Hindia

5

Meenakshi Amman Temple, Madurai, Tamil Nadu, India

It is dedicated to Parvati, known as Meenakshi, and her consort, Shiva, here named Sundareswarar. The temple forms the heart and lifeline of the 2,500 year old city of Madurai and is a significant symbol for the Tamil people, mentioned since antiquity inTamil literature though the present structure was built between 1623 and 1655 CE.

5

For many years, Rita Woetamani I was sought after for her herbs and potions that could mend any ailment and problem. Her husband Klaas de Haven was a botanist and scholar from Europe eager on discovering the flora of the East Indies, and for the love of his life, he built her the Glass House to house her collection of plants.

It was nearly a century and a half ago that she planted the first tree at Taman Gagak. It was a majestic wonder of nature, and she said it was sacred. The day her granddaughter hung herself from the tree, the tree shed its leaves and never grew a single leaf since.

8

Today I spent seven hours in this glorious building at my university, the Asian Library (yes it’s not a very creative name but that’s okay). The building is comprised of three floors and it’s amazing.

There are books in or about basically any Asian language you can imagine, from the more commonly-studied ones like Chinese, Japanese, and Korean to others like Tibetan, Mongolian, and Sanskrit. In total, there are eleven or so languages for which there’s a pretty large collection of books.

Some of the coolest materials I found (a very very short list): 

  • Japanese-Sinhala dictionary 
  • Mongolian-English-Japanese dictionary
  • Mongolian-German-Russian dictionary
  • a Beijing slang dictionary
  • a grammar of Hindi
  • a Chinese film with German subtitles

Basically I’ve decided where I’m gonna live from now on. 

Tan Malaka yang Menjadi Tabu di Atas Tabu

Segala yang berbau PKI (Partai Komunis Indonesia) bukan hanya tabu tapi secara resmi memang terlarang dan dilarang oleh negara. Bedanya: PKI yang ditabukan pun mengharamkan Tan Malaka.

PKI tak menyukai Tan Malaka. Dalam sikap resmi PKI, Tan Malaka adalah pengkhianat, Trotskyist, bahkan disebut sebagai antek imperialisme.

Di hari-hari sekitar kudeta 1948 di Madiun, Musso yang baru pulang dari Moskow mencaci maki Soekarno-Hatta sebagai antek Jepang penjual Romusha. Tapi Musso merasa tak cukup hanya memaki Soekarno-Hatta, dia masih merasa perlu untuk menyeret Tan Malaka dan menyerangnya dengan keras, bahkan kasar.

Orang-orang PKI yang selamat dari pembantaian 1965 beberapa di antaranya masih merawat pertentangan dengan Tan Malaka. Dalam bab terakhir bukunya mengenai kudeta Madiun 1948, Harry Poeze melakukan survei terhadap tulisan-tulisan mengenai kudeta Madiun yang ditulis pasca 1965. Dalam survei itu Poeze menemukan beberapa tulisan orang PKI yang masih membawa-bawa Tan Malaka, selain Soekarno-Hatta tentu saja, dalam analisisnya mengenai kudeta di Madiun itu.

Peristiwa 1925-1926, saat Tan Malaka menolak rencana perlawanan bersenjata PKI terhadap pemerintah kolonial, menjadi dendam yang menahun.

Bagi Tan Malaka sendiri, peristiwa 1926 itu jadi erupsi yang meledakkan perpisahannya dengan PKI, juga Moskow. Dan sejak itu Tan Malaka mulai mendapat sebutan Trotskyist, cap tidak enak yang biasa disematkan di jidat orang-orang yang tak setia dengan garis resmi politik Soviet.

Jika PKI menjadi tabu karena secara resmi memang dilarang oleh negara, Tan Malaka tak pernah benar-benar menjadi sosok terlarang. Negara bahkan mengakuinya secara resmi sebagai pahlawan nasional pada 1963. Presiden Soekarno sendiri yang menandatangani beleid pengangkatan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional. Dan beleid itu tidak pernah dicabut. Jadi, status kepahlawanan nasional Tan Malaka itu clear, jelas, tanpa keraguan.

Keep reading

Proklamasi: Aku Mencintaimu

Proklamasi.

