SNMPTN

tak ada yang sia-sia, kawan. sungguh tak pernah ada yang sia-sia.

Tiba-tiba ingatan saya melayang ke salah satu momen penting dalam hidup saya, setahun yang lalu. Sudah tertebak, kan? Benar. Apalagi kalau bukan SNMPTN—yang sekarang disebut SBMPTN.

Saya dulu sama deg-degannya seperti kalian. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, dan semua hal membuat muak. Sesak.

Ah iya, dulu pun, sore setelah pengumuman kelulusan dan coret-coret seragam di (samping) sekolah, pengumuman SNMPTN undangan akhirnya keluar. Saya, beserta beberapa teman saya—selepas tertawa segirang mungkin—pergi ke warnet yang lumayan dekat dari sekolah. Berharap yang terbaik, persiapkan yang terburuk. Prinsip yang selalu saya coba ingat-ingat dan tanamkan selama perjalanan menuju warnet itu. Deg-degan. Saya takut, karena biasanya, dalam tiap lomba yang saya ikuti, jika saya degdegan, maka sudah pasti saya akan gagal, namun jika saya biasa saja, tidak khawatir, tidak cemas, maka (biasanya) itu pertanda saya akan menang.

Firasat saya benar. Kata maaf yang tertulis di pengumuman itu. Rasanya sesak sekali. Seperti ada batu sebesar godam yang menghimpit hati saya. Saya melihat teman-teman saya, banyak dari mereka yang lulus, namun tak sedikit pula yang gagal seperti saya. Saya tertawa saja sambil mengatakan pada mereka bahwa saya pun tidak lulus SNMPTN undangan itu. Tidak heran, sih. Mengingat saya hanya memilih satu jurusan, melenceng dari jurusan SMA—saya IPA, dengan passinggrade dan peminat yang tinggi pula: FH UI.  Pun saya juga ingat bahwa nilai rapor saya tidak sepenuhnya murni pikiran saya. Sedikit banyaknya pasti ada saham teman-teman saya di sana. Jadi ya saya tidak (berhak) menangis.

Sesampai di rumah, saya, sembari tertawa, melaporkan kabar buruk itu pada orang tua saya. Hati saya tergores; lagi-lagi saya gagal membahagiakan mereka. Lagi-lagi saya gagal membuat mereka tersenyum karena saya. Sedih. Lalu saya masuk kamar, hati saya makin sesak. Terlebih saat melihat teman-teman yang sudah lebih dulu diterima lewat jalur itu. Tuhan. Hati saya masih belum bersih, sepertinya. Susah sekali ikut bahagia untuk orang lain. Saya ingin menangis, jujur. Ingin sekali. Tapi sulit. Air mata saya entah kenapa seolah tak mau keluar. Seolah saya memang tak pantas menangisi kegagalan itu. Kenapa? Karena saya tak melakukan apa-apa untuk meraihnya. Saya beranggapan lulus lewat jalur itu adalah keberuntungan. Kenapa tidak? Kita hanya mengirim berkas, menunggu, lalu hasilnya keluar. Tidak ada keringat dan usaha yang berarti. Jadi, saya hanya kurang beruntung ketika itu. Masih banyak keberuntungan lain yang menunggu saya.

Maka semalam itu jadilah saya tidak menangis. Saya keluar kamar, berjalan ke dapur, memutuskan untuk makan. Ajaib, sehabis makan justru rasa sesak yang dari tadi mengungkung saya itu hilang. Saya tidak bohong. Sepertinya khusus malam itu saya lupa cara membedakan mana yang sesak, mana yang lapar. Ah sudahlah, lebih baik kembali ke topik awal. Tentang apa tadi? Ah, iya. SNMPTN tulis.

Sejak pengumuman itu, saya semakin rajin membahas soal-soal di buku bantal yang diberikan lembaga bimbel saya. Saya mengerjakan latihan-latihan soal yang ada di buku terkait. Saya harus belajar lebih keras dari yang lain, karena saya hanya mengambil paket IPS, sesuatu yang benar-benar baru di hidup saya. Saya tidak memilih IPC, atau IPA, karena sia-sia saja, saya rasa. Rasanya itulah saat dimana saya belajar dengan sangat serius dan semangat. Ingat apa yang saya pilih waktu SNMPTN undangan dulu? Benar. FH UI. Impian saya tak berubah, namun ujian tertulis ini, saya tentu saja tak akan menyia-nyiakan pilihan. Diizinkan memilih dua, maka saya memilih FH UI sebagai pilihan pertama, dan FH UNPAD sebagai pilihan kedua. Gila, memang. Nekad. Banyak yang menganggap itu pilihan bunuh diri: saya dari daerah memilih Jawa di kedua pilihan, memilih fakultas dan universitas favorit seluruh Indonesia, dan karena dulunya saya dari rumpun IPA. Saya tidak peduli. Saya hanya ingin lulus di pilihan pertama. Maka mindset “nyeleneh” itu mulai bertebaran di kepala saya. Tidak di UI berarti sama saja dengan tidak kuliah. Astaga, betapa saya dulu terlalu berharap lulus di UI. Saya terlalu cinta. Terlalu ingin. Terlalu. Saya lupa bahwa sejatinya, tak ada ‘terlalu’ yang baik.

Saya tetap belajar, namun semakin hari saya justru semakin sering berselancar di internet. Membaca pengalaman orang-orang demi mengejar UI-nya. Saya membaca nyaris semuanya. Keinginan itu semakin berkobar di hati saya. Berlebihan, ya. Memang… saya sendiri ngeri jika membayangkan betapa ambisiusnya saya ketika itu. Saya tidak pernah memikirkan bagaimana jika nanti bisa saja saya kuliah di Unpad atau di manapun. Tidak, saya tidak pernah (mau) memikirkannya.

Lalu, selesai. Tes itu selesai. Saya pulang ke rumah. Degdegan menunggu hasil tes tertulis itu. Membayangkan rasanya jika tidak lulus, pasti akan hancur sekali. Saya sudah cukup berjuang. Menunggu, dan menunggu … sembari terkadang juga belajar untuk persiapan mengikuti tes SIMAK UI. Sekali waktu, saya sedang bermain di beranda Facebook saya. Melepas rasa penat yang mulai menggerogoti hati dan pikiran saya. Mata saya terpaku pada sebuah status dari salah satu penulis hebat; Asa Mulchias. Saya sempat mengcopy status itu ke notes facebook saya. Berikut notes tersebut:

Harapan itu Akan Selalu Ada…

Adakah pertolongan yang Allah beri untuk orang-orang yang berputus asa? Putus asa itu dosa. Maukah Allah menolong orang yang berputus asa dari rahmatNya?
Pertolongan datang dimulai dari hati yang penuh harapan. Tidak pantas mendapat pertolongan orang-orang yang bahkan tak percaya dengan pertolongan itu sendiri. Allah membenci orang yang putus asa. Sangat benci bahkan.

Untuk itulah, Kawan… jika kau masih lupa tentang keajaiban karena bertemu terlalu banyak kehancuran, liriklah lembah nan hijau. Gunung yang kokoh. Langit yang terpentang. Untuk orang-orang yang berputus asa, betul yang kaukatakan: memang tak ada harapan. Dalam hidupmu kau akan selalu menemuinya. Kian hari makin yakin saja. Makin lama, tak ada lagi yang kan mampu menggoyah imanmu: keajaiban itu omong kosong belaka. Milik orang-orang yang bermimpi dan lupa. Semua akan terus begitu… sampai kau benar-benar menyadari: Allah selalu mencatat setiap kepercayaanmu dan mengabulkannya. Ingatlah: Allah sesuai prasangka hambaNya.

Karenanya, kau akan dapati di tempat lain, di hati lain, di jiwa yang lain, tidak demikian kata “harapan” dikelola. Ada yang mampu menuliskannya dengan sempurna, tanpa cacat, dan bersinar tiap harinya. Bukan karena ia tak bertemu realita, tapi ia selalu berkata, “Keajaiban adalah milik Allah. Realitas pun juga. Apa sulitnya Allah menunjukkan yang satu dan menghilangkan yang lainnya?” Air tak mungkin dibelah, tapi ada kisah Laut Merah. Bulan tak mungkin dipisah, namun Rasulullah melakukannya. Kau boleh bilang, “Itu kan Nabi!” Ah, naifnya. Ini bukan soal nabi atau bukan. Ini masalah Allah berkehendak menolong atau tidak. Yang membelah laut bukan Musa, wahai Kawan.Yang memisahkan bulan bukan Rasulullah, wahai Sahabat. Jika Allah menolongmu, tidak ada satu pun yang menghalangi. Begitu pula sebaliknya. Jika Allah tak menolongmu, maka tak satu pun mampu membantumu.
Keajaiban persis seperti itu. Bukan soal kau itu siapa. Tapi masalah apakah kau percaya. Apakah Allah mau menunjukkannya pada kita… (Asa Mulchias)

Ya Allah, tentang SNMPTN tulis itu…hamba percaya pada kekuasaanMu, Tuhan. Luluskanlah hamba dan semua manusia-manusia yang percaya pada kekuasaanMu… Luluskan kami, ya Allah… Berikan hamba kabar baik pada saat pengumuman nanti…beberapa hari lagi… Hamba terima semua keputusanMu, Tuhan…hamba terima… Karena Kau pasti memberikan yang terbaik… Aamiin…aamiin…aamiinn ya Allah… Aamiin ya rabbal alamiin…

01072012

Terdengar pasrah, ya? Kelihatan menyerah?  Bukan. Saya hanya percaya. Karena yang perlu saya lakukan hanya percaya, percaya, dan percaya.

