mengelompokkan kepribadian manusia yang super dinamis ini menjadi sesimpel itu. Atau mempertanyakan, introvert itu sebenernya apa sih ya, extrovert itu asalnya darimana sih ya. Soalnya yang sedang dianalisis nih kepribadian kita sendiri. Kan pasti mau yang paling valid dong, bukan yang abalabal. Jadi harusnya ada rasa ingin tahu sedikit sebelum membuat self-proclaimed?

Maaf kalau gue terdengar sangat sotoy setelah ini. Mohon koreksi segera kalau ada yang tahu lebih banyak atau ada yang berada dalam kompetensi yang lebih profesional dibanding amatiran seperti gue.

Gue juga pernah dengan percaya diri self-proclaiming kalo gue tipikal introvert. Katanya, salah satu ciri introvert itu tidak nyaman bicara di depan umum. Sementara yang gue rasakan, bodo amat. Gue tidak ada masalah dalam bicara di depan umum. Malah kadang kalau lagi gemes dan kurang waras, gue bisa seenaknya bicara depan umum tanpa diminta. Maka dari itu, apakah gue adalah produk gagal introvert?

Pertanyaan demi pertanyaan kemudian mengerucut menjadi satu headline besar; “memangnya apa dasar mengklasifikasikan kepribadian manusia yang sebegitu heterogennya itu menjadi kelompok2 tertentu? Memangnya bisa? Bukannya kepribadian itu dinamis? ‘People change’, kan?”

Gue mulai kepo. Mencari tahu.

Sekali lagi, please correct me if im wrong.

Adalah seseorang bernama Carl Jung yang membagi kualitas dasar manusia menjadi 4 poin yang dibagi lagi menjadi introvert dan ekstrovert. Teori ini dikenal dengan Jungian Typology. Sila di-google.

Empat poin itu adalah sensing, feeling, thinking, dan intuiting. Masingmasing poin terbagi lagi menjadi introvert dan ekstrovert. Sensing dan feeling adalah deskripsi ekstrovert dan introvert yang paling sering digunakan media.

Sensing itu artinya respon terhadap rangsangan yang sifatnya indrawi. Feeling itu ya respon terhadap perasaan. Thinking terhadap pikiran, dan intuiting terhadap konsepkonsep abstrak atau yang terkait masa depan.

Dalam aplikasinya, ada manusia yang sensingnya ekstrovert, tapi feelingnya introvert.

Sensing yang ekstrovert itu biasanya anaknya eksekutor, suka sama halhal baru yang bersifat fisik. Feeling yang introvert itu biasanya anaknya tulus, jujur, cenderung blakblakan. Berarti kalo manusia ini sensingnya ekstrovert meanwhile feelingnya introvert, dia cenderung aktif, eksekutor dan ngomongnya blakblakan. Di media itu dibilangnya anak ekstrovert.

Kemudian ada manusia yang thinkingnya introvert, tapi intuitingnya ekstrovert.

Thinking yang introvert biasanya mikirnya lama, tapi akurat, banyak pertimbangan, geeky gitu. Sedangkan intuiting yang ekstrovert itu cenderung berubahubah idenya, ga konsisten, selalu ada ide baru. Jadi manusia yang thinkingbya introvert, intuitingnya ekstrovert tuh dia mikir mulu, tapi idenya ganti2. Di media, itu dibilangnya anak introvert.

Banal bener deksripsi gue yawla -.-

Tapi kurang lebih gitu.
Bisa aja thinking sama feeling introvert, tapi sensing sama intuitingnya ekstrovert. Kadar introvert dan ekstrovert dalam keempat poin itupun tiap orang beragam.

Poinpoin inilah yang mendasari bermulanya klasifikasi MBTI. Dalam klasifikasi MBTI yang INFP, INTJ, ENFP, ENTJ dkk itu, satu manusia ada persentase kadar introvert dan ekstrovertnya sendiri di keempat poin itu. Jadi tidak ada orang yang benerbener murni introvert, pun tidak ada yang sepenuhnya ekstrovert. Ada titik ekuilibriumnya. Oh dan tentu saja, klasifikasi ini bisa berubah seiring berjalannya waktu, pengalaman, dan perubahan lingkungan.

