PPI

anonymous asked:

If you are open for request scenarios, can I have a "How would bts members react to seeing you for the first time"? Like if they fall in love at first sight or no? Thank you if your choose this!

How would bts members react to seeing you for the first time


Jungkook

I can’t say if either he’d fall at first sight, but he’d definitely turn on sofkook mode. He probably would try to steal a glance at you when you aren't looking,and be mesmerized by you.
He wouldn't say anything though, couz shykook ofc


Taehyung

I think Taehyungie has little to no control over his facial expression, so if he indeed falls for you at first sight. his jaw would dropped as soon as his eyes landed on you unable to speak coherent words.

“Uwahhh”


Jimin

I think Jimminie would automatically be a blushing and shy mess, but he would be able to speak to you, even if he cant bring himself to not look at your face and smile. He has to get to know you right now

“Hi” *looks down shy* “I’m Jimin, and you are..?”


Namjoon

I don’t see Joons as the type to fall in love at first sight,
but if you caught his attention he’d definitely approach to start a conversation with you.


 “Sorry but I couldn’t help but hear you were talking about *insert subject you are interested in*… “ 



Hoseok

I think this sweet sunshine would be the most likely to fall for you at first sight, but not just because…I think you would caught Hoseokie’s attention because of how you express yourself and how you behave with your surroundings. small things that maybe no one else would notice.


Yoongi

I see Yoongi as the least to fall in love at first sight.
BUT, you would touch his “curiosity” side.

*inside his brain*

“Should I go to talk to them?” “Nah, I would probably look too interested”
”Though I am interested…””hnnnnnn, fine I’ll go… “”…but later when they are alone…” 


Jin

Mah boy be serving looks he’d be all like 

“C’mere, I’d like a word with you” “What’s crackalackin” “The name’s Jin…”
*send flying kiss* “What’s cooken, good looken?😏”Do you know ppi ttam nunmul?

A/N:OK HOLLUP
That was a joke huehue.


Seokjin

I think Jinnie much like Jimin would be a blushing mess, only that he can control very well his emotions.
He would probably try to strike a conversation with you very smoothly, maybe a joke or a regular “Hey I’m Jin and you?”
He’d even invite your something to drink.


A/N: Thanks for requesting Noonie!~

GIFs Not mine!

Masterlist

ketika orang menolak berorganisasi karena alasan studi, mungkin dia berpikir dia akan mengganti jadwal studinya dengan organisasi, tapi menurutku seharusnya organisasi bukan mengorbankan jadwal studinya, melainkan jadwal tidurnya atau jadwal refreshingnya yang dikorbankan
—  inspirasi dari Bang Muhammad Yunus
2

Icon tutorial + feel free to use the icons

I’ve been asked by several people how I get the affiliate and network icons so sharp in some of my groups, so I decided to write a tutorial. (This will also work for your tumblr dash icon.) I’m using Photoshop cc for mac, but I’m not using the mac shortcuts here, so it should work for PC users as well.

This is pretty basic stuff, but it’s a wordy tutorial so that anyone with less photoshop experience should be able to follow along. 

Keep reading

The history of the distribution of wealth has always been deeply political, and it cannot be reduced to [how free markets “naturally work on their own”].


In particular, the reduction of inequality that took place in … developed countries between 1910 and 1950 was … a consequence of war and of policies adopted to cope with the shocks of war. Similarly, the resurgence of inequality after 1980 is due … to the political shifts of the past several decades, especially in regard to taxation & finance.


The history of inequality is shaped by [how people] view what is just and what is not, as well as by [their] relative power ….…

— 

Capital in the 21st Century by Thomas Piketty (Arthur Goldhammer, trans.)

(highlights, [], and … are mine)

Lecutan Semangat

Assalamu’alaikum wr wb

Saya menulis email ini dalam perjalanan kembali dari Tokyo ke Jakarta. Senang sekali bisa berdiskusi dengan teman-teman di PPI kemarin. Setiap kali perjalanan pulang sesudah berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri, ada kenangan yang khusus.

Diskusi di Kobe kemarin malam mengingatkan saya pada masa-masa kuliah dulu. Saat itu setiap kali ada dialog dengan siapa saja yang datang dari tanah air tercinta, maka banyak urusan di kampus saya jadwal ulang agar bisa pergi ke pertemuan, sekadar untuk mendengar kabar terbaru dari tanah air dan berdiskusi tentang Indonesia kita.

Memang waktu saya kuliah itupun sudah ada internet, sudah ada kabar terbaru yang real-time tetapi tetap saja sebuah tatap muka itu adalah obat kangen kampung halaman.

