Patology

Il disturbo caratterizzato da vissuto emozionale eccessivo e variabile, più semplicemente DISTURBO BORDERLINE, è un disturbo di personalità che viene descritto come patologia caratterizzata da instabilità dell'umore, delle relazioni interpersonali, dell'immagine di sé, dell'identità e del comportamento, e una anomalia nella percezione del senso di sé.
Uno dei sintomi più tipici di questo disturbo è la PAURA DELL'ABBANDONO. I soggetti borderline tendono a soffrire di crolli della fiducia in se stessi e dell'umore, ed allora cadere in COMPORTAMENTI AUTODISTRUTTIVI e distruttivi delle loro relazioni interpersonali. La loro vita è caratterizzata da relazioni affettive intense e turbolente che terminano bruscamente, e il disturbo ha spesso effetti molto gravi provocando “crolli” nella vita dell'individuo.
Le caratteristiche essenziali di questo disturbo sono: sforzi disperati di evitare un reale o immaginario abbandono; un quadro di RELAZIONI interpersonali INSTABILI e intense, caratterizzate dall’alternanza tra gli estremi di iper-idealizzazione e svalutazione; alterazione dell’identità: immagine di sé e percezione di sé marcatamente e persistentemente instabili;
impulsività in almeno due aree che sono potenzialmente dannose per il soggetto (quali spendere oltre misura, sessualità promiscua, abuso di sostanze, guida spericolata, abbuffate etc.);
ricorrenti minacce, gesti, comportamenti suicidari o comportamento automutilante;
INSTABILITÀ AFFETTIVA dovuta a una marcata reattività dell’umore;
SENTIMENTI CRONICI DI VUOTO;
rabbia immotivata ed intensa o difficoltà a controllare la rabbia;
ideazione paranoide o gravi sintomi dissociativi transitori, legati allo stress.

Why I consider patology every day
  • Me: *reading the patient´s electronic chart* so have u ever been in the hospital
  • Patient: no
  • Me: no? never? never had any appointments with anyone in this hospital in the last couple of years?
  • Patient: err.... no
  • Me: *reading about astma and that neurology sent the patient to RES centre for highly suspicious CT finiding* u have never before been diagnosed or in the process of being diagnosed for anything....ever?
  • Patient: doctor you are rude and I don´t know how to say it any other away
  • Me: me neither.
Szczere wyznanie

Wiecie po czym poznać, że chłopak was słucha i nie chcę byście cierpiały ?
Wczoraj gdy ja z moim chłopakiem jeździłam rowerami, spotkaliśmy dzieciaki z patologi. Z mojej okolicy. Podrzucili mu coś pod koła i zaczęli się śmiać z jego upadku , nie dość zaczynali mnie wyzywać od kurw i dziwek. Co go już naprawdę wkurzylo i chciał zacząć się z nimi bić . A wystarczyło jedne moje zdanie by się uspokoił bo nie chciałam go widzieć jak się bije z nimi i możliwe że będę go widzieć pobitego. “Skarbie daj spokój”. Może uznacie, że to cienias, że powinien zawalczyć przez to ale nie, on wiedział, że byłoby mi przez to smutno więc tego nie zrobił. Wiem, że przy każdej najbliższej okazji ta patologia mi to wypomni i będzie się wyśmiewać ale się cieszę, że mojemu chłopakowi się nic nie stało. I wtedy zrozumiałam, że jednak mu zależy bym nie cierpiała nawet tylko przez to że on się z kimś bił i wiem, że on mnie słucha i naprawdę mnie kocha.

Dokter Nggak Melulu Kerja di Klinik

Kalo teman teman adalah seorang siswa kelas XII SMA, pasti hampir setengah angkatan mendambakan Fakultas yang satu ini… Kedokteran. Kalo teman teman melihat buku beberapa bimbel yang menampilkan passing grade, di hampir setiap universitas memperlihatkan satu program studi yang memiliki passing grade  yang paling tinggi… Pendidikan Dokter. Dan juga kalau teman teman masuk ke bimbel, terus disuruh mengisi formulir dan tertera “program studi pilihan” Saya yakin, program studi yang paling diminati adalah… Kedokteran. Well, bukan saya sombong, atau meninggikan derajat sebagai mahasiswa kedokteran, tapi hal-hal diatas lah yang melatar belakangi tulisan saya ini, karena saya ingin bercerita bagaimana sih sebenarnya kuliah di Fakultas Kedokteran itu?  Ini ceritanya….