Meskipun gue tetep sulit menerima bahwa personaliti manusia bisa dikelompokkan, halhal di atas lebih terasa masuk akal, masih mengesankan bahwa manusia memang se-beragam dan se-dinamis itu.

Lalu, bagaimana menentukan diri kita berada dalam kelompok personaliti yang mana? Ya ikut tes.

Instrumen tes kepribadian yang ada di media saat ini tuh mulai asalasalan. Pertanyaan2 di dalam tesnya tuh terlalu umum, tidak holistik, mudah dimanipulasi, terlalu sederhana lah pokoknya. Akhirnya hasil yang keluar juga tidak sepenuhnya valid.

Iya, tes yang gue maksud termasuk yang di web 16personalities. Bisa dibilang, tes2 ini superficial sekali. Tidak representatif. Kalau di skripsi tuh harusnya pertanyaan2 di dalam tes tersebut tidak lolos uji validasi kuisioner -.-

Kalau tidak salah, instrumen test di website yang hampir mendekati teori jungian sesungguhnya itu adalah key2cognition. Tolong beritahu gue kalau ada website lain yang menjelaskan menggunakan persentasi per 4 poin beserta kadar introvert dan esktrovertnya, seperti key2cognition.

Tapi kalau saja mau browsing lebih jeli, ada beberapa artikel yang mengatakan kalau tes personaliti MBTI itu sendiri sudah tidak relevan, sudah di debunked. Apalagi menilik pencetusnya adalah psikolog amatir yang mencoba menyederhanakan teori tersebut, biar lebih user friendly, mudah dimengerti. Padahal jatuhnya masih kasar banget.

Introvert dan ekstrovert bukan cuma sekedar masalah komunikasi dan interaksi sosial. Bukan cuma anak introvert banyak diem, banyak mikir, pemalu. Bukan cuma anak ekstrovert banyak omong, pecicilan, berisik. Tidak sesederhana itu. Malah kalau didengar anak psikologi yang mengerti soal kepribadian, lo mungkin diketawain.

Apa yang gue jelaskan di atas masih dengan simplifikasi disanasini. Masih kompleks sekali alasan yang menjelaskan personaliti seorang manusia. Makanya, gue jengah dengan mereka yang percaya saja dengan klasifikasi umum. Lalu bangga, pula. Gimana gue bisa nahan untuk ga bilang;

A maca cih?

Terminologi apapun itu sebenarnya tricky. Di satu sisi lo akan terlihat scientific dan keren kalau menggunakan istilah2 'tinggi’ seperti introvert dan ekstrovert. Tapi di sisi lain, lo dituntut untuk mengerti dulu makna kata tersebut sebelum menggunakannya dalam konteks. Karena kalau salah, lo jatuhnya meng-abused kata tersebut, menghilangkan atau mendegradasi maknanya.

Lo mau, disamain sama Vicky 21-my-age?

Daripada sok tahu menempatkan istilah introvert ekstrovert, kenapa tidak sebut kata umumnya saja, yang seluruh lapisan manusia mengerti? Misalnya; pemalu. Atau pembangkang. Atau suka bicara. Atau pendiam. Apa salahnya menggunakan kosakata biasa? Kenapa harus memaksakan diri menggunakan istilah2 yang belum sepenuhnya dimengerti?

Kalau tidak benarbenar tau artinya, terlihat keren tidak, menggelikan dan memalukan iya.

Apalagi yang sampai pada level melabeli personaliti orang lain.

'Ih dia itu anaknya ekstrovert’
'Lo kan introvert kan ya jadi..’
'Biasanya ENFP kayak lo tuh…’
'Tapi kan lo INTJ…’

Wey, sotoy amat pak, bu. Ngana sapa? Sigmund freud?

Itu baru personaliti berdasarkan teori Jungian ya. Masih ada lagi yang berdasarkan golongan darah, zodiak, shio, sampai preferensi warna.

Gue tidak mendiskreditkan ilmunya ya. Tidak sama sekali. Gue justru senang mempelajarinya.

Yang mengesalkan itu adalah penganut teorinya. Bukannya melestarikan ilmu, malah menyempitkan makna, peyorasi dimanamana. Mencari tau tidak mau, disalahkan merasa benar. Bangga dengan diri sendiri, lalu melemahkan orang lain.

Penting sekali ya, keberadaan label kepribadian di masa kini?

