Belakane

Kami Mencintai, bukan Membenci.

Ada yang masih mengganjal di hati teman-teman saya terkait kasus Bapak Gubernur DKI Jakarta sekarang hingga periode Oktober nanti. Mereka menganggap, jika memang beliau bersalah dalam kasus penistaan agama, mengapa reaksi kami (ummat Islam kebanyakan) harus berlebihan seperti itu. Demo besar-besaran hingga mendoktrin untuk tidak memilihnya kembali di pemilihan Gubernur DKI. Isu ini ternyata mampu mengubah sebagian besar pemilih beralih ke pasangan Bapak Anies - Sandi yang menang dari hasil quick count putaran kedua.

“Emang Rasulullaah mencontohkan seperti itu ya, Ni?” Tanya teman saya, ia seorang karyawan swasta yang ada di Jakarta. Mau tidak mau ia harus mendengar dan melihat langsung pergolakan politik - agama yang ada di sana.

“Seperti apa?” Tanya saya, memastikan.

“Kenapa kalian begitu membenci Ahok? Padahal Islam mengajarkan kedamaian. Padahal Rasul saja yang pertama kali menjenguk orang sakit yang tiap hari meludahinya, dan memaafkan orang yang membuang kotoran unta di tubuhnya, dan bahkan menyuapi nenek tua yahudi buta yang setiap hari mencaci makinya. Di mana Islam yang katanya Rahmatan Lil Alamiin itu?”

Ya. Wajah Islam kini sedang dibandingkan antara zaman Rasul dan para sahabat dengan ummat yang sekarang. Bahkan aksi damai beberapa kali itu ditolak mentah-mentah oleh sebagian orang dan mengatakan itu bukan perwakilan ummat Islam namun perwakilan FPI.

Saya sama sekali tidak menyalahkan siapapun yang menolak aksi tersebut. Tapi biarkan saya ikut menjelaskan. Tentang bagaimana Rasulullaah menghadapi kondisi ummat.

1. Tidak ada satupun ummat Islam yang memungkiri akhlak mulia Nabi kita ini. Menjenguk orang yang meludahinya setiap hari ketika orang tersebut sakit. Siapa diantara kita yang sudah melakukannya? Semoga masih ada.

2. Beliau juga memaafkan orang yang melempar kotoran unta ketika beliau sholat di depan Ka'bah pada saat beliau sujud.

3. Beliau juga rajin menyuapi nenek Yahudi yang buta walaupun setiap hari nenek itu mencaci makinya.

Itu fakta, bukan?
Tapi, ada yang kita lupakan dari fakta akhlak Nabi kita itu.

1. Mengapa beliau menjenguknya pertama kali? Karena dalam syariat Islam kewajiban tetangga adalah saling berkunjung. Apalagi ketika sakit. Hak tetangga sang Nabi adalah dijenguk ketika sakit. Tak peduli siapa dia dan apa agamanya. Ini hak mutlak yang sampai sekarang ada di hukum fiqih manapun tentang muamalah bertetangga. Jadi, Nabi bukan semata memang ingin beekunjung. Namun sebagai utusan Allaah subhana wa ta'ala, beliau lah yang paling harus melakukan syariat itu. Masalah tetangga itu zhalim tidak masuk pengecualian! Nabi menjenguk orang yang meludahinya, Nabi juga yang pertama kali menjenguk para sahabatnya! Sampai di sini jelas???.

2. Beliau memaafkan orang yang melemparnya kotoran unta ketika beliau sholat. Sejarahnya, ketika Rasulullaah sholat dan beliau sedang sujud, ada seorang Quraisy yang menumpahkan seember besar kotoran dan usus unta ke punggungnya lalu melemparkan batu padanya hingga pelipis mata beliau berdarah! Darah ini, jika sampai jatuh ke tanah maka murka Allaah akan menimpa masyarakat di Mekkah. Ini yang ditakutkan Nabi. Bagaimana dengan ummatnya yang telah beriman kepada Allaah dan RasulNya??? Maka dengan sabar sang Nabi menahan darah itu agar tak jatuh ke tanah. Untuk ummatnya agar selamat dari murka Allaah. Bukan untuk Si Kafir yang telah menzaliminya!

