abady

Provocative ad uses bulletproof posters to challenge gun-control law

(A bulletproof poster featured in a commercial for gun-control advocacy group Americans for Responsible SolutionsARS)
A provocative advertisement is taking aim at federal gun laws with bulletproof posters.

The advertisement, published Thursday morning by gun-control advocacy group Americans for Responsible Solutions, shows people interacting with posters in three cities — New York City, Chicago, and Washington, DC.

Each poster is made from bulletproof Kevlar — with real bullet holes to prove it — and contains an ominous message about gun control.

“This poster protects you because our gun laws don’t,” one poster reads in bold print. “In case of gunfire, hide behind this poster,” another one says.

The advertisement calls on lawmakers to close the so-called “gun-show loophole” that allows some people to circumvent background checks when purchasing firearms.

The launch of the video comes one day before President Donald Trump is due to speak at the National Rifle Association’s annual convention in Atlanta.

Watch the video below:

NOW WATCH: Trump’s approval rating plunged to 35% in just 69 days — here’s how that compares to other presidents



More From Business Insider

Ya Allah, Jika Aku Jatuh Cinta

Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintaiMu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku padaMu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut padaMu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hatiMu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yg merindui syahid di jalanMu.


Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan surgaMu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasihMu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasihMu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepadaMu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasihMu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepadaMu.

Ya Allah, engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu, telah berjumpa pada taat padaMu, telah bersatu dalam dakwahMu, telah berpadu dalam membela syari'atMu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya.

Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal di jalanMu ❤

Sendiri

Pada akhirnya kau akan menyadari bahwa sesungguhnya kau sendirian. Mereka yang mencintaimu tidak selamanya akan selalu ada bersamamu, suatu hari nanti kau akan pergi atau bahkan ditinggal pergi. Kehidupan dan cinta seperti sebuah cerita pendek yang pasti berakhir…

Jangan bicara tentang keabadian disini, ini dunia… bukan surga. Cuma tempat persinggahan sementara, dimana segalanya terlahir hanya untuk pergi berpulang.

-SatriaUtama

HARGA KESABARAN

“Sabar itu mahal ya?”

“Ah, kata siapa? Emang ada harganya?”

Ada barang yang tidak nampak bentuknya, tapi bisa memiliki harga. Namanya kesabaran.

Baru kemarin sore saya mendengar sebuah aplikasi pemutar musik online. Begitu senangnya kita bisa memutar lagu secara gratis dan mudah. Namun, setiap kali beberapa lagu selesai, selalu saja ada jeda beberapa detik berupa iklan dari aplikasi tersebut.

“Ah, sudah tunggu saja, cuman beberapa detik”. Beberapa kali, saya berpikir seperti itu. Tapi lama-lama, saya cukup jengah mendengar iklan ketika kita sedang menikmati alunan musik tersebut. Tidak hanya saya, sebagian teman di kantor pun merasakan hal itu, hingga akhirnya, beberapa dari mereka membeli aplikasi tersebut.

Namun sebenarnya, apa yang kita beli? Apakah aplikasinya? Bukan, toh lagunya tetap bisa kita nikmati, tetap bisa kita putar. Ternyata, kita itu sedang membeli waktu. Membeli waktu yang tidak ingin kita sia-siakan untuk menunggu sesuatu yang kita inginkan, membeli waktu yang tidak bisa dihapadi oleh kesabaran kita. Uang yang kita keluarkan, adalah harga kesabaran kita

Tak hanya itu, dulu pun saya pernah bermain sebuah permainan di Handphone. Permainan itu sungguh menarik. Hingga akhirnya saya berada di sebuah kondisi dimana saya harus mengalahkan lawan yang kuat, namun skill saya stuck pada level tersebut. Di satu sisi, meningkatkan level agar bisa melawan musuh yang kuat itu memakan waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya, saya membeli barang-barang yang dijual di game tersebut dengan uang sungguhan. Karena ketidak sabaran saya, maka saya harus mengeluarkan dana hanya untuk sebuah hal yang sebenarnya bisa dilewati dengan kesabaran.