Memangnya salah, kalau menjadi manusia yang sulit ditebak, tidak terprediksi instrumen tes manapun?

Menjadi misterius itu tidak asik?

Klasifikasi kepribadian berdasarkan ini itu memang baik. Diciptakan masingmasing pencetusnya untuk alasan yang baik. Dengan pehamaman yang baik dan aplikasi yang tepat, bisa sangat menolong interaksi dengan sesama manusia, atau menjadi media mengenali diri sendiri. Jadi alangkah ruginya kalo hal baik tersebut malah jadi terganggu dengan adanya manusia2 yang self-proclaimed seenaknya.

Atau ya sebenarnya sederhana saja;
Barnum effect.

Barnum effect adalah…

Baca ya. Banyak kok di google.

Sebenarnya gue awalnya tidak peduli dengan fenomena ini, karena awalnya memang tidak merugikan gue. Tapi lamakelamaan, pengikut fanatik dari tipe kepribadian ini mulai mengganggu, dengan menjadikan self-proclaimed kepribadiannya sebagai excuse dari misbehavior dia.

Dikitdikit curhat, tidak tau situasi kondisi, berisik, lalu berdalih 'gue kan ekstrovert’. Bukan, lo gatau diri.
Tidak berani tampil, nilainilai sekolah jadi turun karena tidak mengerti tapi malu bertanya, lalu berdalih 'gue kan introvert’. Bukan, lo cemen.
Gontaganti pacar, memberi harapan palsu kemanamana dengan sengaja ; 'gue kan gemini’. Bukan, lo asshole.
Ribet, nyusahin, acuh; 'golongan darah gue kan B’. Bukan, lo rese.

Gue sulit memaafkan orangorang yang misbehave tapi membenarkan diri menggunakan tipe kepribadian yang diyakini, alihalih intropeksi diri dan berusaha menjadi lebih baik. Seolaholah it’s in their blood, irreversible, unchangeable. Padahal sematamata ketidakmampuan dirinya mengontrol tingkahlaku, ignorant terhadap sikap sendiri yang tidak menyenangkan orang lain.

Gue punya temen ekstrovert tapi tau kapan harus curhat kapan harus menahan diri. Gue juga kenal anak gemini tapi setia. Your argument is invalid, kid.

Well, Barnum effect memang sulit dihindari, katakanlah begitu.

Tapi belajar sebelum mengamini sesuatu mentahmentah, tidak sulit, kan.

Atau yaudah, siapsiap aja suatu hari gue tanya;

A maca cih?

Dengan muka suzanna

lagi makan sate

seribu tusuk.

The Way I Lose Her: Happy Hunting.

.

Kehilangan kamu dalam jangkauan tatapan mata bukanlah sesuatu yang terlalu menakutkan.

Tapi kehilangan kamu dalam kuatnya jangkauan hati ketika mencoba berdoa, itulah yang sejatinya paling menakutkan.

.

Gue memantapkan langkah kaki, selayaknya seorang remaja yang umurnya hanya terpaut beberapa tahun dari seorang wanita yang tengah sibuk dengan ponselnya itu.

“Gue nggak boleh keliatan kayak bocah. Setidaknya doi harus ngerasa gue ini umurnya lebih tua dari doi” Gue berucap sembari terus gemetaran memegang 2 botol coca-cola dingin ini.

Nggak bisa dipungkiri, ini adalah awal pertama kali bagi seorang Dimas untuk mendekati wanita tanpa perantara siapapun. Bagi seorang bocah SMP ingusan yang lebih horny ketika melihat game online dengan graphic memukau ketimbang ngeliat wanita, ini adalah pengalaman yang tidak bisa dilupakan begitu saja.

Rasa grogi dan gugup menjalar ke seluruh tubuh. Berulang kali langkah kaki kanan gue terangkat, namun harus kembali diturunkan karena grogi setengah mati. Sudah kering rasanya lidah ini gara-gara terlalu sering menghela nafas mencoba menahan rasa kelu. Mungkin inilah yang disebut cinta, sebuah rasa abstrak yang mampu mengubah seorang pria dewasa menjadi seperti seorang anak kecil di depan guru matematika. Diam dan merasa tak berilmu sama sekali.

Setelah cukup banyak menunda waktu, akhirnya gue berhasil mengumpulkan sedikit demi sedikit nyali gue yang sempat hilang tadi. Dengan langkah pelan namun pasti, gue mencoba berjalan ke arahnya.

