SEMU

19. kebaikan laki-laki

kalau kita lihat, di dunia ini ada banyak sekali laki-laki yang baik. laki-laki yang rajin sekali ke masjid dan tekun sekali beribadah. laki-laki yang gigih sekali belajar dan giat sekali bersekolah. laki-laki yang begitu sungguh-sungguh bekerja dan menjemput nafkah. laki-laki yang sangat setia dan taat kepada kedua orang tuanya. laki-laki yang nyaris tidak punya catatan keburukan. kalau beruntung, kebaikan-kebaikan itu berkumpul di satu orang.

kalau kita pikir-pikir dan rasakan, mungkin ada laki-laki baik yang berbuat baik kepada kita (perempuan). menjadi sahabat dan mendengarkan seluruh keluh kesah kita. memberikan semangat setiap hari. mengantarkan kita pulang atau pergi. membelikan makanan saat kita sakit. mengirimi kita berbagai kado. menjadi orang pertama yang panik saat sesuatu tak baik terjadi kepada kita. menjadi yang paling penasaran atas tulisan kita atau karya kita. mungkin ada, laki-laki yang menyayangi kita.

tapi taukah kamu? sesungguhnya kebaikan laki-laki yang bisa terhitung oleh (ayah ibu) seorang perempuan hanyalah satu: melamarnya. kalau ada laki-laki yang mengaku memperjuangkanmu tapi tidak melamarmu, tidak menikahimu, percayalah bahwa perjuangannya belum penuh. sebaliknya, pun begitu. dia yang tidak (belum) berbuat apa-apa tetapi melamarmu, sesungguhnya dia telah melakukan segalanya.

sebab bukanlah perkara kecil bagi seorang laki-laki untuk meminta perempuan dari orang tuanya. tidak dua atau tiga kali dia bergelut dengan dirinya sendiri (terlebih dahulu). ada banyak risiko yang dia putuskan untuk ambil. ada sebongkah tanggung jawab besar yang tiba-tiba diangkatnya sendiri, hendak diletakkannya di pundaknya sendiri.

maka janganlah kita perempuan, yang belum menikah, terhanyut dalam kebaikan-kebaikan yang (masih) semu. maka tak perlu jugalah kalian laki-laki berbuat baik yang semu-semu itu. salah-salah malah ada harapan tidak perlu yang ikut tumbuh. pada suatu titik semua itu tidak penting. semua itu akan kalah dengan dia yang melangkahkan kaki kepada ayah.

maka janganlah kita perempuan, yang sudah menikah, iri dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukan para laki-laki lain kepada pasangannya. apalagi tergoyahkan kesetiannya karena ada laki-laki yang baik kepada kita. semua itu kalah dengan dia yang telah melangkahkan kaki kepada ayah.

karena ada banyak laki-laki baik, tetapi kebaikan laki-laki hanyalah satu.
maka, hitunglah kebaikan yang satu itu–hitung baik-baik. :)

Orang-orang baik itu (kebanyakan) tidak pernah membahas tentang kebaikannya, apalagi mengumumkannya secara terang-terangan. Untuk itu, kita akan sulit menemukannya di dunia maya. Sementara selama ini (barangkali) kita sibuk mencarinya di linimasa. Dan (mungkin) selama ini kita terpukau pada kebaikan yang sifatnya fana. Yang tampil di linimasa hanya sebagian kecil dari seluruh kebaikan-kebaikan yang tersebar di sekitar kita. Kita mencari dan berharap menemukan kebaikan yang sebenarnya tapi kita mencarinya di tempat yang paling semu. Sudahkah menyadarinya?
—  Kurniawan Gunadi

Kalau aku tidak terlalu memamerkanmu hari ini, jelas bukan karena aku tidak begitu mencintaimu. Aku hanya menjaga semua yang harus kujaga. Kita harus berusaha saling melengkapi, agar nanti tidak perlu lagi bersembunyi dalam hal yang semu. Jangan sedih, hanya karena aku tidak memajang namamu di bio instagramku. Tak perlu berlebihan, hanya karena aku tidak begitu suka menggunggah fotomu dan foto kita berdua di media sosialku. Itu sama sekali bukan ukuran perasaan. Aku katakan kepadamu; perasaanku padamu di dada, kepala, dan jiwa, bukan di dunia maya saja.

Apalah artinya terlihat begitu dekat di dunia maya, tapi di dunia nyata kita jauh tak terkira. Biarlah aku menyimpanmu dengan pilihanku. Berilah waktu untukku membuat semuanya jadi lebih baik. Kau sama sekali tidak perlu iri kepada yang terlihat mesra di dunia maya. Bisa jadi itu hanya cara menyembunyikan perasaan yang tak bahagia. Tenanglah, jangan terburu-buru terlihat bahagia. Hal yang jauh lebih penting, sampai hari ini hingga nanti bagiku kau tetaplah bagian hidup yang penting. Pahami itu, aku selalu ingin belajar lebih baik untuk hidup di dunia nyatamu.

–boycandra

Jika kamu tau bahwa aktivitasmu itu tidak disukai olehNya, lantas bagaimana mungkin kamu merasa bahwa hal itu akan memberikanmu bahagia?
—  Membohongi diri dengan kebahagiaan semu yang kamu buat-buat, padahal kamu tau hanya Dialah yang mampu menurunkan sakinah ke dalam hatimu. Maka, apa maumu?
Rejeki dari ALLAH itu pasti CUKUP UNTUK HIDUP tapi TIDAK akan CUKUP UNTUK MEMENUHI GAYA HIDUP

Kenalan saya seorang perencana keuangan di Jakarta punya banyak klien dari kalangan artis, dia cerita waktu itu pernah dicurhati seorang artis yang tiap hari nongol di tv, terkenal dimana-mana, tapi buat bayar cicilan mobil 5 juta saja tidak punya.. Gaya hidup akhirnya meremukkan hidupnya.

