Ya Nabi

Saya suka dan merupakan salah satu paporit saya karena menurut saya Dr Zakir Naik itu cerdas… Semoga Allah selalu menjaga Beliau dan keluarganya

Dr Zakir Naik mengungkapkan bahwa jumlah misionaris saat ini mencapai satu juta orang.
Di antara mereka, ada yang tugasnya berkeliling untuk mendangkalkan aqidah umat Islam.

Salah satu caranya, memulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

Pertanyaan Pertama

“Apakah dijelaskan dalam Al Quran bahwa Injil adalah firman Tuhan?”

Biasanya muslim yang ditanya demikian akan langsung menjawab, “Ya, disebutkan”

“Kalau begitu mengapa engkau tidak mengikuti Injil?”

Pertanyaan Kedua

“Berapa banyak nama Nabimu (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tahu akan menjawab, “Lima kali. Empat kali dengan nama Muhammad dan satu kali dengan nama Ahmad”

“Berapa banyak nama Yesus Kristus (Isa ‘alaihi salam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tidak tahu, akan diberitahu oleh misionaris yang mempelajari Al Quran itu.
Bahwa Isa disebutkan 25 kali.

“Mana yang lebih besar, Muhammad yang disebutkan lima kali atau Yesus yang disebutkan 25 kali dalam Al Quran?” demikian pertanyaan misionaris berikutnya.

Pertanyaan Ketiga

“Apakah Nabi Muhammad punya ayah dan punya ibu?”

“Ya”

“Apakah Isa (Yesus) dilahirkan dengan ibu dan ayah?”

“Isa memiliki ibu tetapi tidak memiliki ayah”

“Mana yang lebih hebat, orang yang dilahirkan dengan cara biasa dengan adanya ibu dan ayah atau yang terlahir tanpa ayah?”

Pertanyaan Keempat

“Apakah Nabi Muhammad memiliki mukjizat?”

“Ya”“Apakah Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati?”

“Tidak” (Karena dalam Al Quran dan hadits tidak disebutkan mukjizat itu)

“Apakah Isa bisa menghidupkan orang mati?”

“Ya” (salah satu mukjizat Nabi Isa, dengan izin Allah, bisa menghidupkan orang mati)

“Mana yang lebih hebat, yang tidak bisa menghidupkan orang mati atau yang bisa menghidupkan orang mati?”

Pertanyaan kelima

“Apakah Nabimu Muhammad sekarang secara fisik meninggal atau hidup?”

“Meninggal”

“Apakah Yesus (Isa) sekarang meninggal atau masih hidup?”

“Masih hidup” “Mana yang lebih hebat, yang sudah meninggal atau yang masih hidup hingga sekarang?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat banyak muslim yang tidak memahami Al Quran menjadi bingung.
Namun, sebenarnya semuanya hanya pertanyaan licik misionaris. Jawabannya sudah ada dalam Al Quran.

Jawaban atas Pertanyaan Misionaris (1)

Di antara cara untuk mendangkalkan aqidah, bahkan sampai memurtadkan, misionaris menggunakan sejumlah pertanyaan.

Dr Zakir Naik membeberkan lima pertanyaan utama yang biasa dipakai para misionaris.
Berikut ini pertanyaan tersebut dan jawabannya:

Pertanyaan Pertama

“Apakah dijelaskan dalam Al Quran bahwa Injil adalah firman Tuhan?”

Biasanya muslim yang ditanya demikian akan langsung menjawab, “Ya, disebutkan”

“Kalau begitu mengapa engkau tidak mengikuti Injil?”

Jawaban atas Pertanyaan Pertama

Al Quran memang mengatakan Injil adalah kitab Allah sebagaimana Taurat juga kitab Allah.
Al Quran membenarkan keduanya, sebagaimana tercantum dalam Surat Ali Imran ayat 3.

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

“Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil”
(QS. Ali Imran: 3)

Jadi Injil dibenarkan Al Quran sebagai kitab yang telah diturunkan sebelumnya.
Bukan berarti harus diikuti, sebagaimana Taurat juga dibenarkan sebagai kitab yang telah diturunkan sebelumnya tetapi tidak untuk diikuti.
Bahkan seharusnya, orang yang percaya pada Taurat dan Injil, mereka mengikuti Al Quran sebagaimana orang yang berpegang pada sesuatu akan mengikuti update terbaru dari sesuatu itu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آَمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

“Hai orang-orang yang telah diberi Alkitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan kitab yang ada pada kamu…”
(QS. An Nisa’: 47)

Selain itu, Injil yang dibenarkan Al Quran adalah Injil yang otentik.
Injil pada zaman Nabi Isa sebelum diubah oleh para pemalsu.
Adapun Injil yang ada sekarang, telah beberapa kali mengalami perubahan, misalnya pada Persidangan Nicea pada tahun 325 M.
Pada tahun 1881 dirilis Injil King James Version (KJV) yang merevisi beberapa hal yang dianggap bertentangan.
Pada tahun 1952 dirilis Revised Standard Version (RSV) atas dasar ditemukannya beberapa cacat pada KJV.

Pertanyaan Kedua

“Berapa banyak nama Nabimu (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tahu akan menjawab, “Lima kali.
Empat kali dengan nama Muhammad dan satu kali dengan nama Ahmad”

“Berapa banyak nama Yesus Kristus (Isa ‘alaihi salam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tidak tahu, akan diberitahu oleh misionaris yang mempelajari Al Quran itu.
Bahwa Isa disebutkan 25 kali.

“Mana yang lebih besar, Muhammad yang disebutkan lima kali atau Yesus yang disebutkan 25 kali dalam Al Quran?” demikian pertanyaan misionaris berikutnya.

Jawaban atas Pertanyaan Kedua

Nabi Isa ‘alaihis salam memang disebutkan dalam Al Quran lebih banyak daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Namun, penyebutan yang lebih banyak itu tidak menunjukkan siapa yang lebih besar atau lebih agung.

Nabi Musa, bahkan disebutkan lebih banyak lagi.
Nama Nabi Musa disebutkan sebanyak 124 kali dalam Al Quran.
Di Surat Al Baqarah 13 kali,
di Surat Ali Imran 1 kali,
di Surat An Nisa’ 2 kali,
di Surat Al Maidah 3 kali,
di Surat Al An’am 2 kali,
di Surat Al A’raf 18 kali,
di Surat Yusuf 7 kali,
di Surat Hud 3 kali,
di Surat Ibrahim 3 kali,
di Surat Al Isra’ 2 kali,
di Surat Al Kahfi 2 kali,
di Surat Maryam 1 kali,
di Surat Thaha 16 kali,
di Surat AL Anbiya’ 1 kali,
di Surat Al Hajj 1 kali,
di Surat Al MU’minun 2 kali,
di Surat Asy Syu’ara’ 8 kali,
di Surat An Naml 3 kali,
di Surat Al Qashash 17 kali,
di Surat AL Ankabut 1 kali,
di Surat As Sajdah 1 kali,
di Surat Al Ahzab 1 kali,
di Surat Ash Shafat 2 kali,
di Surat Ghafir 5 kali,
di Surat Fushilat 1 kali,
di Surat Az Zukhruf 1 kali,
di Surat AL Ahqaf 2 kali,
di Surat Adz Dzariyat 1 kali,
di Surat An Najm 1 kali,
di Surat Ash Shaf 1 kali, dan
di Surat An Naziat 1 kali.

Nah, jika karena disebutkan lebih banyak dalam Al Quran kemudian otomatis lebih agung, apakah orang-orang Nasrani mau mengakui bahwa Nabi Musa lebih agung daripada Nabi Isa?

Bahkan, jika karena disebutkan lebih banyak dalam Al Quran kemudian dianggap menjadi Tuhan, apakah orang-orang Nasrani mau mengakui bahwa Musa adalah Tuhan?

Satu hal lagi, Al Quran hampir selalu menyebut Nabi Isa lengkap dengan bin Maryam.
Hanya 4 kali nama Nabi Isa disebut sendirian tanpa bin Maryam yaitu pada Surat Ali Imran ayat 52,
Ali Imran ayat 55,
Ali Imran ayat 59, dan
Az Zukhruf ayat 63.

Selebihnya selalu disebut Isa bin Maryam.
Untuk menegaskan bahwa Isa adalah anak Maryam, bukan anak Tuhan sebagaimana klaim kaum Nasrani.

Pertanyaan Ketiga

“Apakah Nabi Muhammad punya ayah dan punya ibu?”

“Ya”

“Apakah Isa (Yesus) dilahirkan dengan ibu dan ayah?”

“Isa memiliki ibu tetapi tidak memiliki ayah”

“Mana yang lebih hebat, orang yang dilahirkan dengan cara biasa dengan adanya ibu dan ayah atau yang terlahir tanpa ayah?”

Jawaban atas Pertanyaan Ketiga

Nabi Isa memang tidak memiliki ayah. Namun, bukan berarti lebih hebat daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Apalagi jika kemudian dijadikan tuhan, sama sekali keliru.

Sekarang saya tanya, mana yang lebih hebat, Isa yang lahir tanpa ayah atau Adam yang tanpa ayah dan tanpa ibu? Jika Isa lahir tanpa ayah kemudian dijadikan tuhan, seharusnya Adam lebih berhak untuk dijadikan tuhan karena tidak memiliki ayah dan tidak memiliki ibu.

Al Quran menjelaskan penciptaan Isa dan Adam sebagai berikut:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آَدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya misal (penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam.
Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seoang manusia), maka jadilah ia”
(QS. Ali Imran: 59)

Karena lahir tanpa ayah, orang Kristen juga menyebut Yesus anak Tuhan. Dalam Yohanes 6:67-69, Yesus disebut anak tuhan oleh Petrus. Karena disebut anak tuhan, lantas dituhankan.
Padahal ada banyak orang yang disebut “anak Tuhan” dalam Injil. Adam adalah anak Tuhan,
Efraim adalah anak Tuhan,
Ezra adalah anak Tuhan.
Semua orang yang dituntun Tuhan adalah anak-anak Tuhan.
Jadi anak Tuhan adalah kata yang digunakan dalam Injil yang artinya seseorang yang mengikuti ajaran Tuhan.
Jika orang Kristen masih ngotot menjadikan Yesus sebagai Tuhan, carilah di Injil pernyataan Yesus yang mengatakan “Akulah Tuhan” atau “Sembahlah aku.”
Niscaya tidak akan pernah ketemu.

Pertanyaan Keempat

“Apakah Nabi Muhammad memiliki mukjizat?”

“Ya”

“Apakah Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati?”

“Tidak” (Karena dalam Al Quran dan hadits tidak disebutkan mukjizat itu)

“Apakah Isa bisa menghidupkan orang mati?”

“Ya” (salah satu mukjizat Nabi Isa, dengan izin Allah, bisa menghidupkan orang mati)

“Mana yang lebih hebat, yang tidak bisa menghidupkan orang mati atau yang bisa menghidupkan orang mati?”

Jawaban atas Pertanyaan Keempat

Salah satu mukjizat Nabi Isa ‘alaihis salam adalah menghidupkan orang mati.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآَيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (dia Isa berkata), "Aku datang kepadamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah.
Dan aku menyembuhkan orang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta.
Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritakan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman.”
(QS. Ali Imran: 49)

Namun ingat, yang menghidupkan orang mati itu adalah Allah.
Nabi Isa mengakuinya sendiri.
Demikian pula dalam Injil, Yesus mengakui bahwa yang menghidupkan orang mati adalah Allah.
Bukan dirinya.

