Dian Sastrowardoyo

GIF PACK ➙ DIAN SASTROWARDOYO (Pt. 1)

Made for @tasksweekly #34: Indonesia, under the cut are 196 textless and good quality gifs of the gorgeous Indonesian model/actress, DIAN SASTROWARDOYO. All of these gifs are made by me for roleplaying purposes from the Indonesian movie, Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016). Feel free to crop and resize, but don’t claim them as your own. Likes and reblogs are highly appreciated!

ETHNICITY: Indonesian (Javanese)
BIRTH YEAR/SUGGESTED AGE RANGE: 35 /  29–37
TRIGGER WARNINGS: flashing lights

Keep reading

Ada Apa Dengan Cinta?

Ada Apa Dengan Cinta? (2002)

Sutradara : Rudi Soedjarwo

Produser : Mira Lesmana, Riri Riza

Penulis : Jujur Prananto, Prima Rusdi, Rako Prijanto

Musik : Anto Hoed, Melly Goeslaw

Pemeran:

Dian Sastrowardoyo … Cinta

Nicholas Saputra … Rangga

Ladya Cherill … Alya

Adinia Wirasti … Carmen

Titi Kamal … Maura

Sissy Priscilla … Milly

Fabian Ricardo … Borne

*

*

Dua aktor berbakat + dua produser berdidikasi tinggi + sastra + bumbu cinta remaja. Apa yang akan kita dapat? Ya, film yang menggemparkan dunia perfilman Indonesia. Film terkenal Ada Apa Dengan Cinta? yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra ini pernah menjadi buah bibir yang lama di kalangan masyarakat di tahun 2002.

Lalu, apa sih sebenarnya film ini? Mengapa film roman-remaja ini bisa begitu menggemparkan dunia perfilman?

Saya tidak ingin susah-susah meringkas jalan cerita di film ini (saya yakin kebanyakan juga sudah menonton film ini!). Saya hanya ingin mengupas beberapa aspek pengamatan yang saya anggap menarik.

Ada apa dengan cinta? Mengapa pergulatannya sedemikian rumitnya. Diawali dari kekalahan yang tidak diduga-duga dalam perlombaan puisi, Cinta (yang diperankan dengan sangat baik oleh Dian Sastrowardoyo) perlahan-lahan menyelami derasnya arus pergulatan di dalam samudera antara cinta dan kesetiaan. Siapa Rangga? Siapa manusia tanpa ekspresi ini? Apa maksudnya dengan gayanya yang dingin itu (salut dengan Nicholas Saputra yang nyaris tanpa cacat memerankan tokoh Rangga)? Kenapa tiba-tiba dia muncul ke permukaan dengan puisinya yang menampar jiwaku?

…  Sepi dan sendiri. Aku benci. 

Aku ingin bingar. Aku mau di pasar.

Bosan aku dengan penat.

Dan enyah saja kau pekat!

Dan enjah saja kau pelangi

Seperti berjelaga jika aku sendiri.

Pecahkan saja gelasnya biar ramai. 

Biar mengaduh sampai gaduh! …


Kesepian ini kah yang aku rasakan, dan mampu diambil sarinya oleh Rangga dalam tulisan-tulisan yang begitu dalam? Cinta pun mengalami paradoks yang pelan-pelan menggerogoti keyakinan dirinya. Apakah aku kesepian di antara sahabat-sahabatku yang sangat suportif ini? Lantas apa yang aku cari lagi, meskipun orang tuaku adalah yang terbaik dibandingkan oleh temanku Alya! Apakah Rangga ini menjadi sebuah kunci yang menentukan terbuka atau tidaknya pintu kebingungan ini…

*

Dan Cinta pun ingin menyelami lebih dalam jiwa Rangga. Secara diam-diam.

Cinta pun berangkat untuk mencari sebuah ‘pedoman hidup’ si misterius Rangga. Aku karangan Sjumandjaya. Malang, buku langka ini sudah tidak ada lagi. Dan Cinta pun semakin bingung dengan dirinya sendiri.

Surat kaleng pun dia kirimkan ke bawah langkah Rangga. Tujuannya cuma satu, memprovokasi Rangga sehingga dia bisa mendapatkan buku sastra Aku itu.