Masa preklinik

Masa Preklinik adalah masa dimana seorang mahasiswa kedokteran mengenyam pendidikan selayaknya mahasiswa program studi lain. Yep, Kuliah, praktikum,organisasi, nongkies di cafe-cafe setempat, galau ujian, galau skripsi dan hal yang umumnya dikerjakan oleh mahasiswa. Trus bedanya dimana? Nah ini… Masa preklinik ini sudah ditentukan lama studinya oleh Fakultas, sehingga kita diprogram untuk selesai dalam 8 semester, tidak bisa ngambil SKS lebih walaupun IP 4.00 , tidak bisa ngatur jadwal, dan tidak bisa milih dosen. Jadi ya seperti layaknya anak sekolah, kuliah, praktikum dan skill dan ujian sudah ditentukan oleh bagian akademik FK. Nah, di masa preklinik ini juga tidak lurus –lurus saja jalannya, banyak jalan berliku serta naik turun yang harus ditempuh. Misalnya, ketika semester awal, mahasiswa kedokteran dikenalkan dengan kulit luar hal-hal yang berhubungan dengan kedokteran seperti melakukan penyuluhan kesehatan, melakukan pengukuran tekanan darah, menyuntik manekin, dan lain lain. Saat itu mahasiswa kedokteran tingkat awal berpikiran, “Woooh, gue udah siap jadi dokter!”, tapi ketika di tengah perkuliahan dan menuju semester akhir dan berhadapan dengan berbagai macam ujian, dan berbagai kesialan lainnya pasti berfikiran “kampreeet, kapan gue tamatnya ini kuliah, masih lama banget kayanya.” Nah, berhubung disini gak bisa milih mata kuliah, gimana belajarnya? Pake per sistem tubuh, mulai dari sistem gerak, pernapasan, dll. Belajarnya juga sebenernya simpel sih, dari Gejala, Pemeriksaan apa yang dilakukan, Diagnosis, Terapi, Manajemen, dan KIE (Komunikasi-Informasi-Edukasi). Tapi guys , trust me, gak sesimpel itu. Di masa preklinik ini apa yang kita harus mengerti itu banyak sekali guys, dan dosennya juga dengan senyum manis penuh harapan berkata, “Jangan dihapalin dek, Tapi dimengerti! :3” Nah, setelah selesai kuliah 8 semester ini dan Tugas Akhir teman teman selesai, maka teman teman sudah mendapat gelar pertama Sarjana Kedokteran (S.Ked.). Dan juga, sebagian kecil ada yang menyudahi studinya hanya sampai jenjang Sarjana Kedokteran ini, lalu bertujuan menjadi akademisi, peneliti atau apapun profesi lain. Tapi biasanya tujuannya masih sama, meningkatkan derajat kesehatan bangsa melalui pendekatan promotif-preventif.

Masa Klinik (Koass/Dokter Muda)

