Anak

Kuliah 2: Memahami Karakter Anak ala Rasulullah

“Pendidikan yang keras dan kasar hanya akan menghilangkan kelapangan jiwa, melenyapkan semangat, menumbuhkan kemalasan dan karakter dusta, sehingga pada akhirnya dapat menimbulkan sikap licik. Jika hal ini menjadi kebiasaan dan akhlaknya, niscaya rusaklah nilai kemanusiaannya.”

– Ibnu Khaldun dalam buku Muqaddimah

Bismillaahirrahmanirrahim…

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel Kuliah 1. In syaa Allaah akan ditulis berkesinambungan. Semoga bermanfaat. :)


Pada dasarnya, metode Nabawiyah menekankan aspek dasar pendidikan adalah dengan kelembutan. Meski demikian, pendidikan Nabawiyah pun tidak menafikan adanya hukuman, bahkan dengan pukulan. Hal ini agaknya berseberangan dengan teori psikologi Barat yang bahkan “mengharamkan” mengucapkan kata “jangan” pada anak-anak. Padahal Al-Qur’an telah berkali-kali merangkumkan kalimat larangan dan penegasan yang diawali dengan kata “jangan”.

Namun, penetapan hukuman dalam pendidikan pun harus dilakukan dengan tahapan. Jelas tidak dapat dibenarkan ketika ada anak yang berbuat salah, kemudian tanpa tedheng aling-aling sang guru maupun orangtua memukulnya dengan dalih mengikuti sunnah Rasul. Jelas tidak dapat dibenarkan menghukum dengan keras tanpa mempertimbangkan karakter anak maupun tingkat kesalahannya. (Tentang tahapan menghukum ini, in syaa Allaah akan saya ringkaskan pada artikel selanjutnya).

Pada artikel ini, in syaa Allaah pembahasannya mengerucut pada cara Rasulullah dalam memahami karakter anak. Rasulullah adalah suri teladan final dalam segala hal. Termasuk dalam hal mendidik anak. Saya begitu terkesima ketika mendengar kisah-kisah Rasulullah yang begitu lembut ketika membersamai anak-anak. Sungguh, beliau adalah seorang panglima dan punggawa di medan perang, namun di sisi lain, beliau pun telah menjadi pemenang di hati seluruh umat manusia. Maa syaa Allaah. Shalaatu wassalaam ‘alayk yaa Rasulullaah… :’)


Setidaknya ada 5 hal yang perlu kita perhatikan, sebagai orangtua, calon orangtua, maupun orang yang menggeluti dunia anak-anak; para pendidik misalnya.

1. Menjaga perasaan anak

Pernah dengar kisah Rasulullah yang memanjangkan sujudnya saat Hasan atau Husein sedang asyik menaiki punggung beliau? Kemudian ketika para shahabat bertanya mengapa sujud beliau lebih lama dari biasanya, apa jawaban beliau?

“Sesungguhnya tadi cucuku sedang menaiki punggungku. Aku hanya tak ingin mengganggunya hingga mereka puas melakukan itu.”

Bagaimana? Terkesima? Sabar dulu. Itu baru contoh pertama di poin pertama. :)

2. Memeluk dan mencium anak

Rasulullah, sebagai seorang Nabi sekaligus Rasul, tentu saja beliau adalah orang yang dianugerahi kecerdasan dan keluasan ilmu yang luar biasa. Namun, di hadapan anak-anak, beliau tak pernah merasa “jaim” untuk “menurunkan derajat” keilmuannya itu. Beliau tak pernah jaim untuk berbaur bersama anak-anak. Beliau tak pernah bermuka masam kepada anak-anak. Beliau tak pelit dalam menyatakan rasa sayang. Bahkan beliau adalah orang yang paling murah dalam mengulurkan tangannya untuk menggendong, memeluk, atau sekadar mengelus kepala anak-anak.

Saya kutipkan sebuah hadits berisi cuplikan kisah yang dibawa oleh Anas bin Malik, asisten kesayangan sekaligus orang kepercayaan Rasulullah.

"Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih sayang kepada anak-anak daripada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam. Putra Nabi (yang bernama) Ibrahim memiliki ibu susuan di daerah Awaali di kota Madinah. Nabi pun berangkat (ke rumah ibu susuan tersebut) dan kami bersama beliau. Beliau masuk ke dalam rumah yang ternyata dalam keadaan penuh asap, karena suami ibu susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Nabi pun segera mengambil Ibrahim lalu menciumnya, lalu beliau kembali.” (HR. Muslim)

Atau dalam kisah yang lain, Rasulullah di tengah kesibukannya dalam tugas kenabian ternyata sempat meluangkan waktunya untuk bermain dengan anak-anak. Usamah bin Zaid pernah bercerita, “Rasulullah pernah mendudukkanku di satu pahanya dan mendudukkan Hasan di paha yang satunya. Kemudian beliau merangkul kami berdua sambil berdoa,