3. Beliau rajin menyuapi nenek tua yang buta. Ya, nenek tua itu buta! Dan cara satu-satunya agar meredam amarah si nenek adalah menyuapi makanan yang mudah dia kunyah dan telan.

Betapa cerdas sang Nabi memberi contoh untuk kita. Agar selalu bijak menghadapi mereka. Menghadapi orang-orang yang belum tersentuh hatinya oleh hidayah. Dan ingat, itu di Mekkah. Ketika perintah jihad belum diturunkan Allaah. Ketika orang-orang hanya menyakiti Nabi, bukan Ummatnya.

Lalu Rasulullaah hijrah ke Madinah. Mungkin sebagian besar kita sudah khatam dengan shirah nabawi. Hingga tulisan saya ini hanya sebagai pengingat bahwa nabi pun pernah marah! Bukan karena ia yang dizalimi, namun ummatnya yang disakiti.

Ada yang belum kenal saudara sepersusuan Utsman bin Affan? Ya, dialah
Abdullah bin Sa'ad. Buronan no. 1 sang Nabi pada saat fattul Mekkah. Ada 10 orang yang menjadi buronan dan harus dibunuh. Salah satunya saudara sepersusuan Utsman. Mengapa? Karen ia menyakiti Ummat. Baru 3 hari ia menyatakan ke-Islaman nya lalu kembali murtad dan membocorkan strategi pada perang Khandak. Maka ummat banyak yang syahid karena nya. Tapi ketika ia berhasil ditemukan dalam keadaan berdiri berlindung di belakan Utsman yang meminta ampunan dengan wajah penuh keringat. Nabi hanya diam. Diamnya sang Nabi adalah menunggu seseorang memenggal kepala Abdullah bin Sa'ad. Walau pada akhirnya ia dilepaskan.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash Shidiq. Beliau memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat meskipun mereka Muslim!

Di Masa Umar Bin Khatab tak ada satupun gereja yang dimusnahkan ketika wilayah Islam berhasil masuk ke Palestina.

Di Masa Utsman bin Affan pun demikian, penyebaran Islam pernah tanpa peperangan.

Hingga di Masa Ali bin Abi Thalib, para Munafik takut dan menyembunyikan kemunafikannya karena setiap munafik (pembunuh Utsman) akan di qisas.

Ya, Rasulullaah mencontohkan akhlak mulia bagi siapa saja.
Namun yang paling ia cinta tetap ummatnya.
Islam adalah Rahmatan lil alamin.
Namun Islam juga bukan agama yang tidak tegas dan lemah.
Para sahabat juga mereka yang mendekati akhlak Nabi, namun tak kan lemah pada apa yang mereka yakini.

Setelah ini, mari mempelajari sejarah juang Nabi dan para sahabat dengan baik. Tidak setengah-setengah dan mampu menangkap hikmah.

——————————–

Kami tidak membenci orang-orang yang belum tersentuh hidayahnya. Karena bisa jadi kami lah yang menjadi kafir dan mereka yang menjadi mukmin di akhir hidupnya. Kami, bukanlah satu golongan yang mengagungkan satu tokoh agama selain Rasulullaah shalalllahu ‘alaihi wasallam. Kami hanya menyakini, bahwa sekecil apapun penghinaan terhadap agama dan kitab suci kami, ia layak untuk diadili.

Mari mencontoh akhlak Rasul dan sahabat. Seperti singa yang faham kapan menyembunyikan kukunya, dan kapan mengeluarkan aumannya.

Maafkan kami, jika saudara kami sesama muslim terluka hati dan jiwanya karena perbuatan dan (tu)lisan kami. Semoga Allaah menganugerahkan kita hati yang lembut, yang mudah menerima kebenaran.


Tulisan ini sengaja saya posting selesai pilkada. Agar tak ada lagi sangkaan ini hanya untuk satu momentum saja.

Bandung. 2017. Salam cinta. Uni.
Untuk Diriku di Tahun 2027

Saat kau membaca pesan ini, jangan kaget! Kamu bukan orang yang bisa mengembalikkan waktu atau bisa melakukan perjalanan ke masa lalu. Kamu hanya orang dengan sikap pelupa. Lupa kalau sepuluh tahun lalu kau pernah menuliskan ini.