Oke, masuk di masa ini, ini yang bikin kuliah kedokteran (dan ilmu kesehatan lainnya) sedikit berbeda dengan kuliah di prodi lain, ini adalah bagian pemantapan profesi. Setelah di Yudisium dan mendapat gelar Sarjana Kedokteran, biasanya ada pemantapan skill terlebih dahulu, kenapa? Karena yang kita hadapi itu pasien, pasien itu datang bukan hanya bagian tubuhnya yang sakit, tapi dia adalah manusia seutuhnya seperti kita, lebih jauh lagi, pasien pasien itu adalah guru kita, yang membuat kita jadi lebih terampil, mahir , dan profesional. Oleh karena itu, saya sangat ingat ketika pertama masuk sampai saat ini satu hal utama yang diajarkan Primum non Nocere, artinya adalah “First, Do No Harm.” Jangan sampai niat baik untuk menolong pasien, menjadi malapetaka buat pasien dan buat kita. Dan juga, karena selama 4 tahun di dunia preklinik kita lebih diutamakan untuk mempertajam pengetahuan kita di teori , maka sebelum masuk koass ini saatnya kembali mengulang skill dan kecakapan tangan kita dalam melakukan tindakan medis. Nah, setelah dinilai cakap dan mampu melakukan tindakan medis, maka para Sarjana Kedokteran ini dilepas oleh kampus dan mulai bekerja (sekaligus belajar) sebagai seorang dokter muda. Nah, kalau di masa preklinik tadi yang kita hadapi adalah manekin, yang kita hadapi saat ini adalah pasien sungguhan, dengan penyakit sungguhan, dan juga tentunya kita harus mengaplikasikan ilmu yang telah didapat selama 4 tahun itu untuk melakukan tindakan ke pasien tersebut. Di masa koass ini, kita dibimbing oleh Supervisor (Dokter Spesialis) dan bila ada juga dibimbing oleh kakak kita, PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis). Tergantung Rumah Sakitnya, ada yang ada PPDSnya, ada yang tidak. Kalau kata teman-teman yang sudah masuk sebagai koass, ada 3 hal yang benar benar dilihat bagi seorang koass yakni : Attitude, Knowledge,Skill. Kenapa attitude duluan yang disebut? Yak karena seperti yang dibilang di paragraf awal, kita memanusiakan manusia, karena pasien juga manusia. Oiyah, satu hal lagi yang paling penting, Inspanning Verbintenis, Artinya? Menjanjikan bahwa yang kita lakukan adalah usaha terbaik, karena kita tidak bisa melakukan Resultaat Verbintenis , menjanjikan suatu hasil. Oleh karena itu, anak kedokteran pasti sangat familiar dengan kata kata ini, To Cure Sometimes, To Relieve Often, To Comfort Always. Makanya, karena kita gak selalu bisa membuat pasien itu sembuh, yang paling penting itu membuatnya nyaman dengan pelayanan yang ramah dan sopan serta memberikan usaha terbaik yang kita miliki. Nah, dek koass ini selain bekerja, ia juga sedang menempuh masa pendidikannya untuk menjadi seorang dokter umum, jadi gak cuman sembarangan megang pasien, koass ini juga ada ujian tulis nya, mengerjakan tugas ilmiah, dan ujian megang pasien disamping mereka harus melakukan pelayanan pada pasien di siang hari dan jaga rumah sakit di malam harinya. Kebayang kan? Nah, untuk masa koass ini masa pendidikannya kira-kira 2 tahun lah. Selain itu, pada masa koass ini juga salah satu dinamika mahasiswa kedokteran, dimana mereka menemukan passionnya masing-masing. Mainstreamnya mereka semakin mantap untuk menjadi dokter yang kerja di klinik atau menemukan passionnya di bidang apa. Namun, ada juga yang setelah masa koass ini passionnya bergeser. Misal, waktu koass ada yang menikah, lalu lebih fokus dan enjoy menjadi ibu rumah tangga. Atau yang punya usaha, lalu lebih fokus dalam mengembangkan usahanya. Ada juga yang memang dari awal memang ingin mengembangkan diri di bidang riset dan mengembangkan ilmu kedokteran, ada juga yang menjadi pengajar. Bahkan, ada yang berkarir di bidang politik/birokrasi. Tidak ada yang salah, asalkan tujuannya baik, dan dilakukan dengan cara yang baik, InsyaAllah bermanfaat. Yeah, follow your passion! :D

UKDI dan Internship

Apaan lagi nih? Yak, ini adalah bagian setelah menyelesaikan masa rotasi klinik seorang dokter muda. UKDI adalah singkatan dari Uji Kompetensi Dokter Indonesia. Jadi, Dokter Muda yang telah lulus di setiap lab selama dia koass diperkenankan untuk mengikuti UKDI. UKDI terdiri dari dua tes, Ujian Teori dan OSCE. Ujian Teori adalah berisikan materi yang dimasukkan kedalam golongan 4A SKDI, yang artinya seorang dokter umum harus menguasai. Sedangkan OSCE adalah Ujian Clinical Skill, yakni kemampuan menangani pasien, dari pasien datang dengan keluhan hingga melakukan pemeriksaan fisik/lab dan menegakkan diagnosis (kurang lebih begitu, hehehe). Nah, setelah dinyatakan lulus UKDI, barulah kita boleh disumpah dan dilantik dan dilantik sebagai seorang dokter. Perjalanan selesai? Tunggu dulu… masih ada internship, internship adalah semacam pengabdian yang wajib dilakukan oleh seorang dokter yang baru lulus. Mereka akan ditempatkan di puskesmas-puskesmas/rumah sakit di daerah tertentu selama satu tahun, dan mendapat gaji (nominal tidak disebutkan karena masih terjadi dinamika dalam menentukan nominal gaji dokter internship). Setelah selesai , Barulah dokter internship dapat menentukan masa depannya sendiri, entah itu buka klinik, lanjut PPDS, kuliah lagi dan lain-lain.

