Mabuk Cinta Allah

RINDU

Syaikh Ibn Khafif Rahimahullah mengatakan “Rindu adalah kenikmatan hati yang muncul dari perasaan kerohanian dan kecintaan untuk berjumpa dengan Allah dengan cara dekat [dengan-Nya].”

Salah seorang Sufi ditanya, “ Apakah engkau rindu kepada Allah?” Dia menjawab, “Tidak. Rindu hanyalah untuk orang yang tidak hadir sedang Dia selalu hadir.”

Fathu Rabbani - Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Radhiyallahu Anhu

MABUK CINTA ALLAH

Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali rahimahullah bahwa pada suatu hari Nabi Isa alaihis salam berjalan di adapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Dan pemuda yang sedang menyiram air itu melihat kepada Nabi Isa alaihis salam berada di hadapannya maka dia pun berkata, “Wahai Nabi Isa, mintalah dari Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku seberat semut Zarrah [semut paling kecil] cintaku kepada-Nya.” Berkata Nabi Isa alaihis salam, “ Wahai saudaraku, kamu tidak akan kuat untuk seberat semut Zarrah itu.”

Berkata pemuda itu lagi, “Wahai Nabi Isa, kalau aku tidak kuat untuk satu semut Zarrah, maka mintakan untukku setengah berat semut Zarrah.” Karena keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa alaihis salam pun berdoa, “Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat semut Zarrah cintanya Kepada-Mu.” Setelah Nabi Isa alaihis salam berdoa maka beliau pun berlalu dari situ. Selang beberapa lama Nabi Isa alaihis salam datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa alaihis salam tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa alaihis salam pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahwa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.

Setelah Nabi Isa alaihis salam mendengar penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah SWT, “Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku dimana pemuda itu.” Selesai saja Nabi Isa alaihis salam berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-gunung dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit.

Nabi Isa alaihis salam pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa alaihis salam, lalu Nabi Isa berkata, “Aku ini Isa.”Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu yang berbunyi, “Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Zarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya.”

