MULU

Cobaan Tak Kasat Mata

Kadang kita merasa hidup sedang gampang-gampangnya. Mulus. Kaya jalan tol.

Kadang juga, kita merasa seakan semua hajat kita terpenuhi. Ada ujianpun, ya gitu-gitu aja. Alhamdulillah bisa terlewati. Asik juga hidup ini.

Ilmu perasaan mengira-ira kita rupanya tidak sedalam itu. Kemudahan-kemudahan yang Allah berikan kepada kita benarkah diberi cuma-cuma tanpa pesan tersirat?

Jangan-jangan kita terlena. Iman kita turun jauh.

Apakah kita akan tetap khusyuk beribadah sebagaimana saat diuji dengan beratnya? Apakah kita akan senantiasa bersyukur dan memujiNya?

Cobaan yang Allah berikan sedang tak kasat mata. DiambilNya pelan-pelan nikmat dalam beribadah, nikmat memujiNya, nikmat mengingat-ingat dan bersyukur atasNya. Karena kita lupa meminta. Karena kita terlalu bahagia. Di atas angin rasanya.

Hidup menjadi sekedar dunia. Tanpa akhirat yang berdegup dan kita jaga detaknya.

Jangan-jangan benar, kita sedang betul-betul dicoba dengan berat oleh Allah. Cobaan tak kasat mata.

Curhat : Kehidupan Pascamenikah (40 Hari Pertama)

*harusnya ini ditulis setelah 40 hari, eh malah ditulis setelah entah hari ke berapa.

Sebelum menikah, guru saya pernah berpesan sesuatu pada saya, yang saya praktekkan di awal pernikahan. 

“Pik, nanti kalau sudah menikah, 40 hari pertama nggak boleh berantem. Nggak boleh marahan sama sekali.

“Sama sekali bu?”

“Sama sekali. Meskipun kamu harus nangis-nangis nahan emosi, tahan. Jangan diluapkan. Jangan sampai kamu berkata-kata yang nggak baik, jangan sampai ribut-ribut. Dieeem aja, tahan. Sampai 40 hari.”

“Emangnya kenapa bu?”

“Nanti kamu akan terbiasa untuk meredam ego dan emosimu. Ibu dulu juga dipeseni hal serupa sama teman ibu yang menikah duluan. Kata beliau 40 hari pertama itu sedikit-sedikit mulai terbuka kelebihan dan kelemahan pasangan, jadi harus banyak sabarnya.”

Akhirnya waktu sebelum menikah saya mengajukan permintaan ini kepada suami. Supaya yang berjuang nggak saya sendiri. HAHA. 

Terus gimana Pik 40 hari pertamamu?

Hari pertama sampai ke tujuh masih mulus, jalan tol, terus makin hari makin tahu gimana ternyata pasangan kita. Ada momen-momen dimana rasanya pas ituuuuuuuuuu kzlll harus nahan-nahan. Apalagi saya sama suami nggak LDR dan suami bekerja di rumah, jadi hampir 24 jam penuh kami saling membersamai. Kadang kalau udah kesel, nangis-nangis sendiri. Sampai nulis-nulis di diary sambil terisak-isak WAHAHAHAHA LEBAY. gak ding, ga terisak-isak juga. 

Namanya juga dua orang asing, beda pola asuh, beda karakter, beda sifat, beda deh pokonya. Jadi harus maklum kalau ada yang nggak pas kadang-kadang. Misalnya nih kejadian di kami seperti ini : Mas adalah tipikal orang yang disiplin dan lebih banyak thinking, sedangkan saya cenderung selow dan lebih banyak feeling. Mas suka bersih-bersih, nggak kotorpun dibersihin. Sayanya bersih-bersih nggak sebegitunya. Mas lebih suka warna-warna seperti abu-abu, hitam, putih, dan merah. Kalau saya warna-warna cerah dan mostly pink. Mas suka terlalu hemat, saya realistis (kalau butuh beli, pengen mendekati butuh ya beli hahahaha). Mas hampir Vegan, dan saya masih betah dengan daging, lemak, dan jeroan. Wk. Dan banyak hal-hal lain yang bertolak belakang. Banyak yang harus saling diterima. 

Tapi alhamdulillah, kami lulus 40 hari nggak berantem dan marah-marahan. Dan memang pembelajarannya kerasa sekarang, semoga sampai kami menua. Saya jadi belajar buat diem dulu kalau kesel, baru kalau udah enakan saya cerita. Kalau Mas lagi emosi, juga belajar buat nggak lama-lama. Dan kami berdua belajar nggak mengungkit-ungkit kesalahan pasangan (ya meski nggak bikin perjanjian untuk ini, tapi tanpa dibilangpun saya belajar dari Mas buat nggak ngungkit kesalahan). Kalau salah yaudah, salah, minta maaf, sebisa mungkin jangan diulangi.

Kalau prinsip Mas : komunikasikan. Semuanya harus dikomunikasikan dan emosi nggak boleh kebawa tidur. Kalau kesel bilang. Nggak boleh sok kuat. Kalau saya beda: sok kuat dulu di awal. Komunikasikan kalau lagi pas nggak marah, biar enak. wkwkwk. Nah lho. Tapi pada intinya, kita harus belajar untuk meredam lalu mengkomunikasikan semuanya dengan baik dan baik-baik. Saya masih belajar sih, huhu. Kadang malah nggak tahu harus gimana bilangnya, terus malah ditulis. Berharap Mas baca. Tapi saya sembunyiin. Dasar perempuan WKWK. 

“Darimana pasanganmu bisa tahu atau berbenah kalau kamu nggak bilang?” kata Mas.

Pasangan kita juga perlu tahu apa yang kita rasakan, agar jika itu menyangkut kekurangan, bisa saling instropeksi. Dan jika menyangkut kelebihan, biar bisa saling berbahagia. Tapi nggak boleh tersulut emosi. Boleh kalau demi kebaikan–marah, tapi jangan marah-marah :)

Terimakasih bu, untuk pelajaran 40-Hari-Pertama-Anti-Berantem-dan-Marah-Marah. Kami belajar banyak. Semoga, bisa menjadi hikmah untuk teman-teman semua. Buat yang sudah menikah, nggak papa 40 harinya nggak pertama, di tengah-tengah juga nggak papa, asal disepakati dan diusahakan berdua. Biar sama-sama berjuang dan kebiasa. Intinya sih, ini cuma pembiasaan dan peredaman ego/emosi.

Semoga curhatan ini bermanfaat!

7

(and yes, Mulu is missing most of her lower body, as well as the other half of her ‘jaw mantle’ and some other tidbits. poor thing was basically snapped in half not long after being found the first time)

Berumah Tangga

23 September 2016 - 3 Mei 2017

Baru beberapa bulan, belum ada setahun. Tapi, perjalanannya terasa panjang. Mengingat berumah tangga, pada semua hal di dalamnya membutuhkan komitmen, juga konsistensi.

Kita konsisten pada apa yang pernah diikrarkan sejak awal. Menjaga perasaan agar tetap pada tempat yang tepat, yaitu kepada pasangan. Juga bagaimana menjaga ritme rumah tangga agar tetap stabil ditengah perjalanan.

Mengapa kehidupan rumah tangga, kalau dalam masyarakat kita sering diberi istilah dengan “bahtera rumah tangga”. Karena memang barangkali “kapal” ini adalah kiasan yang paling tepat untuk menggambarkan sebuah kondisi rumah tangga, dibanding dengan kendaraan lainnya seperti mobil, motor, pesawat, kereta api, apalagi KRL.

Jalannya tidak pernah mulus seperti aspal, atau tidak juga terus berlubang seperti aspal (lagi). Laut adalah analogi yang paling bijaksana untuk menggambarkan kondisi perjalanan sebuah bahtera rumah tangga, ada tenangnya, ada badainya, ada ombak kecil, ada ombak besar, ada hujan, ada terik. Dan satu hal yan paling bijaksana dari gambaran ini, adalah bahtera itu sendiri. Bahtera menjadi pagar yang membuat orang-orang di dalamnya, mau tidak mau, harus berada di dalamnya. Bekerja sama agar kapal tetap berlayar, tidak tenggelam. Bahu membahu untuk saling berbagi peran. Juga semua yang berada di kapal dituntut untuk saling percaya satu sama lain.

Tidak menyenangkan kan kalau ada satu saja awak yang berkhianat, melubangi kapal, atau ketika badai tidak bertugas menurunkan layar, atau membelokkan kapal ke arah yang keliru. Saya pikir, masyarakat kita benar-benar bijaksana ketika mengkiaskan rumah tangga sebagai bahtera.

Memang tepat kalau dikatakan, ilmu sebelum amal. Untuk menjalani perjalanan jauh, dengan peran-peran yang penting, dan setiap peran memang penting. Perlu ada ilmunya. Penting untuk mempelajarinya, terutama bekal-bekal utama. Meski nanti di tengah perjalanan kita juga bisa sambil belajar, tentu saja ada modal pertama yang harus dimiliki. Minimal ilmu-ilmu dasarnya. Berumah tangga pun demikian, penting untuk memiliki ilmu-ilmu dasarnya.

Kalau kita paham. Kita tidak akan buru-buru menaikan jangkar, melaut. Padahal cuaca masih badai, atau arah angin masih berbalik. Kita akan tahu, kapan waktu terbaik kita untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Untuk itu, jangan buru-buru. Pahami betul tentang kapan waktunya, karena kalau kita tahu ilmunya, kita akan siap kapan pun untuk berlayar seketika kesempatan itu tiba.

