Jalan Sufi Jalan Menuju Allah

RINDU

Syaikh Ibn Khafif Rahimahullah mengatakan “Rindu adalah kenikmatan hati yang muncul dari perasaan kerohanian dan kecintaan untuk berjumpa dengan Allah dengan cara dekat [dengan-Nya].”

Salah seorang Sufi ditanya, “ Apakah engkau rindu kepada Allah?” Dia menjawab, “Tidak. Rindu hanyalah untuk orang yang tidak hadir sedang Dia selalu hadir.”

Fathu Rabbani - Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Radhiyallahu Anhu

MABUK CINTA ALLAH

Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali rahimahullah bahwa pada suatu hari Nabi Isa alaihis salam berjalan di adapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Dan pemuda yang sedang menyiram air itu melihat kepada Nabi Isa alaihis salam berada di hadapannya maka dia pun berkata, “Wahai Nabi Isa, mintalah dari Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku seberat semut Zarrah [semut paling kecil] cintaku kepada-Nya.” Berkata Nabi Isa alaihis salam, “ Wahai saudaraku, kamu tidak akan kuat untuk seberat semut Zarrah itu.”

Berkata pemuda itu lagi, “Wahai Nabi Isa, kalau aku tidak kuat untuk satu semut Zarrah, maka mintakan untukku setengah berat semut Zarrah.” Karena keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa alaihis salam pun berdoa, “Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat semut Zarrah cintanya Kepada-Mu.” Setelah Nabi Isa alaihis salam berdoa maka beliau pun berlalu dari situ. Selang beberapa lama Nabi Isa alaihis salam datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa alaihis salam tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa alaihis salam pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahwa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.

Setelah Nabi Isa alaihis salam mendengar penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah SWT, “Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku dimana pemuda itu.” Selesai saja Nabi Isa alaihis salam berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-gunung dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit.

Nabi Isa alaihis salam pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa alaihis salam, lalu Nabi Isa berkata, “Aku ini Isa.”Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu yang berbunyi, “Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Zarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya.”

ق

RABI'AH Al-ADAWIYYAH

Dikisahkan juga bahwa sepeninggal suami Rabi’ah Al- Adawiyah, Hasan Basri dan sahabat – sahabatnya pernah minta izin menemuinya. Mereka pun diberi izin , dan Rabi’ah pun duduk di balik tabir. Hasan Basri dan segenap sahabatnya menyatakan, “ Suamimu sudah meninggal dunia maka kamu harus menikah lagi “

Rabi’ah menjawab, “ Memang demikian seharusnya . Akan tetapi, siapakah yang paling alim diantara kalia kalian ? Saya bersedia dinikahi olehnya.”

Semua yang hadir saat itu serempak menyatakan, “ Hasan Basri “

“ Jika anda bisa menjawab empat macam pertanyaan, saya akan menyerahkan diri saya untuk anda”

“Silakan. Kalau Allah memberikan taufik kepada saya, saya akan menjawab” jawab Hasan Basri Rabi’ah memulai dengan pertanyaannya ,

“ Bagaimana pendapat anda, kalau saya meninggal. Apakah saya dalam keadaan iman atau tidak ? “ Ini sesuatu yang gaib. Dan tidak ada yang gaib selain Allah” Jawab Hasan Basri

Pertanyaan kedua, “Apa pendapat anda, kalau saya nanti dikuburkan dan ditanya oleh malaikat Munkr dan Nakir. Apakah saya mampu menjawab atau tidak ?“

“Ini juga sesatu yang gaib, sedangkan tidak ada yang tahu sesuatu yang gaib selain Allah,” jawabnya.

Pertanyaan ketiga, “Jika manusia dikumpulkan , lalu kitab catatan amalan diberikan, apakah saya akan menerima kitab catatan amal saya dengan tangan kanan atau tangan kiri?”,

“ Ini juga perkara gaib” jawab nya.

Pertanyaan terakhir, “Jika nanti manusia dipanggil sebagian ke surga dan sebagian lagi ke neraka maka saya berada dibagian mana?”

“Ini juga termasuk masalah gaib” jawabnya

Setelah Rabi’ah melontarkan keempat pertanyaannya dan tak satu pun sanggup dijawab oleh Hasan Basri, ia pun berkata, “Anda kebingungan dengan empat masalah ini, sungguh tak terbayangkan bagaimana anda malah sibuk dengan urusan kawin segala?” 

“Wahai Hasan” Lanjut Rabi’ah “Allah menciptakan akal ada berapa bagian?”

