SNMPTN

tak ada yang sia-sia, kawan. sungguh tak pernah ada yang sia-sia.

Tiba-tiba ingatan saya melayang ke salah satu momen penting dalam hidup saya, setahun yang lalu. Sudah tertebak, kan? Benar. Apalagi kalau bukan SNMPTN—yang sekarang disebut SBMPTN.

Saya dulu sama deg-degannya seperti kalian. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, dan semua hal membuat muak. Sesak.

Ah iya, dulu pun, sore setelah pengumuman kelulusan dan coret-coret seragam di (samping) sekolah, pengumuman SNMPTN undangan akhirnya keluar. Saya, beserta beberapa teman saya—selepas tertawa segirang mungkin—pergi ke warnet yang lumayan dekat dari sekolah. Berharap yang terbaik, persiapkan yang terburuk. Prinsip yang selalu saya coba ingat-ingat dan tanamkan selama perjalanan menuju warnet itu. Deg-degan. Saya takut, karena biasanya, dalam tiap lomba yang saya ikuti, jika saya degdegan, maka sudah pasti saya akan gagal, namun jika saya biasa saja, tidak khawatir, tidak cemas, maka (biasanya) itu pertanda saya akan menang.

Firasat saya benar. Kata maaf yang tertulis di pengumuman itu. Rasanya sesak sekali. Seperti ada batu sebesar godam yang menghimpit hati saya. Saya melihat teman-teman saya, banyak dari mereka yang lulus, namun tak sedikit pula yang gagal seperti saya. Saya tertawa saja sambil mengatakan pada mereka bahwa saya pun tidak lulus SNMPTN undangan itu. Tidak heran, sih. Mengingat saya hanya memilih satu jurusan, melenceng dari jurusan SMA—saya IPA, dengan passinggrade dan peminat yang tinggi pula: FH UI.  Pun saya juga ingat bahwa nilai rapor saya tidak sepenuhnya murni pikiran saya. Sedikit banyaknya pasti ada saham teman-teman saya di sana. Jadi ya saya tidak (berhak) menangis.

Sesampai di rumah, saya, sembari tertawa, melaporkan kabar buruk itu pada orang tua saya. Hati saya tergores; lagi-lagi saya gagal membahagiakan mereka. Lagi-lagi saya gagal membuat mereka tersenyum karena saya. Sedih. Lalu saya masuk kamar, hati saya makin sesak. Terlebih saat melihat teman-teman yang sudah lebih dulu diterima lewat jalur itu. Tuhan. Hati saya masih belum bersih, sepertinya. Susah sekali ikut bahagia untuk orang lain. Saya ingin menangis, jujur. Ingin sekali. Tapi sulit. Air mata saya entah kenapa seolah tak mau keluar. Seolah saya memang tak pantas menangisi kegagalan itu. Kenapa? Karena saya tak melakukan apa-apa untuk meraihnya. Saya beranggapan lulus lewat jalur itu adalah keberuntungan. Kenapa tidak? Kita hanya mengirim berkas, menunggu, lalu hasilnya keluar. Tidak ada keringat dan usaha yang berarti. Jadi, saya hanya kurang beruntung ketika itu. Masih banyak keberuntungan lain yang menunggu saya.

Maka semalam itu jadilah saya tidak menangis. Saya keluar kamar, berjalan ke dapur, memutuskan untuk makan. Ajaib, sehabis makan justru rasa sesak yang dari tadi mengungkung saya itu hilang. Saya tidak bohong. Sepertinya khusus malam itu saya lupa cara membedakan mana yang sesak, mana yang lapar. Ah sudahlah, lebih baik kembali ke topik awal. Tentang apa tadi? Ah, iya. SNMPTN tulis.

Sejak pengumuman itu, saya semakin rajin membahas soal-soal di buku bantal yang diberikan lembaga bimbel saya. Saya mengerjakan latihan-latihan soal yang ada di buku terkait. Saya harus belajar lebih keras dari yang lain, karena saya hanya mengambil paket IPS, sesuatu yang benar-benar baru di hidup saya. Saya tidak memilih IPC, atau IPA, karena sia-sia saja, saya rasa. Rasanya itulah saat dimana saya belajar dengan sangat serius dan semangat. Ingat apa yang saya pilih waktu SNMPTN undangan dulu? Benar. FH UI. Impian saya tak berubah, namun ujian tertulis ini, saya tentu saja tak akan menyia-nyiakan pilihan. Diizinkan memilih dua, maka saya memilih FH UI sebagai pilihan pertama, dan FH UNPAD sebagai pilihan kedua. Gila, memang. Nekad. Banyak yang menganggap itu pilihan bunuh diri: saya dari daerah memilih Jawa di kedua pilihan, memilih fakultas dan universitas favorit seluruh Indonesia, dan karena dulunya saya dari rumpun IPA. Saya tidak peduli. Saya hanya ingin lulus di pilihan pertama. Maka mindset “nyeleneh” itu mulai bertebaran di kepala saya. Tidak di UI berarti sama saja dengan tidak kuliah. Astaga, betapa saya dulu terlalu berharap lulus di UI. Saya terlalu cinta. Terlalu ingin. Terlalu. Saya lupa bahwa sejatinya, tak ada ‘terlalu’ yang baik.

Saya tetap belajar, namun semakin hari saya justru semakin sering berselancar di internet. Membaca pengalaman orang-orang demi mengejar UI-nya. Saya membaca nyaris semuanya. Keinginan itu semakin berkobar di hati saya. Berlebihan, ya. Memang… saya sendiri ngeri jika membayangkan betapa ambisiusnya saya ketika itu. Saya tidak pernah memikirkan bagaimana jika nanti bisa saja saya kuliah di Unpad atau di manapun. Tidak, saya tidak pernah (mau) memikirkannya.

Lalu, selesai. Tes itu selesai. Saya pulang ke rumah. Degdegan menunggu hasil tes tertulis itu. Membayangkan rasanya jika tidak lulus, pasti akan hancur sekali. Saya sudah cukup berjuang. Menunggu, dan menunggu … sembari terkadang juga belajar untuk persiapan mengikuti tes SIMAK UI. Sekali waktu, saya sedang bermain di beranda Facebook saya. Melepas rasa penat yang mulai menggerogoti hati dan pikiran saya. Mata saya terpaku pada sebuah status dari salah satu penulis hebat; Asa Mulchias. Saya sempat mengcopy status itu ke notes facebook saya. Berikut notes tersebut:

Harapan itu Akan Selalu Ada…

Adakah pertolongan yang Allah beri untuk orang-orang yang berputus asa? Putus asa itu dosa. Maukah Allah menolong orang yang berputus asa dari rahmatNya?
Pertolongan datang dimulai dari hati yang penuh harapan. Tidak pantas mendapat pertolongan orang-orang yang bahkan tak percaya dengan pertolongan itu sendiri. Allah membenci orang yang putus asa. Sangat benci bahkan.

Untuk itulah, Kawan… jika kau masih lupa tentang keajaiban karena bertemu terlalu banyak kehancuran, liriklah lembah nan hijau. Gunung yang kokoh. Langit yang terpentang. Untuk orang-orang yang berputus asa, betul yang kaukatakan: memang tak ada harapan. Dalam hidupmu kau akan selalu menemuinya. Kian hari makin yakin saja. Makin lama, tak ada lagi yang kan mampu menggoyah imanmu: keajaiban itu omong kosong belaka. Milik orang-orang yang bermimpi dan lupa. Semua akan terus begitu… sampai kau benar-benar menyadari: Allah selalu mencatat setiap kepercayaanmu dan mengabulkannya. Ingatlah: Allah sesuai prasangka hambaNya.

Karenanya, kau akan dapati di tempat lain, di hati lain, di jiwa yang lain, tidak demikian kata “harapan” dikelola. Ada yang mampu menuliskannya dengan sempurna, tanpa cacat, dan bersinar tiap harinya. Bukan karena ia tak bertemu realita, tapi ia selalu berkata, “Keajaiban adalah milik Allah. Realitas pun juga. Apa sulitnya Allah menunjukkan yang satu dan menghilangkan yang lainnya?” Air tak mungkin dibelah, tapi ada kisah Laut Merah. Bulan tak mungkin dipisah, namun Rasulullah melakukannya. Kau boleh bilang, “Itu kan Nabi!” Ah, naifnya. Ini bukan soal nabi atau bukan. Ini masalah Allah berkehendak menolong atau tidak. Yang membelah laut bukan Musa, wahai Kawan.Yang memisahkan bulan bukan Rasulullah, wahai Sahabat. Jika Allah menolongmu, tidak ada satu pun yang menghalangi. Begitu pula sebaliknya. Jika Allah tak menolongmu, maka tak satu pun mampu membantumu.
Keajaiban persis seperti itu. Bukan soal kau itu siapa. Tapi masalah apakah kau percaya. Apakah Allah mau menunjukkannya pada kita… (Asa Mulchias)

Ya Allah, tentang SNMPTN tulis itu…hamba percaya pada kekuasaanMu, Tuhan. Luluskanlah hamba dan semua manusia-manusia yang percaya pada kekuasaanMu… Luluskan kami, ya Allah… Berikan hamba kabar baik pada saat pengumuman nanti…beberapa hari lagi… Hamba terima semua keputusanMu, Tuhan…hamba terima… Karena Kau pasti memberikan yang terbaik… Aamiin…aamiin…aamiinn ya Allah… Aamiin ya rabbal alamiin…

01072012

Terdengar pasrah, ya? Kelihatan menyerah?  Bukan. Saya hanya percaya. Karena yang perlu saya lakukan hanya percaya, percaya, dan percaya.