Akhirnya hari pengumuman itu tiba. Paginya, saya berjanjian dengan teman-teman untuk bertemu dan berkumpul di rumah salah satu dari kami. Yah, menonton film horror sekadar untuk melupakan degdegan menanti pengumuman yang keluar setelah maghrib itu. Sorenya, kami makan di WaDjan. Saling tertawa. Bersenang-senang. Melupakan sejenak kegetiran itu. Dan, hari mulai gelap. Kita pulang ke rumah masing-masing. Sepanjang perjalanan pulang, saya kembali  berpikir, “Tuhan, nanti ini bagaimana jika tidak lulus. Orang tua saya bagaimana, masa lagi-lagi saya membuat mereka kecewa. Gurat wajah mereka sudah terlalu lelah, Tuhan. Saya hanya ingin menghasilkan gurat senyum di wajah mereka yang telah mulai tua itu. Baiklah, saya percaya kuasaMu, Allah. Sungguh saya percaya.” Sepanjang jalan, tak henti saya berpikir.

Depan rumah, saya membuka pintu, membuka sepatu. Kalimat pertama yang keluar dari oma saya (yang sejak 11 Februari lalu baru saja meninggal) begitu melihat saya adalah: “firasat oma, sih, kamu bakalan lulus di Unpad.” Saya diam saja, dan tersenyum. Kehabisan kata-kata.  Saya takut. saya kalut. Sebagian hati saya mengamini, tapi sebagian yang lain masih mengeja nama UI pelan-pelan. Ingat yang pernah saya bilang tadi? Jika degdegan berarti tidak lulus? Astaga! Saya takut sekali, saya degdegan saat itu. Maka saya beranggapan saya tidak akan lulus. Saya mulai mencari-cari informasi tentang jalur mandiri UNAND, belajar menyukainya, walaupun saya tidak pernah mau kuliah di Padang, karena mungkin saja jalan saya di sana.

Detik-detik pengumuman itu terbuka. ada mama dan papa di samping kiri dan kanan saya. Masing-masing berhadapan dengan gadget masing-masing. Tapi layarnya menunjukkan halaman yang sama: web pengumuman tes itu. Saya sudah pasrah. Belajar menerima apapun hasilnya nanti. Dan hasilnya keluar.

Saya diterima di Universitas Padjadjaran, jurusan Ilmu Hukum. Mama dan papa saya tersenyum, akhirnya. Tuhan, terima kasih untuk senyum itu. Tapi, saya malah mengacaukan momen bahagia itu dengan menangis. Bukan, saya bukan menangis bahagia, saya menangis kalah. Saya gagal mendapatkan UI. Disela tangis saya, mama menyuruh saya untuk sujud syukur saat itu juga. Saya sujud, memang, namun hati saya tetap berontak. Allah, maafkan hambaMu ini. Saya merasa betapa saya kufur nikmat ketika itu. Saya menghapus air mata saya, bertanya pada papa apakah saya boleh mengikuti tes mandiri UI. Tapi papa saya menjawab kata yang paling tidak ingin saya dengar: tidak. Papa bilang saya harus mensyukuri apa yang telah ada. Papa bilang saya harus menerima ketentuan Tuhan dengan hati yang lapang, karena di luar sana justru banyak orang yang menginginkan apa yang telah saya dapatkan.

Saya hanya diam. Menahan diri agar tidak menangis, lalu kembali bertanya,” apa mama dan papa bangga?” mereka berdua mengangguk mantap dan tersenyum. Tulus. Tuhan, sungguh itu sudah lebih dari cukup. Dan saya sadar, firasat oma saya benar.

Waktu berjalan sangat cepat. Dan sekarang akhir semester dua saya di FH UNPAD. Apa saya menyesal? Apa saya tersiksa di sini? Apa saya dicap gagal? Jawabannya TIDAK! Saya benar-benar bahagia di sini. Cuaca dan keramahan warga Bandung tidak jauh berbeda dengan kota kecil saya; Bukittinggi. Di sini bahkan bamat banyak sekali orang-orang Minang yang membuat saya serasa di kampung halaman. Saya bertemu teman-teman yang baik, saya menemukan “keluarga” di sini: SSFdR dan Vonis. Saya benar-benar bahagia. Rasa-rasanya jika saya diterima di pilihan pertama itu, hidup saya tidak akan semenyenangkan ini. Saya benar-benar bahagia.dan saya benar-benar mencintai fakultas saya ini.

Kalian percaya skenario Tuhan selalu lebih indah dari semua rencana-rencana kita? Saya percaya. Dan kalian semua juga harus percaya. Ayolah, Tuhan pasti selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Skenario Tuhan selalu indah. Coba saja kalian ingat semua pengalaman kalian selama ini. Kata-kata itu benar, kan? Dan, ya … Tuhan selalu adil. S-e-l-a-l-u.

Ah iya, saya sekarang juga mengamini sebuah quote yang dulu sering saya dengar: Tembaklah bulan, jika tembakanmu meleset, kau akan mendapatkan bintang yang ternyata sinarnya jauh lebih terang dan indah dibanding bulan.

Tetap berusaha meraih mimpi kalian. Tahu, kan, meraih mimpi itu sejatinya tidak sulit. Kita hanya perlu setia. Setia untuk meraih dan mewujudkannya. Kita sungguh hanya perlu setia pada setiap impian itu. Kalian tahu Tuhan ada dimana? Tuhan selalu bersama para pemimpi yang sedang berusaha untuk setia dalam menggapai dan memperjuangkan mimpinya agar menjadi nyata.

Tetap berusaha, ya. Kenapa? Karena mereka, orang-orang mengagumkan itu, berjuang keras untuk meraih impiannya di saat orang lain masih lelap dalam tidurnya. Itu saja, kawan, rumusnya.

Di tahun saya kemarin, peminat FH Unpad ada 4000-an orang, lho, ternyata. Saya yang begini saja bisa lulus, masa kalian enggak. :)

SEMANGAT!                                                                                                                                                                                     

Selamat meraih mimpi, kawan. Tahun depan giliran kalian membagikan kisah kalian. *hug*

#16 - Part 2

The real story begins here HAHAHA tapi gaada salahnya kok baca dulu part 1 supaya kamu ngerti. Silakan scroll, atau kalau males, klik sini.

Gue sudah menetapkan hati pengen masuk FK Unpad. Kata guru BK gue, masuk FK Unpad itu gampang. Caranya?

.

.

.

Jadi ranking 1 paralel 

dan yeah, FK di tangan.

Gue hehein aja waktu itu ucapan beliau. Hehe. Gue gak yakin bakal jadi nomer satu di sekolah. Dulu gue sengajain berleha-leha gitu karena trauma ngambis. IYAA GUE KAPOK NGAMBIS bikos ngambis leads to expectations and expectations lead to disappointments. Belajarlah sewajarnya. Lakukan yang terbaik. Gitu aja kuncinya sih. Definisi “belajar sewajarnya” pada saat itu mungkin gue salahartikan sebagai “belajar sesantainya” secara kelewatan; di kelas gue tidur, pulang sekolah main hp, belajar kalo pas mau ujian doang. DAN ITU SUMPAH SALAH BANGET JANGAN DITIRU. Gue terlambat menyadari bahwa nilai kelas 10 semester pertama itu sebagai start yang penting banget dan menggambarkan nilai-nilai lo kedepannya. Pemisalan, lo lari udah sepuluh meter, jelas lebih depan daripada yang larinya baru 5 meter. Terus yang larinya 5 meter memungkinkan buat nyusul lo? Ya. Bisa banget kalo lo ngendorin kecepatan lari lo. Tapi tentu lo tau kalo lo udah lari 10 meter, lo pasti berusaha buat ningkatin kecepatan lo lagi kan supaya ga keselip sama yang baru 5 meter?

Ngerti ga? Oke, analogi yang kurang bagus, anggap aja ngerti. Intinya, lo harus bagus-bagusin nilai semester pertama lo, supaya lo punya motivasi buat ningkatin (atau minimal mertahanin) nilai lo di semerster-semester berikutnya.

Nilai gue selama 5 semester ga bagus-bagus amat. Rank gue naik turun kalo secara paralel, dan berakhir di rank 38 dari … berapa ya, kurang lebih 400-an kelas IPA (?) Harapan buat masuk FK Unpad jalur SNMPTN punah sudah kan (karena gue denger-denger kalo rank 2 paralelnya mau ke FK Unpad juga) yhaa apa boleh buat. Kalo nekat, Sudah tentu bakal tak dicintai Unpad (baca: ditolak, HAHA). Keajaiban banget kayanya siswi ecek-ecek macem gue bisa keterima ke sana pake jalur undangan. Fyi, SNMPTN itu soal peluang. Tinggal pilih salah satu: mau pilih jurusan atau universitas?

