MULU

Berumah Tangga

23 September 2016 - 3 Mei 2017

Baru beberapa bulan, belum ada setahun. Tapi, perjalanannya terasa panjang. Mengingat berumah tangga, pada semua hal di dalamnya membutuhkan komitmen, juga konsistensi.

Kita konsisten pada apa yang pernah diikrarkan sejak awal. Menjaga perasaan agar tetap pada tempat yang tepat, yaitu kepada pasangan. Juga bagaimana menjaga ritme rumah tangga agar tetap stabil ditengah perjalanan.

Mengapa kehidupan rumah tangga, kalau dalam masyarakat kita sering diberi istilah dengan “bahtera rumah tangga”. Karena memang barangkali “kapal” ini adalah kiasan yang paling tepat untuk menggambarkan sebuah kondisi rumah tangga, dibanding dengan kendaraan lainnya seperti mobil, motor, pesawat, kereta api, apalagi KRL.

Jalannya tidak pernah mulus seperti aspal, atau tidak juga terus berlubang seperti aspal (lagi). Laut adalah analogi yang paling bijaksana untuk menggambarkan kondisi perjalanan sebuah bahtera rumah tangga, ada tenangnya, ada badainya, ada ombak kecil, ada ombak besar, ada hujan, ada terik. Dan satu hal yan paling bijaksana dari gambaran ini, adalah bahtera itu sendiri. Bahtera menjadi pagar yang membuat orang-orang di dalamnya, mau tidak mau, harus berada di dalamnya. Bekerja sama agar kapal tetap berlayar, tidak tenggelam. Bahu membahu untuk saling berbagi peran. Juga semua yang berada di kapal dituntut untuk saling percaya satu sama lain.

Tidak menyenangkan kan kalau ada satu saja awak yang berkhianat, melubangi kapal, atau ketika badai tidak bertugas menurunkan layar, atau membelokkan kapal ke arah yang keliru. Saya pikir, masyarakat kita benar-benar bijaksana ketika mengkiaskan rumah tangga sebagai bahtera.

Memang tepat kalau dikatakan, ilmu sebelum amal. Untuk menjalani perjalanan jauh, dengan peran-peran yang penting, dan setiap peran memang penting. Perlu ada ilmunya. Penting untuk mempelajarinya, terutama bekal-bekal utama. Meski nanti di tengah perjalanan kita juga bisa sambil belajar, tentu saja ada modal pertama yang harus dimiliki. Minimal ilmu-ilmu dasarnya. Berumah tangga pun demikian, penting untuk memiliki ilmu-ilmu dasarnya.

Kalau kita paham. Kita tidak akan buru-buru menaikan jangkar, melaut. Padahal cuaca masih badai, atau arah angin masih berbalik. Kita akan tahu, kapan waktu terbaik kita untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Untuk itu, jangan buru-buru. Pahami betul tentang kapan waktunya, karena kalau kita tahu ilmunya, kita akan siap kapan pun untuk berlayar seketika kesempatan itu tiba.

Selamat belajar, memperbanyak pengetahuan. Lupakan tentang apa kata orang. Karena bahtera mu nanti itu ada dalam tanggungjawabmu. Mereka tidak akan bertanggungjawab bila nanti bahteramu tenggelam, atau salah haluan.

Pahamkan itu baik-baik :)

Yogyakarta, 3 Mei 2017 | ©kurniawangunadi

Curhat : Kehidupan Pascamenikah (40 Hari Pertama)

*harusnya ini ditulis setelah 40 hari, eh malah ditulis setelah entah hari ke berapa.

Sebelum menikah, guru saya pernah berpesan sesuatu pada saya, yang saya praktekkan di awal pernikahan. 

“Pik, nanti kalau sudah menikah, 40 hari pertama nggak boleh berantem. Nggak boleh marahan sama sekali.

“Sama sekali bu?”

“Sama sekali. Meskipun kamu harus nangis-nangis nahan emosi, tahan. Jangan diluapkan. Jangan sampai kamu berkata-kata yang nggak baik, jangan sampai ribut-ribut. Dieeem aja, tahan. Sampai 40 hari.”

“Emangnya kenapa bu?”

“Nanti kamu akan terbiasa untuk meredam ego dan emosimu. Ibu dulu juga dipeseni hal serupa sama teman ibu yang menikah duluan. Kata beliau 40 hari pertama itu sedikit-sedikit mulai terbuka kelebihan dan kelemahan pasangan, jadi harus banyak sabarnya.”

Akhirnya waktu sebelum menikah saya mengajukan permintaan ini kepada suami. Supaya yang berjuang nggak saya sendiri. HAHA. 

Terus gimana Pik 40 hari pertamamu?

Hari pertama sampai ke tujuh masih mulus, jalan tol, terus makin hari makin tahu gimana ternyata pasangan kita. Ada momen-momen dimana rasanya pas ituuuuuuuuuu kzlll harus nahan-nahan. Apalagi saya sama suami nggak LDR dan suami bekerja di rumah, jadi hampir 24 jam penuh kami saling membersamai. Kadang kalau udah kesel, nangis-nangis sendiri. Sampai nulis-nulis di diary sambil terisak-isak WAHAHAHAHA LEBAY. gak ding, ga terisak-isak juga. 

Namanya juga dua orang asing, beda pola asuh, beda karakter, beda sifat, beda deh pokonya. Jadi harus maklum kalau ada yang nggak pas kadang-kadang. Misalnya nih kejadian di kami seperti ini : Mas adalah tipikal orang yang disiplin dan lebih banyak thinking, sedangkan saya cenderung selow dan lebih banyak feeling. Mas suka bersih-bersih, nggak kotorpun dibersihin. Sayanya bersih-bersih nggak sebegitunya. Mas lebih suka warna-warna seperti abu-abu, hitam, putih, dan merah. Kalau saya warna-warna cerah dan mostly pink. Mas suka terlalu hemat, saya realistis (kalau butuh beli, pengen mendekati butuh ya beli hahahaha). Mas hampir Vegan, dan saya masih betah dengan daging, lemak, dan jeroan. Wk. Dan banyak hal-hal lain yang bertolak belakang. Banyak yang harus saling diterima. 

Tapi alhamdulillah, kami lulus 40 hari nggak berantem dan marah-marahan. Dan memang pembelajarannya kerasa sekarang, semoga sampai kami menua. Saya jadi belajar buat diem dulu kalau kesel, baru kalau udah enakan saya cerita. Kalau Mas lagi emosi, juga belajar buat nggak lama-lama. Dan kami berdua belajar nggak mengungkit-ungkit kesalahan pasangan (ya meski nggak bikin perjanjian untuk ini, tapi tanpa dibilangpun saya belajar dari Mas buat nggak ngungkit kesalahan). Kalau salah yaudah, salah, minta maaf, sebisa mungkin jangan diulangi.

Kalau prinsip Mas : komunikasikan. Semuanya harus dikomunikasikan dan emosi nggak boleh kebawa tidur. Kalau kesel bilang. Nggak boleh sok kuat. Kalau saya beda: sok kuat dulu di awal. Komunikasikan kalau lagi pas nggak marah, biar enak. wkwkwk. Nah lho. Tapi pada intinya, kita harus belajar untuk meredam lalu mengkomunikasikan semuanya dengan baik dan baik-baik. Saya masih belajar sih, huhu. Kadang malah nggak tahu harus gimana bilangnya, terus malah ditulis. Berharap Mas baca. Tapi saya sembunyiin. Dasar perempuan WKWK. 

“Darimana pasanganmu bisa tahu atau berbenah kalau kamu nggak bilang?” kata Mas.

