Demo Taksi

Kontemplasi

Pada saatnya setiap perjuangan akan menemui ujungnya. Tanggal 2 Februari 2017 adalah titik kulminasinya. Pada hari itu saya ditunjuk untuk menyampaikan pidato sambutan mewakili para wisudawan.

Sengaja saya tulis dan kutip pidato wisuda tersebut disini untuk tetap mempertahankan energinya setiap saat saya kembali membacanya. Pidato kemarin menjadi salah satu dari pidato paling emosional dalam hidup saya karena selain dihadiri oleh wisudawan dan tenaga pendidik, acara tersebut juga dihadiri oleh 1000 orang lebih para orang tua dari wisudawan.

“Beliau titipkan pada kami sebuah harapan dan mimpi-mimpi agar kami dapat menjadi pribadi yang lebih baik.”

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam Sejahtera untuk kita semua

Puji syukur kita haturkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya, pada hari ini kita dapat hadir bersama-sama di Gedung Prof. Sudarto untuk berkumpul dalam acara tasyakuran wisudawan / ti Fakultas Teknik Undip Periode Januari 2017.

Shalawat serta salam tak lupa tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta para keluarganya, para sahabatnya serta para pengikutnya hingga akhir zaman. Semoga kita termasuk pada para pengikutnya yang mendapat syafaat pada hari akhirat kelak. Aamiin.

Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Sebelum saya memulai sambutan mewakili wisudawan pada kesempatan kali ini, ada baiknya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan saya Aulia Hashemi Farisi, Mahasiswa S1 Teknik Sipil angkatan 2012. Saya meyakini bahwa di antara kita semua yang hadir pada hari ini, ada banyak sekali wisudawan yang lebih layak memberikan sambutan dan berdiri di panggung ini.

Mereka lah para mahasiswa berprestasi, delegasi perlombaan-perlombaan Nasional maupun Internasional, pemenang kompetisi antar Universitas, juaranya penelitian, peraih medali emas Pimnas, para pembesar-pembesar lembaga mahasiswa hingga kawan-kawan yang berhasil meraih IPk luar biasa baik di masa perkuliahannya.

Maka dari itu, para hadirin sekalian, sekiranya dalam konten sambutan ini, terdapat hal-hal yang tidak cukup mewakili para wisudawan dan tidak pula sesuai dengan kehendak para wisudawan/wisudawati sekalian, permintaan maaf saya sampaikan kepada para wisudawan/wisudawati sekalian sebelumnya. Terimakasih.

Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Mengutip kalimat pada Farewell Speech (Pidato Perpisahan) Presiden ke 44 Amerika Serikat, Barrack Obama, izinkan saya memulai sambutan saya pada pagi ini dengan kalimat beliau.

Now this is where I learned that change only happens when ordinary people get involved, and they get engaged, and they come together to demand it.”.

Perubahan hanya akan hadir saat diharapkan dan setiap individu yang ada terlibat di dalamnya dapat memberikan bentuk kontribusi sekecil apapun. Maka jangan pernah mengharap sebuah perubahan akan terjadi saat kita hanya mengandalkan orang lain sementara kita berpangku tangan tak melakukan apa-apa.

Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Keterlibatan dalam perubahan baik ini menjadi amat penting untuk kemajuan hidup sebagai pribadi maupun kemajuan bangsa secara umum, khususnya bagi kami, generasi muda yang tidak hanya menghidupi hari ini tapi juga akan menghidupkan masa depan. Namun nyatanya, terdapat sebuah tantangan besar bagi kami para generasi muda yang disebut oleh William Strauss dan Neil Howe sebagai Millenials Generation (Generasi Millenials) dalam bukunya yang berjudul Generations : The History of America’s Future.

Generasi ini adalah generasi yang “menyambut” datangnya millennium baru. Generasi yang sangat mencintai gadget dan smartphonenya. Generasi yang sangat menyukai tantangan dan hal baru dalam hidupnya, namun cenderung mudah puas akan setiap pencapaiannya. Generasi yang memiliki “kehidupan baru” di dunia maya, membuat segala sesuatu dalam hidupnya menjadi serba instan. Generasi yang mencintai filter-filter foto menjengkelkan yang dapat dengan mudah mempercantik atau mempertampan diri sendiri.

