Sholawat

Kekuatan Sholawat

Tau nggak, amalan yang Allah nyuruh tapi Allah ikut ngelakuin juga? Itulah sholawat. Allah nyuruh sholat hamba tapi Dia ndak ikut sholat. Allah nyuruh puasa hamba, tapi Allah ndak ikut puasa. Yang keren, Allah nyuruh sholawat hamba, tapi Dia juga turut bersholawat. Bahkan malaikat-malaikat ikut bersholawat. Di Suroh Al-Ahzab 56 kalo ndak salah.

Dawuh Habib Umar bin Hafidz, yang termasuk ulama’ yang saya idolakan, yang terkenal seantero dunia, yang toriqoh sholawatnya kece badai, cuma satu penyelamat umat akhir zaman ini. Bersholawat atas Kanjeng Nabi. Kalau dawuh Habib Mundzir Almusawa (muridnya Habib Umar bin Hafidz), memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad, mencintai Nabi SAW, akan membuat kita banyak dicintai orang, atasan, bawahan, keluarga, teman, bahkan orang yang belum kita kenal. Saya rasa, dua pernyataan ini sudah cukup membuat saya harus bersholawat banyak-banyak. Dakwahnya adem soalnya sih. Selalu bikin saya brrrr.

Saya ndak mbahas bid’ah atau enggaknya. Ekspresi ungkapan cinta ke Rosul kan pasti beda-beda. Soal keyakinan sih. Kalo kita yakin sholawat benar-benar ajaib, ajaiblah ia. Kalo kita ndak yakin sholawat ndak ajaib, ya menjadi tidak ajaiblah ia. Saya cuma pengen nyeritain bagaimana keajaiban kekuatan sholawat yang saya alami.

Kalo Wirda Mansur asik dengan ceritanya yang dapet macbook air gara-gara banyak-banyak sholawat. Kemudian Kak Ammar yang sholawat rutinnya sebelum subuh mendapatkan jodoh tanpa diminta. Kali ini biarkan saya menceritakan keajaiban sholawat yang saya alami sendiri. Hehe.

Jadi, seumur-umur saya belum pernah mengikuti “Lomba Debat”. Dan kali ini tiba-tiba dipercaya teman-teman sehimpunan untuk mewakili perlombaan tersebut. Ini kasus besar buat seorang Naily, fyi. Naily yang public speakingnya agak nggak yoi. Suka demam panggung. Terus nggak pedean kalo didepan umum. Miris kan?

Saya cengok. Yaiyalah cengok. Saya enggak pinter debat. Sama sekali. Saya tegaskan lagi, saya sama sekali nggak pinter debat. Kebayang kan gimana tidak pinternya saya kalo saya ngomong berkali-kali gitu? Wkwk. Mbak koodinator ngasih taunya H-1 dan saya belum ada persiapan apapun buat debat nanti. Materinya tingkat tinggi pulak. Yassalaaam. Masak seorang Naily bahas-bahas poligami sama politik dan hal berat lain? Saya tuh nggak paham dan ngga mau paham juga tentang politik. Politik sekarang suka ngajakin bercanda sih :(

“Nai, besok kamu bagian yang lomba debat ya sama aku sama Tsamara? Temanya ini nih.” Kata Devi, Ketua Himpunan, sambil menyodorkan lembar-lembaran kertas yang berisi tentang peraturan, kelompok, ketentuan lomba dan lain lain.

 Allahumma…. Ini cobaan opo lagi? :((

Mentari siang mulai membakar jilbab dan merambat ke kepala. Debatnya dimulai siang hari pukul satu siang. Karena ngasih taunya malem, jadi masih ada kesempatan buat belajar pagi harinya. Saya mulai mencari referensi referensi buku dan semua bacaan sebagai bahan debat. Waktu serius seriusnya lagi baca baca buku, saya ditanya sama Ustadzah saya. Ya soalnya heran Nai kok seserius ini baca buku. Tebel pula.

“Disuruh lomba debat, Dzah, gimana ini? Huhuhu. Ndak biasa debat Dzah..”

“Bisa.” Jawab ustadzah seperti biasa dengan gaya santainya. Beliau mah Low profile. I always love her style.

“Tapi ndak pernah lomba debat, Ustadzaaaaah” Saya agak nggak yakin.

“Bisa.”

Beberapa jam kemudian, saya siap siap berangkat.

“Pesannya satu, banyak-banyak sholawat. Ingat kan gerakan seribu sholawat?” Ustadzah memberi wejangan sebelum saya berangkat dan salim, kemudian cium tangan sama beliau.

“Siap, Dzah!”

“Ngomong-ngomong, tadi abis makan? Udah makan?”

“Iya Dzah. Sudah”

“Sikat gigi sana, wudhlu lagi. Mulutnya harus suci. Kan mau lomba debat.”

“Nggih, Dzah”

Diperjalanan, mulut saya komat kamit melantunkan alunan sholawat banyak banyak, nggak berharap jadi juara. Bisa mengikuti debat sesuai peraturan, ngomong nggak kagok dan pernyataan saya masuk akal aja udah makasih banget  Yaa Allah..