ق

SYAIR CINTA RABI'AH AL-ADAWIYYAH

Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cintaMu

Hingga tak ada sesuatupun yang menggangguku dalam jumpaMu

Tuhanku, bintang-gemintang berkelap-kelip

Manusia terlena dalam buai tidur lelap

Pintu-pintu istana pun telah rapat tertutup

Tuhanku, demikian malampun berlalu

Dan inilah siang datang menjelang

Aku menjadi resah gelisah

Apakah persembahan malamku Kau Terima

Hingga aku berhak mereguk bahagia

Ataukah itu Kau Tolak, hingga aku dihimpit duka,

Demi kemahakuasaan-Mua

Inilah yang akan selalu ku lakukan

Selama Kau Beri aku kehidupan

Demi kemanusiaan-Mu,

Andai Kau Usir aku dari pintuMu

Aku tak akan pergi berlalu

Karena cintaku padaMu sepenuh kalbu

2

Ya Allah, apa pun yang akan Engkau

Karuniakan kepadaku di dunia ini,

Berikanlah kepada musuh-musuhMu

Dan apa pun yang akan Engkau

Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,

Berikanlah kepada sahabat-sahabatMu

Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku

3

Aku mengabdi kepada Tuhan

Bukan karena takut neraka

Bukan pula karena mengharap masuk surga

Tetapi aku mengabdi,

Karena cintaku padaNya

Ya Allah, jika aku menyembahMu

Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya

Dan jika aku menyembahMu

Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya

Tetapi, jika aku menyembahMu

Demi Engkau semata,

Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu

Yang abadi padaku

4

Ya Allah

Semua jerih payahku

Dan semua hasratku di antara segala

Kesenangan-kesenangan

Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau

Dan di akhirat nanti, diantara segala kesenangan

Adalah untuk berjumpa denganMu

Begitu halnya dengan diriku

Seperti yang telah Kau katakana

Kini, perbuatlah seperti yang Engkau Kehendaki

5

Aku mencintaiMu dengan dua cinta

Cinta karena diriku dan cinta karena diriMu

Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingatMu

Cinta karena diriMu, adalah keadaanMu mengungkapkan tabir

Hingga Engkau ku lihat

Baik untuk ini maupun untuk itu

Pujian bukanlah bagiku

BagiMu pujian untuk semua itu

6

Buah hatiku, hanya Engkau yang kukasihi

Beri ampunlah pembuat dosa yang datang kehadiratMu

Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku

Hatiku telah enggan mencintai selain dari Engkau

7

Hatiku tenteram dan damai jika aku diam sendiri

Ketika Kekasih bersamaku

CintaNya padaku tak pernah terbagi

Dan dengan benda yang fana selalu mengujiku

Kapan dapat kurenungi keindahanNya

Dia akan menjadi mihrabku

Dan rahasiaNya menjadi kiblatku

Bila aku mati karena cinta, sebelum terpuaskan

Akan tersiksa dan lukalah aku di dunia ini

O, penawar jiwaku

Hatiku adalah santapan yang tersaji bagi mauMu

Barulah jiwaku pulih jika telah bersatu dengan Mu

O, sukacita dan nyawaku, semoga kekallah

Jiwaku, Kaulah sumber hidupku

Dan dariMu jua birahiku berasal

Dari semua benda fana di dunia ini

Dariku telah tercerah

Hasratku adalah bersatu denganMu

Melabuhkan rindu

8

Sendiri daku bersama Cintaku

Waktu rahasia yang lebih lembut dari udara petang

Lintas dan penglihatan batin

Melimpahkan karunia atas doaku

Memahkotaiku, hingga enyahlah yang lain, sirna

Antara takjub atas keindahan dan keagunganNya

Dalam semerbak tiada tara

Aku berdiri dalam asyik-masyuk yang bisu

Ku saksikan yang datang dan pergi dalam kalbu

Lihat, dalam wajahNya

Tercampur segenap pesona dan karunia

Seluruh keindahan menyatu

Dalam wajahNya yang sempurna

Lihat Dia, yang akan berkata

“Tiada Tuhan selain Dia, dan Dialah Yang maha Mulia.”

9

Rasa riangku, rinduku, lindunganku,

Teman, penolong dan tujuanku,

Kaulah karibku, dan rindu padaMu

Meneguhkan daku

Apa bukan padaMu aku ini merindu

O, nyawa dan sahabatku

Aku remuk di rongga bumi ini

Telah banyak karunia Kau berikan

Telah banyak..

Namun tak ku butuh pahala

Pemberian ataupun pertolongan

CintaMu semata meliput

Rindu dan bahagiaku

Ia mengalir di mata kalbuku yang dahaga

Adapun di sisiMu aku telah tiada

Kau bikin dada kerontang ini meluas hijau

Kau adalah rasa riangku

Kau tegak dalam diriku

Jika akku telah memenuhiMu

O, rindu hatiku, aku pun bahagia

8 Pengertian Cinta Menurut Al-Qur’an

Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu
mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an
katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya
(man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta
sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai
dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang
dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti
kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi
orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka
berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka
bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti
perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Al-Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

1. Cinta Mawaddah

adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan
“nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu
berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia
ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta Rahmah

adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut,
siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis
rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding
terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang
kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi
kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.
Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian
darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari
itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham ,
yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri,
yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata
rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana
psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah
dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya
menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta
mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia
akhirat.

3. Cinta Mail,
adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara,
sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung
kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut
dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada
yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang
lama.

4. Cinta Syaghaf.
Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil
dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad
syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir
tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf
ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir
kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta Ra’fah,

yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan
norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak
tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an
menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah
menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus
hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta Shobwah,
yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku
penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika
mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan
Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja),
sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan
bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al
jahilin (Q/12:33)

7. Cinta Syauq (Rindu).
Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari
hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5
dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan
tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur
dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika
wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya
memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.
Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa
Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada
sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang
apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il
tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta Kulfah.
yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik
kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang
menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada
pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la
yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

MAJNUN DAN LAYLA

Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit. Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi.

Para tabib menyarankan bedah, “Sebagian darah dia harus dikeluarkan, sehinggu suhu badan menurun.”

Majnun menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah terhadap saya.”

Para tabib pun bingung, “Kamu takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar hutan seorang diri. Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”

“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun.

“Lalu, apa yang kau takuti?”

“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”

“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yang dibedah badanmu.”

“Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku. Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.”

