Ya Nabi

#Kisah Para Nabi 14: Kisah Nabi Ya’qub as

Sebagian ulama berkata, “kisah adalah sebagian dari tentara Allah yang diturunkan ke bumi”. Dan bukankah lebih dari separuh ayat Al Qur’an diturunkan dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu?. Kali ini saya akan mencoba mencuplik kisah dari Para Nabi sebelum hadirnya Rasulullah saw. Apa yang akan saya sampaikan disini hanya berupa ringkasan, tentunya karena keterbatasan pengetahuan saya mengenai hal ini. Oh iya, literatur yang saya gunakan untuk menulis ringkasan ini adalah “Kisah Para Nabi” karya Ibnu Katsir. Selamat membaca :)

Bismillah :)

Dalam buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, bagian nabi Yaqub ini include kedalam bab Keturunan Ibrahim bersama dengan kisah Nabi Ismail dan Nabi Ishaq as.

Dalam suatu riwayat dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw pernah ditanya, tentang siapa manusia yang paling mulia, Rasulullah menjawab, “orang mulia, anak orang mulia dan anak orang mulia adalah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim”

Berita kelahiran Ya’qub datang bersamaan dengan berita kelahiran ayahnya, Ishaq. “Maka kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya’qub” (QS. Al Huud: 71). Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, berita gembira ini disampaikan langsung oleh para malaikat kepada Ibrahim dan Sarah, ketika mereka mampir ditempat keduanya saat hendak menuju Madain tempat kaum Luth.

Disebutkan saat berusia 40 tahun, Ishaq menikahi Rafiqa binti Batwabil. Dari istrinya, Ishaq mendapatkan dua anak yang kembar. Anaknya yang pertama bernama Aish, yang kemudian oleh bangsa Arab disebut sebagai Aish nenek moyang bangsa Romawi. Anak keduanya bernama Ya’qub. Beliau inilah Israil, yang menjadi asal usul nasab Bani Israil.

Dikisahkan bahwa hubungan antara Aish dan Ya’qub kurang baik, hingga akhirnya Rafiqa meminta kepada suaminya, nabi Ishaq untuk menyuruh Ya’qub pergi ketempat saudaranya, Laban di Haran. Setibanya Ya’qub di Haran untuk bertemu dengan pamannya, Yaqub meminta kepada pamanya agar menikahinya dengan putri bungsunya. Paman Ya’qub memiliki dua orang putri, yang satu bernama Laya dan adiknya bernama Rahil. Disebutkan bahwa Rahil memiliki wajah yang lebih cantik dari kakaknya.

Pamannya menerima permintaan Ya’qub dengan syarat Ya’qub harus menggembalakan kambing miliknya selama 7 tahun. Setelah batas waktu tersebut berlalu, Pamannya Laban membuat jamuan makan, mengundang orang-orang untuk makan dan menikahkan Ya’qub dengan putri sulungnya, Laya. Laya memiliki pandangan yang lemah, dan wajahnya tidak secantik Rahil. ‘Menikahkan anak perempuan yang lebih muda sebelum kakaknya, bukanlah tradisi kami. Jika kau ingin menikahi adiknya, silahkan kau kembali mengembalakan kambing selama 7 tahun’, jawab Paman Laban ketika Yaqub protes akan keputusannya menikahkanya dengan Laya.

Ya’qub kembali mengembalakan kambing selama tujuh tahun, dan setelah itu ia dinikahkan dengan Rahil, adik dari istrinya. Saat itu menikahi dua wanita bersaudara lazim dilakukan. Namun kemudian aturan ini dihapus oleh syariat Taurat. dalam Tarikh Ath Thaari, disebutkan ‘Ya’qub menikahi dua wanita bersaudara’. Itulah maksud dari firman Allah dalam QS. An Nisaa’:23, “Dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi di masa lampau”.

Setelah menikahkan Ya’qub dengan Rahil, Laban kemudian menghadiahkan masing-masing budak perempuan kepada putrinya. Laya diberikan seorang budak bernama Zulfa, sementara Rahil diberi seorang budak bernama Balha.