Selamat belajar, memperbanyak pengetahuan. Lupakan tentang apa kata orang. Karena bahtera mu nanti itu ada dalam tanggungjawabmu. Mereka tidak akan bertanggungjawab bila nanti bahteramu tenggelam, atau salah haluan.

Pahamkan itu baik-baik :)

Yogyakarta, 3 Mei 2017 | ©kurniawangunadi

mensyukuri takdir

dua buku yang bener-bener ngasih saya titik balik adalah Self Driving-nya Prof Rhenald Kasali dan novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye. Self Driving itu tentang Self Improvement yang ngasih saya pemahaman bahwa badan itu hanya kendaraan dimana drivernya adalah hati kita dan pikiran kita. Sementara novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu ngasih saya penjelasan tentang takdir.

Intermezzo

Dulu ada yang pernah nanya ke saya, kenapa saya menulis fiksi padahal fiksi itu malah bikin orang memanjangkan angan. Saya lupa ngejawab pertanyaan tersebut dan sekarang saya jawab bahwa cerita fiksi bisa menjadi media untuk mengejawantahkan penjelasan tentang ayat-ayatNya yang sulit kita tangkap.

Seperti novel Ketika Cinta Bertasbih nya kang abik yang banyak ngasih penjelasan ke temen saya bahwa menikah lewat jalan ta’aruf nggak se-menakutkan yang dipikirkan orang. Seperti Rembulan Tenggelam di Wajahmu yang menjawab banyak sekali pertanyaan saya tentang hidup dan takdir.

Intermezzo selesai.

Allah itu Maha Tahu. Dia yang menciptakan kita dengan sebaik-baik perhitungan. Setiap kali saya membaca Al Qur’an dan sampai pada surat Al Baqoroh ayat 30 atau Al Furqon ayat 2, saya beristighfar sebanyak-banyaknya atas tindakan saya di masa lalu yang kurang bersyukur. 

Di kehidupan saya, ada banyak hal yang saya usahakan justeru gagal tercapai. Sementara di sisi lain, ada juga banyak hal yang tidak saya usahakan sama sekali, tapi Allah yang seolah mendatangkan hal tersebut kepada saya.

Ketika saya mengeluhkan banyak takdir dan kepala saya meng-generate banyak pertanyaan seperti:

“Kenapa saya harus masuk Teknik Informatika? padahal saya sebenarnya belajar keras untuk masuk Ilmu Komunikasi”

“Kenapa saya harus masuk bertahan di kampus saya yang sekarang? padahal saya sebenarnya belajar keras untuk melanjutkan PhD”

“Kenapa saya harus jadi dosen padahal cita-cita saya yang paling besar adalah menjadi jurnalis”

“Kenapa saya harus lahir dengan kaki yang kalau diajak berlari sedikit saja langsung bengkak lututnya dan sakit banget kalo napak? Padahal orang bekerja mestinya lincah berlari?”

“Kenapa saya harus lahir dengan hanya satu mata yang berfungsi? Padahal di dunia yang materialistis ini banyak orang yang menilai orang lain dari fisiknya saja?”

“Kenapa sewaktu SMP dan SMA dulu saya selalu menjadi yang tak diperhitungkan, hadirnya nggak disadari dan hilangnyapun nggak dicari?”

tapi setelah saya menoleh ke belakang, saya jadi belajar begitu banyak hal. IPK saya pas S1 emang pas-pasan, saya bukan cumlauder tapi pas S1 dulu saya sempet sebentar merasakan terjun di dunia jurnalistik. Dunia yang saya inginkan tapi saya nggak ditakdirkan untuk ke sana dalam waktu yang lama. Saya juga sempet belajar tentang Data Mining yang saya sukai banget meskipun pas kerja, saya malah ditakdirin ke Teknologi Game. Tapi setidaknya, belajar tentang data ngebuat saya lebih open dan lebih kritis terhadap statistik. 

In God we trust, all others must brings data.

tapi buat orang yang pernah belajar analisa data, pernyataan kayak gitu masih bisa munculin pertanyaan:

“Data yang kayak gimana? Cara samplingnya gimana? Diambilnya kapan dan bla bla bla“

Hikmah lain yang saya dapatkan dari menggeluti dunia data adalah, kita itu cuma bagian dari statistik. Umur kita itu nggak ada sepersepuluh usia peradaban. Betatapun kita ngebuat karya yang masterpiece dan dipuji oleh banyak orang, suatu saat pasti akan dilupakan. Hanya Allah yang nggak pernah melupakan kita, maka biarlah kerja-kerja ini kita tujukan kepada Allah saja. Bukan kepada yang lain.

Saya tetap mencintai dunia tulis menulis dan data mining. Tapi saya menikmati takdir yang nggak berpihak pada banyak hal yang saya cinta ~XD Dan perkara S3 yang tertunda, ada begitu banyak hikmah yang bisa diambil.

Pas saya disuruh ngajar teknologi game, saya ngerasa keteteran banget. Keteteran yang sampe menampar banget ke saya yang dulunya udah ngerasa pinter. Padahal ya sebenernya nggak pinter-pinter banget.

Dulu, saya itu orang yang perfeksionis dan nggak bisa memaklumi kesalahan orang lain. Tapi begitu saya ngajar, saya mengenal karakter mahasiswa satu persatu, mengamati mereka berproses dan semakin sadar bahwa manusia itu nggak sempurna dan nggak ada yang ideal. Yang bisa kita lakukan hanyalah terus menerus memperbaiki diri. Dengan melihat itu, saya juga semakin memaklumi orang lain. Memandang bahwa kesalahan yang dilakukan oleh seseorang sama sekali nggak bisa kita gunakan untuk menilai bahwa keseluruhan hidup orang tersebut itu buruk. Manusia itu abu-abu. Nggak adil kalau kita memaksakan semua menjadi hitam dan putih.

Seperti yang dibilang mbak @plainhavermutt​ mungkin Allah itu mentakdirkan kita memiliki kekurangan agar kita tidak ujub atas segala takdir yang membuat kita bahagia.

Allah nggak pernah mentakdirkan hal-hal yang buruk kepada hamba-Nya.

Dulu pas kecil, saya nggak punya temen. Tapi di lain sisi, Allah ngasih saya kesempatan untuk belajar Al Qur’an, dan ushul fiqih. Sesuatu yang amat terlambat saya syukuri.

Sayapun telah salah menilai bahwa dunia ini terlalu materialis. Saya banyak menemukan orang-orang yang tulus dan menerima saya apa adanya. Gara-gara pernah dibully, saya semakin menghargai persahabatan yang tulus dari teman-teman saya.

Masalah kaki, saya pelan-pelan melakukan treatment hingga sekarang kaki saya bisa diajak berjalan jauh. Gara-gara perkara kaki ini, saya juga semakin memahami kenapa seorang muslim harus selalu mengusahakan badan yang fit.

Dan terakhir….dari hal-hal yang saya usahakan justeru gagal tercapai sementara di sisi lain, ada juga banyak hal yang tidak saya usahakan sama sekali, tapi Allah yang seolah mendatangkan hal tersebut kepada saya….

saya semakin menyadari bahwa semua terjadi atas izin Allah, dan ikhtiar-ikhtiar yang kita lakukan selama ini adalah bentuk kebaikan Allah. Ikhtiar adalah sarana kita dalam mencari ridho-Nya, dan lewat ikhtiar…..kita merasakan pahit getirnya hidup sehingga kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang dari waktu ke waktu.

sekarang, saya nggak merutuki takdir. Saya cuma berdoa semoga dalam setiap tour of duty yang saya jalani, saya bisa tumbuh menjadi lebih baik dan terus menerus mengingat-Nya.

Anggap saja takdir itu bentuk tarbiyah dari Allah agar kita tumbuh. Setiap masalah itu pasti ada solusinya. Setiap badai pun akan berlalu atas izin Allah. Hanya saja, setiap masalah itu akan meninggalkan bekas dalam diri kita. Dan bekas itu sangat tergantung pada bagaimana kita memandang hidup.

Mari kita sejenak menoleh ke belakang dan membuang pengandaian-pengandaian kita semacam…

“Andai gue jadi  S3, mungkin sekarang gue bisa nerbitin paper Q1 dan bla bla” belum tentu kayak gitu juga. Yang tau takdir itu Allah. Bisa jadi ada kemungkinan lain kan…. “Gue S3, ga cocok sama profesor, malah terkatung-katung dst…dst….” atau “Gue lulus S3 dengan mulus tapi endingnya gue jadi sombong dan arogan karena pribadi gue kurang matang”

orang yang membenci takdirnya akan selalu digoda setan untuk men-generate pengandaian yang indah-indah dari sesuatu yang tidak ditakdirkan untuknya ~XD padahal dia punya pilihan untuk sejenak menoleh ke belakang dan mencari hikmah, atau berhenti sejenak untuk melihat sekeliling dan menyadari bahwa dunianya indah tapi dia nggak sadar karena keseringan berandai-andai.

Awal dari penerimaan diri adalah berhenti berandai-andai, belajar menyadari bahwa yang kita miliki hari ini adalah sebaik-baik rezeki dari-Nya. Hidup itu cuma sebentar, rugi banget kalo semua dijalani dengan merutuki takdir.

NB: ditulis dalam rangka membagikan pengalaman berikhtiar menerima diri sendiri. Semoga bisa ngebantu temen-temen buat sedikit mundur ke belakang dan mensyukuri takdir serta menyadari bahwa bullying yang kita alami di masa kecil nggak pernah benar-benar merebut masa depan kita. Cara pandang kita yang harus dirubah. Hati kita yang harus kita tumbuhkan hari ini.