Sahabatku Lazarus mati, maka kembalikanlah ruh kepadanya Tuhan “. Allah memperkenankan doanya dan berfirman, “Mintalah, sesungguhnya engkau akan memperoleh apa yang engkau minta”.
Ketika Yesus menyeru Lazarus agar keluar kepadanya, ia berkata, “Bapa, Aku mengucap syukur kepadamu, karena engkau telah mendengarkan aku.
Aku tahu, bahwa engkau selalu mendengarkan aku”
(Yohanes 11: 41-42)

Lalu besar mana mukjizat Nabi Isa dengan mukjizat Nabi Muhammad? Jika dikatakan bahwa menghidupkan orang mati adalah mukjizat terbesar Nabi Isa, ternyata dalam Injil disebutkan ada lima orang yang bisa menghidupkan orang mati.
Selain Nabi Isa (Yesus), mereka adalah Nabi Ilyas (Elia),
Nabi Ilyasa (Elisa),
Yehezkiel (seorang nabi di kalangan Nabi Israel menurut Injil), dan
Petrus.

Apakah dengan begitu, mereka semua juga dianggap sebagai Tuhan karena menurut Injil bisa menghidupkan orang mati?
Sungguh lucu.

Nah, berbeda dengan Nabi-Nabi sebelumnya yang mukjizatnya kadang serupa dengan Nabi yang lain, Rasulullah Muhammad memiliki banyak mukjizat dan yang terbesar adalah Al Qur’an.
Jika mukjizat yang lain sudah tidak bisa dilihat lagi bekasnya, Al Quran tetap ada hingga hari kiamat.

Dan Al Quran sendiri menantang siapapun di dunia ini untuk menandinginya, dan hingga saat ini tidak ada yang bisa menerima tantangan ini.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakar nya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir.”
(QS. Al Baqarah: 23-24)

Anda berani menerima tantangan ini, Pak Misionaris?

Pertanyaan Kelima

“Apakah Nabimu Muhammad sekarang secara fisik meninggal atau hidup?”

“Meninggal”

“Apakah Yesus (Isa) sekarang meninggal atau masih hidup?”

“Masih hidup”

“Mana yang lebih hebat, yang sudah meninggal atau yang masih hidup hingga sekarang?”

Jawaban atas Pertanyaan Kelima

Pertanyaan ini justru akan meruntuhkan doktrin terbesar Kristen.

Dalam Al Quran memang dinyatakan bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam tidak disalib.
Yang disalib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa.

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu.
Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
(QS. An Nisa’: 157)

Jika orang Kristen mengatakan Yesus masih hidup, berarti yang disalib bukan Yesus.
Sama seperti firman Allah dalam Al Quran tersebut.
Namun jika Yesus tidak mati disalib, tidak ada konsep penebusan dosa sebagaimana yang dijadikan pijakan gereja saat ini.
Jadi Anda meyakini yang mana?
Yesus masih hidup karena tidak disalib atau Yesus mati disalib?
Anda pasti akan bingung sendiri.

Adapun pertanyaan siapa yang lebih hebat, orang yang meninggal atau orang yang masih hidup, bukanlah pertanyaan yang tepat.
Anda masih hidup, Nabi Musa telah meninggal.
Siapa yang lebih hebat?

Khusus untuk Nabi Isa yang diangkat Allah dan nanti akan diturunkan menjelang hari kiamat, itu bukanlah kehebatan Nabi Isa atas Nabi Muhammad namun semata-mata atas kehendak Allah dalam rangka menegaskan kesalahan orang-orang yang menganggapnya sebagai Tuhan.

لَيْسَ بَيْنِى وَبَيْنَهُ نَبِىٌّ – يَعْنِى عِيسَى – وَإِنَّهُ نَازِلٌ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَاعْرِفُوهُ رَجُلٌ مَرْبُوعٌ إِلَى الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ بَيْنَ مُمَصَّرَتَيْنِ كَأَنَّ رَأْسَهُ يَقْطُرُ وَإِنْ لَمْ يُصِبْهُ بَلَلٌ فَيُقَاتِلُ النَّاسَ عَلَى الإِسْلاَمِ فَيَدُقُّ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ

“Tidak ada nabi (yang hidup) antara masaku dan Isa.
Sungguh, kelak ia akan turun, jika kalian melihatnya maka kenalilah.
Ia adalah seorang laki-laki yang sedang (tidak tinggi dan tidak terlalu pendek), berkulit merah keputih-putihan, beliau memakai di antara dua kain berwarna sedikit kuning.
Seakan rambut kepala beliau menetes meski tidak basah.
Beliau akan memerangi manusia hingga mereka masuk ke dalam Islam, beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi dan menghapus jizyah”
(HR. Abu Daud; shahih)

DO'A RASULULLAH ﷺ UNTUK KITA

Pada suatu ketika, dikatakan Baginda berdo'a untuk Sayyidatina Aisyah membuatkan dia gembira dengannya.

Nabi berdo'a : “Ya Allah ampunkan untuk Aisyah binti Abi Bakar apa yang telah dilaluinya juga yang belum dilalulinya, apa yang disembunyikannya juga yang nyata dan pada yang zahir juga batin.

Dikatakan Sayyidatina Aisyah hampir terbang kerana gembira. Didapati tanda-tanda kegembiraan pada wajahnya.

Nabi bertanya : "Adakah kamu gembira wahai Aisyah ?” Dia Sayyidatina Aisyah menjawab : “Benar wahai Rasulullah. Bagaimana aku tidak gembira, sedangkan inilah do'amu untukku.”

Baginda Rasulullah bersabda : “Inilah do'aku untuk umatku setiap malam, Setiap malam aku berdo'a untuk umatku dengan do'a-do'a seperti ini.”

Shallallahu ‘alaihi wa sallam wa baarik 'alaihi wa 'ala alih

Betapa penyayangnya Rasulullah, betapa perindunya Baginda, dan betapa pengasihnya Baginda.

(Al-Habib Umar bin Hafidz)

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم

SILA SHARE DAN SEBARKAN

"MUKJIZAT AKAL"

Dulu ketika kecil, kita bertanya; kenapa ya mukjizat Nabi Muhammad ‘hanya’ sebuah kitab, sedangkan nabi lainnya begitu fenomenal? Pernah? Ternyata jawaban itu telah tersingkap sudah. Nabi Musa membelah laut, Nabi Isa hidupkan orang mati, dan itu belalakkan mata. Dahsyat rasanya.

Namun Al-Quran, yang berupa kitab itu, ternyata mengguncang hati, mengajak syaraf bermain dalam makna kehidupan. Maka ia abadi. Selamanya. Jika tongkat Nabi Musa berubah jadi Ular, semua tersungkur melihatnya. Namun hanya saat itu hebatnya. Jika Al-Quran, makin disingkap makin dahsyat.

Itulah yang membuat lembaran Al-Quran lebih bergemuruh di jiwa dibanding batu yang menjelma unta, atau tangan putih terang bercahaya. Abadi.

“Sebab mukjizat para Nabi usailah tatkala usai zamannya, tak membekas kecuali tuk para saksinya. Kecuali Al-Quran”, tulis DR Sayyid Jibril. “Sebab”, lanjutnya, “mukjizat lainnya disaksikan sebatas pancaindera, namun Al-Quran disaksikan penuh oleh jiwa dan raga”. SubhanAllah.

“Dan itulah mengapa ia abadi, karena yang melihat dengan mata hati, akan lebih yakin dibanding mereka yang melihat dengan mata kepala”.

@edgarhamas

Kutipan-kutipan Buku Aisyah: Wanita yang Hadir dalam Mimpi Rasulullah

“Jangan buat Aisyah sedih,” katanya.
Itulah… sekali lagi dia memanggil ku dengan namaku. Sebenarnya, saat itu kepalaku tertunduk, keningku dipenuhi banyak pikiran. Aku tak memandang wajah seseorang pun, tapi kalimat pendek itu… “Jangan buat Aisyah sedih,” membuatku tertegun. (Pg. 75)

“Kau… telah diperlihatkan kepadaku dalam mimpiku.” Rasulullah berkata seperti ini kepadaku. (Pg. 88)

Tidur nyenyak Rasulullah lebih manis daripada madu, selalu terlihat menyenangkan hati. Aku takut melepaskan tangannya ketika tertidur. Bila terbangun tengah malam, aku mencari-cari dengan tanganku yang gemetaran. Kedua mataku terbakar seperti orang buta bila tak menemukannya. Aku menangis seperti orang buta. Setiap kali ketika ujung jariku menyentuhnya, ah… di waktu tanganku tak bisa memegang tangannya untuk menemukan dirinya di gelap malam. (Pg. 94)

Kerinduan… aku tahu apa itu kerinduan di hari-hari hijrah. Aku bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kerinduan ini kepadaku, yang mengubahnya sebagai sekolah diri. Kedewasaan, tumbuh besar untuk orang lain tak hanya di masa-masa awal kanak-kanak. Berapa pun umur kita, musibah-musibah yang menimpa diri kita merupakan petualangan kedewasaan sebagai jalan pengajaran.

“Perpisahan ini menjadi tabir bagi Aisyah,” ucap ibuku.

“Perpisahan ini adalah mahkota pengantin, mahar bagi Aisyah,” ujar ibuku untuk meringankan bebanku. (Pg. 121)

Kebenaran itu seperti berkah yang terpancar dari niat tulus seindah gunung-gunung, tanpa menanti balasan apapun. Kebenaran ialah ketulusan di dalam senyap-senyap burung yang kelelahan terbang, keledai-keledai yang menyimpan susu, seluruh sayap dan hewan berkaki empat, sampai kepada para pengembara dan orang-orang lemah.

Kebenaran merupakan balasan yang bersih.

Kebenaran… sebuah pernikahan. Mahar. Kebenaran kata-kata.
(Pg. 142)

Rasulullah tersenyum. Setiap senyum Rasulullah bagiku adalah hari pernikahanku. (Pg. 142)

Kakakku bertanya kepada Rasulullah, “Jika seseorang menolak karena rasa sopan santun meskipun sebenarnya menginginkannya, kemudian mengucapkan terima kasih, apakah itu juga dihitung dan dicatat sebagai kebohongan, ya Rasulullah?”

Rasulullah sekali lagi menjawab pertanyaan itu dengan senyum. “Kebohongan tetap akan tercatat sebagai kebohongan.”
(Pg. 146)

Dia memanggil ku “Uwais!” ketika dirinya bahagia. Beliau suka memainkan hidungku sambil memanggil, “Aisyahku.” Saat dirinya lelah, beliau berkata, “Bicaralah wahai Humaira.” Begitu aku berbicara ke sana-kemari seperti arus air, raut-raut sedih di wajahnya hilang satu per satu.

Ketika menatap, dia seakan-akan melihat darah yang mengalir di pembuluh darahku. Luar dan dalamku satu bagi Rasulullah. Seluruh kewanitaanku, kecemburuanku, kemanjaanku, keingintahuanku, dan ketidaksabaranku terlihat jelas.

Bila berusaha menarik perhatian ku, dia akan berkata, “Wahai putri Abu Bakar, bukankah ini seperti ini…” atau “Wahai putri Ash-Shidiq, bukan seperti itu, tapi seperti ini.” Ketika membicarakan diriku pada orang lain dan Rasulullah berkata begini, “Ibu kalian hari ini berkata seperti ini…” itu berarti ada sesuatu hal yang aku perlu ubah.