Saya camkan baik baik perkataan Ustadzah. Sholawat pokoknya tak pernah berhenti. Bahkan dipanggungpun saya masih sempet komat kamit bersholawat tanpa henti. Mikir, mikir sambil sholawat. Belajar sambil sholawat. Ngelihat kelompok lain debat juga sambil sholawat. Makan sambil sholawat. Nunggu giliran maju sambil sholawat.

Babak penyisihan demi penyisihan, kelompok saya lolos. Kemudian babak semifinal lolos juga. Tibalah saatnya babak final. And finally, kelompok saya juara dua. Harusnya bisa sih juara satu. Tapi karena saya disuruh ngelawan argumen kelompok lawan tapi saya memilih buat ndak maju. Ya lagi lagi karena ketidakpedean saya dalam public speaking, yasudahlaya, akhirnya jadi runner up. Juara dua yeaay.

Fyi, saya masih cengok sampe sekarang. Saya tafakkur dijalan. Saya pikir bukan dari saya belajar. Tapi dari keajaiban banyak banyak sholawat. Orang apa yang saya pelajari, sama pernyataan pernyataan saya di podium aja jauh rek. Saya ngomong sebisa saya waktu itu. Wkwk.

Hal semacam ini kadang saya mikirnya ndak pake logika. Bahwa keajaiban itu selalu ada. Kalo mikir pake logika, saya ya harus belajar pethenthengan sampe nggak tidur. Nah, kalo sudah gitu logikanya saya menang. Tapi kalau dipikir secara tauhid, yagimana Allah selalu bisa menakdirkan apapun diluar kepala manusia, kan? Coba pake analogi lain. Kalo pengen keluar negeri, jika dipikir secara duniawi, berarti kita harus nabung dikit demi dikit hingga sampe nominal puluhan juta dulu baru bisa ke luar negeri. Tapi kalo dipikirnya pake tauhid. Pake keajaiban keyakinan iman, bisa saja lewat jalan lain. Misal tiba-tiba diajakin tetangga gegara kita sering bantu mereka dan banyak-banyak sholawat misalnya? Who knows? Hidup selalu penuh keajaiban kalo iman tertancap kuat.

Dalam hal-hal kecilpun saya sering mendapat keajaiban sholawat. Misal mepet paper belum selesai. Padahal semaleman ngerjain meski kadang ketiduran. Ya yaudah saya sering ngandelin sholawat yang paling gampang. Tiba-tiba dosen ada rapat mendadak dan paper nggak jadi dikumpulkan. Wkwk.

Memang sih benar banget kata pelatih rebana dipondok saya beberapa waktu lalu, sholawat itu memudahkan. Memudahkan segala urusan.

Jadi keinget Habib Syech Assegaf. Btw, disini ada yang syecher mania nggak? Kalo iya, sama kayak saya. Saya termasuk fans girl Habib Syech. Wqwq.

Wetan kali. Kulon kali. Wetan kali kulon kali~

Tengah-tengah tanduran pari. Saiki ngaji sesuk yo ngaji. Ayo manut poro kiai~

Shollu ‘alaannabii muhammad!!! Berkat sholawat maksiat minggat!! XD

Hal paling mudah yang masih mungkin kita lakukan di sisa umur ini adalah membaca shalawat; tidak harus dalam keadaan suci (berwudhu lebih utama), tidak harus berjamaah semisal shalat fardhu, tidak harus menghadap qiblat.

Tak terbayang..

Bisa jadi kita adalah bagian dari penduduk neraka yang siap disiksa sebab dosa yang tak dimaafkan. Sementara Rasulullah sudah didepan gerbang surga dan beliau tersadar, merasa ada satu mukmin yang tertinggal.

Lantas beliau sujud menangis rintih dihadapan Allah memohon agar kita diampuni dan dikumpulkan bersama mukmin lainnya disurga. Beliau gapai tangan kita dengan tangannya, beliau peluk kita dengan sehangatnya pelukan. Senyumnya adalah penyejuk jiwa.

Jangan berhenti berharap sebab Allah Maha mengampuni segala bentuk kedurhakaan, selain menyekutukan-Nya.

Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

-Kak Ammar-

Ps: Belum telat buat sholawatan di hari mulia yang sangat dianjurkan untuk bersholawat ini. Batasnya sampe maghrib ntar. Kalo mau dilanjutin ya bagus. Bebas tanpa batas. Yok sholawat!

Ps 2: Oh iya Alkahfinya jangan ditinggal. Setengah juz palingan ratarata setengah jam dengan kecepatan medium. Yang penting bacanya dirasakan. Nggak asal dibaca tapi ndak paham makna dan hikmah dibaliknya. Malah kayak burung beo ntar. Asal berkicau tanpa paham maksud. :’D

youtube

masyallah :’) 

“Barangsiapa yang mengucapkan sholawat kepadaku satu kali, maka Allah mengucapkan sholawat kepadanya 10 kali.” (HR. Muslim no. 408)

Asbab datangnya rezeki dari Allah swt. menurut Al Qur'an dan Al Hadits yang dirangkum oleh para ‘Ulama dengan rumus 3T,3D,4S+NIK yakni;
1. Taqwa
2. Tilawah Qur'an
3. Ta'lim
4. Do'a
5. Dakwah
6. Dzikir
7. Sholat
8. Shoum/puasa
9. Sholawat
10. Shodaqah
11. Nikah
12. Istigfar
13. Kerja

Memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, mencintai Nabi Muhammad SAW, akan membuat dirimu dicintai orang atasan, bawahan, keluarga, teman, bahkan dicintai orang yang belum anda kenal.
—  Sulthonul Qulub Habib Munzir Al-Musawwa
Rintihan seorang ibu
Untuk anakku yang ku sayangi di bumi Alloh ta’ala…

Segala puji ku panjatkan ke hadirat Alloh ta’ala, yang telah memudahkan ibu untuk beribadah kepada-Nya. Sholawat serta salam, ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-, keluarga, dan para sahabatnya.