"Ya Allah cintailah keduanya, sungguh aku mencintai mereka berdua.” (HR. Bukhari)

3. Melayani imajinasi anak

Pikiran anak-anak ibarat lemari yang berisi segudang imajinasi. Ada sebuah kisah menarik lainnya yang kali ini terjadi antara Rasulullah dan salah seorang istri tercintanya; Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Kisah ini diceritakan oleh ‘Aisyah sendiri.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tiba dari perang Tabuk atau Khaibar, sementara kamar ‘Aisyah ditutup dengan kain penutup. Ketika ada angin yang bertiup, kain tersebut tersingkap hingga mainan boneka ‘Aisyah terlihat. Beliau lalu bertanya, “Wahai ‘Aisyah, apa ini?” ‘Aisyah menjawab, “Itu mainan bonekaku.”

Lalu beliau juga melihat patung kuda yang mempunyai dua sayap. Beliau bertanya, “Lalu sesuatu yang aku lihat di tengah-tengah boneka ini apa?” ‘Aisyah menjawab, “Boneka kuda.” Beliau bertanya lagi, “Lalu yang ada di bagian atasnya itu apa?” ‘Aisyah menjawab, “Dua sayap.” Beliau bertanya lagi, “Kuda mempunyai dua sayap?”

‘Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?” ‘Aisyah berkata, “Beliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat giginya.” (HR. Abu Daud)

Lihat, bagaimana Rasulullah menanggapi imajinasi ‘Aisyah yang kala itu masih berusia belia. ‘Aisyah berimajinasi bahwa boneka kuda memiliki sayap (dalam siroh dijelaskan bahwa imajinasi ini ternyata dibenarkan dengan dalil bahwa kuda Nabi Sulaiman memang memiliki sayap). Beliau mendengarkannya dengan seksama, bahkan menimpalinya dengan tawa. Tak sedikitpun mematahkannya.

4. Jangan pernah berbohong pada anak

Rasulullah telah mengajarkan bahwa ternyata memanggil anak kecil untuk diberi sesuatu padahal ia tidak punya yang dijanjikan tersebut dinilai sebagai sebuah kedustaan, dan itu dilarang. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amir radhiyallahu ‘anhu.

“Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pernah datang ke rumah kami yang saat itu aku masih kecil. Lalu aku ingin keluar untuk bermain. Ibuku pun memanggilku, “Hai kemarilah, aku akan memberimu sesuatu. Kemudian, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu benar-benar ingin memberinya sesuatu?”

Ibuku menjawab, “Aku akan memberinya kurma.”

Rasulullah pun bersabda, “Jika saja kamu tidak memberinya apa-apa, niscaya dicatat atasmu perbuatan dusta.” (HR. Abu Daud).

5. Menjaga lisan terhadap anak

Termasuk bentuk menjaga lisan terhadap anak adalah dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, tidak menggunakan bahasa “alay”, dan lebih baik menggunakan bahasa baku. Sebab Rasulullah telah menjadi teladan bagi kita sebagai seorang yang memiliki kemampuan berbahasa yang sangat baik.

(Materi ini disampaikan oleh Ust. Galan Sandy; Manajer Kuttab Al-Fatih)

Sekiranya tulisan ini bermanfaat, silakan disebarkan. Allaahu a’lam. :)

Jadilah sahabat bagi anak perempuanmu. Jadilah teman bermain bagi anak laki-lakimu. Jadilah teman terbaik bagi mereka.

Dunia ini banyak menawarkan teman buruk dan sebelum anak-anakmu bertemu dengan mereka…. pastikan anak-anakmu menemukan sosok sahabat terbaik di dirimu.

- Nouman Ali Khan



#35

-Kepada Anakku, Suatu Saat Nanti.

Apa yang kamu pikirkan saat kamu membaca surat ini? Barangkali usiamu sudah 10 tahun dan mengerti banyak hal dan baru saja memperoleh peringkat pertama di kelas. Atau kamu sedang menulis bab 3 skripsimu di fakultas psikologi dan tidak sengaja berkunjung ke blog ini. Aku harap diriku masih ada untuk memimpinmu meraih masa depanmu.

Anakku yang baik. Sudah tahu kah kamu bahwa dunia adalah sebuah arena yang teramat luas? Sebuah tempat yang menuntutmu untuk berjuang dengan konsekuensi yang akan membuatmu jatuh jungkir balik, terperosok ke dalam lumpur kecurangan, saling makan antar manusia, dan hal-hal penuh luka dan tanya. Tapi tenanglah, anakku, Tuhan selalu memberi. Tegakkan kepala dan tubuhmu, hargai dirimu setinggi langit, dan latih keyakinanmu untuk lebih kokoh. Ingatlah, bahwa kamu adalah anakku, seorang yang percaya padamu.