Berhasil, lalu buku itu pun dibaca.

Semakin kebingungan Cinta oleh Rangga. Sikapnya yang angkuh dan dingin, sekaligus menarik.

*

Bila emosi mengalahkan logika, terbuktikan banyakan ruginya. Bener kan?

Awestruck. Saya sebagai penonton langsung terdiam dengan kutipan Cinta terhadap Rangga.

Sebuah kutipan yang menyelaraskan hati mereka. Seperti konglomerat buku itu bilang, “Berawal dari buku, berlanjut ke Malam Minggu!”

Dan mereka pun tersenyum manis ketika mengutip sajak terkenal Chairil Anwar.

…Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesendirian masing - masing

Apakah mereka berdua ingin berbagi nasib itu?

Hubungan yang 'jaman lama’ lewat telepon rumah maupun surat sama sekali tidak menyurutkan hasrat mereka. 

Kesukaan mereka terhadap sastra, membuat mereka saling tertarik.

Keceriaan Cinta dibarengi santunnya Rangga.

Kebebasan Cinta diseimbangi oleh gelapnya Rangga.

Manja-nya Cinta ditutupi oleh kemandirian Rangga.

Tetapi, apakah mereka saling satu? Di bawah naungan sastra dan pergelutan batin?

*

Musuh satu di antara kita, adalah musuh kita semua

Itu janji Cinta dan keempat sahabatnya.

Sialnya, nama Rangga juga tercantum di bawahnya. Akibat kesombongan dan keangkuhan Rangga.

Boleh kita garisbawahi disini pergelutan batin Cinta.

Di saat dia harus menghadapi dilema yang menyakitkan. Antara persahabatan dan seorang lelaki misterius yang menggoda. Pergelutan yang membuat hubungan Cinta dan lainnya seperti saklar. Mati dan hidup. Hidup dan mati. 

“Aku tidak mau kehilangan sahabat-sahabatku, tapi Rangga itu sangat berbeda dari yang lain.”

*

Asal kamu tahu, Ta. Kalau diperlakukan seperti ini sih saya sudah biasa. Tapi satu! Tidak usah ada maaf-maafan lagi. Saya setuju, kita tidak perlu bertemuan lagi. 

Apa benar? 

Sampai ciuman yang monumental di Soekarno-Hatta, kita tidak tahu apakah Cinta dan Rangga memang diciptakan untuk bersama.

Meskipun Rangga berjanji dalam puisinya yang menggetarkan…

…Ada apa dengan cinta?

Tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama.

Untuk mempertanyakan kembali cintanya.

Bukan untuk-nya, untuk siapa, tapi untuk-ku.

Karena aku ingin kamu.

Itu saja. 

*

Terlepas dari beberapa kekurangan yang ada di film ini… Kita akan selalu (dan selamanya) menengok ke belakang dan bergumam “ini film yang monumental!”

Ya, ini film yang membangkitkan perfilman Indonesia dari kubur.

Ini film yang menahbiskan cerita modern Romeo dan Juliet dalam kultur remaja Indonesia.

Ini film yang menuliskan tinta emas dalam perjalanan Dian Sastrowardoyo maupun Nicholas Saputra.

Dan yang terpenting, ini adalah film yang membuat kita semua berani untuk bermimpi dan berkhayal dengan cinta. Atau Cinta? :)

(PS: Dian Sastrowardoyo, kamu terlalu sempurna sebagai perempuan disini! :p)

Melly Goeslaw

kulari kehutan kemudian menyanyiku
kulari kepantai kemudian teriakku
sepi, sepi dan sendiri
aku benci
aku ingin bingar
aku mau di pasar
bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga
jika kusendiri
pecahkan saja gelasnya
biar ramai
biar mengaduh sampai gaduh
ah…ada malaikat menyulam
jaring laba – laba belang
di tembok keraton putih
kenapa tak goyangkan saja loncengnya
biar terdera
atau aku harus lari kehutan
belok kepantai

So, I just watched this movie Ada Apa Dengan Cinta? on youtube. So, this movie was out in the theater 10 years ago, on February 8th 2002, and I just watched it today, for the very first time.