Wahai anakku…

surat ini datang dari ibumu, yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir panjang, ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri ini.

Setiap kali menulis, setiap itu pula gores tulisan ini terhalangi oleh tangis. Dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula, hati ini terluka.

Wahai anakku…

Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak.

Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau akan remas kertas ini, lalu engkau robek-robek, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati ibu, dan telah engkau robek pula perasaannya.

Wahai anakku…

25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku.

Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku, dan semua ibu sangat mengerti arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini, sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi ibu.

Semenjak kabar gembira tersebut, aku membawamu sembilan bulan. Tidur, berdiri, makan, dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi, itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu wahai anakku, pada kondisi lemah di atas lemah. Bersamaan dengan itu, aku begitu gembira tatkala merasakan dan melihat terjalan kakimu, atau balikan badanmu di perutku.

Aku merasa puas, setiap aku menimbang diriku, karena bila semakin hari semakin berat perutku, berarti dengan begitu engkau sehat wal afiat di dalam rahimku.

Anakku…

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah tiba pada malam itu, yang aku tidak bisa tidur sekejap pun, aku merasakan sakit yang tidak tertahankan, dan merasakan takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu berlanjut, sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula, aku melihat kematian di hadapanku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia, dan engkau lahir. Bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu.

Ketika engkau lahir, menetes air mata bahagiaku. Dengan itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah, dengan bertambah kuatnya sakit.

Aku raih dirimu, sebelum ku raih minuman. Aku peluk cium dirimu, sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkongan.

 

Wahai anakku…

Telah berlalu setahun dari usiamu. Aku membawamu dengan hatiku, memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku, kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur, demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.

Harapanku pada setiap harinya, agar aku selalu melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat, adalah setiap permintaanmu agar aku berbuat sesuatu untukmu. Itulah kebahagiaanku.

Lalu berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, selama itu pula, aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai…

menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti… menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah… dan mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu…

Aku selau memperhatikan dirimu, hari demi hari, hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu, wahai anakku…

Tatkala itu, aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan, demi mencari pasangan hidupmu, semakin dekat hari perkawinanmu anakku, semakin dekat pula hari kepergianmu.

Tatkala itu, hatiku serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka. Tangis telah bercampur pula dengan tawa.

Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan… karena engkau telah mendapatkan jodoh… karena engkau telah mendapatkan pendamping hidup… Sedangkan sedih karena engkau adalah pelipur hatiku, yang akan berpisah sebentar lagi dari diriku…

Waktu pun berlalu, seakan-akan aku menyeretnya dengan berat, kiranya setelah perkawinan itu, aku tidak lagi mengenal dirimu.

Senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam.

Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam, seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran, aku benar-benar tidak mengenalmu lagi, karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang ku lewati, hanya untuk melihat rupamu. Detik demi detik ku hitung demi mendengar suaramu. Akan tetapi penantianku seakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk menanti kedatanganmu.

Setiap kali berderit pintu, aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering, aku merasa bahwa engkau yang akan menelponku. Setiap suara kendaraan yang lewat, aku merasa bahwa engkaulah yang datang.

Akan tetapi semua itu tidak ada, penantianku sia-sia, dan harapanku hancur berkeping. Yang ada hanya keputus-asaan… Yang tersisa hanya kesedihan dari semua keletihan yang selama ini ku rasakan, sambil menangisi diri dan nasib yang memang ditakdirkan oleh-Nya…

Anakku…

Ibumu tidaklah meminta banyak, ia tidaklah menagih padamu yang bukan-bukan…

Yang ibu pinta kepadamu:

Jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu.

Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.

Dan ibu memohon kepadamu nak, janganlah engkau pasang jerat permusuhan dengan ibumu.

Jangan engkau buang wajahmu, ketika ibumu hendak memandang wajahmu.

Yang ibu tagih kepadamu:

Jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana, sekalipun hanya sedetik.

Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi. Atau sekiranya terpaksa engkau datang sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

Anakku…

Telah bungkuk pula punggungku… bergemetar tanganku… karena badanku telah dimakan oleh usia, dan telah digerogoti oleh penyakit… Berdirinya seharusnya telah dipapah… duduk pun seharusnya dibopong…

Akan tetapi, yang tidak pernah sirna -wahai anakku- adalah cintaku kepadamu… masih seperti dulu… masih seperti lautan yang tidak pernah kering… masih seperti angin yang tidak pernah berhenti…

Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikan dengan kebaikan, sedangkan ibumu, mana balas budimu, mana balasan baikmu?!

bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air serupa?! bukan sebaliknya air susu dibalas dengan air tuba?!

Dan bukankah Alloh ta’ala, telah berfirman:

هل جزاء الإحسان إلا الإحسان

Bukankah balasan kebaikan, melainkan kebaikan yang serupa?!

