SNMPTN

tak ada yang sia-sia, kawan. sungguh tak pernah ada yang sia-sia.

Tiba-tiba ingatan saya melayang ke salah satu momen penting dalam hidup saya, setahun yang lalu. Sudah tertebak, kan? Benar. Apalagi kalau bukan SNMPTN—yang sekarang disebut SBMPTN.

Saya dulu sama deg-degannya seperti kalian. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, dan semua hal membuat muak. Sesak.

Ah iya, dulu pun, sore setelah pengumuman kelulusan dan coret-coret seragam di (samping) sekolah, pengumuman SNMPTN undangan akhirnya keluar. Saya, beserta beberapa teman saya—selepas tertawa segirang mungkin—pergi ke warnet yang lumayan dekat dari sekolah. Berharap yang terbaik, persiapkan yang terburuk. Prinsip yang selalu saya coba ingat-ingat dan tanamkan selama perjalanan menuju warnet itu. Deg-degan. Saya takut, karena biasanya, dalam tiap lomba yang saya ikuti, jika saya degdegan, maka sudah pasti saya akan gagal, namun jika saya biasa saja, tidak khawatir, tidak cemas, maka (biasanya) itu pertanda saya akan menang.

Firasat saya benar. Kata maaf yang tertulis di pengumuman itu. Rasanya sesak sekali. Seperti ada batu sebesar godam yang menghimpit hati saya. Saya melihat teman-teman saya, banyak dari mereka yang lulus, namun tak sedikit pula yang gagal seperti saya. Saya tertawa saja sambil mengatakan pada mereka bahwa saya pun tidak lulus SNMPTN undangan itu. Tidak heran, sih. Mengingat saya hanya memilih satu jurusan, melenceng dari jurusan SMA—saya IPA, dengan passinggrade dan peminat yang tinggi pula: FH UI.  Pun saya juga ingat bahwa nilai rapor saya tidak sepenuhnya murni pikiran saya. Sedikit banyaknya pasti ada saham teman-teman saya di sana. Jadi ya saya tidak (berhak) menangis.

Sesampai di rumah, saya, sembari tertawa, melaporkan kabar buruk itu pada orang tua saya. Hati saya tergores; lagi-lagi saya gagal membahagiakan mereka. Lagi-lagi saya gagal membuat mereka tersenyum karena saya. Sedih. Lalu saya masuk kamar, hati saya makin sesak. Terlebih saat melihat teman-teman yang sudah lebih dulu diterima lewat jalur itu. Tuhan. Hati saya masih belum bersih, sepertinya. Susah sekali ikut bahagia untuk orang lain. Saya ingin menangis, jujur. Ingin sekali. Tapi sulit. Air mata saya entah kenapa seolah tak mau keluar. Seolah saya memang tak pantas menangisi kegagalan itu. Kenapa? Karena saya tak melakukan apa-apa untuk meraihnya. Saya beranggapan lulus lewat jalur itu adalah keberuntungan. Kenapa tidak? Kita hanya mengirim berkas, menunggu, lalu hasilnya keluar. Tidak ada keringat dan usaha yang berarti. Jadi, saya hanya kurang beruntung ketika itu. Masih banyak keberuntungan lain yang menunggu saya.

Maka semalam itu jadilah saya tidak menangis. Saya keluar kamar, berjalan ke dapur, memutuskan untuk makan. Ajaib, sehabis makan justru rasa sesak yang dari tadi mengungkung saya itu hilang. Saya tidak bohong. Sepertinya khusus malam itu saya lupa cara membedakan mana yang sesak, mana yang lapar. Ah sudahlah, lebih baik kembali ke topik awal. Tentang apa tadi? Ah, iya. SNMPTN tulis.

Sejak pengumuman itu, saya semakin rajin membahas soal-soal di buku bantal yang diberikan lembaga bimbel saya. Saya mengerjakan latihan-latihan soal yang ada di buku terkait. Saya harus belajar lebih keras dari yang lain, karena saya hanya mengambil paket IPS, sesuatu yang benar-benar baru di hidup saya. Saya tidak memilih IPC, atau IPA, karena sia-sia saja, saya rasa. Rasanya itulah saat dimana saya belajar dengan sangat serius dan semangat. Ingat apa yang saya pilih waktu SNMPTN undangan dulu? Benar. FH UI. Impian saya tak berubah, namun ujian tertulis ini, saya tentu saja tak akan menyia-nyiakan pilihan. Diizinkan memilih dua, maka saya memilih FH UI sebagai pilihan pertama, dan FH UNPAD sebagai pilihan kedua. Gila, memang. Nekad. Banyak yang menganggap itu pilihan bunuh diri: saya dari daerah memilih Jawa di kedua pilihan, memilih fakultas dan universitas favorit seluruh Indonesia, dan karena dulunya saya dari rumpun IPA. Saya tidak peduli. Saya hanya ingin lulus di pilihan pertama. Maka mindset “nyeleneh” itu mulai bertebaran di kepala saya. Tidak di UI berarti sama saja dengan tidak kuliah. Astaga, betapa saya dulu terlalu berharap lulus di UI. Saya terlalu cinta. Terlalu ingin. Terlalu. Saya lupa bahwa sejatinya, tak ada ‘terlalu’ yang baik.

Saya tetap belajar, namun semakin hari saya justru semakin sering berselancar di internet. Membaca pengalaman orang-orang demi mengejar UI-nya. Saya membaca nyaris semuanya. Keinginan itu semakin berkobar di hati saya. Berlebihan, ya. Memang… saya sendiri ngeri jika membayangkan betapa ambisiusnya saya ketika itu. Saya tidak pernah memikirkan bagaimana jika nanti bisa saja saya kuliah di Unpad atau di manapun. Tidak, saya tidak pernah (mau) memikirkannya.

