Surat Maryam

Saya suka dan merupakan salah satu paporit saya karena menurut saya Dr Zakir Naik itu cerdas… Semoga Allah selalu menjaga Beliau dan keluarganya

Dr Zakir Naik mengungkapkan bahwa jumlah misionaris saat ini mencapai satu juta orang.
Di antara mereka, ada yang tugasnya berkeliling untuk mendangkalkan aqidah umat Islam.

Salah satu caranya, memulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

Pertanyaan Pertama

“Apakah dijelaskan dalam Al Quran bahwa Injil adalah firman Tuhan?”

Biasanya muslim yang ditanya demikian akan langsung menjawab, “Ya, disebutkan”

“Kalau begitu mengapa engkau tidak mengikuti Injil?”

Pertanyaan Kedua

“Berapa banyak nama Nabimu (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tahu akan menjawab, “Lima kali. Empat kali dengan nama Muhammad dan satu kali dengan nama Ahmad”

“Berapa banyak nama Yesus Kristus (Isa ‘alaihi salam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tidak tahu, akan diberitahu oleh misionaris yang mempelajari Al Quran itu.
Bahwa Isa disebutkan 25 kali.

“Mana yang lebih besar, Muhammad yang disebutkan lima kali atau Yesus yang disebutkan 25 kali dalam Al Quran?” demikian pertanyaan misionaris berikutnya.

Pertanyaan Ketiga

“Apakah Nabi Muhammad punya ayah dan punya ibu?”

“Ya”

“Apakah Isa (Yesus) dilahirkan dengan ibu dan ayah?”

“Isa memiliki ibu tetapi tidak memiliki ayah”

“Mana yang lebih hebat, orang yang dilahirkan dengan cara biasa dengan adanya ibu dan ayah atau yang terlahir tanpa ayah?”

Pertanyaan Keempat

“Apakah Nabi Muhammad memiliki mukjizat?”

“Ya”“Apakah Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati?”

“Tidak” (Karena dalam Al Quran dan hadits tidak disebutkan mukjizat itu)

“Apakah Isa bisa menghidupkan orang mati?”

“Ya” (salah satu mukjizat Nabi Isa, dengan izin Allah, bisa menghidupkan orang mati)

“Mana yang lebih hebat, yang tidak bisa menghidupkan orang mati atau yang bisa menghidupkan orang mati?”

Pertanyaan kelima

“Apakah Nabimu Muhammad sekarang secara fisik meninggal atau hidup?”

“Meninggal”

“Apakah Yesus (Isa) sekarang meninggal atau masih hidup?”

“Masih hidup” “Mana yang lebih hebat, yang sudah meninggal atau yang masih hidup hingga sekarang?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat banyak muslim yang tidak memahami Al Quran menjadi bingung.
Namun, sebenarnya semuanya hanya pertanyaan licik misionaris. Jawabannya sudah ada dalam Al Quran.

Jawaban atas Pertanyaan Misionaris (1)

Di antara cara untuk mendangkalkan aqidah, bahkan sampai memurtadkan, misionaris menggunakan sejumlah pertanyaan.

Dr Zakir Naik membeberkan lima pertanyaan utama yang biasa dipakai para misionaris.
Berikut ini pertanyaan tersebut dan jawabannya:

Pertanyaan Pertama

“Apakah dijelaskan dalam Al Quran bahwa Injil adalah firman Tuhan?”

Biasanya muslim yang ditanya demikian akan langsung menjawab, “Ya, disebutkan”

“Kalau begitu mengapa engkau tidak mengikuti Injil?”

Jawaban atas Pertanyaan Pertama

Al Quran memang mengatakan Injil adalah kitab Allah sebagaimana Taurat juga kitab Allah.
Al Quran membenarkan keduanya, sebagaimana tercantum dalam Surat Ali Imran ayat 3.

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

“Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil”
(QS. Ali Imran: 3)

Jadi Injil dibenarkan Al Quran sebagai kitab yang telah diturunkan sebelumnya.
Bukan berarti harus diikuti, sebagaimana Taurat juga dibenarkan sebagai kitab yang telah diturunkan sebelumnya tetapi tidak untuk diikuti.
Bahkan seharusnya, orang yang percaya pada Taurat dan Injil, mereka mengikuti Al Quran sebagaimana orang yang berpegang pada sesuatu akan mengikuti update terbaru dari sesuatu itu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آَمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

“Hai orang-orang yang telah diberi Alkitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan kitab yang ada pada kamu…”
(QS. An Nisa’: 47)

Selain itu, Injil yang dibenarkan Al Quran adalah Injil yang otentik.
Injil pada zaman Nabi Isa sebelum diubah oleh para pemalsu.
Adapun Injil yang ada sekarang, telah beberapa kali mengalami perubahan, misalnya pada Persidangan Nicea pada tahun 325 M.
Pada tahun 1881 dirilis Injil King James Version (KJV) yang merevisi beberapa hal yang dianggap bertentangan.
Pada tahun 1952 dirilis Revised Standard Version (RSV) atas dasar ditemukannya beberapa cacat pada KJV.

