@c11

8

The imminent Silverstone Classic has got me all excited about Group C again…..I can’t lie, this is only my 2nd favourite Group C car (after the amazing Jaguar XJR14) but it’s still an incredible piece of engineering and design. The number 31 car here was campaigned by Michael Schumacher in four rounds of the 1990 World Sportscar Championship (the car was driven by Karl Wendlinger and Heinz-Harald Frentzen in the other races),  partnered by veteran Jochen Mass. Schumacher’s first race in the C11 was over before it started, when his qualifying time was disallowed for an infraction, but the other three races went differently; Schumi and Mass brought the car home twice in second place (finishing on the lead lap) and finished the season finale in Mexico with a win.

Schumis Sauber C11 on the starting grid. Have a fantastic weekend! /// @mercedesbenz #Mercedes #Sauber #C11 #KeepFightingMichael #GroupC #LeMans #24LM #LM24 #Rennsport #TicTac #motorsport #racing #spa #francorchamps #drivetastefully #spaclassic #peterauto #iamthespeedhunter #chasingthedream @benzingarage

Le Mans 1991, Group C | Mercedes-Benz C11, the winner was the Mazda 787B with Wankel Engine, other participants: Jag XJR-12, Porsche 962C, Spice SE90C, Lancia LC2

Langford, Oxfordshire, St Matthew’s Church by Eric Hardy
Via Flickr:
The central tower and some impressive sculpture remain from a large late Saxon church. The date is uncertain, but in the Domesday survey of 1086 the parish was listed amongst the royal estates. This may account for the high quality of the work, and it is thought that it was carried out by Saxon masons shortly after the Conquest. The sculpture and architectural decoration show a knowledge of work in the main centres of Anglo-Saxon art in the C10 and C11 and are not by local craftsmen. Two pieces of sculpture have been re-set in the C13 porch, but the tower is entirely Saxon, with the addition of a parapet and corbel table of c.1200. It is of three stages, with two big arched bell-openings on all sides. The arches have roll mouldings and a band of acanthus and palmette leaves replaces capitals. The acanthus and palmette were popular with the Winchester school of manuscript illumination in the late C10 and early C11 and set Langford in the main current of Anglo-Saxon art. On the two lower corners are pilaster strips and central pilasters with stepped capitals, a typical Saxon detail. (Jennifer Sherwood: A Guide to the Churches of Oxfordshire)

Attention all Low Carbers. There’s a tortilla that doesn’t have a ton of carbs. I discovered these a while back but haven’t seen them at my local Giant in a long time up until yesterday. Macros per tortilla are C11//F2//P6. Get this the net carb of this tortilla is only 3g (7g fiber - 11g Carbs = 3g Net Carbs) //// For dinner I’m having a chicken cheesesteak pizza and a vegetarian pizza (un-pictured) ////🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻 #HealthyCollegeStudent #HealthyLifestyle #dinner #healthyLiving #wieghtLoss #healthyFoodie #healthymeals #highprotein #foodisfuel #lowcarb #foodisfuel #fitfam #fitgirl #healthychoices #healthyfoodporn #foodie

C11.

Morning Thursday..

I am in the middle of doing report variance budget vs actual, but it cannot stop me to write what I do really want to write right now. So, pardon me, my boss, it will take only few minutes (Inshaa Allah) hehe.

The reason why I love Critical Eleven

So, basically my post today is about Critical Eleven. C-11 is written by my favorite Indonesian author, Ika Natassa. You must read her novels too (A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Twivortiare and Antologi Rasa), all of her novels are awesome! I love her writing style, but Critical Eleven is absolutely my favorite story, because it short, simple, and deep.

I suggest you to read Critical Eleven, and you might know why it touched my heart hehe

1. The “gamang” feeling of a career woman

Mungkin memang ketika kita merasa sudah punya segalanya, saat itulah kita tidak punya apa-apa. Perasaan “saya udah punya ini-itu, terus apalagi?” memang sering menghantui pemikiran wanita matang dengan karir oke seperti Tanya, tokoh utama dalam Critical Eleven. I kept asking this question to myself, “Setelah ini, terus apalagi?”

2. The best part of travelling is meeting new people and making new friends

Ini kisah Tanya, ketika ia harus travelling kemana-mana untuk urusan pekerjaan dan ia bertemu dengan banyak orang baru. Saya setuju dengan Tanya, bahwa bagian paling seru dari travelling sendirian itu adalah ketika kita duduk di transportasi umum dalam waktu yang lama dan “agak” terpaksa berinteraksi dengan orang yang kebetulan duduk di sebelah kita.

