Gerhana Matahari

Sheila On 7 - Hujan Turun | Lagu Penutup #SabotaseIradio

This song is old but gold.

Waktu jaman SD, saya getol banget nonton Avatar the Legend of Aang di Global TV. Saya masih inget bahwa ada elemen-elemen yang harusnya dikuasai oleh Aang *kemudian nyanyi: waaaktu terusberlalu…tanpakusadari yang aada hanya..aku dan kenangaan…maaasih teringatjelas…* *apasih*
Back to Aang. Nah jadi ada elemen-elemen yang kekuatannya meningkat dalam kondisi bumi tertentu. Misalnya, api–kalau lagi gerhana matahari, tanah–kalau lagi ada di tebing-tebingan, angin–waktu ada…ya angin, dan satu lagi ada air. Elemen air ini meningkat kekuatannya kalau lagi hujan atau lagi gerhana bulan. Ya masuk akallah ya..dimana ada si elemen yang jadi fokus kekuatan, tentu dia bisa memaksimalkan kekuatannya.
Harusnya sih..kita juga gitu. Masalahnya, kebanyakan kita gak begitu memahami apa kelebihan kita yang bisa kita maksimalkan (kalo nggak kita, yaudah deh saya aja). Pada fase-fase tertentu, saya sering merasa dewasa dan merasa kekanankan dalam satu waktu. Potensi yang saya miliki ini gak saya kenali dengan betul. Yang lebih menakutkan, saya sering merasa saya gak tau akan diri saya sendiri–apa yang sedang saya jalani, apa yang telah saya pilih di waktu lampau. Sampai-sampai saya sering nanya sama diri sendiri: “why’d I even try this?”
Kenapa lagu Sheila on 7 yang Hujan Turun? Karena waktu hujan turun, sudut gelap mataku begitu derasnya, kan kucoba bertahan. 🎶🎶
Saya harap saya bisa kayak Katara (tokoh yang keahliannya elemen air), sebab waktu hujan turun, kekuatan dia meningkat. Saya pengen kalau ‘hujan turun’, saya gak sedih tapi malah jadi kuat. Sebab pada dasarnya, cobaan yang Tuhan kasih memang ada untuk membuat kita lebih kuat, bukan? Ya..if it’s not, probably it happened because of our previous sin. Bisa jadi, itu jadi hukuman atau penggugur dosa.
Intinya….yagitu. Semuanya berubah ketika negara api menyerang.

Karna susah nyari lagunya, yahh..apadaya lagunya ada intro dari mas Duta. Gapapalahya~
Kata mereka, pagi tadi bulan menyatu dengan kekasihnya. Namun, kenapa bagiku tetap terasa menyedihkan; arus waktu menghanyutkan perjumpaan itu, menjadikannya sekejap dikecap. Belum mampu meredam rindu yang meluap. Ditambahi jeda pertemuan berikutnya mengisyaratkan bilangan menahun, mengurangi jatah usia yang tinggal sisa-sisa.
—  Hiks 😢😢😢

Matahari terbit dua kali, Kapten.

Bagi beberapa orang, mungkin ini hari yang istimewa. Hanya datang 33 tahun sekali, katanya. Ini itu mereka ramai bicarakan. Yang menarik bagiku hanya satu.

Matahari terbit dua kali, Kapten.

Pagi itu Bandung mendung. Langit seakan bingung. Ikut berkabung. Matahari batal bergabung.

Matahari terbit dua kali, Kapten.

Bahkan lampu otomatis di pekaranganku dibuat bingung olehnya. Barangkali jika lampu itu punya mulut ia akan mengeluh, “Sial aku dipermainkan.”

Matahari terbit dua kali, Kapten.

Bukan hanya lampu. Ayam-ayam tetangga pun seakan bingung dibuatnya. Mereka berkokok lagi. Panjang. Bising. Seakan panik kokok mereka gagal memanggil fajar.

Matahari terbit dua kali, Kapten.

Saat aku merasa jadi orang paling acuh hari itu, ternyata aku salah. Matahari pun kalah. Karena kapten, rupanya engkau baru terbit siang hari.

Baiklah. Selamat siang, Kapten. Selamat beredar. Tetaplah di orbitmu.

─ Bandung, 9 Maret 2016

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” HR. Bukhari