And I was like, not a coward, I choose both. Wuazek.

Makanya, tiap orang yang nanya mau kuliah kemana, gue jawab dengan pasti “FK Unpad.” Sounds kepedean, tapi duli. Gue tanamkan dalam diri bahwa gue pejuang SBMPTN. Gue harus merjuangin mimpi gue dulu. Gue gamau kalo kuliah ga sesuai passion - nah! Penting banget ini, pilihlah fakultas yang bener-bener lo pengen. Mungkin, kalo bahasa lainnya, pilihlah fakultas yang lo bakal enjoy melakukannya dan lo rela kalo ga dibayar. Bukan gara-gara gengsi kalo lo masuk fakultas A lo bakal dibilang keren. Bukan karena paksaan orang tua. Bukan gara-gara gajinya ntar bakal gede. Kalo ga sesuai hati lo, ntar malah keteteran, atau karena terpaksa jadinya apa yang lo pelajari ga masuk ke otak dan lo gabisa mengamalkannya ke dalam kehidupan sehari-hari lo nanti. Big no. Just don’t. Kecuali kalo itu takdir.

Yayaya, jadi, SNMPTN gue milih apa aja?

Setelah perjalanan panjang melakukan riset (nyari informasi rank di atas gue serta nilai-nilai angkatan sebelumnya yang masuk ke universitas target gue) disertai shalat istikharah, akhirnya cuma gue jatuhkan dua pilihan:

1. Kedokteran - UNS

2. Farmasi - Unpad

Heheee. Gue di sini cukup main peluang (juga nekat) sih. Gue udah punya feeling tidak akan ada keajaiban terjadi kepadaku. Jadi, selama 3 tahun gue sembunyiin nih si Kedokteran UNS, supaya orang lain gak milih juga. Kalo ditanya orang, gue jawabnya FK Unpad kan. Padahal ngisinya beda dong muahahaha (dinamakan The Art of SNMPTN). Gue langsung finalisasi tiga hari setelah pengisian data dibuka. Dari situ gue sans banget sampe tiba-tiba

ternyata

yang rank paralelnya di atas gue

milih FK UNS juga.

Dia bilang dulu sih ke gue, boleh ga. Ya boleh lah, fair play. Gue gabisa nyegah karena itulah pilihan dia. FK UNS mendadak perlahan blur dari pandanganku euy. Gue pasrah banget berserah diri kepada Allah karena cuma keajaiban-Nya lah yang bisa meloloskan gue ke sana. Usaha gue gak seru gimana coba. Menyembunyikan sang impian dari teman-teman etapi ternyata ketauan juga. Yawda si gapapa.

Nah. Di tengah hiruk pikuk keramaian suasana SNMPTN dan keluntanglantungan yang hqq karena gue masih belum tau di manakah seharusnya raga ini (akan) berada, tentu gue gak tinggal diam. Gue nyobain daftar ke salah satu universitas swasta di Yogya. Daftarnya cukup ez bikos cuma nyerahin nilai rapot sama sertifikat prestasi dan gak bayar. Gue beranikan diri pilihan satunya FK, pilihan keduanya FKG wkwkwk meskipun kalo nantinya keterima gak akan gue ambil karena biayanya yang selangit dan orang tuaku gaakan sanggup memenuhinya. Yowes, lagian gue cuma mau ngetest juga, apakah kedokteran swasta menerima nilaiku?

Setelah proses menginput nilai, bolak balik sana sini buat legalisasi, fotokopi sertifikat tralala trilili akhirnya pengumuman tiba juga. Gue sama sekali tidak berharap sih, (bahkan tanggal pengumumannya aja gue lupa)

ternyata

hasilnya



tidak diterima.

I was like, oke, sans, swasta ini kok lo ganiat amat jugakan daftarnya kalo keterima juga gakan lo ambil, and like, woanjer swasta aja nolak gue

a p a l a g i n e g e r i

b a g a i m a n a  n a s i b  s n m p t n  g u e  n a n t i

b r u h

Tak pedih-pedih amat. Oke, selanjutnya sambil nunggu hasil SNMPTN, gue juga daftar PMDK-PN. Jadi jalur undangan tapi buat politeknik doang gitu. Gue disuruh daftar ke Polban alias Politeknik Bandung, yang katanya D3-nya ITB. Gue sih mau mau aja karena yha u kno dat feel saat lo sangat hopeless dan pas ada peluang sana sini lo iya iyain aja karena takut gadapet kursi ke jenjang berikutnya. 

Kemudian kebingungan mulai melanda.

Seperti yang lo tau, politeknik. Teknik. Oke, gue suka teknik, tapi setelah menemukan si Mimpi Besar, gue sama sekali ga kepikiran bakal ngambil teknik. Apalagi di sana isinya hampir semuanya teknik, jurusan IPS nya kebanyakan manajemen-administrasi-akuntansi and stuff dan gue gak minat.

Setelah diskusi yang cukup panjang bersama mama, akhirnya ada yang menarik perhatianku: D4 Teknik Telekomunikasi sama D3 Teknik Informatika. Alasannya agak absurd juga, Tele gara gara liat sepupu gua yang kuliah di jurusan tersebut, abis lulus dan kerja dia udah bisa bawa keluarganya ke Jepang, Singapura, Malaysia, Hongkong, dll. Gue pikir asik juga, berarti ntar gajinya gede dan lapangan pekerjaan banyak wkwk. Milih Infor, karena gue tertarik sama coding dan suka ngedit theme tumblr yang formatnya html itutuh wkwkwk. Jadi ya gue jatuhkan pilihan gue kesana, meskipun sebelumnya sempat mau murtad jurusan milih Manajemen Aset tapi gajadi.

Hari-hari chaos bolak balik sana sini datang lagi, bahkan terasa lebih chaos daripada PMDK sebelumnya karena sistemnya agak beda gitu. Bahan-bahan pelengkap macam sertifikat gak bisa langsung dilampirkan di map, tapi harus masukin data secara online, di scan, baru bisa diklaim, dan lalalalalalain sebagainya. 

Oh ya, ada suatu pelajaran yang dapat dipetik dari proses PMDK yang dulu gue jalani: jangan ngedeadline. Seperti yang lo tau, gua anaknya prokras parah, finalisasi dan nyetor berkas PMDK aja dedlen. Untung pihak bimbingan konselingnya baik huehe. Jadi waktu itu kan setelah submit data sertifikat harus ngeklaim dengan cara submit hasil scan-nya kalau gak salah, pas gua ngeklaim eh salah ngeklaim malah data punya temenkuh (nama lombanya sama sih) darisitu panik kaya orang gila, mana emang lagi selek lagi sama si temen yang datanya keklaim WKWK parahbet. Udah pengen nangis juga, udah punya feeling salah berkas dikit auto gak diterima, terus nanti gua kuliah kemana. Heuheu. Orang tua cuma bilang “ya udah, yang penting udah berusaha secara maksimal, hasilnya serahin sama Allah.”

Akhirnya aku pasrah. Sambil nunggu hasil SNMPTN dan PMDK, aku cuma bisa berdoa sebanyak-banyaknya, turut serta ngeramein masjid sekolah (bener loh makin deket UN dan sejenisnya, masjid makin rame sama siswa yang shalat dhuha), mulai persiapan SBMPTN. dan beli merchandise universitas. Lah beli merchandise buat apa? Buat dishalawatin, hehe.

Sebenernya gak beli semua sih. Beli stiker UI dan Unpad, ditempel di map, pake tulisan “FK 2017″ lengkap sama shalawatnya. Tiap hari pake gelang UGM yang dikasih sama kakak kelas pas roadshow ke sekolahku gara-gara aku ngejawab pertanyaan. Buat motivasi. Ada juga gantungan ITB, yang satu hadiah lomba yang diselenggarakan sama alumni ITB, yang satunya lagi kuminta dari Atu (temenku yang lebih dulu masuk ITB) gara-gara gantungannya gambar gajah ungu yang unyu parah tapi udah agak rusak waktu itu, jadi kuminta sambil dibenerin. Ditempel dehh di tas. Siapa tau beneran nyangkut.