Pertama-tama jika benar kau membaca pesan ini dalam keadaan sehat walafiat, maka jangan luput untuk selalu bersyukur terhadap apa yang saat ini kau punya. 

Pernah sekali waktu saat kau masih menjadi perantau baru di kota orang; kuliah dengan bantuan beasiswa dan lindungan doa keluarga, kau malah selalu merasa iri pada teman yang kosnya lebih megah, kendaraannya lebih mewah, dan jalan hidupnya yang kau rasa lebih mudah. Pada akhirnya kau tertampar saat mengetahui kenyataan bahwa teman-temanmu itu tak mendapat restu yang sama seperti dukungan keluargamu, tak mendapat kasih yang sama seperti kepedulian sahabat-sahabatmu, bahkan hidupnya jauh lebih berat saat mereka mulai menceritakan permasalahannya padamu. Banyak moment yang tak bisa kuceritakan padamu soal perasaan-perasaan tanpa syukur, pikiran-pikiran sulit ikhlas, dan kelakuan-kelakuan yang memunculkan penyakit hati. 

Maka tetaplah berbaik sangka pada semua kehendak Tuhan untuk hidupmu. Belajarlah berterima kasih atas setiap karunia yang dilimpahkan padamu. Sip, yah? Ok lanjut.

Saat ini kau pasti telah punya wanita halal cantik nan indah yang aku yakin ia bersusah payah dan butuh waktu lama untuk ikhlas menerimamu dengan lapang dada. Muliakanlah ia, jagalah ia, serta tuntunlah selalu ia di jalan yang paling diridhoi Sang Maha Kuasa. 

Sebab waktu kau masih dalam pencarian di masa muda; kau pernah mematahkan hati dari seorang wanita, mengecewakan harapnya, melukai kepercayaannya, dan membuatnya bersedih untuk waktu yang sangat lama. Ingatlah baik-baik, kau menyesali kelakuanmu itu selama bertahun-tahun. Kau berusaha menjadi sosok humoris di depan teman-temanmu, tapi tak lebih dari sosok meringis di balik bantal-bantal kasurmu. Kau berusaha tertawa sekeras-kerasanya, tapi kau tak bisa menepis duka yang semakin lama semakin dalam menghantuimu. Kau bahkan selalu berpura-pura menjadi dokter cinta, hanya untuk menutupi luka dan fakta bahwa kau sendiri adalah pasien asmara. 

Jika akhir-akhir ini kau merasa ada perilaku yang menyakiti sang Istri, bergegaslah meminta maaf, lakukan apa pun untuk tetap mengharmoniskan rumah tangga. Sebelum sekali lagi kau mengatakan, “Seharusnya wanita tak boleh dikecewakan.”

Selanjutnya, apakah saat ini kau telah punya anak? Dilihat dari senyummu, sepertinya kau sedang bahagia-bahagianya membesarkan dan memanjakan sang Junior. Akan kuceritakan masa remajamu saat orangtua memutuskan sesuatu untuk hidupmu. Barangkali kau tak ingin memberikan perasaan yang sama pada anakmu seperti yang kau rasakan di jaman dulu. 

Setelah tamat SD, kau melanjutkan studi di pesantren terkenal di Sulawesi Selatan. Kau masuk kelas unggulan saat itu. Kelas yang menuntutmu untuk belajar ekstra keras dari pagi buta hingga sore. Kau tak terbiasa dengan aktivitas sepadat itu, karena kau hanya anak bungsu yang selalu dimanjakan orangtua. Tiap jumat sore dan minggu pagi, kau menyendiri di belakang pos penjagaan gerbang. Duduk menunduk dan berlinang air mata. Tiap hari kau membayangkan kembali ke kampung halaman, tiap ada waktu pula kau selalu menelpon dan mengeluh pada ibu di kampung halaman. Alhasil, kau sering sakit-sakitan di asrama. Bahkan saat lomba gerak jalan, posisimu di barisan terpaksa kosong karena kau jatuh sakit tepat di hari H perlombaan. 