Pasangan kita juga perlu tahu apa yang kita rasakan, agar jika itu menyangkut kekurangan, bisa saling instropeksi. Dan jika menyangkut kelebihan, biar bisa saling berbahagia. Tapi nggak boleh tersulut emosi. Boleh kalau demi kebaikan–marah, tapi jangan marah-marah :)

Terimakasih bu, untuk pelajaran 40-Hari-Pertama-Anti-Berantem-dan-Marah-Marah. Kami belajar banyak. Semoga, bisa menjadi hikmah untuk teman-teman semua. Buat yang sudah menikah, nggak papa 40 harinya nggak pertama, di tengah-tengah juga nggak papa, asal disepakati dan diusahakan berdua. Biar sama-sama berjuang dan kebiasa. Intinya sih, ini cuma pembiasaan dan peredaman ego/emosi.

Semoga curhatan ini bermanfaat!

7

(and yes, Mulu is missing most of her lower body, as well as the other half of her ‘jaw mantle’ and some other tidbits. poor thing was basically snapped in half not long after being found the first time)

DIAM DIAM MENGHANYUTKAN

Kok gak punya IG sih?

Kok jarang update status?

Kok fotonya itu mulu?

Zaman sekarang, sudah menjadi urusan yang mudah sekali bagi kita untuk mengetahui kesibukan serta kehidupan orang lain.

Untuk mengetahui apa yang dilakukan hari ini, liat saja di storynya.

Untuk mengetahui apa yang dilakukan minggu ini, liat saja feednya

Untuk mengetahui apa yang dilakukan bulan ini, liat saja untaian wallnya

Dengan adanya fitur ini, dengan mudah kita bisa memahami apa yang dikerjakan orang lain.

Ada orang-orang yang saya kenal, dia punya sosmed, dia mengurusnya dan mengisinya dengan berbagai karyanya. Hampir setiap karya yang dia buat, dia upload di sosial medianya. Orang seperti ini, menjadikan sosmed sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena dari sosmednya, ia bisa menjalani hidup.

Ada orang-orang yang saya kenal, dia punya sosmed, dia mengurusnya, bahkan merapihkan feednya. Foto-fotonya berkelas, caption-captionnya super bijak, jikalau kamu tidak mengenalnya, sudah pasti kamu akan menganggap bahwa kehidupannya sempurna. Orang seperti ini, menjadikan sosmed sebagai alat untuk menunjukan gaya hidupnya. Walau sebagian dari mereka yang saya kenal, sebetulnya hanya membuat-buat “seolah” ia punya kehidupan tersebut, padahal dia hanya pandai dalam membuat-buat kondisi yang dia tidak miliki.

Ada lagi tipe orang yang menurut saya juga cukup menyita perhatian, yakni orang-orang yang membiarkan sosmednya atau bahkan tidak memiliki sosmed sama sekali. Kadang kala, fotonya itu tidak berganti dari zaman dia bikin akun sampai bertahun-tahun lamanya. Postingannya tidak segar, ceritanya basi, bahkan kadang tanpa cerita apapun. Mungkin, dia memiliki akun tersebut, hanya sekedar untuk memenuhi syarat agar dianggap sebagai masyarakat kekinian.

Tapi yang keren dari tipe orang terakhir, yakni dibalik sepinya sosmed beliau, ketika akhirnya saya mengobrol secara langsung, ternyata banyak sekali pencapaian yang ia dapatkan yang tidak pernah orang lain tahu. Mulai dari menjadi juara kompetisi, membuat sebuah gerakan, membantu masyarakat, dan lain sebagainya. Melihat sosmednya tentu membuat anda malas untuk melihatnya, tapi mendengarkan kisah serta pencapaiannya, membuat anda enggan untuk beranjak walau untuk ke wc sekalipun, saking serunya.

Ya, di zaman sekarang, terkadang ada orang-orang yang menggembar-gemborkan sesuatu secara berlebihan di sosial medianya, ada juga orang yang tidak pernah terdengar sama sekali tentang kabarnya, tapi ada kesamaan dalam keduanya, kehidupan nyatanya tidak sesuai dengan kehidupan mayanya.

Dan saya pribadi, kadang merasa kagum dengan mereka yang selalu diam-diam, namun ternyata karya-karya mereka sudah jauh menerjang kami-kami yang disibukkan dengan “bagaimana kami harus terlihat di sosmed?”.

Yah, itulah zaman sekarang. Semoga kami tidak termasuk yang menggembar-gemborkan secara berlebihan. Walaupun diri ini memang sudah sulit untuk menjadi orang yang “diam-diam”, semoga kami menjadi orang yang “koar-koar menghanyutkan”, ribut iya, bermanfaat iya. Semoga yah, semoga.


DIAM-DIAM MENGHANYUTKAN
Bandung, 15 Mei 2017

Generasi Muzzammil dan Sonia

Di timeline bersliweran foto-foto Muzzamil dan Sonia yang (katanya) bikin baper para gadis dan mamak-mamak. Bagian mana yang paling bikin baper mak?
Waktu Muzzammil megang kening Sonia seraya mendoakannya?
Waktu Muzzammil ngelap keringat Sonia saat di pelaminan?
Atau waktu Muzzammil (nyoba) nggendong Sonia?

Apa? Semuanya bikin baper? *Puk-puk*
Sebagai sesama wanita, saya pahamlah perasaan patah hati itu. Akhwat jomblo mana yang ga pengen dapet imam masjid bersuara merdu dan berprestasi pula. Jauh lebih berasa patah hatinya ketimbang ketika mas Siapa itu namanya dan mbak Endless love mengumumkan resepsi pernikahannya. Dan sebagai emak-emak, saya juga bisa ikut menjiwai patah hatinya para emak yang kehilangan calon mantu.

Baca undangan Muzzammil dan Sonia aja bikin merinding. Undangannya sholat subuh berjamaah, dilanjutkan dengan akad nikah. Untuk bisa bikin kita baper sebaper-bapernya seperti ini, Muzzammil engga kaya tahu bulat yang digoreng dadakan, jadi imam masjid Salman ITB yang memikat hati semua orang. Ada proses panjang sebelum itu. Ayah Muzzammil adalah seorang kepala sekolah, ibunya seorang guru MAN. Dua-duanya pendidik, bahkan ibunya adalah seorang pendidik ilmu agama. Muzzammil belajar ngaji dari umur 4 tahun. TK udah tamat iqro’. Masuk SD (Muzzammil masuk MIN) udah bisa baca quran. SD, SMP, SMA selalu ranking satu bahkan juara umum. Jadi ga heran klo bisa masuk ITB (alumni ITB mana suaranya, kenalkan saya alumni UNS.xixixi). Jadi imam masjid Salman ITB dari semester satu. Masyaalloh….

Coba lihat anak kita mak. Kita pengen punya mantu kaya Muzzammil. Atau kita pengen anak kita bisa mengikuti jejak Muzzammil. Lihat prosesnya mak. TK udah tamat iqro’. Anak saya mau masuk SD iqro’ aja belum tamat. Klo lagi ngajarin iqro’ emaknya ga sabaran. Pengennya diajarin sekali si anak langsung bisa baca quran lancar jaya.

Jadi imam masjid itu berarti hafalannya banyak mak. Ngga cukup juz 30 yang juga ngga lengkap-lengkap itu. Kita ngajarin anak buat hafalan sehari eh seminggu berapa kali? Atau biar belajar di sekolah aja lah. Emak udah capek dengan tugas domestik.

Jangankan ngajarin anak, tilawah sendiri aja belepotan. Niat tilawah, kepikiran piring kotor. Nyuci dulu. Anak numpahin susu. Ngepel dulu. Anak minta makan.nyuapin dulu. Udah sore, waktunya mandi. Mandiin anak. Nemenin belajar sambil kutak-katik hp, ngobrol seru di grup. Anak tidur, suami pulang. Nemenin suami. Tidur. Bangun udah pagi. Tilawah? Eh iya, belum jadi tilawah ya. Ibu Muzzammil udah pasti ngga kaya gitu mak.

Dan Sonia, siapa dia? Sonia adalah salah satu admin ODOLA (one day one line akhwat). Sehari ngapalin ayat quran satu baris mak. Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Alloh milihin Sonia buat Muzzammil karena mereka sekufu. Satu level gitu.