“Ada sepuluh bagian, Sembilan bagian bagi laki – laki dan satu bagian bagi perempuan” jawab Hasan Basri

Rabi’ah bertanya lagi,” Wahai Hasan, ada berapa bagian Allah mencitakan syahwat?”

“Ada sepuluh bagian, Sembilan untuk perempuan dan satu bagian untuk laki – laki” jawabnya.Akhirnya Rabi’ah menjawab “Wahai Hasan, saya mampu menjaga sembilan bagian syahwat itu dengan satu bagian akal. Dan kamu tidak mampu menjaga satu bagian syahwat itu dengan Sembilan bagian akal.”

Mendengar jawaban tersebut Hasan Basri menangis dan pulang.

Bagaimana dengan kita kaum laki – laki, mampukah kita menjaga syahwat kita dengan sembilan bagian akal kita?semoga Allah memberi kekuatan kepada kita agar mampu menjaga syahwat dengan sembilan bagian akal yang kita miliki.

Apabila Tuhan hendak memindahkan hamba-Nya dari kehinaan kekafikaran menuju kemuliaan ketaatan, Dia menjadikannya intim dengan bersendirian, kaya dalam kesederhaan, dan mampu melihat kekurangan dirinya. Barangsiapa telah dianugerahi semua ini bererti telah mendapatkan yang terbaik dari dunia dan akhirat.

AIR MATA ADAM

Semenjak Nabi Adam alaihis salam keluar dari Surga akibat tipu daya iblis, beliau menangis selama 300 tahun. Nabi Adam tidak mengangkat kepalanya ke langit karena terlampau malu kepada Allah SWT. Beliau sujud di atas gunung selama seratus tahun. Kemudian menangis lagi sehingga air matanya mengalir di jurang Serantip.

Dari air mata Nabi Adam itu Allah tumbuhkan pohon kayu manis dan pokok cengkih. Beberapa ekor burung telah meminum air mata beliau. Burung itu berkata, “Sedap sungguh air ini.” Nabi Adam terdengar kata-kata burung tersebut. Beliau menyangka burung itu sengaja mengejeknya karena perbuatan durhakanya kepada Allah. Ini membuat Nabi Adam semakin hebat menangis.

Akhirnya Allah SWT telah menyampaikan wahyu yang bermaksud, “Hai Adam, sesungguhnya aku belum pernah menciptakan air minum yang lebih lezat dan hebat dari air mata taubatmu itu.”

Zahrotur Riyadl

8 Pengertian Cinta Menurut Al-Qur'an

Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu
mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai'an
katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya
(man ahabba syai'an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta
sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai
dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang
dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti
kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi
orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka
berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka
bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti
perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Al-Qur'an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

1. Cinta Mawaddah

adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan
“nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu
berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia
ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta Rahmah

adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut,
siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis
rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding
terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang
kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi
kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.
Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian
darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari
itu maka dalam al Qur'an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham ,
yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri,
yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata
rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana
psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah
dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya
menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta
mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia
akhirat.

3. Cinta Mail,
adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara,
sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung
kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur'an disebut
dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada
yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang
lama.

4. Cinta Syaghaf.
Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil
dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad
syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir
tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur'an menggunakan term syaghaf
ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir
kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta Ra'fah,

yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan
norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak
tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur'an
menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah
menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus
hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta Shobwah,
yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku
penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur'an menyebut term ni ketika
mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan
Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja),
sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan
bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al
jahilin (Q/12:33)

7. Cinta Syauq (Rindu).
Term ini bukan dari al Qur'an tetapi dari
hadis yang menafsirkan al Qur'an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5
dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan
tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma'tsur
dari hadis riwayat Ahmad; wa as'aluka ladzzata an nadzori ila wajhika
wa as syauqa ila liqa'ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya
memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.
Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa
Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada
sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang
apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il
tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta Kulfah.
yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik
kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang
menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada
pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur'an ketika menyatakan bahwa
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la
yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

RINDU RASULULLAH SAW

“Aku rindu… aku rindu…”, kata Rasulullah Saaw ketika sedang duduk bersama para sahabat..,

para sahabat bertanya kepada beliau Saw,

“Siapakah gerangan yang engkau rindukan itu ya Rasulullah?”

“Aku rindu kepada saudara-saudaraku..”, jawab beliau Saw

“Bukankah kami ini saudara-mu ya Rasulullah?”, tanya para sahabat.

