NoveLis

anonymous asked:

E il tuo ricordo più felice invece qual è?

l’infanzia passata con mia nonna che in nove anni mi ha insegnato più cose di quanto mi abbiano insegnato in venti anni di vita, i momenti che passavo a giocare, correre e ridere con mio padre, quando ancora non avevamo un carattere così simile che, invece di unirci, ha portato quasi ad odiarci, le pazzie e le riflessioni con mia madre, i pianti e le risate con mio fratello, la persona più importante della mia vita che, in un certo senso, me l’ha salvata, il concerto di Ligabue, la gita a Praga, il quinto anno di superiori in generale, il 1 gennaio 2017 a Bologna, il 21-22 e il 25 maggio 2014, dicembre 2015, i momenti passati col mio professore di lettere del quarto anno, in particolar modo quando mi consigliò il mio libro preferito, quando mi spronò a combattere per il mio sogno, quando mi fece alcuni complimenti e quando, un anno dopo, venne a vederci alla maturità e io lo abbracciai. tutte le risate spontanee, aver conosciuto colei che adesso è la mia migliore amica, le serate passate con i miei amici e tutte le occasioni in cui ho potuto aiutare qualcuno e in cui qualcuno ha aiutato me.

Aku punya mereka, tempat tertawa lepas, tempat sopan santun dijalankan, tempat untuk belajar saling menghargai.

Aku punya mereka, tempat segala cerita mengalir, walau tak ada ikatan darah.

Aku punya mereka, tempat segala bahagia sekaligus kecewa membuncah.

Aku punya mereka, tempat rindu menyesak, tempat pulang saat tak tahu arah, tempat kenangan dibangun dan kemudian mengembun.

Aku punya mereka, mereka yang tak pernah berhenti memberi cinta, dari awal hingga akhir tutup usia.

— 

Keluarga.


~ November Menulis bersama @kitasulawesi ~

Vacation (Daveed Diggs X Reader)

Request!:  For Noveed, how about a Daveed x reader where Daveed loses his voice after the show and the reader has to take care of him?

Paring: Daveed Diggs X Reader

Triggers: Clipping., fangirls, worrying, loss of voice, sassy lin, cursing?

Word Count: 759

A/n- This is our first Diggs fic. I’m kinda skeptical about it…

Masterlist


You stood at the side of the stage watching your fiancé bounce up and down like an energetic puppy. You loved watching him perform and he loved performing. Your only worries were the strain on his voice.

Clipping.’s music was thumping through the speakers at a deafening volume but no one seemed to care. They were all jumping and rapping along with Daveed.

You looked up at Daveed and you could tell that he loves what he’s doing.

Pretty soon the concert ended, and the three members of Clipping. stepped off the stage. They tried to get through and sign as many things as they could. William and Jonathan ended up getting caught in another group of fans while Daveed managed to weave his way through and head to you.

You smiled and held up a cup of tea that you had bought only minutes ago.

“Hey, babe.” You noticed the strain in his voice. Daveed leaned towards you, and instead of the kiss that he was expecting, his lips connected with the cup of tea.

“Drink.” You ordered and gave him a smile.

“Ok-”

“No speaking, you still have a morning show and a Ham4Ham tomorrow, now drink.” You handed the tea to him, and adjusted your purse, looking up again. Daveed smiled down gratefully at you as you leaned into his side.

“C’mon babe, let’s go home.” You suggested, and Daveed nodded, turning and waving back to Will and Jon.

You waved also, “Bye Will! Bye Jon!”

“Bye!” The two men waved you off, the fans letting out a disagreement to see you both go.

“By the way, Daveed, have you seen where all my clothes went. I’ve been trying to find some of them for the past week.”

Daveed cleared his throat before answering you, “Nope, haven’t seen them.”

Keep reading

hollywoodreporter.com
Darren Criss Developing Musical Workplace Comedy 'Royalties' at Fox

The project, which centers on producers and songwriters, hails from the ‘Glee’ grad and writers Allyn Rachel and Patrick Carlyle.

Darren Criss is returning to Fox.

The network is developing a musical workplace comedy from the Glee grad, The Hollywood Reporter has learned.

The project, titled Royalties, centers on the unseen, unsung and unglamorous heroes behind the pop stars – the producers and songwriters whose day job is it to produce hits. Sometimes it’s sexy, but most of the time, it’s just like every other workplace with office politics, clashing personalities and day-to-day minutiae. The comedy specifically centers on a publishing company, Royalty Music, and the one-hit wonder who returns to the fold in the hopes of making it big again.