Rasulullah menjelaskan satu per satu kepadaku, sabar mendengarkan ku, berbagi kebahagiaan ku. Tanpa kusadari, Rasulullah mengajari diriku seperti seorang murid. Sementara itu, aku selalu rindu kepada Rasulullah meskipun berada di sisinya. Aku tak bisa melewati hidup tanpa Rasulullah ketika aku tidur di sampingnya. Bahkan ketika kedua mataku tertutup pun aku menghitung satu per satu hela napasnya. (Pg. 148)

Aku tak pernah makan melebihi apa yang dimakan Rasulullah. Aku takut dan menjauhi hal-hal duniawi. Apa yang kami dapatkan dari hal duniawi, apa yang bisa kami lakukan dengan api. Rasulullah sudah merupakan sumber kehangatan dan sinar bagi kami.” (Pg. 152)

Tanpa Rasulullah, aku seperti seorang anak kecil yang menggigil kedinginan dalam kegelapan. Kadang-kadang bila malam hari ketika harus berpisah dengan Rasulullah, aku ingin pergi dari dunia ini. Tanpa Rasulullah, udara tak berembus. Pagi tak kunjung tiba di hari-hari tanpa dirinya. Cinta Rasulullah adalah oase di tengah-tengah padang pasir. Sebuah oase yang terpancar dari surga. Bayangkan sendiri apa yang terjadi jika terjadi perpisahan. (Pg. 152)

“Aisyahku, aku tahu kapan kau marah kepadaku.”

“Bagaimana mungkin aku marah kepadamu, ya Rasulullah?”

Dia menyentuh lembut daguku dan menatap dalam-dalam kedua mataku sambil tersenyum.

“Ketika kau benar-benar marah kepadaku, kau berkata, ya Tuhannya Ibrahim, sementara kalau kau baik kepadaku, kau akan berkata, ya Tuhannya Muhammad. (Pg. 156)

Rasulullah tersenyum sambil memainkan hidungku.
“Bicaralah wahai Humaira…”

Dan aku sering bertanya kepada Rasulullah, “Apakah engkau mencintaiku?”

“Iya…”

Aku terdiam sebentar, tapi terasa lama seperti beribu-ribu tahun. Dia menggelengkan kepalanya, mengajak aku berbicara.

“Seberapa besar engkau mencintaiku?”
“Seperti titik-titik yang terlempar ke kain sutra…”
“Maksudnya…”
“Seperti titik-titik yang tak terlihat…”

Jawaban ini seperti sebuah bintang yang dalam seribu tahun sekali turun ke dalam hatiku, penuh dengan cinta.
Kadang-kadang bintangku jatuh. Aku ingin memperbaharui cintaku dengan kata-kata. Dalam bentuk isyarat aku bertanya kepada Rasulullah yang berada dalam kerajaan cinta, “Bagaimana dengan titik kita yang tak terlihat?”

Sambil tersenyum dia menjawab: “Seperti hari pertama…” (Pg. 194)

Para pemuda suka bertanya kepadaku mengenai diri Rasulullah. Aku malah balik bertanya begini kepada mereka, “Apa kalian tak pernah membaca Alquran? Rasulullah itu adalah Alquran yang berjalan.”

Perkataan Rasulullah itu seperti penerang yang terang-benderang. Ia membuka cakrawala. (Pg. 202)

Aku selalu merasakan bahwa hujan itu bermaksud menghapus seluruh kesedihan manusia. Ia memadamkan kobara api kesedihan, rasa letih peperangan, dan rasa asing… (Pg. 251)

Lantas Rasulullah balik bertanya lagi kepada para sahabat: “Menurut kalian dari sisi keimanan siapakah yang paling kuat?”

“Para malaikat ya Rasulullah…”

“Malaikat memang diciptakan untuk beribadah kepada Allah.”

“Para nabi ya Rasulullah…”

“Wahyu turun kepada para nabi dari Allah…”

“Kalau begitu para sahabat…”

“Kalian adalah para sahabat yang bertemu dan berbicara secara langsung dengan nabi kalian…”

“Kalau begitu siapakah itu orang-orang yang beriman kuat ya Rasulullah?”

“Umatku di akhir zaman yang beriman kepadaku dan mencintaiku tanpa mengenalku dan melihatku.”

Mencintai Rasulullah segenap hati, beriman kepadanya, berusaha berjalan di jalannya, merupakan martabat iman yang paling tinggi.
(Pg. 255)

Sering kami berdua bekerja bersama-sama. Misalnya, ketika aku memintal kain wol, dia memperbaiki sandal-sandal kulit. Ketika aku memasak, Rasulullah mengambilkan kantung air yang tergantung di tembok dan mengisinya dengan air. Masakan kami tak pernah lepas dari tanaman-tanaman beraroma. Aku membaca Alquran dari hapalanku, sementara Rasulullah mendengarkan aku. (Pg. 264)

Suatu hari mendadak seorang Badui datang menemui Rasulullah di masjid. Ternyata dia telah menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke sini. Entah siapa yang tahu persis bagaimana mereka menceritakan mengenai diri Rasulullah kepadanya. Dia masuk ke masjid dan setelah beberapa saat menatap Rasulullah badannya mulai bergemetar. Aku mendengarkan seluruh kejadian itu dari kamarku.

“Jangan takut,” ucap Rasulullah kepada orang Badui itu. “Aku bukan raja. Aku putra seorang perempuan Quraish yang makan daging dikeringkan di bawah sinar matahari.” (Pg. 277)

“Apakah kau mencintai Aisyah?”

“Iya, aku mencintai Aisyah…”

“Bolehkah aku bertanya satu pertanyaan lagi?”

Sekali lagi dia menganggukkan kepala sambil tersenyum. Seakan-akan bintang-bintang bertaburan di kepalanya ingin mendengarkan pembicaraan kami.

“Bagaimana engkau mencintai Aisyah?”

Beliau malah terdiam seperti malu. Beban hidup dirinya sudah sangat berat. Dia adalah seorang jendral. Hatiku sesak ketika dia malah mempercepat langkah untanya maju untuk pergi. Sungguh terlalu banyak pertanyaan yang aku utarakan.

Mengapa aku melakukan hal ini? Mungkin mati lebih baik bagiku…

Kemudian dia menunduk seakan-akan tahu bahwa aku menatapnya. Entah bagaimana mendadak dia memutar balik untanya dan memacu cepat-cepat dan berkata kepadaku, “Seperti hari pertama…”

Kemudian dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara memberikan salam kepadaku dengan pesona seorang pejuang yang mendapatkan kemenangan
, lantas berputar cepat menuju ke arah pasukan yang berada di barisan paling depan. (Pg. 287-288)

“Sungguh! Aku tak akan berterima kasih kepada kalian maupun kepadanya. Aku hanya bersyukur dan berterima kasih kepada Allah yang telah menurunkan ayat mengenai diriku dan telah menjauhkan diriku dari fitnah-fitnah itu.” (Pg. 316, setelah akhirnya turun ayat dari Allah kepada Rasulullah yang membuktikan kesucian Aisyah dari fitnah karena “Kalung”.)

Dunia selalu membuat pusing dan tak pernah berhenti bagi orang Mukmin. Bagaimana mungkin bisa berhenti? Dunia merupakan penjara, gelanggang tempat ujian, bagi orang beriman. (Pg. 333)

“Jika kalian memang benar-benar seperti yang kalian katakan, aku akan mengajarkan lima hal lagi sehingga perilaku baik kalian menjadi dua puluh.”

“Silahkan ya Rasulullah!”

“Jangan kau kumpulkan apa yang tidak kalian makan. Jangan dirikan bangunan yang tidak kalian tinggali. Jangan berselisih satu sama lain karena perbedaan. Jauhilah hal-hal yang tak diperintahkan oleh Allah. Berlombalah dalam kebaikan.”

Rasulullah juga sering menasihati kami seperti yang dia lakukan kepada para utusan.

“Dunia adalah tempat ujian yang melelahkan,” ucapnya.
“Selain dari orang yang menjauhi larangan Allah, mereka takkan selamat dari tangan-tangan dunia.” (Pg. 346)

‘Ya Umar!’ ucapnya. ‘Kau bertanya soal bekas anyaman dalam tubuhku, padahal kelembutan setelah sesuatu yang keras itu sangat nyaman. Kau sedih karena atap ruangan ini pendek, padahal atap kuburan akan lebih pendek daripada ini. Kita meninggalkan hal duniawi ini kepada ahli dunia, sementara itu mereka menyerahkan akhirat kepada kita. Aku dan dunia itu seperti tentara berkuda yang melakukan perjalanan di tengah musim panas. Tentara berkuda yang letih karena terik panas matahari itu berteduh di bawah pohon, kemudian melanjutkan perjalanan dan meninggalkan tempat itu. Kisra dan Kaisar adalah seorang raja, sementara aku seorang nabi. Aku hanyalah hamba Allah. Aku duduk seperti seorang hamba, makan seperti seorang hamba…’ (Pg. 393)

“Ada berapa emas, Aisyah? Di mana kau menaruhnya?”

Aku lari membawa emas itu kepadanya. Aku seperti juru tulisnya. Rasulullah mengambil emas dari tanganku kemudian mulai menghitung.

“Lima… enam… tujuh…”

Rasulullah menaruh emas-emas itu di telapak tanganku kemudian menutupi dengan jemarinya. “Selama emas ini berada di sini…” katanya.

Kedua mataku terbuka, menatap kedua mata Rasulullah.

“Selama emas ini berada di sini… bagaimana Muhammad bisa pergi ke hadapan Allah?”

Anak panah terlepas dari busurnya, tertancap tepat di tengah-tengah dadaku. Tubuhku membeku. Lidahku tertelan sambil bersandar. Tubuhku mulai bergerak mundur. Seakan-akan dunia berada di tanganku dan tanganku seakan-akan hilang karena beratnya.

“Ambillah ini semua, segera infakkan emas ini…” ucap Rasulullah.
(Pg. 425)

Aku adalah Aisyah di masa-masa sulit.

Aku tak pernah merasakan pernikahan lagi selama masa-masa hijrah.

Hari pernikahanku yang sebenarnya adalah hari wafatku, hari ketika aku bertemu dengan rahmat seluruh alam, Rasulullah, orang yang aku cintai.

Aku bersaksi pada perintah Allah, kenangan Rasulullah, wasiat dan amanah Alquran, tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Aku adalah Aisyah.

Aku adalah Aisyahnya Muhammad.
(Last page)




Membaca kisah Rasulullah dari sudut pandang dan kacamata Aisyah, seperti membaca sebuah diary dan surat cinta dari seorang istri untuk mengenang sosok suami tercintanya :)

Ah, Abu Bakar

bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya :

“Siapakah diantara kalian yang puasa pada hari ini?” Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata, “Aku Ya Rosululloh.”

Nabi bertanya, “Siapakah diantara kalian yang mengiringi atau mengantarkan (pemakaman) jenazah pada hari ini?” Abu Bakar menjawab, “ Aku Ya Rosululloh ”

Nabi bertanya lagi, “Adakah diantara kalian yang memberikan makan kepada orang miskin hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Aku Ya Rosululloh ”

Nabi bertanya lagi, “Adakah diantara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini?” Abu Bakar berkata, “ Aku Ya Rosululloh .” 

Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah kebaikan-kebaikan ini berkumpul pada seseorang kecuali dia akan masuk syurga”

Melting gak sih? melting aku mah euy ; kalo dievaluasi gitu di liqoan kebanyakan alibinya astaghfiruloh, ayo berubah!

Fyi geng ; Abu bakar, dijamin bisa masuk dari 8 pintu syurga, karena kecintaan kepada Allah dan Rasulnya, kalo sudah cinta, membuat badan ringan untuk melakukan, kalo sudah cinta pada Allah dan Rosulnya, apapun perintahnya (red : amalan) ringan dilakukan. 

Ketika mendengar Rasululloh mengabarkan tentang pintu-pintu surga, Abu Bakar pun menanggapi, “Wahai Rasululloh, Tidaklah sulit bagi seseorang untuk dipanggil dari satu pintu itu. Adakah orang yang dipanggil dari semua pintu itu?”

Nabi menjawab, “Ada. Dan aku berharap engkau termasuk dari mereka wahai Abu Bakar.” (HR. Bukhari, No. 3666).

Mari saling mengingatkan, dan saling menguatkan dalam kebaikan. 

20 Hari Menuju Ramadhan
keepStrong!
Dinarkha

Tidak terasa Ramadhan pun berakhir segera. Sepertinya baru kemarin menyambut bulan Ramadhan dengan begitu semangat dan gembira. Namun esok hari kita sudah meninggalkannya. Akankah Ramadhan ini membekas di kita? Akankah semua amal ibadah kita lakukan selama 30 hari ini diterima disisi-Nya?

Dari Jabir r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Jika malam Ramadhan berakhir, seluruh makhluk-makhluk besar, di segenap langit, dan bumi, beserta malaikat ikut menangis. Mereka bersedih karena bencana yang menimpa umat Muhammad SAW. Para sahabat bertanya, bencana apakah ya Rasul? Jawab Nabi. Pemergian bulan Ramadhan. Sebab di dalam bulan Ramadhan segala doa terkabulkan. Semua sedekah diterima. Dan amalan-amalan baik dilipatgandakan pahalanya, penyiksaan sementara di hapus.”

Ketika ada pertemuan, maka ada pula perpisahan. Begitu pula dengan bulan Ramadhan. Namun ketika perpisahan menjadi teralu berat sehingga sampai menjadi musibah bagi kita, tentu pastinya kita diliput kesedihan. Tapi adakah rasa itu diantara kita? Adakah kita merasa sedih dan berat meninggalkan Ramadhan?

Bagaimana tidak. Bulan Ramadhan dimana pintu surga dibuka lebar-lebar, sedangkan pintu neraka ditutup rapat-rapat. Dimana banyak orang-orang yang menghidupkan malam dengan ibadah. Dimana di dalamnya terapat kebaikan yang lebih baik dari 1000 bulan. Dan keutamaan-keutamaan lainnya.

Pada suatu ketika Umar bin ‘Abdul Aziz berkhutbah pada hari raya Idul Fitri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima.” Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fitri. Dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”

Lantas bagaimana dengan kita? Yakinkah dalam diri ini terdapat kesedihan ketika Ramadhan pergi meninggalkan kita? Atau apakah terlalu bergembiranya kita menyambut Idul Fitri sehingga menghapuskan kesedihan dan melupakan segera bulan Ramadhan?

Memang menyambut Idul Fitri bolehlah dengan bahagia dan gembira. Namun hendaknya jangan berlebihan sehingga kita melupakan bahwa sesungguhnya bulan Ramadhan adalah latihan bagi kita juga untuk meningkatkan ibadah pada bulan-bulan lainnya.

Seorang penyair Arab mengingatkan kita:
Bukanlah Hari Raya ‘Id itu, bagi orang yang berbaju baru.
Melainkan hakikat ‘Id itu, bagi orang yang bertambah ta’atnya

Semoga dengan latihan yang telah kita laksanakan di bulan Ramadhan, sampai pada ketakwaan. Semoga ketakwaan yang di dapat ini menjadi terus kita pertahankan dan tingkatkan. Semoga dengan Ramadhan berikutnya oleh Allah SWT dipertemukan.

ATM (Amati, Taaruf, Menikah)

Assalamualaikum!

Saya punya banyak utang nulis, tapi berencana memindah resume yang satu ini dulu. Ada beberapa teman yang sudah meminta untuk segera dituliskan resumenya, hehe. Ceritanya 28 Februari kemarin (iya sudah lebih dari dua bulan, akibat blogging blue syndrome saya), saya dan teman teman saya berkesempatan menimba ilmu di sebuah forum kajian bertajuk “Amati, Taaruf, Menikah”. Kajian ini diisi oleh ustadz yang ngegaulnya sama yang muda, Felix Siauw. Baiklah saya tuliskan resumenya ya

Saat ini dunia sedang berubah, bahwa dunia ini tidak melulu dikuasai oleh laki laki karena terjadi pergeseran orientasi. Dulunya wanita lebih emosional daripada laki laki (yang natural born nya adalah pemikir logis), namun dengan adanya era teknologi, sms, sosial media membuat semuanya lebih emosional, termasuk bagi laki laki, jadi lebih mudah mengungkapkan dll. Awalnya bisa terlihat maskulin di kehidupan nyata, tapi di sosial media menye menye (rapuh). Efeknya apa? Dunia jadi semakin dikuasai wanita.

Nah, perang saat ini lebih terfokus pada wanita. Kenapa? Kalau memerangi pria, maka yang rusak hanya 1 orang, yaitu pria tersebut, tapi kalau merusak wanita, maka minimal ada 3 orang yang berhasil dirusak, yaitu wanita itu sendiri, suaminya dan anaknya. Perang disini bukan lagi perkara mengangkat senjata, tapi mengenai pola pikir (ghazwul fikri, eh bener ngga ya tulisannya bgini) melalui 3F. Fun, food, fashion.

Nah, dibali lelaki kuat, ada wanita wanita yang keren yang mendukung mereka. Ulul Azmi contohnya, ada 5 kan ya,

  1. Nabi Nuh
  2. Nabi Ibrahim
  3. Nabi Musa
  4. Nabi Isa
  5. Nabi Muhammad

Ketika nabi Muhammad menikah dengan Khadijah, usia mereka selisih 15 tahun. Waktu diangkat jadi nabi, Nabi Muhammad berusia 40 tahun, setelah sebelumnya beruzlah selama 2 tahun di Jabal Nur (Gua Hira). Selama 2 tahun itu pula, Khadijah dengan setia mengantarkan makanan untuk Rasul ke Gua Hira, padahal perjalanannya mendaki dengan jarak tempuh 3 jam,  subhanallah ya :”) Selain itu, ketika Rasul pertama kali bertemu Jibril, beliau merasa panik, takut dan memutuskan segera pulang. Sesampainya di rumah, Khadijah tanpa banyak bertanya, langsung menyelimuti dan merawat Rasul. Ah, kalau begitu perlakuannya Khadijah, jelas saja Rasul tidak pernah memadamkan sedikit pun perasaan cintanya kepada beliau bahkan sepeninggal Khadijah. Saking sayangnya Rasul, istri beliau yang lain, Aisyah, merasa cemburu berat dengan almh Khadijah. Namun Rasul berkata alasan beliau begitu mencintai Khadijah adalah karena saat tidak ada satu pun orang yang beriman, Khadijah lah yang pertama kali beriman, saat tidak ada satu pun yang mengulurkan tangan, Khadijah lah yang memberikan kedua tangannya, dan ketika tiada istrinya yang memberi anak, hanya Khadijah lah yang memberi keturunan. Khadijah pula satu satunya istri Nabi Muhammad yang mendapat salam dari Allah dan malaikat karena ketaatan pada suami yang luar biasa. Dan keutamaan wanita yang taat padaa suaminya, ketika dia meninggal, dan suaminya ridho atas pengabdian yang telah dia berikan, maka dia bebas memilih masuk ke surga lewat pintu mana yang ia kehendaki, subhanallah.

Selanjutnya adalah mengenai wanita di balik Nabi Isa, yakni Maryam. Saking istimewanya, sampai ada surat yang bernama surat Maryam dan tentang keluarga Maryam, yakni Ali Imran. Maryam ini bukanlah “wanita gampangan”, beliau tidak mau disentuh selain muhrim. Oiya, sampai ada hadits, “sebaik-baik wanita di surga itu Khadijah binti Khuwailid | sebaik-baik wanita di dunia itu Maryam binti Imran” (HR Bukhari). Nah, ada pula yang lain, perempuan di dunia yang subhanallah sekali, “Semulia-mulia wanita di surga adalah Khadijah binti khuwalid (istri nabi Muhammad Saw), Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran (ibunda nabi Isa as.) dan Asiah binti Muzahim (istri Fir’aun).” (H.R ath-Thabari)”

Baiklah, berlanjut ke kisah selanjutnya dari Nabi Musa, siapakah wanita keren di balik Nabi Musa? Rupanya ada ibunya, Umi Musa. Perjuangan beliau semasa hamil Musa sudah diuji karena Firaun memerintahkan semua anak laki laki dibunuh. Akhirnya, ketika Musa lahir, Umi Musa menghanyutkan bayinya ke sungai Nil. Keikhlasan beliau diganti oleh Allah, karena pada akhirnya Nabi Musa selamat dan menjadi pengemban dakwah dan perjuangan melawan Firaun.

Lain lagi cerita dari Nabi Ibrahim, wanita yang setia mendampingi beliau adalah Siti Hajar. Seorang budak Mesir yang beliau bebaskan. Beliau berdua baru memiliki anak setelah lama sekali menikah. Nah, ketika baru saja memiliki anak, Allah memerintahkan untuk hijrah ke Mekkah, padahal jarak tempuhna 1244km, perjalanannya berbulan bulan dan menuju ke tempat yang tandus tiada hewan maupun air. Ketika Nabi Ibrahim ditanya oleh Siti Hajar,’Suamiku Ibrahim, kita mau kemana?” sampai kali kedua belum dijawab oleh Nabi Ibrahim, kemudian Siti Hajar melanjutkan,”Apakah ini perintah Allah?” kemudian Nabi Ibrahim mengiyakan, dan hilanglah seluruh keraguan Siti Hajar dan beliau berkata,” Kalau ini perintah Allah, tinggalkan kami disini, Allah akan menjaga”. Sepeninggal Nabi Ibrahim, Ismail terus menangis karena kehausan, Siti Hajar berlari kesana kemari dari bukit Shofa ke Marwah karena seolah melihat ada mata air (peristiwa ini yang kemudian menjadi dasar adanya sai). Akhirnya setelah 7x bolak balik, akhirnya air justru keluar dari sentakan kaki Ismail.

Nah, dari semua pemaparan cerita singkat tentang orang hebat dan wanita di baliknya, ada satu benang merah yang bisa diambil, bahwa…..Allah selalu lebih tahu. Jangan memaksakan keinginan. Allah lebih tahu waktu yang tepat dan orang yang tepat. Kita hanya perlu memantaskan diri, maka dengan sendirinya orang yang baik lah yang akan datang.

