Ya Nabi

Bismillah…

Saat Rasulullah berdoa di malam Perang Badar. Setelah seluruh persiapan dilakukan…tinggal satu, mengharapkan pertolongan Allah SWT. Malam itu pun Nabi bersama sahabat melakukan shalat malam. Di belakangnya ada Abu Bakar as-Shiddiq. Doa yang dipanjatkannya pun tidak main-main:

Ya Allah, sekiranya Engkau binasakan kelompok yang tersisa ini (dalam Perang Badar), maka Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi.” [Dikeluarkan Ibn Mundzir, al-Ausath fi as-Sunan]

Doa ini dipanjatkan di tengah pekatnya malam… saat Allah turun ke langit bumi. Diulang-ulang Nabi dengan khusyu’…sambil menangis hingga tubuh baginda yang mulia itu bergetar 😢😢…sampai surbannya jatuh. Abu Bakar yg berada di belakang pun memungut surban itu, lalu berkata kepada Nabi, “Cukup ya Rasul, cukup ya Rasul, Allah pasti telah mendengarkan doa Tuan.”

Maka, lihatlah kemudian, Allah menurunkan 5000 pasukan malaikat-Nya untuk membantu Nabi saw di perang badar….(QS. Ali ‘Imran:[3] 123-126)

Percaya deh…Allah tak pernah diam!

Tidak terasa Ramadhan pun berakhir segera. Sepertinya baru kemarin menyambut bulan Ramadhan dengan begitu semangat dan gembira. Namun esok hari kita sudah meninggalkannya. Akankah Ramadhan ini membekas di kita? Akankah semua amal ibadah kita lakukan selama 30 hari ini diterima disisi-Nya?

Dari Jabir r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Jika malam Ramadhan berakhir, seluruh makhluk-makhluk besar, di segenap langit, dan bumi, beserta malaikat ikut menangis. Mereka bersedih karena bencana yang menimpa umat Muhammad SAW. Para sahabat bertanya, bencana apakah ya Rasul? Jawab Nabi. Pemergian bulan Ramadhan. Sebab di dalam bulan Ramadhan segala doa terkabulkan. Semua sedekah diterima. Dan amalan-amalan baik dilipatgandakan pahalanya, penyiksaan sementara di hapus.”

Ketika ada pertemuan, maka ada pula perpisahan. Begitu pula dengan bulan Ramadhan. Namun ketika perpisahan menjadi teralu berat sehingga sampai menjadi musibah bagi kita, tentu pastinya kita diliput kesedihan. Tapi adakah rasa itu diantara kita? Adakah kita merasa sedih dan berat meninggalkan Ramadhan?

Bagaimana tidak. Bulan Ramadhan dimana pintu surga dibuka lebar-lebar, sedangkan pintu neraka ditutup rapat-rapat. Dimana banyak orang-orang yang menghidupkan malam dengan ibadah. Dimana di dalamnya terapat kebaikan yang lebih baik dari 1000 bulan. Dan keutamaan-keutamaan lainnya.

Pada suatu ketika Umar bin ‘Abdul Aziz berkhutbah pada hari raya Idul Fitri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima.” Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fitri. Dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”

Lantas bagaimana dengan kita? Yakinkah dalam diri ini terdapat kesedihan ketika Ramadhan pergi meninggalkan kita? Atau apakah terlalu bergembiranya kita menyambut Idul Fitri sehingga menghapuskan kesedihan dan melupakan segera bulan Ramadhan?

Memang menyambut Idul Fitri bolehlah dengan bahagia dan gembira. Namun hendaknya jangan berlebihan sehingga kita melupakan bahwa sesungguhnya bulan Ramadhan adalah latihan bagi kita juga untuk meningkatkan ibadah pada bulan-bulan lainnya.

Seorang penyair Arab mengingatkan kita:
Bukanlah Hari Raya ‘Id itu, bagi orang yang berbaju baru.
Melainkan hakikat ‘Id itu, bagi orang yang bertambah ta’atnya

Semoga dengan latihan yang telah kita laksanakan di bulan Ramadhan, sampai pada ketakwaan. Semoga ketakwaan yang di dapat ini menjadi terus kita pertahankan dan tingkatkan. Semoga dengan Ramadhan berikutnya oleh Allah SWT dipertemukan.