Bukan menakuti kalau nanti hidup tak semudah yang kita bayangkan. Hanya sebagai penyadar diri; ada hal-hal yang tak sepenuhnya kita kendalikan. Jika suatu saat jalan itu tak mulus, rencana itu tak sesuai kenyataan. Tetaplah berdiri di sampingku. Temani aku bangun dari tergelincir. Kita kuatkan kaki dan melangkah lagi. Denganmu aku memang tak ingin sulit, tapi jika sulit itu datang tanpa kita inginkan, bersedialah berusaha kembali bangkit. Aku tahu kau tangguh, kita akan terus bersama selama kita ingin menjaga agar semuanya tetap tumbuh, terus utuh.


–boycandra

The Way I Lose Her: Worth To Fighting For

Kau pikir aku berlebihan. Kau menuduh aku tak masuk akal. Kau pikir aku tidak tau? Jika selama ini pelukmu tak hanya berpulang pada tubuhku? Kata sayangmu kau ucapkan juga pada yang selain aku.

.

Saat ini gue masih tergeletak di ruang UKS. Sebenarnya udah nggak terlalu sakit lagi sih, tapi tetep aja rasanya kalau gerak di saat-saat seperti ini malah ngebuat perut gue mules lagi.

Alhasil sekarang gue naroh bantal UKS di pantat buat nahan lubang pantat daripada bocor terus kena sprei UKS kan bahaya. Ntar ada kuning-kuning di sprei dikira bendera golkar lagi. Biarin deh pake bantal UKS. Cuma kasian aja yang tidur di UKS setelah nanti gue keluar. Udah sakit, terus tiduran di bantal bekas pantat gue, makin deket sama Tuhan aja hidupnya.

Sambil sesekali mengelus perut, gue kembali mencoba mengatur jalannya napas agar stabil. Karena sekali saja napas gue tersendat, knalpot gue ngeluarin ampas nih pasti. 

Keadaan UKS yang hening cukup membuat gue nyaman dari hingar bingar bazzar sebelumnya. Sebelum tiba-tiba,

DUAK!!!

Mendadak pintu uks ditendang kencang dari luar.

“ASSALAMUALAIKUM WAHAI AHLI KUBUR!!!!!” 

Pret..
Pantat gue langsung ngeluarin sedikit gas gara-gara kaget.

“APA APAAN SIH ANJING?! BISA NGGAK SIH PAKE ADAT SEDIKIT KALAU MASUK UKS!!!” Gue ngamuk sembari megangin pantat gue yang mulai kembang kempis lagi.

Sedangkan Ikhsan yang baru saja menendang pintu UKS cuma bisa ketawa sambil kemudian menutup pintu yang udah reyot itu. Dia berjalan ke arah gue sambil membawa sebuah bungkusan kresek hitam dan putih di kedua tangannya.

“Jangan marah-marah dong, sayang. Nih gue bawain bubur.” Kata Ikhsan yang kemudian mengambil salah satu mangkok di rak piring UKS lalu menuang bubur yang baru ia bawa ke dalam situ.

“Gimana keadaan lo? Udah enakan?” Tanya Ikhsan yang kemudian menggeser kursi dan duduk di sebelah kasur gue.

“Jauh lebih tenang sebelum lo masuk!” Balas gue kesel.

“Yeeee udah sekarat aja masih ngomel-ngomel. Lagi mens hari pertama ya lo?”

“…”

“Gue serius nih, gimana keadaan lo? Baikan?” Tanyanya lagi diselingi meniup-niup bubur di sendok.

“Lumayan lah. Nggak separah tadi.”

“Masa sih? Coba sini gue periksa.” Ikhsan nempelin punggung tangannya ke kepala gue.

“LO NGAPAIN PEGANG-PEGANG KEPALA GUE, SETAN?! GUE KAN SAKIT PERUT!! KENAPA MALAH KEPALA GUE YANG LO BENYEK-BENYEK!”

“Hahahaha ya mana gue tau anjir lo sakit di sebelah mana. Tapi lagian kepala lo keras amat sih, Dim. Isinya koin ding-dong ye?”

“Hahahaha bangsat! Aduh aduh… aduh pantat gue aduuuh.. Aduh keluar aduh..” Gue langsung tegang sambil menahan erat-erat pantat gue pake bantal.

Ikhsan mundur 10 langkah menjauh.

“Jorok anjir!! Gue lagi makan bubur woi!”

“BRENGSEK!! JADI LO BELI BUBUR BUAT LO SENDIRI?!”

“Ngapa juga gue beliin buat elo. Noh punya lo ada di kresek yang satu lagi.” Ikhsan menunjuk ke kresek hitam di atas meja UKS.

“Suapin gue dong.”

“Boleh, pake sekop ya?”

“Kok lo jahat sih sama gue, Nyet?”

“Hahaha, eh gue mau ngomong serius nih. Bercanda mulu ah kalau sama elo. Kali-kali serius kek.” Ikhsan mendekat lagi sambil asik makanin buburnya sendiri.

Setelah pantat gue mulai rilex, akhirnya gue kembali tiduran dengan posisi yang sama seperti sebelumnya, “Apaan?” Gue melirik Ikhsan.

Dia lalu membawa kursinya kembali ke sebelah kasur gue. Sebelum berbicara, Ikhsan menunjuk ke arah kresek hitam di atas meja UKS.

“Itu.” Tukasnya.

“Dubur?”

“BUBUR, KUYA!”

“Hahaha kenapa?”

“Ini..” Ikhsan menunjuk ke arah mangkok buburnya.

“Maksud lo apaan sih anjir? Tinggal ngomong aja pake acara sok misterius lo kaya uya kuya lagi mau hipnotis orang.”

“Ini bukan gue yang beli loh.” Tiba-tiba Ikhsan nyeletuk.

Gue menyeritkan dahi, berpikir sejenak.

“Gue juga udah curiga sih. Lo nggak mungkin mau ngeluarin duit buat gue.”

“Nah, bener. Lo emang paling mengerti gue.”

“Terus itu dari siapa dong?” Gue penasaran.

“Tadi orangnya diem di depan pintu UKS. Mondar-mandir mulu tapi nggak mau masuk.”

“Hah? Siapa? Cowok?”

Ikhsan geleng-geleng.

“Cewek?” Tanya gue lagi.

Ikhsan geleng-geleng lagi.

“LAH ANJIR KALAU BUKAN COWOK SAMA CEWEK YA TERUS SIAPA ANJIR MASA KECAMBAH?!” Gue snewen sambil mukul kepala Ikhsan pake bantal bekas landasan pantat gue.

Pret..
Pantat gue kebuka, ada angin keluar sedikit.

“…”

“…”

“Bunyinya gak enak banget, nyet.” Kata Ikhsan yang kemudian meletakkan mangkok buburnya di bawah meja karena udah nggak nafsu makan lagi.

“Hahahahahaha sorry-sorry, lagi susah dihandle nih. Pintunya otomatis buka tutup sendiri kaya pintu mol.”

“Yaudah gue lanjut cerita nih.” Ikhsan kemudian bersandar di sisi kasur UKS.

“Sip.”

“Ipeh.” Kata Ikhsan pelan.

Mendengar nama Ipeh keluar dari mulut Ikhsan, gue langsung terdiam sebentar. Tatapan gue sesekali menatap ke arah bungkusan kresek hitam di atas meja UKS. Ada helaan napas panjang keluar dari mulut dan pantat gue berbarengan. Pembicaraan pagi tadi di depan gerbang sekolah ketika gue menjual tiket kembali terulang di ingatan gue lagi. Rasanya tak adil, kenapa gue harus cinta pada cinta yang nggak bisa gue miliki?

Dan kenapa gue bodoh untuk terus-terusan menyerah untuk menjauh lalu jatuh untuk dekat lagi? Seperti dibohongi oleh hati sendiri. Seharusnya gue benci, iya, seharusnya gue benci melihat sosoknya berada di sekitar, tapi brengseknya hati gue malah terasa senang ketika mendengar suara itu ada. Mendengar tawa yang sama. Tawa yang melegakan. Hadirnya seakan dahaga dari kehausan panjang.

Ah Tuhan, semenyakitkan inikah mencintai cinta yang dimiliki orang lain?

Lalu ketika gue sedang berusaha menjauh, berusaha untuk terbiasa lagi, berusaha untuk tidak sakit hati sendirian lagi; sialnya ia tetap peduli, seakan gue adalah miliknya. Milik yang tak ia miliki sepenuhnya. Dan bodohnya gue senang ia pedulikan.

Seperti yang sudah gue bilang sebelumnya, terkadang cinta itu membuat hati mengkhianati diri sendiri.

“Mau gue suruh masuk orangnya?” Tiba-tiba Ikhsan membuyarkan lamunan gue.

Gue geleng-geleng pelan, “Nggak usah ah. Buat apa juga. Lo seharusnya ada di pihak gue, nyet. Di sini kan gue pihak yang tersakiti.”

“Iya, gue tetap di pihak lo kok.Tapi bukan berarti gue bisa menolak permintaan Ipeh juga. Biar bagaimanapun kalian berdua sahabat gue.” Ikhsan melepas sendal jepitnya lalu melipat kakinya di atas kursi.

Gue melirik ke bawah kasur, “Lu dari mana pake sendal jepit segala? Abis nyari botol kosong?”

JEBRET!!
Perut gue ditempeleng sama Ikhsan.

“Ini anak udah hampir mati masih aja ngomentarin orang seenaknya.” Omel Ikhsan.