 

Sampai begitukah keras hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?

Wahai anakku…

Setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku.

Bagaimana tidak?! Karena engkau adalah buah dari kedua tanganku… Engkau adalah hasil dari keletihanku… Engkaulah laba dari semua usahaku…

Dosa apakah yang telah ku perbuat, sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?!

Pernahkah suatu hari aku salah dalam bergaul denganmu?!

Atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?!

Tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang terhina dari sekian banyak pembantu-pembantumu yang mereka semua telah engkau beri upah?!

Tidak dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu?!

Dapatkah engkau sekarang menganugerahkan sedikit kasih sayang demi mengobati derita orang tua yang malang ini?!

 

إن الله يحب المحسنين

Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik.

 

Wahai anakku…

Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.

Wahai anakku…

Hatiku terasa teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan, bahwa engkau adalah laki-laki yang supel, dermawan dan berbudi.

Wahai anakku…

Apakah hatimu tidak tersentuh, terhadap seorang wanita tua yang lemah, binasa dimakan oleh rindu berselimutkan kesedihan, dan berpakaian kedukaan?!

Mengapa? Tahukah engkau itu?! Karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya…

Karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… Karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim…

Wahai anakku…

Ibumu inilah sebenarnya pintu surga, maka titilah jembatan itu menujunya… Lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, kemaafan, dan balas budi yang baik…  

Semoga aku bertemu denganmu di sana, dengan kasih sayang Alloh ta’ala sebagaimana di dalam hadits:

الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب أو احفظه

Orang tua adalah pintu surga yang paling tinggi. Sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu, atau jagalah! (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dishohihkan oleh Albani)

 

Anakku…

Aku mengenalmu sejak dahulu… semenjak engkau telah beranjak dewasa… aku tahu engkau sangat tamak dengan pahala… engkau selalu cerita tentang keuatamaan berjamaah… engkau selalu bercerita terhadapku tentang keutamaan shof pertama dalam sholat berjamaah… engkau selalu mengatakan tentang keutamaan infak, dan bersedekah…

Akan tetapi satu hadits yang telah engkau lupakan… satu keutamaan besar yang telah engkau lalaikan… yaitu bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdulloh bin Mas’ud, ia mengatakan:

سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قلت: يا رسول الله أي العمل أفضل؟ قال: الصلاة على ميقاتها. قلت: ثم أيُّ؟ قال: ثم بر الوالدين. قلت: ثم أيُّ؟ قال: الجهاد في سبيل الله. فسكت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولو استزدته لزادني. (متفق عليه)

Aku bertanya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-: Wahai Rosululloh, amal apa yang paling mulia?

Beliau menjawab: sholat pada waktunya.

Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh?

Beliau menjawab: Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.

Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh?

Beliau menjawab: Kemudian jihad di jalan Alloh.

Lalu aku pun diam (tidak bertanya) kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- lagi, dan sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. Itulah hadits Abdulloh bin Mas’ud…

 

Wahai anakku…

Inilah aku, ibumu… pahalamu… tanpa engkau harus memerdekakan budak atau banyak-banyak berinfak dan bersedekah… aku inilah pahalamu…

Pernahkah engkau mendengar, seorang suami yang meninggalkan keluarga dan anak-anaknya, berangkat jauh ke negeri seberang, ke negeri entah berantah untuk mencari tambang emas, guna menghidupi keluarganya?!

Dia salami satu persatu, dia ciumi isterinya, dia sayangi anaknya, dia mengatakan: Ayah kalian, wahai anak-anakku, akan berangkat ke negeri yang ayah sendiri tidak tahu, ayah akan mencari emas… Rumah kita yang reot ini, jagalah… Ibu kalian yang tua renta ini, jagalah…

Berangkatlah suami tersebut, suami yang berharap pergi jauh, untuk mendapatkan emas, guna membesarkan anak-anaknya, untuk membangun istana mengganti rumah reotnya.

Akan tetapi apa yang terjadi, setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, yang ia bawa hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia gagal dalam usahanya. Pulanglah ia kembali ke kampungnya. Dan sampailah ia ke tempat dusun yang selama ini ia tinggal.

Apalagi yang terjadi di tempat itu, setibanya di lokasi rumahnya, matanya terbelalak. Ia melihat, tidak lagi gubuk reot yang ditempati oleh anak-anak dan keluarganya.

Akan tetapi dia melihat, sebuah perusahaan besar, tambang emas yang besar. Jadi ia mencari emas jauh di negeri orang, kiranya orang mencari emas dekat di tempat ia tinggal.

Itulah perumpaanmu dengan kebaikan, wahai anakku…

Engkau berletih mencari pahala… engkau telah beramal banyak… tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar… di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu masuk surga…

Ibumu adalah orang yang dapat menghalangimu untuk masuk surga, atau mempercepat amalmu masuk surga… Bukankah ridloku adalah keridloan Alloh?! Dan bukankan murkaku adalah kemurkaan Alloh?!

Anakku…

Aku takut, engkaulah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- di dalam haditsnya:

رغم أنفه ثم رغم أنفه ثم رغم أنفه قيل من يا رسول الله قال من أدرك والديه عند الكبر أحدهما أو كليهما ثم لم يدخل الجنة (رواه مسلم)

Celakalah seseorang, celakalah seseorang, dan celakalah seseorang!