Saya pernah kenal seorang presenter TV nasional, kalo sedang tampil rapi pakai jas rapi sekali, hanya sekali ketemu di seminar, dia minta nomer HP. Sebulan kemudian dia SMS..
“Mas, saya pinjam uangnya 1 juta bisa? Minggu depan saya kembalikan..”
Walaaah..

Tahun 2009 malah ada vokalis band terkenal, saya kenal sejak 2003 ketika dulu masih kerja di EO sering saya ketemu waktu saya jadi stage manager. Lagunya ngehits di semua radio, satu sore ngajak ketemu.. Ujung-ujungnya pinjam uang dengan alasan ini itu.. Dan sampai hari ini tidak pernah dikembalikan hingga tahun-tahun berlalu..

Kisah Ustad Luqmanul Hakim gak kalah unik, waktu masih kuliah S2 di Malaysia dia diundang makan di sebuah restoran mewah oleh salah satu kawannya. Ustad Luqman bahkan diminta memindahkan parkiran motor bututnya agar tidak menggangu pemandangan di halaman depannya. Usai makan, kawannya justru curhat dan minta nasehat, sambil menunjuk mobil mewah di halaman depan yang sudah 6 bulan cicilannya belum terbayar..

Betul kan, rejeki dari Allah itu PASTI CUKUP untuk hidup, tapi TAK AKAN CUKUP untuk gaya hidup..

Kisah nyata sebaliknya dari Ustad Luqman,
Seorang ibu tua dengan kain jarik datang ke sebuah masjid usai jumatan, panitia dan takmir sedang berkumpul sambil duduk menghitung uang hasil infak jamaah hari itu. Ketika ibu itu datang dengan baju sangat biasa dan berkain jarik, salah seorang dari mereka berdiri, mendekati ibu itu sambil berkata, “maaf bu, disini tidak menerima sumbangan..”
Ibu itu membuka lipatan kain jariknya, mengeluarkan uang berwarna merah, biru, merah, biru, merah, biru.. berlembar-lembar banyaknya, sambil berkata
“Maaf nak, saya mau ikut bersedekah untuk pembangunan masjid ini.. Ini uangnya mohon diterima..”
Seketika para takmir itu menunduk, tak ada yang berani memandang wajah ibu itu.. Salah tingkah dan menahan malu…

“Suatu malam, Ustadz Muhammad Nazhif Masykur berkunjung ke rumah. Setelah membicarakan beberapa hal, beliau bercerita tentang tukang becak di sebuah kota di Jawa Timur”

Ustadz Salim melanjutkan, “Ini baru cerita, kata saya. Yang saya catat adalah, pernyataan misi hidup tukang becak itu, yakni:
(1) jangan pernah menyakiti
(2) hati-hati memberi makan istri.“

“Antum pasti tanya,” kembali Salim melanjutkan ceritanya sembari menirukan kata-kata Ustadz Muhammad.
"Tukang becak macam apakah ini, sehingga punya mission statement segala?”.
Saya juga takjub dan berulang kali berseru, “Subhanallah,” mendengar kisah hidup bapak berusia 55 tahun ini.

Tukang becak ini Hafidz Qira’at Sab’ah! Beliau menghafal Al-qur’an lengkap dengan tujuh lagu qira’at seperti saat ia diturunkan: qira’at Imam Hafsh, Imam Warasy, dan lainnya.
Dua kalimat itu sederhana. Tetapi bayangkanlah sulitnya mewujudkan hal itu bagi kita.

Jangan pernah menyakiti. Dalam tafsir beliau di antaranya adalah soal tarif becaknya.
Jangan sampai ada yang menawar, karena menawar menunjukkan ketidakrelaan dan ketersakitan.

Misalnya ada yang berkata, “Pak, terminal Rp 5.000 ya.“ Lalu dijawab,“Waduh, enggak bisa, Rp 7.000 Mbak.”
Itu namanya sudah menyakiti. Makanya, beliau tak pernah pasang tarif.
“Pak, terminal Rp 5.000 ya.” Jawabnya pasti OK. “Pak, terminal Rp 3.000 ya.“
Jawabnya juga OK. Bahkan kalau,“Pak, terminal Rp 1.000 ya.” Jawabnya juga sama, OK.

Gusti Allah, manusia macam apa ini!

Kalimat kedua, hati-hati memberi makan istri. Artinya, sang istri hanya akan makan dari keringat dan becak tuanya. Rumahnya berdinding gedek. Istrinya berjualan gorengan. Stop! Jangan dikira beliau tidak bisa mengambil yang lebih dari itu. Harap tahu, putra beliau dua orang. Hafidz Al-qur’an semua.

Salah satunya sudah menjadi dosen terkenal di perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di Jakarta. Adiknya, tak kalah sukses. Pejabat strategis di pemerintah. Uniknya, saat pulang, anak-anak sukses ini tak berani berpenampilan mewah. Mobil ditinggal beberapa blok dari rumah. Semua aksesoris, seperti arloji dan handphone dilucuti. Bahkan, baju parlente diganti kaus oblong dan celana sederhana.

Ini adab, tata krama.

Sudah berulang kali sang putra mencoba meminta bapak dan ibunya ikut ke Jakarta. Tetapi tidak pernah tersampaikan. Setiap kali akan bicara serasa tercekat di tenggorokan, lalu mereka hanya bisa menangis.

Menangis. Sang bapak selalu bercerita tentang kebahagiaannya, dan dia mempersilakan putra-putranya menikmati kebahagiaan mereka sendiri.