Sebelum mendekatinya, kembali gue mengucapkan beberapa kalimat doa mantra yang baru saja beberapa jam yang lalu berhasil gue buktikan keampuhannya.

Doa buka puasa.. Allahuma Lakasumtu..

Gue sembunyikan botol coca-cola yang belum terbuka ini di belakang badan. Sembari so-soan pasang gaya yang cool, gue mendatangi wanita tembem tersebut.

.

“Ngg.. maaf, boleh ikut duduk di sini?” ucap gue dengan suara yang agak diberatkan.

“Oh, ya silahkan”

Dia menatap gue sebentar, kemudian langsung bergeser mentok ke ujung kanan kursi bambu. Busyet, kok kesannya gue kaya kuman gini ye, jauh amat ngegesernya. Tapi gue juga gak bisa bete sih, soalnya gue bisa maklum doi bergeser jauh begini, karena di dalam warnet ini ada kekasihnya yang jelas-jelas sedang asik bercumbu sama keyboard dan mouse komputer.

Gue  taruh botol coca-cola yang sempat gue sembunyikan ini di sebelah kaki kiri. Niatnya sih minuman ini bakal gue kasih ketika sudah bisa ngobrol, anggap saja biar mencairkan suasana.

Sembari meminum coca-cola yang sudah mulai menipis ini, otak gue terus berputar keras mencari-cari topik apa yang paling enak untuk dipakai pembukaan berbicara dengan wanita yang baru dikenal. Gue masih awam dalam hal ini. Kalau di Game Online sih gampang buat ngajak cewe hang-out. Lha ini kan dunia nyata. Salah-salah yang ada dia bisa ilfeel sama gue.

.

Kamu baru ya dateng ke sini? aku baru liat soalnya”

Ah jangan deh, kesannya kok malah jadi sok akrab sih.

“Papah kamu tukang bengkel ya? Karena kamu telah mendempul bolongnya hatiku..”

kalau ngomong gitu yang ada dia bakal teriak-teriak minta tolong.

“Anak warnet juga?”

Hmm bagus nih buat buka topik, tapi kalau dia cuma jawab “engga” doang, terus gue harus nanya apa lagi dong? pfft

“Lagi nunggu pacarnya ya?”

Yah kalau nanya gitu kesannya gue udah kalah duluan dong. Next question deh.

“Sendirian aja, mau minum?”

Nah bagus nih, apa ini aja ya yang gue pake? tapi gue takut dia malah curiga minuman yang gue sodorin ini udah gue kasi macem-macem. Hmm tapi paling bagus yang pertama itu sih, biarpun jadi sok akrab tapi kan emang tujuan gue mau mengakrabkan diri.

Yaudah deh, gue pake pertanyaan yang pertama terus gue sambung sama pertanyaan yang terakhir. Mantap.
Gue meneguk air coca-cola yang terakhir ini, tanda siapnya gue untuk mengajak kenalan seonggok wanita yang ditinggal pacarnya maen Game.

Gue taruh botol yang sudah kosong itu di sebelah kaki kiri, gue ambil botol yang belum terbuka itu, oke saatnya untuk nyap…

BRAK!!

Mendadak pintu warnet terbuka dengan keras. Sontak kita berdua terkejut. Gue terkejut, cewek tembem itu terkejut, coca-cola yang gue pegang pun ikut terkejut. Dengan serentak kita otomatis melihat ke arah pintu warnet yang baru dibuka tanpa kasih sayang itu. Karena tertutup tembok, gue gak terlalu melihat siapa yang keluar, tapi tampaknya cewek tembem yang duduknya agak jauh dari gue bisa melihat langsung ke arah pintu masuk warnet itu.

Dengan sigap dia memasukkan ponsel yang sedari tadi digenggamnya itu kedalam saku lalu kemudian berdiri. Gue heran, ada apa ini sebenarnya. Baru aja gue punya keberanian buat kenalan eh malah ada gangguan. Hidup gue kok gini-gini amat ya Tuhan..

“Udah?”