Akhirnya hari pengumuman itu tiba. Paginya, saya berjanjian dengan teman-teman untuk bertemu dan berkumpul di rumah salah satu dari kami. Yah, menonton film horror sekadar untuk melupakan degdegan menanti pengumuman yang keluar setelah maghrib itu. Sorenya, kami makan di WaDjan. Saling tertawa. Bersenang-senang. Melupakan sejenak kegetiran itu. Dan, hari mulai gelap. Kita pulang ke rumah masing-masing. Sepanjang perjalanan pulang, saya kembali  berpikir, “Tuhan, nanti ini bagaimana jika tidak lulus. Orang tua saya bagaimana, masa lagi-lagi saya membuat mereka kecewa. Gurat wajah mereka sudah terlalu lelah, Tuhan. Saya hanya ingin menghasilkan gurat senyum di wajah mereka yang telah mulai tua itu. Baiklah, saya percaya kuasaMu, Allah. Sungguh saya percaya.” Sepanjang jalan, tak henti saya berpikir.

Depan rumah, saya membuka pintu, membuka sepatu. Kalimat pertama yang keluar dari oma saya (yang sejak 11 Februari lalu baru saja meninggal) begitu melihat saya adalah: “firasat oma, sih, kamu bakalan lulus di Unpad.” Saya diam saja, dan tersenyum. Kehabisan kata-kata.  Saya takut. saya kalut. Sebagian hati saya mengamini, tapi sebagian yang lain masih mengeja nama UI pelan-pelan. Ingat yang pernah saya bilang tadi? Jika degdegan berarti tidak lulus? Astaga! Saya takut sekali, saya degdegan saat itu. Maka saya beranggapan saya tidak akan lulus. Saya mulai mencari-cari informasi tentang jalur mandiri UNAND, belajar menyukainya, walaupun saya tidak pernah mau kuliah di Padang, karena mungkin saja jalan saya di sana.

Detik-detik pengumuman itu terbuka. ada mama dan papa di samping kiri dan kanan saya. Masing-masing berhadapan dengan gadget masing-masing. Tapi layarnya menunjukkan halaman yang sama: web pengumuman tes itu. Saya sudah pasrah. Belajar menerima apapun hasilnya nanti. Dan hasilnya keluar.

Saya diterima di Universitas Padjadjaran, jurusan Ilmu Hukum. Mama dan papa saya tersenyum, akhirnya. Tuhan, terima kasih untuk senyum itu. Tapi, saya malah mengacaukan momen bahagia itu dengan menangis. Bukan, saya bukan menangis bahagia, saya menangis kalah. Saya gagal mendapatkan UI. Disela tangis saya, mama menyuruh saya untuk sujud syukur saat itu juga. Saya sujud, memang, namun hati saya tetap berontak. Allah, maafkan hambaMu ini. Saya merasa betapa saya kufur nikmat ketika itu. Saya menghapus air mata saya, bertanya pada papa apakah saya boleh mengikuti tes mandiri UI. Tapi papa saya menjawab kata yang paling tidak ingin saya dengar: tidak. Papa bilang saya harus mensyukuri apa yang telah ada. Papa bilang saya harus menerima ketentuan Tuhan dengan hati yang lapang, karena di luar sana justru banyak orang yang menginginkan apa yang telah saya dapatkan.

Saya hanya diam. Menahan diri agar tidak menangis, lalu kembali bertanya,” apa mama dan papa bangga?” mereka berdua mengangguk mantap dan tersenyum. Tulus. Tuhan, sungguh itu sudah lebih dari cukup. Dan saya sadar, firasat oma saya benar.

Waktu berjalan sangat cepat. Dan sekarang akhir semester dua saya di FH UNPAD. Apa saya menyesal? Apa saya tersiksa di sini? Apa saya dicap gagal? Jawabannya TIDAK! Saya benar-benar bahagia di sini. Cuaca dan keramahan warga Bandung tidak jauh berbeda dengan kota kecil saya; Bukittinggi. Di sini bahkan bamat banyak sekali orang-orang Minang yang membuat saya serasa di kampung halaman. Saya bertemu teman-teman yang baik, saya menemukan “keluarga” di sini: SSFdR dan Vonis. Saya benar-benar bahagia. Rasa-rasanya jika saya diterima di pilihan pertama itu, hidup saya tidak akan semenyenangkan ini. Saya benar-benar bahagia.dan saya benar-benar mencintai fakultas saya ini.

Kalian percaya skenario Tuhan selalu lebih indah dari semua rencana-rencana kita? Saya percaya. Dan kalian semua juga harus percaya. Ayolah, Tuhan pasti selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Skenario Tuhan selalu indah. Coba saja kalian ingat semua pengalaman kalian selama ini. Kata-kata itu benar, kan? Dan, ya … Tuhan selalu adil. S-e-l-a-l-u.

Ah iya, saya sekarang juga mengamini sebuah quote yang dulu sering saya dengar: Tembaklah bulan, jika tembakanmu meleset, kau akan mendapatkan bintang yang ternyata sinarnya jauh lebih terang dan indah dibanding bulan.

Tetap berusaha meraih mimpi kalian. Tahu, kan, meraih mimpi itu sejatinya tidak sulit. Kita hanya perlu setia. Setia untuk meraih dan mewujudkannya. Kita sungguh hanya perlu setia pada setiap impian itu. Kalian tahu Tuhan ada dimana? Tuhan selalu bersama para pemimpi yang sedang berusaha untuk setia dalam menggapai dan memperjuangkan mimpinya agar menjadi nyata.

Tetap berusaha, ya. Kenapa? Karena mereka, orang-orang mengagumkan itu, berjuang keras untuk meraih impiannya di saat orang lain masih lelap dalam tidurnya. Itu saja, kawan, rumusnya.

Di tahun saya kemarin, peminat FH Unpad ada 4000-an orang, lho, ternyata. Saya yang begini saja bisa lulus, masa kalian enggak. :)

SEMANGAT!                                                                                                                                                                                     

Selamat meraih mimpi, kawan. Tahun depan giliran kalian membagikan kisah kalian. *hug*

#15 - Part 1

Halo …. Halo Bandung. Hehe. Gak.

Menindaklanjuti kerinduan saya akan tenggelam dalam sastra, tergeraklah hati saya untuk menulis sesuatu di blog tak terurus ini. Hahahaha. Hahaha. Haha. Ha. Oke, alay memang. Intinya, kali ini gue mau cerita soal mimpi.. cita-cita.. pencapaian tujuan..? Lah, I don’t even know what the title is. Melanjutkan nomor doang. Pokoknya, beberapa postingan ke depan ini gue bakal cerita soal perjuangan gue mendapatkan univ yang gue mau. Hehe. Silakan disimak, semoga bermanfaat terutama buat adek-adek kelas saya.

Jadi guys, belum lama ini gue lulus dari masa yang katanya paling indah, dari sekolah gue tercinta, SMAN 1 Garut. Ya gue seneng lah, akhirnya libur tiba, katakan selamat tinggal pelajaran (terutama yang berbau Soshum), selamat tinggal UN-USBN-dan-antek-anteknya, selamat tinggal seragam yang udah ngatung, selamat tinggal jadwal piket bersihin kelas, selamat tinggal tagihan uang kas. Tapi di sisi lain sedih juga. Ini bukan lagi tentang mau pisah sama mentemen seperjuangan (karena ini bersifat mutlak!), ada lagi aral lain yang melintang. Terutama buat adik-adik kelas gue yang belum merasakan duduk di kelas 12, percayalah, lo bakal mengalami (salah satu dari sekian) fase tergalau dan termemusingkan sepanjang masa untuk yang pertama kalinya adalah ketika lo lulus SMA.

Kenapa? Karena lo mulai menata masa depan lo. Setelah lo lulus, lo mau ngelanjutin kemana? Kuliah atau kerja? Kalo kuliah, universitas mana? Yakin gak lo bakal lulus ke situ? Syukur-syukur kalo lo lulus, kalo lo nggak, plan B lo apa? Lo bersedia kuliah dimanapun yang mau nerima lo, atau ambil gap a year?

Hehe, agak pusing kan? Semua pertanyaan di atas balik lagi ke pertanyaan kojo yang (terasa) mudah sekali dijawab pas lo masih kanak-kanak dan makin lo tua makin susah dijawab:

Cita-cita lo mau jadi apa?

Setelah sekitar … berapa ya, kurang lebih 13 tahunan gue ditanyain pertanyaan menstrim cem begitu, akhirnya gue dapat jawaban mantap pas kelas 12: jadi dokter.

Terdengar klise emang. Dokter, salah satu dari beberapa cita-cita yang sering banget dijawab sama anak-anak. Tapi jangan salah, buat nemuin jawaban fix maksimal macam begitu, banyak banget cita-cita sebelumnya yang sempat terbersit dan mampu menggerakan hati buat merealisasikannya.

Umur 5 tahun alias pas TK, gue suka banget ngegambar. Gue pengen jadi pelukis atau komikus wkwkwk. Umur 10 tahun mulai berubah deh cita-cita. Kalo lo dulu pernah baca KKPK yang judulnya Magic Cookies, lo bisa temuin tiga cita-cita kojo gue (di halaman-halaman akhir, tepatnya halaman 164 menurut edisi cetakan pertama): penulis terkenal, astronot, dan ilmuwan! Wkwkwk watados emang. Dengan santainya gue tulisin ketiga cita-cita tersebut. (Belum tau pelajaran fisika sih, sekalinya tau gue mampus).