Ustadz Salim melanjutkan, “Waktu saya ceritakan ini pada istri di Gedung Bedah Sentral RSUP Dr. Sardjito keesokan harinya, kami menangis.

Ada banyak kekasih Allah yang tak kita kenal.”
Ah, benar sekali: banyak kekasih Allah dan “manusia langit” yang tidak kita kenal.

Kawanku.. Hari terus berganti, matahari datang pagi ini, dan menghilang sore nanti..
Usia kita terus bertambah, tanpa sadar banyak hal yang begitu saja kita lewatkan hanya untuk mengejar dunia yang sementara..
Padahal esok pada waktunya, kita semua saat pulang ternyata hanya dibungkus kain kafan tak bersaku.. Tak ada bekal uang yang berlaku..

Semua harta yang selama ini kita kejar habis-habisan, ternyata semu belaka.. Pangkat, jabatan, kemewahan yang selama ini dibanggakan akan berakhir ditimpun tanah kuburan..

Banyak orang yang mengejar label kaya dengan menggadaikan dunianya, harga diri sudah musnah entah kemana..
Sementara, banyak orang yang diam-diam ternyata kaya raya, dan lebih suka mencari muka hanya pada Tuhannya..

Benar kata kawan saya Mas Arief Budiman..
ORANG KAYA adalah orang yang selalu merasa cukup, sehingga dia terus berbagi..

ORANG MISKIN adalah orang yang selalu merasa kurang, hingga dia terus meminta-minta…

Salam,
@Saptuari

Kali ini cobalah untuk bermuka tebal, dan memilih melanjutkan perjalanan. Meski barangkali, ada yang mengabaikan, meremehkan hanya karena kita pendosa hingga rasanya tak pantas membaik.

Tidak apa apa kalau kita memulai kembali bukan hanya dengan perasaan malu, bahkan rasanya seperti tidak pantas. Sungguh, tidak apa-apa jika harus menghadapi kegundahan itu.

Kuatlah sayang!
Kita berhak kuat untuk melalui episode ini. Peluk saja rasa sakit rasa kecewa akibat ulah kita sendiri, peluk erat-erat. Hingga kita mulai mampu berdamai dan memaafkan diri sendiri.

Dan bukankah kita mengetahui bahwa Allaah berjanji akan mengampuni hamba yang melampaui batas ?
Asalkan kita tahu diri harus bagaimana.

Percayalah semuanya akan berlalu, dan semuanya akan menjadi lebih baik sebagaimana kamu berupaya mengejar ketertinggalan untuk memeluk kebaikan. Bukan lagi mengejar sesuatu yang semu, yang kilaunya memanjakan mata dan hati, padahal palsu.


© Menyapa Mentari

Menerka Ukuran

Usia saya akan menginjak angka 27 pada akhir tahun ini. Dan saya sering mengingat bagaimana masa-masa usia 22-25 dijalani hingga sampai di titik ini. Ada begitu banyak hal-hal yang saya syukur, dan tentu saja ada yang disesali. Tapi, setidaknya saya kini punya pandangan bahwa; apapun yang sudah terjadi, tidak perlu lagi disesali sepanjang saya sudah mengikhtiarkannya semaksimal mungkin sampai batas yang saya bisa.

Kenyataannya memang demikian. Tidak segala hal yang kita inginkan pada masa-masa life crisis akan terwujud. Dan itu jangan menjadi sesal, caranya tentu dengan memperjuangkannya terlebih dulu sampai batasnya. Bagaimana kita tahu batasnya? Ya dengan memperjuangkannya! Karena itu tidak bisa diterka, juga tidak ada panduannya. Yang bisa merasakan batas itu adalah dirimu sendiri!

Hari ini, kita sedang berjuang tertatih-tatih. Sementara kita dipaparkan pada kenyataan paling memilukan menurut saya hari ini, feeds instagram. Satu hal yang perlu kita pahami benar, bahwa ukuran kita tidak akan pernah sama dengan ukuran orang lain. Tujuan kita pun begitu.

Perjuangan kita semakin dirusak kemurniannya karena terpukau dengan apa yang tertampil di sana. Perjuangan kita semakin meresahkan karena seolah-olah tak pernah sampai, seperti apa yang kita lihat di orang lain. Tujuan kita menjadi tidak lagi murni, bahwa perjuangan itu tidak perlu ditampilkan, apalagi harus diberitakan ke seluruh penjuru dunia. Hidup kita semakin tidak tenang karena rasa syukur kita yang semakin hilang, kita sibuk membandingkan dan terkagum dengan apa yang dicapai orang lain.

Ada sebuah cerita tentang seekor katak yang berusaha memanjat pohon. Sepanjang usahanya memanjat, katak-katak yang lain meneriakinya dari bawah. Meragukannya, menghinanya, tapi ia tidak bergeming. Ia tetap memanjat.

Sampai pada akhirnya ia hampir mendekati pucuk pohon, seluruh katak yang tadinya menghinanya kini meneriakinya dengan dukungan. Bahkan kekaguman. Dan ia tetap diam saja, sampai ia berhasil sampai.

Dan satu hal yang katak-katak lain tidak tahu, ternyata katak yang memanjat itu tuli. Ia tidak mendengar cacian, juga pujian yang tadi di alamatkan kepadanya.

Kalau dalam konteks kita saat ini, sebagai generasi muda. Mungkin kita perlu untuk membutakan diri. Menutup mata kita dari dunia yang amat semu, yang setiap hari kita buka setelah bangun tidur, di kantor, di jalan, di mana pun. Kita perlu fokus pada apa yang kita perjuangkan, pada apa yang sedang kita jalani, dan pada hal-hal yang sudah kita miliki.