Hal agak absurd lain yang aku lakukan adalah minta doa lewat kartul. Jadi, dulu tugas akhir di sekolahku harus bikin penelitian gitu, terus dibikin karya tulis. Nah biasanya kalo abis sidang, kami semua saling tukar bukunya terus ngisi kesan pesan, atau cerita-cerita, bahkan ngegambar, macem-macem lah (and i’m pretty grateful being part of this school, coret-coretannya bukan di baju tapi di kartul WKWK no offense). Tiap hari gue mintain temen, kakak kelas, adik kelas, panitia acara, guru, bahkan satpam di sekolah buat nulis dan mendoakan supaya gue masuk FK. Gue itung yang nulis sambil nge-wish gue, pokoknya target 40 orang soalnya denger-denger kalo yang doain lebih dari 40 orang niscaya doanya diijabah wkwk gatau dalilnya darimana juga sih, belum riset nih, baiknya jangan langsung lahap ya :(

Nah sambil menunggu pengumuman, sangat dianjurkan buat lo wahai jamaah pencari kuliyahniyah untuk mulai nyicil ngerjain SBMPTN. Bagusnya dari semester ganjil kelas 12, malah. Jangan ragu buat ikutan TO, offline maupun online, dan dimanapun. Dulu gue juga sering banget ikutan TO, cuman salahnya gue ga belajar dulu sebelum tes dan ga review kira-kira kurangnya di mana. Kamu mah jangan gitu yak, huhuy.

Mungkin sebagian ada yang bertanya, gak ikutan tes kedinasan? Nah. Awalnya juga gue disuruh buat tes ke STAN oleh ibuku tercinta. Apalagi waktu itu ada semacam lembaga-khusus-buat-yang-mau-masuk-STAN mengadakan try out, e terus ternyata tes TPA dan B. Inggris gue ga bodoh bodoh amat, plus dapat rezeki dikasih voucher 1 juta kalo daftar, semakin menguatkan tekad ibuku untuk nyuruh saya les biar dapet STAN. Tadinya mau, cuman hati gak bisa bohong dong, gue ga mau sekolah kedinasan meski hidup emang terjamin di sana.. Minat gue bukan administrasi (atau akuntansi? perpajakan? atau apalah itu). Padahal udah daftarin nomor KK dan (calon) KTP, kayak, yauda tinggal tes dan finalisasi, kalau mau les biar mantap sabi karena secara finansial sudah tersedia, tapi hati ini keukeuh tidak mau dan ini menimbulkan pertukaran argumentasi yang cukup memajang. Kubilang tidak mau, beliau tanya kenapa? Kubilang lagi, takut keterima (WKWK astaghfirullah sombong banget yak jadi anak) karena kalau keterima, aku akan menjalankannya dengan setengah hati, kalau tidak keterima, aku akan senang, tapi terkesan buang-buang waktu juga, sehari aja rasanya berharga banget buat belajar SBMPTN. Kalaupun aku mau sekolah kedinasan, aku pengennya STIN biar keren kerjanya detektif-detektifan, ibuku yang tak mau. Alhasil, ibuku mengalah dan aku memantapkan hati untuk melaksanakan konsekuensi dalih yang aku ucapkan waktu itu: mau fokus SBMPTN.

Terkesan gak berharap banget sama jalur undangan, ya? Iya, dan gue saranin lo juga kayak gitu. 

.

.

.

Meskipun H-1 sebelum pengumuman kelolosan SNMPTN nangis juga pas sebelum bobo, mohon sama Allah supaya diluluskan WKWKWK dasar manusia.

Keesokan harinya, seperti biasa, rutinitas gue selain belajar dan sekip ke perpustakaan (buat belajar SBMPTN) adalah bimbel. Btw beneran ni, saat gue bilang belajar SBMPTN, emang literally belajar SBMPTN, dalam artian mengesampingkan UN, USBN, dan ujian praktek. Belajar yang gitu gitu tetep H-1 ujian HAHA jangan ditiru :( gue nyicil yang gue bisa aja dulu, TPA bukunya gue khatamin sampe lecek dan biologi otw setengahnya. Nah, sekitar jam 2 sore sebenernya pengumuman SNMPTN udah bisa diakses, temen-temen juga udah banyak yang laporan di grup BK, cuman gue lagi (berusaha) fokus untuk belajar, akhirnya ditanya-tanyain kan gimana hasilnya sama ortu. Kubilang, masih bimbel, belum sempet buka web karena servernya pasti penuh. Akhirnya hasilnya dibukain sama ortu.

Dan, tahu apa yang mereka bilang?


“Salma,”
“Jangan kaget ya”
*picture received*

tepat setelah bimbel usai, gue buka tuh foto. 

Hasilnya…




merah.

Ya, gak diterima.

Gue gak nangis. Gue sudah siap dan sudah menduganya. Gue udah pasrah. Pas pulangnya, gue dikasih wejangan panjang kali lebar kali tinggi tentang Betapa Sedikitnya Waktu Dua Minggu Itu dan Betapa Sulitnya Mendapatkan Perguruan Tinggi Itu dan Betapa Kecanduannya Aku sama Hape dan Betapa Pentingnya Menghapus Game di Hape dan 

malam itu juga, gue resmi ngeuninstall semua game yang ada di handphone gue

(meski sayang banget sih sebenernya, love live school idol project udah rank 1xx dan udah punya UR Nishikino Maki dan koleksi gems udah buanyak)

malam itu juga, gue resmi merasa bego - sebego begonya bego - atas kelalaian gue selama SMA

malam itu juga, gue bertekad kuat buat jadi pejuang tangguh biar dapat tanda biru

malam itu juga, gue nangis lagi sebelum bobo

hehe.

“Gimana pengumuman SNMPTN nya?”

Diterima? Semoga tidak membuatmu sombong ya, Nak.

Ditolak? Semoga tidak membuatmu putus asa dan menyerah atas pertolongan Allah ya, Nak.

Fyi, saya termasuk golongan yang ditolak, toh nyatanya masih bisa survive sampai sekarang. Kecewa? Sudah pasti. Saya manusia biasa yang masih punya perasaan. Manusiawi. Tapi saya harus bangkit, susah memamg mengumpulkan semangat pada kondisi yang sangat terpuruk. Apa lagi, orang-orang yang seharusnya menjadi tameng pada gardu terdepan hidup kita tidak berpihak pada pilihan kita.

Tahu kah Nak, segala yang terjadi itu Allah Yang Maha Tahu untuk kehidupanmu. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk kita. Begitu pula sebaliknya.

Begini, diterima atau ditolak, semoga kita dapat mengambil hikmah dan keberkahannya ya. Siapa tahu, atas penolakan tersebut, ada restu orang tua atau guru kita di tempat lain (ini pengalaman pribadi hehe). Dan benar, saat restu orang tua didapatkan, jalan nya begitu mudah, Nak. Sampai saya bisa berada pada titik ini.

Maka, coba bicarakan baik-baik dengan mereka karena ridho Allah adalah ridho orang tua.

Gapapa sedih, gapapa nangis-nangis, tapi setelahnya harus lebih kuat, ya!

Selamat berjuang bagi yang diterima mau pun ditolak! :)

Kita hanya sebuah sukma yang masih mengejar cita. Cita yang masih dalam angan. Cita yang harus bersusah payah diperjuangkan. Cita akan masa depan cerah. Dan jalan tak pernah semulus yang dikira. Kadang berliku, kadang bersimpang. Kita hanya perlu fokus pada satu tujuan, sejenak lupakan hal lain. Seperti bermain game atau menonton film. Ah walaupun aku sendiri kadang tak bisa melakukannya.

ana (2017)

-teruntuk aku, kamu, dan para pejuang ptn

bukan kampusnya tapi..

masih terasa nuansa pengumuman seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. mulai dari yang bahagia karena lolos di PTN Impian, galau karena lolos namun ga sesuai harapan, sampai kecewa karena belum lolos. saya mau sedikit membahas tentang “gengsi" pada calon mahasiswa baru ini. dulu saya juga mengalaminya. banyak diantara calon mahasiswa memilih PTN ataupun jurusan yang “WOW" karena dia ingin dipandang oleh orang lain. ada juga yang menganggap kalau kuliah di blablabla itu keren. sebenarnya bukan masalah kampus dimana kamu kuliah, tapi bagaimana proses kamu selama masa kuliah itu. percuma kalau kamu kuliah di PTN yang paling favorit pun kalau kamu ga ada aksi atau reaksi ga akan terdengar gaungnya. berbeda jika kamu kuliah di kampus yang biasa saja namun kamu aktif sebagai mahasiswa, kamu akan menjadi mahasiswa yang bersinar. aktif organisasi, ikut kompetisi, ikut konvrensi itu salah satu cara mengasah sinarmu.

jadi, sebelum kamu salah langkah untuk kedua kalinya. tetapkan pilihan, jangan dahulukan gengsi. pilih yang sesuai passionmu. dan  kamu tinggal pilih. menjadi debu diantara berlian, atau menjadi berlian diantara debu?.