Gue cuma bisa kesakitan menahan perut gue dan mencoba konsentrasi biar lubang pantat nggak terlalu membuka daripada ada kolak pisang keluar dari sana nantinya.

Kita berdua diam beberapa menit, perut gue sudah nggak konstraksi lagi.

“Nyet.” Gue nyenggol punggung Ikhsan yang sedang bersandar di pinggiran kasur dengan kaki.

“Hmm?”

“Apa yang salah ya?”

“Hah? Gimana-gimana?” Ikhsan berbalik menatap gue.

“Apakah salah kalau gue pernah bilang bahwa gue sayang sama dia?”

Ikhsan mendengus kesal, kemudian ia membuang muka. Sebentar kemudian ia bangkit dari kursi dan pergi ke arah meja UKS. Membuka bubur yang tadi ada di dalam kresek dan menuangkannya di mangkok yang lain. Kemudian ia memberikannya kepada gue, tidak lupa dia makan dulu setengahnya sambil berjalan menuju kasur UKS barusan.

“Nggak salah kok.” Ikhsan memberikan mangkok itu, dan gue mengambilnya. “Yang salah adalah, lo bilang lo sayang dia tapi lo nggak mengejarnya pas dia pergi.” Sambungnya lagi.

Gue tertegun. Baru saja mau nyendok satu suap bubur, gue langsung melihat ke arahnya dengan mulut yang menganga.

“Maksudnya?”

“Lo ngerti lah maksud gue barusan.”

“Tapi kan dia punya orang lain, San? Toh dia juga dulu milih orang lain daripada milih gue.” Gue berkelit.

“Bukannya dulu juga kak Hana itu punya orang lain? Tapi lo tetap ngejar dia kan? Sampai kejadian terkahir di bioskop BIP beberapa bulan yang lalu itu.” Dengan santainya Ikhsan menjawab pertanyaan gue barusan.

Dan perkataannya tepat membuat gue diam tak berkutik. Setiap gue mau menjawab dan menyanggah rasa-rasanya mulut gue tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Semua berhenti di tenggorokan.

“Klise memang, tapi gue setuju sih sama istilah bahwa cinta itu perlu diperjuangkan.” Tukasnya lugas.

“Tapi, bukankah buruk jika mengawali sebuah hubungan dari cara mengakhiri hubungan orang lain?” Gue menimpali.

Ikhsan geleng-geleng kaya anak baru pulang ngaji mau nyebrang, “Nggak juga. Kalau ternyata dia nggak bahagia sama pacarnya gimana? Itu berarti lo lagi menyelamatkan dia dari jalan yang salah, Nyet.”

Gue terdiam.

“Rasanya dulu lo nggak secemen ini dah.” Ikhsan kembali memukul perut gue, pantat gue kontraksi langsung.

Ikhsan berdiri dari duduknya, kembali memakai sendalnya lagi lalu menggeser kursi yang baru saja ia duduki kembali ke tempatnya. Sebelum pergi menuju pintu, Ikhsan ngelirik gue yang masih mikirin perkataan dia barusan.

“Btw, tadinya si Cloudy mau ke sini, tapi malah ketemu Ipeh di depan UKS.” Katanya sambil kemudian berjalan menuju pintu.

“Lah terus?! Berantem?” Gue langsung bangun dari tidur gue.

“Hahaha lo tunggu aja, paling bentar lagi doi masuk terus marah-marah. Siap-siap aja konstraksi tuh perut. Hahahahaha, dah ah cuss yak! Gue masih banyak kerjaan.”

“WOI CERITAIN DULU WOI LENGKAPNYA!!”

Ikhsan berhenti lalu nengok sebentar, sebelum kemudian dia melengos pergi begitu aja.

“ANJIR TAI DAH SO KEREN LU SETAN!! MUKA KAYA UJUNG PECUT AJA SOMBONG LO WOI!!!”

Pret..
Pantat gue kontraksi sekali lagi.

.

.

.

.

                                         Bersambung

p.s: gak usah bingung, ini cuma sepotong scene di draft cerita TWILH, tapi masih di tema Bazzar kok. Cerita ini lebih cepat beberapa part dari yang terakhir gue update dulu. Anggap aja pemasan sebelum ngelanjut cerita sebelumnya. Doain yak.

feels good to be back. Feels good to bring this comedic conversations back.

DIAM DIAM MENGHANYUTKAN

Kok gak punya IG sih?

Kok jarang update status?

Kok fotonya itu mulu?

Zaman sekarang, sudah menjadi urusan yang mudah sekali bagi kita untuk mengetahui kesibukan serta kehidupan orang lain.

Untuk mengetahui apa yang dilakukan hari ini, liat saja di storynya.

Untuk mengetahui apa yang dilakukan minggu ini, liat saja feednya

Untuk mengetahui apa yang dilakukan bulan ini, liat saja untaian wallnya

Dengan adanya fitur ini, dengan mudah kita bisa memahami apa yang dikerjakan orang lain.

Ada orang-orang yang saya kenal, dia punya sosmed, dia mengurusnya dan mengisinya dengan berbagai karyanya. Hampir setiap karya yang dia buat, dia upload di sosial medianya. Orang seperti ini, menjadikan sosmed sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena dari sosmednya, ia bisa menjalani hidup.

Ada orang-orang yang saya kenal, dia punya sosmed, dia mengurusnya, bahkan merapihkan feednya. Foto-fotonya berkelas, caption-captionnya super bijak, jikalau kamu tidak mengenalnya, sudah pasti kamu akan menganggap bahwa kehidupannya sempurna. Orang seperti ini, menjadikan sosmed sebagai alat untuk menunjukan gaya hidupnya. Walau sebagian dari mereka yang saya kenal, sebetulnya hanya membuat-buat “seolah” ia punya kehidupan tersebut, padahal dia hanya pandai dalam membuat-buat kondisi yang dia tidak miliki.

Ada lagi tipe orang yang menurut saya juga cukup menyita perhatian, yakni orang-orang yang membiarkan sosmednya atau bahkan tidak memiliki sosmed sama sekali. Kadang kala, fotonya itu tidak berganti dari zaman dia bikin akun sampai bertahun-tahun lamanya. Postingannya tidak segar, ceritanya basi, bahkan kadang tanpa cerita apapun. Mungkin, dia memiliki akun tersebut, hanya sekedar untuk memenuhi syarat agar dianggap sebagai masyarakat kekinian.

Tapi yang keren dari tipe orang terakhir, yakni dibalik sepinya sosmed beliau, ketika akhirnya saya mengobrol secara langsung, ternyata banyak sekali pencapaian yang ia dapatkan yang tidak pernah orang lain tahu. Mulai dari menjadi juara kompetisi, membuat sebuah gerakan, membantu masyarakat, dan lain sebagainya. Melihat sosmednya tentu membuat anda malas untuk melihatnya, tapi mendengarkan kisah serta pencapaiannya, membuat anda enggan untuk beranjak walau untuk ke wc sekalipun, saking serunya.

Ya, di zaman sekarang, terkadang ada orang-orang yang menggembar-gemborkan sesuatu secara berlebihan di sosial medianya, ada juga orang yang tidak pernah terdengar sama sekali tentang kabarnya, tapi ada kesamaan dalam keduanya, kehidupan nyatanya tidak sesuai dengan kehidupan mayanya.

Dan saya pribadi, kadang merasa kagum dengan mereka yang selalu diam-diam, namun ternyata karya-karya mereka sudah jauh menerjang kami-kami yang disibukkan dengan “bagaimana kami harus terlihat di sosmed?”.

Yah, itulah zaman sekarang. Semoga kami tidak termasuk yang menggembar-gemborkan secara berlebihan. Walaupun diri ini memang sudah sulit untuk menjadi orang yang “diam-diam”, semoga kami menjadi orang yang “koar-koar menghanyutkan”, ribut iya, bermanfaat iya. Semoga yah, semoga.