Jika merenungi hal ini, tanpa disadari, seringkali kita harus mengeluarkan sejumlah biaya hanya karena ketidaksabaran kita.

Seperti para pembuat SIM yang tidak sabar untuk belajar motor namun ingin segera berkendara sehingga harus bayar kepada “oknum”.

Seperti para “Penjilat” yang tidak sabar menanti admininstrasi namun ingin segera selesai sehingga harus bayar kepada “petugas nakal”

Namun tidak hanya tentang uang, terkadang harga sebuah kesabaran bisa menjadi hal yang lebih mendasar.

Seperti para “Koruptor” yang tidak sabar menjalani proses namun ingin segera kaya sehingga menjual kejujurannya.

Seperti para “Calon Wisudawan” Yang tidak sabar mengerjakan skripsi namun ingin segera lulus sehingga menjual integritasnya dengan memalsukan data

Seperti para “Pasangan” yang tidak sabar menjaga diri namun ingin segera melakukan hubungan sehingga melakukan zina sebelum saatnya.

Seperti banyak orang lainnya yang ingin mencapai keinginannya dengan segera, sehingga menjual sesuatu yang bahkan tak bisa dibeli dengan uang sekalipun.

“Sabar itu mahal ya?”

Ya, memang mahal. Karenanya, sungguh ganjaran luar biasa, bagi mereka yang memiliki kesabaran yang sangat besar.

Bersiaplah wahai orang yang sangat sabar, karena Tuhanmu akan membeli kesabaranmu, dengan kenikmatan yang abadi dan takkan pernah bisa dibeli dengan uang sekalipun.


HARGA KESABARAN
Purwokerto, 5 September 2017

Everyone's comparing Trump to Richard Nixon and the 'Saturday Night Massacre' — here's what happened then

(The New York Times front page on Oct. 21, 1973Wikimedia Commons)
Democratic lawmakers quickly came up with a nickname for President Donald Trump’s unexpected firing of FBI Director James Comey — the “Tuesday Afternoon Massacre.”

The grim-sounding moniker is a reference to the “Saturday Night Massacre” on October 20, 1973, when then-President Richard Nixon fired special prosecutor Archibald Cox amid Cox’s investigation into the Watergate scandal.

Critics of Trump instantly drew parallels between Cox and Comey, who was leading an investigation into possible ties between Trump and Russia. 

Here’s what happened during the “Saturday Night Massacre.”

Cox had been appointed by Attorney General Elliot Richardson in May 1973 to investigate the break-in of the Watergate office complex one year earlier.

In July 1973, Cox issued a subpoena to Nixon, asking the president to turn over recordings of conversations between Nixon and White House officials that were taped in the Oval Office.

Nixon demurred, instead offering Cox a compromise in which Sen. John Stennis would review the tapes and issue a summary for Cox’s office.

But when Cox turned down the compromise, the president ordered Richardson, his attorney general, to fire Cox. Richardson refused and resigned in protest, as did Deputy Attorney General William Ruckelshaus. Solicitor General Robert Bork, who was next in line in the Justice Department, followed through with the firing, completing the “massacre.”

The dismissal contributed to the public’s growing distrust in Nixon, and calls to impeach the president immediately intensified. When the Watergate tapes were made public in August of the following year, including one in which Nixon told officials to ask the FBI to stop the investigation, his support all but disappeared. He resigned in disgrace three days later.

For 44 years, the Saturday Night Massacre was the only time a president has fired the person leading an investigation bearing on him, according to The New York Times.

That all changed with Comey’s firing on Tuesday, and for Trump, the Nixonian comparisons may be just beginning.

NOW WATCH: Watch Sally Yates go toe to toe with Ted Cruz over Trump’s immigration ban



More From Business Insider
gagal atau tumbuh

Alfin

gagal atau sukses nggak selalu bisa dilihat dari luar. Apakah kelak kita berakhir di tempat tinggi ataupun di tempat rendah, yang terpenting adalah wajah kita selalu menghadap kepada-Nya.

gue mengawali kisah ini dengan guyonan di situs 9gag yang dibagikan temen gue hari ini:

I really think love is not based on effort. Don’t you think so?