Apakah kamu laki-laki atau perempuan? Bagiku sama saja. Aku akan menerima segala jenis tangis dan tawamu. Kudekap tiap detik dan kusimpan dalam hati sebagai cahaya.

Di hari lahirmu, aku akan meminta maaf karena kamu anakku. Sekumpulan maaf yang merepresentasikan masa depanmu bersamaku dan ibumu. Yaitu segala kecewamu kepadaku suatu saat nanti. Ketika tak bisa kubelikan mainan yang tergeletak manja di sudut Mall yang kita lalui. Segala dendammu ketika kutunjukkan amarahku saat kamu bercanda ingin punya mobil untuk pergi ke ulang tahun sahabatmu yang ke 20. Maaf atas ketidaksempurnaanku sebagai Ayah yang paling nomor satu.

Anakku, lihatlah awan jingga selepas subuh. Itu adalah pemandangan paling membuatku haru. Makna yang memungkinkanku untuk selalu kuat bertarung hingga kamu merasa sedikit tenang dan bahagia. Simbol harapan baru bagiku untuk menjagamu. Membuatmu mengatakan, “Ayahku hebat!”. Tapi aku menyadari, penghargaan darimu itu terletak di puncak dari segala usaha. Dan itulah makna sebagai seorang Ayah.

Barangkali kamu bosan melihatku diam membaca koran pagi di teras rumah dan sesekali ibumu menemaniku, tanpa boleh kamu ikut berbincang. Baiklah, akan kuberitahu, aku dan ibumu sesekali mendiskusikanmu. Kadang berdebat lucu membayangkanmu menjadi seorang dokter atau sastrawan, manajer atau pengusaha kuliner, dan lain-lain. Begitulah kami. Dan selalu setiap pagi aku berdoa agar kamu membaca beberapa buku yang kukoleksi sejak kecil. Pilih saja yang kamu mau: Paman Gober, Buku Puisi Chairil Anwar atau Rumi, Novel-Novel, Sejarah Manusia, Buku-Buku Agama, Psikologi, Filsafat, dan beberapa buku yang kutulis. Tapi tak ada buku motivasi. Bacalah buku-buku itu, sebab aku tak sanggup melihatnya berdebu dan menguning. Seperti diammu saat kita berselisih paham.

Satu hal yang harus kamu pahami, bahwa Ibumu adalah perempuan yang kupilih karena dia menerima apa yang ada di diriku. Dia memberiku kepastian sebuah keluarga yang terbuka pada masalah masing-masing. Ibumu yang selalu berada di dekatmu itu adalah sosok yang terlahir bahagia. Binar matanya yang menyembuhkan takutmu, senyum indahnya yang menawarkan benci dan dendam, adalah tautan hidupku yang lain. Permata yang menaungi kita. Dialah yang paham bahwa ada setitik cinta yang masih melekat di diriku tentang perempuan yang bernama Nay. Yang dengan cara apa pun tak bisa lenyap. Suatu saat kamu akan tahu siapa Nay. Dia membangkitkan dan memberikan sebuah makna hidup yang dalam. Membakar hatiku dalam memenuhi paru-paruku dengan abu kesetiaan, harapan, dan penyesalan. Dia yang menempatkanku sebagai orang yang dicintai dan aku pun mencintainya. Suatu saat kita akan membicarakan ini ketika kamu lulus kuliah. Sebelum kamu memutuskan untuk melamar atau dilamar. Ambilah pelajaran agar tidak terulang kepada generasimu: yaitu jangan mempermainkan kepastian.

Anakku, buat bangga diriku dan ibumu. Dan maafkan kami jika membuatmu terpuruk.

*Surat ini kutujukan kepadamu, anak pertamaku. Ngomong-ngomong nama ibumu Cisilia, bukan?

Ayo Hujan-Hujanan, Nak!

Oleh: Ust. Budi Ashari, Lc (parentingnabawiyah.com)

Ayo Nak, hujan-hujanan….

Karena ini bukan sekadar sebuah kesenangan bermain dengan rintik dari langit yang memang sangat menyenangkan. Juga bukan sekadar penelitian ilmiah tentang manfaat hujan, yang baru hangat dibahas hari-hari ini.

Hal ‘sepele’ ini perlu dibahas karena anak-anak pasti senang hujan-hujanan. Sementara para orangtua hari ini cenderung berkata: “Jangan, nanti sakit, nanti masuk angin, nanti demam, nanti pilek…” Dst.

Apakah itu konsep parenting yang benar?

Dengarkan kisah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berikut ini:

قَالَ أَنَسٌ: أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ، قَالَ: فَحَسَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ، حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى»

Anas berkata, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam kehujanan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyingkap pakaiannya agar terkena air hujan. Kami bertanya, ya Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini?

