Senator-Dan

When he was asked in recent days how he wanted to be remembered, he said: “I represented the people of Hawaii and this nation honestly and to the best of my ability. I think I did okay.”

Humble guy. “okay” would be an understatement! Senator Dan Inouye, you did choke for us and you did it like a boss. (check out his war stories, pretty badass).

A HUGE loss for Hawaii. Rest easy Senator Daniel Inouye. (September 7, 1924 - December 17, 2012) 

“Aloha” - His last words according to articles.

From everyone from Hawaii and all over.. Aloha and choke mahalos Senator Daniel Inouye.

politico.com
Where the Confederacy Is Rising Again
In east Texas, a group of true believers is helping build the largest Confederate monument in a century. Is the state itself helping keep the memory alive? By JOHN SAVAGE

In July 2015, with national controversy over displays of the Confederate flag at a ferocious peak, five Texas Democratic lawmakers sent a letter to the state’s top elected officials arguing that some of the dozen Confederate memorials at the Texas state Capitol “espouse a whitewashed version of history.” The letter came a month after a 19-year-old white supremacist murdered nine black churchgoers in Charleston, South Carolina, a hate crime that jumpstarted a national conversation about the meaning of Confederate symbols.

The letter was sent to Governor Greg Abbott, Lt. Gov. Dan Patrick and House Speaker Joe Straus. Only Speaker Straus responded. In November, he ordered a House committee to review the "historical intent and significance” of the monuments and make recommendations to the State Preservation Board. When the review finally takes place, likely in the few months right before the November elections, Texas lawmakers will find themselves in a tough spot: They will be forced to either deny historical truths about the Confederacy, or potentially face the wrath of a devoted, active and organized subset of conservative Texans. Monument supporters and protesters alike are anxious they will be on the losing end of the committee’s recommendations.

Read more here

“KETIKA KAMMI TIDAK LAGI DIANGGAP BAGIAN DARI DAKWAH KAMPUS”
Sebuah sentilan untuk para aktivis dakwah.

Sejatinya, KAMMI merupakan sayap politik LDK (Gerakan Perlawanan Dari Masjid Kampus, Andi Rahmat dan Mukhamad Najib). Predikat “sayap politik”, tidak pernah menyurutkan niat KAMMI untuk mewarnai percaturan dakwah di bumi kampus. Sampai saat ini, kader-kader KAMMI mampu duduk di barisan “orang penting” di kampus-kampus se-Indonesia. Mereka berperan untuk menelurkan kebijakan-kebijakan pro-dakwah di lingkungan kampus. Sehingga, KAMMI dan kader-kadernya adalah elemen penting yang tidak mungkin dihilangkan dalam dakwah kampus.

KAMMI hadir sebagai salah satu unsur musabaqah fil khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan), bukan untuk menyaingi kekuatan pergerakan mahasiswa yang ada. Sehingga, lihatlah pergerakannya; ‘menyusupkan’ kader-kader terbaiknya untuk berkiprah dalam pemilihan senat dan eksekutif mahasiswa. Apakah ini salah? Sama sekali tidak.

Kader KAMMI adalah SDM yang dibekali dengan keilmuan dan keimanan untuk ikut mewarnai dakwah kampus. Jargon “Muslim Negarawan” adalah profil yang diunggulkannya. Namun, perlu diakui bahwa tidak semua yang dihasilkan dari pendidikan di KAMMI adalah kader-kader yang keilmuannya 'jadi’, seperti profil unggulannya. Walaupun, tidak sedikit juga yang keilmuannya benar-benar 'jadi’. Sayangnya, kader-kader dengan pemahaman parsial ini yang kemudian menjadi label dan dianggap paling mewakili KAMMI secara keseluruhan.

Dunia kampus memang 'keras’, kenyataan inilah yang harus KAMMI telan mentah-mentah. Ketika KAMMI berada di atas angin, para aktivis yang berkiprah di dalamnya banjir pujian. Sebaliknya, ketika KAMMI belum mampu menjadi teladan, KAMMI di-'anak tiri’-kan oleh para aktivis dakwah lain. Padahal, ketika dakwah kampus diserang, KAMMI-lah yang berani pasang badan. Juga ketika dakwah kampus direndahkan, KAMMI-lah yang berada di garis depan.

Jika akhirnya KAMMI sudah benar-benar tidak dianggap di dalam dakwah kampus, maka silahkan berjuang sendiri.

___
Yogyakarta, 14 Agustus 2016
S.A. Umar, Anggota Biasa 2
KAMMI Komisariat UII