DIAM-DIAM MENGHANYUTKAN
Bandung, 15 Mei 2017

Berzina dengan Ayah kandung

Aryanti adalah namaku. Aku
berasal dari Johor, seorang anak
tunggal yang tinggal bersama ibu
saudaraku. Ibuku telah lama
meninggal dunia sejak umurku tiga
tahun. Ayahku berasal dari
Singapura, bekerja sebagai buruh
kasar. Aku dijaga oleh ibu
saudaraku yang tinggal di Johor
sejak kecil hingga umurku cecah 12
tahun. Karena keadaan sangat
tidak menginzinkan, aku tinggal
bersama ayahku di Singapura agar
lebih senang untuk ke
sekolah.Kami tinggal di rumah
sewa 1 kamar Dari kecil aku
memang selalu mendahagakan
kasih sayang dari seorang ibu dan
bapak. Sejak tinggal bersama
bapak, akulah yang selalu
memperbarui dan membersihkan
rumah setelah pulang dari sekolah.
Aku sudah mulai bersekolah di
sekolah menengah setempat. Bapak
selalu tidak ada di rumah karena
bekerja keras. Walaupun dia sibuk
bekerja keras, dia pastikan ada
uang belanja untukku dan berikan
uang belanja dapur yang patut.
Ayah selalu pulang lewat hingga
2pagi dan karena ini aku sering
sendirian di siang hari di rumah.
Aku sering melihat wajah arwah
Ibuku dan Bapak dalam gambar
sewaktu mereka baru saja
berumahtangga. Kulit ibu bersih,
putih melepak .. memiliki ukuran
yang sangat cantik .. seakan aktor
veteran Latifah Omar dan juga
berbentuk badan yang mulus.
Bapaku pula berbadan sasa, sama
seperti sekarang, berambut ikal
dan mempunyai rupa akan Jamal
Abdillah. Kulitnya pula sawo
matang.
Pasangan yang sangat ideal.
Terakhir usiaku sudah cecah
15tahun, aku mulai menjadi remaja
nakal. Pulang sekolah saja aku dan
berjumpa dengan teman pria di
taman yang sunyi untuk bercumbu.
Jika tidak, aku akan mengajak
teman teman sekolah yang lain ke
rumahku, kadang kadang
membiarkan mereka yang
berpasangan bersetubuh di bilikku.
Aku tidak tahu mengapa aku
bersikap demikian.Barangkali
sebab tidak ada orang yang dapat
menegur perbuatan ku.
Walaupun aku bersikap liar, aku
masih belum bertemu seorang pria
yang layak menewaskan daraku.
Aku pernah menghisap batang
konek teman2 lelakiku yang lain
tapi aku rasa seperti aku belum
temui seorang teman pria yang
mempunyai konek yang aku
idamkan untuk aku rasai pertama
kali. Pada satu hari, satu kejadian
terjadi yang merubah segalanya. Di
saat itu aku sedang baru mulai
cuti sekolah dan seperti biasa
teman temanku datang untuk
chatting untuk melihat vcd lucah
sementara 3 pasangan sedang
hebat melakukan maksiat di
bilikku. Aku memang selalu suka
melihat teman2 bersenggama.
Dalam pada masa itu aku akan
belajar teknik mereka jadi bila tiba
masa nanti aku akan sendiri
mencubanya.Aku memakai baju
terus jarang pada masa itu tanpa
berpakai coli dan celana dalam
sebab cuaca panas siang. Tiba-tiba
Bapak pulang mengetuk pintu. Aku
terperanjat dan terus membuka
pintu. Bapak mulai meluru masuk
ke rumah lalu ke kamar. Di saat itu
3 pasangan temanku sedang masih
di dalam lembah zina yang teramat
masih sibuk melampiaskan cinta
dan nafsu yang bergelora lalu tidak
sadar yang Bapaku sudah di muka
pintu kamar.
“Hoi!” jerit Bapak. Berambus
korang dari rumah aku! . Dengan
kilat teman2 aku semua melarikan
diri, ada yang masih separuh bogel
meluru keluar pintu rumahku. Aku
terduduk ketepi pintu kamar dalam
ketakutan. Bapak membeliakkan
matanya sambil mulai menutup
jendela dan pintu rumah. VCD
lucah itu masih tersiar terpampang
di kaca TV. Bapak mulai
mengherdikku ‘Bapak kirim kau ke
sekolah kat sini untuk apa
hah !!!??, pekiknya .. 'Dah jadi
perempuan apa kamu nie hah!! Tak
tau terima syukur aku kutip kau
balik! Badan kau tu masih suci
atau tidak!! - Jerit Bapak lagi ..
'Masih pak … 'Jawabku perlahan
dengan perasaan serba salah.
“Berani kau menjawab aku eh!”
Bapak terus menarik badanku lalu
menolakku ke kamar.
Di saat itu aku terhidu bau arak.
“Maaf pak, Yanti bukan
menjawab ..” kataku padanya lagi.
Tanpa berkata apa-apa, bapak
mulai membuka tali pinggang
besinya lalu memmukulku beulang
ulang. “Ampun pak!” Yanti tak
buat lagi! “Kataku sambil menahan
kesakitan.” Ampun?!! Aku tak
percaya kau tu masih dara!!
“Sudah berapa pria jamah badan
kau hah !!!?!!!” - Tengking Bapak
lagi “Yanti tak kasi pada siapa,
Pak !!!!” rayuku lagi “Aku tak
percaya!” katanya.
Dalam pada itu Bapak merobek
baju jarangku. Di saat itu Bapak
melihat tubuhku yang telanjang.
Sambil menangis aku memeluk
lututku karena malu dan masih
dalam kesakitan dipukul bertubi2.
“Biar aku periksa!! Aku tak percaya
kau masih perawan!” Kata Bapak
lalu menolak badanku dengan
kasar agar aku terlentang. “Jangan
Pak .. Yanti malu …” rayuku lagi
sambil nangis terisak-isak
“Malu ??!!! Dengan kawan kawan
memantat depan mata kau tak
tahu malu!” herdiknya lagi. Kakiku
dibuka terkangkang … Entah
mengapa sambil itu Bapak mulai
menbuka pakaiannya. “Jangan
Pak ….” aku merayu padanya. “Kau
diam!” - Pekiknya lagi.
Aku terlihat Bapak sudah telanjang
dihadapanku. Aku mulai rasa
semakin takut dengan apa
kemungkinan Bapak akan lakukan
pada diriku. Batang koneknya
sangat besar dan panjang seperti
aku inginkan sama seperti konek
orang negro. Aku mulai rasa tegang
dan takut. Aku dapat rasakan
dalam benakku Bapak akan
menewaskan daraku.
Bapak mulai memeriksa lubang
pukiku .. Matanya tak lepas
melihat tubuhku dengan rakus ..
“Jangan Pak … Yanti anak
Bapak …” Diam!! “Katanya lalu
Bapak mulai mengeluarkan
lidahnya sambil menjilat jilat
lubang pukiku …” Oughhhhhh.
Pak … Jangan … “Bapak mulai
menjilat lubang pukiku dengan liar
dan rakus ..” Sebelum kau kasi
lubang puki kau pada betina tepi
jalan, lebih baik kau kasi pada
bapak sendiri! “Bentaknya lagi”
UghOhh Bapak …. Ermmmm ……
Nggghhh … “Bapak mulai
menggomoli badanku dengan
lidahnya .. Terasa geli, sakit dan
sedap bercampur aduk .. Tangan
bapak meraba seluruh pelosok
badanku.” Arrgghhh …. Bapakkkk ..
Jangan !!!….. aku merayu dengan
nada berserah. Akhirnya lidah
Bapak bertemu lidahku .. Bapak
mulai menghisap bibirku dengan
kasar. Bau arak jelas dirasa di
bibirku. “Arghhhh … emmmmh ..
Pak …. jan … gan …..”
Lidahnya mulai melumati leherku
yang paling sensitif .. Aku sudah
tidak mampu untuk melawan nafsu
shahwat bapak. Di saat dia
melumati leherku, tangannya
memeluk tubuhku dengan erat
sementara sebelah tangannya
menggetel biji kelentitku. Dia
mulai meremas kedua putingku
dengan kasar sambil menjilatku di
leher lagi … “Pakkk ….”
desahku ..“. Arghhh …. sedapnya
pak … ” “Sedap eh .. nak tambah
sedap lagi tak … jawabnya sambil
meremas puting tetekku …”
Ohhhhhh … pakk ….“ desahku
Bapak mulai mencium mulutku lalu
melumati bibirku … Tubuhnya
basah dengan peluh itu menimpa
tubuhku dan tangannya tidak
pernah berhenti meraba
tubuhku .. Di saat kesedapan
disentuhi oleh bapakku sendiri, dia
mulai menjilati leher ku lagi, kali
ini dengan kasar ….
"Ouuhhhhh ….. Bapak …
Sedapnya …….” desahku lagi
Karena terasa diangkut dengan
gelombang nafsu Bapak kandungku
sendiri yang berusaha sungguh
untuk menjamah tubuhku .. aku
berubah kali ini bereaksi mencium
mulutnya yang berbau arak bertubi
tubi … Aku seperti hilang akal
akibat dirundung shahwat yang
tidak bisa terbendung itu .. Di saat
itu aku rasa aku terlalu terhutang
budi dengan Bapak .. Aku mulai
melawan ciumannya lalu merubah
posisi. Kali ini aku yang membalas
untuk mencium tubuhnya yang
sasa itu bertubi-tubi …
“Arrrghhhh …. Yanti …….” teriak
Bapak" Ya .. pak … “jawapku
sambil menjilat putingnya.
"Isap konek Bapak nak …” rayunya
Tanpa berpikir aku terus
memegang batang koneknya yang
mulai mencuat … Aku mulai
menjilat dan menghisapnya
dengan rakus … Wajah Bapak jelas
terpancar rasa kesedapan akibat
kelakuanku … Aku semakin merasa
geram lalu mengisap dengan kasar
batang koneknya karena ukurannya
makin membesar sepanjang 15inci
dan lebarnya sebesar bambu yang
besar … aku sudah tidak sabar …
Dengan tiba2 Bapak berdengus
lalu membalikkan badanku …
Batang koneknya yang besar itu