Beliau menjawab, “Karena ia baru saja datang dari Rabb Ta’ala.” (HR. Muslim)

An-Nawawi menjelaskan hadits ini,

“Maknanya bahwa hujan adalah rahmat, ia baru saja diciptakan Allah Ta’ala. Maka kita ambil keberkahannya. Hadits ini juga menjadi dalil bagi pernyataan sahabat-sahabat kami bahwa dianjurkan saat hujan pertama untuk menyingkap –yang bukan aurat- agar terkena hujan.” (Al Minhaj)

Ibnu Rajab dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para sahabat Nabi pun sengaja hujan-hujanan seperti Utsman bin Affan. Demikian juga Abdullah bin Abbas, jika hujan turun dia berkata, “Wahai Ikrimah keluarkan pelana, keluarkan ini, keluarkan itu agar terkena hujan!”

Ibnu Rajab juga menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib jika sedang hujan, keluar untuk hujan-hujanan. Jika hujan mengenai kepalanya yang gundul itu, dia mengusapkan ke seluruh kepala, wajah dan badan kemudian berkata, “Keberkahan turun dari langit yang belum tersentuh tangan dan bejana.”

Abul Abbas Al-Qurthubi juga menjelaskan,

“Ini yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam untuk mencari keberkahan dengan hujan dan mencari obat. Karena Allah ta’ala telah menamainya rahmat, diberkahi, suci, sebab kehidupan dan menjauhkan dari hukuman. Diambil dari hadits tentang penghormatan terhadap hujan dan tidak boleh merendahkannya.” (Al Mufhim)

Bahkan para ulama, seperti Al Bukhari dalam Shahih-nya dan Adabul Mufrod, Muslim dalam Shahih-nya, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf-nya, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubro. Semuanya menuliskan bab khusus dalam kitab-kitab hadits mereka tentang anjuran hujan-hujanan.

Masihkah ada yang menyangsikan bahwa hujan-hujanan itu dianjurkan?

Mengapa kita menuduh hujan yang berkah sebagai sumber malapetaka?

Kita sebagai orangtua tentu bisa mengamati kondisi anak kita di hari itu, saat hujan turun. Jika mereka tidak terlalu bugar, kita bisa melarangnya. Namun jika mereka sedang sehat dan bugar, mengapa kita larang? Tak usah khawatir. Hujan adalah keberkahan, kesucian, pengirim ketenangan, bahkan penghilang kotornya gangguan syetan.

Selesai hujan-hujanan, suruhlah mereka mandi, mengguyur kepalanya, minum madu, habbatus sauda’ dan lainnya. Agar kekhawatiran itu pergi. Dan keberkahanlah yang telah mengguyur kepala dan sekujur badan mereka.

Jadi, sudah siap hujan-hujanan?

Obrolan Sebelum Tidur
  • Sacchi:What is Allah doing now Mommy?
  • Pertanyaan seorang gadis kecil sebelum dia tertidur.
  • Hmm, simple! Tapi membuat ibunya berpikir keras...
  • Sacchi:My muallim and Abak said Allah never sleeps
  • Mommy:Yes, it's true... Allah is always awake; He never sleeps, nor is in need of sleep.
  • Sacchi:Is Allah keep watching and looking after us every time, everybody, everything?
  • Mommy:Yes, He is. Every living things on this Earth needs Him. Allah sees us no matter where we are or what we are doing.
  • Sacchi:If I did bad things and I seek forgiveness of Allah, will He accept it?
  • Mommy:What do you think?
  • Sacchi:"Yes, He will... because you said Allah is the Most Merciful. I think Allah loves me.
  • Mommy:Insya Allah... as long as you commit to be a better person.
  • Sacchi:What is commit?
  • ‪Hiyaaa‬ jadi panjang, dan ga tidur tidur....
  • *
  • Sumber= status facebook uni Mediaputri Yohana
Tiada anak yang bawa sial. Tiada anak yang bawa tuah. Tiada. Semua adalah permata. Hargailah mereka. Amanah untuk ibu bapa. Ibarat kain putih, ibu ayahlah yang membentuknya. Kenalkan padanya cinta Allah dan Rasul. Jadilah sahabat yang terbaik buat mereka.
—  PU Abu #PencetusUmmah
Siapa yang menolongmu ke surga?

Suatu hari saya bersenggolan dengan seseorang yang tidak saya kenal. “Oh, maafkan saya,” reaksi spontan saya. Ia juga berkata: “Maafkan saya juga.” Orang itu dan saya berlaku sangat sopan. Kami pun berpisah dan mengucapkan salam.