Pesawat terbang memang sanggup menerbangkan badan kita ke negeri yang jauh, tapi ia takkan pernah berhasil membawa pergi hati dan pikiran dari Indonesia. Sejauh apapun badan pergi, hatinya, pikirannya selalu tertinggal di Indonesia.

Dalam diskusi PPI malam itu saya tersadarkan lagi bahwa sedang bertemu dan menyaksikan sebuah generasi baru, generasi amat terdidik. Anda semua mewakili sebuah generasi baru Indonesia yang akan ikut mendorong perubahan.

Seperti saya katakan malam itu, kalau diukur maka hitungan kilometer jarak anda dengan Indonesia amat-amat jauh. Tapi saya yakin sekali Indonesia kita ada amat dekat dengan benak, dengan hati dan dengan semangat anda.

Selama ini hampir seluruh energi dan perhatian anda dipakai untuk belajar, meneliti atau menulis tapi saya amat yakin bahwa cahaya Indonesia itu selalu hidup di dada anda.

Anda sesungguhnya sedang mewakili kita semua untuk meraih ilmu pengetahuan, mengambil best-practice dari manapun. Setiap hari senin jutaan anak-anak sekolah mengucapkan Pembukaan UUD 1945, sesungguhnya mereka sedang menyebutkan tentang anda dan kita semua.

Republik ini berjanji akan mencerdaskan dan mensejahterakan. Sebagian dari kita sudah mendapatkan janji itu. Anda yang saat ini sedang belajar di negeri-negeri termaju di dunia ini sesungguhnya adalah anak-anak bangsa yang kepadanya janji kemerdekaan itu sudah dibayar lunas: telah tercerdaskan, tersejahterakan, telah menjadi bagian dari dunia yang amat raya dan tentu terlindungi.

Bagi kita yang sudah merasakan janji kemerdekaan, rasanya tidak pantas lagi untuk sekadar mengidentifikasi dan mendiskusikan apalagi mengutuk terus kekurangan bangsa kita.

Daftar kekurangan kita panjang. Tapi ingat, semua bangsa yang maju hari ini dulunya juga pernah tertinggal. Hanya lewat usaha kolektif yang serius dan dimulai dengan mengubah kualitas manusianya maka mereka bisa meraih kemajuan seperti sekarang.

Mengubah Indonesia itu sesungguhnya mengubah manusia Indonesia. Manusia Indonesia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci untuk mempercepat pelunasan semua Janji Kemerdekaan kita.
Kita yang sudah merasakan manfaat pendidikan ini tidak boleh menjadi beban bagi republik, sebaliknya kita harus menjadi motor pendorong. Jangan pilih lipat tangan tapi pilih turun tangan untuk membenahi Indonesia kita.

Seperti saya sampaikan kemarin bahwa iuran terbesar untuk pendidikan itu bukan bea-siswa, bukan buku, bukan fasilitas belajar tapi iuran kehadiran. Kehadiran anda sebagai inspirasi adalah iuran terbesar. Anda memang tinggal jauh dari Indonesia tapi hadirkan diri anda di kelas-kelas tempat dulu anda pernah belajar. Jadikan diri anda yang sudah mendapatkan kesempatan untuk belajar di kampus-kampus terkemuka ini sebagai inspirasi. Sama sekali bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk menanamkan bibit mimpi, iuntuk menjadi motivasi bagi adik-adik sebangsa.

Buatlah rekaman movie singkat tentang kegiatan anda. Gambaran saat belajar, saat di laboratorium, di kelas, di perpustakaan, di kampus dan di mana saja tempat sekarang anda menuntut ilmu. Jelaskan itu semua sebagai cerita, sebagai narasi kegiatan anda. Lalu kirimkan rekaman itu ke SD, SMP atau SMA anda atau yang lain. Jangan takut dianggap menyombongkan diri, tegaskan bahwa rekaman ini anda kirimkan untuk adik-adik sebangsa agar mereka kelak bisa melampaui keberhasilan anda.

Anda kirimkan rekaman ini sebagai iuran anda untuk menghadirkan mimpi di kelas-kelas di kampung halaman anda dan di manapun di negeri tercinta ini. Titipkan pesan disana bahwa Anda jauh dari tanah air tapi tidak pernah lupa dan akan selalu mendorong kemajuan bagi Indonesia.

Perjalanan anda di Kobe dan di manapun anda belajar tidak akan terlupakan. Jadikan masa di “pengasingan” ini sebagai masa membawa bekal ilmu sebesar-besarnya untuk memberikan makna pada saudara sebangsa.