“Kalian sahabat-sahabatku dan aku mencintai kalian, namun aku sangat rindu kepada saudara-saudaraku”, jawab Rasulullah Saw.

Sahabat semakin penasaran dan sekali lagi bertanya kepada beliau Saw

“Ya Rasulullah, siapakah gerangan mereka yang engkau panggil dengan sebutan ‘saudaramu’ dan engkau sangat rindukan itu?”

Rasulullah Saww menjawab, “Mereka adalah umatku kelak, yang mana mereka belum pernah melihat wajahku, belum pernah bertemu denganku, belum pernah berbincang-bincang denganku, tetapi mereka sangat merindukanku dengan tulus, ikhlas dan penuh rasa hormat kepadaku, mereka adalah orang-orang yang melanjutkan perjuanganku dan tidak jarang pula mereka meneteskan air mata karena menahan rindu yang sangat kepadaku, aku rindu kepada mereka dan aku ingin bertemu dengan mereka…”

 السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ, أَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ الرِّسَالَةَ وَأَقَمْتَ الصَّلاَةَ وَآتَيْتَ الزَّكَاةَ وَأَمَرْتَ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَيْتَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَعَبَدْتَ اللّه مُخْلِصاً حَتَّى أتَاكَ الْيَقِيْنُ فَصَلَوَاتُ الله عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ وَعَلَى أهْلِ بَيْتِكَ الطَّاهِرِيْنَ

Syaikh Hasan Al-Bashri Rahimahullah mengajarkan, “Carilah kemanisan dalam tiga hal: sholat, dzikir kepada Allah, dan membaca Al-Quran. Kemanisan hanya dapat ditemukan di situ, atau tidak sama sekali. Jika engkau tidak menemukan kemanisan di dalam ketiga hal itu, maka ketahuilah bahawa pintu telah tertutup [bagimu].”
—  Ar Risalah Imam Qusyairi Rahimahullah

ANAK KECIL INGIN KE MAKAM RASULULLAH SAW

Pada zaman Al Imam Al-Hafiz Wajihuddin Abdul Rahman bin Ali bin Muhammad al-Syaibani al-Yamani al-Zabidi al-Syafie ( pengarang maulid Dibai), dikala waktu sang imam ingin ziarah ke Makam Rasulullah SAW dari kota Yaman ke kota Madinah bersama para sahabatnya dan jammaahnya. Ada seorang anak kecil yang ingin sekali melihat Makam Rasulullah SAW, Al Imam menanyakan kepada salah satu sahabatnya. ”Ini anak siapa? Apa yang ingin ia lakukan?”

 Dan salah satu sahabatnya mengatakan

 ”Ia ingin ikut perjalanan kita, Ya Imam.”

 Lalu Al Imam itu menjawab,

 “Tidak boleh karena perjalanan ini sangat jauh dari kota Yaman sampai Madinah menepuh jarak 4 sampai 1 minggu perjalanan itu pun naik kuda.”

Lalu anak itu pergi karena tidak di izinkan oleh Al Imam Al-Hafiz Wajihuddin Abdul Rahman bin Ali bin Muhammad Al-Syaibani al-Yamani al-Zabidi al- Syafie. Tapi waktu dalam perjalanan menuju kota Madinah anak itu diam- diam ikut dan mengumpat di bawah kereta kuda Sang Imam tersebut,ia hanya bergelantungan di antara roda-roda kereta kuda tersebut. Dalam perjalanan ia tidak makan dan minum selama 1 minggu perjalanan karena sangat ingin sekali melihat Magam Rasulullah SAW dan sangat mencintai Rasulullah SAW.

Dan setelah satu minggu rombongan tersebut sampai di kota Madinah. Tiba-tiba ada seorang sahabat yang berteriak

 “ Ya Allah, ini anak kecil yang kemarin dilarang olehku untuk ikut bersama kita tetapi ia pun ikut bersama kita anak tidak melihat anak kecil ini selama perjalanan. Kemudian anak kecil itupun langsung berlari dan mengambil debu, meyirami debu kewajahnya sampai tidak bisa bernapas dan meninggal di kota Madinah ia pun belum sempat berziarah Makam Sayyidina Muhammad SAW karena sangat bergembira sudah sampai kota Sang Nabi, lalu Al Imam Al-Hafiz Wajihuddin Abdul Rahman bin Ali bin Muhammad al-Syaibani al-Yamani al-Zabidi al-Syafie pun menangis melihat anak kecil ini yang sangat mencintai Rasulullah SAW. Lalu di sepakati oleh rombongan dan Imam untuk menguburkan anak itu di kota madinah, lalu berbeberapa hari Al Iimam Al-Hafiz Wajihuddin Abdul Rahman bin Ali bin Muhammad al-Syaibani al-Yamani al-Zabidi al-Syafie di kota Madinah dan sempat menziarahi makam anak kecil tersebut ia melihat makam tersebut bergeser mendekati Makam Sayyidina Muhammad SAW . SAMPAI SEKARANG MAKAM TERSEBUT MASIH ADA DAN MAKAM TERSEBUT ADA DI SEBERANG MASJID NABAWI.