Keempat cita-cita di atas bertahan tidak lama, gaes. Gue mulai meninggalkan dunia menggambar pas tau ada dalil kalo menggambar manusia itu gaboleh (gue kan sukanya ngegambar orang ala-ala manga gitu). Menjadi penulis terkenal, oh yeah gue dulu passionate banget dalam dunia tulis-menulis. Gue pengen kaya J.K Rowling biar kaya raya (wkwk apaan). Dan, dulu itu kalo menulis memang pakai hati. Tapi semenjak beberapa cerpen gue dibukukan, jadi agak hitz lah kalo gue suka nulis. Pas SMP – SMA, gue jadi suka disuruh buat ikutan lomba cerpen gtgt which is temanya ditentukan, ada deadline nya, kaidah penulisan diperhatikan, dan gue gak suka. Selain itu, temen-temen sekelas kalo ada tugas drama atau film jadi suka ngandelin gue karena kecintaan gue terhadap menulis. Sekali lagi, gue gak suka. Gue menulis karena pengen, suka-suka gue aja, bukan disuruh apalagi kalo dikasih deadline. Makanya dari umur 11 tahun bikin novel gak kelar-kelar sampe sekarang WKWKWK (yas I’m a master of procrastinator!). Dikejar deadline emang seru, tapi kalo menyangkut kebebasan buat berekspresi… hell no.

Selanjutnya, astronot. Mimpi ini kandas pas kelas 10 SMA wkwk padahal gue udah punya bayangan, kalo mau jadi astronot, gue pengen masuk FMIPA ITB jurusan Astronomi. Terus kuliah lagi di luar negeri dan …. Jengjeng! Gue kerja di NASA! Gue ikutan ekspedisi ke Mars atau planet lain yang belum terjamah dan menancapkan bendera Indonesia di sana! Gue spacewalking! Gue siap gaakan jantungan kalo roket lepas landas! Gue bakal nemuin bintang atau asteroid yang nanti gue kasih nama Aulianisa! Wkwkwk lul banget emang, pemikiran yang jauh dari kata realistis. Semua ini cuma gara-gara buku tipis tentang astronomi yang gue beli waktu kelas 3 SD dan udah rombeng gara-gara dibaca mulu sampe khatam entah berapa kali. Tapi, mama sama papa ga ngizinin buat cita-citaku yang ini. Mereka bilang, “jangan jadi astronot, nanti LDR sama suami kamu, kalo suami kamu selingkuh gaakan tahu dan gaakan bisa ngapa-ngapain karena jauh,” and I was like, “yaudah mau nyari cowo sesama astronot biar ekspedisi bareng, spacewalking bareng, unyu.” Abis gitu gue diceramahin betapa beresikonya jadi astronot bagi perempuan. Yha udha deh bye astronomi.

Kemudian, ilmuwan. Ini sebenernya simple banget sih, gue pengen jadi inventor cem Marie Curie, Nikola Tesla, dsb. Gue pengen menemukan sesuatu yang berguna buat nusa bangsa bahkan dunia. Gue pengen banget nemuin suatu obat atau vaksin yang bisa nyembuhin penyakit termematikan sedunia cem AIDS atau kanker. Mantap djiwa. Kalo ini gara-gara gue seneng banget bereksperimen sains sederhana yang gue temuin di buku pelajaran sekolah atau (bahkan sengaja) beli buku khusus percobaan-percobaan gitu. Tapi mimpi ini kelelep begitu saja …

… setelah tahu bahwa Sains tidak semudah yang dipikirkan saat SD.

Pas gue masuk SMP, Sains tuh mulai dibagi-bagi kan divisinya. Jadi Fisika sama Biologi (waktu SMP gue gak belajar Kimia gatau kenapa, tapi dibahas dikit-dikit di pelajaran Biologi). Gue semacam shock lah, yang biasanya denger IPA Terpadu sekarang mendadak Fisika-Biologi. Yang biasanya kalor cuma tentang konduktor dan isolator sekarang kudu ngitung pemuaian. Yang biasanya optik cuma tentang cermin cekung cembung sekarang kudu ngitung titik fokus dan antek-anteknya. Yang biasanya anatomi tubuh manusia cuma tentang tengkorak dan rangka badan sekarang kudu tau nama-nama latinnya, atau bahkan lebih jauh lagi tentang sel yang gabisa gue temuin di kehidupan sehari-hari buat dijadikan bahan percobaan (dan mantab jiwa combo nya, dulu SMP ku tuh termasuk RSBI, jadi Biologi belajarnya pake bahasa Inggris kawans, ujiannya pula :’)). Gue jadi pesimis nihh kalo jadi ilmuwan.

Barulah saat kelas 9, gue mulai realistis dalam memikirkan cita-cita. Pertama, gue pilih jurusan yang kira-kira sesuai sama pelajaran yang gue sukai. Oke, gue suka Biologi. Barangkali gue jadi dokter aja gitu? Dulu tuh minim pengetahuan banget tentang profesi, yang gue tau dari TK sampe SMP tetep gitu-gitu aja: dokter, guru, polisi, pilot, wartawan. Ah ya, ditambah beberapa lagi deng: penulis, astronot, ilmuwan. Wkwkkwk. Gue kepikiran buat jadi reporter alias wartawan gitu tapi gue males kalo muka gue kesorot kamera. Jadi guru, ah, kedua orang tuaku juga guru, rasanya tidak variatif. Pilot sama polisi identik kerjaan cowok, jelas gue gak mau.

Jadi waktu itu gue pake aja tuh template “pengen jadi dokter” kalo ditanya cita-cita, cuma gara-gara gue suka Biologi. Tapi sebenernya hati gue sama sekali bukan buat kedokteran pada saat itu. Pas masuk kelas 10, gue mulai nyari tau tuh soal profesi, universitas, dan fakultas. Ada beberapa yang menarik perhatian gue. Misalnya Psikologi UI. Alasannya kenapa, ya, soalnya seru aja gitu. Learning psychology is simply exciting. Waktu itu gue lagi seneng-senengnya baca hal-hal berbau gangguan mental cem bipolar, psikopati, dan lain-lain. Pikiran gue melambung kalo suatu saat gue jadi psikolog, selain gue membantu orang mencarikan jalan keluar buat masalahnya, gue juga bisa dapet inspirasi dari cerita-cerita mereka buat diadaptasi, direka sedikit, dan dijadikan novel (salah satu upaya merealisasikan jadi penulis terkenal tea). Pokonya kalo ngambil jurusan Psikologi, gue pengen ke UI gamau yang lain (berhubung temen-temen kepenulisanku juga banyak yang kuliah di UI, lumayan kan bisa meetup :”)) tapi kandas juga akhirnya saat tau kalo Psiko UI nerimanya anak-anak IPS. Entahlah, gue kurang suka sama soshum karena identik dengan menghafal hahahah.

Pindah haluan nih gue, jadi gak mau psikologi. Soalnya, lulusan psikologi itu banyak tapi orang-orang Indonesianya aja kayak yang belum “butuh” ke psikolog – I mean, misalnya seseorang punya anak yang bermasalah, kebanyakan dari mereka kan konsulnya ke kyai atau pemuka agama atau bahkan they be like “masalah internal keluarga sih bisa diselesaikan dengan sama keluarga sendiri juga”. Kalaupun ke psikolog, pasti ke psikolog yang memang sudah punya nama – Kak Seto misalnya. In my opinion ya, no offense. Berhubung waktu itu hobi gue ganti lagi jadi jalan-jalan-sore-sepulang-sekolah-dan-membeli-barang-barang-nirfaedah, ada pekerjaan yang menarik perhatian gue: desainer interior! Lo tau Aghnia Fuad? Yang suka nongol di acara tv buat ngedesain rumah itu, wualah asik banget kayanya. Sebenernya barang-barang yang gue beli gak nirfaedah amat lah, gue beli bahan-bahan yang DIY-able, kayak: stik es, lem, tali rami, kertas dupleks, glitter, marker warna silver, watercolor beserta kuas dan paletnya, de el el dah wkwkwk. Karena, beberapa hari setelah pembelian barang-barang tersebut suka mendadak aja gue pengen bikin something, kaya buku polos yang bikinnya pake teknik japanese binding style, atau bikin jadwal pelajaran dari stik es, bikin pembatas buku, hampir tentang apapun. Kalo guenya bosen atau jadi kurang suka sama hasilnya, gue kasihin ke temen atau gue simpen supaya nanti kalo ada tugas prakarya gausah ribet lagi hehehe. Seneng bat gue sama yang gituan, ngegambar juga jadi suka lagi meskipun cuma niru karena terlalu payah kalo bikin OC. Sampe-sampe, ortu gue nyaranin, “yaudah, kamu FSRD ITB aja suka berbau seni. Atau ke UPI.” Gue jadi kepikiran juga. FSRD ITB? Leh ugha. Nanti gue ambil Desain Interior atau Desain Produk… Mantabh. Gue pikir kalo kerja di bidang desain nanti proyeknya bisa gue kerjain di rumah. So, selain punya penghasilan gue juga bisa jadi ibu rumah tangga yang baik dan selalu ada buat keluarga… hahanjir apaan.

Namun, lagi-lagi, mimpi yang ini kandas pula karena seni tuh masuknya soshum. Di sisi lain, gue gak mau nyia-nyiain jatah SNMPTN gue (wkwk kaya yang bakal masuk kuota aja) dan gamau ribet lagi belajar soshum kalo SBMPTN (dan men setelah baca-baca pengalaman yang masuk FSRD ITB tuh beuh gambarnya mantab semua, gue pesimis deh kalo gitu soalnya jarang banget latihan gambar apalagi kalo temanya ditentuin). Yasudahlah. Gue alihkan lagi jadi ke Arsitektur. To be exact, Arsitektur Interior UI. Gue gamau Arsitektur yang general soalnya ngerancang luar dulu kan, baru dalem. Kalo Arsin gue pikir 11 12 sama Desain Interior hehehe ntar gue bisa nerusin Aghnia Fuad panutan q ^^ sempit banget emang pemikiran ini.

