BPI

I’ve gotten a couple questions since my before/during picture was posted on another blog recently, asking if I take any supplements.

Besides protein powder in my fruit/veggie smoothies, I take pre workout. Sorry for the crappy photo quality lol but these are the 2 I love!! I drink BPI usually during my workout, but with Performix I drink it at least 45 minutes before my workout so I don’t get sick haha. I recently got them at GNC & personally BPI is my favorite. :) Both are great & help push my workout even further. If anyone else has any other questions feel free to ask - I just didn’t want to post 5 answers to the same question :)

6

And it is here, dear reader, that we come to meet him as he nears the age of three-and-twenty, his last marriageable season in clear view as a road on the horizon, and thus we may begin to unfold a most unusual tale, which may be instructive and enlightening in its own way, about how love may spring up in the strangest of places.

By Providence, Impoverished, by Poose

The Interview Round: A Guide for LPDP Hopefuls

Sebagai salah satu penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), salah satu hal yang belakangan sering ditanyakan pada saya (dan sering saya tanyakan juga sebelumnya, haha) adalah bagaimana proses wawancara berlangsung dan bagaimana menghadapinya.

Alhasil, saya memutuskan untuk menuliskannya dalam tulisan ini. Karena ada dua tahap seleksi, saya akan membaginya dalam dua bagian, yakni Interview dan Leaderless Group Discussion.

Untuk tulisan ini, saya akan fokus pada yang pertama dulu, yakni…

The Interview.

On Schedules

Tahap seleksi kedua ini biasanya berlangsung selama dua hari. Kalau dari pengalaman saya, biasanya semua peserta akan diminta untuk hadir pada hari pertama untuk pembukaan dari panitia LPDP serta pembagian jadwal dan kelompok. Pembagian ini baru diumumkan setelah pembukaan selesai, dan terdiri dari dua bagian, yakni jadwal dan kelompok wawancara dan jadwal dan kelompok LGD.

Apakah ini berarti bahwa wawancara akan dilakukan secara berkelompok?

Tidak. Biasanya para kandidat akan dikelompokkan sesuai dengan bidang masing-masing, dan setiap kelompok akan mendapat tim pewawancara yang sama. Namun, wawancara akan tetap dilakukan secara individual.

Apakah wawancara dan LGD dilakukan pada hari yang sama?

Bisa ya, bisa tidak. Setiap orang akan mendapatkan jadwalnya masing-masing, sehingga sangat penting untuk mencatat dengan detil jadwal (dan kelompok) wawancara dan FGD yang kita dapatkan. Saya sendiri mendapatkan jadwal wawancara pada hari pertama, pukul 17.30 (alias urutan terakhir), dan jadwal LGD pada hari kedua, pukul 9.45. Tapi ada beberapa teman yang beruntung mendapatkan jadwal wawancara serta LGD pada hari yang sama, jadi seluruh rangkaian seleksi beres dalam satu hari. Oh ya, ada kemungkinan jadwal kita maju karena proses wawancara yang lebih cepat dari jadwal. Jadi usahakan siap di lokasi kira-kira 2 jam sebelum jadwal kita.

What to Expect

Expect to wait – or to not wait at all.

Pengalaman saya adalah urutan wawancara cukup acak, sehingga terkadang meskipun nama kita dimulai dengan abjad awal, masih bisa mendapatkan urutan akhir dan sebaliknya. Jadi siapkan diri untuk menunggu nama kita dipanggil untuk waktu yang lama (saya menunggu selama sekitar 9 jam!). Untungnya saya membawa buku bacaan dan catatan persiapan wawancara, yang cukup membantu menghabiskan waktu. Waktu menunggu yang lama tersebut juga memberikan saya kesempatan untuk berkenalan dan bertukar cerita dengan kandidat-kandidat lainnya, dan ini salah satu hal yang paling menyenangkan! Di sisi lain, kita juga perlu menyiapkan diri untuk dipanggil di urutan awal. Intinya, siapkan mental untuk menghadapi kedua kemungkinan tersebut.