Frequently Asked Question

Q: Kak, dokter itu artinya apa sih?

A: Dokter itu berasal dari bahasa latin, docere yang artinya adalah untuk mengajarkan. Jadi, selain melakukan terapu, dokter harus bisa menjelaskan apa alasannya kenapa terapi itu diberikan dan mengajarkan kepada pasien tentang efek samping dan apa yang harus dilakukan.

Q: Sebenernya kenapa sih kok banyak yang mau masuk FK?

A: Banyak alasan kenapa mau kuliah di FK , ada yang karena disuruh orangtua, ada yang karena melihat dokter itu keren (iya ini alesan gue, dokter jaga IGD itu keren), ada yang mau jadi orang kaya, dll. Butfirst, let me tell you… kalau tujuannya mau jadi orang kaya, mending cari profesi lain, karena pasien itu bukan berjalan, dan sebenarnya pendekatan kedokteran akhir akhir ini adalah kedokteran pencegahan. Selain itu memang bukan rahasia lagi, kalo selama kuliah di kedokteran, memakan banyak biaya. Selama tujuannya untuk masuk FK baik, InsyaAllah berkah kok kedepannya.

Q:  Selama kuliah di kedokteran dapet apa aja kak?

A:  Banyak! Kalo dari segi ilmu sih aku dapet ini : Bioetika, Kesehatan masyarakat, Biokimia dan biomolekuler, Anatomi-Fisiologi- Patologi,Radiologi, Onkologi, Mikrobiologi, Parasitologi, Imunologi, Farmakologi, Siklus Hidup, Muskuloskeletal,Hematologi, Dermatologi, Endokrinologi, Neurologi, Mata-THT, Metodologi Penelitian, Kardiologi, Repirasi, Urologi, Gastroenterohepatologi, Kedokteran Tropik Infeksi, Reproduksi, Forensik, Anestesi, Patient Safety. Banyak kan? Nah, yang lebih berkesan itu adalah ketika pengalaman ikut pengobatan gratis suatu lembaga, disana terlihat bahwa seorang dokter itu sangat dibutuhkan di daerah terpencil, masih banyak daerah yang belum ada dokternya, jadi kalo ikut pengobatan gratis gitu, warga juga respek ke kita, bagaimana kita bisa membuat mereka tersenyum dan berkata, “Nanti kalo sudah jadi dokter beneran, jangan lupa balik kesini lagi ya!” Itu dalem banget. Itu alesan kenapa aku tetap konsisten dan ga menyesal masuk kedokteran J

Q: OSCE sama praktikum itu bedanya apa kak?

A: Jelas beda! OSCE itu ujian megang pasien. Ya seperti apa yang dokter itu harus lakukan kepada pasiennya, kaya melakukan wawancara (anamnesis), komunikasi efektif, keterampilan klinis (kaya nyuntik, menjahit luka, pasang bidai, resusistasi jantung paru), menggunakan alat-alat medis (kaya oxygen mask, elektrokardiografi, baca foto rontgen, kateter), dan yang sangat penting melakukan pemeriksaan fisik (pemeriksaan nyeri ketok, colok dubur, periksa mata), nulis resep dan masih banyak lagi. Kalo praktikum itu ya penting karena itu sangat fundamental, praktikum anatomi dan histologi contohnya, penting sekali karena tanpa mengetahui susunan tubuh manusia, gak mungkin kita bisa paham sama  penyakit yang mungkin nanti terjadi disana. Ya praktikumnya semacam menghafalkan letaknya dimana, fungsinya apa, dsb.

Q: Trus nanti kalo udah jadi dokter gimana kerjanya? Ada pendidikan lanjutannya gak?