Then what is based on?

You want something from a person. Maybe you have expectation. I work with blood sweat and tears to reach to your expectation and then suddenly someone else just came by and has that thing you’ve been looking for. So you go with them instead.

Apa yang ditulis di 9gag berbicara tentang kisah cinta. Dari kisah tersebut kita belajar bahwa sekalipun kita menilai diri kita layak mendapatkan sesuatu, penentu utamanya tetap Allah yang merekayasa takdir dan membolak-balikkan hati.

Gue nggak pengen tenggelam dalam topik cinta dan melankolianya. Hari ini gue pengen berbicara tentang takdir. Tempo hari, sewaktu gue ikut kajian Majelis Jejak Nabi di Al Falah, gue menyimak kisah tentang laki-laki yang berjuang keras untuk sebuah kedudukan. Namun ketika apa yang diinginkan begitu dekat, Allah menunjukkan bahwa dia tidak ditakdirkan untuk menempati kedudukan tersebut meskipun dia menilai bahwa dirinya layak.

Abdullah bin Ubay selangkah lagi menjadi raja di Madinah yang menguasai bani Aus dan Khazraj andai Rasulullah tidak hijrah. Tapi hijrahnya Rasulullah adalah kenyataan yang memberikan Abdullah dua pilihan, mempertahankan keinginan menjadi raja atau mengabdi dengan pengabdian terbaik.

Abdullah bin Ubay laki-laki yang cerdas dan punya kemampuan leadership yang baik. Andaikata Abdullah memilih menggunakan kemampuannya untuk mengabdi, mungkin hari ini kita mengenalnya sebagai sahabat utama yang namanya sering disebut dalam sejarah. Seperti Umar bin Khatab, Abu Bakar Ash Shiddiq, Ali Bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Saad bin Muadz, Saad bin Abi Waqqash dan sahabat-sahabat lainnya.

Sayangnya Abdullah memilih menjadi munafik. Akhir yang gue tangisin. Berjuang begitu keras, cita-cita tidak tercapai dan meninggal dalam kondisi munafik. 

Ambisi di satu sisi dapat menumbuhkan kita menjadi orang yang kuat, agile dan persistent. Namun di sisi lain bisa membuat kita menjadi buta seolah hidup kita hanya apa yang tentang kesuksesan materi kita kejar.

Mushab bin Umair, laki-laki parlente yang dikenal dengan gaya berpakaian yang menarik serta tubuh yang selalu wangi harus meninggal dalam kondisi memprihatinkan. Bahkan kain kafan yang ada pun tak cukup menutupi tubuhnya. Namun kelak di surga, Mush’ab dapat berjalan dengan tegak karena beliau meninggal sebagai syahid.

Tidak semua kegagalan dan keberhasilan itu menumbuhkan. Pada akhirnya mentalitas kita yang menentukan ke arah mana kita hendak berjalan. Tempat, kedudukan, harta dan segala sesuatu yang ada di dunia ini tak abadi. Allah yang menitipkannya kepada kita. Kadang dititipkan sebagai hasil dari ikhtiar, kadang ujug-ujug datang hingga kita terkaget-kaget.

Gue pernah nganggep diri gue gagal ketika laporan cash flow perusahaan gue turun dan nganggep diri gue tumbuh ketika gue bisa menyelesaikan krisis itu lalu cash flow gue sehat lagi. Gue menertawakan anggepan gue yang ngebuat hidup gue hanya sesederhana garis di grafik cashflow.

Nyatanya nggak gitu.

Manusia di sebut gagal ketika apa yang dititipin Allah ke dia sama sekali nggak bisa dikonversi ke kebaikan. Di sebut berhasil ketika yang dia punya dapat dikonversi ke kebaikan sebanyak mungkin. 

Lagi-lagi gue bikin definisi yang suka gue salah-salahin sendiri.