Namun cerita jadi lain, begitu sampai di rumah. Pada hari itu juga, saat saya sedang menelphone salah satu kolega terbaik saya, dengan bahasa sangat lembut dan santun untuk meraih simpati kolega saya itu, tiba2 anak lelaki saya berdiri diam-diam di belakang saya. Saat saya berbalik,
hampir saja membuatnya jatuh. “Minggir!!! Main sana, ganggu saja!!!” teriak saya dengan marah. Ia pun pergi dengan hati hancur dan merajuk.

Saat saya berbaring di tempat tidur malam itu, dengan halus, Tuhan berbisik, “Akan kusuruh malaikat menyabut nyawamu dan mengambil hidupmu sekarang, namun sebelumnya, aku akan izinkan kau melihat lorong waktu sesudah kematianmu. Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan. Tetapi dengan anak yang engkau kasihi, engkau perlakukan dengan sewenang-wenang, akan kuberi lihat setelah kematianmu hari ini, bagaimana keadaan atasanmu, kolegamu, sahabat dunia mayamu, serta keadaan keluargamu”
Lalu aku pun melihat, hari itu saat jenazahku masih diletakkan di ruang keluarga, hanya satu orang sahabat dunia mayaku yg datang, selebihnya hanya mendoakan lewat grup, bahkan jg ada yg tdk komentar apapun atas kepergianku, dan ada yg hanya menulis 3 huruf singkat, ‘RIP’.
Lalu teman-temanku sekantor, hampir semua datang, sekejap melihat jenazahku, lalu mereka asik foto-foto dan mengobrol, bahkan ada yg asik membicarakan aibku sambil tersenyum-senyum. Bos yg aku hormati, hanya datang sebentar, melihat jenazahku dalam hitungan menit langsung pulang. Dan kolegaku, tidak ada satupun dari mereka yang aku lihat.
Lalu kulihat anak-anakku menangis dipangkuan istriku, yang kecil berusaha menggapai2 jenazahku meminta aku bangun, namun istriku menghalaunya. istriku pingsan berkali-kali, aku tidak pernah melihat dia sekacau itu. Lalu aku teringat betapa sering aku acuhkan panggilannya yg mengajakku mengobrol, aku selalu sibuk dengan hpku, dengan kolega2 dan teman2 dunia mayaku, lalu aku lihat anak2ku.. Sering kuhardik dan kubentak mereka saat aku sedang asik dengan ponselku, saat mereka ribut meminta ku temani. Oh Ya Allah.. Maafkan aku.

lalu aku melihat tujuh hari sejak kematianku, teman-teman sudah melupakanku, sampai detik ini aku tidak mendengar aku mendapatkan doa mereka untukku, perusahaan telah menggantiku dengan karyawan lain, teman-teman dunia maya masih sibuk dengan lelucon2 digrup, tanpa ada yg mbahasku ataupun bersedih terhadap ketiadaanku di grup mereka.
Namun, aku melihat istriku masih pucat dan menangis, airmatanya selalu menetes saat anak2ku bertanya dimana papah mereka? Aku melihat dia begitu lunglai dan pucat, kemana gairahmu istriku?
Oh Ya Allah Maafkan aku..

Hari ke 40 sejak aku tiada.
Teman FB ku lenyap secara drastis, semua memutuskan pertemanan denganku, seolah tidak ingin lagi melihat kenanganku semasa hidup, bosku, teman2 kerja, tdk ada satupun yang mengunjungiku kekuburan ataupun sekedar mengirimkan doa.
Lalu kulihat keluargaku, istriku sudah bisa tersenyum, tapi tatapannya masih kosong, anak2 masih ribut menanyakan kapan papahnya pulang, yang paling kecil yang paling kusayang, masih selalu menungguku dijendela, menantikan aku datang.

Lalu 15 tahun berlalu.
Kulihat istriku menyiapkan makanan untuk anak2ku, sudah mulai keliatan guratan tua dan lelah diwajahnya, dia tidak pernah lupa mengingatkan anak2 bahwa ini hari jumat, jangan lupa kekuburan papah, jangan lupa berdoa setiap sholat, lalu aku membaca tulisan disecarik kertas milik putriku malam itu, dia menulis.. “Seandainya saja aku punya papah, pasti tidak akan ada laki2 yang berani tidak sopan denganku, tidak akan aku lihat mamah sakit2an mencari nafkah seorang diri buat kami, oh Ya Allah.. Kenapa Kau ambil papahku, aku butuh papahku Ya Allah..” kertas itu basah, pasti karena airmatanya..
Ya Allah maafkanlah aku..

Sampai bertahun2 anak2 dan istriku pun masih terus mendoakanku setelah sholat, agar aku selalu berbahagia diakherat sana.

Lalu seketika,, aku terbangun.. Dan terjatuh dari dipan.. Oh Ya Allah Alhamdulillah.. Ternyata aku cuma bermimpi..