Expect to be asked questions related to:

Yourself. Ini berarti pertanyaan tentang latar belakang, keluarga, sekolah, serta universitas dan program yang kita tuju. Ada beberapa pewawancara yang meminta kita menceritakan, ada juga yang langsung tanya-tanya to the point. Saran saya, disiapkan aja narasi pendek yang menarik untuk memperkenalkan diri kita, jadi kita akan lebih siap kalau diminta seperti itu.

Your essays. Salah satu persyaratan seleksi administrasi adalah membuat dua esai mengenai peran kita bagi Indonesia dan definisi kesuksesan menurut kita. Kadang pertanyaan yang ditanyakan para pewawancara akan berhubungan dengan esai-esai tersebut, jadi pastikan bahwa kita memang menguasai esai-esai tersebut dan tidak membuatnya secara asal-asalan. Penting juga untuk memastikan bahwa jawaban kita konsisten dengan esai yang kita tulis.

Your field of study. Ini kemungkinan besar pasti ditanyakan, jadi siapkan diri untuk menjawab mengenai bidang studi kita, apa yang akan kita pelajari, mata kuliah yang akan kita ambil, rencana penelitian (tesis atau disertasi), urgensi penelitian tersebut bagi Indonesia, dan profesor yang akan (atau kita rencanakan untuk) menjadi supervisor. Pastikan bahwa kita dapat menjelaskan rencana studi kita secara matang dan terperinci, semakin detil semakin baik.

Your activities. Entah kegiatan ekstrakurikuler atau pekerjaan kita saat ini. Sebisa mungkin, tonjolkan kegiatan yang menunjukkan pengalaman dan sisi kepemimpinan kita, dan apa yang kita pelajari dari kegiatan-kegiatan tersebut.

Your leadership skills. Salah satu visi LPDP adalah mencetak pemimpin-pemimpin bangsa, atau setidaknya pemimpin di bidang kita masing-masing, jadi kemungkinan besar kita akan ditanyakan pertanyaan terkait hal tersebut, misalnya: kita jenis pemimpin yang seperti apa, apa pengalaman kepemimpinan kita, bagaimana kita menangani masalah dalam tim, dan lain sebagainya.

Your personality. Salah satu pertanyaan yang kerap ditemui dalam wawancara apapun: apa kelebihan dan kelemahan kita? Tentu saja menjawabnya pun harus berstrategi. Jelaskan kelebihan kita secara wajar (hindari kesan pamer!) dan jelaskan kekurangan kita secara lugas namun diplomatis. Jelaskan mengapa kekurangan tersebut kita anggap merugikan dan apa upaya kita untuk memperbaikinya.

(Pengalaman saya pribadi adalah tidak diminta menjelaskan kekurangan dan kelebihan, namun ditanyakan pertanyaan yang lebih menjebak: “Bagaimana teman-teman kamu memandang kamu?” Haha, saya bingung setengah mati menjawabnya, tapi saya tetap senyum-senyum saja. Pertanyaan seperti ini dilematis karena kalau saya menjawab dengan nada membanggakan diri, misalnya, “Ramah, baik hati dan tidak sombong,” tentu akan dipandang dengan aneh oleh para pewawancara. Di sisi lain, saya tidak mungkin menjatuhkan diri sendiri, kan. Akhirnya saya menjawab dengan jawaban yang “tengah-tengah”, tidak terlalu bagus dan tidak terlalu negatif, “Teman-teman saya mungkin menganggap saya naif.” Lalu setelah saya menjabarkan poin tersebut, saya menutupnya dengan penjelasan mengenai upaya saya untuk mengatasi hal tersebut.)