Jika anda telah selesai belajar, anda tidak harus pulang cepat-cepat. Selesai kuliah langsung pulang itu baik-baik saja, tapi sesungguhnya pulang sesaat sesudah lulus membuat anda hanya bisa membawa pulang ilmu dari kampus dan selembar ijazah bukti telah tamat.

Menurut saya, jika usia masih muda apalagi jika belum ada kewajiban yang harus ditunaikan di tanah air maka akan lebih baik jika anda bisa mencari peluang untuk bekerja dan mencari pengalaman dahulu. Bekerja di institusi yang bagus di negeri maju bisa meluaskan wawasan, menambah jaringan di bidang anda.

Dengan begitu kelak saat pulang anda bisa membawa juga pengalaman bekerja dengan standard profesionlisme yang tinggi dan membawa jaringan yang anda bangun selama bekerja. Kehadiran anda di Indonesia kelak akan lebih berpotensi untuk memberikan manfaat dan makna yang jauh lebih besar. Silahkan anda pertimbangan sesuai dengan kondisi dan situasi yang anda hadapi.

Selamat belajar, selamat meneruskan perjalanan mulia di tempat-tempat jauh. Kemarin malam saat anda semua memperkenalkan diri, saya perhatikan wajah anda anda satu per satu. Saya menyaksikan anak-anak bangsa yang sedang jauh dari rumah asalnya, jauh dari keluarganya.

Setiap anda menyebutkan bidang ilmu yang sedang dipelajari, dalam hati saya mengatakan pada anda terdapat tanda akumulasi pahala dan didikan yang luar biasa dari orang-tua, dari para guru dan dari lingkungan tempat anda tumbuh.

Kini Anda sedang jauh dari mereka semua untuk meraih ilmu pengetahuan, pengalaman; ya anda pergi jauh untuk belajar, untuk menjawab tantangan zaman dengan mempelajari ilmu-ilmu termutakhir di bidangnya.

Anda sedang melewati jalan mulia. Jaga stamina: stamina fisik, stamina intelektual dan stamina moral. InsyaAllah anda kelak akan meraih kemuliaan.

Keluarga di tanah air tentu bangga dengan keberhasilan studi Anda, tapi saya yakin mereka akan lebih bangga saat keberhasilan studi itu menjadi awal baru kiprah anda untuk tetap memberikan makna pada saudara sebangsa.

Salam hangat dari tanah ibu.

Salam,

Anies Baswedan

vesselsandvices  asked:

i was going to send you a drink suggestion for the One Thing that soothes my crohn's tummy when it's being A JERK but i think i remember reading you can't have vinegar-y things?? and sadly the drink has vinegar in it :(

Yea, vinegar is sulfited due to being fermented and I don’t tolerate sulfites well. And it was extremely annoying to find out because one of the natural “cures” for chronic reflux like mine is to drink water with apple cider vinegar in it, which seems to work for a lot of people, but actually made mine worse but I sort of persevered cause lots of people said once you got past the initial rebound stages of being off the PPI meds it got better. Except mine didn’t. 

And now I know why. God damn sulfites.

Keluar dari Ruang Belajar

Sebagai mahasiswa jurusan kimia seperti saya, yang ilmunya, pada banyak kesempatan, membahas hal-hal yang abstrak dan paling banter membahas sesuatu yang bisa dikerjakan di laboratorium, saya punya satu kesenangan yang aneh, yaitu berkumpul dengan mahasiswa-mahasiswi dari rumpun ilmu-ilmu sosial, mengobrol dan berdiskusi soal keadaan kekinian Indonesia, membahas kebijakan dalam dan luar negeri Indonesia, serta fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.

*

Penampakan sehari-hari di laboraturium saat mengerjakan proyek tesis master di The University of Manchester. (dok.pribadi)

Jika Anda melihat CV saya, kemungkinan besar Anda akan mengira saya adalah seorang pencinta kimia sejati yang waktu luangnya dihabiskan membaca jurnal atau nonton video TED Talks saja—sehingga tidak mungkin akan menunjukkan batang hidung saya di forum-forum yang membahas kebijakan publik dan ideologi politik.