Pelan-pelan aku pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, masih aku lihat airmata disudut matanya, kasihan sekali, terlalu kencang aku menghardik mereka..
“Anakku, papah sangat menyesal karena telah berlaku kasar padamu.“Si kecilku pun terbangun dan berkata, “Oh papah, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.”
“Anakku, aku mencintaimu juga. Aku benar-benar mencintaimu, maafkan aku anakku” Dan kupeluk anakku. Kuciumi pipi dan keningnya.
Lalu kulihat istriku tertidur, istriku yang sapaannya sering kuacuhkan, ajakannya bicara sering kali aku sengaja berpura2 tidak mendengarnya, bahkan pesan2 darinya sering aku anggap tak bermakna, maafkan aku istriku, maafkan aku.

Air mataku tak bisaku bendung lagi.
Apakah kita menyadari bahwa jika kita mati besok pagi, perusahaan di mana kita bekerja akan dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Teman2 akan melupakan kita sebagai cerita yang sudah berakhir, beberapa masih menceritakan aib2 yang tidak sengaja kita lakukan. Teman2 dunia maya pun tak pernah membahas lagi seolah, aku tidak pernah mengisi hari2 mereka sebagai badut di grup.
Lalu aku rebahkan diri disamping istriku, ponselku masih terus bergetar, berpuluh puluh notifikasi masuk menyapaku, menggelitik untuk aku buka, tapi tidak.. tidak.. Aku matikan ponselku dan aku pejamkan mata, maaf.. Bukan kalian yang akan membawaku ke surga, bukan kalian yang akan menolongku dari api neraka, tapi ini dia.. Keluargaku..
keluarga yang jika kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.


________________________________

Dpt dari grup di whatsapp.
G tau ini fiktif atau bukan. Tp yang jelas bagus buat dijadikan renungan.
Smoga bermanfaat..

“Dosa anak-anak tidak akan ditanggung ibubapa jika ibubapa dah beri didikan agama, dah nasihat dan tak tau pun anak itu buat salah atau maksiat tersebut (di belakang mereka). Jadi anak itu menanggung dosanya sendiri.

Melainkan jika ibubapa tahu tapi buat tak tahu, tak nasihat langsung, atau tak berusaha beri didikan agama, baru ibubapa pun juga menanggung dosanya.

—  #TanyalahUstaz
tulisan : Bapak

Beberapa jam lalu saya dihubungi Bapak, hanya tidak lebih dari 2 menit beliau bicara. Laki-laki pendiam itu memang tidak banyak mengeluarkan kata dalam hidupnya, kecuali jika dirinya bercerita tentang hidup dan memberikan nasehat. Diakhir pembicaraan itu yang membuat saya menitikkan airmata. cemburu

Dulu ketika saya masih berstatus murid Sekolah Dasar di pinggiran kota, setiap pembagian raport percaturwulan (sistem pendidikan masih memakai caturwulan, dengan ujian dan pembagian raport 4 bulan sekali) Bapak selalu berangkat paling awal dari rumah, setelah shubuh beliau telah siap dengan pakaian batik dan celana bahan yang hanya dipakai diacara resmi, termasuk pengambilan raport anaknya. Pukul enam pagi dengan diantar abang saya menaiki Vespa (Bapak saya seumur hidupnya tidak bisa mengendarai sepeda motor) mereka pergi ke sekolah saya. Saya saja masih di rumah dan selalu ribut dengan saudara perempuan saya, mulai dari baju yang belum disetrika, kaos kaki yang tidak berpasangan, sampai uang jajan yang kurang, padahal itu hanya pengambilan raport. Bapak memang meninggalkan saya –dengan segala kesemrautannya- di rumah, beliau lebih suka menunggu saya di sekolah sambil berbincang dengan Bapak penjaga sekolah yang tidak lain adalah temannya dulu di TNI wilayah Sumut-Aceh, karena tangan Bapak penjaga sekolah itu putus ketika pembebasan bertugas di Irian Barat, setelah pensiun dini beliau hanya bisa bekerja sebagai penjaga sekolah di dekat rumahnya.  

Pukul delapan pagi saya baru tiba di sekolah, beda satu setengah jam dari Bapak yang dengan senyumnya melihat saya tiba. Seragam putih merah, topi yang hanya saya sangkutkan di tali tas karena rambut saya dikucir dua secara paksa oleh kakak (kalian tau, kakak saya punya obsesi adik perempuan dari dulu setelah 4 abang saya lahir, lalu sayalah korban dari obsesinya itu. Takdir memang kejam kadang-kadang), sepatu yang diikat rapi karena talinya sudah disimpul ala tentara oleh Bapak.  Banyak murid yang sudah berbaris dan saya dengan wajah tidak bersalah menyalip barisan dan berdiri di depan. Teman-teman yang lain hanya mundur tanpa komentar, sudah kebiasaan. Terlambat dan menyalip barisan, sungguh perbuatan yang sangat bertolak belakang dengan yang diajarkan Bapak untuk pasukannya dulu.