Hikmah #1

Dimanapun kita diterima pada akhrinya, percayalah bahwa Allah punya rencana untuk kita, tentunya rencana itulah yang terbaik untuk kita. Huznudzan padaNYA..karena Allah adalah bagaimana prasangka hambanya. Jangan takut tertukar, kuliah itu perkara rezki, tidak akan tertukar,tidak kurang tidak lebih. Pas. Jangan takut kalah bersaing karena menganggap orang lain mampu bayar lebih, sogok sana sogok sini. Tugas kita hanyalah berusaha sebaik mungkin, belajar dan berdoa yang banyak, minta doa restu orang tua. Tidak akan tertukar , jika Allah berkehendak, yang memang untukmu pasti kau dapat. Semangat,karena kuliah bukan soal gengsi. Bukan soal negeri atau swasta. Ini soal hakikat. Hakikat kejujuran dan menuntut ilmu. #UntukPejuangSbmptnUM

Kenapa Psikologi Unpad IPA? Mempersoalkan Sekat Antara IPA dan IPS

Menjadi mahasiswa Psikologi Unpad berarti siap menjadi seseorang yang punya jawaban bagus untuk pertanyaan, “Apa bedanya Psikologi Unpad dengan Psikologi di PTN lain yang jalurnya IPS?” dari mahasiswa-mahasiswi baru yang baru lolos SNMPTN, SBMPTN, atau seleksi apapun namanya.

Selama jalur masuk Psikologi Unpad adalah jalur IPA, niscaya pertanyaan semacam itu tak akan lekang oleh waktu.

Sejujurnya, saya belum memiliki jawaban yang bisa menjelaskan. Biasanya, paling banter saya menjawab, “Oh, iya di Psikologi Unpad kita pakai perspektif Biopsikologi.” Lalu kabur karena tidak tahu harus jawab apa kalau yang bertanya meminta penjelasan lebih lanjut. Misalnya pertanyaan, “Biopsikologi itu apa?”, “Lho di UI juga ada tuh matkulnya?”.

Namun kalau boleh berbagi sekelumit sudut pandang saya yang telah sedikit terwarnai lima tahun ke belakang oleh ilmu yang kata orang banyak disusupi oleh agenda Zionis ini, jawabannya ada dua :

Pertama, saya belum pernah ikut kuliah di kampus lain jadi saya tidak tahu. Jika Anda penasaran, jawabannya bisa Anda peroleh dengan cara mengikuti kuliah Psikologi di beberapa tempat sekaligus.

Kedua, tidak perlu mencari tahu apa bedanya, karena Anda tidak membutuhkan itu untuk jadi seorang sarjana psikologi.

Karena, pada dasarnya, IPA dan IPS lebih seperti istilah pembeda saja menurut saya. Tidak berarti Anda tidak belajar Ilmu-ilmu sosial di Psikologi Unpad, tidak juga berarti Anda tidak belajar ilmu eksakta di Psikologi kampus lain yang berjalur IPA.

Psikologi adalah ilmu tentang manusia. Psikologi bertujuan untuk mempelajari perilaku manusia dan proses mental yang melatarbelakangi perilaku tersebut. Sejak manusia adalah makhluk hidup yang punya unsur biologis, maka Psikologi menaruh satu kacamatanya di sudut pandang Biopsikologi. Sejak manusia adalah makhluk sosial, maka Psikologi menaruh satu lagi kacamatanya di sudut pandang sosial, dan seterusnya. Keduanya tidak bisa dipisahkan oleh istilah IPA dan IPS. Sebab, memandang manusia harus utuh.

Bahkan bidang kajiannya sangat luas. Saya pernah mengikuti kelas psikologi politik, psikologi kerekayasaan (ergonomika), psikologi kewirausahaan, semua itu area sosial.

Jadi menurut saya. sebenarnya tidak ada sekat yang jelas antara IPA dan IPS di Psikologi. Bahkan sekat itu tidak perlu ada. Bahkan menurut saya sekat itu tidak perlu diada-adakan sejak SMA :(

Meski demikian, bukan berarti Psikologi Unpad tidak punya alasan khusus dibalik jalur masuknya yang hanya memungkinkan bagi peserta IPA (baik di jurusan kelas atau pilihan SNMPTN). Mungkin karena Fakultas mengharapkan output tertentu yang “karakternya” selaras dengan “karakter” jurusan IPA? Soal ini, dosen-dosen lebih paham untuk menjawab.

Namun, saya hanya membagikan pengalaman dan opini saya yang dulu pun bertanya-tanya “Kenapa jalur masuk Psikologi Unpad IPA?” lalu menemukan bahwa lewat jalur IPA maupun IPS, Psikologi adalah ilmu perilaku manusia yang tidak bisa dikotak-kotakkan berdasarkan bidang eksakta atau sosial.

Mengertilah sayang, akupun pernah ada dalam posisi itu. Jangan ragu. Nikmatilah setiap degup gelisah itu. Hatimu akan terbiasa, ini hanya sementara. Nikmatilah. Ikuti setiap denting jarum panjang yang selalu berdetak. Dengarlah suara gelisah ribuan hati yang sama sepertimu. Kau tak sendirian sayang, ada aku yang pernah memahami posisimu. Ada aku yang pernah mengalami penolakan. Percayalah sayang, gelisahmu tak kan sampai disini. Tetaplah berlari. Akan ku tunggu kau di persimpangan jalan dengan secangkir kopi juga sedikit bincang. Semoga apa yang ku persiapkan bisa meluluhkan keletihan.
—  26.04.17
semangat pejuang SNMPTN!
ini kisahku, mana kisahmu?

sungguh, Allah tak akan pernah membiarkan doa-doa hambanya menggantung di langit tanpa diberikan jawaban.

Allah Maha Baik. hingga detik ini aku masih belum sepenuhnya percaya pada kenyataan yang terjadi hingga detik ini. aku jadi mahasiswi. alhamdulillah wa syukurillah.

masih inget banget, aku ikutan try out dan open house ITB di Regina Pacis Bogor. pas aku kelas 11 dan 12. saampe-sampe aku punya kenalan kakak kelas yang sekarang udah semester 3 di FTI ITB :“”) pas acara open house nya juga aku coba aktif bertanya di kelas FTI. rasanya di bayangan udah mateng banget bakalan jadi engineer, apalagi jadi engineer physics. terinspirasi jadi engineer dari acara tv DW Indonesia: Inovator. pasti hebat banget kalo jadi engineer, bisa buat robot, beragam jenis mesin, dan sejenisnya. ha ha ha itu yang ada di pikiranku saat itu.

masih inget banget, pas pendaftaran SNMPTN, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa pilihanku ini yang terbaik yang telah Allah pilihkan. dan aku coba menguatkan diriku atas komentar banyak orang yang mungkin merasa terlalu tinggi atas pilihan PTN yang aku ambil. aku percaya Allah selalu melihat usaha hambaNya.

masih inget banget, ikut bimbel tiga hari dalam seminggu, dari sore sampe isya sejak semester 2. ketemu banyak temen dari berbeda SMA. bertukar kegalauan atas pilihan SNMPTN hingga SBMPTN. sampe-sampe pada curhat ke mbak/mas yang ngajar di kelas pas lagi belajar. pertemanan di kelas kami terlihat lebih dekat dibanding kelas les yang lain. kurang lebih seminggu sebelum UN, setelah jam les berakhir, kita masih diskusiin sesuatu. hingga pengumuman SNMPTN, beberapa ada yang tidak melanjutkan karena mereka diterima, tapi banyak yang melanjutkan les, termasuk aku, sampai 2 hari menjelang SBMPTN.

masih inget banget, aku nangis di kamar pas buka pengumuman SNMPTN kemarin. tapi nangisnya diem-diem, biar nggak ketahuan ayah ibu. mungkin Allah masih pengen liat usahaku buat dapetin ITB lewat jalur tulis atau SBMPTN. batinku.

masih inget banget, udah ikut try out di bimbel berkali-kali, ikut sanggar juga di bimbel, sampe ikut try out di luar tempat bimbel.

masih inget banget, pas tes SBMPTN, aku mencoba buat se-rileks mungkin. tetap fokus tapi tenang. dan aku kebagian kursi di paling depan. alhamdulillah, setidaknya ada yang bisa aku kerjakan untuk mata pelajaran Saintek. pulang dari tes SBMPTN, perut dilanda rasa sakit yang luar biasa. alhamdulillah bisa sampe rumah dengan selamat.

masih inget banget, aku nekat untuk ikut SIMAK UI. hahaha, udah tau soal-soal SIMAK UI itu berkali-kali lipat lebih sulit dari SBMPTN. gimana mau bisa ngerjain SIMAK UI kalo soal SBMPTN aja masih banyak yang aku nggak bisa. tapi kata ayahku, dicoba aja, siapa tahu emang jodoh. pas tes, kakak pengawas dari UI yang bertugas di ruanganku muter-muter di barisan belakang, dan aku emang kebagian di barisan paling belakang. kan tes dibagi dua sesi, Kemampuan IPA dan Kemampuan Dasar. nah, dua kali juga kakak itu nggak sengaja kesandung kaki kursiku. seketika aku diem, langsung tegang. dan nggak bilang minta maaf gitu pas udah beres tes. tapi cuma bilang makasih doang tiap aku ngasih lembar jawaban dan soal *ciyeee. pas lagi pulang dari tes SIMAK UI, semua soal yang dikerjakan tiba-tiba menguap, terlupakan.