Ada yang bertanya: Siapakah dia wahai Rosululloh?

Beliau menjawab: Dialah orang yang mendapati orang tuanya saat tua, salah satu darinya atau keduanya, akan tetapi tidak membuat dia masuk surga (HR. Muslim 2551)

 

Celakalah seorang anak, jika ia mendapatkan kedua orang tuanya, hidup bersamanya, berteman dengannya, melihat wajahnya, akan tetapi tidak memasukkan dia ke surga.

Anakku…

Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit, aku tidak akan adukan duka ini kepada Alloh, karena jika seandainya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan, yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya…

Aku tidak akan melakukannya wahai anakku… tidak… bagaimana aku akan melakukannya, sedangkan engkau adalah jantung hatiku…

bagaimana ibu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit, sedangkan engkau adalah pelipur lara hatiku… bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku…

Bangunlah nak… bangunlah… bangkitlah nak… bangkitlah… uban-uban sudah mulai merambat di kepalamu… Akan berlalu masa, sehingga engkau akan menjadi tua pula…

الجزاء من جنس العمل

Sebagaimana engkau akan berbuat, seperti itu pula orang akan berbuat kepadamu…

الجزاء من جنس العمل

Ganjaran itu sesuai dengan amal yang engkau telah tanamkan… Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…

 

Aku tidak ingin engkau menulis surat ini…

aku tidak ingin engkau menulis surat yang sama, dengan air matamu kepada anak-anakmu, sebagaimana aku telah menulisnya kepadamu…

Wahai anakmu…

bertakwalah kepada Alloh… takutlah engkau kepada Alloh… berbaktilah kepada ibumu… peganglah kakinya, sesungguhnya surga berada di kakinya…

basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya… kencangkan tulang ringkihnya… dan kokohkan badannya yang telah lapuk…

Anakku…

setelah engkau membaca surat ini, terserah padamu. Apakah engkau sadar dan engkau akan kembali, atau engkau akan merobeknya.

 

Wa shollallohu ala nabiyyina muhammadin wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Dari Ibumu yang merana…

(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh- oleh ustadz Abu Abdillah Ad-Daariny, Lc)

Malaikat dan Tulisan
  • Di sebuah makam...
  • Malaikat : hei, nama kamu siapa?
  • Gw : Dini. Kok masih nanya? Kan di buku dosa udah ada.
  • Malaikat : oh iya. Ngetes aja, barangkali kamu ngaku Dian Sastro.
  • Gw : -_- atulah
  • Malaikat : siapa Tuhanmu? Nabimu?
  • Gw : Tuhan Allah sih, cuma kenyataannya saya lebih sering mikirin mantan dan gebetan. Nabi sih Muhammad, cuma saya lebih sering nyanyi daripada sholawat.
  • Malaikat : *tepok jidat* idup lo ga ada gunanya gitu? Oke. Kamu punya bakat menulis ya?
  • Gw : gatau, kata orang-orang sih gitu.
  • Malaikat : Nulisnya udah manfaat?
  • Gw : mm...maaf Mas Malekat, banyakan nulis galau.
  • Malaikat : *tepok jidat malaikat sebelah* idup lo ga guna banget sikk?? percuma dikasih Allah bakat tapi cuma dipake nge galow!!
  • Gw : kalem keleuuus...coba barangkali ada yang lain?
  • Malaikat : energi kamu besar ya? Semangat kamu juga. Terus asik banget kamu dikasih Allah bakat ga pernah menyerah.
  • Gw : iya, kata psikotest sih gitu hasilnya. Cuma lebih sering dipake buat ngejar urusan duniawi, dan ga kekejar-kejar. Wakakakak.
  • Malaikat : *tepok jidat temennya lagi* maaf saya bingung mau nanya apa. Nganu deh, balik lagi ke nulis. Ini kamu hidup di dunia modern ya? Kenal Tumblr juga?
  • Gw : iya
  • Malaikat : betewe ini saya udah sortir tulisan-tulisan kamu yang manfaat sama yang kagak. Dan yang kagak 95%, yang manfaat cuma 5%. Bahkan tulisan galaow kamu lebih panjang dari catatan kebaikan kamu tau gak?
  • Gw : Wakakakakak..maaf om Malekat.
  • Malaikat : mau masuk neraka kok ketawa?
  • Gw : iya itu katanya tanda orang celaka.
  • "Ikatlah ilmu dengan menulis. Bahwa segala sesuatu yang kau tulis akan dimintai pertanggungjawabannya kelak" - Ali bin Abi Thalib-
kenapa ya ibadah yang harusnya fokus pada akhirat malah menjadi ajang mencari dunia
—  baca Al Waqiah biar kaya, rajin duha supaya mendapat riqzi, sodakoh biar dibalas berkalilipat, sholawat biar urusan lancar. dan masih banyak lagi ibadah kita demi dunia. bukan karena Allah.
Lawan keengganan baca Qur'an dengan terus membacanya. Serang kemalasan nderes Qur'an dengan terus nderes Qur'annya. Perangi rasa bosen belajar dan ngafalin Qur'an dengan terus menghafalkannya.
—  Selamat baca Al-Kahfi gaes. Kata kak Ammar, jangan lupa sholawat sambil bayangin wajahnya rosul ada didepan kita. Ngebayangin beliaunya nanya kabar sama masalah yang kita hadapi sekarang ini. Bayangin cerita cerita bareng sambil curhat gitu sama beliau. Sosuit :’)

اللهم صلي على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى ال سيدنا ابراهيم وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كما باركت على سيدنا ابراهيم وعلى ال سيدنا ابراهيم في العالمين إنك حميد مجيد

Here are 201 Names of our Master and Prophet, Muhammad, Allah’s blessing and peace upon him

O Allah, bless, sanctify and grant peace to one named Muhammad (the Praised One), Allah’s blessing and peace be upon him.