Saya tidak bisa mengelak bahwa saya sangat suka belajar mengenai alam, seperti tentang bagaimana bahan bakar terbentuk, bagaimana bahan bakar bisa menghasilkan energi, bagaimana energi bisa berubah wujud, bagaimana perubahan iklim bisa terjadi, bagaimana proses penjernihan air, bagaimana kita bisa memanen energi dari matahari, dan sebagainya. Saya juga tidak bisa mengelak bahwa saya juga senang membahas ideologi, evident-based policy making, cara kerja media massa, keberpihakan politik pada rakyat kecil, dan sebagainya. Tidak ada yang salah bukan?

Saya melihat bahwa pada akhirnya orang-orang dari rumpun ilmu-ilmu alam dan teknologi butuh orang-orang dari rumpun ilmu-ilmu sosial, juga sebaliknya. Karena, pada akhirnya, kebermanfaatan ilmu alam dan teknologi secara luas harus didukung oleh elemen-elemen sosial dan political will pemerintah. Lihat saja bagaimana polemik perkembangan industri kedirgantaraan di Indonesia. Singkat cerita, industri ini dimulai dan dikembangkan karena political will pemerintah dan perkembangannya dihambat bahkan diakhiri juga atas political will pemerintah.

*

Melihat kondisi saat ini, banyak riset di bidang ilmu alam dan teknologi yang sudah dan sedang dikerjakan pemuda-pemuda cemerlang harapan bangsa, seperti para awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP, sangat sulit ditakar manfaatnya dalam waktu dekat. Kesulitan menakar manfaat waktu dekat ini memang harus dimaklumi, karena begitulah hakikat riset. Dia berada di garda terdepan ilmu pengetahuan. Sedangkan implementasinya baru bisa dirasakan bertahun-tahun kemudian. Apalagi jika para awardee banyak berkuliah di kampus-kampus terbaik di dunia di bidang sains dan teknologi yang lebih peduli kepada kemajuan ilmu pengetahuan, bukan implementasinya.

Sehingga, riset para mahasiswa master dan doktoral bidang sains dan teknologi di kampus-kampus terbaik dunia boleh jadi tidak relevan dengan kebutuhan negara dan investasi pada pendidikan kami tidak akan memberikan return apa-apa dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat terkadang saya merasa ilmu saya tidak berguna di masyarakat. Buat apa saya mempelajari sesuatu yang belum tentu jadi dan masuk pasar?

Oleh karena itu, kesenangan berkumpul dan mendengar mahasiswa-mahasiswa ilmu sosial setengahnya bisa dikatakan setengahnya pelarian dari kondisi yang kurang mengenakkan di atas. Setengahnya lagi adalah karena setiap inovasi butuh dukungan negara untuk implementasinya.

*

Saya baru memulai kesenangan ini saat saya masih di tingkat tiga S-1 jurusan ilmu kimia. Saya lebih banyak mendengar. Di awal, tentu ini bukan hal yang mudah. Butuh upaya ekstra bagi saya untuk membaca-baca sebelum berkumpul dan berdiskusi. Sesekali saya harus mencari tahu penjelasan-penjelasan dasar mengenai istilah-istilah ekonomi dan politik yang tidak saya mengerti. Keluar dari zona aman memang tidak mudah. Saya harus siap menjadi orang ‘bodoh’, menanyakan hal-hal yang mungkin sudah lazim diketahui.

Foto bersama selepas diskusi Lingkar Studi Cendekia (LSC) UK tentang ekonomi migas dan potensi energi terbarukan di Newcastle, saya paling kanan. (dok.pribadi)

Saat studi di tingkat master di Inggris, kesenangan ‘aneh’ ini malah mejadi hobi. Untuk kumpul-kumpul membahas isu buruh, ekonomi migas, dan isu-isu pembangunan, saya tidak ragu-ragu mengeluarkan uang beasiswa saya untuk membeli tiket kereta agar dapat sampai ke kota-kota lain di Britania Raya dimana diskusi diadakan.

Pengorbanan waktu dan biaya untuk mempelajari hal-hal yang sama sekali baru adalah harga yang pantas saya bayar sehingga akhirnya telinga saya sudah terbiasa dengan istilah-istilah ekonomi dan politik. Sayapun mulai bisa membangun argumen bila diajak berbicara soal ideologi politik dan keberpihakan pemerintah.

Sangat menarik menemukan bahwa setiap isu bisa jadi berbeda bila dilihat dari perspektif yang berbeda pula. Pandangan mahasiswa ekonomi akan berbeda dengan mahasiswa politik, begitu juga mahasiswa ekonomi dan politik dari saya seorang mahasiswa ilmu alam yang lebih banyak memikirkan hal-hal teknis. Tapi di sanalah terjadinya mutual understanding dan munculnya ide-ide solutif yang holistik. Dan memang sudah seharusnya ada lingkaran-lingkaran yang bisa mempertemukan orang-orang lintas disiplin ilmu untuk mengurai sebuah masalah yang kompleks dan kemudian mencoba mencari potensi-potensi solusi yang diambil dari berbagai aspek.

