Tatyanna

“Я испытываю чувство уничтожения перед ней. Она так невозможно чиста и хороша и цельна для меня. Я не владею ею потому, что не смею, не чувствую себя достойным. Что-то мучает меня. Ревность к тому человеку, который стоил бы ее. Я не стою.”

Лев Николаевич Толстой

Dear Tatyanna

Dear Tatyanna,

Tidakkah matahari amat menyengat sore itu, ketika kubalikkan punggung membelakangi peron-peron seiring laju keretamu? Kuharap kamu nyaman di sana, dalam derap roda gerbong-gerbong yang kini berbalik arah. Aku ingat, kursimu adalah sebuah sudut kecil di sisi jendela—seperti yang kamu suka—tempatmu menulis lirik-lirik lagu yang dulu selalu kamu nyanyikan padaku. Denting gitarmu terngiang selamanya. Berpadu dengan bunyi roda-roda yang menggilas rel itu, sore itu, menjadi nyanyian yang menyayat telinga.

Tapi, setidaknya kamu nyaman di sana.

Meski aku tidak.

Berupaya sebisanya untuk tidak melihat ke matamu karena aku tahu aku pasti tidak mampu. Desis suaramu terasa perih, memohon satu ciuman untuk terakhir kali. Aku tak tahu bagaimana mengatakan tidak. Lebih tidak tahu lagi, bisakah kutahan perasaanku sendiri andai aku mengecup bibirmu sekali lagi. Bagaimana menahan terpaan kenangan yang pasti akan membawa kita terlempar lagi pada saat melakukannya pertama kali. Kita sudah pernah berusaha melawannya, dulu, di tempat yang sama ini. Saat itu ruas-ruas peron bagai berubah menjadi jalanan kota pukul dua pagi. Aku merasakan semuanya; aroma kulitmu, kelopak matamu yang dengan sia-sia berupaya tidur malam itu, terpaan rambutmu yang berantakan karena terlalu lama berbaring di mobilku. Dan cerita-ceritamu. Lirik-lirik lagumu. Deting nada-nada minor dari gitarmu.

Aku tahu aku tidak akan mampu.

Maka, di sudut gerbong itu, kupeluk tubuhmu. Seerat yang kubisa, hanya supaya kamu tidak melawannya, dan agar aku mampu menghindari lapis-lapis air yang telah menggelantungi kelopak matamu yang sudah terlalu lama di sana. Dan, tetap saja, kamu melawannya. Seperti yang kuduga.

Aku mempertahankan kekuatan agar tidak menyerah.

Akhirnya kamu menangis.

Hatiku memaki.

Saat itulah aku memutuskan untuk berbalik pergi.

Lorong-lorong yang memanjangi gerbong pun seolah menyempit. Seolah waktuku akan segera habis, dan celah pintu itu semakin menipis. Kamu tidak tahu sulitnya menggerakkan kaki melawan diri untuk menjauh darimu—itulah, Tatyanna-ku—langkah-langkah terberat yang pernah kuambil seumur hidupku.

Kamu pasti sangat membenciku saat ini.

Seperti matahari yang menyerang marah sesaat setelah kupaksakan diri keluar dari stasiun itu. Aku bergegas—bagaikan mencari perlindungan—kembali ke mobil dan menutup pintunya dengan sebuah hempasan.

Aroma tubuhmu masih menyisa di sana.

Beserta harum Espresso-mu, berbaur dengan wewangian antah-berantah yang bersarang di jok belakang. Bingkisan-bingkisan yang entah apa isi di dalamnya. Segala sesuatu yang disiapkan orang-orang, yang siapa saja mereka itu, aku pun tidak tahu.

Segala sesuatu yang mereka anggap akan memuliakan pernikahanku.

Tatyanna-ku.

Aku tahu, setelah hari ini, kamu pasti akan menutup seluruh pintu kemungkinan untuk bertemu denganku kembali. Tidak mengapa. Lakukanlah.

