'itus'

Sahabat sejati itu, buta; ia tak melihat kelemahanmu. Ia juga tuli; tak mendengar kejelekkanmu. Ia pun bisu; tak pernah menceritakan keburukanmu. Sahabat sejati itu cerminan dirimu.

Kadang ada orang yang begitu mudah menemukan jodoh, tanpa hitungan hari sudah menikah. Ada yang hampir menikah, lalu gagal mendapatkan jodoh, dan ada pula yang sedang gelisah, gundah dalam menanti jodoh.

Bagi kita  yang beriman dan berfikir positif, maka kita akan yakin bahwa semua itu  takdir Allah yang terbaik untuk kita. Kita harus yakin bahwa tidak ada suatu kejadian pun, kecuali sudah ditakdirkan oleh Allah.

Nanti, kita duduk berdua diatas balkon rumah kita sambil menikmati lampu-lampu ataupun bintang dan purnama sekalipun sembari berbincang hangat perihal apa yang kita kerjakan hari ini. Sesederhana itu, bahkan setiap malam, barangkali.
—  Efpe

Aku tuh kangen ya,,cerita cerita bareng kamu sampe tengah malem,terus cekikikan ngak jelas gitu.

Adaaa aja yang jadi pokok pembicaraan,kayak yang ngak mau telfonnya di matiin gitu.

Tapi sekarang aku sama kamu sama sama asing,yaudah deh ngak apa apa,mungkin mengasingkan diri itu perlu buat kita.

—  #Senja Jingga.

Teman bagi manusia itu ada 3 macem,
1. Teman Syahwat, teman untuk bersenang-senang karena punya kesenangan yang sama, teman haha hihi, temen nongkrong

2. Teman Manfaat, teman karena memiliki kepentingan yang sama yang bisa mendatangkan kemanfaatan

3. Teman Fadhilah, berteman atas dasar ketaqwaan, teman yang bisa membawa kita one step closer to Allah

Ust. Abdullah Mas'ud

Bahagia Tinggal Cerita

Kau mengadu domba sepasang suami istri dengan bengisnya fitnah hingga mereka bercerai. Aku yakin kau tak tau bagaimana perih anaknya kelak menjalani hidup. Percayalah perceraian tak selucu itu. Jika masih banyak hal yang bisa dicandakan. Kenapa keutuhan rumah tangga orang lain kau gadaikan?

Jika orang dewasa berkata bahwa anak kecil itu bahagia, lalu akankah mereka mau menjadi aku? Kurasa tidak. Aku disini bukan tokoh protagonis. Aku hanya pemain cadangan yang memang dikesampingkan; terbuang dan tak mendapat bagian.

Aku yang luput dari semesta. Terpandang hina dan tak mampu bersuara. Kau tahu? Tak ada siapapun menginginkan berada di titik ini. Titik di mana kau ditertawai kanan kiri. Dipandang sebelelah mata, bak hanya mereka saja yang suci. Bisa leluasa menginjak layaknya diri tak punya hati.

Dulu bahagiaku adalah yang paling mereka irikan. Tetapi, hari ini menjadi yang mereka tertawakan. Aku adalah periang yang hilang; beralih menjadi pecundang. Ayah, ibu, relakan! Jika kelak aku kehilangan kepercayaan pada kalian. Jikapun suatu hari salah dari kalian aku percayai kembali. Relakan salah satu dari kalian aku benci.

Andai bisa kuminta semua kembali seperti sediakala. Dimana rumah adalah satu-satunya ruang paling nyaman untuk pulang. Bukan seperti sekarang, rumahku bak arena dimana ego saling berkuasa. Mendakwa satu sama lain sebagai biang kekacauan. Ini bahagia yang mahal harganya atau memang sudah tak bisa bersama? Ah sudahlah, aku bahkan hampir lupa aku ini siapa.


Semesta, 26 April 2017

@rizadwi - @duatigadesember

Aku yang Duduk di Samping Puisi Kala Itu (2017)

Aku tidak mengenal puisi yang kutulis sendiri.
Aku tidak mengenal puisi yang kutulis sendiri, dan ini sebutku adalah tragedi.

Puisi itu pun tidak mengenal aku.

Puisi itu tidak mengenal aku–yang duduk di sampingnya kala itu, menyisiri tiap baitnya dengan lagu.

Puisi itu membenciku.

Ia masuk melalui sela jariku, mengalir ke jantung hatiku, dan membuat lubang di dadaku. Lubang yang mengisap segala, hingga remuk tiap rusukku, dan segala–segala habis tak bersisa.

Tidak ada yang bisa menutupnya.

Selain dirimu.

Namun, bagaimana kau bisa sampai ke inti puisi ini? Mampukah kau masuk untuk menutup lubang menganga seorang sahaya?

Bersediakah engkau?

Engkau pun tidak menjawab.

Yang tersisa hanya aku, yang duduk di samping puisi kala itu, dengan luka menganga di dada, tanpa bisa menukar kata apa-apa

untuk dihembuskan ke dalam

inti dari puisi.