masih inget banget, pas pengumuman SBMPTN, aku coba tetap tenang sebelum membuka. dan hari itu masih puasa Ramadhan. bismillah, jam 5 sore aku cek. pas dicek…..jreng jreng jreeeeeeng……aku belum lolos :“”) sakit hati? iya. kecewa? iya. pengen nangis kejer? iya. aku langsung meluk ibuku. dan aku terus-terusan nangis sampe jam 9. itu juga udah mulai berkurang. dapet banyak sms dari temen-temen, “rainy gimana, lolos nggak?”. aduh sakit hati banget ya mau balesnya. tapi mau  gimana lagi atuh. harus bisa bersyukur atas segala pemberian Allah.

ibu bilang, “Kak, Allah masih sayang sama kakak. mungkin tahun ini bukan ITB tempat yang terbaik buat kakak belajar. yang belum lolos nggak cuma kakak seorang, ratusan ribu kak yang belum lolos juga. sabar ya”. dan aku cuma bisa jawab dengan anggukan, tapi tetep nangis di pelukan ibuku. aku bilang berkali-kali, “tapi bu, peluang ITB tahun ini udah habis, udah nggak ada lagi buu, udah nggak ada kesempatan tahun ini buu..”. pas ayahku pulang juga gitu. setiap aku masuk kamar, pasti akan terlihat tulisan gede mencolok berwarna-warni, “be mine, FTI ITB 2014” dan tulisan yang ada di hadapan kasurku yang setiap bangun atau mau tidur pasti kebaca, “2014 : jadi mahasiwi Fakultas Teknologi Industri ITB”. dan aku nggak bisa buat tahan nangis. aku masih belum bisa menerima dan merelakan

masih inget banget, aku sedih pas ternyata aku nggak jadi ikut UMBPT. ya pokoknya ada deh ceritanya. di pikiranku, “ya udah aku harus terima kalo tahun ini aku harus nggak kuliah, aku harus ke Pare Kediri, atau kuliah di swasta”.

aku udah nyerah banget. temenku ada yang udah diterima di IPB, di UGM, di UNDIP, di UI, di UIN JKT, di UNJ, di UNMUL, ya banyak deh. nggak terpikir untuk ikut ujian mandiri manapun. mungkin udah takdir Allah ya, akhirnya aku ikut PENMABA UNJ. sebenernya udah nyerah di titik terendah, pesimis, pasti saingan ujian mandiri banyak banget. dan ternyata pas selesai ujian, ada kabar bahwa peserta PENMABA UNJ kurang lebih 7-8 ribu. ya Rabbi, aku makin pesimis aja.

masih inget banget, pas pengumuman PENMABA UNJ, aku tuh yang nggak terlalu mikirin, nggak terlalu berharap. pokoknya udah mencoba menguatkan hati deh. kan pengumumannya pagi. tapi pagi-pagi ibuku berinisiatif untuk mengajakku ke Tanah Abang, belanja baju buat stok di toko keluarga hehehe. aku sampe lupa sama pengumumannya. sampe rumah, kira-kira siang. aku emang nggak niat nge-cek. dan kebetulan, pulsa modem belum terisi. hingga sore jam 5 an, ayahku yang masih di kantor sms, “kak gimana hasilnya?” dan nggak ada balasan sama sekali. pikir ayahku, aku nggak lolos dan lagi nangis-nangisan sama ibuku sampe akhirnya nggak berani buat ngabarin ayahku. dan ternyata, selama seharian itu, ayahku yang masih dikantor deg-degan luar biasa. singkat cerita, aku ngasih nomer pendaftaran dan ayahku yang buka di kantor. jreng jreng jreeeeeeeng, alhamdulillah wa syukurillah. aku diterima. ayah sampe berkali-kali me-refresh halaman web itu, “beneran anakku diterima?” sampe ibuku bilang, “kakak siap kan jadi guru fisika?”. aku mengangguk pelan, (mencoba) menyetujuinya.

dan sekarang, aku di sini, di kampus green jacket, di kampus pendidikan sekaligus kampus perjuangan, di UNJ. memang, melepaskan impian yang udah kita harapin banget, udah usaha banget untuk kita dapetin, itu emang susah. tapi seiring waktu berlalu, aku udah mulai bisa move on *eaaaa.

mungkin, aku akan tetap bisa jadi peneliti yang bisa ke Jepang dan Jerman suatu hari nanti. kan banyak jalan menuju Roma hehehe.  jadi guru atau dosen yang ideologis, yang selalu istiqomah berada dijalan Allah. yang semakin banyak mendapat ilmu, akan semakin tunduk pada Allah.

untuk teman-teman seperjuangan yang belum berstatus mahasiswa/i, nggak boleh patah semangat ya. aku pernah kok ngerasain kecewa seperti kalian. sakit hati kan dapet kata ‘maaf’ terus tiap liat pengumuman? harus kuat ya, nggak boleh minder :“)

maksimalkan waktu yang kalian punya. semoga kita semakin bertambah kadar keimanan kita kepada Allah, semakin yakin bahwa rencana Allah pasti indah. semangat untuk semuanya, yang udah jadi mahasiswa ataupun yang belum :)

kan yang Allah liat itu kadar ketaqwaan kita :)

the euphoria

damn, i can feel it in the air.

even now, in my room, alone.

the atmosphere is just the same

the palpitation, the smirk on my face

even that im not the one getting it

its weird that eventhough its not about me but i feel

spiritful..

damn, last year snmptn.

its passed. i didnt get place in public univ

and now im spending my parent’s saving in private school

no regret about it

cause when i lost it, i knew i did my best

and i know, this is the best, this place is the best for me

somehow, God knows

and now, this year.

the announcement.

and the tears… yeah

happy, sad..

but i hope there’s no tears of regret

its not that you failed

you just learned one life lesson

its your own private life lesson

how to make it work,

 and how not to


both are precious

SNMPTN Ada ‘X Factor’nya!

Assalamualaikum!

Hari Sabtu (9/5) menjadi suatu hari yang sangat sakral bagi seluruh pengacara (pengangguran banyak acara) di Indonesia. Pengacara? Ya, karena kami adalah manusia luntang-lantung yang ngga jelas statusnya. SMA sudah selesai, tapi kuliah juga belum masuk. Maka SNMPTN yang merupakan satu dari jalur masuk perkuliahan menjadi harapan yang begitu besar bagi semua siswa sekolah menengah tingkat atas di Indonesia.

Dari pagi, saya sudah ketar-ketir dan ngga ngerti lagi harus berbuat apa kecuali berdoa sama Allah. Saya perbanyak shalat hajat. Berharap Allah mengabulkan pundi-pundi doa yang belakangan ini selalu saya sebut.

Pengumuman SNMPTN akan dibuka pada pukul 17.00 WIB. Setelah selesai shalat ashar, saya buka laptop. Rasanya tuh.. Dag dig dug derrr. Aduh, gimana ya deskripsinya? Gitu deh. Coba aja sendiri.

Berkali-kali buka web snmptn, ngga bisa loading. Mungkin server break down karena terlalu banyak yang akses. Tiba-tiba Papa dari depan tv tanya (mungkin karena melihat saya sangat gelisah dengan muka-rada-gimana-gitu di depan laptop), “Mba, link webnya apa? Sini, buka lewat hp aja.”

Maka kami berdua (saya dan babeh) pindah ke sofa ruang tamu. Papa duduk di atas dan saya di lantai saking lemasnya.

Maka web snmptn pun dibuka…

Diperintahkan untuk memasukkan NISN/Nomor Pendaftaran dan TTL. Saking groginya, saya salah sebut. Haduh.

Saya eja pelan-pelan dan Papa mengetikkan deretan angka yang saya sebut di keypad hpnya. Jantung saya semakin mau copot.

Tidak pakai loading lama, tiba-tiba muncul nomor pendaftaran dan tanggal lahir. Saya bingung (dan benar-benar pasang muka bego) sambil bertanya-tanya, “Lah mana hasilnya?”

Maka browser pun di-scroll down…

Dag. Dig. Dug.

Ya Allah! Alhamdulillah! Reflek saya meluk perut Papa yang posisinya lebih tinggi dari saya dan Papa pun dengan leluasa ngetekin saya. Terharu. Dengan posisi absurd seperti itu (saya pakai daster, Papa pakai kaus lengan pendek dan celana bola), saya meneteskan air mata bahagia.

Ternyata begini rasanya. Luar biasa. Saya terharu menjadi salah satu dari 135 orang yang diterima Ilkom via SNMPTN dari 7.496 pendaftar, dan juga menjadi bagian dari 3.097 orang yang diterima di Unpad dari  77.447 pendaftar.

Akhirnya, saya juga insya Allah bisa segera merasakan apa yang dilakukan si mba ini :D

((foto legendaris Fikom Unpad))

Karena di rumah saya hanya berdua dengan Papa, maka saya hanya dipeluk beliau. Mungkin beda ceritanya kalau anggota keluarga lengkap. (Luna sedang persami, Dek Ais sedang ngaji caberawit, Mama dan Dek Sylva sedang lomba drumband di Cilacap). Bisa jadi dipeluk dari atas bawah depan belakang.

….