Setelah tiga bulan sejak kau masuk di pesantren itu, akhirnya hari libur puasa pun tiba. Kau kembali ke rumah dan menceritakan semua kesusahanmu pada keluarga. Ibumu menangis, apalagi saat kau menceritakan keadaan hilangnya dompetmu, tak berani mengatakannya ke siapa-siapa, dan harus menahan diri untuk tidak jajan beberapa minggu. Hingga akhirnya, ayah memutuskan untuk memindahkanmu di sekolah dekat rumah saja. Lalu kau mulai mengikuti kelas demi kelas di sekolah baru itu. Tapi kau merasa kapasitas dan sistem belajar di sekolah biasa itu sangat jauh berbeda dari pesantren yang banyak mengajarkan ilmu praktis. Bagaimana tidak, berkat ilmu dari pesantren yang kau dapati, kau bahkan dapat berceramah di lima masjid berbeda pada bulan puasa saat itu. Kali pertama kau merasakan pendapatan beramplop dari hanya sekedar berbicara di depan jamaah. Saat itulah, kali pertama kau menulis sebuah diary, dengan judul besar; Penyesalan. 

Iya, kau merasa kecewa dan sangat menyesal telah menurunkan kualitas hidupmu, hanya karena waktu itu kau selalu berpikir bahwa kau tidak cukup tangguh untuk terus bertahan sebagai perantau. Seringkali kau menggunakan seragam pesantrenmu lagi dan mengutuk lemahnya dirimu, “Kenapa aku tak bisa bertahan lebih lama agar nantinya dapat membanggakan orangtua?” Kau benci karena harus melupakan salah satu cita-citamu untuk menjadi pendakwah besar. Tapi apa daya, kau hanya mampu mengungkapkan semuanya lewat sekumpulan tulisan dalam diary. 

Maka jika kau tak ingin mewarisi perasaan itu pada sang Anak, maka mungkin selain kau memanjakannya, kau juga perlu mengimbanginya dengan menanamkan mental kemandirian. Karena selain kasih sayang, kau juga perlu memberinya kekuatan.

Aku ingin bertanya lagi, kapan terakhir kali kau mengunjungi orangtuamu? Kapan terakhir kali kau membuatnya tertawa dengan cerita-cerita konyol dari kampung rantaumu? Kapan terakhir kali kau mencium tangan ayah, memeluk dan mencium pipi ibu? Kapan terakhir kali mereka bermain dengan gembira bersama anak-anak lucumu? Semoga sampai saat kau membaca tulisan ini, mereka masih dalam keadaan sehat sejahtera. Jika pertanyaan di atas masih kau anggap sebagai formalitas pulang kampung semata, maka camkan cerita ini baik-baik. 

Setelah kau tamat SMA, hasil voting keluarga menunjukkan bahwa kau harus melanjutkan pendidikan di tanah Jawa. Empat tahun kau kuliah. Dan kau hanya sempat pulang kampung menemui mereka sekali dalam setahun. Kau pasti masih ingat tradisi keluarga saat kau kembali ke rumah, kedua kakakmu membela-belakan diri untuk datang dan berkumpul, hanya agar kau dapat melihat kondisi keluarga komplit dan agar kau dapat merasa betul-betul sedang kembali ke rumah. Lalu setelah kumpul, ibu akan memasak masakan dengan penuh antusias. Sedang ayah akan mengambil kartu remi beserta buku catatan. Dan mengajak kita semua untuk berkumpuk dan bermain. Ayah selalu berdalih; ini adalah permainan yang mengukur tingkat intelektualitas kita semua. Padahal ayah hanya merindukan suasana berkumpul dan berusaha untuk memberi hiburan pada anak-anaknya. 

Setelah waktu bermain selesai, saatnya mengisi perut yang kosong dengan sajian makanan ibu. Kadang-kadang pada saat makan inilah sering ada pertanyaan terlontar padamu, tentang bagaimana makanmu saat menjadi anak kost di kampung orang, bagaimana kau menaklukkan dosen-dosen dari tugas kuliah, dan bagaimana kau menjaga godaan-godaan dari indahnya gadis-gadis kota. 