Lalu, selesai. Tes itu selesai. Saya pulang ke rumah. Degdegan menunggu hasil tes tertulis itu. Membayangkan rasanya jika tidak lulus, pasti akan hancur sekali. Saya sudah cukup berjuang. Menunggu, dan menunggu … sembari terkadang juga belajar untuk persiapan mengikuti tes SIMAK UI. Sekali waktu, saya sedang bermain di beranda Facebook saya. Melepas rasa penat yang mulai menggerogoti hati dan pikiran saya. Mata saya terpaku pada sebuah status dari salah satu penulis hebat; Asa Mulchias. Saya sempat mengcopy status itu ke notes facebook saya. Berikut notes tersebut:

Harapan itu Akan Selalu Ada…

Adakah pertolongan yang Allah beri untuk orang-orang yang berputus asa? Putus asa itu dosa. Maukah Allah menolong orang yang berputus asa dari rahmatNya?
Pertolongan datang dimulai dari hati yang penuh harapan. Tidak pantas mendapat pertolongan orang-orang yang bahkan tak percaya dengan pertolongan itu sendiri. Allah membenci orang yang putus asa. Sangat benci bahkan.

Untuk itulah, Kawan… jika kau masih lupa tentang keajaiban karena bertemu terlalu banyak kehancuran, liriklah lembah nan hijau. Gunung yang kokoh. Langit yang terpentang. Untuk orang-orang yang berputus asa, betul yang kaukatakan: memang tak ada harapan. Dalam hidupmu kau akan selalu menemuinya. Kian hari makin yakin saja. Makin lama, tak ada lagi yang kan mampu menggoyah imanmu: keajaiban itu omong kosong belaka. Milik orang-orang yang bermimpi dan lupa. Semua akan terus begitu… sampai kau benar-benar menyadari: Allah selalu mencatat setiap kepercayaanmu dan mengabulkannya. Ingatlah: Allah sesuai prasangka hambaNya.

Karenanya, kau akan dapati di tempat lain, di hati lain, di jiwa yang lain, tidak demikian kata “harapan” dikelola. Ada yang mampu menuliskannya dengan sempurna, tanpa cacat, dan bersinar tiap harinya. Bukan karena ia tak bertemu realita, tapi ia selalu berkata, “Keajaiban adalah milik Allah. Realitas pun juga. Apa sulitnya Allah menunjukkan yang satu dan menghilangkan yang lainnya?” Air tak mungkin dibelah, tapi ada kisah Laut Merah. Bulan tak mungkin dipisah, namun Rasulullah melakukannya. Kau boleh bilang, “Itu kan Nabi!” Ah, naifnya. Ini bukan soal nabi atau bukan. Ini masalah Allah berkehendak menolong atau tidak. Yang membelah laut bukan Musa, wahai Kawan.Yang memisahkan bulan bukan Rasulullah, wahai Sahabat. Jika Allah menolongmu, tidak ada satu pun yang menghalangi. Begitu pula sebaliknya. Jika Allah tak menolongmu, maka tak satu pun mampu membantumu.
Keajaiban persis seperti itu. Bukan soal kau itu siapa. Tapi masalah apakah kau percaya. Apakah Allah mau menunjukkannya pada kita… (Asa Mulchias)

Ya Allah, tentang SNMPTN tulis itu…hamba percaya pada kekuasaanMu, Tuhan. Luluskanlah hamba dan semua manusia-manusia yang percaya pada kekuasaanMu… Luluskan kami, ya Allah… Berikan hamba kabar baik pada saat pengumuman nanti…beberapa hari lagi… Hamba terima semua keputusanMu, Tuhan…hamba terima… Karena Kau pasti memberikan yang terbaik… Aamiin…aamiin…aamiinn ya Allah… Aamiin ya rabbal alamiin…

01072012

Terdengar pasrah, ya? Kelihatan menyerah?  Bukan. Saya hanya percaya. Karena yang perlu saya lakukan hanya percaya, percaya, dan percaya.

Akhirnya hari pengumuman itu tiba. Paginya, saya berjanjian dengan teman-teman untuk bertemu dan berkumpul di rumah salah satu dari kami. Yah, menonton film horror sekadar untuk melupakan degdegan menanti pengumuman yang keluar setelah maghrib itu. Sorenya, kami makan di WaDjan. Saling tertawa. Bersenang-senang. Melupakan sejenak kegetiran itu. Dan, hari mulai gelap. Kita pulang ke rumah masing-masing. Sepanjang perjalanan pulang, saya kembali  berpikir, “Tuhan, nanti ini bagaimana jika tidak lulus. Orang tua saya bagaimana, masa lagi-lagi saya membuat mereka kecewa. Gurat wajah mereka sudah terlalu lelah, Tuhan. Saya hanya ingin menghasilkan gurat senyum di wajah mereka yang telah mulai tua itu. Baiklah, saya percaya kuasaMu, Allah. Sungguh saya percaya.” Sepanjang jalan, tak henti saya berpikir.

Depan rumah, saya membuka pintu, membuka sepatu. Kalimat pertama yang keluar dari oma saya (yang sejak 11 Februari lalu baru saja meninggal) begitu melihat saya adalah: “firasat oma, sih, kamu bakalan lulus di Unpad.” Saya diam saja, dan tersenyum. Kehabisan kata-kata.  Saya takut. saya kalut. Sebagian hati saya mengamini, tapi sebagian yang lain masih mengeja nama UI pelan-pelan. Ingat yang pernah saya bilang tadi? Jika degdegan berarti tidak lulus? Astaga! Saya takut sekali, saya degdegan saat itu. Maka saya beranggapan saya tidak akan lulus. Saya mulai mencari-cari informasi tentang jalur mandiri UNAND, belajar menyukainya, walaupun saya tidak pernah mau kuliah di Padang, karena mungkin saja jalan saya di sana.

Detik-detik pengumuman itu terbuka. ada mama dan papa di samping kiri dan kanan saya. Masing-masing berhadapan dengan gadget masing-masing. Tapi layarnya menunjukkan halaman yang sama: web pengumuman tes itu. Saya sudah pasrah. Belajar menerima apapun hasilnya nanti. Dan hasilnya keluar.