O Allah, bless, sanctify and grant peace to one named Ahmad (the Most Praised), Allah’s blessing and peace be upon him.

O Allah, bless, sanctify and grant peace to one named Haamid (the Praiser), Allah’s blessing and peace be upon him.

O Allah, bless, sanctify and grant peace to one named Mahmud (the Most Highly Praised), Allah’s blessing and peace be upon him.

Aheed (name of the Prophet in the Torah) Allah’s blessing and peace be upon him.

Wahid (Unique) Allah’s blessing and peace be upon him.

Maahi (the Effacer) Allah’s blessing and peace be upon him.

Hashir (the Gatherer) Allah’s blessing and peace be upon him.

Aqib (the Last in Succession) Allah’s blessing and peace be upon him.

TaHa (Surah of the Holy Qu’ran) Allah’s blessing and peace be upon him.

YaSin (Surah of the Holy Qu’ran) Allah’s blessing and peace be upon him.

Tahir (the Pure) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mutahir (the Purifier) Allah’s blessing and peace be upon him.

Taiyeb (the Good) Allah’s blessing and peace be upon him.

Saiyed (the Master) Allah’s blessing and peace be upon him.

Rasool (the Messenger) Allah’s blessing and peace be upon him.

Nabi (the Prophet) Allah’s blessing and peace be upon him.

Rasool ur-Rahmah (the Messenger of Mercy) Allah’s blessing and peace be upon him.

Qayim (the Straight One) Allah’s blessing and peace be upon him.

Jami (the Collector) Allah’s blessing and peace be upon him.

Muqtafin (the Selected) Allah’s blessing and peace be upon him.

Muqaffi (the Best Example) Allah’s blessing and peace be upon him.

Rasool al-Malahim (the Messenger of Fierce Battles) Allah’s blessing and peace be upon him.

Rasool ur-Rahah (the Messenger of Rest) Allah’s blessing and peace be upon him.

Kamil (the Perfect) Allah’s blessing and peace be upon him.

Iklil (the Crown) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mudathir (the Covered One) Allah’s blessing and peace be upon him.

Muzzamil (the One Wrapped One) Allah’s blessing and peace be upon him.

Abdullah (the Save of Allah) Allah’s blessing and peace be upon him.

Habibullah (the Beloved of Allah) Allah’s blessing and peace be upon him.

Safiyuallh (the Intimate of Allah) Allah’s blessing and peace be upon him.

Najiyullah (the Confidant of Allah) Allah’s blessing and peace be upon him.

Kalimullah (the Speaker of Allah) Allah’s blessing and peace be upon him.

Khatim ul-Ambiya (the Seal of the Prophets) Allah’s blessing and peace be upon him.

Khatim ur-Rasool (the Seal of the Messengers) Allah’s blessing and peace be upon him.

Muhyi (the Reviver) Allah’s blessing and peace be upon him.

Munjin (the Rescuer) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mudhakkir (the Reminder) Allah’s blessing and peace be upon him.

Naasir (the Helper) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mansoor (the Victorious One) Allah’s blessing and peace be upon him.

Nabiy ur-Rahmah (the Prophet of Mercy) Allah’s blessing and peace be upon him.

Nabi ut-Tauba (the Prophet of Repentance) Allah’s blessing and peace be upon him.

Haris Alaykum (Watchful over You) Allah’s blessing and peace be upon him.

Ma’lum (the Known One) Allah’s blessing and peace be upon him.

Shahir (the Famous) Allah’s blessing and peace be upon him.

Shaahid (the Witness) Allah’s blessing and peace be upon him.

Shaheed (Witnesser) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mashhood (the Attested) Allah’s blessing and peace be upon him.

Bashir (the Newsbringer) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mubashir (the Spreader of Good News) Allah’s blessing and peace be upon him.

Nadhir (the Warner) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mundhir (the Admonisher) Allah’s blessing and peace be upon him.

Nur (the Light) Allah’s blessing and peace be upon him.

Siraj (the Lamp) Allah’s blessing and peace be upon him.

Misbah (the Lantern) Allah’s blessing and peace be upon

Huda (the Guidance) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mahdi (the Rightly Guided One) Allah’s blessing and peace be upon him.

Munir (the Illumined One) Allah’s blessing and peace be upon him.

Da’a (the Caller) Allah’s blessing and peace be upon him.

Madu’u (the Called One) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mujib (the Responsive) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mujaab (the One responded to) Allah’s blessing and peace be upon him.

Hafiy (the Welcoming) Allah’s blessing and peace be upon him.

‘Afw (the Overlooker of Sins) Allah’s blessing and peace be upon him.