Tapi di balik semua itu, saya punya cerita yang cukup rumit (dan wagu) tentang pendaftaran SNMPTN sebelum saya (akhirnya) diterima menjadi salah satu civitas Unpad.

Dulu (kelas 12 awal, belum heboh ada pendaftaran sana sini), saya ingin sekali masuk Sastra Arab. Maka saya cari tahu dan memantapkan hati untuk mendaftar Sasbar UGM.

Tapi tiba-tiba saya ingin masuk DKV. Maka saya pun mencari tahu tentang perkuliahan dunia grafis tersebut dan ingin sekali masuk FSRD ITB. (Saya belum menyadari bahwa semua pendaftar FSRD karyanya gilaaa-gaul-keren-banget-pecah-deh-pokoknya-qaqa~). Saya juga sering buka webnya Binus. (Ini lagi tambah ngga mungkin ya– gaul, mahal pula, hahaha).

Tapi semua itu belum saya istikhorohi.

Saya bingung. Rasanya ingin saya masuki semua.

Maka saya daftar DKV Tel-U dan diterima. Tapi mahal. Ngga jadi diambil. Haha. Klasik. (Orang tua pun masih tetap berharap saya sekolah di PTN, bukan PTS).

Saya kembali berpikir, apa prodi yang sekiranya cocok dengan saya dan akan saya jalani dengan sepenuh hati. Berdasarkan pengalaman berniaga semenjak kelas 2 SD, saya tertarik untuk mengambil Kewirausahaan di SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen) di ITB. Namun berhubung saya ngga suka teori ekonomi, atau akuntansi, atau segala yang berbau angka, maka orang tua menyarankan untuk tidak mengambil opsi tersebut. Saya suka dagang, tapi ngga pinter ngatur uang. Begitulah. (Padahal saya sudah nulis “Nadya Sabila Yasaro, S.Kw” di halaman paling belakang buku soal Ekonomi, haha)

Lalu, jadwal pendaftaran SNMPTN pun semakin dekat… Dan saya semakin bingung. Sebagai seorang perantau, saya ingin mencoba suasana baru. Banyak yang menyarankan saya masuk UGM, tapi hati ini rasanya ingin hijrah ke Tatar Sunda. Ke tempat nenek moyang babeh. Karena Solo dan Jogja rasanya sama, Jawa. Yang beda ya.. ya beda deh pokoknya. Masih murahan Solo :D

Maka saya shalat istikhoroh. Dan hampir setiap hari saya telpon Mama memberi tahu segala kemungkinan dan kebingungan. Mama menyarankan saya masuk komunikasi. Kenapa? Ya katanya cocok aja.

Saya shalat istikhoroh lagi. Lagi, dan lagi. Namun saya belum mendapat ilham. (Karena pikiran saya sempit, menganggap bahwa istikhoroh selalu dijawab via mimpi). Saya masih terus cari tahu tentang universitas mana yang paling bagus akreditasinya di negeri ini untuk prodi Ilmu Komunikasi.

Akhirnya, pendaftaran SNMPTN pun tiba. Saya mendaftar di Universitas Padjadjaran untuk Ilmu Komunikasi (Ilkom–bukan Ilmu Komputer ya -_-”) di pilihan pertama  dan Sastra Arab di pilihan kedua. Saya ngga milih universitas lain lagi untuk pilihan ketiga yang masih bisa diisi universitas regional. Not even UNS. Saya ngga pakai istilah ‘universitas cadangan’ karena kemungkinannya pun sangat kecil.

Saya dianggap nekat oleh semua orang, terutama teman-teman kelas. Bahkan sampai saya diterima, mereka masih heran.

Mereka selalu bilang bahwa saya terlalu banyak mengambil resiko karena :

  1. Belum ada kabar sejarah alumni Smansa Solo yang diterima di Unpad (karena katanya alumni sangat dipertimbangkan)
  2. Rata-rata nilai rapor saya biasa aja, dari semester satu sampai lima ngga ada yang diatas 90 (maklum lah, bukan anak IPA yang nilainya fantastis)
  3. Saya ngga ambil pilihan universitas regional (propinsi sama). Ya gimana dong, saya memang ngga mau kok :|
  4. Unpad beberapa tahun belakangan menduduki peringkat pertama untuk pendaftar terbanyak
  5. Ilmu Komunikasi merupakan prodi dengan pendaftar paling banyak di Unpad

…dan faktor-faktor lain yang membuat teman-teman saya heran, “Ada ya, anak senekat ini.”

Tapi saya yakin atas doa saya. Atas shalat istikhoroh saya. Atas shalat hajat dan doa yang saya panjatkan setiap hari. Saya yakin, yang namanya rezeki ngga akan pergi jika itu memang milik saya. Dan saya yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa hambanya. Saya yakin dalil pertolongan.

Dan memang hanya doa pertolongan itulah amunisi saya.

Saya mondok sambil sekolah, saya berpikir memang sudah seharusnya Allah mengabulkan doa saya atas dasar dalil dan kepasrahan serta keyakinan.

Dan pertolongan Allah memang selalu datang. Selama tiga tahun saya sekolah di Smansa Solo yang (konon) sekolah terbaik di kota dan menduduki peringkat atas di propinsi bahkan Indonesia, saya ngga pernah ikut bimbingan belajar. Tapi alhamdulillah nilai setiap mata pelajaran di rapor saya ngga jelek. Bahkan beberapa di atas 90. Padahal teman-teman saya cerdas, mereka pun ikut bimbel yang tarifnya ngga bisa dibilang murah, bahkan ada yang hampir sepuluh juta.

Banyak yang bilang saya adalah orang yang selalu diselimuti keberuntungan, dan itu semua hanya kebetulan. Tapi memangnya di dunia ini ‘kebetulan’ berlaku? Nggak. Semua ini sudah ada garis qadarnya. Dan semua yang saya jalankan sudah diusahakan sak pol kemampuan serta doa penuh keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan.

Apalagi mengingat saya selalu ngantuk memiliki waktu tidur di sekolah (maklum, anak pondok banyak kegiatan, jadi capek). Konsentrasi saya ngga bisa maksimal. Saya juga mudah bosan.

Hari kritis menjelang Ujian Nasional pun saya semakin malas belajar. Rasanya sudah banyak materi yang saya lahap (padahal sedikiiiiiiiiiiiiit sekali dibandingkan teman-teman saya yang rajin ikut tambahan pagi dan dilanjutkan les di sore hingga malam hari). Saya juga pernah dipanggil waka kurikulum (asli, serem banget, mana pakai diancam dilaporin Pak Thoyibun segala hahaha) karena sering mbolos jam ke nol. Gimana dong, saya ngga rela aja kalau saya ketinggalan materi pondok untuk materi ba’da subuh (waktu itu materinya Faroidh–ilmu bagi waris yang kalau ketinggalan satu halaman berarti..ah sudahlah).

Di sekolah pun saat teman saya sibuk mengerjakan soal latihan UN, saya juga sibuk. Sibuk sekali malah. Saya sibuk baca novel.

Novel yang saya baca menjelang detik-detik UN berjudul 9 Matahari yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Novel yang sudah sejak lama nangkring tapi belum pernah terbesit di pikiran untuk saya pinjam karena saya sibuk pinjam novelnya Tere Liye, hehe.

Saya baru menyadari bahwa sang pengarang (Adenita) adalah lulusan Ilkom Unpad setelah beberapa lembar novel tersebut saya baca. 9 Matahari menceritakan seorang mahasiswi di Universitas Panaitan (plesetan Unpad kali ya) yang belajar di prodi Ilkom (kayaknya si mba novelis ini rada curhat tentang kehidupan kuliahnya dulu). Dan sekarang saya baru menyadari bahwa mungkin membaca 9 Matahari itu merupakan salah satu sinyal jawaban dari Allah atas istikhoroh saya.

Begitulah sedikit cerita pengalaman semasa SMA saya di Solo. Pertolongan Allah sudah ngga terhitung jumlahnya–karena sudah sangat banyak.

Dan SNMPTN ini bukanlah masalah kamu beruntung atau tidak. SNMPTN ini, menurut saya, selalu mempertimbangkan faktor X yang sudah dijelaskan oleh masing-masing sekolah (tentang nilai, alumni, kuota, dsb) dan faktor lainnya yang hanya menjadi misteri antara Allah dan panitia SNMPTN.

Bisa saja faktor x itu adalah nama (karena nama itu doa, maka berbangga hatilah kalau kamu memiliki nama dengan arti luar biasa) atau mungkin dinilai dari sikap di internet (hari gini memangnya ada anak sekolahan yang ngga punya socmed? siapa pula yang tahu kalau panitia SNMPTN memantau kita? bisa jadi kan?) atau (tentunya) kekuatan doa kita atau faktor lain yang bisa kamu karang sendiri.

Kemungkinan besar, ‘x factor’ saya adalah keyakinan “Intansurullaha yansurukum.”

FYI, saya daftar SNMPTN menyertakan dua sertifikat yaitu LKTIA GID Unpad dan Nulis Bareng Ibu (padahal cuma peserta, tapi tetap saya masukkan karena keduanya berhubungan dengan Unpad).