( Maulana Jalaluddin Rumi qs )

Ibn Masruq berkata, “Aku hadir ketika Samnun Al-Majnun sedang berbicara tentang cinta, dan semua lampu di masjid lalu berguguran.” Ibrahim bin Fatik menuturkan, “Suatu ketika aku sedang mendengarkan Samnun Al-Majnun berbicara tentang cinta ketika seekor burung kecil datang dan bergerak ke arahnya. Ia terus mendekat hingga akhirnya duduk di tangannya. Kemudian ia mematuk-matukkan paruhnya ke lantai sampai darah mengalir dari mulutnya dan ia mati.”
—  Ar-Risalah Imam Qusyairi
MATI SEBELUM MATI

Mati Sebelum Mati

Mengkaji Mati Sebelum Mati (Terlepasnya Ruh dari Jasad)

 

Mati Tabi’i

Mati tabi’I merupakan pintu pertama musyahadah dengan Allah. Mati ini berlangsung saat seseorang melakukan zikir Qalbi dalam zikir Lataif. Dengan karunia Allah, ia fana/lenyap pendengaran secara lahir, tapi secara bathin mendengar zikir Allah…Allah….

Pada tingkatan ini, mula-mula hati berzikir kemudian beralih ke mulut dan lidah, akhirnya berzikir dengan sendirinya. Dalam tahap ini perasaan mulai hilang/mati tabi’I, akal dan pikiran tak berfungsi lagi. Disini mulai masuknya ilham berupa Nur Ilahi dalam hati dan seolah-olah telah berhadapan dengan Allah. Telinga batin yang berfungsi disini dan hati mulai berbisik “ INNANII ANAA ALLAH”. Karena suara hati qalbi naik ke mulut, maka dengan sendirinya lidah bergerak mengucapkan ALLAH…ALLAH. Pada tanjakan-tanjakan batin seperti ini mulai memasuki pintu fana yang pertama yakni fana fil af’al dan tajali fil af’al. Hal ini disebabkan oleh tuntunan dari Allah, seperti dalam firmannya “Tiada perbuatan, gerak dan diam seseorang selain Allah”.

Mati Maknawi

Mati maknawi terjadi pada saat seseorang melakukan zikir Latifatul Roh dalam zikir Lataif. Dalam kondisi mati maknawi, penglihatan secara lahiriah hilang lenyap dan seolah-olah semua pendengaran telah di kuasai oleh mata hati. Maka zikir Allah pada tingkat ini semakin meresap ke seluruh tubuh hingga terasa panasnya di sekujur tubuh dan setiap bulu roma. Perasaan keinsanan mulai tercengang, persendian mulai bergetar yang dapat menyebabkan seseorang jatuh pingsan disebabkan oleh sifat keinsanannya telah lebur dan mulai di liputi oleh sifat kebaqa’an Allah. Pada tingkat ini menandakan seseorang telah memasuki fana fil sifat, sifat kebaharuan dan kekurangan serta perasaan telah lenyap yang ada hanyalah sifat ke Tuhanan yang sempurna dan Tajalli.

Mati Sirri

Mati ini terjadi saat seseorang melakukan zikir Latifatul Sirrih dalam zikir Lataif. Pada tahap ini seseorang akan memasuki yang di sebut dengan “MA’RIFATAN BIRABII”, yakni berhadapan langsung dengan Zat Yang Maha Pencipta. Rasa keinsanan telah lenyap dan dalam wujud yang gelap karena di telan oleh alam ghaib memasuki Nur Af-‘Allullah, Nur Sifatullah, Nur Asmaullah, Nur Zatullah, Nurul ‘Alaa Nurin..

Mati Hissi

Terjadi ketika melakukan zikir Latifatul Hafi dalam zikir Lataif. Pada zikir ini akan memasuki ke tingkat alam yang tertinggi yang di namakan “MA’ARIFA FII RABBI”, yang di sebabkan lenyapnya segala sifat-sifat ke insanan seseorang yang baharu dan tinggallah sifat-sifat Tuhan yang Qadim/Ajali, sehingga bersatulah antara “Abid dan Ma’bud, Khalik dan Makhluk, Jalal dan Jamal. Dalam keadaan ini akan mengalami keadaan yang tidak pernah di lihat oleh mata, tidak pernah terlintas dalam hati manusia.