Sudah habis segala kata-kata.
Mari kembali menggali makna
dalam puisi yang selanjutnya.

Aku berdiri, dan meninggalkan puisi ini.

JAKARTA,
25 April 2017
23.57

Shaqina Said
@kebun-pikiran

Seharusnya begini

Ada yang mengusik pikiranku. Malam ini seorang teman yang aku kenal dari laman biru tua ini kembali menyapaku di WA setelah agak lama dia tidak menyapa. Dia bertanya kabarku bagaimana, kerjaanku bagaimana?

aku jawab, “Alhamdulillah kabar baik. Kerjaan lancar, habis long weekend pasiennya banyak”.

lalu dia membalas, “Alhamdulillah banyak pasien berarti banyak pahala”.

njleeeeeeb!

Banyak pasien, banyak pahala.

Bener sih. Seharusnya pemikiranku begitu. Banyak pasien, banyak pahala karena membantu dalam mengobati. Tapi kenyataannya malah sering ngeluh karena kelelahan. Banyak pasien itu bisa selama tujuh jam dinas itu nggak berhenti sama sekali. Jeda cuma buat sholat. Makan nggak bisa.

Banyak pasien, banyak pahala. Iya, seharusnya begitu jika aku bekerja karena Allah seharusnya aku bisa berpikir seperti itu.

Terima kasih kepada dia yang telah mengingatkan hal kecil ini tapi ternyata kalo dipikir-pikir ini seharusnya ditanamkan dalam diri. Agar ikhlas melayani pasien dan ikhlas dalam bekerja.

Sebab mengeluh tidak akan pernah menyelesaikan apapun.

Allah terima kasih karena mengenalkanku pada setiap individu yang membantuku untuk belajar banyak hal.

Hai Penikmat Senja yang Sudah Tiada

(sebelum membacanya, dengarkan Jason Chen-Just A Dream terlebih dahulu)

Hai apa kabar? Sebuah pertanyaan konyol yang tak mampu ku sampaikan kepadamu untuk kesekian ribu kali dan hanya menjadi penghias dalam kotak keluar ponselku. Lagi dan lagi mulutku kelu untuk sekedar menyapamu, padahal dulu jangankan menyapa, memelukmu pun aku biasa. Ah maafkan aku kembali mengingat masa dimana kita menjadi tokoh utama. Ijinkan aku menulis sesuatu untuk rindu yang semakin membengkak biru ini, semoga bisa menjadi sedikit meredakan sesak yang menggebu.

Seracik tulisan tak bertuan yang mewakilkan luka yang tak pernah sekalipun kau anggap ada, namun jemariku masih terlalu candu untuk merangkainya. Untukmu. Tulisan yang acak-acakan yang lahir setelah kau memilih meninggalkanku dulu di belakang. Sendirian. Susunan kata yang menceritakan sepenggal kisah dimana ada seorang yang mencintaimu dengan diam. Dan begitu dalam.

Dahulu kau menjadi pelaku utama dalam tiap bait puisi manis cinta yang tercipta, dan begitupun sekarang juga. Walaupun kata puisi manis itu harus berganti menjadi puisi kritis, miris lebih tepatnya. Miris karna kata bahagia, menjadi kata duka. Puisi miris yang menceritakan sakit yang tak kunjung hilang karena kau tinggalkan.

Hai penikmat senja, andai suatu hari nanti kau sempat membaca tulisan-tulisan sederhanaku (aku berdoa bahkan memaksa Tuhan semoga terbaca oleh mata hitammu itu) agar setidaknya luka-luka rindu bisa kau peluk dalam doa. Mendoakan kebahagiaanku. Ah padahal bahagiaku itu kamu. Bahagiaku itu duduk bersama, menikmati senja berdua, sampai menua. Dengan kamu di dalamnya. 

Aku ingin kau tau bahwa aku masih menginginkanmu, merindukanmu, menyebut namamu diam-diam dalam doa setiap malam datang. Ah maaf aku berharap layaknya punuk merindukan bulan, karena kau sudah bahagia dengan seorang lainnya. Karena hanya melihat garis senyummu, duduk bersamamu seperti dulu, semuanya terasa sempuna.

Maaf aku disini masih mencintaimu dengan begitu. Maaf aku menyisipkan kata selalu untuk mencintaimu, Maaf aku memaksa kata terlalu untuk merindukanmu.

Bandung, 25 April 2017 pukul 11:09

Mcd. Buah Batu, Bandung

Francesco Satria

anonymous asked:

OH GOD CF9?! Why u come I can't choose what to buy you art is so SO SOOO---kay, hufff, relakan dompet, orang Indo juga maen tumblr tau wkwkwk but is there an exact number? (owo)/

Ternyata ada juga 3 orang, pikirnya udh mentok di 2.

Exact number apa yah? Mejanya? Harganya? Stocknya?