Aku, pengagum rahasia, menyatakan bahwa:

  1. Senyummu, serupa senja. Seindah lembayung senja Dewata. Tak pernah pudar indahnya walau ribuan badai menerpa.
  2. Bibirmu, serupa samudera. Dua samudera, Pasifik dan Hindia. Menghimpit Nusantara, membuatnya begitu indah dipandang mata.
  3. Matamu, serupa Khatulistiwa. Mencipta iklim tropis ditiap tatapnya. Memberi hangat yang tak terkira.
  4. Pipimu, serupa Indonesia. Mengembang ketika senjamu menyapa. Membentang dari Sumatera hingga Papua; dengan kearifan lokal ditiap cubitannya.
  5. Kamu, serupa Nusantara. Indah sebagaimana mestinya. Seperti Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua, bermacam tingkah polanya, tapi tetap membuatku jatuh tak bersisa.

Aku mencintaimu, setulus nyanyian lagu Indonesia Raya.
Aku mencintaimu, semudah dan sesulit pelajaran Bahasa Indonesia.
Aku mencintaimu, seperti Soekarno-Hatta mencintai Indonesia.

Ini adalah proklamasiku. Proklamasi aku mencintaimu. Sesederhana itu.

Atas nama pengagum rahasia,

Pencinta Nusantara


Dicho, 2016. Dua tujuh - Tiga - Dua puluh enam belas. Ditulis saat hujan berjabat dengan senja, ketika Nusantara sedang indah-indahnya.

Jangan Ge Er, Ah


Mungkin karena lingkaran tumblr itu-itu saja, akhirnya kita banyak mengenal dan berkomunikasi dengan sesama pengguna.

Penyakit yang kemudian muncul adalah, ketika membaca sebuah tulisan, kadang kita merasa, “ih pasti tulisan itu buat gw, kan tadi habis berantem sama gw.” atau, “iiiih si itu romantis banget nulisnya, pasti buat gueee…” padahal gak ada hubungan apa-apa.

Aduh, memang ya kita tidak bisa mengontrol penerjemahan maksud tulisan kita pada orang lain. Itu kenapa saya sering detail menuliskan sesuatu, menceritakan latar belakang tulisan saya berupa kejadian. Yang akhirnya dapat kritik juga, katanya itu terlalu pribadi.

Saya sendiri kadang kurang peka dengan barrier pribadi. Apa yang saya anggap informasi (tentang diri sendiri) sambil lalu, ternyata bisa jadi sesuatu yang pribadi menurut orang lain. Sebaliknya, apa yang dianggap orang biasa saja, bagi saya sangat pribadi.

Di sisi lain, seringkali saya malas menulis panjang, akhirnya menyingkat plot sehingga salah dimengerti orang lain. Lalu menyinggung beberapa orang. Padahal, maksud saya tidak demikian.

Tenang saja, jika saya kesal pada orang, saya akan lebih dulu kirim message privat kok. Tidak akan hanya menulis tentang itu. Kalau di chat atau PM saya dengan baik menjawab, maka memang saya tidak marah. Kalau saya marah, saya juga akan ketus menjawab. Bahkan dingin. Sudah ada kok akun yang saya marahi, dan beberapa akun yang saya jawab dengan dingin.

Perlukah saya jelaskan bahwa saya tidak suka bersikap dua muka? Tidak perlu ya. Kecuali kalau masalah percintaan, itu beda lagi (iya dong!! Masa iya, suka bilang suka gitu aja. Kan ada yang namanya gengsi).

The point is, jangan terlalu peka dan baper ah pada medsos. Kadang kita menyama-nyamakan kondisi kita pada sebuah tulisan dan menganggapnya buat kita. Kita lalu kesal, tersinggung, dan jatuh cinta pun.

Saya sendiri sedang bingung juga. Makin banyak yang baca blog kita, tentu makin banyak apresiasi yang berbeda. Ada yang ga suka, ada yang suka, ada komen begini begitu, ada yang menilai kita jelek, dan lain-lain.

Ya memang kita tidak bisa mengontrol pikiran orang lain kan? Pada akhirnya, memang penerjemahan sebuah tulisan tergantung pembaca sih. Seperti kata Pak Sapardi Djoko, bahwa tentu saja beliau punya latar belakang dan maksud tertentu dalam puisinya, namun soal penerjemahaannya, terserah pembaca mau menerjemahkan bagaimana sesuai pikiran dan kapasitas masing-masing.