Kita pengen punya mantu kaya Muzzammil, maka anak kita juga harus kaya Sonia yang sekufu dengan Muzzammil. Untuk bisa punya anak seperti Muzzammil dan Sonia, kita harus kerja keras mak, ga cukup dengan mimpi dan harapan.

Lawan kantuk demi nyimak bacaan quran anak-anak. Lawan capek demi nyimak murojaah anak-anak. Klo kita juz 30 aja ilang-ilangan, maka anak kita harus bisa hafal 30 juz. Aamiin.
Berat mak. Siapa bilang enteng? Kalo enteng, akan banyak bertebaran Muzzammil-muzzammil di dunia ini dan kita ga bakalan baper hanya karena Muzzammil menemukan tulang rusuknya. Memang berat mencetak generasi Muzzammil dan Sonia. Tapi Alloh udah naruh surga di telapak kaki kita mak. Ga mungkin kan Alloh naruh surga yang diimpikan semua orang begitu aja di kaki kita. Ada harga yang harus dibayar.

Minta mak, minta sama Alloh agar kita dimampukan mencetak generasi Muzzammil dan Sonia.

Jangan lelah mak, jangan lelah mengenalkan quran ke anak-anak kita. Meskipun jalannya tak mulus, meskipun di bangku SD anak kita masih berkutat di iqro’ jilid 2, jangan lelah, Alloh melihat semua usaha kita. Jangan lelah…

*Menasihati diri sendiri di akhir liburan

Mengintip Masa Lalu.

“Apa kabarnya sekarang ya?” adalah bisikan syaiton paling menggoda.
Akhirnya, di Minggu pagi yang cerah ini iseng ngetik nama yang udah lama banget ga muncul di pikiran. Sampai lupa ID Line nya apa bahkan.

Dan yang tersebut setelah melihat foto profilenya adalah… “Alhamdulillah.”

Karena fotonya…sudah berdua, pakai jas profesi yang sama.

Ah. Baiklah.

*nyerutup kopi*

Pasti ada satu orang di masa lalu, yang akan selalu berakhir dengan tanda tanya di hidup kita. Seseorang yang sempat kita “simpan” untuk nanti di masa depan, ketika kita rasa sudah waktunya. Tapi ternyata masa depan yang tak terasa sudah menjadi “saat ini”, tidak seperti apa yang kita bayangkan.

Sebut saja namanya Joni.
Joni adalah bagian dari perjuangan tahun akhir perkuliahan. Menjadi teman adalah satu-satunya pilihan, karena pacaran bukan hal yang dapat memastikan kita akan menjadi lebih baik di masa depan.
Sebagai senior yang menawarkan diri membantu juniornya untuk melewati masa-masa menyenangkan yang kita sebut skripsi, ternyata menjadi jalan bertukar cerita yang lain.

Oh, dan kamu, yang merasa lelaki itu “seksi” ketika punya badan bagus dan wajah mulus tanpa pori-pori, kamu harus lihat bagaimana mata seseorang yang menggebu-gebu menceritakan cita-citanya, rencananya menyusun masa depan.
Tahu kan, ketika orang dihadapan kita bercerita tentang sesuatu dengan semangat, terus kita jadi ikutan semangat, dan berharap ikut terlibat di dalamnya. Eh, kok ngelunjak. Wkwk

Joni menceritakan rencana rapinya tentang masa depan. Kenapa dia melalukan ini sekarang, apa yang akan dia lakukan di masa mendatang, dan banyak lagi.
Hana was being Hana at that time, mendengarkan dengan seksama tanpa sadar sambil tersenyum lebar, dalam hati merasa…minder.

Singkat cerita, Joni harus keluar kota, melanjutkan bagian dari studinya. Jarak sangat membantu untuk mengalihkan pikiran dan perasaan. Ya kan?

Joni selalu menjadi teman lama yang namanya hadir sekali setahun di layar handphone, saat lebaran. Selebihnya, teman yang selalu dalam pantauan, yang lama kelamaan menghilang.

Tapi Jogja selalu menjadi tempat pulang untuk siapapun.
Joni kembali dua tahun yang lalu, “Aku bakal di Jogja loh, mulai tahun ini sampai lima tahun mendatang.”
Dan Jogja tidak sesempit yang kalian kira, Tuhan tidak menuliskan skenario “kebetulan” sehingga aku dan Joni berpapasan di jalan. Dan Tuhan tidak menggerakkan hati hambaNya untuk saling bertukar sapa di dunia maya kemudian mengatur rencana untuk ketemuan.

Joni adalah bagian manis dari tahun terakhir perkuliahan.
Joni adalah sepotong kisah romantis, yang datang dan pergi tanpa permisi.
Kisah yang kita bingung mulainya dari mana, dan lupa berakhirnya seperti apa.

Joni hadir seperti kopi hangat yang wanginya menggoda sampai kita merasa tidak perlu tahu rasanya.
Joni pergi seperti segelas bekas kopi tubruk, sebagian hilang, sebagian tertinggal.

The Way I Lose Her: Falling In Love With People We Can’t Have

Terkadang hidup begitu tidak adil. Orang yang kita cintai dan orang yang mencintai kita biasanya adalah orang yang berbeda. Hingga pada akhirnya, kebanyakan dari kita selalu jatuh cinta karena terpaksa.

                                                       ===

.

Akan ada suatu keadaan di mana tanpa perlu ada pembicaraan atau penjelasan pun kau sudah tahu bahwa ini semua sudah berakhir. Dari bagaimana caranya memperlakukanmu, dari bagaimana cara matanya tidak menatapmu. Dekat tapi tidak mendekap. Saling melihat di depan mata tapi terasa tidak berjumpa. Yang dulu dekat sekali, sekarang rasa-rasanya menjadi begitu asing.

Gue sebenernya males banget untuk ikut acara ulang tahun Nurhadi di kelas nanti, tapi apa daya. Masalah gue ini ya masalah antara Ipeh dan gue, nggak baik melibatkan orang lain hanya karena masalah pribadi. Jadi, dengan berat hati gue menurut saja waktu teman-teman ngajak pergi ke dalam kelas.

Gue sengaja memilih jalan paling belakang, dari sini gue bisa melihat tubuh yang sudah tidak melihat gue lagi. Menyedihkan, dia yang pergi, gue yang disakiti, dia yang seharusnya gue benci, tapi kemana pun keadaan menempatkan kami berdua, mata gue tetap terus mencarinya.

Nyet.” Ikhsan tiba-tiba berhenti dan menengok ke belakang.

“Paan?”

Kemudian Ikhsan mendekat, menarik seragam gue agar suaranya tidak terlalu terdengar sama teman-teman yang lain.

“Lo bawa hadiah?” Tanyanya tiba-tiba.

“Hah?” Alis gue naik satu.

“Hadiah begok. Malah hah hoh hah hoh lu kaya orang lagi naik haji terus salah muterin ka’bah.

“…”

“Yang lain pada bawa hadiah tuh buat Nurhadi.”

“Aduh mana kepikiran gue. Tau si Nurhadi bisa ulang tahun aja baru kemarin.”

“Anjir tega amat lo. Jelek-jelek-bau gitu juga temen kita.”

“Gue jadi ngebayangin gimana dulu emaknya ngelahirin dia. Kayaknya seluruh dosa emaknya selama hidup langsung dihapus sama Tuhan deh saat itu juga.”

“Kok bisa?” Ikhsan memasang wajah penasaran.

“Udah disiksa ngeluarin anak segede nangka gendong gitu pasti udah termasuk ujian dunia akherat. Makanya langsung suci lagi tuh emaknya Nurhadi.”

“Emaknya sih suci, tapi anaknya baru lahir langsung penuh dosa. Tuhan waktu bikin Nurhadi lagi ngelamun. Salah nyampurin warna kulit sama tinta spidol.”

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA..”