Guru-guru, kepala sekolah, staf perpustakaan, sampai pegawai koperasi sudah berdiri rapi di depan kami. Lalu Bapak kepala Sekolah yang sedikit kemayu itu menyampaikan pidatonya, selama 15 menit dia berpidato tidak ada satupun dari kami muridnya yang mendengarkan, semua sibuk dengan urusan masing-masing. Mirip-mirip anggota dewan sekarang. Tidak terkecuali saya yang sudah beberapa kali mengambil tempat di posisi ranking pertama. Juara umum, dan murid teladan(?).  hanya Ibu yang protes jika saya dinobatkan murid teladan yang diiringi dengan istighfar.  Setelah Kepala sekolah selesai dengan pidatonya, beliaupun mempersilahkan satu persatu wali kelas untuk mengumumkan peringkat 1 sampai 3 di kelas. Orang tua yang berdiri di barisan belakang murid akan dipanggil dan diberikan penghargaan oleh sekolah karena anaknya mendapat juara. Tiba giliran kelas saya, waktu itu saya duduk di kelas 4 SD. Setelah 3 tahun berturut-turut saya mendapat juara 1, 3 tahun itu pula Bapak tidak pernah absen mengambil raport saya. Diantara 3 tahun saya sekolah itu, hanya itu yang membuat Bapak selalu tersenyum datang ke sekolah.  Sebelumnya Bapak datang ke sekolah mengantar surat izin sakit, sedangkan saya hanya malas di rumah, mogok sekolah atau meminta maaf kepada guru karena saya datang terlambat. Bukan karena hanya diantar naik sepeda, namun memang saya yang sangat susah bangun. Ibu sampai beberapa kali menyiram saya dengan air seember, atau menyeret langsung saya ke kamar mandi.  

“sekarang kan kelas digabung, siapa coba yang juara 1?” teman saya mulai berkompromi di barisan tengah, saya hanya diam karena sudah diplototi oleh guru. Sudah terlambat, menyalip barisan, dan ngobrol dengan teman sebelah di barisan depan. Saya sungguh tidak mengerti mengapa saya mendapat predikat murid teladan. Kalau seperti ini saya mahfum Ibu protes. Teman-teman saya yang dulu kelas 1 sampai 3 sekelas dengan saya otomatis mendukung saya untuk juara 1. Lalu teman lain yang dulu beda kelas masih mendukung temannya yang dulu juga langganan juara 1. Ibu wali kelas berdehem, menyampaikan sedikit kalimat pembuka, dan mulai melihat wajah kami, murid kesayangannya. 5 detik kemudian dia mengumumkan juara 3 lebih dulu. Ternyata dia adalah teman sebangku saya, saya manggut-manggut mengerti. Ia pantas mendapat juara karena ikut bimbingan ini itu, ditambah dia banyak bertanya saat guru menerangkan. Berbeda dengan saya yang diam-diam bermain catur dengan murid yang duduk di belakang saya atau mencoret-coret buku pelajaran sesuka hati. Padahal itu buku milik pemerintah.  Dia dan orangtuanya lalu berdiri dan menerima raport serta bungkusan hadiah  yang isinya berupa buku 3 buah, penggaris, pensil, dan pulpen (saya hafal karena hanya itu hadiah tetap yang diberikan, hanya berbeda jumlah pada masing-masing juara).  Selanjutnya Ibu guru tambun itu menyebut nama jura kedua, semuanya kaget, tidak percaya, karena ternyata yang menjadi juara adalah cucu ketua yayasan yang kami semua murid sepakat dia tidak pantas sedikitpun untuk mendapat juara. Bukan karena bodoh, namun memang masih banyak yang lebih pintar dari dia. Sudahlah.

Kini guru mengumumkan juara pertama. Saya tiba-tiba diam,barisan sayapun hening, Ibu guru seolah tahu penasaran muridnya tersenyum sebentar dan menghela nafas. Mengulur waktu. Dan tiba-tiba dia menyebut nama saya lengkap dengan bintinya. Sebagian teman saya bertepuk tangan dan merasa gembira, sebagian bertanya-tanya tentang si juara satu dari kelas sebelah. Jika dia tidak masuk peringkat 3 besar, lalu dia peringkat berapa? Sayapun ikut tidak percaya, namun saya harus maju ke depan, Bapak yang sudah 3 jam hadir pun berdiri di samping saya. Saya menerima hadiah dan Bapak menerima raport. Untuk kali ini saya agak terkejut, ternyata hadiah juara 1 nya ditambah, ada kotak pensil dan sampul plastik. Saya tahu ketika saya mencoba meraba bungkusan hadiah itu. Pegawai koperasi Nampak tidak senang melihat kelakuan saya itu. Di barisan kelas kami, dia –si mantan juara 1 dari kelas sebelah- tidak bisa menahan air matanya. Lalu menangis dan berlari ke belakang mencari Ibunya.

