Senator-Dan

When he was asked in recent days how he wanted to be remembered, he said: “I represented the people of Hawaii and this nation honestly and to the best of my ability. I think I did okay.”

Humble guy. “okay” would be an understatement! Senator Dan Inouye, you did choke for us and you did it like a boss. (check out his war stories, pretty badass).

A HUGE loss for Hawaii. Rest easy Senator Daniel Inouye. (September 7, 1924 - December 17, 2012) 

“Aloha” - His last words according to articles.

From everyone from Hawaii and all over.. Aloha and choke mahalos Senator Daniel Inouye.

Secret Service - One

Summary: Daniel Howell is the President’s son and Phil is a secret service member who gets more than he bargained for.

Words: 941

Warning: Swearing

“Daniel Howell, the older, and gay, son of President James Howell was seen out late last night, partying with friends until early hours of the morning. Howell then left the club with a mystery man.” President Howell raised the remote, cutting the news anchor off by turning off the tv.

Keep reading

Every Senator Who Voted to Defund Planned Parenthood:

(Bolded names are those up for reelection in 2016, FYI.) 

Alabama Senator Richard Shelby -R

Alabama Senator Jeff Sessions -R

Alaska Senator Lisa Murkowski -R

Alaska Senator Dan Sullivan -R

Arizona Senator John McCain -R

Arizona Senator Jeff Flake -R

Arkansas Senator John Boozman -R

Arkansas Senator Tom Cotton -R

Colorado Senator Cory Gardner -R

Florida Senator Marco Rubio -R

Georgie Senator Johnny Isakson -R

Georgia Senator David Perdue -R

Idaho Senator Mike Crapo -R

Indiana Senator Dan Coats -R

Indiana Senator Joe Donnelly -D

Iowa Senator Chuck Grassley -R

Iowa Senator Joni Ernst -R

Kansas Senator Pat Roberts -R

Kansas Senator Jerry Moran -R

Kentucky Senator Rand Paul -R

Louisiana Senator David Vitter -R

Louisiana Senator Bill Cassidy -R

Maine Senator Susan Collins -R

Mississippi Senator Thad Cochran -R

Mississippi Senator Roger Wicker -R

Missouri Senator Roy Blunt -R

Montana Senator Steve Daines -R

Nebraska Senator Deb Fischer -R

Nebraska Senator Ben Sasse -R

Nevada Senator Dean Heller -R

New Hampshire Senator Kelly Ayotte -R

North Carolina Senator Richard Burr -R

North Carolina Senator Thom Tillis -R

North Dakota Senator John Hoeven -R

Ohio Senator Rob Portman -R

Oklahoma Senator Jim Inhofe -R

Oklahoma Senator James Lankford -R

Pennsylvania Senator Pat Toomey -R

South Carolina Senator Lindsey Graham -R

South Carolina Senator Tim Scott -R

South Dakota Senator John Thune -R

South Dakota Senator Mike Rounds -R

Tennessee Senator Lama Alexander -R

Tennessee Senator Bob Corker -R

Texas Senator John Cornyn -R

Texas Senator Ted Cruz -R

Utah Senator Orrin Hatch -R

Utah Senator Mike Lee -R

West Virginia Senator Joe Manchin -D

West Virginia Senator Shelley Moore Capito -R

Wisconsin Senator Ron Johnson -R

Wyoming Senator Mike Enzi -R

Wyoming Senator John Barrasso -R

3

I cover Congress, and one of the coolest secrets about my job is the furry, four-legged friend I get to bring to work everyday.

Mickey Chang is my effervescent, forever loving, black and white Shih Tzu. You may not know this — but the U.S. Capitol is the most dog-friendly workplace you will ever find. And come on — anyone who has to watch Congress all day needs a therapy dog.

And besides, Mickey loves schmoozing with senators.

Lawmakers have been bringing their dogs to the U.S. Capitol since the 1800s, according to the Senate Historian’s Office.

“In the late 19th century and the early 20th century, all the reporting about dogs has to do with dogs fighting or being on the loose in some way,” says Assistant Senate Historian Dan Holt.

Despite Partisan Rancor, Democrats And Republicans Can Agree On Dogs

Photos: Ailsa Chang/NPR

huffingtonpost.com
In a matter of hours, North Carolina became the most anti-LGBT state in the country
"This is a direct affront to equality, civil rights, and local autonomy."

Yesterday, in the course of one day, the North Carolina General Assembly passed a nondiscrimination bill that bans discrimination based on “biological sex,” but specifically leaves out sexual orientation and gender identity. The governor signed it into law last night.

