15 oktober

AKU MENCINTAIMU

Setinggi apapun pendidikan seorang perempuan
Atau sesama apapun kedudukannya dengan pria
Seperti yang banyak dielu-elukan banyak orang
Perempuan tetaplah perempuan

Aku tak bisa menenangkan resahku sendirian
Karena itu, aku tetap butuh kau
Untuk kembali menenangkan

Aku tak bisa mengalahkan egoku yang tiba-tiba demikian besar
Karena itu aku juga butuh kau
Untuk mengalahkannya
Dengan kasih sayang dan pelukan

Pun aku tak bisa berlaku konyol
Mengecup keningku sendiri
Atau menyalami muka tanganku sendiri
Karena itu aku butuh kau
Lelaki yang siap mendampingi

Aku mencintaimu
Bukan seperti apa
Atau seperti bagaimana

Aku mencintaimu begini saja
Apa adanya
Dan dunia tak perlu cemburu
Pada cinta kita

Aku mencintaimu lebih dari biasa
Seperti yang terbaik yang kubisa.

Medan, 15 Oktober 2015

—  Tia Setiawati
Membahagiakan Perempuan

Perempuan yang dekat denganmu akan sangat bahagia jika kau membuatnya merasa dibutuhkan.

Waktu di mana kau menghadapi sebuah permasalahan, ia ingin sekali dilibatkan. Saat di mana kau sedang memikirkan suatu keputusan dan harus berpikir panjang, ia sangat ingin diturutsertakan.

Maka duduklah sebentar bersamanya dan sampaikan beberapa hal yang saat ini berkecamuk di kepala. Hal sederhana, tapi sungguh, kau akan membuatnya sangat bahagia.

Medan, 15 Oktober 2016
— Catatan Sederhana

Keluarga : Merayakan

Benar sekali dulu kata teman-teman saya sebelum menikah, bahwa pernikahana tidak hanya tentang dua orang manusia, melainkan dua keluarga. Nyatanya, lebih dari itu. Menikah tidak hanya tentang dua orang dan dua keluarga, tapi meruntut ke segala bentuk lingkaran silaturahim yang terbentuk oleh masing-masing orang, juga keluarga.

Sebelumnya, ingin sekali rasanya menyelenggarakan pernikahan yang sederhana, yang benar-benar sederhana seperti dalam benak kami dengan idealisme yang kuat. Cukup acara akad dan syukuran secukupnya dengan tetangga kiri dan kanan. Hanya saja, sebagai seorang muslim yang tinggal di Indonesia. Kita hidup ditengah masyarakat komunal yang sangat menjunjung tinggi kekeluargaan dan kekerabatan. Maka, sudah menjadi tugas kami untuk mengemas kata sederhana menjadi tepat untuk diwujudkan dalam sebuah acara pernikahan yang melibatkan begitu banyak orang.

Dengan segala keluasan hati, tidak selayaknya kami memaksakan sebuah acara pernikahan sesuai dengan rencana kami. Sepanjang tidak bertentangan dengan tuntunan agama, maka kami merasa segala sesuatunya tidak layak untuk dilarang dengan alasan keinginan pribadi. Kami belajar menghargai pendapat keluarga dan menghargai masyarakat dan budaya.

Pernikahan adalah peristiwa peradaban. Di dalam peradaban dimana kita tinggal, kita memiliki begitu banyak pertautan dengan masyarakat dan kebiasaan. Maka, belajar untuk luwes, belajar untuk selalu bisa menjembatani padangan, berusaha untuk menanamkan kebaikan dengan cara-cara yang tepat adalah tugas kita. Dan melalui sebuah acara pernikahan, kita bisa menjadikannya sebagai media untuk menyampaikan kebaikan kepada masyakarat.

Dari tahap inilah, keluarga baru dimulai. Semoga sejak memulainya, kami telah tepat menanamkan pondasi keluarga.