“Harta yang baik adalah harta yang banyak dan berada di tangan orang shalih. Akal yang baik adalah akal yang jernih dan menempel di kepala orang shalih. Jasmani yang baik adalah jasmani yang kuat dan menjadi milik orang shalih“

pada akhirnya yang paling utama ditumbuhkan adalah kesalihan yang memahami bahwa harta, akal dan jasmani adalah amanah sekaligus alat untuk menunaikan amanah kita sebagai manusia.

4

The Necklace-MacGuffin Idiot Ball: the mountain C (19/20)

So, yeah. Thranduil’s gems had the potential to progress conflict among the Dwarves, and internal conflict among individual Dwarves (like Fili and Kili). Go figure.

Of course, that requires using said gems, not just dropping a line about them here and there.

Aku Cantik Loh!

Ning, aku kok suka gemes sendiri ya kalau lihat ada foto cwek selfie berjilbab semuka-muka, dicantik-cantikin, terus tulisan di bawahnya misal gini;

“Jilbab adalah bla… bla… bla… karena kecantikan kita mestinya hanya untuk yang halal nanti.”

Atau, mungkin tulisan lain cem ini; “Yang cantik adalah yang menjaga auratnya, bla… bla … bla…”
Yang terpampang foto dia semuka-muka, disenyumin, dikalem-kalemin.

Atau misal lain; “Bersyukurlah kita diberi kecantikan, karena bla … bla … bla …”

Aku kok ya suka kesel kalau lihat yang begituan ya, Ning. Itu tuh maksudnya biar apa? 

Dia cem mau kasih tahu ke orang-orang buat berpakaian yang baik, tapi kok malah jatuhnya kek mau pamer bahwa, “kayak gini loh semestinya orang cantik”, “aku ini loh cantik”.

Bukan, Ning, bukan karena mereka enggak cantik, cantik-cantik saja padahal, tapi entah kenapa kok jatuhnya malah jadi ndak menarik.

Duh, Ning, kok pikiranku jahat banget, ya, Ning.

Kalau ndak pakai foto dia sendiri malah pesan tulisannya lebih nyampai dengan tenang. ‘Kan bisa saja pakai foto animasi wanita berjilbab, atau foto orang lain tapi yang enggak semuka-muka menuhin layar. Kalaulah pakai foto sendiri, mungkin bisa yang jangan close-up begitu, kasih jarak, sedikit disamarkan kecantikannya, biar enggak gedean menonjolkan kecantikan rupa.

Sayang, ah, bila nanti ada yang tertarik padamu, tapi mereka tertarik  lebih berat karena kecantikan rupamu, bukan kecantikan pikiranmu. Cantik rupa tidak abadi, perawatannya pun mahal. Tapi cantik hati, cantik pikiran, bisa abadi, tergantung bagaimana kau mengolahnya.

Ya, Allah, Ning, kok aku gini amat ya, padahal kan itu urusan mereka ya. Duh, Ning, otakku kok nakal ya.

SAATNYA JATUH CINTA LAGI

👤 Dr. Syafiq Riza Basalamah

Seiring makin bertambahnya usia pernikahan… Kedewasaan dan juga anak… Kita makin menyadari bahwa ada hal-hal yang tetap sama, dan ada hal-hal yang tak terelakkan untuk berubah…

Ada hal-hal yang harus diucapkan, dan ada yang cukup disimpan dalam hati saja… Kita pun jadi belajar untuk mengartikan bahwa makna romantisme itu sendiri sangatlah luas…

Romantis tidak hanya soal bunga, candle light dinner (baik di resto ternama atau yang insidentil karena mati listrik), sekotak cokelat mahal, atau kartu ucapan “I Love You” yang sengaja ia tinggalkan di meja sebelum berangkat kerja…

Romantisme tidak cuma soal itu, ternyata…

For some people…

✔ Romantis adalah ketika seorang istri berletih-letih belajar memasak di awal pernikahan mereka, demi menciptakan menu yang disukai suaminya, meskipun ia sendiri tidak menyukainya…

✔ Romantis adalah ketika seorang suami telaten merawat istri dan anak-anaknya yang sedang sakit, mengambil alih semua tugas rumah tangga yang sanggup ia kerjakan…