Prelude. Kalo lo nyimak, daritadi gue ngomongnya UI sama ITB mulu kan. Iya, kedua universitas itu emang mimpi besar gue sejak kecil, selain Unpad. Flashback ke waktu gue sama sepupu hobi banget buka atlas, pasti langsung tertuju ke Peta Kota Bandung, lalu membayangkan betapa kerennya kalo tinggal di sana. Udah punya target kalo udah gede mau tinggal di daerah Dago. Pas ditanya, kuliah dimana? ITB. Wueeeehh mantab jiwa, terlebih lagi Pak Habibie panutan q alumni sana kan. Makin cinta gue sama ITB. Kalo engga, kuliah di Unpad. Weeeessh dat “Padjadjaran” men, gagah banget kan. Ngota (waktu itu Unpad masih di Dipati Ukur kalo gasalah). Cinta juga gue sama Unpad. Meski pada waktu itu belum sampe dalam pikiran gue kuliah tu kaya gimana, maksud jurusan dan fakultas itu apa. Kalo UI, emang sukanya pas gue SMA sih, dan udah tau kan tadi alasannya apa.

Balik lagi ke penjurusan.

Arsin UI. Awalnya ortu gue sans aja pas gue bilang pengen Arsin UI. Tapi lama kelamaan setelah hampir 2 tahun gue mengenyam pendidikan di SMA, ortu gue ga ngizinin buat masuk ke UI. Alasannya karena gaada sodara yang bisa memonitor di sana. Dengan kecewa, gue hapus UI dalam angan gue jauh-jauh, tapi hati ini masih keukeuh pengen Arsi. Gue gak mau kalo masuk SAPPK ke ITB, soalnya ada masa TPB dulu, takut kelempar ke Planologi. Alhasil cita-cita gue ngambang lagi kan.

Seiring waktu, gue mulai mencoba memahami diri sendiri lagi. Berdasarkan psikotes, minat gue tinggi banget di sains, literatur, dan seni. Kalo teknik kurang. Darisitu gue merasa gak cocok kalo kuliah ITB. Sains oke, tapi karena namanya institut teknologi udah jelas bakal banyak tekniknya, berhubungan sama berhitung (fyi, nilai terendah gue di rapot tuh diraih oleh pelajaran Matematika WK WK WK). Literatur, macam sastra? Lah gue ogah banget kalo jadi anak sastra terus kudu bikin karya sesuai deadline terus kudu tampil di khalayak umum, menampilkan karya. Gue pidato pake teks aja masih gemeteran dan ke WC dulu. Seni? Soshum, no way, gue gak minat. Pelajaran yang gue suka dan lumayan gue bisa? Biologi, bahasa, sama prakarya (kalo bikin DIY, kalo ternak lele gue payah). Halaaah pusing banget kan?

Namun pas kelas 11, gue menyadari suatu hal. Gue suka banget pelajaran Biologi kelas 11 yang kebanyakan tentang anatomi manusia. Terbersit dalam pikiran, ambil kedokteran aja gitu? Belum lagi kalo gue sakit dan periksa ke dokter, gue melihat ketulusan yang terpancar dari wajahnya. Kupikir, tentulah yang jadi dokter itu kuat imannya, yang percaya bahwa pada hakikatnya Tuhanlah yang memberi kesehatan kepada hamba-hamba-Nya dan mereka hanya sebagai perantara atas hubungan Tuhan dan makhluk-Nya. Adem banget. Gue cari tau seluk beluk tentang profesi dokter. Mereka bekerja berdasarkan analisis darimana asalnya, segala kemungkinan akibatnya, sampe gimana cara menanganinya. I was like, oh man, this is gonna be fun! Sesuai banget sama sains yang selama ini kupelajari; percobaan dulu, lalu nyari tau kenapa bisa kayak gitu, dan menemukan cara penyelesaiannya (baca: bukan hasil studi pustaka dan berhitung! Hehehe). Belum lagi, di keluarga besar gue belum ada yang jadi dokter dan mereka mendukung banget kalo gue jadi dokter. Ditambah lagi, ada perkataan mama yang bikin aku makin semangat masuk kedokteran,

“Mama juga dulu daftar ke kedokteran, tapi mungkin mama yang gak melihat ke potensi diri sendiri. Gak keterima. Makanya, kayanya bakal gagah banget kalo kamu masuk kedokteran.”

Dalam hati, I was like, okesiap maah, nanti Salma terusin ya cita-cita mama biar jadi kenyataan! :’)

Sejak itulah gue mematenkan kalo cita-cita gue jadi dokter. Semakin gue dewasa, semakin banyak pula alasan-alasan kenapa gue pengen jadi dokter. Semacam panggilan hati. Gue gak mungkin sebutin alasannya satu persatu di sini. Jadi dokter bukan tentang gajinya gede dan cepet kaya. Gue punya goals kalo jadi dokter mau mendirikan klinik bareng temen-temen sejawat gue. Gue bakal gratisin biaya pemeriksaan bagi yang ngga mampu, setiap hari Jumat. Atau minimal gue maklumi bagi orang yang uangnya cuma cukup buat ongkos balik dan beli obat, gue ikhlas dibayar seadanya. Gue pengen melihat orang tua gue bangga karena anaknya jadi dokter. Gue pengen jadi orang pertama yang meriksa orang tua gue kalo suatu saat badan mereka rapuh, jadi gak usah repot bawa kesana kemari dan ngeluarin duit. Gue gratiskan kalo buat keluarga. Dan intinya, gue pengen jadi dokter karena Allah. Gue ridho seberat apapun tugasnya karena gue suka.

Dari situlah gue membulatkan tekad,

dr. Salma Aulianisa. Alumni FK UNPAD 2017. Bismillah!

 

Kemudiaan, perjuangan jadi dokternya gimana? Berhasilkah si gue mewujudkan mimpi yang paten tersebut? Nantikan kelanjutannya di part 2, ea ea ea.

p.s: maap jadinya curhat soal pencarian cita-cita dulu wkwkwk gue janji nanti part-part selanjutnya beneran tentang perjuangan masuk FK

bukan kampusnya tapi..

masih terasa nuansa pengumuman seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. mulai dari yang bahagia karena lolos di PTN Impian, galau karena lolos namun ga sesuai harapan, sampai kecewa karena belum lolos. saya mau sedikit membahas tentang “gengsi" pada calon mahasiswa baru ini. dulu saya juga mengalaminya. banyak diantara calon mahasiswa memilih PTN ataupun jurusan yang “WOW" karena dia ingin dipandang oleh orang lain. ada juga yang menganggap kalau kuliah di blablabla itu keren. sebenarnya bukan masalah kampus dimana kamu kuliah, tapi bagaimana proses kamu selama masa kuliah itu. percuma kalau kamu kuliah di PTN yang paling favorit pun kalau kamu ga ada aksi atau reaksi ga akan terdengar gaungnya. berbeda jika kamu kuliah di kampus yang biasa saja namun kamu aktif sebagai mahasiswa, kamu akan menjadi mahasiswa yang bersinar. aktif organisasi, ikut kompetisi, ikut konvrensi itu salah satu cara mengasah sinarmu.

jadi, sebelum kamu salah langkah untuk kedua kalinya. tetapkan pilihan, jangan dahulukan gengsi. pilih yang sesuai passionmu. dan  kamu tinggal pilih. menjadi debu diantara berlian, atau menjadi berlian diantara debu?.

Hikmah #1

Dimanapun kita diterima pada akhrinya, percayalah bahwa Allah punya rencana untuk kita, tentunya rencana itulah yang terbaik untuk kita. Huznudzan padaNYA..karena Allah adalah bagaimana prasangka hambanya. Jangan takut tertukar, kuliah itu perkara rezki, tidak akan tertukar,tidak kurang tidak lebih. Pas. Jangan takut kalah bersaing karena menganggap orang lain mampu bayar lebih, sogok sana sogok sini. Tugas kita hanyalah berusaha sebaik mungkin, belajar dan berdoa yang banyak, minta doa restu orang tua. Tidak akan tertukar , jika Allah berkehendak, yang memang untukmu pasti kau dapat. Semangat,karena kuliah bukan soal gengsi. Bukan soal negeri atau swasta. Ini soal hakikat. Hakikat kejujuran dan menuntut ilmu. #UntukPejuangSbmptnUM

the euphoria

damn, i can feel it in the air.

even now, in my room, alone.

the atmosphere is just the same

the palpitation, the smirk on my face

even that im not the one getting it

its weird that eventhough its not about me but i feel

spiritful..

damn, last year snmptn.

its passed. i didnt get place in public univ

and now im spending my parent’s saving in private school

no regret about it

cause when i lost it, i knew i did my best

and i know, this is the best, this place is the best for me

somehow, God knows

and now, this year.

the announcement.

and the tears… yeah

happy, sad..

but i hope there’s no tears of regret

its not that you failed

you just learned one life lesson

its your own private life lesson

how to make it work,

 and how not to


both are precious

Kenapa Psikologi Unpad IPA? Mempersoalkan Sekat Antara IPA dan IPS

Menjadi mahasiswa Psikologi Unpad berarti siap menjadi seseorang yang punya jawaban bagus untuk pertanyaan, “Apa bedanya Psikologi Unpad dengan Psikologi di PTN lain yang jalurnya IPS?” dari mahasiswa-mahasiswi baru yang baru lolos SNMPTN, SBMPTN, atau seleksi apapun namanya.

Selama jalur masuk Psikologi Unpad adalah jalur IPA, niscaya pertanyaan semacam itu tak akan lekang oleh waktu.

Sejujurnya, saya belum memiliki jawaban yang bisa menjelaskan. Biasanya, paling banter saya menjawab, “Oh, iya di Psikologi Unpad kita pakai perspektif Biopsikologi.” Lalu kabur karena tidak tahu harus jawab apa kalau yang bertanya meminta penjelasan lebih lanjut. Misalnya pertanyaan, “Biopsikologi itu apa?”, “Lho di UI juga ada tuh matkulnya?”.