Saya diterima di Universitas Padjadjaran, jurusan Ilmu Hukum. Mama dan papa saya tersenyum, akhirnya. Tuhan, terima kasih untuk senyum itu. Tapi, saya malah mengacaukan momen bahagia itu dengan menangis. Bukan, saya bukan menangis bahagia, saya menangis kalah. Saya gagal mendapatkan UI. Disela tangis saya, mama menyuruh saya untuk sujud syukur saat itu juga. Saya sujud, memang, namun hati saya tetap berontak. Allah, maafkan hambaMu ini. Saya merasa betapa saya kufur nikmat ketika itu. Saya menghapus air mata saya, bertanya pada papa apakah saya boleh mengikuti tes mandiri UI. Tapi papa saya menjawab kata yang paling tidak ingin saya dengar: tidak. Papa bilang saya harus mensyukuri apa yang telah ada. Papa bilang saya harus menerima ketentuan Tuhan dengan hati yang lapang, karena di luar sana justru banyak orang yang menginginkan apa yang telah saya dapatkan.

Saya hanya diam. Menahan diri agar tidak menangis, lalu kembali bertanya,” apa mama dan papa bangga?” mereka berdua mengangguk mantap dan tersenyum. Tulus. Tuhan, sungguh itu sudah lebih dari cukup. Dan saya sadar, firasat oma saya benar.

Waktu berjalan sangat cepat. Dan sekarang akhir semester dua saya di FH UNPAD. Apa saya menyesal? Apa saya tersiksa di sini? Apa saya dicap gagal? Jawabannya TIDAK! Saya benar-benar bahagia di sini. Cuaca dan keramahan warga Bandung tidak jauh berbeda dengan kota kecil saya; Bukittinggi. Di sini bahkan bamat banyak sekali orang-orang Minang yang membuat saya serasa di kampung halaman. Saya bertemu teman-teman yang baik, saya menemukan “keluarga” di sini: SSFdR dan Vonis. Saya benar-benar bahagia. Rasa-rasanya jika saya diterima di pilihan pertama itu, hidup saya tidak akan semenyenangkan ini. Saya benar-benar bahagia.dan saya benar-benar mencintai fakultas saya ini.

Kalian percaya skenario Tuhan selalu lebih indah dari semua rencana-rencana kita? Saya percaya. Dan kalian semua juga harus percaya. Ayolah, Tuhan pasti selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Skenario Tuhan selalu indah. Coba saja kalian ingat semua pengalaman kalian selama ini. Kata-kata itu benar, kan? Dan, ya … Tuhan selalu adil. S-e-l-a-l-u.

Ah iya, saya sekarang juga mengamini sebuah quote yang dulu sering saya dengar: Tembaklah bulan, jika tembakanmu meleset, kau akan mendapatkan bintang yang ternyata sinarnya jauh lebih terang dan indah dibanding bulan.

Tetap berusaha meraih mimpi kalian. Tahu, kan, meraih mimpi itu sejatinya tidak sulit. Kita hanya perlu setia. Setia untuk meraih dan mewujudkannya. Kita sungguh hanya perlu setia pada setiap impian itu. Kalian tahu Tuhan ada dimana? Tuhan selalu bersama para pemimpi yang sedang berusaha untuk setia dalam menggapai dan memperjuangkan mimpinya agar menjadi nyata.

Tetap berusaha, ya. Kenapa? Karena mereka, orang-orang mengagumkan itu, berjuang keras untuk meraih impiannya di saat orang lain masih lelap dalam tidurnya. Itu saja, kawan, rumusnya.

Di tahun saya kemarin, peminat FH Unpad ada 4000-an orang, lho, ternyata. Saya yang begini saja bisa lulus, masa kalian enggak. :)

SEMANGAT!                                                                                                                                                                                     

Selamat meraih mimpi, kawan. Tahun depan giliran kalian membagikan kisah kalian. *hug*

jocelyn1301  asked:

Min, any tips biar tidak salah pilih jurusan?

Kalo dijawab ‘Pilih sesuai passion dan kemampuan’ itu kurang memuaskan yha? Tapi yang jelas jangan kebawa jacket syndrome™

“…kuliah di mana, ya, enaknya?”

Secara harfiah, pertanyaan ini lazimnya memang dijawab dengan penanda tempat. Karena “di mana” mengacu pada keterangan tempat. Tapi, kenapa harus nama universitasnya? Inilah jebakan Batman yang saya sebut Jacket Syndrome. Dan kita semua harus rela mengakui bahwa kita berada dalam perangkap ini. Sindrom ini pun dibungkus beragam warna, lho. Mulai dari kuning, hijau toska, krem karung goni, sampai biru dongker atau biru laut. Agaknya, kelima warna inilah yang paling banyak diburu. (x)

+Pendapat pribadi: Kamu nggak bakal sadar kamu salah jurusan sampe kamu udah masuk semester pertengahan dan jiwamu justru hampa terasa. Seenggaknya kalo jurusan yang kamu pilih itu sesuai passion, kamu menderitanya karena cinta :”)

Tapi… tapi kalo kamu sampe bener sadar salah jurusan dan nggak mampu nerusin, selalu bisa alih prodi atau ikut SBMPTN/apalah namanya sekarang di tahun depan. Walau prosesnya agak ribet atau akhirnya kamu ulang dari semester awal.

Semangat buat kalian yang mau masuk PTN atau PTS dimanapun itu!!

Originally posted by loofandtimmy

#15 - Part 1

Halo …. Halo Bandung. Hehe. Gak.