digesel2 di pintu lubang pukiku …
Gara2 perbuatan itu, air pelumas
pukiku mulai mengalir … dan
pukiku mulai rasa gatal minta
ditujah dengan batang konek …
“Pakk …. Yanti rasa gatal pak …..”
rayuku menahan perasaan Bapak
mulai terasa marah ….
“Kau dah rasa gatal eh perempuan
sundal, Kau dah giankan rasa konek
eh … itu sebab biar aku yang rasa
dulu … baru temu buku dengan
ruas …. Perempuan sial …
Memang perempuan umur kau gini
memang nak kena kasi konek tiap
hari … Kau ni macam arwah ibu
kau, selalu mintak bersenggama ..
Itu sebab kau tu bernafsu kuat!
Puki gatal miang "kata Bapak
sambil masih menggeselkan
koneknya dengan kasar di pintu
lubang pukiku … "Pak … jangan
siksa Yanti macam gini …”
“Argghh …. ermm …. Yanti tak
tahan …..” rayuku lagi. Bapak
mulai mengesek masuk batang
koneknya yang terhunus besar
perlahan lahan ke dalam puki …
Aku rasa gian dan ingin merasakan
batang konek ke dasar pukiku ..
Tapi Bapak seolah olah cuma mau
masuk sedikit demi dikit semata2
untuk menyiksa perasaanku ….
Bapak menjilat leher ku lagi ..
seperti sudah tahu itu tempat
pusat kelemahkanku .. “Ohhh ….
Bapak ….. Jan … gan siksa .. Yanti
camni …. Argghh ….” desahku
lemah" Habis kau nak bapak buat
apa ???!!… “ katanya sambil
melumati putingku. "Pak …. Yanti
tak tahan ……” jawapku keresahan.
“Tak tahan nak Bapak buat apa?”
Sambil menujah koneknya perlahan
ke dalam pukiku. “Masukkan ….
pak ….” kataku semakin berani.
“Masukkan apa ??!!!” herdiknya lagi
“Masukkan batang konek bapak
DALAM PUKI Yanti! Yanti DAH
TAHAN NIE !!!!!! - herdikku Kali ini
tanpa menunggu Bapak menujah
lalu menerobos batang koneknya
yang gagah itu ke dasar pukiku …
"ARRRGHHH !!!!!! SAKIT!!
PAKKKK !!!!!” jeritku … darah mulai
mengalir dari pukiku tanpa
dipedulikan Bapak “Rasakan
perempuan sial !!!… nak rasa
batang konek jantan sangat kan ..
Ambik kau! "Jawab Bapak sambil
mulai memompa pukiku dengan
kasar ..
Sedapnya rasa pukiku ditujah
dengan batang konek bapak …
Akibat ukurannya yang besar,
semua G Spot yang aku ada
semuanya terasa megakibatkan aku
terair lagi .. Nafsuku dan Bapak
sudah tak terbendung lagi .. Aku
tidak sangka perzinaan anak dan
bapak kandung begitu hebat …
Hubungan sedarah sangat
menghairrahkan pada waktu itu.
Benda benda yang terlarang
biasanya bila dicoba akan rasa
sedap. Ayah menpunyai tenaga
yang luarbiasa dan dia tidak
berhenti sekejap pun untuk terus
nafasnya .. Barangkali sebab
kerjanya kerja kasar.
Batang koneknya yang hebat itu
tertanam ke dasar pukiku dan
setiap kali Bapak memompa ke
dasar, terasa senak perutku
dibuatnya .. "Padan muka kau dara
kau Bapak ambik … asyik tengok
gambar orang memantat aje kan?!
Mulai hari ini kau harus nak layan
Bapak kat ruangan paham!!”
Ujarnya lagi Kali ini rambut
dijambak dan Bapak mulai
merubah posisi di belakangku lalu
mulai dengan posisi doggy …
“Sedap tak perempuan sial? …
Sedap tak konek bapak kau
sendiri?” tanya Bapaku sambil
membisik di telingaku sambil
memompa .. Sedap pak … Argh …
Nnghh …. sszz.sss sedap ….’
desahku lagi … “Mulai sekarang
nak main batang orang lain tak?
Tanyanya lagi samibil memompa ke
dalam pukiku lau biarkan ke dasar”
Tttak … Pakk ….“ jawapku
kesakitan karena rasa senak ..
"Habis konek sapa kau nak, betina
jalang? "kata Bapak, kali ini
menjilat leherku.” Arrrrgghh ……
nak .. konek … Bapak .. sorang …
ermm ….. nghsh .. “jawabku yang
sudah hampir tak bermaya … .
Ayah mulai membalikan tubuhku
terlentang laku memasukkan
batangnya yang sedap itu ke dasar
pukiku lagi … Kali ini dia memeluk
tubuhku dengan erat. Sambil
memompa dengan kasar, dia
memelukku dan mencium bibirku
bertubi tubi … "Bapak sayangkan
kau .. bapak cintakan kau …”
“Yanti jangan takut .. ayah akan
jaga Yanti dengan baik” “Yanti
jangan munafik dengan Bapak lagi”
bisiknya ke telingaku .. “Yanti pun
sayangkan Bapak … Yanti rindukan
Bapak …” “Yanti tak mau
tinggalkan Bapak ….” “Ohhh ….
Yanti!!” teriaknya sambil masih
memompaku mendalam dengan
kasar … Aku sudah tidak tertahan
akibat perasaanku yang terlalu
lama tersimpang … Aku mulai
melihat wajah Bapak dengan
penuh kasih sayang .. “Bapak ..
ambillah tubuh Yanti .. Yanti rela
dikerjakan Bapak tiap hari sampai
bila bila .. Yanti rela tubuh Yanti
dijamah setiap waktu dan tiap
hari …
Yanti akan jadi hamba seks
Bapak .. Orang lain tak perlu
tahu .. Saudara kita pun tak ambil
kisah tentang kita. Yang penting
Bapak sayang Yanti .. "Buat
pertama kalinya Bapak tersenyum
dan ternyata dia terlihat sangat
tampan dan macho.” Oh Yanti
Sayangku ….“ desah Bapak sambil
memeluk san menciumiku bertubi2
lagi Dalam saat ini konek Bapak
masih tertanam dalam kebijakan
pukiku …
Kami saling berpelukkan dan
berciuman dengan kasarnya. Kami
melampiaskan nafsu kami
sepanjang tengah hari itu hingga
waktu malam .. Aku sangat
tertegun dengan kehebatan nafsu
Bapak sebab setelah 8 jam kami
bersetubuh, dia masih mampu
bertahan. Batang koneknya kini
sudah jadi milikku .. masih keras
di dalamku .. Kali ini aku pula
memainkan perananku .. Tiap kali
Bapak memompa koneknya ke
dalam kebijakan pukiku, aku mulai
bertarung balik. Perbuatan ini
membuatnya rasa geram
denganku .. "Ahh … Yanti …
Bapak … nak lepaskan …
Bapak tak tahan lagi … kata Bapak
sambil menahan. Baiklah Pak ….
arrhhmmm … ermm … Yanti dah
tak tahan …..” desahku
“Arrrghhnnn Bapak yang lalu
dalam!” Teriaknya … Aku rasa
cairan panas mengisi ruang lubang
pukiku … Sangat sedap rasanya
“Pak ?….” tanyaku manja sambil
menghadap wajah Bapak yang
mengadapku. “Ya Yanti … "Yanti
makan obat perancang tau …”
kataku selamba “Ye ke … Jadi?
tanya Bapak” Yanti nak memantat
lagi ?…. Boleh ?…. “Tanyaku
lagi … seperti menggoda …”
Haha … sini kau … “jerit Bapak
kecil lalu merangkulku lalu
menindih tubuhku … Ayah mulai
menjilat leherku untuk
membangkitkan syahwatku …. kami
bersetubuhi berulang ulang kali
pada malam itu seperti pengantin
baru.
Rupanya aku baru dapat tahu
bahwa Bapak diberhentikan kerja
karena perusahaannya tutup .. Dia
diberi uang kompensasi sebesar $
60 ribu Akibat khawatir dia tidak
mampu membayai uang sekolah
aku dia pergi minum degan
teman2 senasib. Sepanjang libur
sekolah itu kami tidak kemana-
mana … Hanya pergi ke toko untuk
membeli barang dapur dan pil
perancang. Kami bersetubuh
sepanjang hari dan tiap2 hari dan
berhenti untuk makan atau ke
toilet.
Di rumah kami tidak berpakaian ..
Bapak lebih suka aku telanjang
agar senang untuk kami
bersetubuh ketika nafsu
mendatang. Tingkap dapur dan
kamar dan pintu selalu tertutup
agar tetangga tidak mengambil
tahu. Bapak memiliki nafsu seks
yang buas. Tiap pagi kami bangun
tidur selalu mulai dengan
memantat .. waktu aku masak
sarapan Bapak akan menjilat
leherku sengaja membangkitkan
nafsuku. Setelah makan waktu
mandi bersama, dia akan
menjamah tubuhku di kamar
mandi.
Apabila masak waktu tengah hari,
dia akan masukkan batang
koneknya yang idaman aku itu,
digesel gesel di bontotku saat aku
memotong bawang. Biasanya
perbuatan itu akhir dengan
persetubuhan dan Bapak akan
lepaskan air maninya ke dalam
rahimku. Pada waktu malam saat
menonton TV aku akan menhisap
batang koneknya hingga keras lalu
dipancutkan ke mukaku. Aku tidak
pernah jemu disetubuhi bapakku
sendiri karena batang konek Bapak
memang sudah jadi idamanku.
Bapak pula pernah mengatakan
bahwa perempuan muda remaja
seperti aku perlu sering disetubuhi
karena perempuan muda lebih
cepat resah kalau tidak dapat
dipuaskan nafsunya. Bapak pula
tidak pernah mencari perempuan
lain setelah ibuku meninggal
dunia. Kekosongnya dan nafsunya
tersimpan hingga dia
menyetubuhiku. Aku sadar
perbuatan kami memang terkutuk
namun kami merasa bahagia
bersama.
Aku sudah mengambil keputusan
untuk berhenti sekolah jadi aku
bisa luangkan waktu bersama
Bapak. Bapa pula akhirnya
mendapatkan kerja malam agar
dapat luangkan waktu siang hari
bersamaku. Hidup kami berlanjut
hingga kini