Gue dan Ikhsan ketawa keras bareng-bareng udah kaya paduan suara, sontak anak-anak di depan langsung pada nengok semua termasuk Ipeh juga. Gue langsung menyenggol tangan Ikhsan agar berhenti tertawa, tapi kami berdua nggak bisa. Rasanya nikmat banget kalau lagi galau gini terus ngetawain temen sendiri. Ya Robb maafkan kami.

“Yaudah deh lo, pikirin sekarang buat cari kado.” Celetuk Ikhsan lagi.

“Buset mendadak amat.”

“Mau gimana lagi.” Ikhsan mengangkat pundak.

“Emang lo dah dapet ide mau ngasih kado apa?”

“Sudah dong~”

“Anjir gue curiga, pasti nggak akan bener.”

“Yeeee curigaan mulu lo sama temen. Lo sendiri gimana?”

“Belom, ntar aja sambil jalan deh. Kalau nggak ada juga yaudah gue ambil aja tanaman obat di kebun sekolah.”

“Anjing temen lagi ulang tahun malah dikasih temulawak. Hahahahah goblok lo!”

“Hahahahaha..”

Selama perjalanan menuju kelas yang ada malah kami berdua di belakang sama-sama ngomong makin ngelantur. Dari yang awalnya mau ngomongin kado buat Nurhadi, malah berakhir jadi ngomongin apakah Robocop pernah sholat selama hidupnya atau tidak. Benar-benar diskusi yang Syariah. Calon Khilafah.

Sebelum memasuki lorong kelas, kami semua berkumpul sebentar. Dila kembali membahas rencana apa saja yang akan dijalankan hari ini sekaligus menyalakan lilin-lilin ulang tahun. Tapi emang dasarnya anak-anak kelas itu pada brengsek semua, lilin yang dipakai di atas kue pun bukan lilin ulang tahun. Melainkan lilin putih gede yang dipakai orang kalau tiap mati lampu. Pas orang-orang nanya sama gue kenapa lilinnya pake lilin itu, dengan polosnya gue menjawab,

“Lilin ulang tahun harus identik sama badan orang yang bersangkutan.”

Setelah mendapatkan kode dari salah satu teman di dalam kelas, akhirnya kami semua berjalan perlahan menuju pintu kelas. Sebelum tiba-tiba pintu ditendang keras oleh Bobby disertai nyanyian ulang tahun dengan nada Asma Ul-Husna serentak dari anak-anak kelas.

Nurhadi yang tadi masih asik ngerjain tugas (itu pun nyontek punya Tasya) langsung kaget melihat teman-temannya yang tadi menghilang kini malah datang beramai-ramai membawa kue disertai lilin gede satu biji doang di tengahnya itu. Nurhadi terkejut, ada haru terlihat di rona wajahnya, tapi ketika ia mau nangis sontak ditahan sama teman sebangkunya.

“Di jangan nangis Di. Serem ah. Gue takut puasa tahun ini malah jadi mundur 10 hari kalau lo nangis.”

Ya begitulah temen-temen gue di kelas. Temannya lagi bahagia dan mau nangis terharu aja masih dihina dulu. Nurhadi memang cocok jadi maskot kelas kita.

Teman-teman satu kelas langsung berkumpul mengelilingi Nurhadi yang badannya tetap paling gede sendiri. Abnormal banget.

“Ayo, Di!! Tiup lilinnya!” Terika Dila.

“Tiup, jangan sedot.” Celetuk Ikhsan diselingi tawa gue.

“Acieeee ulang tahun ke 2 bulan!” Bobby menanggapi.

“WOI LU KIRA GUE JANIN APA?!” Nurhadi tidak terima.

“Tiup tiup tiup tiup~” Teman-teman yang lain menyorakki.

“Buka buka buka buka buka..” Gue dan Ikhsan beda sendiri.

“Woi ini serius dong. Masa lilinnya pake lilin babi ngepet gini? Kagak ada lilin yang lebih normal apa sih?” Lagi-lagi Nurhadi protes. Udah untung ulang tahunnya dirayain, sekarang malah banyak maunya. Dikasih hati minta jantung, dikasih temulawak malah minta buyung upik.

Pasti ide si Galing ye? Dimas!” Nurhadi nabok pundak gue sampe tulangnya geser.

“Yaudah, elo mau lilin ultah yang normal?” Tanya gue.

“Yaiyalah!”

“Yowes..” Gue mencabut lilin putih itu, lalu menggantinya dengan lilin berbentuk angka. Lalu menaruhnya tepat di tengah kue tart tersebut.

“…”

“Lah dia malah diem. Udah gue ganti tuh lilinnya.” Tukas gue.

“YA ANJING GANTI LILIN SIH GANTI LILIN, TAPI NGGAK JADI 72 JUGA ANJING ANGKANYA. EMANG MUKA GUE SETUA ITU APA?!”

“HAHAHAHAHAHAHAHA LAHIR DIBETOT PAKE PINSET AJA BANYAK PROTES LU GORILA.”

Teman-teman kelas langsung pada ketawa semua. Akhirnya daripada meniup lilin dengan angka 72 itu, Nurhadi lebih memilih meniup lilin satu biji doang yang besar warna putih itu. Dia takut umurnya cuma sampe 72, makanya dia nggak mau niup lilin angka itu. Padahal kura-kura juga tau, Nurhadi ini nggak akan mati dalam waktu dekat, umurnya kaya keris Mpu Gandring; Awet. Toh dia aja lahir dari semenjak gunung Krakatau meledak dulu sampai sekarang.

Untuk berhasil meniup lilin saja kayaknya sudah menghabiskan banyak waktu banget, Nurhadi memejamkan mata sebelum meniup lilin, berdoa dan berharap agar doanya suatu saat dikabulkan. Padahal gue tau malaikat ngedeketin dia aja nggak mau. Baunya mirip bau kerikil sungai.

Setelah lilin berhasil padam, Nurhadi mulai memotong kuenya. Kue pertama dia berikan kepada Putri, salah satu wanita yang tampaknya sedang ditaksir berat oleh Nurhadi di kelas. Anak-anak yang lain langsung bersorak sorai, sedangkan Putri langsung Istigfar.

Berikhtiar atas ujian yang Tuhan berikan ini.

Kemudian potongan selanjutnya diberikan untuk Dila, primadona sekolah sekaligus ketua acara dalam event mubadzir ini. Gimana nggak mubadzir? Ulang tahun Kingkong kok dirayain. Ipeh selanjutnya yang mendapat kue sebagai balas jasa atas pertolongannya setiap ada ulangan termasuk ulangan fisika, tak lupa juga Tasya. Sedangkan gue dan Ikhsan? Dapet lilin yang dipotong dua.

Keparat!

“Nih buat lu berdua. Makan dah tuh lilin. Biar putih sekalian gigi lu pada.” Katanya ketus.

Bangsat emang Nurhadi ini, pinter banget kalau soal urusan balas dendam. Tapi nggak papa deh, toh gue juga nggak terlalu suka kue, gue paling nggak suka makan makanan manis. Beda dengan Ikhsan yang omnivora alias apa aja masuk. Termasuk batu kecubung.

Acara kembali dilanjut dengan pemberian kado. Seperti yang sudah gue tebak sebelumnya, semua orang mempunyai kado yang bermakna untuk Nurhadi. Namun tidak dengan gue dan Ikhsan. Ketika semua sudah memberikan kado, kini giliran Ikhsan maju ke hadapan Nurhadi. Dengan polosnya Ikhsan langsung mengeluarkan sepotong tanaman yang dia colong langsung dari kebon sekolahan. Sebuah tanaman entah apa itu, masih ada akar, daun, dan juga batangnya. Terlihat masih segar.

“Ya Allah Ikhsan lo kira gue kambing apa apaan sih?!” Nurhadi mulai terlihat bete. Sedangkan Ikhsan cengengesan dibarengi tawa teman yang lain.

“Yeee suduzon lu jadi orang. Ini tanaman suatu saat bakal berbunga. Jadi anggap aja gue ngasih bunga. Romantis kan?”