Royalties hails from Criss and writers Allyn Rachel and Patrick Carlyle. The latter two will exec produce with The Jackal Group’s Gail Berman and Joe Earley. Criss is attached as a co-executive producer. (He will not star in the project should it move forward.)

Criss most famously spent five years on Fox’s former musical comedy hit Glee, for which he also earned an Emmy nomination for outstanding original music & lyrics. The actor, who is currently headlining the Los Angeles production of Hedwig and the Angry Inch, is also known for his roles in American Horror Story and Girl Most Likely. Criss is repped by CAA, Hyphenate Creative Management, and Hansen, Jacobson.

Rachel and Carlyle previously created the web series Couple Time, which was previously developed at Fox. Rachel is also developing the comedy Ridin’ Dirty for FX with The Jackal Group. Rachel is repped by CAA, Truhett Garcia Management, and Ginsburg Daniels. Carlyle is repped by CAA, Haven Entertainment and Ginsburg Daniels.

Royalties marks the latest collaboration between Fox and The Jackal Group, which produced the remake of the beloved movie musical Rocky Horror Picture Show. The company also has the drama Camelot and the comedy Mattress World in development at the network.

The project comes in the midst of a rough patch for similar music-centered series. HBO and Showtime axed first-year dramas Vinyl and Roadies, respectively, after one season despite impressive auteurs like Mick Jagger and Cameron Crowe. FX also recently pulled the plug on Dennis Leary’s sophomore comedy Sex&Drugs&Rock&Roll. Nashville, which centers specifically on the world of country music, was also canceled this year after four seasons, but it was resurrected by CMT and Hulu shortly thereafter.

Cerpen : Mimpi

Semakin hari wajahnya semakin teduh, mata sayu dari balik bingkai kacamata bulatnya kian menunjukkan ketenangan. Aku sangat menyukai senyumnya, walau sesekali dia selalu malu menunjukkannya padaku.

“Kamu jangan ngeliatin terus ih, risih.” Katanya saat dia sibuk mengerjakan naskah barunya.

“Mau ku buatkan kopi?”

“Ih jangan, itu mah tugas aku sebagai istri.” Dia segera berdiri, meninggalkan pekerjaannya menuju dapur. Selang 10 menit, dia kembali dengan dua cangkir bergambar hasil kerjaannya.

Satu cangkir berisi kopi satunya lagi berisi teh hangat, kesukaanku. Dia selalu tahu aku lebih menyukai semerbak bau teh dibandingkan bau kopi yang sedikit kuat.

“Waktu kecil mas punya mimpi jadi apa?”

“Dokter.” Aku menjawab cepat.

“Terus kenapa gak jadi dokter sekarang?” Matanya menunjukkan rasa penasaran, tatap mata itu yang berhasil membuatku menyukainya dulu. Dia selalu terlihat imut saat menatap dengan tatapan itu.

“Karena ketika SMP dan SMA mimpiku berubah lagi, hahaha.”

“Dan semuanya terwujud?”

“Cuma 2 dari sekian banyak mimpi yang berubah-ubah.”

“Yang terwujud apa saja?”

“Hm… mimpi tentang memiliki studio sendiri yang pertama.”

“Lalu yang kedua?”

Ku teguk teh hangat buatan istriku sebelum menjawab tanyanya, wajahnya benar-benar menyejukkan hati. Aku selalu tersenyum menatap wajah itu.

“Mas” panggilnya. “Mimpi yang kedua apa?”

“Hm… menikah denganmu.”

Satu bantal kursi dia lemparkan ke arahku, menggodanya benar-benar menyenangkan. Setiap kali aku mengatakan hal itu, dia pasti selalu menyangka aku hanya menggodanya. Padahal tidak, sejak pertemuan dua tahun lalu, aku sudah bertekad akan menikahinya.

Laki-laki mana yang tidak jatuh hati pada perempuan yang tanpa ragu menghentikan motornya dan sebuah mobil hanya untuk menyelamatkan anak kucing di tengah jalan. Dia bahkan sampai menunduk ke bawah mobil untuk mengeluarkan anak kucing itu.

Beberapa orang mengeluh karena macet mendadak, tapi aku tidak. Justru senang, di kota yang tingkat individualis lebih tinggi seperti ini masih ada perempuan seperti dia. Toleran pada orang tua, dan pada hewan.

“Mas…” Panggilnya lagi.

“Tadi malam aku mimpi ketemu ibu. Kita ke tempat ibu sabtu besok ya, ibu minta dijenguk sepertinya.”


November menulis bersama @kitasulawesi

#Day4 Hujan

“Kali ini tentang hujan, tentang tanah yang basah.”