The law also prohibits transgender people from using the bathrooms that correspond with their gender identity, takes away nondiscrimination protections from veterans, and blocks the minimum wage from being raised. 

“This bill essentially repeals 50 years of non-discrimination efforts and gives lawmakers in Raleigh unprecedented control over our city and local governments,” Senate Democratic Leader Dan Blue said in a statement. “North Carolina Republicans want to pass what would potentially be the single most discriminatory act in the country. This is a direct affront to equality, civil rights, and local autonomy.”

The single most discriminatory act in the country. And it just passed unbelievably quickly because of the hateful rhetoric that says LGBT people – particularly transgender people – are predatory and do not deserve equal rights. This was a failure, North Carolina. When you go to the polls in a few months, remember how these politicians treated us. 

These “measuring sticks,”
however, show just how absurd these measurements seem when removed from their context– regardless of what you think about someone’s clothes, the person wearing them is still a person and should be treated as such.

The ad was design by Theresa Wlokka (art director), Frida Regeheim (copywriter), and other students at the Miami Ad School in Hamburg, Germany.

*

Gua pakai iklan sosial ini jadi pisau untuk membedah fenomena yang gua alami beberapa waktu ini.


Kalau kemarin gua reblog tentang bagaimana geng feminist menilai penampilan cewek-cewek di sekitarnya. Dan bias. Biasalah, geng feminist tu suka betengkar sama siapa aja. Kalo gak antar feminist, ya, yang laen. Iklan ini juga dibuat dengan semangat kampanye atas hak berpakaian yang diperjuangkan aktifis HAM, kesetaraan gender dan geng feminist.

“Measuring stick” tiap komunitas masyarakat itu berbeda, sudah pasti. Semangat gua sendiri membawa argumen bule, ng, pinjem, cuma buat mengingatkan aja, elu dan gua gak hidup sendirian. Elu boleh gak setuju atau ngatain gua dengan pinjem tangan Qur'an yang ayatnya elu yakin paham, meski gua gak musti sepaham sama pemahaman elu. Tapi jangan maki orang Hindu-Bali, Kristen Papua, Manado, Batak karena pakaian mereka. Atau mau bikin negara ini harus berjilbab syar'i (njir, gua merasa bodoh pakai istilah ini) semuanya. Total. Gak peduli agamanya apa.

Gua ambil contoh Aceh. Sumpah, atas dasar apa Serambi Mekkah itu musti segalak itu bikin aturan Syariah. Kalau elu pernah ke Aceh elu akan menemukan kehidupan yang sama dengan tempat elu. Ada prostitusi, ada Kristen, ada Jawa, ada koruptor, ada penjahat. Semua ada. Dan itu biasa-biasa aja. Tapi entah sejak kapan daerah indah itu jadi serem gitu ya? Gua gak ngomong asal ngomong sich. Gua ngomong karena prihatin aja. Segala sesuatu harus berdasar pemahaman kaku kaum agamis konservatif. Yang sialnya ‘megang’ wilayah itu. Daerah itu emang punya hak istimewa menentukan nasibnya lebih dari propinsi lain. Hukum yang berlaku berdampingan dengan UUD dan Pancasila. Cuma… Kasian sich. Gua belum dapat laporan perubahan sosial yang lebih baik sebelum atau sesudah diberlakukannya sistem tersebut. Yang ada lebih banyak laporan praktek penegakan moral atas nama agama yang gak substansial. Bergerak ngurusin moralnya rakyat kecil doank. (Pejabat? Skip) Seolah itu yang paling krusial. Misal, ngangkang, zina, kerudung dll. Tapi masalah fundamental terkait kesejahteraan, isu penegakan hukum dan HAM…burger, atau kesehatan ibu-anak, perkembangan dan pendidikan anak muda, gak ada pendekatan ke arah itu. Koruptor juga gak ada yang dihukum potong tangan atau pancung kan? (Atau gua kelewat baca beritanya?) Lu kata itu gak ada hukumnya dalam islam? Bahkan Kanjeng Nabi rela hidup sederhana meski berpunya, itu bukan bagian dari penegakan Islam? Bukan nadi kehidupan Islam? Itu akhlak dan norma yang muncul dari kasih sayang. Saat pemerintahan bener dan berjuang demi rakyat. Rakyat sejahtera, dan cerdas-cerdas. Dengan sendirinya mereka bisa mikir sendiri. Apa yang baik dan buruk. Pengendalian dirinya lebih mapan. Seolah gak butuh kantor pengadilan segala kecuali kalo lu mau cerei. Cem S'pore atau Jepun gitu. Tapi ya gitu… Butuh 40 sampai 50 tahun usaha serius sampai di titik mapan S'pore yang sekarang.