Kita perlu untuk membutakan diri dari dunia luar yang hingar bingar, yang memecah kesunyian kita dengan tawaran-tawaran yang semu. Kita perlu kembali menata diri, dan bahagia dengan setiap waktu dan jerih payah yang kita lakukan.

Kita tidak perlu menjadi bagian dari mereka. Hidup kita tidak perlu mereka ketahui. Kita tidak membutuhkan pengakuan dari siapapun. Kita hanya perlu mengakui diri kita sendiri, betapa berharganya kita dan apa yang sedang kita perjuangkan. Karena kelak, kebahagiaanmu bukan bergantung pada bagaimana orang memperlakukanmu, melainkan bagaimana kamu bisa memperlakukan dan menghargai dirimu sendiri.

Yogyakarta, 7 April 2017 | ©kurniawangunadi

Berbohong Pada Diri Sendiri.

Bahagialah dengan rasa jujur yang penuh. Terlebih pada dirimu sendiri.

-

Aku berusaha memungkiri fakta bahwa kau tidak mencintaiku. Aku berusaha menyenangkan diri sendiri, dengan berpikir bahwa kau merindukanku karena kealpaanku di sisimu. Hal yang kutahu adalah tidak.

Aku melakukan itu untuk menenangkan gelisahku sendiri. Aku memungkiri banyak nyata, demi membahagiakan diri sendiri.

Sampai tahap ini, apa kau tahu nyeri yang kurasa?

: Bahagiaku nampak semu. Senyum pun menjadi palsu.




© Tia Setiawati | Palembang, 8 September 2017

happines

tentang apa yang membuat kita bersedia tidur larut dan bergegas bangun ketika pagi.

Gue nggak nemuin awal yang asyik buat nulis cerita ini. Pas gue ngelewatin kota dengan gemerlapnya lampu atau berwarnanya foto-foto di Instagram, ada kalanya gue pengen banget cepat punya uang terus ngebeli semuanya dan bahagia. Then gue nanya ke diri sendiri:

“Pengen bahagia aja, ngapain nunggu duit sih?“

pernah temen gue nanya ke gue:

“Dea, what will you do if money isn’t an issue?“

“Gue pengen ngabisin waktu gue di tempat kayak bells lab”

“Lo nggak pengen ke maldives gitu?”

gue menggeleng. 

dulu pas kecil, gue ngabisin waktu dalam kondisi terkucil. Pernah suatu hari, gue berharap punya popularitas. Dikenal banyak orang dengan banyak prestasi. Akhirnya gue nyadar kalo menjadi populer bukanlah keinginan gue yang sebenernya. Ia hanya timbul sesaat akibat reaksi dari segala hal yang gue alami di masa kecil.

nyatanya, gue itu manusia yang nggak suka sorotan kamera. Yang nggak biasa pose artsy buat dipasang di instagram. gue cuma manusia pemalu yang lebih suka guyonan bareng teman di forum-forum kecil.

ada masanya kita menggantungkan kebahagiaan pada popularitas, pada uang, pada pujian dan hal-hal semu. Tapi di ujung perjalanan, kita bakal sadar kalo semua sangat semu. 

sejatinya yang membuat kita bahagia adalah rasa syukur, ridho, ikhlas dan rasa cinta kita pada kebaikan. Uang, popularitas dan pujian hanya sumber daya yang bisa kita genggam sewaktu-waktu lalu bisa pergi sewaktu-waktu pula.

uang dan popularitas bisa melipatgandakan kebaikan jika diamanahkan pada hati yang baik. sementara pujian (kadang) bisa kita pakai buat mengukur respon orang lain atas hasil kerja kita. tapi ketiganya nggak bakal bisa ngebuat kita ngerasa utuh selagi kita menganggap ketiganya sebagai sumber kebahagiaan.  Yang ada, kita kejebak dalam hedonic treadmill.

Sorry kalo di sini agak nggelambyar. Ini sebenernya gue lupa, gue ngedraft buat ngomong apa ~XD tapi pas gue baca awal-awalnya, kok gue ngerasa diingetin sama diri gue sendiri:

“biarlah apa yang ada di dunia ini tetap kita posisikan sebagai sumber daya untuk menunaikan tugas kita sebagai khalifah di muka bumi. Jangan sampai disimpan dalam hati sampai mengkontrol tindakan kita”

kehitung empat tahun, gue nyoba baca buku-buku yang sebelumnya belom pernah gue baca. Gue nyoba tempat-tempat baru yang belom pernah gue kunjungi. Gue ngajak ngobrol orang-orang random yang bikin gue nanya ke diri gue sendiri:

“apa yang sebenernya gue cari?”

Kemarin, gue sempet ngobrol sama temen gue tentang target jangka panjang. Dan nyatanya, orang yang sering banget nulis cita-cita kayak gue, justeru ga punya tujuan yang spesifik ~XD

temen gue ada yang pengen jadi ibu yang profesional.

ada yang pengen kaya sebelum usia empat puluh.

banyak target-target yang kata mereka cukup ngebuat mereka untuk selalu bangun pagi dan segera berlari menuju apa yang mereka pengen.

Dulu, ketika gue masih kecil, gue pengen jadi dokter karena gue pengen bisa nyari obat yang enggak pahit. Pernah pengen jadi guru karena pengen baca buku dan tetep dibayar.