This movie is great, like, seriously. I cried loh. I mean, for Indonesian movie, AADC is epic. Unlike any teen movies that only revolves around cheesy romance, dating someone, getting knocked up, nightclubs and things.

I love how Rangga, the main character, love to write a poem, and great with words and… annoying. Idk, I found annoying guy is cute -_-

Overall, A-must-watch.

youtube

ALHAMDULILLAH - TOO PHAT (feat Yassin & Dian Sastrowardoyo)


Lagu ni bagus untuk mereka yang mahu berfikir.. Enjoy!

youtube

A Behind The Scene from DRUPADI

youtube

DRUPADI

Dian Sastrowardoyo sebagai Drupadi

Dwi Sasono sebagai Yudhistira

Nicholas Saputra sebagai Arjuna

Aditya Bagus Santosa sebagai Nakula

Aditya Bagus Sambada sebagai Sadewa

————————————————————————————————–

Drupadi, istri Pandawa yang harus rela membagi dirinya untuk lima orang suami.

Ia yang tidak percaya ketika suaminya sendiri menjadikannya objek taruhan di meja dadu. Yang harus menahan malu saat harga dirinya diinjak-injak oleh Dursasana di hadapan umum karena Yudhistira kalah bertaruh.

Yang bertahun-tahun memendam dendam pada Kurawa.

Yang emosinya menggelegak saat tidak satupun dari kelima orang suaminya yang mampu berbuat apa-apa ketika Dursasana mencoba untuk merenggut kain di tubuhnya dan menjambak rambut hitamnya. Padahal ia bersuamikan Pandawa, putra-putra Pandu dari Hastinapura.

Drupadi, perempuan yang terjebak di antara perpolitikan laki-laki tanpa mampu memilih jalan keluarnya sendiri.

Sekilas ia tampak lemah karena hanya mampu berteriak saat dipermalukan Dursasana. Ia tampak tidak berdaya karena tidak mampu membela diri dan hanya bisa meneriakkan sumpah pembalasan dendamnya.

Namun di balik itu semua, keteguhan hati Drupadi tidak terkalahkan. Dalam pengasingannya, Drupadi mampu menjalankan perannya dengan sempurna. Ia berhasil menempatkan diri sebagai perempuan, istri, sahabat, dan rekan yang sepadan bagi masing-masing suaminya. Ia setia mengabdi pada Pandawa karena ia paham, kemenangan Pandawa atas Kurawa akan menjadi kemenangan juga baginya.

Terbukti, tanpa perlu meneteskan keringat sedikitpun, akhirnya ia bisa memenuhi sumpahnya: berkeramas dengan darah Kurawa.

Drupadi adalah perempuan yang tahu betul bagaimana memanfaatkan ‘keperempuanan’ yang ia miliki. Ia boleh saja datang dari dongeng, tapi sosoknya perlu diteladani.

Sayang film ini hanya pernah diputar di Jakarta International Film Festival 2008.

youtube

First L'Oreal Ambassador from South East Asia that represents in Cannes Film Festival 2012. So proud of Dian Sastrowardoyo, our Indonesian Beauty!

'Perempuan dan Film' oleh Dian Sastrowardoyo

Sebagai seorang perempuan saya menyadari betapa dekatnya saya dengan film. Bukan hanya sebagai pekerja film, tetapi juga sebagai penikmat film sebagai oksigen hidup saya.  Bagi saya, banyak sekali fase dalam kehidupan seorang perempuan yang bisa dirayakan dengan menyaksikan sebuah film.  Saat saya tengah ’down tempo’ (ini terminologi yang saya gunakan bersama teman-teman ketika kami memerlukan ’asupan semangat’) misalnya, saya pasti menghabiskan waktu luang saya untuk menyaksikan sederet feel good movie bersama teman-teman saya. Inilah serangkaian film yang memang dibuat untuk pasar penonton perempuan yang sedang merasa perlu diingatkan bahwa mereka pasti bisa melalui semuanya.