Menindaklanjuti kerinduan saya akan tenggelam dalam sastra, tergeraklah hati saya untuk menulis sesuatu di blog tak terurus ini. Hahahaha. Hahaha. Haha. Ha. Oke, alay memang. Intinya, kali ini gue mau cerita soal mimpi.. cita-cita.. pencapaian tujuan..? Lah, I don’t even know what the title is. Melanjutkan nomor doang. Pokoknya, beberapa postingan ke depan ini gue bakal cerita soal perjuangan gue mendapatkan univ yang gue mau. Hehe. Silakan disimak, semoga bermanfaat terutama buat adek-adek kelas saya.

Keep reading

ini kisahku, mana kisahmu?

sungguh, Allah tak akan pernah membiarkan doa-doa hambanya menggantung di langit tanpa diberikan jawaban.

Allah Maha Baik. hingga detik ini aku masih belum sepenuhnya percaya pada kenyataan yang terjadi hingga detik ini. aku jadi mahasiswi. alhamdulillah wa syukurillah.

masih inget banget, aku ikutan try out dan open house ITB di Regina Pacis Bogor. pas aku kelas 11 dan 12. saampe-sampe aku punya kenalan kakak kelas yang sekarang udah semester 3 di FTI ITB :“”) pas acara open house nya juga aku coba aktif bertanya di kelas FTI. rasanya di bayangan udah mateng banget bakalan jadi engineer, apalagi jadi engineer physics. terinspirasi jadi engineer dari acara tv DW Indonesia: Inovator. pasti hebat banget kalo jadi engineer, bisa buat robot, beragam jenis mesin, dan sejenisnya. ha ha ha itu yang ada di pikiranku saat itu.

masih inget banget, pas pendaftaran SNMPTN, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa pilihanku ini yang terbaik yang telah Allah pilihkan. dan aku coba menguatkan diriku atas komentar banyak orang yang mungkin merasa terlalu tinggi atas pilihan PTN yang aku ambil. aku percaya Allah selalu melihat usaha hambaNya.

masih inget banget, ikut bimbel tiga hari dalam seminggu, dari sore sampe isya sejak semester 2. ketemu banyak temen dari berbeda SMA. bertukar kegalauan atas pilihan SNMPTN hingga SBMPTN. sampe-sampe pada curhat ke mbak/mas yang ngajar di kelas pas lagi belajar. pertemanan di kelas kami terlihat lebih dekat dibanding kelas les yang lain. kurang lebih seminggu sebelum UN, setelah jam les berakhir, kita masih diskusiin sesuatu. hingga pengumuman SNMPTN, beberapa ada yang tidak melanjutkan karena mereka diterima, tapi banyak yang melanjutkan les, termasuk aku, sampai 2 hari menjelang SBMPTN.

masih inget banget, aku nangis di kamar pas buka pengumuman SNMPTN kemarin. tapi nangisnya diem-diem, biar nggak ketahuan ayah ibu. mungkin Allah masih pengen liat usahaku buat dapetin ITB lewat jalur tulis atau SBMPTN. batinku.

masih inget banget, udah ikut try out di bimbel berkali-kali, ikut sanggar juga di bimbel, sampe ikut try out di luar tempat bimbel.

masih inget banget, pas tes SBMPTN, aku mencoba buat se-rileks mungkin. tetap fokus tapi tenang. dan aku kebagian kursi di paling depan. alhamdulillah, setidaknya ada yang bisa aku kerjakan untuk mata pelajaran Saintek. pulang dari tes SBMPTN, perut dilanda rasa sakit yang luar biasa. alhamdulillah bisa sampe rumah dengan selamat.

masih inget banget, aku nekat untuk ikut SIMAK UI. hahaha, udah tau soal-soal SIMAK UI itu berkali-kali lipat lebih sulit dari SBMPTN. gimana mau bisa ngerjain SIMAK UI kalo soal SBMPTN aja masih banyak yang aku nggak bisa. tapi kata ayahku, dicoba aja, siapa tahu emang jodoh. pas tes, kakak pengawas dari UI yang bertugas di ruanganku muter-muter di barisan belakang, dan aku emang kebagian di barisan paling belakang. kan tes dibagi dua sesi, Kemampuan IPA dan Kemampuan Dasar. nah, dua kali juga kakak itu nggak sengaja kesandung kaki kursiku. seketika aku diem, langsung tegang. dan nggak bilang minta maaf gitu pas udah beres tes. tapi cuma bilang makasih doang tiap aku ngasih lembar jawaban dan soal *ciyeee. pas lagi pulang dari tes SIMAK UI, semua soal yang dikerjakan tiba-tiba menguap, terlupakan.

masih inget banget, pas pengumuman SBMPTN, aku coba tetap tenang sebelum membuka. dan hari itu masih puasa Ramadhan. bismillah, jam 5 sore aku cek. pas dicek…..jreng jreng jreeeeeeng……aku belum lolos :“”) sakit hati? iya. kecewa? iya. pengen nangis kejer? iya. aku langsung meluk ibuku. dan aku terus-terusan nangis sampe jam 9. itu juga udah mulai berkurang. dapet banyak sms dari temen-temen, “rainy gimana, lolos nggak?”. aduh sakit hati banget ya mau balesnya. tapi mau  gimana lagi atuh. harus bisa bersyukur atas segala pemberian Allah.

ibu bilang, “Kak, Allah masih sayang sama kakak. mungkin tahun ini bukan ITB tempat yang terbaik buat kakak belajar. yang belum lolos nggak cuma kakak seorang, ratusan ribu kak yang belum lolos juga. sabar ya”. dan aku cuma bisa jawab dengan anggukan, tapi tetep nangis di pelukan ibuku. aku bilang berkali-kali, “tapi bu, peluang ITB tahun ini udah habis, udah nggak ada lagi buu, udah nggak ada kesempatan tahun ini buu..”. pas ayahku pulang juga gitu. setiap aku masuk kamar, pasti akan terlihat tulisan gede mencolok berwarna-warni, “be mine, FTI ITB 2014” dan tulisan yang ada di hadapan kasurku yang setiap bangun atau mau tidur pasti kebaca, “2014 : jadi mahasiwi Fakultas Teknologi Industri ITB”. dan aku nggak bisa buat tahan nangis. aku masih belum bisa menerima dan merelakan

masih inget banget, aku sedih pas ternyata aku nggak jadi ikut UMBPT. ya pokoknya ada deh ceritanya. di pikiranku, “ya udah aku harus terima kalo tahun ini aku harus nggak kuliah, aku harus ke Pare Kediri, atau kuliah di swasta”.