Those things also happen to me, pernah di salah satu perjalanan pesawat Makassar-Jogja, saya duduk di sebelah seorang bapak-bapak paruh baya, beliau pengusaha, punya beberapa toko di Tanah Abang. Tanpa saya minta, bapak itu menceritakan masa mudanya, mulai dari berjualan di Pasar Turi Surabaya hingga kini punya omset milyaran dan toko-toko di beberapa kota di Indonesia. Satu jam pembicaraan kita ditutup dengan sebuah quote dari si Bapak yang sangat mengena, “Kamu boleh pintar seperti apapun, tapi selama kamu masih disuruh-suruh orang, saat itu kamu sebetulnya belum pintar. Apa asiknya jadi buntut macan, ketika kamu bisa jadi kepala kucing? Kepala ada otaknya, buntut cuma ngikut saja.”

3. Jakarta, I love you, but I hate you

Satu quote di Critical Eleven tentang Jakarta “It’s the hustle and bustle of this city that we live for. Comfort zone is boring, right?”

Saya setuju dengan kutipan tersebut walaupun tidak menetap di Ibukota dengan kurun waktu yang cukup lama tapi sedikit tau dan bahkan pernah merasakan. Jakarta memang kejam, dimulai dari jalanannya yang acak adut hingga orang-orangnya yang main sikut :)

Jakarta menyediakan apa saja yang kita butuhkan, tapi perlu usaha untuk mendapatkan itu semua. Kota ini mengajarkan kesabaran yang tiada tara, sabar mau kemana-mana harus kena macet dulu, macet yang kadang sangat tidak manusiawi. Walaupun begitu toh banyak orang yang masih cinta hidup di Jakarta kan, tak peduli seberapa seringnya kita mengeluh, Jakarta punya sejuta pesona untuk membuah kita tetap bertahan di dalamnya. Kalau kata orang, “You are not strong enough if you haven’t lived in Jakarta during rainy season”

Di dalam Critical Eleven, Tanya membandingkan hidup di Jakarta, tempat yang mau apa saja perlu usaha, dan hidup di Rig, tempat mau apa saja langsung ada tapi tidak bisa kemana-mana. Bagaimana pun hidup bebas lebih menyenangkan daripada hidup di sangkar emas, ya kan? Life is an adventure, so explore it while you can.

4. Otak adalah organ pria yang paling seksi ;)

Itu quote dari A Very Yuppy Wedding, tapi sangat pas untuk menggambarkan Ale Risjad, salah satu tokoh dalam Critical Eleven. Dalam Critical Eleven, Ale digambarkan sebagai seseorang yang smart and cool. Smart, karena ia memang pintar, humble, dan yang paling penting, Ale sangat antusias dengan apa yang ia kerjakan. He’s passionate in his career, that’s awesome. Cool, karena ia humoris, tapi juga sangat tenang dan menenangkan. The description of Ale Risjad is indeed the best reason why I love Critical Eleven hahaha.

Tapi intinya bukan itu, menurut saya, yang membedakan cowok dan pria adalah pemikirannya. Pemikiran yang saya maksud bukan smart dalam arti harfiah harus pintar, tapi smart dalam arti punya pemikiran yang luas dan punya visi yang jelas. A guy, who can talk in hours about something that he loves the most, is obviously the best guy to have conversation with. So for me, this quote is always relevant, otak adalah organ pria yang paling seksi.

So, Critical Eleven is really worth-to-read. I give my 5 stars! Hehe.

Kalau kamu bertanya, apa itu Critical Eleven? Itu adalah istilah di penerbangan, dimana saat-saat paling kritis di dalam pesawat adalah 3 menit di saat boarding dan 8 menit di saat landing. Sama seperti hidup, I don’t believe in love at the first sight, tapi 3 menit pertama ketika berkenalan dengan seseorang merupakan awal ketika kamu tertarik untuk melanjutkan perkenalan atau tidak. Dan 8 menit terakhir merupakan awal ketika kamu mengambil keputusan untuk membuat pertemuan selanjutnya atau tidak.

Lalu, bagaimana akhir dari novel ini? Baca sendiri saja ya. Sabar buat yang tidak kebagian pre-order kemarin, tunggu 11 Agustus 2015 di toko buku kesayangan kamu.


Salam Hangat,

Feby.