Paling Dicintai oleh Allah Namun Paling Diuji dengan Kesedihan...
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata

كَانَ مُنْذُ فَارَقَ يُوسُفُ يَعْقُوبَ إِلَى أن التقيا، ثمانون سنة، لم يفارق في الْحُزْنُ قَلْبَهُ، وَدُمُوعُهُ تَجْرِي عَلَى خَدَّيْهِ، وَمَا عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ عَبَدٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ يَعْقُوبَ .
“Selama 80 tahun nabi Ya’qub berpisah dengan Nabi Yusuf hingga mereka bertemu kembali, kesedihan tidak pernah terlepas dari hati Ya’qub, sementara air mata beliau mengalir ke kedua pipi beliau. Padahal beliau orang yang paling dicintai oleh Allah di atas muka bumi (tatkala itu)” (Tafsir Ibnu Katsir 4/413)

Jika antum sering mengalami kesedihan….
janganlah suudzon kepada Allah…,
siapa tahu antum dicintai oleh Allah….

jangan berputus asa bagaimanapun juga, sebagaimana nabi Ya’qub yang selalu berharap Allah mengembalikan nabi Yusuf kepadanya…

Dan setelah 80 tahun….
Allahpun mengabulkan dan mempertemukan mereka kembali…

Oleh: Ustadz Firanda Andirja, M.A.

Pengabulan Do'a
  • A : Menurutmu, ada nggak do'a yang sia-sia?
  • B : Nggak lah. Orang udah jelas-jelas Allah berfirman "Berdo'alah, maka akan Aku kabulkan.."
  • A : Iya ding. Tapi sayangnya, orang-orang suka mengeluh kalau do'anya belum dikabulin.
  • B : Mereka kurang sabar itu mah.
  • A : Maksudnya?
  • B : Mereka tergesa-gesa do'anya pingin segera dikabulkan. Nggak sabar. Padahal pasti do'a itu dikabulkan kalau kita terus bersabar.
  • A : ....
  • B : Harusnya tuh ya, kita malu sama Nabi Ibrahim. Kamu tahu Nabi Ibrahim berdo'a apa?
  • A : Apa?
  • B : Ya Allah, nanti diantara keturunanku penduduk Makkah ini tolong jadikan diantara mereka seorang Rosul yang akan membacakan untuk mereka ayat-ayatku. Mengajarkan kitab dan hikmah. Mensucikan mereka.
  • A : ......
  • B : Bayangannya Nabi Ibrahim itu nggak jauh-jauh lho. Cucunya Ismail atau cicitnya gitu, akan ada Rosul yang akan ada disana. Tapi, kamu tahu berapa lama do'a itu dikabulkan oleh Allah?
  • A : Nggak tau. Berapa lama emang?
  • B : Kalau ikut hitungannya Ibnu Abbas 4200 tahun kemudian. Karena jarak antara Muhammad ke Isa 600 tahun. Isa ke Musa 1200 tahun. Musa ke Ibrahim 2400 tahun. Jadi kalau ditotal menjadi 4200 tahun. See, ada jarak 4200 tahun dari do'a yang dikabulkan dengan pengabulannya. Jadi, tidak ada yang sia-sia kan dalam do'a itu.
  • A : MashaAllah..
  • B : Jadi Allah itu kalau memberi lebih baik daripada yang kita minta. Orang yang tidak pernah kita minta saja diberi. Jadi, kalau kita minta pastinya lebih baik dari yang kita minta. Kamu pernah minta nafas?
  • A : Nggak pernah...
  • B : Nah, nggak pernah kan. Kecuali kalau sejak tadi asmamu kumat. Haha. Tapi, Allah terus memberi udara kepada kita untuk bernafas. Maka, pada sesuatu yang kita minta, pastinya Allah memberi lebih baik.
  • A : Haha. Oh iya ya..
  • B : Coba perhatiin. Nabi Ibrahim itu cuman mendo'akan Makkah lho. Indonesia nggak dido'ain. Apalagi Semarang. Haha. Tapi nyatanya? Allah mengabulkan seorang Rosul bukan buat Makkah doang. Tapi buat seluruh alam semesta. Nabi kita Muhammad SAW.
  • A : Hahaha. Iya ya. Emm, kamu malu sama Nabi Ibrahim?
  • B : Malu lah. Kamu?
  • A : Iya sama.
  • B : Makanya, yuk jangan pernah putus asa buat berdo'a. Untuk kita, untuk keturunan-keturunan kita nanti.
  • A : Siyaaaaap. InshaAllah. Hehehe.
youtube

Beautiful Anasheed ♡

Did you know?

When Ali al Akbar (sa) was given permission to go in the battlefield,
Imam Hussain (as) raised his hands to the heavens and supplicated, “O Allah! Bear witness against these folks that a man who looks most like Your Messenger Muhammad in his physique, manners, and eloquence has come out to fight them!
Whenever we missed seeing Your Prophet, we would look at him.
O Allah! Deprive them of the blessings of the earth, create dissension among them, and make them into many parties, and do not let their rulers ever be pleased with them, for they invited us to support us, then they transgressed on us and fought us!”

Then he recited the Qur’anic verse saying, “Allah surely chose Adam, Noah, the family of Abraham and the family of Imran over all people, offspring of one another, and Allah is Hearing, Knowing (Qur’an, 3:34).”