Hujan ialah rindu yang terlampau penuh,

lantas tumpah,

basah,

menyisakan luka.

Bahagia di detik pertama,

sesak di selanjutnya.

Terpaku sesaat,

berakhir tatap nanar.

Hati dicampuradukkan,

diputarbalikkan,

tapi tak apa.

Ironinya,

aku tak boleh berlama-lama,

justru agar selalu baik-baik saja.


November Menulis, bersama @kitasulawesi

Apa istimewamu?

Apa yang istimewa dari senja? Hingga sebagian besar orang rela menunggunya, walau dia tak bertahan lama.

Apa yang menarik dari senja? Hingga mereka menatap senja sebagai hal yang romantis, dan menunggu hadirnya dengan ceria.

Aku bertanya, seperti aku ingin bertanya padamu.

Apa istimewamu? Hingga aku rela menanti, ikhlas memberi, tersenyum penuh arti, saat kau ada di sini.

Kau, serupa senja, yang kutunggu dengan bersemangat, untuk kemudian hilang, lewat begitu saja, dan kutunggu lagi esok hari. Begitu seterusnya, entah sampai kapan.


Makassar, 6 November 2016

~ November Menulis bersama @kitasulawesi ~

Perihal mimpi

“Di dalam imaji kamu adalah keseluruhan mimpi” -Dicho Bima.

Dulu, ada yang pernah berkata padaku bahwa dengan bermimpi kamu hidup, bahwa dengan bermimpi kamu memiliki tujuan yang akan kamu tuju.

Aku sempat mempercayainya.

Hingga suatu waktu, kenyataan menamparku dan membuka mataku bahwa “bermimpi juga perlu melihat kenyataan”. Bermimpilah sesuai dengan kemampuan yang mungkin bisa kamu capai.

Jika sekarang ditanya “apa mimpiku untuk diriku, untuk orang-orang disekitarku, untuk keluargaku?”

Mungkin aku akan menjawab “aku hanya ingin melihat mereka tersenyum dan baik-baik saja. Sederhana”.


November menulis bersama @kitasulawesi
Alguns esclarecimentos importantes:

1. O casamento gay é facultativo. Ninguém no Brasil é obrigado a casar com um gay. Se você não é gay, a lei não lhe diz respeito.

2. O Beijo gay é o mesmo que qualquer beijo. Ser gay é uma característica de pessoas, não de Beijos. Não existe beijo negro ou beijo gordo. Ah, e também é facultativo. Ninguém é obrigado a beijar alguém do mesmo sexo. Ufa! Podem dormir tranquilos.

3. A adoção de crianças por casais gays é quando um casal gay adota uma criança de um orfanato, não uma criança da sua casa. Se você não é gay e não é uma criança num orfanato, essa lei não lhe diz respeito.
4. A Globo é só uma emissora dentre muitas. Ninguém no Brasil é obrigado a assistir a novela das 9. Se assiste, é porque quer ver. Então veja.
5. Todos os programas no Brasil têm classificação indicativa. Nenhuma novela é aconselhável para crianças de 6 ou 7 anos. Então se você estiver preocupado com seu filho ver beijo de novela das 9, então a Globo não é o seu maior problema. Vá ler o estatuto da criança e do adolescente.
6. Se você é cristão, saia do Levítico e do Deuteronômio e vá ler o Sermão da Montanha e aprender o que é tolerância.
Parafraseando a Pitty: nenhuma mulher vai voltar pra cozinha, nenhum negro vai voltar pra senzala e nenhum gay vai voltar pro armário.


Emmanuelle Lira

Professora da Universidade Federal de Campina Grande (PB)

Day 3 : Kepada Senja

Senja, maafkan aku.
Jujur saja, aku tidak mengagumi dan juga tidak terlalu mengenalmu. Bagiku, Pesona basah dari hujan lebih menggoda ketimbang sinar jingga keemasanmu itu.

Satu hal yang bisa kupelajari darimu adalah, senja merupakan tempat dimana siang dan malam akan bertemu. Namun bukan bertemu untuk saling bersama melainkan untuk berpisah lagi, lagi,lagi, lagi dan lagi. Selamanya.

Mereka hanya sekedar saling melintasi. Siang menyapa malam, dan malam mengangguk kecil kepada siang. Kemudian mereka hanyut didalam perannya masing-masing. Tidak sempat untuk saling bertukar cerita. Tidak akan pernah.

Senja adalah pertemuan yang tidak akan pernah menyatukan. Hal itu mengingatkan aku akan kita. Sebuah pertemuan yang pernah dihiasi kecemburuan hujan, kemudian semuanya berlalu begitu saja. Seperti senja.

