Rungu

Berbagi Untuk Agil

Assalamu’alaykum wr wb.

Selamat pagi manusia-manusia hebat di seluruh wilayah Indonesia.

Izinkan saya bercerita sedikit.

Namanya Agil Munawwar, anak usia 12 tahun yang tuna rungu sejak kecil. Ayahnya seorang penghulu dan ibunya ibu rumah tangga biasa. Agil tinggal di kampung nelayan, kami warga Kota Makassar menyebutnya “Desa Nelayan”. Sehari-hari Agil berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Isyarat. Sedikit banyak, berkat Agil pun saya terus belajar agar bisa berkomunikasi dengannya. Walau tidak selancar dia mengeja huruf demi huruf yang di katakan melalui gerak tangan, namun cukup mampu membuat saya senang berbicara dengannya.

Beberapa bulan lalu kami Save Street Child Makassar terpaksa harus menghentikan pemeriksaan telinga untuk Agil di karenakan pemeriksaan terakhir tidak di tanggung BPJS sementara dana di kas Save Street Child Makassar tidak mencukupi lagi untuk melanjutkan pemeriksaan.

Beberapa bulan lalu juga alhamdulillah sudah ada yang menyumbangkan dana sebesar Rp 500.00,- Sampai hari ini kami masih berusaha menggenapkan angkanya di nominal Rp 7.000.000,- untuk pemeriksaan terakhir dan pembelian alat bantu dengar untuk dua telinga. Informasi yang kami dapatkan dari PT. ABDI kisaran harga alat bantu dengar itu Rp 2.700.000,- hingga Rp 40.000.000,-.

Untuk itu, kami dari Save Street Child Makassar kembali membuka donasi kepada siapa saja dan dimana saja, juga berapa saja yang teman-teman ingin donasikan. Harapannya kami, dengan adanya bantuan dari teman-teman Agil bisa kembali mendengar suara-suara, walau berisik. Agar dia juga tahu, bahwa ada suara yang indah di dunia ini, adzan.

Mohon bantuan reblognya minko/minka @tumbloggerkita

siapa tahu ada yg ingin sedekah.

p.s. Mohon maaf untuk background flyernya, saya cuma punya satu foto itu sama Agil. Jazakallahu~

Exceptional Lives, Exceptional Children

Besok adalah hari kedua Ujian Akhir Semester yang sedang kujalani. Mata kuliah yang diujikan adalah Psikologi Pendidikan Anak dan Remaja Berkebutuhan Khusus. Topik-topik yang akan diujikan antara lain tentang gangguan komunikasi, tuna netra, tuna rungu, tuna daksa, dan autis.

Membaca dan mempelajari karakteristik anak-anak berkebutuhan khusus ini membuatku merasa takjub sekaligus bersyukur. Takjub karena mengetahui setiap anak memiliki keunikan sekaligus kebutuhannya tersendiri. Bersyukur karena dapat lebih memahami karakteristik anak-anak ini meskipun belum pernah kutemui secara langsung.

Selain itu, aku juga merasa “tertampar” saat mempelajari hal ini. Pasalnya, anak-anak ini memiliki disabilitas atau ketidakmampuan pada hal-hal yang sehari-hari kugunakan untuk beraktivitas dan bersosialisasi. Hal-hal sederhana yang awalnya tidak terlalu kuperhatikan karena kupikir semua manusia bisa melakukannya. Seperti misalnya, berkomunikasi.

Pada anak-anak dengan gangguan komunikasi, mereka memiliki kesulitan tersendiri dalam memahami atau menyampaikan perasaan, pikiran, maupun informasi yang ada. Mereka juga bisa jadi memiliki kesulitan untuk menggunakan “bahasa” sebagai alat komunikasi, entah itu dalam memahami makna yang tersirat, menyusun kata-kata yang logis, atau memaknai konteks dari suatu informasi. Bahkan, ada juga yang tidak mudah untuk mengucapkan suatu huruf dan terbata-bata dalam berbicara sehingga menyulitkan orang lain untuk memahami perkataan mereka.

Keunikan yang dialami anak-anak tersebut ternyata membuat mereka harus berjuang lebih keras sejak kecil agar bisa menyamai teman-temannya yang “dengan mudah” berkomunikasi dan menjalin interaksi sosial. Di saat anak-anak lain mempelajari hal baru, mereka mendapatkan jam tambahan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasinya. Tidak hanya guru, orangtua juga harus terlibat dalam proses pendidikan dan stimulasi perkembangan anak-anak ini. Dukungan optimal dari guru serta kasih sayang dan penerimaan dari orangtua akan mampu membuat mereka bertahan dan berjuang lebih giat lagi untuk masa depannya.

Untuk setiap anak yang memiliki kebutuhan khusus, semoga kalian bisa senantiasa mengembangkan diri dengan cara dan keunikan kalian. Untuk setiap guru dari para anak berkebutuhan khusus, semoga bapak dan ibu senantiasa diberi kesabaran untuk mendidik para anak didik bapak dan ibu. Untuk setiap orangtua dari para anak berkebutuhan khusus, inilah ladang perjuangan bapak dan ibu–semoga kemudahan dan kebersyukuran senantiasa dilimpahkan kepada kalian.

Untuk diriku (dan siapapun yang baca ini), semoga kau bisa senantiasa mensyukuri hidupmu, ya!