Saya suka dengan kritik-kritik yang masuk, menjadi evaluasi bagi diri saya sendiri. Karena walaupun pada awalnya saya membuat blog ini untuk nyampah senyampah-nyampahnya dan menulis sengawur-ngawurnya, sekarang ada rasa khawatir juga bahwa apa yang saya sampaikan atau cara penyampaian ternyata kurang baik. Dan saya sangat berterima kasih untuk itu.

Saya bahkan tidak masalah kalau ada yang benci karena pola pikir saya. Haters, istilahnya. Paling mereka akan unfoll. Dan itu saya persilahkan, karena barangkali tulisan saya membuat mereka kurang nyaman. Lha wong akun sekelas mas-mas yang pintar berkata manis dan romantis saja punya banyak haters kok, apalagi yang seupil cem saya?

Yang saya kurang nyaman adalah ketika apa yang saya sampaikan diterjemahkan berbeda kemudian menimbulkan dampak buruk. Juga pada beberapa tulisan sinis saya, ada yang merasa tersindir lalu tersinggung. Tapi lagi-lagi, ini tidak bisa dikendalikan. Yang bisa saya lakukan ya lebih berhati-hati ketika menulis. Sebab, masing-masing orang datang membaca dengan pengalaman yang berbeda-beda, sehingga penerjemahannya berbeda.

Oke, pasti di luar sana banyak yang tersinggung juga pada saya. Saya memohon maaf sebesar-besarnya jika saya salah dan melukai perasaan orang-orang tertentu. Kalau ada kecurigaan apakah saya menulis tentang Anda, silahkan japri saya untuk konfirmasi dari pada Anda menduga-duga sendiri.

Saya juga minta maaf pada beberapa akun yang saya marahi dan saya jawab chat nya dengan dingin. Dan semuanya laki-laki kok. Pada perempuan, biasanya hanya saya diamkan.

Juga kalau ada yang Ge eR dan merasa beberapa tulisan menye-menye saya tentang Anda, pffftt….bisa jadi iya sih. Ga usah senyum-senyum sendiri!! Iya kamu, ga usah senyum-senyum!! **emot muka nyebelin sambil bawa tongkat kasti**

**nah kan, saya yakin akan ada orang yang ge er membaca paragraf di atas. Padahal, ‘kamu’ itu siapa kan gak jelas**

Sebanyak apa sih Din followers lo sampe belagu banget nulis begini? Yang sekelas ********* aja biasa aja kok.

Allahuakbar,

bukan begitu maksud saya. Kalem we, saya mah hanya butiran marimas di antara pasir berbisik di Samudera Hindia. Saya menulis begini karena ada latar belakangnya. Dan juga, saya sadar bahwa tulisan saya memang sengak, kadang kurang terkontrol informasi dan susunan bahasanya. 

Saya tidak ingin dijadikan alasan maklum, tapi saya orang pesisir Jawa Timur, yang lebih terbuka dan keras dalam menggunakan bahasa. Barangkali, bagi sebagian orang, ini kurang bisa diterima.

Yuk ah, sama-sama instropeksi. Sebagai yang menulis, lebih berhati-hati. Sebagai yang membaca, kurangi baper di antara kita.

I really deeply apologize for all those bad things that i post. Feel free to unfollow. :)

Tuban, 16 Desember 2015

hadiah

“What is important is not how much we have, but how much barakah there is in what we do have”

Saya inget sama pengalaman waktu ngajar kewirausahaan di kampus almamater taun lalu. Di tengah pengumuman acara keakraban kelas lewat pertandingan futsal, muncul pertanyaan dari mahasiswi di baris tengah, “Ada hadiahnya enggak, kak?”. Saya mengawali tanggapannya dengan tersenyum simpul lalu berujar, “Kalau yang kamu maksud bingkisan, enggak ada. Tapi selainnya, ada. Kamu jadi lebih sehat dan akrab sama temen-temen. Cukup enggak?”.

Saya pun menukil secuil intisari pengalaman berwirausaha selama sewindu terakhir buat mereka. Soalnya untuk para wirausahawan pemula, penempatan pola pikir terbilang penting sebagai modal untuk mengarungi perjalanan berniaga. “Nanti kalau hadiah selalu dianggap sebagai bingkisan, kalian bisa luput sama bentuk hadiah lain lho. Ibarat rejeki, kalau mutlak dianggap sebagai uang, kalian bisa jarang bersyukur. Soalnya satu dari sekian banyak hadiah buat bisnis mungkin bentuknya kepercayaan. Apa jadinya kalau misal pelanggan dan pemasok enggak percaya kita lagi?” pungkas saya.