*********

Hari ketiga “November Menulis” bersama @kitasulawesi dengan tema senja.

06 November 2016
Lluviaphile

Impian Vs Angan

Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik di sudut-sudut benak, “apa bedanya bermimpi dan berangan-angan?”

Sering kali orang mendefinisikan mimpi itu sama dengan angan-angan, sehingga ketika kita memiliki sebuah mimpi yang besar mereka akan berkata, “mimpinya jangan ketinggian, nanti jatuh sakit loh.”

Toh, mimpi dan angan sama-sama buat kita berkhayal, jadi kuadratnya sama.
Hati-hati, pemikiran inilah yang harus diubah. Sebab tanpa sadar membuat kita malah jatuh karena hanya terpengaruh oleh dua kata tapi memberikan efek seperti bumerang yang meluluh lantakkan sekitarnya.
Jadi, kita lihat definisi dari kacamata garis besarnya.

Mimpi atau impian berarti sesuatu hal yang kita inginkan dan menjadikannya obsesi sampai kita mendapatkannya. Dengan kata lain, mimpi memiliki ‘action’ untuk berusaha mewujudkan hal itu.

Sedangkan angan atau berangan-angan adalah sesuatu hal yang hanya sebatas menginginkan tanpa ada upaya nyata. Jadi, bisa kita lihat bahwa mimpi dan angan berbeda meski sama-sama menginginkan tapi salah satunya tidak ada perwujudan yang jelas.

Yang menjadi problem adalah sekarang kita tinggal memilih diantaranya, memiliki mimpi dan mewujudkannya atau sekedar berangan saja?
Ingin menjadi pelari untuk menuju garis finish atau hanya sekedar menjadi penonton dan berkhayal menjadi sang pengejar mimpi?

Semuanya ada di tangan Anda.


Writing Project : november menulis bersama @kitasulawesi

#reblogdaritulisanlama

Kita

Dulu kita tak saling kenal, lalu kemudian jadi teman berbagi kisah.

Dulu kita hanya orang-orang asing, lalu kemudian saling mengenal, meski tak  pernah bertemu.

Dulu, aku bahkan tak segan berbagi segalanya, mungkin karena ku tahu objek-objek ceritaku tak pernah kalian tahu.

Dulu, aku sampai rela tak tidur hingga subuh menjelang, demi tahu dan ikut dalam percakapan kalian.

Dulu, percakapan kita dari yang layak sampai yang tabu, dari soal pribadi sampai masalah negara.

Tapi itu dulu. Aku rindu. Rindu pada orang-orangnya, rindu ramainya, rindu bersapa, rindu bertemu, rindu berbagi kisah.

Kalian, bahkan seperti rumah yang selalu ingin ku buka di manapun berada. Namun sekarang, untuk menyapa lewat jalur pribadi pun segan, enggan, takut mengganggu.

Akankah semua kembali seperti dulu lagi? Aku tahu tak baik mengenang masa lalu. Tapi jika soal kalian, tak ada yang tak bisa dikenang. Ramainya, tawanya, kecewanya, sakit hatinya, tangisnya, serta orang-orangnya. Semuanya, menyenangkan.

Salam rindu untuk @kitasulawesi

Makassar, penghujung November 2016

di Kala Hujan


@duaapuluhtiga

3

Looking for beta testers for Jisei, Kansei, and Yousei rebuilds.

Calling all Jisei fans (or those who aren’t, but have been wanting to check out our ongoing murder mystery visual novel series).

We’re currently updating our J+K+Y games to be compatible with some of the latest platforms, and we need beta testers!

We’re looking for people with any of the following:
-PCs: Windows, Mac, or Linux
-Portable devices: Android phones or tablets, iPhones or iPads.

Email Ayu at soymilk.pudding@gmail.com (before November 25th, 2016) with which of the above systems you have and any experience you have beta testing. No experience is fine too - we’re looking for a wide range of testers.

Day 4 : Duka Dibalik Hujan

Ada langit yang kelabu
Lalu ia menangis
Tidak tersedu
Tapi seisi dunia menjadi tahu
Bahwa ada hati yang tengah mengaduh pilu.

Ada seorang yang menunduk
Sendirian duduk
Membiarkan hujan jatuh mengutuk
Merasuk hingga dasar hati
Memeluk sesak dalam diri.

Dia ingin berhenti
Tapi setengah hatinya berkata harus berjuang lagi dan lagi
Jadi kali ini,
Biarlah hujan membasahi
Biarlah hujan mengajarkan arti.