Pertanyaan Kedua

“Berapa banyak nama Nabimu (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tahu akan menjawab, “Lima kali.
Empat kali dengan nama Muhammad dan satu kali dengan nama Ahmad”

“Berapa banyak nama Yesus Kristus (Isa ‘alaihi salam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tidak tahu, akan diberitahu oleh misionaris yang mempelajari Al Quran itu.
Bahwa Isa disebutkan 25 kali.

“Mana yang lebih besar, Muhammad yang disebutkan lima kali atau Yesus yang disebutkan 25 kali dalam Al Quran?” demikian pertanyaan misionaris berikutnya.

Jawaban atas Pertanyaan Kedua

Nabi Isa ‘alaihis salam memang disebutkan dalam Al Quran lebih banyak daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Namun, penyebutan yang lebih banyak itu tidak menunjukkan siapa yang lebih besar atau lebih agung.

Nabi Musa, bahkan disebutkan lebih banyak lagi.
Nama Nabi Musa disebutkan sebanyak 124 kali dalam Al Quran.
Di Surat Al Baqarah 13 kali,
di Surat Ali Imran 1 kali,
di Surat An Nisa’ 2 kali,
di Surat Al Maidah 3 kali,
di Surat Al An’am 2 kali,
di Surat Al A’raf 18 kali,
di Surat Yusuf 7 kali,
di Surat Hud 3 kali,
di Surat Ibrahim 3 kali,
di Surat Al Isra’ 2 kali,
di Surat Al Kahfi 2 kali,
di Surat Maryam 1 kali,
di Surat Thaha 16 kali,
di Surat AL Anbiya’ 1 kali,
di Surat Al Hajj 1 kali,
di Surat Al MU’minun 2 kali,
di Surat Asy Syu’ara’ 8 kali,
di Surat An Naml 3 kali,
di Surat Al Qashash 17 kali,
di Surat AL Ankabut 1 kali,
di Surat As Sajdah 1 kali,
di Surat Al Ahzab 1 kali,
di Surat Ash Shafat 2 kali,
di Surat Ghafir 5 kali,
di Surat Fushilat 1 kali,
di Surat Az Zukhruf 1 kali,
di Surat AL Ahqaf 2 kali,
di Surat Adz Dzariyat 1 kali,
di Surat An Najm 1 kali,
di Surat Ash Shaf 1 kali, dan
di Surat An Naziat 1 kali.

Nah, jika karena disebutkan lebih banyak dalam Al Quran kemudian otomatis lebih agung, apakah orang-orang Nasrani mau mengakui bahwa Nabi Musa lebih agung daripada Nabi Isa?

Bahkan, jika karena disebutkan lebih banyak dalam Al Quran kemudian dianggap menjadi Tuhan, apakah orang-orang Nasrani mau mengakui bahwa Musa adalah Tuhan?

Satu hal lagi, Al Quran hampir selalu menyebut Nabi Isa lengkap dengan bin Maryam.
Hanya 4 kali nama Nabi Isa disebut sendirian tanpa bin Maryam yaitu pada Surat Ali Imran ayat 52,
Ali Imran ayat 55,
Ali Imran ayat 59, dan
Az Zukhruf ayat 63.

Selebihnya selalu disebut Isa bin Maryam.
Untuk menegaskan bahwa Isa adalah anak Maryam, bukan anak Tuhan sebagaimana klaim kaum Nasrani.

Pertanyaan Ketiga

“Apakah Nabi Muhammad punya ayah dan punya ibu?”

“Ya”

“Apakah Isa (Yesus) dilahirkan dengan ibu dan ayah?”

“Isa memiliki ibu tetapi tidak memiliki ayah”

“Mana yang lebih hebat, orang yang dilahirkan dengan cara biasa dengan adanya ibu dan ayah atau yang terlahir tanpa ayah?”

Jawaban atas Pertanyaan Ketiga

Nabi Isa memang tidak memiliki ayah. Namun, bukan berarti lebih hebat daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Apalagi jika kemudian dijadikan tuhan, sama sekali keliru.

Sekarang saya tanya, mana yang lebih hebat, Isa yang lahir tanpa ayah atau Adam yang tanpa ayah dan tanpa ibu? Jika Isa lahir tanpa ayah kemudian dijadikan tuhan, seharusnya Adam lebih berhak untuk dijadikan tuhan karena tidak memiliki ayah dan tidak memiliki ibu.

Al Quran menjelaskan penciptaan Isa dan Adam sebagai berikut:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آَدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya misal (penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam.
Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seoang manusia), maka jadilah ia”
(QS. Ali Imran: 59)

Karena lahir tanpa ayah, orang Kristen juga menyebut Yesus anak Tuhan. Dalam Yohanes 6:67-69, Yesus disebut anak tuhan oleh Petrus. Karena disebut anak tuhan, lantas dituhankan.
Padahal ada banyak orang yang disebut “anak Tuhan” dalam Injil. Adam adalah anak Tuhan,
Efraim adalah anak Tuhan,
Ezra adalah anak Tuhan.
Semua orang yang dituntun Tuhan adalah anak-anak Tuhan.
Jadi anak Tuhan adalah kata yang digunakan dalam Injil yang artinya seseorang yang mengikuti ajaran Tuhan.
Jika orang Kristen masih ngotot menjadikan Yesus sebagai Tuhan, carilah di Injil pernyataan Yesus yang mengatakan “Akulah Tuhan” atau “Sembahlah aku.”
Niscaya tidak akan pernah ketemu.