Menjelang dewasa, gue pengen jadi jurnalis atau kerja di TV. Gue suka dunia hiburan sebenernya. Tapi pas ortu nyuruh gue belok ke Informatika, gue rela-rela aja. Pas banyak mahasiswa yang curhat ke gue kalo mereka kuliah dipaksa ortu, gue bilang:

“Jangan ngebiarin hati kamu dibebani perasaan kalo hidup kamu dikendalikan ortu. Sekarang kamu ngejalanin kuliah bukan karena dipaksa ortu. Tapi karena kamu milih berbakti ke ortu dengan cara kayak gini. Meskipun sebenernya da cara lain. Udah ridho-in aja. Kalo udah ridho, kamu baru bisa move on. Ato kalo mau keluar, ya keluar aja. Ngomong baik-baik ke ortu. Jangan nyalahin mereka atas keputusan yang kamu pilih”

Intinya jangan pernah ngejalanin hidup kita setengah-setengah. Harus all out. Kalau sudah pilih A, jalanin yang A jangan tengok ke B.

Anyway meski gue sempet belok ke dunia teknologi, pas gue kerja, gue dipertemukan lagi sama dunia hiburan. Gue ngajar di Departemen Teknologi Multimedia Kreatif. Disana ada dua Program Studi. Satunya Teknologi Game, satu lagi Multimedia Broadcasting. Gue cukup bahagia di sini.

Balik lagi ke target sama ke pertanyaan apa yang lagi gue cari?

target gue cuma pengen lebih baik dari waktu ke waktu. Baik dalam artian punya kompetensi yang mumpuni di tempat gue kerja, plus bisa memanfaatkan kompetensi gue untuk hal-hal yang baik.

kenapa ga pengen bikin target yang spesifik cem bikin Lab, ato Punya duit semilyar?

kata temen gue, gue selalu maunya di zona nyaman. Kalo udah kayak gini, gue suka iseng jawab:

gue itu bisa nyaman di mana aja. Termasuk di zona ga nyaman pun bahagia. Elu mah, di zona nyaman aja masih ngerasa ga nyaman ~XD

Dunia bisa berubah, struktrur sosial, ekosistem bisnis dst dst akan selalu berubah. Gue ga saklek attached sama satu cita-cita tertentu. Gue cuma mau berlatih sampe panggung nemuin gue ~XD #bilangajamalesmikir #iyalah,gueditanyakapannyarijodohajajawabnyanyaridipaper. Yaa lagian ngapain dipikirin sih? Jalanin aja biar bisa menikmati hari ini.

Kadang kita menggantungkan kebahagiaan pada cita-cita yang masih terlalu jauh sehingga kita nggak bisa menikmati kebahagiaan hari ini dan nggak bisa meresapi nikmatnya dikelilingi oleh orang-orang yang kita sayang.

Gue percaya, kalau Allah mentakdirkan kita buat mendapatkan sesuatu, hati kita, sadar nggak sadar akan mengarahkan segala ikhtiar kita untuk menuju kesana. Dan kalaupun kita sempet belok-belok muter kemana-mana, kita bakalan balik ke sesuatu yang ditakdirin buat kita.

Jadi dari tulisan yang muter-muter ini,

gue sebenernya mau ngasih tau kalo popularitas, harta, pujian bukan sumber kebahagiaan yang sebenernya meskipun ga bisa dipungkiri kalo harta yang digunakan dengan tepat bisa bikin kita bahagia.

bahagia itu dari hati kita yang selalu ridho sama setiap takdir.

gue ngerasa, sumber ketidakbahagiaan kita itu salah satunya adalah karena kita ga bisa memaafkan keputusan-keputusan kita yang salah di masa lalu. Buat gue mah, yaudahlah…move on aja. Manusiawi kok kalo kita pernah salah memutuskan sesuatu. Better segera sembuhin dari dan jalan lagi. Kalau toh kita ditakdirin buat mencapai cita-cita kita, sejauh apapun nyasarnya kita akibat salah ngambil keputusan, kalo kita keep moving forward, kita bakal kembali ke jalan yang benar.

Dan kalopun kita ga ditakdirkan kesana, pasti ikhtiar kita bakal membuahkan hal lain yang sama indahnya. Macem tokoh utama di film Passenger yang pengen tinggal di luar angkasa tapi gagal dan malah nemuin cinta *pret. Gue sebenernya ngomel-ngomel sih pas lihat film ini. Karena gue ngebayangin sci-fi yang gimana gitu eh nyatanya malah jadi drama ~XD 

But in the end, dibalik cerita dangdutnya mbak Jennifer Lawrence sama mas Chris Pratt, gue dapet pelajaran random bahwa meskipun ga sampe tujuan, ga ada usaha yang dibiarin sia-sia gitu aja sama Allah yang mengatur takdir kita.

Menyentuh Nyata

Sejak obrolan beberapa bulan lalu dengan beberapa teman tentang pilihan mereka untuk berhenti bermain Instagram dan Facebook.


Saya

lo kenapa gak pernah lagi posting di Instagram setahun belakangan ini, trus juga gak pernah keliatan akun lo bikin stories?”


Teman saya

“gak ada yang penting, gak ada yang kayanya bermanfaat, jadi males…”


“tapi kan followers luh udah sekian puluh K, sayang kan… Posting karya2 lo juga gak dosa kan?”



“Iya emang gak dosa, tapi kalau abis posting gw jadi ngabisin waktu. Dikit2 buka ig, cek udah berapa ribu yang like, klo kemarin dapet 2k like hari ini Cuma 1k lewat dikit gw jadi kesel.. Kayanya gw terlalu terobsesi mendapat kebahagiaan dari sesuatu yang semu ”


“oh,,,, Iya juga sih yaaaa”



Sebelum itu saya juga sempat bertanya pada teman yang berbeda perihal pilihan nya menutup akun Facebook


Saya

“teh, udah lama gak keliatan di Facebook, lagi puasa?”


Teman saya

“Iya neng, kayanya lebih aman tanpa Facebook nih”


“loh Kenapa?”