 Al imam Al-Hafiz Wajihuddin Abdul Rahman bin Ali bin Muhammad al-Syaibani al-Yamani al-Zabidi al-Syafie pun menagis di dalam rumahnya “Aku ini adalah seorang imam tapi aku malu melihat kecintaan seorang anak yang sangat mencintai Rasulullah SAW. Dan sang Imam pun menulis riwayat perjalanan anak kecil tersebut di Maulidnya.

MAJNUN DAN LAYLA

Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit. Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi.

Para tabib menyarankan bedah, “Sebagian darah dia harus dikeluarkan, sehinggu suhu badan menurun.”

Majnun menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah terhadap saya.”

Para tabib pun bingung, “Kamu takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar hutan seorang diri. Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”

“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun.

“Lalu, apa yang kau takuti?”

“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”

“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yang dibedah badanmu.”

“Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku. Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.”

( Maulana Jalaluddin Rumi qs )

Keluarga Suci Sayyidah Fatimah Az Zahrah

Pada suatu hari, Rasulullah saw datang ke rumah Fatimah. Beliau Saw melihat putrinya itu dlm keadan bersedih berlinang air mata. Rosul saw bertanya : “ Wahai permata hatiku ! mengapa engkau bersedih dan menangis?”

Fatimah menjawab,”Wahai Rasulullah ! ini hanyalah sekedar berita bukan pengaduan; telah tiga hari lamanya dirumah kami tidak terdapat makanan. Dan Al-Hasan serta Al-Husein telah berada dlm keadan lemah ; tidak bertenaga karena menahan lapar. Dan hari ini mendengar keduanya mengucapkan kata-kata yang dalam hal ini saya tak mampu mngungkapkannya kepada Anda.”

Rasulullah saww bertanya, “Apa yang telah mereka katakan?” Fatimah menjawab, “Mereka berkata , ‘Apakah didunia ini ada anak yang kelaparan seperti kita?’ dan tatkala saya mendengar kata-kata ini dari lisan mereka, maka saya merasa seakan-akan dunia ini gelap gulita.”

Kemudian , Fatimah a.s berkata , “Wahai ayah! Apakah seorang hamba, dalam bermunajat kepada Allah, dibenarkan untuk mengeluhkan kesulitan yang tengah menimpanya?” Rasulullah saw menjawab, “Wahai putriku ! ketahuilah bahwa Allah Swt amat menyukai keluh-kesah hamba-Nya.”

Sayyidah Fatimah segera bangkit dan masuk kekamar, kemudian menunaikan shalat dua rakaat. Setelah selesai menunaikan salat dan mengungkapkan keperluannya, dia berkata, “ Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa para wanita tidak memiliki kekuatan dan ketegaran sebagaimana para Nabi; ayah saya mampu untuk menahan lapar , tetapi saya tidak mampu bertahan . Berilah kekuatan kepada saya atau bebaskanlah saya dari kesulitan dan penderitaan ini.”

Setelah mengungkapkan kalimat ini, Sayyidah Fatimah jatuh pingsan. Dalam pada itu, Jibril a.s datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, bangkitlah ! Rintihan Fatimah membuat para malaikat menjerit.”

Rasulullah saw pun menyaksikan Sayyidah Fatimah dalam keadaan pingsan. Beliau saw duduk, lalu mengangkat kepala Sayyidah Fatimah dan meletakkan(nya) ditangan beliau saw. Dan tatkala beliau Sayyidah Fatimah mencium aroma harum Rasulullah saw, diapun tersadar dan berdiri serta menundukkan kepala.

Rasulullah saw berdiri dan meletakkan tangan suci beliau saw ke dada Sayyidah Fatimah dan berkata, “Ya Allah selamatkan dia dari pedihnya rasa lapar.”

Sayyidah Fatimah berkata, “Berkat doa itu, aku sama sekali tidak pernah merasa lapar.”