Yogyakarta, 15 Oktober 2016 | ©kurniawangunadi

Jangan Lewatkan Malammu

Sesungguhnya di malam hari ada suatu saat yang ketika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah memberinya, itu berlangsung setiap malam. (HR. Muslim)

“Dan pada sebagian malam, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Q.S Al-Isra : 79)

“Lakukanlah Qiyamul Lail, karena itu kebiasaan orang shaleh sebelum kalian, bentuk taqarrub, penghapus dosa dan penghalang berbuat salah.” (HR. Tirmidzi)

“Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan. Dan siapa yang yang memohon ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Self Reminder :

Sudah berapa malam yang kamu lewati tanpa tahajud di dalamnya, padahal ia adalah waktu terbaik Allah menurunkan cintaNya untukmu, mencari dirimu diantara orang-orang yang mengaku mencintaiNya dan merinduiNya. Adakah engkau menyambutNya?

Sudah berapa malam yang kamu lewati tanpa tahajud di dalamnya, padahal ia adalah waktu terbaik bagimu untuk menangis dan memohon ampunan kepada Allah atas kesalahan dan kemunafikanmu, atas tindakanmu yang seringkali mengecewakanNya. Adakah engkau merenunginya?

Sudah berapa malam yang kamu lewati tanpa tahajud di dalamnya, padahal ia adalah saat terbaik bagimu untuk mengungkapkan keluh kesah dan gundahmu kepadaNya, saat terbaik bagimu untuk memohon solusi atas permasalahan yang sedang kamu hadapi. Adakah engkau mempergunakannya?

Sudah berapa malam yang kamu lewati tanpa tahajud di dalamnya, padahal ia adalah saat terbaik bagimu untuk mengikat kuat ayat-ayatNya yang telah terjaga di hatimu, melantunkannya dengan indah dengan sebaik-baik bacaan di hadapan Allah. Adakah engkau melakukannya?


Sebuah Renungan

©Quraners
Surabaya, 15 Oktober 2015

AKU BERTANYA PADA SEPI, MENGAPA ENGKAU PERGI

Mungkin aku memang tak siap berbincang sendiri
Dalam sepi
Ataupun dengan puisi-puisi
Dan secangkir kopi
Semuanya masih tak cukup
Untuk membuatku betah berlama-lama duduk
Kepalaku seperti penuh hiruk pikuk

Setelah engkau pergi
Rasanya sepi lebih biadab
Dari ruangan kecil yang pengap

Ini lebih dari sekadar sulit bernafas
Ini seperti menangkap kapas
Yang terbang jauh di langit bebas
Ia terlanjur lepas

Maka kutanya pada sepi
Perihal mengapa kau pergi
Apa hanya aku yang merasa sunyi?

Kutanya pada sepi
Mengapa kau masih mampu tersenyum
Bahkan tertawa dengan ceria
Apa hanya aku saja yang merasa begitu terluka?

Kutanya lagi pada sepi
Mengapa kau nampak biasa saja?
Apa hanya aku yang selama ini begitu cinta?

Ataukah memang hanya aku
Yang begitu bodoh
Sehingga tak sadar bahwa selama ini aku cinta sendirian?

Lalu kukatakan lagi pada sepi
Bahwa mungkin tak akan ada lain kali
Denganmu, cukup saja sampai di sini.

Medan, 15 Oktober 2015

—  Tia Setiawati
Tumblr-ABC 3.0

Es ist mal wieder soweit: Ich starte ein Tumblr-ABC.
Die “Regeln” müssten den Meisten bekannt sein, aber hier noch ein Mal: Von allen die das rebloggen, werde ich mir den Tumblr ansehen und dann zu jedem Buchstaben im Alphabet einen Blog posten.
Zeit ist bis zum Donnerstag den 22. Oktober 2015 15:00 Uhr.

Cerpen : Kala Malam di Halaman

Rumah ini sangat luas. Dipadu padankan dengan arsitektur Joglo, empat “saka guru” (empat tiang utama) menyangga atap ruangan yang luas itu. Lampu redup menerangi secukupnya.