A: Nah ini, pertanyaan paling penting. Seperti yang di judul, tentunya teman teman sering melihat dokter yang kerjanya di klinik. Tapi, ada juga kok dokter yang kerjanya di bidang lain, dan ada keilmuannya juga. Seperti S-2 Biomedik nanti bergelar M.Biomed, ya itu nanti mereka kebanyakan kerja di laboratorium buat meneliti dan mengembangkan ilmu kedokteran, prospeknya peneliti ini juga bagus loh. Terus ada lagi MPH (Master of Public Health) itu adalah mereka yang kerjanya di bidang kesehatan masyarakat, yang bagian promosi kesehatan dan meneliti tentang persebaran penyakit ya disini ini. Terus ada lagi yang mendalami ilmu pendidikan kedokteran gelarnya M.Med.Ed. (Master of Medical Education) mereka yang akan mengembangkan sistem pendidikan kedokteran sehingga dokter yang dicetak adalah dokter yang berkualitas. Dan juga yang ngambil bidang Health Economy (belum ada prodinya di Indonesia) yang nanti akan meneliti masalah ekonomi kesehatan, erat kaitannya dengan BPJS. Terus tentunya juga buat kamu yang ingin jadi dokter spesialis, bisa ikut Program Pendidikan Dokter Spesialis. Melayani pasien sekaligus belajar, intinya begitu. PPDS ini macam macam lama studinya berkisar 7-10 semester. Nanti gelarnya ya Sp. A, Sp. PD dll. Selain yang disebutkan diatas, ada juga yang berkarir di bidang wiraswasta, dan juga birokrasi-politik (jadi caleg mungkin hehehe). Jadi, banyak kan pilihan kerjaannya kalo mau jadi dokter? Bisa jadi klinisi, peneliti, akademisi, birokrasi, dan juga enterpreneur.

Q : Kok ceritanya panjang banget kak?

A : Ya karena memang masa studi di dunia kedokteran itu panjang hehehe. 4 tahun preklinik, 2 tahun koass, 1 tahun internship plus kalo mau tambah masa studi PPDS/S-2, hehehe. Ini kalo mau baca rangkuman perjalanan selama masa kuliah saya à http://dhityoprima.tumblr.com/post/81213946019/cerita-masa-preklinik

Terimakasih kalo sudah mau baca cerita saya yang panjang ini J

 (*)

Primadhityo, S.Ked. | @dhityoprima

Kedokteran 2010, Universitas Brawijaya

Dhityoprima.tumblr.com

primadhityo23@gmail.com

Advanced Digital Life Support

Di ilmu kedokteran dikenal yang namanya Advanced Cardiac Life Support (ACLS) dan Advanced Trauma Life Support (ATLS). ACLS merujuk pada serangkaian tatalaksana untuk penanganan pasien dengan kasus kegawatdaruratan jantung, seperti cardiac arrest, sindrom koroner akut, bradikardi, takikardi, dan lain-lain. Sedangkan ATLS adalah serangkaian tatalaksana untuk penanganan pasien dengan kasus trauma akut atau kasus bedah. Saya pun jadi berpikir, di era internet ini, jangan-jangan secara tidak sadar, kita semua adalah pasien-pasien digital yang membutuhkan Advanced Digital Life Support (ADLS) untuk penanganannya.

Saat ke Colombo tahun lalu, hal pertama yang dilakukan oleh Oknum A, Oknum S, dan Oknum SR adalah mencari kios provider telepon seluler di sana. Mereka berniat untuk membeli simcard untuk penggunaan internet di handphone. Saat itu kami memang tinggal di Sri Lanka agak lama, sekitar satu minggu. Tapi kan di hotel udah ada wifi yang bisa diakses setiap saat (meskipun memang hanya bisa diakses di kamar), pikir saya. Oknum A beralasan dia harus terus-menerus mengabari istrinya yang ada di Jogja. Sedangkan Oknum S dan Oknum SR memang memiliki kebutuhan akan internet yang tinggi. Saya dan Oknum I memilih hanya menggunakan internet saat di kamar hotel saja.

Lain lagi saat saya dan Oknum K baru tiba di Jepang atau saat saya, Oknum W, dan Oknum A baru tiba di Filipina, salah satu tujuan kami pertama kali setelah keluar dari bandara adalah menuju toko penjual converter colokan listrik, seolah-olah kami adalah Ultraman yang tidak dapat hidup tanpa energi listrik (dan memang demikian adanya). Jika akan menginap di luar kota bersama-sama, salah satu barang yang sering saya bawa adalah rol kabel karena saya sadar kebutuhan setiap orang akan colokan listrik begitu tinggi. Jika saya tidak membawanya (dan jika yang lain juga tidak membawanya), bisa dipastikan akan terjadi rebutan dan antrian panjang buat sekedar mencapai angka 100% di status batre perangkat elektronik. Saat menjadi peserta sebuah acara di Makassar, saya melihat rol kabel yang disusun bertumpuk-tumpuk sampai bentukannya tidak karuan lagi. Semuanya adalah demi pemuasan hasrat akan tetap aktifnya handphone. Berapa banyak di antara kita yang selalu membawa charger atau powerbank ke mana-mana? Berapa banyak di antara kita yang memilih makan di tempat yang menyediakan wifi gratis? Setiap hari kita berada dalam kegawatdaruratan digital dengan adiksi akan gadget dan internet sebagai penyakitnya dan ADLS (berupa penyediaan simcard, wifi, colokan, rol kabel, converter, dan sebagainya) sebagai tatalaksananya.