Pertanyaan Keempat

“Apakah Nabi Muhammad memiliki mukjizat?”

“Ya”

“Apakah Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati?”

“Tidak” (Karena dalam Al Quran dan hadits tidak disebutkan mukjizat itu)

“Apakah Isa bisa menghidupkan orang mati?”

“Ya” (salah satu mukjizat Nabi Isa, dengan izin Allah, bisa menghidupkan orang mati)

“Mana yang lebih hebat, yang tidak bisa menghidupkan orang mati atau yang bisa menghidupkan orang mati?”

Jawaban atas Pertanyaan Keempat

Salah satu mukjizat Nabi Isa ‘alaihis salam adalah menghidupkan orang mati.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآَيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (dia Isa berkata), "Aku datang kepadamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah.
Dan aku menyembuhkan orang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta.
Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritakan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman.”
(QS. Ali Imran: 49)

Namun ingat, yang menghidupkan orang mati itu adalah Allah.
Nabi Isa mengakuinya sendiri.
Demikian pula dalam Injil, Yesus mengakui bahwa yang menghidupkan orang mati adalah Allah.
Bukan dirinya.

Sahabatku Lazarus mati, maka kembalikanlah ruh kepadanya Tuhan “. Allah memperkenankan doanya dan berfirman, “Mintalah, sesungguhnya engkau akan memperoleh apa yang engkau minta”.
Ketika Yesus menyeru Lazarus agar keluar kepadanya, ia berkata, “Bapa, Aku mengucap syukur kepadamu, karena engkau telah mendengarkan aku.
Aku tahu, bahwa engkau selalu mendengarkan aku”
(Yohanes 11: 41-42)

Lalu besar mana mukjizat Nabi Isa dengan mukjizat Nabi Muhammad? Jika dikatakan bahwa menghidupkan orang mati adalah mukjizat terbesar Nabi Isa, ternyata dalam Injil disebutkan ada lima orang yang bisa menghidupkan orang mati.
Selain Nabi Isa (Yesus), mereka adalah Nabi Ilyas (Elia),
Nabi Ilyasa (Elisa),
Yehezkiel (seorang nabi di kalangan Nabi Israel menurut Injil), dan
Petrus.

Apakah dengan begitu, mereka semua juga dianggap sebagai Tuhan karena menurut Injil bisa menghidupkan orang mati?
Sungguh lucu.

Nah, berbeda dengan Nabi-Nabi sebelumnya yang mukjizatnya kadang serupa dengan Nabi yang lain, Rasulullah Muhammad memiliki banyak mukjizat dan yang terbesar adalah Al Qur’an.
Jika mukjizat yang lain sudah tidak bisa dilihat lagi bekasnya, Al Quran tetap ada hingga hari kiamat.

Dan Al Quran sendiri menantang siapapun di dunia ini untuk menandinginya, dan hingga saat ini tidak ada yang bisa menerima tantangan ini.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakar nya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir.”
(QS. Al Baqarah: 23-24)

Anda berani menerima tantangan ini, Pak Misionaris?

Pertanyaan Kelima

“Apakah Nabimu Muhammad sekarang secara fisik meninggal atau hidup?”

“Meninggal”

“Apakah Yesus (Isa) sekarang meninggal atau masih hidup?”

“Masih hidup”

“Mana yang lebih hebat, yang sudah meninggal atau yang masih hidup hingga sekarang?”

Jawaban atas Pertanyaan Kelima

Pertanyaan ini justru akan meruntuhkan doktrin terbesar Kristen.

Dalam Al Quran memang dinyatakan bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam tidak disalib.
Yang disalib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa.

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu.
Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
(QS. An Nisa’: 157)

Jika orang Kristen mengatakan Yesus masih hidup, berarti yang disalib bukan Yesus.
Sama seperti firman Allah dalam Al Quran tersebut.
Namun jika Yesus tidak mati disalib, tidak ada konsep penebusan dosa sebagaimana yang dijadikan pijakan gereja saat ini.
Jadi Anda meyakini yang mana?
Yesus masih hidup karena tidak disalib atau Yesus mati disalib?
Anda pasti akan bingung sendiri.

Adapun pertanyaan siapa yang lebih hebat, orang yang meninggal atau orang yang masih hidup, bukanlah pertanyaan yang tepat.
Anda masih hidup, Nabi Musa telah meninggal.
Siapa yang lebih hebat?

Khusus untuk Nabi Isa yang diangkat Allah dan nanti akan diturunkan menjelang hari kiamat, itu bukanlah kehebatan Nabi Isa atas Nabi Muhammad namun semata-mata atas kehendak Allah dalam rangka menegaskan kesalahan orang-orang yang menganggapnya sebagai Tuhan.