Your adaptability. Sepengetahuan (sok tahu) saya, LPDP mencari orang-orang yang mandiri, tangguh, dan mampu beradaptasi dengan cepat. Jadi pertanyaan seperti bagaimana kita akan beradaptasi dengan kehidupan di luar negeri sangat mungkin ditanyakan, terutama kalau belum tampak dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Kalau kita punya pengalaman hidup di luar negeri atau di luar kota secara mandiri, kita bisa menceritakan pengalaman tersebut. Kalau tidak, kita bisa menyebutkan mengenai tantangan beradaptasi yang mungkin kita hadapi nantinya, dan bagaimana kita akan menangani permasalahan tersebut. Hal ini akan menunjukkan bahwa kita realistis dan siap menghadapi tantangan yang akan hadir di lingkungan baru, dan tidak lantas ‘silau’ dengan apa yang kita lihat di TV. Yang terpenting adalah membuktikan bahwa kita tidak sekadar manis di mulut saja, jadi pengalaman pribadi sangat penting untuk diceritakan.

Your vision and contribution.  Salah satu hal terpenting yang perlu dilakukan dalam menghadapi semua wawancara adalah mencari tahu apa visi dan misi program atau instansi yang kita lamar, dan menunjukkan bahwa visi-misi personal kita sejalan dengan visi-misi mereka. Basically, LPDP mencari orang-orang yang nasionalis, yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi negara. Nah, kalau kita tipe scholarship hunter yang cuman pengen mendapatkan beasiswa buat jalan-jalan dan kemudian tinggal di negara orang, biasanya akan terdeteksi oleh mereka – dan, bye! Jadi menurut saya aspek ini bukan sesuatu yang bisa dikarang menjelang wawancara, tapi sesuatu yang memang sudah menjadi ambisi dan visi pribadi kita. Tunjukkan, dan buktikan, bahwa kita orang yang nasionalis dan kontributif, bukan benalu penghisap uang rakyat*.

(*ceritanya dramatis :p)

Expect the unexpected:

Salah satu hal yang saya temui dari pengalaman pribadi maupun teman-teman saya adalah bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seringkali random dan tidak kita perkirakan sebelumnya.

Misalnya, apa makna nasionalisme dan integritas menurut kita? Apa moto hidup kita? Apa pesan orang tua saat kita kecil yang masih kita ingat? Apakah kita punya pasangan? Apa yang akan kita lakukan kalau bertemu dan menikah dengan orang asing? (*eaaaaa)

Selain itu, bisa saja kita diminta untuk menyanyikan lagu nasional, atau menyebutkan seluruh sila Pancasila (saya dan teman sampai menghafalkan Pancasila dalam bahasa Inggris, untuk berjaga-jaga).

Saya sendiri tidak mendapatkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, tetapi lebih ditanyakan mengenai contoh kasus yang terkait dengan bidang studi saya dan pendapat saya mengenai kasus atau isu tersebut.

Expect to answer in English, Indonesian, or both:

Dalam bahasa apakah wawancara dilakukan? Tergantung pewawancaranya. :P

Saya pribadi diwawancara dengan menggunakan bahasa Indonesia, tapi banyak juga yang diwawancara dengan full English atau setidaknya dwibahasa. Jadi, pastikan bahwa kita siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan paling teknis dan paling random sekalipun dalam kedua bahasa tersebut.

Expect your personality to be assessed.

Tim pewawancara LPDP terdiri dari tiga orang, yakni dua profesor/ahli dan satu psikolog. Karena itu, jangan coba-coba membohongi mereka karena seringnya malah ketahuan dari bahasa tubuh kita… So how do we have to behave? Tunjukkan attitude yang positif, sopan, dan punya sense of humility. Tetapi selain itu, just be our best selves and don’t pretend to be someone we’re not. Karena itulah,

Expect them to get all ‘up close and personal’.

Sangat mungkin para pewawancara menanyakan hal-hal yang bersifat personal terkait diri kita. Beberapa orang bahkan sempat menangis saat wawancara karena menceritakan hal-hal yang amat pribadi atau berhubungan dengan masa lalu, stuff like that. Saya sempat ditanyakan oleh sang psikolog, apa yang menjadi landasan bagi saya dan membuat saya kuat dalam masa-masa sulit? Tanpa berpikir, saya menjawab “keluarga”. Saya menceritakan mengenai orang tua saya, dan dasar anaknya memang agak sensitif, suara saya sempat tercekat ketika menyebutkan serta membayangkan adik-adik saya. I was lucky they didn’t prompt me any further –  I was so close to tears at that moment.