Allah menghibur kelemahan fisik Laya dengan memberikan sejumlah anak yang lahir dari rahimnya. Ia adalah istri pertama yang melahirkan anak untuk Ya’qub. Anak-anaknya bernama Wabil, Syam’un, Lawai dan Yahudza. Karena cemburu belum bisa memberikan anak untuk suaminya, maka Rahil menyerahkan budak wanita miliknya untuk digauli Ya’qub. Balha kemudian hamil dan melahirkan anak yang diberi nama Nifatali. Laya kemudian juga menyerahkan budak miliknya, dari Zulfa lahirlah anak nabi Ya’qub yang bernama Jad dan Asyir. Setelah itu, Laya kemudian hamil dan melahirkan tiga anak, yang diberi nama Esakhar, Zablun dan Dina. Dengan demikian, Laya memiliki tujuh anak dari Ya’qub.

Rahil kemudian berdoa kepada Allah, memohon agar diberikan anak dari Ya’qub. Allah mendengar dan mengabulkan doanya. Rahil akhirnya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki agung, mulia, tampan yang diberi nama Yusuf. Dan dikemudian hari, Rahil juga akan melahirkan seorang anak yang diberi nama Bunyamin.

Dalam kitab Shahihain, Imam Bukhori menuliskan dari Abu Dzar, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, masjid apa yang pertama kali dibangun?’, ‘Masjidil Haram’. Jawab beliau. ‘Setelah itu masjid apa?’ tanyaku lagi. ‘Masjidil Aqsha’. Jawab beliau. ‘Berapa jarak pembangunan kedua masjid itu?’ tanyaku kembali. ‘Empat puluh tahun.’ Jawab beliau. ‘Setelah itu masjid apa lagi?’. ‘Setelah itu dimanapun kamu menjumpai waktu shalat, kerjakan (shalat tersebut), karena seluruh (bumi) adalah tempat shalat.’ Jawab beliau”

Menurut riwayat diatas, yang membangun Masjidil Aqsha adalah nabi Ya’qub, 40 tahun setelah Ibrahim dan Ismail membangun Masjidil Haram. Sebelumnya dikisahkan, saat perjalanan Ya’qub menuju kediaman pamannya di Haran. Ya’qub tertidur diatas ebuah batu, dalam tidurnya ia bermimpi melihat sebuah tangga yang terpasang dari langit ke bumi. para malaikat turun melalui tangga tersebut, Rabb Tabaraka wa Ta’ala berbicara kepadanya, Ia berfirman, ‘Sungguh Aku memberkahimu, memperbanyak keturunanmu dan Aku jadikan bumi ini untukmu serta keturunanmu sepeninggamu nanti’.

Saat terbangun Ya’qub merasa senang dengan mimpinya tersebut dan bernazar kepada Allah jika ia kembali pulang ke keluarganya, ia akan mendirikan sebuah tempat ibadah untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Ya’qub kemudian menghampiri batu tersebut, lalu ia beri tanda dengan minyak, ia memberi nama tempat tersebut sebagai Bait Eil, yang berarti Baitullah. Kelak diatas tempat ini, nabi Ya’qub membangun Baitul Maqdis.

Menjelang kematiannya, nabi Ya’qub mengumpulkan anak-anaknya dan berwasiat kepada mereka. “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Mahaesa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 133).

youtube

Beautiful Anasheed ♡

Bismillah'hir Rahman'nir Raheem

The Manners and Haya of the Prophet of Allah (SalAllahu Alaihi Wa Aalihi Wassallam).

The Noble Prophet (SalAllahu Alaihi Wa Aalihi Wassallam) never spoke at the top of his voice. In public, he would walk composedly, always with a smile on his face. Given someone uttered a coarse, offensive word next to him, the Blessed Prophet (SalAllahu Alaihi Wa Aalihi Wassallam) would never put him down in public; besides, since his facial expressions persistently reflected his inner state, people would be tentative in what they did or spoke next to him. Owing to his haya, he is never known to have laughed loudly, always content instead with a warm smile. On the words of the Companions, he was shier than a maiden enshrouded in her veil.