Namun kalau boleh berbagi sekelumit sudut pandang saya yang telah sedikit terwarnai lima tahun ke belakang oleh ilmu yang kata orang banyak disusupi oleh agenda Zionis ini, jawabannya ada dua :

Pertama, saya belum pernah ikut kuliah di kampus lain jadi saya tidak tahu. Jika Anda penasaran, jawabannya bisa Anda peroleh dengan cara mengikuti kuliah Psikologi di beberapa tempat sekaligus.

Kedua, tidak perlu mencari tahu apa bedanya, karena Anda tidak membutuhkan itu untuk jadi seorang sarjana psikologi.

Karena, pada dasarnya, IPA dan IPS lebih seperti istilah pembeda saja menurut saya. Tidak berarti Anda tidak belajar Ilmu-ilmu sosial di Psikologi Unpad, tidak juga berarti Anda tidak belajar ilmu eksakta di Psikologi kampus lain yang berjalur IPA.

Psikologi adalah ilmu tentang manusia. Psikologi bertujuan untuk mempelajari perilaku manusia dan proses mental yang melatarbelakangi perilaku tersebut. Sejak manusia adalah makhluk hidup yang punya unsur biologis, maka Psikologi menaruh satu kacamatanya di sudut pandang Biopsikologi. Sejak manusia adalah makhluk sosial, maka Psikologi menaruh satu lagi kacamatanya di sudut pandang sosial, dan seterusnya. Keduanya tidak bisa dipisahkan oleh istilah IPA dan IPS. Sebab, memandang manusia harus utuh.

Bahkan bidang kajiannya sangat luas. Saya pernah mengikuti kelas psikologi politik, psikologi kerekayasaan (ergonomika), psikologi kewirausahaan, semua itu area sosial.

Jadi menurut saya. sebenarnya tidak ada sekat yang jelas antara IPA dan IPS di Psikologi. Bahkan sekat itu tidak perlu ada. Bahkan menurut saya sekat itu tidak perlu diada-adakan sejak SMA :(

Meski demikian, bukan berarti Psikologi Unpad tidak punya alasan khusus dibalik jalur masuknya yang hanya memungkinkan bagi peserta IPA (baik di jurusan kelas atau pilihan SNMPTN). Mungkin karena Fakultas mengharapkan output tertentu yang “karakternya” selaras dengan “karakter” jurusan IPA? Soal ini, dosen-dosen lebih paham untuk menjawab.

Namun, saya hanya membagikan pengalaman dan opini saya yang dulu pun bertanya-tanya “Kenapa jalur masuk Psikologi Unpad IPA?” lalu menemukan bahwa lewat jalur IPA maupun IPS, Psikologi adalah ilmu perilaku manusia yang tidak bisa dikotak-kotakkan berdasarkan bidang eksakta atau sosial.

So yeah, I guess everyone’s been talking and/or congratulating each other and/or motivating each other not to give up due to SBMPTN result which came out just now. It’s been a year and I apologize in advance for writing such thing in tumblr (not in the mood with blogger.).

My mind goes back to a year ago. I took IPC (Crossover they said hahaha) on SNMPTN, and I almost didn’t fill my 3rd choice of PTN because I’m plin-plan and stuffs and I actually just couldn’t decide/figure out what I actually want. But then I chose to decide to fill it. And when the result came out, the Universe creator put me in that 3rd choice. The farthest University.

I Thank God ofcourse. But then I sort of feel like, I don’t know, regret? like “I could’ve done more than this.” or “Maybe I didn’t push hard enough” and stuffs like that. My dad was at Jambi getting some works to be done, and a little part of me died when he called and asked about my result. He was okay though. He just want me to do what I want to do. He never push me to be accepted in certain uni/certain major, or to pick uni around Jakarta only, or anything. I love him so much all I want to do is making him proud. As proud as possible. This @ArmorOGod tweet things that summed up how  I felt. “God let me accept the things I cant change, courage to change things I can & the wisdom to know the difference.”

Time goes by and here I am. It was rough at first, you know, being away from my family. Spent the first two weeks of my college life crying, praying and asking “why”, and being mellow everytime I was alone with no distraction, or when my family members called. But this one year has been so very awesome. Lots of experiences, learning new things, meeting new people, making some friends, new city that turned out so beautiful and livable(lol, my major thing),bonding with my Opung jauh(my Grandpa’s cousin)(whose kids and grandkids are so awesome and succesful) (like seriously).  I just can’t Thank God enough for his superbmazing plans which is beyond my expectation. I still have the thought to start over in other uni though (economic major, probably. my skill to be in ITB has gone and my brain is freezing for stuffs I used to be -kind of- good at).I just can’t help to imagine my self asking my dad to spend another amount of money for me enrolling in other University. So now that admission period is done, all I can do is Thank God for where I am right now, because I believe things happen for reasons.You may not always end up where you thought you were going, but you will always end up where you were meant to be.

nggak SNMPTN, nggak SBMPTN, tetep aja saingannya edan-edananan ya ._.

tapi nggak apa-apa, hidup itu emang sebuah tantangan. kalau nyalinya keburu lembek diluan sebelum mencoba, bukan hidup namanya!

hasil itu cuma hadiah, tapi proses adalah penghargaan sebenarnya!

semangaaaaat!!!!!

Inequality

First, a question: are we looking for an equality/justice? Equality equals to justice i guess…

Hari ini adalah hari pengumuman sbmptn. Saya menemukan ungkapan menarik dari web yang akhir akhir ini sering saya buka, 1cak :v

“Di saat 1 orang sujud syukur, ada 10 orang lain di luar sana yang sedang menangis.”

Situasi di atas tidak jauh berbeda dengan saat pengumuman snmptn. Anehnya, banyak orang yang “loncat” ke pilihan pilihan yang lainnya dan melepas raihan yang banyak orang tidak dapat menggapainya. Anehkah??

Untuk orang yang belum diterima di PTN/sejenisnya, mungkin mereka akan sangat menyayangkan kelakuan orang orang “loncat” di atas. Syukur diterima kok malah dilepas?? Mayoritas itulah alasan utamanya.

But, tapi.. Dari sudut pandang si anak “loncat”, juga mungkin tidak ada masalah. (saya menulis banyak ‘mungkin’ karena saya tidak berada di situasi yang disebutkan di atas) Mengapa?

Let’s talk about equality = keadilan. Apakah kita ingin meraih keadilan?? The fact is, we don’t. “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” itulah yang sedang terjadi, serta adanya “globalisasi” sebagai katalisatornya.

Memang, untuk yang ada di bawah, kebanyakan mereka tidak mempunyai banyak pilihan. Mereka 'terpaksa’ untuk menjalani sesuatu yang sering kali bukan merupakan comfort zone mereka.

Tapi, untuk yang ada di atas, mereka mempunyai banyak pilihan. Masing masing pilihan mempunyai plus minus nya masing masing yang pasti juga dipertimbangkan dalam mengambil keputusan.

Tak dapat dihindarkan, terkadang pilihan yang diputuskan mereka yang ada di atas menimbulkan kerugian bagi mereka yang ada di bawah.

Sangat sangat sukar untuk mencari jalan tengah dalam situasi seperti ini karena masing masing pihak mempunyai keadaan dan kepentingan yang berbeda beda.

Tulisan ini hanya merupakan buah pikiran belaka, bukan bermaksud untuk menyinggung atau melukai hati salah satu pihak. Thanks dor reading :D

Semoga bermanfaat!

ini kisahku, mana kisahmu?

sungguh, Allah tak akan pernah membiarkan doa-doa hambanya menggantung di langit tanpa diberikan jawaban.

Allah Maha Baik. hingga detik ini aku masih belum sepenuhnya percaya pada kenyataan yang terjadi hingga detik ini. aku jadi mahasiswi. alhamdulillah wa syukurillah.

masih inget banget, aku ikutan try out dan open house ITB di Regina Pacis Bogor. pas aku kelas 11 dan 12. saampe-sampe aku punya kenalan kakak kelas yang sekarang udah semester 3 di FTI ITB :“”) pas acara open house nya juga aku coba aktif bertanya di kelas FTI. rasanya di bayangan udah mateng banget bakalan jadi engineer, apalagi jadi engineer physics. terinspirasi jadi engineer dari acara tv DW Indonesia: Inovator. pasti hebat banget kalo jadi engineer, bisa buat robot, beragam jenis mesin, dan sejenisnya. ha ha ha itu yang ada di pikiranku saat itu.

masih inget banget, pas pendaftaran SNMPTN, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa pilihanku ini yang terbaik yang telah Allah pilihkan. dan aku coba menguatkan diriku atas komentar banyak orang yang mungkin merasa terlalu tinggi atas pilihan PTN yang aku ambil. aku percaya Allah selalu melihat usaha hambaNya.

masih inget banget, ikut bimbel tiga hari dalam seminggu, dari sore sampe isya sejak semester 2. ketemu banyak temen dari berbeda SMA. bertukar kegalauan atas pilihan SNMPTN hingga SBMPTN. sampe-sampe pada curhat ke mbak/mas yang ngajar di kelas pas lagi belajar. pertemanan di kelas kami terlihat lebih dekat dibanding kelas les yang lain. kurang lebih seminggu sebelum UN, setelah jam les berakhir, kita masih diskusiin sesuatu. hingga pengumuman SNMPTN, beberapa ada yang tidak melanjutkan karena mereka diterima, tapi banyak yang melanjutkan les, termasuk aku, sampai 2 hari menjelang SBMPTN.

