a.a miline

Pilihan Kata

“Pilihan kata bisa menjadi pertaruhan bagi keunggulan puisi,” begitulah kata Hasan Aspahani.

SESUNGGUHNYA tidak ada kata yang tidak puitis. Semua kata berhak menyusun komposisi puisi. Semua kata berhak ikut serta dalam membangun sebuah puisi. TAPI, puisi bukan sekadar menyusun kalimat dengan kata-kata yang aneh. Kita harus sekaligus menyusun batu-batu bagi jalan setapak agar pembaca bisa sampai pada makna. Tidak, kita tidak mengarahkan. Kita sedang menulis puisi. Biarlah petunjuk itu jadi semacam saran halus, semacam bisikan. Orang kelak boleh mengambil makna yang kena bagi dirinya sendiri. Bukan makna yang kita kalengkan jadi instan dalam puisi kita. Kiranya, dengan demikian puisi kita jadi lebih nilainya, upaya kita memilih kata-kata tidak sia-sia jadinya. (Hasan Aspahani, 2004).

KALAKANJI: yang lekat itu menusuk jantung puisi ini
Pada sebuah padang yang ramai ilalang, ada yang bersembunyi, ada yang takut menghakimi
Akulah geram yang menjadi duri, memintal kata-kata yang tak terkatakan
Menjadi diam, menjadi sunyi yang paling puisi, sambil mereka-reka letak terbit matahari

@narasibulanmerah

SENANDIKA: merapal janji-janji sejak riuh dikumandangkan semalam
Perihal ingin yang mengalun lewat imaji kesabaran, pun harus yang melenggang pada serpih kemauan
Sebab takdir serupa angin di padang pasir; penuh tabir hingga akhir
Hilang dalam genggaman, membayang meski diabaikan

@aporsiapsika

RENJANA: kuberikan nama itu pada setiap lapis hati yang nyaris mati
Agar aku teringat, agar aku tak membiarkan satu-satunya
Hati yang kumiliki mati tersayat pedih hanya karenamu
Aku akan baik-baik saja, berharap Tuhan merengkuh menyembuhkan luka

@bintang2malam

HIERARKI: semakin tinggi, membuat nyawa terbawah berangsur pergi
Tak kuhirau lagi dengan anomali negeri ini
Sayat di hati belum mengering, panas sesekali terguyur ego para menteri
Aku tak apa, memaku diri di sini saja, Tuhan lebih tahu bagaimana mestinya

@ayisafarillah

SERUYUK: pelan melewati malam,
tersadar bahwa pernah raga menjadi lebih hitam
Namun Tuhan tak pernah ingkar perihal memaafkan
dalam dada penuh kesabaran

@menatapmu

NAHAK: daku, mencari kembali jati diri yang telah lama mati
berbekal sebuah niat yang kurapal setiap hari di bulan suci
Daku melatih diri lagi, menjadi penerima segala kehendakNya
Dalam rapalan doa malam kuharap; matilah daku tanpa dendam

@tentangkamudanrindu

SEPAI: kalbu atas prasangka yang terbentuk sendiri
perihal kau yang tak pernah memberi makna
perihal sabar yang kutanam untuk melapangkan
perihal kau, sang pemicu detak jantung

@nurulfadhilahkdr

LAKUNA: menyebar cemas menyesak panas
Merapal tabah di sekujur kesabaran
Hingga tak lagi angin berselimut dingin
Undang sunyi dengan seribu lilin

@menuliskan

KELINDAN: kita lalui gersang yang menyengat
menjemput satu tujuan surgawi dalam genggamanNya
membisikkan puja-puja asma di tiap malam
berharap hidayah akan datang

@pemudabiasa

BUMANTARA: khayal menjemput asa
Menanti sejumput keinginan yang terlampau hampa
Malam mencapai puncaknya
Diatas sajadah ini, munajat bertalu dalam air mata

@epicsymphony

KONSTELASI: ampunan di bulan ini mengacak ke segenap penjuru: langit dan bumi, barat dan  timur
Amarah lintuh, koyak oleh sabar yang berpendar
Lalu Ar-Rayan terbuka lebar, bebas untuk dimasuki
Hanya dan jika hanya takwa kauraih

@krisanyuanita

SAUJANA: hamparan ombak yang setia
pada kebisuan karang di pesisir pantai
meski tubuhnya dihempas setelah rindu
ia sampaikan berulang kali: selalu kembali

@jemarikanan

JODONG: dirinya oleh bibir-bibir keji Quraisy. Perihal nubuat keesaan Allah Tuhan semesta alam yang ia sampaikan. Sebagai lentera pada gelap kejahiliyahan, yang tak pernah padam membakar kebatilan.

@ranauliya

KONFRONTASI: di kepalanya mendadak bisu, arogansinya mati kaku
Sepasang matanya basah, merebakkan butiran sendu
Jemarinya memilin-milin rosario  tua, menahan rindu
Ia menunggu sujudnya layak menemuiMu

@mengukirkenangan

SWASTAMITA: sore itu, lenganku jadi pekarangan rumah yang menampung sulur-sulur resah
: langitmu, seluruh kejutan yang kita temukan di ruas-ruas jalan itu
telah hidupkan apa yang tak bisa kita redam
yang sempat buat percaya kita padam.

@rintikkecil

Selamat sore. Selamat menikmati rajutan kata dari teman-teman Kelas Puisi! :)

     Roger Bannister’ın hayali, bir mil koşusunda dünyanın en hızlı adamı olmaktı.  O dönemde bir milin dört dakikanın altında koşulamayacağı düşünülüyordu. Hatta çeşitli dergilerde bunun mümkün olmadığı, insan vücudunun buna dayanamayacağı yazılıyordu. 

    Tüm bu önyargılara rağmen Roger Bannister, 1954 yılında bir mili dört dakikanın altında koşarak inanılmazı başardı. İşin asıl ilginç yanı bu rekordan sonraki iki yıl içinde, tam 213 atlet daha bir mili dört dakikanın altında koştu. 

Ne değişmişti ? …

Kafalarda oluşan engelin kalkması dışında hiçbir şey.