aku udah nyerah banget. temenku ada yang udah diterima di IPB, di UGM, di UNDIP, di UI, di UIN JKT, di UNJ, di UNMUL, ya banyak deh. nggak terpikir untuk ikut ujian mandiri manapun. mungkin udah takdir Allah ya, akhirnya aku ikut PENMABA UNJ. sebenernya udah nyerah di titik terendah, pesimis, pasti saingan ujian mandiri banyak banget. dan ternyata pas selesai ujian, ada kabar bahwa peserta PENMABA UNJ kurang lebih 7-8 ribu. ya Rabbi, aku makin pesimis aja.

masih inget banget, pas pengumuman PENMABA UNJ, aku tuh yang nggak terlalu mikirin, nggak terlalu berharap. pokoknya udah mencoba menguatkan hati deh. kan pengumumannya pagi. tapi pagi-pagi ibuku berinisiatif untuk mengajakku ke Tanah Abang, belanja baju buat stok di toko keluarga hehehe. aku sampe lupa sama pengumumannya. sampe rumah, kira-kira siang. aku emang nggak niat nge-cek. dan kebetulan, pulsa modem belum terisi. hingga sore jam 5 an, ayahku yang masih di kantor sms, “kak gimana hasilnya?” dan nggak ada balasan sama sekali. pikir ayahku, aku nggak lolos dan lagi nangis-nangisan sama ibuku sampe akhirnya nggak berani buat ngabarin ayahku. dan ternyata, selama seharian itu, ayahku yang masih dikantor deg-degan luar biasa. singkat cerita, aku ngasih nomer pendaftaran dan ayahku yang buka di kantor. jreng jreng jreeeeeeeng, alhamdulillah wa syukurillah. aku diterima. ayah sampe berkali-kali me-refresh halaman web itu, “beneran anakku diterima?” sampe ibuku bilang, “kakak siap kan jadi guru fisika?”. aku mengangguk pelan, (mencoba) menyetujuinya.

dan sekarang, aku di sini, di kampus green jacket, di kampus pendidikan sekaligus kampus perjuangan, di UNJ. memang, melepaskan impian yang udah kita harapin banget, udah usaha banget untuk kita dapetin, itu emang susah. tapi seiring waktu berlalu, aku udah mulai bisa move on *eaaaa.

mungkin, aku akan tetap bisa jadi peneliti yang bisa ke Jepang dan Jerman suatu hari nanti. kan banyak jalan menuju Roma hehehe.  jadi guru atau dosen yang ideologis, yang selalu istiqomah berada dijalan Allah. yang semakin banyak mendapat ilmu, akan semakin tunduk pada Allah.

untuk teman-teman seperjuangan yang belum berstatus mahasiswa/i, nggak boleh patah semangat ya. aku pernah kok ngerasain kecewa seperti kalian. sakit hati kan dapet kata ‘maaf’ terus tiap liat pengumuman? harus kuat ya, nggak boleh minder :“)

maksimalkan waktu yang kalian punya. semoga kita semakin bertambah kadar keimanan kita kepada Allah, semakin yakin bahwa rencana Allah pasti indah. semangat untuk semuanya, yang udah jadi mahasiswa ataupun yang belum :)

kan yang Allah liat itu kadar ketaqwaan kita :)

bukan kampusnya tapi..

masih terasa nuansa pengumuman seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. mulai dari yang bahagia karena lolos di PTN Impian, galau karena lolos namun ga sesuai harapan, sampai kecewa karena belum lolos. saya mau sedikit membahas tentang “gengsi" pada calon mahasiswa baru ini. dulu saya juga mengalaminya. banyak diantara calon mahasiswa memilih PTN ataupun jurusan yang “WOW" karena dia ingin dipandang oleh orang lain. ada juga yang menganggap kalau kuliah di blablabla itu keren. sebenarnya bukan masalah kampus dimana kamu kuliah, tapi bagaimana proses kamu selama masa kuliah itu. percuma kalau kamu kuliah di PTN yang paling favorit pun kalau kamu ga ada aksi atau reaksi ga akan terdengar gaungnya. berbeda jika kamu kuliah di kampus yang biasa saja namun kamu aktif sebagai mahasiswa, kamu akan menjadi mahasiswa yang bersinar. aktif organisasi, ikut kompetisi, ikut konvrensi itu salah satu cara mengasah sinarmu.

jadi, sebelum kamu salah langkah untuk kedua kalinya. tetapkan pilihan, jangan dahulukan gengsi. pilih yang sesuai passionmu. dan  kamu tinggal pilih. menjadi debu diantara berlian, atau menjadi berlian diantara debu?.

Kita hanya sebuah sukma yang masih mengejar cita. Cita yang masih dalam angan. Cita yang harus bersusah payah diperjuangkan. Cita akan masa depan cerah. Dan jalan tak pernah semulus yang dikira. Kadang berliku, kadang bersimpang. Kita hanya perlu fokus pada satu tujuan, sejenak lupakan hal lain. Seperti bermain game atau menonton film. Ah walaupun aku sendiri kadang tak bisa melakukannya.

ana (2017)