masih inget banget, aku nangis di kamar pas buka pengumuman SNMPTN kemarin. tapi nangisnya diem-diem, biar nggak ketahuan ayah ibu. mungkin Allah masih pengen liat usahaku buat dapetin ITB lewat jalur tulis atau SBMPTN. batinku.

masih inget banget, udah ikut try out di bimbel berkali-kali, ikut sanggar juga di bimbel, sampe ikut try out di luar tempat bimbel.

masih inget banget, pas tes SBMPTN, aku mencoba buat se-rileks mungkin. tetap fokus tapi tenang. dan aku kebagian kursi di paling depan. alhamdulillah, setidaknya ada yang bisa aku kerjakan untuk mata pelajaran Saintek. pulang dari tes SBMPTN, perut dilanda rasa sakit yang luar biasa. alhamdulillah bisa sampe rumah dengan selamat.

masih inget banget, aku nekat untuk ikut SIMAK UI. hahaha, udah tau soal-soal SIMAK UI itu berkali-kali lipat lebih sulit dari SBMPTN. gimana mau bisa ngerjain SIMAK UI kalo soal SBMPTN aja masih banyak yang aku nggak bisa. tapi kata ayahku, dicoba aja, siapa tahu emang jodoh. pas tes, kakak pengawas dari UI yang bertugas di ruanganku muter-muter di barisan belakang, dan aku emang kebagian di barisan paling belakang. kan tes dibagi dua sesi, Kemampuan IPA dan Kemampuan Dasar. nah, dua kali juga kakak itu nggak sengaja kesandung kaki kursiku. seketika aku diem, langsung tegang. dan nggak bilang minta maaf gitu pas udah beres tes. tapi cuma bilang makasih doang tiap aku ngasih lembar jawaban dan soal *ciyeee. pas lagi pulang dari tes SIMAK UI, semua soal yang dikerjakan tiba-tiba menguap, terlupakan.

masih inget banget, pas pengumuman SBMPTN, aku coba tetap tenang sebelum membuka. dan hari itu masih puasa Ramadhan. bismillah, jam 5 sore aku cek. pas dicek…..jreng jreng jreeeeeeng……aku belum lolos :“”) sakit hati? iya. kecewa? iya. pengen nangis kejer? iya. aku langsung meluk ibuku. dan aku terus-terusan nangis sampe jam 9. itu juga udah mulai berkurang. dapet banyak sms dari temen-temen, “rainy gimana, lolos nggak?”. aduh sakit hati banget ya mau balesnya. tapi mau  gimana lagi atuh. harus bisa bersyukur atas segala pemberian Allah.

ibu bilang, “Kak, Allah masih sayang sama kakak. mungkin tahun ini bukan ITB tempat yang terbaik buat kakak belajar. yang belum lolos nggak cuma kakak seorang, ratusan ribu kak yang belum lolos juga. sabar ya”. dan aku cuma bisa jawab dengan anggukan, tapi tetep nangis di pelukan ibuku. aku bilang berkali-kali, “tapi bu, peluang ITB tahun ini udah habis, udah nggak ada lagi buu, udah nggak ada kesempatan tahun ini buu..”. pas ayahku pulang juga gitu. setiap aku masuk kamar, pasti akan terlihat tulisan gede mencolok berwarna-warni, “be mine, FTI ITB 2014” dan tulisan yang ada di hadapan kasurku yang setiap bangun atau mau tidur pasti kebaca, “2014 : jadi mahasiwi Fakultas Teknologi Industri ITB”. dan aku nggak bisa buat tahan nangis. aku masih belum bisa menerima dan merelakan

masih inget banget, aku sedih pas ternyata aku nggak jadi ikut UMBPT. ya pokoknya ada deh ceritanya. di pikiranku, “ya udah aku harus terima kalo tahun ini aku harus nggak kuliah, aku harus ke Pare Kediri, atau kuliah di swasta”.

aku udah nyerah banget. temenku ada yang udah diterima di IPB, di UGM, di UNDIP, di UI, di UIN JKT, di UNJ, di UNMUL, ya banyak deh. nggak terpikir untuk ikut ujian mandiri manapun. mungkin udah takdir Allah ya, akhirnya aku ikut PENMABA UNJ. sebenernya udah nyerah di titik terendah, pesimis, pasti saingan ujian mandiri banyak banget. dan ternyata pas selesai ujian, ada kabar bahwa peserta PENMABA UNJ kurang lebih 7-8 ribu. ya Rabbi, aku makin pesimis aja.

masih inget banget, pas pengumuman PENMABA UNJ, aku tuh yang nggak terlalu mikirin, nggak terlalu berharap. pokoknya udah mencoba menguatkan hati deh. kan pengumumannya pagi. tapi pagi-pagi ibuku berinisiatif untuk mengajakku ke Tanah Abang, belanja baju buat stok di toko keluarga hehehe. aku sampe lupa sama pengumumannya. sampe rumah, kira-kira siang. aku emang nggak niat nge-cek. dan kebetulan, pulsa modem belum terisi. hingga sore jam 5 an, ayahku yang masih di kantor sms, “kak gimana hasilnya?” dan nggak ada balasan sama sekali. pikir ayahku, aku nggak lolos dan lagi nangis-nangisan sama ibuku sampe akhirnya nggak berani buat ngabarin ayahku. dan ternyata, selama seharian itu, ayahku yang masih dikantor deg-degan luar biasa. singkat cerita, aku ngasih nomer pendaftaran dan ayahku yang buka di kantor. jreng jreng jreeeeeeeng, alhamdulillah wa syukurillah. aku diterima. ayah sampe berkali-kali me-refresh halaman web itu, “beneran anakku diterima?” sampe ibuku bilang, “kakak siap kan jadi guru fisika?”. aku mengangguk pelan, (mencoba) menyetujuinya.

dan sekarang, aku di sini, di kampus green jacket, di kampus pendidikan sekaligus kampus perjuangan, di UNJ. memang, melepaskan impian yang udah kita harapin banget, udah usaha banget untuk kita dapetin, itu emang susah. tapi seiring waktu berlalu, aku udah mulai bisa move on *eaaaa.

mungkin, aku akan tetap bisa jadi peneliti yang bisa ke Jepang dan Jerman suatu hari nanti. kan banyak jalan menuju Roma hehehe.  jadi guru atau dosen yang ideologis, yang selalu istiqomah berada dijalan Allah. yang semakin banyak mendapat ilmu, akan semakin tunduk pada Allah.

untuk teman-teman seperjuangan yang belum berstatus mahasiswa/i, nggak boleh patah semangat ya. aku pernah kok ngerasain kecewa seperti kalian. sakit hati kan dapet kata ‘maaf’ terus tiap liat pengumuman? harus kuat ya, nggak boleh minder :“)

maksimalkan waktu yang kalian punya. semoga kita semakin bertambah kadar keimanan kita kepada Allah, semakin yakin bahwa rencana Allah pasti indah. semangat untuk semuanya, yang udah jadi mahasiswa ataupun yang belum :)

kan yang Allah liat itu kadar ketaqwaan kita :)

Halo Angkatan 2014!

Hari ini pengumuman hasil SNMPTN 2014. Saya yakin banyak dari kalian yang seneng, speechless, sampai sedih dan depresi.

Buat yang udah diterima, saya ucapkan selamat! Semoga kalian benar benar diterima di PTN dan jurusan yang kalian suka dan juga layak untuk kalian. Buat yang belum diterima, jangan patah semangat. Kalian masih punya kesempatan buat buktiin kalau kalian itu sama layaknya bahkan LEBIH untuk diterima di jurusan yang kalian mau dibanding mereka yang keterima lewat jalur undangan. Jujur, yang keterima lewat jalur tes tulis AWESOME. I ADORE YOU TO THE MOON AND BACK.

Bro, Sis, perguruan tinggi bukan hanya sekedar gengsi. Diterima di PTN unggulan. Diterima di jurusan favorit. Ini itu “next step” buat raih cita cita kalian. Ini juga “another thing” yang menentukan hidup kalian. Apa kalian mau menyesal untuk kedua kalinya memilih jurusan yang salah? Mati-matian belajar IPA karena mengagungkan gengsi tapi pada akhirnya memilih jurusan IPS di perguruan tinggi. IPC masih mending.Buat apa kalian kuliah sastra tapi pada akhirnya kerja di bank jadi teller selain biar dapet gelar S1? Apa kalian mau mati-matian belajar buat hal yang kalian gasuka? Banyak contoh yang sekarang menyesal dengan apa yang udah mereka ambil tanpa melihat ke dalam diri mereka sendiri.

Cita cita boleh tinggi. Gak ada yang larang. Tapi tolong. Coba liat diri sendiri. Apa kamu layak dapetin itu dengan kamu yang kaya gini? Apa kamu layak dapetin FKG dengan nilai rapot rata-rata 80,9? Apa kamu layak dapetin Hukum hanya karena kamu mau itu? Kamu gabisa ngandelin semuanya sama KEAJAIBAN dan KEBERUNTUNGAN. Hey! Wake up, Dude!!!

Satu satunya cara buat raih mimpi kamu, BANGUN DARI MIMPI KAMU!!!

Hadepin realita yang ada. Gausah lari. Coba liat cita-cita kalian. Bandingkan sama kalian sekarang. Kalau kalian ngerasa layak buat dapetin cita-cita itu, BUKTIIN!!!

Bahagia yang kurang lengkap itu ketika kamu lulus sementara temanmu tidak. Terasa ada yang mengganjal ketika kamu tersenyum sementara mereka meyimpan kecewa dalam hati. Ingin menghibur tapi entah kata apa yang paling tepat diutarakan karena kamu tahu persis bagaimana rasanya ketika berada di posisi mereka :’(
(Mengkhianati) Mimpi

Suatu hari, saya pernah merasa telah mengkhianati mimpi saya sendiri. Tapi hari ini saya menyadari bahwa keputusan untuk memilih yang lain saat itu adalah cara Allah membelokkan perjalanan saya ke rute-rute lain yang nyatanya menumbuhkan dan mendewasakan sedemikian rupa.