Karena pada dasarnya semua perspektif dihargai, saya pernah diminta berbagi pandangan mengenai isu-isu terkait implementasi inovasi. Teman-teman di komunitas Lingkar Studi Cendekia (LSC) UK meminta saya mengulas bagaimana teknologi berperan penting dalam kemajuan bangsa pada sebuah diskusi bulanan yang diadakan di Sheffield (lihat rekaman).

Diskusi Panel Bonus Demografi dalam Forum for Nusantara PPI Greater Manchester, saya paling kanan. (dok.PPI GM)

Puncak dari aktivisme ‘aneh’ ini adalah saat saya diminta mengisi diskusi panel mengenai bonus demografi yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Greater Manchester. Kimia dan bonus demografi… dimana benang merahnya? Saya setengah tidak percaya. Tapi saya coba sebaik mungkin menyampaikan perspektif potensi percepatan kemajuan teknologi dari bonus demografi.

*

Momen-momen dimana saya dianggap setara dengan pemateri lain yang memiliki latar belakang politik dan pembangunan masih berkesan di pikiran saya. Momen dimana saya bisa lantang menyampaikan bahwa Indonesia bisa menjadi negara yang maju bila menyicil upaya-upaya transfer teknologi. Momen-momen itu membuat saya semakin yakin bahwa saya berada di jalur yang benar. Momen-momen itu menyadarkan saya bahwa perlu ada sekian persen dari orang-orang yang mempelajari ilmu sains dan teknologi yang juga mengerti ilmu-ilmu sosial sehingga menjadi jembatan di antara dua rumpun ilmu yang masih sering dianggap tidak berhubungan.

Inovasi teknologi adalah kunci added value pada ekonomi. Yang punya ilmunya, orang ilmu alam. Yang mengerti mekanisme pasar… orang ekonomi. Yang memberi izin implementasi… eksekutif dan legislatif yaitu politisi. Maka dari itu…

…sudah sepantasnya setiap dari kita sesekali keluar dari ruang belajar kita masing-masing dan berkumpul bersama teman-teman dari rumpun ilmu tetangga.

How big should you make your art?

I’ve noticed some digital artists out there who just kind of guess when choosing the dimensions of their artwork. Trying to understand ppi, dpi, print dimensions, and resolution can send you down a rabbit hole of complexity likely to break your brain.  

If you are creating an image only for the web, it is really up to you how big you want to make it. The only relevant dimensions are the pixels. Print size and pixels per inch are of no consequence. A 1920x1080 300ppi image will be the same as a 1920x1080 600ppi image. Your screen only cares about pixel dimensions.

If you plan to print your image, that is where things can get complicated.

Here is the simple version…

First you need to determine the maximum size that your work may be printed. Here are the most commonly used sizes for poster prints. 

Now you need to know the brand of printer that will be used. Typically it will be Epson, HP, or Canon.

For Epson printers…

  • Input the width and height. 
  • Input a resolution of 360 pixels per inch.

For Canon, HP, and most other printers…

  • Input the width and height. 
  • Input a resolution of 300 pixels per inch.

So let’s say you are in photoshop and you want your art to be printed at 11" x 17" on an Epson printer. This is how you should create your document. 

If you do not know how your work will be printed, I recommend erring on the side of “too big.” If you end up having to enlarge your work, it could result in some quality loss. 

Keep reading

171. We are not allowed to release 100 hedgehogs into the great hall at dinner time.

The hedgehogs were so adorable! - RL

I don’t know why people were screaming. - SB

We should have gotten house points, not detention. - PP

I think we should have gotten more credit for catching the hedgehogs. That was not easy. - JP

Agreed, that was the only downside. - RL


Credit for prank and commentary to iamsherlockedforharrypotter.

Thanks for sending this in!

anonymous asked:

A while back you expressed how you did not know what resolution was, so I hope this helps. Resolution on a computer is defined by 'pixels per inch' or 'ppi'. Generally, the greater resolution you have, the better the final image quality (300 ppi is greatest necessary). This is because there will be more pixels compressed in an inch, any more won't make a difference since our eyes can only see things so small. A high resolution also helps when making things for print. Google has more info.

ah I figured it had something to do w that. yeah my canvases are a minimum of 3000x3000 px, I never go any smaller