Tentang 212

Jumat yang Lembut

Sedari dini hari kemarin (Jumat, 2 Desember 2016), mata ini mudah sekali melelehkan air mata. Tenggorokan tercekat, sesekali sesenggukan.

Entah mengapa hari itu, semenjak bangun tidur, hati saya yang kering ini seperti disentuh kembali oleh Allah. Kasih sayang Allah begitu saya rasakan sejak saya beranjak dari ranjang untuk mensucikan diri. Bahkan, entah bagaimana, saya menangis di kamar mandi karena tiba-tiba terlintas di kepala saya, “Nikmat-Nya yang manakah yang kan kau dustakan, bila kau bernafas dengan udara-Nya?”; sambil teringat akan kemaksiatan dan kelalaian yang saya lakukan terhadap Allah, astaghfirullahahl ‘adzhiim. Hari itu berbeda dari biasanya, sejak di kehidupan personal saya.

Saya tidak hadir bersama kaum muslimin lain yang melaksanakan aksi superdamai di Jakarta. Sedih rasanya, tapi saya berusaha mengobati perasaan dengan benar-benar menguatkan niat bahwa apa yang saya kerjakan hari itu adalah jihad dan amal shalih bagi saya–semoga Allah menerimanya.


Tidak Semua Bisa Memahami

Sembari mengerjakan amanah-amanah, ponsel saya men-streaming video dari kanal-kanal online yang menyiarkan langsung Aksi Bela Islam 3. Lagi-lagi, sekian menit sekali, mata ini membasah meski saya sudah berusaha menahannya. Agak malu kalau sampai rekan di sekitar menemukan saya berurai air mata sambil bekerja, mereka akan kebingungan–apalagi mereka yang tidak peduli dan tidak bisa memahami keajaiban aksi ini.

Ya, aksi Bela Islam ini memang sungguh ajaib. Begitu ajaib sehingga saya yakin orang-orang yang menjadi bagian darinya, baik yang hanya menyimak apalagi yang hadir langsung, tidak bisa menggambarkan seluruh experience-nya secara akurat dan menyeluruh lewat kata-kata. Experience itu begitu kuat, kompleks, dan terlalu indah.

Lihat saja bagaimana orang-orang belum juga kehabisan konten untuk dibahas. Bahkan konten yang sama masih dirayakan secara terus menerus. Tapi, seperti kata Aa Gym pasca-aksi 411, ini adalah persoalan hati. Hati yang belum sefrekuensi akan sulit memahaminya.


Keajaiban 212

Diantara limpahan informasi mengenai aksi 212, kemarin saya tak sengaja menemukan konten tentang demonstrasi besar di Korea Selatan. Massanya ada jutaan, namun tetap berlangsung dengan damai. Seseorang memuji demonstrasi tersebut, lalu membandingkannya dengan demonstrasi di Indonesia yang sepenafsiran saya memaksudkan Aksi Bela Islam. Katanya, kurang lebih, aksi di sana luar biasa damai, dan hebatnya itu dilakukan oleh orang-orang yang diverse–tidak seperti di sini, aksi yang besar namun berasal dalam kelompok yang sama.

Tentu siapapun bebas saja berpendapat. Hanya saja, menurut saya definisi “kelompok yang sama” atau “berbeda” itu sangat relatif. Warga Korea bisa disebut sebagai satu kelompok yang sama, jika kacamatanya adalah negara/bangsa/ras. Tetapi satu universitas, bahkan satu unit keluarga besar, bisa dilihat sebagai kelompok yang berbeda, jika kacamatanya adalah dimensi seperti mazhab pemikiran, afiliasi politik, dan lainnya.

Aksi Bela Islam, khususnya jilid 3, dalam kacamata saya sangat ajaib, jika dipandang dari dimensi yang lebih kompleks dari sekadar identitas agama (well, duh). Apalagi, jika kita terbiasa berinteraksi dengan berbagai gerakan Islam sehari-harinya, kita akan melihat bahwa persatuan ummat Islam adalah sesuatu yang sangat mahal harganya. Bahkan, saya sempat berpikir bahwa mungkin persatuan ummat Islam hanya akan terwujud lagi menjelang hari kiamat nanti, ketika Imam Mahdi muncul atau Nabi Isa diturunkan kembali ke bumi.

Tapi, kemarin itu sungguh ajaib. Jutaan orang, benar-benar jutaan (bukan hanya bualan penebar hoax, silakan hitung sendiri berdasaran ruas-ruas area dan jalan yang diisi oleh massa), berpadu dalam ketertiban, kesantunan, dan ketundukan kepada Tuhannya; dan mereka semua adalah ummat Islam!

Yang kemarin-kemarin saling menjelekkan, kemarin bertemu dan saling menebar senyum. Yang anti-politik, yang lewat politik, yang khilafah-is-everything, yang bid’ah-bid’ah, bahkan mungkin yang kofar-kafir terhadap sesama muslim, Allah damaikan hatinya dan Allah persatukan dalam shaff yang berbaris rapi, berkilo-kilo meter. Tidakkah Anda memahami juga bahwa ini adalah suatu keajaiban yang luar biasa? Tidakkah Anda memahami juga bahwa ini adalah karunia Allah yang nyata?

“dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.“

Al-Anfal, 63

Subhanallah, Allahu akbar.


Lebih Dari Soal Penistaan Agama

Awalnya, mendengar ada rencana aksi lanjutan pasca aksi 411, saya skeptis dan bertanya-tanya, “Mengapa masih perlu? Bukankah proses hukum sudah berjalan? Sebenarnya apa yang kita inginkan? Jangan-jangan memang ada agenda lain selain menuntut keadilan?”.