لَيْسَ بَيْنِى وَبَيْنَهُ نَبِىٌّ – يَعْنِى عِيسَى – وَإِنَّهُ نَازِلٌ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَاعْرِفُوهُ رَجُلٌ مَرْبُوعٌ إِلَى الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ بَيْنَ مُمَصَّرَتَيْنِ كَأَنَّ رَأْسَهُ يَقْطُرُ وَإِنْ لَمْ يُصِبْهُ بَلَلٌ فَيُقَاتِلُ النَّاسَ عَلَى الإِسْلاَمِ فَيَدُقُّ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ

“Tidak ada nabi (yang hidup) antara masaku dan Isa.
Sungguh, kelak ia akan turun, jika kalian melihatnya maka kenalilah.
Ia adalah seorang laki-laki yang sedang (tidak tinggi dan tidak terlalu pendek), berkulit merah keputih-putihan, beliau memakai di antara dua kain berwarna sedikit kuning.
Seakan rambut kepala beliau menetes meski tidak basah.
Beliau akan memerangi manusia hingga mereka masuk ke dalam Islam, beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi dan menghapus jizyah”
(HR. Abu Daud; shahih)

قَالَ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِن قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

Your Lord says; It is easy for Me. Certainly I have created you before, when you had been nothing!“

Surat Maryam 19:9

فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ
So worship Him and have patience in His worship.
—  Surat Maryam 19:65
ATM (Amati, Taaruf, Menikah)

Assalamualaikum!

Saya punya banyak utang nulis, tapi berencana memindah resume yang satu ini dulu. Ada beberapa teman yang sudah meminta untuk segera dituliskan resumenya, hehe. Ceritanya 28 Februari kemarin (iya sudah lebih dari dua bulan, akibat blogging blue syndrome saya), saya dan teman teman saya berkesempatan menimba ilmu di sebuah forum kajian bertajuk “Amati, Taaruf, Menikah”. Kajian ini diisi oleh ustadz yang ngegaulnya sama yang muda, Felix Siauw. Baiklah saya tuliskan resumenya ya

Saat ini dunia sedang berubah, bahwa dunia ini tidak melulu dikuasai oleh laki laki karena terjadi pergeseran orientasi. Dulunya wanita lebih emosional daripada laki laki (yang natural born nya adalah pemikir logis), namun dengan adanya era teknologi, sms, sosial media membuat semuanya lebih emosional, termasuk bagi laki laki, jadi lebih mudah mengungkapkan dll. Awalnya bisa terlihat maskulin di kehidupan nyata, tapi di sosial media menye menye (rapuh). Efeknya apa? Dunia jadi semakin dikuasai wanita.

Nah, perang saat ini lebih terfokus pada wanita. Kenapa? Kalau memerangi pria, maka yang rusak hanya 1 orang, yaitu pria tersebut, tapi kalau merusak wanita, maka minimal ada 3 orang yang berhasil dirusak, yaitu wanita itu sendiri, suaminya dan anaknya. Perang disini bukan lagi perkara mengangkat senjata, tapi mengenai pola pikir (ghazwul fikri, eh bener ngga ya tulisannya bgini) melalui 3F. Fun, food, fashion.

Nah, dibali lelaki kuat, ada wanita wanita yang keren yang mendukung mereka. Ulul Azmi contohnya, ada 5 kan ya,

  1. Nabi Nuh
  2. Nabi Ibrahim
  3. Nabi Musa
  4. Nabi Isa
  5. Nabi Muhammad

Ketika nabi Muhammad menikah dengan Khadijah, usia mereka selisih 15 tahun. Waktu diangkat jadi nabi, Nabi Muhammad berusia 40 tahun, setelah sebelumnya beruzlah selama 2 tahun di Jabal Nur (Gua Hira). Selama 2 tahun itu pula, Khadijah dengan setia mengantarkan makanan untuk Rasul ke Gua Hira, padahal perjalanannya mendaki dengan jarak tempuh 3 jam,  subhanallah ya :”) Selain itu, ketika Rasul pertama kali bertemu Jibril, beliau merasa panik, takut dan memutuskan segera pulang. Sesampainya di rumah, Khadijah tanpa banyak bertanya, langsung menyelimuti dan merawat Rasul. Ah, kalau begitu perlakuannya Khadijah, jelas saja Rasul tidak pernah memadamkan sedikit pun perasaan cintanya kepada beliau bahkan sepeninggal Khadijah. Saking sayangnya Rasul, istri beliau yang lain, Aisyah, merasa cemburu berat dengan almh Khadijah. Namun Rasul berkata alasan beliau begitu mencintai Khadijah adalah karena saat tidak ada satu pun orang yang beriman, Khadijah lah yang pertama kali beriman, saat tidak ada satu pun yang mengulurkan tangan, Khadijah lah yang memberikan kedua tangannya, dan ketika tiada istrinya yang memberi anak, hanya Khadijah lah yang memberi keturunan. Khadijah pula satu satunya istri Nabi Muhammad yang mendapat salam dari Allah dan malaikat karena ketaatan pada suami yang luar biasa. Dan keutamaan wanita yang taat padaa suaminya, ketika dia meninggal, dan suaminya ridho atas pengabdian yang telah dia berikan, maka dia bebas memilih masuk ke surga lewat pintu mana yang ia kehendaki, subhanallah.