Generasi yang sangat pandai menunjukkan pada dunia bahwa hidupnya luar biasa indah lewat caption-caption atau status di sosial media, walau sesungguhnya sedang dilanda kesedihan yang amat sangat. Lapar sedikit bisa pesan go-food atau delivery service, mau pergi ke suatu tempat bisa order go-jek, uber atau grab dan pesan tiket di traveloka, ingin membeli barang bisa online shop di kaskus, bukalapak, atau tokopedia, dan jika ingin mencari informasi cukup cari berita online di twitter, facebook atau media online mainstream seperti line today tanpa mau mengecek berita tersebut benar atau hanya hoax saja.

Hal-hal instan seperti ini dapat membuat generasi ini merasa bahwa menghidupi dunia maya sudah lebih daripada cukup. Cukup posting foto di Instagram, saling berkabar via Facebook, menulis di blog atau bertukar pikiran di status line dan twitter sudah merasa menyelesaikan segala macam masalah. Generasi ini akan kehilangan kepekaannya terhadap kehidupan sosial bermasyarakat.

Padahal kenyataannya para Hadirin serta para wisudawan wisudawati sekalian,

Indonesia hari ini berada pada peringkat 4 negara dengan kesenjangan ekonomi terbesar di dunia berdasarkan riset oleh Lembaga Keuangan Swiss, Credit Suisse. Data ini menggambarkan bahwa persentase kepemilikan kekayaan Nasional oleh 1 persen warganya sebesar 49.30 % atau kalau dikalkulasi bahwa separuh dari kekayaan nasional hanya dimiliki oleh 2.8 juta orang dari total 280 juta penduduk Indonesia.

Belum lagi permasalahan lainnya yaitu pendidikan, yang menjadi salah satu tujuan nasional Republik Indonesia “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, seperti pemerataan pendidikan di seluruh pelosok di negeri ini. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2015 hanya sekitar 16 persen dari penduduk miskin Indonesia yang bisa menempuh pendidikan hingga tingkat SMA. 84 persen sisanya? Hanya tamatan SMP  bahkan ada yang tidak mampu menyelesaikan jenjang Sekolah Dasar. Riset yang diadakan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada medio April tahun lalu, menempatkan Indonesia berada pada ranking 57 dari 65 negara untuk World Education Ranking.

Bertubi-tubi Indonesia diterpa permasalahan dan fenomena yang terjadi selama kurun satu tahun belakangan. Mulai dari kasus Kopi Sianida Mirna, Pengeboman di Sarinah Thamrin, Demo Supir Taksi Konvensional akan Transportasi Online, Penggandaan Uang Dimas Kanjeng, Mario Teguh dan Kiswinar, konflik horizontal nan sensitif seperti Kasus Penistaan Agama oleh Bapak Basuki dan Pembubaran Acara Perayaan Hari Besar Keagamaan oleh oknum di beberapa kota di Indonesia, Awkarin dan YoungLex yang mendadak menjadi Idola Anak Muda, gagalnya Timnas Indonesia di Final Piala AFF 2016 hingga Om Telolet Om.

Begitu banyak pekerjaan rumah di berbagai sektor yang harus diselesaikan. Maka pada kesempatan kali ini, kami mencoba menyampaikan pesan untuk diri kami pribadi juga kepada semua bahwa Indonesia masih sangat butuh perjuangan dalam bentuk nyata, lebih dari perdebatan tidak mutu di dunia maya. Indonesia butuh lebih daripada itu. Indonesia membutuhkan generasi muda yang lebih berkarakter dan mau turun mencabut akar masalah. Indonesia butuh lebih banyak kontribusi dari generasi muda atau kita sebut Millenials tadi untuk mau bersama-sama menyelesaikan permasalahan tersebut.  

Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Berbagai tantangan yang ada di depan kita dan siap menghadang untuk diselesaikan seolah menarik mundur bagaimana perjuangan semasa perkuliahan di Universitas Diponegoro ini. Perjuangan tersebut membuat makna wisuda hari ini menjadi bermakna ganda. Wisuda ini bermakna perpisahan karena ujung dari perjuangan selama masa perkuliahan adalah pada hari ini. Perpisahan ini pasti akan sangat berat, penuh dengan memori indah yang akan dirindukan. Bisa saja setelah pertemuan di wisuda ini, tidak akan ada lagi pertemuan di antara kita setelahnya. Maka para wisudawan, wisudawati nikmatilah momentum wisuda ini dengan penuh kesukacitaan.

Namun Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Pada kenyataannya wisuda ini pun bermakna perjuangan! Setelah wisuda hari ini peran dan kiprah kita akan semakin bertambah.

Perguruan tinggi sejatinya tidak sekedar melahirkan kerbau–kerbau pembajak sawah, namun para petani yang siap mengolah sumber dayanya menjadi lebih produktif bagi rakyatnya.

Tidak boleh ada keraguan akan kemampuan pribadi sekecil apapun kemampuan itu. Tidak boleh ada perasaan minder atas kecilnya kontribusi kita di masyarakat nantinya. Kalau bukan sekarang kapan lagi, Kalau bukan kita siapa lagi.

Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Perjuangan semasa perkuliahan akan menjadi seperti perjuangan tak tahu arah dan tujuan apabila dalam perjalanannya tidak ada yang memandu dan memberi arah. Beliau-beliau lah para dosen-dosen dan tenaga pendidik yang telah mencurahkan segala ilmu dan pengalamannya kepada kami. Beliau-beliau lah yang bagaikan oase di gurun pasir dengan penuh keikhlasan mengajari kami, mendidik kami dan mengingatkan kami apabila dalam proses belajar kami menemui kesalahan.

Beliau-beliau lah yang selalu sabar dan tanpa mengenal lelah menjadikan kami yang tak tahu menjadi tahu, yang belum bisa menjadi bisa dan yang belum paham menjadi paham. Maka untuk segala kebaikan yang telah tercurah dari beliau para dosen dan tenaga pendidik, kami mohon kepada seluruh wisudawan untuk bisa berdiri…

Mohon kepada para wisudawan untuk dapat memberikan applause terbaik kepada bapak/Ibu dosen yang ada di hadapan para wisudawan sekalian. Terimakasih bapak/Ibu Dosen dan tenaga pendidik sekalian.

Setiap perjuangan pasti membutuhkan alasan, bagi kami tidak sulit untuk menemukan alasan atas segala kerja keras, usaha tak kenal lelah, tangis air mata kegagalan, keringat pengorbanan hingga akhirnya bisa menyelesaikan ini semua. Kepada Ayah dan Ibu kami, kami ucapkan terimakasih. Ini semua untuk ayah dan Ibu. Untuk itu, Mohon kepada para wisudawan bisa memberikan applause kepada para Orang Tua yang ada di hadapan para wisudawan sekalian. Terimakasih.

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Saya mohon maaf apabila ada kata yang tidak berkenan di hati hadirin sekalian. Saya tutup sambutan ini dengan sebuah kutipan dari pidato Barack Obama,

Jangan pernah mengabaikan suaramu. Karena dengannya kau mampu menunjukkan bahwa satu suara akan mengubah sebuah ruangan, apabila dia mampu mengubah ruangan dia akan mampu mengubah sebuah lingkungan, apabila dia mampu mengubah sebuah lingkungan, dia mampu untuk mengubah sebuah kota, apabila dia mampu mengubah kota, dia akan mampu mengubah sebuah bangsa. Dan apabila dia mampu mengubah sebuah bangsa, dia akan mampu mengubah dunia.”

Keep believing and keep moving forward!

Terimakasih.

Wassalamualaykum Wr. Wb.

Demikian kutipan pidato sambutan wisuda saya. Semoga diri ini selalu dikuatkan hatinya dan diteguhkan niatnya untuk mengusahakan hal-hal baik di jalan perjuangan!