Bahkan dalam kondisi lain pun ibu dan ayah selalu ingin mengajakmu berbincang-bincang. Saat ayah sedang duduk santai minum kopi, ia akan mengajakmu duduk bersama dan memintamu curhat akan masa-masa sulitmu menghadapi perkuliahan, hingga mendiskusikan pekerjaan apa yang kau dambakan setelah menyandang gelar sarjana. Saat ibu sedang membelai-belai rambutmu sambil tiduran dan menonton tv, ia selalu menanyakan pergaulanmu sebagai mahasiswa, ia menasehatimu untuk selalu menjaga diri dari rokok, obat-obatan terlarang, minuman-minuman haram, dan tentunya dari gadis-gadis yang akan merusak iman. 

Setiap ada waktu mereka selalu ingin mengobrol denganmu. Ternyata alasannya bukan cuma karena mereka ingin tahu kehidupanmu saat mereka tak bersamamu, atau karena mereka ingin menasehatimu dari kemungkinan terburuk hidupmu, atau cuma karena ingin mendiskusikan kehidupanmu setelah berkeluarga seperti apa. Tapi lebih dari semua itu, sebenarnya hanya dengan cara itulah mereka ingin mengapresiasi diri dari panjangnya perjuangan untuk mendewasakanmu. Mereka tak seperti dulu lagi yang bisa menemanimu bermain sambil menggendongmu. Menamimu olahraga dengan mengandalkan kekuatan ototnya. Menemanimu rekreasi dengan pergi ke tempat-tempat wahana yang kau suka. Mereka tak lagi sekuat dahulu, maka cara terakhir bagi mereka untuk menemanimu, yaitu hanya dengan otak dan mulut saja. Bagi mereka, mendengar pengalaman yang membanggakan dari anaknya yang meraih sesuatu itu adalah penghargaan besar bagi mereka. 

Maka, berkunjunglah ke rumah orangtua. Ajak mereka mengobrol seasik-asiknya. Ceritakan semua pencapaian-pencapaianmu di bidang-bidang yang kau tempuh atau telah kau lewati. Banggakan anak dan istrimu di hadapannya. Katakan bahwa kebahagiaanmu adalah hasil dari karya terbesar mereka.

Aku menceritakan semua hal penting ini agar kau tidak lupa untuk tetap belajar dari rasa-rasa yang menyesakkan. Sungguh, kegagalan bukan saat kau tak berhasil melakukan sesuatu, tapi saat kau tak bisa mengambil pelajaran dari kejadian itu untuk menjadi bekal penting di masa akan datang.

Seperti itu saja yang bisa kusampaikan untuk saat ini. Aku harus melanjutkan laporan skripsiku. Dan mungkin juga kau harus melanjutkan tugas-tugas kerjamu. Satu hal terakhir. Pastikan hingga saat kau membaca tulisan ini, kau masih selalu menulis tentang apa pun yang kau pikirkan dan tentang apa pun yang kau rasakan. Aku ingin kau membalas tulisan ini dengan keadaanmu sekarang yang sepertinya sudah terlihat sok kedewasaan. Teruslah berbagi pengetahuan dan kebaikan. Aku tunggu pesan balasan darimu di tahun 2027, untuk aku yang ada di tahun 2017.

Sekian, salam hangatku untuk orang-orang tercintamu.😊

4

What comes out of the swamp…

As mentioned, we’ve been getting into Guild Wars 2 again, and we almost regret ever leaving. And I have to admit, I’ve fallen a bit in love with Belakane, my Sylvari swamp witch.

She was never very popular with other people, and it was at a time where I was a lot more insecure (not that I can’t be hit by that anymore, but I’m better), so I eventually ended up more or less dropping her, because the reaction just never seemed that good. But I always kind of adored her, and she’s less hollywood voodoo these days, which I think was a good change.

I need to get her that new amulet that make bees fly around you for added effect, she always had a thing for bugs.

Yesterday I decided to just draw something for funnsies :-0 So I drew future Belakane and Gail.  Originally I was going to draw something referencing Mexican culture (a festive skirt and top for Belakane and chola inspired clothing for Gail) But then it turned into this haha XD they just want to go enjoy Summer together haha.  ahhhh drawing.

Enjoy

A.a

Watch on subthecomic.tumblr.com

Working on SUB-