“Banyak gak bermanfaat nya, lama2 main Facebook Kok niatnya jadi beda”


tapi kan Teteh sering share tulisan bagus2 teh, Sekalian dakwah kan?”




“Awalnya begitu, tapi lama2 timbul rasa congkak dihati, maunya dapet like lebih banyak, cek notif sering2, belum lagi suka gelisah kalau gak ada yang koment, jadi waktu terbuang sia sia, gimana kalau lama2 sombong dan hatinya sakit.. Jadi mending ditutup aja, toh dakwah gak selamanya lewat Facebook.”



Akhirnya setelah sekian lama saya mikirin hal ini saya pun memutuskan puasa ig (sudah hampir sepekan)

Dan Facebook (hampir 3pekan)


Kalau dipikir2, setiap kali buka ig saya bisa menghabiskan banyak waktu terbuang.

Scroll terus sampai bawah, kalau udah bosan saya ke explore, kalau sudah bosan saya buka itu stories orang2..


Apa yang saya dapat?banyak…

Saya jadi melihat begitu indah nya hidup orang2, atau begitu rumit nya mereka.

Instagramer yang fotonya indah2.

Padahal sepengalaman saya foto indah dihasilkan dari cara kita mengolah gambar, pada aslinya ya biasa aja, indah jika dinikmati dalam nyata, jika dalam Maya saya lebih banyak lupa menikmatinya dalam nyata.

Seperti sebuah pemandangan gunung atau pantai.


Melihat ibu ibu muda dengan keluarga kecil nya, anaknya yang menggemaskan, kamar yang lucu2.

Alhasil kadang saya jadi iri, entahlah itu hanya dialami oleh saya atau juga yang lainnya.

Sama halnya melihat para Selebgram cantik bertebaran.

Kalau foto mungkin harus berulang2 (Kata mereka loh ini)

Cantik2, barang2 yang nempel mahal2 pun.

Bikin saya suka membandingkan fisik…

Hasil dari keduanya malah bikin saya punya hasad ke mereka (baca : ain)


Padahal bukan Salah mereka.

Si ibu2 itu dan para Selebgram geulis itu mereka memang punya, menjual, diberi, bisnis dan banyak alasan lain yang mereka bawa dalam sebuah foto (mari berpositif thinking)


Belum lagi gossip2 yang bertebaran, info hoax dll.

Rasanya gak ada yang bermanfaat buat diri ini.

Saya menghabiskan waktu untuk hal hal yang cemacam itu.

Kenapa?

Karena saya main ig gak ada yang bayar, malah bayar wifi nya :(


Itu salah satu alasan Kenapa teman saya memilih tidak bermain ig lagi selama setahun ini.

Padahal dia seorang photographer, banyak karya2 nya yang bagus.

Tapi nyatanya Kata dia “karya bisa di share, tapi gak selamanya di share di ranah maya, bisa kan cerita2 saat bertemu orang”

Beliau juga sekarang jarang memposting foto di ig bisnis kami, paling sering sebulan, trus di promote aja, jadi bisa keluar di timeline mereka yang satu negara dengan kami.


Katanya lagi “Kita jarang promote aja suka kewalahan sama kerjaan sekarang hahaha”



Beda lagi dengan Facebook.

Facebook yang menawarkan sebuah pemikiran yang sedang ada di otak kita ini, jadi seenaknya digunakan para penggunanya.

Ada yang post gak penting semacam:

Anak abege

“Kamu jahat, bikin aku kesel mulu”


Ibu ibu baru lahiran

“jam segini lembur jagain anak, besok gini lagi”


Upload foto makanan yang malah bikin saya laper, tapi gak bisa nemu disini makanan nya.


Upload foto anak sambil cerita


Upload album nikahan, abis itu lanjut bulan madu, hamil 2minggu…


Patah hati, sengsara etc.


Saya tidak akan menyalahkan mereka.

Tapi rasanya itu semua gak penting untuk saya ketahui.

Ujung2nya ya gak jauh lah, diri ini suka muak, dan pengen koment sambil ceramahin mereka..

Duh dengki amat ya dasar…


Belum lagi sekarang banyak postingan yang membuat keributan, pengen diajak debat banget, perbedaan pendapat, sampe masalah hukum a b etc…


Jari ini gatel pengen nyinyir, trus koment, trus kesel aja.

Jadi yang salah siapa? Mungkin mereka salah, tapi saya malas menyalahkan.

Harusnya saya mampu menjaga diri ini. Ketidakmanfaatan bermain ig adalah saat saya ingin memposting sebuah gambar, saya harus mengedit seideal mungkin.
Geser pot bunga, puter cangkir kopi, pake makeup sampe alis beneran rapi, foto pemandangan yang harusnya itu waktu istirahat dari kerjaan dan menikmatinya,malah kelamaan ambil pose terbaik camera atau sesuatu didepan. Eh pas udah siap fotonya, mikir caption nya hampir 3jam. Hih

Katanya lagi, kalau ada yang bisa ngabisin isi stories ig following nya itu juara bgt.

Saya jadi repot bgt makan, di foto dulu, berharap ada yang reply, sampe nonton film aja divideoin..
Duh Gila juga lama2 ini..

Ujung2nya ngabisin waktu.


Dan waktu saya terbuang dengan merasa kesal pada mereka di Facebook.
Bukan karena nasib kehidupan saya dan mereka.
Tapi cara mereka saat share apa yang sedang atau mereka rasakan.
Apakah semua itu benar?
Padahal entahlah, mungkin sebuah kepura2an.


