Hadrah

Ia Malu, Tapi Ia Rindu.

Ia ingin menangis sesenggukan saat kelompok Hadrah itu tiba pada larik: “Marhabban…ya Nural ‘Aini….” (Selamat datang, wahai Cahaya Mata).
Ada air yang menggenang, siap meluruh di kelopak matanya.

Ia terkenang Sang Mustafa. Kompas jiwanya. Ia merindukannya. Tapi, ia malu; ia bukan bagian dari umatnya yang saleh. Ia bukan seseorang yang setia meniti sunnah-nya. Ia titik kecil yang rapuh. Hidup di zaman yang riuh dan serba mengeluh.
Matanya mata maksiat. Layakkah ia merindu si pemilik Cahaya Mata yang maksum itu? Ah, air matanya mulai berderai, siap membuncah.

“Marhabban, ya Jaddal Husain?” (Selamat datang, wahai Kakek Husain).
Ia hanyut mendengar sang vokalis kian melengking membaca larik barjanzi itu.
Ia merasakan kalbunya berdenyar-denyar. Baginda sudah tiba. Tapi, ia mafhum, Sang Kinasih Ilahi bukan datang untuknya, bukan menyapa dirinya yang berjelaga. Bukan untuknya yang acap abai, bahkan khilaf , melakoni petuah-petuah indahnya. Ia yakin dia datang untuk orang-orang di sekelilingnya, orang-orang saleh, orang-orang yang kerap merapal-rapal namanya.

Lalu ia tertunduk.
Lalu ia biarkan dirinya cengeng.
Sebab ia memang pilu.
Sebab ia memang merindukanya.

Kembangan, 16/03/14.