Serangkaian judul film yang pernah menjadi menu girls movie night kami antara lain adalah: The Sweetest Thing (Roger Kumble, 2002 ),  Shop Girl (anand tucker 2005,) Sex And The City (Michael Patrick King, 2008)bahkan Charlie’s Angels : the movie, (McG 2000).Walaupun itu adalah film-film ringan, namun cukup efektif untuk membuat kami lebih optimistis saat membaca credit tittle di penghujung film. Saya menyadari bahwa film ternyata kini telah berubah fungsinya menjadi salah satu alat bertahan, survival essentials, untuk seseorang individu. Tidak hanya perempuan, tetapi para lelaki (terutama mereka yang masih lajang dan memiliki banyak waktu untuk dihabiskan sendirian) berupaya mempertahankan kewarasannya di tengah riuh rendahnya hidup  hanya dengan bermodalkan stok koleksi dvd di kediamannya. Dengan kata lain, film menjadi sebuah eskapisme dari kerutinan sehari-hari yang mendera, yang kelak menciptakan sebuah renungan tentang hidup.

  Namun, selain pengisi jiwa, di dunia industri, film juga memiliki pengaruh yang luar biasa. Jika kita meneropong gaya hidup perempuan melintasi masa misalnya, film dapat menjadi sumber yang sangat mudah untuk dijadikan referensi. Dari perspektif perkembangan fashion dan  gaya hidup, kita sudah bisa menjejerkan beberapa judul film yang berhasil menangkap detail fashion dan gaya hidupyang sangat menarik seperti The Devil Wears Prada (David frankel,2006); Sex & The City (Michael Patrick King, 2008), Marie Antoniette (sofia coppola, 2006), Darlings, pret a porter : ready to wear (robert altman, 1994) dan Annie Hall (Woody Allen, 1977). Film telah menjadi artefak budaya yang selalu menjadi ’teks’, dimana kita di dalamnya, kita ’membaca’ atau memahami lebih jauh mengenai kebudayaan manusia.  Dalam hal ini, ’teks’ dalam film kita lihat sebagai isi (content) yang kompleks dari kejadian-kejadian  (gambar, kata, bunyi) yang berhubungan satu sama lain didalam sebuah  konteks yang bisa menjadi cerita atau narasi. Namun marilah kita coba melihat lebih dalam lagi tentang bagaimana film selama ini mempersepsikan perempuan.

Perempuan sebagai objek di dalam Film

Apa yang kita bayangkan dari film-film seperti James Bond, Scream, I Know What You Did Last Summer, American Pie, Bourne Ultimatum? Film-film ini menggambarkan perempuan dengan keindahan fisik yang luar biasa (yang biasanya jauh sekali dari penampilan perempuan sehari-hari), dengan wajah yang cantik dan tubuh yang sempurna, dan dengan baju dan penampilan yang sengaja memfokuskan pada keindahan tubuh tertentu. Buah dada yang besar, kaki luar biasa jenjang dan rambut bak mayang terurai adalah penampilan dari figur perempuan yang menjadi resep membuat film yang laku di pasaran. Di dalam film, perempuan sering sekali digambarkan sebagai pemanis, penghias, dan tidak memiliki urgensi kepentingan peran apapun terhadap jalan cerita keseluruhan. Mereka muncul  sebagai sosok yang perlu diselamatkan atau ditolong. Ini adalah sudut pandang pembuatan film yang sangat patriarkis, atau lebih parah lagi bersifat phallocentric.  Film-film ini menggunakan sudut pandang laki-laki. Maksudnya adalah bahwa yang membuat film ini mengandaikan bahwa yang menonton film itu  adalah laki-laki semua, atau cerita yang digarap menggunakan cara pikir laki-laki. Yang menarik dalam hal ini adalah: bagaimana penonton film menyaksikan film yang berlogika maskulin, ini berarti membuat perempuan membaca teks yang tidak bisa menggambarkan perempuan secara utuh. Perempuan dilihat hanya sebatas definisi fisiknya saja: memiliki tubuh dengan buah dada, pinggang yang kecil, kaki yang ramping dan rambut panjang. Sementara perempuan sebenarnya jauh lebih plural daripada definisi yang sederhana itu. Ada banyak sekali dimensi kehidupan, karakter dan cara pikir perempuan yang tentunya tidak akan dipahami oleh sang pembuat film yang maskulin itu, karena tentunya mereka tidak pernah mempunyai pengalaman hidup sebagai perempuan.