Mendadak cewek ini bertanya tentang sesuatu yang sekaligus membuyarkan kebingungan gue. Dia bertanya kepada seseorang pria yang kini sedang tampak tergesa-gesa menuju arah parkiran motor. Pria tersebut tidak menjawab, ia hanya sibuk mengeluarkan motornya yang lagi diapit sama motor mirza dan motor gue yang sudah dari kemaren sore nginep di warnet ini. Motor Mirza ini emang kurang ajar, udah parkirnya nggak pernah bener, terus motornya itu dikasih aksesoris berupa mejikjer di tempat duduk belakang. Alhasil semakin makan tempatlah itu motor.

Gue heran sama cowok yang pasang aksesoris mejikjer di motornya. Apa sih motivasinya? Lo mau jualan bandeng presto?! Motor yang dikasih aksesoris gituan malah gak keliatan gagah buat gue, malah makin mirip kaya motor tukang bacang yang tiap pagi lewat di depan rumah.

Sembari ngedumel gara-gara mejikjer motor Mirza, mendadak nih cowok memanggil kearah cewek tembem yang lagi berdiri di sebelah gue.

“Dwi! Ayo!” ucapnya dengan sangat kasar.

Oohh… nama nih cewek Dwi toh.. Pasti doi anak tunggal.

“Cepetan lelet amat sih!” bentaknya lagi

“I..iya..” kata cewek cantik yang bernama Dwi ini sembari mendatangi motornya.

Gue nggak terlalu jelas dengan apa yang mereka bicarakan. Tapi yang jelas gue tau bahwa setelah cukup dekat, Dwi bertanya pertanyaan yang sama seperti apa yang gue pikirkan kalau gue kenal sama tuh cowok.

“KAMU KENAPA?”

Tapi gue ngeliat nih cowok malah marah-marah terus kearah Dwi, ntah kenapa. Yang jelas Dwi kelihatan bersalah sekali siang itu.

Kasihan nih cewek, udah nunggu lama-lama, eh tetep aja kena semprot sama cowoknya. Gue pengen sih bertindak Hero dengan cara muncul dan menyelamatkan Dwi dari cowok yang mukanya mirip Layar Gembot itu. Tapi gue punya prinsip untuk tidak ikut campur dengan urusan orang, selama urusan itu tidak ada sangkut pautnya dengan gue.

So, gue biarin aja mereka berdua melenggang pergi naik motor dengan kecepatan yang terburu-buru meninggalkan gue beserta coca-cola ngutang yang udah terlanjur dibuka ini.

Gue menghela nafas. Pengalaman pertama gue untuk kenalan sama cewek yang gak dikenal kok harus berakhir seperti ini ya, Tuhan jahat..
Tapi yaudah deh, toh hari ini juga gue punya kabar gembira buat emak dan kawan-kawan warnet. Setelah berpikir sejenak, kini gue berdiri dan mulai menutup coca-cola yang baru dibuka ini dengan tutupnya. Berharap bisa gue kembaliin tanpa ketawan yang punya.

BRAK!!

Belum juga gue benerin nih botol coca-cola, mendadak pintu warnet kembali dibuka dengan kasar sekali lagi. Kasian amat nih pintu warnet nasibnya hari ini.

Setelah terbuka, gue mencoba mengintip siapa yang keluar dari pintu warnet yang dihajar habis-habisan siang ini, dan yang gue temukan adalah seonggok mahluk annoying yang udah gue kenal dari lama.

“Ngapain lo? kasar amat buka pintunya” Tanya gue

“Ah kebetulan anak cebong ada di mari, lo liat cowok yang keluar sambil ngebuka pintu kenceng-kenceng gak tadi?” tanya Mirza

“yang mukanya kaya Layar Gembot itu kan?”

“NAH!! IYA!!”

“yang pake jaket jeans sobek-sobek itu kan?”

“BETUL!”

“yang pake sepatu converse coklat itu kan?”

“MANTAP!!”

“Kenapa?”

“Lo liat dia kemana?”

“Nggak tau, gue baru dateng…” Jawab gue enteng.

“AH ANJING, NYESEL GUE NANYA SAMA LO, NAMBAH DOSA AJA!” Jawabnya sambil masuk lagi ke dalam warnet ninggalin gue sendirian di luar.


Hari ini orang-orang pada kenapa sih? Lagi merayakan hari PMS nasional ya? pada marah-marah semua gitu, kok gue nggak dikasi tau sih, jahat amat.

