Gerhana Matahari

“Aku ga suka gerhana,” kata Arka suatu waktu kepada Dame.
“Kenapa ga suka?” Dame menatap heran Arka sambil menyedot es teh dari gelasnya.
Kantin ramai saat itu. Tapi terasa sepi. Bel masuk berbunyi.
“Karena gerhana menutupi yang indah. Kayak matahari kalau gerhana matahari, kayak bulan kalau gerhana bulan, kayak perasaan kalau gerhana perasaan.”
Dame tergelak. Hampir tersedak. “Emang ada gerhana perasaan?”
“Ada, ketidakjujuran.”
Dame mengerti. Ia tidak perlu bertanya kembali. Arka sedang butuh didengarkan.
Kantin menyepi. Tapi terasa ramai. Di hati Arka. Dame mendengarkan.

Kata mereka, pagi tadi bulan menyatu dengan kekasihnya. Namun, kenapa bagiku tetap terasa menyedihkan; arus waktu menghanyutkan perjumpaan itu, menjadikannya sekejap dikecap. Belum mampu meredam rindu yang meluap. Ditambahi jeda pertemuan berikutnya mengisyaratkan bilangan menahun, mengurangi jatah usia yang tinggal sisa-sisa.
—  Hiks 😢😢😢

Matahari terbit dua kali, Kapten.

Bagi beberapa orang, mungkin ini hari yang istimewa. Hanya datang 33 tahun sekali, katanya. Ini itu mereka ramai bicarakan. Yang menarik bagiku hanya satu.

Matahari terbit dua kali, Kapten.

Pagi itu Bandung mendung. Langit seakan bingung. Ikut berkabung. Matahari batal bergabung.

Matahari terbit dua kali, Kapten.

Bahkan lampu otomatis di pekaranganku dibuat bingung olehnya. Barangkali jika lampu itu punya mulut ia akan mengeluh, “Sial aku dipermainkan.”

Matahari terbit dua kali, Kapten.

Bukan hanya lampu. Ayam-ayam tetangga pun seakan bingung dibuatnya. Mereka berkokok lagi. Panjang. Bising. Seakan panik kokok mereka gagal memanggil fajar.

Matahari terbit dua kali, Kapten.

Saat aku merasa jadi orang paling acuh hari itu, ternyata aku salah. Matahari pun kalah. Karena kapten, rupanya engkau baru terbit siang hari.

Baiklah. Selamat siang, Kapten. Selamat beredar. Tetaplah di orbitmu.

─ Bandung, 9 Maret 2016

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” HR. Bukhari