Selanjutnya adalah mengenai wanita di balik Nabi Isa, yakni Maryam. Saking istimewanya, sampai ada surat yang bernama surat Maryam dan tentang keluarga Maryam, yakni Ali Imran. Maryam ini bukanlah “wanita gampangan”, beliau tidak mau disentuh selain muhrim. Oiya, sampai ada hadits, “sebaik-baik wanita di surga itu Khadijah binti Khuwailid | sebaik-baik wanita di dunia itu Maryam binti Imran” (HR Bukhari). Nah, ada pula yang lain, perempuan di dunia yang subhanallah sekali, “Semulia-mulia wanita di surga adalah Khadijah binti khuwalid (istri nabi Muhammad Saw), Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran (ibunda nabi Isa as.) dan Asiah binti Muzahim (istri Fir’aun).” (H.R ath-Thabari)”

Baiklah, berlanjut ke kisah selanjutnya dari Nabi Musa, siapakah wanita keren di balik Nabi Musa? Rupanya ada ibunya, Umi Musa. Perjuangan beliau semasa hamil Musa sudah diuji karena Firaun memerintahkan semua anak laki laki dibunuh. Akhirnya, ketika Musa lahir, Umi Musa menghanyutkan bayinya ke sungai Nil. Keikhlasan beliau diganti oleh Allah, karena pada akhirnya Nabi Musa selamat dan menjadi pengemban dakwah dan perjuangan melawan Firaun.

Lain lagi cerita dari Nabi Ibrahim, wanita yang setia mendampingi beliau adalah Siti Hajar. Seorang budak Mesir yang beliau bebaskan. Beliau berdua baru memiliki anak setelah lama sekali menikah. Nah, ketika baru saja memiliki anak, Allah memerintahkan untuk hijrah ke Mekkah, padahal jarak tempuhna 1244km, perjalanannya berbulan bulan dan menuju ke tempat yang tandus tiada hewan maupun air. Ketika Nabi Ibrahim ditanya oleh Siti Hajar,’Suamiku Ibrahim, kita mau kemana?” sampai kali kedua belum dijawab oleh Nabi Ibrahim, kemudian Siti Hajar melanjutkan,”Apakah ini perintah Allah?” kemudian Nabi Ibrahim mengiyakan, dan hilanglah seluruh keraguan Siti Hajar dan beliau berkata,” Kalau ini perintah Allah, tinggalkan kami disini, Allah akan menjaga”. Sepeninggal Nabi Ibrahim, Ismail terus menangis karena kehausan, Siti Hajar berlari kesana kemari dari bukit Shofa ke Marwah karena seolah melihat ada mata air (peristiwa ini yang kemudian menjadi dasar adanya sai). Akhirnya setelah 7x bolak balik, akhirnya air justru keluar dari sentakan kaki Ismail.

Nah, dari semua pemaparan cerita singkat tentang orang hebat dan wanita di baliknya, ada satu benang merah yang bisa diambil, bahwa…..Allah selalu lebih tahu. Jangan memaksakan keinginan. Allah lebih tahu waktu yang tepat dan orang yang tepat. Kita hanya perlu memantaskan diri, maka dengan sendirinya orang yang baik lah yang akan datang.

Tanaman yang muncul dari tanah yang baik maka juga akan menghasilkan buah yang baik, berbuah, bermanfaat. Dan tanaman yang muncul dari tanah yang buruk, maka akan mengganggu. Demikian pula manusia. Tugas kita, bukanlah saja sekedar mencari pasangan melainkan mencari orang tua untuk anak kita. Tanah yang baik, istri yang baik dan ibu yang baik, tidak akan didapat lewat jalur pacaran. Pun imam yang baik tidak didapat lewat pacaran, kenapa? Maksiat lebih mudah dilakukan bila sebelum menikah sudah bilang cinta, pegang pegang tangan, nah jadi nanti ketika di pernikahan, bisa jadi dia begitu ke wanita lain. Memang, tidak semua pacaran berujung zina, tapi zina diawali dengan pacaran. Urusan menikah adalah urusan masa depan. Bibit dan tanah harus unggul.

Nah, kalau tidak dengan pacaran, gimana dong? Inilah indahnya Islam, ada cara yang gaulnya mari kita sebut dengan ATM, Amati, Taaruf, Menikah. Dalam Islam, bukan hanya saling menyukai satu sama lain, tapu yang penting adalah butuh kecintaan pada hal yang sama. Kalau cintanya sudah pada hal yang sama, maka akan lebih mudah. Yaitu cinta kepada Allah. Pacaran tidak ada korelasinya dengan langgengnya pernikahan. Kalau menikah, mencintai hal yang sama, maka insya Allah akan langgeng.

Tapi, taaruf ini jangan disamakan dengan pacaran islami atau pacaran syariah ya. Taaruf hanya dilakukan bila sudah siap menikah. Pada prosesnya pun taaruf tidak boleh berkhalwat. Memang tidak ada batasan waktu, tapi jangan terlalu lama proses taarufnya. Selain itu ngga boleh ngejip atau dikenal engan nge tag. Itu namanya ngambil rezeki orang. Jadi kalau memang iya, disegerakan, kalau belum siap, harus mengikhlaskan.