Ingatan saya melompat ke momen pengumuman ujian SNMPTN beberapa tahun lalu. Saat itu, saking takutnya menghadapi kekecewaan, saya meminta orang lain untuk mengecek pengumuman kelulusan. Tanpa diduga, ternyata saya lulus! Sebuah universitas negeri yang cukup ternama di timur pulau Jawa ternyata menerima saya sebagai salah satu (calon) mahasiswanya di Fakultas Teknik dengan jurusan Teknik Sipil. Betapa bahagianya saya, sebab selain merasa telah mewujudkan mimpi pribadi, saya juga merasa telah membuka gerbang untuk mewujudkan mimpi nenek saya agar seorang cucu perempuannya ini menjadi engineer.

Tak hanya itu, bayang-bayang tentang Dubai Palm Island yang pernah menjadi pemicu belajar saya pun seolah menari-nari di dalam imajinasi. Meski nyatanya ada orang-orang yang tidak percaya pada saya karena saya dipandang sebagai seorang perempuan yang tidak mungkin bisa hidup di lingkungan penuh batu, semen, kerikil, jalan, jembatan, dan lain sebagainya, tapi dengan penuh percaya diri, saya berkata, “Someday, I will make something kinda Dubai Palm Island as my dreaming island.” Di waktu yang hampir bersamaan, banyak pesan masuk ke ponsel saya dan juga ke notifikasi media sosial berisi ucapan selamat karena telah berhasil mencapai mimpi yang diinginkan. 

Dunia seperti sedang berpihak kepada saya, tapi ternyata itu tidak berlangsung lama.

Beberapa hari setelah selebrasi dan kebahagiaan itu terjadi, sesuatu terjadi di keluarga saya hingga memporak-porandakan kebahagiaan itu menjadi ceceran-ceceran kebingungan. Panjang ceritanya, sepanjang ingatan saya yang masih selalu baik tentang kejadian itu. Tapi intinya, saat itu, di usia saya yang menginjak 17 tahun, saya perlu berhadapan dengan sebuah keputusan penting: mengejar mimpi dan meninggalkan keluarga dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk ditinggalkan, atau tetap tinggal dan memasang badan untuk berjuang dengan cara yang lebih mungkin bisa untuk menenangkan keluarga. Lalu, setelah perdebatan yang hebat di dalam diri, akhirnya saya pun memilih yang kedua.

Saya menangis dalam waktu yang lama sebab merasa telah mengkhianati mimpi yang telah digenggam. Ibaratnya, saya telah melakukan usaha yang sangat panjang untuk membangun bata-bata hingga menjadi tembok yang tinggi, lalu kemudian saya menendangnya dengan sekali hentakan hingga semua hancur berantakan. Ya, saya melepaskan apa yang telah digenggam, bahkan hanya dalam hitungan hari. 

Tanpa diduga, ucapan-ucapan selamat dari banyak orang berbalik menjadi lontaran-lontaran kecewa. Satu yang masih saya ingat, datangnya dari seorang teman yang saya lupa siapa tepatnya, katanya, “Lo jahat, Nov! Lo engga tau ada anak-anak di penjuru Indonesia lainnya yang menangis karena posisi yang mereka inginkan udah lo tempati. Terus sekarang, lo ngelepas gitu aja? Gue engga paham! Ini kan yang selama ini juga lo perjuangkan, terus gini nih cara mengapresiasi perjuangan?” Hati saya hancur mendengarnya, tapi saya tidak merasa perlu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Hingga sekarang, hal ini ternyata menjadi yang paling hebat dalam mengajarkan saya bahwa tidak semua hal yang terjadi di hidup saya perlu saya jelaskan kepada orang lain.

Beberapa waktu kemudian, tanpa pernah saya rencanakan sebelumnya, saya justru belajar dan menceburkan diri di dunia Psikologi; sebuah dunia dimana saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi bagian daripadanya. Wajar kiranya jika di bulan-bulan pertama saya merasakan kaget yang luar biasa karena adanya materi-materi dalam bahasa Inggris, text book tebal-tebal yang perlu dilahap habis, konsep pemikiran yang sulit saya kejar, dan hal-hal lainnya yang membuat saya beradaptasi besar-besaran. Tapi, Allah memang Maha Memampukan dan Maha Memudahkan, hingga akhirnya saya tidak hanya melakukan adaptasi, tapi akselerasi yang mengejawantah menjadi prestasi-prestasi. Maa syaa Allah. Tabarakallah.

Saat menjalani hari-hari kemudian di Psikologi, saya menjadi bahagia, sebab ternyata saya seperti menemukan diri saya dan menemukan apa yang sebenarnya ingin saya lakukan. Lalu, saya merasa bersemangat di hampir setiap kesempatan bertemu pasien, lega jika telah mendengarkan orang lain, dan bahagia jika bisa mendampingi banyak orang belajar di lingkaran-lingkaran kecil di sudut-sudut lorong fakultas. Saya tentu tidak lupa pada Dubai Palm Island, tapi saya merasa baik-baik saja meski tidak ada di dunia yang sama seperti apa yang dulu pernah saya impikan, pernah saya citakan.

Pun hari ini, saat semakin banyak hal di dunia Psikologi yang berkelindan di dalam diri dan lingkungan saya, saya jadi bersyukur, sebab Allah telah membelokkan saya pada lebih banyak kesempatan baik. Meski tak lepas dari kesulitan dan tantangan, saya sadar bahwa inilah cara Allah untuk membuat saya bertemu dengan misi spesifik hidup saya, yang setiap orang berbeda-beda dalam kepemilikan dan perwujudannya. Saya pun memaafkan diri sendiri sebab nyatanya saya tidak sedang mengkhianati mimpi, hanya sedang berbelok mengikuti arah yang lebih nyata di depan mata sebab ia ditunjukkan oleh-Nya.

“ … Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Atas hal lain yang Allah belokkan perjalanannya sehingga mungkin tak sesuai dengan apa yang pernah saya impikan sebelumnya, semoga Allah senantiasa memudahkan saya untuk berlapang dada menerima ketetapan-Nya dan membahagiakan saya dengan apapun yang menjadi keputusan-Nya. Semoga ini, untukmu juga ;)

On Inner Child & Self-Compassion

Beberapa waktu lalu aku gak sengaja menemukan tweet ini. Entah berapa menit mikir dan aku sadar mungkin ini masalah terbesarku. Mungkin juga ini masalah terbesar kalian semua.

Aku punya perjalanan panjang soal masalah itu. Semua bermula dari kebiasaan menjadi terlalu keras sama diri sendiri. Sejak kecil, perkembanganku dalam calistung jauh di atas temen-temen seusiaku. Aku masuk TK dalam keadaan udah bisa nulis dengan susunan huruf yang sangat rapi, baca Iqra juga cepet banget naik tingkat, masalah hitung-hitungan dasar juga aku nggak masalah. Mungkin itu karena latar belakang ibuku yang ngerti dasar-dasar pendidikan usia dini. Jadi, aku sangat terfasilitasi soal itu.

Sampai aku masuk SD, aku hampir selalu juara kelas. Ketika SMP, aku nggak juara lagi karena kebetulan sekolahnya termasuk sekolah RSBI yang bagus, jadi persaingannya memang jauh lebih tinggi. Untungnya, aku sempet menang dua kali olimpiade IPS tingkat kota. Itu juga yang jadi tiketku masuk SMA tanpa harus tes. Di SMA, aku bersyukur juga selalu masuk tiga besar. Di akhir pun bisa menyabet juara umum. Orangtuaku diundang ke acara kelulusanku, aku dikalungi medali sama kepala sekolah. Aku lakukan itu semua karena dari sejak usia 13 tahun aku tahu aku mau masuk UI, dan aku sadar aku bukan orang yang pinter dari lahir. Aku gak sekaliber anak-anak akselerasi, anak olimpiade matematika, atau yang udah ke luar negeri karena ini itu. My goal is only to work harder than anyone. That’s it. Sampai akhirnya aku nggak lolos SNMPTN ke UI, lalu aku berjuang buat SIMAK sampai akhirnya diterima di UI.

Tapi masuk kuliah, apalagi di UI, itu baru awal dari perjalanan akademik yang suasananya jauh lebih berat.

Aku bersyukur aku kuliah di bidang yang aku memang sukai, nggak kebayang kalau aku masuk MIPA, Ekonomi, Kedokteran, apalagi Teknik. Dari awal sebenarnya Dosen PA-ku udah mengingatkan “Semua orang di sini pinter-pinter dan ‘haus’, jadi ketika kamu ngelihat orang lain berhasil, bukan berarti kamu gagal.” Cuma sayangnya ternyata nggak gampang praktekkin itu.

Di perkuliahan aku sadar berprestasi tuh gak segampang punya nilai tertinggi atau menang lomba. Mau IP cum laude? Di sini yang IPK 4 juga ada. Mau menang lomba? Di sini udah bertebaran, kita nggak ada apa-apanya. Aku sempet ngerasa nggak berguna karena aku nggak kaya temen-temenku yang menang lomba debat, ikut MUN, juara cerdas cermat, konferensi ke luar negeri. Orang nggak tau aja berapa kali aku submit esai dan selalu gagal, berapa kali aku diam-diam apply sesuatu dan hapal mati dengan kalimat “We’re unfortunate to inform you that we received a lot of applicants….” lagi dan lagi. Atau berapa kali aku apply magang di tempat yang aku inginkan dan nggak dapet juga. Aku sempet ngerasa aku ini sampah. Itu semua karena aku menjadikan parameter akademis sebagai identitas aku.