God is exceedingly near to you. Whatever thought and idea you conceive, God is next to it. For He gives existence to the thought and idea and places it before you. But He is so near that you cannot see Him. What is so strange about that? Whatever you do, your intellect is with you, initiating the action. But you cannot see the intellect. Although you see its effects, you cannot see its essence.
—  Fihi Ma Fihi 172/180  - Mawlana Jalaluddin Rumi
MATI SEBELUM MATI

Mati Sebelum Mati

Mengkaji Mati Sebelum Mati (Terlepasnya Ruh dari Jasad)

 

Mati Tabi’i

Mati tabi’I merupakan pintu pertama musyahadah dengan Allah. Mati ini berlangsung saat seseorang melakukan zikir Qalbi dalam zikir Lataif. Dengan karunia Allah, ia fana/lenyap pendengaran secara lahir, tapi secara bathin mendengar zikir Allah…Allah….

Pada tingkatan ini, mula-mula hati berzikir kemudian beralih ke mulut dan lidah, akhirnya berzikir dengan sendirinya. Dalam tahap ini perasaan mulai hilang/mati tabi’I, akal dan pikiran tak berfungsi lagi. Disini mulai masuknya ilham berupa Nur Ilahi dalam hati dan seolah-olah telah berhadapan dengan Allah. Telinga batin yang berfungsi disini dan hati mulai berbisik “ INNANII ANAA ALLAH”. Karena suara hati qalbi naik ke mulut, maka dengan sendirinya lidah bergerak mengucapkan ALLAH…ALLAH. Pada tanjakan-tanjakan batin seperti ini mulai memasuki pintu fana yang pertama yakni fana fil af’al dan tajali fil af’al. Hal ini disebabkan oleh tuntunan dari Allah, seperti dalam firmannya “Tiada perbuatan, gerak dan diam seseorang selain Allah”.

Mati Maknawi

Mati maknawi terjadi pada saat seseorang melakukan zikir Latifatul Roh dalam zikir Lataif. Dalam kondisi mati maknawi, penglihatan secara lahiriah hilang lenyap dan seolah-olah semua pendengaran telah di kuasai oleh mata hati. Maka zikir Allah pada tingkat ini semakin meresap ke seluruh tubuh hingga terasa panasnya di sekujur tubuh dan setiap bulu roma. Perasaan keinsanan mulai tercengang, persendian mulai bergetar yang dapat menyebabkan seseorang jatuh pingsan disebabkan oleh sifat keinsanannya telah lebur dan mulai di liputi oleh sifat kebaqa’an Allah. Pada tingkat ini menandakan seseorang telah memasuki fana fil sifat, sifat kebaharuan dan kekurangan serta perasaan telah lenyap yang ada hanyalah sifat ke Tuhanan yang sempurna dan Tajalli.

Mati Sirri

Mati ini terjadi saat seseorang melakukan zikir Latifatul Sirrih dalam zikir Lataif. Pada tahap ini seseorang akan memasuki yang di sebut dengan “MA’RIFATAN BIRABII”, yakni berhadapan langsung dengan Zat Yang Maha Pencipta. Rasa keinsanan telah lenyap dan dalam wujud yang gelap karena di telan oleh alam ghaib memasuki Nur Af-‘Allullah, Nur Sifatullah, Nur Asmaullah, Nur Zatullah, Nurul ‘Alaa Nurin..

Mati Hissi

Terjadi ketika melakukan zikir Latifatul Hafi dalam zikir Lataif. Pada zikir ini akan memasuki ke tingkat alam yang tertinggi yang di namakan “MA’ARIFA FII RABBI”, yang di sebabkan lenyapnya segala sifat-sifat ke insanan seseorang yang baharu dan tinggallah sifat-sifat Tuhan yang Qadim/Ajali, sehingga bersatulah antara “Abid dan Ma’bud, Khalik dan Makhluk, Jalal dan Jamal. Dalam keadaan ini akan mengalami keadaan yang tidak pernah di lihat oleh mata, tidak pernah terlintas dalam hati manusia.

Musyahadah dengan melalui mati, seperti Sabda Nabi SAW “Rasakanlah mati sebelum engkau mati”. Dalam kitab Hikam Abu Ma’jam berkata: “Barang siapa yang tidak merasakan mati, niscaya ia tidak dapat melihat Allah” Jadi maksud mati ialah hidupnya hati dan tiada saat kehidupan hati melainkan saat matinya nafsu. Selanjutnya dalam kitab Al-Hakim yang artinya: “Tiada jalan masuk/musyahadah dengan Allah kecuali dengan melalui pintu mati, salah satu dari pintu itu adalah Fanaul Akbar yaitu mati tabi”…