-teruntuk aku, kamu, dan para pejuang ptn

Hikmah #1

Dimanapun kita diterima pada akhrinya, percayalah bahwa Allah punya rencana untuk kita, tentunya rencana itulah yang terbaik untuk kita. Huznudzan padaNYA..karena Allah adalah bagaimana prasangka hambanya. Jangan takut tertukar, kuliah itu perkara rezki, tidak akan tertukar,tidak kurang tidak lebih. Pas. Jangan takut kalah bersaing karena menganggap orang lain mampu bayar lebih, sogok sana sogok sini. Tugas kita hanyalah berusaha sebaik mungkin, belajar dan berdoa yang banyak, minta doa restu orang tua. Tidak akan tertukar , jika Allah berkehendak, yang memang untukmu pasti kau dapat. Semangat,karena kuliah bukan soal gengsi. Bukan soal negeri atau swasta. Ini soal hakikat. Hakikat kejujuran dan menuntut ilmu. #UntukPejuangSbmptnUM

the euphoria

damn, i can feel it in the air.

even now, in my room, alone.

the atmosphere is just the same

the palpitation, the smirk on my face

even that im not the one getting it

its weird that eventhough its not about me but i feel

spiritful..

damn, last year snmptn.

its passed. i didnt get place in public univ

and now im spending my parent’s saving in private school

no regret about it

cause when i lost it, i knew i did my best

and i know, this is the best, this place is the best for me

somehow, God knows

and now, this year.

the announcement.

and the tears… yeah

happy, sad..

but i hope there’s no tears of regret

its not that you failed

you just learned one life lesson

its your own private life lesson

how to make it work,

 and how not to


both are precious

Mengertilah sayang, akupun pernah ada dalam posisi itu. Jangan ragu. Nikmatilah setiap degup gelisah itu. Hatimu akan terbiasa, ini hanya sementara. Nikmatilah. Ikuti setiap denting jarum panjang yang selalu berdetak. Dengarlah suara gelisah ribuan hati yang sama sepertimu. Kau tak sendirian sayang, ada aku yang pernah memahami posisimu. Ada aku yang pernah mengalami penolakan. Percayalah sayang, gelisahmu tak kan sampai disini. Tetaplah berlari. Akan ku tunggu kau di persimpangan jalan dengan secangkir kopi juga sedikit bincang. Semoga apa yang ku persiapkan bisa meluluhkan keletihan.
—  26.04.17
semangat pejuang SNMPTN!
Kenapa Psikologi Unpad IPA? Mempersoalkan Sekat Antara IPA dan IPS

Menjadi mahasiswa Psikologi Unpad berarti siap menjadi seseorang yang punya jawaban bagus untuk pertanyaan, “Apa bedanya Psikologi Unpad dengan Psikologi di PTN lain yang jalurnya IPS?” dari mahasiswa-mahasiswi baru yang baru lolos SNMPTN, SBMPTN, atau seleksi apapun namanya.

Selama jalur masuk Psikologi Unpad adalah jalur IPA, niscaya pertanyaan semacam itu tak akan lekang oleh waktu.

Sejujurnya, saya belum memiliki jawaban yang bisa menjelaskan. Biasanya, paling banter saya menjawab, “Oh, iya di Psikologi Unpad kita pakai perspektif Biopsikologi.” Lalu kabur karena tidak tahu harus jawab apa kalau yang bertanya meminta penjelasan lebih lanjut. Misalnya pertanyaan, “Biopsikologi itu apa?”, “Lho di UI juga ada tuh matkulnya?”.

Namun kalau boleh berbagi sekelumit sudut pandang saya yang telah sedikit terwarnai lima tahun ke belakang oleh ilmu yang kata orang banyak disusupi oleh agenda Zionis ini, jawabannya ada dua :

Pertama, saya belum pernah ikut kuliah di kampus lain jadi saya tidak tahu. Jika Anda penasaran, jawabannya bisa Anda peroleh dengan cara mengikuti kuliah Psikologi di beberapa tempat sekaligus.

Kedua, tidak perlu mencari tahu apa bedanya, karena Anda tidak membutuhkan itu untuk jadi seorang sarjana psikologi.

Karena, pada dasarnya, IPA dan IPS lebih seperti istilah pembeda saja menurut saya. Tidak berarti Anda tidak belajar Ilmu-ilmu sosial di Psikologi Unpad, tidak juga berarti Anda tidak belajar ilmu eksakta di Psikologi kampus lain yang berjalur IPA.

Psikologi adalah ilmu tentang manusia. Psikologi bertujuan untuk mempelajari perilaku manusia dan proses mental yang melatarbelakangi perilaku tersebut. Sejak manusia adalah makhluk hidup yang punya unsur biologis, maka Psikologi menaruh satu kacamatanya di sudut pandang Biopsikologi. Sejak manusia adalah makhluk sosial, maka Psikologi menaruh satu lagi kacamatanya di sudut pandang sosial, dan seterusnya. Keduanya tidak bisa dipisahkan oleh istilah IPA dan IPS. Sebab, memandang manusia harus utuh.

Bahkan bidang kajiannya sangat luas. Saya pernah mengikuti kelas psikologi politik, psikologi kerekayasaan (ergonomika), psikologi kewirausahaan, semua itu area sosial.

Jadi menurut saya. sebenarnya tidak ada sekat yang jelas antara IPA dan IPS di Psikologi. Bahkan sekat itu tidak perlu ada. Bahkan menurut saya sekat itu tidak perlu diada-adakan sejak SMA :(

Meski demikian, bukan berarti Psikologi Unpad tidak punya alasan khusus dibalik jalur masuknya yang hanya memungkinkan bagi peserta IPA (baik di jurusan kelas atau pilihan SNMPTN). Mungkin karena Fakultas mengharapkan output tertentu yang “karakternya” selaras dengan “karakter” jurusan IPA? Soal ini, dosen-dosen lebih paham untuk menjawab.

Namun, saya hanya membagikan pengalaman dan opini saya yang dulu pun bertanya-tanya “Kenapa jalur masuk Psikologi Unpad IPA?” lalu menemukan bahwa lewat jalur IPA maupun IPS, Psikologi adalah ilmu perilaku manusia yang tidak bisa dikotak-kotakkan berdasarkan bidang eksakta atau sosial.

“Gimana pengumuman SNMPTN nya?”