Mengadopsi hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan seseorang terhadap internet dan teknologi bertingkat-tingkat. Kebutuhan paling dasar adalah kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan akan akses internet. Di masa kini, kebutuhan ini tentunya sudah terpenuhi mengingat begitu mudahnya seseorang mendapatkan koneksi internet di segala tempat. Di baris berikutnya adalah kebutuhan akan rasa aman, yaitu kebutuhan untuk bisa mengakses internet setiap saat dengan memiliki gadget yang selalu hidup. Baris berikutnya adalah kebutuhan cinta dan kasih sayang yang menjelaskan mengapa sosial media begitu populer. Semakin banyak jalinan pertemanan di sosial media, semakin seseorang (mengira) ia disukai oleh banyak orang. Di baris berikutnya adalah kebutuhan akan self-esteem, yaitu keinginan untuk mencapai popularitas dengan menyediakan konten yang disukai banyak orang. Kebutuhan akan konektivitas yang terus-menerus menjadi mutlak di baris ini. Di puncak tertinggi adalah aktualisasi diri yang tercapai ketika nama kita menjadi pembicaraan di dunia maya. Usaha pemenuhan kebutuhan ini lah antara lain yang menjadikan kita begitu obsesif terhadap gadget, teknologi, dan internet.

Beberapa tanda bahwa kita adalah pecandu gadget, yaitu kita lebih memilih untuk berbincang secara teks daripada tatap muka, kita tidak dapat keluar rumah tanpa ponsel (ponsel menjadi bagian dari atribut kita sehari-hari, sama pentingnya dengan pakaian dalam), penggunaan gadget memegang peranan penting dalam hidup kita (bisa jadi jauh lebih penting dari waktu yang dihabiskan bersama keluarga atau teman), banyak momen berharga dalam hidup yang kita lewatkan hanya karena gadget, dan kita tidak dapat berhenti menggunakannya meskipun kita tau gadget telah merugikan beberapa aspek hidup kita. Sedangkan, tanda-tanda bahwa kita sudah kecanduan internet antara lain menggunakan internet lebih lama dari waktu yang diprediksi, merasa kesal jika ada distraksi saat sedang mengakses internet, terisolasi dari kehidupan offline, hingga tanda-tanda secara fisik seperti kurang tidur, mata kering dan lelah, dan berat badan bertambah.

Adiksi terhadap gadget dan internet sulit diakui sebagai sebuah masalah bagi banyak orang. Layaknya sebuah halo effect, teknologi sendiri memiliki banyak peran dalam hidup kita saat ini seperti membantu meningkatkan produktivitas dan mengerjakan sesuatu secara lebih cepat dan nyaman. Efek samping dari teknologi kadang dianggap tidak berarti banyak dibandingkan keuntungan yang diberikan. Pada akhirnya, semua setuju bahwa teknologi hanyalah sebuah alat yang memudahkan hidup kita. Jika ternyata teknologi justru mengganggu hidup kita, saat itu lah teknologi menjadi sebuah masalah. Hal ini harus disadari sejak awal karena jika tidak, teknologi pada akhirnya hanya akan menghancurkan kreativitas, produktivitas, dan efisiensi kita dalam bekerja.

Adiksi pun menimbulkan konsekuensinya sendiri. Dalam sebuah survey, sebanyak 41% orang sadar bahwa ia kecanduan, 43% berharap bisa terputus hubungan dengan internet, dan sebanyak 36% ingin kembali ke masa-masa saat sebelum Facebook diciptakan. Oknum M mengatakan bahwa dia merasa tergantikan oleh temannya karena ketika mereka bertemu, si teman sibuk dengan handphonenya. Hidup tanpa teknologi adalah menyusahkan, tapi hidup dengan teknologi pun bisa jadi juga sama menyusahkannya.