Spe minat cita2 fantasi jom share sme2

AMIR LEBIH HANDAL

“your’s is the best among the best”, bisik datin rose ke telinga amir ketika menikmati amir punya di kali pertama. Tak dapat nak diucapkan oleh datin rose betapa lazatnya sewaktu amir membenamkan batang paling hebat ke dalam celah kelangkangnya.


Hingga sendat saluran nikmat rose kena sumbat dengan batang amir yang melengkung macam pisang tanduk itu. Terangkat-angkat punggung datin rose dek kelazatan yang tidak terhingga. Sampai merah telinga amir digigitnya bila terasa terlalu sedap.


Datin rose masih ingat kejadian minggu lepas. Beberapa kali dia membisik kata-kata tersebut di telinga amir kerana kelazatan yang tak terhingga. Baru sekarang dia dapat merasai batang melayu.


Dan dia mengakui bahawa batang bersunat kepunyaan lelaki tersebut sungguh hebat. Amir mampu bertahan lama menyebabkan datin rose mencapai orgasme berkali-kali.


Sebagai isteri yang masih muda nafsu datin rose kadang-kadang tak terlayan oleh datuk lim yang telah melebihi separuh abad. Kadang-kadang datin rose seperti meminta-meminta agar datuk lim memenuhi keperluan batinnya.


Ada ketikanya datin rose hanya melancap sendiri bagi memuaskan nafsunya yang membuak-buak itu.


Hari itu nafsu datin rose kembali menggila. Datin rose tak mampu lagi melayan dirinya sendiri.


Datin rose membelek handphonenya dan mencari nama amir. Dia ingin amir memberi kepuasan kepadanya. Dia ingin amir membelai tubuhnya dan membenam senjata hebatnya itu.


“hello amir, kamu di mana?” Datin rose memula bualan.


“saya di johor bahru dengan datuk lim, apa hal datin?” Amir bertanya kembali.


“oohh.. Kamu di johor bahru, tak apalah,” datin rose menjawab lemah dengan nada kecewa.


Datin rose kecewa kerana amir tidak akan dapat memberi kepuasan kepadanya. Bagi datin rose nafsunya yang berada di ubun-ubun itu perlu dipuasi.


Kalau tak ada amir, mana-mana lelakipun tak apalah. Asal saja mereka mempunyai batang pelir yang keras, fikir datin rose.


Datin rose bangun dari katil dan bergerak ke tingkap. Dilihat rama pemandunya sedang mencuci kereta. Badan rama yang tak berbaju itu terlihat sungguh kekar. Datin rose memanggil rama dan melambai agar rama datang ke biliknya di tingkat atas.


Sesampainya di bilik tidur yang luas itu datin rose langsung menerpa rama. Rama yang hanya berseluar itu dipeluk penuh ghairah oleh datin rose.


Seluar rama dilondehnya. Rama amat terkejut dengan tindakan yang tak disangka-sangka itu. Rama berdiri kaku tanpa membantah tindakan isteri majikannya tersebut.


Dalam keadaan keliru itu rama mula terasa zakarnya yang terkulai layu itu disentuh dan diramas-ramas oleh datin rose.


Sebagi seorang lelaki yang normal maka zakarnya mula mengeras bila diramas-ramas dan dilurut-lurut oleh tangan yang licin halus kepunyaan wanita muda dan cantik.


Datin rose menarik tubuh rama ke tengah katil. Rama terbaring telentang di tilam empuk. Tilam lembut empuk sungguh nyaman. Rama mula membandingkan dengan keadaan rumahnya. Bilik tidur itu saja sama besar dengan keseluruhan rumah rama. Tilam di rumahnya hanya diperbuat daripada span nipis.


Tidak empuk macam tilam majikannya. Nafsu datin rose sudah meluap-luap. Zakar rama yang tercacak tegak di ramas kuat. Zakar hitam panjang hampir 8 inci itu dilurut-lurut. Kulit kulup yang masih menutupi kepala zakar ditarik-tarik.


Kepala zakar rama yang hitam berkilat terbuka. Tanpa lengah datin rose mencium penuh nafsu kepala licin. Bau istimewa menerpa hidung datin rose. Datin rose khayal dengan bau jantan tersebut.


Nafsunya tak dapat dibendung lagi. Zakar besar rama dijilat dan dikulum. Lidah comel datin rose menari-nari di permukaan kepala zakar yang licin halus. Hujung lidah meneroka segala lekuk dan takuk zakar rama. Kulit kulup dinyonyot dan diperah oleh lidah kasar datin rose. Digerak mulutnya maju mundur.


Rama kegelian. Rama rasa sungguh nikmat. Terasa seperti melayang-layang diangkasa. Selama tujuh tahun dia berkahwin, isterinya tak pernah mengulum dan mengisap batang zakarnya.


Datin rose kagum melihat zakar hitam terpacak kaku. Zakar suaminya tak sepanjang dan sekeras ini. Panjang zakar suaminya hanya 5 inci, berkepala kecil dan mempunyai kulit kulup macam zakar rama juga. Datin rose jarang mendapat belaian suaminya.


Kadang-kadang suaminya tidur pula bila nafsunya tengah memerlukan cumbuan dan belaian.


Kalau diminta juga, datuk lim melayan sambil lewa, tak sampai lima minit sudah selesai. Kadang-kadang bila mencecah sahaja di muara vagina, mani datuk lim telah terpancut. Datin rose belum mencapai klimaks, kecewa.


Rama terkejut juga. Datin rose yang selama ini dilihat lemah lembut rupa-rupanya ganas di tempat tidur. Rama terbaring kaku menikmati segala perlakuan datin rose.


Kelazatan dari batang zakar menjalar ke seluruh tubuh. Belum pernah dia merasai nikmat begini. Impian untuk meniduri datin rose dah tercapai. Rama tersenyum gembira.


Keghairan datin rose sampai ke puncak. Baju tidur tipis dibuka. Tetek pejal datin rose menjadi tatapan mata rama. Bulu ketiak hitam jarang-jarang terbentang di depan rama. Perasaan rama menjadi tidak menentu.


Dengan pantas dia membaringkan datin rose. Tanpa disuruh rama menerkam tetek kenyal datin rose.


Puting warna pink dinyonyot-nyonyot. Dihisap-hisap. Datin rose menggelinjang. Geli dan nikmat di pangkal dan di puting. Bibir lebam rama amat terampil melayan gunung mekar. Ketiak datin rose yang berbulu jarang dicium rama.


Kulit ketiak yang putih dijilat-jilat. Rama ingin melayan datin rose sebaik-baiknya.


Rama mahu datin rose akan sentiasa mengingatinya. Basah lencun ketiak datin rose kiri dan kanan oleh air liur rama. Lidah besar dan kasar rama membuat datin rose menjadi tidak keruan. Datin rose bertambah geli.


Badannya bergerak-gerak. Antara sedar dengan tidak datin rose mula mengerang keienakan.


“ahhh..ohhh..sedap rama, lagi, lagi,” suara datin rose tak teratur lagi.


Datin rose seronok dan enak dengan layanan rama. Suaminya tak pernah membelai seperti ini. Malah datin rose yang bertungkus lumus membangkitkan nafsu datuk lim.


Berpeluh-peluh datin rose mengocok dan melancap zakar suaminya sebelum bertarung. Kadang-kadang zakar En. Tan tak cukup keras bagi meneroka terowong nikmat datin rose. Kalaulah suaminya sehebat rama alangkah baik, keluh datin rose dalam hati.


 Dengan perlahan rama bergerak ke bawah. Kulit perut datin rose yang belum beranak dielus-elus. Pusat datin rose dijilat-jilat. Datin rose tak tertahan lagi. Punggungnya diayak kiri kanan. Ditonjol tundunnya tinggi-tinggi ke atas.


Muka rama melekat di tundun putih gebu. Diarahnya rama mengakhiri pertempuran. Diarahkan agar batang hitam panjang segera ditancap di taman indah.


Datin rose tak tertahan lagi ingin merasa batang besar itu menggerudi lombong syurganya. Rama tersenyum, tak perlu tergopoh-gopoh fikir rama. Isteri majikan yang selama ini menjadi idamannya perlu dinikmati selama yang boleh.


Mungkin kesempatan ini tak berulang lagi. Rama amat terpesona sejak hari pertama datin rose datang ke banglo itu. Dari dulu dia berangan-angan untuk bersama-sama dengan isteri majikan yang cantik dan muda itu.


Muka rama menghampiri paha datin rose. Ah, indah sungguh pemandangan. Paha mulus licin dan lembut. Kulit paha datin rose sungguh halus, gebu dan tiada walaupun secalit parut. Tundun tinggi gebu putih melepak.


Ada sejemput bulu halus menghiasi tundun indah. Bulu tumbuh cantik tanda sentiasa dirawat dan dijaga oleh datin rose. Rama menelan air liur menghayati pemandangan di hadapan.


Sungguh berbeza dengan tundun isterinya yang hitam, leper dan berbulu lebat. Zakar rama bergerak-gerak memberontak. Aliran darah memenuhi batang zakar. Rama mendekatkan wajahnya ke tundun indah. Bagai kueh pau terbelah.


Bibir luar membengkak, merekah. Terlihat sedikit bibir dalam. Indah macam kelopak bunga ros. Warna merah jambu.


Di sudut atas ada bonjolan kecil. Kelentit datin rose sebesar biji jagung warna merah jambu berkilat terkena cahaya lampu. Rama geram melihat kelentit indah datin rose.  Kelentit tak bersunat itu agak besar dan panjang.


Sejak dulu rama amat geram terhadap amoi-amoi cina. Paha-paha yang putih melepak selalu diperhati bila sekali sekala ke supermarket.


Ketiak licin amoi cina yang memakai baju tanpa lengan juga menarik perhatiannya. Kalau tidak ada undang-undang, rama rasa ingin memperkosa saja amoi-amoi tersebut.