Diterima? Semoga tidak membuatmu sombong ya, Nak.

Ditolak? Semoga tidak membuatmu putus asa dan menyerah atas pertolongan Allah ya, Nak.

Fyi, saya termasuk golongan yang ditolak, toh nyatanya masih bisa survive sampai sekarang. Kecewa? Sudah pasti. Saya manusia biasa yang masih punya perasaan. Manusiawi. Tapi saya harus bangkit, susah memamg mengumpulkan semangat pada kondisi yang sangat terpuruk. Apa lagi, orang-orang yang seharusnya menjadi tameng pada gardu terdepan hidup kita tidak berpihak pada pilihan kita.

Tahu kah Nak, segala yang terjadi itu Allah Yang Maha Tahu untuk kehidupanmu. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk kita. Begitu pula sebaliknya.

Begini, diterima atau ditolak, semoga kita dapat mengambil hikmah dan keberkahannya ya. Siapa tahu, atas penolakan tersebut, ada restu orang tua atau guru kita di tempat lain (ini pengalaman pribadi hehe). Dan benar, saat restu orang tua didapatkan, jalan nya begitu mudah, Nak. Sampai saya bisa berada pada titik ini.

Maka, coba bicarakan baik-baik dengan mereka karena ridho Allah adalah ridho orang tua.

Gapapa sedih, gapapa nangis-nangis, tapi setelahnya harus lebih kuat, ya!

Selamat berjuang bagi yang diterima mau pun ditolak! :)

So yeah, I guess everyone’s been talking and/or congratulating each other and/or motivating each other not to give up due to SBMPTN result which came out just now. It’s been a year and I apologize in advance for writing such thing in tumblr (not in the mood with blogger.).

My mind goes back to a year ago. I took IPC (Crossover they said hahaha) on SNMPTN, and I almost didn’t fill my 3rd choice of PTN because I’m plin-plan and stuffs and I actually just couldn’t decide/figure out what I actually want. But then I chose to decide to fill it. And when the result came out, the Universe creator put me in that 3rd choice. The farthest University.

I Thank God ofcourse. But then I sort of feel like, I don’t know, regret? like “I could’ve done more than this.” or “Maybe I didn’t push hard enough” and stuffs like that. My dad was at Jambi getting some works to be done, and a little part of me died when he called and asked about my result. He was okay though. He just want me to do what I want to do. He never push me to be accepted in certain uni/certain major, or to pick uni around Jakarta only, or anything. I love him so much all I want to do is making him proud. As proud as possible. This @ArmorOGod tweet things that summed up how  I felt. “God let me accept the things I cant change, courage to change things I can & the wisdom to know the difference.”

Time goes by and here I am. It was rough at first, you know, being away from my family. Spent the first two weeks of my college life crying, praying and asking “why”, and being mellow everytime I was alone with no distraction, or when my family members called. But this one year has been so very awesome. Lots of experiences, learning new things, meeting new people, making some friends, new city that turned out so beautiful and livable(lol, my major thing),bonding with my Opung jauh(my Grandpa’s cousin)(whose kids and grandkids are so awesome and succesful) (like seriously).  I just can’t Thank God enough for his superbmazing plans which is beyond my expectation. I still have the thought to start over in other uni though (economic major, probably. my skill to be in ITB has gone and my brain is freezing for stuffs I used to be -kind of- good at).I just can’t help to imagine my self asking my dad to spend another amount of money for me enrolling in other University. So now that admission period is done, all I can do is Thank God for where I am right now, because I believe things happen for reasons.You may not always end up where you thought you were going, but you will always end up where you were meant to be.

Inequality

First, a question: are we looking for an equality/justice? Equality equals to justice i guess…

Hari ini adalah hari pengumuman sbmptn. Saya menemukan ungkapan menarik dari web yang akhir akhir ini sering saya buka, 1cak :v

“Di saat 1 orang sujud syukur, ada 10 orang lain di luar sana yang sedang menangis.”

Situasi di atas tidak jauh berbeda dengan saat pengumuman snmptn. Anehnya, banyak orang yang “loncat” ke pilihan pilihan yang lainnya dan melepas raihan yang banyak orang tidak dapat menggapainya. Anehkah??

Untuk orang yang belum diterima di PTN/sejenisnya, mungkin mereka akan sangat menyayangkan kelakuan orang orang “loncat” di atas. Syukur diterima kok malah dilepas?? Mayoritas itulah alasan utamanya.

But, tapi.. Dari sudut pandang si anak “loncat”, juga mungkin tidak ada masalah. (saya menulis banyak ‘mungkin’ karena saya tidak berada di situasi yang disebutkan di atas) Mengapa?

Let’s talk about equality = keadilan. Apakah kita ingin meraih keadilan?? The fact is, we don’t. “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” itulah yang sedang terjadi, serta adanya “globalisasi” sebagai katalisatornya.

Memang, untuk yang ada di bawah, kebanyakan mereka tidak mempunyai banyak pilihan. Mereka 'terpaksa’ untuk menjalani sesuatu yang sering kali bukan merupakan comfort zone mereka.

Tapi, untuk yang ada di atas, mereka mempunyai banyak pilihan. Masing masing pilihan mempunyai plus minus nya masing masing yang pasti juga dipertimbangkan dalam mengambil keputusan.

Tak dapat dihindarkan, terkadang pilihan yang diputuskan mereka yang ada di atas menimbulkan kerugian bagi mereka yang ada di bawah.

Sangat sangat sukar untuk mencari jalan tengah dalam situasi seperti ini karena masing masing pihak mempunyai keadaan dan kepentingan yang berbeda beda.

Tulisan ini hanya merupakan buah pikiran belaka, bukan bermaksud untuk menyinggung atau melukai hati salah satu pihak. Thanks dor reading :D

Semoga bermanfaat!

Halo Angkatan 2014!