Musyahadah dengan melalui mati, seperti Sabda Nabi SAW “Rasakanlah mati sebelum engkau mati”. Dalam kitab Hikam Abu Ma’jam berkata: “Barang siapa yang tidak merasakan mati, niscaya ia tidak dapat melihat Allah” Jadi maksud mati ialah hidupnya hati dan tiada saat kehidupan hati melainkan saat matinya nafsu. Selanjutnya dalam kitab Al-Hakim yang artinya: “Tiada jalan masuk/musyahadah dengan Allah kecuali dengan melalui pintu mati, salah satu dari pintu itu adalah Fanaul Akbar yaitu mati tabi”…

TAHAPAN MENGENAL ALLAH SWT
— 

Berikut ini pandangan  Al Habib Luthfi tentang tahapan mengenal Allah Swt. Hasil wawancara Crew habiblutfiyahya,net dengan beliau.

Hly.net: Bagaimana  cara belajar mengenal Allah?
Al Habib: Kita mengenali tentang apa yang diciptakan oleh Allah terlebih dahulu. Dari mengenali ciptaanNya itulah, lantas kita mengenali siapa yang menciptakannya. Nah, disitulah kita akan melihat kebesaran-kebesaran Allah SWT yang ditunjukkan kepada kita semua.

Setelah kita sudah mengenalnya, lalu kita tingkatkan lagi. Sadarkah kita sebagai hamba, mengertikah kita sebagai hamba, tentang apa kewajiban kita sebagai seorang hamba? Lantas bagaimana seharusnya perilaku seorang hamba yang telah mengenal kepada Tuhannya? Setelah itu kita tingkatkan lagi ke atas. Kita  ini sejatinya diundang oleh waktu. Maka kita harus menghormati waktu.

Begitu tingkat kesadarannya sudah tinggi, maka kalau waktu shalat sudah datang kenapa kita mesti menunda waktu untuk  bergegas melakukannya? Seharusnya kita kan justru bersiap-siap untuk menunggu datangnya waktu tersebut, menghormat panggilan Allah SWT untuk shalat.

Bukankah setiap kali berkumandang adzan, itu merupakan panggilan yang telah memperingatkan kita? Sehingga ketika terdengar suara adzan, kita merasa senang dan gembira, lantas bersiap-siap untuk hormat akan datangnya panggilan Allah tersebut.


Hly.net: Tetapi dalam kenyataannya, hal demikian terasa sulit untuk dilakukan?
Al Habib: Untuk meraih tingkat demi tingkat semacam itu, memang bukan hal yang gampang. Oleh karnanya, kita perlu sering datang ke suatu majlis dengan para ulama’, para shalihin, untuk mendengarkan fatwa-fatwanya.

Kita harus seringa pula mendengarkan petuah dan pandangan-pandangan para auliyaus-shalihin. Rasanya terlalu sulit untuk dapat meraihnya lebih jauh, jika kita jauh dari beliau-beliau itu. Sebab mereka bagaikan ruang yang memiliki lentera, mempunyai batrainya, nah, kita ini bagian yang dioborinya. Semakin kita dekat kepada orang-orang sholihin, maka akan lebih jauh lagi kita dapat mengenal Allah SWT dan RasulNya.


Hly.net: Jalan tercepat yang bagaimanakah, sehingga manusia merasa dirinya senantiasa bersama dengan Allah SWT Dzat yang selalu membimbingnya?
Al Habib: Saya sendiri masih bingung, melihat bagaimana proses orang yang makan langsung sepiring sekali telan? Padahal seharusnya kita menelan sesuap demi sesuap. Yang pentingkan sepiring bisa habis. Namun apa jadinya dipencernaan, jika mulut kita tidak pernah mengunyah untuk membantu pancernaan? Apa hasilnya atau apa yang akan terjadi dalam proses pencernaan tersebut.

Memang menarik, waktu makan yang lebih singkat dan lebih cepat. Jalan yang paling cepat dan tepat untuk mencapai proses makanan, apa nasinya yang lebih baik dibubur saja biar lebih encer, supaya menelannya lebih mudah. Tapi nyatanya semua itu sudah ada tempatnya. Yang mempercepat dan sebagainya itu, sudah ada bagiannya masing-masing. Nah, maka dari itu, tahapan untuk secepat itu tidak mungkin mudah. Contohnya ya seperti orang yang makan sepiring langsung telan tadi.


Hly.net: Lalu apa yang mesti dilakukan, agar dalam beraktivitas kita masih tetap bisa mengingat Allah?

Al Habib: Kalau tidak dilatih ya mana mungkin? Pada awalnya hati itu harus dikasih latihan untuk senantiasa mengingatNya. Itu memang tak mudah. Terkadang sering lupa. Tetapi setelah terbiasa, maka bagian tubuh yang kita latih ini punya reflex sendiri sesuai dengan tempatnya masing-masing.