Tugas bapak tidak sampai disitu, beliau selalu –dengan tidak sengaja- mengikuti sunnah nabi. Datang  lebih dulu, pulang paling belakang. Setelah mengambil raport saya beliau juga mengambil raport sepupu saya. Sepupu saya lebih suka ditemani Bapak daripada orangtuanya, entah kenapa. Dari 44 murid di kelas dia peringkat 44. Saya pembuka, dia penutup. Ironi untuk Bapak. Di sini saya terkadang dimarahi oleh Ibu, saya yang disalahkan ketika sepupu saya mendapat peringkat terakhir sedangkan saya jauh diatasnya. Saya dibilang pelit, kikir, tidak mau berbagi ilmu dan tuduhan lainnya. Padahal sungguh demi pencipta langit dan bumi, ibu tahu sendiri kelakuan saya di rumah. Tidak pernah belajar, sering  mengerjakan PR di sekolah, bermain sepanjang hari sampai maghrib, bermain lagi waktu mengaji di mesjid, dan tidur. Buku dari sekolah itu tidak pernah saya sentuh di rumah kecuali teman – teman saya mengajak saya belajar bersama, itupun ujung-ujungnya mereka hanya menyalin kembali PR yang saya kerjakan. Jika saya benar, mereka benar, jika saya salah, mereka hanya tertawa. Resiko mencontek.

Sepupu saya itu, dia memang bukan tipe “orang sekolahan” karena walaupun sama-sama anak terakhir namun nasib kami berbeda. Dia tiap hari harus membantu Ibunya berjualan, walaupun Ibu kami sama-sama berjualan tapi saya tidak pernah membantu Ibu, malah kerjanya minta uang jajan saja. Terkadang Ibu habis daya menghadapi saya, hanya Bapak lah yang sabar dengan saya. Sepupu saya menyapu rumahnya, saya menyerak mainan di rumah dan kakak saya yang merapikan. Sepupu saya menyiram bunga, saya memetiknya untuk dijadikan bahan masak-masakan.  Sepupu saya mencuci baju, saya lompat ke sungai dan bermain hingga kotor. Namun jika di kelas, saya dengan senang hati berbagi dengannya. Pesan Bapak apa yang saya punya harus dibagi dengannya. Parasnya yang cantik dan sikapnya yang diam membuat kakak kelas kami senang mengganggunya, dan otomatis saya yang punya geng dan dekingan abang yang satu sekolah dengan saya akan membelanya. Bapak selalu menganggapnya seperti anak sendiri. Hingga saya SMA peringkat juara itu tidak pernah lepas dari saya. Walaupun saya dan sepupu saya sudah tidak 1 sekolah sejak SMP, namun Bapak selalu rajin mengambil raportnya setelah mengambil raport saya, dan sepupu saya itu selalu senang walaupun tidak ada yang bisa dia banggakan.  Hingga saya kuliah dan dia memilih untuk bekerja.

Beberapa tahun kemudian saya baru tahu alasan dia senang dengan Bapak. Karena Bapak tidak pernah protes dengan peringkatnya dan hanya tersenyum sambil bilang “ini baru raport, rame dan meriah angkanya, warna-warni. Gak kayak si Uni, sepi, rankingnya sedikit gak bisa dibagi-bagi”. Sudahlah.

5 Desember 2015.

Sepupu saya menikah, dan dihari pernikahannya itu Bapak saya mewakili orangtuanya menjabat laki-laki yang menjadi suaminya. Airmata Bapak berderai, untuk pertama kalinya Bapak menangis di depan umum. Ibu sudah tahu penyebabnya, hanya diam dan menyimpan isaknya untuk malam. Saat ia bersama Tuhan. 

Satu jam yang lalu Bapak memberi tahu kenapa beliau menangis setelah saya desak dan mengancamkalau saya tidak mau menghubungi. Beliau kembali menahan isak. Untuk pertama kalinya, sepupu saya itu berada jauh di depan saya, untuk pertama kalinya setelah belasan tahun sepupu saya akhirnya mendahului saya untuk Bapak. Belasan tahun membanggakan Bapak tidak ada apa-apanya dibandingkan 1 hari yang paling ia nanti, menikahkan anak kandungnya.


Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa…

“Ibu bapa jangan stress sangat jika keputusan exam anak biasa ja. Bersyukurlah jika dia ringan tulang tolong orang, jaga solat.” - Katanya.

“La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz zolimin.”

Selalu baca ini agar hilang rasa tak best dalam diri. Sedih, stress, sakit, risau, susah. Cuba.

Semoga dipermudahkan semua urusan kita, insyaAllah.

—  Moga-moga!