Jadi, selama saya puasa.
Saya mengarchive banyak Foto2 di ig.
Kenapa? Karena risih aja tiba2 kalau ada yang Kepoin (siapa elu sih)

Dan saya menutup akun Facebook, dan off Instagram juga sementara, entah seminggu, sebulan atau idk yet.
Kenapa? Karena saya males juga ada yang kepo akun saya sampe ujung.
Hahaha (ini karena pernah nemu notif like dari seseorang yang ngelike postingan saya 7thn lalu, edun kan?)


Akhirnya saya memutuskan menguninstal mereka juga, Termasuk line meski Cuma buat chatting, tapi timeline isinya macem2 dan Kebanyakan gak berfaedah.

Dan mulai membuka Tumblr, mengexplore akun2 dengan tulisan yang menurut saya mengedukasi, menginspirasi, dan membawa saya pada pemahaman baru.
Tak usah di sebut yaaa… Soalnya banyak ehehehe…


Pagi-pagi saya jadi punya waktu buat jalan2 nikmatin taman sepanjang jalan di sg, liat2 pemandangan tanpa perlu ambil hape, ambil foto,
Gak perlu lah susah2 ke Cafe buat cari hal bagus buat di foto.
Akhirnya mampu ke pasar traditional buat beli tempe sama cabe buat di masak sendiri trus gak perlu foto mereka buat di post di stories…


Trus hati jadi tenang, gak berbeban banyak2, menikmati kehidupan alam nyata, menyentuh mereka kembali, menjadi orang yang biasa saja ternyata tidaklah berdosa.


Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan untuk tulisan ini.
Saya tidak menyuruh siapapun setuju dan mengikuti saya.
Aktif di sosmed tidaklah masalah jika kalian mengira bahwa hidup kalian bisa menyenangkan disana,bermanfaat, menemukan hal baru, menemukan keindahan, kenyamanan, dan kebahagiaan sekalipun.

Tapi Mereka tetaplah semu.
Kehidupan nyata pun tak selamanya indah…

Semuanya punya pilihan.

Dan saya sedang memilih untuk menyentuh nyata :)



Singapore, 28 September 2017

Untuk kesekian kalinya, kehadiranmu masih ada dalam tanda tanya. Sering kali aku menunggu, namun tetap saja semu. Diantara semburat mega, ku titipkan beribu asa agar ikut menjelajah bersama pancaran sinarnya. Biarpun hanya fatamorgana, kuharap itu bisa bermakna.

Dibalik hati yang was-was, tersirat perasaan cemas saat kau tak kunjung juga datang. Dalam bayang, kau selalu saja terngiang diantara liarnya khayalan.

Mungkin, Semesta sudah mengatur semuanya dengan rapih. Hanya kita saja yang masih belum bisa tertatih. Kita masih perlu membutuhkan waktu untuk mempersiapkan hari dimana kita akan temu.


Pict Source: @hiperbolakata

Ada yang kirim bahan renungan
ANAK PINTAR atau ANAK SOLEH ?

Mana yg didahulukan, mendidik anak menjadi sholeh atau pintar….?

Kisah ini layak jadi pertimbangan

Seorang bapak kira-kira usia 65 tahunan duduk sendiri di sebuah lounge bandara Halim Perdana Kusuma, menunggu pesawat yang akan menerbangkannya ke Jogja.
Kami bersebelahan hanya berjarak satu kursi kosong. Beberapa menit kemudian ia menyapa saya.
_“Dik hendak ke Jogja juga?”_
_“Saya ke Blitar via Malang, Pak. Bapak ke Jogja?”_
_“Iya.”_
_“Bapak sendiri?”_
_“Iya.”_ Senyumnya datar. Menghela napas panjang._“Dik kerja dimana?”_

_“Saya serabutan, Pak,”_ sahut saya sekenanya.
_“Serabutan tapi mapan, ya?”_ Ia tersenyum. _“Kalau saya mapan tapi jiwanya serabutan.”_

Saya tertegun. _“Kok begitu, Pak?”_
Ia pun mengisahkan, istrinya telah meninggal setahun lalu. Dia memiliki dua orang anak yang sudah besar-besar. Yang sulung sudah mapan bekerja. Di Amsterdam. Di sebuah perusahaan farmasi terkemuka dunia. Yang bungsu, masih kuliah S2 di USA.

Ketika ia berkisah tentang rumahnya yang mentereng di kawasan elit Pondok Indah Jakarta, yang hanya dihuni olehnya seorang, dikawani seorang satpam, 2 orang pembantu dan seorang sopir pribadinya, ia menyeka airmata di kelopak matanya dengan tisue.

_“Dik jangan sampai mengalami hidup seperti saya ya. Semua yang saya kejar dari masa muda, kini hanyalah kesia-siaan. Tiada guna sama sekali dalam keadaan seperti ini. Saya tak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi saya sadar, semua ini akibat kesalahan saya yang selalu memburu duit, duit, dan duit, sampai lalai mendidik anak tentang agama, ibadah, silaturrahmi dan berbakti pada orang tua._

_Hal yang paling menyesakkan dada saya ialah saat istri saya menjelang meninggal dunia karena sakit kanker rahim yang dideritanya, anak kami yang sulung hanya berkirim SMS tak bisa pulang mendampingi akhir hayat mamanya gara-gara harus meeting dengan koleganya dari Swedia. Sibuk. Iya, sibuk sekali…. Sementara anak bungsu saya mengabari via WA bahwa ia sedang mid - test di kampusnya sehingga tidak bisa pulang…”_

_“Bapak, Bapak yang sabar ya….”_
Tidak ada kalimat lain yang bisa saya ucapkan selain itu.