Gerak tangan saja yang tak berhenti, juga mengikuti gerak ruh. Apalagi dengan hati kita yang terbiasa dengan latihan-latihan. Insya-Allah hati kita tidak akan pernah lupa dzikir kepada Allah SWT. Sebab itu sudah terjadi secara refleks. Maka latihlah senantiasa hati kita. Sebab jika hati itu biasa memandang sesuatu yang baik, berpikir baik, berprasangka yang baik, selamanya hati kita akan timbul secara refleks dengan pandangan-pandangan yang baik sehinga akan selalu jernih. (Hly.net)

RUH SHALAT

Shalat tidak terkandung dalam bentuk semata. Shalat formal memilki awal dan akhir, sebagaimana semua bentuk dan tubuh dan semua yang melibatkan wicara dan suara, tetapi jiwa tak bersyarat dan tanpa batas: ia tidak pernah berawal dan berakhir… Shalat adalah penenggelaman dan ketidaksadaran jiwa, sehingga semua bentuk ini tetap utuh. Pada saat itu tidak ada ruang bagi Jibril, yang adalah ruh suci. Seorang yang melakukan shalat dengan cara ini menjadi bebas dari segala kewajiban agama, karena dia terlepas dari akalnya. Peleburan diri ke dalam kesatuan Ilahi adalah ruh sejati shalat.

( Maulana Jalaluddin Rumi qs: Fihi Ma Fihi 15)

EKSTASI CINTA
— 

Ketika Qais (Majnun) mabuk cinta kepada Laila, tidak ada yang dilihatnya kecuali wajah Laila, ketika ia melihat bunga mawar yang terlihat adalah wajah Laila, ketika ia menunduk ke bumi yang dilihat adalah wajah Laila.

Ketika seorang mengalami ekstasi cinta Ilahi, seperti sang Qais, apapun yang dilihatnya, maka yang terlihat baginya hanya Allah semata.

"Semua manusia adalah anak-anak. Kecuali orang yang mabuk dengan Tuhan. Tiada seorang dewasa. Kecuali orang yang bebas dari hasrat-diri."

Maulana Jalaluddin Rumi RA : Matsnawi I: 3430 

CARA WUSHUL (SAMPAI) KEPADA ALLAH
— 

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Ketahuilah, bahwa hati memiliki dua mata yakni mata kecil dan mata besar. Mata kecil hanya mampu melihat Tajalli Sifat dengan cahaya Asma Ash-Shifat hingga ke alam-alam derajat (jannatul ma’wa, jannatun na’im dan jannatul firdaus). Sedangkan, mata besar mampu melihat cahaya Tajalli Dzat dengan cahaya tauhid yang Maha Tunggal di Alam Lahut dan Alam Al-Qurbah.


Cara untuk mencapai derajat ini adalah dengan kematian atau jika itu sebelum mati adalah dengan fana dari sifat hawa nafsu manusiawi. Dan, wushûl-nya hamba hingga ke alam itu sangat tergantung pada keterputusannya pada hawa nafsu manusiawi.


Dan, wushûl pada Allah SWT di sini tidak berarti bertemunya jasad dengan jasad. Tidak juga, seperti ilmu pengetahuan dengan tujuan pengetahuan atau bertemunya pemikiran dengan yang dipikirkan atau bertemunya dugaan terhadap yang diduga.


Adapun yang dimaksud wushûl kepada Allah SWT adalah putus dari selain Allah SWT, tidak dekat dan tidak jauh, tanpa arah dan berhadapan, tanpa bertemu dan berpisah. Maha Suci Allah SWT yang dalam penampakan-Nya, kesamaran-Nya, tajalli-Nya, ketertutupan-Nya, pengetahuan-Nya, terdapat hikmah yang agung. 


Siapa saja yang telah mencapai derajat ini di alam dunia dan mampu mengetahui kadar dirinya sebelum ia dihitung orang lain, maka ia adalah manusia yang bahagia.


Seandainya manusia tidak mencapai derajat yang disebut tadi, maka kelak akan mengalami kesukaran-kesukaran, seperti siksa kubur, perhitungan amal, digiring ke Mahsyar, ditimbang amalnya, melewati Sirathal Mustaqim dan segala hal berat yang akan dihadapi di akhirat nanti.”


—Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Sirrul Asrar, terjmh KH Zezen ZA Bazul Asyhab, wakil talqin Tarikat Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Suryalaya.