Hindia

5

Meenakshi Amman Temple, Madurai, Tamil Nadu, India

It is dedicated to Parvati, known as Meenakshi, and her consort, Shiva, here named Sundareswarar. The temple forms the heart and lifeline of the 2,500 year old city of Madurai and is a significant symbol for the Tamil people, mentioned since antiquity inTamil literature though the present structure was built between 1623 and 1655 CE.

Orang bilang, apa yang ada di depan manusia hanya jarak. Dan batasannya adalah ufuk. Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh. Yang tertinggal jarak itu juga—abadi. Di depan sana ufuk yang itu juga —abadi. Tak ada romantika cukup kuat untuk dapat menaklukkan dan menggenggamnya dalam tangan—jarak dan ufuk abadi itu.
—  Pramoedya Ananta Toer, dalam Anak Semua Bangsa

“Mungkin sebentar lagi Belanda memasuki kampung kita, Laras.” Kapten Jo terduduk pasrah di lantai tanah posko kesehatan.

“Mas Jo jangan berkata begitu. Laras yakin mas pasti bisa melindungi kampung kita.”

Kapten Jo menatap kosong, di pikirannya kematian tak lama lagi. Kaki kirinya patah ketika terjun dari ketinggian beberapa meter menghindari musuh yang mengejar, untung saja pasukan cadangan segera datang dan membuat kabur belasan serdadu belanda.

“Aku bisa mengobati Mas Jo agar segera sembuh.”

Kapten Jo tidak merespons. Ia tahu, meskipun dirinya sembuh, kampung ini tetap akan musnah. Di Ibukota, Belanda menahan beberapa tokoh Republik dan menguasai pusat-pusat militer. Lagi pula Jenderal Hindia Belanda mengirim beberapa pesawat pemburu untuk tiba-tiba menembak target di kampung-kampung. Beberapa hal tersebut membuat Kapten Jo bergidik ngeri. Ia merasa rapuh, tidak mampu berbuat apa-apa.

“Laras, jika nanti kau kehilanganku, maka menikahlah dengan pria yang kauanggap baik. Merdeka atau tidak, kau harus memiliki pendamping.”

Seketika mata Laras berkaca-kaca, ia tak mampu membuat argumen yang bisa ia katakan. Ia tahu bahwa cinta begitu sulit dalam kondisi perang. Dan risiko kehilangan demikian besar.

“Mas… Tak bisakah kita lari dan bersembunyi di hutan. Hanya kita dan kita menunggu sampai kondisi aman. Laras yakin Soekarno dan kawan-kawan bisa mengantisipasi semua ini.”

Kapten Jo tetap menatap kosong. Ia mendengar apa yang diucapkan Laras, tetapi nyalinya semakin surut. Lalu setelah hening yang lama, belum sempat Laras mengecup kening Kapten Jo sebagai simbol rasa sayangnya, terdengar sebuah suara aneh yang menggemuruh. Sebuah pesawat pemburu mendekat!

Menjatuhkan sebuah bom ke atas posko kesehatan, yang akhirnya membakar semuanya. Membakar habis cinta antara dua manusia.