Kalau dirunut lagi, ketika masih SMP-SMA dulu, aku rela mengorbankan banyak tenaga dan waktu bukan hanya karena aku pengen kuliah di UI. Tapi, karena aku juga punya masalah-masalah sosial yang aku nggak tahu gimana nyelesainnya. Mulai dari masalah pertemanan, aku selalu jadi tempat cerita banyak orang, tapi justru sulit buatku untuk menemukan orang yang tepat untuk jadi teman berbagi. Konsekuensinya, aku ngerasa burn out, nggak fit in. Dan ketika aku berusaha mengkomunikasikan ke teman-temanku, aku justru kehilangan mereka karena mereka enggan cerita lagi dengan alasan takut membebani. It was a backfire for me anyway.

Di sisi lain, ketika ada masalah dengan dunia relationship, crushes, you name it, aku juga menjadikan akademik sebagai pelarian. Aku nggak mau lihat orang itu di sekolah, ya aku ikut lomba yang mengharuskan aku banyak ke luar sekolah. Jadi itu nggak sepenuhnya termotivasi niatku buat achieve sesuatu, tapi juga secara parsial untuk menghindari sesuatu. Aku bahkan sempet mikir “Your education will never wake up and tell you it doesn’t love you anymore.” dan “Nggak seperti pacar dan temen, prestasi kamu nggak akan pernah ninggalin kamu.”

Sampai akhirnya ketika aku kuliah, aku pernah ada di fase merasa nggak punya siapa-siapa. Tentunya aku kenal banyak orang. Aku ikut banyak kegiatan. Tapi, semua pesan yang masuk ke ponselku isinya orang-orang yang nagih “Han udah kerjain ini belum?” “Han jangan lupa ya nanti kita meeting blabla.” Meski semuanya akhirnya aku jalani dengan baik-baik aja. Aku mikir, “Gimana ya, kalo aku bener-bener nggak punya kemampuan apa-apa? Gimana kalo aku nggak bisa apa-apa? Apa mereka masih akan nyari aku?” Tentunya nggak. Aku sadar aku nggak punya orang yang menerima aku apa adanya. Adanya orang yang butuh sesuatu, atau kagum doang sama kelebihanku. Kalau itu semua hilang terus gimana?

Dari momen itu aku mulai ngerti aku selama ini salah menentukan prioritas. Bukan sih, lebih tepatnya kurang memberi porsi kehidupan sosialku untuk aku perjuangkan. Orang-orang seperti teman, sahabat, dan relationship partner, atau bahkan keluarga. Dan sadar atau nggak, namanya perusahaan, organisasi, semua itu nggak butuh kita. Kalau suatu hari nanti kita nggak bisa ada di sana, mereka akan dengan gampangnya cari orang lain. Tapi, orang-orang yang menganggap kita significant other yang mereka punya, nggak akan pernah menemukan orang lain yang lebih kita daripada kita.

Yang jadi concern lain juga, di dalam diri kita akan selalu ada sosok diri kita yang kekanak-kanakkan yang ingin diterima seutuhnya, didengarkan, dan itu manusiawi. Upayaku buat menang ini itu hanya untuk menghindari fakta itu.

Aku sadar aku nggak fit in karena aku nggak belajar menerima bahwa pertemanan tuh emang nggak sempurna. Ya ada pertemanan yang hanya buat hura-hura. Ada pertemanan yang harus buat support untuk jangka panjang selama bertahun-tahun. Aku juga menolak belajar bahwa cinta tuh sebetulnya baik. Sampai lebih dari 5 tahun aku ngerasa romantic relationship bukan bidang yang worth it untuk jadi tempat aku menginvestasikan pikiran dan perasaanku. Tapi yaa itu semua salah.

Semua itu salah ketika aku sadar aku sendiri, I mean figuratively.

Kalau mau ngejar kemenangan, ya nggak akan ada habisnya. Kalau mau ngejar jabatan pun begitu, itu nggak akan pernah ada ujungnya. Ya nggak salah, tapi ketika kita menjadikan itu sebagai tolok ukur berharga tidaknya kita sebagai manusia, itu udah lain cerita.

Akhirnya, momen yang aku hargai banget sekarang adalah hal sesimpel ketika ketemu sahabat lamaku yang mungkin cuma satu dua jam untuk catch up. Sesimpel nemenin bapak belanja buah rutin sejak bapak sakit, dan bersyukur bapak mengizinkan aku milihin buah yang bagus (meski aku yakin beliau tahu aku nggak jago milih buah). Sesimpel membuka kesempatan untuk satu orang yang mau belajar sayang sama aku meski aku juga masih belajar untuk sayang dengan diriku sendiri. Well, cheesy things like that.

Karena aku nggak lagi ngelihat hubungan sosial sebagai hubungan aja, sebatas kamu kenal, lalu udah. Itu semua lifetime happiness yang aku pilih. If you lose a competition or a job, you are losing something. But if you lose someone, you may be losing the love of your life, you may be losing your biggest emotional investor and biggest supporter. Friends, lovers, family. You may never get them back.

Aku masih berkutat dengan pikiran-pikiran bahwa aku nggak berharga dan nggak punya pencapaian. Masih ada loh anggapan-anggapan di kepalaku yang menjatuhkan diri sendiri tiap kali punya ide yang mungkin sebetulnya potensial. Bahkan ketika aku nulis ini, masih ada pikiran “Ya elah siapa juga yang bakal baca,” “Apa sih, drama banget.” dll yang bermunculan. Tapi ya mau nggak mau itu semua harus aku lawan. Setidaknya ketika kita mengizinkan orang untuk peduli, menghabiskan waktu dengan kita, kita juga mengizinkan diri kita untuk peduli dan menyayangi diri kita sendiri. And as time goes by it’ll feel nice.

Tengok kanan kiri kamu. Kasih apa pun yang bisa kamu kasih. Terima juga pemberian orang. Dengarkan sebanyak yang kamu bisa. Tapi belajar juga untuk bicara. Bangun attachment dengan selektif. Kamu harus hati-hati. Tapi jangan juga membangun dinding setinggi itu.

Karena kadang kita lupa orang yang paling jahat sama kita justru diri kita sendiri.

Dan cara untuk membuktikan bahwa kita layak disayangi…adalah dengan mengizinkan diri kita disayangi.

“Kamu mau gak masuk kampus terbaik?”
“Mau.”
“Udah nyiapin apa aja emangnya?”
“Udah belajar 3 tahun, ini lagi fokus bimbel sama try out buat SNMPTN.”

“Kamu mau gak kuliah keluar negeri?“
“Mau.”
“Udah nyiapin apa aja emangnya?”
“Alhamdulillah IPK aku tinggi, tapi score IELTS masih 5. Ini masih ikutan les IELTS biar bisa 6.5 minimal.”

“Kamu mau gak masuk perusahaan BUMN atau multi national company?“
“Mau.”
“Udah nyiapin apa aja emangnya?”
“Alhamdulillah udah lulus. Ini lagi banyak-banyak belajar psikotes, pendalaman ilmu yang relevan, sama sering-sering apply dan ikutan tes.”

“Kamu mau masuk surga gak?”
“Mau bangetlah!”
“Udah nyiapin apa aja emangnya?”
“Hmm……”
“Hmm……”
“Hmm……”

Untuk dunia seringkali bergegas niat dan usaha. Untuk akhirat seringkali tak sejalan antara usaha dengan niatnya. Padahal akhirat lebih kekal dari dunia yang fana.

Sbmptn

Malam ini kupastikan banyak sekali orang-orang yang resah, gundah, galau, khususnya untuk siswa kelas 3 SMA yang sedang menunggu hasil dari ikhtiarnya kurang dari sebulan yang lalu.

Besok, hasil SBMPTN akan diumumkan. Besok adalah penentu masa depan sekian banyak orang.

Aku memang tidak merasakan momen resah, gundah, galau itu. Karena memang aku tidak tertarik apalagi jurusanku yang tidak mendukung untuk ikut snmptn.

Tapi aku melihat dan sedikit banyak paham ketika ada beberapa teman-temanku yang belum berkesempatan untuk kuliah di tahun yang sama denganku. Iya, rasanya memang menyesakkan. air mata tak bisa bohong.

Dan hari ini beberapa teman dekat, adik kelas, mengutarakan kegundahan mereka padaku. Takut gak diterima. Nanti kalo gak diterima mau ngapain. Mau kemana.

Aku tidak bisa semudah itu bilang ‘ikhlas’ karena rasanya memang sulit.

Tapi aku bilang kepada mereka bahwa sbmptn bukan penentu finish hidup kalian. Dengan tidak keterimanya sbmptn, apa hidup kalian juga akan berakhir? Tentu saja tidak. Karena kata paulo cuelho rahasia kehidupan adalah jatuh tujuh kali dan bangun delapan kali.

Justru ini adalah langkah awal perjuangan baru untuk menemukan kehidupan kalian sebenarnya.

Tetap berbaik sangka pada Allah. Selalu percaya bahwa setiap keputusan Allah tidak akan mengecewakan hambaNya. Yakin setiap rencanaNya adalah yang terbaik untuk kita.

Karena bisa jadi apa yang kamu anggap baik, buruk bagi Allah. Dan apa yang menurut Allah baik, buruk bagimu.

Apapun hasilnya nanti, untuk yang mendapat kabar baik, barokallah! Jangan berbesar hati. Lakukan yang terbaik. Banyak bersyukur kepada Allah.

Dan untuk yang masih belum rezekinya, mungkin Allah masih rindu dengar doamu di sepertiga malam. Boleh sedih, tapi tidak membuatmu terpuruk. Harus cepat bangkit dan cari kesempatan-kesempatan lain.

Percayalah, skenario Allah itu Indah.