Ramadhan

there have been 2 car bomb explosions in baghdad, iraq. 24 people have been killed from an explosion outside a popular ice cream parlour and 12 killed from another explosion in a busy district (near al Shahada bridge). please keep these innocent souls in your prayers as they’re often forgotten by western media

Ramadhan #2 : Melalui Peran

Sewajarnya remaja, kita senang melihat orang tampan atau cantik. Apalagi ketika kita mendambakan sosok yang menjadi pasangan kita itu yang cantik atau yang tampan. Layaknya artis korea semisal. Sebagai sosok-sosok yang luwes saat kita ajak ke kondangan.

Dan kini, iklan dan barisan newsfeed di instagram pun banjir dengan kecantikan dan ketampanan. Cantik dan tampan dalam definisi rupa. Semulus kulitnya, seputih kulinya, selurus rambutnya, sekeren bajunya, sehitam alisnya, dan berbagai definisi yang tampak sangat lahiriah. Sesuatu yang pasti tidak akan berusia panjang, tapi kita sangat terpesona dan ikut menikmatinya. Beberapa dari kita menjadikannya sebagai kiblat dari definisi itu, karena kita tidak memiliki definisi sendiri apa itu cantik, apa itu tampan.

Dan saya kasih sedikit rahasia. Bahwa sejak dulu, bagi saya cantik (karena saya laki-laki) adalah ketika seorang perempuan memiliki dan menyadari perannya. Perempuan yang mengambil peran secara langsung, secara nyata, terjun ke lapangan, dan memberikan dampak positif. Dan jujur, perempuan seperti itu memang sulit kita jumpai di dunia maya. Sulit menemukan fotonya dengan busana OOTD, apalagi ikutan photoshot untuk ajang-ajang tertentu.

Perempuan yang memiliki dan mengambil peran itulah yang cantik. Setiap peran yang ia ambil, layaknya perawatan kecantikan. Setiap kali ia mengajar, ia sedang merawat hatinya. Setiap kali ia membantu orang lain, ia sedang merawat empatinya, setiap kali ia duduk dalam barisan rapat membahas tentang masalah di masyarakat dan mendiskusikan solusinya, ia sedang merawat akal sehatnya. Dan semakin ia berperan, ia tampak semakin cantik.

Jujur saja, bukankah ada beberapa teman kita yang demikian? Cantiknya terpancar setiap kali ia menjalankan peran kebermanfaatannya. Auranya mengalahkan setiap serpihan bedak dan gincu. Dan arenanya bukan di instagram, tapi di tempat tempat jauh yang sinyalnya mungkin angin-anginan.

Dan pandainya teman-teman laki-lakiku adalah mereka berhasil mempersunting yang demikian. Perempuan-perempuan yang berperan, bukan baperan. Perempuan-perempuan yang berhasil mendefinisikan dirinya sendiri. Perempuan yang sigap, mau berjuang, dan tidak keberatan untuk ikut memikirkan kondisi orang lain. Tidak hanya berpikir tentang kenyamanan dan keamanan diri dan keluarganya.

Dan definisi cantik itulah yang dianut oleh sebagian besar teman laki-laki saya. Satu persatu dari mereka menemukannya. Di organisasi, di komunitas, di lingkungan-lingkungan nyata yang selama ini mempertemukan peran mereka.

Dan kalau kita mau mengukurnya dengan standar kecantikan seperti iklan di televisi, barisan selebgram, dan definisi cantik yang hanya tampak secara lahir. Mereka mungkin kalah jauh. Tapi mereka berhasil mendifinisikan dirinya sendiri, memiliki nilai-nilai yang utuh yang lahir dari dalam diri, bukan dibentuk oleh iklan, oleh dunia maya.

Dan satu hal, mereka berhasil menemukan laki-laki baik yang masih baik akal sehatnya. Sesuatu yang paling dikhawatirkan oleh perempuan di luar sana, adakah laki-laki baik? jangan-jangan laki-laki menyukainya hanya karena kecantikan?