Hari ini pengumuman hasil SNMPTN 2014. Saya yakin banyak dari kalian yang seneng, speechless, sampai sedih dan depresi.

Buat yang udah diterima, saya ucapkan selamat! Semoga kalian benar benar diterima di PTN dan jurusan yang kalian suka dan juga layak untuk kalian. Buat yang belum diterima, jangan patah semangat. Kalian masih punya kesempatan buat buktiin kalau kalian itu sama layaknya bahkan LEBIH untuk diterima di jurusan yang kalian mau dibanding mereka yang keterima lewat jalur undangan. Jujur, yang keterima lewat jalur tes tulis AWESOME. I ADORE YOU TO THE MOON AND BACK.

Bro, Sis, perguruan tinggi bukan hanya sekedar gengsi. Diterima di PTN unggulan. Diterima di jurusan favorit. Ini itu “next step” buat raih cita cita kalian. Ini juga “another thing” yang menentukan hidup kalian. Apa kalian mau menyesal untuk kedua kalinya memilih jurusan yang salah? Mati-matian belajar IPA karena mengagungkan gengsi tapi pada akhirnya memilih jurusan IPS di perguruan tinggi. IPC masih mending.Buat apa kalian kuliah sastra tapi pada akhirnya kerja di bank jadi teller selain biar dapet gelar S1? Apa kalian mau mati-matian belajar buat hal yang kalian gasuka? Banyak contoh yang sekarang menyesal dengan apa yang udah mereka ambil tanpa melihat ke dalam diri mereka sendiri.

Cita cita boleh tinggi. Gak ada yang larang. Tapi tolong. Coba liat diri sendiri. Apa kamu layak dapetin itu dengan kamu yang kaya gini? Apa kamu layak dapetin FKG dengan nilai rapot rata-rata 80,9? Apa kamu layak dapetin Hukum hanya karena kamu mau itu? Kamu gabisa ngandelin semuanya sama KEAJAIBAN dan KEBERUNTUNGAN. Hey! Wake up, Dude!!!

Satu satunya cara buat raih mimpi kamu, BANGUN DARI MIMPI KAMU!!!

Hadepin realita yang ada. Gausah lari. Coba liat cita-cita kalian. Bandingkan sama kalian sekarang. Kalau kalian ngerasa layak buat dapetin cita-cita itu, BUKTIIN!!!

Bahagia yang kurang lengkap itu ketika kamu lulus sementara temanmu tidak. Terasa ada yang mengganjal ketika kamu tersenyum sementara mereka meyimpan kecewa dalam hati. Ingin menghibur tapi entah kata apa yang paling tepat diutarakan karena kamu tahu persis bagaimana rasanya ketika berada di posisi mereka :’(
Every Matter Has Good

@edgarhamas

Allah does not delay a matter except for good
He does not deprive you of a thing except for good
And He does not make you cry except for good
He does not send a calamity upon you, except for good
So do not be sad, every matter has good

Kejutan itu begitu nyata terbentang di episode Hudaibiyah. Pernah dengar, kan? Yakni ketika Suhail Ibn Amr mewakili Quraisy mendatangi Rasulullah dan membuat perjanjian tidak saling menyerang selama 10 tahun.

Dengan catatan; siapapun yang hendak hijrah ke Madinah harus dikembalikan ke Makkah, dan siapapun yang pergi ke Makkah tidak dibolehkan kembali ke Madinah. Umar pun sampai berang dan tak habis pikir, rasa-rasanya ini tidaklah adil. Namun Abu Bakr menenangkannya, “Rasulullah lebih tahu tentang ini daripada kita.”

Dan benar, hanya 2 tahun kesepakatan ini berjalan, Bani Bakr sekutu Quraisy menyerang Bani Khuza'ah yang beraliansi pada umat Islam. Insiden itu menjadi alasan 10.000 pasukan Islam membanjiri Makkah untuk membebaskannya dari berhala jahiliyah. Kita mengenalnya sebagai momentum agung; Fathu Makkah. Awalnya seakan tidak menguntungkan umat Islam. Namun lihatlah, pemenang akhir ceritanya adalah Sang Rasulullah.

Ada juga yang punya kisah tersendiri dengan hal semacam ini. Banyak orang menamakannya dengan nama “pola pertolongan Allah”, dan saya setuju dengan istilah itu. Saya angkat kisah ini agar hikmahnya bisa dirasa oleh semuanya.

Ketika yang lain masuk SMA dengan mudah, seorang teman harus masuk kelas persiapan Bahasa Arab dulu. Setahun pula. Tapi disana dia mendapat kesempatan mengajar setiap hari keluar pondok. Pun setiap jumat dia dan rekannya bisa mengajar membenahi akidah di Mts di desa Manislor, yang faktanya desa itu adalah markas besar aliran sesat Ahmadiyah se-Asia Tenggara.

Ketika yang lainnya sudah sibuk persiapan Ujian Nasional dan SNMPTN, dia masih 2 Aliyah. Tapi tak apa, dia bisa mengeksplorasi diri dalam dunia Organisasi Intra Sekolahnya. Dan katanya, luarbiasa pengalaman yang ia dapatkan dari sana.

Ketika yang lain sudah pada kuliah, dia belum bisa merasakannya. Dia, bersama 16 kawan-kawannya memutuskan untuk mengabdi di Pondok Husnul Khotimah. Pengabdian resmi pertama yang bisa dikatakan dalam masa perintisan.

Dan MasyaAllah, berkat mengabdi setahun itu, dia bisa belajar Dunia Palestina bersama Institutnya langsung, berkenalan dengan Masayikh Mesir Madinah dan Sudan, terbang ke Mesir selama beberapa tahun, diterima di Madinah, plus Allah anugerahkannya istri dari teman selama pengabdian.

Benar. Itu yang dinamakan pola pertolongan Allah. Awalnya rasa-rasanya kita merugi. Tapi percayalah, jika ikhlas dan sabar, akhirnya akan penuh dengan kejutan.

Wallahualam