Tanaman yang muncul dari tanah yang baik maka juga akan menghasilkan buah yang baik, berbuah, bermanfaat. Dan tanaman yang muncul dari tanah yang buruk, maka akan mengganggu. Demikian pula manusia. Tugas kita, bukanlah saja sekedar mencari pasangan melainkan mencari orang tua untuk anak kita. Tanah yang baik, istri yang baik dan ibu yang baik, tidak akan didapat lewat jalur pacaran. Pun imam yang baik tidak didapat lewat pacaran, kenapa? Maksiat lebih mudah dilakukan bila sebelum menikah sudah bilang cinta, pegang pegang tangan, nah jadi nanti ketika di pernikahan, bisa jadi dia begitu ke wanita lain. Memang, tidak semua pacaran berujung zina, tapi zina diawali dengan pacaran. Urusan menikah adalah urusan masa depan. Bibit dan tanah harus unggul.

Nah, kalau tidak dengan pacaran, gimana dong? Inilah indahnya Islam, ada cara yang gaulnya mari kita sebut dengan ATM, Amati, Taaruf, Menikah. Dalam Islam, bukan hanya saling menyukai satu sama lain, tapu yang penting adalah butuh kecintaan pada hal yang sama. Kalau cintanya sudah pada hal yang sama, maka akan lebih mudah. Yaitu cinta kepada Allah. Pacaran tidak ada korelasinya dengan langgengnya pernikahan. Kalau menikah, mencintai hal yang sama, maka insya Allah akan langgeng.

Tapi, taaruf ini jangan disamakan dengan pacaran islami atau pacaran syariah ya. Taaruf hanya dilakukan bila sudah siap menikah. Pada prosesnya pun taaruf tidak boleh berkhalwat. Memang tidak ada batasan waktu, tapi jangan terlalu lama proses taarufnya. Selain itu ngga boleh ngejip atau dikenal engan nge tag. Itu namanya ngambil rezeki orang. Jadi kalau memang iya, disegerakan, kalau belum siap, harus mengikhlaskan.

Menikah, bukanlah proses yang instan, persiapannya harus sudah lama, bahkan sejak belum punya calon sudah harus bersiap. Kita harus memantaskan diri, kita harus mampu meyakinkan bahwa kita sudah siap dan mampu. So does perempuan, sebelum ada yang ngelamar, perempuan juga sudah harus mulai bersiap, belajar ngurus anak, masak, dan yang terpenting, belajar membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

Umumnya, bapaknya wanita akan melakukan fit and proper test. Intinya sih, beliau harus yakin kalai anaknya bisa diperlakukan sebagaimana bapaknya memperlakukan dan membahagiakan. Oleh karena itu, bapaknya wanita selalu berpikir membahagiakan anaknya sebelum diambil orang. Maka, pacaran itu adalah proses pengkhianatan kepada bapak kita.

Taaruf adalah proses saling mengenali satu sama lain berlandaskan kecintaan karena Allah. Maka, pilihlah wanita karena ketaatannya, kalau sudah begini, urusan ke belakang akan lebih mudah. Karena keluar satu hadits, atau ajaran, maka istri pasti akan manut, karena tau, itu adalah perintah Allah. Nah, ada satu hadits yang harus dihafalkan oleh istrinya ust Felix waktu sebelum menikah, tapi saya lupa nyatat nih versi aslinya, huhu, tapi intinya ada 4 kriteria istri yang diridhoi Allah

  1.  Istri yang penyayang
  2. Istri yang banyak anak
  3. Istri yang paling manfaat untuk suaminya (menyenangkan saat bersama, merindukan ketika berpisah)
  4. Saat istri/ suami marah, dia tidak akan tahan lama lama, dan akan menghambur ke suami dan meminta maaf agar suaminya kembali ridho

Saat ini anggaplah kita sedang puasa, ketika puasa memang godaan ada dimana mana, tapi kalau kita icip2, curi2 waktu untuk mokel, maka ketika kita buka puasa pasti sudah gaada gregetnya lagi. Sama dengan menjaga hati. Sebagai penutup materinya, persiapan pertama yang harus kita lakukan apa? Ngaji. Bukan sekedar membunyikan quran, tapi mengkaji isinya dan materi materi lainnya bersama orang yang memiliki ilmu. Dengan kita belajar mengenai Islam, maka persiapan kita akan jadi persiapan yang paling baik. Jangan lupa kondisikan orang tua kita tentang mindset kita tentang taaruf dan kriteria yang kita inginkan. Persiapkan sejak belum ada calon, insya Allah akan dilancarkan sampai menikah. Aamiin.

Sekian share materinya, semoga membawa manfaat bagi siapapun yang membaca, silakan disebarkan bagi yang membutuhkan. Semoga kita senantiasa terjaga hatinya, diluruskan niatnya untuk menjaga hati, karena percaya lah jodoh bukanlah seperti sandal jepit yang bisa tertukar. Tulang rusuk pasti akan kembali kepada pemiliknya. Kita hanya perlu percaya, bahwa rencana Allah selalu lebih indah daripada yang kita rencanakan.

Wassalamuaikum wr.wb.

Did you know?

When Ali al Akbar (sa) was given permission to go in the battlefield,
Imam Hussain (as) raised his hands to the heavens and supplicated, “O Allah! Bear witness against these folks that a man who looks most like Your Messenger Muhammad in his physique, manners, and eloquence has come out to fight them!
Whenever we missed seeing Your Prophet, we would look at him.
O Allah! Deprive them of the blessings of the earth, create dissension among them, and make them into many parties, and do not let their rulers ever be pleased with them, for they invited us to support us, then they transgressed on us and fought us!”

Then he recited the Qur’anic verse saying, “Allah surely chose Adam, Noah, the family of Abraham and the family of Imran over all people, offspring of one another, and Allah is Hearing, Knowing (Qur’an, 3:34).”


Source : [al-Khawarizmi, Maqtal al-Husayn, Vol. 2, p. 30]

*MENYESAL SAAT SAKARATUL MAUT*

Alkisah ada seorang sahabat Nabi bernama Sya’ban RA.

Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan
sahabat2 yg lain.
Ada suatu kebiasaan unik dari beliau yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai dia selalu beritikaf di pojok depan masjid.
Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah bersandaran atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.

Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh Rasulullah SAW, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tsb termasuk saat sholat berjamaah.

Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai RasululLah SAW mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa. Nabi pun bertanya kepada jemaah yg hadir apakah ada yg melihat Sya’ban RA.

Namun tak seorangpun jamaah yg melihat Sya’ban RA. Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yg ditunggu belum juga datang. Khawatir sholat subuh kesiangan, Nabi memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Selesai sholat subuh, Nabi bertanya apa ada yg mengetahui kabar dari Sya’ban RA.
Namun tak ada seorangpun yang menjawab.
Nabi bertanya lagi apa ada yg mengetahui di mana rumah Sya’ban RA.

Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA.
Nabi yang khawatir terjadi sesuatu dg Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumahnya.
Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Nabi dan rombongan sebelum sampai ke rumah yg dimaksud.
Rombongan Nabi sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha (kira2 3 jam perjalanan).

Sampai di depan rumah tersebut Nabi mengucapkan salam.
Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tsb.

“Benarkah ini rumah Sya’ban?” Nabi bertanya.

“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tsb.

“Bolehkah kami menemui Sya’ban, yg tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?”

Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:
“Beliau telah meninggal tadi pagi…“

InnaliLahi wainna ilaihirojiun… Maa sya Allah, satu2nya penyebab dia tidak sholat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya.

Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rasul
“ Ya Rasul ada sesuatu yg jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dg masing2 teriakan disertai satu kalimat.
Kami semua tidak paham apa maksudnya.”

“Apa saja kalimat yg diucapkannya?” tanya Rasul.

Di masing2 teriakannya dia berucap kalimat:

“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”

“ Aduuuh kenapa tidak yg baru……. “

“ Aduuuh kenapa tidak semua……”

Nabi pun melantukan ayat yg terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22 :
“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.“

Saat Sya’ban dlm keadaan sakratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah.
Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah.
Apa yang dilihat oleh Sya’ban (dan orang yg sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yg lain.
Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk sholat
berjamaah lima waktu.
Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yg dekat.
Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yg diperolehnya dari langkah2 nya ke Masjid.
Dia melihat seperti apa bentuk surga ganjarannya.

Saat melihat itu dia berucap:
“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”
Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban , mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yg didapatkan lebih banyak dan sorga yg didapatkan lebih indah.

Dalam penggalan berikutnya Sya’ban melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.
Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang.
Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju.
Sya’ban sengaja memakai pakaian yg bagus (baru) di dalam dan yg jelek (butut) di luar.
Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yg kena hanyalah baju yg luar. Sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan solat dg baju yg lebih bagus.
Dalam perjalanan ke masjid dia menemukan seseorang yg terbaring kedinginan dalam kondisi mengenaskan.
Sya’ban pun iba, lalu segera membuka baju yg paling luar dan dipakaikan kepada orang tsb dan memapahnya utk bersama2 ke masjid melakukan sholat berjamaah.
Orang itupun terselamatkan dari
mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah.
Sya’ban pun kemudian melihat indahnya sorga yg sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tsb.
Kemudian dia berteriak lagi:
“ Aduuuh kenapa tidak yang baru…“
Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban.
Jika dg baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yg begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yg lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yg baru.

Berikutnya Sya’ban melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dg roti yg dimakan dg cara mencelupkan dulu ke segelas susu.
Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yg meminta diberi sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan.
Melihat hal tsb. Sya’ban merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua.
Kemudian mereka makan bersama2 roti itu yg sebelumnya dicelupkan susu, dg porsi yg sama.
Allah kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dg surga yg indah.
Demi melihat itu diapun berteriak
lagi:
“ Aduuuh kenapa tidak semua……”
Sya’ban kembali menyesal .
Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat surga yg lebih indah.

Masyaallah, Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, tapi menyesali mengapa tidak optimal.
Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda, bahkan ada yg meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia.
Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah.
Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat dimundurkan.

Sering sekali kita mendengar ungkapan hadits berikut:

“Sholat Isya berjamaah pahalanya sama dengan sholat separuh malam.”

“Sholat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan sholat sepanjang malam.”

“Dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik dari pada dunia dan isinya.”

Namun lihatlah… masjid tetap saja lengang.
Seolah kita tidak percaya kepada janji Allah.

Mengapa demikian?
Karena apa yg dijanjikan Allah itu tidak terlihat oleh mata kita pada situasi normal.

Mata kita tertutupi oleh suatu hijab.
Karena tidak terlihat, maka yang berperan adalah iman dan keyakinan bahwa janji Allah tidak pernah meleset.
Allah akan membuka hijab itu pada saatnya.
Saat ketika nafas sudah sampai di tenggorokan.

Sya’ban RA telah menginspirasi kita
bagaimana seharusnya menyikapi janji Allah tsb.

Dia ternyata tetap menyesal sebagaimana halnya kitapun juga akan menyesal.
Namun penyesalannya bukanlah karena tdk menjalankan perintah Allah SWT.
Penyesalannya karena tidak melakukan kebaikan dgn optimal.

Sudahkah kita semua di group ini berhitung siap menghadapi apa yg akan pasti kita hadapi semua…sakratul maut…ato sibuk masih sibuk dg urusan dunia kita yg pasti kita tinggalkan…???