Aku menikmati suasana malam di tempat yang asing, budaya yang asing, cita rasa masakan yang asing, bahasa yang asing, dan aku sedang mengakrabkan diri dengan segala sesuatunya. Aku duduk di ruang tengah, mendengarkan suara ketenangan.

Kamu masih duduk dengan laptop berlogo buah yang menyala, katanya laptop sejak kuliah. Itu kesayanganmu. Melihatmu menekuni pekerjaanmu dan aku duduk di ruangan yang sama sambil membantu ibu melipat pakaian yang tadi siang dicuci.

Kalau aku datang. Bahasa rumah ini berubah banyak, hanya agar aku mengerti apa yang kalian katakan. Aku senang karena selalu dibuat mengerti pembicaraan di rumah ini. Ibu tidak henti-hentinya menerjemahkan setiap kalimat bila bapak menggunakan bahasa daerah.

Kamu menutup laptop. Beranjak ke halaman. Ibu melihatmu, memberi tanda kepadaku melalui kedipan mata yang maknanya: “Susul sana.”

Aku memahaminya. Aku tersenyum. Ibu juga. Aku meninggalkan ibu dengan pekerjaannya.

“Kamu tahu, kamu adalah matahari. Dan perempuan lain adalah bintang-bintang.” Kamu mulai menggombal. Di halaman rumah yang sunyi, hanya suara jangkrik dan angin yang menerpa daun-daun.

“Kalau kamu terbit ke permukaan, bintang-bintang itu lenyap tenggelam.” Lanjutmu.

Aku malas membalas kata-katamu.

“Jangan berhenti jadi orang baik, karena orang baik itu selalu ada tempat di hati setiap orang.” Ujarmu tanpa memandangku.

“Ada ide cerita apa yang kamu tulis?” Aku menawarkan pertanyaan. Aku tahu kamu tidak akan segera menjawabnya, imajinasimu sedang melayang ke antah berantah. Aku yang selama ini bertugas menjagamu agar tidak tersesat.

Yogyakarta, 15 Oktober 2015 | ©kurniawangunadi

Deklarasi, Bukan Asumsi.

Ya, aku sependapat denganmu. Memahami berbagai pertanda ini, sungguh sulit. Kadang, ia bahkan sampai mengabiskan seluruh energi kita. Akhirnya kita menyesal, merasa telah membuang perhatian dan waktu pada hal yang tak serahusnya kita beri. Berkutat pada pikiran sendiri. Menyalahkan diri, situasi dan kondisi. Hey, tidak ada yang salah, bukan?

Tapi kita sama-sama tahu. Sejauh apapun jarak, sebesar apapun beda, diantara kita tak pernah ada jeda. Kita selalu merasa, meski tak pernah bertegur sapa. Kita selalu ada. Aku selalu hadir. Kamu tidak pernah absen. Sadar ataupun tidak : rindu ini permanen!

Kita sama-sama tahu, meski sama-sama ragu. Proses ini sungguh terjal dan kaku. Penuh debat dan kode ambigu. Lama………mungkin sampai masing-masing dari kita bertransformasi menjadi batu. Tak masalah. Toh, kita sama-sama menghargai proses. Proses yang baik akan berujung pada hal-hal yang baik, manfaat dan hikmah yang baik pula. Hasil yang tidak sesuai ekspektasi, bisa jadi, yang terbaik sedang mengantri.

Ya, aku sependapat denganmu. Memahami berbagai pertanda ini, sungguh sulit, aplikasinya, apalagi. Tulisan ini bisa jadi tanda. Entahlah, akupun tak habis pikir mengapa menganggap tulisan ini sebagai sebuah deklarasi. Maka dengan ini, semoga sampai makna dan arti, tepat pada mata dan rasa yang selama ini mencari. Atau menunggu. Atau berhenti?

Kita sama-sama tahu. Sebentar lagi akan bertemu.

Kita………… sama-sama tahu, benarkah?

Bandung, 15 Oktober 2014
Bumi senang sekali bercanda, padahal dalam tawanya, sungguh pertandaNya luar biasa.

Jamika Nasaputra.