Wali (the Friend) Allah’s blessing and peace be upon him.

Haqq (the Truth) Allah’s blessing and peace be upon him.

Qawiy (the Powerful) Allah’s blessing and peace be upon him.

Amin (the Trustworthy) Allah’s blessing and peace be upon him.

Ma’mun (the Trusted) Allah’s blessing and peace be upon him.

Karim (the Noble) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mukarram (the Honoured) Allah’s blessing and peace be upon him.

Makin (the Firm) Allah’s blessing and peace be upon him.

Matin (the Stable) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mubin (the Evident) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mu’ammil (the Hoped for) Allah’s blessing and peace be upon him.

Wasul (the Connection) Allah’s blessing and peace be upon him.

Dhu Quwatin (the Possessor of Power) Allah’s blessing and peace be upon him.

Dhu Hurmahtin (the Possessor of Honour) Allah’s blessing and peace be upon him.

Dhu Makanatin (the Possessor of Firmness) Allah’s blessing and peace be upon him.

Dhu ‘ Azzin (the Possessor Of Might) Allah’s blessing and peace be upon him.

Dhu Fadl (the Possessor of Grace) Allah’s blessing and peace be upon him.

Muta’ (the One Obeyed) Allah’s blessing and peace be upon him.

Muti’ (the Obedient) Allah’s blessing and peace be upon him.

Qadim Sidq (the Foot of Sincerity) Allah’s blessing and peace be upon him.

Rahmah (Mercy) Allah’s blessing and peace be upon him.

Burshra (the Good News) Allah’s blessing and peace be upon him.

Ghawth (the Redeemer) Allah’s blessing and peace be upon him.

Ghayth (Succour) Allah’s blessing and peace be upon him.

Ghiyath (Help) Allah’s blessing and peace be upon him.

Ni'matullah (the Blessings of Allah) Allah’s blessing and peace be upon him.

Hadiyatullah (the Gift of Allah) Allah’s blessing and peace be upon him.

‘Urwatu Wuthqa (the Trusty Handhold) Allah’s blessing and peace be upon him.

Siratuallah (the Path of Allah) Allah’s blessing and peace be upon him.

Siratumustaqim (the Straight path) Allah’s blessing and peace be upon him.

Dhikrullah (Remembrance of Allah) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sayfullah (the Sword of Allah) Allah’s blessing and peace be upon him.

Hizbullah (the party of Allah) Allah’s blessing and peace be upon him.

Al-Najm ath-thaqib (the Piercing Star) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mustafa (the Chosen One) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mujtaba (the Select) Allah’s blessing and peace be upon him.

Muntaqa (the Eloquent) Allah’s blessing and peace be upon him.

Umiy (the Unlettered) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mukhtar (the Chosen) Allah’s blessing and peace be upon him.

Ajeer (Allah’s Worker) Allah’s blessing and peace be upon him.

Jabbar (the Compelling) Allah’s blessing and peace be upon him.

Abu Qasim (Father of Qasim) Allah’s blessing and peace be upon him.

Abu at-Tahir (Father of Pure) Allah’s blessing and peace be upon him.

Abu at-Taiyeb (the Good Father) Allah’s blessing and peace be upon him.

Abu Ibrahim (Father of Ibrahim) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mushaffa (the One Whose Intercession is Accepted) Allah’s blessing and peace be upon him.

Shaafi’ (the Interceder) Allah’s blessing and peace be upon him.

Salih (the Righteous) Allah’s blessing and peace be upon him.

Muslih (the Conciliator) Allah’s blessing and peace be upon him.

Muhaymin (the Guardian) Sadiq (the Truthful) Allah’s blessing and peace be upon him.

Musaddaq (the Confirmer) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sidq (the Sincerity) Allah’s blessing and peace be upon him.

Saiyed ul-Mursalin (the Master of the Messengers) Allah’s blessing and peace be upon him.

Imam ul-Muttaqeen (the Leader of the God-Fearing) Allah’s blessing and peace be upon him.

Qayid ul-Ghur il-Muhajjilin (the Guide of the Brightly Shines Ones) Allah’s blessing and peace be upon him.

Khalil ur-Rahman (the Friends of the Merciful) Allah’s blessing and peace be upon him.

Barr (the Pious) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mubirr (the Venerated) Allah’s blessing and peace be upon him.

Wajih (the Eminent) Allah’s blessing and peace be upon him.

Nasseh (the Adviser) Allah’s blessing and peace be upon him.

Naasih (the Counsellor) Allah’s blessing and peace be upon him

Wakeel (the Advocate) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mutawakil (the Reliant on Allah) Allah’s blessing and peace be upon him

Kafeel (the Guarantor) Allah’s blessing and peace be upon him.

Shafeeq (the Tender) Allah’s blessing and peace be upon him.

Muqeem as-Sunna (the Establisher of Way) Allah’s blessing and peace be upon him.

Muqaddis (the Sacred) Allah’s blessing and peace be upon him.

Ruh ul-Qudus (the Holy Spirit) Allah’s blessing and peace be upon him

Ruh ul-Haqq (the Spirit of Truth) Allah’s blessing and peace be upon him.

Ruh ul-Qist (the spirit of Justice) Allah’s blessing and peace be upon him.

Kaaf (the Qualified) Allah’s blessing and peace be upon him.