Source : [al-Khawarizmi, Maqtal al-Husayn, Vol. 2, p. 30]

Bismillah'hir Rahman'nir Raheem

The Manners and Haya of the Prophet of Allah (SalAllahu Alaihi Wa Aalihi Wassallam).

The Noble Prophet (SalAllahu Alaihi Wa Aalihi Wassallam) never spoke at the top of his voice. In public, he would walk composedly, always with a smile on his face. Given someone uttered a coarse, offensive word next to him, the Blessed Prophet (SalAllahu Alaihi Wa Aalihi Wassallam) would never put him down in public; besides, since his facial expressions persistently reflected his inner state, people would be tentative in what they did or spoke next to him. Owing to his haya, he is never known to have laughed loudly, always content instead with a warm smile. On the words of the Companions, he was shier than a maiden enshrouded in her veil.

He (SalAllahu Alaihi Wa Aalihi Wassallam) has expressed in a hadith:
“Haya is from iman (faith in Allah), and whosoever has it is in Paradise. Lack of it is from a hardness of the heart; and a heart of stone is in Hellfire.” (Bukhari, Iman, 16).

“Haya and iman go hand in hand…when one leaves, the other follows!” (Tabarani, Awsat, VIII, 174; Bayhaqi, Shuab, VI, 140)

“Vulgar words incur nothing but shame, while haya and manners adorn wherever they enter.” (Muslim, Birr, 78; Abu Dawud, Jihad, 1).

The Messenger of Allah (SalAllahu Alaihi Wa Aalihi Wassallam) would never stare inquisitively at anyone in the face. His gaze spent greater time fixed on the ground than it did at the skies. Stemming from a supreme character endowed with such haya, never would he use people’s mistakes against them.

Having imbibed such Prophetic morals, Mawlana Rumi (Alaihi Rehma), that illustrious friend of the Truth, swathes abstract realities in
concrete words when he says:

“‘What is Iman?’ asked my reason to my heart. Whispering into the ear of my reason, my heart replied, ‘Iman is but manners (adab).”

______________________________________________________
Bismilla hirrahma nirrahim
SalAllaho alaa habeebihi Muhammadivv wa Aalihi wa sallam

youtube

All praises to Allah, will release on this Ramadhan 1432 H, I will waiting for this video…
To all muslimin wal muslimat in around the world, let’s together shollu ‘alaa Muhammad… ^_^“

"Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari jum’at karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pada hari jum’at, maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku.”

(HR. Baihaqi dengan sanad shahih)

Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammad Wa Alihi Washahbihi Wasallim

Let’s sholawat together… Pulang… ^_^“

erpa - 28-08-1432 / 29-07-2011 - 16:30 - JKT

Imaam Tabraani (radi Allahu anhu), in his “Muhjam” records the following incident:

A person in dire need visited Ameerul Mu'mineen Hazrat Uthman Ghani (radi Allah anhu). The Caliph was busy with some other work and he did not attend to his need. Thereafter, the person went to Hazrat Uthman bin Haneef (radi Allahu anhu) and complained about the matter. Hazrat Uthman bin Haneef (radi Allahu anhu) ordered the man to perform the Wudhu (ablution), enter the musjid and to offer two Rakaats of Nafil Salaah. He was then to recite the following Du'a:Allahumma Inni As Aluka Wa Ata Wajjahu Ilaika Binabiyina Nabiyyir rahmati Ya Muhammadu Inni Ata Wajjahu Bika ila Rabbi Fayadiha Haajati wa tazkuru haajataka wa ruh illaya hatta arooha
ma'aka. “O Allah, I beg of you and I seek your assistance, with the Wasila (Medium) of your beloved Prophet (sallal laahu alaihi wasallam) who is the Prophet of Mercy. O Muhammad! I turn to Allah with your Wasila so that my needs be fulfilled.”

Thereafter, he was told to mention his need. On completion, he was told to visit Hazrat Uthman bin Haneef (radi Allahu anhu), so that both could visit the august court of Hazrat Uthman Ghani (radi Allahu anhu). When he presented himself in front of the great Caliph, he was not only shown great respect, but his need and wish were also immediately granted. The Caliph, then addressing the man stated: “In future if you require any favour, come immediately to me.”

After they had left the court of the great Caliph, the man thanked Hazrat Uthman bin Haneef (radi Allahu anhu) for mentioning him to the Caliph, the latter clearly stated that he had not even approached the Caliph. He then stated: “By Allah, I saw the Holy Prophet (sallallaahu alaihi wasallam) teaching the very same Du'a to a blind man. Miraculously, the blind man then approached us before we could even complete our conversation, and it appeared as if he had never been blind.”

Imaam Tabraani and Imaam Munzari (radi Allahu anhuma) have both stated that this Hadith is authentic.