Aku tetap berharap akan tiba suatu saat ketika kamu benar-benar dilimpahi bahagia. Agar, barangkali, saat hari itu tiba, nanti, kamu tidak akan membenciku lagi.

***

(BERSAMBUNG)

Pulang

Keretaku tiba terlalu pagi.

Sebenarnya, aku sedikit berharap stasiun ini terlihat lebih bersahabat. Damai dalam kebutaan pagi, dingin gelap, yang berteman baik dengan secangkir cokelat panas seperti yang selalu mereka lakukan.

Turun dari kereta itu adalah saat pertama lagi kutemui tempat yang sama setelah terakhir kutatap punggungnya berlalu. Ruas-ruas undak-undakan ubin lantai itu, tempat kami duduk, dan terakhir kali berpeluk. Tempat wajah-wajahnya kurekam dalam kamera ponsel. Tempat kami mencandai seorang gadis remaja kulit putih dan mengira-ngira siapa namanya. Lalu berjanji temu sebelum lenyap dalam toilet jenis kelamin masing-masing. Aku menyukai itu. Aku menganggapnya sebagai, I don’t wanna be without you too long.

Ia menganggapnya sebagai, I haven’t got so much time. Maka, "Please meet me at Dunkin Donuts,“ tulisnya.

Aku meninggalkan stasiun ini terakhir kali dengan tangis. Ia menolak untuk mencium. Hanya memeluk erat selama beberapa saat, lalu berlalu pergi. Tidak menoleh lagi untuk kedua kali. Aku hanya mengiranya, karena itu hanya akan membuatnya teramat sedih.

Kami sudah tak mungkin bersama.

Rasanya mustahil, seperti matahari tenggelam yang muncul lagi setelah senja.

Meskipun, rasanya, hanya beberapa bulan saja sebelum hari itu, masih kulihat rindu bersinar-sinar di matanya. Masih kutatap pilar-pilar, rel yang memanjang, dan lampu-lampu putih di sepanjang peron sebagai kerlip cinta. Hanya beberapa bulan saja sebelumnya, air kolam yang tenang di depan stasiun itu masih mengendapkan rahasia tentang ciuman-ciuman rindu. Percakapan para penjual jajanan di kios-kios di depannya yang riuh dan lucu. Gerbang tempat berjanji temu.

Aku mencintai stasiun ini.

Maka aku kembali.

Aku harus menatapnya lagi. Menatapnya diam, menyimpan rahasia-rahasia itu, sekadar agar aku tahu—masihkah ia sanggup. Atau, haruskah ia melepaskan segala ceritanya, karena terlalu berat, atau haruskah ia berlalu karena memang teramat tidak penting.

Jadi, masihkah sanggup kau, wahai, lampu-lampu putih dan peron-peron yang damai, untuk menyimpan rahasia-rahasiaku? Kau tak perlu memaksakan diri, tahu…, aku tahu bahwa sebelum kami, sudah terlalu banyak kisah-kisah yang terjadi. Terlalu banyak pertemuan, dan perpisahan lagi, di sini…, yang telah begitu lama menggelayuti tiang-tiang pilarmu ini.

Kau tak perlu memaksakan diri.

 

***

 

Oh, matahariku terbit lagi di antara pelepah-pelepah dingin pepohon perdu di tepi kolam itu.

Dan aku tahu aku akan harus terus menemuimu.

Berani menatapmu lagi, setelah hari ini. Diam dalam kediamanmu yang magis, dan heningmu yang pekat, tempat dimana kenanganku melekat. Hariku akan berjalan, hai loket-loket mungil dan lonceng-lonceng kecil. Kau juga. Lihat, lampu-lampu putihmu telah mulai mati. Aku tahu engkau harus bersiap untuk satu kisah lagi.

Maka akan kurelakan kenanganku di sini. Biar saja melekat. Karena aku tahu, saat kubiarkan bayangku hilang dari lampu putihmu…, engkau masih akan tetap kuat.

 

***