Yang  kurang menguntungkan bagi kita adalah para penonton perempuan saat menonton film sejenis ini menjadi terbiasa membaca diri nya sendiri dengan sudut pandang laki-laki; dari sebuah sudut pandang yang meredusir atau menyederhanakan sosok perempuan. Perempuan hanya didefinisikan dari fisik belaka. Pada gilirannya, kitapun mengukur ke-‘perempuan’an kita  sebatas penampilan fisik saja, sehingga kita sebagai kaum perempuan di zaman modern ini jadi terlalu repot dan terlalu sibuk mendefinisikan diri kita sebagai perempuan melalui segi penampilan fisik. Karena kita terlanjur memiliki peikiran bahwa definisi fisik adalahlah satu-satunya definisi yang menjadikan kita perempuan, maka kita terlalu sadar diri (self-conscious) terhadap bentuk tubuh kita(apakah kulit saya cukup normal untuk kulit ‘perempuan’? rambut saya cukup ‘perempuan’? apakah bentuk kaki atau lengan saya cukup ‘perempuan’? apakah buah dada saya cukup ukurannya sehingga cukup ‘sah’ untuk menjadikan saya ‘perempuan’?). Tanpa kita sadari kita terlalu banyak menghabiskan energi, waktu, dan uang demi merawat bahkan memodifikasi bentuk tubuh yang kita miliki. Kita lupa dengan multi dimensi lain yang dimiliki oleh perempuan.

            Namun kabar baik bagi para penonton perempuan adalah, saat ini telah lahir  sineas perempuan yang memiliki wewenang untuk menentukan isi film yang menggambarkan komplesitas perempuan.

 

Perempuan yang menciptakan teks tentang perempuan.

Seorang sutradara perempuan, penulis skenario perempuan, produser perempuan memiliki kuasa atau wewenang untuk menciptakan representasi perempuan yang melawan sistem patriarkis. Melalui film-film seperti ini, para penonton perempuan dapat ‘membaca’ teks yang karya sineas perempuan juga. Kita jadi dapat lebih mengerti diri kita sebagai perempuan dengan melihat bagaimana perempuan lain mencoba menulis tentang dirinya atau tentang apa yang dia pahami tentang perempuan, tentunya lengkap dengan berbagai aspek yang multi dimensional akan menjadi seorang perempuan.

Film-film yang mampu berbicara yang lahir dari sineas perempuan adalah The Piano (Jane Campion, 1993), Monster (Patty Jenkins, 2003), Virgin Suicides(Sofia Coppola, 1999), Lost in Translation (Sofia Coppola, 2003), Monalisa Smile (mike newell, 2003) ,Frida (Julie Taymor,2002)

 Sementara beruntunglah kita, di Indonesia walaupun dunia film masih tergolong baru lahir, banyak juga tokoh sineas perempuan yang langsung ikut mewarnai menu perfilman nasional: Nan T. Achnas dengan film Pasir Berbisik (2001), Nia Dinata dan kawan-kawan dengan rangkaian film pendek “Perempuan Punya Cerita (2007).

Dengan dosis sehat menonton film perempuan seperti ini, kita jadi tidak terjebak dalam definisi dangkal yang itu-itu saja dalam memaknai diri kita masing-masing sebagai kaum perempuan. Kita juga dapat lebih menghormati ke’perempuan’an kita yang lebih utuh yang lebih lengkap dengan multi dimensi kehidupan kita dengan berbagai peran dan tantangannya. Kita dapat lebih berani menciptakan definisi diri kita sendiri yang lebih independen, tidak lagi bergantung pada peradaban patriarki untuk memberikan definisi mereka yang terbatas untuk menandai kita perempuan, tidak lagi tunduk dengan pendapat yang diberikan dari luar tetapi lebih mandiri untuk menciptakan pendapat dari dalam. Mari kita membebaskan diri dari sistem penandaan maskulin, mari kita ciptakan sendiri logika dan cara berpikir feminin yang bebas dari judgement, dogma, cara pandang yang misoginis.