Setelah beberapa kejadian menyebalkan ini, nafsu gue buat main di warnet kembali hilang. Lagian emang niat gue dari awal bukan maen di warnet sih, gue punya beberapa urusan yang lebih penting. Gue harus nyiapin buat upacara pertama di SMA terbaru gue 3 hari lagi. Dan kembali ke rencana awal, gue akan memberitahukan kabar gembira ini kepada Ibu. Malaikat terbaik yang Tuhan kirimkan buat gue.

.

                                                             ====

.

Sabtu.
05.00

Hari ini adalah hari yang paling gue tunggu-tunggu. Bagaimana tidak? hari ini gue akan menginjakkan kaki di SMA favorite gue sebagai seorang anak dengan status SISWA SMA. Dan ini juga sebagai tanda mulainya sebuah ajang mencari jodoh terbesar yang akan gue mulai. Dari para anak-anak baru, sampe kakak kelas dengan celana rok ngetat. Ah, bahagialah mereka yang bisa merasakan masa-masa indah itu di SMA.

Belum juga ibu gue datang mengetuk kamar, gue sudah sigap bangun dari tidur. Nggak ada kotoran mata di mata gue, nggak ada lagi jigong di sekitaran mulut gue. Rambut gue rapih kaya Ronaldo. Semua terasa sempurna. Dengan buru-buru gue langsung menuju kamar mandi dengan perasaan ceria seperti waktu teletubies bertemu vakum cleaner kesayangannya, Nunu.

Pagi itu, shower rasanya seperti air surga. Gue membayangkan bakal bertemu dengan siapa sajakah gue siang ini. Bakal muncul masalah konyol apalagi hari ini?

Sepanjang sejarah yang gue tau, masa SMA adalah masa di mana kita tanpa sadar akan membentuk karakter kita sendiri. Sedangkan masa Kuliah, adalah masa di mana kita akan membentuk karakter kita di mata orang lain.

Selama perjalanan menuju sekolah, gue terus berkhayal tentang indahnya hari ini. Membuat gue tidak menyadari bahwa sekarang gue sudah sampai di depan sekolah baru gue ini. Sebelum berpisah, sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, gue diharuskan mengucap salam terlebih dahulu..

“Ini pak..” kata gue sembari nyodorin 3 ribu sama supir angkot dan melenggang pergi.

.

Dari jauh gue udah melihat kakak-kakak dengan wajah galak dan memakai pita hitam lagi menunggu di depan pintu gerbang. Wah gue tau nih, ini pasti tim keamanan. Tim yang kerjaanya marah-marah mulu mirip kaya cewek ABG yang nggak jadi ditraktir makan di Sushi Tei.

Di sana ada 3 cowok dan 2 cewek. Yang cewek sebelah kiri wajahnya jutek, jerawatnya banyak, pipinya nggak tembem, dan kaos kakinya tinggi sebelah. Bah! NEXT!!

Kalau cewek yang di sebelahnya putih langsat, rambut berponi, wajah keliatan lucu tapi lagi dibuat-buat sehingga terlihat jutek. Ah pas nih, gue nanya sama kakak yang satu ini aja deh..

Gue berjalan pelan sembari tangan memegangi 2 ikat tali ransel yang melintang di pundak gue.

.

“Permisi kak.. Upacaranya di sebelah mana ya?” Gue mencoba sopan bertanya kepada si jutek putih langsat ini.

Belum juga nih cewek menjawab, mendadak kakak cowok nggak jelas di sebelah kanannya ini berbicara.

“WOI!! GAK USAH SO-SOAN AKRAB, LO COWOK NGAPAIN NANYA KE CEWEK. SINI NANYA KE GUE!!” Bentak cowok hitam, besar, dan berdaki ini kearah gue.

“ah tai, padahal kan gue nanya baik-baik, gak usah marah-marah juga keles. Udah item, marah-marah, gendut, bau pula, dasar Liang Got!” gue menjawab ketus di dalam hati.

“I..iya kak..”

“MAU NANYA APA DEK?!”

“Ngg… anu…”

“ANU APA?!”

“Ngg.. itu..”

“ITU APA?! JAWAB yang TEGAS!!!”

“Itu kak anunya kakak… eh salah, itu kak anu aku mau nanya upacarannya di sebelah mana ya?”