Silakan cek negara paling korup dan paling berbahaya karena tingginya tingkat kriminalitas dunia. Negara itu bukan negara atheis. Bukan negara sekular. Tapi negara dengan dasar ketuhanan. Artinya kesadaran religiusitasnya tinggi. Amerika Latin, Afrika dan Asia.

Silakan cek!

Sekalian mikir : Kenapa korup? Ada masalah dengan sistem kah? Kenapa kriminalitas tinggi? Apa yang terjadi pada manusianya? Lingkungannya? Sosial budayanya? Politik regulasi? Roda perekonomiannya ada yang patah kah? Kurang belaian apa gimana? Itu yang harus terus dan terus digali. Jika sebuah komunitas kelakuannya kelewat absurd, tinggal cek silang turba ke masyarakat. Bukan ujug-ujug buka kitab suci dan ngelempar wacana, kita rusak karena tak menegakkan syariat Islam. (lhah?!)

Menilai penampilan perlu. Taat norma perlu. Moral perlu. Akhlak perlu. Tapi kesejahteraan sosial adil dan beradab itu seimbang. Tidak timpang. Sejahterakan dulu kami, baru potong tangan kami jika mencuri. Tapi cek dulu di rumah Gubernur itu ada barang mewah atau tidak, kerjanya ngapain aja, kok ada rakyatnya lapar sampai mencuri. Silakan rajam pezina, tapi cek dulu pendidikan orang tua dan peran BKKBN kok sampai ada anak SMP aktif seksualnya tanpa pemahaman seksualitas yang bagus. Kalau ada perempuan Muslimah berhak tinggi dan kerudungnya remang-remang… Eheheheh salahin aja tukang kerudung di Tanah Abang. Ngapain jual kerudung gituan!

Jika dalam sebuah sistem norma, infrastruktur sudah terpenuhi, hukum bisa tegak. Tapi sebaliknya, jika jiwa dan raga tidak dipenuhi kebutuhannya, hukum tidak punya kuasa. Ada satu saja prasarat tegaknya hukum tak terpenuhi, tapi dipaksa tegak, yang ada adalah kedzaliman. Gimana coba mempertanggung-jawabkannya?

*
So, mau ribut dan sibuk ngomongin kepantasan berpakaian padahal spektrum normanya sangat luas? Gua tutup soal Aceh. Arahkan pandangan ke seluruh wilayah. Lebih luas. Melintasi seluruh budaya khatulistiwa. Ahistoris donk kalau mengklaim satu pandangan bagaimana manusia membungkus diri yang paling benar. Padahal republik ini tersusun dari keberagaman.

Hallo, para agen penggiat berjilbab sekalian… Apakah anda yakin jilbab saudari dibuat oleh penjahit yang diupah layak? Jangan cuma berani ngatain cewek skena yang kalian bubarkan dan kasarin dengan sebutan pelacur aja donk. Adillah. Adillah dalam berjuang di jalan tuhan.


Kenapa gua menyorot tendensius ke kaum agamis gini ya kesannya. Karena jujur, gua semakin gak aman deket-deket sama kaum mayor yang berpikiran kaku tingkahnya nyaris ditaktor. Ini yang kaku ini makin banyak, bahkan sampai ke kaum terdidik dan senator.

Gua jadi mikir gini…
Kalau misal besok gua sepedahan pakai celana sepeda yang ketat itu bisa-bisa gua dirajam nich kalo bener NKRI jadi negara Islam. Kayak cita-cita kaum right wing Islamist yang sekarang nge-hits di kampus dan pengajian. Ini masih masalah baju doank. Sekarang aja Pancasila dikebiri gitu. Baaaah!

Sebenarnya siapapun bisa gunain “measuring stick” cem di poster, siapapun. Karena baik laki-laki dan perempuan punya kecenderungan memandang orang lain “ada aja yang layak disalahkan”. Bukan gua yang bilang. Gua baca di manaaaa gitu. Tapi itu udah pernah gua bahas dulu-dulu. Bahkan hal-hal kayak gini tu sering banget dibahas di kolom media on line geng feminist juga. Makanya gua bisa bilang geng itu suka ribut sama siapa aja. Sama aja kayak golongan Islamist gitu. Ribuuuuut mulu. Debat gak mutu saking sama-sama kurang ilmu. Makin pinter kagak, nambah musuh iya :p


Gua bisa aja salah. Atau berlebihan. Tapi masa depan semakin suram buat gua. Maaf bikin gak enak malam Minggu nya. Kalau salah, silakan koreksi.