 

____

beberapa film unik pilihan Dian Sastrowardoyo untuk dinikmati bersama cocktail & nibbles kegemaran di rumah ;

  • The Science of Sleep, Michel Gondry,2006
  • Eternal Sunshine of the Spotless Mind Michel Gondry, 2004,
  • Little Children, todd field 2006
  • Juno, Jason reitman, 2007.ellen page bermain cemerlang, dan script nya  yang ditulis oleh Diablo Cody bagus sekali, tidak tendensius
  • Persepolis, Vincen paronnaud dan marjane satrapi, 2007, animasi,biography, drama, diangkat dari grafik novel berjudul sama karya marjane satrapi, tentang kisah hidupnya.Poignant coming-of-age story of a precocious and outspoken young Iranian girl that begins during the Islamic Revolution.
  • The Darjeeling limited, Wes Anderson 2007 action, comedy, drama pemain owen nilson dan adrien broody
  • The fall, tarsem Singh 2006, action, drama, fantasy : anak kecil yg jadi Alexandria ( catinca vutaru) akingnya natural dan fyi Bali menjadi salah satu lokasi  syutingnya, menggambarkan panorama keindahan ubud dan tari kecak
  • Sideways, Alexander payne, 2004 comedy, drama, romance
  • Into the wild. Sean penn 2007
  • La vie en rose (la mome) Olivier dahan, 2007, biografi, drama, musical, menceritakan kisah hidup penyanyi legendaries perancis, edit piaf.marrion cotillard memperoleh oscar sebagai artis terbaik dalam film ini
  • I’m not there, todd Haynes, 2007 biography drama musical, tentang bob Dylan Ruminations on the life of Bob Dylan, where six characters embody a different aspect of the musician’s life and work. Plotnya sedikit rumit dan melompat-lompat, tapi di sini kita bisa melihat akting cate blancett sebagai bob Dylan
  • Berbagi suami, nia dinata 2006, drama. 3 cerita dengan benang merah poligami
  • Memories of matsuko (kiraware matsuko no issho), tetsuya nakashima, 2006, drama
  • Running with scissors, ryan Murphy 2006, drama
  • Rindu kami padaMu, garin Nugroho, 2004, drama, tentang kehidupan di sebuah pasar,

 

Drupadi

Drupadi adalah film drama musikal pendek Indonesia yang dirilis pada bulan Desember 2008. Film ini mengangkat kisah Drupadi dengan seting Jawa klasik. Film produksi SinemArt Pictures ini disutradarai oleh Riri Riza dengan banyak aktor terkenal, antara lain Dian Sastrowardoyo sebagai Drupadi dan Nicholas Saputra sebagai Arjuna.

Bagian cerita epik Mahabharata dari India. Film ini menggambarkan cerita sang Drupadi (Dian Sastrowardoyo), istri dari kelima bersaudara yang dikenal sebagai Pandawa. Dalam sebuah malam yang amat penting, para Pandawa diundang ke sebuah permainan dadu untuk bermain dengan para Kurawa. Sakuni (Butet Kertaradjasa), paman dari para Kurawa telah mengatur permainan tersebut, supaya Kurawa bermain melawan Yudhistira (Dwi Sasono), kakak tertua dari Pandawa bersaudara.

Di akhir permainan, Yudhistira kehilangan seluruh kekayaannya, lalu seluruh kerajaannya. Dia kemudian mempertaruhkan saudara-saudaranya, dirinya sendiri, dan akhirnya Drupadi sebagai pelayan para Kurawa. Memperjuangkan kebebasannya, Drupadi berulangkali mempertanyakan hak Yudhistira untuk mempertaruhkan dirinya saat dia sendiri telah kehilangan kebebasannya. Film ini tidak hanya adalah cerita tentang Drupadi, namun juga sebuah kiasan tentang dunia modern, sebuah simbol dimana seorang wanita memperjuangkan sebuah dunia yang didukung keadilan dan persamaan hak.

Sutradara            : Riri Riza
Produser             : Mira Lesmana
                           Dian Sastrowardoyo
                           Wisnu Darmawan
Penulis                : Leila S. Chudori
Pemeran              : Dian Sastrowardoyo
                           Nicholas Saputra
                           Butet Kertaradjasa
                           Dwi Sasono
                           Ario Bayu
                           Aditya Bagus Santosa
                           Aditya Bagus Sambada
                           Whani Darmawan
                           Djarot B. Dharsana
                           Donny Alamsyah
Musik oleh            :Djaduk Ferianto