Pelan-pelan rama menempelkan hidungnya ke taman datin rose. Aromanya sungguh nyaman. Rama menggeselkan hidungnya ke kelentit yang tertonjol. Aromanya amat segar, benar-benar membuat rama khayal.


 Rama melurutkan hidungnya ke bawah, ke celah rekahan bibir lembut. Datin rose mengeliat, paha terbuka luas. Indah sungguh, fikir rama. Rama menarik nafas dalam-dalam.


Rama ingin supaya sepasang paru-parunya dipenuhi dengan aroma vagina isteri majikan yang cantik itu. Rama berlama-lama di situ. Rama ingin menikmati sepuas-puasnya bau vagina datin rose.


Datin rose terketar-ketar kegelian. Terasa tubuhnya bagai melayang-layang. Punggugnya terangkat-angkat bila hujung hidung rama menyentuh mutiara pusakanya.


Cairan licin mula keluar dari taman datin rose. Aromanya makin keras, aroma khas vagina. Aroma yang benar-benar ingin dinikmati rama.


Selama ini rama hanya menghidu bau dari celana dalam datin rose yang diambilnya dari bilik cucian. Itupun dirasainya sungguh nikmat.


Rama mengeluarkan lidah menjilat cairan licin. Payau dan masin. Nikmat sekali. Lidah makin dijolok di lubang sempit. Lubang keramat datin rose diteroka.


Rama terasa lidahnya dikemut hebat dinding vagina datin rose. Lidah rama diramas halus oleh vagina yang mekar. Erangan datin rose makin jelas.


“ahh…ohhh…argh….sedap..sedap…” Datin rose menggelepar kesedapan.


Rama melajukan lagi jilatan. Maju mundur lidah rama di lorong sempit. Datin rose mula mengerang, merengek, bibir digigit mata mula menguyu.


Paha mulus dan pejal itu bergetar.getaran-getaran paha dan punggung bagaikan berlakunya gempa bumi. Tangan datin rose menggenggam erat besi di kepala katil.


Paha datin rose menjepit kepala rama. Datin rose mengerang keras, badan datin rose mengejang dan tiba-tiba cairan vagina menyirami seluruh muka rama. Datin rose terkulai lemas. Datin rose dah sampai ke puncak nikmat.


Keghairahan rama baru separuh jalan. Datin rose sudah lemah longlai. Rama terus mengganas. Cairan nikmat yang terbit dari vagina datin rose disedut dan dijilat hingga kering.


Ditelan cairan pekat licin. Kelentit datin rose dijilat penuh ghairah. Nafsu datin rose kembali bangkit. Ditolak rama hingga terlentang.


Datin rose bangun. Datin rose tak sabar lagi menunggu tindakan rama. Rama terlampau lambat. Badan rama dikangkanginya.


Tubuh datin rose tak dibaluti seurat benang. Muka datin rose menghadap rama. Tetek pejal tergantung kemas di dadanya. Rama geram melihat tetek berkembar yang sedang mekar.


Datin rose menurunkan badannya pelan-pelan. Muara vagina merah basah merapati zakar hitam keras terpacak. Zakar rama menunggu penuh sabar.


Terpacak keras sambil berdenyut-denyut. Bibir halus vagina datin rose mengelus-elus lembut kepala licin berkilat. Muara yang telah lembab mengucup lembut kepala licin hitam berkilat.


Rama melihat bibir merah basah mula menelan batang hitamnya. Punggung datin rose makin rendah hingga seluruh kepala zakar rama berada dalam lubang hangat. Vagina datin rose mengemut secara berirama.


Datin rose menurunkan lagi pantatnya. Seluruh zakar rama menerobos mengisi gua keramat. Rama dapat merasa kulit kulup zakarnya tertolak ke bawah. terowong nikmat yang hangat dan lembab diisi penuh oleh batang hitam berurat yang penuh tenaga.


Tetek datin rose dipegang dan diramas lembut. Kedua-dua tangannya bekerja keras. Tangan kasar pemandu membelai tetek pejal berkulit halus isteri majikan.


Datin rose merasa keenakan bila teteknya diramas. Suaminya jarang memegang teteknya walaupun disua ke depan muka.


Datin rose menikmati penuh khayal. Perasaan sedap dan lazat menjalar ke seluruh tubuhnya.Rama merasa batang zakarnya diramas-ramas. Hangat lubang vagina datin rose yang sempit. Datin rose mengemut.


Mula-mula pelan, kemudian makin cepat. Kemutan-kemutan tersebut beralun berirama. Punggung datin rose naik turun dengan laju. Batang besar rama penuh padat mengisi rongga sempit datin rose. Datin rose mengemut makin cepat dan pantas.


Rama tak tertahan, badannya bertambah kejang, maninya berkumpul dihujung zakar, pancutan tak terkawal lagi. Rama melepaskan pancutan dalam vagina datin rose yang lembab, hangat. Enam das dtembaknya.


Benih hindu yang segar menyemai ladang cina yang subur. Datin rose tak kisah kalau benih-benih itu bercambah dalam rahimnya. Itu urusan esok, yang penting merasai nikmat hari ini.Tiba-tiba datin rose menjerit keras,


“ahh…. Ohhh….arghhh… Enak rama, enak”.


Cairan panas menyirami kepala zakar rama. Kepala zakar basah kuyup disirami air nikmat. Rama berasa ciaran nikmat datin rose sungguh hangat, malah lebih hangat daripada cairan nikmat isterinya.


Terketar-ketar lututnya bila cairan hangat datin rose menyiram kepala zakarnya yang berkulit licin dan sensitif tersebut.


Datin rose terasa lemah. Sendi-sendi terasa longgar. Datin rose rebah di dada bidang berbulu kasar. Rama diam saja menikmati kesedapan.


Tetek datin rose menempel rapat di dada rama. Terasa geli bila tetek pejal bergesel degan bulu-bulu dada rama yang kasar. Hangat terasa di dalam bilik yang dingin.


Datin rose terkapar lesu di dada kekar. Dada rama yang berpeluh dicium. Bau keringat rama menerpa lubang hidung datin rose. Bau lelaki, fikir datin rose. Badan datuk lim tak berbau keras seperti bau badan rama. Datin rose suka bau keras badan rama.


Sepuluh minit kemudian rama melangkah lesu meninggalkan datin rose terlena pulas. Sebelum keluar sempat juga rama mencium taman mekar yang telah diairi. Bau lendir vagina datin rose bercampur maninya yang pekat dihidu.


Inilah bau nikmat seks, kata hati rama. Rama berjalan longlai ke muka pintu. Sambil menutup pintu rama menjeling ke arah isteri majikannya bertelanjang bulat terbaring di katil empuk. Rama berharap agar peristiwa ini berulang lagi.


Bila tersedar rama tiada lagi di bilik tersebut. Datin rose yang masih telanjang bulat meraba-raba taman rahsianya. Basah dan berlendir. Datin rose meraba bibir vaginanya yang terasa sengal.


Jari-jarinya basah dengan cairan lendir yang meleleh keluar dari lubang kemaluannya. Jari-jari itu dicium, bau cinta. Datin rose tersenyum. Rama memang hebat dan gagah, tapi amir lebih handal. Datin rose masih lagi tersenyum…

Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia.Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia. Bahagia.

–boycandra

*buat yang suka protes, boy candra cuma nulis galau mulu.
tuh, aku bisa tulis bahagia.

TERUSKAN

Pernahkah kita merasa kecewa, ketika menyebarkan kebenaran, namun ditolak?

Pernahkah kita merasa sakit hati, karena kebaikan kita dibalas oleh keburukan?

Pernahkah kita merasa menyesal melakukan suatu kebaikan, lantas tidak dihargai?

Pernahkah kita merasa ingin menyerah karena kenyataan tidak seperti yang kita harapkan?

Adalah wajar bagi kita untuk merasakan itu semua ketika kita tidak mendapatkan hasil sesuai yang kita inginkan, karena sejatinya kita ini manusia yang punya perasaan.

Banyak dari kita yang sempat berfikir untuk lebih baik menyerah, dan fokus saja untuk memperbaiki diri, tanpa perlu memikirkan orang lain. Bukankah syurga itu adalah urusan masing-masing?

Namun ternyata, ada hal penting yang kadang kita lupakan dalam menjalankan kebaikan, bahwa sesungguhnya, setiap manusia yang menyebarkan kebaikan, akan selalu menemukan tantangan.

Bukankah sudah sampai pada kita, kisah para sekumpulan orang, yang menyebarkan kebaikan, namun ia selalu dihadang oleh keburukan?

Bukankah para nabi, selalu ditentang sekalipun mereka menyampaikan kebenaran?

Bukankah para nabi disebut penyihir sekalipun itu adalah mukjizat?

Bukankah para nabi disebut disebut gila sekalipun mereka yang paling berfikir?

Bukankah para nabi disebut sesat sekalipun mereka itu menunjukkan jalan?

Bukankah para nabi selalu ditolak sekalipun mereka menawarkan kebaikan?

Bukankah memang begitu jalannya kebaikan? Mengalami hadangan sekalipun itu adalah kebenaran?

Bukankah memang begitu jalannya kebaikan? Sekalipun itu adalah jalan yang lurus, namun ternyata tidak mulus?

Ya, setiap kebaikan, akan selalu bertemu dengan tantangan, dan rintangan.

Maka jangan menyerah, sekalipun banyak masalah.

Bukankah kisah para nabi, selalu berakhir dengan bahagia, sekalipun nampak menderita di awalnya?

Begitu juga dengan kita. Karena bahagia adalah milik semua umat manusia.

TERUSKAN
Dumai, 13 Desember 2017