He (SalAllahu Alaihi Wa Aalihi Wassallam) has expressed in a hadith:
“Haya is from iman (faith in Allah), and whosoever has it is in Paradise. Lack of it is from a hardness of the heart; and a heart of stone is in Hellfire.” (Bukhari, Iman, 16).

“Haya and iman go hand in hand…when one leaves, the other follows!” (Tabarani, Awsat, VIII, 174; Bayhaqi, Shuab, VI, 140)

“Vulgar words incur nothing but shame, while haya and manners adorn wherever they enter.” (Muslim, Birr, 78; Abu Dawud, Jihad, 1).

The Messenger of Allah (SalAllahu Alaihi Wa Aalihi Wassallam) would never stare inquisitively at anyone in the face. His gaze spent greater time fixed on the ground than it did at the skies. Stemming from a supreme character endowed with such haya, never would he use people’s mistakes against them.

Having imbibed such Prophetic morals, Mawlana Rumi (Alaihi Rehma), that illustrious friend of the Truth, swathes abstract realities in
concrete words when he says:

“‘What is Iman?’ asked my reason to my heart. Whispering into the ear of my reason, my heart replied, ‘Iman is but manners (adab).”

______________________________________________________
Bismilla hirrahma nirrahim
SalAllaho alaa habeebihi Muhammadivv wa Aalihi wa sallam

Imaam Tabraani (radi Allahu anhu), in his “Muhjam” records the following incident:

A person in dire need visited Ameerul Mu'mineen Hazrat Uthman Ghani (radi Allah anhu). The Caliph was busy with some other work and he did not attend to his need. Thereafter, the person went to Hazrat Uthman bin Haneef (radi Allahu anhu) and complained about the matter. Hazrat Uthman bin Haneef (radi Allahu anhu) ordered the man to perform the Wudhu (ablution), enter the musjid and to offer two Rakaats of Nafil Salaah. He was then to recite the following Du'a:Allahumma Inni As Aluka Wa Ata Wajjahu Ilaika Binabiyina Nabiyyir rahmati Ya Muhammadu Inni Ata Wajjahu Bika ila Rabbi Fayadiha Haajati wa tazkuru haajataka wa ruh illaya hatta arooha
ma'aka. “O Allah, I beg of you and I seek your assistance, with the Wasila (Medium) of your beloved Prophet (sallal laahu alaihi wasallam) who is the Prophet of Mercy. O Muhammad! I turn to Allah with your Wasila so that my needs be fulfilled.”

Thereafter, he was told to mention his need. On completion, he was told to visit Hazrat Uthman bin Haneef (radi Allahu anhu), so that both could visit the august court of Hazrat Uthman Ghani (radi Allahu anhu). When he presented himself in front of the great Caliph, he was not only shown great respect, but his need and wish were also immediately granted. The Caliph, then addressing the man stated: “In future if you require any favour, come immediately to me.”

After they had left the court of the great Caliph, the man thanked Hazrat Uthman bin Haneef (radi Allahu anhu) for mentioning him to the Caliph, the latter clearly stated that he had not even approached the Caliph. He then stated: “By Allah, I saw the Holy Prophet (sallallaahu alaihi wasallam) teaching the very same Du'a to a blind man. Miraculously, the blind man then approached us before we could even complete our conversation, and it appeared as if he had never been blind.”

Imaam Tabraani and Imaam Munzari (radi Allahu anhuma) have both stated that this Hadith is authentic.

youtube

All praises to Allah, will release on this Ramadhan 1432 H, I will waiting for this video…
To all muslimin wal muslimat in around the world, let’s together shollu ‘alaa Muhammad… ^_^“

"Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari jum’at karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pada hari jum’at, maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku.”