✔ Romantis adalah ketika seorang suami dengan sigap mengganti popok si kecil yang terbangun tengah malam, saat sang istri terlelap karena kelelahan…

✔ Romantis adalah saat sepasang suami istri bahu membahu merapikan rumah dan memandikan anak-anak ketika mereka sedang digegas waktu untuk pergi ke majlis ‘ilmu di suatu pagi…

✔ Romantis adalah saat seorang suami membangunkan istrinya untuk Sholât Malam dengan lembut, dan memerciki wajahnya dengan air ketika matanya masih ingin terpejam…

✔ Romantis adalah kerelaan seorang suami untuk menahan emosi ketika mendapati istrinya tengah marah, berlapang dada untuk mema’afkan dan memberi udzur ketika sang istri bersalah…

✔ Romantis adalah ketika seorang suami berkata pada istri tercintanya: “mencari nafkah itu tanggung jawabku, tugasmu adalah mengurus rumah dan mendidik anak-anak kita”…

✔ Romantis adalah ketika seorang suami meminta sang istri untuk menutup aurot secara sempurna, sebagai bentuk penjagaan atas hartanya yang paling berharga…

✔ Romantis adalah ketika seorang suami atau istri menolak permintaan pasangannya yang tidak sesuai syari’at dengan cara yang penuh hikmah…

Karena *cinta tidak berarti selalu menuruti keinginan orang yang dicintainya*, terlebih jika keinginannya bertabrakan dengan rambu-rambu syar‘i…

Itulah cinta karena الله yang sejati dan abadi !!…

✔ Romantis adalah ketika seorang suami menundukkan pandangannya ketika ia tak sengaja berpapasan dengan lawan jenisnya saat jalan dengan sang istri, dan mengeratkan genggaman tangan mereka lebih erat lagi…

✔ Romantis adalah saat seorang suami bersedia untuk mendengarkan cerita istrinya yang panjang lebar tak beraturan dan tak penting itu, sampai tak sengaja ketiduran…

✔ Romantis adalah kesabaran seorang suami ketika sang istri menyambutnya di pintu dalam keadaan kacau balau, belum sempat mandi apalagi berhias, rumah berantakan tak berbentuk dan tak ada makanan tersaji di meja… Lalu sang suami berkata: “Nggak apa-apa, malam ini kita makan di luar yuk ?”…

✔ Romantis adalah *kesediaan seseorang untuk menerima diri pasangannya seutuhnya, lengkap dengan segala kekurangan, kelebihan dan masa lalunya, tanpa banyak mengatur dan meminta*…

✔ Romantis adalah saat memandang wajah seseorang yang kita cintai dalam lelapnya setelah seharian penat bekerja, dan sejenak menyadari, telah menghabiskan tahun-tahun penuh bahagia bersamanya, seseorang yang الله pilihkan untuk menemani pahit manis perjalanan hidup ini…

✔ Romantis adalah ketika sepasang suami istri *saling mengingatkan dan menguatkan dalam kebenaran dan kesabaran*, karena mereka tidak hanya menginginkan kebersamaan di Dunia saja, melainkan hingga ke Jannah-Nya…

✔ Romantis adalah ketika engkau melihat kedalam matanya di sela-sela obrolan santai kalian, dan menemukan masih ada cinta di sana… cinta yang sama seperti saat pertama kali bertemu dahulu…

Dan yang romantis adalah saat seorang suami memasangkan helm ke kepala istri tercintanya ketika mereka hendak bepergian dengan motor…

Ternyata banyak hal-hal romantis yang dilakukan pasangan, yang terkadang luput dari perhatian kita… Betapa sering pasangan berbuat baik kepada kita, tapi tak pernah puas kita untuk terus menuntut lagi dan lagi ?… Bahkan meminta sesuatu di luar kadar kesanggupan pasangan kita…!

Astaghfirullôh… Adakah kita seperti itu terhadap istri atau suami kita selama ini ?… Terlebih-lebih kita, *para istri yang tabiatnya adalah sering mengkufuri kebaikan suami*…

“Dan aku melihat neraka, maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat *kebanyakan penduduknya adalah kaum perempuan*.