Semoga kita selalu bisa mengoptimalkan kebaikan² disetiap kesempatan.
Aamiin.
Semoga Bermanfaat

KEKASIH ALLAH DIKALANGAN ORANG BERDOSA

Terdapat seorang lelaki pada zaman Nabi Musa ‘alaihissalam yang meninggal dunia. Orang ramai tidak mahu menguruskan jenazahnya kerana kefasikan lelaki ini. Mereka kemudiannya membuang jenazahnya ke sebuah tempat yang kotor dan busuk. Allah Subhanahu Wa Taala kemudiannya memberikan wahyu kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

Allah berfirman: “Wahai Musa, seorang lelaki telah meninggal dunia, tetapi orang-orang telah mencampakkan jenazahnya di tempat yang kotor, sedangkan dia ialah kekasih (wali) daripada kekasih-Ku, mereka tidak mahu memandikannya, mengkafankannya dan mengebumikan jenazahnya, maka pergilah engkau uruskan jenazahnya.”

Kemudian Nabi Musa ‘alaihissalam pun berangkat ke tempat tersebut. Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya kepada orang-orang: “Beritahulah aku tempatnya.” Mereka pun bersama-sama menuju ke tempat tersebut. Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam melihat mayatnya, orang-orang pun bercerita tentang kefasikannya. Lalu Nabi Musa ‘alaihissalam berbisik kepada Tuhan-Nya dengan berkata: “Ya Allah, Engkau memerintahkan aku untuk menguruskan mayatnya, sedangkan orang-orang telah menjadi saksi atas kejahatannya, maka Engkau lebih tahu daripada mereka.”

Kemudian Allah berfirman: “Wahai Musa, benarlah kata-kata kaummu tentang perilaku lelaki ini semasa hidup. Namun, ketika dia menghampiri ajalnya, dia memohon pertolongan dengan tiga perkara, jika semua orang yang berdosa memohon dengannya, pasti Aku akan mengampuninya dirinya demi Allah, Zat yang Maha Mengasihani.” Tanya Nabi Musa: “Ya Allah, apakah tiga perkara itu?”
Allah berfirman: “Ketika dia di ambang kematiannya,

1) Dia Benci Kemaksiatan Dalam Hati
Dia berkata: “Ya Tuhanku, Engkau tahu akan diriku, penuh dengan kemaksiatan, sedangkan aku sangat benci kepada kemaksiatan dalam hati, tetapi jiwaku terkumpul tiga sebab aku melakukan maksiat walaupun aku membencinya dalam hatiku iaitu, hawa nafsuku, teman yang jahat dan Iblis yang laknat. Inilah yang menyebabku terjatuh dalam kemaksiatan, sesungguhnya Engkau lebih tahu daripada apa yang aku ucapkan, maka ampunilah aku.”

2) Mencintai Orang Soleh
Dia berkata: “Ya Allah, Engkau tahu diriku penuh dengan kemaksiatan, dan tempat aku ialah bersama orang fasik, tetapi aku amat mengasihi orang-orang yang soleh walau aku bukan dari kalangan mereka, kezuhudan mereka dan aku lebih suka duduk bersama mereka daripada bersama orang fasik. Aku benci kefasikan walau aku adalah ahli fasik.”

3) Mengharap Rahmat Allah Dan Tidak Berputus Asa
Dia berkata: “Ya Allah, jika dengan meminta untuk dimasukkan ke dalam syurga itu akan mengurangkan kerajaan-Mu, sudah pasti aku tidak akan memintanya, jika bukan Engkau yang mengasihaniku maka siapakah yag akan mengasihaniku?”

Lelaki itu kemudian berkata lagi: “Ya Allah, jika Engkau mengampuni dosa-dosaku bagai buih di pantai, maka bahagialah kekasih-kekasih-Mu, Nabi-Nabi-Mu, manakala syaitan dan Iblis akan merasa susah. Sebaliknya jika Engkau tidak mengampuniku, maka syaitan dan Iblis akan bersorak kegembiraan dan para Nabi-Mu dan kekasih-Mu akan merasa sedih. Oleh itu, ampunilah aku wahai Tuhan Pencipta Sekalian Alam, sesungguhnya Engkau tahu apa yang aku ucapkan.”

Maka, Allah pun berfirman: “Lantas Aku mengasihaninya dan Aku mengampuni segala dosanya, sesungguhnya Aku Maha Mengasihani, khusus bagi orang yang mengakui kesalahan dan dosanya di hadapan-Ku. Hamba ini telah mengakui kesalahannya, maka Aku ampuninya. Wahai Musa, lakukan apa yang Aku perintahkan, sesungguhnya Aku memberi keampunan sebab mulianya orang yang menguruskan jenazahnya dan menghadiri pengebumiannya.”

(Riwayat Wahhab bin Munabbih, Kitab Tawwabin susunan Imam Ibnu Qudamah)

————–
Kisah ini menunjukkan kita tidak boleh sama sekali berputus asa dari rahmat Allah yang amat luas walau apa jua sekali pun. Firman Allah: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (Surah Al-A’raf : 156).
Dan benarlah sabdaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Janganlah kalian merasa kagum dengan seseorang hingga kalian dapat melihat akhir dari amalnya. Sesungguhnya ada seseorang selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal kebaikan, yang sekiranya dia meninggal pada saat itu, dia akan masuk ke dalam syurga, namun dia berubah dan beramal dengan amal keburukan.

Dan sungguh, ada seorang hamba selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal keburukan, yang sekiranya dia meninggal pada saat itu, dia akan masuk neraka, namun dia berubah dan beramal dengan amal kebaikan.

Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Dia akan membuatnya beramal sebelum kematiannya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?” Beliau bersabda: “Memberinya taufik untuk beramal kebaikan, setelah itu Dia mewafatkannya.” (Musnad Ahmad, no. 11768)

Wallahu a’lam bissawab

(ustaz Iqbal Zain Al-Jauhari)

SILA SHARE DAN SEBARKAN

Pengabulan Do'a
  • A : Menurutmu, ada nggak do'a yang sia-sia?
  • B : Nggak lah. Orang udah jelas-jelas Allah berfirman "Berdo'alah, maka akan Aku kabulkan.."
  • A : Iya ding. Tapi sayangnya, orang-orang suka mengeluh kalau do'anya belum dikabulin.
  • B : Mereka kurang sabar itu mah.
  • A : Maksudnya?
  • B : Mereka tergesa-gesa do'anya pingin segera dikabulkan. Nggak sabar. Padahal pasti do'a itu dikabulkan kalau kita terus bersabar.
  • A : ....
  • B : Harusnya tuh ya, kita malu sama Nabi Ibrahim. Kamu tahu Nabi Ibrahim berdo'a apa?
  • A : Apa?
  • B : Ya Allah, nanti diantara keturunanku penduduk Makkah ini tolong jadikan diantara mereka seorang Rosul yang akan membacakan untuk mereka ayat-ayatku. Mengajarkan kitab dan hikmah. Mensucikan mereka.
  • A : ......
  • B : Bayangannya Nabi Ibrahim itu nggak jauh-jauh lho. Cucunya Ismail atau cicitnya gitu, akan ada Rosul yang akan ada disana. Tapi, kamu tahu berapa lama do'a itu dikabulkan oleh Allah?
  • A : Nggak tau. Berapa lama emang?
  • B : Kalau ikut hitungannya Ibnu Abbas 4200 tahun kemudian. Karena jarak antara Muhammad ke Isa 600 tahun. Isa ke Musa 1200 tahun. Musa ke Ibrahim 2400 tahun. Jadi kalau ditotal menjadi 4200 tahun. See, ada jarak 4200 tahun dari do'a yang dikabulkan dengan pengabulannya. Jadi, tidak ada yang sia-sia kan dalam do'a itu.
  • A : MashaAllah..
  • B : Jadi Allah itu kalau memberi lebih baik daripada yang kita minta. Orang yang tidak pernah kita minta saja diberi. Jadi, kalau kita minta pastinya lebih baik dari yang kita minta. Kamu pernah minta nafas?
  • A : Nggak pernah...
  • B : Nah, nggak pernah kan. Kecuali kalau sejak tadi asmamu kumat. Haha. Tapi, Allah terus memberi udara kepada kita untuk bernafas. Maka, pada sesuatu yang kita minta, pastinya Allah memberi lebih baik.
  • A : Haha. Oh iya ya..
  • B : Coba perhatiin. Nabi Ibrahim itu cuman mendo'akan Makkah lho. Indonesia nggak dido'ain. Apalagi Semarang. Haha. Tapi nyatanya? Allah mengabulkan seorang Rosul bukan buat Makkah doang. Tapi buat seluruh alam semesta. Nabi kita Muhammad SAW.
  • A : Hahaha. Iya ya. Emm, kamu malu sama Nabi Ibrahim?
  • B : Malu lah. Kamu?
  • A : Iya sama.
  • B : Makanya, yuk jangan pernah putus asa buat berdo'a. Untuk kita, untuk keturunan-keturunan kita nanti.
  • A : Siyaaaaap. InshaAllah. Hehehe.
Khutbah Nabi di awal Ramadhan

“Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”

“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.” “Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Satu Kerinduan

“Bila kita menyebutkan tentang rindu kita kepada Baginda Rasulullah ﷺ. Ketahuilah bahawasanya Baginda Rasulullah ﷺ itu lebih merindui kepada kita wahai ummat. Bahkan bukit uhud juga merindui Rasulullah. Ketika Nabi Muhammad ﷺ berada di atasnya tak tahan, bergoyang.”

“Sehingga Baginda Rasulullah ﷺ mengatakan; "Mantaplah kamu wahai Uhud, kerana di atasmu ada seorang Nabi dan seorang siddiq iaitu Saidina Abu Bakar As-Siddiq رضي الله عنه وأرضاه dan dua orang syahid. Iaitu Saidina Umar Al-Khattab dan Saidina Uthman Bin Affan رضي الله عنه وأرضاه.”

“Dan Nabi ﷺ mengisytiharkan cintanya kepada Uhud kerana tahu cinta Uhud kepada Baginda Rasulullah ﷺ Kata Baginda Rasulullah ﷺ; "Sesungguhnya Uhud itu cinta kepada kami dan kami juga cinta kepada Uhud dan nanti Gunung Uhud itu akan berada di Syurga.”

“Lihatlah batang kurma, gunung uhud bahkan makhluk-makhluk yang lain yang tidak bernyawa, tidak mempunyai akal sempurna seperti kita ini pun begitu merindui dan mencintai Nabi ﷺ dan mereka ini akan bersama Baginda Rasulullah ﷺ di Syurga kelak disebabkan kecintaan mereka yang mendalam kepada Baginda Rasulullah ﷺ.”

“Kita pun boleh dapat bersama dengan Nabi Muhammad ﷺ tapi dengan syarat kita pun benar-benar cinta kepada Baginda Rasulullah ﷺ. Mari kita tanyakan kepada diri kita masing-masing; "Sejauh mana kecintaan kita kepada Baginda Rasulullah ﷺ. Dalam setiap hari berapa banyak kita menyebut dan menceritakan mengenai Baginda Rasulullah ﷺ?”

“Berapa kerap kita mengingati dan menangis terkenangkan kepada Baginda Rasulullah ﷺ? Berapa banyak kali mulut kita ini untuk mudah menyebut dan berselawat kepada Baginda Rasulullah ﷺ ketikamana kita mendengarkan nama Baginda Rasulullah ﷺ disebutkan? Berapa banyak sunnah-sunnah Baginda Rasulullah ﷺ yang kita amalkan dalam kehidupan kita seharian?”