Kalau kamu perempuan, buatlah definisi yang tampan bagimu itu seperti apa. Itulah yang akan membuatmu lebih mudah untuk mengenali, siapa orangnya.

28 Mei 2017 / 2 Ramadhan 1438H | ©kurniawangunadi

Saling Sabar

Ternyata di bulan ke sembilan saya menikah, saya semakin menyadari bahwa ada beberapa hal yang dulu saya pahami ternyata keliru. Sebabnya sederhana; hanya karena saya membaca tanpa mengalami, bertanya tanpa mengalami, dan kini saya mengalaminya-menjalaninya, hingga jawaban itu ternyata terhimpun seiring berjalannya waktu. Banyak kekhawatiran saya tentang pernikahan yang ternyata tidak terjadi, kekhawatiran yang saya buat-buat dalam pikiran saya sendiri waktu itu. Juga ternyata banyak hal tak terduga yang mengejutkan, oleh karena saya memang tidak tahu, tidak ada pedomannya, dan memang saya kini menyadari bahwa setiap pernikahan akan memiliki kisahnya masing-masing. Eksklusifitas yang hanya bisa dirasakan oleh sepasang manusia yang menikah tersebut.

Seringkali orang lain mengatakan kepada kami kalau kami terlihat cocok karena banyak kesamaan, misal sama-sama suka menulis, juga sama-sama suka berkegiatan sosial. Atau ada orang tak dikenal yang mengatakan kalau kami itu saling melengkapi banget, kayak puzzle. Ada satu rahasia (mungkin bisa saya katakan sebagai ilmu) pernikahan yang dulu saya tidak pelajari tapi akhirnya saya pahami setelah menikah, yaitu ilmu saling sabar.

Mau bagaimanapun, saya dan istri adalah dua pribadi yang berbeda dan tumbuh amat berbeda sejak lahir. Mau disatukan seperti apapun, akan selalu ada celah-celah perbedaannya. Mau saling melengkapi seperti apapun, akan selalu ada pertentangan-pertentangannya. Hanya saja, hal-hal seperti itu tidak akan pernah ditemukan di tempat umum karena akan selalu berakhir di rumah.

Dan kuncinya adalah ilmu saling sabar. Sebenarnya, saya dan istri hanya melakukan itu sebagai upaya kami dalam membina rumah tangga muda ini. Kami tidak bersikeras untuk saling melengkapi satu sama lain, tidak juga bersikeras  bahwa kami harus segera berlipat ganda potensinya. Semua itu  butuh satu hal yang penting, yaitu kesediaan masing-masing kami untuk dilengkapi, disadarkan, ditekan (dalam hal positif), didorong, dan sebagainya untuk menjadi pribadi yang berkali lipat baiknya.

Ilmu saling sabar. Kami hanya berusaha untuk saling sabar menghadapi diri kami sendiri, saling sabar juga menghadapi satu sama lain sebagai pasangan. Saling sabar terhadap sifat-sifat, terhadap ekspektasi, juga terhadap ego. Kami berusaha keras untuk saling sabar, yang ternyata itupun sangat sulit.

Ketika menikah nanti, kita mungkin akan menyadari kalau ternyata tidak selalu menikah itu saling melengkapi. Belum tentu kehadiran kita melengkapi kekurangannya, juga sebaliknya. Belum tentu kehadirannya meniadakan kekurangan kita. Bisa jadi justru semakin menambahnya. Belum tentu kehadirannya mampu meredakan kekhawatiran dan keresahan kita dulu ketika sendiri, bisa jadi justru kekhawatiran kita semakin bertambah.

Kita perlu untuk saling sabar. Sebab selama-lamanya kita harus saling beradaptasi. Kita harus saling percaya, saling menerima satu sama lain, saling mendukung, dan saling mengendalikan ego. Dan untuk melakukan itu semua, kita perlu untuk saling sabar.