Muktaf (the Broad-shouldered) Allah’s blessing and peace be upon him.

Baligh (the Proclaimer) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mubaligh (the Informer) Allah’s blessing and peace be upon him.

Shaaf (the Healing) Allah’s blessing and peace be upon him.

Waasil (the Inseparable Friend) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mawsool (the One Bound to Allah) Allah’s blessing and peace be upon him.

Saabiq (the Foremost) Allah’s blessing and peace be upon him.

Saa'iq (the Driver) Allah’s blessing and peace be upon him.

Haadin (the Guide) Allah’s blessing and peace be upon him.

Muhd (the Guided) Allah’s blessing and peace be upon him

Muqaddam (the Overseer) Allah’s blessing and peace be upon him.

Aziz’ (the Mighty) Allah’s blessing and peace be upon him.

Fadhil (the Outstanding) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mufaddhil (the Favoured) Allah’s blessing and peace be upon him.

Fatih (the Opener) Allah’s blessing and peace be upon him.

Miftah (the key) Allah’s blessing and peace be upon him.

Miftah ur-Rahman (the Key of Mercy) Allah’s blessing and peace be upon him.

Miftah ul-Jannah (the Key to the Garden ) Allah’s blessing and peace be upon him.

'Alam ul-Iman (He taught the Faith) Allah’s blessing and peace be upon him.

'Alm ul-Yaqeen ( He Taught Certainty) Allah’s blessing and peace be upon him.

Dalail’ ul-Khayrat (Guide to Good Things) Allah’s blessing and peace be upon him.

Musahih ul-Hasanat (the Verifier of Good Deeds) Allah’s blessing and peace be upon him.

Muqeel ul-'Atharat (the Forewarner of False Steps) Allah’s blessing and peace be upon him.

Safooh 'an az-Zallat (the Pardoner of Oppressions) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ush-Shafa'h (the Possessor of intercession) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Maqam (the Possessor of the Honoured Station) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Qadam (Owner of the Footprint) Allah’s blessing and peace be upon him.

Makhsoosun bil-'Azz (Distinguished with Might) Allah’s blessing and peace be upon him.

Makhsoosun bil-Majd (Distinguished with Glory) Allah’s blessing and peace be upon him.

Makhsoosun bish-Sharaf (Distinguished with Nobility) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Waseelah (the Possessor of the Closest Access) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib us-Sayf (the Owner of the Sword) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Fadeelah (the Possessor of Pre-eminence) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Izar (the Owner of the Cloth) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Hujjah (the Possessor of Proof) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib us-Sultan (the Possessor of Authority) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ur-Rida’ (the Owner of the Robe) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ud-Darajat ir-Rafi’ (thePossessor of the Lofty Rank) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ut-Taj (the Possessor of Crown) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Migfir (the Possessor of Forgiveness) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Liwa’ (the Possessor of the Flag) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Mi'raj (the Master of the Night Journey) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Qadheeb (the Possessor of the Staff) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Buraq (the Owner of Buraq) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Khatam (the Owner of the Ring) Allah’s blessing and peace be upon him.

Shahib ul-'Alamah (the Owner of the Sign) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Burhan (the Possessor of the Evidence) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Bayan (the Possessor of Evident Proofs) Allah’s blessing and peace be upon him.

Faseeh ul-Lisan (the Good Communicatior) Allah’s blessing and peace be upon him.

Mutahhir ul-Jannan (the Purifier the Soul) Allah’s blessing and peace be upon him.

Ra'uf (the Kind) Allah’s blessing and peace be upon him.

Raheem (the Mercy-giving) Allah’s blessing and peace be upon him.

Udhun Khayr (the Good Listener) Allah’s blessing and peace be upon him.

Saheeh ul-Islam (the Completer of Islam) Allah’s blessing and peace be upon him.

Saiyed ul-Khawnain (the Master of the Two Universes) Allah’s blessing and peace be upon him.

'Ayn ul-Na'eem (the Spring of Bliss) Allah’s blessing and peace be upon him.

'Ayn ul-Ghur (the Spring of Beauty) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sa'dullah (the Joy of Allah) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sa’d ul-Khalq (the joy of the Creator) Allah’s blessing and peace be upon him.

Khateeb ul-Umam (the Preacher of Nations) Allah’s blessing and peace be upon him.

'Alm ul-Huda (the Teacher of the Guidance) Allah’s blessing and peace be upon him

Khashif ul-Kurab (the Remover of Worries) Allah’s blessing and peace be upon him.

Rafi'ur-Rutab (the Raiser of Ranks) Allah’s blessing and peace be upon him.

'Izz ul-'Arab (the Might of the Arabs) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib ul-Faraj (the Possessor of Happiness) Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahibul Waqt Allah’s blessing and peace be upon him.

Sahib –uz Zamaan Allah’s blessing and peace be upon him.

O Allah, O Lord, for the honour of Your Prophet, Al-Mustafa, and Your Messenger, Al-Murtada, Purify our hearts from every characteristic which keeps us away from Your Presence and Your Love, and have us pass away following his way and in his community, longing to meet You, O Owner of Majesty and Nobility.

And the Blessings and abundant peace of Allah be upon our master Muhammad, his family and his Companions and praise be to Allah, Lord of the Worlds.