Menikah, bukanlah proses yang instan, persiapannya harus sudah lama, bahkan sejak belum punya calon sudah harus bersiap. Kita harus memantaskan diri, kita harus mampu meyakinkan bahwa kita sudah siap dan mampu. So does perempuan, sebelum ada yang ngelamar, perempuan juga sudah harus mulai bersiap, belajar ngurus anak, masak, dan yang terpenting, belajar membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

Umumnya, bapaknya wanita akan melakukan fit and proper test. Intinya sih, beliau harus yakin kalai anaknya bisa diperlakukan sebagaimana bapaknya memperlakukan dan membahagiakan. Oleh karena itu, bapaknya wanita selalu berpikir membahagiakan anaknya sebelum diambil orang. Maka, pacaran itu adalah proses pengkhianatan kepada bapak kita.

Taaruf adalah proses saling mengenali satu sama lain berlandaskan kecintaan karena Allah. Maka, pilihlah wanita karena ketaatannya, kalau sudah begini, urusan ke belakang akan lebih mudah. Karena keluar satu hadits, atau ajaran, maka istri pasti akan manut, karena tau, itu adalah perintah Allah. Nah, ada satu hadits yang harus dihafalkan oleh istrinya ust Felix waktu sebelum menikah, tapi saya lupa nyatat nih versi aslinya, huhu, tapi intinya ada 4 kriteria istri yang diridhoi Allah

  1.  Istri yang penyayang
  2. Istri yang banyak anak
  3. Istri yang paling manfaat untuk suaminya (menyenangkan saat bersama, merindukan ketika berpisah)
  4. Saat istri/ suami marah, dia tidak akan tahan lama lama, dan akan menghambur ke suami dan meminta maaf agar suaminya kembali ridho

Saat ini anggaplah kita sedang puasa, ketika puasa memang godaan ada dimana mana, tapi kalau kita icip2, curi2 waktu untuk mokel, maka ketika kita buka puasa pasti sudah gaada gregetnya lagi. Sama dengan menjaga hati. Sebagai penutup materinya, persiapan pertama yang harus kita lakukan apa? Ngaji. Bukan sekedar membunyikan quran, tapi mengkaji isinya dan materi materi lainnya bersama orang yang memiliki ilmu. Dengan kita belajar mengenai Islam, maka persiapan kita akan jadi persiapan yang paling baik. Jangan lupa kondisikan orang tua kita tentang mindset kita tentang taaruf dan kriteria yang kita inginkan. Persiapkan sejak belum ada calon, insya Allah akan dilancarkan sampai menikah. Aamiin.

Sekian share materinya, semoga membawa manfaat bagi siapapun yang membaca, silakan disebarkan bagi yang membutuhkan. Semoga kita senantiasa terjaga hatinya, diluruskan niatnya untuk menjaga hati, karena percaya lah jodoh bukanlah seperti sandal jepit yang bisa tertukar. Tulang rusuk pasti akan kembali kepada pemiliknya. Kita hanya perlu percaya, bahwa rencana Allah selalu lebih indah daripada yang kita rencanakan.

Wassalamuaikum wr.wb.

أَوَلَا يَذْكُرُ الْإِنسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا

Does not man remember that We created him before, while he was nothing?

Surat Maryam 19:67

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا

(Allah said) “O Zakariya (Zachariah)! Verily, We give you the glad tidings of a son, His name will be Yahya (John). We have given that name to none before (him).”

What Hope Looks Like

Do you know what hope in Allāh looks like?

Do you know what hope that Allāh will give you the very best of His bounties which your heart pines for, even though realistically and rationally speaking the mere thought, let alone an actual possibility, is too far-fetched, looks like?

This:

Prophet Zakarīyā had reached old age and his wife was barren, yet this did not deter him from asking Allāh to enrich him from Allāh’s bounties in the form of a righteous child. He made a duʿāʾ of a person not asking out of protocol but asking with completely certainty that not only will it be heard but that it will be answered.

But wait there is more. He asked for a righteous child not for personal gains, not just because he knew a righteous child will bring coolness to his eyes and carry his lineage. But he asked for something that would eventually bring victory to Allāh’s religion. He asked for something that would be a means of closeness to Allāh for him.

[This is] a mention of the mercy of your Lord to His servant Zechariah.

When he called to his Lord a private supplication.

He said, “My Lord, indeed my bones have weakened, and my head has filled with white, and never have I been in my supplication to You, my Lord, unhappy.

And indeed, I fear the successors after me, and my wife has been barren, so give me from Yourself an heir

Who will inherit me and inherit from the family of Jacob. And make him, my Lord, pleasing [to You].” – Maryam:2-6

Many of us are attached to ideas, dreams and hopes, without ever considering these ideas, dreams and hopes in relation to our Greater Purpose. How will these ideas, dreams and hopes enable us to serve our religion better, how will they bring us closer to Allāh, closer to Jannah..?

#ShiftYoParadigm: When you plan and dream and ask — make sure you do so not just for your personal betterment but for the betterment of this dīn.

Our pious predecessors had lofty levels of īmān. Īmān was rooted in their heritage; īmān ran through their veins. It was this īmān that directed and guided their thought processes and decision making.

As a result, they would not carry out any task or approach any project except after ensuring what they were about to get involved in would pay back in benefits and khair towards Islām and the Muslims.

This mentality will help you detach from dreams that are fuelled by mere desires of your nafs which might not necessarily be good for you, to dreams with a much grander potential.