“Romantis gigi lu salto.”

Sambil masih ketawa, Ikhsan mundur kebelakang dan mempersilakan gue untuk maju memberikan kado. Kali ini gue sama Ikhsan kompak begoknya. Ketika tadi dia bawa tanaman hasil nyolong, gue juga bawa hal yang sama, tapi yang ini jenisnya berbeda.

Gue keluarkan sebuah gelas Aqua yang di dalamnya terdapat kapas basah + calon benih toge yang udah pada muncul tunasnya. Sontak melihat hal itu semua teman-teman gue pada ketawa ngakak.

“Anjir Dimas! Lo ngasih gue bahan praktek pelajaran PLH?! Itu tugas praktek siapa yang elo colong dah?” Kata Nurhadi sambil berusaha menerima kado gue itu dengan Ikhlas.

“Hahahah gue ambil dari kelas sebelah.” Balas gue polos.

“Parah! Nanti kalau jadi masalah gimana anjir?”

“Yaudah, toh udah jadi hak milik elo ini. Jadi kalau ada masalah ya masalah sama elo. Gue rasa anak kelas sebelah juga bakal lebih milih nanem lagi itu toge dari awal ketimbang cari masalah sama elo, Di.”

“Bener juga.” Kata Nurhadi tanpa pikir panjang.

Acara itu kami tutup dengan banyak tawa. Semua orang di dalam kelas tertawa riang seakan tidak ada sedikitpun masalah di dalamnya. Di balik tawa teman-teman ini, sebenarnya gue menyadari ada banyak rasa perih yang mereka tahan masing-masing di dalam hati. Termasuk gue sendiri. Namun, pagi cerah yang menyenangkan seperti ini rasanya terlalu rugi untuk dilewatkan dengan cara menangisi sesuatu yang telah pergi.

Sambil masih suasana merayakan Ulang Tahun, Ipeh yang juga mempunyai turut andil dalam ramainya acara ini langsung mengajak Nurhadi dan teman-teman yang lain untuk main ular tangga di belakang kelas. Nurhadi, Ikhsan, Dila, Mai, dan banyak teman-teman yang lain langsung kompakan pada ikut di sana. Sedangkan gue? Gue lebih memilih duduk di kursi depan sambil menikmati pelan-pelan kue yang sebenarnya nggak begitu gue suka ini.

Bukannya nggak mau ikut rame-rame, tapi di sana ada Ipeh. Gue juga harus tahu diri, jika kehadiran gue hanya akan menyebabkan suasana awkward bersama Ipeh yang kemudian bisa menyebabkan suasana teman-teman yang lain juga jadi ikutan tidak enak, lebih baik gue tidak usah gabung di sana.

Gue merasa hari ini sudah cukup. Bahagia bersama teman-teman kelas hari ini sudah cukup untuk membayar rasa haus gue untuk tertawa bersama mereka. Sudah saatnya gue kembali ke OSIS, pergi meninggalkan kelas ini, meninggalkan orang-orang di dalamnya.

“Dim..”

Tiba-tiba ada yang menghampiri gue yang kala itu tengah duduk di atas meja sambil nyemilin kue yang tinggal seperempat ini sambil menatap ke arah pintu kelas.

“Napa, Bob?” Tanya gue.

Bobby kemudian menepuk pundak gue sekali dan duduk di kursi dekat situ.

“Nggak gabung sama yang lain?” Tanyanya.

Gue geleng-geleng, “Kagak ah.”

“Kenapa?”

“Dih kepo amat dah.”

“Ipeh yak? Hehehe.” Bobby cengengesan sambil nyolokin garpunya ke sisa kue punya gue dan langsung memakannya bulat-bulat tanpa sisa.

“…”

“Masih berantem lu? Belum beres?”

“…”

“Gak usah heran gitu. Cerita lu hujan-hujanan itu udah nyebar di antara anak-anak kelas.”

“Hah?!” Gue kaget.

“Nggak ke semua sih. Cuma ke anak-anak band kita aja.”

“Lah band kita kan Cuma 3 biji. Elu Ikhsan sama gue?”

“Nah iya.”

“YA ITU BERARTI NGGAK NYEBAR NAMANYA, GENDUT!!! ITU SIH ARTINYA CUMA ELO DOANG YANG TAU SELAIN SI IKHSAN!!”

“Hahahahah ya maap~”

“Gabung sono. Suasananya lagi enak tuh.”

“Enak? Lu nggak liat suasana gue sama Ipeh pas di kantin?”

“Gue sadar kok.”

“Nah itu elu tau.”

“Iya gue sadar kok. Tapi elo-lah di sini yang sebenarnya nggak sadar.” Bobby menaruh garpunya di atas tatakan piring kertas kepunyaan gue.

Gue langsung nengok secepat kilat ke arah si beruang air.

“Hah? Gue?”

“Hahaha seperti yang sudah gue tebak. As usual ah elo mah.”

“Emang apa yang nggak gue sadarin?”

Bobby ngeliatin gue sebelum kemudian dia pergi, ngambil potongan kue yang lain dan kembali duduk di tempat yang sama.

“Doi merhatiin elo terus tuh dari tadi. Nyadar nggak?”

“Apaan?! Gue merhatiin dia terus dari semenjak datang di kantin dan dia nggak pernah sedikitpun ngeliat gue ah!”

“Masa?”

“Iya!”

“Yakin?”

“…”

“Tuh kan. Ya terserah elo mau percaya atau enggak. Sana gih gabung sama mereka, siapa tau suasana hati elo jadi enakan lagi. Atau bahkan suasana kalian berdua jadi kaya dulu lagi.”

Gue menaruh piring kertas tempat kue itu ke atas meja, lalu turun dan berjalan ke arah meja guru.

“Nggak deh, Bob. Gue udah nyoba pilihan itu lebih dari dua kali dari dulu, tapi hasilnya lo tahu sendiri gimana kan? Jadi, mending kalau harus selesai ya selesai aja. Lagian, cuma tinggal beberapa bulan lagi sebelum kita semua naik kelas terus pisah. Jadi, gue rasa ini sudah baik kok. For me and her.” Gue berlalu pergi begitu saja meninggalkan Bobby.

.

                                                      ===

.

Sesampainya di meja guru, yang gue lakukan di sana hanyalah melihat ke arah segala kertas perizinan maupun kertas hasil nilai ulangan yang berserakan di atas meja guru. Menjelang Bazzar begini emang biasanya semua guru jarang banget ada yang masuk kelas jadi sudah dapat dipastikan berantakan banget ini meja guru. Gue ambil beberapa kertas nilai yang berserakan di sana dan memembaca isinya, hanya untuk membunuh waktu menunggu temen gue selesai main ular tangga lalu nemenin gue balik lagi ke ke gerbang depan buat jualan tiket Bazzar.

Walaupun sebenarnya gue pengin banget gabung sama anak-anak yang lagi pada ketawa-ketawa di ujung belakang kelas, tapi setidaknya gue juga harus tahu diri. Gue menghela napas panjang, tempat yang dulu sangat akrab buat gue ini entah bagaimana ceritanya hanya karena menjaga perasaan satu orang membuat gue merasa menjadi turis di negara sendiri. Alias asing sekali. Sambil masih membuka-buka tumpukan kertas, tak sengaja mata gue menatap ke arah dua meja di depan meja guru.

Yang mana gue tau bahwa itu adalah meja tempat di mana Ipeh biasanya duduk.

Gue taruh kertas yang sedang gue pegang itu lalu berjalan perlahan ke sebelah meja Ipeh. Mejanya seperti biasa, rapih banget. Di sana ada tas kucel Ipeh yang sudah jadi ciri khasnya, dengan berbagai macam buku cetak ada di laci bawah meja. Di atas meja ada satu botol minum disertai tempat pensil yang isinya banyak bener.