Selamat mempersiapkan kesabaran sebagai bekal, pastikan ia tidak ada habisnya. Jangan membatasinya. Biarkan itu tumbuh setiap hari dalam pernikahan nantinya.

©kurniawangunadi | 15 Juni 2017

Ramadhan #14 : Semakin Dewasa

Semakin kita dewasa, kita semakin sadar kalau kita butuh lebih dari sekedar perhatian, paras yang tampan/cantik, pekerjaan yang mapan, dan kekayaan, yaitu tanggungjawab. Tanggungjawab adalah hal yang paling kita butuhkan dari seseorang yang kita damba kelak menjadi imam/makmum kita. Sesuatu yang semakin jarang kita temukan dari diri seseorang. Dan itulah yang sesungguhnya kita butuhkan, meski sampai hari ini kita masih memaksakan kebutuhkan kita atas kecantikan/ketampanan, kekayaan, dan segala hal yang sifatnya sementara, hilang oleh waktu.

Semakin dewasa kita akan semakin mengerti kalau kita belajar bukan sekedar untuk mencari nilai. Kita butuh ilmu untuk kita gunakan dikehidupan kita. Dan kita teringat semasa dulu sekolah, seluruh pelajaran yang kita pelajari hilang tanpa bekas dan nyaris tak satupun bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga ingat, semasa dulu berlomba-lomba mencari nilai tertinggi tanpa kita paham mengapa kita belajar ini dan itu selain untuk mendapatkan nilai. Kini selepas dari dunia sekolah, kita sadar hanya sedikit ilmu yang kita miliki yang bisa kita gunakan. Lainnya adalah kekhawatiran, bahkan kita tidak memiliki ilmu untuk menghadapi kekhawatiran tsb.

Semakin kita dewasa, kita semakin sadar kalau waktu berjalan begitu cepat. Dan tak terasa kita sudah sampai di waktu-waktu yang paling meresahkan semenjak kita hidup. QuaterLifeCrisis. Kala kita harus mengambil begitu banyak keputusan dan kita sadar bahwa banyak dari keputusan itu bersifat permanen, seperti pilihan kita atas karir, pasangan hidup, dsb. Sementara kita tidak siap mengambil keputusan itu karena kita ragu-ragu, ragu yang disebabkan oleh sedikitnya informasi yang kita miliki atas pilihan-pilihan yang ada didepan mata kita. Semakin dewasa, kita semakin ingin kembali ke dunia anak-anak. Dunia tanpa beban, dimana kita bisa mengambil keputusan apapun tanpa berpikir resikonya bahkan tanpa memikirkan apa kata orang lain. Seperti keputusan kita saat kecil saat bercita-cita untuk menjadi superhero seperti dikartun. Kalau hari ini kita masih melakukannya, kita akan ditertawakan. Dan semakin dewasa, kita semakin sadar bahwa kita butuh keberanian, sesuatu yang dulu sangat membara semasa kecil.

Semakin dewasa, kita semakin mengerti kalau di ramadhan ini kita butuh lebih dari sekedar euforia buka puasa bersama, baju baru menjelang lebaran, bermain kembang api, layaknya dulu ketika masih kecil. Kita butuh rahmatNya, dan itu hanya bisa kita dapatkan melalui keikhlasan kita dalam menjalani ibadah selama ramadhan ini. Kita mulai membuat targetan, kita melipatgandakan ibadah-ibadah kita sehari-hari.

9 Juni 2017 | ©kurniawangunadi

Kunci dari latihan Ramadan adalah menahan dan bertahan. Seperti seorang anak yang belajar berpuasa lalu dibiarkan orangtuanya menangis sejak satu jam sebelum bedug berbuka menahan lapar. Bukan soal tega atau tidak, tapi soal mengajarkan menjadi tangguh, tahan uji, dan berkeinginan kuat. Sehingga kemudian anak menjadi tahu ada kemanisan di balik perjuangan. Dan mungkin itulah inti dari kehidupan dunia ini, yaitu menahan untuk kemenangan yang lebih besar.