Sipiral

Pendidikan kita memang kacau, adikku

“Sebuah surat cinta yang sederhana untuk siswa-siswi SMAN 13 Depok”

Halo adik-adik. Apa kabar?

Saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman saya mengajar selama 5 bulan di sekolah kalian.

Saya masing ingat, ketika pertama kali saya mulai menginjakan kaki di SMAN 13 Depok pada akhir juli 2016 dengan santun, lugu, ramah dan senyum-sapa kepada siapapun yang saya temui. Melihat kondisi sekolah yang jauh dari kata layak, jelas saja membuat saya prihatin, dan bertanya; bagaimana mungkin sebuah kota yang dipenuhi dengan Mall dan Apartemen masih ditemui sekolah yang kondisinya memprihatinkan, bahkan mirip kandang ayam?

Barangkali mereka yang ada di lingkaran kekuasaan sana menganggap bahwa membangun Mall dan Apartemen, mengizinkan pendirian properti dan berbagai bisnis di sepanjang jalan Margonda jauh lebih penting dibandingkan membangun sekolah di Pasar Cisalak.

Alangkah indahnya bukan? Hidup di sebuah negeri yang pemerintahnya tak pernah peduli terhadap pendidikan dan nasib anak-anak yang dididik di dalamnya.

Tapi, keresahan saya terhadap kondisi gedung sekolah yang memprihatinkan sedikit demi sedikit hanyut ketika saya bertemu dengan kalian; bercanda, bercengkrama, tersenyum bersama, bahagia sama-sama.

Ketika saya melangkahkan kaki saya ke dalam kelas, saya melihat pandangan kalian yang tajam, gestur tubuh kalian yang menggugah semangat dan wajah kalian yang anggun dan energik. Di waktu itu pula saya berucap kecil di dalam hati;

“Aku tak akan menjadi guru yang dulu tidak aku sukai ketika masih jadi murid di sekolah, tak ingin jadi guru yang menyeramkan dan lebih mirip sipir keamanan ketimbang seorang pendidik. Aku ingin jadi guru seperti apa yang dulu aku inginkan ketika dulu aku masih menjadi seorang murid. Guru yang kedatangannya ditunggu dan dinanti, suaranya dirindukan, sosoknya yang selalu menggugah semangat, jalan hidupnya yang selalu memberikan inspirasi, dan aku ingin jadi guru yang kepergiannya pantas untuk ditangisi banyak orang.”

Pelan-pelan akhirnya kita saling mengenal, saling mengerti satu sama lain. Cuma satu yang ingin saya perjuangkan di sekolah ini; membuat sekolah kalian bukan hanya sekedar menjadi rumah kedua, tetapi menjadi taman, taman dan seperti taman! Saya ingin kalian bahagia ketika datang ke sekolah dan merasa sedih ketika bell pulang sekolah berbunyi. Bisakah kita memulainya adik-adikku?

Semua itu bisa diwujudkan ketika sekolah kita mau belajar, tidak kolot dan berwawasan sempit. Kenapa saya katakan sempit? Karena cara pandang sekolah kita melihat pendidikan sangatlah sempit.

Apakah mungkin tindakan mengeluarkan anak-anak yang bermasalah dari sekolah dapat dikatakan mendidik?

Jika tugas sekolah adalah mendidik, kenapa anak-anak yang dianggap bermasalah justru dikeluarkan bukan malah dididik?

Bisakah sekolah-sekolah di negeri ini menjawabnya?

Detik, menit dan hari-hari pun sudah lalu. Masa dimana hampir satu bulan saya menjadi pendidik di sekolah, saya terus melihat apa yang dulu saya benci, kini dilakukan oleh rekan-rekan saya sesama pendidik.

Rupa-rupanya ajaran generasi lama masih dianut oleh segelintir guru, seperti menggunakan kekerasan verbal untuk menertibkan siswa. Hingga kelas bukan menjadi ruang debat dan bicara pengetahuan, tapi lebih mirip penjara dan guru sebagai sipir keamanan.

Di sekolah, berkali-kali saya lihat siswa yang mondar mandir dengan baju tidak dimasukan diteriaki oleh guru mereka. “Bajunya masukin, mana lokasinya? mana logo sekolahnya? mana dasinya? mana topinya?” Sisa-sisa Orde Baru, dimana deretan pelajar disuruh diam dan patuh. Seakan-akan kepatuhan adalah gambaran pelajar ideal.

Dulu di zaman Orde Baru, pemerintahan Suharto, semua orang disuruh menghafal Pancasila tanpa diajari apa makna Pancasila bagi kehidupan mereka?

Begitupun yang terjadi dengan pelajar pelajar di sekolah, mereka disuruh menggunakan topi yang bertuliskan Tut Wuri Handayani, disuruh menghafal nama bapak Pendidikan tanpa diajari apa makna Tut Wuri Handayani dan pendidikan macam apa yang dicita-citakan bapak pendidikan kita?