Random Tips

Jangan lupa membawa berkas lengkap! Tidak hanya dokumen asli yang diminta untuk dibawa oleh LPDP (LoA kalau ada, Transkrip, Surat Izin Belajar/Surat Tugas, Surat Pernyataan bermaterai, TOEFL/IELTS, surat rekomendasi), tapi bawa juga print-out formulir pendaftaran LPDP yang telah diisi secara online dan esai-esai saat seleksi administrasi. Hal ini terbukti berguna karena laptop salah satu pewawancara saya error jadi tidak bisa melihat data saya, untungnya saya membawa print-out formulir pendaftaran.

Jangan lupa berdoa dan meminta doa orang tua dan orang-orang! Namanya seleksi wawancara, hasilnya sangat subyektif dan kadang “faktor X” pun sangat berpengaruh, termasuk doa dari banyak orang.

(Try to) Be in the best of moods! Wajar jika kita gugup menghadapi wawancara, tapi berusahalah sebisa mungkin untuk menjaga mood kita tetap baik sebelum wawancara. Kita yang paling mengenal diri kita kan, so do what makes you happy. Sebagai orang terakhir yang dipanggil wawancara, saya memang menganggur seharian, tapi sejujurnya – that day was super fun! Saya menjalani ‘penantian’ tersebut dengan sahabat saya, mengobrol seru dengan beberapa teman, berkenalan dengan banyak orang baru dan secara tidak disangka-sangka bertemu dengan teman masa kecil. I was so happy that day that when I entered the interview room it probably showed and gave the interviewers a good impression, I don’t know. Hal yang mau saya tekankan hanyalah, kalau kita bersikap positif, orang lain pun akan merespon kita secara positif.

Namun,

ada kalanya juga ketika kita merasa telah melakukan semuanya, dan telah memberikan yang terbaik, namun masih tidak lolos. Ini TIDAK berarti kita tidak qualified. Kadangkala ini hanya berarti bahwa profil kita tidak sesuai dengan visi-misi LPDP – dan ini tidak membuat kita buruk karenanya. Kadang ini berarti kita kurang mempersiapkan diri. Kadang ini berarti kita harus belajar dari kesalahan dan mencoba lagi. Apapun itu, ingatlah satu hal: our time WILL come.

So go get ‘em, guys! Break a leg! =)

(Credits to Indah Gilang Pusparani for her valuable inputs.)

What's wrong with your arm?
  • I punched a shark in the face.
  • Smoked some bad weed.
  • Slept on it funny.
  • What are you talk—oh my god! What did you do?
  • What happens in Vegas stays in Vegas.
  • Big-ass spiders, man.
  • Hulk got me.
  • Routine vaccination gone wrong.
  • Shhh. We don’t talk about that.
  • Zombie apocalypse of ‘07.
  • Stood too close to Beyonce. That kinda radiance is dangerous.
  • Did you know there is not actually a Platform 9 3/4?
  • God had to compensate for my unearthly beauty.
  • Occupational hazard.
  • I survived the Fire Swamp, but nobody withstands The Machine.
  • You shoulda seen the other guy. Just kidding, he’s fine. He’s a silverback gorilla.
  • Russian roulette. Funny thing is, I won.
  • Always wear dry socks.
  • Always wear a helmet.
  • Never drink alcohol.
  • Nothing, thank you, it’s just fine and dandy. How’s yours?

I forgot a looong time ago I said I’d put one of my pieces about Erb’s Palsy up. This is my favorite one on the subject. It’s like half a sculpture and painting, because its made out of plastic sheets, wires and paint. It’s made up of three separate canvases. And it just illustrates the nerve damage and how I can’t lift my left arm over my head and it feels like my body is two separate wholes as a result.