Kalau gue nggak salah inget, tempat ini adalah tempat di mana gue ketemu Ipeh untuk yang pertama kalinya. Dulu gue takut banget sama Ipeh, selain karena tomboy, dia juga anak karate tingkat akut. Ototnya ada di mana-mana. Rasanya cukup kaget juga kalau pertemuan tidak sengaja yang terjadi ketika ulangan matematika dulu itu akan membawa gue ke keadaan yang benar-benar besar di hidup gue sekarang ini.

Gue perlahan membuka tempat pinsil yang ada di atas mejanya, lalu mengeluarkan sebuah mainan robot-robotan yang biasanya ditaruh Ipeh di atas pinsil. Gue nggak tahu apa gunanya ini mainan, ah tapi Ipeh orangnya emang gitu, kalau ada barang unik pasti dibawa-bawa walau nggak penting juga.

Kalau gue tidak lupa, dulu sambil memainkan robot-robotan ini kami berdua berbicara tentang beberapa hal menyenangkan, tentang sebuah janji juga. Tentang sebuah teori kacangan yang dengan seenak dengkulnya gue ucapkan begitu saja. Teori Filosofi Donat. Tentang sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak salah. Kesalahan yang mengarahkan kita pada sesuatu yang besar dan benar. Tapi tanpa disangka, seluruh kejadian itu malah membawa gue ke lubang besar seperti ini. Ke sebuah keterpurukan yang menyedihkan ini.

Tanpa gue sadari, gue yang masih memainkan robot-robotan mini di atas meja itu dikagetkan oleh sosok yang ternyata selama ini sudah berdiri cukup lama dan memperhatikan gue dari arah meja guru. Begitu melihat ada sosok Ipeh yang memperhatikan gue dari tadi, gue langsung dengan buru-buru memasukkan robot-robotan itu ke dalam tempat pensilnya lagi. Tapi bukannya cepat, yang ada justru isi tempat pensil itu jadi buyar semua kaya janin waktu pecah ketuban.

Sontak gue rusuh dong. Suasana yang tadinya hening malah jadi ribut banget gara-gara gue rusuh masukin semua isi tempat pensil yang pada keluar itu. Ipeh yang melihat hal itu langsung mendekat.

“Udah.”

Ipeh menggenggam lengan gue yang masih rusuh masuk-masukin pulpen dan pensil ke dalam tempatnya.

Karena tidak sempat menyadari Ipeh yang berjalan ke arah gue itu, sontak gue jadi kaget lalu menengok ke arahnya. Namun Ipeh tidak melihat ke arah gue. Dia langsung melepaskan genggamannya tadi dan membereskan pulpen beserta pensil yang berserakan di atas meja tanpa sedikitpun berbicara lagi.

“Maaf.” Kata gue pelan sambil mundur perlahan.

Gue ambil salah satu pulpen yang jatuh di lantai lalu menaruhnya di atas meja sebelum kemudian gue berjalan pergi meninggalkan Ipeh pelan-pelan.

“Dim..” Tiba-tiba Ipeh memanggil gue.

Langkah kaki gue terhenti. Gue langsung menengok ke belakang.

“8 Permen Milkita sama dengan segelas susu loh..”

Ah engga, seinget gue Ipeh nggak ngomong gitu.

“Bisa ke sini sebentar?” Pintanya.

Gue terdiam cukup lama di depan permintaannya tersebut. Lalu tanpa sadar langkah kaki gue berjalan ke arahnya. Meskipun gue ingin sekali menolak permintaan itu, entah bagaimana ceritanya kaki gue rasa-rasanya jadi berjalan sendiri memenuhi permintaan Ipeh.

Cinta memang bodoh. Sudah disakiti berkali-kali pun, kehadirannya tetap mampu membuat hati menjadi pemaaf yang paling diri sendiri benci.

.

                                                ===

.

BLETAK!!

“Woi!! Ngelamun aja lu. Kesurupan nanti. Hahaha..”  

Ada sebuah Teh Kotak melayang menghajar kepala gue dari belakang.

“Nih, buat elu. Kapan lagi gue traktir kaya gini. Jangan lupa bilang terima kasih.” Tukasnya lagi sambil menaruh Teh Kotak itu di depan gue.

Gue yang daritadi masih ngelamun ini cuma ngeliatin dia doang lalu kembali melihat ke arah depan. Ikhsan kemudian duduk di sebelah gue sambil menikmati Teh Kotak miliknya sendiri. Sedangkan gue masih diam saja sambil sesekali menghela napas panjang.

“Woi, mana ucapan Terima Kasihnya?!”

Gue melirik sinis, “Gumawooo bebeb.”

“Nah gitu dong.” Kata Ikhsan cengengesan yang kemudian mengeluarkan sepotong kue yang entah dia dapet dari mana.

“Lah kue dapet dari mana lu?”

“Ini?” Ikhsan nunjuk ke potongan kuenya, gue angguk-angguk. “Gue dapet dari kelas kok. Kue ultah si Gorila. Nyisa cukup banyak. Mau lo?”

Gue geleng-geleng, “Nggak ah. Kagak suka manis gue.”

“Yowes~”

“Btw lo kok bahagia banget sih keliatannya?”

“Elo sendiri? Kok kucel banget keliatannya? Ada kejadian apaan di kelas?”

“Ah males cerita ah gue.”

“Yeee yaudah gue juga nggak mau cerita.” Balasnya sambil noyor-noyor kepala gue pake garpu plastik yang udah penuh sama cream kue.

Keadaan menjadi hening cukup lama. Suasana siang yang sudah hampir memasuki waktu Dzuhur itu membuat meja Stand Tiket jadi agak sedikit panas. Tapi walaupun begitu, keadaan sekolah yang dikelilingi oleh pohon besar membuat udaranya tetap terasa sejuk.

“Eh Dim Dim Dim.. Tau nggak..”

“Katanya nggak mau cerita!”

“Hahahaha biarin dong. Gue mau cerita nih. Boleh yak boleh yak?”

“Apaan emang?”

“Tapi sebelum itu gue mau nanya dong sama mas Dimas selaku suhu tentang perwanitaan di kelas kita.”

“Paan sih lo? Mau nanya apaan?” Gue melirik curiga.

Ikhsan lalu menggeser kursinya agar duduk lebih dekat, ia melihat ke arah kiri kanan sebentar memastikan tidak ada orang lain di sekitar situ, lalu ia menarik kuping gue agar lebih mendekat.

“Ajarin gue ciuman dong, Dim..”

Sontak gue langsung loncat dari tempat duduk gue dan pergi menjauh sambil memegangi mulut gue karena ketakutan. Sedangkan Ikhsan langsung sambil memasang wajah bête.

“Anjing kenapa lo pake acara kaget gitu sih, Setan?”

“APAAN SIH LO?! UDAH NGGAK NORMAL YA?!” Gue makin menjauh.

“Yee kuya mau kemana lo?! Sini anjir! Dengerin gue dulu. Jangan main ambil kesimpulan aja kampret!”

Gue geleng-geleng.

“Sini anjir! Tolong ajarin gue! Sahabat macam apaan lo nggak mau bantu temennya kaya gini?!”

“Lah ngapain juga yang begituan pake diajarin segala sih, Anjir?! Latihan sendiri aja sana lo sama duren!” Gue kemudian kembali duduk di kursi yang tadi setelah merasa Ikhsan mulai normal lagi.

“Makanya dengerin dulu penjelasan gue.” Ikhsan menyuruh gue mendekat tapi gue tetap mencoba menjaga jarak.

“Gini, Nyet. Cerita ini diawali ketika gue di kelas lagi mainan Ular Tangga..”

“Langsung intinya aja anjir!”

“Ya Robb, basa basi dulu ngapa sih?! Orang lagi lahiran aja pake pembukaan dulu!”

“…”

“Tapi yaudah deh, intinya gini, ajarin gue cara ciuman yang baik dan benar dong.”

“Ini tuh elu nanya serius?”

“YA MASA GUE BOHONG SIH?!”

“Elo belum pernah ciuman emang?”