And remember: anything or anyone that does not bring you closer to Allāh or His Book is eventually leading you to your destruction.

Wait, there is still more.

Do you know what the epitome of loyalty looks like?

This: Prophet Zakarīyā stayed with his wife – he did not leave her nor replace her, even though she could not provide him with a child that he so wanted. (She eventually did of course, Allāh had decreed it so.)

Perhaps at the core of it all, this is what makes a relationship tick, and last: Sincere love fillāh, loving-supporting-honouring them even when they have nothing more to offer. Yā Allāh.

ربي إني متفائل بعطائك، فأعطني ما تمنيت

My Lord, I am [forever] optimistic in Your Giving, so give me what my heart yearns for.

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّـهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا ﴿٣٠﴾ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ﴿٣١﴾وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا ﴿٣٢﴾ وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا ﴿٣٣﴾ ذَٰلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ ۚقَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ ﴿٣٤﴾ مَا كَانَ لِلَّـهِ أَن يَتَّخِذَ مِن وَلَدٍ ۖ سُبْحَانَهُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ ﴿٣٥﴾وَإِنَّ اللَّـهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ هَـٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ ﴿٣٦﴾

He said, “I am the servant of God. He has given me the Book and has appointed me to be a Prophet (30) He has blessed me no matter where I dwell, commanded me to worship Him and pay the religious tax for as long as I live (31) He has commanded me to be good to my parents and has not made me an arrogant rebellious person (32) I was born with peace and I shall die and be brought to life again with peace (33) Such was the true story of Jesus, the son of Mary, about which they dispute bitterly (34) God is too Exalted to have a son. When He decides to bring some thing into existence He needs only command it to exist and it comes into existence (35)  "Worship God who is my Lord as well as yours. This is the straight path” (36) 

“And the pains of childbirth drove her to the trunk of a palm tree. She said, "Oh, I wish I had died before this and was in oblivion, forgotten.”

But he called her from below her, “Do not grieve; your Lord has provided beneath you a stream.

And shake toward you the trunk of the palm tree; it will drop upon you ripe, fresh dates.

So eat and drink and be comforted. And if you see from among humanity anyone, say, ‘Indeed, I have vowed to the Most Merciful abstention, so I will not speak today to [any] man.’ ”

-Surat Maryam (19:23-26)

This is where Maryam (AS) may have lived. These are the foundations of what may be her house, and a little ways away is a shrine to her. It was hard to believe where I was and hard not to get a little emotional standing there and seeing this place. Surat Maryam - especially those specific ayat - has given me comfort and peace beyond anything else. Every time I sit down to read her surah I end up wrapped in a blanket, my eyes full of tears. It was a blessing to be able to come to this place.

تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِ‌ثُ مِنْ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيًّا

That is Paradise, which We give as inheritance to those of Our servants who exercised taqwa .

— • Surat Maryam [19:63]

Satu-satunya nama perempuan yang jelas disebutin Al-Qur'an adalah Maryam. Bahkan dijadiin nama Surat didalamnya. Surat Maryam.
— 

Menurutku ini unik.

Fyi, Allah memuji habis-habisan Maryam lho didalam Al-Qur'an ini.

Dan kamu tau? Sebelum Allah membahas pujian-pujian lain, yang disebutin pertama oleh Allah adalah Maryam selalu menjaga dirinya. Menjaga kehormatannya.

Well, yang susah buat perempuan sekarang adalah menjaga diri. Terkadang kita suka menyepelekan.

“Nggak apa-apa kok, cuman chatting doang. Ngobrol biasa..”

“Nggak kok, cuman jalan berdua jaraknyapun dua meter..”

“Nggak ngapa-ngapain kok, cuman ngingetin sholat doang..”

Dan kita nggak pernah sadar dan bener-bener tau lewat jalan mana syaitan menggoda kita. Pffft. Ighfirli YaAllah..

Jalan satu-satunya adalah, untuk mengantisipasi doang, mending kalau ngrasa udah agak aneh perangainya, ditanya.

“Maksudnya apa ya?”

Habis gitu kalau gajelas maksudnya, jauhin aja. Jaga diri aja. Ini hanya mengantisipasi. Dan sebentuk rasa taat juga kepada Allah ^^

Well, mari bersama-sama belajar menjaga diri dengan baik sebagaimana Maryam menjaga dirinya dengan sangat baik.

Mangats kaka ^^

[Benefits of Dates - Heavenly Foods]

In the name of Allah, the most Beneficent, the most Merciful

Allah (SWT) says in the Qur'an, Surat Maryam, verse 25-26

“Shake the trunk of the palm tree, freshly picked dates will drop upon you. Eat, drink and be comforted”

The Prophet (pbuh) who said:

“Whoever eats 10 dates (ajwa) on an empty stomach in the morning will be saved from any harm (black magic) or toxins”

Aba Abdillah al-Hussein (as) who said:
“The food of a house in which dates never enter will not be saturated with blessings”

The Prophet (pbuh) also said: “Gabriel came down to me with Alberni from the Paradise.
(Alberni; is the best kind of dates)”

And “Feed the pregnant woman with dates, especially during the month in which she will give birth to the child becomes intelligent and pure”