Bahwa jatuh harus ikhlas
Bahwa jatuh memberi kekuatan
Bahwa jatuh harus tabah.

Hingga hujan reda
Hingga duka luruh
Melangkahlah lagi.

*********

Hari ke-4 November Menulis bersama @kitasulawesi bertema hujan.
Special thank for someone, yang sudah rela membantu mengerjakan wp. Terimakasih atas supportnya selama ini.

Mampirnya Senja

Dikala senja datang, pembanting tulang pulang merebahkan raga

Memandang buah hati, mengobati jiwa

Dikala senja pergi, kegelapan menaungi

mencari mangsa , Pekerja kotor beraksi

Matahari tenggelam, tiada yang membantu

Berteriak pun sudah tak sanggup

Kini bulan menerangi

Kesepian pun menyelimuti

Senja tak pernah letih membatasi terang nya dunia menuju butanya mata ayam

Tak ada yang abadi, semua berganti



Writing Project: November Menulis

bersama @kitasulawesi

My Name is TeHitam

Namaku tehitam, pemilikku memutuskannya secara serampangan beberapa bulan yang lalu.

Saat ditanya, mengapa nama itu? Dia hanya menjawab, “aku mengambil dari arti namaku.”

Jika ingin terbuka, sejujurnya aku hanyalah tempat kedua sebagai jalan untuk bernalar tapi tak berkata olehnya.

Aku iri.

Hanya masuk sekadar menyelesaikan misi writing project miliknya. Setelahnya, hanya melihat seberapa banyak followers dan notes yang sudah kukumpulkan.

Dia, tuanku …

Memiliki jiwa yang labil.

Membuatkanku rumah hanya untuk menampung imajinya,

dan akan menghilang berpindah ke “rumah lama” untuk mengadu kasih.

Aku iri pada sang “rumah lama” yang telah mengukir kisah sesungguhnya bagi tuanku.

Namun, satu yang dapat kutenangkan, jika diriku tak segelap “rumah lama” yang kini sedang ditempati olehnya.

Namaku tehitam, penggabungan dari kata teh yang manis dan hitam yang pahit.

Aku tehitam, sebatas tempat untuk menyelesaikan tugas-tugas dari pemiliknya.

Aku … tehitam … sosok yang bertahan di atas kepalsuan pikiran oleh pemiliknya.

Mewakili aksaranya tanpa membawa hati yang dapat dicelupkan bersama sang alkisah.


Untukku pada “rumah lama” yang beralamatkan di dongeng busuk, kau adalah kelahiran dari pikiran picik oleh tuan kita sesungguhnya.



— Writing project : november menulis bersama @kitasulawesi

Pertemuan

Bicara tentang pertemuan, begitu banyak yang ingin ku temui, begitu banyak pertemuan yang telah ku lewatkan. Mereka, menyisakan penyesalan.

Ada seorang perempuan yang begitu senang dengan kesendiriannya, dia terfokus pada kesepiannya, sehingga lupa bahwa di lain tempat ada orang-orang lain yang menunggunya, memberinya dukungan dan menantinya untuk terus berkembang.

Ada seorang perempuan yang begitu nyaman tinggal seorang diri, bermain dengan kehidupannya sendiri, menyesali apa yang telah lalu, tapi tetap tidak melakukan apa-apa, tetap tak melangkah maju, melewatkan setiap pertemuan yang mungkin bisa lebih mendekatkan.

Ada seorang perempuan yang begitu mendamba bertemu dengan bapaknya, ingin memeluk dengan erat dan berkata bahwa dia sangat mencintainya, juga sangat merindukannya.

Ada seorang perempuan yang begitu ingin bertemu dengan mamanya, mendengarkan setiap kata yang terucap, setiap cerita yang mengalir tanpa henti. Dia hanya ingin duduk mendengarkan, tak ingin menyela, sampai mungkin wanitanya bosan berbicara, walau dia yakin wanitanya tidak akan pernah bosan, malah terus bercerita, menceritakan topik yang sederhana.

Ada seorang perempuan, yang kurang lebih empat tahun lalu, menolak sebuah pertemuan, tapi lelakinya datang memaksa untuk bertemu. Mungkin jika saat itu lelakinya tak berjuang untuk bertemu, kehidupannya tidak akan penuh dengan penyesalan. Segalanya mungkin saja berubah.  Tapi pertemuan, bukankah juga merupakan sebuah takdir? Dan jalannya memang harus begini, jalannya memang harus seperti ini.

Ada pertemuan setelah perpisahan yang menyerap kebahagiaan, ada penyesalan setelah melewatkan sebuah pertemuan.

~ November Menulis bersama @kitasulawesi ~