Untuk sebagian orang, hadiah bermakna benda-benda penyemarak suasana hati. Ia mencakup perhiasan, pakaian atau bahkan kendaraan. Buat sebagian yang lain, hadiah berbentuk seluruh rejeki yang disediakan-Nya untuk semua makhluk dalam mengarungi hidup secara berkelanjutan. Ia mencakup peran organ-organ tubuh yang bergulir otomatis, udara yang segar untuk dihirup atau flora-fauna yang bertautan di skema rantai makanan. Beda makna, beda pula rasa syukur yang terlahir.

Juga terselip kata “berkah” di balik obrolan menyoal rejeki. Konon, cuma ada sedikit kebermanfaatan dari rejeki yang enggak berkah - segimanapun berlimpah. Sering kita simak kisah kemakmuran yang justru membikin si empunya tambah gelisah. Disimpulkan dari tulisan seorang ulama, berkah berarti ketenteraman yang menetap dan berakarkan ketaatan kepada-Nya. Dengannya, kita dibuat lebih telaten untuk mengamati dua hal penting setelahnya. Seberapa luas arti rejeki? Dari tiap pertambahannya, akankah ia makin mendekatkan atau menjauhkan kita dari kebahagiaan?

Makanya kenapa, saya ngerasa perlu membagi pola pikir tentang makna rejeki di kelas pagi itu. Toh tanpa uang yang banyak, bisnis bisa berlangsung lancar karena disokong oleh kepercayaan pelanggan dan pemasok yang baik. Dengan keyakinan pelanggan, kita enggak kehilangan pembeli. Dengan keyakinan pemasok, kita enggak kehilangan suplai bahan baku. Keduanya cukup jadi alasan penting buat para wirausahawan kenapa kepekaan yang dipunya harusnya bisa memantik rasa syukur karena perniagaan mereka jadi titik perantara dari sambungan jalur rejeki-Nya yang terbentang maha panjang.

“Misalkan saya penggemar baso ikan. Siapa sangka kalau ikan-ikan tenggiri yang lagi asyik berenang di Samudera Hindia, tersangkut jaring nelayan pesisir, disayat, dibekukan dan dikirim ke pengepul di Bandung lalu nyampe di tangan penjual baso untuk diolah. Belum lagi aneka bumbu dan rempah yang tersebar di seantero Pulau Jawa. Semua keanekaragaman hayati itu bermuara di panci abang baso yang meneruskan olahannya ke perut saya. Betapa jauh petualangan para ikan di laut selatan hingga berlabuh di pencernaan saya. Betapa bermanfaat perjalanan panjang itu sehingga menyebabkan banyak pihak kebagian mencicipi manisnya perguliran rejeki”

Sejarah pernah mencatatkan orang-orang saleh di masa lampau yang berujar tentang kunci ketenteraman, “Ridhalah terjadap ketetapan-Nya, maka kau akan menjadi manusia yang paling bahagia. Dan ridhalah terhadap pembagian-Nya, maka kau akan menjadi insan yang paling kaya”. Ternyata, untuk merasa bahagia dan kaya, keridaan amat dibutuhkan sehingga keberlimpahan hadiah dari-Nya terasa begitu menyemarakkan hati saat ia hadir dalam bentuk apapun. Dengan syukur, kesempitan mana yang enggak terasa melapang? Dengan syukur, pemberian apa yang enggak terasa mencukupi?

Yang berlimpah, belum tentu berkah. Yang berkah, insya Allah berlimpah. Inginnya, ikhtiar kita terarah untuk menjemput yang berlimpah juga penuh berkah. Karena, apalah artinya saat yang berlimpah jadi musabab datangnya musibah?

Sumpah Pemuda dan Gerakan Menolak Move on

Sumpah pemuda merupakan tonggak besar dalam sejarah gerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini juga dianggap sebagai roh kristalisasi untuk menegaskan cita-cita berdirinya republik ini.

Hal tersebut diputuskan melalui konggres pemuda pada 27-28 Oktober 1928, di Batavia, yang kini lebih dikenal dengan Jakarta. Hasilnya berupa pengakuan pemuda yang berjanji satu negara, satu bangsa, dan satu bahasa.