“KAN DARI SINI JUGA BISA KELIATAN! TUH JALAN LURUS AJA NANTI ADA LAPANG BASKET. UPACARANYA DI SANA!”

“hoo di sana toh.. oke kak.. Aku permisi dulu kalau begitu.. Teteh Hana.. aku permisi dulu ya..” Ucap gue sambil menengok kearah kakak cewek yang gue sapa sebelumnya tadi.

Sehabis gue sapa, dia mendadak melihat kearah gue, gue senyumin, dia tetep jutek, tapi manis sih.. Dia ngeliatin gue terus tanpa membalas sapaan gue waktu gue pergi.. Tjieee jangan-jangan doi suka sama gue lagi. Hih brondong dong gue.

Walaupun dibentak habis-habisan, gue gak pernah down kalau untuk masalah beginian. Gue bukan tipikal orang yang selalu melibatkan hati jika ada suatu masalah yang menimpa gue, alhasil gue enjoy-enjoy aja walau tadi habis dibentak sama kakak kelas cowok yang kulitnya mirip kaya kenalpot racing.

Gue berjalan riang menuju lapangan basket. Di sana sudah banyak berkumpul anak-anak dengan seragam putih biru dari berbagai pelosok SMP di kota Bandung.

Ada yang datang dengan atribut lengkap. Ada juga yang datang dengan atribut seadanya kaya gue ini. Gue celingak-celinguk, mencoba mencari tempat di mana gue seharusnya berada.

.

“Hei, anak baru ya?” Mendadak seorang cowok berpakaian seragam rapih dengan pita berwarna oren ini bertanya kearah gue.

“Eh iya kak. Ngg.. btw aku harus kemana ya kak?” tanya gue sedikit terkejut

“Oh itu, kamu baris dulu aja bebas pilih di mana. Nanti pas upacaranya sudah dimulai, kalian akan mendapatkan instruksi dari kakak ketua panitia untuk memilih warna. Nah warna yang kalian dapat itu nanti berguna untuk mengelompokkan kalian hari senin nanti…” Dia menjelaskan dengan sangat kemayu dan unyu. Minta di uwuwuwin pipinya, tapi sayang doi cowok.

“Waaa begitu toh. Oke makasih ya kak..”

.

Sembari meninggalkan kakak unyu yang bertanya kearah gue tadi, gue jadi berpikir. Gue itu orangnya paling seneng kalau punya temen cowok yang agak ngondek dan gemulay kaya kakak yang barusan berbicara dengan gue. Kesannya berbicara sama mereka tuh asik, lucu, topik pembicaraan nggak pernah habis, dan kalau diajak curhat pun mereka menanggapi dengan serius. Nggak kayak cowok-cowok yang biasanya.

Gue punya mimpi. Bahwa suatu hari nanti gue harus punya sahabat ngondek. Ya!! itu mimpi gue!

Yah gaes, namanya juga anak muda. Mimpinya masih penuh dengan keluguan. Tapi sebenarnya nggak gitu juga sih, berteman dengan cowok ngondek itu kita juga dapet garansi bakal kenal sama banyak cewek.

Toh cewek juga seneng deket cowok ngondek buat dijadiin temen. Nah inilah salah satu benefit kenapa gue doyan temenan sama cowok ngondek. Noted that boys! Kamus Don Juan Nomer 1 Pasal 1. ‘Selalu bertemanlah dengan teman yang memiliki benefit memperpanjang kebahagiaan kalian.’

.

                                                       ===

.

Gue berjalan kearah lapang basket, mencoba berjibaku dengan anak-anak putih biru lainnya. Dan ntah kenapa, mata gue mendadak tersangkut pada sesosok mahluk putih lucu lengkap dengan topi biru khas anak SMP yang menghiasi kepala mungilnya. Rambut ikalnya keluar dari sisi-sisi topi. Damn! it’s so cute.

“Ah ini dia yang gue cari! dari 1 sampai 10, nilai dia 8.6 buat gue! Sip, sudah gue putuskan. Gue bakal baris di sebelah dia aja” Naluri hewani gue muncul.

Secara perlahan, gue mencoba jalan menghampiri dan baris tepat di sebelah kanannya. Gue turunkan ransel gue di depan kaki gue. Gue lirik kearah lengannya, di situ tertulis
“SMPN 17 BANDUNG”

Haaa, orang Ujung Berung toh. Asik.. kenalan ah siapa tau jodoh~

SEASON HUNTING CABE IS… BEGIN!!!“

"Ngg.. halo.. Kamu dari SMP mana?” Kata gue sembari menjulurkan tangan untuk mengajak kenalan.