And also “Eat the Albaerani date, because it:
- removes exhaustion
- removes hunger
- has 72 doors of healings”

The Prophet (pbuh) described the Albaerani date as:

It is useful in many things:

- strengthens the backbone
- deranges the devil
- makes the food easy to swallow
- adds flavor
- strengthens the eyesight and hearing
- Brings you closer to Allah
- Keeps you away from the devil
- Strengthens the intercourse
- Keeps you away from the illness

Amir Al-Mu'mineen Imam Ali (as) said: “Eat the dates, for they have the cure for the ills”

Abi abdillah al-Hussein (as) also said: “The Prophet (pbuh) used to break his fast with dates”

Healthy benefits of the dates:

- Easy to digest and doesn’t exhaust the stomach

- Limits the feeling of intense hunger of the one who fasts

- Prepares the stomach for digesting the food

- Prevents constipation

- Ease the diuretic and rinses the kidney

- Rinses the liver from toxins

- Calms down the rise of anger

The Prophet (pbuh) who said: “Eat the dates with butter, and with bread, and in odd numbers (3, 5, 7 etc.)

The date:
- strengths the liver
- softens the mood
Eating it on an empty stomach kills the worms

And it is:

- Rich in magnesium which protects from cancer
- It has a significance impact on calming the nerves for people with neurological diseases
- It contains a natural blend of iron and calcium which are digested easily by the body
- Doesn’t spread the bacteria or microbes and what lies within the date kills the germs that may infect the human

It activates the glands

It strengthens the nerves

Eating one date provides you with energy that is sufficient enough for a whole day

And the date protects from several cases:

- Night blindness
- Dry skin
- Recurrence of cough and lack of Vitamin A
- Softens the bone and lack of Vitamin D

●[ التمر - ثمر الجنة]

قال الله عزوجل في سورة مريم ع بسم الله الرحمن الرحيم
{ وهزي إليك بجذع النخلة تساقط عليك رطبا جنيا فكلي واشربي وقري عينا } سورة مريم 25-26.

عن النبي (صلى الله عليه وآله وسلم) قال: من تصبح بعشر تمرات عجوة لم يضره ذلك اليوم سحر ولا سم.

وعن أبي عبد الله (عليه السلام)
قال: بيت لا تمر فيه جياع أهله.

وقال (صلى الله عليه وآله وسلم): نزل علي جبريل بالبرني من الجنة (البرني: نوع من أجود التمر)

وقال (صلى الله عليه وآله وسلم): أطعموا المرأة في شهرها التي تلد فيه التمر، فإن ولدها يكون حليما نقيا.

وقال (صلى الله عليه وآله وسلم): عليكم بالبرني، فإنه
-يذهب بالاعياء
-ويدفأ من القر
-ويشبع من الجوع،
-وفيه اثنان وسبعون بابا من الشفاء.

وعنه (صلى الله عليه وآله وسلم) يصف البرني،
قال: فيه تسع خصال:
-يقوي الظهر،
-ويخبل الشيطان،
-ويمرئ الطعام،
-ويطيب النكهة،
-ويزيد في السمع والبصر،
-ويقرب من الله عزوجل،
-ويباعد من الشيطان،
-ويزيد في المباضعة،
-ويذهب بالداء.

وعن أمير المؤمنين (عليه السلام) قال: كلوا التمر، فإن فيه شفاء من الادواء.

عن الحسين بن علي، عن أبيه عليهما السلام قال: إن رسول الله (صلى الله عليه وآله وسلم) كان يبتدئ طعامه إذا كان صائما بالتمر.

ومن فؤائد التمر الصحية.

- غذاء سهل الهضم ولا يرهق المعدة.

- يحد من الشعور بالجوع الشديد الذي يشعر به الصائم

- تهيئ التمور المعدة لاستقبال الطعام

- تقي من الاصابة بالقبض (الامساك).

- مدرر للبول ويغسل الكلى.

- ينظف الكبد من السموم.

- يهدئ من التهيج العصبي

وجاء عن النبي أنه أكل التمر بالزبد ، وأكل التمر بالخبز ، وأكل التمر مفردا (يعني 3 تمرات او 7 او 5 وهكذا)ً
ً
والتمر:
-مقوي للكبد .
-ملين للطبع .
وأكله على الريق :-يقتل الدود

وهو :
من الأغذية الغنية بعنصر المغنيسيوم التي تحمي من مرض السرطان

- وله أثراً كبيراً على تهدئة الأعصاب بالنسبة للمصابين بالأمراض العصبية

-وفيه مزيج طبيعي من الحديد والكالسيوم يهضمه البدن ويستقبله بسهولة

والتمر لاينقل الجراثيم او الميكروبات وان السوس الذي بداخل التمر يفتك بالجراثيم التي قد تصيب الانسان

وان التمر البرني يعد اكسير الشباب وفيه سر عظيم .
وانه ينشط الغدد .
ويقوي الاعصاب

والتمرة الواحدة تمدك بسعرات تكفيك لمجهود يوم كامل .

ويقي التمر من عدة امور منها

1- العشو الليلي

2- جفاف الجلد

3- تكرار الاصابة بالسعال ونقص فيتامين - A

4- لين العظام ونقص فيتامين - D