Intinya sih, seperti kata Pak Thoyibun dalam suatu nasihatnya yang disampaikan di suatu senja (ba’da maghrib di Baitul A’laa), ada lima syarat kalau kita mau sukses. Mau tau? Kasih tau ngga ya~

Saya kasih tau di post selanjutnya aja ya (insya Allah kalau ngga lupa).

Dan untuk teman-teman yang belum diterima via SNMPTN, masih banyak jalan menuju Purwokerto Roma! Ada SBMPTN, ada UM (atau SIMAK, SELMA, atau apalah tergantung nama di masing-masing universitas).

Jangan lupa tetap gantungkan hati kita pada Allah. Setelah usaha, pasrahkan! Yakinlah Allah akan menolong, karena kekuatan utama doa ada pada keyakinan kita. Doa tapi ngga yakin? Ciyus nih? Ngapain doa kalau ngga yakin dikabulkan, ya kan?

Semoga kita semua selalu diberikan aman-selamat-lancar-barokah dari Allah dan selalu dilapangkan hatinya menerima segala qadarnya, amiin.

Oiya, saya ucapkan banyak terimakasih dan alhamdulillahi jaza kumullahu khoiro untuk bantuan doanya. Tanpa bantuan doa kalian, aku mah apa atuh~

Wassalam! ;)

((NB PENTING SEKALI : Masalah saya ngga suka belajar, apalagi saat mau ulangan atau mendekati ujian tolong jangan ditiru, ya. Tapi kalau memang sudah capek belajar, yasudah istirahatlah. Kasihan itu otakmu *puk-puk otak*))

So yeah, I guess everyone’s been talking and/or congratulating each other and/or motivating each other not to give up due to SBMPTN result which came out just now. It’s been a year and I apologize in advance for writing such thing in tumblr (not in the mood with blogger.).

My mind goes back to a year ago. I took IPC (Crossover they said hahaha) on SNMPTN, and I almost didn’t fill my 3rd choice of PTN because I’m plin-plan and stuffs and I actually just couldn’t decide/figure out what I actually want. But then I chose to decide to fill it. And when the result came out, the Universe creator put me in that 3rd choice. The farthest University.

I Thank God ofcourse. But then I sort of feel like, I don’t know, regret? like “I could’ve done more than this.” or “Maybe I didn’t push hard enough” and stuffs like that. My dad was at Jambi getting some works to be done, and a little part of me died when he called and asked about my result. He was okay though. He just want me to do what I want to do. He never push me to be accepted in certain uni/certain major, or to pick uni around Jakarta only, or anything. I love him so much all I want to do is making him proud. As proud as possible. This @ArmorOGod tweet things that summed up how  I felt. “God let me accept the things I cant change, courage to change things I can & the wisdom to know the difference.”

Time goes by and here I am. It was rough at first, you know, being away from my family. Spent the first two weeks of my college life crying, praying and asking “why”, and being mellow everytime I was alone with no distraction, or when my family members called. But this one year has been so very awesome. Lots of experiences, learning new things, meeting new people, making some friends, new city that turned out so beautiful and livable(lol, my major thing),bonding with my Opung jauh(my Grandpa’s cousin)(whose kids and grandkids are so awesome and succesful) (like seriously).  I just can’t Thank God enough for his superbmazing plans which is beyond my expectation. I still have the thought to start over in other uni though (economic major, probably. my skill to be in ITB has gone and my brain is freezing for stuffs I used to be -kind of- good at).I just can’t help to imagine my self asking my dad to spend another amount of money for me enrolling in other University. So now that admission period is done, all I can do is Thank God for where I am right now, because I believe things happen for reasons.You may not always end up where you thought you were going, but you will always end up where you were meant to be.

nggak SNMPTN, nggak SBMPTN, tetep aja saingannya edan-edananan ya ._.

tapi nggak apa-apa, hidup itu emang sebuah tantangan. kalau nyalinya keburu lembek diluan sebelum mencoba, bukan hidup namanya!

hasil itu cuma hadiah, tapi proses adalah penghargaan sebenarnya!

semangaaaaat!!!!!

Inequality

First, a question: are we looking for an equality/justice? Equality equals to justice i guess…

Hari ini adalah hari pengumuman sbmptn. Saya menemukan ungkapan menarik dari web yang akhir akhir ini sering saya buka, 1cak :v

“Di saat 1 orang sujud syukur, ada 10 orang lain di luar sana yang sedang menangis.”

Situasi di atas tidak jauh berbeda dengan saat pengumuman snmptn. Anehnya, banyak orang yang “loncat” ke pilihan pilihan yang lainnya dan melepas raihan yang banyak orang tidak dapat menggapainya. Anehkah??

Untuk orang yang belum diterima di PTN/sejenisnya, mungkin mereka akan sangat menyayangkan kelakuan orang orang “loncat” di atas. Syukur diterima kok malah dilepas?? Mayoritas itulah alasan utamanya.

But, tapi.. Dari sudut pandang si anak “loncat”, juga mungkin tidak ada masalah. (saya menulis banyak ‘mungkin’ karena saya tidak berada di situasi yang disebutkan di atas) Mengapa?

Let’s talk about equality = keadilan. Apakah kita ingin meraih keadilan?? The fact is, we don’t. “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” itulah yang sedang terjadi, serta adanya “globalisasi” sebagai katalisatornya.

Memang, untuk yang ada di bawah, kebanyakan mereka tidak mempunyai banyak pilihan. Mereka 'terpaksa’ untuk menjalani sesuatu yang sering kali bukan merupakan comfort zone mereka.

Tapi, untuk yang ada di atas, mereka mempunyai banyak pilihan. Masing masing pilihan mempunyai plus minus nya masing masing yang pasti juga dipertimbangkan dalam mengambil keputusan.

Tak dapat dihindarkan, terkadang pilihan yang diputuskan mereka yang ada di atas menimbulkan kerugian bagi mereka yang ada di bawah.

Sangat sangat sukar untuk mencari jalan tengah dalam situasi seperti ini karena masing masing pihak mempunyai keadaan dan kepentingan yang berbeda beda.

Tulisan ini hanya merupakan buah pikiran belaka, bukan bermaksud untuk menyinggung atau melukai hati salah satu pihak. Thanks dor reading :D

Semoga bermanfaat!

Halo Angkatan 2014!

Hari ini pengumuman hasil SNMPTN 2014. Saya yakin banyak dari kalian yang seneng, speechless, sampai sedih dan depresi.

Buat yang udah diterima, saya ucapkan selamat! Semoga kalian benar benar diterima di PTN dan jurusan yang kalian suka dan juga layak untuk kalian. Buat yang belum diterima, jangan patah semangat. Kalian masih punya kesempatan buat buktiin kalau kalian itu sama layaknya bahkan LEBIH untuk diterima di jurusan yang kalian mau dibanding mereka yang keterima lewat jalur undangan. Jujur, yang keterima lewat jalur tes tulis AWESOME. I ADORE YOU TO THE MOON AND BACK.

Bro, Sis, perguruan tinggi bukan hanya sekedar gengsi. Diterima di PTN unggulan. Diterima di jurusan favorit. Ini itu “next step” buat raih cita cita kalian. Ini juga “another thing” yang menentukan hidup kalian. Apa kalian mau menyesal untuk kedua kalinya memilih jurusan yang salah? Mati-matian belajar IPA karena mengagungkan gengsi tapi pada akhirnya memilih jurusan IPS di perguruan tinggi. IPC masih mending.Buat apa kalian kuliah sastra tapi pada akhirnya kerja di bank jadi teller selain biar dapet gelar S1? Apa kalian mau mati-matian belajar buat hal yang kalian gasuka? Banyak contoh yang sekarang menyesal dengan apa yang udah mereka ambil tanpa melihat ke dalam diri mereka sendiri.

Cita cita boleh tinggi. Gak ada yang larang. Tapi tolong. Coba liat diri sendiri. Apa kamu layak dapetin itu dengan kamu yang kaya gini? Apa kamu layak dapetin FKG dengan nilai rapot rata-rata 80,9? Apa kamu layak dapetin Hukum hanya karena kamu mau itu? Kamu gabisa ngandelin semuanya sama KEAJAIBAN dan KEBERUNTUNGAN. Hey! Wake up, Dude!!!

Satu satunya cara buat raih mimpi kamu, BANGUN DARI MIMPI KAMU!!!

Hadepin realita yang ada. Gausah lari. Coba liat cita-cita kalian. Bandingkan sama kalian sekarang. Kalau kalian ngerasa layak buat dapetin cita-cita itu, BUKTIIN!!!

Bahagia yang kurang lengkap itu ketika kamu lulus sementara temanmu tidak. Terasa ada yang mengganjal ketika kamu tersenyum sementara mereka meyimpan kecewa dalam hati. Ingin menghibur tapi entah kata apa yang paling tepat diutarakan karena kamu tahu persis bagaimana rasanya ketika berada di posisi mereka :’(