(HR. Baihaqi dengan sanad shahih)

Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammad Wa Alihi Washahbihi Wasallim

Let’s sholawat together… Pulang… ^_^“

erpa - 28-08-1432 / 29-07-2011 - 16:30 - JKT

📗 AGAMA PARA NABI ADALAH ISLAM

👤 Ustadz ‘Abdullāh Roy, MA

Islam yang artinya penyerahan ibadah hanya kepada Allāh Subhānahu Wa Ta'āla adalah agama para Nabi, agama mereka satu yaitu Islam.

Berkata Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām :

أَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ

“Aku ber-Islam (menyerahkan diriku) kepada Rabbul ‘ālamīn.” (QS Al Baqarah: 131)

 

Beliau dan juga Nabi Ya'qūb berwasiat kepada anak-anaknya:

يَـٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

“Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allāh Subhānahu Wa Ta'āla telah memilih agama bagi kalian, maka janganlah kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan sebagai orang Islam.” (QS Al-Baqarah: 132)

Berkata murid-murid Nabi 'Īsā 'alayhissalām kepada beliau;

وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ

“Dan saksikanlah bahwasanya kami adalah orang-orang Islam.” (QS Āli 'Imrān: 52)

 

Nabi Mūsā 'Alaihissalām, beliau pernah berkata kepada kaumnya;

فَعَلَيۡهِ تَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّسۡلِمِينَ

“Maka hendaklah kalian hanya bertawakal kepada Allāh kalau kalian benar-benar orang Islam.” (QS Yūnus: 84)

 

Di dalam suratnya, Nabi Sulaiman 'Alayhissalām berkata kepada Ratu Balqis dan juga para pengikutnya;

أَلَّا تَعۡلُواْ عَلَىَّ وَأۡتُونِى مُسۡلِمِينَ

“Hendaklah kalian jangan sombong kepadaku dan datanglah kalian kepadaku dalam keadaan sebagai orang Islam.” (QS An-Naml: 31)

Inilah agama para Nabi dan juga para pengikut mereka.. Dan Allāh Subhānahu Wa Ta'āla tidak menerima kecuali agama Islam.

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَـٰمُ‌ۗ

“Sesungguhya agama yang benar di sisi Allāh adalah Islam.“ (QS Āli 'Imrān: 19)

 

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَـٰمِ دِينً۬ا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِى ٱلۡأَخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ

“Dan barangsiapa yang mencari selain agama Islam maka tidak akan diterima darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Āli 'Imrān: 85)

 

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda di dalam hadits yang shahih:

الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ  لِعَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“Para Nabi adalah saudara sebapak, ibu-ibu mereka berbeda dan agama mereka satu.” (HR Bukhāri dan Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وبا لله التوفيق والهداية

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaramu,

'Abdullāh Roy

✒Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS

__________________________

⬇️ Download Audio: https://goo.gl/TKRTAo

Allahumma ya Allah
.
.
kami bersyukur kepada-Mu
Alangkah banyak nikmat
yang Engkau curahkan kepada kami
Engkau beri kami nikmat Iman
Engkau beri kami nikmat Islam
Engkau beri kami nikmat Ihsan
Tetapi sangat sedikit syukur kami kepadaMu
.
.
Ya Allah
Ampuni kami
Yang lupa bersyukur dengan memiliki Nabi Muhammad
Yang lupa bersyukur menjadi umat Nabi Muhammad
Yang lupa bersyukur bahwa kami dilahirkan sebagai Islam
Yang lupa bersyukur bahwa kami telah dikaruniai iman
.
.
Ya Allah Ya Tuhan kami.
Sempurnakanlah untuk kami nikmatMu
KesejahteraanMu dan lindunganMu di dunia dan akherat
.
.
Ya Allah
limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW yang kami cintai dan yang mencintai kami, sampaikanlah rindu kami kepada Nabi Muhammad.
Ya Allah berilah shalawat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad SAW
Sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Ibrahim AS
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
.
.
( Ary Ginanjar Agustian )
.
.
.
Ada Video ESQ disini bit.ly/ESQGratis

Made with Instagram