Shohâbat pun bertanya: “Mengapa (demikian), wahai Rosûlullôh sallallaahu alaihi wa sallam?… Beliau sallallaahu alaihi wa sallam menjawab: “Karena kekufuran mereka”…

Kemudian ditanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allôh?”… Beliau sallallaahu alaihi wa sallam menjawab: “Mereka kufur terhadap suami mereka, *kufur terhadap kebaikan-kebaikannya*…

Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang, kemudian ia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak ia sukai), niscaya ia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikit pun kebaikan pada dirimu!” [HR al-Bukhôrî no 105].

Seperti yang dituturkan dalam syair indah berikut ini…

“Kulihat kaum laki-laki memukul istri mereka… Namun tanganku lumpuh untuk memukul Zainab… Zainab adalah Matahari, sedang perempuan lain adalah bintang-bintang… Jika Zainab muncul, tak akan nampak lagi bintang-bintang…” [Siyar A‘lâm an-Nubalâ’ IV/106].

Banyak sisi baik dari pasangan yang membuat teduh hati ketika kita memandangnya, atau mungkin saat sekadar mengingatnya…

Jujurlah pada diri sendiri… Pasangan kita saat ini, betapa ia begitu berjasa mendampingi kita sejak bertahun-tahun lamanya…

Dia lah tempat kita mencurahkan rasa… Dia lah seseorang yang paling mengenal dan mengerti, siapa dan bagaimana kita sesungguhnya, dan memilih untuk tetap tinggal dan terus mencintai kita, setelah semua yang terjadi…

Cinta yang dulu mekar di awal-awal pernikahan, bisa pudar seiring berlalunya waktu… Ia bisa berubah menjadi layu sebelum akhirnya mati dan musnah…

Maka rawatlah cinta itu agar selalu berkembang dan terawat… Siramilah perasaan itu dengan hal-hal yang romantis dan penuh makna, namun sederhana…

Sederhanakanlah !!…

Seperti membukakan pintu mobil untuk istri tercinta bagi yang punya mobil, atau memasangkan helm ke kepalanya ketika hendak bepergian dengan motor… Atau merapikan anak rambut yang ‘mengintip’ dari balik jilbabnya dengan tatapan penuh kasih-sayang…

Ungkapan cinta yang terlihat remeh, kecil dan sepele, tapi penuh makna… Setidaknya bagi dirinya, seseorang yang kita cinta…

Aku cenderung sulit melupakan kamu. Untuk seseorang yang telah dilukai beberapa kali. Luka pemberian kamulah yang abadi.
Semuanya jelas terpampang dalam dasar relung hati.

Meminta diobati. Meminta disinggahi oleh pribadi yang bisa memulihkan luka pada diri, tanpa ada niat untuk pergi dan menyakiti.

—  Arief Aumar Purwanto
Ada Luka

Ada luka di hati yang barangkali sengaja Dia ciptakan tidak untuk dihilangkan, sembuh tetapi meninggalkan bekas yang dalam. Luka itu selamanya berdiam di sana, terpatri dalam hati hingga menjadi prasasti.

Luka itu beku dalam kebisuan, perlahan menjelma menjadi pengingat batin. Tanpa suara ia berteriak lantang, tanpa menyentuh ia mengingatkan begitu keras, dan tanpa untaian kata ia menjaga dengan sepenuh kelembutan. Untuk berhati-hati menjaga hati.

Maka mungkin benar, luka-luka abadi itu hadir sebab kelalaian diri menjaga batin. Tidak ada yang perlu disalahkan, ini urusan pada sekeping hati. Yang terbaik hanyalah segera bersujud kembali.

Jika nanti Tuhan menegurmu hingga isak pada air mata, boleh saja ia nantinya berusaha membasuh hati yang sudah terlanjur begitu keras pada dunia.

Sebab, luka itu memang sebagai pengignat, bahwa Tuhan di atas sana juga Sang Maha Pencemburu.

Bogor, 22 Agustus 2017 | Seto Wibowo @kaoskakicadangan