Ki Hadjar Dewantara itu punya cita-cita bahwa pendidikan kita harus menyenangkan dan menggembirakan. Siswa harus bahagia ketika sampai di sekolah mereka layaknya sedang bermain di taman, bukan malah ditekan seperti di dalam penjara.

Beberapa kali pula saya melihat para pendidik mendorong kalian untuk bersaing agar menjadi yang terpintar di kelas. Gambaran siswa terbaik di mata beberapa guru adalah mereka yang nilainya bagus, tak peduli anak ini peduli lingkungan dan temannya atau tidak. Karena gambaran siswa yang ideal adalah yang paling individualis.

Tak jarang kalian melihat mereka yang juara di kelas adalah orang-orang yang kurang bergaul. Karena kalian hanya didorong untuk bersaing, saling menerkam layaknya kumpulan srigala, tanpa diajari bahwa hakikat menjadi manusia adalah menyayangi dan mencintai sesama makhluk. Sudahkah kalian mencintai teman sebangku kalian, teman sekelas, teman satu sekolah?

Karena bagi saya, kalian pantas dibilang spesial dan favorit ketika kalian saling mencintai dan mengasihi, kalian harus, harus dan harus menyayangi mereka yang lemah!

Bukankah sejak kecil kita selalu diajarkan untuk menggunakan sebelah tangan kita untuk mengobati tangan lain yang terluka?

Bagaimana mungkin sebuah negeri bisa dibangun dengan logika kompetitif, sedangkan untuk membangun masa depan, negeri ini membutuhkan manusia-manusia yang mampu bekerjasama agar kita bisa mengeluarkan bangsa ini dari keterpurukan.

Belum lagi tentang pungutan uang gedung, uang seragam, uang remedial, sampai fotocopyan yang dibebankan kepada siswa tak sesuai dengan harga asli. Saya sering coba membicarakan masalah ini ke pihak berwenang tapi jawabannya jelas sangat tidak memuaskan.

“Sudah, biarkan saja pak Andika, itu kan sistem yang guru itu bangun. Kita tak bisa intervensi”

“Kita tak akan bisa berbuat apa-apa pak Andika, susah. Kita bukan siapa-siapa”

Geram mendengar jawaban tersebut, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengkritik guru bersangkutan. Kekecewaan saya memuncak di momen ini karena saya tak melihat lagi keberanian dan nyali para pendidik ketika melihat sesuatu yang tidak beres.

Ketika ada murid yang bajunya keluar, rambutnya gondrong dan tak mengerjakan PR pasti kena hukum, sedangkan ada guru yang melanggar hukum dan aturan, berani kah para guru menghukumnya? Atau membiarkan murid-murid untuk menegur?

Bagaimana mungkin negeri ini bisa terbebas dari korupsi jika murid-murid yang resah terhadap pungli sekolah malah disuruh diam dan tutup mulut?

Apakah ajaran di instansi pendidikan hanya melulu soal seragam, dasi ataupun penampilan, sedangkan para pendidik tak sama sekali melatih murid-murid mereka agar memiliki keberanian?

Tentu keberanian itu bukan hanya jadi sekedar omongan yang kosong.

Adik-adik, dulu ketika saya masih SMA, saya sering membaca buku tentang tokoh-tokoh dunia. Dari buku-buku itulah saya mengenal tokoh sekaliber Voltaire, Gandhi, Sukarno, Tan Malaka, Socrates, Fidel Castro sampai Abraham Lincoln. Dari sana pula kekaguman saya muncul ketika membaca kisah hidup Ahmadinejad, Presiden Iran yang rela hidup menderita karena ia menyumbangkan seluruh gajinya untuk orang-orang miskin. Karena baginya menjadi pemimpin artinya menjadi pelayan rakyat, bukan malah jadi perampok.

Dari merekalah saya belajar melatih nyali dan keberanian agar tidak takut melawan kezaliman. Terinspirasi dari kisah Presiden Iran itu, maka secara sadar saya akan menyumbangkan seluruh “uang buku” yang saya terima kemarin untuk mereka yang membutuhkan.

Beberapa waktu lalu, guru-guru di sekolah dapat uang dari hasil penjualan buku ke murid dan hingga detik ini saya meyakini kalau uang yang saya pegang ini bukanlah hak saya.

Secara resmi sumbangan ini akan saya berikan ke Kelompok Studi Merdeka, komunitas yang saya bentuk di SMAN 13 Depok yang beranggotakan murid-murid saya untuk di kelola menjadi Uang Milik Bersama. Kelak, jika ada di antara kalian, siswa-siswi SMAN 13 Depok yang tak bisa beli seragam ataupun buku, semoga uang yang dikelola KSM itu dapat membantu kalian.

Saya tak ingin ada anak yang tak bisa sekolah ataupun malu datang ke sekolah hanya karena tak bisa membeli seragam.