“Pernah sih. Sama emak paling dulu waktu bocah.”

“…”

“Belom kalau sama cewek tulen.”

“Astagfirullah, ciuman itu harom, bukan muhrim.”

“Alah Dim ngomong lu sok Ustad. Terus kemarin waktu lo ciuman sama si Hana di UKS juga elo nikmatin kan? Dua kali malah ciumannya.” Sindir Ikhsan.

“Bangsat! Jangan diungkit-ungkit lagi sih!”

“Yaudah, gue juga pengen dong ngerasain kaya lo gitu. Gue pengen masa SMA gue jadi berharga sekali-kali.” Ikhsan memelas.

“Ya terus apa yang harus dipelajari sih?”

“Ajarin gue tata cara dan tekhnik ciuman. Gue takut salah. Kan serem juga kalau misal gue lagi ciuman terus bibirnya kegigit. Atau bulu hidung gue nyangkut di behel-nya.”

“Bah, serem juga kalau gitu.”

“Nah. Maka dari itu. Ajarin gue, Suhu!”

“Terus kalau udah diajarinnya elu mau latihan sama siapa?”

“Ngg.. Sama bantal aja deh gapapa.”

“HAHAHAHAHAHAH TAI!”

“Ayo dong, mumpung stand tiket masih sepi nih. Gimana-gimana, langkah pertama apa yang perlu gue lakukan kalau mau ciuman, Suhu?”

“Hmm.. baca bismillah.”

“Ya mana sempet, Setan. Mau buat dosa kok tobat dulu. Nanti aja di akhir ciuman baru bilang Astagfirullah.”

“Bener juga. Yaudah deh ganti, langkah pertama adalah kita harus membangun kimia dulu.”

“Chemistry maksudnya?”

“Nah iya!”

“ITU KAN JOKE GUE SETAN!”

“Hahahah, setelah dapet kimia, baru deh elo mulai maju perlahan, mendekat hingga elo bisa mendengar suara hembusan napasnya.”

“Beuh, puitis banget kata-kata lo. Oke gue catet.” Ikhsan langsung nyobek kertas dari dalam buku dan mencatat wejangan gue barusan.

“Terus dah gitu nanti lo bakal masuk ke tahap Drum Roll.” Sambung gue lagi.

“Apaan tuh? Nama kue?”

“Itu Egg Roll kampret. Drum Roll. Sejenis aba-aba sebelum ciuman. Biasanya di sini adalah saat yang paling bikin grogi nih.”

“Wuoh! Mantap!” Ikhsan terlihat antusias banget sambil terus mencatat.

“Nah nanti kalau udah ciuman, ati-ati, do not use so much tongue. Jangan pake lidah. Kecup-kecup aja. Kalau kecupnya lama, baru deh pelan-pelan keluarin noh lidah ular.”

“HAHAHAHAHA ANJIR!! GUE KOK GETEK YA DENGER PENJELASAN ELO!!”

“Ah anjing yaudah deh gue masuk ke kantin aja kalau gitu.”

“Hahahahaha maaf Suhu! Maaf! Hamba tidak kuat membayangkan.”

“Lagian emang lo mau ciuman ama sapa sih?”

“Sama pacar gue lah!”

Gue kaget, “Eh? Tasya? Kok? Ada apa nih ada apa?”

Ikhsan menyeruput Teh Kotaknya sambil kemudian bersandar di kursinya. “Makanya tadi waktu gue mau jelasin, elo jangan main potong aja. Jadi nggak ngerti kan.” Lanjutnya.

“Emang ada cerita apa?”

“Jadi, belakangan ini hubungan gue sama doi kan bisa dibilang lagi agak renggang tuh. Rasanya gue sama dia akhir-akhir ini ngeributin hal-hal sepele mulu. Gue takut dia bosen, atau mungkin dia udah capek. Oleh karena itu gue pikir hubungan ini butuh udara segar. Sampai sini ngerti nggak lu gue ngomong apa?”

Gue cuma angguk-angguk doang padahal nggak tau dia lagi ngomong apaan.

“Mungkin hubungan ini perlu ada bumbu-bumbu erotik dikit.” Sambungnya lagi. “Nah, nanti pas acara Bazzar pas mau penutupan, gue pikir itu saat yang tepat untuk ngajak dia ke tempat sepi terus kecup-kecup basah gitu..”

“Najis ah. Getek gue denger lu ngomongin beginian.”

“Ah elu kagak pernah dukung temen ah.” Ikhsan menghabiskan sisa kuenya di atas meja, lalu kemudian menunjuk ke arah Teh Kotak yang belum gue buka sama sekali, “Kagak diminum tuh? Udah gue beliin masa nggak lo minum sih?”

Gue menghela napas panjang. Ikhsan kelihatan bingung.

“Tadi di kelas, waktu kalian masih sibuk main ular tangga di belakang, gue sama Ipeh ngobrol di deket meja guru.”

“EH?!” Ikhsan terlihat kaget. “Bukannya tadi di kantin dia nggak ngegubris elo sama sekali ya, Dim?”

“Nah maka dari itu, gue juga sempat kaget, Nyet. Bener deh gue nggak pernah ngerti apa sih yang cewek pikirin tuh.”

Ikhsan angguk-angguk mantap seakan mengiyakan semua perkataan gue barusan.

“Terus dia ngomong apa?”

“Kamu apa kabar?” Kata gue sambil menirukan ekspresi Ipeh ketika menanyakan hal itu sama gue di kelas pagi tadi.

“Gitu doang?” Dahi Ikhsan mengkerut.

“Enggak. Gue cuma bales, ‘Aku pernah jauh lebih baik. Itu waktu beberapa bulan yang lalu.’, gitu. Dia nggak jawab apa-apa, sebelum kemudian dia nanya lagi sama gue. ‘Kamu bahagia sekarang?’ tanya dia polos.”

“Wuih! Terus lo jawab apa?” Ikhsan makin penasaran.

Gue menggoyang-goyangkan Teh Kotak di depan gue itu. “Gue jawab aja dingin, ‘Kamu pikir aku bahagia?’,  pas gue ngomong gini, dia langsung nengok dan ngelihat ke arah gue gitu.”

“Anjir seru nih kaya FTV! Terus terus?”

“Dia natap gue gitu aja. Seperti ada perasaan marah, nyesel, ingin minta maaf, tapi benci juga. Yaudah daripada tatap-tatapan nggak jelas, gue balik nanya dia aja. ‘Kamu bahagia sekarang?” Gue bercerita sambil terus menatap kosong ke arah jalanan di depan.

“Asem! Elu punya cerita seru gini tapi malah ngebiarin gue cerita tentang tata cara ciuman. Bangke ah, tau gini elu cerita duluan nyet. Kan jadi nggak klimaks gini caranya.” Protes Ikhsan.

“Yeee malah ceramah. Gue lanjut jangan nih?”

“JUTKAN!!” Kata Ikhsan seraya membalikkan kursinya hingga mengarah ke gue.

“Saat itu gue sama dia nggak banyak bicara lagi, Nyet. Seperti tiba-tiba ada hening panjang yang menyelimuti kami berdua. Diamnya dia saat itu entah kenapa membuat gue jadi emosi, segala rasa kesal atas kejadian dua hari yang lalu itu seakan mau meledak di mulut, tapi untungnya gue masih bisa tahan. Gue cuma bilang saat itu, ‘Kalau nggak ada yang mau dibicarain lagi, aku pergi.’.”

“Beuh galak amat lo. Terus dia nahan elo nggak?”

“Enggak, dia cuma ngomong ‘Maaf.’, itu pun tanpa berani menatap ke arah gue. Dan gue yang mendengar hal itu langsung membalas, ‘Maaf? Siapa yang salah? Nggak ada kok.’ gitu.” Gue langsung menengok Ikhsan yang ada di sebelah gue, “Kejam nggak sih gue kalau ngomong gitu, San?”