Tetapi setelah 212, saya mendapat dimensi pemahaman yang baru dan berbeda. Entah apa yang sebenarnya terjadi, entah apa yang sebenarnya diagendakan oleh para ulama di GNPF MUI, tetapi jika memang ada “agenda lain” yang direncanakan GNPF MUI, dan agenda lain itu adalah “persatuan ummat Islam”, maka Insya Allah saya akan ada dalam gulungan bola salju itu.

Bersatunya ummat Islam dan tegaknya keadilan jauh lebih mahal daripada menghukum seseorang yang jahat mulut, perilaku, dan kebijakannya. Jadi, jika ada pandangan, “Kenapa ummat Islam begitu besar reaksinya dan begitu panjang mempersoalkan Ahok?”, mungkin pandangan tersebut belum mampu melihat gambaran besarnya: ummat ini sedang mendapatkan momentum untuk bersatu.

Maka, kita maklumi saja jika yang memiliki pandangan tadi mengatakan, misalnya, bahwa jutaan ummat Islam kemarin seperti buih di lautan. Atau mengatakan bahwa aksi tersebut sia-sia, dan lebih baik dananya diberikan kepada yang membutuhkan (tentang ini, bagaimana jika ternyata mereka yang turun aksi juga rajin melakukan ide itu–bersedekah dan membantu yang membutuhkan? Problem? No?). Sebab, seperti gunung es, Ahok hanyalah persoalan yang bisa diobservasi di permukaan. Di bawah itu ada hal-hal yang lebih besar yang menopangnya, dan hanya bisa dimengerti jika kita meluaskan area observasinya.


Doa dan Harapan

“Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu”

Saya ingin berharap, namun di saat yang sama terlalu takut berharap, persatuan ummat Islam ini bisa terus terjaga, terbawa dalam kehidupan sehari-hari, dan semakin kuat dari waktu ke waktu. Saya mencintai situasi ini, namun khawatir bahwa landasan persatuan ini tidak seindah yang saya kira, yaitu keimanan kepada Allah.

Saya khawatir semua ini memang hanya karena Ahok dan mulutnya yang sembarangan, sebab preman yang tak pernah sholat pun bisa marah jika identitasnya (termasuk identitas agama) dihinakan. Bukan karena keimanan, sekadar emosi sesaat saja.

Tapi, mengingat surah Al-Anfal ayat 63 tadi membuat hati ini lebih lega dan lebih optimis dalam meminta kepada Allah. Tidak akan terjadi persatuan kemarin, jika bukan Allah yang merekayasa. Bukan karena Ahok kita semua terpanggil, tetapi karena Allah yang menyentuh hati kita.


Wahai Allah, ampuni kami yang hatinya kotor.

Yang gemar membenci dan mencari kesalahan.

Allah, kami menyaksikan dan merasakan indahnya ukkhuwwah Islamiyyah.

Sehingga kami bertanya-tanya, inikah yang dirasakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar saat pertama kali berjumpa?

Inikah yang dirasakan para mujahid di perang Tabuk yang mendahulukan air untuk saudaranya, hingga mereka semua syahid?

Inikah yang dirasakan para mujahid kemerdekaan Indonesia setiap melewati perkampungan, lalu masyarakat memberikan apa yang mereka miliki untuk kebutuhan dan perbekalan?

Wahai Allah, terima kasih atas segala nikmat ini. Terima kasih atas semua pelajaran ini. Segala puji bagi-Mu, ya Rabb.

Izinkan kami menggenggam nikmat pertalian hati ini lebih lama lagi ya Allah, hingga indahnya cahaya Islam menerangi seluruh pelosok dunia.

Izinkan kami menggenggam nikmat ukhuwwah Islamiyyah ini lebih lama lagi ya Allah, hingga keadilan tegak di seluruh penjuru bumi-Mu ya Rabb.

Ampunilah kami, jagalah kami, dan tambahkanlah nikmat ini kepada segenap muslimin yang hidup hari ini, maupun yang akan hidup di masa setelah kami.

Aamiin, kabulkanlah ya Allah.

Bagian Kecil: 212

Saya adalah bagian kecil dari bocah-bocah pengajian yang semangatnya dalam melangkah melebihi orang dewasa.

Saya adalah bagian kecil dari bapak-bapak yang menyiapkan sendal jepit kedua untuk kafilah dari luar kota.

Saya adalah bagian kecil dari ibu-ibu yang memasak makanan untuk mereka yang datang minim perbekalan.

Saya adalah bagian kecil dari mereka yang menginginkan persatuan; mereka yang setiap hari mengajak kebaikan; mereka yang mengedepankan persaudaraan; mereka yang bergetar hatinya ketika nama-Nya dikumandangkan; mereka yang sakit hatinya ketika agamanya dihinakan.

Meski hanya menjadi bagian kecil, posisi saya jelas; di sini saya berdiri.

9

Shane Walsh in Every Episode» Better Angels
What happened, Rick? I thought you weren’t the good guy anymore. Ain’t that what you said? Even right here, right now, you ain’t gonna fight for ‘em? I’m a better father than you, Rick. I’m better for Lori than you, man. It’s 'cause I’m a better man than you, Rick. 'Cause I can be here and I’ll fight for it. You come back here and you just destroy everything! You got a broken woman. You got a weak boy. You ain’t got the first clue on how to fix it. Raise your gun.