My name is Taisia Johnson. I am 20 years old.  I was born with Brachial Plexus Injury.  I have gone my whole life feeling slightly alone, never realizing there are others out there just like me.  Due to my BPI I have very limited mobility in my right arm.  I can’t raise it above my head, I can barely lift a 5 lb weight, and have 0 sensation in the entire arm.  I recently decided to watch Finding Nemo. (We had it on dvd in the garage and it just seemed nice to reminisce).  As I watched I began crying.  Nemo was me and I was Nemo.  He went through life struggling, but always kept a positive attitude.  So from here on out I shall do the same.  I now declare my right arm as “My Lucky Fin!!”  Shout out to all you beautiful people who have been blessed with a “Lucky Fin.”

3

Hey guys, so as some of you know today is No Shame Day. Basically it’s so that the disabled can share their stories without shame. And I’m sharing mine!!!
I have a brachial plexus nerve injury to my left arm and shoulder which happened during my birth. Basically what happened is, I somehow became stuck behind my mothers pelvic bone and the doctor delivering me made an oops and pulled my neck too far to the side, thus tearing and breaking the nerves in my neck that leads to my left arm. This has left me handicapped for the rest of my life.
It’s been very hard on me and on my family seeing me struggle and suffer my way through. I have had multiple surgeries to try to fix my arm. One of them where they took a nerve from my leg and put it in my shoulder to reconnect the signals for growth.
I’ve been in and out of physical therapy and I’ve been bullied because of the position of my arm and my complications in doing every day tasks.
This injury has left my arm to be caught at an odd angle at my elbow and I have no connection to my wrist, so it hangs back like I am holding something. I always get flustered and embarrassed when someone notices it and asks “what’s wrong with your hand?” “Why are you always holding your hand that way?”
It gets very tiring. I constantly wear nothing but long sleeved shirts to hide the angle of my arm from the rest of the people.
Apparently my case of BPI is a bit more severe than the average. I still cannot lift very much. My arm is not straight even though I have gone through castings and having to wear splints to straighten it. And it hurts like a mother fucker just about all the stinking time. And for most of my life I was, and still am so bitter about this. I despise everything about my cursed disability. But. At least I’m trying to continue to help myself.
I have very teeny tiny muscles in my arm, which I am flexing as hard as I can in the first picture. The second picture, you can see the unevenness in my shoulders, and how I hide my arm behind my leg. I didn’t even know I was doing it, but it has become a habit over time to hide my imperfection. And I shouldn’t have to feel the need to hide. I shouldn’t be ashamed of my body, and norther should you. The last picture is one where I felt very beautiful. It was taken, like the other two, today and the end of my hike.

BPI is not well known as I and many others with BPI would hope it would be. It’s not the worst but it is a very difficult physical disability to cope with every day. I’m trying to improve myself. I know I will not get the outcome I hope for, but at least I’m still trying! And I encourage all of you with a disability to do so as well. You are all important and special. Don’t be ashamed of your disabilities.

tbh I found the word ‘disabled’ ridiculously empowering after spending my life trying to blend in and act normal, having my family cluck with distress if there was ever the implication that I was anything less than a perfect ‘normal’ child

like I’m allowed to be disabled, to be who I am and adapt to my limitations freely without feeling ashamed or like I have to hide it to make other people feel comfortable…I am happy I can call myself DISABLED instead of just mumbling, ‘it’s a birth injury’ or making feeble jokes about it being a shark attack…jokes my mother suggested I use to avoid having to talk about it.

 I feel so much better about myself now that I can say the word DISABLED  

Today was the first time I have ever even thought of scrolling through the BPI and Erb’s Palsy tag. I’ve never met or heard of anyone else with EP and it’s kind of cool reading that other people have it (none of you appear to be in Australia though). You’re all talking about your surgeries though which I didn’t even know existed until recently!

I Google Erb’s Palsy, specifically in Australia, and there is nothing! No information or support whatsoever, whereas the US and UK have websites and magazines and other information on it.

Anyway, if you have BPI or EP, message me for a chat. :-) Xx