Ikhsan menatap gue, lalu geleng-geleng, “Enggak kok. She deserve that. Setelah apa yang dia lakukan sama elo kemarin itu, dia pantas terluka kalau menurut gue.”

Gue termenung menatap Teh Kotak di hadapan gue, “Gue juga berpikiran sama kaya yang elo bilang barusan, kata maaf belakangan ini tampaknya hanya sebuah pelarian yang dipakai orang-orang pengecut yang sudah melakukan kesalahan untuk meminta kesempatan yang sama dua kali. Mereka menggunakan maaf hanya sebagai kata pembuka saja. Tidak tulus. Mereka bukannya ingin meminta maaf, melainkan ingin meminta kesempatan sekali lagi. Tapi bukannya membiarkan gue pergi, dia malah kembali mengucapkan kata maaf pas gue mau jalan lagi.”

Ikhsan mendengarkan dengan serius.

“Karena saat itu emosi gue sudah terlanjur tinggi, di kata maaf yang terakhirnya itu gue langsung berbalik, menatapnya sebentar kemudian bilang, ‘Daripada minta maaf, baiknya doakan aku agar bahagia. Minimal, doakan aku punya pendengar dan tempat pulang seperti kamu. Kita sama-sama terluka, tapi bedanya, aku terluka lalu jatuh sendirian, dan kamu terluka lalu pulang ke pelukan orang yang cintanya tak lebih besar dari cintaku.’, lalu setelah ngomong kaya gitu gue langsung pergi deh.”

Ikhsan geleng-geleng dengan rasa tidak percaya, “Gila gila gila, hubungan yang menurut gue simple di antara kalian itu kalau dilihat dari sudut pandang para pemeran aslinya itu ternyata rumit banget ya. Gue kira hubungan lo ini hanya sebatas lo suka sama pacar orang, Dim, tapi ternyata enggak kaya gitu. Sabar ya sob..” Ikhsan menepuk-nepuk pundak gue. Gue kira dia mau prihatin sama gue, tapi ternyata dia cuma mau ngelapin tangannya yang bekas makan kue tart itu ke baju seragam gue.

Brengsek.

“Slogan We falling in love with people we cant have itu ternyata bener ya.” Kata gue.

“Yeee itu mah elo doang, buktinya gue sama Tasya enggak kok.” Sanggah Ikhsan.

“Iya, tapi slogan ini pas buat Tasya maksud gue.”

“Anjir jadi lo pikir gue bukan cintanya Tasya gitu?”

“Hahahah inget sob, 83% kisah cinta di dunia ini itu mengatakan bahwa orang yang kita cintai dan orang yang mencintai kita biasanya adalah orang yang berbeda. Hingga pada akhirnya, kebanyakan dari kita selalu jatuh cinta karena terpaksa.”

“…”

Gue lalu mengambil sedotan plastik yang melekat pada Teh Kotak itu dan kemudian nyolokin ke Teh Kotaknya. Namun baru saja gue mau nyedot itu Teh Kotak, tiba-tiba minuman gue disamber sama seseorang.

Sontak gue terkejut, mulut gue udah monyong gini siap buat nyedot Teh Kotak tapi tiba-tiba sedotannya ilang.

“Siapa yang ngebolehin minum beginian?!”

Gue dan Ikhsan kaget, Cloudy dengan galaknya menyambar Teh Kotak gue lalu marah tanpa sebab di depan kami berdua. Gue sama Ikhsan liat-liatan dalam keadaan masih shock karena kedatangan si nenek sihir ini secara tiba-tiba.

Belum juga gue sempat membalas ucapannya, Teh Kotak gue yang lagi dia pegang itu dia lempar ke dalam tong sampah di depan sekolah. Gue kaget, Ikhsan lebih kaget. Gue merasa sayang banget ngeliat minuman masih utuh gitu dibuang ke tempat sampah, sedangkan Ikhsan merasa menyesal banget uang 3500 dalam bentuk minuman kemasannya dibuang tanpa sempat diminum.

Emang kejam si Cloudy ini.

“Lu ngapain sih ke sini? Di dalam aja sana gih! Ini mah urusan anak kelas satu. Sekretaris mah ngurusin yang lebih penting aja.” Ikhsan ngedumel.

“Heloooo! Gue juga kelas satu kali. Lagian apa hak lo nyuruh-nyuruh gue? Jualan tiket juga tugas gue kan?”

“Siapa?”

“Gue!”

“YANG NANYA~”

“IH!!!” Cloudy menggebrak meja di depan Ikhsan sebelum kemudian mengambil kursi dan duduk agak jauh dari kami berdua.

Ikhsan melirik Cloudy dari jarak jauh dengan tatapan bete. Ia kemudian menyenggol tangan gue.

“Nyet, si Cloudy ngapa sih selalu ada di sekitar kita mulu?” Katanya sambil bisik-bisik.

“Tau dah.”

“Dulu padahal gue sempat kagum loh bisa deket sama orang sekelas doi. Tapi sekarang malah pengen menjauh rasanya.”

“Hahahahaha sama gue juga.”

“Orang-orang yang deket sama elu kayaknya istimewa semua ya. Istimewa dalam hal negatif maksud gue.” Tukas Ikhsan.

“Ah elu juga sama.”

“Gue? Siapa?”

“Tuh Nurhadi. Dia kan temen lo. Istimewa tuh dia.”

“HAHAHAHA ANJING! Abstrak-abstrak gitu juga dia temen lo juga kampret.”

Lagi asik-asiknya kami tertawa begini, dari jauh ada satu mobil berhenti di depan stand tiket. Gue sudah biasa dengan pemandangan seperti ini. Memang biasanya banyak banget anak-anak kuliahan atau anak SMA senior yang bawa mobil dan mampir buat beli tiket Bazzar. Tapi saat itu begoknya gue tidak sadar mobil siapa itu di depan yang mampir ke stand penjualan tiket kita sebelum kemudian dari pintu belakang mobilnya turun seseorang.

Gue dan Ikhsan yang masih cengengesan ini mendadak diam melihat sosok yang turun dari mobil tersebut. Ikhsan memandang gue dengan tatapan kaget. Begitupun gue.

“LOH? KAK AI?!” Teriak kami berdua kompak.

“Loh kalian? Wah wah wah kebetulan banget nih kalian yang jualan tiketnya. Hehehehe, apa kabar hei kalian berdua temen-temennya Ifa?” Balasnya manis seperti biasa.

.

.

.

                                                         Bersambung

Previous Story: Here

Sekedar kojah.

Yang pernah baper-baperan sama lawan jenis sampe segitunya. Susah move-on, nangis-nangis, mikirin doi tiap hari. Bilang kangen, rindu, dsb dsb. Bikin perjanjian, komitmen-komitmen, pacaran dsb dsb.

Kata Mas Cungkring aka @rubahlicik :
Semua orang yang terlibat dengan cinta yang haram, suatu saat akan jijik pada diri sendiri.

Btw, Mas Cungkring udah niqa. Pengalaman asmaranya lumayan. Jadi nggak bisa diragukan lagi. Dia pantes ngomong gini. Hahaha.

Tapi kadang iya, hamba memang bisa sedurhaka itu sama Allah. Seberkhianat itu sama Qur'an. Senaif itu hanya karena urusan recehan alaala asmara fana kepada makhluk fana. Rip logika rip keimanan. Karena perempuan hobi sekali manjain perasaan. Huuuukssss. Sediiiii.

Kalau alasannya dia baik, atau alim, atau sholih, atau terserahlah karena apa. Apa dia cukup halal? Belum kan, self? Hah.

Jadi sudah mencapai puncak patah hati terhebatmu belum, sodara seiman? Siap-siap jijik. Wk.

Hatihati. Kita tak pernah berhajat untuk dunia. Jangan nurutin nafsu mulu. Nanti mewek-mewek tak berdaya. Kan nggilani.

Salam sigma!
Nai, anak statistik yang bentar lagi KKN dan pernah jijik juga sama diri sendiri. Pft.
Doain, ya :)