Hanya inilah yang bisa saya tuliskan untuk kalian. Adik-adik, generasi kitalah yang kelak akan mengeluarkan bangsa ini dari lubang keterpurukan, kitalah yang akan membangunkan bangsa kita yang selama ini berjalan dalam keadaan tertidur. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali untuk memperjuangkan perjuangan yang sama. Sampai berjumpa di sekolah! sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya ya!


Dari guru mu,
Andika Ramadhan Febriansah
Presiden Republik Indonesia 2035
(Aminin dek) wkwk

FAVORIT ADMIN : Maafkan Ibu, Nak

Tangerang, 22 November 2013

Anakku, saat kau membaca surat yang kusam ini,itu artinya Tuhan mengizinkan diriku untuk memperkenalkan sesosok wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupmu, meskipun aku tahu kau akan sangat membencinya. Namun sungguh, wanita berdosa itu tak pernah berniat membiarkanmu menghadapi hari-hari mu sendiri berjalan menyusuri mata angin yang tak tentu arah dan bisa jadi sempat membuatmu berputus asa. Alasan wanita itu melepaskanmu cukup sederhana, nak. Ia hanya ingin melihatmu bahagia tanpa dirong-rong bayang-bayang masa lalu yang penuh akan rasa berdosa.

Kau tahu? Ini hari yang sangat special bagi wanita berdosa itu. Pertama, hari ini tepat tujuh bulan dirinya mengandung seorang anak. Beruntung rasanya wanita itu saat dirinya diperlakukan baik oleh Yusnita, salah seorang sipir tahanan yang selalu perhatian terhadap kesehatannya. Hari ini wanita itu diajaknya pergi ke dokter kandungan untuk melihat perkembangan janin yang ada dalam kandungannya. Dokter berkata janinnya sehat dan tak ada masalah yang berarti. Sejenak wanita itu menangis karena terharu bahwa Tuhan masih memberikan anugerah di detik-detik hidupnya yang kacau balau walau tanpa kehadiran keluarga, makanan dan perlindungan yang seadanya, dan tanpa pesta nujuh bulan.


Kedua, hari ini hari spesial karena ini hari ibu, nak. Hari dimana semua ibu merasa terlahir kembali karena dirinya ada dan diakui. Hari dimana seorang ibu berdoa agar anak-anaknya kelak menjadi nak yang bisa membanggakan kedua orang tuanya. Dan apa kau bisa menebak apa yang dilakukan wanita berdosa itu? Untuk pertama kali di dalam hidupnya, ia berhasil membaca Al Quran dalam Surat Yusuf dan Surat Maryam dengan fasih hingga ayat dalam surat tersebut berakhir. Ia selalu berdoa kepada Tuhan agar kelak anaknya menjadi anak yang shalih/shalihah seperti halnya Siti Maryam atau Nabi Yusuf, meskipun dengan penerangan dalam sel tahanan yang seadanya. Lucunya, Munah, salah seorang napi yang baru lima bulan mendekam di sel
tahanan sempat berceloteh bahwa anak wanita itu adalah calon ustadz atau tahfidz Al Quran, mengingat perjuangan wanita berdosa itu untuk belajar mengaji pada Nur, teman sekamarnya sangat gigih.


Jangan kau terkejut jika wanita itu adalah aku, dan janin yang dikandungnya adalah kau, nak. Banyak sekali mimpi buruk dans elalu membayanginya. Ibu takut, kelak kau akan depresi dan membenci ibu seumur hidup, setelah mengetahui bahwa kau hasil dari hubungan haram ibu bersama seorang lelaki. Bahwa kau dilahirkan dari rahim seorang ibu narapidana yang tersandung kasus narkoba dan membunuh ayah-mu yang memaksa ibu untuk menggugurkan kandungan ibu. Ibu-pun semakin berpikir keras, kau tak mungkin ikut memikul dosa ibu dengan hidup di sel tahanan yang penuh cerita luka, serta ruangan pengap, sempit dan bau.


Dan dengan air mata, ibu harus merelakan kau menjadi anak panti asuhan. Ibu tahu Tuhan tidak akan dengan mudah memaafkan dosa ibu. Ibu pun menerima jika kau membenci ibu dan tak pernah memaafkan ibu. Ibu hanya menginginkan anaknya tahu bahwa anak itu terlahir tidak sendiri ke dunia ini, ada seorang ibu yang siang malam selalu mendoakannya. Namun kau tak usah khawatir, nak. Wanita itu bahagia dalam hidupnya sekarang.


Ttd, Kartinah

Wanita yang selalu mendoakanmu

*Surat ini dibuat dengan terinspirasi dari berita melahirkannya seorang ibu di lapas wanita kota Tangerang

Penulis :

Akrima Dewi 

Email: dewiakrima@gmail.com
Facebook: Akrima Dewi
Twitter: @akrimadewi