Peristiwa besar dalam sejarah republik ini tak luput dari campur tangan seorang Mohamad Yamin. Pria yang kisah asmaranya kurang dikenal masyarakat (sehingga pemuda Jong Soerabaja seperti @kopigenic dan @akarpena tak bisa menjadikannya panutan, serta sebagai contoh, bagaimana semangat nasionalisme perjuangan melawan kenangan) ia juga merupakan perumus sumpah pemuda.

Dalam konggres 1928 itu, ketua konggres, Soegondo Djojopoespito, beserta perwakilan pemuda dari berbagai penjuru nusantara, baik dari organisasi kepemudaan sampai komunitas kaum alay tumplek jadi satu, dengan membawa semangat persatuan demi membebaskan diri dari cengkraman pemerintah Hindia Belanda, juga rong-rongan mantan yang ngebet ngajak balikan.

Coba bayangkan andai saja waktu itu Mohammad Yamin dirundung galau akibat tak kunjung mengungkapkan perasaan cintanya, karena ia tahu, jika hubungan asmara bersama Siti Sundari tak bakal direstui orang tua calon pacarnya itu. Sebab Sundari yang keturunan priayi ini bekerja sebagai pengajar di Kweek Scool dan Sekolah Guru serta bergaji dan layak kawin dengan dokter atau pegawai kantoran. Sementara pemuda Yamin masih duduk di bangku kelas 1 Algemeene Middelbare Scool (AMS) atau setingkat SMA di Yogyakarta.

Sungguh beruntungnya Sundari, pemuda Yamin bukan tergolong tipe pria cemen yang menyiksa bakal pacarnya menunggu terlalu lama mendapat kepastian. Bahkan dalam waktu tiga bulan, Yamin pun melamarnya, meski awalnya orang tua Sundari tak merestui. Maka dari itu, ikrar sumpah pemuda tetap berjalan dengan lancar. Mohammad Yamin merancangnya saat Mr. Sunario pidato di akhir konggres, dan pada waktu yang sama pula, Siti Sundari adalah seorang orator ulung, serta menjadi salah satu perempuan yang berani berpidato dengan lantang di konggres ini.

Seandainya pemuda masa kini mampu meniru keberanian Mohammad Yamin dalam memperjuangkan Siti Sundari, dan setidaknya tak bermental kacangan untuk mengungkapkan perasaannya pada perempuan, seperti seorang pemuda berinisial Hasrul Santoso yang hingga kini masih tak tau apa yang ia harus lakukan terhadap perempuan yang menjadi dambaannya, dan belakangan diketahui bernama Fitriyos tersebut , tidak menutup kemungkinan gerakan menolak move on tak seperih ditinggal rabi, dan program pengentasan jomblo pun bisa teratasi.

Namun sayang, pemuda yang jemarinya lincah memetik senar gitar ini, tak segera mengeksekusi segala keputusan konggres Darma Alam baru-baru ini. Konggres yang digodok dari berbagai pendapat, serta berbagai macam teori dan bahkan mengambil filosofi truk lombok, yang pada akhirnya beberapa perwakilan pemuda baper dari berbagai penjuru nusantara, menyepakati beberapa hal.

Tak jauh berbeda dengan kongres 1928 yang dilakukan Mohammad Yamin, kesepakatan dalam konggres 2015 pun menghasilkan ikrar Sumpah Cah Baper yang bunyinya:

Sumpah Cah Baper
- Kami cah baper Indonesia mengaku, bertumpah darah satu, tanah air kesedihan.
- Kami cah baper Indonesia mengaku, berbangsa satu, bangsa kesepian.
- Kami cah baper Indonesia mengaku, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa pengharapan.

Ikrar sumpah Cah Baper inilah, yang akan menjadi kekuatan dasar, gerakan melawan move on. Dengan harapan, membentuk jiwa yang mandiri, setrong dan tangguh dalam berjuang mendapat pasangan tanpa melupakan segala kenangan bersama mantan.

Di sana, di hatimu yang luas bagai Samudera Hindia, aku tak keberatan bertetangga dengan kenangan-kenanganmu tentangnya. Akan aku ajak berteman, lalu kubuat ia pergi pelan-pelan.
—  ;)