Mendengar gue yang menyapa ini, dia sedikit terkejut. Dia menengok kearah gue, melihat secara perlahan dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Maaf. Bisa gak kamu gak usah deket-deket aku?” Jawab cewek ini ketus sembari mengalihkan pandangannya dari gue.

.

WHAT THE FUCK?!?!

.

.

                                                  Bersambung

“hahaha. gaya banget kamu, Kak. jadi udah nih move on-nya? eh tapi bener loh, Kak. kata orang, kita akan lebih mudah jatuh cinta sama hati yang baru kalau kitanya lagi patah hati. semacam, kita pasti akan mencari rumah yang baru kalau rumah lama kita kebakaran. karena sudah tau bagaimana rasanya memiliki rumah–atau paling enggak tau bagaimana kira-kira rasanya memilikinya, kita jadi seakan memerlukan rumah. semacam, kebutuhan kita bertumbuh seiring dengan mendewasanya kita.”

“hahaha. hmm. udah tapi belum, Ca. gimana ya? move on itu sebenarnya nggak pernah udah lagi, Ca.”

“maksudnya, Kak?”

“move on itu proses yang berjalan sepanjang hidup, Ca. meskipun lo suatu hari nanti menemukan rumah lo, dunia lo, lo akan tetap perlu move on.”

“kenapa gitu, Kak? kan kalau udah ketemu, selesai bukan?”

“yang selesai pencariannya, penenemuannya enggak. kata mas gue sih, akan ada banyak banget yang lo temukan setelah lo menikah. lo bahkan jadi lebih kenal siapa diri lo sendiri.”

“terus hubungannya sama move on adalah?”

“adalah, bahwa hati itu terbolak-balik sifatnya, Ca. sebentar-sebentar lo bisa jatuh cinta sama seseorang. besok-besok lo bisa jadi kehilangan perasaan itu, meskipun nggak berarti benci juga.”

“terus kita harus move on kalau kita atau pasangan kita kehilangan perasaan itu?”

“Ca, menurut lo move on kalau dibahasaindonesiakan artinya apa?”

“ng, pindah? melepaskan?”

“menurut gue artinya menerima, Ca. lo menerima kenyataan bahwa segala hal selalu berubah. dan di saat yang sama, lo memberdayakan diri untuk sama-sama berubah dengan keadaan, sama-sama bertumbuh. itu namanya move on.”

“Kak, ilmu kamu terlalu abstrak buat aku kayaknya.”

“di dalam hati setiap manusia, Ca, cuma bisa ada satu nama yang punya tempat paling istimewa. bisa jadi nama itu besok-besoknya jadi jodoh lo. bisa jadi juga enggak.”

“dan hubungannya sama move on lagi adalah?”

“setiap manusia harus menerima, Ca, seperti apapun tempatnya di hati orang lain. meskipun bukan tempat yang paling istimewa.”

“Kak Adit, are you okay?”

“kebalik, Ca. are you okay?”

Jangan pernah samakan dirimu dengan orang lain. Kau hanya akan menemukan kekuranganmu sendiri, kemudian mulai menyalahkan Tuhan atas segala sesuatu yang ada pada dirimu, pun yang terjadi pada hidupmu. Percayalah, pada diri kita ada hal-hal istimewa yang hanya diberikan kepada kita. Hal istimewa yang menjadikan kita pantas untuk dihargai juga dicintai.

Sama halnya sebuah lukisan. Bahkan ketika pelukisnya hanya menorehkan garis-garis abstrak tak berbentuk, akan ada yang menghargai lukisan itu dengan harga paling tinggi, karena lukisan itu mempunyai makna dan arti, dan hanya sebagian yang mampu menerjemahkannya.

Bukankah diri kita juga seperti itu? Tak semua orang mampu menyelami pikiran, hati, juga diri kita. Tapi, akan ada seseorang yang mampu mengerti segala apa adanya dalam diri kita, bahkan tanpa kita jelaskan sekalipun.

—  Selamat senin. Tak perlu untuk selalu mengerti orang lain, sesekali kau perlu mengerti dirimu sendiri.