Adiksi internet adalah sebuah fenomena sosial dan juga penyakit mental. Dalam suatu penelitian, pecandu internet dilaporkan memiliki kemampuan yang lebih rendah dalam hal bicara, daya ingat, emosi, sensorik, dan pemrosesan informasi. Di Tiongkok, Taiwan, dan Korea, Internet Addiction Disorder (IAD) dinyatakan sebagai sebuah diagnosis psikologis. Di negara-negara tersebut, sebanyak 30% remaja diduga menderita IAD dengan kecanduan terhadap sosial media dan game online menduduki peringkat teratas. IAD rencananya sempat dipertimbangkan untuk dimasukkan ke dalam Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) edisi ke-V yang didefinisikan dengan preokupasi terhadap internet (menghabiskan minimal 38 jam per minggu dengan internet), adanya gejala withdrawal jika internet tidak dapat diakses, adanya efek toleransi (seperti halnya narkotika yang semakin lama semakin membutuhkan dosis yang lebih besar untuk mencapai efek kepuasan yang sama, maka penderita IAD membutuhkan lebih banyak waktu online untuk mencapai kepuasan yang sama), hilangnya antusiasme terhadap sekitar, sulit mengontrol penggunaan internet, dan menggunakan internet untuk mencapai kepuasan batin ataupun sebagai pelarian dari mood yang sedang buruk. Sebuah penelitian dari Universitas Maryland meminta mahasiswa untuk tidak menggunakan internet selama 24 jam. Hasil yang didapat adalah sebagian besar mahasiswa mengalami gejala-gelaja yang mirip dengan kecanduan narkotika dan alkohol.

Lebih jauh lagi, ada ancaman gejala psikopatik pada para pengguna sosial media. Gejala ini meliputi kecenderungan untuk berbohong lebih banyak di sosial media, kecenderungan untuk berperilaku antisosial akibat penggunaan sosial media, sifat egosentris yang patologis dengan self obsessed sebagai ciri-cirinya, dan kurangnya kemampuan untuk mengontrol diri (seseorang cenderung untuk bersikap kasar dan frontal di dunia maya). Sebanyak 5% pengguna sosial media mengatakan bahwa sosial media mengubah hidup mereka tidak ke arah yang lebih baik.

Harus diakui bahwa hidup kita saat ini sangat bergantung dengan teknologi dan arus informasi melalui internet. Semua orang terpapar terus-menerus setiap hari sehingga menimbulkan kecanduan massal. Usaha untuk berhenti dari kecanduan ini membutuhkan usaha yang serius dan konsisten dari semua orang. Jika sudah begini, ADLS bukanlah tentang penyelamatan diri seseorang dengan koneksi digital ketika sedang tidak terkoneksi (bukan mengisi paket internet ketika sudah habis, bukan mencharge tablet ketika lowbat, bukan menanyakan password wifi ketika sedang makan siang), tetapi tentang usaha untuk lepas dari koneksi ketika dunia digital sudah terlalu kencang mengikat leher kita.

Apakah kamu membutuhkan ADLS?

1. Taking your gadget to bed isn’t worth it. Orang yang menggunakan gadget sebelum tidur sebagian besar tidurnya kurang nyenyak karena gadget tidak hanya membuat sulit tidur, tetapi juga dapat membangunkan tidur (ketika gadget tidak disilent). Penggunaan komputer secara reguler di malam hari diasosiasikan dengan gangguan tidur, stres, dan depresi pada penggunanya.

2. Perbanyak kegiatan offline. Ada banyak kegiatan yang bisa kita ikuti, seperti olahraga, seni, traveling, organisasi, komunitas, hangout bareng teman, dan lain-lain. Ingatlah bahwa hidup kita jauh lebih luas dari layar gadget.

3. Pertegas diri untuk membatasi waktu online setiap harinya. Selalu online dengan tujuan yang berarti. Jika tujuan tersebut telah tercapai, keluarlah secepat mungkin dari dunia maya. Gunakan internet sebagai alat, bukan pelarian.

4. Dunia lebih indah dengan Apple yang kamu makan, bukan yang kamu sentuh; Hangouts di kafe, bukan di hape; “What’s up?” sebagai kata sapaan, bukan aplikasi.