Ia tersenyum kecut.
_“Sabar sudah saya jadikan lautan terdalam dan terluas untuk membuang segala sesal saya dik…_
_Meski telat, saya telah menginsafi satu hal yang paling berharga dalam hidup manusia, yakni sangkan paraning dumadi. Bukan materi sebanyak apa pun. Tetapi, dari mana dan hendak ke mana kita akhirnya. Saya yakin, hanya dari Allah dan kepada-Nya kita kembali. Di luar itu, semua semu. Tidak hakiki…_

_Adik bisa menjadikan saya contoh kegagalan hidup manusia yang merana di masa tuanya….”_

Ia mengelus bahu saya –saya tiba-tiba teringat ayah saya.
Spontan saya memeluk Bapak tsb..
Tak sadar menetes airmata..
Bapak tua tersebut juga meneteskan airmata….
…… *kejadian ini telah menyadarkan aku, bahwa mendidik anak tujuan utamanya harus shaleh bukan kaya. Tanpa kita didikpun rejeki anak sudah dijamin oleh Tuhan, tapi tidak ada jaminan tentang keimanannya, orang tua yg harus berusaha untuk mendidik dan menanamkannya.*

Di pesawat, seusai take off, saya melempar pandangan ke luar jendela, ke kabut-kabut yang berserak bergulung-gulung, terasa diri begitu kecil lemah tak berdaya di hadapan kekuasaan-Nya…

●HIDUP ITU SEDERHANA SAJA. MENCARI REZEKI JANGAN MENGEJAR JUMLAHNYA TAPI KEJAR BERKAHNYA.

Semoga bermanfaat..👍
—  Aa Gym
Pergi, dan Bahagialah

Pertama,
Terimakasih untuk segala sesal yang tak sempat kau sangkal,
saat pernah tak sengaja kusangkutkan rasa tak pantas ini pada setiap deret senyummu.
Kedua,
Terimakasih atas sandaran ternyaman yang sungguh kau berikan untukku,
saat kepingan hati ini kau sentuh begitu lembut, sempat ku membisu seiring semesta menuju semu.
Ketiga,
Maaf bila semua janji telah terucap dan tak acap ku tepati begitupun kau ingin,
saat semua kata tak kuasa meraba dan nampak semesta tak ingin kita bersama,
sampai venus pun menghilang tanpa mendung yang menggulung.
Terakhir,
Maaf, aku harus pergi.

@badutcerdas

Ruh

Farah/Fariha dalam bahasa Arab berarti kebahagiaan, kesenangan, perasaan terpenuhi, dan kepuasan. Ust. Nouman Ali Khan* dalam penafsirannya mengenai ayat 83-85 surat Al-Isra, sedikit menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab, kata “Farah/Fariha” memiliki keterkaitan dengan kata “Ruh” yang bermakna “Jiwa,” inti dari diri seorang manusia.

Ini semacam kode bahwa : ada sesuatu dalam diri kita, yaitu ruh atau jiwa, yang menjadi sumber kebahagiaan/ketidakbahagiaan kita. Sifatnya sangat unik lagi berbeda bagi diri kita masing-masing.

To me, ini kayak ngasih pesan terselubung : Benerin dulu hubungan antara fisik dan jiwa kamu kalau mau bahagia. Gimana mau bahagia atuh, yang dikasih makan perut doangan. Yang dikasih selimut badannya doangan. Yang dipuaskan badannya doangan. Jiwanya jadi ngga terperhatikan, ngga keurus.

Jadi bahagianya ya bahagia yang semu. Yang meningkat ketika banyak materi, terus terjun bebas waktu serba kekurangan. Yang melipat ganda hanya saat hidup berjalan mulus, terus layu saat cobaan hidup datang bertubi. Sifatnya sementara. Sifatnya dangkal.

“True enrichment does not come through possessing a lot of wealth, but true enrichment is the enrichment of the soul.” [HR Bukhari]

Entahlah, di era yang katanya modern, era yang disebut era industri, rasa-rasanya gap antara fisik dan jiwa itu jadi makin lebar. Tepat seperti yang Hamka tulis di bukunya “Lembaga Hidup.” Era modern membuat manusia terlalu mengagungkan fisik/materi ketimbang jiwa. Ngga seimbang. Dan segala yang melanggar hukum keseimbangan bakal menimbulkan konsekuensi. Alam kalau keseimbangannya diganggu, konsekuensinya bencana. Manusia kalau ngga seimbang jiwa raganya bakal berpenyakit. Penyakitnya nggak kelihatan, tapi dampaknya terasa. Dampaknya, ada banyak kejahatan, penyimpangan, pelanggaran, ketidaktenangan, kecemasan, et cetera.
Semuanya berakar dari masalah yang sama : ngga keurusnya jiwa.

“I am pleased with Allāh as my Lord, with Islam as my religion, and with Muhammad as my Prophet (peace and blessings be upon him).” [HR Abu Dawud]

Fondasi kebahagiaan dalam perspektif Islam, ada dalam satu kalimat di atas. Intisarinya adalah : adanya keridhoan terhadap apa yang Allah kehendaki atas diri kita dan atas kehidupan kita seluruhnya.

Radhiitu billaahi rabbaa. Aku ridha dengan Allah sebagai Rabbku. Wa bil Islaami diina. Dan dengan Islam sebagai agamaku. Wa bi Muhammadin Nabiyya wa Rasuulaa. Dan dengan Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasulku.

Mau bagaimana pun hidup ini senang-sulitnya, mau ke mana pun arus hidup membawa, jiwa kita akan selalu ridho, puas, nerima. Yakin bahwa kehendak Allah atas diri kita lebih penting daripada kehendak nafsu kita


 “O Allāh, make me content with what you have provided me, send blessings for me therein, and place for me every absent thing with something better.” [HR Bukhari]

Spirituality (read : ruhiyah) matters more than ever.
___

Video https://youtu.be/Sue4wDjXlRA