“Bila kita menyebutkan tentang rindu kita kepada Baginda Rasulullah ﷺ. Ketahuilah bahawasanya Baginda Rasulullah ﷺ itu lebih merindui kepada kita wahai ummat. Seperti kebiasaan Baginda Rasulullah ﷺ akan selalu menziarahi kepada perkuburan Para Sahabat yang di antaranya di Baqi dan di Uhud.”

“Maka suatu ketika kata Para Sahabat di akhir umur Baginda Rasulullah ﷺ seperti rutinnya Baginda Rasulullah ﷺ yang selalu menziarahi kepada perkuburan syuhada Uhud maka ketikamana Baginda Rasulullah ﷺ kembali untuk kembali ke Madinah.”

“Dalam perjalanan Baginda Rasulullah ﷺ berhenti pada suatu tempat maka Para Sahabat juga berhenti bersama dengan Baginda Rasulullah ﷺ. Para Sahabat melihat Nabi ﷺ diam maka diperhatikan akan Baginda Rasulullah ﷺ dan mereka melihat akan mengalirnya airmata Baginda Rasulullah ﷺ yang sedang menangis.”

“Lalu Nabi Muhammad ﷺ mengatakan; "Aku rindu kepada saudara-saudaraku.” Kata Baginda Rasulullah ﷺ. Maka Para Sahabat bertanya; “Bukankah kami ini saudara-saudaramu Ya Rasulullah?” Nabi ﷺ mengatakan; “Tidak!! Bahkan kamu semua itu adalah sahabat-sahabatku.” Maka ditanya lagi Para Sahabat.“

"Maka siapakah itu saudara-saudaramu Ya Rasulullah”
Lantas Nabi ﷺ mengatakan “ Saudaraku adalah mereka-mereka orang yang akan datang setelah aku yakni setelah kewafatanku sedang mereka itu teguh beriman kepada aku walaupun mereka tidak pernah melihat kepada aku.”

“Kata Baginda Rasulullah ﷺ sambil menangis. Alangkah rindunya Baginda Rasulullah ﷺ kepada kita. Sebab apa?Sebab rindunya hatinya Baginda Rasulullah ﷺ yang begitu suci sehingga alangkah terangnya melihat akan Ummatnya walau pada zaman bila pun dan keadaan mana pun diingati oleh Baginda Rasululullah ﷺ.”

Daripada Al-Habib Najmuddin Othman Al-Khered.

(Raudhatul Muhibbin)

Doa Ustaz Ahmad Dusuki Abd. Rani

Bismillahirrahmanirrahim…


Ya Allah Ya Tuhan kami

Kami mohon keampunan dosa² kami Ya Allah

Dosa besar kami & dosa kecil kami Ya Allah

Dosa yg sengaja kami lakukan semenjak kecil kami ya Allah

sehingga dewasa ini Ya Allah


Ya Allah Rahmatilah dlm kehidupan kami Ya Allah

Murahkanlah rezki kami Ya Allah

Panjangkan umur kami dalam redha Kamu Ya Allah


Ya Allah Ya Tuhan kami

Kami mohon keredhaanMu Ya Allah

Apa yang pernah dipohon oleh Nabi kami Ya Allah

Nabi Muhammad SAW Ya Allah

Jauhkanlah kami dari apa yg diminta oleh Nabi Muhammad SAW


Ya Allah Ya Tuhan kami

Permudahkanlah segala urusan kerja kami ya Allah

Jadikanlah kami hamba²Mu yg soleh ya Allah


Pandangkanlah kami dgn rahmatMu ya Allah

Seburuk manapun kami & sekeji mana pun kami Ya Allah

Pandanglah kami dgn pandangan RahmatMu Ya Allah


Ya Allah, seburuk mana pun kami atau sekeji mana pun kami Ya Allah

Pandanglah kami dgn pandangan RahmatMu Ya Allah


Sebesar manapun dosa kami Ya Allah

Sebanyak manapun kemarahanMu Ya Allah

Rahmatilah dalam hidup kami Ya Allah


Ya Allah Ya Tuhan

Kami mohon keredhaanMu Ya Allah

Agar jadikan kami hambaMu Ya Tabah Ya Allah

Yg mampu menghadapi ujian² dlm kehidupan ini Ya Allah


Ya Allah Ya Tuhan kami

Jadikanlah kami ini mampu menghadapi ujianMu dgn tenang & tabah

Lapangkanlah dada kami dlm bicara kami Ya Allah

Permudahkanlah setiap urusan kerja kami ya Allah


Ya Allah Ya tuhan kami

Kami mohon keredhaanMu Ya Allah

Agar dijadikan kami teman² yg baik dlm hidup ini Ya Allah

Kekuatan kpd kami Ya Allah

Mampu memberi kekuatan kpd kami yang tidak ternilai Ya Allah


Ya Allah kami minta agr dijauhi teman² yang merosakkan hidup kami Ya Allah

Drpd teman² yg menikam kami drpd belakang Ya Allah


Ya Allah ya Tuhan kami

Rahmatilah dalam hidup mereka & hidup kami Ya Allah


Ya Allah Ya tuhan kami berikanlah petunjuk kpd kami Ya Allah

Pada mula kami dlm keaadaan leka Ya Allah

Kamu sedarkanlah kami Ya Allah


Di waktu mana kami dlm kesesatan Ya Allah

Kamu tunjukkanlah kami jln yang lurus Ya Allah


Di waktu mana kami dlm kegelapan Ya Allah

Cahayakanlah kami dgn cahaya imanMu Ya Allah


Di waktu mana kami terkapai² & terkial² dlm hidup kami Ya Allah

Kamu bimbinglah kami Ya Allah

Kamu bantulah kami Ya Allah

Kerana kami memerlukan pertolongan & bantuanMu Ya Allah


Ya Allah Ya tuhan Kami

Jadikanlah setiap kata² kami

Kata² yg penuh hikmah Ya Allah


Setiap perjalanan kami

Perjalanan yg penuh dgn keberkatan Ya Allah


Setiap tutur bicara kami Ya Allah

Mampu didengari makhluk Kamu dilangit mahupun dibumi Ya Allah


Ya Tuhan kami

Kami mohon keampuanan dosa² kami ya Allah

Sehingga bibir kami Ya Allah

Mampu menyebut LAILAHAILLALLAH, MUHAMMADURRASULLULLAH


Di kala mana penghujung dlm kehidupan kami Ya Allah

Di waktu mana kaki kami mula sejuk

Di waktu mana mata kami tidak mampu digerakkan

Tangan kami tidak mampu lagi utk menyentuh

Tubuh badan kami mula kesejukan Ya Allah

Di waktu mana roh kami mula menyusut keluar Ya Allah

Sedikit demi sedikit dlm jasad ini Ya Allah

Rahmatilah kami diwaktu itu Ya Allah


Ya Allah tunjukkanlah kami tempat kami dlm syurga firdausMu ya Allah


Ya Allah Ya tuhan kami

Rahmatilah kami disaat mayat kami dimandikan Ya Allah


Rahmatilah kami

Di waktu mana kami dikapankan mayat kami Ya Allah


Rahmatilah kami

Sewaktu mana mula disembahyangkan mayat kami Ya Allah


Jadikanlah org yang paling soleh doakan kami sewaktu menyembahyangkan kami Ya Allah


Ya Allah sewaktu mana kami diusung keluar drpd rumah kami nanti Ya Allah

Tinggalkanlah amalan² keji kami Ya Allah


Bawakanlah amalan² yg baik sahaja utk dihadiahkan di hadapan kamu Ya Allah


Sewaktu mana kami dihadapkan muka kami ke kiblat Ya Allah

Sewaktu mana tanah mula berbau dihadapan kami Ya Allah

Sewaktu mana liang lahad mula ditutup sedikit demi sedikit Ya Allah

Sewaktu mana tanah² mula berguguran di atas badan kami Ya Allah

Sewaktu mana Malaikat Mungkar & Nakir dihujung kaki kami Ya Allah

Jadikanlah kubur kami di antara taman² syurga Ya Allah

Jgn Kamu jadikan kubur kami di antara kawah² neraka Ya Allah


Ya Allah sewaktu kami mula disoal Ya Allah

Jgn banyak soalan² Mungkar & Nakir Ya Allah

Sehingga menggigil tubuh badan kami Ya ALlah

Utk menjawab soalan Mungkar & Nakir sewaktu itu Ya Allah


Ya Allah ya Tuhan kami

Kumpulkanlah kami dgn Arwah ayah ibu kami sebelum kami dihadapkan di hadapan kamu Ya Allah


Kami merindui mereka saat mereka membesarkan kami dahulu Ya Allah

Saat mana mereka bersusah payah membesarkan kami Ya Allah

Kami merindui mereka & kami tidak mampu lagi utk mengucup dahi mereka Ya Allah


Ya Allah Ya tuhan kami

Jadikanlah malam pertama kami di Alam barzakh adalah malam terindah Ya Allah

Di waktu mana kami gembira di saat itu Ya Allah


Jgn Kamu jadikan kubur kami di antara kawah² neraka Ya Allah

Ya Allah jgn Kamu jadikan kubur kami di antara kawah² neraka Ya Allah

Ya Allah jgn Kamu jadikan kubur kami di antara kawah² neraka Ya Allah


Ya Allah Ya Tuhan kami Kami Mohon Kepada kamu Ya Allah

bangkitkan kami dgn para Nabi, para Syuhada’ & para solihin Ya Allah


Ya Allah Ya tuhan kami

sewaktu mana ditujukan amalan manusia di padang mahsyar nanti Ya Allah

Berilah suratan amalan kami di sebelah tgn kanan kami Ya Allah

Jgn Kamu berikan suratan amalan kami dgn tgn kiri Ya Allah


Sewaktu mana ditayangkan amalan manusia Ya Allah

Jgn Kamu tayang kesilapan kehidupan kami Ya Allah

Jgn Kamu dedahkan kekhilafan kami Ya Allah

Kami malu & kami malu di hadapan Kamu Ya Allah


Ya Allah Ya Tuhan kami

Ampunkanlah dosa kami Ya Allah

Di kala kami melalui titian sirat nanti Ya Allah

Masukkanlah kami ke dlm Syurga Firdaus Ya Allah

Bersama dgn para Nabi, para auliya’ & para solihin

Dgn keluarga kami yang kami cintai Ya Allah


Ya Allah ampunkanlah dosa kami & kedua ibu bapa kami ya Allah

Khususnya dosa kami terhadap ibu kami Ya Allah

Kami pernah cakap kasar dgn ibu kami Ya Allah

Kami pernah menengking kata² ibu kami Ya Allah

Kami pernah mengalirkan air mata ibu kami terhadap kami Ya Allah


Ya Allah dosanya kami di waktu itu Ya Allah

Krn kami lakukan di waktu kami tidak mengerti Ya Allah

Kami lakukan di waktu kami jahil Ya Allah

Kami tidak sengaja meruntunkan hati ibu kami Ya Allah

Kami tidak sengaja melukakan hati ibu kami Ya Allah


Ya Allah kami tahu ibu kami menyayangi kami Ya Allah

Sewaktu kami kecil Ya Allah

Susunyalah yg membesarkan kami Ya Allah

Sewaktu mana kami kecil dahulu Ya Allah

Ibu kami berhutang keliling pinggang utk membesarkan kami Ya Allah


Sewaktu mana kami kecil dahulu Ya Allah

Pipi ini dicium Ya Allah

Pipi ini dicium Ya Allah

Kemudian kami diselimuti dgn penuh kasih syg Ya Allah


Ya Allah sayangnya diwaktu kami besar ini ya Allah

Kami tidak mampu membalas jasa²nya Ya Allah

Rahmatilah ibu bapa kami Ya Allah

Rahmatilah mereka sewaktu mana mereka merahmati kami sewaktu kami kecil ya Allah


Ya Allah Ya Tuhan kami

Berilah kami kekuatan dlm hidup kami ya Allah

Utk mendidik keturunan anak cucu kami Ya Allah

Jgn kerana dosa kami

Mereka mencela kami Ya Allah


Ya Allah kerana dosa² kami Ya Allah

yang membuatkan kami hilang dr RahmatMu Ya Allah


Kerana dosa² inikah Ya Allah yg menyebabkan kami semakin jauh dgn Kamu Ya Allah


Kerana dosa² inikah ya Allah

Yg menyebabkan Kamu tidak memandang kami ya Allah


Jika kerana dosa² ini Ya Allah

Ampunkanlah dosa² kami Ya Allah

Ampunkanlah kami Ya Allah

Ampunkanlah kami ya Allah


Kerana kami HambaMu Ya Allah

Kerna Kami HambaMu Ya Allah..


Amin Ya Rabbal Alamin

Muhasabah Diri.

MARI KITA TANYA DIRI KITA MASING-MASING. HARI INI MATA KITA INI SELALU MENANGIS KERANA APA? SIAPAKAH YANG PALING KITA RINDUKAN SEKALI DALAM HATI KITA? SIAPAKAH YANG PALING KITA CINTAI? NAMA SIAPAKAH YANG SELALU BERLEGAR-LEGAR BERMAIN DI DALAM FIKIRAN KITA? YANG SEHINGGA NAMANYA SERING KITA SEBUT-SEBUTKAN BAIK ITU DENGAN LISAN KITA INI MAHUPUN KITA UNGKAPKAN DI DALAM HATI KITA INI

ALANGKAH RUGINYA KITA KALAU KITA SEBAGAI UMMAT NABI MUHAMMAD ﷺ
TAK RASA RINDU DAN CINTA KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ, MATA KITA INI SUSAH UNTUK MENITISKAN AIRMATA KERINDUAN KEPADA BAGINDA RASULULLAH ﷺ KERANA KETAHUILAH BAHAWASANYA SESUNGGUHNYA SELURUH MAKHLUK BAIK YANG BERNYAWA ATAUPUN TIDAK BERNYAWA ITU SANGAT RINDU DAN CINTA KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ.

Suatu hari setelah Nabi ﷺ berkhubah datang seorang memberi tawaran kepada Nabi ﷺ. “Ya Rasulullah. Alangkah eloknya kalau engkau berkhutbah di atas mimbar yang lebih tinggi supaya kami semua nanti dapat melihat kepadamu.” Semua nak melihat kepada Rasulullah ﷺ.

Maka dipersetujui oleh Nabi ﷺ dan dibuat mimbar yang baru yang jaraknya daripada batang kurma tempat Nabi ﷺ bersandar dan berkhutbah sebelum ini tak lebih 10 langkah tapi ketika mana siap mimbar yang baru. Nabi ﷺ pun berjalan melintasi batang kurma itu.

Maka Nabi ﷺ naik mimbar berkhutbah tapi tiba-tiba semua mendengar bunyi seperti bayi yang sedang menangis. Bukan Nabi ﷺ seorang sahaja yang dengar tapi semua yang berada di situ turut mendengarnya kehairanan.

Maka Nabi ﷺ berhenti berkhutbah, Nabi ﷺ turun daripada mimbar dan pergi kepada batang kurma itu. Dan Nabi ﷺ peluk dan Nabi ﷺ usap dan Nabi ﷺ dilihat bercakap dengan batang kurma itu.Yang kata perawi hadis “Suara tangisan itu daripada kuat semakin perlahan semakin perlahan seperti bayi yang dipujuk ketika menangis di dodoi-dodoikan akhirnya perlahan dan tidak mendengar lagi tangisan.”

Ini suatu perkara yang kita kena sedar dan faham betul-betul bahawa Nabi ﷺ nak bagi mesej kepada Para Sahabat dan kepada kita Ummat Baginda Rasulullah ﷺ. Betapa nilai Nabi ﷺ itu wahai Ummat kalau kamu tak rindu dan tak menghargai kepada Nabi ﷺ maka ketahuilah seluruh makhluk itu rindu dan cinta kepada Nabi ﷺ.

Kata Nabi ﷺ “ Ini batang kurma menangis. Kenapa? Kerana berpisah dengan aku dan aku pujuk dia, belai dia dan aku tawarkan kepadanya. Wahai batang kurma. Adakah engkau ingin aku tanam kembali dan engkau tumbuh seperti pohon kurma yang lain dan memberikan manfaat kepada orang lain ataupun engkau pilih untuk bersamaku di Syurga?”

Kalau kita batang kurma agak-agak kita pilih yang mana? Ini batang kurma bijak. Dia mengatakan “ Aku ingin bersamamu di Syurga Ya Rasulullah.” Kata Nabi ﷺ kepada Para Sahabat “ Kalau aku tak berikan tawaran ini nescaya batang kurma ini akan menangis sampai Yaumul Qiyamah dan semua orang dapat mendengarnya.”

Tak sampai 10 langkah berpisah dengan Nabi ﷺ menangis kerinduan kepada Baginda Rasulullah ﷺ. Sebab itu Syeikh Mutawalli Al-Sya'rawi mengatakan “Jangan halang kami untuk memperbanyakan cinta dan rindu kepada Baginda Rasulullah ﷺ. Dikeranakan kalau seandainya sahaja batang kurma itu pun mengisytiharkan cinta dan rindunya di hadapan Para Sahabat sambil menangis dan merintih-rintih kerana berpisah hanya sedikit jaraknya dengan Baginda Rasulullah ﷺ.

Bagaimanakah dengan kita ini?
Jauhnya jarak kita, jauhnya jarak tahun kita dengan Baginda Rasulullah ﷺ maka sepatutnya kita inilah yang perlu menangis, merintih-rintih kerana kerinduan yang teramat sangat kepada Baginda Rasulullah ﷺ.”

Sebab itulah Saidina Umar Al-Khattab Radhiyallahu'Anhu setelah kewafatan Nabi ﷺ selalu dilihat bersama dengan batang kurma itu. Dia peluk dan usap lalu dia bercakap dengan batang kurma “Wahai batang kurma. Alangkah beruntungnya kamu ini kerana tangan yang mulia itu telah memujuk dan mengusap-usapmu sedangkan kami lah Ummat sepatutnya yang lebih layak untuk diusap-usap dengan tangan yang mulia itu untuk kami mengubati kerinduaan kami kepada Baginda Rasulullah ﷺ.”

Oleh kerana itu, malulah kita ini kalau seandainya kita ini tak merindui kepada Baginda Rasulullah ﷺ, tak menangis kerinduan mengenang kepada Baginda Rasulullah ﷺ. Malu kita dengan batang kurma kalau kita tak rasa rindu kepada Baginda Rasulullah ﷺ.

Bahkan disebutkan Gunung Uhud pun. Tatkala ketika Nabi ﷺ berada di atasnya tak tahan, bergoyang sehingga Baginda Rasulullah ﷺ mengatakan “ Mantaplah kamu wahai Uhud kerana di atasmu ada seorang Nabi dan seorang siddiq iaitu Saidina Abu Bakar As-Siddiq Radhiyallahu'Anhu dan dua orang syahid iaitu Saidina Umar Al-Khattab Radhiyallahu'Anhu dan Saidina Uthman Bin Affan Radhiyallahu'Anhu.”

Dan Nabi ﷺ mengisytiharkan cintanya kepada Uhud kerana tahu cinta Uhud kepada Baginda Rasulullah ﷺ Kata Baginda Rasulullah ﷺ “ Sesungguhnya Uhud itu cinta kepada kami dan kami juga cinta kepada Uhud dan nanti Gunung Uhud itu akan berada di Syurga.”

Lihatlah batang kurma, gunung uhud bahkan makhluk-makhluk yang lain yang tidak bernyawa, tidak mempunyai akal sempurna seperti kita ini pun begitu merindui dan mencintai Nabi ﷺ dan mereka ini akan bersama Baginda Rasulullah ﷺ di Syurga kelak disebabkan kecintaan mereka yang mendalam kepada Baginda Rasulullah ﷺ

Kita pun boleh dapat bersama dengan Nabi ﷺ tapi dengan syarat kita pun benar-benar cinta kepada Baginda Rasulullah ﷺ.

Mari kita tanyakan kepada diri kita masing-masing “ Sejauh mana kecintaan kita kepada Baginda Rasulullah ﷺ. Dalam setiap hari berapa banyak kita menyebut dan menceritakan mengenai Baginda Rasulullah ﷺ? Berapa kerap kita mengingati dan menangis terkenangkan kepada Baginda Rasulullah ﷺ?

Berapa banyak kali mulut kita ini untuk mudah menyebut dan berselawat kepada Baginda Rasulullah ﷺ ketikamana kita mendengarkan nama Baginda Rasulullah ﷺ disebutkan? Berapa banyak sunnah-sunnah Baginda Rasulullah ﷺ yang kita amalkan dalam kehidupan kita seharian?

#MutiaraKata[AL-HABIB NAJMUDDIN OTHMAN AL-KHERED HAFIDZOHULLAH]

SEMOGA KITA MENJADI ORANG-ORANG YANG SUKA MENDENGAR KATA-KATA NASIHAT PARA ULAMA, MENDAPATKAN ILMU DARIPADA PARA ULAMA, DUDUK DI DALAM MAJLISNYA PARA ULAMA DAN MENGAMALKAN APA YANG KITA DENGARKAN YANG KITA PEROLEHI DARIPADA ILMU YANG DISAMPAIKAN

SETERUSNYA KITA MENYAMPAIKAN KEPADA YANG LAINNYA DENGAN HARAPAN MUDAH-MUDAHAN KITA MENJADI ORANG-ORANG YANG MENJADI ASBAB KEBAIKAN DAN TURUNNYA HIDAYAH DARIPADA ALLAH TA'ALA KEPADA MASYARAKAT SEKELILING KITA.

Ketika di padang mahsyar nanti, dek kerana takutnya dengan suasana pada hari tu, semua manusia akan berkata, “Rabbi sallim! Rabbi Sallim! Rabbi sallim!” (Wahai Tuhanku, selamatkan aku!) Para nabi dan rasul pun akan cakap benda yang sama dek kerana gementarnya melihat suasana di padang mahsyar. Saat tu orang akan fikir pasal diri dia sahaja. Cuma ada satu suara sahaja yg berkata, “Rabbi ummati, Rabbi ummati, Rabbi ummati…” (Ya Tuhan, ummatku, ya Tuhan ummatku, ummatku) Cuba teka sapa dia orang tu? Ya..dialah baginda nabi Muhammad saw. Seorang yang amat kasih kpd umatnya yakni kita semua. Saat suma manusia hanya fikir tentang hal masing-masing, nabi Muhammad saw pula risau akan kita, sayang dgn kita, rindu dengan kita.. Maka rugilah orang yang tak mengenali baginda nabi saw ketika itu. Bahkan rugi yang amat besar!!! Sedutan kuliah ustaz Wadi Anuar.